Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEDELAPAN

On 5 Maret 2011 at 01:22 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Atur Pambuka. Surya Majapahit. On 18 Februari 2011. HLHLP 106.

  1. Waosan kaping-1. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa ka-1). On 18 Februari 2011. HLHLP 106.
  2. Waosan kaping-2. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa ka-2). On 20 Februari 2011. HLHLP 107.
  3. Waosan kaping-3. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-1). On 23 Februari 2011. HLHLP 108.
  4. Waosan kaping-4. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-2). On 24 Februari 2011. HLHLP 109.
  5. Waosan kaping-5. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-3). On 28 Februari 2011. HLHLP 111
  6. Waosan kaping-6. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-4). On 2 Maret 2011. HLHLP 112,
  7. Waosan kaping-7. Bendera Kerajaan Majapahit. On 4 Maret 2011 HLHLP 113.

Waosan kaping-8:

TATA PEMERINTAHAN KERAJAAN MAJAPAHIT (Parwa ka-1)

Dari Pararaton dan Nāgarakṛtāgama dapat diketahui bahwa sistem pemerintahan dan politik Majapahit sudah teratur dengan baik dan berjalan lancar. Konsep politik ini menyatu dengan konsep jagat raya, yang melahirkan pandangan cosmoginos.

Majapahit sebagai sebuah kerajaan mencerminkan doktrin tersebut, kekuasaan yang bersipat teotorial dan disentralisasi dengan birokrasi yang terinci.

Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa tertinggi, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan.

Ada pun wilayah tinggal para dewa lokapala terletak di empat penjuru mata angin. Untuk terlaksananya kekuasaan, raja dibantu oleh sejumlah pembantu, yang tidak lain penjabat-penjabat birokrasi kerajaan.

Dalam susunan birokrasi demikian, semakin dekat hubungan seseorang dengan raja maka akan semakin tinggi pula kedudukannya dalam birokrasi kerajaan.

Nāgarakṛtāgama pupuh 89 : 2 memberitakan bahwa hubungan negara dengan desa begitu rapat seperti singa dengan hutan. Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan.

apan ikang pura len swawisaya kadi singha lawan sahana

yan rusaka thani milwa ng akurang upajiwa tikang nagara

yan taya bhrtya katon waya nika paranusa tekangreweka

hetu nikan pada raksan apageha lakih phala ning mawuwus

[Negara dan desa bersambung rapat seperti singa dan hutan,

Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan,

Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita,

Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!]

Struktur birokrasi dalam hierarki Majapahit dari tingkat pusat ke jabatan yang lebih rendah adalah:

1. raja;

2. yuwaraja/kumaraja (raja muda);

3. rakryan mahamatri katrini;

4. rakryan mantri ri pakirakiran;

5. dharmadhyaksa.

1. Raja.

Raja adalah pemegang otoritas tertinggi, baik dalam kebijakan politik mau pun istana lainnya. Kedudukannya diperoleh dari hak waris yang telah digariskan secara turun-temurun.

Di samping raja, ada kelompok yang disebut sebagai Bhatara Sapta Prabu semacam Dewan Pertimbangan Agung. Dalam Nāgarakṛtāgama (Pupuh 73:2), dewan ini disebut pahom narendra yang beranggotakan sembilan orang; sedangkan dalam Kidung Sundayana disebut Sapta Raja.

kunang i pahom narendra haji rama sang prabhu kalih sireki pinupul

ibu haji sang rwa tansah athawanuja nrepati karwa sang priya tumut

gumunita sang wruheng gumunadosa ning bala gumantyane sang apatih

linawelawo ndatan hana katrpti ning twas mangun wiyoga sumusuk

Pada masa Raja Dyah Hayam Wuruk, mereka yang menduduki jabatan tersebut di antaranya:

1. Raja Hayam Wuruk;

2. Kertawardhana (Ayah Sang Raja);

3. Tribhuwana Tunggadewi (Ibu Suri);

4. Rajadewi Maharajasa (Bibi Sang Raja);

5. Wijayarajasa (Paman Sang Raja);

6. Rajasaduhiteswari (Adik Sang Raja);

7. Rajasaduhitendudewi (Adik Sepupu Sang Raja);

8. Singawardhana (Suami Rajasaduhiteswari);

9. Rajasawardhana (R. Larang, Suami Rajasaduhitendudewi).

2. Yuwaraja/Rajakumara/Kumaraja (Raja Muda)

Jabatan ini biasanya diduduki oleh putra mahkota. Dari berbagai prasasti dan Nāgarakṛtāgama diketahui bahwa para putra mahkota sebelum diangkat menjadi raja pada umumnya diberi kedudukan sebagai raja muda. Misalnya, Jayanagara sebelum menjadi raja, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Daha.

Hayam Wuruk sebelum naik takhta menjadi raja Majapahit, terlebih dahulu berkedudukan sebagai rajakumara di Kabalan. Jayanegara dinobatkan sebagai raja muda di Kadiri tahun 1295.

Pengangkatan tersebut dimaksud sebagai pengakuan bahwa raja yang sedang memerintah akan menyerahkan hak atas takhta kerajaan kepada orang yang diangkat sebagai raja muda, jika yang bersangkutan telah mencapai usia dewasa atau jika raja yang sedang memerintah mangkat.

Raja muda Majapahit yang pertama ialah Jayanegara. Raja muda yang kedua adalah Dyah Hayam Wuruk yang dinobatkan di Kahuripan (Jiwana). Pengangkatan raja muda tidak bergantung pada tingkatan usia. Baik raja Jayanegara mau pun Hayam Wuruk masih kanak-kanak, waktu diangkat menjadi raja muda, sementara pemerintahan di negara bawahan yang bersangkutan dijalankan oleh patih dan menteri.

3. Rakryan Mahamatri Katrini

Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Kuno, yakni pada masa Rakai Kayuwangi, jabatan ini tetap ada hingga masa Majapahit.

Penjabat-penjabat ini terdiri dari tiga orang yakni:

rakryan mahamantri i hino,

rakryan mahamantri i halu, dan

rakryan mahamantri i sirikan.

Ketiga penjabat ini memunyai kedudukan penting setelah raja, dan mereka menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah raja; titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya.

Di antara ketiga penjabat itu, rakryan mahamantri i hino-lah yang terpenting dan tertinggi. Ia memunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti).

Oleh sebab itu, banyak para ahli yang menduga jabatan in dipegang oleh putra mahkota.

4. Rakryan Mantri ri Pakirakiran

Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah. Biasanya terdiri dari lima orang rakryan (para tanda rakryan), yakni:

1. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi;

2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan);

3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan);

4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima);

5. Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara).

Para tanda rakryan ini dalam susunan pemerintahan Majapahit sering disebut Sang Panca ring Wilwatikta atau Mantri Amancanagara.

Dalam berbagai sumber, urutan jabatan tidak selalu sama. Namun, jabatan rakryan mahapatih (patih amangkubhumi) adalah yang tertinggi, yakni semacam perdana menteri (mantri mukya).

Untuk membedakan dengan jabatan patih yang ada di Negara daerah (profinsi) yang biasanya disebut mapatih atau rakryan mapatih, dalam Nāgarakṛtāgama jabatan patih amangkubhumi dikenal dengan sebutan apatih ring tiktawilwadika.

Gajah Mada sebagai patih adalah Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mapatih Gajah Mada

Berikut Nama Nama Patih Majapahit menurut Kitab Pararaton :

1. Mahapatih Nambi 1294 – 13162.

2. Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 – 13233.

3. Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 – 13344.

4. Mahapatih Gajah Mada 1334 – 1364

5. Mahapatih Gajah Enggon 1367 – 1394.

6. Mahapatih Gajah Manguri 1394 – 13987.

7. Mahapatih Gajah Lembana 1398 – 14108.

8. Mahapatih Tuan Tanaka 1410 – 1430

5. Dharmadhyaksa

Dharmadhyaksa adalah penjabat tinggi yang bertugas secara yuridis mengenai masalah-masalah keagamaan. Jabatan ini diduduki oleh dua orang, yaitu:

1. Dharmadhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa,

2. Dharmadhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Buddha.

Masing-masing dharmadhyaksa ini dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut dharmaupapatti atau upapatti, yang jumlahnya amat banyak. Pada masa Hayam Wuruk hanya dikenal tujuh upapatti, yakni: sang upapatti sapta:

i. sang pamget i tirwan,

ii. kandhamuni,

iii. manghuri,

iv. pamwatan,

v. jhambi,

vi. kandangan rare, dan

vii. kandangan atuha.

Di antara upapatti itu ada pula yang menjabat urusan sekte-sekte tertentu, misalnya: bhairawapaksa, saurapaksa, siddahantapaksa, sang wadidesnawa, sakara, dan wahyaka.

6. Paduka Bhatara (Raja Daerah)

Dalam pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singasari, terdiri atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre.

Gelar ini adalah gelar tertinggi bangsawan kerajaan mereka berada di bawah raja Majapahit sebagai raja-raja daerah yang masing-masing memerintah sebuah negara daerah.

Biasanya mereka adalah saudara-saudara raja atau kerabat dekat.

Tugas mereka adalah untuk mengelola kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan mengelola pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin.

Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah di Majapahit, yang dikelola oleh kerabat dekat raja (Lihat pada waosan berikutnya tentang Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit).

Tanda

1. Rakryan;

2. Arya;

3. Dang Akarya.

Di Majapahit para pegawai pemerintahan disebut tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar sesuai dengan jabatan yang dipangkunya. Dalam hal kepegawaian, sebutannya mengalami perubahan dari masanya; gelar yang sama Kerajaan Mataram belum tentu bermakna yang sama dengan masa Majapahit, misalnya gelar rake atau rakai dan mangkubumi.

Ditinjau dari gelar-sebutannnya seperti yang kedapatan pada pelbagai piagam, tanda ini dapat digolongkan yakni: golongan rakryan atau rakean, golongan arya, dan golongan dang acarya.

1. Rakryan

Rakryan disebut juga Rakean, beberapa piagam, di antaranya Piagam Surabaya, menggunakan gelar rake yang maknanya sama dengan rakryan. Jumlah jabatan yang disertai gelar rakryan terbatas sekali. Para tanda yang berhak menggunakan gelar rakryan atau rake seperti berikut:

1. Mahamantri katrini, yaitu mahamantri i hino, mahamantri i sirikan, dan mahamantri i halu. Misalnya, pada Piagam Kudadu tertulis:

a. rakryan mantri i hino adalah Dyah Pamasi;

b. rakryan mantri i sirikan adalah Dyah Palisir;

c. rakryan mantri i halu adalah Dyah Singlar.

2. Pasangguhan, sama dengan hulubalang. Pada zaman Majapahit hanya ada dua jabatan pasangguhan, yakni: pranaraja dan nayapati.

Misalnya, pada Piagam Kudadu, tarikh 1294:

a. mapasanggahan sang pranaraja, Rakryan mantra Mpu Sina (nama ini ditemukan juga dalam Piagam Penanggungan)

b. mapasanggahan sang nayapati, Mpu Lunggah.

Pada zaman awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan, yakni dua orang yang disebutkan di atas ditambah rakryan mantri dwipantara Sang Arya Adikara dan pasangguhan Sang Arya Wiraraja.

3. Sang Panca Wilwatikta, yakni lima orang pembesar yang diserahi urusan pemerintah Majapahit. Mereka itu rangga dan tumenggung.

Piagam Penanggungan menyebut:

a. Rakryan Apatih adalah Pu Tambi,

b. Rakryan Demung adalah Pu Rentang,

c. Rakryan Kanuhunan adalah Pu Elam,

d. Rakryan Rangga adalah Pu Sasi, dan

e. Rakryan Tumenggung adalah Pu Wahana.

4. Juru pangalasan, yakni pembesar daerah mancanegara. Piagam Penanggungan menyebutkan raja Majapahit sebagai Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana. Piagam Bendasari menyebut Rake Juru Pangalasan Pu Petul.

5. Para patih negara-negara bawahan.

Pada Piagam Sidateka tarikh 1323 disebutkan:

a. Rakryan Patih Kapulungan: Pu dedes;

b. Rakryan Patih Matahun: Pu Tanu.

Piagam Penanggungan, tarikh 1296, menyebut Sang Panca ri Daha dengan gelar rakryan, karena Daha dianggap sejajar dengan Majapahit.

2. Arya

Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah dari rakryan, dan disebut pada piagam-piagam sesudah Sang Panca Wilwatikta. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar arya.

Piagam Sidakerta memberikan gambaran yang agak lengkap, yakni:

1. Sang Arya Patipati: Pu Kapat;

2. Sang Arya Wangsaprana: Pu Menur;

3. Sang Arya Jayapati: Pu Pamor;

4. Sang Arya Rajaparakrama: Mapanji Elam;

5. Sang Arya Suradhiraja: Pu Kapasa;

6. Sang Arya Rajadhikara: Pu Tanga;

7. Sang Arya Dewaraja: Pu Aditya;

8. Sang Arya Dhiraraja: Pu Narayana.

Karena jasa-jasanya, seorang arya dapat dinaikkan menjadi wreddhamantri atau mantri sepuh. Baik Sang Arya Dewaraja Pu Aditya maupun Sang Arya Dhiraraja Pu Narayana mempunyai kedudukan wreddhamantri dalam Piagam Surabaya.

3. Dang Acarya

Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendeta Siwa dan Buddha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu dharmadhyaksa kesiwaan dan dharmadhyaksa kebuddhaan).

Jumlah upapatti semula hanya berjumlah lima, semuanya dalam kasaiwan (kesiwaan); kemudian ditambah dua upapatti kasogatan (kebuddhaan) di kandangan tuha dan kandangan rahe. Dengan demikian, semuannya berjumlah tujuh dalam pemerintahan Dyah Hayam Wuruk.

Pembesar-pembesar pengadilan ini biasanya disebut sesudah para arya. Contohnya, susunan pengadilan seperti yang dipaparkan dalam Piagam Trawulan, tarikh 1358, sebagai berikut.

1. Dharmadhyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Dharmaraja;

2. Dharmadhyakasa Kasogatan: Dang Acarya Nadendra;

3. Pamegat Tirwan: Dang Acarya Siwanata;

4. Pamegat Manghuri: Dang Acarya Agreswara;

5. Pamegat Kandamuni: Dang Acarya Jayasmana;

6. Pamegat Pamwatan: Dang Acarya Widyanata;

7. Pamegat Jambi: Dang Acarya Siwadipa;

8. Pamegat Kandangan Tuha: Dang Acarya Srigna;

9. Pamegat Kandangan Rare: Dang Acarya Matajnyana.

Tambahan dua orang upapatti yang biasa disebut (sang) pamegat dilakukan sesudah tahun 1329, yakni pada zaman pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi, karena pada Piagam Berumbung, pamegat kandangan tuha dan rare belum disebut.

Penyebutan yang pertama didapati yang pertama terdapat pada Piagam Nglawang, tidak bertarikh.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: