Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KESEMBILAN

On 7 Maret 2011 at 11:44 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

Wilujêng siyang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Atur Pambuka. Surya Majapahit. On 18 Februari 2011. HLHLP 106.

  1. Waosan kaping-1. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa ka-1). On 18 Februari 2011. HLHLP 106.
  2. Waosan kaping-2. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa ka-2). On 20 Februari 2011. HLHLP 107.
  3. Waosan kaping-3. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-1). On 23 Februari 2011. HLHLP 108.
  4. Waosan kaping-4. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-2). On 24 Februari 2011. HLHLP 109.
  5. Waosan kaping-5. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-3). On 28 Februari 2011. HLHLP 111
  6. Waosan kaping-6. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-4). On 2 Maret 2011. HLHLP 112,
  7. Waosan kaping-7. Bendera Kerajaan Majapahit. On 4 Maret 2011 HLHLP 113.
  8. Waosan kaping-8. Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit (Parwa ka-1) On 5 Maret 2011 HLHLP 113

Waosan kaping-9:

TATA PEMERINTAHAN KERAJAAN MAJAPAHIT (Parwa ka-2)

Tata Susunan Pemerintahan Pusat-Daerah

Hirarki dalam pengklasifikasian wilayah di kerajaan Majapahit adalah sebagai berikut:

1. Bhumi: pusat kerajaan, diperintah oleh Maharaja.

2. Nagara: setingkat propinsi, diperintah oleh rajya (gubernur), atau natha (tuan), atau bhre (pangeran atau bangsawan keluarga dekat raja), bhatara, wadhana atau adipati.

3. Watek: setingkat kabupaten, dipimpin oleh wiyasa atau tumengung.

4. Kuwu: setingkat lebih tinggi di atas kecamatan atau kademangan dipimpin oleh lurah atau demang.

5. Wanua: setingkat desa, dipimpin oleh thani atau petinggi.

6. Kabuyutan: setingkat lingkungan, padukuhan, dusun kecil atau tempat sakral, dipimpin oleh seorang buyut atau rama atau kepala dukuh.

Negara bawahan maupun daerah, mengambil pola pemerintahan pusat. Raja dan juru pangalasan adalah pembesar yang bertanggung jawab; sementara pemerintahannya dikuasakan kepada patih, sama dengan pemerintah pusat. Meski raja Majapahit adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pemerintahan, tetapi pemerintahannya berada di tangan patih amangkubumi (patih seluruh negara).

Itulah sebabnya menurut Nāgarakṛtāgama pupuh 10, para patih, jika datang ke Majapahit, mereka mengunjungi gedung kepatihan amangkubumi yang dipimpin oleh Gajah Mada.

Nāgarakṛtāgama (Pupuh 10: 1, 2 dan 3):

1. Warnnan warnna ni sang manangkil irikang witana satata

Mantri wrddha pararyya len para pasangguhan sakaparek

Mwang sang panca ri wilwatikta mapageh demung kanuruhan

Tansah rangga tumenggung uttama ni sang marek woki penuh.

(Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanuruhan, rangga, Tumenggung, lima priyayi agung yang dekat dengan istana.)

2. Kwehning wesa puri kamantryan ing amatya ring sanagara

Don ing bhasa parapatih parademung sakala n apupul

Anghing sang juru ning watek pangalasan mahingan apageh

Panca kweh nira mantri anindita rumaksa karyya ri dalem.

(Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan, Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh, Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh negara, Lima menteri utama, yang mengawal urusan negara.)

3. Ndan sang ksatriya len bhujangga rsi wipra yapwan umarek

Ngkane heb ning asoka munggwi hiring ing witana mangadeg

Dharmadhyaksa kalih lawan sang upapatti saptadulur

Sang tuhwaryya lekas niran pangaran aryya yukti satirun.

(Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya, Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.)

Ada pun masalah administrasi pemerintahan Majapahit dikuasakan kepada lima pembesar yang disebut Sang Panca ri Wilwatika. Mereka adalah: Patih Amangkubumi, Demung, Kanuruhan, Rangga, dan Tumenggung. Mereka inilah yang banyak dikunjungi oleh para pembesar negara bawahan dan negara daerah untuk urusan pemerintahan. Apa yang direncanakan di pusat, dilaksanakan di daerah oleh pembesar bersangkutan.

Dari patih perintah turun ke watek. Dari watek turun ke akuwu/akurug, pembesar sekelompok desa (semacam lurah). Dari akuwu ke wanua dan turun ke buyut, pembesar desa. Dari buyut turun kepada penghuni desa. Demikianlah tingkat organisasi pemerintahan di Majapahit, dari pucuk pimpinan negara sampai rakyat pedesaan.

Dalam pelaksanaan tugas kerajaan, raja-raja daerah tadi dibebani tugas untuk mengumpulkan penghasilkan kerajaan, menyerahkan upeti kepada perbendaharaan kerajaan, dan pertahanan wilayah. Mereka dibantu oleh sejumlah penjabat daerah, di mana bentuknya hampir sama dengan birokrasi di pusat tetapi dalam skala yang lebih kecil. Dalam hal ini raja-raja daerah memiliki otonomi untuk mengangkat pejabat-pejabat birokrasi bawahannya.

Selain pejabat birokrasi yang telah disebutkan tadi, masih banyak sejumlah pejabat sipil dan militer lainnya. Mereka adalah kepala jawatan (tanda), nayaka, pratyaya, drawwayahaji, dan surantani, yang bertugas sebagai pengawal raja dan lingkungan keraton.

Mengenai birokrasi kerajaan, menurut berita Cina dari zaman Dinasti Sung (960-1279), bahwa raja Jawa waktu itu memunyai lebih dari 300 penjabat yang mencatat penghasilan kerajaan. Selain itu, ada kira-kira 1.000 orang penjabat rendahan yang mengurusi benteng-benteng, parit-parit kota, perbendaharaan, dan lumbung-lumbung negara.

Sedangkan dalam kitab Praniti Raja Kapa-Kapa, diuraikan bahwa ada 150 menteri dan 1.500 penjabat rendahan.

Praniti Raja Kapa-Kapa mengungkapkan bagaimana sifat-sifat seorang abdi kerajaan (abdi kerajaan adalah semua pegawai dan pejabat kerajaan yang menjalankan fungsinya sebagai abdi raja/abdi negara).

Praniti Raja Kapa-Kapa adalah sebuah sajak/syair berbait sepuluh yang konon sering dibacakan di kalangan kraton pada saat-saat tertentu yaitu berkumpulnya para pejabat negara, mungkin pada saat “rapat kerja” atau “sidang kabinet” yang dilakukan pada bulan-bulan phalguna caitra.

Satu tafsiran populer yang menarik adalah mengenai sifat dan watak mantri atau menteri, yang berasal dari kata ma-tri atau tiga ciri utama, yaitu tiga sifat dasar yang harus dimiliki oleh setiap pejabat negara yang baik, yakni berupa setya (kesetiaan), sadu (kerendahan hati), dan tuhu (kesungguhan).

Melihat struktur pemerintahannya, sistem pemerintahan di Majapahit bersifat teotorial dan disentralisasi, dengan birokrasi yang terinci. Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa, memegang otoritas politik tertinggi.

Hubungan antara raja dengan pegawai-pegawainya dalam birokrasi pemerintahan kerajaan berbentuk clienship, yaitu ikatan seorang penguasa politik tertinggi dan orang yang dikuasakan untuk menjalankan sebagian dari kekuasaan penguasa tertinggi.

Wilayah kerajaan yang berupa negara-negara daerah disamakan dengan tempat tinggal para dewa lokapala yang terletak di empat penjuru mata angin.

Lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit

Saat Majapahit memasuki era pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk:

Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Yang termasuk area ini adalah ibukota kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana raja secara efektif menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur Jawa, dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang merupakan kerabat dekat raja.

Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh budaya Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk aliansi atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya di tempat-tempat ini dan mengatur kegiatan perdagangan luar negeri mereka dan memungut pajak, namun mereka menikmati otonomi internal yang cukup penting. Termasuk didalamnya daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dramasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra.

Nusantara, adalah area yang tidak merefleksikan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup dan kebebasan internal, dan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya di sini; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam Majapahit akan menghasilkan reaksi keras. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

(Uraian lebih rinci tentang Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majaphit akan diwedar kemudian).

Hubungan Diplomatik

Ketiga kategori di atas termasuk ke dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri, yang disebut dengan Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti “mitra dengan tatanan (aturan) yang sama“. Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit.

Menurut Nāgarakṛtāgama pupuh 15, bangsa asing adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya dari Thailand), Dharmmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa (Kamboja), dan Yawana (Annam).

Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi Majapahit, karena kerajaan asing di luar negeri seperti Cina dan India tidak termasuk dalam kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri dengan kedua bangsa ini.

Sumber phrasa Mitreka Satata berasal dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada zaman keemasan kerajaan Majapahit. Semboyan Mitreka Satata ini dipakai oleh Mahapatih kerajaan Majapahit yaitu Gajah Mada.

Sebagai landasan dalam menjalankan politik luar negeri Majapahit yang bersifat sahabat, hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara tetangga.

Tata Urutan Keprajuritan Majapahit dalam Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit

Pada masa kini urutan kepangkatan militer/keprajuritan Indonesia banyak dipengaruhi oleh keprajuritan negara-negara asing (khususnya Amerika Serikat), demikian juga istilah-istilah kepangkatannya. Pada umumnya urutan jenjang struktur dan kepangkatan militer masa kini adalah:

a. squad (regu), unit tembak dan unit assault (8-16 orang), satuan pelaksana operasi terkecil dalam ketentaraan, dipimpin kopral-sersan;

b. platoon (peleton), 2-3 regu (20-60 orang), dipimpin oleh letnan;

c. company (kompi), 2-5 peleton (70-200 orang), dipimpin oleh kapten

d. battalion (batalion), 2-5 kompi (300-1000 orang), dipimpin oleh mayor-letkol;

e. regimen (resimen), 2-5 batalion (1000-3000 orang), dipimpin oleh kolonel;

f. brigade, 2-3 resimen (2000-5000 orang), dipimpin oleh kolonel-brigjen;

g. division (divisi), 2-3 brigade (10.000 orang), dipimpin oleh mayjen;

h. corps (korps), 2 atau lebih divisi, dipimpin oleh letjen;

i. army group, 2-3 corps, dipimpin oleh jendral.

Berikut diwedar kembali susunan Tata Pemerintahan Majapahit:

1. Sri Maharaja:

Sri Maharaja dianggap sebagai penjelmaan Dewa tertinggi. Memegang otoritas kebijakan politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan.

2. Bhatara Sapta Prabu:

Bhattara Saptaprabhu adalah pejabat tinggi kerajaan semacam Dewan Pertimbangan Agung atau Penasehat Raja.

3. Yuwaraja:

Raja Muda. Putra Mahkota.

4. Mahapatih Hamangkubumi:

Mahapatih Amangkubhumi adalah jabatan yang tertinggi setelah Raja, yakni semacam Perdana Menteri (mantri mukya). Mahapatih Amangkubumi mengepalai Badan Pelaksana Pemerintahan dan bertanggung jawab terhadap jalannya pemerintahan kerajaan.

5. Mahamentri i hino:

Mahamenteri Hino mempunyai kedudukan penting setelah Raja dan menerima perintah langsung dari Raja. Namun Mahamenteri Hino bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah Raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya. Di antara ketiga penjabat Mahamenteri, Mahamenteri Hinolah yang terpenting dan tertinggi. Mahamenteri Hino mempunyai hubungan yang paling dekat dengan Raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti).

6. Mahamentri i sirikan:

Mahamenteri Sirikan mempunyai kedudukan penting setelah Raja dan menerima perintah langsung dari Raja. Namun Mahamenteri Sirikan juga bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah Raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya.

Di antara ketiga penjabat Mahamenteri, Mahamenteri Sirikan menduduki tempat tertinggi kedua setelah Mahamenteri Hino. Mahamenteri Sirikan juga mempunyai hubungan yang dekat dengan Raja, tetapi tidak berhak mengeluarkan piagam (prasasti).

7. Mahamentri i halu:

Mahamenteri Halu mempunyai kedudukan penting setelah Raja dan menerima perintah langsung dari Raja. Namun Mahamenteri Halu juga bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah Raja, titah tersebut kemudian disampaikan kepada penjabat-penjabat lain yang ada di bawahnya. Di antara ketiga penjabat Mahamenteri, Mahamenteri Halu menduduki tempat terbawah. Mahamenteri Halu juga mempunyai hubungan yang dekat dengan Raja, tetapi tidak berhak mengeluarkan piagam (prasasti).

8. Pasangguhan Pranaraja:

Pasangguhan Pranajaya adalah pejabat tinggi kerajaan semacam hulubalang istana yang bertugas merencanakan dan mengambil keputusan tentang seluk beluk pemerintahan yang harus dilaksanakan para pejabat di bawahnya.

9. Pasangguhan Nayapati:

Pasangguhan Nayapati adalah pejabat tinggi kerajaan semacam hulubalang istana namun kedudukannya di bawah Pasangguhan Pranaraja yang juga bertugas merencanakan dan mengambil keputusan tentang seluk beluk pemerintahan yang harus dilaksanakan para pejabat di bawahnya.

10. Rakryan Patih:

Rakryan Patih merupakan Pejabat Negara paling tinggi diantara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan lain yang dikepalainya yaitu Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan); Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara); Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan); Rakryan Rangga (Pembantu Panglima). Mereka menjalankan tugas yang diberikan oleh kerajaan dan mempunyai hubungan luas dengan berbagai daerah yang ada di bawah naungan kerajaan.

11. Rakryan Demung:

Rakryan Demung merupakan pejabat tertinggi kedua diantara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan. Rakryan Demung bertugas mengatur Rumah Tangga Kerajaan.

12. Rakryan Kanuruhan:

Rakryan Kanuruhan merupakan pejabat tertinggi ketiga di antara lima Pejabat Pelaksana Pemerintahan. Rakryan Kanuruhan melaksanakan tugas-tugas protokoler dan bertugas sebagai penghubung diantara para pejabat kerajaan

13. Rakryan Tumenggung:

Rakryan Tumenggung adalah Pejabat Pelaksana Pemerintahan Bidang Militer, beliau adalah Panglima Tentara Kerajaan, sebagai Panglima Perang Kerajaan, Rakryan Temenggung bertugas langsung membawahi para Senopati (Kepala Pasukan Kerajaan). Rakryan Temenggung bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan kerajaan.

14. Rakryan Rangga:

Rakryan Rangga merupakan Pejabat Pelaksana Pemerintahan Wakil Panglima Tentara Kerajaan.

15. Sang Wredhamenteri:

Sang Wredhamenteri merupakan para Menteri Senior yang bertugas membantu para pejabat tinggi kerajaan diatasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

16. Sang Yuwamenteri:

Sang Yuwamenteri merupakan para Menteri Muda yang bertugas membantu Sang Wredamenteri juga para pejabat tinggi kerajaan lain diatasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

17. Sang Aryadhikara:

Sang Aryadhikara merupakan pejabat kerajaan yang berasal dari para Thanda (semacam pegawai kerajaan) berpangkat tinggi yang bertugas membantu Sang Wredamenteri, Sang Yuwamenteri dan para pejabat tinggi kerajaan lain diatasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

18. Dharmmadhyaksa:

Dharmmadhyaksa adalah penjabat tinggi kerajaan yang mempunyai tugas khusus secara yuridis mengurus masalah-masalah sosial kemasyarakatan, etika dan hubungan antar umat beragama.

19. Dharmmauppapati:

Dharmmauppapati adalah pejabat yang membantu Dharmmadhyaksa dan mempunyai tugas khusus yang sama dengan Dharmmadhyaksa yaitu mengurus masalah-masalah sosial kemasyarakatan, etika dan hubungan antar umat beragama.

Tata Keprajuritan Kerajaan Majapahit:

1. Sri Maharaja:

Sri Maharaja adalah pemegang kekuasaan tertinggi Keprajuritan Kerajaan, beliau adalah Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan. (Raja-raja pada zaman Mataram Baru menggunakan gelar Sénopati-Ing-Ngalågå sebagai Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan.

Gelar ini dipakai oleh Sultan Yogyakarta sekarang, Sri Sultan Hamengkubuwono ke X. Ngarså Dalêm. Sampéyan Dalêm Ingkang Sinuwun Kanjêng Sultan Hamêngku Buwånå, Sénopati Ing Ngalågå Ngabdulrahman Sayidin Panåtågåmå, Kalifatullah Ingkang Jumênêng Kaping Sadåså ing Ngayogyåkartå Hadiningrat. (mungkin dapat dipersamakan dengan Jendral Besar, Jendral Bintang Lima).

2. Mahapatih Hamangkubumi:

Sebagai Mahapatih Amangkubhumi yang juga mengepalai seluruh Jajaran Keprajuritan Kerajaan. (Kalau sekarang mungkin dapat dismakan dengan Menteri Pertahanan).

3. Rakryan Tumenggung:

Rakryan Tumenggung adalah Pejabat Pelaksana Pemerintahan yang bertugas di bidang Keprajuritan, sebagai militer aktif. Rakryan Tumenggung adalah pangkat tertinggi dibidang kemiliteran kerajaan. Ahli strategi perang. (kalau sekarang dapat disetarakan dengan Panglima Tentara Nasional. Pangkat: Jendral/Laksamana/ Marsekal).

4. Rakryan Rangga: Rakryan Rangga adalah pemimpin langsung satu kesatuan militer (sekarang kira-kira sama dengan Panglima Divisi, pangkat: Letnan Jendral/Laksamana Madya/Komodor, mungkin juga Jendral atau Laksamana).

Tercatat selama Pemerintahan Jayanegara ada tiga divisi utama kerajaan, yaitu: Jala Yudha, Jala Pati dan Jala Rananggana. Sebutan Jala menunjukkan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan Negara Maritim (Jala = Kelautan).

Satu dari tiga divisi yakni Jala Rananggana melakukan makar terhadap Sang Prabu Jayanegara. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral.

5. Senopati:

Senopati adalah Kepala Pasukan Tentara Kerajaan, yang memimpin langsung sejumlah besar pasukan kerajaan di mana di dalamnya termasuk Bekel dan Lurah Prajurit. Kedudukan Senopati langsung berada dibawah perintah Rakryan Tumenggung. (Setara dengan Komandan Brigade atau Komandan Resimen, atau paling tidak Komandan Batalion, pangkat: Brigjen atau paling tidak Kolonel).

6. Bekel:

Bekel adalah Kepala Pasukan Tentara kecil yang langsung berada di bawah perintah Rakryan Tumenggung dan Senopati. (Setara dengan komandan kompi, pangkat Kapten).

7. Lurah Prajurit:

Lurah Prajurit adalah para Kepala Prajurit yang membawahi sejumlah kecil prajurit dan berada langsung dibawah perintah Senopati dan Bekel. (Semacam kepala regu atau komandan peleton, pangkat: Letnan).

8. Prajurit Pasukan Khusus:

Prajurit Pasukan Khusus adalah prajurit yang dibekali kemampuan khusus untuk menjalankan misi-misi kerajaan dan langsung berada di bawah perintah para pimpinan prajurit di atasnya. Contoh Prajurit: Bhayangkâri adalah Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja.

9. Prajurit:

Prajurit merupakan pasukan yang bergerak di garis depan dalam melindungi kerajaan terutama dalam medan pertempuran dan langsung berada di bawah perintah para pimpinan prajurit di atasnya.

Peperangan

Berita Cina dari dinasti Ming menyatakan bahwa pada tahun 1377 Suwarnabumi diserbu oleh tentara Jawa. Putra Mahkota Suwarnabumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan dari kaisar Cina.

Karena takut kepada raja Jawa. Kaisar Cina lalu mengirim utusan ke Suwarnabumi untuk mengantarkan surat pengangkatan namun ditengah jalan dicegat oleh tentara Jawa dan dibunuh.

Meski pun demikian, kaisar Cina tidak mengambil tindakan balasan terhadap raja Jawa, karena mengakui tindakan balasan tidak dapat dibenarkan. Sebab utama serbuan tentara jawa pada tahun 1377 ialah pengiriman utusan ke Cina diluar pengetahun raja Jawa oleh raja Suwarnabumi pada tahun 1373.

Pengiriman utusan itu dipandang sebagai pelanggaran status Negara Suwarnabumi, yang sebenarnya dalah Negara bawahan Majapahit; tarikh pendudukan Suwarnabumi diperkirakan disekitar tahun 1350. Keruntuhannya menyebabkan jatuhnya daerah-daerahnya di Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu, tunduk kedalam kekuasan Majapahit.

12 negara bawahan Suwarnabumi; 1). Pahang, 2). Trengganu, 3). Langkasuka, 4). Kelantan, 5). Woloan, 6). Cerating, 7). Paka, 8). Tembeling, 9.) Berahi, 10). Palembang, 11). Muara Ampe, dan 12). Lamuri. Hampir semuanya disebut Negara bawahan Majapahit dalam Nāgarakṛtāgama.

Daftar itu juga menyebut nama daerah bawahan lainnya. Rupanya Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukan daerah-daerah lainya disebelah barat pulau Jawa.

Namun di daerah-daerah ini tidak ditemukan piagam sebagai bukti adanya kekuasan Majapahit. Hikayat-hikayat daerah yang ditulis kemudian menyinggung adanya hubungan antara berbagai daerah dan Majapahit dalam bentuk dongeng, tidak sebagai catatan sejarah.

Dongengan itu hanya menunjukkan kekaguman-kekaguman terhadap Majapahit.

Sejarah Melayu mencatat dongeng tentang serbuan kejayaan Tumasik oleh tentara Majapahit berkat Blot seorang pegawai kerajaan, yang bernama Rajuna Tapa. Konon sehabis peperangan Rajuna Tapa kena kutukan sebagai balasan atas pengkhianatannya, berubah menjadi batu di sungai Singapura, rumahnya roboh, dan beras simpanannya menjadi punah.

Dongengan itu mengingatkan serbuan Tumasik oleh tentara Majapahit sekitar tahun 1350, karena Tumasik termasuk kedalam salah satu pulau yang harus ditundukkan dalam program politik Gajah Mada dan tercatat dalam daftar daerah bawahan Majapahit di dalam Nāgarakṛtāgama.

Negara Islam Samudra Pasai di Sumatra Utara juga tercatat sebagai negara bawahan Majapahit. Dongeng tentang serbuan Pasai oleh tentara Majapahit diberitakan dalam hikayat raja-raja Pasai.

Isinya demikian:

Pada pemerintahan Sultan Ahmad di pasai putri Gemerencang dari Majapahit jatuh cinta kepada Abdul Jalil putra raja Ahmad. Oleh karena itu ia berangkat ke Pasai dengan membawa banyak kapal sebelum mendarat terdengar kabar bahwa Abdul Jalil dibunuh oleh bapaknya. Karena kecewa dan putus asa Putri Gemerencang berdoa kepada dewa agar kapalnya tenggelam.

Doa itu dikabulkan dan kapalnya tenggelam, mendengar kabar itu raja Majapahit menjadi murka, lalu mengerahkan tentara untuk menyerang Pasai. Ketika Majaphit menyerbu Pasai sultan Ahmad berhasil melarikan diri namun Pasi dapat dikuasai.

Ekpedisi ke Sumatra mungkin sekali dipimpin oleh Gajah Mada sendiri karena ada beberapa nama tempat di Sumatra yang mengingatkan serbuan Pasai oleh tentara Majapahit dibawah pimpinan Gajah Mada dan memang dongengnya ditafsirkan demikian oleh masyarakat setempat.

Misalnya sebuah bukit di dekat kota Langsa yang bernama Majak Pahit. Menurut dongeng tentara Majapahit membuat benteng di bukit itu dalam persiapan menyerang Temiang. Rawa antara Perlak dan Peu Dadawa bernama Paya Gajah (Gajah Mada) menurut dongeng rawa itu dilalui oleh tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada dalam perjalanan menuju Loksumawe dan Jambu Air yang menjadi sasaran utamanya.

Angkatan Laut Kerajaan Majapahit

Dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama dikenal seorang pelaut ulung, yang merupakan tangan kanan Sang Mahapatih Gajah Mada di dalam tugas mempersatukan kepulauan-kepulauan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.

Konon rahasia kekuatan armada angkatan laut Kerajaan Majapahit sejak jaman Gajah Mada yaitu terletak pada kharisma pimpinan angkatan laut, dia adalah Senopati Sarwajala Mpu Nala, (dapat disetarakan dengan Panglima atau Kepala Staf Angkatan Laut dengan pangkat Laksamana Muda atau Laksamana Madya Laut),

Di bawah kendali Senopati Sarwajala Mpu Nala, kapal-kapal perang Kerajaan Majapahit mengarungi samudra menaklukkan satu demi satu pulau-pulau dan negara-negara di kawasan Nusantara dalam rangka mempersatukan Nusantara di bawah kedaulatan Majapahit.

Kelak setelah Mahapatih Gajah Mada lengser, Mpu Nala berpangkat Tumenggung, dengan demikian namanya adalah Rakryan Tumenggung Nala. (Laksamana Nala).

Mpu Nala dalam membangun kekuatan laut yang tersohor kala itu, beliau menemukan sejenis pohon raksasa yang dirahasiakan lokasinya, untuk membangun kapal-kapal Majapahit yang berukuran besar di masa itu.

(Berita berikut di bawah ini masih diragukan kebenarannya, karena belum ada rujukan yang bernilai historis):

Konon persenjataan kapal-kapal Majapahit berupa meriam Jawa. Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok.

Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana. Selanjutnya Gajah Mada mengembangkan senjata api itu untuk mempersenjatai kapal-kapal perang Majapahit ciptaan Mpu Nala yang istimewa itu, hingga mampu merajai wilayah di perairan Selatan (Nan Yang).

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: