Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KESEBELAS

On 10 Maret 2011 at 20:51 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

Sugêng dalu

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:

Waosan kaping-10. Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit (Parwa ka-1). 8 Maret 2011. HLHLP 115.

Waosan kaping-11:

WILAYAH KEKUASAAN KERAJAAN MAJAPAHIT (Parwa ka-2)

Di mana lokasi Ibukota Man-che-po-i?

Menghargai sejarah berarti juga harus menjaga dan merawat peninggalan-peninggalannya. Baik itu cerita yang harus terus diwariskan maupun bukti peninggalan fisik dan materi yang ada. Artinya, kebudayaan materi, seperti fosil, prasasti artefak, sarkofagus, arca dan candi merupakan bukti sahih bila sejarah tidak sekedar dongeng semata.

Beruntunglah Indonesia. Negeri ini ternyata bukan negeri dongeng dari dunia antah berantah. Sebelum republik ini lahir telah hadir Nusantara yang dibentuk oleh kerajaan adidaya yang bernama Majapahit. Banyak bukti-bukti sejarah yang menyatakan itu, termasuk Sumpah Palapa dari Sang Mahapatih Gajah Mada.

Kerajaan Majapahit bisa dikatakan sebagai kerajaan Hindu terakhir di kawasan Nusantara, yang pada masa awalnya hanya merupakan hutan pinggir desa kecil, hutan Trik/Tarik namanya. Sebuah daerah yang diberikan oleh Jayakatwang (Adipati Kadiri) kepada Raden Wijaya, sebagai bukti bahwa dia mengampuni Raden Wijaya.

Sebelumnya, memang Raden Wijaya pernah berupaya menggagalkan pemberontakan Jayakatwang terhadap kerajaan Singasari.

Bisa dibayangkan kecut dan pahit rasanya diperlakukan seperti itu, ditaklukan dan diberikan sebuah desa kecil yang terpencil, jauh dari peradaban sebagai tempat menyepi hingga hanya menunggu detik-detik menanti ajal.

Hingga Raden Wijaya sendiri menamai desa kecil itu sebagai Majapahit. Setelah beberaoa orangnya memakan buah maja yang terdapat di desa itu, yang rasanya sangat pahit. Ternyata sejarah desa kecil ini tidak sepahit namanya, bahkan menjelma jadi kerajaan tersohor di kala itu. Kalau Raden Wijaya masih hidup, mungkin dia sendiri akan terperanjat bila mengetahui masa-masa puncak kerajaan Majapahit yang pernah didirikannya.

Pada masa jayanya, Majapahit mendapatkan pengaruh dan pengakuan yang cukup luas. Tak hanya dari wilayah di Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan daerah pantai Papua Barat.

Bahkan dalam uraian kakawin Nāgarakṛtāgama, pada pupuh XV (15) menyatakan Majapahit menjalin persahabatan dengan negara-negara Mitreka Satata (mitra dengan tatanan (aturan) yang sama), sebut saja Syangkayodhyapura (Syaka, Siam), (Ayutthaya atau Ayodhyapura, di Thailand), Dharmarajanagara/Ligor atau Dharmmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma (Martaban, di selatan Thailand, Rajapura dan Singhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa, Kamboja, dan Yawana (Annam Vietnam).

nahan lwir ning desantara kacaya de sri narapati

tuhun tang syangkayodhyapura kimutang dharmanagari

marutma mwang ring rajapura nguniweh singhanagari

ri campa kambojanyati yawana mitreka satata.

Kebesaran dari kerajaan ini pun masih tersirat dari maraknya penemuan benda-benda arkeologi di lokasi yang kabarnya pernah menjadi pusat ibukota Majapahit kala itu, Trowulan. Bahkan hingga saat ini Trowulan masih menjadi salah satu “surga” bagi penggalian kembali cerita-cerita sejarah masa lampau. Selain situs manusia purba di Sangiran tentunya.

Bila Sangiran disebutkan sebagai “surga” bagi manusia prasejarah, maka Trowulan juga bisa dikatakan sebagai sinyal penanda kemajuan Indonesia di kala masih bernama Nusantara.

Majapahit jelas kerajaan besar yang puncaknya dicapai saat Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Setidaknya kedua nama itu yang sangat identik dengan Majapahit dan Nusantara. Tidak bermaksud terlalu romantis, atau melebih-lebihkan, bila kini kita membuka kembali “mata” sejarah kita kembali kepada zaman kerajaan terbesar yang pernah ada di Asia Tenggara, kerajaan Majapahit dengan Trowulan sebagai pusat kebudayaan materinya.

Sumur Jobong

Sebuah tulisan menarik untuk disimak, dengan judul: Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian, Penulis: Agus Aris Munandar, Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta Desember 2008.

Buku ini terbagi menjadi tiga bab. Tanpa hendak mengabaikan dua bagian lainnya yang tak kalah pentingnya, maka bab yang berjudul “Mengubah Paradigma Lama” dapat dijadikan sebagai refleksi terkait dalam upaya merawat sejarah selama ini.

Masih retorika belaka atau tidak. Buku ini juga keluar tak lama saat bergulirnya kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Jero Wacik selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Buku karya seorang arkeolog Agus Aris Munandar yang berjudul “Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian” ini diterbitkan untuk pertama kalinya bulan Desember 2008, sedangkan Jero Wacik sendiri meresmikan PIM tanggal 3 November 2008. Dari selang waktu itu terkesan jelas motivasi dari buku ini.

Tidak hanya sebagai cerita sejarah tapi sekaligus juga kritik.

Proyek pembangunan yang sangat menyesakkan karena dilakukan langsung di wilayah Trowulan, tepatnya di Situs Segaran III dan IV, yang dalam penelitian arkeolog merupakan kawasan situs perkotaan kuno pada abad ke-13 hingga ke-15. Dengan proyek ini, tak ayal Situs Segaran III langsung mengalami kerusakan.

Tanah langsung digali dengan peralatan berat secepat mungkin untuk menekan biaya proyek. Bandingkan dengan arkeolog yang selama ini hanya bekerja dengan sekop dan kuas, dengan hati-hati dan telaten. Bahkan saat penggalian lubang-lubang untuk fondasi bangunan saja telah merusak sisa bangunan bata kuno, termasuk juga telah memotong langsung Sumur Jobong, sumur yang juga peninggalan dari zaman Majapahit.

Situs lama dibuat musnah oleh orang-orang yang katanya ahli tetapi kêmintêr tidak menghargai leluhurnya.

Marak kecaman terhadap tindakan tersebut. Memang aneh, karena sepertinya proyek ini tidak mempertanyakan terlebih dulu pendapat para ahli yang terkait. Proyek pembangunan yang sangat lancang. Ironis, Trowulan yang jelas-jelas merupakan “surga” para arkeolog, yang sebelumnya sudah terganggu oleh warga yang menganbil tanah liat, sekarang diganggu lagi oleh proyek pembangunan besar.

Proyek yang dilangsungkan oleh arsitek mainstream yang menistakan sejarah, semua hanya dalam kalkulasi ekonomi semata.

Arah Khtonis

Penelitian terhadap situs Trowulan telah dilakukan oleh para ahli Belanda sejak tahun 1920-an. Penelitian ini dipicu setelah banyaknya temuan-temuan purbakala di lokasi ini. Menurut penuturan penduduk setempat, banyaknya temuan di lokasi karena memang merupakan bekas kerajaan terbesar, yaitu Majapahit.

Penelitian dan penggalian di lokasi ini semakin marak hingga akhirnya terbentuklah perkumpulan yang mengkhususkan kegiatan penelitian dengan nama Oudheidkundige Vereeneging Majapahit (OVM) yang resmi berdiri pada 15 April 1924. Seorang insinyur yang tertarik mengenai masalah-masalah kepurbakalaan bernama Ir. Henry Maclaine Pont menjadi pemrakarsa lembaga ini.

Banyak kebudayaan materi yang ditemukan di lokasi ini saat penggalian, seperti bangunan, struktur, arca, relief, ribuan pecahan gerabah, pecahan keramik dan sebagainya. Ini juga yang semakin mengkokohkan asumsi bila Trowulan adalah situs penting di masa lalu, bahkan juga dinyatakan sebagai situs kota dari masa lampau.

Tapi, ini pun belum memberikan sebuah kepastian yang pasti bila situs Trowulan sudah sahih menjadi lokasi bekas ibukota Majapahit. Masih banyak kalangan yang meragukan hal itu.

Beberapa referensi lain juga menyebutkan bila ibukota Majapahit bukan di Trowulan melainkan di Trik/Tarik yang berlokasi di sekitar muara Sungai Brantas. Dengan argumentasi karena Trowulan lokasinya berada sedikit jauh di daerah pedalaman, dan juga jauh dari aliran Sungai Brantas yang menjadi urat nadi transportasi dan jalur perdagangan kala itu.

Kitab Pararaton juga menguatkan anggapan itu, yang menyatakan bahwa kota Majapahit di Trik/Tarik itu didirikan oleh Raden Wijaya dengan bantuan orang-orang Madura.

Jika memang pada awalnya ibukota Majapahit itu di Desa Trik/Tarik dan kemudian pindah ke Trowulan, bukankah ini sebuah peristiwa penting? Mengapa hal ini tidak dicatat dalam sejarah? Mengapa hingga kini semua sejarah masih “membisu” mengenai peristiwa pemindahan ibukota ini?

Bukankah cerita ini seharusnya dapat ditemukan pada prasasti-prasasti yang berukuran besar? Apakah juga berarti memang tidak pernah ada pemindahan ibukota Majapahit dari Trik/Tarik ke Trowulan? Sehingga sangat sudah sahih bila Trowulan memang kota terbesar dan ibukota dari Majapahit.

Ternyata belum, sebab masih ada kontroversi lainnya. Bila dilihat dari foto udara, maka jelas terlihat dulunya Trowulan dibelah dan dipotong oleh saluran air (kanal) yang melintang dan memotong dengan pola tertentu. Di Trowulan juga terdapat kolam buatan yang dinamakan Segaran yang dibuat sekitar abad ke-14 M. Dengan luas sekitar 6,5 ha yang tepi-tepinya diperkeras oleh susunan tembok dari batu bata yang panjangnya 375 m dan lebarnya 175 m.

Pertanyaannya, kenapa kanal ini luput dari penglihatan Mpu Prapanca dan tidak dituliskannya dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama?

Mengingat di kitab ini memuat semua bangunan yang ada pada waktu itu dan bahkan secara rinci. Sebut saja seperti lapangan Bubat dan Manguntur (alun-alun di depan kompleks kedaton) yang ada di Trowulan, juga disebut pada kitab Nāgarakṛtāgama. Lalu bila bukan di Trowulan di mana lokasi ibukota Majapahit sebenarnya berada?

Berita lain juga menambahkan. Bila seorang musafir dari Cina, yang bernama Ma-Huan, yang juga menyertai pelayaran Laksamana Cheng-Ho saat berkunjung ke pantai Jawa Timur (1413 M) menyebutkan bahwa Raja Jawa tinggal di Man-che-po-i (Majapahit).

Sebuah kota tanpa tembok keliling yang berbeda dengan kerajaan di Cina dan dapat dicapai melalui sungai dari Su-lu-ma-i (Surabaya). Lokasi Man-che-po-i yang ditunjuk oleh Ma-Huan ini adalah situs Trowulan sekarang.

Selain pendapat Ma-Huan ini, memang juga pada dasarnya situs Trowulan ini merupakan situs terluas. Bahkan meliputi dua kecamatan pada dua kabupaten yang berbeda yaitu Mojokerto dan Jombang. Termasuk juga benda-benda arkeologis yang ditemukan lebih beragam di Trowulan dibandingkan di lokasi situs yang lainnya. Ini semua merupakan narasi besar yang menarik rasa keingintahuan kita.

Paradigma juga harus diubah. Terutama terkait dalam konsep arah mata angin. Mengingat hal ini terkait dengan konsep makro dan mikro kosmos masyarakat pada zaman itu. Karena menurut ajaran Brahmana alam semesta berbentuk pipih seperti piringan (cakram) dan pusat dari semuanya adalah Gunung Mahameru.

Di puncak gunung Mahameru itu tinggal dewa-dewa yang dinamakan Sudarsana dengan Dewa Indra sebagai penguasa tertinggi. Sedangkan di lereng gunung yang berhutan lebat tinggal kaum Brahmana serta kaum pertapa dan agamawan yang menjauhkan diri dari dunia ramai.

Arah mata angin juga terkait dengan konsep delapan dewa yang disebut Astadikpalaka. Terdapat delapan dewa pada semua penjuru mata angin. Seperti Kuvera yang merupakan dewa kemakmuran dan kesejahteraan yang berada di utara dan Yama yang merupakan dewa maut penguasa naraka yang berada di Selatan dan sebagainya. Lantas apa makna semua ini? [Lihat Lambang Majapahit pada https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/

Jelas bila konsep penataan dan pengaturan ruang di Trowulan ini juga merupakan aplikasi dari ajaran makro-mikro kosmos itu. Berarti juga bila arah mata angin yang dinyatakan oleh Mpu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama bukan arah mata angin yang kita pahami sekarang. Tapi, arah mata angin yang lain, arah mata angin khtonis yang berorientasi gunung laut. Inilah paradigma yang harus dipakai bila melihat sejarah dan tata ruang yang pernah berlaku di situs Trowulan ini.

Saat kita sedang asyik dan terus berupaya mencari tahu dan mereka-reka kebesaran dan kekayaan sejarah kita, ternyata jari-jari kecil yang sedang menggali sejarah sedang berkejar-kejaran dengan aktivitas pembuatan tanah liat dan buldozer. Proyek pembangunan yang mengganggu ketenangan di “surga” sejarah Trowulan. Memang, tidak terlampau romantis bila kita melihat dan belajar dari Majapahit.

Setidaknya kerajaan ini usianya berumur lebih dari dua ratus tahun, sedangkan Indonesia yang usianya belum genap seratus tahun sudah lunglai dan terseok-seok.

Kekuatan Pengairan Majapahit

Penguasaan Majapahit atas sejumlah wilayah Nusantara sampai Semenanjung Tanah Melayu menunjukkan kekuatannya sebagai negara bahari. Sebagai negeri agraris, pemerintahan kerajaan Hindu Buddha ini mempersiapkan instalasi air.

Pengelolaan air memang sangat diperlukan untuk kehidupan rakyat yang umumnya bertani. Kehidupan agraris ini tampak jelas dalam relief-relief Candi Menak Jingga yang kini dipamerkan di Museum Trowulan.

Masalahnya, dalam catatan Ma Huan, pusat Majapahit adalah kawasan berudara panas. Sementara secara geografis, permukaan Trowulan cenderung rendah, diapit anak-anak sungai dari Gunung Arjuna dan Penanggungan di selatan serta Kali Brantas dan anak- anak sungainya di utara. Kondisi ini mengakibatkan Trowulan rentan terkena banjir, apalagi ada daerah berawa-rawa, seperti Balong Bunder dan Balong Dowo yang masih tersisa di sekitar Museum Trowulan.

Untuk membuat Trowulan layak sebagai pusat pemerintahan, instalasi air yang memadai adalah keharusan. Apalagi, umumnya di sekitar keraton terdapat daerah pertanian sehingga ketersediaan air juga menjadi penting. Karena itu, dibuatlah jaringan kanal yang berkisi-kisi memanjang seukuran 4,5 kilometer sampai 5,5 kilometer.

Di antara kisi-kisi kanal tersebut ditemukan beragam tinggalan arkeologis yang sangat padat, mulai dari candi, gerabah, batu bata dan susunan permukiman, kepingan uang kepeng Majapahit maupun uang dari Cina, hingga pecahan keramik Cina, Thailand, dan Vietnam. Kuat dugaan bahwa kawasan itu, terutama sekitar Kolam Segaran, Nglinguk, dan situs Sentonorejo, pernah menjadi pusat Kerajaan Majapahit.

Apalagi, banyak pula instalasi pengairan yang masih terlihat, seperti Kolam Segaran, saluran air bawah tanah di Nglinguk, dan Dukuh Blendren, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan. Di sana juga ditemukan waduk, parit, serta sumur berbagai tipe.

Kendati belum ditemukan catatan sejarah mengenai pembuatan jaringan kanal di Trowulan, istilah undahagi pangarung (ahli pembuat saluran air bawah tanah), weluran (saluran air di permukaan tanah), dawuhan (waduk), dan tamwa (tanah yang ditinggikan untuk di tepi penampung air atau tangkis dalam bahasa Jawa) sudah muncul pada prasasti-prasasti zaman Majapahit.

Lima sumur

Sistem pengairan yang jelas direncanakan untuk kepentingan irigasi juga bisa ditemukan di Dukuh Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Di kawasan ini terdapat lima sumur yang menjadi mulut terowongan air bawah tanah. Sumur bisa dituruni dan manusia bisa memasuki terowongan yang umumnya berjarak sekitar 50-60 meter dari sumur lainnya.

Terowongan tersebut berbentuk kubah selebar tubuh manusia dengan tinggi 160-170 cm. Di beberapa bagian ada yang tingginya hanya sekitar 150 cm. Bahkan, di antara sumur keempat dan kelima jarak dasar terowongan dengan bagian atasnya hanya sekitar 60 cm.

Di dinding-dinding dalam terowongan banyak rembesan air. Karena itu, terowongan selalu berair mulai setinggi mata kaki sampai paha.

Mengenai Surowono, pada pupuh LXXXII (82) Nāgarakṛtāgama, Prapanca mencatat adanya pembukaan hutan di Surabana, Pasuruan, dan Pajang oleh Raja Wijayarajasa dari Wengker. Disebutkan pula Hayam Wuruk membuka hutan di Tigawangi. Di dua daerah yang terletak di Pare, Kediri, itu saat ini masih terdapat candi untuk mengenang leluhur Hayam Wuruk. Candi Surowono untuk pendarmaan Bhre Wengker atau paman Hayam Wuruk, sedangkan Candi Tigowangi untuk mengenang Pangeran Matahun yang diduga putra Wijayarajasa.

sri-nathe singhasaryy anaruka ri sagada dharmmaparimita

sri-nathe wengker ing surabana pasuruhan lawan tang i pajang

buddhadhistana tekang rawa ri kapulungan mwang locanapura

sri-nathe watsarikang tigawangi magawe tusteng parajana

Candi Surowono hanya beberapa puluh meter dari terowongan air bawah tanah. Bahkan, di bagian belakang candi terdapat bagian yang bersambungan dengan terowongan ini sehingga bisa digunakan untuk melarung sesajen.

Karena itu, diperlukan persawahan yang dikelola untuk kepentingan candi. Itu pula yang menyebabkan terowongan di Surowono bersambungan dengan sungai yang mengairi persawahan di Dukuh Sumberagung yang bersebelahan dengan Surowono. Kenyataannya, di Surowono dan Sumberagung masa tanam bisa dilakukan tiga kali tanpa pernah mengalami kekeringan. Banjir juga belum pernah melanda.

Sayangnya, di dinding terowongan Surowono dan di bagian dasarnya terdapat pecahan piring keramik yang tampak baru. Selain itu, karena pernah menjadi lokasi pertemuan pasangan muda, terowongan kini ditutup dengan pintu bambu bergembok. Pengunjung yang ingin menjelajah terowongan bisa meminta bantuan jasa antar pemandu warga desa itu.

Pembuatan terowongan kemungkinan dilakukan secara bersamaan dari dua mulut sumur dan bertemu di tengah. Karena itu, terowongan berliku dan di beberapa tempat terdapat susunan bata kuno sebagai penyumbat jalur. Sumur-sumur ini juga memudahkan perawatan terowongan.

Pembuatan saluran air ini dilakukan di bawah tanah. Kemungkinan, penguasa mempertimbangkan keberadaan permukiman warga yang sudah ada. Supaya tidak menggusur warga, saluran air dibuat di bawah tanah.

Dari sistem jaringan kanal, keragaman instalasi pengairan, dan peningkatan jumlahnya di Jawa Timur, terlihat perkembangan teknologi pengairan pada masa Hindu Buddha abad ke-10 sampai ke-16.

Karena pengaruh India saat itu cukup kuat, diperkirakan teknologi ini berasal dari kitab tentang pengairan jalasastra atau silpa shamsita.

Berbagai jejak teknologi yang ada, menunjukkan peninggalan pemikiran dan karya orang Majapahit yang perlu dilestarikan. Pemikiran ini juga masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang kerap dilanda kekeringan dan banjir.

Jakarta setiap tahun kebanjiran. Kanal banjir timur yang direncanakan sejak tahun 2003 sampai musim hujan 2010 belum juga rampung. Di kota-kota lain, masalah banjir dan kekeringan juga terus terjadi. Karena itu, dengan peninggalan yang masih ada, diperlukan upaya penelusuran ulang serta revitalisasi. Bila instalasi yang ada masih berfungsi, instalasi itu bisa dimanfaatkan masyarakat.

Selain itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia saat ini bisa mempelajari pengelolaan air di negara dengan dua musim, hujan dan kemarau.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: