Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEDUABELAS

On 12 Maret 2011 at 06:35 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun,

Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:

Waosan kaping-11. Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit (Parwa ka-2) On 10 Maret 2011 HLHLP 116

Waosan kaping-12:

WILAYAH KEKUASAAN KERAJAAN MAJAPAHIT (Parwa ka-3)

Ibu Kota kerajaan Majapahit, Wilwatikta (Trowulan)

Istana

Berita Cina yang ditulis oleh Ma Huan sewaktu mengikuti perjalanan Laksamana Cheng Ho (lazim disebut: Zheng-He) ke Jawa dalam laporannya Ying-yai-seng-lan, Diterjemahkan dari teks China, yang diedit oleh Feng Chéng-Chun dengan catatan dan introduksi oleh J.V.G Mills The Overall Survey of the Ocean’s Shores, atau “Laporan Umum Tentang Pesisir-pesisir Lautan” memberi penjelasan mengenai keadaan masyarakat Majapahit pada abad XV.

Antara lain bahwa kota Majapahit terletak di pedalaman Jawa. Istana Raja dikelilingi tembok tinggi lebih dari tiga zhang (tidak diketahui dengan pasti besaran ukuran zhang ini), pada salah satu sisinya terdapat “pintu gerbang yang berat” (mungkin terbuat dari logam).

Tinggi atap bangunan antara empat – lima zhang, gentengnya terbuat dari papan kayu yang bercelah-celah (sirap). Raja Majapahit tinggal di istana, kadang-kadang tanpa mahkota, tetapi sering kali memakai mahkota yang terbuat dari emas dan berhias kembang emas.

Raja memakai kain dan selendang tanpa alas kaki, dan kemanapun pergi selalu memakai satu atau dua bilah keris.

Apabila raja keluar istana, biasanya menaiki gajah atau kereta yang ditarik lembu. Penduduk Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga.

Penduduk memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan terurai, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap anak laki-laki selalu membawa keris yang terbuat dari emas, cula badak atau gading.

Tata kota

Kerajaan Majapahit, selain mempunyai sebuah ibu kota sebagai pusat pemerintahan dan tempat kedudukan raja serta para pejabat kerajaan, ternyata juga sebagai pusat magis bagi seluruh kerajaan.

Apabila ditinjau dari konsep kosmologi, maka wujud Ibu Kota Majapahit dianggap sebagai perwujudan jagad raya, sedangkan raja identik dengan dewa tertinggi yang bersemayam di puncak Gunung Mahameru.

Keberadaan Kota Majapahit menurut konsep tersebut memiliki tiga unsur, yaitu unsur gunung (replikanya dibentuk candi), unsur sungai (replikannya dibentuk kanal) dan unsur laut (replikanya dibentuk waduk).

Gambaran tentang Kerajaan Majapahit, khususnya tentang penataan pemukiman istana dan sekitarnya telah diuraikan dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama pupuh VIII-XII.

Disebutkan bahwa keadaan istana dikelilingi oleh tembok yang kokoh dengan parit keliling di luarnya.

Susunan bangunan di istana meliputi tempat tinggal raja dan keluarganya, lapangan manguntur, pemukiman para pendeta dan rumah-rumah jaga pegawai kerajaan.

Rumah di dalam istana indah, bagus dan kuat. Ibu Kota Kerajaan Majapahit dikelilingi oleh raja-raja daerah dan kota-kota lain. Di sekitar istana tempat kedudukan raja terdapat tempat-tempat kedudukan raja-raja daerah (paduka bhattara) serta para pejabat/pembesar kerajaan.

Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh VIII:

1.warnnan tingkah ikang paradbhuta kutanya batabang umider mmakandel aruhur

kulwan dik purawaktra mangharepaken lebuh ageng itengah wai edran adalem

bhrahmasthana matunggalan pathani buddhi jajar inapi kapwa sok cara cara

ngka tonggwan paratanda tanpegat aganti kumemiti karaksan ing purasabha.

(Tersebut keajaiban Kota; tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura.

Pintu barat bernama pura waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit.

Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Disitulah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda, menjaga paseban.)

2. lor ttang gopura sobhitabhinawa konten ika wesi rinupakaparimita

wetan sanding ikarjja panggung aruhur patiga nika binajralepa maputih

kannah lor kkidul ipeken raket ikang yasa wekas ing apanjang adbhuta dahat

angken caitra pahoman ing balasamuha kidul ika catuspathahyang ahalep.

(Di sebelah utara berdiri tegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir.

Di sebelah timur: panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat.

Di bagian utara, diselatan pekan, rumah berjejer jauh memanjang, sangat indah.

Di selatan jalan perempat; balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.)

3. alwagimbar ikang wanguntur icatturddhisi watangan ika witana ri tengah

lor ttang wesma panangkilan parabhujangga kimuta paramantri alenggih apupul

wetang nggwan para siwa boddha mawiwada mucap aji sahopakara weki sok

prayascitta ri kala ning grahana phalguna makaphala haywa ning sabhuwana.

(Balai agung Manguntur dengan balai witana di tengah, menghadap padang watangan, yang meluas ke empat arah; bagian utara pasebah pujangga dan menteri. Bagian timur pasebah pendeta Siwa-Buda, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan palguna demi keselamatan seluruh dunia.)

4. kannah wetang ikang pahoman ajajar ttigatiga ri tengah kasaiwan aruhur

nggwan sang wipra kidul padottamasusun barat inatar ikabatur patawuran

nggwan sang sogata lor susun tiga tikang wangunan ipucak arjja mokirukiran

kapwanjrah racananya puspa pinaran nrpati satata yan hinoma mapupul.

(Disebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa.

Di selatan tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban bertegak di halaman sebelah barat

di utara tempat budha besusun tiga puncaknya penuh berukir;

berhamburan bunga waktu raja turun berkurban.

5. ngkaneng jro kidul ing wanguntur ahelet palawangan ikana pasewan atata

wesmarjjjajajar anghapit hawan angulwan i tengah ika tanjung angjrah asekar

ndah kulwan mahelet muwah kidul ipanggung ika bala maneka medran itepi

arddhalwa ri tengah natar nikana mandapa pasatan asangkya lot mawurahan.

(Di dalam, sebelah selatan maguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban.

Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga lebat.

Agak jauh disebelah barat daya; panggung tempat berkeliaran para perwira.

Tepat di tengah-tengah halaman berdiri pendapa penuh burung ramai berkicau.)

6. ri jronyeki muwah pasewan ikidul dudug angusi wijil kapingrwa ri dalem

tingkahnyeki tinumpatumpa mahelet palwangan ikanang sapanta tinika

kapwang wesma subaddha watwan ika len saka balabag usuknya tanpa cacadan

sek de ning bala haji anangkil agilir makemitabu mapeksa wara matutur.

(Didalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua, Dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri.

Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela.

Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.)

Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XII

1. warnnan tingkah ikang pikandel atata tut kanta ning nagara

wetan sang dwija saiwa mukya sira dang hyang brahmarajadhika

ngkaneng daksina boddha mukya ng anawung sang kaka rengkannadi

kulwan ksatriya mantri punggawa sagotra sri narendradhipa.

(Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng.

Timur tempat tinggal pemuka pendeta siwa Hyang Brahmaraja.

Selatan Buda-sanga dengan dengan rangkadi sebagai pemuka.

Barat tempat para arya, menteri dan sanak-kadang adiraja.)

2. weta(n) den mahelet lebuh pura narendreng wengker atyadbhuta

saksat indra lawan saci nrpati lawan sang narendreng daha

sang natheng matahun narendra ri lasem munggwing dalem tan kasah

kannah daksina tan madoh kamegetan sang natha sobhahalep.

(Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib.

Raja Wengker dan Rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci.

Berdekatan dengan Istana Raja Matahun dan Rani Lasem.

Tak jauh di sebelah selatan Raja Wilwatikta.)

3. ngkaneng uttara lor saking peken agong kuwwahalep sobhita

sang saksat ari de nareswara ri wengker sang makuww apageh

satyasih ri narendra dhira nipuneng nityapatih ring daha

khyating rat mangaran bhatara narapati angde halep ning praja.

(Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi.

Di situ menetap patih Daha, adinda baginda di Wengker.

Batara Narapati, Termashur sebagai tulang punggung Praja.

Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.)

4. Wetan lor kuwu sang gajahmada patih ring tiktawilwadhita

Mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu

Wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana

Rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat.

(Di timur laut patih wilwatikta, bernama Gajah Mada.

Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara.

Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur.

Tangan kanan maharaja, sebagai penggerak roda Negara.)

5. nda ngkane kidul ing puri kuwu kadharmadhyaksan ardha halep

wetan rakwa kasaiwan utama kabodhan kulwan asri atata

tan warnnan kuwu sang sumantri adhika len sang paraksatriya

dening kweh nira bheda ri sakuwu kuwwang de halep ning pura.

(Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus.

Sebelah timur perumahan siwa, sebelah barat buda.

Terlangkahi rumah para menteri, para ayra dan satria.

Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.)

6. lwir candraruna tekanang pura ri tikta sriphalanopama

tejanggeh nikanang kara sakuwukuww akweh madudwan halep

lwir ttaragraha tekanang nagara sesa nneka mukya ng daha

mwang nusantara sarwwa mandalika restrangasrayakweh marek.

(Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang gemilang.

Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama.

Negara-negara di nusantara dengan Daha bagai pemuka.

Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa Wilwatikta.)

Bangunan air yang ditemukan di masa Majapahit adalah waduk, kanal, kolam dan saluran air yang sampai sekarang masih ditemukan sisa-sisanya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pemerintah kerajaan Majapahit membuat bangunan air tersebut untuk kepentingan irigasi pertanian dan sarana mengalirkan air sungai ke waduk: penampungan dan penyimpanan air, serta pengendali banjir.

Hasil penelitian membuktikan terdapat sekitar 20 waduk kuno yang tersebar di dataran sebelah utara daerah Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno. Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton dan Kedung Wulan adalah waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya diantara Kali Gunting di sebelah barat dan kali Brangkal di sebelah timur.

Hanya waduk Kedung Wulan yang tidak ditemukan lagi sisa-sisa bangunannya, baik dari foto udara maupun di lapangan.

Waduk Baureo adalah waduk terbesar yang terletak 0,5 km dari pertemuan Kali Boro dengan Kali Landean. Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima.

Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang ukurannya besar dan dialiri oleh beberapa sungai.

Seperti halnya Waduk Baureno, waduk-waduk lainnya sekarang telah rusak dan yang terlihat hanya berupa cekungan alamiah, misalnya Waduk Domas yang terletak di utara Waduk Baureno; Waduk Kumitir (Rawa Kumitir) yang terletak di sebelah barat Waduk Baureno; Waduk Kraton yang terletak di utara Gapura Bajangratu; dan Waduk Temon yang terletak di selatan Waduk Kraton dan di barat daya Waduk Kumitir.

Disamping waduk-waduk tersebut, di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo. Kolam Segaran memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton.

Balong Bunder sekarang merupakan rawa yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran. Balong Dowo juga merupakan rawa yang terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran.

Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal di keempat sisinya, sehingga terlihat merupakan bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.

Kolam Segaran pertama kali ditemukan oleh Maclaine Pont pada tahun 1926. Kolam ini berukuran panjang 375 meter dan lebar 175 meter dan dalamnya sekitar 3 meter, membujur arah timurlaut – baratdaya.

Dindingnya dibuat dari bata yang direkatkan tanpa bahan perekat. Ketebalan dinding 1,60 meter. Di sisi tenggara terdapat saluran masuk sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran keluar menuju ke Balong Dowo dan Balong Bunder.

Foto udara yang dibuat pada tahun 1970an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 m atau hanya 12 m, dan bahkan 94 m yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini.

Kanal-kanal di daerah pemukiman, berdasarkan pengeboran yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sedalam empat meter dan pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul, seperti di tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton yang lebarnya 26 meter diberi tanggul.

Kanal-kanal itu ada yang ujungnya berakhir di Waduk Temon dan Kali Gunting, dan sekurang-kurangnya tiga kanal berakhir di Kali Kepiting, di selatan Kota Majapahit. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil.

Kanal, waduk dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit. Di wilayah Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan ukurannya cukup besar, memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya.

Candi Tikus yang merupakan pemandian (patirtan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah, serta temuan pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno.

Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Majapahit telah mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap sanitasi dan pengendalian air.

Melihat banyak dan besarnya bangunan-bangunan air dapat diperkirakan bahwa pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur. Hal ini terbukti dari pengetahuan dana teknologi yang mereka miliki yang memungkinkan mereka mampu mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindungi serta aman dihuni.

Sampai sekarang, baik dari prasasti maupun naskah kuno, tidak diperoleh keterangan mengenai kapan waduk dan kanal-kanal tersebut dibangun serta berapa lama berfungsinya.

Rusaknya bangunan-bangunan air tersebut mungkin diawali oleh letusan Gunung Anjasmoro pada tahun 1451 yang membawa lapisan lahar tebal yang membobol Waduk Baureno dan merusak sistem jaringan air yang ada. Candi Tikus yang letaknya diantara Waduk Kumitir dan Waduk Kraton bahkan seluruhnya pernah tertutup oleh lahar.

Keadaan kerajaan yang kacau karena perebutan kekuasaan ditambah dengana munculnya kekuasaan baru di daerah pesisir menyebabkan kerusakan bangunan air tidak dapat diperbaiki seperti sediakala. Erosi dan banjir yang terus menerus terjadi mengakibatkan daerah ini tidak layak huni dan perlahan-lahan ditinggalkan oleh penghuninya.

Perkampungan dan dusun

Tidak diketahui secara pasti bagaimana bentuk rumah tradisonal peninggalan Kerajaan Majapahit yang sesungguhnya. Dari sejumlah artefak yang ditemukan yang berkaitan dengan okupasi kerajaan sulit rasanya untuk memberi contoh baku dari prototipe rumah Majapahit ini.

Tapi ada segepok artefak dari tanah liat bakar berupa miniatur rumah dan temuan struktur bangunan yang diduga sebagai tipikal rumah Majapahit.

Ekskavasi di Trowulan tahun 1995 menunjukkan adanya struktur bangunan berupa kaki dari tanah yang diperkuat dengan susunan batu yang berspesi tanah setebal 1 cm, membentuk sebuah batur rumah.

Denah batur berbentuk empat persegi panjang, ukurannya 5,20 x 2,15 meter dan tinggi sekitar 60 cm. Di sisi utara terdapat sebuah struktur tangga bata yang terdiri dari 3 anak tangga. Dari keberadaan dan tata letak tangga, dapat disimpulkan bahwa rumah ini menghadap ke utara dengan deviasi sekitar 90 55 ke timur, seperti juga orientasi hampir dari semua arah struktur bangunan yang ada di situs Trowulan.

Pada kedua sisi kaki bangunan terdapat selokan terbuka selebar 8 cm dan dalam 10 cm. Di depan kaki bangunan selokan itu mengikuti bentuk denah bangunan tangga. Selokan tersebut dibangun dari satuan-satuan bata sehingga struktur selokan lebih kuat, dan airnya bisa mengalir lebih cepat.

Di sekitar kaki bangunan ditemukan lebih dari 200 pecahan genteng dan 70 pecahan bubungan dan kemuncak, serta ukel (hiasan dari terakota yang ditempatkan di bawah jurai atap bangunan).

Halaman bangunan strukturnya amat menarik dan unik. Tanah halaman ditutup dengan struktur yang berkotak-kotak, dan masing-masing kotak dibatasi dengan bata yang dipasang rebah dikeempat sisinya, dan di dalam kotak berbingkai bata tersebut dipasang batu-batu bulat memenuhi seluruh bidang.

Tutupan semacam ini berfungsi untuk menghindari halaman menjadi becek bila hujan turun. Belum pernah ditemukan penutup halaman yang semacam ini, kecuali yang agak serupa ditemukan di selatan situs Segaran II.

Dari temuan itu dapat diasumsikan bahwa tubuh bangunan didirikan di atas batur setinggi 60 cm. Kemungkinan bangunan dibuat dari kayu (papan) dan bukan dari bata karena di sekitar areal bangunan tidak ditemukan bata dalam jumlah yang besar sesuai dengan volume bangunannya.

Mungkin tubuh bangunan dibuat dari kayu (papan) atau anyaman bambu jenis gedek atau bilik. Tiang-tiang kayu penyangga atap tentunya sudah hancur, agaknya tidak dilandasi oleh umpak-umpak batu yang justru banyak ditemukan di situs Trowulan, karena tak ada satu pun umpak yang ditemukan di sekitar bangunan.

Tiang-tiang rumah mungkin diletakkan langsung pada lantai yang melapisi permukaan batur. Atap bangunan diperkirakan mempunyai sudut kemiringan antara 35-600 ditutup dengan susunan genteng berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 24 x 13 x 0,9 cm dengan jumlah sekitar 800-1000 keping genteng yang menutupinya.

Bagian atas atap dilengkapi dengan bubungan dan kemuncak serta pada ujung-ujung jurainya dipasang hiasan ukel.

Rekonstruksi bangunan rumah yang didasarkan atas bukti yang ditemukan di situs tersebut dapat dilengkapi melalui perbandingan dengan bentuk-bentuk rumah beserta unur-unsurnya yang dapat kita lihat wujudnya dalam:

(1). artefak sezaman seperti pada relief candi, model-model bangunan yang dibuat dari terakota, jenis-jenis penutup atap berbentuk genteng, sirap, bambu, ijuk;

(2). rumah-rumah sederhana milik penduduk sekarang di Trowulan, dan

(3). rumah-rumah di Bali.

Lepas dari status sosial penghuni rumah ini, ada hal lain yang menarik, yaitu penduduk Majapahit di Trowulan, atau setidak-tidaknya penghuni rumah ini telah menggabungkan antara segi fungsi dan estetika.

Halaman rumah ditata sedemikian rupa untuk menghindari genangan air dengan cara diperkeras dengan krakal bulat dalam bingkai bata.

Di sekliling bangunan terdapat selokan terbuka yang bagian dasarnya berlapis bata untuk mengalirkan air dari halaman. Dilengkapi pula dengan sebuah jambangan air dari terakota yang besar, dan kendi berhias, memberi kesan pada sebuah halaman rumah yang tertata apik.

Di sebelah timur terdapat beberapa struktur bata yang belum berhasil diidentifikasi. Mungkin rumah yang ukurannya relatif kecil ini hanya merupakan salah satu kompleks bangunan yang berada dalam satu halaman seluas 200-an meter persegi tersebut dikelilingi oleh pagar seperti yang dapat kita saksikan di Bali sekarang ini.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: