Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KETIGABELAS

On 12 Maret 2011 at 19:21 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

Sugêng dalu

Sesaat selepas shalat Maghrib menjelang Isya’ untuk wilayah Pakuan Bogor, Sunda Kelapa, dan wilayah sekitarnya:

Ya Allah malamMu telah tiba, siangMu telah berlalu dan suara-suara penyeruMu telah diperdengarkan, ampunilah dosa-dosa hamba-hambaMu ini.

Kami berlindung diri dengan kalimatMu yang sempurna ya Allah, yang tidak dapat dilangkahi oleh orang-orang baik apalagi mereka yang durhaka; dari segala kejahatan yang menembus bumi dan kejahatan yang keluar dari bumi, dari segala kejahatan yang hendak menuju langit, dan dari kejahatan yang tercegah di pintu langit kemudian turun ke bumi, dan dari bencana malapetaka di waktu pagi, siang, sore dan malam hari, dan dari pendatang di waktu pagi, siang, sore dan malam hari, kecuali pendatang yang datang dengan kebaikan. Wahai Allah Engkau Yang Maha Pengasih. Aamin.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:

Waosan kaping-12. Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit (Parwa ka-3). On 12 Maret 2011 HLHLP 116

Waosan kaping-13:

KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-1)

Setelah Kertarajasa wafat pada tahun 1309, Anak Raden Wijaya, Jayanagara (lahir: 1294 – wafat: 1328) naik tahta, ia adalah raja kedua Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328, dengan bergelar Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara.

Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, pemerintahan Jayanagara terkenal sebagai masa pergolakan dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit, masa pemerintahannya banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit.

Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar diawal-awal berdirinya negara Kerajaan Majapahit harus berakhir dan mati sebagai musuh kerajaan. Jayanegara adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kålå Gêmêt, yang berarti “penjahat lemah”.

Menurut Pararaton, Raden Kålå Gêmêt adalah putra Raden Wijaya dan Dara Pethak. Ibunya berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke Tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol. Raden Wijaya yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanegara, kemudian menjadikan Dara Pethak sebagai stri tinuheng pura, atau “istri yang dituakan di istana”.

Menurut Pararaton, pengusiran pasukan Mongol dan berdirinya Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1294. Sedangkan menurut kronik Cina dari dinasti Yuan, pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293. Naskah Nāgarakṛtāgama juga menyebut angka tahun 1293. Sehingga, jika berita-berita di atas dipadukan, maka kedatangan Kebo Anabrang dan Dara Pethak dapat diperkirakan terjadi pada tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara terjadi dalam tahun 1294.

Nama Dara Pethak tidak dijumpai dalam Nāgarakṛtāgama dan prasasti-prasasti peninggalan Majapahit. Menurut Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya bukan hanya menikahi dua, tetapi empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan Jayanagara dilahirkan dari istri yang bernama Indreswari. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Indreswari adalah nama lain Dara Pethak.

Nāgarakṛtāgama menyebutkan Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau raja muda di Kadiri atau Daha pada tahun 1295. Babad Tanah Jawi mengabarkan: Ing taun 1295 Radèn Kålå Gêmêt, lagi yuswå sâtaun wis diangkat dadi pangéran pati lan dadi ratu ing Kedhiri, ibuné kang ngêmbani nyêkêl pråjå Kedhiri.

Nama Jayanagara juga muncul dalam prasasti Penanggungan tahun 1296 sebagai putra mahkota. Mengingat Raden Wijaya menikahi Dara Pethak pada tahun 1293, maka Jayanagara dapat dipastikan masih sangat kecil ketika diangkat sebagai raja muda.

Tentu saja pemerintahannya diwakili oleh Lembu Sora yang disebutkan dalam prasasti Pananggungan menjabat sebagai patih Daha.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui pula bahwa Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Jayanagara naik takhta menjadi raja Majapahit menggantikan ayahnya yang menurut Nāgarakṛtāgama meninggal dunia tahun 1309.

Dari Piagam Sidateka yang bertarikh 1323, Jayanagara menetapkan susunan mahamantri katrini dalam membantu pemerintahannya, yaitu sebagai berikut:

1. Rakryan Mahamantri i Hino: Dyah Sri Rangganata

2. Rakryan Mahamantri i Sirikan: Dyah Kameswara

3. Rakryan Mahamantri i Halu: Dyah Wiswanata

4. Sang Panca Wilwatika:

• Rakyan Patih Majapahit : Dyah Halayudha (Mahapati)

• Rakyan Demung : Pu Samaya

• Rakyan Kanuruhan : Pu Anekakan

• Rakyan Rangga : Pu Jalu

• Rakyan Tumenggung : –

Menurut Pararaton, pemerintahan Jayanagara diwarnai banyak pemberontakan oleh para pengikut ayahnya, salah satu pemicunya karena Sri Jayanagara adalah raja berdarah campuran Jawa – Sumatra, bukan keturunan Kertanegara murni.

Pemberontakan pertama terjadi ketika Jayanagara naik takhta, yaitu dilakukan oleh Ranggalawe pada tahun 1295 dan kemudian Lembu Sora pada tahun 1300. Dalam hal ini pengarang Pararaton kurang teliti karena Jayanagara baru menjadi raja pada tahun 1309.

Mungkin yang benar ialah, pemberontakan Ranggalawe terjadi ketika Jayanagara diangkat sebagai raja muda atau putra mahkota.

Babad Tanah Jawi mewartakan:

Tanah Jåwå karo Cinå bêcik manèh, pêrdagangané gêdhé, wong Cinå têkå ing Tanah Jåwå nggåwå mas, salakå, mêrjan, sutrå biru, sutrå kêmbang-kêmbangan, bålå-pêcah lan dandanan wêsi. Sâkå ing Tanah Jåwå, Cinå kulak: bêras, kopi kapri, rami, bumbon crakên luwih luwih mricå, barang barang mas utawa salakå, bångså dandanan kuningan utåwå têmbågå, tênunan kapas lan sutrå, wêlirang, gading, culå warak, kayu warnå-warnå, manuk jåkåtuwå lan barang nam naman.

Ing Tanah Jåwå ing wêktu iku akèh pâlabuhan ramé, kåyåtå: Tuban, Sêdayu; Canggu. Nalikå jamané ratu iki ing bawah karaton Måjåpait kênå dibasakaké ungsum kraman. Pårå satriyå kang mèlu lårå låpå dhèk jamané Radèn Wijåyå saiki ora olèh ati, awit Sang Prabu mung anggégå aturing nayakané kang aran Måhåpati, wasånå pårå satriyå mau banjur gênti-gênti pådhå ngraman, nanging têmahan asor jurité.

Pararaton juga memberitakan pemberontakan Juru Demung tahun 1313, Gajah Biru tahun 1314, Mandana dan Pawagal tahun 1316, serta Ra Semi tahun 1318. Akan tetapi, menurut Kidung Sorandaka, Juru Demung dan Gajah Biru mati bersama Lembu Sora tahun 1300, sedangkan Mandana, Pawagal, dan Ra Semi mati bersama Nambi tahun 1316.

Berita pemberontakan Nambi tahun 1316 dalam Pararaton juga disebutkan dalam Nāgarakṛtāgama, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.

Menurut Nāgarakṛtāgama, pemberontakan Nambi tersebut dipadamkan langsung oleh Jayanagara sendiri.

Di antara pemberontakan-pemberontakan yang diberitakan Pararaton, yang paling berbahaya adalah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319. Ibu kota Majapahit bahkan berhasil direbut kaum pemberontak, sedangkan Jayanagara sekeluarga terpaksa mengungsi ke desa Badander dikawal para prajurit Bhayangkâri.

Peristiwa Pemberontakan tersebut sampai akhirnya merenggut nyawanya sendiri.

(1). Peristiwa Nambi (1316) / Rakryan Patih Mpu Tambi

Nambi/Mpu Nambi adalah pemegang jabatan rakryan patih pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit, yang gugur karena difitnah pada tahun 1316. Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama mengisahkan Nambi adalah salah satu pengikut setia Raden Wijaya yang ikut mengungsi ke tempat Arya Wiraraja di Sumenep ketika Singasari runtuh tahun 1292.

Menurut Pararaton, pada saat Raden Wijaya menyerang Kadiri tahun 1293, Nambi berjasa membunuh Kebo Rubuh salah satu perwira militer Prabu Jayakatwang.

Pararaton mengisahkan setelah kemenangan Majapahit tahun 1293, Nambi diangkat sebagai patih Amangkubumi. Berita ini diperkuat oleh Prasasti Kudadu (1294) dan Prasasti Penanggungan (1296) yang menyebut nama Rakryan Patih Mpu Tambi dalam daftar pejabat Majapahit.

Menurut Kidung Ranggalawe, pengangkatan Nambi inilah yang memicu terjadinya pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295. Ranggalawe merasa tidak puas atas keputusan tersebut karena Nambi dianggap kurang berjasa dalam peperangan.

Atas izin Raden Wijaya, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit menyerang Tuban. Dalam perang itu, Ranggalawe mati dibunuh Kebo Anabrang.

Suatu hari terdengar berita bahwa ayah Nambi sakit keras. Nambi pun mengambil cuti untuk pulang ke Lamajang (nama lama Lumajang). Sesampai di sana, ayahnya telah meninggal. Mahapati datang melayat menyampaikan ucapan duka cita dari raja. Ia juga menyarankan agar Nambi memperpanjang cutinya. Nambi setuju. Mahapati lalu kembali ke ibu kota untuk menyampaikan permohonan izinnya.

Kidung Sorandaka mengisahkan: Dikisahkan pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328), putra Raden Wijaya, Nambi masih menjabat sebagai patih. Saat itu ada tokoh licik bernama Mahapati yang mengincar jabatannya. Ia selalu berusaha menciptakan ketegangan di antara Jayanagara dan Nambi.

Suatu hari Mahapati mengunjungi Nambi dan memberitahu bahwa sang Prabu tidak senang kepadanya, untuk menghindari kesalahpahaman maka Mahapati menyarankan agar Nambi untuk sementara waktu meninggalkan Majapahit pulang ke Lumajang. Kebetulan Nambi mendengar berita bahwa ayahnya, Pranaraja sedang sakit keras. Nambi pun minta ijin kepada Prabu Jayanegara untuk pulang ke Lumajang untuk menengok ayahnya tersebut. Nambi diizinkan pulang, ketika sampai di Ganding ia bertemu dengan utusan ayahnya, oleh utusan ayahnya Nambi kemudian diantar pulang.

Tidak beberapa lama ayah Nambi pun meninggal, Sang Prabu yang mendengar kabar tersebut kemudian mengutus Mahapati, Pawagal, Pamandana, Eban, Lasem dan Jaran Lejong untuk pergi ke Lumajang melayat menyampaikan ucapan duka cita dari Raja. Selama tinggal di Lumajang Mahapati terus menghasut Patih Nambi untuk tinggal lebih lama di Lumajang karena masih dalam suasana duka. Nambi kemudian minta ijin untuk tinggal lebih lama di Lumajang kepada raja dengan perantaraan Mahapati.

Akan tetapi dihadapan raja, Mahapati menyampaikan berita bohong bahwa Nambi menolak kembali ke ibu kota dan sedang mempersiapkan untuk melaksanakan pemberontakan. Dikatakan pula bahwa para Menteri yang melayat ke Lumajang tanpa Izin sang prabu sesungguhnya mempunyai maksud untuk bersekutu dengan Nambi untuk melaksanakan pemberontakan. Jayanegara termakan hasutan. Ia pun mengirim pasukan dipimpin Mahapati untuk menumpas Nambi.

Di antara Menteri Majapahit banyak yang memihak Nambi diantaranya Pamandana, Mahisa Pawaga, Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, Jaran Bangkal, Jangkung, Teguh, Semi, Lasem dan Patih Emban.

Yang masih setia kepada sang prabu hanya Lembu Peteng, Ikal Ikalan Bang dan Jabung Tarewes. Arya Wiraraja yang telah memisahkan diri dari Majapahit karena kematian putranya Ranggalawe terbukti ikut serta bergabung dengan Nambi.

Dapat diperkirakan setelah kematian Ranggalawe tahun 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pasangguhan. Ia kemudian mendapatkan daerah Lumajang sesuai janji Raden Wijaya saat perjuangan. Adapun Pranaraja Mpu Sina diperkirakan juga berasal dari Lumajang. Sesudah pensiun, ia kembali ke Lumajang sampai akhir hayatnya tahun 1316.

Selain itu dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe disebutkan kalau Arya Wiraraja adalah ayah dari Ranggalawe alias Arya Adikara, saingan politik Nambi. Versi ini didukung oleh Prasasti Kudadu (1294) yang menyebut adanya nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja dalam daftar pejabat Majapahit, namun keduanya tidak ditemukan lagi dalam Prasasti Penanggungan (1296), sedangkan nama Pranaraja Mpu Sina masih dijumpai.

Sementara itu pasukan Majapahit dipersiapkan untuk mengadakan penyerbuan ke Lumajang, Mahapati memegang siasat perang. Benteng pertahan Pejarakan harus diserang terlebih dahulu kemudian Ganding. Dari sini prajurit Majapahit mengepung Lumajang. Siasat tersebut dijalankan dan terbukti berhasil dalam pertempuran. Nambi tidak menduga datangnya serangan kemudian membangun benteng pertahanan di Gending dan Pejarakan. Namun keduanya dapat dihancurkan oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Nambi sekeluarga pun tewas pula dalam peperangan itu.

Kematian Nambi terjadi tahun 1316 yang disinggung dalam Nāgarakṛtāgama Pupuh XLVIII (48) : 2

ring sakakala mukti-guna-paksa-rupa madhumesa ta pwa caritan

sri jayanagara n’umangkat anghilangaken musuh ri lamajang

bhrasta pu nambi sak sakulagotra ri pajarakan kutanya kapugut

wrinwrin ares tikang jagat i kaprawiran ira sang narendra siniwi.

(Tersebut pada tahun mukti-guna-paksa-rupa (1238Ç) bulan Madu,

Baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh,

Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan

Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.)

Pararaton menyebutkan Nambi tewas dalam benteng pertahanannya di desa Rabut Buhayabang, karena dikeroyok oleh Jabung Tarewes, Lembu Peteng, dan Ikal-Ikalan Bang. Sedangkan menurut Nāgarakṛtāgama yang memimpin penumpasan Nambi bukan Mahapati, melainkan langsung oleh Jayanegara sendiri.

Selanjutnya Pararaton mencatat: “Juga Nambi difitnah oleh Mahapati, jasa jasa perangnya tidak diperhatikan, pada waktu ia melihat saat yang tepat dan baik, ia memohon diri untuk meninjau Wiraraja yang menderita sakit. Sri Jayanagara memberi ijin, hanya saja tidak diperkenankan pergi lama lama.

Nambi tak datang kembali, menetap di Lembah, mendirikan benteng, menyiapkan tentara.

Wiraraja meninggal dunia.

Sri Jayanagara menjadi raja, lamanya dua tahun.

Ada peristiwa gunung meletus, yalah gunung Lungge pada tahun 1233Ç.

Selanjutnya terjadi peristiwa Juru Demung, berselat dua tahun dengan peristiwa Sora.

Juru Demung mati pada tahun 1235Ç

Lalu terjadi peristiwa Gajah Biru pada tahun 1236Ç.

Selanjutnya terjadi peristiwa Mandana, Jayanagara berangkat sendiri untuk melenyapkan orang orang Mandana.

Sesudah itu ia pergi ke timur untuk melenyapkan Nambi.

Nambi diberi tahu, bahwa Juru Demung sudah mati, demikian pula patih pengasuh, Tumenggung Jaran Lejong, menteri menteri pemberani semua sudah mati, gugur di medan perang.

Nambi berkata: “Kakak Samara, Ki Derpana, Ki Teguh, Paman Jaran Bangkal, Ki Wirot, Ra Windan, Ra Jangkung, jika dibanding banding, orang orang disebelah timur ini, tak akan kalah, apalagi setelah mereka sudah rusak itu, siapa lagi yang menjadi teras orang orang sebelah barat, apakah Jabung Terewes, Lembu Peteng atau Ikal Ikalan Bang, saja tak akan gentar, biar selaksa semacam itu didepan dan dibelakang, akan kuhadapi pula seperti perang di Bubat.”

Setelah orang orang Majapahit datang, dan Nambi pergi ke selatan, maka Ganding rusak, piyagamnya dapat dirampas, Nambi dikejar kejar dan didesak, Derpana, Samara, Wirot Made, Windan, Jangkung mulai bertindak, terutama Nambi, ia mengadakan serangan pertama tama. seakan akan tercabutlah orang orang Majapahit, tak ada yang mengadakan perlawanan.

Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal Ikalan Bang lalu bersama sama menyerang Nambi, Nambi gugur, demikian pula teman teman Nambi yang menyerang tadi gugur semua, patahlah perlawanan di Rabut Buhayabang, orang orang disebelah timur itu mencabut payung kebesarannya, daerah Lumajang kalah

Gelar ayah Nambi dalam Kidung Sorandaka adalah Pranaraja. bergelar Rakryan Mantri Pranaraja Mpu Sina. Berita pemberontakan Nambi tahun 1316 dalam Pararaton mendapat dukungan Nāgarakṛtāgama.

(2). Peristiwa Aria Wiraraja / Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka

Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singasari, namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi Bupati di Sumenep Madura.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Prabu Kertajaya raja terakhir Kediri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel atau Singasari. Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibu kota Singasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana.

Menantu Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep meminta perlindungan Aria Wiraraja. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadiri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik Tarik Sidoarjo menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu memerdekakan diri dari Jayakatwang.

Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibu kota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa. Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293.

Dari Prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada Prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai.

Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibu kota di Lumajang.

Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi pemberontakan Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara raja kedua Majapahit. Kidung Sorandaka mengisahkan pemberontakan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja.

Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi dan terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.

Ra Semi (1316)

Ra Semi adalah salah seorang pembesar di kerajaan Majapahit pada jaman pemerintahan Prabu Kertarajasa (Raden Wijaya) dengan gelar Rakryan Semi. Kidung Sorandaka menyebutkan pada tahun 1316 Pranaraja ayah Patih Nambi meninggal dunia di Lumajang. Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa di mana Nambi difitnah memberontak oleh Mahapati.

Jayanagara (saat itu sudah sebagai raja Majapahit) mengirim pasukan untuk menghukum Nambi Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Semi masih berada di Lumajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia bergabung membela Nambi. Dikisahkan Nambi kemudian terbunuh beserta seluruh pendukungnya.

Ra Semi berhasil meloloskan diri dari kejaran Pasukan Majapahit dan bergabung dengan Kuti.

Pararaton menyebutkan Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit tahun 1318. Ini berarti ia lolos dari maut tahun 1316 dan menjadi pelarian.

Ia melakukan perlawanan terhadap Jayanagara dan Mahapati (yang diangkat sebagai patih baru menggantikan Nambi). Pemberontakan tersebut berpusat di daerah Lasem dan Rembang. Akhirnya pemberontakan ini dapat dipadamkan dengan kematian Ra Semi.

Peristiwa Ra Kuti (1319); Pemberontakan para Dharmaputra

Pararaton selanjutnya mengisahkan adanya pemberontakan para Dharmaputra yang dipimpin Ra Kuti tahun 1319. Pemberontakan ini terjadi langsung di ibu kota Majapahit dan jauh lebih berbahaya dibanding pemberontakan Semi.

Dharmaputra adalah sebuah jabatan bagi orang-orang tertentu yang dibentuk oleh Raden Wijaya Kertarajasa raja pertama Kerajaan Majapahit, yang beranggotakan tujuh orang, yaitu:

1.Ra Kuti,

2.Ra Semi,

3.Ra Pangsa,

4.Ra Wedeng,

5.Ra Banyak,

6.Ra YuYu dan

7.Ra Tanca.

Ketujuh orang ini semuanya tewas dan dianggap sebagai pemberontak pada masa pemerintahan raja Jayanegara. Adanya jabatan Dharmaputra diketahui dari naskah Pararaton. Jabatan ini tidak pernah dijumpai dalam sumber-sumber sejarah lainnya, baik itu Nāgarakṛtāgama ataupun prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Majapahit.

Tidak diketahui dengan pasti apa tugas dan wewenang Dharmaputra. Pararaton hanya menyebutkan bahwa para Dharmaputra disebut sebagai pengalasan wineh suka, yang artinya pegawai istimewa yang disayangi raja.

Mereka mengadakan komplotan untuk membunuh Prabu Jayanegara. Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu. Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana.

Komplotan itu telah merencanakan ketika Prabu Jayanegara sedang menumpas pemberontakan Nambi dan Arya Wiraraja. Ia menyerang sang prabu namun serangan itu tidak berhasil, malam harinya Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat Bêkêl Bhayangkâri. Pangkat bêkêl dalam keprajuritan Kerajaan Majapahit setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat tertinggi dalam jajaran keprajutitan Majapahit adalah tumenggung.

Gajah Mada muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti ini. Kemahirannya mengatur siasat dan berdiplomasi dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada posisi yang sangat tinggi di jajaran pemerintahan kerajaan Majapahit, yaitu sebagai Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Amangkubhumi Majapahit, suatu jabatan yang setara dengan Perdana Menteri di masa kini.

Gajah Mada seorang bêkêl yang membawahi satu kesatuan pasukan para lurah prajurit di jajaran keprajuritan Kerajaan Majapahit, yang tengah bertugas menjaga keamanan istana. Nama pasukan ini adalah Bhayangkâri. Suatu pasukan khusus pengawal raja, keluarga raja dan istana Majapahit. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkâri ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.

Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira-perwira yang berpangkat tumenggung. [Lihat Tata Keprajuritan Kerajaan Majapahit pada Waosan kaping-9. Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit (Parwa ka-2). 7 Maret 2011. HLHLP 114.]

Gajah Mada segera melakukan langkah-langkah penyatuan kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing panglimanya. Tidak mudah bagi seorang bêkêl untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para Tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral. Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya.

Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungi ke luar istana dibawah pengawalan Gajah Mada menuju desa Bedander dengan dikawal oleh 15 prajurit Bhayangkâri. Lama mereka tinggal di pengungsian di rumah kepala desa Badander sehingga ada salah seorang pengalasan yang minta izin untuk pulang ke Majapahit, tetapi bêkêl Gajah Mada menolaknya karena takut nantinya persembunyian ini akan diketahui pihak musuh. Akhirnya karena pengalasan tersebut bersikeras untuk pulang bêkêl Gajah Mada terpaksa membunuhnya.

Lima hari setelah peristiwa tersebut bêkêl Gajah Mada pamit kepada prabu Jayanegara untuk berangkat sendiri ke Majapahit. Sampai di Kota Majapahit bêkêl Gajah Mada kemudian mengunjungi rumah Tumenggung Amancanegara Majapahit secara diam-diam. Gajah Mada mengabarkan kalau Jayanagara telah meninggal di pengungsian dibunuh oleh pengikut Ra Kuti.

Mendengar berita tersebut semua orang menangis, Gajah Mada kemudian berkata: “diamlah bukanlah kalian memang menghendaki demikian, dan kalian semua memang ingin mengabdi kepada Ra Kuti? Jawab yang ditanya “apa katamu, dia bukanlah raja kita“.

Dari hasil pembicaraan tersebut tahulah Gajah Mada bahwa pembesar dan warga kota tidak suka kepada pemberontakan Ra Kuti dan masih menginginkan Prabu Jayanegara sebagai Raja Majapahit. Gajah Mada kemudian memberitahukan bahwa sebenarnya prabu Jayanegara masih hidup dan meminta kesanggupan para pembesar dan warga Majapahit unruk menumpas pemberontakan Ra Kuti.

Akhirnya berkat bantuan pembesar Istana dan rakyat Majapahit pemberontakan Ra Kuti berhasil dipadamkan.

Gajah Mada beserta Prabu Jayanegara dan prajurit Bhayangkâri akhirnya kembali ke Majapahit. Karena jasanya Gajah Mada kemudian diangkat sebagai Patih Kahuripan oleh Prabu Jayanegara. Dua tahun kemudian ketika patih Daha Arya Tilam wafat maka Gajah Mada menggantikan kedudukannya sebagai Patih Daha.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: