Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEEMPATBELAS

On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:

Waosan kaping-13. Kala Gemet Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (Parwa ka-1). On 12 Maret 2011. HLHLP 117

Waosan kaping-14:

KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

Peristiwa Ra Tanca dan kematian Jayanagara (1328)

Meskipun Jayanegara telah memegang kembali kepemimpinan Majapahit setelah pemberontakan Ra Kuti, tetapi dalam kenyataannya masih banyak sisa-sisa kelompok masyarakat yang belum puas dan sakit hati pada Jayanegara. Hingga akhirnya Jayanegara jatuh sakit dan didatangkan seorang tabib bernama Ra Tanca.

Sebenarnya Ra Tanca juga masih mempunyai dendam pada Jayanegara sehingga dia berpura-pura akan mengobati Jayanegara. Saat prosesi pengobatan Jayanegara tersebut diawasi oleh Gajah Mada. Karena saat itu Gajah Mada menjadi pengawal pribadi Jayanegara. Tapi dengan akal liciknya Ra Tanca berhasil membunuh Sang Prabu Jayanegara.

Babad Tanah Jawi mengabarkan: Ing taun 1328 Sang Prabu sédå, dicidrå ing dukun kang didhawuhi ambêdhèl salirané.

Ra Tanca adalah satu-satunya Dharmaputra yang masih hidup setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319. Dikisahkan pada tahun 1328 Tanca menemui Gajah Mada untuk menyampaikan keluhan istrinya. Istri Tanca mendengar berita kalau Jayanagara melarang kedua adik lain ibu, yaitu Dyah Tribhuwana Tunggadewi dan Mahadewi/Dyah Wijat putri dari Gayatri untuk menikah.

Konon Jayanagara sendiri berniat mengawini kedua adiknya itu. Ra Tanca meminta agar Gajah Mada, yang saat itu menjadi abdi kesayangan Jayanagara supaya mengambil tindakan pencegahan. Namun Gajah Mada tampak tidak peduli pada laporan Ra Tanca sehingga Ra Tanca merasa tersinggung dibuatnya.

Sebagai ahli pengobatan istana, suatu hari Ra Tanca dipanggil untuk mengobati sakit bisul Jayanagara. Di dalam kamar hanya ada Ra Tanca, Sri Baginda Prabu Jayanegara, dan Gajah Mada. Usai melakukan terapi pembedahan, tiba-tiba Tanca menusuk Jayanagara sampai tewas.

Mengetahui rajanya terbunuh, Seketika itu pula Gajah Mada menghukum mati Ra Tanca. Peristiwa itu terjadi tahun 1328.

Raja Jayanagara yang terbunuh tahun 1328 diungkapkan Pararaton dengan istilah mokta ring pagulingan ‘mangkat di tempat tidur’.

Serat Pararaton:

Raja Jayanagara mempunyai dua orang saudara perempuan, lain ibu, mereka tak diperbolehkan kawin dengan orang lain, akan diambil sendiri.

Pada waktu itu tak ada kesatriya di Majapahit, tiap tiap kesatriya yang tampak lalu dilenyapkan, jangan jangan ada yang mengingini adiknya itu, itulah sebabnya maka kesatriya kesatriya bersembunyi tidak keluar.

Isteri Tanca menyiarkan berita, bahwa ia diperlakukan tidak baik oleh raja.

Tanca dituntut oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanegara menderita sakit bengkak, tak dapat pergi keluar, Tanca mendapat perintah untuk melakukan pembedahan dengan taji, ia menghadap didekat tempat tidur.

Raja ditusuk oleh Tanca dengan taji sekali dua kali, tidak makan tajinya, lalu raja diminta agar supaya meletakkan jimatnya, ia meletakkan jimatnya didekat tempat tidur, ditusuk oleh Tanca, tajinya makan, diteruskan ditusuk oleh Tanca, mokta ring pagulingan ‘(mangkat di tempat tidur)’.

Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.

Berselat sembilan tahunlah peristiwa Kuti dan peristiwa Tanca itu, pada tahun saka: 1250.

Raja dicandikan di Kapopongan, nama resmi candi itu: Srenggapura, arcanya di Antawulan.

Perbuatan Gajah Mada membunuh Tanca tanpa pengadilan menimbulkan kecurigaan. Para ahli sejarah menyimpulkan kalau dalang pembunuhan Jayanagara sesungguhnya adalah Gajah Mada sendiri. Menurut Pararaton saat itu Gajah Mada menjabat sebagai patih Daha, di mana rajanya adalah Dyah Wijat. Meskipun ia dekat dengan Jayanagara, ia pastinya lebih dekat dengan Dyah Wijat.

Ia sengaja memancing amarah Ra Tanca dengan pura-pura tidak peduli supaya Ra Tanca sendiri yang mengambil tindakan. Siasat Gajah Mada ini berhasil. Tanca membunuh raja, dan ia sendiri kemudian dibunuh Gajah Mada. Dengan demikian, Gajah Mada berhasil menyelamatkan Dyah Wijat dari nafsu buruk Jayanagara tanpa harus mengotori tangannya dengan darah sang raja.

Penulis sejarah berdasarkan analisis data menyatakan bahwa meninggalnya Jayanagara berlatar belakang loyalitas Gajah Mada pada Jayanagara, Gajah Mada dalang pembunuhan atas Jayanagara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jayanagara akibat suruhan Gajah Mada yang kecewa, dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. kekecewaan Gajah Mada ini akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi.

Setelah raja meninggal, Gajah Mada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri. Peristiwa 1328M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras lingkaran kekuasaan (‘palace circle”). Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara.

Setelah terbunuhnya Jayanagara, Gajah Mada berkeras Tribhuwanattunggadewi dijadikan ratu Majapahit. Belum ditemukan bukti yang cukup seputar alasan kekerasan hati Gajah Mada atas penunjukan ini.

Namun, dari analisis ras, Gajah Mada mungkin khawatir singgasana akan jatuh pada Arya Damar, keturunan Raden Wijaya dari istri yang asal Jambi. Sementara, Tribhuwanattunggadewi adalah putri keturunan Raden Wijaya asli pulau Jawa.

Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra asli atau bukan. Atau, dimungkinkan pula, dengan beralihnya kekuasaan pada ratu ini, Gajah Mada lebih leluasa dalam mengambil tindakan. Konflik suksesi ini terbukti dengan baru dilantiknya Ratu Tribhuwana tunggadewi pada tahun 1329, dan sekurang-kurangnya Pemimpin perempuan Majapahit ini berkuasa sejak 1329 hingga 1350 M.

Pada fase ini, Majapahit memulai fase penaklukannya.

Mahapatih Arya Tadah lèngsèr pada tahun 1329 M, dan praktis posisi tersebut jatuh ke tangan Gajah Mada. Tribhuwanattunggadewi sangat mendukung program-program dan garis politik Gajah Mada.

Berita Cina mengabarkan pula bahwa pada waktu itu Daratan Cina dikuasai oleh Dinasti Yuan atau bangsa Mongol. Pada tahun 1321 seorang pengembara misionaris bernama Odorico da Pordenone, yang bernama asli Odorico Mattiussi, atau Mattiuzzi seorang pendeta ordo Fransiskan dari Italia dan penjelajah terkenal di Abad Pertengahan, ketika mengunjungi Pulau Jawa, dia sempat menyaksikan pemerintahan Jayanagara.

Ia mencatat pasukan Mongol kembali datang untuk menjajah Jawa, namun berhasil dipukul mundur oleh pihak Majapahit. Hal ini mengulangi kegagalan mereka pada tahun 1293.

Perjalanan Odorico ke Timur dimulai sekitar tahun 1316-1318 dari Venesia, kemudian melalui Konstantinopel, Jazirah Turki dan Iran menuju Hormuz di Teluk Persia. Dari Hormuz perjalanan dilanjutkan dengan berlayar, dan berturut-turut menyinggahi berbagai pelabuhan di Mumbai, Malabar, Srilangka, Madras, Sumatera, Jawa, pantai Kalimantan, Champa, dan akhirnya Guangzhou.

Setelah Jayanegara kembali duduk sebagai raja Majapahit dan kembali memegang kekuasaan, hubungan Majapahit dengan Cina sudah mulai membaik. Catatan dinasti Yuan menyebutkan pada tahun 1325 pihak Jawa mengirim duta besar bernama Seng-kia-lie-yulan untuk misi diplomatik. Tokoh ini diterjemahkan sebagai Adityawarman putra Dara Jingga, atau sepupu Jayanagara sendiri.

Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayanāgara memerintah sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada. Demikian kronika Cina mengabarkan.

Dari kejadian pembunuhan Jayanegara ini istana Majapahit menjadi heboh. Keadaan kerajaan Majapahit saat itu menjadi guncang. Bisa kita bayangkan juga ada pembuhuhan raja maka keadaan pemberintahan dan kerajaan menjadi guncang.

Pemberontakan Kuti dan Ra Tanca pada hakekatnya adalah suatu tidak kepuasan punggawa kerajaan terhadap pemerintahan prabu Jayanegara dan pembunuhan Prabu Jayanegara oleh Ra Tanca berarti pembebasan Tribhuwanatunggadewi dan Mahadewi dari belenggu cengkraman Prabu Jayanegara.

Banyak disebutkan di literatur bahwa Jayanegara tidak memiliki putra mahkota untuk dijadikan penggantinya menjadi Raja Mahapahit. Karena itu ditunjuklah Dyah Gitarja yaitu adik ipar Jayanegara untuk menjadi raja Majapahit berikutnya. Dyah Gitarja ini kemudian bergelar Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani dan mulai memerintah Majapahit pada tahun 1329.

Babad Tanah Jawi memberitakan: Sasédané Prabu Jåyånâgårå kang gumanti sadhérèké putri, kang sâsilih Bhrèng Kauripan banjur jêjuluk Jåyåwisynuwardhani. Sang nåtå dèwi kråmå olèh satriyå, kêkasih Kârtåwardhånå.

Kalau kita melihat literatur bahwa Jayanegara saat terbunuh tersebut belum sempat menggangkat putra mahkota yang nantinya akan menggantikannya. Tapi hal ini bukan berarti Jayanegara sampai akhir hayatnya belum memiliki istri. Karena saat terbunuh tersebut usia Jayanegara adalah 34 tahun. Jika kita berpikir secara logika pada saat usia tersebut pastilah Jayanegara telah mempunyai istri (selir), apalagi mengingat posisi Jayanegara adalah sebagai raja Majapahit. Sudah pasti Jayanegara memiliki istri tetapi belum sempat ditetapkan sebagai permaisuri atau istri utama, yang nantinya keturunannya berhak menjadi putra mahkota yang akan berhak menggantikan Jayanegara.

Menurut Pararaton Jayanagara didharmakan dalam candi Srenggapura di Kapopongan dengan arca di Antawulan. Sedangkan menurut Nāgarakṛtāgama Jayanagara dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama. Ia dicandikan di Silapetak dan Bubat sebagai Wisnu serta di Sukalila sebagai Buddha jelmaan Amogasidi, dimana candi-candi itu tidak dapat diketahui kembali.

Jayanegara wafat di tahun 1328 tanpa seorang keturunan. Pengganti selanjutnya yang semestinya Gayatri, namun karena telah meninggalkan hidup keduniawian yaitu menjadi bhiksuni, maka anaknyalah yang menjabat sebagai Bhre Kahuripan yang mewakili ibunya naik tahta dengan gelar Tribhuwananottunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1360).

Pemindahan Ibu-kota Kerajaan Majapahit

Sesuai dari data rekonstruksi para ahli arkeologi yang disesuaikan dengan kitab Nāgarakṛtāgama maka daerah kuno Alasanta atau Lmah Tulis, yang sekarang bernama Trowulan, Mojokerto, untuk selanjutnya disebut situs Trowulan adalah bekas Kraton Majapahit, yang sebelumnya berada di daerah Trik/Tarik.

Hal perpindahan ibukota kerajaan ini janganlah dijadikan perdebatan, karena ibu kota kerajaan Majapahit sama dengan ibukota-ibukota yang lain pernah mengalami perpindahan.

Contoh konkrit perpindahan kerajaan masa Hindu-Budha adalah kerajaan Mataram masa Mpu Sindok dalam prasasti Turyan (851Ç/929M) disebutkan ibu kota kerajaan di Tamwlang namun dalam prasasti lain seperti Prasasti Anjukladang (859Ç/937M) ibu kota kerajaan berpindah di Watu Galuh; lalu pada masa Panjalu/Kadiri yang awalnya di Dahanapura, tiba-tiba dalam prasasti Kamulan (1116Ç/1194M) masa Raja Kretajaya berada di Katang-Katang; dan Masa Kerajaan Tumapel-Singasari ibukota Kutaraja (Kota Bedah, Kota Malang) dipindah ke Singasari (daerah kecamatan Singosari, Kabupaten Malang).

Jadi Kerajaan Majapahit yang awalnya beribukota di daerah Trik di pindahkan ke daerah Trowulan sekarang. Namun muncul lagi pertanyaan, sejak kapan ibu kota kerajaan dipindah ke Trowulan?

Ada beberapa alasan untuk memindahkan kerajaan salah satunya yang paling sering dijumpai adalah konsep kepercayaan bila sebuah Kraton telah ternoda maka harus dipindah untuk mensucikannya.

Contoh perpindahan ibukota kerajaan Tumapel-Singasari, yang awalnya beribukota di Kutaraja dipindah ke daerah Singosari. Pemindahan ini berlangsung pada tahun 1176Ç/1254M (Nāgarakṛtāgama 41/3) atau enam tahun setelah mangkatnya Raja Anusapati yaitu pada tahun 1170Ç/1248M (Nāgarakṛtāgama 41/1), dan empat tahun setelah penyerangan terhadap Tohjaya pada tahun 1172Ç/1250M sesuai Pararaton.

Nāgarakṛtāgama Pupuh XLI (41) : 1

bhatara sang anusanatha weka de bhatara sumilih wisesa siniwi

lawas nira n-amukti ring rat apageh tikang sa yawabhumi bhakti matutur

sakabda tilakadri-sambhu kalahan bhatara mulih ing girindrabhawana

sireki winangun pradipa siwabimba sobhita rikang sudharmm ri kidal.

(Batara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan,

Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti,

Tahun tilakadri-sambhu (1170Ç) beliau pulang ke Siwaloka,

Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.)

Nāgarakṛtāgama Pupuh XLI (41) : 3

i saka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin

samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha

narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita

pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i singhasarinagara.

(Tahun rasaparwwatenduma ulan (1176Ç) Batara Wisnu menobatkan puteranya,

Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia,

Raja Kertanagara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya,

Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari.)

Jadi pemindahan pusat ibukota dan penggantian nama dari Kutaraja menjadi Singasari dikarenakan ketidak seimbangan kosmis akibat penodaan Kraton dari pada peperangan antara keluarga Anusapati-Wisnuwardhana melawan Tohjaya.

Bila Tohjaya yang dalam Prasasti Mula-Malurung menjadi raja menggantikan adiknya, Raja Guning Bhaya, maka pristiwa pembunuhan Anusapati oleh Tohjaya tahun 1170Ç/1248M (dalam Pararaton) sangatlah kompleks.

Hal ini disebabkan kedudukan antara Anusapati dan Tohjaya adalah sama-sama seorang Raja. Bedanya, Anusapati Bertahta di Kutaraja, Tumapel, sedang Tohjaya bertahta di Daha, Kadiri.

Hal ini seolah-olah memperpanjang cerita permusuhan keluarga antara Kerajaan Panjalu yang diwakili Tohjaya melawan Jenggala yang diwakili Anusapati. Hal ini menimbulkan perpecahan lagi setelah Sri Ranggah Rajasa berhasil menyatukan Panjalu-Jenggala pada tahun 1222M, namun perpecahan ini akhirnya di satukan kembali oleh persatuan Raja Wisnuwardhana-Narasinghamurti pada tahun 1172Ç/1250M.

Pada tahun 1214Ç/1292M terbukti drama permusuhan antara Panjalu melawan Jenggala terulang lagi dengan Keruntuhan Singasari (Jenggala) oleh Jayakatwang dari darah Panjalu-Kadiri. Akhirnya Raden Wijaya menyatukan lagi pada tahun 1215Ç/1293M dan membangun Kraton baru di wilayah Trik.

Untuk pemindahan Kraton Majapahit dari wilayah Trik ke daerah kuno Alasanta atau Lmah Tulis, yang sekarang Trowulan, maka dicari terlebih dahulu peristiwa penodaan Kraton di Trik. Pada masa Raden Wijaya bertahta dengan nama Abishekanya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardana ditemukan beberapa peristiwa pemberontakan.

Menurut Pararaton pada tahun 1217Ç/1295M terjadi pemberontakan Rangga Lawe dan 1222Ç/1300M terjadi pasora namun keduanya dapat ditumpas. Sampai akhir masa jabatan Raden Wijaya semua dapat di atasi, jadi sampai beliau wafat ibu kota kerajaan dapat di lindungi dari upaya-upaya penodaan.

Pada masa raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanegara putra Raden Wijaya yang bertahta pada tahun 1231Ç/1309M, terdapat pula beberapa pemberontakan.

Menurut NāgarakṛtāgamaPupuh XLVIII (48) : 2. Peristiwa Perang Lumajang berlangsung pada tahun 1238Ç/1316M, namun peristiwa ini tidak menyentuh Kraton karena peperangan terjadi di Lumajang.

Nāgarakṛtāgama Pupuh XLVIII (48) : 2

ring sakakala mukti-guna-paksa-rupa madhumesa ta pwa caritan

sri jayanagara n’umangkat anghilangaken musuh ri lamajang

bhrasta pu nambi sak sakulagotra ri pajarakan kutanya kapugut

wrinwrin ares tikang jagat I kaprawiran ira sang narendra siniwi.

(Tersebut pada tahun Saka sakakala mukti-guna-paksa-rupa (1238) bulan Madu,

Baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh,

Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan,

Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.)

\Kemudian peristiwa yang dapat menggegerkan keseimbangan kosmologis sekaligus menodai kesucian Kraton Majapahit di Trik adalah Pemberontakan Kuti pada tahun 1241Ç/1319M yaitu sembilan tahun sebelum mangkatnya Raja Jayanegara. Peristiwa ini dalam Pararaton dijelaskan telah berhasil menguasai Kraton, namun Raja Jayanegara berhasil diselamatkan oleh bêkêl Gajah Mada menuju desa Bedander.

Tidak begitu lama peristiwa ini berlangsung, setelah Gajah Mada berhasil menguasai Kraton lagi maka Rajapun pulang ke Kraton. Dari peristiwa ini diketahui bahwa raja kembali lagi keKratonnya, yang semestinya masih di daerah Trik. Hal ini bukan berarti Jayanegara tidak memindahkan Kratonnya setelah pemberontakan Kuti yang berhasil menduduki ibu kota kerajaan.

Hal kembalinya seorang raja ke Kratonnya setelah terjadi penyerangan ataupun dikuasainya Kraton oleh musuh bukanlah hal baru. Hal ini sering terjadi bahkan di sebutkan dalam sumber-sumber tertulis. Contoh dalam Prasasti Pucangan (963Ç/1041M) dan Prasasti Terep I (954Ç/1034M) mengenai penyerangan Kraton Airlangga di Wwatan Mas sehingga Raja mengungsi, namun setelah musuh dapat di usir Rajapun kembali lagi.

Pada Masa Panjalu-Kadiri, dalam prasasti Kamulan (1116Ç/1194M) masa raja Kretajaya waktu dapat serangan dari sebelah Timur (mungkin daerah Tumapel) disebutkan:

….lagi kilala mwang kalasana decanya padapuran çri maharaja tatkala ni…n kentar sangke kadatwan ring katangkatang deni nkin malr yatik kaprabhun çri maharaja siniwi ring bumi kadiri…..

Prasasti ini mengenai permohonan para samya haji katandan sapakat, karena telah mengembalikan raja ke atas singasana di bumi Kadiri, setelah sebelumnya terpaksa meninggalkan istananya di Katangkatang karena ada serangan musuh dari timur.

Kemudian peristiwa pertumpahan darah antara Kerajaan yang dipimpin Tohjaya dan Kerajaan Anusapati dengan kematian Anusapati di Tumapel pada tahun 1170Ç/1248M, namun penerusnya yaitu Sminingrat tetap bertahta di Kutaraja. Namun pada tahun 1176Ç/1254M ibu kota dipindahkan ke Singasari.

Antara tahun kematian Anusapati dan pemindahan kerajaan berselang enam tahun, dan empat tahun setelah suasana politik setabil karena ditaklukkannya Raja Tohjaya. Jadi membutuhkan bertahun-tahun untuk memindahkan kerajaan supaya layak dihuni sesuai syarat kosmologi yang berlaku.

Sama juga dengan proses pemindahan ibukota Majapahit dari daerah Tarik ke Trowulan, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sebuah pemberontakan/penyerangan biasanya datang secara tiba-tiba, namun untuk menentukan lokasi ibu kota dan proses pemindahan ibu kota baru sangatlah memakan waktu.

Jadi Setelah pemberontakan Kuti yang mendadak berhasil ditumpas, maka Raja untuk sementara kembali ke Kraton yang lama untuk menunggu pembangunan Kraton yang baru, yaitu di daerah yang sekarang di sebut Trowulan. Hal ini terbukti dari Nāgarakṛtāgama XLVIII (48) : 3 bahwa pada tahun 1250Ç/1328M Raja Jayanegara meninggal dan salah satu tempat pendharmaannya selain di dalam Pura sebagai Wisnuparama juga disebutkan Bubat ditegakkan arca Wisnu.

Nāgarakṛtāgama XLVIII (48) : 3

ring sakakala windu-sara-suryya sang nrpati mantuk ing haripada

sighra siran dhinarmma ri dalem prarcca nira wisnuwimba parama

len ri sila petak mwang i bubat padapratima wisnumurtty anupama

sing suka-lila tang sugatawimba sobhita n’amoghasiddhi sakala.

[Tahun Saka windu-sara-suryya (1250Ç) beliau berpulang,

Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama,

Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah,

Di Sukalila terpahat arca Buda sebagai jelmaan Amogasidi.]

Apabila Bubat yang dimaksud sama dengan nama lapangan yang dipakai dalam peristiwa Pasundan Bubat pada masa Raja Hayam Wuruk, maka Kraton yang dimaksud adalah Kraton yang sekarang berada di Trowulan.

Karena dalam Nāgarakṛtāgama LXXXVI (86) : 1 disebutkan:

akara rwang dina muwah ikang karyya kewwan narendra

wwanten lor ning pura tegal anamang bubat kaprakasa

sri-nathengken mara makahawan swana singhapadudwan

sabhretyanoraken ideran atyadbhuta ng wwang manonton.

[Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar,

Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat,

Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut singa,

Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.]

Situs Trowulan

[Lihat juga: Waosan kaping-12: WILAYAH KEKUASAAN KERAJAAN MAJAPAHIT (Parwa ka-3). Ibu Kota kerajaan Majapahit, Wilwatikta (Trowulan). HLHLP 116]

Bagaimana dengan tata letak kota Majapahit di Situs Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur?

Pujasastra Nāgarakṛtāgama (khususnya pupuh VIII-XII) merupakan sumber tertulis yang penting untuk mengetahui gambaran kota Majapahit sekitar tahun 1350.

Kota pada masa itu bukanlah kota dalam arti kota modern, demikian pernyataan Pigeaud (1962), ahli sejarah bangsa Belanda, dalam kajiannya terhadap Nāgarakṛtāgama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. Ia menyimpulkan, Majapahit bukan kota yang dikelilingi tembok, melainkan sebuah kompleks permukiman besar yang meliputi sejumlah kompleks yang lebih kecil, satu sama lain dipisahkan oleh lapangan terbuka.

Tanah-tanah lapang digunakan untuk kepentingan publik, seperti pasar dan tempat-tempat pertemuan. Maclaine Pont (1924-1926), seorang arsitek Belanda, coba menghubungkan gambaran kota Majapahit yang tercatat dalam Nāgarakṛtāgama dengan peninggalan situs arkeologi di daerah Trowulan.

Dengan kitab di tangan kiri dan cetok di tangan kanan, ia menggali Situs Trowulan. Hasilnya adalah sebuah sketsa tata kota Majapahit, setelah dipadukan dengan bangunan-bangunan purbakala yang terdapat di Situs Trowulan. Bentang kota Majapahit digambarkan dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi.

Pada tahun 1981 keberadaan kanal-kanal dan waduk-waduk di Situs Trowulan semakin pasti diketahui melalui studi foto udara yang ditunjang oleh pengamatan di lapangan dengan pendugaan geoelektrik dan geomagnetik.

Hasil penelitian kerja sama Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dengan Ditlinbinjarah, UGM, ITB, dan Lapan itu diketahui bahwa Situs Trowulan berada di ujung kipas aluvial vulkanik yang sangat luas, memiliki permukaan tanah yang landai dan baik sekali bagi tata guna tanah.

Waduk-waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Kedungwulan, Temon, dan kolam-kolam buatan seperti Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder, yang semuanya terdapat di Situs Trowulan, letaknya dekat dengan pangkal kipas aluvial Jatirejo.

Melalui pengamatan foto udara inframerah, ternyata di Situs Trowulan dan sekitarnya terlihat adanya jalur-jalur yang berpotongan tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan timur-barat.

Jalur-jalur yang membujur timur-barat terdiri atas 8 jalur, sedangkan jalur-jalur yang melintang utara-selatan terdiri atas 6 jalur. Selain jalur-jalur yang bersilangan tegak lurus, ditemukan pula dua jalur yang agak menyerong. Berdasarkan uji lapangan pada jalur-jalur dari foto udara, ternyata jalur-jalur tersebut adalah kanal-kanal, sebagian masih ditemukan tembok penguat tepi kanal dari susunan bata.

Lebar kanal-kanal berkisar 35-45 meter. Kanal yang terpendek panjangnya 146 meter, yaitu jalur yang melintang utara-selatan yang terletak di daerah Pesantren, sedangkan kanal yang terpanjang adalah kanal yang berhulu di sebelah timur di daerah Candi Tikus dan berakhir di Kali Gunting (di Dukuh Pandean) di daerah baratnya. Kanal ini panjangnya sekitar 5 kilometer.

Hal yang menarik, sebagian besar situs-situs di Trowulan dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan, membentuk sebuah denah segi empat yang luas, dibagi lagi oleh beberapa bidang segi empat yang lebih kecil.

Raja naga di pinggir kota. Di luar area kanal masih terdapat situs-situs hunian dan bangunan suci lainnya yang bersifat Hindu dan Buddha. Yang mencurigakan, dari situs-situs tersebut ada tiga situs yang memiliki yoni kerajaan dan penempatannya mengikuti arah mata angin. Ketiga yoni memiliki pahatan kepala raja naga dengan hiasan yang raya.

Masing-masing yoni kerajaan itu berada di dalam lingkungan kompleks bangunan keagamaan yang kini telah rata dengan tanah.

Kompleks bangunan yang terdapat di bagian timur laut kota Majapahit adalah Situs Klinterejo, terletak di Kecamatan Sooko, Mojokerto. Penggalian arkeologis di situs ini memberikan garis besar tata ruang sebuah kompleks bangunan yang memanjang barat-timur. Pada bagian barat berdiri bangunan besar dengan umpak-umpak besar dan di bagian timur merupakan bangunan sakral tempat yoni itu berada.

Kompleks bangunan yang berada di bagian tenggara kota adalah Situs Lebakjabung, terletak di Kecamatan Jatirejo. Jaraknya sekitar 11 kilometer di sebelah selatan Klinterejo.

Hasil ekskavasi yang dilakukan Balai Arkeologi Yogyakarta, tahun 2002, menunjukkan adanya kompleks bangunan yang terdiri atas tiga halaman. Halaman paling barat adalah bangunan-bangunan berumpak batu, semacam bangunan balai atau pendopo, seperti halnya di Klinterejo.

Pada halaman tengah terdapat sisa-sisa bangunan bata, dan halaman bagian timur berdiri bangunan-bangunan bata, di mana yoni naga ditempatkan. Tampaknya kompleks bangunan di Lebakjabung dan Klinterejo mengingatkan kita pada kompleks bangunan pura di Bali yang memiliki pola tiga halaman: jaba, tengah, dan jero.

Kompleks bangunan yang berada di bagian barat daya kota terdapat di wilayah Kabupaten Jombang, tepatnya di Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno. Jaraknya sekitar 9 kilometer di sebelah barat Situs Lebakjabung. Bangunannya sendiri sudah lenyap, kini telah menjadi lahan persawahan. Yang mencolok mata, di tengah sawah teronggok yoni nagaraja yang terbesar dimiliki oleh Kerajaan Majapahit.

Kompleks bangunan di bagian barat laut diperkirakan terdapat di wilayah Jombang juga, tepatnya di Dusun Tugu dan Dusun Badas, Kecamatan Sumobito. Di lokasi ini tersebar beberapa struktur bata, tetapi belum dilakukan penggalian secara intensif. Sayangnya pula, sejauh penelusuran di lapangan, tidak ditemukan yoni kerajaan berpahat nagaraja, kecuali sebuah yoni kecil polos dan sederhana, yang ditemukan di tepi jalur rel kereta api, setelah beberapa kali dipindahkan penduduk.

Ditemukannya yoni berhias nagaraja di tiga penjuru mata angin, yaitu di timur laut (Klinterejo), tenggara (Lebakjabung), dan barat daya (Sedah), serta dikaitkan dengan kanal-kanal dan kolam-kolam yang terdapat di bagian dalam kota Majapahit di Situs Trowulan, mungkinkah tata letak bekas kota Majapahit itu melambangkan kisah Amertamanthana?

Boleh jadi juga nagaraja Majapahit yang terpahat pada tubuh yoni melambangkan kesuburan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan agraris. Umumnya yoni berpasangan dengan lingga, yang melambangkan Dewa Siwa (lingga) dan istrinya (yoni) sebagai lambang kesuburan. Raja naga seolah menjadi ikon kota Majapahit yang luasnya 11 x 9 kilometer itu.

Candi Bajang Ratu

Gapura Bajang Ratu atau juga dikenal dengan nama Candi Bajang Ratu adalah sebuah gapura atau candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 dan adalah salah satu gapura besar pada zaman keemasan Majapahit.

Candi atau gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara yang dalam Nāgarakṛtāgama disebut “kembali ke dunia Wisnu” tahun 1250 Ç (sekitar tahun 1328M). Namun sebenarnya sebelum wafatnya Jayanegara candi ini dipergunakan sebagai pintu belakang kerajaan.

Dugaan ini didukung adanya relief “Si Tanjung” dan sayap gapura yang melambangkan penglepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang.

Pengaruh kebudayaan besar Majapahit masih terasa dalam kepercayaan masyarakat Trowulan. Menurut kepercayaan lokal, adalah suatu pamali bagi seorang pejabat negara untuk melintasi atau memasuki pintu gerbang Candi Bajang Ratu, karena dipercayai hal tersebut bisa mendatangkan nasib buruk.

“Bajang Ratu” dalam bahasa Jawa berarti “raja/bangsawan yang kecil/kecildil/cacat/ “. Dari arti nama tersebut, gapura ini dikaitkan penduduk setempat dengan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit) dan tulisan dalam Serat Pararaton, ditambah legenda masyarakat. Disebutkan bahwa ketika dinobatkan menjadi raja, usia Jayanegara masih sangat muda (“bujang” / “bajang”) sehingga diduga gapura ini kemudian diberi sebutan “Ratu Bajang / Bajang Ratu” (berarti “Raja Cilik”).

Jika berdasarkan kegenda setempat, dipercaya bahwa ketika kecil Raja Jayanegara terjatuh di gapura ini dan mengakibatkan cacat pada tubuhnya, sehingga diberi nama “Bajang Ratu” (“Raja Cacat”)

Sejarawan mengkaitkan gapura ini dengan Çrenggapura (Çri Ranggapura) atau Kapopongan di Antawulan (Trowulan), sebuah tempat suci yang disebutkan dalam Kakawin Nāgarakṛtāgama:

sira ta dhinarumeng Kapopongan, bhiseka ring crnggapura pratista ring antawulan“, sebagai pedharmaan (tempat suci).

Di situ disebutkan bahwa setelah meninggal pada tahun 1250 Ç (sekitar 1328 M), tempat tersebut dipersembahkan untuk arwah Jayanegara yang wafat. Jayanegara didharmakan di Kapopongan serta dikukuhkan di Antarwulan (Trowulan).

Dilihat dari bentuknya gapura atau candi ini merupakan bangunan pintu gerbang tipe “paduraksa” (gapura beratap). Secara fisik keseluruhan candi ini terbuat dari batu bata, kecuali lantai tangga serta ambang pintu bawah dan atas yang dibuat dari batu andesit. Berdiri di ketinggian 41,49 m dpl, dengan orientasi mengarah timur laut-tenggara.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: