Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEENAMBELAS

On 16 Maret 2011 at 23:20 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:

Waosan kaping-15 Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. On 15 Maret 2011HLHLP 118

Waosan kaping-16:

GAJAH MADA [Parwa ka-1]

Sang Bêkêl Bhayangkâri

Mpu Mada adalah Gajah Mada, dia adalah seorang prajurit berpangkat rendah, seorang bêkêl dari Kesatuan Bhayangkâri, Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja, Keluarga Raja dan Istana Majapahit, yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.

Sangat disayangkan sejarah awal kehidupan Gajah Mada tidak jelas, tempat kelahiran, saat kelahiran dan masa kecilnya tidak diketahui dengan pasti, beberapa sejarahwan menulis Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi – Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang. Mungkin di Sengkaling? Dau? Siapa tahu?.

Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas.

Encarta Encylopedia, sebuah ensiklopedia digital multimedia, di bawah entri Biografi Gajah Mada, berani memperkirakan Gajah Mada lahir pada tahun 1290 M. Jadi, dia lahir lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara.

Pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supranatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut. Upaya penyingkapan jatidiri Gajah Mada hendaklah menghindari pencampur-adukan tersebut.

Namun, pencampuran dengan dimensi religius tersebut paling tidak tetap dihargai sebagai upaya sebagian bangsa Indonesia untuk membanggakan tokohnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa “bellum omnium contra omnes” (Latin: perang semua melawan semua) sekarang ini.

Juga ada pendapat bahwa Gajah Mada adalah keturunan Mongol. Ia terlahir selaku anak dari salah satu prajurit Mongol yang diam di Jawa dan menikah dengan perempuan Jawa. Argumentasi ini diambil oleh sebab di periode kelahiran Gajah Mada, wilayah Majapahit pernah diduduki atau paling tidak diserang oleh Dinasti Yuan yang keturuan Mongol tersebut.

Namun, pendapat ini tidak memiliki bukti-bukti konkrit berupa inskripsi, prasasti, epik dan sejenisnya. Pararaton dan Nāgarakṛtāgama tidak pernah menyebut soal tersebut.

Jelas sekali ada maksud tertentu dari pernyataan tersebut, seolah-olah hanya orang asinglah, bukan orang pribumi Nusantara atau Jawa asli yang dapat mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.

Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit pada waktu itu yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya, Beranjak dewasa terus menanjak karirnya mulai sebagai Bêkêl Bhayangkâri (Kepala Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja, Istana dan Keluarga Kerajaan). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Daha Kadiri.

Gajah Mada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya telah disebutkan adalah kepala pasukan Bhayangkâri. Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309 sampai dengan 1328M.

Menjadi mungkin, Gajah Mada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami semangat kepemerintahannya.

Dalam Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama karya Prapanca yang ditemukan saat penyerangan Istana Tjakranagara di Pulau Lombok pada tahun 1894, dengan teks dalam huruf Bali. Pada bulan Juli 1978 ditemukan kembali di beberapa tempat di Bali: di Amlapura (Karang Asem), di Geria Pidada di Klungkung dan dua naskah lagi di Geria Carik Sideman.

Terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha dan kemudian menjadi patih dari dua kerajaan, yakni Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala yang membuatnya kemudian masuk kedalam strata sosial lingkaran elit kekuasaan pada saat itu dan Gajah Mada digambarkan pula sebagai: “seorang yang mengesankan, berbicara dengan tajam atau tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat“.

wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana

[wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,

Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,]

Selanjutnya Mpu Prapanca melalui Pujasastra Nāgarakṛtāgama, menceritakan Gajah Mada dalam “pada-pada”-nya, sebagai berikut:

wetan lor kuwu sang Gajah Mada patih ring tiktawilwadhita

mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu

wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana

rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat.

(Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada,

Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,

Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,

Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda Negara.)

[Nāgarakṛtāgama XII (12) : 4].

wwanten dharma kasogatan prakasite madakaripura kastaweng lango

simanugraha bhupati sang apatih Gajah Mada racananya nutama

yekanung dinunung nareswara pasanggrahan ira pinened rinupaka

andondok mahawan rikang trasungai andyusi capahan atirthasewana.

(Tersebut tlatah dharma kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah,

Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi,

Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas,

Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.)

[Nāgarakṛtāgama XIX (19) : 2]

muwah ring sakabdesu-masaksi-nabhi

ikang bali nathanya dussila nica

dinon ing bala bhrasta sakweh winasa

ares salwir ing dusta mangdoh wisata

(Muwah ring sakabdesu-masaksi-nabhi [1253Ç]

Sirna musuh di Sadeng, Keta diserang,

Selama bertakhta, semua terserah,

Kepada menteri bijak, Mada namanya.)

[Nāgarakṛtāgama XLIX (49) : 3]

enjing sri-natha warnnan mijil apupul aweh sewa ring bhrtya mantri

aryyadinya ng marek mwang para patih atata ring witana n-palinggih

ngka sang mantry apatih wira Gajah Mada marek sapranamyadarojar

an wwanten rajakaryyolihulih nikanang dharyya haywa pramada.

(Tersebut paginya Sri Naranata dihadap para menteri semua,

Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur,

Patih amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata:

“Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.”)

[Nāgarakṛtāgama LXIII (63) : 1]

bgka ta sri-nrpati n-pareng marek amuspa saha tanaya dara sadara

milw ang mantry apatih Gajah Mada makadi nika pada maso mahan marek

mwang mantry akuwu ring paminggirathawa para ratu sahaneng digantara

sampunyan pada bhakty amursita palinggihan ika tinitah yathakrama.

(Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca,

Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah,

Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru,

Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.)

[Nāgarakṛtāgama LXV (65) : 2]

ratryan sang mapatih Gajah Mada rikang dina muwah ahatur niwedya n-umarek

stryanggeng soka tapel nirarjja tiheb ing bhujagakusuma rajasasrang awilet

mantry aryyasuruhan pradesa milu len pra dapur ahatur niwedya n-angiring

akweh lwir ni wawanya bhojana hanan plawa giri yasa mataya tanpapegetan.

(Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan,

Kembang sesaji dibawa perempuan yang sedih di bawah nagasari dibelit rajasa,

Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian,

Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan)

[Nāgarakṛtāgama LXVI (66) : 2]

nrpathi n-umulih sangke simping wawang dating ing pura

prihati tekap ing gring sang mantry adhimantri Gajah Mada

rasika sahakari wrddhya ning wawawani ring dangu

ri bali ri sadeng wyakty ny antuk nikanayaken musuh.

(Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura,

Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering,

Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa,

Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.)

[Nāgarakṛtāgama LXX (70) : 3]

sampun rabdha pageh ny adeg nrpati ri yawadharani jayeng digantara

ngkana sriphalatiktanagara siran siniwi mulahaken jagaddhita

kirnnekang yasa kirti dharmma ginawe niran n anukani buddhi ning para

mantri wipra bhujangga sang sama wineh wibhawa tumut akirti ring jagat

(Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah digantara,

Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia,

Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega,

Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.)

[Nāgarakṛtāgama XVII (17) : 1]

gong ning wiryya wibhuti kagraha tekap nrpati tuhutuhuttama prabhu

lila nora kasangsayan ira n anamtami suka sakaharsa ning manah

kanya sing rahajong ri janggala lawan ri kadiri pinilih sasambhawa

astam tan kahanang sakeng parapurasing areja winawe dalem puri.

(Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama,

Lepas dari segala duka, mengeyam hidup penuh segala kenikmatan,

Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri,

Berkumpul di istana bersama yang tekumpulkan dari negara tetangga.)

[Nāgarakṛtāgama XVII (17) : 2]

salwa ning yawabhumi tulya nagari sasiki ri pangadeg naradhipa

mewwiwu ng jana desa tulya kuwu ning bala mangideri kanta ning puri

salwir ning paranusa tulya nika thaniwisaya pinahasukenaris

lwir ndyana tikang wanadri sahananya jinajah ira tanpanangsaya.

(Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda,

Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura,

Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan,

Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.)

[Nāgarakṛtāgama XVII (17) : 3]

Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai pemimpin pasukan khusus Bhayangkâri berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanegara (1309-1328) putra Raden Wijaya dari Dara Pethak. Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Daha Kadiri.

Pararaton memberikan tempat cukup banyak untuk menguraikan jasa-jasa Gajah Mada, antara lain:

Gajah Mada yang menjadi kepala pasukan penjaga istana, pada waktu sedang giliran jaga, itu sebabnya mengiringi raja. Lama mereka ada di Badander.

Seorang Pangalasan mohon diri pulang, tetapi tidak diizinkan oleh Gajah Mada, karena abdi yang mengiringi raja hanya sedikit, namun bersikeras untuk pulang. Ia ditusuk (dibunuh oleh Gajah Mada, alasannya mungkin ia menyebarluaskan bahwa raja ada di rumah sesepuh Badander dan mungkin Kuti mengetahuinya).

Selang sepekan kemudian, Gajah Mada pergi ke Majapahit. Setiba di Majapahit, Gajah Mada ditanyai oleh pejabat-pejabat tinggi negara, dimana raja berada, ia memberi tahu bahwa sudah dibunuh oleh pengikut Kuti. Semua yang diberitahu menangis.

Berkatalah Gajah Mada, “Diamlah, kalian tidak ingin mengabdi Kuti.” Menjawablah yang diberi tahu, “Apa yang anda ucapkan itu, kan bukan junjungan kami.”

Akhirnya Gajah Mada memberi tahu bahwa raja ada di Badander. Kemudian Gajah Mada bersepakat dengan menteri untuk membunuh Kuti; Kuti dibunuh dan mati.

Setelah raja kembali, Gajah Mada tidak lagi menjabat kepala pasukan penjaga istana, dua bulan kemudian ia menikmati istirahat, (jabatan) dialihkan, ia menjadi patih di Kahuripan; ia menjadi patih selama dua tahun. Sang Arya Tilam, patih di Daha, meninggal,

Gajah Mada menggantikannya, dijadikan patih di Daha, mengikuti Mahapatih sang Arya Tadah, yang mendukung Gajah Mada supaya dapat menjadi patih di Daha.’ [Pararaton 26]

Istri Tanca mendesas-desuskan bahwa ia dicemari raja. Tanca ditantang oleh Gajah Mada. Kebetulan raja Jayanagara menderita bengkak dan tidak bisa pecah.

Tanca disuruh mengiris (membedah), dan masuk ke peraduan. Ditusuk sekali-dua kali tidak mempan, raja dimohon melepaskan kesaktiannya (aji-ajinya). Raja melepaskannya di sampingnya, (Bisul) diiris/dibedah oleh Tanca dan mempan, sekaligus ditusuk oleh Tanca, wafatlah raja di peraduan. Tanca segera dibunuh oleh Gajah Mada, matilah Tanca.‘ [Pararaton 27]

Kemudian ada peristiwa Sadeng. Tadah, sang Mahapatih sakit dan sering tidak dapat menghadap, tetapi memaksakan diri untuk menghadap, mohon ke Duli Sang Ratu untuk membebaskannya dari jabatan Mahapatih, tidak disetujui oleh Bhre Kahuripan, sang Arya Tadah pulang, memanggil Gajah Mada, berbincang-bincang di ruang tengah.

Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Majapahit, Mahapatih, “saya akan membantu dalam kesulitanmu.” Jawab Gajah Mada, “ananda segan apabila menjadi patih sekarang. Apabila sudah dari Sadeng, mau menjadi patih, apabila dapat dimaafkan bila tak berhasil, ananda sanggup.” “Hai anakku, segala kesukaranmu akan kudampingi, segala kesulitanmu.”

Maka besarlah hati Gajah Mada mendengar kesanggupan sang Arya Tadah……Datang dari Sadeng, ………Gajah Mada menjadi pemimpin umum, …….Gajah Mada, Mahapatih, tidak mau menikmati istirahat, Gajah Mada, “apabila Nusantara sudah tunduk, saya akan menikmati (hasilnya dengan) beristirahat, …….‘ [Pararaton 28]

, ……..Maka Gajah Mada menikmati hasilnya. Sebelas tahun ia menjadi Mahapatih……Sang Patih Gajah Mada meninggal, ……Tiga tahun tidak ada yang menggantinya menjadi patih.‘ [Pararaton 29]

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kadiri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit.

Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.

Beberapa karya sastra maupun batu/lempengan bertulis yang sedikit banyak dapat memberi petunjuk tentang Gajah Mada, antara lain:

Memadamkan Pemberontakan Ra Kuti

Gajah Mada adalah seorang mahapatih kerajaan Majapahit yang didaulat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil menyatukan Nusantara. Sumber-sumber sejarah yang menjadi bukti akan hal ini banyak ditemukan di pelbagai tempat.

Di antaranya di Trowulan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dahulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Majapahit. Kemudian di Pulau Sumbawa, di mana sebuah salinan kitab Nāgarakṛtāgama di temukan.

Prasasti dan candi adalah peninggalan-peninggalan masa lalu yang menjadi bukti lain pernah jayanya kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada.

Peristiwa pemberontakan yang paling berdarah pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, raja kedua Majapahit. Pemberontakan yang dilakukan oleh Dharmaputra Winehsuka di bawah pimpinan Ra Kuti – rekan Gajah Mada dalam keprajuritan – sampai mampu melengserkan sang prabu Jayanegara dari singgasananya untuk sementara dan mengungsi ke pegunungan kapur, sebuah daerah yang diberi nama Bedander.

Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit pilihan dari kesatuan Dharmaputra yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Pangalasan Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut.

Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana.

Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira tinggi yang berpangkat tumenggung.

Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat Bêkêl. Pangkat Bêkêl dalam keperajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas senopati adalah tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.

Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan yang bertugas menjaga keamanan istana, keselamatan raja dan keluarganya. Nama pasukan ini adalah Bhayangkâri. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkâri ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.

Informasi tentang adanya pemberontakan tersebut diperoleh dari seseorang yang memberitahu Gajah Mada akan adanya bahaya yang akan datang menyerang istana pada pagi hari.

Tidak dijelaskan siapa dan atas motif apa seseorang tersebut memberikan informasi tersebut kepada Gajah Mada. Satu hal yang cukup jelas bahwa orang tersebut mengetahui rencana makar dan kapan waktu dilakukan makar tersebut menandakan bahwa informan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pihak pemberontak.

Mendapatkan informasi tersebut Gajah Mada segera melakukan penggalangan dengan segenap jajaran têlik sandi yang dimiliki pasukannya, tidak ketinggalan terhadap têlik sandi pasukan kepatihan. Saat itu mahapatih masih dijabat oleh Arya Tadah, yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gajah Mada.

Gajah Mada juga melakukan langkah penggalangan kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya. Tidak mudah bagi seorang bêkêl untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya.

Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral.

Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya.

Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungsi ke luar istana dilindungi oleh segenap kekuatan pasukan Bhayangkâri.

Namun, tidak seluruh anggota pasukan Bhayangkâri memihak raja. Hal ini tentu menyulitkan tindakan penyelamatan sang prabu karena setiap saat di mana saja, musuh dalam selimut bisa bertindak mencelakai sang prabu.

Hal ini yang mendorong Gajah Mada melakukan tindakan penyelamatan yang rumit sampai membawa sang prabu ke Bedander, sebuah daerah di pegunungan kapur.

Dengan kecerdikannya, memanfaatkan kekuatan dan jaringan yang dimiliki, akhirnya Gajah Mada berhasil mengembalikan sang prabu ke istana. Prabu Sri Jayanegara memang selamat dari kejaran Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya.

Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajah Mada dari sekadar bêkêlpasukan Bhayangkâri menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala.

Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta.

Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajah Mada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajah Mada adalah Jenggala-Kadiri yang meliputi Wurawan dan Madura.

Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi.

Pertama, loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara mengalami titik balik tatkala raja Jayanagara mengambil istri Gajah Mada selaku haremnya.

Kedua, Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajah Mada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajah Mada sendiri.

Ketiga, loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi.

Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328, yakni sembilan tahun kemudian, ketika salah seorang Dharmaputra Pangalasan Winehsuka Ra Tanca yang telah diampuni dari kesalahan akibat terlibat dalam pemberontakan tersebut, melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga: meracun sang prabu sampai mengakibatkan wafatnya beliau, versi lain menyatakan bahwa Ra Tanca menusuk Sang Prabu dengan sebilah keris ketika Ra Tanca mengobati sakitnya Sang Prabu.

Memadamkan Pemberontakan Sadeng

(Mohon baca kembali Waosan kaping-15 Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani. Subbab Pemberontakan Sadeng. On 15 Maret 2011 at 05:29 cantrik bayuaji said: HLHLP 118)

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah atau Mpu Krewes ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kadiri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit.

Keta dan Sadeng, diceritakan bahwa kedua wilayah bagian Majapahit tersebut berniat memisahkan diri dari kerajaan Majapahit dan melakukan persiapan serius. Di antaranya adalah melakukan perekrutan besar-besaran terhadap warga sipil untuk dididik keprajuritan di tengah hutan Alas Larang.

Tujuannya adalah memperkuat angkatan perang kedua wilayah tersebut, yang pada akhirnya akan dibenturkan terhadap kekuatan perang Majapahit.

Gajah Mada berpendapat bahwa sebisa mungkin perang dengan Keta-Sadeng diselesaikan secara psikologis dengan mengadakan provokasi dan adu domba antar kekuatan internal Keta-Sadeng.

Bahkan kalau perlu melakukan penculikan terhadap para pemimpin yang menggerakkan perang tersebut. Tujuan akhirnya adalah menyelesaikan konflik Keta-Sadeng dengan biaya kecil-kecilnya.

Dilihat dari kekuatan gelar pasukan, kekuatan Keta-Sadeng bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuatan pasukan Majapahit. Namun, dibalik kekuatan fisik pasukan segelar sepapan yang belum sebanding dengan pasukan Gajah Mada, Keta-Sadeng dilindungi oleh kesatria mumpuni yang sakti mandraguna.

Ksatria ini adalah mantan pelindung Raden Wijaya, raja Majapahit yang pertama. Nama ksatria tersebut adalah Wirota Wiragati, terkenal dengan kesaktiannya memiliki ajian sirep, ajian panglimunan, dan kekuatan untuk mendatangkan kabut yang bisa menyulitkan daya penglihatan pasukan mana pun.

Namun, dengan kecerdikan Gajah Mada yang disalurkan ke setiap unsur pasukan Bhayangkâri yang disusupkan sebagai têlik sandi ke wilayah Keta dan Sadeng, akhirnya tujuan Gajah Mada untuk mengakhiri perang Keta-Sadeng dengan biaya minimal akhirnya tercapai.

Keta dan Sadeng pun akhirnya takluk. Setelah menuntaskan tugas pemadaman pemberontakan Keta-Sadeng, akhirnya Gajah Mada siap untuk didaulat menjadi mahapatih menggantikan Arya Tadah.

Pada saat itu, Majapahit juga menjalin hubungan dengan kerajaan Swarnabhumi, di pulau Sumatra.

Kedatangan raja Swarnabhumi – Adityawarman – ke Majapahit digambarkan menggunakan kapal perang berukuran besar yang belum ada tandingannya dari armada laut kerajaan Majapahit.

Adityawarman sendiri adalah saudara sepupu mendiang prabu Sri Jayanegara, sekaligus sahabat yang cukup dekat dengan Gajah Mada.

Penggambaran besarnya ukuran kapal perang dari Swarnabhumi agaknya dimaksudkan sebagai cikal bakal adopsi teknologi yang menjadikan besarnya armada angkatan laut Kerajaan Majapahit kelak ketika penyatuan Nusantara dimulai.

ånå tutugé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: