Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KETUJUHBELAS

On 18 Maret 2011 at 22:47 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:

Waosan kaping-16. Gajah Mada. Sang Bêkêl Bhayangkâri (Parwa ka-1) On 18 Maret 2011 Surya Majapahit

Waosan kaping-17:

GAJAH MADA

Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit — Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

Secara resmi Patih Gajah Mada diangkat oleh Ratu Thribhuwana Tunggadewi sebagai Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit pada tahun 1334. Jabatan tertinggi di pemerintahan kerajaan Majapahit setelah Sri Maharaja.

Pada acara pelatikannya sebagai Patih Majapahit, Gajah Mada mengucapkan janji baktinya yang dikenal dengan Sumpah Palapa, sambil mengacungkan kerisnya bernama Surya Panuluh yang sebelumnya adalah milik Dyah Kertarajasa Jayawardhana, Pendiri Kerajaan dan Raja Pertama Majapahit.

Sumpah Gajah Mada yang akhirnya kita kenal sebagai Sumpah Palapa adalah pengumuman resmi tentang program politik pemerintahan yang akan dijalankan oleh Patih Gajah Mada dibawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.

Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yang sering diartikan bahwa “ia baru akan menikmati buah palapa” jika telah berhasil menaklukkan Nusantara, yang berbunyi,

Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

[Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin (merasakan) hidup mukti bersenang-senang (terlebih dahulu). Beliau Gajah Mada (berikrar): “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) menikmati hidup muktiku. Jika telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) menikmati hidup muktiku”].

Catatan:

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, sering diterjemahkan sebagai Sumpah Palapa, yang diartikan dengan berbagai macam arti, antara lain:

1).tidak memakan ‘buah palapa’.

untuk ini tidak jelas apa yang dimaksud dengan “buah palapa”, juga tidak diperoleh penjelasan tentang bentuk, jenis “buah palapa” ini.

2). tidak beristirahat;

3). tidak berhenti berpuasa;

4). tidak berhenti berpuasa mutih;

a. Kata “palapa” ada yang mencoba-dekatkan dengan kata “plapah” (di salah satu los pasar Tulungagung, tempat orang jualan bumbu dapur disebut “plapah”).

b. Palapa — dibaca pallappa — dalam Bahasa Madura adalah “bumbu masakan”, jadi artinya bumbu dapur atau rempah-rempah.

Tan Ayun Amuktia Palapa” jika boleh diartikan “tak akan makan bumbu dapur”, atau makan nasi tanpa bumbu-bumbuan, itu sama maknanya dengan påså mutih.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, bila seseorang berkehendak untuk mencapai suatu cita-cita, biasanya dibarengi dengan “laku prihatin” atau “tirakat”, salah satu laku prihatin itu adalah påså mutih.

Laku prihatin yang dikenal oleh masyarakat Jawa di antaranya: mutih, ngêruh, ngêbleng, pati gêni, ngêlowong, ngrowot, nganyêp, ngidang, ngêpêl, ngasrêp, sênin-kêmis, wungon, tapa jêjêg, lelono, kungkum, ngalong, dan ngêluweng

Berikut nukilan apa yang disebut di atas dari “Javanism” dalam bahasa Jawa.

Têmbung amukti palapa déning Mr. M. Yamin ditêgêsi ngaso (pensiun?). Sajak-sajaké pårå ahli sêjarah durung sapanêmu ngênani têgêse palapa utåwå “tan ayun amuktia palapa”. Ånå têmbung Jåwå sing cêdhak bangêt karo têmbung palapa, yåiku têmbung “plapah”.

Manut bausastrå W.J.S. Poêrwådarmintå 1939 plapah ditêgêsi (ênggon-ênggonan) bumbu olah-olahan = bumbu pawon. Ênggon-ênggonan mau sajaké kalêbu Tulungagung.

Awit ing Pasar Wagé Tulungagung ånå bango (los) sing ditulisi “plapah”.

Têgêse bango mau kanggo wong dodolan plapah. Kamångkå nyatané los mau kanggo wong dodolan bumbu olah-olahan.

Dudutanku “amukti palapa” daktêgêsi dhêdhaharan sing nganggo bumbu. Dadi sasuwéné Nusantårå durung manunggal karo Måjåpahit, Gajah Mada ora kêrså dhahar dhêdhaharan sing dibumboni.

Ing bêbrayan Jåwå tirakat utåwå riyalat kåyå ngono kuwi jênêngé påså mutih. Yåiku mung dhahar sêgå putih, ora nganggo lawuh sing dibumboni.

Nalikå kêlakon Nusantårå wis nyawiji karo Majapahit, Gajah Mada mêsthine yå lèrén anggoné påså mutih.

Dengan demikian makna dari sumpah tan ayun amuktia palapa itu adalah, bahwa Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, dia rela tidak menikmati kesenangan hidup; yang diartikan tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, adalah bahwa setiap sang wruhing tattwa jñana yaitu orang yang berilmu, di dalam mencapai tujuan perjuangannya, dia harus melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Tidak menyibukkan diri pada kegiatan-kegiatan yang tak ada manfaatnya.

Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.

Arti nama-nama tempat:

•Gurun = Nusa Penida.

•Seran = Seram.

•Tañjung Pura = Kerajaan Tanjung Pura, Ketapang, Kalimantan Barat.

•Haru = Sumatra Utara (ada kemungkinan merujuk kepada Karo).

•Pahang = Pahang di Semenanjung Melayu.

•Dompo = Kabupaten Dompu.

•Bali = Bali.

•Sunda = Kerajaan Sunda.

•Palembang = Palembang atau Sriwijaya.

•Tumasik = Singapura.

Sumpah Palapa tersebut sangat menggemparkan para undangan yang hadir dalam pelantikan Gajah Mada sebagai patih Amangku bumi.

Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki, undangan yang lain turut serta mengejek, Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terpingkal pingkal.

Gajah Mada yang merasa terhina akhirnya turun dari paseban menghadap kaki sang Ratu dan berkata bahwa hatinya sangat sedih dengan penghinaan tersebut.

Akhirnya setelah acara tersebut Gajah Mada kemudian menyingkirkan Ra Kembar untuk membalaskan dendamnya karena mendahului mengepung Sadeng.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada, oleh karena itu ia sangat marah ketika ditertawakan.

Program politik yang dijalankan oleh Gajah Mada berbeda dengan yang dijalankan oleh Prabu Kertarajasa dan Prabu Jayanagara dimana dalam masa pemerintahan ke dua tokoh tersebut para menteri kebanyakan diambil dari orang orang yang terdekat yang dianggap berjasa oleh kedua tokoh tersebut.

Dan ketika orang orang kepercayaan tersebut melakukan pemberontakan maka pemerintahan tersebut hanya disibukkan oleh pembasmian pemberontakan sehingga mereka tidak berkesempatan untuk menjalankan politik untuk mengembangkan wilayah kerajaan.

Demikianlah Gajah Mada dalam menjalankan Politik Nusantaranya para pejabat-pejabat yang dahulu mengejek dan menertawakannya disingkirkan satu persatu.

Ra Kembar dan Warak yang mengejeknya habis habisan kemudian disingkirkan.

Dengan adanya Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, maka Gajah Mada bercita-cita mempersatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sehingga untuk mewujudkan sumpah tersebut, pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada dan dibantu oleh Adityawarman melakukan politik ekspansi/penyerangan keberbagai daerah dan berhasil.

Atas jasanya Adityawarman diangkat menjadi Raja Melayu tahun 1347 untuk menanamkan pengaruh Majapahit di Sumatera.

Walaupun ada sejumlah orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada berhasil menaklukkan Nusantara.

Tahun 1339-1341, seluruh Nusantara bagian barat berturut-turut ditaklukkan oleh tentara angkatan laut Kerajaan Majapahit pimpinan Senapati Sarwajala Mpu Nala. Dimulai dengan Kerajaan Samudra Pasai, Jambi, Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Kemudian Langkasuka, Kelantan, Kedah, Selangor, lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya.

Selanjutnya kapal-kapal perang Majapahit mendarat di Tanjungpura, menundukkan Sambas, Banjarmasin, Pasir, dan Kutai dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Dalam waktu 7 tahun setelah dikumandangkan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan pulau-pulau di sekitarnya sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Armada Angkatan Laut Kerajaan Majapahit dengan kekuatan 40.000 prajurit menjadi sesuatu kekuatan dahsyat tak ada tandingannya di Asia Tenggara ketika itu.

Dengan demikian, Nusantara bagian barat sepenuhnya sudah bersatu di bawah kerajaan Majapahit, kecuali Kerajaan Sunda.

Tahun 1343 Mahapatih Gajah Mada melakukan pembuktian sumpahnya, dibantu oleh Senapati Sarwajala Mpu Nala memimpin armada laut Majapahit dengan kekuatan 3.000 prajurit menuju wilayah timur Nusantara untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang bersikap dingin atau mencoba melepaskan diri.

Kerajaan itu antara lain: Bedahulu (Bali), Lombok (1343),

Bali sendiri bukanlah wilayah yang belum pernah diekspansi kerajaan Jawa sebelumnya. Kira-kira tahun 1284 M, Raja Kertanegara dari Singasari pernah melaklukannya. Ekspedisi Gajah Mada ke Bali ini juga dikenal sebagai Ekspedisi Bedahulu.

Saat itu di Bali berkuasa raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten, sekurangnya sejak 1337 M. Raja Bali ini punya panglima perang perkasa bernama Amangkubumi Paranggrigis.

Dalam melakukan kegiatannya, Panglima Paranggrigis punya seorang pembantu sakti bernama Kebo Iwa, asal desa Belahbatuh. Kebo Iwa inilah yang dinilai Majapahit perlu disingkirkan terlebih dulu guna melemahkan Bali.

Sebelum mengekspansi Bali secara militer, Gajah Mada melakukan diplomasi terlebih dulu. Ratu Tribhuwanattungadewi menulis surat yang dibawa Gajah Mada, bahwa Majapahit hendak bersahabat dengan Bali.

Tidak diceritakan apa yang kemudian terjadi, paling tidak, Amangkubumi Paranggrigis kemudian menggantikan posisi Kebo Iwa selaku orang kuat Bali.

Paling tidak, Amangkubumi Paranggrigis ‘terpaksa’ turun tangan sendiri untuk memimpin posisi Bali atas Majapahit. Amangkubumi Paranggrigis mengumpulkan tokoh-tokoh untuk membahas sikap Bali atas Majapahit.

Suara bulat dicapai, bahwa Bali tidak akan tunduk pada Majapahit. Tahun 1334 M, barulah Gajah Mada membawa ekspedisi militer ke Bali.

Dalam ekspedisi tersebut, ikut serta Arya Damar (atau Adityawarman) yang saat itu memangku selaku panglima perang. Bali setelah serangan Majapahit, mengalami kekosongan kepemimpinan.

Orang berpengaruh di Bali yang masih hidup saat itu adalah Patih Ulung. Namun, patih ini tidak mampu menguasai keadaan dan sebab itu ia bersama dua orang keluarganya yaitu Arya Pemacekan dan Arya Pemasekan datang menghadap Ratu Tribhuwanattungadewi untuk mengangkat wakil otoritas Majapahit di Bali.

Tribhuwanattungadewi dan setelah rêmbugan dengan Gajah Mada mengangkat Sri Kresna Kepakisan (turunan Bali Aga) selaku wakil Sri Baginda Ratu Majapahit di Bali.

Bali Aga adalah turunan Bali pegunungan, yang kerap dipisahkan dengan Bali Mula (orang Bali asli). Trik politik yang tetap berupaya memecah atau menyeimbangkan orang “dalam” dan orang “luar” Bali agar tetap tunduk pada Majapahit.

Invasi ke kerajaan lainnya

Di era yang sama pula, Gajah Mada memimpin upaya penaklukan Lombok. Seperti telah disebut, dalam Ekspedisi Bedahulu 1333-1334 M, Gajah Mada disertai dengan Arya Damar atau Adityawarman.

Adityawarman ini kemudian diangkat selaku wakil Sang Ratu Majapahit di Sumatera (eks. Sriwijaya).

Adityawarman semenjak kecil hidup di lingkungan keluarga Majapahit. Setelah penaklukan Gajah Mada, ia pun diangkat selaku vassal Majapahit yang berkedudukan di Jambi.

Adityawarman masih merupakan saudara dari Jayanagara, raja Majapahit sebelumnya.

Tatkala menjadi vassal Majapahit, Adityawarman memperluas cakupan wilayah Majapahit hingga ke barat, Minangkabau. Ia memerintah atas nama Majapahit.

Penaklukan ini diteruskan hingga ke Kerajaan Samudra Pasai. Termasuk ke dalamnya, penaklukan Tumasik (Singapura), Bintan, Borneo (Kalimantan), termasuk Burni (Brunei).

Proses penaklukan Gajah Mada juga diarahkan ke wilayah timur Nusantara. Wilayah yang ditaklukannya meliputi Logajah, Gurun, Seram, Hutankadali, Sasak, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Sumbawa Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Seram Ambon, Timor, dan Dompo.

Seluruh wilayah timur Nusantara telah disatukan, termasuk Pulau Irian, Sanggir Talaud, Bahkan beberapa wilayah Filipina bagian selatan juga masuk ke dalam kekuasaan Majapahit.

Pasukan kekuatan Majapahit tidak semuanya berasal dari pusat pemerintahan. Namun, hampir dua per-tiga justru berasal dari Kerajaan Melayu dan gabungan beberapa dari kerajaan di wilayah Jawa yang sudah mengakui kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Gugus Armada Angkatan Laut Majapahit

Dalam ekspansi militer dalam rangka mewujudkan persatuan nusantara, Kerajaan Majapahit mengandalkan kekuatan maritimnya. Konon rahasia kekuatan laut Majapahit sejak jaman Gajah Mada ini dipegang Mpu Nala.

Mpu Nala, Panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit, dialah Senapati Sarwajala Mpu Nala. Dia seorang perwira tinggi berusia muda yang tandangé nggêgirisi. Cepat dan tuntas.

Kepandaiannya bertempur di lautan tak pernah ada yang meragukannya, hingga negeri-negeri di Swarna Dwipa dan Dharma Sraya pun mengakui kehebatannya. Begitu juga Tumasek.

Gajah Mada memiliki harapan besar kepada seorang Senopati Angkatan Lautnya Mpu Nala ini. Gajah Mada memiliki pendapatnya sendiri, jika wilayah Nusantara ingin tetap utuh, pasukan dan armada angkatan lautlah pemegang kuncinya.

Air dan lautan, baginya, adalah pemersatu, bukan pemisah.

Jika Majapahit bisa berjaya di lautan, berarti Majapahit akan memegang semuanya, hingga tak perlu cemas lagi jika pasukan tentara negeri Atap Langit datang kembali kelak. Gajah Mada harus selalu waspada terhadap mereka, dan itulah yang selalu menghantui batinnya selama ini.

Bagaimanapun, seorang Khan Agung dari negeri Atap Langit itu pasti begitu murkanya karena pasukan yang dikirimnya ke Jawa Dwipa ini telah diperdaya oleh Raden Wijaya, penggagas berdirinya Negara Majapahit ini.

Senapati Sarwajala Mpu Nala, Sang Panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit menempatkan gugus kapal perang berjumlah beberapa puluh untuk menjaga lima titik penting perairan Nusantara.

Armada Gugus Pertama bertugas di sebelah barat pulau Sumatera sebagai gugus kapal perang penjaga samudera Hindia di bawah pimpinan Senapati Sarwajala yang berasal dari Jawa Tengah;

Armada Gugus Kedua kapal perang penjaga Laut Kidul atau sebelah selatan Pulau Jawa di bawah pimpinan seorang Senapati Sarwajala putra Bali;

Armada Gugus Ketiga bertugas menjaga perairan selat Makasar dan wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera di bawah pimpinan seorang Senapati Sarwajala putra Makasar;

Armada Gugus Keempat menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna di bawah pimpinan seorang Senapati Sarwajala dari Jawa Barat;

Terakhir Armada Gugus Kelima menjaga Laut Jawa hingga ke arah timur sampai kepulauan rempah-rempah Maluku, armada Jawa ini mengibarkan bendera Majapahit Sang Saka Gula-Kelapa di tambah lagi bendera emas simbol istana Majapahit dipimpin oleh seorang Senapati Sarwajala berasal dari Jawa Timur.

Setiap armada gugus kapal perang terdapat kapal bendera tempat kedudukan pimpinan senapati bagi semua kapal penyerang, kapal perbekalan, dan pelindung kapal bendera itu sendiri.

Dari kelima armada Majapahit itu beban berat ialah menjaga perairan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan yang penuh perompak yang berpangkalan di sekitar wilayah Campa, Vietnam, dan Tiongkok.

Armada Gugus Keempat yang menjaga Selat Malaka itu dibantu oleh armada pertama penjaga Samudera Hindia jika perompak melarikan diri ke barat laut menyusuri Selat Malaka.

Begitu pula Armada Laut Kidul membantu Armada Jawa dalam menjaga keamanan kapal-kapal dagang pembawa rempah-rempah yang melalui Selat Sunda yang lebih aman menuju India dan Timur Tengah.

Tugas lain Armada Laut Kidul adalah menjaga Selat Bali dan perairan selatan Nusa Tenggara, bahkan di sebelah selatan Pulau Bali terdapat galangan kapal-kapal Majapahit yang cukup besar.

Armada Gugus Ketiga bertugas juga menjaga kapal penyusup dari wilayah Mindanao Filipina sekaligus menjaga kepulauan rempah-rempah Maluku jika kekuatan Armada Jawa sedang dipusatkan di perairan Jawa untuk mengawal sang Prabu Hayam Wuruk beranjangsana ke wilayah pesisir timur Pulau Jawa.

Armada Jawa merupakan kekuatan terbesar Armada gugus kapal perang Majapahit karena tugasnya paling berat menjaga pusat kerajaan istana Majapahit sekaligus menguasai jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah Maluku yang dkuasai langsung oleh pemerintah pusat Majapahit.

Persenjataan kapal-kapal perang Majapahit berupa meriam Jawa yang disebut cetbang. Konon Gajah Mada kecil pernah diasuh oleh tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok.

Gajah Mada diajarkan oleh pengasuhnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana. Pandai besi yang mengecor meriam tersebut berada di Blambangan, dan cetbang adalah prduk dalam negeri Majapahit merupakan hasil karya dan penemuan Mahapatih Gajah Mada bersama Mpu Nala berkat belajar dari tentara Mongol atau Tartar yang menyerang kerajaan Singasari tersebut.

Berita tentang mesin perang berupa meriam Jawa cetbang di atas belum dapat dikatakan akurat, sebelum ditemukan adanya bukti-bukti sejarah secara tertulis yang bersifat komprehnsif.

Hanya satu buku Glimpse of World History tulisan Jawaharlal Nehru, yang menulis bahwa ada dugaan kuat ekspedisi kapal perang Kubilai Khan ke Jawa dengan maksud hendak menghukum Prabu Kertanegara, telah membawa pengaruh besar bagi perkembangan kemajuan teknologi persenjataan kapal-kapal perang Kerajaan Majapahit.

Ekspedisi bersama dengan pasukan Raden Wijaya ketika berperang dengan pasukan Jayakatwang di perairan Laut Jawa, merupakan pengalaman baru bagi tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya berperang menggunakan senjata api.

Adapun senjata api yang dimaksud adalah roket-roket kecil, seperti kembang api yang melesat ke udara dan meledak setelah sampai pada sasaran yang dituju, mirip pesta kembang api Tahun Baru Imlek Gong Xi Fat Cai, yang disebut cetbang.

Dalam perkembangan selanjutnya Gajah Mada bersama Mpu Nala memanfaatkan dan mengembangkan teknologi senjata api tersebut, yakni berupa meriam-meriam penyulut “roket kembang api” hasil rampasan armada Kubilai Khan, untuk melengkapi persenjataan armada laut Majapahit.

Semua jenis kapal perang Majapahit mulai dari kapal perbekalan hingga kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang Senapati Sarwajala yang mumpuni dan handal. Mpu Nala.

Mpu Nala dalam membangun kekuatan laut yang tersohor kala itu, menciptakan kapal-kapal dari sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di sebuah pulau yang dirahasiakan.

Pohon raksasa dan cocok untuk dibuat kapal itulah yang membuat kapal-kapal Majapahit cukup besar ukurannya di masa itu.

Setelah Gajah Mada dan Mpu Nala wafat maka kekuatan Majapahit pun berangsur lemah apalagi tatkala terjadi Perang Paregreg kapal-kapal Majapahit saling serang satu sama lain dan kehancuran tak terelakkan lagi bagi seluruh armada.

Setelah Majapahit lemah hanya tersisa Armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah.

Kemudian datanglah bangsa kulit putih yang tujuan utamanya ialah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah tidak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit akan tetapi kapal asing itu bersenjata lebih unggul meriam yang bisa memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak lebih jauh daripada kemampuan jarak tembak cetbang Majapahit.

Keturunan Mpu Nala terus melanjutkan kepemimpinan militer Majapahit. Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya apalagi militer laut sudah demikian parah dalam melakukan tindak korupsi di wilayah kekuasaan masing-masing, sehingga rakyat tidak lagi menghormati kekuasaan pemerintahan pusat.

Dan menurunkan wibawa Majapahit di kalangan kerajaan taklukannya.

Di masa kehancuran itu Mpu Nala II tidak segemilang pendahulunya Mpu Nala I. Sehingga seperti yang terjadi kemudian, kekuatan laut yang tersohor di Nan Yang itu saling bertempur satu kapal dengan kapal yang lain.

Salah satu kisah peperangan Empu Nala I:

Tahun 1350, Senapati Sarwajala Mpu Nala mengadakan ekspedisi ke Nansarunai dengan menyamar sebagai nahkoda kapal dagang. Di Nansarunai ia memakai nama samaran Tuan Penayar dan bertemu dengan Raja Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, serta Ratu Dara Gangsa Tulen.

Senapati Sarwajala Mpu Nala sangat kagum melihat begitu banyak barang-barang terbuat dari emas murni, ketika ia dipersilakan untuk melihat-lihat perlengkapan pesta adat di ruangan tempat bermusyawarah.

Yang sangat dikagumi oleh Senapati Sarwajala Mpu Nala, ialah sokoguru balai adat yang terbuat dari emas murni juga dimana dibagian atasnya bermotif patung manusia.

Setelah kembali ke Majapahit, Senapati Sarwajala Mpu Nala berpendapat, untuk menundukkan Nansarunai, harus dicari kelemahan Raja Raden Anyan yang mempunyai kharisma kuat.

Pada pelayaran berikutnya, Senapati Sarwajala Mpu Nala membawa serta seorang panglima perangnya yang bernama Demang Wiraja dengan memakai nama samaran Tuan Andringau, serta beberapa prajurit dari suku Kalang.

Hasil pengamatan Demang Wiraja dilaporkan kepada Senapati Sarwajala Mpu Nala.

Demikianlah pada awal tahun 1356, Senapati Sarwajala Mpu Nala datang lagi ke Nansarunai dengan membawa serta istrinya bernama Damayanti.

Sewaktu kembali ke Majapahit, sengaja Senapati Sarwajala Mpu Nala membiarkankan isterinya tinggal di Nansarunai. Damayanti berwajah sangat cantik dan pribadinya menarik.

Pada tahun 1356 itu, terjadi kemarau panjang, sehingga Raja Raden Anyan secara kebetulan bertemu dengan Damayanti di sumur yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan.

Pertemuan pertama berlanjut dengan kedua dan demikian seterusnya, sehingga Damayanti melahirkan seorang anak perempuan, lau diberi nama Sekar Mekar.

Pada awal tahun 1358, Senapati Sarwajala Mpu Nala datang ke Nansarunai dan menemukan isterinya sedang menimang seorang anak perempuan.

Damayanti yang memakai nama samaran Samoni Batu, menerangkan bahwa anak yang ada dipangkuaanya itu adalah anak anak mereka berdua. Dan Senapati Sarwajala Mpu Nala percaya saja akan apa yang telah dikatakan oleh isterinya itu.

Ketika kembali ke Majapahit, Damayanti beserta anaknya dibawa serta, ayau tinggal dipangkalan aramada laut Majapahit di Tuban.

Beberapa bulan kemudian, Senapati Sarwajala Mpu Nala secara kebetulan mendengar isterinya bersenandung untuk menidurkan puterinya dimana syair-syairnya menyebutkan bahwa Sekar Mekar mempunyai ayah yang sebenarnya ialah Raja Raden Anyan.

Bulan April 1358, datanglah prajurit-prajurit Majapahit, dibawah pimpinan Senapati Sarwajala Mpu Nala dan Demang Wiraja menyerang Nansarunai. Mereka membakar apa saja termasuk kapal-kapal yang ada di pelabuhan dan rumah-rumah penduduk.

Serangan itu mendapat perlawanan gigih prajurit-prajurit Nansarunai walaupun mereka kurang terlatih.

Menurut cerita, Ratu Dara Gangsa Tulen bersembunyi dipelepah kelapa gading bersenjata pisau dari besi kuning, bernama Lading Lansar Kuning.

Ia banyak menimbulkan korban pada pihak musuh sebelum ia sendiri gugur. Raja Raden Anyan dalam keadaan terdesak lalu disembunyikan oleh para Patih dan Uria kedalam sebuah sumur tua yang sudah tidak berair lagi.

Diatas kepalanya ditutup dengan sembilan buah gong besar, kemudian dirapikan dengan tanah dan rerumputan, agar tidak mudah diketahui musuh.

Ketika keadaan sudah bisa dikuasai oleh pihak Majapahit, Senapati Sarwajala Mpu Nala memerintahkan Demang Wiraja untuk mencari Raden Anyan hidup atau mati. Atas petunjuk prajurit-prajurit suku Kalang yang terkenal mempunyai indera yang tajam, tempat persembunyian Raja Raden Anyan akhirnya dapat ditemukan.

Raja Raden Anyan tewas kena tumbak Senapati Sarwajala Mpu Nala dengan lembing bertangkai panjang. Peristiwa hancurnya Nansarunai dalam perang tahun 1358 itu, terkenal dalam sejarah lisan suku Dayak Maanyan yang mereka sebut Nansarunai Usak Jawa.

Dalam perang itu telah gugur pula seorang nahkoda kapal dagang Nansarunai yang terkenal berani mengarungi lautan luas bernama Jumulaha. Ia banyak bergaul dan bersahabat dengan pelaut-pelaut asal Bugis dan Bajau. Untuk mengenang persahabatan itu, maka puterinya yang lahir ketika ditinggalkan sedang berlayar, diberi nama berbau Bugis yaitu La Isomena.

Prajurit-prajurit Majapahit yang gugur dalam perang tahun 1358 itu, diperabukan berikut persenjataan yang mereka miliki, didekat sungai Tabalong yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Tambak-Wasi.

Tambak arti kuburan dan Wasi artinya besi dalam bahasa Maanyan kuno. Sehingga Tambak-Wasi artinya adalah kuburan yang mengandung unsur besi.

ånå tutugé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: