Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEDELAPANBELAS

On 23 Maret 2011 at 10:06 punakawan bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun
Sugêng énjang ndungkap siyang

Kulå, punåkawan katitipan rontal saking “om”nya Nyi Dewi KZ. hiks…. — Ki Bayuaji –:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:
Waosan kaping-17. Gajah Mada. (Parwa ka-2) Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Amangkubhumi Majapahit — Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa. 18 Maret 2011.

Waosan kaping-18:
GAJAH MADA [Parwa ka-3]

SUMPAH TAN AYUN AMUKTIA PALAPA CIKAL BAKAL GAGASAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Dari sisi bentuk Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa adalah prosa. Sedangkan isinya mengandung pernyataan suci kepada Tuhan Yang Maha Esa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan ratu Majapahit Tribuwana Tunggadewi dengan disaksikan oleh para menteri dan pejabat-pejabat lainnya, yang substansinya:

Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, dia rela tidak menikmati kesenangan hidup; yang diartikan tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya, baru mau melepaskannya apabila telah terkuasai Nusantara.

Dari sisi nilai Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa mengandung pelbagai nilai: nilai kesatuan dan persatuan wilayah Nusantara, nilai historis, nilai keberanian, nilai percaya diri, nilai rasa memiliki kerajaan Majapahit yang besar dan berwibawa, nilai geopolitik, nilai sosial budaya, nilai filsafat, dsb.

Dari sisi ideologi, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang juga dikenal sebagai Sumpah Gajah Mada atau Sumpah Nusantara, memiliki ideologi kebhineka tunggal ikaan, artinya menuju pada ketunggalan keyakinan, ketunggalan ide, ketunggalan senasib dan sepenanggungan, dan ketunggalan ideologi akan tetapi tetap diberi ruang gerak kemerdekaan budaya bagi wilayah-wilayah negeri se Nusantara dalam mengembangkan kebahagiaan dan kesejahteraannya masing-masing, yang beragam-warna (berbhineka).

Dari sisi energi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dianugerahi energi Ketuhanan Yang Maha Agung karena tanpa enerji tersebut tak mungkin Gajah Mada berani mencanangkan sumpah tersebut.

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa akan menjadi sangat menarik lagi apabila dikaji dengan pendekatan komunikasi. Pertanyaan-pertanyaan seperti: kepada siapa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa diucapkan, dalam lingkungan apa (situasi, kondisi, iklim, dan suasana) Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan, dengan sasaran apa dan siapa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dideklarasikan, mengapa atau apa perlunya Gajah Mada mengumumkan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, dan manfaat apa yang mau dicapai adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara seksama. Betapapun Sumpah Gajah Mada itu kontekstual.

Laksana pendahulunya, Sang Prabu Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa Sri Jnamasiwabajra Sang Kahngkaraneng Bhumi, yang mengantarkan Kerajaan Singasari kepuncak masa kejayaannya.

Pujasastra Negarakertagama Pupuh 41 (5) mengabarkan:

Kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana
Manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah
Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu
Lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika
.
[Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,
Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka bhujagosasiksaya (1192),
Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,
Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja].

Serbuan ke Tanah Melayu yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu, sebagai sebuah operasi militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara pada tahun 1275-1293 terhadap Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera.

Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi. Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa.

Negarakretagama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197Ç atau tahun 1275M.

…Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu…
[… Tahun Saka nagasyabhawa (1197Ç/1275M) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,…]

Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah.

Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan atau Dinasti Yuan sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.
Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, dan tujuan dari ekspedisi ini adalah untuk menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan Kerajaan Singasari.

Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu.

Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada, yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Gajah Mada mempunyai kesadaran penuh tentang kenegaraan dan batas-batas wilayah kerajaan Majapahit, mengingat Nusantara berada sebagai negara kepulauan yang diapit oleh dua benua yaitu Asia dan Australia, dan dua samudra besar Samudra Pasifik dan Laut Cina Selatan di Utara dan Timur Laut dan Lautan HIndias (Sêgårå Kidul) di Selatan dan di sebelah Barat.

Dari kesadaran yang tinggi terhadap keberadaan Nusantara, Gajah Mada meletakkan dasar-dasar negara yang kokoh, sebagaimana terungkap dalam perundang-undangan Majapahit.

Uraian singkat tersebut dimaksudkan untuk memberi gambaran bahwa kerajaan Majapahit khususnya ketika berada dalam penguasaan Gajah Mada telah berorientasi jauh ke depan, kalau istilah sekarang mempersiapkan diri sebagai negara yang modern, kuat, dan tangguh.

Wilayah Nusantara Raya

Yang menarik dipertanyakan adalah bagaimana cara menafsirkan wilayah-wilayah negeri yang disebut dalam Sewrat Pararaton dan Pujasastra Nāgarakṛtāgama.

Pertanyaan ini muncul karena wilayah-wilayah yang disebut oleh Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa (dalam Serat Pararaton) hanya berjumlah sepuluh sedangkan yang disebut dalam Nāgarakṛtāgama sangat banyak sampai berjumlah 90 (terdiri dari Kawasan Melayu : 23, Kawasan Kalimantan : 22, Kawasan Hujung Medini : 14, Kawasan Timur Jawa : 16, dan Kawasan Timur lainnya : 15; ini belum termasuk Kawasan yang terdiri dari pulau-pulau lainnya.

Ada dua negeri, yaitu Gurun dan Sunda, disebut dalam Serat Pararaton tetapi tidak disebut di dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama yang memuat 90 wilayah negeri itu. Sebaliknya banyak wilayah-wilayah negeri yang disebut di dalam Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama yang berjumlah 90 negeri itu, tetapi tidak disebut di dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.
Bagaimana menafsirkan kenyataan teks ini ?

Serat Pararaton ditulis sesudah Kitab Nāgarakṛtāgama, yaitu tahun 1613 M. dalam arti semua wilayah Nusantara telah berada di dalam naungan dan wibawa Majapahit, namun tinggal hanya sepuluh wilayah negeri saja yang belum masuk ke dalam naungan dan wibawa Majapahit.

Kalau begitu mungkinkah dapat diatafsirkan bahwa wilayah negeri yang sepuluh itu, merupakan negeri-negeri yang masih harus dipersatukan ke dalam Nusantara Raya?

Artinya ke semua wilayah negeri sudah masuk ke dalam Nusantara sedang wilayah negeri yang berjumlah sepuluh itu memang perlu dinyatakan secara eksplisit dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, sebagai wilayah negeri yang masih harus diperjuangkan supaya masuk ke Nusantara di bawah naungan dan wibawa Majapahit.

Dari sini dapat ditafsirkan bahwa masyarakat pembaca sudah mengetahui wilayah-wilayah negeri Nusantara, namun bagi Gajah Mada belum puas rasanya kalau kesepuluh negeri tersebut belum masuk secara integratif ke dalam wilayah Nusantara Raya, oleh sebab itu Gajah Mada perlu mengeksplisitkan kesepuluh wilayah negeri tersebut ke dalam sumpahnya yang terkenal itu.

Dengan kata lain terjadinya Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa disebabkan karena kesepuluh wilayah negeri tersebut dipandang masih belum sepenuhnya masuk berintegrasi ke dalam wilayah kawasan Nusantara Raya.

Tafsir lain adalah bahwa wilayah-wilayah negeri seperti Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik adalah sekedar contoh saja dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa untuk mewakili wilayah negeri Nusantara.

Tidak seluruh wilayah negeri Nusantara disebut, mengingat terlampau banyak, sehingga terlampau panjang kalau diformat ke dalam sebuah sumpah seperti Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

Dari keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ketika Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan oleh Patih Gajah Mada ketika itu, Majaphit telah memiliki wilayah negeri Nusantara yang luas, yaitu berjumlah 90 negeri, akan tetapi tinggal sepuluh wilayah negeri yang belum masuk ke dalam naungan wibawa Majapahit.

Pada masa tahun-tahun tersebut situasi Nusantara sedang mengalami masa perpecahan antar suku bangsa, setiap daerah dan suku bangsa berperang satu sama lain, setiap daerah berdiri sendiri dan mempunyai kerajaan sendiri-sendiri. Tumasik (Singapura), Malaka, Kalimantan, Sumatera, Sunda, dan daerah-daerah lain di Nusantara berada dalam perpecahan dan peperangan.

Barangkali ada sesuatu yang memprihatinkan dalam diri Gajah Mada melihat situasi sosial pada waktu itu, barangkali sudah lama tergerak dalam hatinya bahwa beliau punya mimpi untuk mempersatukan Nusantara dalam satu kerajaan yang berdaulat sehingga menjadi kekuatan yang disegani di wilayah Asia Tenggara.

Situasi sosial politik yang sangat rentan dengan konflik pada masa itu, menjadikan suatu hal yang mustahil apabila bangsa-bangsa di Nusantara dipersatukan dalam satu wilayah yang berdaulat.

Barangkali itulah yang membuat para pembesar lain menertawakan sumpah Gajah Mada. Ketika Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan ada tantangan dari orang-orang sekitarnya.

Jangan dikira bahwa ketika Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dicanangkan tidak ada tantangan dari orang-orang sekitarnya.

Perhatikan kalimat berikutnya, seperti dikutib dari teks Serat Pararaton

Sira sang mantri samalungguh ring panangkilan pepek. Sira Kembar apameleh, ring sira Gajah mada, anuli ingumanuman, sira Banyak kang amuluhi milu apameleh, sira Jabung Terewes, sira Lembu Peteng gumuyu. Tumurun sira Gajah mada matur ing talampakan bhatara ring Koripan, runtik sira katadahan kabuluhan denira arya Tadah. Akweh dosanira Kembar, sira Warak ingilangaken, tan ucapen sira Kembar, sami mati.

(Mereka para menteri duduk di paseban lengkap. Ia Kembar mengemukakan hal-hal tidak baik kepada Gajah Mada, kemudian ia (Gajah Mada) dimaki-maki, Banyak yang menjadi penengah (malah ikut) menyampaikan hal-hal yang tidak baik, Jabung Tarewes mengomel, sedang Lembu Peteng tertawa. Turunlah Gajah Mada dan menghaturkan kata-kata di telapak bathara Koripan, marah dia mendapatkan celaan dari Arya Tadah. Banyak dosa Kembar, Warak dilenyapkan, demikian pula Kembar, mereka semua mati)

Suatu khayalan ibarat orang yang sedang bangun tidur di waktu siang hari. Dalam alam berpikir logis pada masa itu, adalah suatu hal yang aneh bahwa Nusantara bisa dipersatukan, wilayah kelautan yang luas tentu membutuhkan angkatan laut yang kuat, sementara sarana transportasi belum sebaik sekarang ini.

Wilayah Indonesia adalah wilayah yang dipenuhi laut, sangat berbeda dengan wilayah Asia Daratan, benua Eropa yang luas dan membentang, sehingga penaklukkan yang dilakukan para tokoh besar seperti Gengkhis Khan dari Mongol atau Alexander Agung dari Macedonia menjadi lebih cepat.

Wilayah kelautan yang luas tentu sangat menyulitkan mobilitas pasukan Majapahit, apalagi kerajaan Majapahit pada waktu itu adalah sama dengan kerajaan lain di Nusantara, suatu kerajaan yang baru saja lahir, tentunya tidak mempunyai angkatan laut dan militer yang kuat.

Apalagi di berbagai wilayah di luar Nusantara berdiri berbagai kerajaan asing seperti Siam (Thailand) Kerajaan Champa (Vietnam) dan Kekaisaran Tiongkok yang setiap saat pun bisa memperluas ekspansi ke dalam Nusantara.

Suatu situasi sosial politik yang sangat rumit dan kompleks, pantas saja sumpah Gajah Mada ditertawakan oleh para bangsawan lain.

Kutipan tersebut di atas, menengarai bahwa perjuangan mulai Gajah Mada untuk mempersatukan Nusantara Raya mengalami ancaman, tantangan, gangguan, dan hambatan tidak berbeda dengan perjuangan para pendiri bangsa ini ketika berjuang untuk mempersatukan bangsa Indonesia, ternyata mendapatkan rintangan-rintangan.

Idealisme yang tidak terkalahkan

Menghadapi semua tertawaan itu, apakah Gajah Mada surut dari tekadnya, tidak! Beliau memang dilahirkan sebagai seorang petarung dan pejuang sejati, pantang dirinya menyerah apabila sudah mempunyai tekad, walau tekad itu dirasakan sebuah mimpi, tapi dirinya yakin akan mampu membuktikannya.

Suatu idealisme telah tertanam kuat dalam hatinya, idealisme yang tidak terkalahkan. Dan sumpah itu akhirnya beliau buktikan, satu persatu wilayah di Nusantara ditaklukkan dan dipersatukan dalam wilayah kerajaan Majapahit, dan Majapahit pun menjadi kekuatan yang disegani di kawasan Asia Tenggara, kerajaan Majapahit pun mencapai kejayaan dan kemakmuran.

Gajah Mada tidak sekedar bermimpi tetapi juga membuktikan sumpahnya. Dan keberhasilan yang besar diraihnya adalah didasari suatu idealisme yang tidak terkalahkan. Hanya seorang saja beliau mampu menggerakkan suatu kekuatan dahsyat, yang mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Semua itu tidak mungkin terjadi andai Gajah Mada tidak mempunyai keyakinan yang kokoh, semangat pantang menyerah dan filosofi yang kuat.

Idealisme dan ketegaran pribadinya menjadikan kewibawaan tersendiri di hadapan rakyatnya, sehingga beliau mampu menggerakkan rakyat dan para prajurit Majapahit menjadi kekuatan dahsyat yang mampu mempersatukan Nusantara.

Satu hal yang membuktikan bahwa beliau mempunyai idealisme kokoh dan filosofi yang kuat serta kebersihan niat, adalah tekadnya yang tercucap: isun tan ayun amuktia palapa lamun durung huwus kalah nusantara .

Artinya bahwa Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, dia rela tidak menikmati kesenangan hidup; yang diartikan tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya, sebelum Negara mencapai kejayaannya.

Sungguh pribadi yang mengesankan. Memang beliau adalah berkualitas, keberadaannya menjadi fenomena yang aneh dan menarik serta sangat langka.

Kalau kita berkaca di alam sekarang, barangkali tidak ada dan belum pernah ada tokoh sehebat Gajah Mada, pantas saja beliau berhasil mencapai sesuatu yang sangat mengagumkan, mengubah mimpi menjadi kenyataan.

Memang dalam diri beliau tersimpan berbagai karakter emas yang sangat berbeda dengan para tokoh lain. Tetapi sosok itu memang pernah ada, dan yang sangat mengesankan adalah kepribadiannya yang emas, tidak gila harta dunia, mempunyai jiwa ksatria, ahli strategi, jenius, idealisme yang kokoh, filosofi yang kuat.

Hikmah Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

Apakah Sumpah?: Arti kata “Sumpah” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adalah:

1. pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dsb.);

2. pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenar- annya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar;

3. janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu).

Ketiga pengertian tersebut di atas, baik secara sendiri-sendiri maupun secara keseluruhan dapat dipakai dalam konteks pengertian Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa.

Pengertian tersebut berdimensi spiritual artinya tidak main-main. Oleh sebab itu tidak berlebihan, apabila dikatakan bahwa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu sakral.

Dalam perspektif sejarah Indonesia perjalanan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa hingga sekarang boleh dikata tidak mulus, disebabkan karena sesudah Majapahit tidak berfungsi secara optimal perjalanan sejarah berikutnya sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dipernuhi dengan periode-periode sejarah yang tidak terpuji, seperti periode-periode Demak, Pajang, Mataram, dan pecahnya Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta, di mana dalam periode-periode tersebut disibuki oleh konfrontasi budaya antara kaum tradisionalis yang diwakili oleh sisa-sisa kekuatan Majapahit dengan kaum pembaharu yang diwakili oleh kalangan Demak yang Islam, sementara itu dipercundangi oleh masuknya kekuatan VOC yang kemudian berubah menjadi penjajah.

Tidak hanya itu, di kalangan lingkungan dalêm kraton Yogyakarta Solo terjadi peperangan yang kompleks, berupa perebutan kekuasaan di antara para bangsawan di kalangan kraton di tambah dengan campur tangannya Belanda untuk memecah belah dengan politik devide et imperanya.

Tidak ayal lagi kalangan kerajaan-kerajaan Jawa tidak memiliki waktu yang baik untuk mengaktualisasikan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Gajah Mada. Kalau dari kalangan bangsa Jawa sendiri tidak sempat memelihara Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa apalagi kalangan di luar Jawa (seberang Jawa)?

Pada waktu Kemerdekaan Indonesia diproklamasi pada tangal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta, baru kebutuhan akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tampil mengemuka.

Sejak waktu itu, lebih-lebih sekarang di mana terjadi salah penafsiran terhadap demokrasi beserta kebebasannya, Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa dirasakan eksistensi dan perannya untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh.

Seandainya tidak ada Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, boleh jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dikoyak-koyak sendiri oleh suku-suku bangsa Nusantara yang merasa dirinya bisa memisahkan diri dengan pemahaman federalisme dan otonomi daerah yang berlebihan.

Gagasan-gagasan memisahkan diri sungguh merupakan gagasan dari orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mengerti sejarah bangsanya, bahkan tidak tahu tentang jantraning alam (putaran zaman) Indonesia.

Masa depan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

Bagaimana masa depan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa? Bagi orang yang mengerti Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa itu tidak hanya sakti, suci, dan membawa berkah, tetapi juga — dan ini justru yang teramat penting– mengandung amanat bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia untuk memelihara, mengembangkan, dan melestarikannya.

Secara umum bangsa Indonesia yang majemuk itu sesungguhnya memiliki misi yang sama, karena bangsa-bangsa Nusantara hidup di atas landasan dasar yang sama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Wujudnya mereka hidup menggunakan jalan agama dan/atau jalan kebudayaan atau kedua-duanya, yang bersumber dari nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena Tuhan Yang Maha Esa itu mempunyai sifat hanya satu, yaitu yang baik-baik maka barang siapa memiliki sifat satu, ia di dalam dirinya bersemayam sifat Ketuhanan Yang Maha Esa.

Oleh karena rakyat dan bangsa Indonesia sudah dikaruniai fitrah yang sangat luhur, kenapa fitrah seperti itu tidak diaktualisasikan dan dikembangkan sebagai misi hidup manusia Indonesia?

Secara rasional, spiritual, dan imajinatif misi hidup orang, komunitas, masyarakat, rakyat, dan bangsa Indonesia sesungguhnya sudah ada, terungkap dari dalam jati diri dan kepribadiannya masing-masing yang kalau dirumuskan secara plastis, berbunyi sebagai berikut: mêmayu hayuning bawånå (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia).

Jadi setiap orang Indonesia bahkan juga setiap orang di dunia wajib merealisasikan misi tersebut. Pendek kata bukan orang namanya kalau ia tidak memiliki kebiasaan untuk memberi, menyumbangkan, dan/atau melayani keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia.

Dalam proyeksi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa posisi mêmayu hayuning bawånå sangat strategis, karena tanpa diberi energi Ketuhanan Yang Maha Esa dan mêmayu hayuning bawånå niscaya Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa tidak sakti, suci, dan membawa berkah, yang gejalanya dapat kita rasakan dengan munculnya aspirasi-aspirasi yang ingin membelot atau memisahkan diri dari NKRI atau mengubah NKRI menjadi negara-negara kecil yang tercerai-berai.

Mereka yang tidak mengerti sesungguhnya hanya meniru-niru situasi dan pola negara lain, masing-masing daerah ingin berdiri sendiri seperti Uni Soviet yang sudah bercerai-berai, atau Yugoslavia yang terpecah-pecah ke negara-negara kecil.

NKRI dicoba dirongrong oleh sejumlah orang yang ingin menyalurkan ambisi memisahkan diri, sesuatu yang rendah dan sempit itu?

Sebagai sesama orang Indonesia yang menjunjung tinggi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa akan semakin sadar dalam kerukunan, solidaritas, serta kesatuan dan persatuan NKRI yang bersumber dari nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Meluhurkan Kebangsaan dan Kebudayaan Kita

Setujukah kalau dikatakan bahwa bangsa kita memiliki kebudayaan yang luhur? Antara kebangsaan dan kebudayaan bisa pisah atau melekat tergantung dari situasi dan kondisi yang dihadapinya.

Kalau sedang dalam kebaikan dan dalam kesadaran yang tinggi seseorang akan mengiyakan bahwa bangsa Indonesia itu memiliki budaya yang luhur, satu di antara misalnya karyênak tyasing sasåmå (membuat enak hati orang lain), dan contoh lainnya misalnya dari kutipan tembang Mijil terkenal:

Dêdalané gunå lawan sêkti:

kudu andhap asor,
wani ngalah luhur wêkasané,
tumungkulå yèn dipun dukani,
bapang dèn simpangi,
ånå catur mungkur

(Jalan menuju ke kepandaian dan kejayaan,
harus rendah hati,
berani mengalah luhur pada akhirnya,
tunduklah kalau kena marah,
segala penghalang hendaknya dihindari,
ada pembicaraan yang tidak baik hendaknya tidak didengar
).

Banyak nilai-nilai luhur bangsa kita yang tersimpan dan terekam di dalam naskah-naskah dan sastra/budaya lisan. Setiap nilai luhur memiliki kadar perekat bangsa, bahkan juga memiliki kadar perekat kemanusiaan.

Oleh sebab itu nilai-nilai luhur yang telah digali atau didhudhah dari naskah-naskah dan/atau sastra/budaya lisan, sebaiknya disebar luaskan melalui terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia tanpa melupakan teks aslinya.

Menjadi tugas bagi para pejabat dan lembaga yang berwewenang menjaga keutuhan NKRI untuk menyebar luaskan nilai-nilai luhur tersebut ke seluruh orang-orang Nusantara, agar pergaulan kebhineka tunggal ikaan dapat terselenggara dengan baik di dalam pangkuan NKRI.

Pergaulan semacam itu niscaya akan membawa pengertian tentang sifat, adat, perilaku, cara berfikir, dan sebagainya dari ke seluruh orang-orang Nusantara,

Tantangan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa

Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa tampil sebagai pernyataan dan tekad suci dari seorang Mahapatih Amangkubhumi yang memiliki kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan kerajaan Majapahit.

Hubungan antara raja dan rakyat menurut tradisi Jawa sering digambarkan secara ideal sebagai loro-loroning atunggal (dua kekuatan yang manunggal) atau juga sering digambarkan sebagai manunggaling kawulå lan Gusti (manunggalnya rakyat dan raja).

Hubungan seperti ini memang dalam kenyataan terjadi, di mana seorang raja tampil sebagai pemimpin yang wajib diteladani oleh rakyatnya. Rakyat diposisikan sebagai kawula yang diperankan senantiasa menurut kepada rajanya, akan tetapi sayangnya tidak merata untuk diperankan sebagai kekuatan produksi di bidang tugasnya masing-masing, misalnya pertanian, perikanan, perindustrian, dsb.

Rakyat sebenarnya tidak mempunyai waktu luang yang memadai guna memikirkan filsafat (pandangan hidup), ideologi, ataupun pengetahuan-pengetahuan tinggi, karena waktunya habis untuk memikirkan hidupnya sehari-hari.

Oleh sebab itu rakyat telah mempercayakan nasib hidupnya sepenuhnya kepada raja. Ini dihayatinya secara berkesadaran, sebab untuk apa melakukan kegiatan-kegiatan yang “aneh-aneh”, kalau tidak memiliki kekuatan yang sinergis untuk menjalankan sesuatu gagasan.

Benar kalau dikatakan bahwa dalam konvensi budaya Jawa, rakyat adanya hanya narimå ing pandum (menerima nasib), lebih-lebih kalau seorang raja dimitoskan sebagai wakil Tuhan di dunia. Rakyat digambarkan dalam bahasa pewayangan sebagai binåndå sumånggå astå (diikat diberikan tangannya) dan tinigas sumånggå jånggå (dipenggal diberikan lehernya).

Dalam konvensi budaya seperti itu dapat dipahami bahwa tenaga penggerak roda pemerintahan bersumber dari kalangan kerajaan. Raja beserta kroni-kroninya dipandang oleh rakyat sebagai orang-orang yang duduk di sebuah pentas berwibawa yang penuh dengan cahaya yang berkilau-kilauan. Ucapan Sabdo Panditå Ratu (Sabda seorang ratu tidak bisa ditarik), yang artinya sekali sesuatu sabda telah dikeluarkan oleh seorang raja mustahil dicabut kembali adalah kenyataan sehari-hari.

Dari uraian tersebut dapat dibayangkan betapa Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa pasti diterima dengan penuh kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat “tempur” yang tinggi bagi rakyat yang mendengarkan, mengetahui, dan mengerti.

Oleh sebab itu penyebar luasan ke seantero Nusantara tidak sulit diterima, karena sistem komunikasi yang efektif dilaksanakan dengan tradisi gêthok tular yang tentunya diperkuat oleh lembaran tertulis singkat seperti layaknya sebuah piagam.

Dalam Serat Pararaton diceritakan ketika Gajah Mada di hadapan sang ratu dan disaksikan oleh para menteri dan pejabat lainnya mencanangkan sumpahnya sebagai pernyataan puncak tekad pengabdian yang dari seseorang yang menerima wisuda sebagai Patih Amangkubhumi, ternyata ada sejumlah pejabat tinggi yang melecehkan dan menertawakan, seperti yang dilakukan oleh Kembar, Jabung Tarewes, Lembu Peteng, Arya Warak, dan Banyak.

Apa maknanya kalau dalam forum yang tertinggi di istana kerajaan Majapahit terjadi sikap yang terbuka seperti itu? Tentunya pembaca modern harap maklum, bahwa di dalam kerajaan Majapahit justru berlangsung tradisi pentas resmi yang demokratis.

Untunglah sikap tidak terpuji dari pejabat-pejabat tersebut bisa diantisipasi dengan keperkasaan Gajah Mada. Arya Tadah kena marah sedangkan Kembar dan Warak mati terbunuh.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sesuatu gagasan sekalipun tinggi mutunya tidak serta merta dengan mulus berhasil disosialisasikan di sekitarnya.

Jêr basuki måwå béyå, artinya tidak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan, dan ini berlaku universal. Meskipun Pararaton tidak menceritakan pelaksanaan dari Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa namun dari Pujasastra Nāgarakṛtāgama dapat diketahui bahwa melalui Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa terbentang luas wilayah negeri Nusantara yang berada di bawah panji-panji Majapahit.

Pertanyaannya adalah bagaimana sekarang menjaga kelestarian-nya dalam wadah NKRI? Di atas telah diterangkan bahwa karena kerajaan-kerajaan di Nusantara sesudah Majapahit disibukkan dengan masuknya paham baru yang dipercundangi oleh masuknya VOC yang ternyata membawa penjajahan Belanda, maka nasib Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa nampaknya cat kapirêng, cat mbotên (kadang-kadang terdengar, kadang-kadang tidak).

Kalau dirumuskan kesibukan-kesibukan tersebut berupa kesibukan politik yang melibatkan kesibukan kalangan elit. Yang jelas karena kesibukan politik, maka banyak kalangan atas termasuk raja-raja sedikit atau bahkan mungkin lupa memelihara pesan budaya berupa kesatuan dan persatuan Nusantara.

Kesatuan dan persatuan Indonesia sebagai alat untuk mengusir penjajah Belanda yang menguasai hampir seluruh Nusantara ternyata ampuh untuk mengembalikan wilayah jajahan Belanda ke tangan rakyat dan bangsa Indonesia. Peristiwa pengusiran penjajah Belanda langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar harus dibaca sebagai realisasi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa yang sakti itu.

Sekarang dapat diketahui dengan jelas, bahwa sejarah Indonesia paling tidak sejak zaman Majapahit berisi kisah-kisah tentang bersatu dan pecahnya Nusantara. Apabila kalangan atas hidupnya hanya disibukkan oleh urusan-urusan kekuasaan melulu dapat disimpulkan kesatuan dan persatuan pasti akan melemah.

Dengan kata lain kuat dan lemahnya bahkan pekat dan pudarnya persatuan dan kesatuan di sebabkan karena tingkah polah golongan elit yang disibukkan dengan urusan-urusan politik yang tidak menentu itu.

Segera tergambar bahwa kelemahan dari elit politik pada waktu itu adalah:

a. Cepat terpukau kepada ajaran/ideologi/konsep yang datang dari luar, sampai-sampai mampu melepaskan dengan mudahnya ajaran/ideologi/konsepnya sendiri yang telah berurat berakar ke dalam lubuk hati rakyat dan bangsa Nusantara. Dengan kata lain ada kebiasaan yang tidak baik di kalangan elit bahwa mereka itu cepat bosan terhadap miliknya sendiri yang indah itu. Dengan kata lain kaum elit sedikit sekali yang setia terhadap ajaran/ideologi/konsepnya sendiri. Apakah sifat cepat bosan itu menjadi sifat umum dari umat manusia?

b. Terasa tidak ada kebiasaan menerapkan sistem check and balance (kontrol keseimbangan) di antara raja dan kalangan elit di sekitarnya di satu pihak, serta antara kalangan kerajaan dan kalangan rakyat di lain pihak. Rakyat nampaknya hanya dianggap sebagai patung-patung yang tidak tahu apa-apa sedangkan kerajaan menganggap dirinya sebagai kalangan yang memiliki kekuasaan tertinggi tanpa kontrol.

Sikap berlebihan seperti ini sesunngguhnya memberi peluang terhadap lahirnya gagasan-gagasan baru yang dianggapnya menjanjikan perubahan yang lebih baik, sekalipun dalam kenyataan tidak sesuai benar dengan jati diri dan kepribadian rakyat dan bangsa Nusantara yang telah lama memiliki resonansi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sikap yang berlebihan seperti ini juga memberi peluang kepada rakyat untuk berpandangan materialistis, sebab untuk apa bertinggi-tinggi memperjuangkan idealisme kalau tidak diperhatikan oleh para pemimpinnya ?

Menghayati kehidupan zaman sekarangpun tantangan seperti itu tidak lepas bagitu saja. Sesungguhnya sama, hanya modusnya saja yang berbeda. Sama, karena tantangannya adalah kesibukan para elit bangsa Indonesia lebih banyak memikirkan capaian-capaian kekuasaan melalui jalan politik daripada membangun peradaban dan kebudayaan yang bersumber dari nilai-nilai luhur bangsa kita.

Disamping itu cepat terpukau kepada pola pikir dan hasil iptek yang mutakhir khususnya yang datang terutama dari luar merupakan penyebab dari bangsa Indonesia kurang memikirkan masa depan dirinya sendiri.

Kebutuhan bangsa terhadap pola pikir dan barang-barang iptek produk sendiri belum digalakkan. Sementara itu para pemimpin bangsa Indonesia pada umumnya seolah-olah tidak mau tahu bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya masih menderita kebodohan, kemalasan, dan kemiskinan yang sesungguhnya sudah lama dirasakan.

Apalagi ditambah dengan sifat-sifat selalu ingin memperoleh yang serba instant, dianggapnya praktis, namun cepat bosan, latah, dêmên nyar (senang yang serba baru). Hasil karya bangsa lain dianggapnya lebih unggul, tidak menyadari potensi bangsa sendiri dan enggan mengembangkannya.

Kelemahan-kelemahan dan sifat-sifat yang tidak terpuji itu ternyata justru menjadi lahan yang empuk bagi kekuatan-kekuatan asing untuk memasarkan pemikiran-pemikiran baru dan produk-produk iptek baru mereka.

ånå tutugé

Nuwun

cantrik bayuaji

Amanah sudah disampaikan. Matur nuwun

punåkawan

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: