Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN SEMBILANBELAS

On 25 Maret 2011 at 08:02 cantrik bayuaji said:

Nuwun
Sugêng énjang

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
SURYA MAJAPAHIT

Dongeng sebelumnya:
Waosan kaping-18. Gajah Mada. (Parwa ka-3) Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa cikal bakal gagasan NKRI

Waosan kaping-19:
GAJAH MADA [Parwa ka-4]

PENGABDIAN DAN KEHIDUPAN GAJAH MADA

Kaidah-kaidah Utama Pengabdian Gajah Mada

Nusantara menyimpan begitu banyak khasanah budaya yang terangkum baik dalam ide, gagasan, dan wujudnya. Salah satunya adalah bahwa nenek moyang bangsa di Nusantara ini mempunyai beberapa pegangan untuk dipergunakan dalam memimpin masyarakatnya.

Hampir seluruhnya pegangan tersebut sudah terkristalisasi dalam berbagai bentuk tembang dan juga nasihat, ular-ular, pituturpituduh dan wewaler — luhur.

Beberapa hal yang pernah diwedar pada Dongeng Arkeologi & Antropologi adalah:

1. Seri Pitutur – Pituduh dan Wewaler, terdapat 21 judul wedaran yang dapat dibaca di: https://pelangisingosari.wordpress.com/Seri Pitutur-Pituduh dan Wewaler/

2. Seri Magawe Rahayu Magawe Kerta, dongeng Sang Prabu Siliwangi dalam Sang Hyang Siksa Kandang Karesyan dan Uga Wangsit Siliwangi (Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji), dapat dibaca di: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-magawe-rahayu-magawe-kerta/

Selain itu ada juga contoh perbuatan yang lain. Salah satunya adalah Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, seorang raja besar di Kerajaan Singasari, yang di masa pemerintahannya Singasari mencapai puncak kejayaannya, namun sebagai manusia biasa beliau juga tidak luput dari kesalahan, dan boleh jadi karena keslahannya itu, maka kerajaan Singasari yang beliau pimpin runtuh. Baca di https://pelangisingosari.wordpress.com/Seri sri-maharajadhiraja-krtanagara/.

Demikian juga halnya yang tercatat dalam prasasti semasa Kerajaan Mataram Kuno, tentang moral seorang pejabat negara, dalam judul Pemerasan oleh Petugas Pajak yang digagalkan oleh Penegak Hukum, dapat dibaca di https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/3/

Selengkapnya, silakan pårå kadang dapat berkunjung ke Gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi di https://pelangisingosari.wordpress.com/dongeng-arkeologi-antropologi/

Tokoh Besar yang bernama Gajah Mada sangatlah fenomenal. Menarik untuk mempelajari kesuksesan seorang anak desa kebanyakan yang terbukti berhasil membentuk suatu negara besar yang teritorialnya diperkirakan lebih luas daripada NKRI sekarang ini.

Rasa kagum ini sungguh tak terkatakan karena sang tokoh besar telah membuat sesuatu yang hampir mustahil dilakukan orang-orang pada zaman itu, bahkan pada zaman sekarang ini.

Sejarah mencatat, ternyata suskes besar tokoh ini terletak pada kekuatannya dalam meyakini dan menjalankan prinsip-prinsip utama pengabdiannya.
Gajah Mada pernah ngudåråså: ”Saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam gundukan kayu api unggun. Sepotong dari ratusan atau ribuan kayu di dalam api unggun yang menyala-nyala. Saya menyumbangkan sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknya saya dimakan oleh api unggun itu. Dimakan api unggun itu”.

Sebagai Mahapatih Negara sebesar Majapahit, Gajah Mada bekerja dengan cara-cara manajerial yang prima bekerja atas dasar prinsip, filsafat, dan nilai-nilai yang luhur; bervisi kuat serta mampu menerjemahkan menjadi misi yang jelas; ahli membuat strategi dan organisator yang ulung yang piawai menjalankan aksi program untuk mentransformasikan semua tujuan menjadi kenyataan.

Gajah Mada bukanlah seorang utopis, tetapi seorang idealis yang bekerja keras sekuat tenaga mewujudkan idealismenya.

Mpu Prapanca mengabadikan tokoh besar ini yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk negara, yang memiliki setidaknya lima belas sifat yaitu kaidah-kaidah utama pengabdian yang efektif.

Prinsip-prinsip ini bersumber dari filsafat yang dipegang dan diyakininya.
Tat twam ashi, Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Tat twam ashi, [Aku adalah engkau, ungkapan lainnya sama dengan Sirå yå Ingsun, Ingsun yå Sirå];

Bhinneka tunggal ika, (Bhine ika tunggal ika) [berbeda-beda itu tetaplah satu jualah itu] {Ika (Jawa Kuno) = iku (bahasa Jawa yang dipakai sekarang)};

Tan hana dharma mangrwa [tiada kesetiaan yang mendua];

yang bersumber dari ajaran Mpu Tantular dan memberi inspirasi amat bermakna kepada beliau sehingga menjadi seorang tokoh besar.

Suatu pandangan hidup yang mencerminkan spiritualitas Jawa yang bersifat holistic spirituality.

Pandangan spiritualitas semesta ini mewarnai kehidupan Gajah Mada termasuk perilaku pengabdiannya sekaligus kepemimpinannya.

Pandangan hidupnya membentuk Visi Trihita Wacana dan visi ini menjiwai “Kaidah-kaidah Utama Pengabdiannya”.

Inti Trihita Wacana adalah terciptanya hidup harmoni, yaitu untuk mencapai jagaddhita dan moksa (keseimbanagn lahir dan batin), dalam kehidupan ini harus dilaksanakan keharmonisan antara:
1. manusia dan Penciptanya;
2. manusia dan alam;
3. manusia dan manusia.

Berdasarkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama minimal diketahui ada lima belas prinsip “Kaidah-kaidah Utama Pengabdian Gajah Mada” mencerminkan keutuhan dan keseimbangan ketiga kecerdasan yang sekarang ini dikenal dengan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ)..

Penghayatan dan pengamalan Trihita Wacana ini akan membentuk bahkan meningkatkan sebuah kualitas hidup.

Secara garis besar kadiah pengabdian dan kepemimpinan tokoh besar ini dapat diklasifikasikan manjadi tiga dimensi: spiritual, moral dan manajerial.

Namun beberapa penulis menambahkan tiga prinsip lagi sehingga menjadi delapanbelas prinsip, yang dibukukan dalam Pustaka Astadasa Kottamaning Prabu.
Namun hal ini perlu dikritisi lebih lanjut jika ingin mengungkapkan kebenaran adanya pustaka ini.

Terlepas dari perdebatan apakah lima belas atau delapan belas prinsip, tetapi kesemuanya ini adalah sebagai pitutur luhur, setidaknya menurut Nāgarakṛtāgama, merupakan garis-garis besar pengabdian Sang Maha Patih Gajah Mada yang diterapkannya di dalam menjalankan roda pemerintahan Majapahit.

Astadasa Kottamaning Prabhu sering diterjemahkan sebagai Delapan Belas Rahasia Sukses Kepemimpinan, tentunya yang dimaksud adalah kepemimpinan Maha Patih Gajah Mada.

Namun dari Pujasastra Nāgarakṛtāgama diketahui bahwa Gajah Mada adalah rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat. (tangan kanan maharaja, yang menggerakkan roda pemerintahan). sehingga lebih tepat kalau diartikan sebagai Kaidah-kaidah Utama Pengabdian. Raja yang memerintah pada waktu itu adalah Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Mpu Prapanca dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyatakan: mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu.wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsaha tan lalana (menteri wira, bijaksana, bertanggung jawab penuh atas kepercayaan, setia bakti kepada Negara, fasih berbicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur).

Kemudian: widnya, tan satrsna, masihi samasta bhuwana, gineng pratidina, dibyacitta, sumantr, anayaken musuh.

Yang ditambahkan kemudian setelah yang limabelas adalah: ambek parama artha, waspada purwa wisesa, prasaja

1. widjnya: bijaksana dan tenang dalam menghadapi persoalan yang sangat genting, serta mampu menciptakan ketentraman.

2. mantriwira: wira (berani) bertindak tegas dalam membela kepentingan negara; wira (berani) bertindak tegas dalam membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan, bersedia mempertaruhkan raga dan jiwanya untuk kepentingan negara,

3. wicaksaneng naya : bijaksana dalam segala tindakan, serta membina hubungan dengan semua pihak

4. matenggwan: bertanggung jawab penuh atas kepercayaan dari rakyat dan negara yang di berikan kepadanya; menghormati dan memegang teguh kepercayaan itu, dan menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai kehormatan, dan bersedia merpertanggung-jawabkannya sebagai seorang abdi Negara.

5. satya bhakti aprabhu: memiliki kesetiaan dan keikhlasan yang tinggi untuk berbakti kepada Negara, Nusa dan Bangsa.

6. wagmiwak: mempunyai kepandaian berbicara dengan tutur kata yang sopan, serta serta mampu menggugah semangat rakyat; teguh mempertahankan pendirian dengan alasan dan keyakinan yang kuat.

7. sarjjawa upasama: teguh tangkas, namun ramah dan rendah hati; sepi ing pamrih, sabar dalam menghadapi cobaan.

8. dhirotsaha: bekerja dengan rajin dan bersungguh-sungguh, tak mengenal lelah, serta berhati teguh dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan negara.

9. tan lalana: cerdik, jujur, tak pernah berputus asa, berupaya selalu menunjukkan kegembiraan di depan orang lain, meskipun dia sendiri berduka.

10. tan satrsna: berdiri di atas semua golongan, tidak pilih kasih dan memihak terhadap salah satu golongan tertentu; mampu mengatasi segala paham golongan.

11. masihi samasta bhuwana: mencintai alam semesta, menciptakan dan memelihara keseimbangan alam jagad raya, menyayangi seluruh isi alam semesta, memelihara dan bersahabat dengan penghuni jagad raya, mencintai dan dicintai rakyatnya.

12. gineng pratidina: di dalam kesehariannya senantiasa berfikir, berkata dan bertindak mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, selalu mengerjakan yang baik dan meninggalkan perbuatan buruk.

13. dibyacitta: lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain; selalu berbaik hati dalam berhubungan dengan orang lain.

14. sumantr: setia kepada hukum, tegas, jujur, bersih, dan berwibawa; ahli dalam bidang tugasnya sebagai abdi Negara.

15. anayaken musuh: memusnahkan musuh, menyingkirkan ancaman, tantangan, gangguan, dan rintangan dengan gagah berani demi cita-cita luhur, untuk negara dan bangsanya.

16. ambek parama artha: pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.

17. waspada purwa wisesa: selalu waspada dan mau melakukan mawas diri untuk melakukan perbaikan.

18. prasaja: berpola hidup sederhana (aparigraha), menghindari kehidupan yang serba mewah (zuhud) dan gemerlapan.

Kedelapan belas prinsip garis-garis besar pengabdian tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga dimensi:

i. Dimensi spiritual terdiri dari 3 prinsip,
ii. Dimensi moral terdiri dari 6 prinsip, dan
iii. Dimensi manajerial terdiri 9 prinsip.

i .Dimensi spiritual terdiri dari 3 prinsip,
1. widjnya;
2. tan lalana;
3. prasaja.

ii.Dimensi moral terdiri dari 6 prinsip :
1. mantriwira;
2. sarjawa upasama;
3. tan Satrsna;
4. sumantr;
5. sih samasta bhuwana;
6. gineng pratidina.

iii.Dimensi manajerial terdiri dari 9 prinsip :
1. matenggwan;
2. satya bhaktya prabhu
3. wagmi wak;
4. wicaksaneng naya;
5. dhirotsaha;
6. dibyacitta;
7. anayaken musuh;
8. ambek parama arta;
9. waspada purwa wisesa.

Di balik kehidupan Rakryan Mahapatih Gajah Mada

Membicarakan sejarah adalah sesuatu yang sangat menarik, khususnya cerita tentang kepahlawanan dari para pendahulu bangsa, seakan menjadi obat tersendiri di saat suasana kehidupan yang tidak menentu.

Sejarah adalah kisah kehidupan masa lalu yang terpantul untuk menjadi cermin. Dalam sisi lain membaca kisah sejarah adalah seperti membuat diri kita masuk dalam kehidupan masa lalu dari para pendahulu.

Seringkali bahkan sudah tidak asing lagi di telinga kita tentang kehebatan sosok Mahapatih Gajah Mada, yang kisah kehidupannya menjadi menu wajib pelajaran sejarah bagi anak sekolah.

Barangkali sudah berpuluh kali kita membaca kisah sejarah Patih terkenal dari Kerajaan Majapahit ini, tapi mungkin selama ini apa yang kita baca baru menyentuh sisi permukaan, belumlah mencapai sisi nilai-nilai yang terpendam di balik semua itu.

Setiap dari kita di jaman modern ini apalagi di tengah situasi kehidupan yang carut marut, di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang sedang dirundung berbagai masalah, kita pasti mendambakan kejayaan bangsa ini suatu saat nanti, memori kita dipaksa terbang menuju alam harapan dan keinginan bahwa semoga suatu saat nanti bangsa ini bisa menjadi bangkit dan mencapai kejayaan seperti kejayaan kerajaan Majapahit ratusan tahun silam.

Mendambakan kehidupan kebangsaan yang damai, negara yang adil makmur penuh kesejahteraan dan kemakmuran, pastilah menjadi sesuatu yang menghiasi harapan dan keinginan kita suatu saat nanti, dalam diri kita dipenuhi harapan akan munculnya sosok tokoh baru, sosok pahlawan bangsa yang bisa membawa negeri ini kembali kepada kejayaan.

Tetapi ada suatu hal yang terlupakan, kita mengharap ada seorang pemimpin yang lahir seperti Mahapatih Gajah Mada dan para tokoh hebat lainnya, tetapi diri kita terkadang lupa menggali nilai-nilai di balik kehidupan emas mereka, rahasia apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan bangsa.

Ketika Mahapatih Gajah Mada menolak jabatan

Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal karirnya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkâri pada Raja Jayanagara (1309-1328) terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai Bêkêl Bhayangkâri yang berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328).

Selanjutnya di tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Daha Kadiri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu terhadap Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanegara.

Membaca kisah sejarah dari awal karir Mahapatih Gajah Mada membuat diri kita akan terkagum-kagum oleh karakter dan kepribadiannya. Memang beliau adalah sejak awal karir memang telah menunjukkan jatidiri bahwa kelak akan menjadi tokoh yang hebat.

Betapa tidak, beliau berani menolak jabatan yang datang sendiri kepadanya. Jabatan Patih adalah jabatan yang tinggi dan superior dalam birokrasi kerajaan. Patih Arya Tadah adalah patih senior yang kekuasaannya sebagai orang kedua di kerajaan dan menjadi tangan kanan Sang Maha Prabu, suatu jabatan yang tinggi dalam hirarki kerajaaan Majapahit.

Barangkali kalau dalam alam pemerintahan sekarang, jabatan Patih Arya Tadah adalah Perdana Menteri. Jabatan tinggi dalam kenegaraan, menjadi salah satu orang penting dalam suatu Negara.

Yang sangat mengagumkan diri kita bahwa penolakan Gajah Mada kepada jabatan super bergengsi tersebut adalah idealisme dalam dirinya yang mau menerima jabatan tinggi tersebut setelah beliau berbuat jasa kepada Negara terlebih dahulu.

Ada beberapa karakter kepribadian yang bisa kita tangkap dari peristiwa tersebut :
1. idealisme kokoh sejak awal karir.
2. harga diri yang tinggi.
3. sifat ksatria.
4. sosok yang tidak ambisius dan mudah tergoda oleh godaan duniawi.
5. loyalitas tinggi kepada Negara dan keinginan yang besar untuk mengabdi kepada rakyat, Negara di atas kepentingan pribadinya.

Sikap penolakan kepada suatu jabatan yang prestisius adalah menunjukkan idealisme dan filosofi yang sangat kuat berada dalam dirinya. Idealisme dan filosofi adalah kekuatan yang maha dahsyat, suatu kekuatan kasat mata, tidak terlihat tapi mampu menggerakkan dunia. Itulah hebatnya idealism dan filosofinya.

Andai Gajah Mada bukan sosok yang mempunyai idealisme kokoh dan sebuah filosofi yang dalam, mungkin dengan cepat beliau akan menerima tawaran jabatan tersebut.

Siapa tidak tergoda oleh jabatan tinggi pemerintahan. Tapi Gajah Mada berhasil menepis godaan dunia politik, dia mempunyai idealisme yang tinggi, harga diri yang kuat dalam diri beliau, yang tidak mau menerima jabatan sebelum beliau sebelum berhasil membuktikan kemampuannya.

Beliau tidak mengobral janji banyak dan muluk-muluk, bahkan beliau tidak perlu sêsorah untuk mencari jabatan, justru jabatan itu datang sendiri kepada beliau, tetapi beliau tolak, karena harga diri, idealisme dan sifat ksatria dalam diri beliau yang tidak mau menerima jabatan kalau tidak mampu.

Sungguh suatu sifat yang sangat terpuji dan hebat.
Kita sering terkagum-kagum oleh para pejabat dari negeri asing yang mempunyai sifat ksatria, yang meletakkan jabatan karena merasa gagal dalam tugasnya, tetapi diri kita seakan telah lupa bahwa nenek moyang kita dahulu pun lebih hebat daripada mereka, sosok Gajah Mada yang mempunyai sifat ksatria, harga diri yang tinggi dan idealisme kokoh.

Sungguh sangat berbeda dengan keadaan sekarang ini, banyak orang yang berlomba-lomba ingin dipilih untuk menjadi pejabat negara atau pejabat pemerintahan, sementara diri mereka belum menunjukkan kemampuannya yang nyata.

Bahkan jauh hari sebelumnya mereka sudah mengobral janji muluk-muluk dan menebar pesona, janji perbaikan ekonomi dan macam-macam penawaran manis, seolah-olah hanya dialah di permukaan bumi ini yang “merasa terpanggil” dapat memakmurkan negeri. Konon begitulah alam demokrasi, demikian kata mereka sebagai suatu pembenaran atas sikap dan tingkah lakunya, seolah-olah ingin mereka katakan juga bahwa hal demikian itu merupakan panggilan nusa, bangsa dan negara, demi untuk kepentingan rakyat.

Benarkah demikian?

Tetapi yang terjadi kemudian mereka lupa, bahwa setelah terpilih menduduki jabatannya, menguaplah janji-janji manis mereka, yang ada kemudian di antara mereka justru membagi-bagi ‘kue kemenangan’ di antara mereka, seolah-olah merekalah pemilik tanah air ini dan merekalah yang paling berhak mengaturnya.
Mereka tidak sadar bahwa jabatan itu adalah amanah.
[Mohon dibaca di Gandhok HLHLP 105. On 18 Februari 2011 at 06:53 punakawan bayuaji said: PEMIMPIN & KEPEMIMPINAN]

Dan yang paling spektakuler adalah tekad Sang Mahapatih Gajah Mada untuk tidak mau bermewah-mewah sebelum berhasil membuktikan sumpahnya.

Sangat berbeda dengan keadaan sekarang, ketika rakyat bersusah payah untuk mempertahankan hidupnya yang memang sudah sangat susah, para petinggi negeri dan pangêmbating pråjå tega berlomba-lomba memperkaya diri dengan segala cara untuk meraih kemewahan duniawi, rumah mewah, mobil mewah dan berbagai fasilitas lain yang menggiurkan, sementara apa yang bisa dia berikan untuk Negara dan Rakyatnya?

Ironisnya justru tindak korupsi seakan menjadi fenomena yang biasa di kalangan para punggawa negeri, dan menjadi sistem yang kalau perlu di’restu’i, bahkan dilakukan secara bersama-sama.

Berbagai retorika indah dilontarkan, menebar pesona dengan berbagai teori yang diperdebatkan untuk memajukan negeri ini, tapi Gajah Mada tidak membutuhkan semua retorika itu, pilih aku menjadi pemimpinmu andai aku mampu mengembannya, pilih aku, angkatlah aku menjadi pejabat dan pemimpin kalian kalau aku bisa membuktikan kemampuanku, kalau aku tidak mampu jangan sekali-kali kalian memilih aku sebagai pemimpin.

Itulah beliau, sisi emas di balik kehebatannya, rahasia beliau kenapa bisa membawa kerajaan Majapahit mencapai puncak kemakmuran dan kejayaan serta mengubah mimpi menjadi kenyataan. Dan memang sosok seperti beliau belum terlahir lagi di zaman sekarang, sosok yang hebat dengan segala kepribadiannya yang mengesankan.

Dan memang sangat jauh beda kualiatasnya, maka tidak heran kalau tokoh seperti Gajah Mada sampai sehebat itu. Jiwa yang kokoh, sifat ksatria, harga diri yang tinggi, idealisme yang kokoh bercokol kuat dalam hatinya, sangat mengagumkan.

Ramai orang mengejar jabatan, menawarkan berbagai progam dan agenda, tapi bagi Gajah Mada tidak memerlukan seribu janji, bahkan tidak perlu mencalonkan dirinya menjadi pejabat, apalagi sampai mengeluarkan uang banyak buat memuluskan ambisinya, cukup dengan satu kalimat, pilihlah aku jika aku mampu dan sudah berhasil menunjukkan kemampuanku, kalau aku tidak mampu segera lemparkan aku keluar karena aku tidak pantas menyandangnya.

Barangkali andai sosok Gajah Mada terlahir lagi ke alam Indonesia modern ini, bisa jadi beliau akan menjadi tertawaan orang, menjadi sosok aneh yang aneh daripada yang lain, seorang politikus yang unik, tetapi itulah sosok Gajah Mada, sosok yang mempunyai filosofi yang tinggi, mempunyai loyalitas pengabdian yang tinggi kepada Negara.

Beliau berkarir dalam politik diawali suatu filosofi bahwa dia mau mengabdikan diri kepada Negara, bukan mencari kekayaan duniawi dan jabatan bergengsi demi kebanggaan diri, andai beliau mencari prestise dan kekayaan duniawi, pastilah sudah menerima jabatan patih yang bergengsi di istana Majapahit, tetapi beliau menolaknya karena bukan kekayaan dan prestise yang beliau cari, tapi sebuah loyalitas dan kecintaan kepada Negara di atas kepentingan pribadi atau golongannya.

ånå tutugé

Nuwun

cantrik bayuaj

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: