Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN PERTAMA

On 18 Februari 2011 at 21:50 cantrik bayuaji said:

Nuwun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Waosan kaping-1:

GAMPINGROWO ALAS TRIK. BUAH MAJA YANG PAHIT (Parwa-1)

Om awignam astu namas sidam,

[Mugi linupútnå ing rêridhu]

Om nathaya namostute stuti ning atpada ri pada bhatara nityasa,

Sang suksme teleng ing samadhi siwabuddha sira sakalaniskala atmaka,

Sang sriparwwatanatha natha ning anatha sira ta pati ning jagadpati,

Sanghyang ning hyang inisty acintya ning acintya hana waya temah nireng jagat.

Setelah meruntuhkan kerajaan Tang, orang-orang Mongol kemudian mendirikan sebuah pemerintahan baru yang diberi nama Sung (Song). Salah satu anak Jenghis Khan, sang penakluk kerajaan Cina, bernama Kubilai Khan menjadi raja pertamanya.

Keinginan untuk memperluas pengaruh bangsa Mongol setelah menjajah Cina adalah menundukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur dengan menggunakan kekuatan militer dan politik.

Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui kaisar Mongol sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut untuk mengirim upeti (tribute) kepada kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Raja Kartanagara dari kerajaan Singasari.

Untuk maksud tersebut, Kubilai Khan mengirim seorang utusan bernama Meng Khi ke Jawa meminta raja Kartanagara untuk tunduk di bawah kekuasaan Cina. Merasa tersinggung, utusan itu dicederai wajahnya oleh Kartanagara dan meingirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol.

Perlakuan Kartanegara terhadap Meng Khi dianggap sebagai penghinaan kepada Kubilai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat untuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan bangsa Mongol.

Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dan merupakan sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singasari dan munculnya kerajaan Majapahit.

Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol.

Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal. Kubilai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang.

Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293.

Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan.

Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran.

Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese bersama pejabat yang menangani wilayah Jawa dan 500 orang menggunakan 10 kapal berangkat menuju ke Jawa untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi.

Ketika berada di Tuban mereka mendengar bahwa raja Kartanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Singasari.

Oleh karena perintah Kubilai Khan adalah menundukkan Jawa dan memaksa raja Singasari, siapa pun orangnya, untuk mengakui kekuasaan bangsa Mongol, maka rencana menjatuhkan Jawa tetap dilaksanakan. Sebelum menyusul ke Tuban orang-orang Mongol kembali berhenti di Pulau Karimunjawa untuk bersiap-siap memasuki wilayah Singasari.

Setelah berkumpul kembali di Tuban dengan bala tentara Mongol.

Diputuskan bahwa Ike Mese akan membawa setengah dari pasukan kira-kira sebanyak 10.000 orang berjalan kaki menuju Singasari, selebihnya tetap di kapal dan melakukan perjalanan menggunakan sungai sebagai jalan masuk ke tempat yang sama.

Sebagai seorang pelaut yang berpengalaman, Ike Mese, yang sebenarnya adalah suku Uigur dari pedalaman Cina bukannya bangsa Mongol, mendahului untuk membina kerja sama dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak setia kepada Jayakatwang.

Menurut cerita Pararaton, kedatangan bala tentara Mongol (disebut Tartar) adalah merupakan upaya Bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundangnya ke Jawa untuk menjatuhkan Daha.

Aria Wiraraja berjanji kepada raja Mongol bahwa ia akan mempersembahkan seorang puteri cantik sebagai tanda persahabatan apabila Daha dapat ditundukkan. Surat kepada raja Mongol disampaikan melalui jasa pedagang Cina yang kapalnya tengah merapat di Jawa.

Armada kapal kerajaan Mongol selebihnya dipimpin langsung oleh Shih Pi memasuki Jawa dari arah sungai Sedayu dan Kali Mas. Setelah mendarat di Jawa, ia menugaskan Ike Mese dan Kau Hsing untuk memimpin pasukan darat.

Beberapa panglima “pasukan 10.000-an” turut mendampingi mereka. Sebelumnya, tiga orang pejabat tinggi diberangkatkan menggunakan ‘kapal cepat’ menuju ke Majapahit setelah mendengar bahwa pasukan Raden Wijaya ingin bergabung tetapi tidak bisa meninggalkan pasukannya.

Melihat keuntungan memperoleh bantuan dari dalam, pasukan Majapahit ini kemudian dijadikan bagian dari bala tentara kerajaan bangsa Mongol.

Untuk mempermudah gerakan bala tentara asing ini, Raden Wijaya memberi kebebasan untuk menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya dan bahkan memberikan panduan untuk mencapai Daha, ibukota Singasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singhsari kepada Shih Pi yang sangat bermanfaat dalam menyusun strategi perang menghancurkan Jayakatwang.

Selain Majapahit, beberapa kerajaan kecil (mungkin setingkat provinsi di masa sekarang) turut bergabung dengan orang-orang Mongol sehingga menambah besar kekuatan militer sudah sangat kuat ketika berangkat dari Cina.

Persengkongkolan ini terwujud sebagai ungkapan rasa tidak suka mereka terhadap raja Jayakatwang yang telah membunuh Kartanegara melalui sebuah kudeta yang keji.

Pada bulan ketiga tahun 1293, setelah seluruh pasukan berkumpul di mulut sungai Kali Mas, penyerbuan ke kerajaan Singasari mulai dilancarkan.

Kekuatan kerajaan Singasari di sungai tersebut dapat

dilumpuhkan, lebih dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan induknya.

Peperangan besar baru terjadi pada hari ke-15, bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan Mongol dengan Raden Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Singasari.

Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha, ibukota Singasari. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden Wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian.

Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Singasari.

Dilindungi oleh lebih dari 10.000 pasukan raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran mulai dari pagi hingga siang hari.

Dalam peperangan ini dikatakan bahwa pasukan Mongol menggunakan meriam yang pada zaman itu masih tergolong langka di dunia.

Terjadi tiga kali pertempuran besar antara kedua kekuatan yang berseteru ini di keempat arah kota dan dimenangkan oleh pihak para penyerbu. Pasukan Singhasri terpecah dua, sebagian menuju sungai dan tenggelam di sana karena dihadang oleh orang-orang Mongol, sedang sebagian lagi sebanyak lebih kurang 5.000 dalam keadaan panik akhirnya terbunuh setelah bertempur dengan tentara gabungan Mongol-Majapahit.

Salah seorang anak Jayakatwang yang melarikan diri ke perbukitan di sekitar ibukota dapat ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kau Hsing berkekuatan seribu orang.

Jayakatwang menyadari kekalahannya, ia mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng. Pada sore harinya ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan.

Kemenangan pasukan gabungan ini menyenangkan bangsa Mongol. Seluruh anggota keluarga raja dan pejabat tinggi Singasari berikut anak-anak mereka ditahan oleh bangsa Mongol.

Sejarah Cina mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya memberontak dan membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit untuk menyiapkan persembahan kepada Kaisar Kubilai Khan. Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu.

Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menyerang balik orang-orang Mongol dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa. Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya itu harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara.

Dari sini ia berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

Kekakalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang.

Akan tetapi kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporakporandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di atasnya.

Menjelang akhir bulan Maret, yaitu di hari ke-24, seluruh pasukan Mongol kembali ke negara asalnya dengan membawa tawanan para bangsawan Singasari ke Cina beserta ribuan hadiah bagi kaisar. Sebelum berangkat mereka menghukum mati Jayakatwang dan anaknya sebagai ungkapan rasa kesal atas ‘pemberontakan’ Raden Wijaya.

Kitab Pararaton memberikan keterangan yang kontradiktif, disebutkan bahwa Jayakatwang bukan mati dibunuh orang-orang Mongol melainkan oleh Raden Wijaya sendiri, tidak lama setelah ibukota kerajaan Singasari berhasil dihancurkan.

Peristiwa kehancuran Singasari dikabarkan oleh Kidung Harsawijaya, Kidung Panji Wijayakrama dan Kitab Pararaton: Peristiwa kehancuran Singasari terjadi tahun 1292. Jayakatwang lalu menjadi raja, dengan Kadiri sebagai pusat pemerintahannya. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya yang datang menyerahkan diri.

Raden Wijaya kemudian diberi Hutan Tarik untuk dibuka menjadi kawasan wisata perburuan.

Sesungguhnya Aria Wiraraja telah berbalik melawan Jayakatwang. Saat itu ia ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut kembali takhta peninggalan mertuanya.

Pada tahun 1293 pasukan Mongol datang untuk menghukum Kertanegara yang telah berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama Majapahit.

Raden Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris Kertanegara bersedia menyerahkan diri kepada Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang.

Berita Cina menyebutkan perang terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5000 orang Kadiri tewas menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol.

Berita Cina dimaksud adalah Karya Chou Ku-fei yang berjudul Ling-wai-tai-ta tahun 1178, yang di dalamnya terdapat gambaran keadaan Jawa di masa kerajaan Kadiri. Buku ini kemudian dikutip oleh Chau Ju-kua dalam karyanya yang berjudul Chu-fan-chi, tahun 1225.

Saat itu kerajaan Kadiri sudah dikalahkan kerajaan Tumapel atau Singasari, juga Sejarah Dinasti Yuan, yang di dalamnya terdapat kisah pengiriman pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Kertanegara raja Singasari (1268-1292).

Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

Pada akhir hidupnya, menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, Jayakatwang meninggal dunia di dalam penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.

Adapun menurut Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang telah menyerah lalu ditawan di benteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Ia meninggal di dalam tahanan.

Ternyata kegagalan Shih Pi menundukkan Jawa harus dibayar mahal olehnya. Ia menerima 17 kali cambukan atas perintah Kubilai Khan, seluruh harta bendanya dirampas oleh kerajaan sebagai kompensasi atas peristiwa yang meredupkan kebesaran nama bangsa Mongol tersebut.

Ia dipersalahkan atas tewasnya 3.000 lebih prajurit dalam ekspedisi menghukum Jawa tersebut.

Selain itu, peristiwa ini mencoreng wajah Kubilai Khan karena untuk kedua kalinya dipermalukan orang-orang Jawa setelah raja Kartanegara melukai wajah Meng Khi.

Namun sebagai raja yang tahu menghargai kesatriaan, tiga tahun kemudian nama baik Shih Pi dipulihkan dan harta bendanya dikembalikan. Ia diberi hadiah jabatan tinggi dalam jenjang tata pemerintahan kerajaan Dinasti Yuan yang dinikmatinya sampai meninggal dalam usia 86 tahun.

Setelah Singasari diruntuhkan Raja Jayakatwang maka Raden Wijaya yang lolos dari penyerangan ke puri Singasari mencari perlindungan ke Madura yaitu adipati Wiraraja di Sumenep, hal ini sesuai dengan berita dalam Kidung Panji Wijayakrama, kitab Pararaton dan sumber primer Prasasti Kudadu berangka tahun 1216Ç/1294M yang di keluarkan oleh Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasa Jayāwardhanā Anantawikramottunggadewa, nama nobatan Raden Wijaya setelah menjadi Raja Majapahit,

Prasasti Kudadu berisi pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit, dalam pelariannya menuju Songenep (Sumenep), yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Jayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya (Rama) diberi hadiah tanah sima.

Kitab Pararaton mengabarkan:

Raden Wijaya menyeberang ke Utara, turun di daerah perbatasan Sungeneb, bermalam di tengah tengah sawah yang baru saja habis disikat, pematangnya tipis.

Sora lalu berbaring meniarap, Raden Wijaya dan puteri bangsawan itu duduk diatasnya.

Pagi harinya melanjutkan perjalanannya ke Sungeneb, beristirahat di dalam sebuah balai panjang. hamba hamba disuruh melihat lihat, kalau kalau Wiraraja sedang duduk dihadap hamba hambanya.

Kembalilah mereka yang disuruh itu, memang Wiraraja sedang dihadap.

Berangkatlah Raden Wijaya menuju tempat Wiraraja dihadap, terperanjatlah Wiraraja melihat Raden itu, Wiraraja turun, lalu masuk kedalam rumah, bubarlah yang menghadap.

Terhenti hati Raden Wijaya, berkata kepada Sora dan Ranggalawe: “nah, apakah kataku, saya sangat malu, lebih baik aku mati pada waktu aku mengamuk dahulu itu.”

Maka ia kembali ke balai panjang, kemudian Wiraraja datang menghadap, berbondong bondong dengan seisi rumah, terutama isterinya, bersama sama membawa sirih dan pinang.

Kata Ranggalawe: “Nah, tuanku, bukankah itu Wiraraja yang datang menghadap kemari.” Maka senanglah hati Raden Wijaya.

Isteri Adipati mempersembahkan sirih kepada Raden Wijaya.

Wiraraja itu meminta, agar Raden Wijaya masuk di perumahan Adipati. Sang puteri bangsawan naik kereta, isteri Wiraraja semua berjalan kaki, mengiring puteri bangsawan itu, dan Wiraraja mengiring Raden Wijaya.

Setelah datang di rumah tempat Wiraraja tidur. Raden Wijaya dihadap didalam balai nomor dua sebelah luar, ia menceriterakan riwayat bagaimana sang batara yang gugur ditengah tengah minum minuman keras itu meninggal dunia, juga menceriterakan bagaimana ia mengamuk orang Daha.

Berkatalah Wiraraja: “Sekarang ini, apakah yang menjadi kehendak tuan.”

Raden Wijaya menjawab: “Saya minta persekutuanmu, jika sekiranya ada belas kasihanmu.”

Sembah Wiraraja: “Janganlah tuanku khawatir, hanya saja hendaknya tuan bertindak perlahan lahan.”

Selanjutnya Wiraraja mempersembahkan kain, sabuk dan kain bawah, semuanya dibawa oleh isteri isterinya, terutama isteri pertamanya.

Kata Raden: “Bapa Wiraraja, sangat besar hutangku kepadamu, jika tercapailah tujuanku, akan kubagi menjadi dua tanah Jawa nanti, hendaknyalah kamu menikmati seperduanya, saya seperdua.”

Kata Wiraraja: “bagaimana saja, tuanku, asal tuanku dapat menjadi raja saja.”

Demikianlah janji Raden Wijaya kepada Wiraraja.

Luar biasa pelayanan Wiraraja terhadap Raden Wijaya, tiap tiap hari mempersembahkan makanan, tak usah dikatakan tentang ia mempersembahkan minuman keras.

Lamalah Raden Wijaya bertempat tinggal di Sungeneb. Disitu Arya Wiraraja berkata: “Tuanku hamba mengambil muslihat, hendaknya tuanku pergi menghamba kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan seakan akan minta maaf dengan kata kata yang mengandung arti tunduk, kalau sekiranya raja Jaya Katong tak berkeberatan, tuan menghamba itu, hendaknyalah tuan lekas lekas pindah bertempat tinggal di Daha, kalau rupanya sudah dipercaya, hendaknyalah tuan memohon hutan orang Terik kepada raja Jaya Katong, hendaknyalah tuan membuat desa disitu, hamba hamba Maduralah yang akan menebang hutan untuk dijadikan desa, tempat hamba hamba Madura yang menghadap tuanku dekat.

Adapun maksud tuanku menghamba itu, agar supaya tuan dapat melihat lihat orang orang raja Jaya Katong, siapa yang setia, yang berani, yang penakut, yang pandai, terutama juga hendaknyalah tuan ketahui sifat sifat Kebo Mundarang, sesudah itu semua dapat diukur, hendaknyalah tuanku memohon diri pindah ke hutan orang Terik yang sudah diubah menjadi desa oleh hamba hamba Madura itu, masih ada perlunya lagi, yalah: “Jika ada hamba hamba tuanku yang berasal dari Tumapel ingin kembali menghamba lagi kepada tuan, hendaknyalah tuan terima, meskipun hamba hamba dari Daha juga, jika mereka ingin mencari perlindungan kepada tuan, hendaknyalah tuan lindungi, jika semua itu sudah, maka tentara Daha tentu terkuasai oleh tuanku. Sekarang hamba akan berkirim surat kepada raja Jaya Katong.”

Berangkatlah orang yang disuruh mengantarkan surat, menyeberang ke selatan, menghadap raja Jaya Katong, mempersembahkan surat itu.

Adapun bunyi surat: “Tuanku, patik baginda memberi tahu, bahwa cucu paduka baginda mohon ampun, ingin takluk kepada paduka baginda, hendaknyalah paduka baginda maklum, terserah apakah itu diperkenankan atau tidak diperkenankan oleh paduka tuan.”

Kata Raja Jaya Katong: “Mengapa kami tidak senang, kalau buyung Arsa Wijaya akan menghamba kepada kami.”

Selanjutnya disuruh kembalilah utusan itu untuk menyampaikan kata katanya.

Setelah utusan datang lalu menyampaikan perintah.

Surat telah dibaca dimuka Raden Wijaya dan dimuka dimuka Wiraraja.

Wiraraja senang.

Segera Raden Wijaya kembali ke Pulau Jawa, diiring oleh hamba hambanya, dihantarkan oleh orang orang Madura, dan Wiraraja juga menghantarkan kembali di Terung.

Setelah datang di Daha, ia dengan tenteram dapat menghadap raja Jaya Katong, sangat dicintai.

Ketika ia datang di Daha, kebetulan tepat pada hari raya Galungan, hamba hambanya disuruh oleh raja untuk mengambil bagian didalam pertandingan, menteri menteri Daha sangat heran, karena orang orang itu baik semua, terutama Sora, Rangga Lawe, Nambi, Pedang dan Dangdi, mereka bersama sama lari ketempat pertandingan di Manguntur negara Daha.

Bergantilah menteri menteri Daha lari, diantaranya yang merupakan perjurit utama, yalah: Panglet, Mahisa Rubuh dan Patih Kebo Mundarang, mereka ketiga tiganya kalah cepat larinya dengan Rangga Lawe dan Sora.

Lama kelamaan Raja Jaya Katong mengadakan pertandingan tusuk menusuk, “Puteraku Arsa Wijaya, hendaknyalah kamu ikut bermain tusuk menusuk, kami ingin melihat, menteri menteri kamilah yang akan menjadi lawanmu.”

Jawab Raden Wijaya: “Baiklah tuanku.”

Bertandinglah mereka tusuk menusuk itu, riuh rendah suara bunyi bunyian, orang yang melihat penuh tak ada selatnya, orang orang raja Jaya Katong sering kali terpaksa lari.

Kata raja Jaya Katong: “Pintalah buyung Arsa Wijaya, jangan ikut serta, siapakah yang berani melawan tuannya.”

Raden Wijaya berhenti, kini sepadanlah pertandingan tusuk menusuk itu, kejar mengejar, kemudian Sora menuju ke arah Kebo Mundarang, Rangga Lawe menuju Panglet dan Nambi menuju ke Mahisa Rubuh, akhirnya terpaksa lari menteri menteri Daha itu menghadapi orang orang Raden Wijaya, tak ada yang mengadakan pembalasan, lalu bubar.

Sekarang Raden Wijaya telah melihat, bahwa menteri menteri Daha dikalahkan oleh orang orangnya.

Lalu ia berkirim surat kepada Wiraraja, selanjutnya Wiraraja menyampaikan pesan, agar Raden Wijaya memohon hutan orang Terik.

Raja Jaya Katong memperkenankan. Inilah asal usul orang mendirikan desa di hutan orang Terik.

Ketika desa sedang dibuat oleh orang orang Madura, ada orang yang lapar karena kurang bekalnya pada waktu ia menebang hutan, ia makan buah maja, merasa pahit, semua dibuanglah buah maja yang diambilnya itu, terkenal ada buah maja pahit rasanya, tempat itu lalu diberi nama Majapahit.

ånå tutugé

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: