Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KETIGA

On 23 Februari 2011 at 10:15 cantrik bayuaji said:

Nuwun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Atur Pambuka. Surya Majapahit. On 18 Februari 2011. HLHLP 106.

  1. Waosan kaping-1. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa-1). On 18 Februari 2011. HLHLP 106.
  2. Waosan kaping-2. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa-2). On 20 Februari 2011. HLHLP 107.

Waosan kaping-3:

RADEN WIJAYA, DYAH SANGGRĀMAWIJAYĀ ŚRI MAHARAJĀ KĔRTARĀJASĀ JAYĀWARDHANĀ (1293 – 1309) (Parwa ka-1).

1. Penobatan Raden Wijaya sebagai Raja Pertama Wilwatikta

Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya mempersiapkan upeti, Wijaya dan pasukannya malah menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan tempurnya menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa di Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.

Pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari meninggalkan banyak korban. Serangan mendadak yang tidak disadari itu membuat Ike Mese kaget tidak kepalang tanggung.

Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.

Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya, harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Dari sini mereka berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

Adalah Lembu Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang bekerja sama dengan orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, yang melakukan penumpasan itu.

Kekalahan balatentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi, kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporak-porandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di dalamnya.

Menurut Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh (Tanjung Perak sekarang) dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.

Pada pertempuran ini dicatat dalam sejarah Majapahit, Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan bersama umbu-umbul calon kerajaan yang akan lahir di atas kepala para prajurit Jawa. Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

Berkibarnya Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.

Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya.

Akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.

Pada tahun 1215Ç/1293M Raden Wijaya membangun keraton baru di wilayah Trik, kemudian menyatakan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan Wilwatikta atau Majapahit.

Raden Wijaya kemudian menobatkan dirinya menjadi raja pertama Majapahit. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada purneng kartikamasa panca dasi sukleng catur atau tanggal 15 bulan Kartika tahun 1216 Ç, atau 10 November 1293 M, yang menurut Prasasti Kudadu, nama abhiseka beliau adalah Kĕrtarājasa Jayāwardhanā bergelar Nararyā Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasa Jayāwardhanā Anantawikramottunggadewa.

Mengapa Baginda Prabu Nararyā Dyah Sanggrāmawijayā memakai nama abhiseka Kĕrtarājasa Jayāwardhanā? Dijelaskan pada Prasasti berangka tahun 1305 itu pada Bagian II. Ditulis bahwa nama beliau terdiri dari sepuluh suku kata kĕrtajasa jawardha, yang dikelompokkan menjadi empat kata kĕrta, rājasa, jayā, dan wardhanā.

Unsur kĕrta berarti Baginda Prabu memperbaiki Jawadwipa dari kekacauan, yang ditimbulkan oleh para penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Majapahit. Oleh karena itu bagi rakyat Wilwatikta Baginda laksana Surya yang menerangi bumi.

Unsur rājasa mengandung arti bhwa Baginda berjaya mengubah suasana kegelapan menjadi terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap lkawan-lawannya. Dengan kata lain Baginda adalah pengempur musuh.

Unsur jayā mengandung arti bahwa Sri Prabu memilik lambang kemenangan berupa tomba berujung tiga Trisulamuka sebagai senjata Dewa Syiwa, karena senjata iniliah maka seluruh musuh-musuhnya hancur.

Unsur wardhanā, mengandung arti bahwa Baginda Prabu mengayomi segala agama, memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Majapahit untuk menjalankan ajaran agamanya dengan leluasa; di sisi lain Baginda Prabu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Majapahit.

Nāgarakṛtāgama mewartakan pengangkatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit, ini terjadi pada tahun 1216 Ç.

Ri pejah nrpa jayakatwang awa tikang jagat alilang

Masaruparawi sakabda rika nararyya sira ratu

Siniwing pura ri majhapahit anuraga jaya ripu

Tinelah nrpa krtarajasa jayawarddhana nrpati.

[Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang-gemilang cemerlang kembali

Tahun Saka Masaruparawi (1216 Ç) beliau menjadi raja,

Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh,

Bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.]

Nararya Dyah Sanggramawijaya dalam Prasasti Balawi berangka tahun 1305 M menyatakan dirinya sebagai Wangsarajasa. Dengan demikian, ia tak pernah sekali pun berniat hendak mendirikan “dinasti” atau “wangas” baru, melainkan meneruskan dinasti yang telah dibangun Ken Arok, buyutnya.

Rajasawangsa adalah dinasti yang didirikan oleh Nararya Sangramawijaya. Ada yang menarik dalam hal ini: Nararya Sangramawijaya tidak menamakan dinastinya dengan sebutan, misalnya Wijayawangsa, melainkan Rajasawangsa.

Penamaan dinasti ini terbukti dari Piagam Kertarajasa Jayawardhana tahun 1305, sebuah lempengan satu baris yang berbunyi: “Rajasawangsa, penolong orang utama, pahlawan gagah berani dalam peperangan ….

Dengan demikian, Sanggramawijaya tidak bermaksud mendirikan wangsa atau dinasti baru yang disebut dengan unsur namanya, melainkan melanjutkan Kerajaan Singasari yang terputus oleh Jayakatwang tahun 1292.

Nama abhiseka Nararya Sanggramawijaya mengandung unsur “rajasa”, nama pendiri Singasari, Ken Arok. Dengan jalan demikian terlihat kesetiaan Sanggramawijaya terhadap Singasari.

Dalam memerintah, Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan mendirikan Majapahit. Nambi diangkat sebagai Mahapatih Majapahit, Lembu Sora sebagai Patih Daha, Arya Wiraraja dan Ranggalawe diangkat sebagai Pasangguhan (jabatan yang setara dengan hulubalang raja).

Pada 1294 Raden Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin Desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Madura.

2. Pernikahan

Menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari, Keempat anak Kertanegara tersebut adalah:

(1). Dyah Sri Tribhūwaneśwari, dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.

Dalam Nāgarakṛtāgama nama Tribhuwaneswari sering disingkat Tribhuwana. Ia adalah putri sulung Kertanagara raja terakhir Singasari. Dikisahkan pada saat Singasari runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari.

Rombongan Raden Wijaya kemudian menyeberang ke Sumenep meminta perlindungan Arya Wiraraja. Dalam perjalanan menuju Sumenep, Tribhuwaneswari sering dibantu oleh Lembu Sora, abdi setia Raden Wijaya Raden Wijaya.

Jika pasangan suami istri tersebut letih, Lembu Sora menyediakan punggungnya sebagai alas duduk. Jika menyeberang rawa-rawa Lembu Sora, menyediakan diri menggendong Tribhuwana.

Raden Wijaya kemudian bersekutu dengan Arya Wiraraja untuk menjatuhkan Jayakatwang. Ketika Raden Wijaya berangkat ke Kadiri pura-pura menyerah pada Jayakatwang, Tribhuwana ditinggal di Sumenep. Baru setelah Raden Wijaya mendapatkan hutan Trik untuk dibuka menjadi desa Majapahit, Tribhuwana datang dengan diantar Ranggalawe putra Arya Wiraraja.

Berita ini terdapat dalam Kidung Panji Wijayakarama.

Sepeninggal pasukan Mongol tahun 1293, Kerajaan Majapahit berdiri dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama. Tribhuwana tentu saja menjadi permaisuri utama, ditinjau dari gelarnya yaitu Tribhuwana-iswari.

Namun demikian, Pararaton menyebutkan, istri Raden Wijaya yang dituakan di istana bernama Dara Pethak putri dari Kerajaan Dharmasraya, yang melahirkan Jayanagara sang putra Mahkota.

Menurut prasasti Kertarajasa (1305), Tribhuwaneswari disebut sebagai ibu Jayanagara. Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanagara adalah anak kandung Dara Pethak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari sang permaisuri utama.

Hal ini menyebabkan Jayanagara mendapat hak atas takhta sehingga kemudian menjadi raja kedua Majapahit tahun 1309-1328.

Setelah Wafat Tribhuwaneswari dimuliakan di Candi Rimbi di sebelah barat daya Mojokerto, yang diwujudkan sebagai Parwati.

(2). Dyah Dewi Narendraduhitā dengan gelar Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, tidak berputra; adalah putri ketiga dari Raja Singasari Kertanagara, dan merupakan istri kedua Raden Wijaya.

(3). Dyah Dewi Prajnyāparamitā dengan gelar Śri Jayendra Dyah Dewi Prajnyāparamitā, atau sering disingkat dengan nama Prajña Paramita atau Pradnya Paramita adalah putri keempat dari Raja Kertanegara dan merupakan istri ketiga dari Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan.

Disebutkan bahwa Prajña Paramita adalah istri yang paling setia di antara kelima istri Raden Wijaya.

(4). Dyah Dewi Gayatri, diangkat sebagai rajapatni dengan gelar Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri, adalah istri ke empat dari Raden Wijaya, dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi yang kelak berkedudukan di Jiwana (Kahuripan), Bhre Kahuripan, dan Rajadewi Maharajasa, yang diangkat sebagai Bhre Daha.

Tribhuwanatunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.

Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri. Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.

Dalam Nāgarakṛtāgama pupuh 2 (1) menguraikan bahwa putri Gayatri (Rajapatni) wafat pada tahun 1350 pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. 12 tahun setelah meninggalnya Gayatri dilaksanakan upacara srada dan dimuliakan candi di candi Boyolangu di desa Kamal Pandak tahun 1362 dengan nama Prajnyaparamita Puri.

Baik tanah candi maupun arcanya diberkati oleh pendeta Jnyanawidi.

Sementara itu, dari Gayatri lahir pula dua orang putri bernama Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat. Dyah Wiyat alias Rajadewi Maharajasa adalah putri bungsu Raden Wijaya, yang lahir dari Gayatri. Ia memiliki kakak kandung bernama Dyah Gitarja, dan kakak tiri bernama Jayanagara.

Pararaton mengisahkan Jayanagara yang menjadi raja kedua, merasa takut takhtanya terancam, sehingga Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat dilarang menikah. Baru setelah ia meninggal tahun 1328, para Ksatriya berdatangan melamar kedua putri tersebut.

Setelah diadakan sayembara, diperoleh dua orang Ksatriya, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.

Selain keempat putri Kertanegara, Raden Wijaya beristrikan Dara Pethak.

Menurut Pararaton, sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit, datang pasukan Kebo Anabrang yang pada tahun 1275 dikirim Kertanegara menaklukkan Pulau Sumatra. Pasukan tersebut membawa dua orang putri Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya bernama Dara Jingga dan Dara Pethak sebagai persembahan untuk Kertanegara.

Nama Dara Pethak berarti merpati putih. Menurut Kronik Cina, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, sehingga dapat diperkirakan pertemuan antara Raden Wijaya dan Dara Pethak terjadi tanggal 4 Mei 1293.

Karena Kertanegara sudah meninggal, maka ahli warisnya, yaitu Raden Wijaya mengambil Dara Pethak sebagai istri, sedang Dara Jingga diserahkan kepada Adwayabrahma atau Mahesa Arema yang dikenal dengan panggilan Kebo Anabrang, seorang pejabat Singasari yang dulu dikirim ke Sumatra tahun 1286.

Dara Pethak pandai mengambil hati Raden Wijaya sehingga ia dijadikan sebagai istri tinuheng pura, atau istri yang dituakan di istana.

Padahal menurut Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya sudah memiliki empat orang istri, dan semuanya adalah putri Kertanegara.

Pengangkatan Dara Pethak sebagai istri tertua mungkin karena hanya dirinya saja yang melahirkan anak laki-laki, yaitu Jayanegara. Sedangkan menurut Nāgarakṛtāgama, ibu Jayanegara bernama Indreswari. Nama ini dianggap sebagai gelar resmi Dara Pethak.

Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja.

Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi. Sedangkan menurut Pararaton, ia hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Pethak.

Menurut prasasti Sukamerta dan prasasti Balawi, Raden Wijaya memiliki seorang putra dari Tribhuwaneswari bernama Jayanagara. Sedangkan menurut Pararaton Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Pethak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Jayanagara atau Kalagěmět, dan menurut Nāgarakṛtāgama adalah putra Indreswari.

Namun demikian ada juga pendapat lain, dimana Raden Wijaya juga mengambil Dara Jingga yang juga salah seorang putri Kerajaan Melayu sebagai istrinya selain dari Dara Pethak, yaitu Dara Jingga.

Dara Jingga juga dikenal memiliki sebutan sira alaki dewa — dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa, karena dia diperisteri oleh raja bergelar yang ‘dewa’ dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja kerajaan Malayu di Sumatera.

Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kěrtanāgara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan.

Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, Śrimat Tribhūwanarāja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasāri. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya.

Pernikahan dengan keempat putri Kertanegara ternyata dikandung maksud untuk meredam kemungkinan terjadinya pemberontakan dengan tujuan mencegah terjadinya perebutan kekuasaan antaranggota keluarga raja.

3. Kepemimpinan Raden Wijaya

Dalam memimpin Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya dikenal memerintah dengan tegas dan bijak. Kepemimpinan Kertarajasa dianggap cukup bijaksana, dengan mengangkat para pengikutnya dulu yang setia dalam perjuangan dengan memberikan kedudukan dan hadiah yang pantas kepada para pendukungnya.

Aria Wiraraja yang banyak berjasa ikut mendirikan Majapahit, diberi daerah khusus (Madura) dan diberi diberi kekuasaan atas daerah Lumajang hingga Blambangan. Disamping itu Arya Wiraraja dan Ranggalawe diangkat sebagai pasangguhan,

Nambi (putera Arya Wiraraja) diangkat menjadi patih (perdana menteri), Ranggalawe diangkat sebagai Adipati Tuban, dan Lembu Sora sebagai patih Dhaha (Kadiri).

Pada tahun 1294 Wijaya juga memberikan anugerah tanah di Surabaya kepada pemimpin desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.

Babad Tanah Jawi mewartakan:

Sawisé jumênêng Nåtå, Sang Prabu anggêganjar marang sakabèhing kawulå kang mauné labuh marang panjênêngané. Wiråråjå dibagèhi tanah Lumajang sauruté. Putriné Kartånagårå papat pisan dadi garwané Sang Prabu, lan isi ånå garwå paminggir siji sakå tanah Melayu aran Sri Indrèsywari.

Sâkå garwå paminggir iki Sang Prabu kagungan putrå R. Kaligêmêt, kang bèsuké nggêntos kaprabon, ajêjuluk Jåyånagårå, sêkå Prameswari Sang Prabu pêputrå putri loro. Ing taun 1295 R. Kalagêmêt lagi yuswå sâtaun wus diangkat dadi pangèran pati lan dadi ratu ing Kadhiri, ibuné kang ngêmbani nyêkêl pråjå Kadhiri.

Ing nalikå panjênêngané Prabu Kêrtarêjåså Jåyåwardhånå iku, Tanah Jåwå karo Cinå bêcik manèh, pêrdagangané gêdhé, wong Cinå têkå ing Tanah Jåwå nggåwå mas, salåkå, mêrjan, sutrå biru, sutrå kêmbang-kêmbangan, bålå-pêcah lan dandanan wêsi. Sâkå ing Tanah Jåwå, Cinå kulak: bêras, kopi kapri, rami, bumbon crakên luwih-luwih mricå, barang barang mas utåwå salåkå, bångså dandanan kuningan utåwå têmbågå, tênunan kapas lan sutrå, wêlirang, gading, culå warak, kayu warnå-warnå, manuk jåkåtuwå lan barang nam-naman.

4. Tata Pemerintahan Raden Wijaya

Berikut adalah nama-nama jabatan dan pejabat pemerintahan Majapahit pada Jaman pemerintahan Raja Kertarajasa sesuai Piagam Penanggungan tahun 1296, yang mengacu pada jabatan pemerintahan masa Kerajaan Kadiri dan Singasari. [Catatan: Yang dicetak miring (italicize), adalah sebutan nama jabatan, bukan nama pejabatnya].

(1). Rakryan Mahamentri Katrini.

Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Kuno, yakni pada masa Rakai Kayuwangi, jabatan ini tetap ada pada zaman Kerajaan Singasari, hingga ke masa Majapahit.

Penjabat-penjabat ini terdiri dari tiga orang yakni:

Rakryan Mahamantri i Hino, dijabat oleh Dyah Pamasi.

Rakryan Mahamantri i Halu, dijabat oleh Dyah Singlar.

Rakryan Mahamantri i Sirikan, dijabat oleh Dyah Palisir.

Ketiga penjabat ini mempunyai kedudukan penting setelah raja, dan mereka menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah raja; titah tersebut kemudian disampaikan kepada pejabat-pejabat lain yang ada di bawahnya.

Rakryan Mahamantri i Hinolah yang terpenting dan tertinggi. Ia mempunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti). Oleh sebab itu, banyak para sejarahwan yang menduga jabatan ini dipegang oleh putra mahkota.

(2). Rakryan Mantri ri Pakirakiran.

Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah, disebut Sang Panca ring Wilwatika atau Mantri Amancanagara, yakni lima orang rakryan yang disebut Para Tanda Rakryan, yaitu:

Rakryan Mahapatih Majapahit atau Mantri Mukya: Pu Tambi,

Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan): Pu Rentang,

Rakryan Kanuruhan (Penghubung dan Tugas-tugas Protokol Istana): Pu Elam,

Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan): Pu Wahana, dan

Rakryan Rangga (Wakil Panglima Kerajaan): Pu Sasi.

Jabatan-jabatan tersebut kalau di abad ke-20 atau 21 ini, adalah:

Rakryan Mahapatih Majapahit atau Mantri Mukya, = Perdana Menteri.

Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan) = Menteri Dalam Negeri.

Rakryan Kanuruhan (Penghubung dan Tugas-tugas Protokol Istana), dapat disebut sebagai Pejabat Penghubung antar Lembaga Negara.

Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan) = Menteri/Panglima Angkatan Bersenjata atau Panglima Tentara Nasional.

Rakryan Rangga (Wakil Panglima Kerajaan) = Wakil Panglima Tentara Nasional.

(3). Patih Negara Bawahan.

Rakryan Patih Daha: Empu Sora.

Rakryan Demung Daha: Empu Rakat.

Rakryan Tumenggung Daha: Empu Pamor.

Rakryan Rangga Daha: Empu Dipa.

(4). Pejabat Hukum Keagamaan:

Rakryan Mahamantri Agung Pranaraja, yang membawahi lima pendeta Syiwa dan Budha dengan sebutan Dang Acarya, Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendeta Syiwa dan Buddha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu dharmadhyaksa kesiwaan dan dharmadhyaksa kebuddhaan):

Dharmadyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Agraja.

Dharmadyaksa Kasogatan: Dang Acarya Ginantaka.

Sang Pemegat ring Pamotan: Dang Acarya Anggaraksa.

Sang Pemegat ring Jambi: Dang Acarya Rudra.

Sang Pemegat ring Tirwan: Panji Paragata.

(5). Pasangguhan.

Jabatan hulubalang keraton. Pada zaman awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan:

Pasangguhan: Sang Arya Wiraraja.

Pasangguhan Rakryan Mantri Dwipantara: Sang Arya Adikara.

Mapasanggahan Sang Pranaraja Rakryan Mantri: Mpu Siana.

Mapasanggahan Sang Nayapati: Mpu Lunggah.

(6). Dharmaputra.

Dharmaputra adalah suatu jabatan khusus yang dibentuk oleh Raden Wijaya. Berjumlah tujuh orang, yaitu:

• Ra Kuti,

• Ra Semi,

• Ra Tanca,

• Ra Wedeng,

• Ra Yuyu,

• Ra Banyak, dan

• Ra Pangsa,

yang semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan Jayanegara (raja kedua Majapahit).

Tidak diketahui dengan pasti apa tugas dan wewenang Dharmaputra. Pararaton hanya mengatakan kalau para anggota Dharmaputra disebut sebagai pangalasan wineh suka, yang artinya “pegawai istimewa yang disayang raja”. Mereka diangkat oleh Raden Wijaya dan tidak diketahui lagi keberadaannya setelah tahun 1328.

(7). Juru Pangalasan.

Selama masa pemerintahan Raden Wijaya, jabatan Juru Pengalasan, yaitu pejabat tinggi daerah mancanegara, mungkin semacam ‘Duta Besar’ atau ‘Utusan Khusus’, dijabat sendiri oleh Sang Prabu dengan sebutan Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: