Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEEMPAT

On 24 Februari 2011 at 22:06 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun

Sugêng dalu

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Atur Pambuka. Surya Majapahit. On 18 Februari 2011. HLHLP 106.

  1. Waosan kaping-1. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa-1). On 18 Februari 2011. HLHLP 106.
  2. Waosan kaping-2. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa-2). On 20 Februari 2011. HLHLP 107.
  3. Waosan kaping-3. Radèn Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa-1). On 23 Februari 2011. HLHLP 108.

Waosan kaping-4:

RADÈN WIJAYA, DYAH SANGGRĀMAWIJAYĀ ŚRI MAHARAJĀ KĔRTARĀJASĀ JAYĀWARDHANĀ (1293 – 1309) (Parwa ka-2).

5. Siapa Radèn Wijaya?

Radèn Wijaya adalah nama yang lazim dipakai para sejarahwan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Radèn Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar Radèn belum populer.

Nāgarakṛtāgama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Radèn. Istilah Radèn sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan, menjadi Rahadyan dan akhirnya Radèn.

Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam Prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1204. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

Menurut Pararaton, Radèn Wijaya adalah putra Mahisa Campaka Narasingha Murti Ratu Anggabaya, Kerajaan Singasari semasa Singasari diperintah oleh Wisnu Wardhana.

Menurut Naskah Wangsakerta pada Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Radèn Wijaya atau Sanggramawijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal (Dyah Singamurti, menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara Dyah Lembu Tal adalah seorang perempuan).

Ayahnya adalah putra Prabu Buru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal tidak ingin tinggal di Pakuan, tetapi pulang ke Singasari membawa serta putranya Radèn Wijaya.

Dengan demikian, Radèn Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa. [ Catatan:Sebagian besar sejarahwan meragukan keaslian naskah Wangsakerta ini].

Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda.

Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

Babad Tanah Jåwi (XXIV) Cariyos Prabu Bråwijåyå lan têdhak turunipun

Gantos ingkang cinariyos Sang Prabu Bråwijåyå wontên ing Måjåpahit, saking karsanipun ingkang nganggit sêrat punikå aran ngaturakên ingkang nurunakên kawiwitan saking Karaton Jênggålå, ingkang jumênêng nåtå Radèn Rawisrênggå, pêputrå Radèn Laléyan jumênêng nåtå wonten ing Pajajaran, dangunipun satus taun. Pêputrå Radèn Bondhansari, ugi lêstantun jumênêng nåtå wontên ing Pajajaran, pêputrå Radèn Bondhanwangi pêputrå sêkawan.

Ingkang pâmbarêp putri, ananging pikantuk supatanipun ingkang råmå dados wadat botên kénging pålåkråmå, tinundhung ingkang råmå lajêng mratåpå wontên rêdi, têmahan mêrnyanyang dados bangsanipun lêlêmbut, inggih punikå jumênêng ratu wontên ing sêgårå kidul, ingkang pinaraban Kanjêng Ratu Kidul.

Ingkang panênggak ugi putri ananging kathah sakitipun sartå gadhah cacat bisu botên sagêd caturan, ingkang råmå sangêt lingsêmipun. Putri wau binucal dhatêng pulå Harmus, pinupu dening Sang Ratu Kêlan, dados ndhérèk golongan bångså wolung nagari, inggih punikå Spanyol saurutipun.

Ingkang nomêr tigå kakung, pêparab Jåkå Sêsuruh lan tunggal råmå-ibu. Wontên malih putranipun ingkang nomêr sêkawan, tunggal råmå bèntên ibu, ugi kakung pêparab Radèn Siyung Wanårå.

Sasêdanipun Sang Prabu Bondhanwangi ingkang nggantosi jumênêng nåtå putrå ingkang wuragil jêjuluk Radèn Siyung Wanårå. Déné Radèn Sêsuruh jumênêng nåtå wontên ing Måjåpahit. Karaton ing Pajajaran tumuli sirnå, putranipun Prabu Siyung Wanårå lajêng ngratu dhatêng Majapahit, dados ratunipun namung sêtunggal wontên ing Måjåpahit kémawon.

Menurut Pararaton, Radèn Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singasari. Menurut Nāgarakṛtāgama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti.

Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

Antara Pararaton dan Nāgarakṛtāgama ada celah satu generasi: ada dan tidak ada Dyah Lembu Tal. Pararaton menyebut Wijaya putra Mahisa Campaka alias Narasinghamurti, sedangkan Nāgarakṛtāgama menyebut Wijaya cucu Narasinghamurti.

Berita Nāgarakṛtāgama sejalan dengan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dalam hal Dyah Lembu Tal sebagai orang tua Wijaya, namun tidak dalam hal jenis kelaminnya.

Berdasarkan catatan sejarah dari sumber lain yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya bahwa Radèn Wijaya atau Radèn Jaka Tanduran atau Radèn Sesuruh atau Prabu Brawana merupakan putra ke-7 pasangan Prabu Sundha Hanyakrawati/Prabu Harjakusuma atau Prabu Pamekas di Pajajaran dari Permaisuri Dewi Ambarsari yang merupakan putri dari Prabu Dewamantala di Kerajaan Galuh.

Mengenai berita adanya perselisihan diantara para keturunan Prabu Pamekas adalah hal yang mungkin dapat dibenarkan dikarenakan masing-masing berambisi untuk meneruskan tahta.

Diceritakan dari sumber lain dimana terjadi peselisihan diantara Radèn Wijaya dengan saudaranya yaitu Radèn Siyung Wanara atau Jaka Tambi atau Arya Banyakwidhe yang merupakan putra ke-9 dari pasangan Prabu Pamekas dengan selir dan kemudian Siyung Wanara menjadi Raja di Pajajaran dengan gelar Prabu Sri Maha Sekti.

Rakeyan Jayadarma salah seorang pangeran kerajaan Sunda dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Radèn Wijaya.

Namun karena Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.

Berita di atas berlawanan dengan Nāgarakṛtāgama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti.

Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya.

Perlu diketahui bahwa catatan dari tanah Sunda tentang kaitan antara Radèn Wijaya dengan Rakeyan Jayadarma ini hanya pendapat minoritas sejarawan. Kelemahan utamanya adalah nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki, yang umumnya diterima sebagai ayah dari Radèn Wijaya.

Radèn Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Radèn Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.

Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Radèn Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kubilai Khan dari Jawa Timur.

Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Radèn Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.

Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Radèn Wijaya, cucunya. Ketika itu Radèn Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :

Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi.

Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu.

Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.

Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur.

Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang.

Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatikta.

(Janganlah hendaknya kamu mengganggu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada.

Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar.

Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi ketentuan yang telah tersurat.

Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga.

Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing.

Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna.

Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).

Dari uraian di atas tentunya dapat disimpulkan, bahwa Darmasiksa memiliki peranan yang cukup besar terhadap keutuhan Sunda. Dilakukan tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan dengan cara Diplomasi.

Kiranya keindahan kepemimpinan Darmasiksa patut dicontoh oleh generasi berikutnya. Selain ia ahli agama dan memegang erat tetekon keyakinannya, ia pun mampu menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

Radèn Wijaya (atau dikenal dengan Nararya Sanggramawijaya) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang merupakan keturunan langsung dari wangsa Rajasa adalah pendiri dan raja pertama Majapahit (1293-1309).

Radèn Wijaya adalah anak dari Rakeyan Jayadarma, raja ke 26 dari Kerajaan Sunda Galuh, dan Dyah Lembu Tal/Dyah Singhamurti, seorang putri Singasari. Ken Arok, raja pertama (1222-1227) Singasari menikahi Ken Dedes, dan memiliki anak: Mahesa Wong Ateleng.

Lalu ia memiliki anak: Mahesa Cempaka yang bergelar Narasinghamurti. Kemudian memiliki putri: Dyah Lembu Tal diberi gelar Dyah Singhamurti.

Rakeyan Jayadarma. Ia adalah raja ke-26 Kerajaan Sunda Galuh, anak dari Prabu Guru Dharmasiksa, raja ke-25 dari Kerajaan Sunda Galuh. Setelah Rakeyan Jayadarma diracun oleh salah seorang bawahannya, dan tewas, Dyah Lembu Tal kembali ke Singasari bersama Radèn Wijaya.

Radèn Wijaya seharusnya menjadi raja ke 27 Kerajaan Sunda Galuh. Sebaliknya, ia mendirikan Majapahit di tahun 1293, setelah tewasnya raja Kertanegara, raja Singasari terakhir, yang merupakan mertuanya, dan juga sepupu ibunya.

Dialah Radèn Wijaya yang disebut sebagai Jaka Susuruh dari Pajajaran. Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Singasari, menjadi raja pertama di Majapahit.

Di antara naskah-naskah di atas, Nāgarakṛtāgamalah yang paling dapat dipercaya, karena naskah ini ditulis tahun 1365, hanya berselang 56 tahun setelah kematian Radèn Wijaya. Berita dalam Nāgarakṛtāgama diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan langsung oleh Radèn Wijaya sendiri tahun 1305.

Dalam prasasti itu Radèn Wijaya menyatakan dirinya sebagai keturunan Wangsa Rajasa. Menurut Nāgarakṛtāgama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti.

Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa, penguasa pertama Kerajaan Singasari.

6. Berdirinya Keraton Majapahit menurut Kitab Babad

Konon, dahulu ada seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri ke wilayah Pulau Jawa sebelah timur. Pangeran itu bernama Radèn Jaka Sesuruh.

Ia melarikan diri karena Kerajaan Pajajaran dikuasai pemberontak yang bernama Ciung Wanara.

Ciung Wanara sebenarnya masih putra Raja Pajajaran sendiri. Ia lahir dari salah satu istri (selir) Raja Pajajaran karena diramalkan kehadirannya akan membawa akibat buruk, saat bayi Ciung Wanara dibuang oleh Raja Pajajaran.

Setelah dewasa, ia bermaksud untuk balas dendam. Oleh karena itu, Ciung menyerbu Pajajaran dan menguasai.

Radèn Jaka Sesuruh terus berlari ke timur. Ia ingin ke puncak Gunung Kombang. Ia ingin meminta petunjuk kepada nenek pertapa itu. Apa yang dilakukannya sekarang.

Di tengah perjalanan Radèn Jaka Sesuruh merasa kehausan perutnya juga sudah berkali-kali merasa lapar. Beruntung ia, karena tidak jauh ada sebuah rumah dan rumah itu besar, namun sangat sederhana yang atapnya dari rumbia dan dinding nya dari kulit kayu kering kemudian Radèn Jaka mendatangi rumah itu.

Seorang pemuda membukakan pintu saat Radèn Jaka Sesuruh selesai mengetok pintu.

Siapakah Tuan? ada keperluan apakah tuan datang kerumah saya?“, tanya pemuda itu.

Aku adalah pengembara dan aku ingin meminta air minum dan sedikit makan jika ada. bolehkah?

Tentu boleh tuan! Mari silakan masuk!

Radèn Jaka sesuruh kemudian masuk kedalam rumah, di dalam rumah ada dua orang pemuda dan seorang gadis.

Perkenalkan Tuan. nama saya Jaka Wirun. Dua pemuda dan gadis itu adalah adik-adik saya, dua pemuda itu bernama Jaka Nambi dan Jaka Bandar sedang seorang gadis itu bernama Rara Uwuh. Lalu, siapakah nama Tuan?” Tanya Jaka Wirun.

Namaku Radèn Jaka sesuruh. Aku berasal dari kerajaan Pajajaran.

Oh maafkan hamba, Radèn! hamba tidak tahu kalau anda seorang pangeran dari Pajajaran. Ayo Rara Uwuh segera siapkan makanan dan minuman untuk Radèn Ini!

Rara Uwuh segera menyiapkan apa yang diinginkan Radèn Jaka Sesuruh.

Radèn Jaka sesuruh segera meminum air minumnya lalu mengisi sedikit makan untuk mengisi perutnya.

Apakah Gunung Kombang masih jauh dari sini?” tanya Radèn Jaka sesuruh setelah memakan dan minumnya.

Tidak begitu jauh, Radèn. Namun berbahaya kalau Radèn pergi ksana sekarang, hari sebentar lagi malam. Sebaiknya, Radèn menginap dulu disini besok pagi-pagi kami antar Radèn kesana!” kata Jaka Wirun.

Untuk apa kalian mengantarku?” tanya Radèn Jaka sesuruh ingin tahu.

Kami ingin menjadi pengikut Radèn, kami lihat Radèn sendirian mungkin kami bisa membantu Radèn nanti.

Radèn Jaka sesuruh membenarkan kata-kata Jaka Wirun. Akhirnya, Radèn Jaka sesuruh memperbolehkan Jaka Wirun dan saudaranya menjadi pengikutnya.

Malampun berlalu pagi telah datang dan Radèn Jaka Sesuruh berangkat menuju Gunung Kombang di iringi Jaka Wirun dan ketiga saudaranya kemudian mereka sampai ke puncak Gunung Kombang dan seorang nenek pertapa menyambut kedatangan mereka.

Radèn, aku sudah tahu maksud kedatanganmu, sekarang Radèn teruslah berjalan ke timur berhentilah saat Radèn menemukan sebuah pohon maja yang buahnya hanya sebuah dan aku akan memberikan Radèn dua ekor burung perkutut yang mana burung itu yang akan menunjukkan dimana letak pohon maja itu kemudian bukalah hutan di sekitar pohon maja tersebut jadikan sebuah perkampungan yang mana disitu Radèn akan menjadi orang besar!” kata nenek pertama yang kemudian menghilang.

Sehilangnya nenek pertapa datanglah dua ekor burung perkutut kedua burung perkutut tersebut berputar-putar diatas kepala Radèn Jaka Sesuruh kemudian burung perkutut tersebut terbang pelan kea timur.

Ayo kita ikuti kedua burung itu!” ajak Radèn Jaka Sesuruh pada Jaka Wirun dan ketiga saudaranya.

Mereka mengikuti kedua ekor burung perkutut itu terbang setelah cukup lama akhirnya kedua burung itu hinggap di suatu pohon dan itulah pohon maja dan pada saat itupohon itu sedang berbuah dan hanya satu buahnya.

Kita telah sampai, lihatlah itu pohon maja buahnya hanya satu dan keduaa pohon itu hinggap di dahannya,” kata Radèn Jaka Sesuruh.

Untunglah sudah sampai, aku haus sekali biarlah kita makan buah itu mungkin, bisa menghilangkan rasa hausku!” kata Jaka Wirun.

Ia mengambil buah maja itu kemudian membelah dan membaginya dengan saudara-saudaranya. Namun, apa yang terjadi saat mereka memakan buah maja tersebut?

Buah maja tersebut ternyata pahit rasanya, Jaka Wirun segera memuntahkan buah tersebut yang mana telah terlanjur memakannnya.

Buah maja ini rasanya pahit! Maja pahit!” teriak Jaka Wirun.

Radèn Jaka Sesuruh tergerak hatinya mendengar teriakan Jaka Wirun itu kemudian Ia memandangi sekeliling.

Kalian jadi saksinya,tempat ini aku namakan Majapahit! ayo sekarang kita mendirikan tempat menginap seadanya dulu. Mulai besok kita akan menebangi pepohonan untuk membuatkan padepokan.

Keesokan harinya mereka memulai menebangi pepohonan. Setelah beberapa lama, terbukalah hutan itu. Rumah-rumah segera dibangun dari batang-batang pohon sisa tebangan maka, jadilah hutan itu menjadi sebuah dusun kecil dan lama-lama banyak pendatang baru yang ingin bergabung.

Jadilah Majapahit sebuah desa yang ramai semakin lama semakin banyak pendatang baru. Radèn Jaka Sesuruh mengajak mereka membangun mereka agar lebih maju.

Majapahitpun akhirnya menjadi kerajaan dan Radèn Jaka Sesuruh diangkat menjadi rajanya yang mana bergelar Prabu Brawijaya. Prabu Wijaaya mengangkat Jaka Wirun menjadi patihnya, sedangkan Jaka Nambi diangkat menjadi penasehat raja, kemudian Jaka Bandar diangkat menjadi panglima perang dan Rara Uwuh diangkat menjdi kepala dayang-dayang.

7. Radèn Wijaya mangkat

Akhir hayat Sang Prabu Sri Kertarajasa ditulis dalam Pararaton: ia mendapat penyakit bisul berbengkak. Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257M.

Sedangkan Nāgarakṛtāgama Pupuh 47 (3) mengabarkan bahwa Sang Prabu mangkat pada tahun 1231 Ç atau 1309 M, beliau dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping sebagai Harihara, atau perpaduan Wisnu dan Syiwa.

ring saka ma-try-aruna lina nirang narendra

drak pinratista jinawimba sireng puri jro

antahpura ywa panelah nikanang sudharmma

saiwapratista sira teki muwah ri simping.

[Tahun Saka matryaruna (1231 Ç), Sang prabu mangkat,

disemayamkan di dalam pura,

Antahpura, begitu nama tempat peristirahatan beliau,

Dan di Simping ditegakkan arca Siwa.]

Radèn Wijaya wafat pada tahun 1231 Ç / 1309 M. Beliau didharmakan sebagai Harihara, di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis, yakni perwujudan Radèn Wijaya sebagai Syiwa dan Wisnu dalam satu arca.

Arca Inilah yang disebut dalam Nagarakrtagama sebagai arca Saiwa dari Candi Simping (Candi Sumberjati), Blitar, Jawa Timur.

Candi Simping, disebut juga candi Sumberjati adalah makam raja Radèn Wijaya Sri Kertarajasa Jayawardhana. Keterangan ini terdapat pada kitab Negara Kertagama yang ditulis Empu Praspanca. Oleh karena itu bisa dipahami raja Hayam Wuruk dalam kunjungannya ke daerah Blitar beberapa kali mampir di candi ini. Bahkan Hayamwuruk dan Mahapatihnya, Gajahmada pernah menginap di candi ini.

Candi Sumberjati ini terletak didesa Sumberjati, Kecamatan Surah Wadang, Daerah Kademangan, Blitar Selatan. Dari arah Blitar kita ke jalan raya ke Tulung Agung, setelah melewati jembatan sungai Brantas, melintas ke kiri melalui jalan desa, penduduk setempat cukup faham lokasinya.

Saat ini candi Simping masih dalam keadaan berupa reruntuhan, namun pada saatnya, merupakan persemayaman abu jenazah Radèn Wijaya (1293 – 1309 M), negeri kerajaan Majapahit dalam perwujudannya sebagai Hari-Hara (gabungan Wishnu dan Shiwa).

Candi ini disebut-sebut di naskah Nāgarakṛtāgama, dan direnovasi oleh Raja Hayamwuruk pada tahun 1285 Syaka (1363 M), kontruksi gambar yang dibuat oleh Dinas Kepurbakalaan menggambarkan candi ini indah dan ramping meninggi.

Pada batur candi setinggi 75 cm, panjang 600 cm dan lebar 750 cm ini terpahat relief berbagai macam binatang. Di antaranya Singa, angsa, merak, burung garuda, babi hutan dan kera. Di sisi barat ada tangga yang dulu digunakan sebagai jalan masuk ke ruang candi.

Di tengah-tengah batur candi ini terdapat batu berbentuk kubus dengan ukuran 75 cmx 75 cm x 75 cm. Pada bagian atas batu ini dipahat relief kura-kura dan naga yang saling mengkait mengitari batu tersebut.

Tak jelas apa guna atau fungsi batu berbentuk kubus ini.

Para sejarahwan memperkirakan batu ini berfungsi sebagai tempat sesajian untuk para desa. Pada badan candi yang direkontruksi di halaman candi terdapat hiasan-hiasan bermotif sulur-suluran dan bunga.

Sementara pada mustaka candi terdapat pelipit-pelipit garis dan bingkai padma (bunga teratai). Dari rentuhan yang ada diperkirakan bentuk candi Simping ini ramping sebagaimana bentuk jandi-candi Jawa Timuran.

Di atas pintu utama dipahat kepala Kala yang kelihatan menyeramkan sebagai penjaga pintu Pahatan kepala kara ini, seperti umumnya kepala Kara model Jawa Timuran, tidak dilengkapi dengan Makara.

Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat cerukan yang masing-masing di atasnya juga terpahat patung Kala. Pahatan (patung) kepala Kala ini sekarang nampak berserakan di halaman candi.

Di halaman candi sebelah timur laut terdapat tiga buah Lingga-Yoni kecil. Tak jelas Lingga-Yoni ini dulu ditempatkan dimana. Hanya saja anehnya, pada bagian bawah Lingga untuk menancapkan ke Yoni ini tidak berbentuk silinder, tetapi segi empat.

Sedangkan dibagian atas bersegi delapan. Di dekat Lingga-Toni ini ada beberapa patung yang tak jelas patung siapa karena kepalanya sudah tidak ada sehingga tidak bisa dikenali.

Di sudut tenggara halaman candi terdapat patung singa yang duduk di atas padmasana. Sayang patung singa ini kepalanya sudah tidak ada, tinggalm badanya saja. Sedangkan di sebelah selatan batur candi terdapat sebuah lingga miniatur candi. Diduga kuat di sini ada patung Hari Hara yang kini tersimpan di musium Jakarta.

Kondisi Candi Simping tidak memungkinkan untuk dipugar. karena terlalu banyak bagian candi yang hilang.

Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyebutkan candi itu merupakan tempat Radèn Wijaya diperabukan. Akan tetapi, kitab itu juga menyebutkan bahwa Radèn Wijaya diperabukan di Candi Brau Trowulan.

Candi itu juga memiliki relief jenis pradasina, relief yang dibaca searah jarum jam. Biasanya relief pradasina tidak digunakan pada candi yang berfungsi sebagai makam.

Peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta menulis bahwa kakawin Nāgarakṛtāgama mencatat Krtarajasa meninggal pada tahun 1231 Ç (1309 M) dan didharmakan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis

Di Candi Simping itu sebenarnya ada arca setinggi 2 meter yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Dalam Nāgarakṛtāgama disebutkan Hayam Wuruk berkunjung beberapa kali, hingga pada tahun Saka 1285 (1363 M) memindahkan candi makam Krtarajasa.

Makam Siti Inggil dipercaya merupakan tempat persinggahan dan pertapaan Raja ke-1 Majapahit Radèn Wijaya Kertajaya Jayawardhana. Dulu ceritanya adalah sebuah punden di Dusun Kedungwulan yang diberi nama “Lemah Geneng” yang artinya Siti Inggil.

Di depan makam Siti Inggil terdapat dua makam, yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat sehingga makam ini dikeramatkan dan sering dikunjungi wisatawan lokal maupun asing setiap Jum’at Legi.

Lokasinya berada di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.

Diyakini pula oleh yang berpendapat lain, bahwa Radèn Wijaya tidak dimakamkan, beliau moksa.

Batu nisan di Bejijong dibuat jauh setelah Majapahit runtuh, nampak dari usia karbon batu nisan dan nisan tersebut dibuat bercorak islam karena mungkin saja yang membuat atau yang berinisiatif membuat nisan beragama Islam.

Setelah Kertarajasa wafat tahun 1309, Jayanagara menjadi raja Majapahit, dan gelar Bhre Daha (II) disandang oleh Rajadewi.

ånå candhaké

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: