Seri Surya Majapahit – Bagian pertama

WEDARAN KEENAM

On 2 Maret 2011 at 20:05 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Nuwun,

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

SURYA MAJAPAHIT

Atur Pambuka. Surya Majapahit. On 18 Februari 2011. HLHLP 106.

1. Waosan kaping-1. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa ka-1). On 18 Februari 2011. HLHLP 106.

2. Waosan kaping-2. Gampingrowo Alas Trik, Buah Maja yang Pahit (Parwa ka-2). On 20 Februari 2011. HLHLP 107.

3. Waosan kaping-3. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-1). On 23 Februari 2011. HLHLP 108.

4. Waosan kaping-4. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-2). On 24 Februari 2011. HLHLP 109.

5. Waosan kaping-5. Raden Wijaya, Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā (Parwa ka-3). On 28 Februari 2011. HLHLP 111

Waosan kaping-6:

RADEN WIJAYA, DYAH SANGGRĀMAWIJAYĀ ŚRI MAHARAJĀ KĔRTARĀJASĀ JAYĀWARDHANĀ (1293 – 1309) (Parwa ka-4).

2. Kebo Anabrang

Kebo Anabrang yang gugur secara mengenaskan ditikam keris oleh Lembu Sora paman Ranggalawe yang menjadi panas melihat keponakannya tewas dalam pefrtempuran di Sungai Tambak Beras dibunuh Kebo Anabrang.

Keris tersebut tembus sampai ke dada, jasad Kebo Anabrang kemudian mengapung di atas sungai. Demikianlah akhir hidup Kebo Anabrang Sang Mahesa Arema yang tewas di sungai Tambak Beras bersama Ranggalawe. Pembunuhan terjadi karena fitnah yang keji seseorang.

Jenasah Ranggalawe dan Kebo Anabrang kemudian dibawa ke Majapahit untuk diupacarakan secara terhormat, bagaimanapun juga Sang Prabu Śri Maharajâ Kêrtarâjasâ Jayâwardhanâ merasa berutang budi kepada keduanya dan mengingat jasa besar kedua tokoh tersebut.

Ranggalawe adalah seorang pahlawan pemberani yang siap mengorbankan seluruh jiwa raganya pada masa awal pembentukan Majapahit, sedangkan Kebo Anabrang adalah pemimpin pasukan Singasari yang sukses menaklukkan Melayu pada jaman pemerintahan Prabu Kertanagara yang terkenal dengan Ekspedisi Pamalayu tahun 1275.

Mahesa Anabrang, atau juga disebut dengan nama Kebo Anabrang dan Lembu Anabrang, adalah nama julukan yang, yang artinya ialah “kerbau yang menyeberang”, adalah seorang senapati Kerajaan Singasari yang diutus untuk menjalin persahabatan dengan kerajaan Malayu, dan dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu.

Di tahun 1288, Mahesa Anabrang telah menaklukkan seluruh wilayah Melayu, termasuk Kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya.

Dia disebut juga Kebo Arema atau Mahesa Arema yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka.

Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singasari.

Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh 41 (5) pun hanya mengabarkan:

Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu.

[Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,].

Siapa yang disuruh, Kitab Pujasatra Nāgarakṛtāgama tersebut tidak menjelaskan.

Demikian halnya dengan Kidung Pararaton:

Sapanjeneng Sri Krettanagara, anghilangaken kalana, haran kalana, haran bhaya. Huwus ing kalana mati, angutus ing kawulan ira, angadona maring Malayu, sumangka akdhik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Malayu.

[Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba sahayanya, untuk pergi menyerang Melayu].

Diduga kuat Mahesa Anabrang ini adalah orang yang sama dengan tokoh yang dikenal sebagai Adwaya Brahman atau Adwayawarman, ayah dari Adityawarman yang disebutkan dalam Prasasti Kuburajo I di Kuburajo, Limo Kaum, dekat Batusangkar, Sumatera Barat.

Tertulis bahwa batu prasasti itu: “dikeluarkan oleh Adityawarman, yang merupakan putra dari Adwayawarman dari keluarga Indra. Dinyatakan juga bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa).”

Menurut piagam Jawa Kuno Amoghapasa tahun 1286 Mahamentri Adwaya Brahman adalah keturunan Raja Kertanagara sehingga masih memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat dengan Putri Gayatri yang merupakan putri bungsu Kertanagara istri dari Raden Wijaya.

Panglima Ekspedisi Pamalayu

Pada tahun 1275 Kertanagara raja Singasari mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Pengiriman pasukan ini terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu.

Nama pemimpin pasukan Ekspedisi Pamalayu ditemukan dalam Kidung Panji Wijayakrama, yaitu Mahisa Anabrang. Dapat dipastikan kalau ini bukan nama asli. Kiranya pengarang kidung tersebut juga tidak mengetahui dengan pasti siapa nama asli sang pemimpin pasukan tempur Singasari itu.

Ekspedisi Pamalayu memperoleh keberhasilan. Nāgarakṛtāgama mencatat Melayu masuk ke dalam daftar jajahan Singasari selain Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura. Pasukan Pamalayu kembali ke Jawa tahun 1293.

Pada prasasti Padangroco tertulis bahwa, arca Amoghapasa dikawal dari Jawa oleh 14 orang, termasuk Adwayabrahma (nama lain Mahisa Arema si Kebo Anabrang) yang ditulis paling awal.

Adwayabrahma sendiri menjabat sebagai Rakryan Mahamantri pada pemerintahan Prabu Kertanagara. Pada zaman itu, jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi atau gelar kehormatan yang hanya boleh disandang oleh kerabat raja. Mungkin yang dimaksud dengan istilah “dewa” dalam Pararaton adalah jabatan Rakryan Mahamantri ini.

Jadi, Dara Jingga diserahkan kepada seorang Rakryan Mahamantri bernama Adwayabrahma, sehingga lahirlah Adityawarman.

Dari pernikahan Mahisa Anabrang dengan Dara Jingga memiliki putra: (menurut Babad Arya Tabanan):

a. Arya Cakradara (kelak adalah suami Tribuana Wujayatunggadewi);

b. Arya Damar (Raja di Palembang);

c. Arya Kenceng (Raja Tabanan, Bali);

d. Arya Kutawandira;

e. Arya Sentong.

Merekalah yang kemudian bersama-sama Gajah Mada, berperang untuk menaklukkan Kerajaan Bedahulu di Bali pada sekitar tahun 1340. Empat putra yang terakhir menetap dan mempunyai keturunan di Bali.

Arya Kenceng kemudian menurunkan raja-raja Tabanan dan Badung (wilayahnya kira-kira meliputi Kabupaten Badung dan Kotamadya Denpasar sekarang) yang terkenal dengan Perang Puputan ketika menghadapi penjajah Belanda pada tahun 1906.

Kemudian muncul anggapan bahwa Adwayabrahma pemimpin rombongan Amoghapasa identik dengan Mahisa Anabrang komandan Pamalayu. Sebenarnya identifikasi ini cukup menarik. Mahisa Anabrang adalah pahlawan penakluk Melayu. Jadi cukup wajar kalau Raden Wijaya menyerahkan Dara Jingga kepadanya sebagi penghargaan.

Nama tokoh ini juga ditemukan pada prasasti yang tertulis di alas arca Amoghapasa, yang ditemukan di Padang Roco, dekat Sei Langsat, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Tertulis bahwa arca itu adalah hadiah perkawinan Kertanagara kepada seorang bangsawan Sumatera, “bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi” dan bahwa “Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma” adalah salah seorang pengawal arca tersebut.

Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Pethak beserta keluarganya kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Prabu Kertanagara yaitu raja yang mengutusnya.

Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Prabu Kertanagara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, Raja Kadiri. Jayakatwang itu sendiri telah tewas dibunuh pasukan Mongol yang akhirnya diserang oleh Raden Wijaya.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang merupakan lanjutan dari Kerajaan Singasari. Oleh karena itu, Dara Pethak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanagara, raja ke-2 Majapahit.

Dengan kata lain, raja ke-2 Majapahit adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.

Perjalanan Mahesa Anabrang dalam kancah politik Majapahit sendiri terbilang singkat. Ia terlibat dalam penumpasan pemberontakan Ranggalawe tahun 1295 dan gugur dalam tugas di tangan Lembu Sora, paman Ranggalawe.

Dara Jingga adalah putri dari Tribuanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan sira alaki dewa -dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa dinikahi oleh Adwaya Brahman (Kebo Anabrang), pemimpin Ekspedisi Pamalayu.

Setelah beberapa lama di Majapahit, akhirnya Dara Jingga memutuskan kembali ke Dharmasraya. Dara Jingga juga dikenal sebagai Bundo Kanduang dalam Hikayat Minangkabau.

(3). Lembu Sora

Lembu Sora atau Mpu Sora atau Ken Sora atau Andaka Sora adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam berdirinya Kerajaan Majapahit, namun mati sebagai pemberontak pada tahun 1300.

Peristiwa sejarah ini terdapat dalam Kidung Sorandaka.

Pararaton menyebut Sora sebagai abdi Raden Wijaya yang paling setia. Ia mengawal Raden Wijaya saat menghindari kejaran pasukan Jayakatwang tahun 1292, di mana ia menyediakan punggungnya sebagai tempat duduk Raden Wijaya dan istrinya saat beristirahat, serta menggendong istri Raden Wijaya saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.

Pada tahun 1293 Raden Wijaya dibantu pasukan Mongol menyerang Jayakatwang di Kadiri. Dalam perang itu, Sora menggempur benteng selatan dan berhasil membunuh Patih Kadiri Kebo Mundarang.

Dalam siasat selanjutnya, Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol yang sedang berpesta pora merayakan jatuhnya Kadiri. Dalam pertempuran tersebut, Sora dan keponakannya yang bernama Ranggalawe berhasil menghabisi orang-orang Mongol tersebut.

Menurut Pararaton, setelah Jayakatwang berhasil dikalahkan dan pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Peristiwa itu ditengarai sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar. Peristiwa pengusiran tentara Tartar itu merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

[Lihat kembali kisah hari lahirnya Kota Surabaya: Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya, yang akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.]

Dalam Prasasti Gunung Butak atau Piagam Merah-Putih tahun 1216 Ç atau 1294 M, yang menandai peritiwa tersebut, Raden Wijaya disebut sebagai “Raja yang dipujikan sebagai pahlawan besar yang utama”.

Dalam Prasasti Gunung Pananggungan oleh Kertarajasa tahun 1218 Ç atau 1296 M, Raden Wijaya disebut sebagai “Pahlawan di antara Pahlawan”.

Setelah kemenangan tersebut, Raden Wijaya mendirikan pun mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.

Naskah Pararaton menyebutkan jabatan Lembu Sora dalam kerajaan baru tersebut adalah rakryan demung.

Berita di atas kurang tepat karena dalam prasasti Sukamreta tahun 1296, tertulis nama rakryan demung Majapahit adalah Mpu Renteng, sedangkan Mpu Sora menjabat sebagai rakryan patih ri Daha, atau patih bawahan di Kadiri.

Keputusan tersebut memicu pemberontakan Ranggalawe tahun 1295. Menurut Ranggalawe, Lembu Sora lebih pantas menjabat sebagai Rakryan Patih Majapahit dari pada Nambi. Meskipun Ranggalawe adalah keponakan Sora, namun Sora justru mendukung Raden Wijaya supaya tetap mempertahankan Nambi sebagai patih Majapahit.

Dalam peristiwe pemberontakan Ranggalawe, Sora bertindak sebagai penasehat raja, dimana Sora memberikan nasehat kepada raja agar jangan sekali kali menuruti apa kemauan Ranggalawe serta dalam pertempuran bertindak sebagai senapati yang memberikan perintah untuk mengepung Ranggalawe dari 3 arah.

Siasat ini berhasil sehingga pemberontakan Ranggalawe dapat dipadamkan. Berdasarkan fakta tersebut sudah sepantasnya Sora menjadi abdi kesayangan Raden Wijaya dan menduduki posisi yang terhormat dalam masa pemerintahan Raden Wijaya.

Namun dalam perjalanan hidupnya selalu ada rintangan, ada yang iri hati dengan mengungkapkan segala kekurangan yang ia miliki kehadapan Sang Prabu.

Sebagai mana yang kita ketahui bahwa Mahapati sebagai Menteri, ia seorang tokoh licik yang mengincar jabatan patih yang berambisi untuk menduduki posisi sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit, pada saat itu yang menduduki posisi tersebut adalah patih Nambi, namun untuk mencari kesalahan yang mengakibatkan jatuhnya kedudukan Nambi belum berhasil.

Salah seorang tokoh yang mempunyai hubungan erat dengan Sang Prabu dan berpengaruh besar yaitu Sora. Andaikata Nambi jatuh maka calon utama penggantinya pastilah Lembu Sora.

Demikianlah menurut rencananya Lembu Sora harus disingkirkan terlebih dahulu, untuk tujuan tersebut ia memperoleh tuduhan yang jitu yaitu pembunuhan Kebo Anabrang yang merupakan rekan sepasukan dalam peristiwa pemberontakan Ranggalawe.

Sebelum menjalankan siasatnya Mahapati berusaha bersahabat dengan para Menteri lainnya sehingga ia dapat menjadi orang kepercayaan Sang Prabu Kĕrtarājasā.

Pembunuhan terhadap rekan sepasukan tersebut baru diungkit tahun 1300. Mahapati menghadap Raden Wijaya dan menceritakan bahwa para Menteri tidak puas dengan sikap Sang Prabu terhadap Lembu Sora.

Ketidakpuasan tersebut semakin meningkat karena seolah olah Sang Prabu membenarkan tindakan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang. Rupanya keluarga Kebo Anabrang segan menuntut hukuman karena Sora adalah abdi kesayangan Raden Wijaya.

Suasana itu dimanfaatkan oleh Mahapati, ia menghasut putra Kebo Anabrang yang bernama Mahisa Taruna supaya berani menuntut Sora. Ia juga menghasut Raden Wijaya bahwa para menteri resah karena raja seolah-olah melindungi kesalahan Sora.

Raden Wijaya tersinggung dituduh tidak adil. Ia pun memberhentikan Lembu Sora dari jabatannya untuk menunggu keputusan selanjutnya. Mahapati pura-pura mencegah tindakan Sang Prabu yang serta merta tersebut dan memberi nasehat agar Sang Prabu mencari kesempatan yang baik untuk menyingkirkan Lembu Sora.

Mahapati mengusulkan agar Lembu Sora jangan dihukum mati mengingat jasa-jasanya yang sangat besar. Raden Wijaya memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke Tulembang. Yakinlah Mahapati bahwa sekaranglah saatnya untuk menyingkirkan Lembu Sora.

Mahapati menemui Sora di rumahnya untuk menyampaikan keputusan raja. Sora sedih atas keputusan itu. Ia berniat ke ibu kota meminta hukuman mati dari pada harus diusir dari tanah airnya. Mahapati kemudian menghasut Nambi bahwa Sang Prabu telah mengambil keputusan untuk membebaskan Sora dari tugasnya dan menggantinya dengan Mahesa Taruna (anak dari Kebo Anabrang).

Terpikat oleh uraian yang disampaikan Mahapati, Patih Nambi kemudian menyiapkan orang orangnya untuk menghadap sang Prabu. Dengan tegas dikemukakannnya bahwa Lembu Sora yang telah membunuh Kebo Anabrang secara licik dan kejam harus mendapat hukuman yang setimpal, juga para menteri yang terkena hasutan Mahapati sepakat bahwa Lembu Sora harus mendapat hukuman akibat dari perbuatannya.

Mahapati yang pandai menjalankan peranannya sekali lagi mengunjungi kediaman Lembu sora, dikatakannya bahwa ia telah berusaha keras untuk mencegah hukuman tersebut namun tidak berhasil, lagipula Nambi telah menyiapkan pasukannya. Sementara itu telah diputuskan mengingat jasa jasanya, Lembu Sora tidak akan dijatuhi hukuman mati tetapi di hukum buang ke Tulembang.

Keputusan tersebut disampaikan langsung utusan Prabu Kĕrtarājasā dari Majapahit. Sora menolak keputusan tersebut, ia lebih baik mati daripada harus dihukum buang. Raja Kĕrtarājasā masih cukup sabar menerima keputusan Nambi tersebut dan menyesalkan konflik yang telah terjadi antara dirinya dengan Lembu Sora yang merupakan abdi kesayangannya.

Mahapati pura-pura membela Sora dan mengusulkan agar Sang Prabu memberikan peringatan secara tertulis kepada Sora dan menunggu jawabannya. Segera Sang Prabu mengutus Mahapati untuk menyampaikan surat tersebut langsung kepada Lembu Sora yang isinya bahwa menurut kitab Undang-undang Kutaramanawa, Sora harus dihukum mati, namun dibebaskan dari hukuman tersebut dan sebagai gantinya ia akan di pindahkan ke Tulembang.

Kutaramanawa yaitu kitab perundang undangan pada jaman Majapahit yang isinya menekankan susunan masyarakat yang terdiri dari empat warna demi kebaikan masyarakat. Kitab tersebut sekarang disimpan di Leiden Belanda.

Setelah membaca surat tersebut, Lembu Sora kemudian menyampaikan jawabannya bahwa ia masih menaruh cinta bakti kepada Sang Prabu dan akan menyerahkan jiwa dan raganya ke hadapan sang Prabu. Ia tidak akan membantah sekalipun akan diserahkan kepada Kebo Taruna.

Lembu Sora merencanakan untuk menghadap langsung ke hadapan sang prabu. Mahapati yang mengingikan kematian Lembu Sora belum puas akan penyerahan jiwa raga yang disampaikan oleh Lembu Sora melaporkan kepada Sang Prabu bahwa Lembu Sora tidak menerima keputusan tersebut dan akan datang untuk membuat kekacauan karena tidak puas atas hukuman raja.

Setelah mendesak raja, Nambi pun diizinkan menghadang Sora yang datang bersama Gajah Biru dan Juru Demung. Maka terjadilah peristiwa di mana Sora dan kedua sahabatnya mati dikeroyok tentara Majapahit.

Maka berhasillah siasat Mahapati. Kematian Sora pada tahun 1300 diceritakan singkat dalam Pararaton, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.

Menurut Pararaton kematiannya terjadi pada pemerintahan Jayanegara, sedangkan menurut Kidung Sorandaka terjadi pada pemerintahan Raden Wijaya. Dalam hal ini pengarang Pararaton kurang teliti karena menurut Nāgarakṛtāgama Jayanagara naik takhta menggantikan Raden Wijaya baru pada tahun 1309.

Berbeda dengan kisah dalam Kidung Sorandaka di atas, Pararaton menyebut kematian Juru Demung terjadi pada tahun 1313, sedangkan Gajah Biru pada tahun 1314. Keduanya tewas sebagai pemberontak pada pemerintahan Raja ke-2 Majapahit, Jayanegara putra Raden Wijaya.

(4). Nambi

Mpu Nambi adalah pemegang jabatan rakryan patih pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Ia ikut berjuang mendirikan kerajaan tersebut namun kemudian gugur karena difitnah oleh Mahapatih orang yang tidak suka kepadanya, pada pemerintahan raja kedua.

Kematian Nambi terjadi pada 1316. Kisahnya disinggung dalam Nāgarakṛtāgama dan Pararaton, serta diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.

Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Nambi sebagai salah satu pengikut setia Raden Wijaya yang ikut mengungsi ke tempat Arya Wiraraja di Songeneb (nama lama Sumenep) ketika Kerajaan Singasari runtuh diserang pasukan Jayakatwang tahun 1292.

Menurut Kidung Harsawijaya, Nambi adalah putra Arya Wiraraja yang baru dikenal Raden Wijaya di Songeneb.

Kidung Harsawijaya mengisahkan, Nambi kemudian dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Trik menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit.

Kisah ini berlawanan dengan Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe yang menyebut nama putra yang dikirim Arya Wiraraja adalah Ranggalawe, bukan Nambi.

Pararaton selanjutnya mengisahkan, pada saat Raden Wijaya menyerang Kadiri pada 1293, Nambi ikut berjasa menyingkirkan salah seorang senapati Kerajaan Kadiri Prabu Jayakatwang yang bernama Kebo Rubuh.

Pararaton mengisahkan setelah kekalahan Jayakatwang tahun 1293, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan mengangkat diri menjadi raja. Jabatan patih atau semacam perdana menteri diserahkan kepada Nambi.

Berita ini diperkuat oleh Prasasti Sukamreta tahun 1296 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit, antara lain Rakryan Patih Mpu Tambi.

Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe, pengangkatan Nambi inilah yang memicu terjadinya pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295. Ranggalawe merasa tidak puas atas keputusan tersebut karena Nambi dianggap kurang berjasa dalam peperangan.

Atas izin Raden Wijaya, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit menyerang Tuban. Dalam perang itu, Ranggalawe mati di tangan Kebo Anabrang.

(5). Mahapati

Mahapati adalah nama seorang tokoh penghasut dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit. Namanya disebut dalam Pararaton sebagai pemegang jabatan rakryan patih sejak tahun 1316. Kelicikan Mahapati dianggap sebagai penyebab kematian para pahlawan “bapak bangsa” para pendiri Kerajaan Majapahit, yaitu Ranggalawe, Lembu Sora, dan Nambi. Mahapati sendiri akhirnya dihukum mati setelah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.

Nama Mahapati terdapat juga dalam naskah Kidung Sorandaka. Ia dikisahkan sebagai tokoh licik yang gemar melancarkan fitnah dan adu domba demi meraih ambisinya, yaitu menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit.

Pada tahun 1205 Mahapati menghasut Ranggalawe supaya menentang pengangkatan Nambi sebagai patih. Sebaliknya, ia juga menghasut Nambi supaya menghukum kelancangan Ranggalawe. Akibat adu domba tersebut, perang saudara pertama pun meletus.

Ranggalawe akhirnya tewas di tangan Kebo Anabrang dalam sebuah pertempuran di Sungai Tambak Beras. Namun, Kebo Anabrang sendiri juga tewas karena dibunuh dari belakang oleh Lembu Sora, paman Ranggalawe.

Pada tahun 1300 Mahapati menghasut Mahisa Taruna putra Kebo Anabrang supaya menuntut pengadilan untuk Lembu Sora. Mengingat jasa-jasanya selama perjuangan mendirikan kerajaan, Lembu Sora hanya dihukum buang oleh Raden Wijaya.

Mahapati ganti menghasut Sora supaya meminta hukuman yang lebih pantas. Sora pun berangkat ke ibu kota untuk meminta hukuman mati. Tetapi di halaman istana ia tewas dikeroyok tentara pasukan pengawal istana, karena Nambi sudah lebih dahulu dihasut Mahapati, bahwa Sora akan datang untuk membuat onar.

Mahapati tiada henti-hentinya selalu membuat keonaran, dengan licik pula maka pada tahun 1316 Mahapati mengadu domba Nambi dengan Jayanegara, Raja ke-2 Kerajaan Majapahit pengganti Raden Wijaya.

Suatu ketika Nambi mengambil cuti karena ayahnya di Lamajang meninggal dunia. Mahapati datang melayat sambil menyarankan supaya ia memperpanjang cuti. Mahapati bersedia menyampaikan permohonan izin kepada raja. Akan tetapi, di hadapan Jayanagara, Mahapati justru mengabarkan bahwa Nambi tidak mau kembali ke Majapahit karena sedang mempersiapkan pemberontakan.

Jayanagara marah dan mengirim pasukan untuk menghancurkan Lamajang. Nambi sekeluarga pun tewas. Mahapati kemudian diangkat sebagai patih baru sesuai dengan cita-citanya.

Pada tahun 1319 terjadi pemberontakan Ra Kuti. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh seorang Bêkêl Bhayangkâri bernama Gajah Mada yang kemudian menjadi abdi kesayangan Jayanagara.

Setelah pemberontakan Ra Kuti, hubungan antara Jayanagara dengan Mahapati mulai renggang. Akhirnya, semua kejahatan yang pernah dilakukan Mahapati pun terbongkar. Ia kemudian dihukum mati dengan cara cineleng-celeng, artinya “dicincang seperti babi hutan”.

Tokoh Mahapati merupakan soal sejarah yang masih misteri. Kita tidak mengetahui siapa sebenarnya dia, justru karena kehadirannya dalam panggung sejarah Majapahit secvara tiba-tiba sebagai menteri dalam pemerintahan Raden Wijaya.

Baik dalam daftar nama-nama pejuang Kerajaan Singasari dan para pendiri Majapahit ketika berperang melawan tentara Kadiri dan tentara Tartar, maupun juga ketika berperang menumpas ‘pemberontak’ Ranggalawe, nama Mahapati tidak dikenal.

Namun tokoh Mahapati ini sekonyong-konyong hadir pada peristiwa pemberontakan Sora, bahkan ia memegang peranan utama. Lagi pula nama Mahapati agak mencurigakan.

Nama (tepatnya gelar) itu sering digunakan sebagai sebutan suatu jabatan patih amangkubumi.

Tokoh Mahapati hanya ditemukan dalam naskah Pararaton dan Kidung Sorandaka.

Istilah “maha” bermakna “besar”, sedangkan “pati” bermakna “penguasa”. Maksudnya ialah “orang yang memiliki ambisi besar untuk menjadi penguasa”. Hal ini menunjukkan, nama Mahapati bukanlah nama asli, melainkan nama julukan.

Nama Mahapati tidak dijumpai dalam prasasti apa pun, sehingga diduga merupakan nama ciptaan pengarang Pararaton. Nāgarakṛtāgama yang juga berisi sejarah Majapahit hanya mengisahkan kematian Nambi secara singkat tanpa menjelaskan apa penyebabnya.

Pararaton mengisahkan Mahapati menjadi patih setelah kematian Nambi tahun 1316. Beberapa sejarahwan menduga Mahapati identik dengan Dyah Halayudha, yaitu nama patih Majapahit yang tertulis dalam prasasti Sidateka tahun 1323.

Apabila dugaan ini benar, maka tokoh Mahapati alias Halayudha bukan orang biasa, namun masih keluarga bangsawan. Hal ini dikarenakan gelar yang ia pakai adalah “dyah” yang setara dengan raden pada zaman berikutnya. Misalnya, pendiri Majapahit dalam Nāgarakṛtāgama disebut Dyah Wijaya sedangkan dalam Pararaton disebut Raden Wijaya.

Sementara itu Nambi dan Sora yang dalam prasasti Sukamreta hanya bergelar Mpu.

Pengarang Pararaton mungkin tidak mengenal nama asli tokoh licik yang menyingkirkan Ranggalawe, Sora, dan Nambi sehingga ia pun menyebutnya dengan nama Mahapati atau “sang penguasa besar”.

Dengan demikian dapat dipahami mengapa Halayudha sakit hati ketika Nambi dan Sora yang bukan dari golongan bangsawan namun memperoleh kedudukan tinggi, masing-masing sebagai patih Majapahit dan patih Daha. Ia pun melancarkan aksi fitnah dan adu domba sehingga satu per satu para “Bapa Bangsa”, para pahlawan pendiri kerajaan Wilwatikta tersingkir.

ånå tutugé

Nuwun

Sugêng dalu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

Telah Terbit on 18 Februari 2011 at 22:07  Comments (17)  

17 Komentar

  1. lanjutannya ditunggu ki, …

  2. Sampurasun Ki Beghawan,……..
    Kapan ya kata Wilwatikta diganti Indonesia Raya dalam suluk tersebut di atas. Mungkinkah negeri Nuswantara Indonesia Raya bisa seperti Wilwatikta yang tergambar dalam suluk tersebut?

    Dhasar Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,
    dst.
    Gêmah, kathah pårå nangkudå kang lumaku dêdagangan anglur sêlur datan ånå pêdhoté,labêt tan ånå sangsayaning margi.

    Ripah, kathah pårå janmå måncå nâgari kang samyå katrêm abêbalé wismå ing salêbêting kithå, jêjêl apipit bêbasan abên cukit têpung taritis, papan wiyar kâtingal rupak.

    Loh, subur kang sarwå tinandur,

    Jinawi, murah kang sarwå tinuku.(WAH INI YANG BELUM COCOG)

    Kartå, pårå kawulå ing padusunan mungkul pangolahing têtanèn ingon-ingon rajå-kåyå kêbo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan,rahinå aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhangé dhéwé-dhéwé. (WAH JAMAN SEKARANG KALO HEWAN PIARAAN GAK DIIKAT ATAU DIKANDANGIN BISA ILANG, KAMBING KALO DIUMBAR PULANGNYA KE TUKANG SATE NGKALI,…..).

    Raharjå, têgêsé têbih ing parang mukå, ….

    Kalis saking bêbåyå,
    mbotên wontên tindak durjånå lan mbotên wontên ingkang pèk-pinèk barangé liyan. (BELUM TEBIH LAH MASIH BANYAK KEJADIAN PARANG MUKA, PEK PINEK, KORUPSI DLL)
    karånå pårå mantri bupati wicaksånå limpating kawruh tan kêndhat dènyå misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun sumarambah pårå kawulå dasih.

    Pårå pamong pangêmbating pråjå tansah mbudi dåyå panunggaling ciptå råså lan karså saiyêg saékå pråyå kapti hambangun pråjå anèng sajroning kalbu wêningé sagung dumadi,lan iyå krånå mangkono dadi lêlantaran tumuruné kanugrahan Pangêran Gusti Kang Mângku Lêlakon,marang pråjå dalah pårå kawulå dasih kang yêkti katingal sâkå anggoné pådå kacêkapan sandang pangan dalah papan urip rahayu wilujêng tåtå têntrêm mong kinêmong ing samukawis. (PARA MATRI BUPATI, PAMONG PRAJA BANYAK YANG NGINEP DI LP, KARENA SELALU MENCARI KESEMPATAN UNTUK BISA MEMPERKAYA DIRI SENDIRI)

    Milå ora jênêng mokal lamun Nâgari Wilwåtiktå kêna dibêbasakaké jêro tancêpé,malêmbar jênêngé, kasup kasusrå prajané.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyungasok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. (KEWIBAWAAN NEGARA RUNTUH DIMATA DUNIA, TKI-TKW DISIA-SIA DI KOLONG JEMBATAN, DISIKSA, KIPERKOSA, PENYELUNDUPAN, NARKOBA, TERORISME, NEGERI TETANGGA NYEROBOT HAK CIPTA BUDAYA RI, NYEROBOT WILAYAH RI, DLSB)

  3. Nyuwun sèwu Ki Truno Podang,

    Barangkali suluk yang saya tembangkan tentang Nâgari Nuswantara Indonesia Raya ingkang panjang punjung gêmah ripah loh jinawi, kârtå raharjâ,…. dstnya itu; saya lagi bermimpi dan nglindur Ki………

    Hiks….., dan ketika saya terbangun dari tidur, saya menangis Ki…..

    • Haduuu, ………… kapan the dream come true-nya ya? Penduduk soyo okeh soyo angel direh. Contoh konkrit di Bekasi, dulu di tanah abang. Masyarakat berdagang gelar lapak di jalanan. Waktu masih sendirian dibiarin aja hingga ngrembaka menjadi banyak. Kemudian dipungutin pajek daerah yang gak jelas ujung pangkalnya. Sebagian besar masuk kantong pemungutnya. Kemudian muncul komplain masyarakat pemakai jalan. Ngusir pedagang susah, akhirnya dengan kekerasan, nggaji preman jadi pengawas. Beberapa bentar bersih, …… kemudian muncul lagi satu dua pedagang lapak. Preman goyang pinggul, dari pedagang lapak dapet dari pemda dapet honor.
      Haduuu, ……. cape deh!!! Baru bermimpi aja cape, ……… tapi ada pemeo di Pasar Modal untuk membaca grafik harga saham. Dikatakan bahwa ‘sejarah cenderung berulang’. Mudah2an demikian juga dalam sejarah dunia. Dulu jaman Mojopait kita pernah mengalami jaman gilang-gemilang, jaman keemasan, mudah2an suatu saat akan berulang. Syaratnya hanya satu, …… ada seorang ‘manajer negara’ yang mumpuni. Mungkin sekarangpun ada Doktor, Master, Sarjana yang mumpuni, tapi karena jujur terhadap nuraninya dan disiplin terhadap keilmuannya, sehingga dia tidak bisa muncul. Yang bisa muncul ya mereka-mereka yang tidak bisa jujur terhadap hati nurani, dan berani berdagang ilmunya.
      Nuwun,
      He he he, …… ngomong memang gampang.
      Kupat disiram santen,
      Wonten lepat nyuwun pangapunten.

  4. kok isinya Parwa ka-1, padahal harusnya Parwa ka-2
    hiks Parwa ka-2 dimana ??

    • Sudah dijawab di gandhok Surya Majapahit Nyi

      • Nyi Dewi KZ

        Parwa ka-2 Kala Gemet Jayanegara
        On 14 Maret 2011 at 21:47 cantrik bayuaji said: (HLHLP 118)
        https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118-tamat/comment-page-1/#comments

        Waosan kaping-14:
        KÅLÅ GÊMÊT JAYANEGARA WIRALANDAGOPALA SRI SUNDARAPANDYA DEWA ADHISWARA (1309 – 1328). (Parwa ka-2).

        sedangkan yang di:
        https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-surya-majapahit/
        Wedaran keempatbelas: Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-2), ternyata berisi Dongeng Kålå Gêmêt Jayanegara Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (1309 – 1328). (Parwa Ka-1).

        Mohon Ki Panji Satriå Pamêdar dapat membetulkannya.

        Nuwun

        Selamat pagi menjelang siang ponakanku Dewi KZ, lha aku dipanggil om sama Nyi Dewi KZ. He he he he. yå ra påpå. Salam buat keluarga.

        cantrik bayuaji

  5. trims om 😛 wew

  6. pak is, kok hurufnya jadi banyak BOLD tu, napa ?

    • Tintanya mBLOBOR…….(kate Ki Panji Satriå Pamêdar)

      mBlobor, Bahasa Indonesianya apa ya?

      • mlobor itu mleber, 😛

    • Mblobor basa Indonesinya mblobok ki.

      • mBlobok punikå sayur bobor bayem yang pake lombok Ki.

        Sugêng dalu Ki Truno Podang, apa khabar?

        • Haduu..enak-e..nopo malih nek ngangge tempe bosok….

      • Sugeng Enjang Ki Puno, kabar sae. Mugi sa’wangsulipun Ki Puno dalah kluwargi tansah manggih kesarasan.

  7. om bayu blom ada dongeng baru yeee

    • He he he h …………………

      “om” Bayu lagi sibuk dengan tamu-tamunya dari Negeri Atap Langit Nyi


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: