SFBdBS-01

lanjut ke SFBdBS-02 >>
—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Mei 2011 at 20:03  Comments (459)  

459 Komentar

  1. Matahari masih belum merayap naik, sinar cahayanya masih begitu redup manakala Mahesa Murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya keluar dari regol gerbang Padepokan. Beberapa cantrik sudah biasa melihat mereka bertiga keluar dari Padepokan Bajra Seta, mungkin ke padukuhan terdekat, ketepian sungai atau memang pergi berburu.

    Jarak antara Pedepokan Bajra Seta dengan Goa Ranggan tidak begitu jauh, hanya setengah hari perjalanan.

    Matahari sudah bergeser setengahnya kearah barat ketika mereka bertiga telah sampai di kaki bukit karang. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah pendakian yang melelahkan bagi Mahesa Amping, sementara itu Mahesa Murti dan Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit tenaganya. Keringat sekujur tubuh Mahesa Amping sudah begitu basah. Dalam hati memang ada sedikit penasaran melihat Mahesa Murti dan Raden Wijaya sepertinya berjalan di tanah datar, tidak merasakan kelelahan sedikitpun.

    Akhirnya merekapun telah sampai di mulut goa Ranggan.

    “Ruang mulut goa ini cuma sebatas tubuh kita, tapi di dalamnya kita akan menemui ruangan yang cukup besar seluas bilik kamar kita”, berkata Mahesa Murti yang sebelumnya pernah datang menyelidiki goa Ranggan ini.

    Mereka tidak langsung masuk ke goa, tapi beristirahat sebentar membuka bekal yang sengaja mereka bawa.

    Matahari sudah hampir senja manakala mereka mulai memasuki mulut goa, sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti, ruang goa itu memang Cuma sebatas tubuh orang dewasa. Maka seperti seekor ular mereka merayap perlahan memasuki lebih dalam lagi, hingga akhirnya meraka sampai juga di mulut goa lainnya mendapatkan sebuah sebuah lorong goa yang cukup luas, seluas bilik kamar sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti.

    Sebenarnya, ada beberapa lubang diatas langit-langit ruang goa itu yang dapat ditembusi cahaya matahari. Sementara mereka baru sampai di ruang goa itu disaat hari memang sudah diujung senja, maka ruangan itu terlihat begitu gelap. Mereka tidak dapat melihat apapun selain kegelapan itu sendiri.

    “Mahesa Amping”, berkata Mahesa Murti. “Sengaja aku membawamu kemari, untuk melaksanakan sebuah laku rahasia”, berkata lagi Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang selanjutnya juga mengatakan bahwa hal yang sama telah dilakukan oleh Raden Wijaya.Mahesa Murti pun bercerita tentang kejadian yang mereka alami dalam perjalanan mereka kembali ke Padepokan Bajra Seta, terjebak dalam subuah sumur yang dalam. Sebuah cerita rahasia yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun. Dan Mahesa Murti pun telah meminta raden Wijaya untuk tidak bercerita, mengubur cerita ini hanya untuk dirinya sendiri. Karena didalamnya tersangkut sebuah rahasia besar, sebuah laku rahasia.

    “Dengan laku rahasia ini, kamu dapat mengenal dirimu sendiri lebih dalam lagi. Dan dapat mengungkap tenaga murni yang tersembunyi di dalam dirimu sendiri”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    “Diruang goa yang pekat ini, para pendeta telah menemukan dirinya dan penciptanya. Merasakan kematian sebelum datangnya kematian itu sendiri”, berkata mahesa murti memberikan pemahaman bagaimana caranya masuk mengenal diri, mengenal alam besar dan alam alit dan tentunya untuk mengenal lebih dekat lagi kepada Tuhan yang Maha pencipta, Tuhan Yang Maha Agung dan tuhan Yang Maha Tunggal.

    Mahesa Amping mendengarkan semua penjelasan dari Mahesa Murti dengan penuh perhatian. Meresapi setiap kata demi kata.

    “Sekarang kita istirahat dulu, besok pagi kita baru memulai laku itu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Sang fajar telah bersinar terang, cahayanya masuk diantara lubang langit-langit goa seperti pedang panjang menembus bumi.

    “Ada air yang menetes diujung sebelah kanan goa ini, air itu dapat mengenyangkan perut kita”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Cahaya di dalam goa menjadi lebih terang, sebagai tanda diluar sana matahari sudah berada dipuncaknya.

    Hari itu Mahesa Murti tengah memberikan pemahaman kepada Mahesa Amping tentang alam semesta diluar dirinya, segala wujud dan sifatnya.

    “Kenalilah melalui wujud dan sifatnya, kamu dapat merasakan bahwa wujud dan sifatnya ada juga didalam dirimu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.”Hari ini tugasmu adalah menembus dan mengenali alam sebagai wujud bersama sifatnya”, berkata kembali Mahesa Murti.

    “Lakukanlah”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping setelah memberi penjelasan apa yang harus dilakukannya.

    Terlihat Mahesa Amping tengah melaksanakan sebuah laku. Sementara itu Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut juga mendampingi Mahesa Amping memberikan dukungan bathin, berharap Mahesa Amping berhasil dalam tahap pertamanya untuk mengenali alam dalam wujud dan sifatnya, didalam dirinya.

    Matahari telah bergeser diujung senja, cahaya di dalam goa telah menghilang. Kegelapan menyelimuti isi goa. Tiga orang di dalam goa itu seperti arca budha dalam sila sempurna.

    Malam terus berlalu, kegelapan begitu pekat di dalam goa, jangankan melihat sekitarnya, melihat wujud diri sendiripun tidak mampu. Mahesa Amping hanya merasakan dirinya, dalam wujud kesendirian. Mulailah dirinya berkelana mengenal alam disekitarnya, didalam wujud dan sifatnya.

    Tanpa terasa, waktu terus berlalu. Sedikit cahaya kemerahan mengisi lubang diatas langit-langit adalah tanda bahwa sang fajar telah kembali datang.

    “Katakan apa yang telah kamu rasakan”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang sudah terbangun dari lakunya.

    Mahesa Amping pun menceritakan segala yang dirasakannya tanpa sedikitpun yang terlupakan.

    “Puji Syukur kepada Gusti Yang Maha Pencipta, perjalanan pertamamu telah sampai didalam bimbingan-NYA.”, berkata Mahesa Murti setelah mendengar apa saja yang dirasakan oleh Mahesa Amping.

    “Beristirahatlah”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Setelah melihat Mahesa Amping telah cukup beristrihat, Mahesa Murti kembali memberikan beberapa penjelasan apa yang harus dilakukan oleh Mahesa Amping. Sementara itu Raden Wijaya yang ikut mendengarkan seperti teringat kembali bagaimana dirinya memasuki tahap kedua ini.

    “Semua yang berwujud di alam adalah semu, semua akan kembali kepada-NYA. Janganlah takut melihat ketidak beradaanmu, karena yang tiada itu sebenarnya ada, dan yang ada itu sesungguhnya tiada”, berkata Mahesa Murti memberikan tuntunan kepada Mahesa Amping sebagaimana pernah dialami Mahesa Murti sendiri ketika membuka sebuah laku rahasia.


    Kamsiaaaa………………….

    • Kaaaaammmmmmssssssssssssiaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!
      (critane ndhisiki pak Satpam)

  2. matur nuwun , kaaamsiaaaa

  3. Trima kasih Ki Kompor, lanjuuut!!

  4. “Mari kita memulainya lagi”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Seperti sebelumnya, Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut membantu memberi dukungan bathin kepada Mahesa Amping dengan ikut melasanakan sebuah laku.

    Pelan-pelan cahaya matahari sudah tidak nampak kembali, malampun datang merayap, mengisi goa dalam kepekatan. Tiada suara, begitu hening, tiada terdengar suara nafas sedikitpun. Sepertinya di dalam goa tidak ada yang menghuni, begitu sepi.

    Waktu memang sebuah ukuran dunia, dia tidak pernah cepat maupun menjadi lambat. Tapi hitungan waktu di dalam goa seperti sudah terlupakan. Keberadaannya terwakili oleh warna gelap dan warna terang. Ketika warna di dalam goa menjadi terang, mereka beristirahat sejenak, lalu kembali dalam sikap sebuah laku. Tidak terasa mereka sudah memasuki hari keempat. Mahesa Amping sudah akan memasuki tahap akhir dalam lakunya. Mengenal dan mengerti bagaimana menghimpun hawa murni di dalam tubuh. Mengendalikannya menjadi kekuatan diluar wadagnya. Meniadakan bobot tubuh seperti kapas di terbangkan angin, atau menjadikan bobot tubuh berat menjadi puluhan kati.

    Hari itu warna goa sudah begitu terang, manakala Mahesa Murti dan Raden Wijaya membuka matanya, bukan main terperanjatnya mereka. Mahesa Amping tidak ada didekat mereka.Ternyata Mahesa Amping tengah melayang dalam posisi sila sempurna dua jengkal diatas kepala mereka, masih dalam keadaan mata terpejam.Mahesa Murtipun segera berdiri menyentuh sedikit pundak Mahesa Amping dengan jari telunjuknya. Perlahan tubuh Mahesa Amping turun kembali ditempatnya.

    Mahesa Amping pun telah membuka matanya.

    “Laku mu telah selesai, ternyata kamu dilahirkan dengan bakat istimewa melampaui orang biasa”, berkata Mahesa Murti penuh rasa gembira.

    “Terima kasih, semua atas dukungan Kangmas dan Raden tentunya”, berkata Mahesa Amping penuh rasa syukur telah melewati tahap demi tahap sebuah laku rahasia.

    “Hijab yang menutupi alam alit telah terbuka, jangan kamu tinggalkan laku ini dimanapun kamu berada”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    “Berlatihlah untuk mengenal lebih dalam lagi kekuatan yang tak terhingga yang dapat kalian ungkapkan dalam bentuk apapun”, berkata kembali Mahesa Murti tidak hanya kepada Mahesa Amping, juga kepada Raden Wijaya yang meresapi setiap kata Mahesa Murti sebagai pusaka guru yang bermakna dalam, saat itu dan mungkin juga disaat mendatang.

    • tambah kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

      • 😛

        • tambah lagi kamsiaaaaaa….

  5. Wilujêng énjang

    • Wilujêng sontén

  6. kam…..kam…..kamsiiiiiiiaaaaaaaaaa

  7. ni SINDEN siap tampil,
    tentu buat pagelaran pak DALANG nanti malem…

    cantrik siap berdiri tegang,
    tentu buat menyaksikan tontonan wayang mBELINK
    pak DALANG,…lha piye meneh wong kursi-ne wes
    di pek kabeh sama ki Gembleh,

  8. Matur nuwun Ki Kompor.
    Dua hari nggak sambang padepokan, karena kecapaian berlatih akhirnya harus semedi ditempat tidur.
    Alhamdulillah sudah bisa ngabyantoro lagi.
    Sugeng sonten

    • sugeng rawuh ki Honggo,

      selamat berguYON kembali ning padepokan pak DALANG,

  9. sugeng dalu kadang sedoyo

  10. Matahari telah turun dari puncaknya, angin di bukit karang bertiup begitu kencang. Tiga sosok tubuh menuruni lereng bukit karang begitu ringannya. Kadang mereka melompat jauh dari satu tempat ketempat lain seperti kambing gunung yang tidak pernah takut jatuh berlompatan menjejakkan kakinya dari satu sisi ke sisi lainnya. Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di kaki bukit karang.

    Mahesa Murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya nampak tengah berjalan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Wajah mereka begitu ceria, sepertinya tidak ada yang luput dari pandangan mereka selain keindahan, melihat anak kijang yang baru terlahir berjalan terpincang-pincang, mendengar perkutut liar merayu dan memanggil sang betina dengan suaranya yang panjang. Bahkan perkelahian dua ekor burung jantan di angkasa menjadi suatu yang mengasyikkan untuk dipertontonkan.

    Ketika senja melukis cakrawala dalam warna keteduhan, Mahesa murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai kembali di Padepokan Bajra Seta.

    Hari itu, seperti hari sebelumnya, disaat matahari sudah mulai bosan menatap bumi dari puncaknya. Burung-burung liar berlindung di pepohonan yang rindang setelah sepanjang siang mencari makanan. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Sembaga berada di tepian sungai yang teduh untuk berlatih.

    “Akhirnya, Mahesa Amping sudah dapat mengungkapkan tenaga cadangannya”, berkata Sembaga kepada dirinya sendiri ketika melihat serangan-serangan Mahesa Amping bagai angin yang menderu berlatih bersama Raden Wijaya.

    Raden Wijaya memang agak menjadi sibuk mengelak dari serangan mahesa Amping yang beruntun, begitu cepat dan penuh dengan kekayaan gerak yang kadang membingungkan Raden Wijaya. Tapi ketenangan Raden Wijaya ternyata menjadi modal tersendiri, dengan ketenangannya ia dapat berpikir jernih, meloloskan diri dari setiap sergapan Mahesa Amping dan langsung menyerang balik.

    Kekuatan dan kecepatan gerak mereka seimbang. Kelebihan tipis dari Mahesa Amping terletak pada kesempurnaan gerak dan pengalaman bertempurnya.

    Seperti dua ekor banteng yang sedang bertempur, tidak terlihat sedikitpun kelelahan di wajah mereka. Ketika warna senja telah turun menyelimuti hamparan tepian sungai, latihan mereka baru berhenti.

    “Hari ini aku tidak kebagian berlatih”, berkata Sembaga dengan bersungut-sungut. “Besok aku akan menantang kalian berdua sekaligus”, berkata kembali Sembaga.

    “Hadiah apa yang akan Paman Sembaga berikan kepadaku, bila sebuah pukulanku menembus tubuh paman”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga.

    “Aku akan menghadiahkan sebuah bogem mentah langsung”, berkata Sembaga yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Demikianlah, dari hari ke hari, Mahesa Amping dan Raden Wijaya terus berlatih. Di tepian sungai, disanggar tertutup atau di beberapa tempat di alam terbuka lainnya dibawah pengawasan Sembaga dan Mahesa Murti. Kehadiran Sembaga dalam latihan-latihan mereka, telah banyak menambah kekayaan dan pengalaman mereka dalam pertempuran yang sebenarnya. Sementara itu, Mahesa Murti dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit membangunkan kesadaran mereka untuk dapat mengungkapkan kekuatan yang tak terhingga yang ada di dalam diri.

    Dan kekuatan itupun akhirnya terbangun.

    Raden Wijaya sudah dapat mengungkapkan kekuatan hawa panas dari dalam dirinya. Dari hentakan tangannya akan meluncur angin panas yang bergulung gulung menghanguskan apapun yang menghadang.

    Sementara itu, sebagaimana pernah dikatakan oleh Mahesa Murti, bahwa Mahesa Amping mempunyai bakat yang istimewa, mempunyai bakat di luar orang biasa. Diam-diam telah menemukan rahasia membangunkan hampir semua kekuatan yang dapat diungkapkan sesuai dengan keinginannya. Membangunkan hawa dingin yang dapat membekukan, membangunkan hawa panas yang dapat membakar apapun yang ada disekelilingnya. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah dari sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

    “Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena disitulah sumber petaka dan bencana”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping pada suatu malam di sebuah tempat alam terbuka yang jauh dari kehidupan dan padepokan Bajra Seta. Sebuah tempat yang sering mereka singgahi untuk berlatih meningkatkan tataran ilmu Raden Wijaya dan Mahesa Amping selapis demi selapis menuju kearah kesempurnaanya.

    Disuatu hari, Matahari saat itu sudah rebah diujung senja. Warna cakrawala dikuas bening redup tanpa desiran angin sedikitpun. Gambar pohon randu yang bercabang banyak di sudut depan dinding Padepokan Bajra Seta seperti patung arca. Tidak ada satupun helai daun yang bergerak.

    Panggraita Mahesa Amping yang sudah semakin tajam menangkap sebuah bayangan yang begitu jelas. Wajah yang pernah dikenalnya. Tapi Mahesa Amping tidak mengatakan apapun apa yang dilihatnya kepada Mahesa Murti dan Raden Wijaya yang ketika itu mereka tengah duduk di Pendapa utama.

    Seorang berkuda masuk melewati gerbang Padepokan Bajra Seta yang memang selalu terbuka.

    “Paman Arya Kuda Cemani”, berkata Mahesa Murti yang dengan ketajaman matanya mampu mengenali orang berkuda yang telah masuk melewati pintu gerbang Padepokan.

    • lumayannnnnnnn
      nyilem lagi ach…….jeburrrrrrrrr

      • meskipun telat,
        kamsiaaa………….

        • Dan yang lebih mengerikan lagi adalah dari sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

          ha ha ha ….
          ilmu Agung Sedayu muncul di sini

          • meskipun telat-telat dikit,
            kamsiaaa………….kamsiaaaaa

  11. Wah tidak terasa sudah sampai episode yang kesekian.
    Terima kasih P. Dalang, sayangnya sampai sekarang belum ada sayembara yang masuk untuk membungkus karya Ki Kompor. P. Satpam, sepertinya hadiahnya kurang menarik ya.

  12. selamat PAGI….ning omahE ni SINDEN
    dhisik Aaah,

    selamat PAGI kadang padepokan,

  13. Sugêng sontên

  14. sugeng dalu kadang sedoyo,
    sesuk hari liburan panjang….indahnya hidup ini, habis subuh langsung nyungsep diselimut tebal sambil menunggu teriakan sang permaisuri tercinta,”sarapan sudah siapp !!!”

    • Monggo Ki…
      semalam sebelumnya tentu lembur menyiapkan tutuge cerita to
      he he he …..

      • Ternyata menulis juga bisa sakaw sebagaimana menunggu rontal…..kalo udeh sakaw, asyiknye kata demi kata meluncur dengan sendirinya…tidak kenal waktu. Mudah-mudahan, doa ki Yudha dapat menjadi kenyataan, setelah pensiun di pabrik petir ini gue bisa menyibukkan diri sebagai penulis cerita silat. MOHON DOA dari sahabat semua………

        • Amin….

          satpamnya kadang juga sakaw buka gandok dan wedar rontal ki

          lha kalau nanti sudah selesai, buka gandok apa ya?
          MOHON PETUNJUK dari sanak kadang semua.
          he he he ….

        • Aamiin,

          setrumlah besi selagi panas,
          eh kleru,
          tempalah besi selagi panas,

  15. Arya Kuda Cemani diterima langsung di Pendapa Bajra Seta. Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Arya Kuda Cemani langsung menyampaikan tujuannya datang ke Padepokan Bajra Seta. Yaitu bercerita tentang hilangnya Putra Mahkota yang sampai saat ini pihak kerajaan telah kehilangan jejaknya. Sang Putra Mahkota seperti hilang ditelan bumi.

    “Sesuai perintah Sri Maharaja, kami petugas sandi diminta hanya sekedar membayangi. Sampai di Bandar Pelabuhan Cangu, kami masih dapat membayanginya. Tapi setelah itu, kami telah kehilangan jejak. Pengeran Kertanegara seperti hilang di telan bumi”, berkata Arya Kuda Cemani bercerita tentang keadaan tentang Putra Mahkota yang hilang.

    “bukankah Putra Mahkota sudah dapat menjaga dirinya sendiri ?”, berkata Raden Wijaya yang sangat mengenal Pangeran Kertanegara sebagai seorang yang sudah memiliki bekal ilmu yang cukup.

    “Pada awalnya memang kami berpikir seperti itu, Sri Maharaja juga berpikir demikian”, berkata Arya Kuda Cemani berhenti sebentar, lalu lanjutnya, “para petugas sandi menangkap berita, ada sekelompok orang tengah membayangi Sang Putra Mahkota, bermaksud melenyapkannya”.

    “Usaha melenyapkan Sang Putra Mahkota adalah sebuah usaha menghancurkan keberadaan Singasari”, berkata Mahesa Murti menyimpulkan keterangan yang disampaikan Arya Kuda Cemani.”Apakah petugas sandi sudah dapat menembus, kira-kira mereka dari pihak mana ?”, bertanya Mahesa Murti kepada Arya Kuda Cemani.

    “Itulah yang belum dapat kami ungkap, untuk inilah Sri Maharaja memerintahkan aku secara khusus datang ke Padepokan Bajra Seta ini ”, berkata Arya Kuda Cemani.

    “Sri Maharaja memerintahkan kami untuk mencari tahu ada dipihak siapa mereka itu ?”, bertanya Mahesa Murti kepada Arya Kuda Cemani.

    “bukan Cuma itu”, berkata Arya Kuda Cemani.”Tapi juga membawa kembali Sang Putra Mahkota dengan selamat tiba di istana”, berkata kembali Arya Kuda Cemani.

    Suasana di Pendapa Bajra Seta sepertinya menjadi begitu hening. Semua kepala sepertinya tengah berpikir dengan pikirannya masing-masing. Akhirnya semua mata tertuju kepada Mahesa Murti, menunggu apa yang akan dikatakannya.

    Nampak Mahesa Murti menarik nafas panjang. Kepercayaan Sri Maharaja terhadap Padepokan Bajra Seta adalah sebuah kebanggaan, sekaligus sebuah kemuliaan, demikian Mahesa Murti berpikir di dalam hatinya.

    “Panggil Paman Sembaga, Paman Wantilan dan Mahesa Semu kemari”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Maka Mahesa Amping langsung turun dari Pendapa. Tidak lama kemudian ia telah datang kembali bersama Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    Dengan singkat, Mahesa Murti bercerita tentang perintah khusus dari Sri Maharaja Singasari kepada Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    “Aku memutuskan, mempercayakan tugas mulia ini kepada kalian berlima”, berkata Mahesa Murti memberikan sebuah keputusan.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya saling memandang. Bukan main senangnya mereka berdua dikutkan dalam tugas khusus itu.

    “Besok pagi kalian sudah dapat berangkat, mungkin diperjalanan Paman Arya Kuda Cemani dapat memberikan beberapa petunjuk apa saja yang dapat kalian lakukan”, berkata Mahesa Murti kepada kelima orang kepercayaannya.

    Dan pagipun telah datang, tanah dan daun masih penuh dengan embun, pagi masih begitu gelab manakala enam ekor kuda keluar dari pintu gerbang regol Padepokan Bajra Seta.

    “Aku titipkan padamu Raden Wijaya dan Mahesa Amping”, berbisik Mahesa Murti kepada Sembaga yang berjalan paling belakang.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti, diperjalanan Arya Kuda Cemani memberikan beberapa petunjuk yang dapat mereka lakukan.

    Disebuah persimpangan jalan, mereka berpisah. Arya Kuda Cemani melanjutkan perjalanannya ke Singasari untuk melapor kepada Sri Maharaja. Sementara lima orang pahlawan dari Padepokan Bajra Seta sesuai petunjuk dari Arya Kuda Cemani langsung menuju Bandar Cangu. Tempat terakhir Pangeran Kertanegara dapat dibayangi oleh para petugas sandi.

    • keokeokeok

      kamsiaaaa……………

    • Kaaaaaaaammmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!

      Biar aja Ki Menggung ngurusi ni Sinden,
      ane nyang nungguin tutuge.

  16. Ngaturaken sugeng tanggap warsa dumateng,
    Ki, Ni, Mas, Mbak, PANCA SILA.

  17. Tidak banyak hambatan yang berarti dalam perjalanan mereka ke Bandar Cangu.

    Temaram langit senja begitu indah menghiasi suasana Bandar Cangu. Ujung-ujung tiang layar perahu berjajar. Beberapa buruh hilir mudik mengangkat barang. Beberapa pedati bersandar di beberapa kedai yang tumbuh subur disekitar keramaian Bandar Cangu.

    Sementara itu bila mata kita bergeser ke kiri, terlihat sebuah bangunan benteng prajurit yang luas dan kokoh. Berdiri di pinggir sungai Brantas seperti raksasa penjaga sungai.

    “Kita singgah ke Benteng Cangu”, berkata Wantilan kepada kawan-kawannya yang sudah mengetahui bahwa Mahesa Pukat bertugas di Benteng cangu itu.

    Ketika mereka tiba di pintu gerbang, seorang prajurit keluar dari gardu penjaga.

    “Adakah kepentingan kalian datang ke Benteng ini ?”, berkata Prajurit penjaga itu dengan wajah penuh curiga.

    “Kami bermaksud ingin menemui saudara kami”, berkata Wantilan mewakili kawan-kawannya.

    “Siapa nama Saudara kalian ?”, bertanya prajurit itu masih dengan wajah penuh prasangka.

    “Mahesa Pukat”, berkata Wantilan kepada Prajurit itu.
    Bukan main kagetnya prajurit itu mendengar nama yang disebut oleh Wantilan. Dengan wajah masih penuh curiga dan tidak percaya prajurit itu memandang Wantilan dari ujung kaki sampai kepala, tidak ada sedikitpun kemiripan Wantilan dengan Senopati mereka.

    “Apakah kalian sudah punya janji ?”, berkata Prajurit itu masih dengan keraguan.

    “Belum”, berkata Wantilan yang sudah mulai jengkel kepada prajurit itu.

    “Silahkan kalian menunggu, aku akan melapor kepada ketua regu kami, apakah kalian dapat diterima”, berkata prajurit itu meminta Wantilan dan kawan-kawannya menunggu.

    Terlihat prajurit itu masuk dalam salah satu barak yang terlihat berjejer. Sementara ditengah benteng itu berdiri sebuah bangunan utama. Dan nampak di pojok belakang benteng itu berdiri sebuah panggungan yang tinggi, tempat untuk mengawasi keadaan diluar benteng.

    Tidak lama kemudian, terlihat prajurit penjaga itu telah datang bersama seorang prajurit lainnya, mungkin ketua regu yang telah dikatakannya.

    “Mohon pertimbangan Ki Bekel. Apakah mereka dapat diterima ?”, berkata Parajurit itu ke pada seorang prajurit lagi yang di panggilnya sebagai Ki Bekel.

    Tiba-tiba saja prajurit itu bertolak belakang dengan gagahnya.

    “Kenapa kamu tidak ikat mereka semuanya ?”, berkata prajurit yang di panggil Ki Bekel itu dengan wajah penuh wibawa kepada prajurit penjaga.

    “Aku tidak mengerti, mengapa harus mengikat mereka ?”, bertanya prajurit itu dengan wajah kebingungan.

    Ki Bekel itu pun tertawa terpingkal-pingkal, sementara itu, Mahesa Semu dan Wantilan ang telah mengenali wajah Ki Bekel itu pun ikut tertawa.

    Melihat semua itu, wajah prajurit itu semakin kusut kebingungan. Ki Bekel yang tidak lain adalah Dadulengit itupun menepuk pundak prajurit yang masih kebingungan.

    “Mereka adalah sahabatku, mereka juga saudara Ki Senopati”, berkata Dadulengit kepada Parjurit itu yang langsung menemui sahabat lamanya orang-orang dari Padepokan Bajra Seta yang dianggapnya sebagai pahlawan yang telah ikut membantu membebaskan dirinya dan kawan-kawannya dari perbudakan.

    “Selamat berjumpa wahai sahabat lama”, berkata Dadulengit sambil memeluk mereka satu persatu dengan gembiranya.

    “Pasti kamu Mahesa Amping, cantrik padepokan Bajra Seta paling muda”, berkata Dadulengit masih mengenali Mahesa Amping.
    “Kamu sudah tumbuh sebagai seorang pemuda”, berkata Dadulengit memeluk erat-erat Mahesa Amping dengan gembira.

    “Perkenalkan ini Raden Wijaya”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Raden Wijaya kepada Dadulengit.

    “Perkenalkan, nama lengkapku Ki Bekel Dadulengit”, berkata Dadulengit yang disambut senyum hangat dari semua yang ada disitu, kecuali prajurit penjaga yang masih berdiri disitu.

    “Apakah setelah jadi prajurit kamu masih berjudi ?”, bertanya Mahesa Semu yang ingat kegemaran Dadulengit yang bergelar dewa judi.

    “Dibandar Cangu, aku seperti menemukan sorga yang hilang. Hampir setiap malam aku menyelinap pergi berjudi”, berkata dadulengit berterus terang.

    “Moga-moga saja kamu tidak menjual tameng prajuritmu”, berkata Wantilan yang disambut tawa oleh Dadulengit dan keempat kawannya.

    • kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
      (keokeokkeok-ngeduluin Paklek satpam)

  18. Hebring euyy buat coper nye,

    baru aje ane memerintahkan putri ane buat bikin cover, ehh udah ade……tapi liet aje, ape putri ane bisa belajar bikin gambar ilustrasi, kayaknye sich semanget banget…………….!!!

    SALAM UNTUK LIBURAN PANJANGNYA,
    SEMOGA KESEHATAN DAN KEBAHAGIAAN MENYERTAI KITA BERS

    • BERSAMA maksudnye

      • ha ha ha …..
        repotnya tak punya jiwa seni lukis, coba corat-coret, kok gak keruan hasilnya.
        Akhirnya, ya itu …..
        Tetapi, jika karya putri Ki Kompor sudah jadi, apapun bentuknya, bolehlah dikirim untuk menggantikan koper yang sudah ada.

        eh…, hampir lupa..!
        kamsiaaaa…………..

        • Sugêng énjang

          isuk uthuk-uthuk, uthuk-uthuk isuk

  19. “Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena disitulah sumber petaka dan bencana”, (Ki Kompor)

  20. Nuwun
    Wilujeng siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI KERTANEGARA dan RADEN WIJAYA

    Sebagaimana telah punåkawan sampaikan di gandhok ini On 29 Mei 2011 at 22:51 tentang satu pancer dan delapan mandalawangi, maka pada dongeng selanjutnya adalah tentang Kertanegara dan Raden Wijaya, keduanya yang dipentaskan Ki Dhalang Kompor masih sangat muda usia.

    Keduanya diceritakan di tempat yang berbeda sedang berpetualang dalam pendadaran olah ilmu kanuragan, mencapai keseimbangan lahir dan batin, sebagai bekal kelak kalau sudah jadi “orang besar”.

    Kisah petualangan kedua tokoh ini diceritakan dengan serius tapi santai oleh Ki Kompor Dhalang van Cipondoh. Bagaimana si Kerta (maksudnya Kertangeraga) yang dapet ‘ilmu tongkat madura’, dan Raden Wijaya yang “lugu” (lucu tapi wagu). He he he….

    Untuk membuat semangkin meriahnya lakon tongkat madura ini, eh.. keliru,,,,, mangsudde lakon SFBdBS, maka untuk menambah wawasan kita, saya akan mendongeng tokoh Kertanegara dan Raden Wijaya yang “sebenarnya”.

    Begini dongengnya:

    Di dalam prasasti Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1177Ç/1255M) yang dikeluarkan Ranggawuni Wisnuwardhana, yang bergelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana atau Narãryya Seminingrat atau Seminingrat Jagannatha.

    Ranggawuni Seminigrat beristrikan Narãryya Waning Hyun, putri pamannya yaitu Bhatara Parameswara (Pararaton menyebutnya: Mahisa Wonga Teleng.) ayah dari Mahisa Campaka alias Narasinghamurti.

    Bhatara Parameswara adalah penguasa Kadiri sepeninggal Prabu Kertajaya yang gugur dalam Perang Ganter. Apabila Bhatara Parameswara benar-benar identik dengan Mahisa Wonga Teleng, maka dapat disimpulkan kalau Narãryya Waning Hyun adalah saudara perempuan Narasinghamurti. Dengan demikian, hubungan antara Narasinghamurti dengan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

    Prasasti Wurare yang berangka tahun 1211Ç/1289M menyebutkan bahwa istri Wisnuwardhana adalah Jayawarddhanibarrya (Jayawarddhani), maka dapat dipastikan bahwa Narãryya Waning Hyun identik dengan Jayawardhani.

    Perkawinan antara Wisnuwardhana dan Narãryya Waning Hyun merupakan perkawinan politis dalam upaya penyatuan dua kerajaan (Tumapel Singasari, Janggala dan Kadiri) dalam satu negara kerajaan Singasari.

    Berkat dukungan Sang Apanji Patipati, Wisnuwardhana Nararyya Seminingrat berhasil menyatukan kembali kerajaan Singasari yang diwarisinya dari Anusapati dan kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara.

    Prasasti Mula Malurung selanjutnya mengabarkan: atas kebesaran para leluhur kerajaan Tumapel, Sang Bhatara Parameswara, ayahanda Nararya Waning Hyun, pamanda sekaligus ayahanda mertua Sang Prabhu Sri Seminingrat, menganugerahkan desa sima Mula-Malurung kepada Pranaraja dan sanak kadang. Karena jasa-jasa Sang Pranaraja yang teramat besar kepada keluarga Janggala-Kadiri,

    Pararaton mengabarkan:

    Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring canggu lor isaka 1193.

    [Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç/1271M.]

    Data tahun ini jelas salah, mengingat Prabu Wisnuwardhana dalam Prararton disebutkan .. panjeneng ira Sri Ranggawuni …. moktan ira 1190. Dhinarmma sira ring Jajaghu… (beliau Sri Ranggawuni wafat pada tahun 1190Ç/1268M, dicandikan di Jajaghu). Jadi adalah tidak mungkin Pelabuhan Canggu dibangun setelah beliau wafat. Data yang tepat benar adalah tahun 1174Ç atau 1252M, dua tahun sebelum penobatan Kertanegara menjadi yuwaraja.

    Dalam Pararaton disebutkan Canggu terletak di utara Kotaraja, ibukota Kerajaan Singosari, dibangun sebagai pengganti pelabuhan lama kerajaan Yau Toung atau pelabuhan Yortan, nama lain pelabuhan Jêdung, yang rusak terkena bencana alam; (masih ingat dongeng: mud volcano (pegunungan lumpur), lêndhut bêntèr, trasi muncrat. Timun Mas.).

    Dalam Kidung Sundayana, Canggu disebut sebagai “kota bandar”, disebutkan terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur. Dalam perjalanan waktu Canggu akhirnya memang menjadi “kota”. Sekarang, Desa Canggu termasuk wilayah kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

    Negarakretagama pupuh 41 (3) menguraikan bahwa pada tahun 1176Ç (1254M) Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya. Segenap raja Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu. Setelah dinobatkan, putra mahkota mengambil nama abhiseka Sri Kertanagara.

    i saka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin
    Samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha
    Narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita
    Pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i Singasarinagara
    .

    [Tahun Çaka rasaparwwatenduma (1176Ç/1254M) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura tempat upacara penobatan, Raja baru itu bergelar Kertanagara, tetap demikianlah seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama menjadi praja Singasari.]

    Uraian di atas seolah-oleh memberi kesan pada tahun 1254 itu, Wisnuwardhana menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Kertanagara. Hal itu tidak benar karena dalam prasasti Mula-Malurung dinyatakan dengan jelas bahwa pada tahun 1255 Wisnuwardhana masih memerintah di Tumapel, sebagai raja agung yang menguasai Janggala dan Panjalu.

    Prasasti Mula Malurung mengabarkan bahwa sebelum menjadi raja Singasari, Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau raja muda – yuwaraja pada tahun (1254M – 1268M). Berkat kelahirannya dari perkawinan Wisnuwardhana dengan Permaisuri Waning Hyun, Kertanagara mempunyai kedudukan sebagai raja mahkota, mengepalai raja-raja bawahan lainnya.

    Nama gelar abhiseka yang ia pakai ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

    Kita tahu bahwa hubungan antara Narasinghamurti atau Mahesa Campaka dan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar. Sedangkan Menurut Nagarakretagama, Narasingamurti memiliki putra bernama Lembu Tal, yang kemudian menjadi ayah dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

    Keterkaitan Kertanagara dengan Raden Wijaya dalam panggung sejarah

    Tunggul Ametung & Ken Dedes berputra Anusapati — Anusapati berputra Ranggawuni (Wisnuwardhana) — Ranggawuni (Wisnuwardhana) berputra Kertanegara.

    Ken Arok Rajasa Sang Amurwabhumi & Ken Dedes berputra Mahesa Wonga Teleng — Mahesa Wonga Teleng berputra Mahesa Campaka (Narashingamurti) — Mahesa Campaka (Narasinghamurti) berputra Lembu Tal — Lembu Tal berputra Raden Wijaya.

    Dengan demikian, garis keluarga lurus ke atas Kertanegara adalah buyut Ken Dedes dan Tunggul Ametung dan Raden Wijaya adalah canggah Ken Dedes dann Ken Arok, maka Kertanegara adalah paman tiri Raden Wijaya, dan terakhir Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara (Ikuti uraian di bawah).

    Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (1177Ç/1255M); Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau yuwaraja pada tahun 1254M, baru pada tahun 1268, ia bertahta sebagai raja di Singosari. Bertepatan dengan pengangkatan beberapa keluarga raja sebagai yuwaraja yaitu: (Prasasti Mula Malurung Lempengan VIIA dan B):

    i. Nararyya Kirana putera sang prabu Semi Ning Rat sendiri dirajakan di Lamajang (Lumajang);
    ii. Nararyya Murddhaja dirajakan di Daha;
    iii. Nararyya Turukbali, puteri sang prabu, permaisuri Jayakatwang, dirajakan di Glang Glang daerah Wurawan. Sri Jayakatwang adalah keponakan sang prabu Seminingrat;
    iv. Sri Ratnaraja, adik sepupu sang prabu dirajakan di Morono;
    v. Sri Narajaya adik sepupu sang prabu dirajakan di Hring;
    vi. Sri Sabhajaya, sepupu sang prabu dirajakan di Lwa.
    vii. seorang lagi yang namanya tidak disebut menjadi raja di Madhura.

    Disebutkan pula bahwa Pangeran Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani, sedang merayakan pernikahannya (tidak disebutkan nama istrinya)

    Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya dalam Perang Ganter (Ingat dongeng: Ken Arok mengkudeta Kadiri). Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya.

    Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Dengan demikian Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri.

    Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung, Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana).
    Prasasti itu juga menyebutkan nama istri Jayakatwang adalah Turukbali putri Seminingrat.

    Dari Prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang kelak menjadi menantu Kertanagara. Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

    Kemana Raden Wijaya?

    Sejak dinobatkannya Kertanegara sebagai yuwaraja bersama-sama dengan Nararyya Kirana, Nararyya Murddhaja, Nararyya Turukbali, Sri Ratnaraja, Sri Narajaya, Sri Sabhajaya, nama Raden Wijaya tidak pernah disebut.

    Tidak disebutnya Raden Wijaya pada lempengan prasasti, kemungkinan yang paling mendekati kenyataan adalah karena Raden Wijaya belum lahir.

    Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1177Ç/1255M ) disebutkan bahwa putri Sang Prabu Wisnuwardhana yang bernama Nararyya Turukbali, dijodohkan dengan Jayakatwang, yang diangkat sebagai rajamuda di Glang Glang daerah Wurawan di Kadiri.

    Perkawinan ini merupakan perkawinan politik, agar Kadiri tetap berada di bawah kekuasaan Singasari. Dari perkawinan antara Jayakatwang dan Turukbali lahirlah Ardaraja.

    Dari perkawinan antara Lembu Tal (sangat disayangkan tidak ada penjelasan sedikitpun nama istrinya), lahirlah Raden Wijaya.

    Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama Mahesa Arema yang diperintah Raja Kertanegara mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis juga dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

    Kebo Arema adalah Panglima Ekspedisi Pamalayu. Kebo Aremalah yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singasari.

    Pemberontakan-pemberontakan itu, meskipun akhirnya dapat ditumpas, tetapi menghambat pelaksanaan gagasan politik perluasan wilayah. Untuk dapat mengirim tentara ke seberang lautan, kekeruhan didalam negeri harus diatasi dulu.

    Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Harsawijaya, dan Negarakretagama pupuh 41, semuanya menyebutkan pengiriman tentara Singasari ke negeri Melayu (Suwarbabhumi) pada tahun 1187Ç (1275M), lima tahun setelah pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara atau Cayaraja.

    Dalam Kidung Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasehat Raganata tentang pengiriman tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanagara. Raganata mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Singasari, sebab Singasari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi.

    Prabu Kertanagara berpendapat, raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabu. Salah satunya putra raja Jayakatwang yang bernama Ardaraja diambil sebagai menantu Kertanagara. Perkawinan ini merupakan pendekatan politik Kertanagara demi reda dan terhapusnya dendam lama Kediri atas Singasari.

    Agar jangan timbul kekeruhan dalam negeri selama tentara Singasari bertugas di negeri Melayu, Ardaraja putra Jayakatwang diambil menantu oleh Kertanagara, bersamaan dengan itu pula Raden Wijaya diangkat sebagai salah satu panglima perang Singasari, menjaga keamanan dalam negeri Singasari selama sebagian pasukan tentara Singasari dikerahkan melakukan Ekspedisi Pamalayu. Raden Wijaya pun dijodohkan dengan dua orang putri Kertanegara.

    Pemberitaan Pararaton tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Pethak. Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.

    Sedangkan menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara:

    1). Dyah Sri Tribhūwaneśwari, dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.

    2). Dyah Dewi Narendraduhitā dengan gelar Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, tidak berputra; adalah putri ketiga dari Raja Singasari Kertanagara, dan merupakan istri kedua Raden Wijaya.

    3). Dyah Dewi Prajnyāparamitā dengan gelar Śri Jayendra Dyah Dewi Prajnyāparamitā, atau sering disingkat dengan nama Prajña Paramita atau Pradnya Paramita adalah putri keempat dari Raja Kertanegara dan merupakan istri ketiga dari Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan.

    4). Dyah Dewi Gayatri, diangkat sebagai rajapatni dengan gelar Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri, adalah istri ke empat dari Raden Wijaya, dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi yang mendapatkan kedudukan di Jiwana (Kahuripan) sebagai Bhre Kahuripan, dan lahir Rajadewi Maharajasa, yang diangkat sebagai Bhre Daha.

    Dari rahim Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, yang bersama-sama dengan Mahapatih Gajah Mada membawa Majapahit penuju masa kegemilangannya.

    Sumber sejarah:

    1. ________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). Narasi. Yogyakarta. 2007.

    2. Bade, David W. Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat Ulaanbaatar 2002.

    3. Bambang Sumadio (Penyunting Jilid), Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Balai Pustaka. Jakarta 1984.

    4. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009.

    5. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books London 2007.

    6. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K, Jakarta 1979;

    7. Marwati, dkk. 1993 . Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

    8. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka Jakarta 2006;

    9. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage. 1903

    10. Moehadi. Modul Sejarah Indonesia. Karunia: Jakarta. 1986

    11. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Balai Pustaka, Jakarta. 1984;

    12. Padmapuspita, Ki, PararatonTeks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa Jogjakarta. 1966

    13. Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, Martinus Nijhoff, The Hague, 1962.

    14. Poerbatjaraka. Kapustakan Jawi. Djambatan. Jakarta. 1964

    15. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

    16. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Jakarta: Serambi, 2005.

    17. Slamet Muljana Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya; LkiS Yogyakarta. 2006.

    18. Slamet Muljana, Prof. Dr. Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LKiS Yogyakarta 2005.

    19. Sudibya, Z.H.. Babad Tanah Jawi. Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1980.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • kamsia, langsung masuk gudang logistik, dikeluarkan bila sudah waktuna……………..

  21. Sugeng dalu,
    Baru libur sehari kok sudah cuapek ya, gimana besok dan lusa.

  22. Sugêng dalu

    • Sugêng dalu

      he he he .., jadi ingat tadi siang. Digodogkan pisang kepok yang sudah ndalu. tinggal dibuka kulitnya, terus tinggal diemut langsung ditelan, tidak usah dikunyah.

      pisang ndalu bisa dimakan, kalau Sugêng dalu……?

      • Lha mosok si sugêng yang tinggal diemut langsung ditelan, tidak usah dikunyah.
        Pripun…..?

        • Leres lho Ki Puna,
          menawi saged “diruwetkan”
          lha kok ndadak “dipermudah” to…???

          (100% menika panah sendaren saking “kepadhangan” mboten saking “kepetengan” lho)

  23. Saya membaca komentar terutama celoteh-celote paara cantrik yang lucu dan segar…
    Bisa gak dibuat kumpulan cerita yang lucu dan segar para cantrik seperti dongeng arkeolognya ki bayu yang terangkum dalam satu blog.

    • Bisa sih bisa Ki, tetapi waktunya yang tidak tersedia.
      Kecuali kalau ada sabak-kadang yang mempunyai waktu luang, hasilnya bisa dikirim ke padepokan untuk dibuatkan gandoknya.
      monggo

  24. “dalu” dan ndalu. Ternyata Bahsa Jawa adalah bahasa yang paling komplit, tapi jadinya susah dipelajari. Apalagi ngajari cucu untuk berbahasa Jawa.
    Bahkan anak yang 5 tahun di Jogya juga bisanya bahasa Jawa ngoko dan kromo madyo.
    Ora kroso dolanan neng laptop kok ngerti-ngerti meh jam 22.
    Yo wis lah mapan disik, wis dikode “Utine” bocah-bocah.
    Sugeng sare poro kadang.

    • Monggo Ki Honggo.
      Sugêng sare

      • Kammmmmmmmsiiiiiiiiaaaa!!!!!!!!

        • he…..he…..he……
          salah ndeprok….!!
          sugeng nDalu.

  25. hup….baru pulang ngaji,
    siap-siap…..bikin indomie rebus he3x loaper nye poaall kata Ki Widura yang entah ada dimana…..

  26. Mari kita tinggalkan dulu lima ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Kita sudah terlalu lama meninggalkan Kertanegara yang tengah digodok “dikawah candradimuka” hutan Porong oleh Empu Kanda.

    Diujung senja, redup cahaya matahari tanpa desiran angin sedikitpun. Dua sosok bayangan tengah saling menyerang. Ditangan mereka sebuah cambuk panjang meluncur kadang melecut begitu gemulai, kadang bagai sebuah pedang kaku menerjang.

    Kertnegara dan Empu Dangka terlihat tengah berlatih. Kadang kecepatan serangan sepertinya begitu mengerikan. Mereka sepertinya sepasang anak kecil yang bermain, tidak mengenal kengerian yang sebenarnya. Saling mengelak dan menyerang seperti sepasang ular kembar tengah bercinta-kasih, tiada yang menyakitkan. Yang ada hanyalah sebuah kegembiraan.

    “Cukup !!”, berkata Empu Dangka sambil melompat mundur beberapa langkah.”Kemajuanmu benar-benar luar biasa. Begitu sempurna !!”, berkata Empu Dangka mengungkapkan kegembiraaannya.

    “Terima kasih Empu”, berkata Kertanegara sambil mengusap peluh di wajahnya.

    Empu Dangka terlihat masuk ke gubuknya. Sementara Kertanegara sibuk menyiapkan perapian.

    Akhirnya, tidak lama kemudian. Terlihat mereka tengah menikmati makanan dan minuman hangat di gubuk mereka yang begitu sederhana.

    “Seandainya besok aku mati, mungkin aku tidak akan menyesal. Karena semua ilmuku telah luluh di dalam tubuhmu”, berkata Empu Dangka sambil mengangkat minuman hangatnya, meneguknya sedikit.

    “Semoga diriku tidak mengecewakan Empu”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka penuh rasa terima kasih.

    “Anakku “, berkata Empu Dangka. “Aku mempunyai saudara kembar, entah sampai saat ini aku tidak tahu dimana rimbanya”, berkata Empu Dangka dengan mata jauh menerawang menembus batu hitam di seberang sungai.

    “Adakah yang dapat dibedakan diantara kalian ?”, bertanya Kertanegara kepada Empu Dangka.

    “Sukar sekali membedakan diri kami, yang jelas aku berjuang seluas lapang dadaku, sementara saudaraku berjuang sejauh bumi dipijak, itulah yang membedakan diantara kami”, berkata Empu Dangka dengan mata masih memandang jauh melampai batu hitam diseberang sungai.

    “Kebenaran memang harus diperjuangkan, di dalam jiwa bersama Paramashiwa, di bumi sebagai Budha. Sementara Gusti Yang Maha Agung yang mempunyai kehendak”, berkata Kertanegara sepertinya kepada dirinya sendiri.

    Empu Dangka seperti tersentak mendengar ucapan Kertanegara. Matanya menatap Kertanegara begitu tajam.

    “Anakku, kata-katamu adalah kesempurnaan Tattwa. Hari ini aku berguru padamu. Telah tepiciklah aku selama ini, memperjuangkan kebenaran hanya untuk pribadi di dalam diri. Melupakan bumi tempat tubuh ini berpijak. Siwa dan Budha bersatu dalam satu tubuh, tanpa batas antara lahir dan bathin. Seandainya saudaraku ada disini dan mengetahui akan hal ini, kami pasti tidak akan terpisah dalam perseturuan”, berkata Empu Dangka seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.Sebuah gambaran seorang yang mempunyai kelapangan jiwa, mau menerima kebenaran, tidak memperdulikan siapa yang berkata.

    “Untuk kelapangan hati, aku masih harus berguru dengan Empu”, berkata Kertanegara memandang Empu Dangka dengan penuh kebanggaan.

    “Tattwa ibarat sebuah tinta Samudera, ilmu yang kita miliki adalah cuma sebaris kata yang jatuh diujung pena. Semakin kita meneguk air Tattwa, semakin haus dahaga kita rasakan”, berkata Empu dangka kepada Kertanegara.

    • nyielm dulu ach……bleb bleb blebbbb

      • Sinden sama juru gamelan semuanya sudah terkantuk-kantuk…………
        GONG !!!!kaki dhalang tersandung tangan tukang kemong, tukang gendang langsung menyambut,,,dung dung prak, dung dung prak…derrrrrrrrr…..dut.
        LAYARPUN TURUN MENUTUPI PANGGUNG…….

        • dan para penontonpun berteriak, “kamsiaaaa……”

          • dan akupun terpana…teringat sekilas kisah ki kompor versus nimas padmi

  27. Malam telah turun membelenggu hutan Porong dengan kegelapannya. Cahaya oncor dari minyak biji jarak menerangi gubuk di tepian sungai berbatu itu.

    “Besok kamu akan melanjutkan perjalananmu ?”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara yang memang bermaksud melanjutkan perjalanannya.

    “Meski lewat pencerahan tattwa yang telah Empu tuntun selama ini, aku telah menemukan arah perjuanganku sendiri, sementara perjuanganku mendapatkan Menik Kaswari lebih bersifat janji seorang lelaki”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka menjelaskan tujuan awal meninggalkan tanah kelahirannya untuk membawa kembali gadis pujaannya.

    “Mencintai dan dicintai, itu adalah anugerah dari Gusti Yang Maha Kasih. Ikutilah air yang mengalir. Sementara harta, tahta dan wanita ibarat batu-batu hitam ditengah arus sungai. Janganlah menghalangi dirimu mencapai muara cintah kasih yang hakiki, yang abadi”, berkata Empu Dangka.

    “Nasehat Empu adalah pusaka yang akan selalu aku jaga”, berkata Kertanegara dengan perasaan gamang, besok ia akan berpisah dengan orang tua didepannya. Sendiri menghadapi sisa kehidupannya.

    Suasana menjadi begitu hening, Empu Dangka dan Kertanegara sepertinya tengah ada di dalam pikirannya masing-masing. Kegelapan malam tanpa suara angin sepertinya menambah kesunyian itu. Hanya suara air sungai yang terus menderu ditingkahi suara binatang malam. Sekali-kali terdengar suara burung yang terus semakin menjauh.

    “Kamu tidak perlu kembali kesungai Brantas, telusuri sungai ini sampai ke muara sungai porong. Aku ingin kamu menemui seorang sahabatku disana”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara memecah kesunyian diantara mereka.

    “Siapa nama sahabat Empu itu ?”, bertanya Kertanegara
    “Aku tidak tahu nama aslinya, yang kutahu bahwa ia memperkenalkan dirinya dengan nama Kebo Arema”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara.

    Empu Dangkapun sekilas menceritakan beberapa hal mengenai sahabatna itu yang bernama Kebo Arema. Seorang pendekar muda yang sangat disegani oleh para perompak, di sungai dan di lautan. Hingga pada suatu hari terkena sebuah muslihat, dirinya diracuni oleh musuhnya dengan racun yang keras.Syukurlah, garis hidupnya tidak harus mati oleh sebuah racun. Dengan kesabaran akhirnya Empau Dangka dapat menyembuhkannya. Itulah awal perkenalan dan persahabatan antara Kebo Arema dan Empu Dangka.

    • lho….!?
      kamsiaa…..

    • Sepertinya, satu wedaran lagi sudah cukup satu jilid.
      Betulkah Ki Kompor?.
      Satu wedaran lagi, saya boleh buat gandok baru SFBDBS-2?

      • Akkuuuuuuuuuuuurrrr,

        kaaaaaaaaammmmmmmmmsiaaaaaaaa!!!!!!!!!!

  28. Nuwun
    Sugêng sontên

    Sanak Kadang padépokan pêlangisingosari ingkang minulyå

    Dongeng Dhalang Ki Arif Sudjana Al Kompor van Cipondoh, sampai juga ke rencana pengembaraan si Kerta menyusuri Sungai Brantas ke Sungai Porong:

    …….. Kamu tidak perlu kembali kesungai Brantas, telusuri sungai ini sampai ke muara sungai porong. …..” berkata Empu Dangka kepada Kertanegara………………

    I. Sungai Porong

    Perlu diberitahukan kepada si Kerta (maksudnya Kertanegara) supaya agak ati-ati (maksudnya hati-hati), kalau si Kerta menyusuri muara Sungai “Porong” (tanda “…..”) sengaja saya tulis, sebab pada waktu itu — Kidung Sundayana menyebutkan tentang kota Bandar Canggu –, sebagai “sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan sungai (tidak atau belum disebut sebagai Sungai Porong dan Kali Mas), terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

    JIka Si Kerta melewati muara “Sungai Porong”, berarti ke arah Timur Laut menuju Sukitan
    (Cacatan perjalanan pengelana Cina bernama Chou Ku Fei yang menulis dalam karyanya Ling Wai Taita)

    Sukitan merupakan transliterasi Cina dari Supitan (Dalam bahasa Jawa, selat disebut supit atau supitan, atau laut yang sempit), dimaksud di sini adalah Supitan Madura, suatu tempat yang membentang di perairan selat Madura dari Bangil sampai Surabaya atau pantai Barat Daya Madura, merupakan muara “Sungai Porong”

    Kenapa harus ati-ati?

    Dalam Kidung Pararaton disebutkan bahwa telah terjadi perpindahan daerah aliran sungai (DAS) Brantas yang disebut sebagai bencana “pabanyu pindah” Demikian juga Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal. Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong “Kali Porong”, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

    Secara geologi, Jalur “salah satu cabang Sungai Brantas” sejalur dengan lokasi semburan lêndhut bêntèr yang masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara (tepatnya ke Timur Laut) ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

    Jadi, Si Kerta harus ati-ati kalau menyusuri “Sungai Porong”

    [Catatan:

    1. Itulah sebabnya maka “kutha” di Canggu dibangun, tidak semata-mata sebagai upaya penyerangan ke Mahibit, tempat gerombolan pemberontak Linggapati bertahan, tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis, lêndhut bêntèrsehingga pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, menjauhi perairan bebas.

    2. lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi, alias Lumpur Sidoarjo yang terjadi sekarang juga berada satu jalur dengan peristiwa bencana pabanyu pindah yang diberitakan oleh Pararaton 700 tahun yang lalu.

    II. Kota Surabaya”.

    a. Kertanegara dan Surabaya

    Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

    Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek-arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan.

    Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.

    Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, ejaan nama Surabaya awalnya adalah Çhurabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I berangka tahun 1358M atau 1280Ç.

    Dalam prasasti itu tertulis Çhurabhaya termasuk kelompok desa di tepian sungai Brantas sebagai tempat penambangan atau penyeberangan yang sudah ada sejak dahulu (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji praçasti).

    Walaupun prasasti Trowulan I sebagai bukti tertulis tertua yang mencantumkan nama Çhurabhaya, para ahli menduga bahwa Çhurabhaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

    Diyakini oleh para ahli sejarah Çhurabhaya telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sebuah hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanagara tahun 1275M atau 1197Ç, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M atau 1192Ç . [Catatan: Kebenaran hipotesa ini masih perlu dikaji ulang].

    Raden Wijaya dan Surabaya

    Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya mempersiapkan upeti, Wijaya dan pasukannya malah menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan tempurnya menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa di Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.

    Pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari meninggalkan banyak korban. Serangan mendadak yang tidak disadari itu membuat Ike Mese kaget tidak kepalang tanggung.

    Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.

    Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya, harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Dari sini mereka berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

    Adalah Lembu Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang bekerja sama dengan orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, yang melakukan penumpasan itu.

    Kekalahan balatentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi, kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporak-porandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di dalamnya.

    Menurut Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh (Tanjung Perak sekarang) dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.

    Pada pertempuran ini dicatat dalam sejarah Majapahit, Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan bersama umbu-umbul calon kerajaan yang akan lahir di atas kepala para prajurit Jawa. Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

    Berkibarnya Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.

    Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya. Akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.

    Nama Çhurabhaya pun muncul dalam pujasastra Negarakartagama tahun 1365M. Pupuh XVII, pada bait ke-5:
    yan ring janggala lot sabha nrpati ring çhurabhaya manulus mare buwun [Ketika sampai di Jenggala, sang raja singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.]
    Demikian.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • kamsia….langsung disedot.
      ade atu lagi nech….ane bolak/balik ke om google nanya tentang seputar pemberontakan kelana bhayangkara, ehhh jawabnye malah tentang arisan ibu-ibu bhayangkara dan TK bhayangkara…uch payahnye om google yang bukan wong jowo.

      KAMSIA SEBELUMNYA untk melihat panah sanderan dari ane

  29. Nuwun
    Sugêng énjang pårå kadang

    sebelum matahari terbangun
    di atas tanah perbukitan yang kecil indah nan sejuk itu,
    tempat kami mengingat
    dan selalu menyebut Kebesaran dan Kemuliaan NamaNya,
    juga di Shubuh pagi hari ini
    damai hati mengukir Cinta

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  30. Sugeng enjang,
    Akur P. Satpam sudahterlalu panjang.

  31. “Bawalah kayu aji besi keling ini, tunjukkan padanya”, berkata Empu Dangka tanpa menjelaskan kenapa dirinya harus menunjukkan kayu aji besi keling itu kepada Kebo Arema.

    Malam sudah semakin larut. Suara binatang malam mendenging mengisi kesunyian. Kadang masih terdengar suara burung celepuk dari tempat yang begitu dan semakin menjauh. Sementara itu cahaya oncor dari minyak biji jarak sudah semakin redup. Empu Dangka dan Kertanegara telah tertidur didalam lelapnya.

    Dan pagipun telah menjelang. Diawali dengan munculnya bintang kejora di langit timur. Hari masih begitu gelap dan dingin, Empu Dangka dan Kertanegara sudah terbangun.

    “Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ketika melepas kepergian Kertanegara.

    Sampai jauh mata Empu Dangka mengiringi sosok Kertanegara yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan sungai.

    Sebagaimana yang disarankan oleh Empu Dangka, dengan sebuah jukung perahu kecil Kertanegara menyusuri sungai Porong. Tidak ada hambatan yang berarti sepanjang perjalanannya. Hanya dalam kesendiriannya, Kertanegara merasa dirinya baru terlahir. Dirabanya sebuah canbuk yang melingkar di pinggangnya. “Dengan cambuk ini aku akan berdharma, melecut Singasari sampai di tempat tertinggi”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri dengan mata menatap kedepan penuh harapan dan semangat.

    Tidak terasa, jukung yang dikayuh Kertanegara telah mengantarnya hingga sampai ditepi muara.

    Ditambatkannya jukung itu di sebuah dermaga. Kertanegara melihat sebuah perkampungan nelayan, kesanalah langkah kakinya menuju.

    Senja telah turun dalam warna buram diatas perkampungan kecil itu.Wajah bulat matahari kuning sudah terpotong diujung barat cakrawala, seperti lukisan alam yang sempurna, begitu sejuk jiwa yang memandangnya.

    Ketika itu masih dalam musim angin barat, gelombang laut masih tinggi. Pada saat seperti itu banyak nelayan tidak berani melaut. Seorang lelaki tengah memperbaiki jalanya yang robek. Sementara dua anak kecil laki-laki bugil bertelanjang masih bermain di depan pondoknya yang sederhana.

    “Maaf mengganggu, dapatkah menunjukkan kepadaku dimana tempat tinggal seorang bernama Kebo Arema ?”, Kertanegara bertanya kepada lelaki itu.

    “Mari kuantar kisanak ke tempat Paman Kebo Arema”, berkata lelaki itu sambil berdiri.

    Kertanegara dan lelaki itu berjalan bersama ketempat tinggal kebo Arema.

    Seorang lelaki yang telah berumur setengah baya nampak tengah duduk di bale-bale sebuah pondok beratap jurai alang-alang. Pakaian yang dikenakannya sebagaimana kebanyakan para nelayan, begitu sederhana. Lelaki itu bertubuh sedang, nampak gagah dan berwajah tampan dengan sepasang alis tebal dan mata yang bersinar tajam, memandakan lelaki ini mempunyai kepribadian diri yang kuat.

    “Paman Kebo Arema, ada yang ingin bertemu”, berkata lelaki yang mengantar Kertanegara kepada seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Kebo Arema.

    Kebo Arema memandang Kertanegara dengan wajah ramah, sementara lelaki yang mengantar Kertanegara pamit meninggalkan mereka.

    “Mari kita duduk di bale-bale”, berkata Kebo Arema menyilahkan Kertanegara duduk bersama di Bale-bale.

    “Ada keperluan apa gerangan kisanak perlu menemui aku”, bertanya Kebo Arema kepada Kertanegara ketika mereka sudah duduk bersama di bale-bale.

    “Apakah paman pernah mengenal seorang bernama Empu Dangka ?”, bertanya Kertanegara mencoba meyakinkan bahwa di depannya adalah Kebo Arema sahabat dari Empu Dangka.

    “Empu Dangka yang tinggal di tepian sungai Porong, mungkin yang kisanak maksudkan ?”, Kebo Arema balik bertanya kepada Kertanegara.

    Dari pertanyaaan itu, Kertanegara merasa yakin bahwa lelaki didepannya itu memang Kebo Arema yang dimaksud.

    Maka sesuai amanat dari Empu Dangka, Kertanegara mengeluarkan kayu aji besi keling dari balik pakaiannya serta menunjukkannya dihadapan Kebo Arema.

    Bukan main kagetnya Kebo Arema melihat kayu aji besi keling berada di tangan Kertanegara. Wajahnya bertambah gelap menatap Kertanegara.

    “Ampunilah hamba Pangeran, hamba tidak berlaku hormat”, berkata Kebo Arema sambil bersujud dihadapan Kertanegara.

    “Bangunlah Paman, bagaimana Paman mengetahui bahwa aku seorang Pangeran ?”, berkata Kertanegara meminta Kebo Arema bangkit.

    Dengan wajah menunduk menjura penuh hormat. Kebo Arema pun menceritakan awal pertemuannya dengan Empu Dangka.

    “Empu Dangka yang sebelumnya kukenal dengan sebutan tabib seribu obat itu telah berhasil menyembuhkanku. Atas rasa terima kasihku, aku telah mempersembahkan diriku sendiri untuk mengabdi sepanjang hidupku kepadanya. Tapi beliau menolaknya dan mengatakan bahwa berbaktilah kepada seorang lelaki yang menunjukkan kepadamu kayu aji besi keling. Dialah putra sang fajar Putra Mahkota Singasari. Dampingilah dia seperti bintang kejora mengawal datangnya sang fajar”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara menceritakan tentang dirinya dan hubungannya dengan kayu aji besi keling yang ditunjukkan Kertanegara kepadanya.

    “Aku jadi malu, selama bersamanya aku menutup diri tentang jati diriku yang sebenarnya. Ternyata Empu Dangka tidak mempermasalahkannya dengan pura-pura tidak tahu”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema dengan bercerita singkat tentang pertemuannya dengan Empu dangka.

    “Kita sama-sama berutang nyawa dengan orang tua itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara. Menatap Kertanegara seperti kepada saudara kandungnya sendiri.

    “Selamat datang di gubukku yang sederhana”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat kepada Kertanegara.

    Kebo Arema dan Kertanegara begitu cepat menjadi begitu akrab, seperti dua saudara bercerita tentang beberapa hal, terutama tentang keberadaan mereka yang sama-sama pernah disembuhkan oleh Empu Dangka dan pernah lama tinggal di tepian sungai Porong, disebuah gubuk yang begitu sederhana.

    “Di kampung nelayan ini, aku cukup bahagia membantu para nelayan sebagai pawang ikan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara bercerita tentang dirinya di perkampungan kecil nelayan itu.

    “Aku belum pernah mendengar tugas dari seorang pawang ikan”, bertanya Kertanegara kepada Kebo Arema.

    Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Kertanegara, Kebo Arema menjadi maklum, karena sebagai orang daratan Kertanegara tidak mengetahui banyak bagaimana kehidupan seorang nelayan.
    “Tugas seorang pawang ikan adalah membaca bintang, membawa nelayan ketempat dimana ikan kakap merah berkumpul, dimana tempat ikan rengge bermain.Itulah sebagian dari keahliannku. Sementara itu para nelayan disini tidak mengetahui lebih jauh lagi tentang diriku yang sebenarnya. Mereka tidak akan mengetahui, bahwa aku dapat membawa mereka lebih jauh ke Tidore tempat begitu banyak mutiara, atau berkelana di sepanjang laut Selat Malaka. Hanya dengan membaca bintang di langit”, Berkata Kebo Arema menjawab pertanyaan Kertanegara.

    “Paman telah berkelana di banyak tempat”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang banyak bercerita tentang beberapa daerah yang pernah disinggahi, mulai dari pesisir tanah jawa sampai di beberapa nagari disepanjang selat Malaka.

    “Tapi akhirnya berhenti di tepian sungai Porong”, berkata Kebo Arema yang disambut gelak tawa oleh Kertanegara.

    “Aku akan mengajak Paman kembali berkelana, membacakan bintang dilangit untukku”, berkata Kertanegara kepada Keo Arema.

    “Kupersembahkan diriku ini untuk Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil menjura penuh hormat kepada Kertanegara. Seorang Putra Fajar yang sudah lama ditunggunya.

    • asyik berattttttttttttttt

      • he-he-he, gue yang nulis bilang asyik berat, embuhlah para kadang sedoyo

        nyilem dulu ach….janji mau ngantor ba’da johor naik montor mugi-mugi ketemu cewek bahenor

        • he he he …
          kamsiaaa……….

  32. kamsiaaaa, ngapunten sawek saget sowan, lha wong sawahe asat banyune, dadi kudu ekstra olehi nunggoni


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: