SFBdBS-01

SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI

Karya : Arief Sujana (Ki Kompor)

Bagian 1.

SFBdBS-01-001

LANGIT begitu cerah, awan putih bergantungan di bumi Kotaraja Singasari yang besar dan ramai. Sepanjang jalan Kotaraja dihiasi rumah-rumah besar bertiang tinggi kayu jati berukir indah. Kuda-kuda pengangkut barang milik saudagar tidak pernah sepi berlalu-lalang. Kadang satu dua kereta kencana milik para bangsawan terlihat menyusuri jalan. Terlihat seorang putri dari jendela kereta kencana begitu elok rupawan. Orang yang berjalan kaki pun begitu penuh kegembiraan, datang dan berlalu dari arah pasar Kotaraja yang ramai.

Ada berita penting yang menjadi pembicaraan hangat pada saat itu, bahwa besok di Istana Singasari akan ada pelantikan dan pengukuhan dari beberapa Pangeran Istana, para rakyan dan beberapa orang biasa yang dianggap telah banyak berjasa bagi kelangsungan dan kejayaan kerajaan Singasari.

Pada hari itu, Mahesa Murti dan Mahesa Pukat ada di rumah Mahendra. Sebagai seorang ayah, bukan main bangganya memandang kedua anaknya. Tidak ada kebanggaan dari seorang ayah melihat seorang anak yang tumbuh dewasa, berpijak dan mengenal paugeran hidup dari yang Maha Pemberi Sumber Kehidupan. Sementara pangkat dan jabatan hanya sebuah amanat yang harus dijaga dan disyukuri.

Besok, Mahesa Pukat akan dikukuhkan dirinya sebagai Rakyan Rangga berkedudukan di benteng Cangu, sebuah daerah sebelah utara Kotaraja. Sementara itu, Mahesa Murti mendapat anugerah mendapatkan Tanah Sima untuk seluruh tanah Padepokan Bajra Seta dan sekitarnya.

“Kekayaan, kehormatan dan kedudukan, adalah amanat dari yang Maha Pemberi Anugerah, Sumber dari segala sumber kehidupan ini”, berkata Mahendra memandang kedua putranya yang besok akan dilantik dan dikukuhkan di Paseban Raya.

“Nasehat Ayah akan kami pusakai”, berkata Mahesa Murti mewakili.

Mahendra tua nampak termenung, matanya memandang jauh kedepan, jauh melampau pucuk-pucuk kembang soka yang tumbuh di sudut halaman. Jauh mengenang masa mudanya dalam petualangan panjang, dari beberapa generasi ke generasi kepemimpinan Singasari.

Dan hari pun sudah menjadi senja ketika Mahesa Pukat pamit mohon diri kembali ke rumahnya.

———-oOo———-

SFBdBS-01-002

AKHIRNYA, Hari yang ditunggu pun tiba. Pagi itu Istana berhias indah. Di depan pintu gerbang telah terangkai untaian janur kuning selamat datang sebagai tanda bahwa hari itu akan ada sebuah upacara besar. Sepanjang dinding Istana telah berhias umbul-umbul warna-warni mengiringi umbul-umbul kebesaran kerajaan–kerajaan dibawah daulat Singasari Raya. Istana Singasari yang megah nampak menjadi lebih indah melebihi pemandangan hari-hari sebelumnya.

Masuk kedalam, di Paseban Raya telah berkumpul para undangan, para Rakryan tinggi kerajaan, para utusan kerajaan seluruh daulat Singasari Raya, para Bhirawa suci dan tentunya mereka yang akan mendapatkan anugerah Sri Maharaja, yang akan dinobatkan dan dikukuhkan dalam upacara besar itu.

Sementara itu, di Penataran samping Paseban Raya, para kawula, warga Kotaraja ikut berdesakan penuh semangat ingin menyaksikan langsung upacara penobatan dan pengukuhan. Dan tentunya dapat melihat langsung kemegahan Istana Singasari dari dekat, meski hanya di Penataran, sebuah lapangan besar berdampingan dengan Paseban Raya.

Di Panggung Paseban Raya, Sri Maharaja telah berdiri bersama permaisuri dinaungi Payung kebesaran kerajaan Kiai Penanggungan. Sebuah payung pusaka kerajaan yang dikeramatkan. Konon, seorang abdi dalem istana yang bertugas membawa payung ini harus berpantang, ditabukan makan buah labu parang merah. Pernah ada seorang abdi dalem yang lupa melanggar pantangan ini. Akibatnya memang diluar akal dan pikiran, Payung Kiai Penanggungan tidak dapat diangkat, seperti diberati oleh beban ribuan kati. Konon juga menurut beberapa orang tua di jaman itu, payung Kiai Penanggungan dapat mengusir hujan. Cuaca menjadi begitu cerah bila mana payung keramat ini telah berdiri hadir melengkapi setiap upacara kerajaan. Dalam kisah yang lain, Payung Kiai Penanggungan menurut para Bhirawa suci adalah hadiah Dewa Siwa kepada Raden Erlangga ketika berada di puncak gunung Penanggungan dalam pengungsiannya bersembunyi dari kejaran musuh-musuhnya.

“Sejahteralah Sri Seminingrat yang bergelar Maharaja Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana sang penguasa utama kerajaan Singasari Raya, penuh kemuliaan Sang Permaisuri Waning Hyun dengan abhiseka Sri Jaya Wardhani”, terdengar suara Mahapatih yang menjadi juru bicara Sri Maharaja mengawali upacara suci itu dengan mengucapkan puja dan puji kepada Sri Maharaja dan permaisuri.

Setelah mengatur nafas perlahan, Sang Maha Patih membacakan satu persatu para putra raja yang dinobatkan sebagai adipati di penjuru tanah daulat Singasari Raya. Beberapa Rakryan tinggi kerajaan yang dititahkan menduduki jabatan baru, juga para Bhirawa suci dan kawula biasa yang karena jasanya telah diberikan anugerah Tanah Sima.

Semua mendengar dengan penuh hikmad, satu persatu ucapan yang disampaikan Sang Mahapatih wakil juru bicara Sri Maharaja. Suasana menjadi begitu hening penuh kehormatan, sepertinya ucapan Sang Mahapatih adalah titah langsung Sri Maharaja.

Setelah Sang Mahapatih membacakan satu persatu para penerima penobatan, pengukuhan dan anugerah Sri Maharaja, maka satu persatu para penerima penobatan, pengukuhan dan anugerah berjejer berbaris berhadap panggung Paseban Raya untuk menerima langsung tanda prasasti dari Sri Maharaja berupa sebuah kotak sebesar setengah telapak tangan kayu hitam persegi panjang berukir tanda kebesaran yang masing-masing berbeda sesuai penobatan, pengukuhan dan anugerah yang diberikan.

Dan akhirnya, tahap demi tahap pelaksanaan upacara suci penobatan, pengukuhan itu pun berakhir. Ditandai dengan turunnya Sri Maharaja dan Permaisuri meninggalkan panggung Paseban Raya.

“Selamat bertugas Rakryan Rangga Mahesa Pukat”, berkata Rakryan Tumenggung Honggopati kepada Mahesa Pukat dalam sebuah perjamuan besar yang diadakan sebagai rasa suka cita setelah upacara di paseban Raya telah usai.

“Terima kasih, mohon doa restunya”, berkata Mahesa Pukat kepada Rakryan Tumenggung Honggopati sahabat lamanya itu.

Sementara itu, di tempat yang sama, Mahesa Murti tengah berbincang bersama seorang Bhirawa yang juga sama-sama diberi anugerah Tanah Sima.

“Semoga Sri Maharaja selalu diberkati oleh para Dewa”, berkata Sang Bhirawa kepada Mahesa Murti. “Sri Maharaja tangannya bermata, bersaksi atas segala jasa”, lanjutnya.

“Anugerah ini adalah titipan dari Yang Maha Pemberi Anugerah, lewat tangan Sri Maharaja anugerah ini dititipkan”, berkata Mahesa Murti.

“Pandangan Anakmas begitu luhur, berbahagialah Penasehat Agung Mahendra, telah berputra seperti anakmas”, berkata Sang Bhirawa kepada Mahesa Murti yang juga mengenal Mahendra.

———-oOo———-

SFBdBS-01-003

Dan perjamuan masih terus berlangsung, suka cita meliputi suasana kegembiraan menyambut keputusan Sri Maharaja menempatkan beberapa keluarga dekat di daerah-daerah yang penting. Sebuah keputusan yang tepat untuk mengikat kedaulatan Singasari Raya. Disamping juga dengan cerdas telah memberikan anugerah kepada para pendeta dan kawula biasa yang telah banyak berjasa yaitu berupa Tanah Sima. Dukungan akan menjadi semakin meluas untuk kedamaian bumi Singasari Raya.

Ditengah perjamuan yang hangat itu, datang menghampiri Mahesa Murti seorang yang berperawakan tubuh tegap, penuh wibawa, namun wajahnya selalu menunjukkan senyum keramahan. Dengan penuh hormat Mahesa Murti menyambut orang yang menghampirinya itu yang sudah dikenalnya, yang tidak lain adalah Ratu Anggabhaya Mahesa Cempaka. Bersamanya seorang anak laki-laki remaja seusia Mahesa Amping.

“Beri hormat kepada Pamanmu”, berkata Ratu Anggabhaya memperkenalkan anak laki-laki yang mempunyai wajah begitu tampan yang tidak lain adalah putranya sendiri Raden Wijaya.

“Menghaturkan hormat untuk Paman Mahesa Murti”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti penuh kesopanan yang dibalas dengan salam hormat kembali dari Mahesa Murti yang dalam pandangan pertamanya sangat menyukai anak laki-laki yang begitu tampan didepannya penuh kesopanan dan mengenal tatakrama, tidak seperti putra bangsawan yang sering dijumpainya, begitu angkuh, merasa lebih tinggi martabatnya dan selalu ingin dihormati.

“Apakah aku sudah setua seorang Paman?”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang menoleh kepada Ratu Anggabaya meminta pertimbangannya bahwa memang dalam pandangannya melihat Mahesa Murti memang masih begitu muda.

“Aku memanggil ayahmu sebagai Paman Mahendra, sudah sewajarnya putraku memanggilmu dengan sebutan Paman”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Murti sekaligus meluruskan kebimbangan Raden Wijaya.

“Bagaimana bila aku memanggil Paman muda Mahesa Murti”, berkata Raden Wijaya yang disambut tawa dari Mahesa Murti maupun Ratu Anggabhaya sendiri.

“Tidak ada Paman Muda, juga Paman tua, Paman ….ya paman…”, berkata Ratu Anggabhaya yang disambut tawa oleh Mahesa Murti dan juga Raden Wijaya.

“Betul – betul – betul”, berkata Raden Wijaya dengan jenaka yang disambut tawa mereka bertiga. Beberapa pasang mata menjadi iri melihat keakraban mereka bertiga. Mahesa Murti sendiri melihat kejenakaan Raden Wijaya yang masih remaja ini jadi semakin menyukainya. Sepertinya mereka sudah saling mengenal begitu lama.

“Sebenarnya kami berharap anakmas Mahesa Murti dapat menggantikan kedudukan adikmu Mahesa Pukat sebagai guru keluarga Istana”, berkata Ratu Anggabhaya.

“Hamba akan menjunjung tinggi titah tuanku”, berkata Mahesa Murti penuh hormat namun ada kegelisahan didalam hatinya.

“Tapi kami lebih menghargai kedudukanmu sebagai pemimpin Padepokan Bajra Seta” berkata Ratu Anggabhaya dengan senyum dikulum sepertinya dapat membaca kegelisahan hati Mahesa Murti. “Akhirnya kami berpikir lain….”, berkata kembali Ratu Anggabhaya masih dengan senyumnya bermaksud agar Mahesa Murti tidak lagi gelisah. Tapi ternyata Mahesa Murti menjadi lebih gelisah menunggu akhir kata Ratu Anggabaya selanjutnya.

“Kami bermaksud ingin menitipkan putraku ini di Padepokan Bajra Seta”, berkata Ratu Anggabaya kepada Mahesa Murti yang sepertinya telah keluar dari himpitan beban berat. Nampak Mahesa Murti sepertinya menarik napas panjang setelah menahan nafas sekejab menerka-nerka kemana arah pembicaraan Ratu Anggabhaya.

“Kami di Padepokan Bajra Seta menerima putra Raden Wijaya sebagai sebuah kehormatan”, berkata Mahesa Murti sambil memandang Raden Wijaya yang juga tengah memandangnya dengan wajah penuh kegembiraan.

“Ini bukan keputusan kami, tapi putraku sendiri yang menghendaki”, berkata Ratu Anggabhaya sambil menepuk-nepuk pundak Raden Wijaya.

“Maafkan aku Paman, mudah-mudahan kehadiranku tidak menyusahkan”, berkata Raden Wijaya yang sudah banyak mendengar cerita dari beberapa orang yang dikenalnya mengenai Padepokan Bajra Seta, juga mengenai Mahesa Murti sendiri sebagai seorang pemuda yang ilmunya sudah begitu mumpuni.

“Kapan anakmas Mahesa Murti kembali ke Padepokan Bajra Seta?”, bertanya Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Murti.

“Secepatnya bersamaan keberangkatan Mahesa Pukat ke tempat tugas barunya”, berkata Mahesa Murti kepada Ratu Anggabhaya.

“Kalau begitu, putraku akan mempersiapkan diri”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Mahesa Murti.

“Bintang Fajar akan bersinar di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya ketika berpamitan meninggalkannya. Raden Wijaya menoleh sebentar melambaikan tangannya serta melepaskan senyumnya. Entah kenapa Mahesa Murti begitu simpatik kepada anak remaja itu.

———-oOo———-

SFBDBS-01-004

Dan senjapun telah turun, Mahesa Murti bermalam di rumah Mahendra. Banyak hal mereka bicarakan bersama, mulai dari kedamaian di bumi Singasari yang mulai dapat dirasakan semenjak terbunuhnya Pangeran Gaco Bahari. Mereka juga membicarakan dampak pemberian anugerah Tanah Sima kepada para pimpinan pendeta agama akan berbuah dukungan yang semakin meluas bagi pemerintahan di bumi Singasari Raya.

“Mudah-mudahan Raden Wijaya punya bakat yang besar sebagaimana ayahnya”, berkata Mahendra kepada Mahesa Murti ketika pembicaraan beralih kepada rencana Ratu Anggabhaya yang akan menitipkan Raden Wijaya di Padepokan Bajra Seta. Sekilas Mahendra terkenang kembali kemasa silam, masa ketika membimbing dan membina Ratu Anggabhaya dan Sri Maharaja di Padepokan terpencil milik Witantra.

“Aku menyukai anak itu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahendra.

“Raden Wijaya sudah mempunyai dasar-dasar yang baik dalam olah kanuragan lewat Ayahnya sendiri tentunya”, berkata Mahendra.

“Juga lewat Mahesa Pukat sebagai guru keluarga Istana”, berkata Mahesa Murti

“Benar”, berkata Mahendra

“Artinya tugasku melanjutkan dan mengembangkan apa yang telah dimiliki Raden Wijaya”, berkata Mahesa Murti.

“Raden Wijaya akan dapat melaluinya, karena ada di jalur yang sama”, berkata Mahendra.

“Mudah-mudahan apa yang kita harapkan dapat terwujud”, berkata Mahesa Murti berharap tidak ada hambatan dalam membina Raden Wijaya.

“Raden Wijaya adalah harapan masa depan bagi bumi Singasari ini”, berkata Mahendra memandang jauh ke depan.

“Sebagai cakra membawa Singasari raya terus melaju berkembang”, berkata Mahesa Murti penuh semangat.

“Cakra?”, bertanya Mahendra yang tiba-tiba saja teringat kepada orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari. “Dimana kira-kira orang itu berada”, berkata Mahendra sepertinya kepada dirinya sendiri.

“Orang yang mempunyai tanda cakra dilengannya, maksud ayah?”, bertanya Mahesa Murti kepada Mahendra yang dibalas dengan anggukan kepala mengiyakan.

“Apa yang ayah ketahui mengenai orang itu?”, bertanya Mahesa Murti.

“Dalam pertempuran denganmu, aku melihat tatagerak yang sama, sebagaimana Mahesa Agni dan dirimu”, berkata Mahendra

“Aku belum menangkap apa yang ayah maksudkan”, berkata Mahesa Murti yang belum menangkap arah pembicaraan Mahendra.

“Di dalam dirimu sudah melebur perguruan ayah dan Mahesa Agni”, berkata Mahendra mulai menjelaskan. “aku melihat tatagerak yang sama pada orang itu, lebih mendekati tatagerak Mahesa Agni”, berkata Mahendra melanjutkan.

“Kesimpulan apa yang ayah dapatkan dari orang itu”, berkata Mahesa Murti.

“Keyakinan bahwa benar orang itu berasal dari perguruan Windu Sejati”, berkata Mahendra kepada Mahesa Murti.

“Apa hubungannya dengan Paman Mahesa Agni?”, bertanya Mahesa Murti

“Empu Brantas pendiri perguruan Windu Sejati adalah saudara kandung Empu Purwa, guru Mahesa Agni “, berkata Mahendra.

“Aku baru menyadarinya sekarang”, berkata Mahesa Murti mengenang kembali pertempurannya dengan orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari.

“Sayangnya kita berdiri berseberangan jalan dengan orang itu”, berkata Mahendra.”Itulah perjalanan hidup, kami pun dulu pernah berseberangan jalan dengan Mahesa Agni ketika ia membela kubu Ken Arok menantang pamanmu Witantra dalam perang tanding”, berkata Mahendra mengenang masa-masa silam.

“Artinya, siapa pun bisa salah langkah”, berkata Mahesa Murti mencoba menyimpulkan perkataan Mahendra.

“Semua adalah garis dan ketetapan dari Yang Maha Agung”, berkata Mahendra.

“Dengan cara apa kita mengenal kebenaran itu ayah?”, bertanya Mahesa Murti

“Menilai, dengan cara apa kita menegakkan kebenaran itu sendiri”, berkata Mahendra. “Menilai dengan suara hati”, lanjutnya perlahan.

Dan tidak terasa sang malam pun sudah menutupi hari, keindahan bunga soka di pojak depan halaman rumah Mahendra sudah tidak terlihat lagi, tertutup keremangan malam bersama angin dingin yang sepertinya mencubit genit, mengusir dan mengajak Mahesa Murti dan Mahendra beranjak dari duduknya. Mengantar mereka tidur dan bermimpi tentang fajar dan beningnya pagi.

———-oOo———-

SFBdBS-01-005

Pagi masih begitu suram, suara kicau burung telah membangunkan Mahesa Murti. Segera Mahesa Murti menuju ke pakiwan untuk bersih-bersih diri. Setelah berganti pakaian, Mahesa Murti pun keluar menuju pendapa.

Ternyata Mahendra telah ada di pendapa, entah sejak kapan Mahendra duduk di pendapa itu, Mahesa Murti diam-diam memuji kebiasaan Mehendra bangun di awal pagi. Wajah tuanya masih begitu segar, meski beberapa bagian sudah terlihat berkerut.

“Aku ingin menitipkan sesuatu”, berkata Mahendra ketika Mahesa Murti selesai meneguk minuman hangat.

“Mahesa Agni telah menitipkam kitab ini kepadaku, kuharap kamu dapat menyimpannya”, berkata Mahendra sambil memberikan sebuah kitab rontal yang tidak begitu tebal terbuat dari bahan kulit binatang.

Berdebar Mahesa Murti memegang kitab itu, wajahnya menatap penuh kekhawatiran memandang Mahendra di depannya.

“Jangan memandangku seperti itu, sepertinya aku akan mati besok”, berkata Mahendra tersenyum memandang Mahesa Murti, sepertinya dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Mahesa Murti.

“Apakah ayah pernah mempelajari isi kitab ini?”, berkata Mahesa Murti setelah menguasai dirinya.

“Kitab ini berisi ujar-ujar bagaimana berperilaku terhadap alam, sesama makhluk hidup, juga terhadap Sang Pencipta”, berkata Mahendra menjelaskan isi dari kitab yang diberikan kepada Mahesa Murti. “Hanya pada bagian terakhir dari kitab ini yang tidak pernah bisa kumengerti”, berkata Mahendra melanjutkan.

Dengan tidak sengaja, Mahesa Murti membuka halaman terakhir dari kitab yang dipegangnya, bukan main terperanjat hatinya membaca kalimat yang ada dilembar terakhir dari kitab itu.

“Carilah aku dimana tidak ada aku”, perlahan Mahesa Murti membaca kalimat yang tertulis.

“Ya, kalimat itulah yang belum aku mengerti”, berkata Mahendra.

“Orang bertanda cakra itu pun, ketika hendak pergi, mengucapkan kalimat ini”, berkata Mahesa Murti.

“Mungkin sebagai isyarat, bahwa kamu sealiran dengannya, ketika bertempur denganmu dan melihat ada beberapa tatagerak yang sama, mungkin juga ia menyangka, bahwa kamu telah memiliki kitab ini”, berkata Mahendra mencoba menduga-duga isyarat perkataan orang bertanda cakra itu.

Dan suasana pun sepertinya membisu, Mahesa Murti dan Mahendra sepertinya telah jauh di alam pikirannya masing-masing.

Sementara itu, matahari sudah merayap menerangi halaman pendapa rumah Mahendra. Seseorang datang mendekati tangga pendapa, ternyata Mahesa Pukat.

Setelah menyapa dan menyampaikan keselamatan masing-masing, Mahesa Pukat pun memberi kabar bahwa dirinya akan berangkat ke benteng Cangu hari itu juga.

“Secepat ini?”, berkata Mahendra kepada Mahesa Pukat.

“Bukankah sebagai prajurit harus siap menerima perintah?”, berkata Mahesa Pukat sambil melirik kepada Mahesa Murti.

“Untungnya aku bukan prajurit”, berkata Mahesa Murti sambil tersenyum.

“Kukira, kamu akan berangkat dua atau tiga hari ini, biarlah aku bermalam sehari ini lagi”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Pukat sambil sebentar memandang wajah ayahnya Mahendra yang nampak begitu sedih. Mahesa Murti dapat merasakan bagaimana seorang ayah yang akan berpisah jauh dari anak-anaknya, dalam usia senjanya. Dan perkataan Mahesa Murti adalah sebagai upaya sedikit menghibur kelaraan Mahendra.

Tidak lama Mahesa Pukat duduk bersama di pendapa. Setelah menikmati beberapa potong makanan dan minuman hangat, Mahesa Pukat berpamit diri.

“Hati-hatilah kamu menjaga diri”, berkata Mahendra melepas Mahesa Pukat melangkah menuruni anak tangga pendapa.

Mahendra dan Mahesa Murti mengiringi kepergian Mahesa Pukat dengan pandangan dan hati yang trenyuh, hingga akhirnya Mahesa Pukat tidak terlihat lagi menghilang ditikungan jalan.

Tidak banyak yang dilakukan Mahesa Murti di rumah Mahendra hari itu, selain menggenapi kerinduan mereka. Dan tidak terasa hari berlalu begitu cepat menembus senja, menggulung malam dan menarik sang matahari pagi berdiri di ujung timur cakrawala.

Pagi itu, Mahesa Murti dan Raden Wijaya di punggung kudanya keluar dari gerbang Kotaraja, diiringi tatapan mata Mahendra tua sampai jauh menghilang terhalang jalan bukit yang menurun.

Dengan menghela napas panjang, Mahendra perlahan menghentak kudanya berbalik badan. Dan membiarkan langkah kudanya berjalan perlahan. Matanya jauh memandang ke depan, memandang hari-hari dalam kesendiriannya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-006

Ternyata Mahendra sengaja memperlambat langkah kudanya, sepertinya ada yang ditunggunya. Dan benar saja, tidak lama kemudian ada suara langkah kuda mendekat.

“Sudah hamba duga, ternyata Pangeran Lembu Tal yang bersembunyi di semak-semak dekat gerbang Kotaraja”, berkata Mahendra ketika orang berkuda sudah ada berjalan di sampingnya.

“Mata Ki Mahendra begitu awas”, berkata Pangeran Lembu Tal tersenyum malu.

“Kenapa Pangeran bersembunyi?, bertanya Mahendra kepada Pangeran Lembu Tal.

“Semula aku pura-pura tidak memperlihatkan kesedihanku di depan Raden Wijaya, tapi hati ini tak kuat, akhirnya diam-diam aku mengikutinya sampai gerbang Kotaraja”, berkata Pangeran Lembu Tal berterus terang kenapa dia bersembunyi.

“Pangeran tidak setuju Raden Wijaya berguru di Padepokan Bajra Seta?”, bertanya Mahendra.

“Semula aku memang keberatan, bukan aku tidak percaya kepada Mahesa Murti, tapi usia Raden Wijaya menurutku masih begitu dini dan belum waktunya merantau jauh”, berkata Pangeran Lembu Tal. “Tapi keinginan anak itu begitu keras, langsung menyampaikan keinginannya kepada kakeknya sendiri Ratu Anggabhaya. Dan ternyata Ayahku Ratu Anggabhaya merestuinya”, berkata Pangeran Lembu Tal mengakhiri penjelasannya dengan mengangkat kedua pundaknya yang diartikan bahwa dia sendiri tidak bisa mencegah keputusan ayahnya Ratu Anggabhaya.

“Ratu Anggabhaya sepertinya sangat menyayangi Raden Wijaya”, berkata Mahendra

“Bukan Cuma menyayangi, tapi benar-benar memanjakannya”, berkata Pangeran Lembu Tal

“Begitu sayangnya, hingga kepada siapapun membahasakan Raden Wijaya sebagai putranya”, berkata Mahendra tersenyum datar.

“Betul, aku putranya sendiri sepertinya sudah tersisihkan”, berkata Pangeran Lembu Tal.

Mahendra hanya tersenyum tidak menyambut lagi perkataan Pangeran Lembu Tal, pikirannya melambung jauh, membayangkan dikerumuni beberapa cucunya yang nakal dari anak-anaknya. ”Mungkinkah aku mengalaminya?”, berkata Mahendra dalam hati.

“Tidak terasa kita sudah sampai”, berkata Pangeran Lembu Tal menghentikan lamunan Mahendra ketika mereka sudah berada di pintu gerbang Istana.

Mahendra dan Pangeran Lembu Tal pun saling berpamit diri kembali ke rumahnya masing-masing didalam istana Singasari.

Sementara itu, masih di Istana, di bangsal keluarga istana, seorang pemuda nampak begitu gelisah di kamarnya. Sudah seharian ia tidak keluar kamar.

Di luar pintu, seorang wanita tua, seorang dayang pengasuh menunggu gelisah. Tadi pagi ia mencoba mengingatkan bahwa makanan pagi sudah disiapkan, bukan main kagetnya, pemuda itu malah membentaknya. Sebagai seorang dayang pengasuh yang sudah lama melayani pemuda itu, baru kali ini ia menerima perlakuan majikannya yang tidak seperti biasanya.

“Pangeran…..hari sudah siang, apakah pangeran tidak lapar?”, berkata wanita tua itu dari depan pintu yang tertutup, memberanikan diri bercampur perasaan cemas.

“Menjauhlah dari kamarku, aku lagi tidak mau makan”, terdengar suara keras dari dalam.

Nampak wanita tua itu menarik napas panjang, dengan wajah sedih penuh kecemasan akhirnya meninggalkan kamar pemuda itu.

Siapakah pemuda di dalam kamar yang dipanggil pangeran oleh wanita tua itu, pemuda itu adalah Pangeran Kertanegara sang putra mahkota. Sudah seharian ia tidak keluar kamarnya. Hatinya sedang begitu gundah gulana.

Pada dasarnya, Pangeran Kertanegara adalah seorang yang berperilaku lemah lembut. Itulah sebabnya wanita tua itu begitu kaget mendapatkan perilaku yang berbeda dari biasanya. Beribu pertanyaan berputar di kepalanya. Ada apa dengan junjungannya ini, yang sangat dikenalnya dari sejak kecil sampai menjelang dewasa seperti ini.

Kegundahan Pangeran Kertanegara berawal dari penempatan Kebo Bangkalan yang dialih tugaskan sebagai wakil Adipati di pulau Madura, seorang perwira tinggi yang banyak berjasa dan sangat di percaya oleh Sri Maharaja. Kebo Bangkalan mempunyai seorang putri bernama Menik Kaswari, seorang gadis belia yang cantik jelita. Kecantikan inilah yang merebut hati Pangeran Kertanegara. Dan ternyata Menik Kaswari tidak “menolak cinta” dari Pangeran Kertanegara. Sebuah kebodohan besar bila ada gadis yang tidak “menginginkan” seorang Pangeran putra mahkota. Hampir setiap senja, Pangeran Kertanegara main ke rumah Menik Kaswari.

Pangeran Kertanegara masih berbaring di tempat tidurnya dengan menyandarkan dua lengannya di belakang kepalanya. Masih teringat jelas apa yang dikatakan Menik Kaswari dua hari yang lalu ketika dirinya datang berkunjung.

“Sri Maharaja tidak merestui hubungan kita”, berkata Menik Kaswari kepada Pangeran Kertanegara di suatu senja.

“Pengangkatan Paman Kebo Bangkalan tidak ada kaitannya dengan hubungan kita”, berkata Pangeran Kertanegara menjelaskan.

“Ayahandamu jahat”, berkata Menik Kaswari sambil berlari masuk ke dalam rumahnya.

Perkataan terakhir Menik Kaswari inilah yang sepertinya terus menggema mengisi setiap sudut kamarnya, menggema berputar-putar memenuhi seluruh hati dan pikirannya.

“Mungkinkah Ayahanda diam-diam tidak menghendaki hubunganku dengan Menik Kaswari?”, berkata Pangeran Kertanegara dalam hati sendiri.

“Atau diam-diam Ayahanda telah menentukan calon seorang putri untukku?”, kembali Pangeran Kertanegara berkata dalam hatinya sendiri.

“Kenapa aku harus terlahir sebagai Putra Mahkota?”, kembali Pangeran Kertanegara bertanya kepada dirinya sendiri, sepertinya menyesali keberadaannya sebagai Putra Mahkota.

“Ayahandamu jahat !!!”, kembali suara itu sepertinya begitu dekat berputar-putar ditelinganya. Pangeran Kertanegara nampak menutup dua telinganya, tapi suara itu sepertinya masih tetap terdengar.

Terbayang pula Wajah cantik Menik Kaswari yang saat ini telah jauh darinya tengah di goda oleh beberapa pemuda.

Tiba-tiba saja Pangeran Kertanegara bangkit dan duduk dari pembaringannya. Matanya membesar berputar-putar.
“Menik Kaswari harus jadi istriku!!”, pikiran itulah yang ada dalam tekad Pangeran Kertanegara saat itu.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-007

Cinta memang buta, apalagi untuk seorang pemuda yang baru mengenal adanya perasaan cinta sebagaimana yang dirasakan saat itu oleh Pangeran Kertanegara. Rasa takut kehilangan orang yang dicintai, rasa cemburu mengaduk-aduk perasaan pangeran Kertanegara. Sepertinya hanya satu wanita yang pantas mendampingi hidupnya saat itu. Manik Keswari seorang !!.

Tapi, Pangeran Kertanegara bukan pemuda yang lemah, sebagai putra mahkota sudah digembleng lahir dan bathin. Nampak Pangeran Kertanegara mengatur pernapasannya. Memusatkan akal dan budinya kepada Sanghyang pencipta seluruh alam. Dalam sekejab pernapasannya seperti teratur, warna wajahnya berubah menjadi sejuk penuh ketenangan.

“Cinta memang harus diperjuangkan, tapi tidak dengan mengurung di kamar ini”, berkata Pangeran Kertanegara kepada dirinya sendiri.

“Maafkan aku Bibi, tadi pikiranku lagi kusut”, berkata Pangeran Kertanegara ketika membuka pintu kamarnya melihat bibi pengasuhnya sedang duduk gelisah.

Seperti diguyur air dingin, perempuan tua itu begitu bahagianya menerima senyuman dari junjungannya.

“Hamba siapkan makanan untuk Pangeran”, berkata perempuan tua itu kepada Pangeran Kertanegara.

Dan senja pun dalam wajah sendu berlalu, digantikan oleh wajah malam yang gelab. Angin dingin malam tidak menyurutkan perasaan para prajurit pengawal istana bergiliran keluar dari gardu rondanya, berkeliling lorong-lorong bangsal istana, memastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sementara itu di cakrawala sang putri malam masih tetap terjaga menyulam jubah pangeran terkasih, begitu setianya menemani sang Raja malam.

Di ujung malam, di saat cahaya bintang timur terlihat begitu cemerlang, berkelebat sesosok bayangan mengendap di antara rimbunnya gerumbul tanaman bunga. Bayangan itu terlihat mendekati dinding batu Istana yang tinggi. Melesat, melenting mencapai puncak dinding batu, dan akhirnya menghilang dibalik pagar dinding batu istana.

Pagi telah datang, cahaya matahari telah menerangi setiap jengkal tanah dan lorong Istana Singasari. Bukan main kagetnya dua orang prajurit pengawal yang bertugas sebagai pengawal sang putra mahkota melihat bibi dayang pengasuh berlari gugup menghampiri mereka.

“Pangeran tidak ada di kamarnya”, berkata perempuan tua itu kepada dua orang prajurit pengawal.

“Bibi sudah mencari di tempat lain?”, berkata seorang prajurit pengawal bertubuh pendek kepada Dayang pengasuh.

“Belum”, berkata Dayang pengasuh.

“Kalau begitu, kami akan mencarinya”, berkata teman prajurit pengawal yang satunya lagi.

Dua orang prajurit pengawal mencari Pangeran Kertanegara hampir di setiap tempat di seluruh istana.

“Apakah kamu melihat Pangeran Kertanegara?”, bertanya seorang prajurit pengawal bertubuh pendek kepada seorang pekatik yang tengah mengumpulkan rumput yang masih hijau dan segar untuk makanan kuda.

“Pangeran Kertanegara tidak pernah berkunjung kemari, pernah…..tapi dalam mimpiku”, berkata Pekatik tua merasa pertanyaan prajurit pengawal itu bukan suatu yang penting, bahkan melanjutkan, “paginya aku mendapat rejeki besar, kambingku di rumah beranak empat ekor”.

Bukan main geramnya para prajurit pengawal itu mendapat jawaban pekatik tua itu, kalau bukan saat itu tengah menghadapi suasana yang mendebarkan, hilangnya seorang putra mahkota, mungkin pekatik tua itu sudah ditempeleng bolak-balik sampai tersungkur makan rumput.

“Kita cari di tempat lain”, berkata teman prajurit yang satu lagi yang kelihatannya lebih sabar menggamit tangan temannya.

Matahari di cakrawala sudah merayap naik meninggalkan pagi, cahayanya sudah menghangatkan kulit. Lebih-lebih kulit dua orang prajurit pengawal yang masih juga tidak mendapatkan Pangeran Kertanegara, hampir di setiap tempat di lingkungan Istana.

“Kita laporkan kepada Ki Lurah”, berkata Prajurit pengawal bertubuh pendek merasa putus asa.

“Ya, kita harus segera melapor”, berkata Prajurit pengawal yang satunya lagi.

“Panggil beberapa prajurit untuk mencari Pangeran di sekitar Kotaraja”, berkata Ki Lurah setelah menerima laporan Prajurit pengawal.

Para prajurit berpencar mencari Pangeran Kertanegara di setiap sudut Kotaraja. Pangeran Kertanegara seperti menghilang ditelan bumi. Hampir setiap orang menggeleng tidak tahu dan tidak melihat Pangeran Kertanegara.

Berita hilangnya Pangeran Kertanegara akhirnya sudah sampai ke telinga Sri Maharaja.

“Pesankan kepada para petugas sandi, tugasnya hanya menemukan dimana Pangeran Kertanegara berada, tidak ada kewajiban membawanya kembali ke Istana”, berkata Sri Maharaja ke pada Arya Kuda Cemani yang telah sengaja dipanggil menghadap. Tidak ada sedikitpun kesan kecemasan pada wajah Sri Maharaja.

“Hamba mohon diri”, berkata Arya Kuda Cemani berpamit mohon diri kepada Sri Maharaja.

Ternyata Pangeran Kertanegara tidak menghilang ditelan bumi, hanya sudah begitu jauh meninggalkan Kotaraja. Seperti anak panah terlepas dari busurnya, seperti anak elang yang sudah bersayap penuh. Pangeran Kertanegara dengan gembira menyusuri padang alang-alang yang luas, mendaki hijaunya pegunungan, menyusuri hijaunya lereng pegunungan.

Begitu indahnya cinta. Panasnya matahari, dinginnya malam di alam terbuka tidak menyurutkan hati Pangeran Kertanegara. Keinginan Pangeran Kertanegara cuma satu, menemui impian cintanya Menik Kaswari, mengatakan dan membuktikan begitu kuatnya rasa cintanya tak terhalangi tingginya gunung, luasnya belantara hutan. Dan Pangeran Kertanegara sepertinya tengah berjalan sebagai prajurit cinta, akan menerjang apapun rintangan perlawanan cintanya !!!.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-008

Sementara kita tinggalkan dulu Pangeran Kertanegara, mari kita mengikuti perjalanan Mahesa Murti dan Raden Wijaya menuju Padepokan Bajra Seta.

Raden Wijaya begitu gembiranya duduk di punggung kuda diiringi Mahesa Murti menyusuri bulakan panjang, menembus padang ilalang, mendaki bukit hijau mengejar bayangan Matahari di ujung cakrawala senja.

Mahesa Murti kali ini sengaja tidak berjalan ke arah seperti biasanya menuju Padepokan Bajra Seta, tapi sedikit melambung sekedar melihat keadaan lingkungan disekitarnya. Diam-diam mengagumi Raden Wjaya yang tidak sedikitpun surut merasa letih kelelahan. Wajahnya selalu segar ceria memandang setiap jengkal pemandangan, pohon besar ditengah padang ilalang, anak kijang yang berlari atau kemana arah raja elang menukik menyambar tikus naas yang tidak sempat sembunyi.

“Kasihan tikus itu”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti.

“Kasihan juga kepada anak-anak elang yang menanti di puncak gunung tinggi dalam keadaan penuh kelaparan”, berkata Mahesa Murti memberi pengertian tentang hubungan keseimbangan alam.

“Aku baru mengerti, seandainya tidak ada Raja Elang, mungkin bumi ini dikeliling ribuan tikus karena tidak ada yang memangsanya”, berkata Raden Wijaya menangkap sebatas penalarannya yang dibalas anggukan kepala dari Mahesa Murti.

“Seorang ksatria, terlahir untuk menjaga kedamaian bumi ini”, berkata Mahesa Murti

“Seperti Raja Elang menjaga bumi ini”, berkata Raden Wijaya melanjutkan.

“Di ujung bukit itu, kita akan menemui beberapa padukuhan”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

Matahari hampir tenggelam di balik bukit, Mahesa Murti dan Raden Wijaya mempercepat langkah kuda, mengejar matahari senja agar dapat tiba di Padukuhan di balik bukit disaat hari belum menjadi gelap.

Hari memang belum menjadi gelap, manakala mereka tiba di Banjar desa sebuah Padukuhan. Sebagaimana para pengembara, mereka pun meminta ijin penunggu Banjar untuk bermalam.

“Nampaknya para warga desa di sini begitu ramah”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti ketika seorang penunggu Banjar berlalu meninggalkan setumpuk singkong rebus dan minuman hangat untuk mereka.

Mahesa Murti hanya tersenyum, menyilahkan Raden Wijaya menikmati hidangan yang disediakan.

Sang malam pun semakin menyelimuti bumi, mempersilahkan segala yang hidup untuk tidur, kecuali para makhluk malam yang mencari penghidupannya di saat malam menjelang.

“Tidur lah lebih dulu, aku akan segera menyusul”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

Ketika Raden Wijaya nampak sudah tertidur pulas, Mahesa Murti tidak segera tidur. Mahesa Murti hanya bersandar di dinding, matanya nampak terpejam, tapi hati dan pikirannya selalu terjaga. Begitulah naluri para pengembara dimanapun mereka berada. Selalu waspada.

Dan pagipun tiba, disaat semburat warna merah muncul dari timur matahari, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah keluar dari regol banjar desa. Rancak langkah kuda berjalan menyusuri pesawahan. Beberapa petani sudah tengah bekerja mengolah tanah disawahnya, saat itu memang awal musim penghujan, saat yang baik untuk memulai menanam bibit.

“Mereka terlahir sebagai petani”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti sambil memperlambat laju kudanya. Pikirannya begitu takjub dengan semangat para petani yang begitu gembira bekerja menyambut datangnya musim tandur, musim untuk memulai menanam padi.

“Raden sendiri terlahir sebagai ksatria”, berkata Mahesa Murti sambil menyamakan laju kudanya disamping kuda Raden Wijaya.

“Apa yang membedakan aku dengan mereka?”, bertanya Raden Wijaya.

“Mereka memegang cangkul, sementara Raden menggenggam pedang di tangan”, berkata Mahesa Murti. “Mereka menanam padi, sementara Raden menanam kedamaian”, lanjut Mahesa Murti.

“Gusti Kang Akarya Jagad telah menentukan dimana mereka dilahirkan” Berkata Raden Wijaya menirukan pendeta istana yang mengajarkan ilmu kejiwan kepadanya.

“Betul Raden, ada yang terlahir sebagai brahmana, ada yang terlahir sebagai Ksatria, ada yang terlahir sebagai Saudagar dan terlahir sebagai petani”, berkata Mahesa Murti.

“Betul, pendeta istana pernah berkata seperti itu”, berkata Raden Wijaya.

“Masih ada yang belum aku sebutkan, ada juga yang terlahir sebagai perusuh”, berkata Mahesa Murti.

“Perusuh?”, bertanya Raden Wijaya

“Ya, mereka yang terlahir sebagai perusuh juga telah ditentukan dan diciptakan oleh Gusti Kang Akarya Jagad”, berkata Mahesa Murti.

“Apakah kita dapat merubahnya?”, bertanya Raden Wijaya

“Kita tidak dapat berbuat apapun, kecuali atas kehendak Gusti Kang Maha Agung”, berkata Mahesa Murti.

“Aku masih belum paham”, berkata Raden Wijaya.

“Untuk dapat mengenal kehendak Gusti Kang Akarya jagad, harus mengenal dan memahami alam wadag dan alam bathin”, berkata Mahesa Murti yang banyak mengenal ilmu kajiwan lewat Kiai Wijang mencoba menjelaskan kepada Raden Wijaya.

“Aku semakin tidak mengerti”, berkata Raden Wijaya”

“Mudah-mudahan, dengan kehendak Nya, Raden akan memahami”, berkata Mahesa Murti yang menyadari belum waktunya bicara masalah ilmu kajiwan lebih dalam kepada Raden Wijaya.

“Sebentar lagi kita akan menjumpaian persimpangan jalan, sudah waktunya kita mengambil arah kekanan”, berkata Mahesa Murti sambil menunjuk arah jauh di depan mereka.

“Pengembara melangkah”, berkata Raden Wijaya menirukan sebuah syair.

“Menggandeng Matahari sebagai teman,
Menyembah bintang sebagai guru,
Memberi cinta, senyum bintang kejora”

Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengucapkan sebuah syair bersama, merekapun tertawa bersama, kerena ingat pada syair yang sama pada waktu yang sama. “Pasti kakekmu Ratu Anggabhaya yang mengajarkan syair itu kepadamu”, berkata Mahesa Murti.

“Betul”, berkata Raden Wijaya.

“Artinya kita punya guru yang sama”, berkata Mahesa Murti

“Buyut Mahesa Agni yang paman maksudkan?, berkata Raden Wijaya

“Betul-betul-betul”, berkata Mahesa Murti yang di sambut tawa oleh Raden Wijaya, dalam pikirannya, ternyata Mahesa Murti dapat juga berlaku jenaka.

Dan di persimpangan jalan, sebagai mana yang Mahesa Murti katakan, mereka pun telah mengambil arah ke kanan. Dan sang matahari dengan setia mengiringi langkah mereka sepanjang hari perjalanan yang masih panjang.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-009

Panas matahari memancar kuat dari puncak cakrawala langit, panasnya seperti membakar kulit Mahesa Murti dan Raden Wijaya. Untungnya hembusan angin sedikit melunakkan panasnya matahari di siang jentrik itu.

“Hutan Kondang sudah terlihat”, berkata Mahesa Murti menunjuk gerumbul warna hitam samar di depan mereka, masih jauh, tapi sebuah hiburan terutama untuk Raden Wijaya yang terlihat wajahnya memerah terbakar panasnya matahari.

Seperti dihentak perasaan yang sama, mereka pun memacu kudanya lebih cepat lagi menunju gerumbul hitam yang sudah semakin dapat terlihat jelas.

Akhirnya, merekapun telah sampai di tepi hutan Kondang. Sebuah hutan yang lebat, sekumpulan pohon yang besar, rapat berdiri di depan mereka, seperti raksasa siap menelan mereka.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah masuk ke dalam hutan Kondang, merasakan segarnya angin dan bau tanah basah. Panasnya sinar matahari yang seperti menggigit kulit sudah tidak dirasakan lagi.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengikuti jalan setapak, sebagai tanda bahwa hutan ini sering dilalui orang.

“Kita beristirahat di sini”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya sambil melompat dari kudanya. Dan Raden Wijaya pun mengikutinya berhenti turun dari kudanya, berjalan mendekati Mahesa Murti yang sudah duduk bersandar di bawah sebuah pohon kayu besar, beralaskan akar kayu yang menonjol keluar dari tanah hitam basah.

“Aku pernah lewat hutan ini, ada sebuah pohon kelapa liar di pojok belukar seberang sana”, berkata Mahesa Murti sambil menunjuk kesebuah arah.

Sebagai orang yang baru pertama kalinya melakukan perjalanan yang jauh, Raden Wijaya hanya meraba-raba apa yang akan di lakukan oleh Mahesa Murti dengan sebuah pohon kelapa. Matanya hanya mengikuti kemana Mahesa Murti berjalan, menembus belukar dan menghilang ditelan kerimbunannya.

Tidak lama kemudian, Mahesa Murti telah muncul keluar dari semak belukar dimana tadi ia sempat menghilang. Ditangannya membawa tiga buah butir kelapa muda.

“Rejeki kita masih baik, tidak keduluan bajing hutan”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya memberikan sebuah kelapa kepadanya.

Dan merekapun melepaskan dahaga dengan meminum air kelapa segar, dan memakan daging buah kelapa sekedar mengisi perut mereka yang sudah waktunya minta dijatahi.

“Buatkan perapian”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang langsung mengerti apa yang harus dilakukannya.

Ketika Raden Wijaya membuat perapian, Mahesa Murti membuka bekalnya, mengambil beras ketan dari dalamnya secukupnya.

“Pinjam belati kecilmu”, berkata Mahesa Murti yang mengetahui Raden Wijaya juga membawa sebilah belati.

Dengan belati itu, Mahesa Murti melubangi buah kelapa muda, memindahkan airnya ketempat kelapa lainya yang sudah tidak berisi. Kemudian dengan sekali ayun, buah kelapa muda itu sudah terbelah dua.

Diam-diam Raden Wijaya kagum melihat begitu ringan dan cekatannya tangan Mahesa Murti, kemudian juga Raden Wijaya melihat Mahesa Murti memasukkan beras itu di batok kelapa yang sudah terbelah, mengaduknya bersama daging muda dan air kelapa. Setelah itu mengikat kembali batok kelapa yang sudah terbelah dua menjadi satu. Dan memasukkannya kedalam perapian yang di buat oleh Raden Wijaya yang sudah menyala bergulung-gulung apinya.

“Masakan sudah siap”, berkata Mahesa Murti membongkar perapian, mengeluarkan batok kelapa yang sudah hitam gosong terbakar.

“Selamat menikmati pengembara muda”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya sambil menyerahkan batok kelapa yang sudah terbelah berisi beras ketan yang sudah masak.

“Masakan yang paling nikmat yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku”,berkata Raden Wijaya setelah mampir tiga suap nasi di mulutnya.

“Masakan ala pengembara”, berkata Mahesa Murti sambil menghabiskan makanannya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-010

Lidah sinar matahari menembus lewat sela-sela daun menerangi tanah basah hutan yang rindang.

Segerombolan monyet jawa melintas berayun dari dahan ke dahan, disambut suara burung-burung yang terkejut terbang menjauh.

“Kita lanjutkan perjalanan ”, berkata Mahesa Murti bangkit dari duduknya, dan Raden Wijaya pun mengikutinya.

Mahesa Murti dan Raden semakin masuk ke dalam hutan. Tidak ada lagi jejak jalan setapak. Terpaksa mereka menuntun kuda-kuda bereka karena jalan semakin bersemak, julur akar dan batang-batang rotan liar sering menghadang perjalanan mereka, namun mereka tidak merasakan sebuah kesulitan besar, setapak demi setapak mereka terus memasuki hutan Kondang semakin kedalam.

Rimbunnya hutan kondang tidak menjadikan Mahesa Murti kehilangan arah. Lumut yang menghijau kekuningan adalah petunjuk arah kemana mereka harus melangkah, Mahesa Murti sepertinya menuju arah utara, di belakang mengiringi Raden Wijaya yang tidak pernah mengeluh, Raden Wijaya sepertinya menikmati perjalanannya.

Tiba-tiba saja langkah mereka terhenti. Mahesa Murti dan Raden Wijaya sama-sama melihat seorang wanita terikat badannya di sebuah batang pohon, tidak jauh sekitar sepuluh depa dari tempat mereka berhenti.

Raden Wijaya turun dari kudanya, segera menghampiri dimana wanita itu terikat. Jarak mereka sudah tinggal empat depa lagi.

“Raden……!!”, berteriak Mahesa Murti yang merasa ada sebuah kejanggalan sambil mendekati Raden Wijaya.

Sayang, peringatan Mahesa Murti sudah terlambat, Raden Wijaya sudah terjerumus dalam sebuah lubang besar. Dengan kecepatan penuh, ditambah perasaan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan Raden Wijaya, Mahesa Murti seperti terbang menyambar tubuh Raden Wijaya.

Mahesa Murti berhasil menangkap tubuh Raden Wijaya, tapi akibatnya mereka berdua terjun bersama kedalam lubang besar. Mahesa Murti dengan merangkul Raden Wijaya mencoba mengurangi daya luncur dengan menjejakkan kakinya di antara tebing lobang yang keras berbatu cadas, Mereka masih tetap terjun kebawah, tapi tidak dengan cara terhempas. Dengan ringan kaki Mahesa Murti telah menjejakkan kakinya didasar lubang. Melepaskan Raden Wijaya yang masih belum terlepas dari rasa tercekam yang begitu sangat.

Berdesir dada Mahesa Murti membayangkan tubuh Raden Wijaya yang hancur dihempas dasar lubang yang bercadas.

Sementara itu di atas lubang beberapa orang berlari menghampiri wanita yang terikat. Dua tiga orang menjenguk kepalanya kedalam lubang. Sementara seorang lainnya membuka ikatan yang mengikat seluruh tubuh wanita itu.

“Perangkap kita berhasil, enam kali purnama lagi, kita terbebas dari kewajiban mencari tumbal”, berkata seorang yang paling tua diantara mereka, sepertinya pimpinan mereka.

Sementara itu didalam lubang, Raden Wijaya telah menguasai perasaannya yang tercekam.

“Gusti yang Maha Agung masih meyelamatkan kita”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya mencoba membantu menenangkannya.

Raden Wijaya berusaha membiasakan penglihatannya di dalam lubang yang gelap, perlahan penglihatannya dapat melihat meski masih begitu samar. Sementara itu Mahesa Murti yang mempunyai penglihatan yang tajam telah lebih dahulu melihat keadaan sekitar. Ketika wajahnya mendongak keatas, dilihatnya lubang diatas kepalanya begitu tinggi sekitar lima belas kali tinggi tubuhnya. Anehnya lubang itu berbentuk bulat bagus seperti ada yang sengaja membuatnya. Ketika dirabanya dinding lubang, ternyata berupa dinding cadas yang keras dan begitu licin ditumbuhi lumut hijau.

“Mungkinkah kita dapat keluar dari lubang ini?”, bertanya Raden Wijaya kepada Mahesa Murti

“Semoga ada jalan keluar”, berkata Mahesa Murti mencoba menenangkan Raden Wijaya meski didalam hati masih merasa sangsi apakah dapat keluar dari lubang yang dalam dan bercadas itu. Tapi Mahesa Murti segera dapat menenangkan dirinya sendiri. Sudah banyak peristiwa yang menggoncangkan perasaannya, bahkan nyaris mengancam nyawanya.

“Kita beristirahat sejenak, sambil mencoba mencari jalan keluar dari tempat ini”, berkata Mahesa Murti sambil duduk bersandar dinding cadas.Raden Wijaya pun duduk mengikutinya sambil matanya masih memperhatikan tiap jengkal lubang yang sudah mulai terlihat jelas.

“Lubang !!”, berteriak Raden Wijaya melihat sebuah lubang sebesar kepala.

Belum habis teriakan Raden Wijaya, dari lubang itu keluar kepala ular dengan mata seperti bernyala langsung merayap mendekati Raden Wijaya.

Mahesa Murti yang melihat keadaan itu, dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata wadag, tangan Mahesa Murti menangkap leher ular itu. Cengkraman tangan Mahesa Murti begitu kuat meremukkan tulang leher ular ganas itu. Dan dengan sekali ayunan, ular itu dibenturkan kedinding cadas yang keras.

Prak…!!! Suara tubuh ular yang remuk tidak bergerak lagi, mati.

Sementara itu Mahesa Murti masih menggenggam leher ular mati itu. Memperhatikan bentuk kepala ular itu dengan seksama, ada jengger aneh menghias kepalanya, kulit tubuh ular itu sendiri berwarna putih, ada dua jalur garis hitam membujur sampai kebuntutnya.

“Ular petir !!”, berkata Mahesa Murti. “seokor harimau yang paling kuat akan langsung mati bila kena patuk ular ini”, berkata Mahesa Murti melanjutkan.

“Apakah paman pernah menemuai ular ini sebelumnya”, bertanya Raden Wijaya.

“Belum, hanya mendengar cerita dari para orang tua”, berkata Mahesa Murti. “menurut cerita para orang tua, ular ini menetas disaat terdengar petir. Waktu mendengar cerita itu, aku menganggapnya sebuah dongeng. Ternyata dongeng itu ada”, berkata mahesa Murti yang masih memperhatikan kepala ular aneh yang baru saja dibantingnya hingga langsung remuk dan mati.

“Apa lagi yang diceritakan para orang tua mengenai ular ini?”, bertanya Raden Wijaya begitu tertarik mendengar cerita tentang ular berjengger yang aneh itu.

Mahesa Murti memandang wajah Raden Wijaya, kagum melihat ketabahan anak ini yang sepertinya telah melupakan kegelisahannya berada di dalam lubang yang dalam. Tidak dapat menduga apa yang akan terjadi di depan mereka.

“Dagingnya berkhasiat sebagai obat”, berkata Mahesa Murti

“Obat untuk penyakit apa?, bertanya Raden Wijaya tidak sabar.
“Obat sakit lapar”, berkata Mahesa Murti tersenyum memandang wajah Raden Wijaya yang ikut tertawa mengetahui kalau ucapan Mahesa Murti ternyata hanya sebuah gurauan.

“Masakan Ular berjengger bakar ala pengembara”, berkata Raden Wijaya yang dibalas tertawa oleh Mahesa Murti. Dan merekapun tertawa bersama, sepertinya tidak ada pikiran dan melupakan nasib kehidupan mereka berada di dalam lubang yang dalam.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-011

“Sepertinya cuaca di atas mendung”,berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

“Hujan sudah turun”, berkata Raden Wijaya merasakan rintik air.

Dan hujan memang sudah turun begitu deras, sedikit demi sedikit air mulai naik didalam lobang. Raden Wijaya membayangkan air akan terus naik, dan mereka bisa mati tenggelam.

“Kita bisa mati tenggelam”, berkata Raden Wijaya dengan begitu gugupnya.

“Belum Raden, kita belum mati”, berkata Mahesa Murti tenang.

“Tapi air hujan akan memenuhi lubang ini”, berkata Raden Wijaya dengan perasaan penuh kekhawatiran melihat air semakin naik sudah sebatas mata kaki.

“Air sudah tidak naik lagi”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang masih belum percaya bahwa air di dalam lubang memang tidak naik lagi, meski air hujan tetap turun mengisi lubang.

“Perhatikan arah air, berjalan tidak kelubang tempat ular petir itu keluar”, berkata Mahesa Murti sambil mencari kemana arah air keluar sehingga tinggi air didalam lubang sepertinya tidak lagi bertambah.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya terus mencari kemana arah air keluar. Akhirnya mereka pun mendapatkan sebuah lubang yang sudah tertutup lumut tebal.

“Lubangnya cukup lebar”, berkata Mahesa Murti setelah berhasil membersihkan lumut-lumut yang menyumbat yang sukar sekali terlihat bila saja tidak ada air hujan yang turun.

Ternyata memang lubang itu tidak terlalu besar, hanya sebatas tubuh orang dewasa.

“Kita tunggu sampai hujan reda, mudah-mudahan di balik lubang ini ada jalan keluar untuk kita”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

Hujan di atas lubang dimana Mahesa Murti dan Raden Wijaya terperangkap di dalamnya memang cukup deras.

Pada waktu itu memang sedang musim penghujan.Ditambah lagi lubang itu sendiri begitu landai sehingga bukan Cuma air yang langsung dari langit yang turun mengisi lubang, tapi air dari tanah sekitar juga ikut mengalir langsung kedalam lubang seperti tumpah.

Tidak ada celah untuk berlindung. Air menimpa kepala Mahesa Murti dan Raden Wijaya seperti batu, datang bertubi-tubi.

Akhirnya, yang diharapkan pun tiba, curah hujan sudah tidak begitu deras lagi.

“Hujan sudah reda”, berkata mahesa Murti yang merasakan tidak ada air lagi yang jatuh menimpa kepalanya.”Mari kita periksa lubang itu”, berkata Mahesa Murti sambil mendekati lubang yang sudah tidak tertutup lumut lagi.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya memperhatikan lubang di hadapan mereka.

“Tidak ada salahnya kita mencoba”, berkata Mahesa Murti sambil menepuk pundak Raden Wijaya mencoba membesarkan perasaan hatinya.

Lubang itu memang sebesar badan orang dewasa. Mahesa Murti dan Raden Wijaya sudah masuk merayap ke dalamnya. Seperti ular yang merayap, mereka pun terus merayap. Mahesa Murti yang merayap di depan dengan ketajaman indera penciumannya, merasakan bahwa semakin masuk ke dalam, udara dirasakan semakin menyegarkan. Entah sudah berapa puluh meter meraka merayap. Tiba-tiba, setelah badan mereka sudah begitu pedih, serta tenaga sepertinya sudah banyak terkuras, Mahesa Murti sampai lebih dulu di ujung lubang. Bukan main gembiranya melihat ada ruangan yang luas di depan matanya.

Ruangan itu mirip sebuah kamar yang luas, di pojok ruangan ada sebuah altar batu yang menonjol lebih tinggi. Langit diatasnya cukup tinggi, ada begitu banyak lubang. Ternyata dari situlah sumber udara segar yang dirasakan Mahesa Murti ketika merayap dalam lubang sempit. Sementara ruangan itu sendiri hampir seluruhnya berdinding batu cadas.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya mendekati altar batu. Dengan terbelalak mereka mendapatkan sebuah tengkorak manusia utuh terbungkus kain yang sudah rapuh dalam keadaan posisi bersila sempurna.

Ada sebuah tulisan yang terpahat bukan dengan benda tajam, sepertinya dipahat oleh sebuah jari tangan. Menyaksikan hal seperti ini menjadikan Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengagumi siapapun orang yang melakukannya, kemungkinan adalah orang yang mereka temui yang tinggal tulang belulang di hadapan mereka.

Pelan-pelan Mahesa Murti membaca pahatan tulisan itu,

“Siapapun yang menemukan jasadku telah berjodoh denganku.
Sempurnakan jasadku di Bengawan Brantas.
Sampaikan maafku kepada para warga Panawejen.
Carilah aku dimana tidak ada aku
Aku yang penuh dosa, bernama Purwaka Lodra”

“Empu Purwa !!”, berbarengan Mahesa Murti dan Raden Wijaya menyebut sebuah nama.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-012

“Seandainya Paman Mahesa Agni ada di sini, betapa gembiranya hatinya”, berkata Mahesa Murti kepada dirinya sendiri yang mengetahui betapa rindunya Mahesa Agni kepada gurunya Empu Purwa. Sudah begitu banyak tempat disinggahi dimana Empu Purma ada kemungkinan dapat dijumpai. Tapi Empu Purwa seperti hilang ditelan bumi.

“Ternyata, Empu Purwa menanti sisa usianya di sini”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

Ketika Mahesa Murti membaca kembali tulisan di atas altar batu, Mahesa Murti meraba sesuatu dibalik kainnya, teringat sebuah rontal milik Mahesa Agni yang dititipkan oleh ayahnya sendiri ketika akan berangkat ke Padepokan Bajra Seta.

Mahesa Murti mengambil rontal dari balik kainnya.

Mahesa Murti tercenung dalam hati. “Empu Purwa sepertinya sudah melihat masa depan, tahu aku pembawa rontal titipan Mahesa Agni akan singgah di tempat ini”, bekata Mahesa Murti sambil memberi hormat kepada sisa tulang tengkorak di depannya yang ia yakini jasad Empu Purwa.

Raden Wijaya yang tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Mahesa Murti mengikuti memberi hormat kepada tulang tengkorak di depannya yang masih tegak dalam posisi bersila sempurna.

“Mari kita beristirahat sejenak”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya merasa kasihan, tentunya pasti perlu beristirahat setelah sekian lama merayap di lubang yang sempit.

Raden Wijaya dan Mahesa Murti pun mencari tempat untuk sekedar bersandar. Ketika Raden Wijaya tengah beristirahat, Mahesa Murti penasaran kembali membaca rontal yang dibawanya. Sebagai orang yang pernah diberikan pencerahan batin lewat Kiai Wijang, dengan cepat Mahesa Murti telah dapat mengurai pokok-pokok penting tuntunan yang ada dalam rontal peninggalan Empu Purwa. Mahesa Murti juga telah dapat mengurai perbedaan yang begitu tipis antara tuntunan yang pernah diberikan Kiai Wijang dengan tuntunan Empu Purwa lewat rontal yang sedang dibacanya.

Mahesa Murti semakin hanyut dalam bacaannya.

Mahesa murti sudah dapat mencerna tuntunan Empu Purwa, bahkan pada kalimat terakhir :

“ Carilah aku dimana tidak ada aku “

“Luar biasa !!”, berkata Mahesa Murti seperti pada dirinya sendiri.

“Apa yang luar biasa Paman ?”, bertanya Raden Wijaya kepada Mahesa Murti. Tapi Mahesa Murti sepertinya tidak mendengar dan juga tidak menjawab pertanyaan Raden Wijaya.

Dengan penuh keheranan Raden Wijaya melihat Mahesa Murti melakukan sila sempurna persis sebagaimana posisi tulang tengkorak Empu Purwa di altar.

Raden Wijaya memang tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Mahesa Murti, ternyata Mahesa Murti telah menemukan sebuah laku yang didapatkan dari rontal peninggalan Mahesa Agni yang juga berarti warisan dari Empu Purwa.

Tapi Mahesa Murti tidak langsung mencoba “laku” itu. Mahesa Murti mencoba “laku” sebagaimana pernah dituntun langsung oleh Kiai Wijang untuk sekedar melihat perbedaan dan kesamaan yang mungkin dapat dirasakannya. Sebagaimana yang diajarkan oleh Kiai Wijang, Mahesa memulai memusatkan semua nalar dan budinya, melihat diri lewat pencitraan sifat perusuh atau macra, setingkat demi setingkat Mahesa Murti mulai masuk lebih kedalam dengan pencitraan sudra, waisya, kesatria dan berada dalam puncak pencitraan Brahmana.

Raden Wijaya melihat Mahesa Murti seperti tidak bergerak, seperti patung hidup, karena Raden Wijaya sama sekali tidak mendengar napas keluar masuk hidung Mahesa Murti.

Raden Wijaya benar-benar tidak paham apa yang tengah dilakukan oleh Mahesa Murti.

Raden Wijaya memang tidak paham apa yang tengah dilakukakn oleh Mahesa Murti. Ternyata Mahesa Murti seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, Mahesa Murti tengah “asyik” didalamnya mencoba sebuah “laku-baru”

Setelah mencoba “laku” yang diajarkan oleh Kiai Wijang, Mahesa Murti mulai mencoba sebuah “laku-baru”, sesuai yang dibaca dalam rontal warisan Empu Purwa. Mahesa Murti langsung melihat kedalam diri, merasakan keakuannya, mencitrakan sosok dan wajahnya sendiri dan tiba-tiba saja mahesa Murti seperti hilang, tidak mendengar apapun, tidak melihat apapun, waktu sepertinya berhenti dalam ketiadaan masa, dan puncaknya merasakan “ketiadaan”, masuk kedalam “kehampaan”.

Bersamaan dengan apa yang tengah dirasakan oleh Mahesa Murti, maka bukan main terperanjatnya Raden Wijaya melihat tubuh Mahesa Murti terangkat sejengkal dan diam di tempatnya sekian lama. Akhirnya Raden Wijaya melihat tubuh Mahesa Murti kembali turun di tempatnya seperti semula. Terlihat Mahesa Murti sepertinya menarik napas panjang.

“Raden”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang masih menatapnya dalam ketidak mengertian. “Ternyata Empu Purwa telah memberikan sebuah rahasia besar, Sepertinya ruh Empu Purwa masih ada di sini memberi petunjuk langsung”, berkata Mahesa Murti sambil menatap tulang tengkorak di altar yang diyakini sebagai jasad Empu Purwa.

“Aku tidak mengerti dan memahami apa yang Paman maksudkan”, berkata Raden Wijaya

“Pada saatnya Raden akan memahaminya”, berkata Mahesa Murti sambil menatap Raden Wijaya, berjanji dalam diri pribadi akan mengajarkan Raden Wijaya apa saja yang baru didapatkanya itu.

“Mari kita mencoba keluar dari tempat ini”, berkata Mahesa Murti kepada raden Wijaya sambil bangkit berdiri.

“Kita berada puluhan meter dibawah tanah, hanya manusia bersayap saja yang bisa keluar dari tempat ini”, berkata Raden Wijaya.

Mahesa Murti tersenyum memandang Raden Wijaya dan berkata, “Marilah kita mencari sayap itu”

“Mencari sayap?”, bertanya Raden Wijaya tidak mengerti. ”Dimana kita mencari sayap?, kembali Raden Wijaya bertanya.

“Kita akan mencari sayap itu, dimulai dari mana Empu Purwa dapat hidup sekian lama jauh dari kehidupan ramai”, berkata Mahesa Murti begitu lembut dan penuh senyum sepertinya tidak tengah berada dalam keadaan apapun.

Dan Raden Wijaya pada dasarnya adalah seorang anak yang cerdas, juga tabah. Melihat ketenangan Mahesa Murti, timbul kembali semangatnya.

“Segera kita mulai”, berkata Raden Wijaya penuh
semangat.

Dan Mahesa Murti bersama Raden Wijaya pun sibuk meneliti dan memperhatikan setiap sudut rongga di bawah tanah itu yang mirip sebuah kamar besar dengan penuh perhatiaan.

“Tanaman buah”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya sambil menunjuk sebuah tumbuhan merayap di pojok kanan altar. Tanaman itu menempel pada dinding batu cadas. Daunnya kecil seperti daun beringin.

Dan yang sangat menggembirakan hati Mahesa Murti dan Raden Wijaya bahwa tanaman merayap itu berbuah !!

———-oOo———-

 

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Mei 2011 at 20:03  Comments (459)  

459 Komentar

  1. Matahari masih belum merayap naik, sinar cahayanya masih begitu redup manakala Mahesa Murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya keluar dari regol gerbang Padepokan. Beberapa cantrik sudah biasa melihat mereka bertiga keluar dari Padepokan Bajra Seta, mungkin ke padukuhan terdekat, ketepian sungai atau memang pergi berburu.

    Jarak antara Pedepokan Bajra Seta dengan Goa Ranggan tidak begitu jauh, hanya setengah hari perjalanan.

    Matahari sudah bergeser setengahnya kearah barat ketika mereka bertiga telah sampai di kaki bukit karang. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah pendakian yang melelahkan bagi Mahesa Amping, sementara itu Mahesa Murti dan Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit tenaganya. Keringat sekujur tubuh Mahesa Amping sudah begitu basah. Dalam hati memang ada sedikit penasaran melihat Mahesa Murti dan Raden Wijaya sepertinya berjalan di tanah datar, tidak merasakan kelelahan sedikitpun.

    Akhirnya merekapun telah sampai di mulut goa Ranggan.

    “Ruang mulut goa ini cuma sebatas tubuh kita, tapi di dalamnya kita akan menemui ruangan yang cukup besar seluas bilik kamar kita”, berkata Mahesa Murti yang sebelumnya pernah datang menyelidiki goa Ranggan ini.

    Mereka tidak langsung masuk ke goa, tapi beristirahat sebentar membuka bekal yang sengaja mereka bawa.

    Matahari sudah hampir senja manakala mereka mulai memasuki mulut goa, sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti, ruang goa itu memang Cuma sebatas tubuh orang dewasa. Maka seperti seekor ular mereka merayap perlahan memasuki lebih dalam lagi, hingga akhirnya meraka sampai juga di mulut goa lainnya mendapatkan sebuah sebuah lorong goa yang cukup luas, seluas bilik kamar sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti.

    Sebenarnya, ada beberapa lubang diatas langit-langit ruang goa itu yang dapat ditembusi cahaya matahari. Sementara mereka baru sampai di ruang goa itu disaat hari memang sudah diujung senja, maka ruangan itu terlihat begitu gelap. Mereka tidak dapat melihat apapun selain kegelapan itu sendiri.

    “Mahesa Amping”, berkata Mahesa Murti. “Sengaja aku membawamu kemari, untuk melaksanakan sebuah laku rahasia”, berkata lagi Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang selanjutnya juga mengatakan bahwa hal yang sama telah dilakukan oleh Raden Wijaya.Mahesa Murti pun bercerita tentang kejadian yang mereka alami dalam perjalanan mereka kembali ke Padepokan Bajra Seta, terjebak dalam subuah sumur yang dalam. Sebuah cerita rahasia yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun. Dan Mahesa Murti pun telah meminta raden Wijaya untuk tidak bercerita, mengubur cerita ini hanya untuk dirinya sendiri. Karena didalamnya tersangkut sebuah rahasia besar, sebuah laku rahasia.

    “Dengan laku rahasia ini, kamu dapat mengenal dirimu sendiri lebih dalam lagi. Dan dapat mengungkap tenaga murni yang tersembunyi di dalam dirimu sendiri”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    “Diruang goa yang pekat ini, para pendeta telah menemukan dirinya dan penciptanya. Merasakan kematian sebelum datangnya kematian itu sendiri”, berkata mahesa murti memberikan pemahaman bagaimana caranya masuk mengenal diri, mengenal alam besar dan alam alit dan tentunya untuk mengenal lebih dekat lagi kepada Tuhan yang Maha pencipta, Tuhan Yang Maha Agung dan tuhan Yang Maha Tunggal.

    Mahesa Amping mendengarkan semua penjelasan dari Mahesa Murti dengan penuh perhatian. Meresapi setiap kata demi kata.

    “Sekarang kita istirahat dulu, besok pagi kita baru memulai laku itu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Sang fajar telah bersinar terang, cahayanya masuk diantara lubang langit-langit goa seperti pedang panjang menembus bumi.

    “Ada air yang menetes diujung sebelah kanan goa ini, air itu dapat mengenyangkan perut kita”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Cahaya di dalam goa menjadi lebih terang, sebagai tanda diluar sana matahari sudah berada dipuncaknya.

    Hari itu Mahesa Murti tengah memberikan pemahaman kepada Mahesa Amping tentang alam semesta diluar dirinya, segala wujud dan sifatnya.

    “Kenalilah melalui wujud dan sifatnya, kamu dapat merasakan bahwa wujud dan sifatnya ada juga didalam dirimu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.”Hari ini tugasmu adalah menembus dan mengenali alam sebagai wujud bersama sifatnya”, berkata kembali Mahesa Murti.

    “Lakukanlah”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping setelah memberi penjelasan apa yang harus dilakukannya.

    Terlihat Mahesa Amping tengah melaksanakan sebuah laku. Sementara itu Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut juga mendampingi Mahesa Amping memberikan dukungan bathin, berharap Mahesa Amping berhasil dalam tahap pertamanya untuk mengenali alam dalam wujud dan sifatnya, didalam dirinya.

    Matahari telah bergeser diujung senja, cahaya di dalam goa telah menghilang. Kegelapan menyelimuti isi goa. Tiga orang di dalam goa itu seperti arca budha dalam sila sempurna.

    Malam terus berlalu, kegelapan begitu pekat di dalam goa, jangankan melihat sekitarnya, melihat wujud diri sendiripun tidak mampu. Mahesa Amping hanya merasakan dirinya, dalam wujud kesendirian. Mulailah dirinya berkelana mengenal alam disekitarnya, didalam wujud dan sifatnya.

    Tanpa terasa, waktu terus berlalu. Sedikit cahaya kemerahan mengisi lubang diatas langit-langit adalah tanda bahwa sang fajar telah kembali datang.

    “Katakan apa yang telah kamu rasakan”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang sudah terbangun dari lakunya.

    Mahesa Amping pun menceritakan segala yang dirasakannya tanpa sedikitpun yang terlupakan.

    “Puji Syukur kepada Gusti Yang Maha Pencipta, perjalanan pertamamu telah sampai didalam bimbingan-NYA.”, berkata Mahesa Murti setelah mendengar apa saja yang dirasakan oleh Mahesa Amping.

    “Beristirahatlah”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Setelah melihat Mahesa Amping telah cukup beristrihat, Mahesa Murti kembali memberikan beberapa penjelasan apa yang harus dilakukan oleh Mahesa Amping. Sementara itu Raden Wijaya yang ikut mendengarkan seperti teringat kembali bagaimana dirinya memasuki tahap kedua ini.

    “Semua yang berwujud di alam adalah semu, semua akan kembali kepada-NYA. Janganlah takut melihat ketidak beradaanmu, karena yang tiada itu sebenarnya ada, dan yang ada itu sesungguhnya tiada”, berkata Mahesa Murti memberikan tuntunan kepada Mahesa Amping sebagaimana pernah dialami Mahesa Murti sendiri ketika membuka sebuah laku rahasia.


    Kamsiaaaa………………….

    • Kaaaaammmmmmssssssssssssiaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!
      (critane ndhisiki pak Satpam)

  2. matur nuwun , kaaamsiaaaa

  3. Trima kasih Ki Kompor, lanjuuut!!

  4. “Mari kita memulainya lagi”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Seperti sebelumnya, Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut membantu memberi dukungan bathin kepada Mahesa Amping dengan ikut melasanakan sebuah laku.

    Pelan-pelan cahaya matahari sudah tidak nampak kembali, malampun datang merayap, mengisi goa dalam kepekatan. Tiada suara, begitu hening, tiada terdengar suara nafas sedikitpun. Sepertinya di dalam goa tidak ada yang menghuni, begitu sepi.

    Waktu memang sebuah ukuran dunia, dia tidak pernah cepat maupun menjadi lambat. Tapi hitungan waktu di dalam goa seperti sudah terlupakan. Keberadaannya terwakili oleh warna gelap dan warna terang. Ketika warna di dalam goa menjadi terang, mereka beristirahat sejenak, lalu kembali dalam sikap sebuah laku. Tidak terasa mereka sudah memasuki hari keempat. Mahesa Amping sudah akan memasuki tahap akhir dalam lakunya. Mengenal dan mengerti bagaimana menghimpun hawa murni di dalam tubuh. Mengendalikannya menjadi kekuatan diluar wadagnya. Meniadakan bobot tubuh seperti kapas di terbangkan angin, atau menjadikan bobot tubuh berat menjadi puluhan kati.

    Hari itu warna goa sudah begitu terang, manakala Mahesa Murti dan Raden Wijaya membuka matanya, bukan main terperanjatnya mereka. Mahesa Amping tidak ada didekat mereka.Ternyata Mahesa Amping tengah melayang dalam posisi sila sempurna dua jengkal diatas kepala mereka, masih dalam keadaan mata terpejam.Mahesa Murtipun segera berdiri menyentuh sedikit pundak Mahesa Amping dengan jari telunjuknya. Perlahan tubuh Mahesa Amping turun kembali ditempatnya.

    Mahesa Amping pun telah membuka matanya.

    “Laku mu telah selesai, ternyata kamu dilahirkan dengan bakat istimewa melampaui orang biasa”, berkata Mahesa Murti penuh rasa gembira.

    “Terima kasih, semua atas dukungan Kangmas dan Raden tentunya”, berkata Mahesa Amping penuh rasa syukur telah melewati tahap demi tahap sebuah laku rahasia.

    “Hijab yang menutupi alam alit telah terbuka, jangan kamu tinggalkan laku ini dimanapun kamu berada”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    “Berlatihlah untuk mengenal lebih dalam lagi kekuatan yang tak terhingga yang dapat kalian ungkapkan dalam bentuk apapun”, berkata kembali Mahesa Murti tidak hanya kepada Mahesa Amping, juga kepada Raden Wijaya yang meresapi setiap kata Mahesa Murti sebagai pusaka guru yang bermakna dalam, saat itu dan mungkin juga disaat mendatang.

    • tambah kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

      • 😛

        • tambah lagi kamsiaaaaaa….

  5. Wilujêng énjang

    • Wilujêng sontén

  6. kam…..kam…..kamsiiiiiiiaaaaaaaaaa

  7. ni SINDEN siap tampil,
    tentu buat pagelaran pak DALANG nanti malem…

    cantrik siap berdiri tegang,
    tentu buat menyaksikan tontonan wayang mBELINK
    pak DALANG,…lha piye meneh wong kursi-ne wes
    di pek kabeh sama ki Gembleh,

  8. Matur nuwun Ki Kompor.
    Dua hari nggak sambang padepokan, karena kecapaian berlatih akhirnya harus semedi ditempat tidur.
    Alhamdulillah sudah bisa ngabyantoro lagi.
    Sugeng sonten

    • sugeng rawuh ki Honggo,

      selamat berguYON kembali ning padepokan pak DALANG,

  9. sugeng dalu kadang sedoyo

  10. Matahari telah turun dari puncaknya, angin di bukit karang bertiup begitu kencang. Tiga sosok tubuh menuruni lereng bukit karang begitu ringannya. Kadang mereka melompat jauh dari satu tempat ketempat lain seperti kambing gunung yang tidak pernah takut jatuh berlompatan menjejakkan kakinya dari satu sisi ke sisi lainnya. Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di kaki bukit karang.

    Mahesa Murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya nampak tengah berjalan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Wajah mereka begitu ceria, sepertinya tidak ada yang luput dari pandangan mereka selain keindahan, melihat anak kijang yang baru terlahir berjalan terpincang-pincang, mendengar perkutut liar merayu dan memanggil sang betina dengan suaranya yang panjang. Bahkan perkelahian dua ekor burung jantan di angkasa menjadi suatu yang mengasyikkan untuk dipertontonkan.

    Ketika senja melukis cakrawala dalam warna keteduhan, Mahesa murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai kembali di Padepokan Bajra Seta.

    Hari itu, seperti hari sebelumnya, disaat matahari sudah mulai bosan menatap bumi dari puncaknya. Burung-burung liar berlindung di pepohonan yang rindang setelah sepanjang siang mencari makanan. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Sembaga berada di tepian sungai yang teduh untuk berlatih.

    “Akhirnya, Mahesa Amping sudah dapat mengungkapkan tenaga cadangannya”, berkata Sembaga kepada dirinya sendiri ketika melihat serangan-serangan Mahesa Amping bagai angin yang menderu berlatih bersama Raden Wijaya.

    Raden Wijaya memang agak menjadi sibuk mengelak dari serangan mahesa Amping yang beruntun, begitu cepat dan penuh dengan kekayaan gerak yang kadang membingungkan Raden Wijaya. Tapi ketenangan Raden Wijaya ternyata menjadi modal tersendiri, dengan ketenangannya ia dapat berpikir jernih, meloloskan diri dari setiap sergapan Mahesa Amping dan langsung menyerang balik.

    Kekuatan dan kecepatan gerak mereka seimbang. Kelebihan tipis dari Mahesa Amping terletak pada kesempurnaan gerak dan pengalaman bertempurnya.

    Seperti dua ekor banteng yang sedang bertempur, tidak terlihat sedikitpun kelelahan di wajah mereka. Ketika warna senja telah turun menyelimuti hamparan tepian sungai, latihan mereka baru berhenti.

    “Hari ini aku tidak kebagian berlatih”, berkata Sembaga dengan bersungut-sungut. “Besok aku akan menantang kalian berdua sekaligus”, berkata kembali Sembaga.

    “Hadiah apa yang akan Paman Sembaga berikan kepadaku, bila sebuah pukulanku menembus tubuh paman”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga.

    “Aku akan menghadiahkan sebuah bogem mentah langsung”, berkata Sembaga yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Demikianlah, dari hari ke hari, Mahesa Amping dan Raden Wijaya terus berlatih. Di tepian sungai, disanggar tertutup atau di beberapa tempat di alam terbuka lainnya dibawah pengawasan Sembaga dan Mahesa Murti. Kehadiran Sembaga dalam latihan-latihan mereka, telah banyak menambah kekayaan dan pengalaman mereka dalam pertempuran yang sebenarnya. Sementara itu, Mahesa Murti dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit membangunkan kesadaran mereka untuk dapat mengungkapkan kekuatan yang tak terhingga yang ada di dalam diri.

    Dan kekuatan itupun akhirnya terbangun.

    Raden Wijaya sudah dapat mengungkapkan kekuatan hawa panas dari dalam dirinya. Dari hentakan tangannya akan meluncur angin panas yang bergulung gulung menghanguskan apapun yang menghadang.

    Sementara itu, sebagaimana pernah dikatakan oleh Mahesa Murti, bahwa Mahesa Amping mempunyai bakat yang istimewa, mempunyai bakat di luar orang biasa. Diam-diam telah menemukan rahasia membangunkan hampir semua kekuatan yang dapat diungkapkan sesuai dengan keinginannya. Membangunkan hawa dingin yang dapat membekukan, membangunkan hawa panas yang dapat membakar apapun yang ada disekelilingnya. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah dari sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

    “Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena disitulah sumber petaka dan bencana”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping pada suatu malam di sebuah tempat alam terbuka yang jauh dari kehidupan dan padepokan Bajra Seta. Sebuah tempat yang sering mereka singgahi untuk berlatih meningkatkan tataran ilmu Raden Wijaya dan Mahesa Amping selapis demi selapis menuju kearah kesempurnaanya.

    Disuatu hari, Matahari saat itu sudah rebah diujung senja. Warna cakrawala dikuas bening redup tanpa desiran angin sedikitpun. Gambar pohon randu yang bercabang banyak di sudut depan dinding Padepokan Bajra Seta seperti patung arca. Tidak ada satupun helai daun yang bergerak.

    Panggraita Mahesa Amping yang sudah semakin tajam menangkap sebuah bayangan yang begitu jelas. Wajah yang pernah dikenalnya. Tapi Mahesa Amping tidak mengatakan apapun apa yang dilihatnya kepada Mahesa Murti dan Raden Wijaya yang ketika itu mereka tengah duduk di Pendapa utama.

    Seorang berkuda masuk melewati gerbang Padepokan Bajra Seta yang memang selalu terbuka.

    “Paman Arya Kuda Cemani”, berkata Mahesa Murti yang dengan ketajaman matanya mampu mengenali orang berkuda yang telah masuk melewati pintu gerbang Padepokan.

    • lumayannnnnnnn
      nyilem lagi ach…….jeburrrrrrrrr

      • meskipun telat,
        kamsiaaa………….

        • Dan yang lebih mengerikan lagi adalah dari sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

          ha ha ha ….
          ilmu Agung Sedayu muncul di sini

          • meskipun telat-telat dikit,
            kamsiaaa………….kamsiaaaaa

  11. Wah tidak terasa sudah sampai episode yang kesekian.
    Terima kasih P. Dalang, sayangnya sampai sekarang belum ada sayembara yang masuk untuk membungkus karya Ki Kompor. P. Satpam, sepertinya hadiahnya kurang menarik ya.

  12. selamat PAGI….ning omahE ni SINDEN
    dhisik Aaah,

    selamat PAGI kadang padepokan,

  13. Sugêng sontên

  14. sugeng dalu kadang sedoyo,
    sesuk hari liburan panjang….indahnya hidup ini, habis subuh langsung nyungsep diselimut tebal sambil menunggu teriakan sang permaisuri tercinta,”sarapan sudah siapp !!!”

    • Monggo Ki…
      semalam sebelumnya tentu lembur menyiapkan tutuge cerita to
      he he he …..

      • Ternyata menulis juga bisa sakaw sebagaimana menunggu rontal…..kalo udeh sakaw, asyiknye kata demi kata meluncur dengan sendirinya…tidak kenal waktu. Mudah-mudahan, doa ki Yudha dapat menjadi kenyataan, setelah pensiun di pabrik petir ini gue bisa menyibukkan diri sebagai penulis cerita silat. MOHON DOA dari sahabat semua………

        • Amin….

          satpamnya kadang juga sakaw buka gandok dan wedar rontal ki

          lha kalau nanti sudah selesai, buka gandok apa ya?
          MOHON PETUNJUK dari sanak kadang semua.
          he he he ….

        • Aamiin,

          setrumlah besi selagi panas,
          eh kleru,
          tempalah besi selagi panas,

  15. Arya Kuda Cemani diterima langsung di Pendapa Bajra Seta. Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Arya Kuda Cemani langsung menyampaikan tujuannya datang ke Padepokan Bajra Seta. Yaitu bercerita tentang hilangnya Putra Mahkota yang sampai saat ini pihak kerajaan telah kehilangan jejaknya. Sang Putra Mahkota seperti hilang ditelan bumi.

    “Sesuai perintah Sri Maharaja, kami petugas sandi diminta hanya sekedar membayangi. Sampai di Bandar Pelabuhan Cangu, kami masih dapat membayanginya. Tapi setelah itu, kami telah kehilangan jejak. Pengeran Kertanegara seperti hilang di telan bumi”, berkata Arya Kuda Cemani bercerita tentang keadaan tentang Putra Mahkota yang hilang.

    “bukankah Putra Mahkota sudah dapat menjaga dirinya sendiri ?”, berkata Raden Wijaya yang sangat mengenal Pangeran Kertanegara sebagai seorang yang sudah memiliki bekal ilmu yang cukup.

    “Pada awalnya memang kami berpikir seperti itu, Sri Maharaja juga berpikir demikian”, berkata Arya Kuda Cemani berhenti sebentar, lalu lanjutnya, “para petugas sandi menangkap berita, ada sekelompok orang tengah membayangi Sang Putra Mahkota, bermaksud melenyapkannya”.

    “Usaha melenyapkan Sang Putra Mahkota adalah sebuah usaha menghancurkan keberadaan Singasari”, berkata Mahesa Murti menyimpulkan keterangan yang disampaikan Arya Kuda Cemani.”Apakah petugas sandi sudah dapat menembus, kira-kira mereka dari pihak mana ?”, bertanya Mahesa Murti kepada Arya Kuda Cemani.

    “Itulah yang belum dapat kami ungkap, untuk inilah Sri Maharaja memerintahkan aku secara khusus datang ke Padepokan Bajra Seta ini ”, berkata Arya Kuda Cemani.

    “Sri Maharaja memerintahkan kami untuk mencari tahu ada dipihak siapa mereka itu ?”, bertanya Mahesa Murti kepada Arya Kuda Cemani.

    “bukan Cuma itu”, berkata Arya Kuda Cemani.”Tapi juga membawa kembali Sang Putra Mahkota dengan selamat tiba di istana”, berkata kembali Arya Kuda Cemani.

    Suasana di Pendapa Bajra Seta sepertinya menjadi begitu hening. Semua kepala sepertinya tengah berpikir dengan pikirannya masing-masing. Akhirnya semua mata tertuju kepada Mahesa Murti, menunggu apa yang akan dikatakannya.

    Nampak Mahesa Murti menarik nafas panjang. Kepercayaan Sri Maharaja terhadap Padepokan Bajra Seta adalah sebuah kebanggaan, sekaligus sebuah kemuliaan, demikian Mahesa Murti berpikir di dalam hatinya.

    “Panggil Paman Sembaga, Paman Wantilan dan Mahesa Semu kemari”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Maka Mahesa Amping langsung turun dari Pendapa. Tidak lama kemudian ia telah datang kembali bersama Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    Dengan singkat, Mahesa Murti bercerita tentang perintah khusus dari Sri Maharaja Singasari kepada Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    “Aku memutuskan, mempercayakan tugas mulia ini kepada kalian berlima”, berkata Mahesa Murti memberikan sebuah keputusan.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya saling memandang. Bukan main senangnya mereka berdua dikutkan dalam tugas khusus itu.

    “Besok pagi kalian sudah dapat berangkat, mungkin diperjalanan Paman Arya Kuda Cemani dapat memberikan beberapa petunjuk apa saja yang dapat kalian lakukan”, berkata Mahesa Murti kepada kelima orang kepercayaannya.

    Dan pagipun telah datang, tanah dan daun masih penuh dengan embun, pagi masih begitu gelab manakala enam ekor kuda keluar dari pintu gerbang regol Padepokan Bajra Seta.

    “Aku titipkan padamu Raden Wijaya dan Mahesa Amping”, berbisik Mahesa Murti kepada Sembaga yang berjalan paling belakang.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti, diperjalanan Arya Kuda Cemani memberikan beberapa petunjuk yang dapat mereka lakukan.

    Disebuah persimpangan jalan, mereka berpisah. Arya Kuda Cemani melanjutkan perjalanannya ke Singasari untuk melapor kepada Sri Maharaja. Sementara lima orang pahlawan dari Padepokan Bajra Seta sesuai petunjuk dari Arya Kuda Cemani langsung menuju Bandar Cangu. Tempat terakhir Pangeran Kertanegara dapat dibayangi oleh para petugas sandi.

    • keokeokeok

      kamsiaaaa……………

    • Kaaaaaaaammmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!

      Biar aja Ki Menggung ngurusi ni Sinden,
      ane nyang nungguin tutuge.

  16. Ngaturaken sugeng tanggap warsa dumateng,
    Ki, Ni, Mas, Mbak, PANCA SILA.

  17. Tidak banyak hambatan yang berarti dalam perjalanan mereka ke Bandar Cangu.

    Temaram langit senja begitu indah menghiasi suasana Bandar Cangu. Ujung-ujung tiang layar perahu berjajar. Beberapa buruh hilir mudik mengangkat barang. Beberapa pedati bersandar di beberapa kedai yang tumbuh subur disekitar keramaian Bandar Cangu.

    Sementara itu bila mata kita bergeser ke kiri, terlihat sebuah bangunan benteng prajurit yang luas dan kokoh. Berdiri di pinggir sungai Brantas seperti raksasa penjaga sungai.

    “Kita singgah ke Benteng Cangu”, berkata Wantilan kepada kawan-kawannya yang sudah mengetahui bahwa Mahesa Pukat bertugas di Benteng cangu itu.

    Ketika mereka tiba di pintu gerbang, seorang prajurit keluar dari gardu penjaga.

    “Adakah kepentingan kalian datang ke Benteng ini ?”, berkata Prajurit penjaga itu dengan wajah penuh curiga.

    “Kami bermaksud ingin menemui saudara kami”, berkata Wantilan mewakili kawan-kawannya.

    “Siapa nama Saudara kalian ?”, bertanya prajurit itu masih dengan wajah penuh prasangka.

    “Mahesa Pukat”, berkata Wantilan kepada Prajurit itu.
    Bukan main kagetnya prajurit itu mendengar nama yang disebut oleh Wantilan. Dengan wajah masih penuh curiga dan tidak percaya prajurit itu memandang Wantilan dari ujung kaki sampai kepala, tidak ada sedikitpun kemiripan Wantilan dengan Senopati mereka.

    “Apakah kalian sudah punya janji ?”, berkata Prajurit itu masih dengan keraguan.

    “Belum”, berkata Wantilan yang sudah mulai jengkel kepada prajurit itu.

    “Silahkan kalian menunggu, aku akan melapor kepada ketua regu kami, apakah kalian dapat diterima”, berkata prajurit itu meminta Wantilan dan kawan-kawannya menunggu.

    Terlihat prajurit itu masuk dalam salah satu barak yang terlihat berjejer. Sementara ditengah benteng itu berdiri sebuah bangunan utama. Dan nampak di pojok belakang benteng itu berdiri sebuah panggungan yang tinggi, tempat untuk mengawasi keadaan diluar benteng.

    Tidak lama kemudian, terlihat prajurit penjaga itu telah datang bersama seorang prajurit lainnya, mungkin ketua regu yang telah dikatakannya.

    “Mohon pertimbangan Ki Bekel. Apakah mereka dapat diterima ?”, berkata Parajurit itu ke pada seorang prajurit lagi yang di panggilnya sebagai Ki Bekel.

    Tiba-tiba saja prajurit itu bertolak belakang dengan gagahnya.

    “Kenapa kamu tidak ikat mereka semuanya ?”, berkata prajurit yang di panggil Ki Bekel itu dengan wajah penuh wibawa kepada prajurit penjaga.

    “Aku tidak mengerti, mengapa harus mengikat mereka ?”, bertanya prajurit itu dengan wajah kebingungan.

    Ki Bekel itu pun tertawa terpingkal-pingkal, sementara itu, Mahesa Semu dan Wantilan ang telah mengenali wajah Ki Bekel itu pun ikut tertawa.

    Melihat semua itu, wajah prajurit itu semakin kusut kebingungan. Ki Bekel yang tidak lain adalah Dadulengit itupun menepuk pundak prajurit yang masih kebingungan.

    “Mereka adalah sahabatku, mereka juga saudara Ki Senopati”, berkata Dadulengit kepada Parjurit itu yang langsung menemui sahabat lamanya orang-orang dari Padepokan Bajra Seta yang dianggapnya sebagai pahlawan yang telah ikut membantu membebaskan dirinya dan kawan-kawannya dari perbudakan.

    “Selamat berjumpa wahai sahabat lama”, berkata Dadulengit sambil memeluk mereka satu persatu dengan gembiranya.

    “Pasti kamu Mahesa Amping, cantrik padepokan Bajra Seta paling muda”, berkata Dadulengit masih mengenali Mahesa Amping.
    “Kamu sudah tumbuh sebagai seorang pemuda”, berkata Dadulengit memeluk erat-erat Mahesa Amping dengan gembira.

    “Perkenalkan ini Raden Wijaya”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Raden Wijaya kepada Dadulengit.

    “Perkenalkan, nama lengkapku Ki Bekel Dadulengit”, berkata Dadulengit yang disambut senyum hangat dari semua yang ada disitu, kecuali prajurit penjaga yang masih berdiri disitu.

    “Apakah setelah jadi prajurit kamu masih berjudi ?”, bertanya Mahesa Semu yang ingat kegemaran Dadulengit yang bergelar dewa judi.

    “Dibandar Cangu, aku seperti menemukan sorga yang hilang. Hampir setiap malam aku menyelinap pergi berjudi”, berkata dadulengit berterus terang.

    “Moga-moga saja kamu tidak menjual tameng prajuritmu”, berkata Wantilan yang disambut tawa oleh Dadulengit dan keempat kawannya.

    • kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
      (keokeokkeok-ngeduluin Paklek satpam)

  18. Hebring euyy buat coper nye,

    baru aje ane memerintahkan putri ane buat bikin cover, ehh udah ade……tapi liet aje, ape putri ane bisa belajar bikin gambar ilustrasi, kayaknye sich semanget banget…………….!!!

    SALAM UNTUK LIBURAN PANJANGNYA,
    SEMOGA KESEHATAN DAN KEBAHAGIAAN MENYERTAI KITA BERS

    • BERSAMA maksudnye

      • ha ha ha …..
        repotnya tak punya jiwa seni lukis, coba corat-coret, kok gak keruan hasilnya.
        Akhirnya, ya itu …..
        Tetapi, jika karya putri Ki Kompor sudah jadi, apapun bentuknya, bolehlah dikirim untuk menggantikan koper yang sudah ada.

        eh…, hampir lupa..!
        kamsiaaaa…………..

        • Sugêng énjang

          isuk uthuk-uthuk, uthuk-uthuk isuk

  19. “Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena disitulah sumber petaka dan bencana”, (Ki Kompor)

  20. Nuwun
    Wilujeng siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI KERTANEGARA dan RADEN WIJAYA

    Sebagaimana telah punåkawan sampaikan di gandhok ini On 29 Mei 2011 at 22:51 tentang satu pancer dan delapan mandalawangi, maka pada dongeng selanjutnya adalah tentang Kertanegara dan Raden Wijaya, keduanya yang dipentaskan Ki Dhalang Kompor masih sangat muda usia.

    Keduanya diceritakan di tempat yang berbeda sedang berpetualang dalam pendadaran olah ilmu kanuragan, mencapai keseimbangan lahir dan batin, sebagai bekal kelak kalau sudah jadi “orang besar”.

    Kisah petualangan kedua tokoh ini diceritakan dengan serius tapi santai oleh Ki Kompor Dhalang van Cipondoh. Bagaimana si Kerta (maksudnya Kertangeraga) yang dapet ‘ilmu tongkat madura’, dan Raden Wijaya yang “lugu” (lucu tapi wagu). He he he….

    Untuk membuat semangkin meriahnya lakon tongkat madura ini, eh.. keliru,,,,, mangsudde lakon SFBdBS, maka untuk menambah wawasan kita, saya akan mendongeng tokoh Kertanegara dan Raden Wijaya yang “sebenarnya”.

    Begini dongengnya:

    Di dalam prasasti Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1177Ç/1255M) yang dikeluarkan Ranggawuni Wisnuwardhana, yang bergelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana atau Narãryya Seminingrat atau Seminingrat Jagannatha.

    Ranggawuni Seminigrat beristrikan Narãryya Waning Hyun, putri pamannya yaitu Bhatara Parameswara (Pararaton menyebutnya: Mahisa Wonga Teleng.) ayah dari Mahisa Campaka alias Narasinghamurti.

    Bhatara Parameswara adalah penguasa Kadiri sepeninggal Prabu Kertajaya yang gugur dalam Perang Ganter. Apabila Bhatara Parameswara benar-benar identik dengan Mahisa Wonga Teleng, maka dapat disimpulkan kalau Narãryya Waning Hyun adalah saudara perempuan Narasinghamurti. Dengan demikian, hubungan antara Narasinghamurti dengan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

    Prasasti Wurare yang berangka tahun 1211Ç/1289M menyebutkan bahwa istri Wisnuwardhana adalah Jayawarddhanibarrya (Jayawarddhani), maka dapat dipastikan bahwa Narãryya Waning Hyun identik dengan Jayawardhani.

    Perkawinan antara Wisnuwardhana dan Narãryya Waning Hyun merupakan perkawinan politis dalam upaya penyatuan dua kerajaan (Tumapel Singasari, Janggala dan Kadiri) dalam satu negara kerajaan Singasari.

    Berkat dukungan Sang Apanji Patipati, Wisnuwardhana Nararyya Seminingrat berhasil menyatukan kembali kerajaan Singasari yang diwarisinya dari Anusapati dan kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara.

    Prasasti Mula Malurung selanjutnya mengabarkan: atas kebesaran para leluhur kerajaan Tumapel, Sang Bhatara Parameswara, ayahanda Nararya Waning Hyun, pamanda sekaligus ayahanda mertua Sang Prabhu Sri Seminingrat, menganugerahkan desa sima Mula-Malurung kepada Pranaraja dan sanak kadang. Karena jasa-jasa Sang Pranaraja yang teramat besar kepada keluarga Janggala-Kadiri,

    Pararaton mengabarkan:

    Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring canggu lor isaka 1193.

    [Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç/1271M.]

    Data tahun ini jelas salah, mengingat Prabu Wisnuwardhana dalam Prararton disebutkan .. panjeneng ira Sri Ranggawuni …. moktan ira 1190. Dhinarmma sira ring Jajaghu… (beliau Sri Ranggawuni wafat pada tahun 1190Ç/1268M, dicandikan di Jajaghu). Jadi adalah tidak mungkin Pelabuhan Canggu dibangun setelah beliau wafat. Data yang tepat benar adalah tahun 1174Ç atau 1252M, dua tahun sebelum penobatan Kertanegara menjadi yuwaraja.

    Dalam Pararaton disebutkan Canggu terletak di utara Kotaraja, ibukota Kerajaan Singosari, dibangun sebagai pengganti pelabuhan lama kerajaan Yau Toung atau pelabuhan Yortan, nama lain pelabuhan Jêdung, yang rusak terkena bencana alam; (masih ingat dongeng: mud volcano (pegunungan lumpur), lêndhut bêntèr, trasi muncrat. Timun Mas.).

    Dalam Kidung Sundayana, Canggu disebut sebagai “kota bandar”, disebutkan terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur. Dalam perjalanan waktu Canggu akhirnya memang menjadi “kota”. Sekarang, Desa Canggu termasuk wilayah kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

    Negarakretagama pupuh 41 (3) menguraikan bahwa pada tahun 1176Ç (1254M) Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya. Segenap raja Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu. Setelah dinobatkan, putra mahkota mengambil nama abhiseka Sri Kertanagara.

    i saka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin
    Samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha
    Narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita
    Pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i Singasarinagara
    .

    [Tahun Çaka rasaparwwatenduma (1176Ç/1254M) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura tempat upacara penobatan, Raja baru itu bergelar Kertanagara, tetap demikianlah seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama menjadi praja Singasari.]

    Uraian di atas seolah-oleh memberi kesan pada tahun 1254 itu, Wisnuwardhana menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Kertanagara. Hal itu tidak benar karena dalam prasasti Mula-Malurung dinyatakan dengan jelas bahwa pada tahun 1255 Wisnuwardhana masih memerintah di Tumapel, sebagai raja agung yang menguasai Janggala dan Panjalu.

    Prasasti Mula Malurung mengabarkan bahwa sebelum menjadi raja Singasari, Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau raja muda – yuwaraja pada tahun (1254M – 1268M). Berkat kelahirannya dari perkawinan Wisnuwardhana dengan Permaisuri Waning Hyun, Kertanagara mempunyai kedudukan sebagai raja mahkota, mengepalai raja-raja bawahan lainnya.

    Nama gelar abhiseka yang ia pakai ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

    Kita tahu bahwa hubungan antara Narasinghamurti atau Mahesa Campaka dan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar. Sedangkan Menurut Nagarakretagama, Narasingamurti memiliki putra bernama Lembu Tal, yang kemudian menjadi ayah dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

    Keterkaitan Kertanagara dengan Raden Wijaya dalam panggung sejarah

    Tunggul Ametung & Ken Dedes berputra Anusapati — Anusapati berputra Ranggawuni (Wisnuwardhana) — Ranggawuni (Wisnuwardhana) berputra Kertanegara.

    Ken Arok Rajasa Sang Amurwabhumi & Ken Dedes berputra Mahesa Wonga Teleng — Mahesa Wonga Teleng berputra Mahesa Campaka (Narashingamurti) — Mahesa Campaka (Narasinghamurti) berputra Lembu Tal — Lembu Tal berputra Raden Wijaya.

    Dengan demikian, garis keluarga lurus ke atas Kertanegara adalah buyut Ken Dedes dan Tunggul Ametung dan Raden Wijaya adalah canggah Ken Dedes dann Ken Arok, maka Kertanegara adalah paman tiri Raden Wijaya, dan terakhir Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara (Ikuti uraian di bawah).

    Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (1177Ç/1255M); Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau yuwaraja pada tahun 1254M, baru pada tahun 1268, ia bertahta sebagai raja di Singosari. Bertepatan dengan pengangkatan beberapa keluarga raja sebagai yuwaraja yaitu: (Prasasti Mula Malurung Lempengan VIIA dan B):

    i. Nararyya Kirana putera sang prabu Semi Ning Rat sendiri dirajakan di Lamajang (Lumajang);
    ii. Nararyya Murddhaja dirajakan di Daha;
    iii. Nararyya Turukbali, puteri sang prabu, permaisuri Jayakatwang, dirajakan di Glang Glang daerah Wurawan. Sri Jayakatwang adalah keponakan sang prabu Seminingrat;
    iv. Sri Ratnaraja, adik sepupu sang prabu dirajakan di Morono;
    v. Sri Narajaya adik sepupu sang prabu dirajakan di Hring;
    vi. Sri Sabhajaya, sepupu sang prabu dirajakan di Lwa.
    vii. seorang lagi yang namanya tidak disebut menjadi raja di Madhura.

    Disebutkan pula bahwa Pangeran Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani, sedang merayakan pernikahannya (tidak disebutkan nama istrinya)

    Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya dalam Perang Ganter (Ingat dongeng: Ken Arok mengkudeta Kadiri). Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya.

    Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Dengan demikian Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri.

    Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung, Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana).
    Prasasti itu juga menyebutkan nama istri Jayakatwang adalah Turukbali putri Seminingrat.

    Dari Prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang kelak menjadi menantu Kertanagara. Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

    Kemana Raden Wijaya?

    Sejak dinobatkannya Kertanegara sebagai yuwaraja bersama-sama dengan Nararyya Kirana, Nararyya Murddhaja, Nararyya Turukbali, Sri Ratnaraja, Sri Narajaya, Sri Sabhajaya, nama Raden Wijaya tidak pernah disebut.

    Tidak disebutnya Raden Wijaya pada lempengan prasasti, kemungkinan yang paling mendekati kenyataan adalah karena Raden Wijaya belum lahir.

    Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1177Ç/1255M ) disebutkan bahwa putri Sang Prabu Wisnuwardhana yang bernama Nararyya Turukbali, dijodohkan dengan Jayakatwang, yang diangkat sebagai rajamuda di Glang Glang daerah Wurawan di Kadiri.

    Perkawinan ini merupakan perkawinan politik, agar Kadiri tetap berada di bawah kekuasaan Singasari. Dari perkawinan antara Jayakatwang dan Turukbali lahirlah Ardaraja.

    Dari perkawinan antara Lembu Tal (sangat disayangkan tidak ada penjelasan sedikitpun nama istrinya), lahirlah Raden Wijaya.

    Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama Mahesa Arema yang diperintah Raja Kertanegara mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis juga dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

    Kebo Arema adalah Panglima Ekspedisi Pamalayu. Kebo Aremalah yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singasari.

    Pemberontakan-pemberontakan itu, meskipun akhirnya dapat ditumpas, tetapi menghambat pelaksanaan gagasan politik perluasan wilayah. Untuk dapat mengirim tentara ke seberang lautan, kekeruhan didalam negeri harus diatasi dulu.

    Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Harsawijaya, dan Negarakretagama pupuh 41, semuanya menyebutkan pengiriman tentara Singasari ke negeri Melayu (Suwarbabhumi) pada tahun 1187Ç (1275M), lima tahun setelah pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara atau Cayaraja.

    Dalam Kidung Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasehat Raganata tentang pengiriman tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanagara. Raganata mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Singasari, sebab Singasari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi.

    Prabu Kertanagara berpendapat, raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabu. Salah satunya putra raja Jayakatwang yang bernama Ardaraja diambil sebagai menantu Kertanagara. Perkawinan ini merupakan pendekatan politik Kertanagara demi reda dan terhapusnya dendam lama Kediri atas Singasari.

    Agar jangan timbul kekeruhan dalam negeri selama tentara Singasari bertugas di negeri Melayu, Ardaraja putra Jayakatwang diambil menantu oleh Kertanagara, bersamaan dengan itu pula Raden Wijaya diangkat sebagai salah satu panglima perang Singasari, menjaga keamanan dalam negeri Singasari selama sebagian pasukan tentara Singasari dikerahkan melakukan Ekspedisi Pamalayu. Raden Wijaya pun dijodohkan dengan dua orang putri Kertanegara.

    Pemberitaan Pararaton tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Pethak. Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.

    Sedangkan menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara:

    1). Dyah Sri Tribhūwaneśwari, dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.

    2). Dyah Dewi Narendraduhitā dengan gelar Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, tidak berputra; adalah putri ketiga dari Raja Singasari Kertanagara, dan merupakan istri kedua Raden Wijaya.

    3). Dyah Dewi Prajnyāparamitā dengan gelar Śri Jayendra Dyah Dewi Prajnyāparamitā, atau sering disingkat dengan nama Prajña Paramita atau Pradnya Paramita adalah putri keempat dari Raja Kertanegara dan merupakan istri ketiga dari Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan.

    4). Dyah Dewi Gayatri, diangkat sebagai rajapatni dengan gelar Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri, adalah istri ke empat dari Raden Wijaya, dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi yang mendapatkan kedudukan di Jiwana (Kahuripan) sebagai Bhre Kahuripan, dan lahir Rajadewi Maharajasa, yang diangkat sebagai Bhre Daha.

    Dari rahim Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, yang bersama-sama dengan Mahapatih Gajah Mada membawa Majapahit penuju masa kegemilangannya.

    Sumber sejarah:

    1. ________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). Narasi. Yogyakarta. 2007.

    2. Bade, David W. Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat Ulaanbaatar 2002.

    3. Bambang Sumadio (Penyunting Jilid), Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Balai Pustaka. Jakarta 1984.

    4. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009.

    5. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books London 2007.

    6. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K, Jakarta 1979;

    7. Marwati, dkk. 1993 . Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

    8. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka Jakarta 2006;

    9. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage. 1903

    10. Moehadi. Modul Sejarah Indonesia. Karunia: Jakarta. 1986

    11. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Balai Pustaka, Jakarta. 1984;

    12. Padmapuspita, Ki, PararatonTeks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa Jogjakarta. 1966

    13. Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, Martinus Nijhoff, The Hague, 1962.

    14. Poerbatjaraka. Kapustakan Jawi. Djambatan. Jakarta. 1964

    15. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

    16. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Jakarta: Serambi, 2005.

    17. Slamet Muljana Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya; LkiS Yogyakarta. 2006.

    18. Slamet Muljana, Prof. Dr. Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LKiS Yogyakarta 2005.

    19. Sudibya, Z.H.. Babad Tanah Jawi. Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1980.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • kamsia, langsung masuk gudang logistik, dikeluarkan bila sudah waktuna……………..

  21. Sugeng dalu,
    Baru libur sehari kok sudah cuapek ya, gimana besok dan lusa.

  22. Sugêng dalu

    • Sugêng dalu

      he he he .., jadi ingat tadi siang. Digodogkan pisang kepok yang sudah ndalu. tinggal dibuka kulitnya, terus tinggal diemut langsung ditelan, tidak usah dikunyah.

      pisang ndalu bisa dimakan, kalau Sugêng dalu……?

      • Lha mosok si sugêng yang tinggal diemut langsung ditelan, tidak usah dikunyah.
        Pripun…..?

        • Leres lho Ki Puna,
          menawi saged “diruwetkan”
          lha kok ndadak “dipermudah” to…???

          (100% menika panah sendaren saking “kepadhangan” mboten saking “kepetengan” lho)

  23. Saya membaca komentar terutama celoteh-celote paara cantrik yang lucu dan segar…
    Bisa gak dibuat kumpulan cerita yang lucu dan segar para cantrik seperti dongeng arkeolognya ki bayu yang terangkum dalam satu blog.

    • Bisa sih bisa Ki, tetapi waktunya yang tidak tersedia.
      Kecuali kalau ada sabak-kadang yang mempunyai waktu luang, hasilnya bisa dikirim ke padepokan untuk dibuatkan gandoknya.
      monggo

  24. “dalu” dan ndalu. Ternyata Bahsa Jawa adalah bahasa yang paling komplit, tapi jadinya susah dipelajari. Apalagi ngajari cucu untuk berbahasa Jawa.
    Bahkan anak yang 5 tahun di Jogya juga bisanya bahasa Jawa ngoko dan kromo madyo.
    Ora kroso dolanan neng laptop kok ngerti-ngerti meh jam 22.
    Yo wis lah mapan disik, wis dikode “Utine” bocah-bocah.
    Sugeng sare poro kadang.

    • Monggo Ki Honggo.
      Sugêng sare

      • Kammmmmmmmsiiiiiiiiaaaa!!!!!!!!

        • he…..he…..he……
          salah ndeprok….!!
          sugeng nDalu.

  25. hup….baru pulang ngaji,
    siap-siap…..bikin indomie rebus he3x loaper nye poaall kata Ki Widura yang entah ada dimana…..

  26. Mari kita tinggalkan dulu lima ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Kita sudah terlalu lama meninggalkan Kertanegara yang tengah digodok “dikawah candradimuka” hutan Porong oleh Empu Kanda.

    Diujung senja, redup cahaya matahari tanpa desiran angin sedikitpun. Dua sosok bayangan tengah saling menyerang. Ditangan mereka sebuah cambuk panjang meluncur kadang melecut begitu gemulai, kadang bagai sebuah pedang kaku menerjang.

    Kertnegara dan Empu Dangka terlihat tengah berlatih. Kadang kecepatan serangan sepertinya begitu mengerikan. Mereka sepertinya sepasang anak kecil yang bermain, tidak mengenal kengerian yang sebenarnya. Saling mengelak dan menyerang seperti sepasang ular kembar tengah bercinta-kasih, tiada yang menyakitkan. Yang ada hanyalah sebuah kegembiraan.

    “Cukup !!”, berkata Empu Dangka sambil melompat mundur beberapa langkah.”Kemajuanmu benar-benar luar biasa. Begitu sempurna !!”, berkata Empu Dangka mengungkapkan kegembiraaannya.

    “Terima kasih Empu”, berkata Kertanegara sambil mengusap peluh di wajahnya.

    Empu Dangka terlihat masuk ke gubuknya. Sementara Kertanegara sibuk menyiapkan perapian.

    Akhirnya, tidak lama kemudian. Terlihat mereka tengah menikmati makanan dan minuman hangat di gubuk mereka yang begitu sederhana.

    “Seandainya besok aku mati, mungkin aku tidak akan menyesal. Karena semua ilmuku telah luluh di dalam tubuhmu”, berkata Empu Dangka sambil mengangkat minuman hangatnya, meneguknya sedikit.

    “Semoga diriku tidak mengecewakan Empu”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka penuh rasa terima kasih.

    “Anakku “, berkata Empu Dangka. “Aku mempunyai saudara kembar, entah sampai saat ini aku tidak tahu dimana rimbanya”, berkata Empu Dangka dengan mata jauh menerawang menembus batu hitam di seberang sungai.

    “Adakah yang dapat dibedakan diantara kalian ?”, bertanya Kertanegara kepada Empu Dangka.

    “Sukar sekali membedakan diri kami, yang jelas aku berjuang seluas lapang dadaku, sementara saudaraku berjuang sejauh bumi dipijak, itulah yang membedakan diantara kami”, berkata Empu Dangka dengan mata masih memandang jauh melampai batu hitam diseberang sungai.

    “Kebenaran memang harus diperjuangkan, di dalam jiwa bersama Paramashiwa, di bumi sebagai Budha. Sementara Gusti Yang Maha Agung yang mempunyai kehendak”, berkata Kertanegara sepertinya kepada dirinya sendiri.

    Empu Dangka seperti tersentak mendengar ucapan Kertanegara. Matanya menatap Kertanegara begitu tajam.

    “Anakku, kata-katamu adalah kesempurnaan Tattwa. Hari ini aku berguru padamu. Telah tepiciklah aku selama ini, memperjuangkan kebenaran hanya untuk pribadi di dalam diri. Melupakan bumi tempat tubuh ini berpijak. Siwa dan Budha bersatu dalam satu tubuh, tanpa batas antara lahir dan bathin. Seandainya saudaraku ada disini dan mengetahui akan hal ini, kami pasti tidak akan terpisah dalam perseturuan”, berkata Empu Dangka seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.Sebuah gambaran seorang yang mempunyai kelapangan jiwa, mau menerima kebenaran, tidak memperdulikan siapa yang berkata.

    “Untuk kelapangan hati, aku masih harus berguru dengan Empu”, berkata Kertanegara memandang Empu Dangka dengan penuh kebanggaan.

    “Tattwa ibarat sebuah tinta Samudera, ilmu yang kita miliki adalah cuma sebaris kata yang jatuh diujung pena. Semakin kita meneguk air Tattwa, semakin haus dahaga kita rasakan”, berkata Empu dangka kepada Kertanegara.

    • nyielm dulu ach……bleb bleb blebbbb

      • Sinden sama juru gamelan semuanya sudah terkantuk-kantuk…………
        GONG !!!!kaki dhalang tersandung tangan tukang kemong, tukang gendang langsung menyambut,,,dung dung prak, dung dung prak…derrrrrrrrr…..dut.
        LAYARPUN TURUN MENUTUPI PANGGUNG…….

        • dan para penontonpun berteriak, “kamsiaaaa……”

          • dan akupun terpana…teringat sekilas kisah ki kompor versus nimas padmi

  27. Malam telah turun membelenggu hutan Porong dengan kegelapannya. Cahaya oncor dari minyak biji jarak menerangi gubuk di tepian sungai berbatu itu.

    “Besok kamu akan melanjutkan perjalananmu ?”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara yang memang bermaksud melanjutkan perjalanannya.

    “Meski lewat pencerahan tattwa yang telah Empu tuntun selama ini, aku telah menemukan arah perjuanganku sendiri, sementara perjuanganku mendapatkan Menik Kaswari lebih bersifat janji seorang lelaki”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka menjelaskan tujuan awal meninggalkan tanah kelahirannya untuk membawa kembali gadis pujaannya.

    “Mencintai dan dicintai, itu adalah anugerah dari Gusti Yang Maha Kasih. Ikutilah air yang mengalir. Sementara harta, tahta dan wanita ibarat batu-batu hitam ditengah arus sungai. Janganlah menghalangi dirimu mencapai muara cintah kasih yang hakiki, yang abadi”, berkata Empu Dangka.

    “Nasehat Empu adalah pusaka yang akan selalu aku jaga”, berkata Kertanegara dengan perasaan gamang, besok ia akan berpisah dengan orang tua didepannya. Sendiri menghadapi sisa kehidupannya.

    Suasana menjadi begitu hening, Empu Dangka dan Kertanegara sepertinya tengah ada di dalam pikirannya masing-masing. Kegelapan malam tanpa suara angin sepertinya menambah kesunyian itu. Hanya suara air sungai yang terus menderu ditingkahi suara binatang malam. Sekali-kali terdengar suara burung yang terus semakin menjauh.

    “Kamu tidak perlu kembali kesungai Brantas, telusuri sungai ini sampai ke muara sungai porong. Aku ingin kamu menemui seorang sahabatku disana”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara memecah kesunyian diantara mereka.

    “Siapa nama sahabat Empu itu ?”, bertanya Kertanegara
    “Aku tidak tahu nama aslinya, yang kutahu bahwa ia memperkenalkan dirinya dengan nama Kebo Arema”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara.

    Empu Dangkapun sekilas menceritakan beberapa hal mengenai sahabatna itu yang bernama Kebo Arema. Seorang pendekar muda yang sangat disegani oleh para perompak, di sungai dan di lautan. Hingga pada suatu hari terkena sebuah muslihat, dirinya diracuni oleh musuhnya dengan racun yang keras.Syukurlah, garis hidupnya tidak harus mati oleh sebuah racun. Dengan kesabaran akhirnya Empau Dangka dapat menyembuhkannya. Itulah awal perkenalan dan persahabatan antara Kebo Arema dan Empu Dangka.

    • lho….!?
      kamsiaa…..

    • Sepertinya, satu wedaran lagi sudah cukup satu jilid.
      Betulkah Ki Kompor?.
      Satu wedaran lagi, saya boleh buat gandok baru SFBDBS-2?

      • Akkuuuuuuuuuuuurrrr,

        kaaaaaaaaammmmmmmmmsiaaaaaaaa!!!!!!!!!!

  28. Nuwun
    Sugêng sontên

    Sanak Kadang padépokan pêlangisingosari ingkang minulyå

    Dongeng Dhalang Ki Arif Sudjana Al Kompor van Cipondoh, sampai juga ke rencana pengembaraan si Kerta menyusuri Sungai Brantas ke Sungai Porong:

    …….. Kamu tidak perlu kembali kesungai Brantas, telusuri sungai ini sampai ke muara sungai porong. …..” berkata Empu Dangka kepada Kertanegara………………

    I. Sungai Porong

    Perlu diberitahukan kepada si Kerta (maksudnya Kertanegara) supaya agak ati-ati (maksudnya hati-hati), kalau si Kerta menyusuri muara Sungai “Porong” (tanda “…..”) sengaja saya tulis, sebab pada waktu itu — Kidung Sundayana menyebutkan tentang kota Bandar Canggu –, sebagai “sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan sungai (tidak atau belum disebut sebagai Sungai Porong dan Kali Mas), terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

    JIka Si Kerta melewati muara “Sungai Porong”, berarti ke arah Timur Laut menuju Sukitan
    (Cacatan perjalanan pengelana Cina bernama Chou Ku Fei yang menulis dalam karyanya Ling Wai Taita)

    Sukitan merupakan transliterasi Cina dari Supitan (Dalam bahasa Jawa, selat disebut supit atau supitan, atau laut yang sempit), dimaksud di sini adalah Supitan Madura, suatu tempat yang membentang di perairan selat Madura dari Bangil sampai Surabaya atau pantai Barat Daya Madura, merupakan muara “Sungai Porong”

    Kenapa harus ati-ati?

    Dalam Kidung Pararaton disebutkan bahwa telah terjadi perpindahan daerah aliran sungai (DAS) Brantas yang disebut sebagai bencana “pabanyu pindah” Demikian juga Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal. Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong “Kali Porong”, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

    Secara geologi, Jalur “salah satu cabang Sungai Brantas” sejalur dengan lokasi semburan lêndhut bêntèr yang masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara (tepatnya ke Timur Laut) ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

    Jadi, Si Kerta harus ati-ati kalau menyusuri “Sungai Porong”

    [Catatan:

    1. Itulah sebabnya maka “kutha” di Canggu dibangun, tidak semata-mata sebagai upaya penyerangan ke Mahibit, tempat gerombolan pemberontak Linggapati bertahan, tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis, lêndhut bêntèrsehingga pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, menjauhi perairan bebas.

    2. lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi, alias Lumpur Sidoarjo yang terjadi sekarang juga berada satu jalur dengan peristiwa bencana pabanyu pindah yang diberitakan oleh Pararaton 700 tahun yang lalu.

    II. Kota Surabaya”.

    a. Kertanegara dan Surabaya

    Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

    Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek-arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan.

    Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.

    Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, ejaan nama Surabaya awalnya adalah Çhurabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I berangka tahun 1358M atau 1280Ç.

    Dalam prasasti itu tertulis Çhurabhaya termasuk kelompok desa di tepian sungai Brantas sebagai tempat penambangan atau penyeberangan yang sudah ada sejak dahulu (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji praçasti).

    Walaupun prasasti Trowulan I sebagai bukti tertulis tertua yang mencantumkan nama Çhurabhaya, para ahli menduga bahwa Çhurabhaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

    Diyakini oleh para ahli sejarah Çhurabhaya telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sebuah hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanagara tahun 1275M atau 1197Ç, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M atau 1192Ç . [Catatan: Kebenaran hipotesa ini masih perlu dikaji ulang].

    Raden Wijaya dan Surabaya

    Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya mempersiapkan upeti, Wijaya dan pasukannya malah menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan tempurnya menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa di Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.

    Pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari meninggalkan banyak korban. Serangan mendadak yang tidak disadari itu membuat Ike Mese kaget tidak kepalang tanggung.

    Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.

    Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya, harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Dari sini mereka berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

    Adalah Lembu Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang bekerja sama dengan orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, yang melakukan penumpasan itu.

    Kekalahan balatentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi, kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporak-porandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di dalamnya.

    Menurut Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh (Tanjung Perak sekarang) dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.

    Pada pertempuran ini dicatat dalam sejarah Majapahit, Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan bersama umbu-umbul calon kerajaan yang akan lahir di atas kepala para prajurit Jawa. Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

    Berkibarnya Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.

    Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya. Akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.

    Nama Çhurabhaya pun muncul dalam pujasastra Negarakartagama tahun 1365M. Pupuh XVII, pada bait ke-5:
    yan ring janggala lot sabha nrpati ring çhurabhaya manulus mare buwun [Ketika sampai di Jenggala, sang raja singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.]
    Demikian.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • kamsia….langsung disedot.
      ade atu lagi nech….ane bolak/balik ke om google nanya tentang seputar pemberontakan kelana bhayangkara, ehhh jawabnye malah tentang arisan ibu-ibu bhayangkara dan TK bhayangkara…uch payahnye om google yang bukan wong jowo.

      KAMSIA SEBELUMNYA untk melihat panah sanderan dari ane

  29. Nuwun
    Sugêng énjang pårå kadang

    sebelum matahari terbangun
    di atas tanah perbukitan yang kecil indah nan sejuk itu,
    tempat kami mengingat
    dan selalu menyebut Kebesaran dan Kemuliaan NamaNya,
    juga di Shubuh pagi hari ini
    damai hati mengukir Cinta

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  30. Sugeng enjang,
    Akur P. Satpam sudahterlalu panjang.

  31. “Bawalah kayu aji besi keling ini, tunjukkan padanya”, berkata Empu Dangka tanpa menjelaskan kenapa dirinya harus menunjukkan kayu aji besi keling itu kepada Kebo Arema.

    Malam sudah semakin larut. Suara binatang malam mendenging mengisi kesunyian. Kadang masih terdengar suara burung celepuk dari tempat yang begitu dan semakin menjauh. Sementara itu cahaya oncor dari minyak biji jarak sudah semakin redup. Empu Dangka dan Kertanegara telah tertidur didalam lelapnya.

    Dan pagipun telah menjelang. Diawali dengan munculnya bintang kejora di langit timur. Hari masih begitu gelap dan dingin, Empu Dangka dan Kertanegara sudah terbangun.

    “Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ketika melepas kepergian Kertanegara.

    Sampai jauh mata Empu Dangka mengiringi sosok Kertanegara yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan sungai.

    Sebagaimana yang disarankan oleh Empu Dangka, dengan sebuah jukung perahu kecil Kertanegara menyusuri sungai Porong. Tidak ada hambatan yang berarti sepanjang perjalanannya. Hanya dalam kesendiriannya, Kertanegara merasa dirinya baru terlahir. Dirabanya sebuah canbuk yang melingkar di pinggangnya. “Dengan cambuk ini aku akan berdharma, melecut Singasari sampai di tempat tertinggi”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri dengan mata menatap kedepan penuh harapan dan semangat.

    Tidak terasa, jukung yang dikayuh Kertanegara telah mengantarnya hingga sampai ditepi muara.

    Ditambatkannya jukung itu di sebuah dermaga. Kertanegara melihat sebuah perkampungan nelayan, kesanalah langkah kakinya menuju.

    Senja telah turun dalam warna buram diatas perkampungan kecil itu.Wajah bulat matahari kuning sudah terpotong diujung barat cakrawala, seperti lukisan alam yang sempurna, begitu sejuk jiwa yang memandangnya.

    Ketika itu masih dalam musim angin barat, gelombang laut masih tinggi. Pada saat seperti itu banyak nelayan tidak berani melaut. Seorang lelaki tengah memperbaiki jalanya yang robek. Sementara dua anak kecil laki-laki bugil bertelanjang masih bermain di depan pondoknya yang sederhana.

    “Maaf mengganggu, dapatkah menunjukkan kepadaku dimana tempat tinggal seorang bernama Kebo Arema ?”, Kertanegara bertanya kepada lelaki itu.

    “Mari kuantar kisanak ke tempat Paman Kebo Arema”, berkata lelaki itu sambil berdiri.

    Kertanegara dan lelaki itu berjalan bersama ketempat tinggal kebo Arema.

    Seorang lelaki yang telah berumur setengah baya nampak tengah duduk di bale-bale sebuah pondok beratap jurai alang-alang. Pakaian yang dikenakannya sebagaimana kebanyakan para nelayan, begitu sederhana. Lelaki itu bertubuh sedang, nampak gagah dan berwajah tampan dengan sepasang alis tebal dan mata yang bersinar tajam, memandakan lelaki ini mempunyai kepribadian diri yang kuat.

    “Paman Kebo Arema, ada yang ingin bertemu”, berkata lelaki yang mengantar Kertanegara kepada seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Kebo Arema.

    Kebo Arema memandang Kertanegara dengan wajah ramah, sementara lelaki yang mengantar Kertanegara pamit meninggalkan mereka.

    “Mari kita duduk di bale-bale”, berkata Kebo Arema menyilahkan Kertanegara duduk bersama di Bale-bale.

    “Ada keperluan apa gerangan kisanak perlu menemui aku”, bertanya Kebo Arema kepada Kertanegara ketika mereka sudah duduk bersama di bale-bale.

    “Apakah paman pernah mengenal seorang bernama Empu Dangka ?”, bertanya Kertanegara mencoba meyakinkan bahwa di depannya adalah Kebo Arema sahabat dari Empu Dangka.

    “Empu Dangka yang tinggal di tepian sungai Porong, mungkin yang kisanak maksudkan ?”, Kebo Arema balik bertanya kepada Kertanegara.

    Dari pertanyaaan itu, Kertanegara merasa yakin bahwa lelaki didepannya itu memang Kebo Arema yang dimaksud.

    Maka sesuai amanat dari Empu Dangka, Kertanegara mengeluarkan kayu aji besi keling dari balik pakaiannya serta menunjukkannya dihadapan Kebo Arema.

    Bukan main kagetnya Kebo Arema melihat kayu aji besi keling berada di tangan Kertanegara. Wajahnya bertambah gelap menatap Kertanegara.

    “Ampunilah hamba Pangeran, hamba tidak berlaku hormat”, berkata Kebo Arema sambil bersujud dihadapan Kertanegara.

    “Bangunlah Paman, bagaimana Paman mengetahui bahwa aku seorang Pangeran ?”, berkata Kertanegara meminta Kebo Arema bangkit.

    Dengan wajah menunduk menjura penuh hormat. Kebo Arema pun menceritakan awal pertemuannya dengan Empu Dangka.

    “Empu Dangka yang sebelumnya kukenal dengan sebutan tabib seribu obat itu telah berhasil menyembuhkanku. Atas rasa terima kasihku, aku telah mempersembahkan diriku sendiri untuk mengabdi sepanjang hidupku kepadanya. Tapi beliau menolaknya dan mengatakan bahwa berbaktilah kepada seorang lelaki yang menunjukkan kepadamu kayu aji besi keling. Dialah putra sang fajar Putra Mahkota Singasari. Dampingilah dia seperti bintang kejora mengawal datangnya sang fajar”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara menceritakan tentang dirinya dan hubungannya dengan kayu aji besi keling yang ditunjukkan Kertanegara kepadanya.

    “Aku jadi malu, selama bersamanya aku menutup diri tentang jati diriku yang sebenarnya. Ternyata Empu Dangka tidak mempermasalahkannya dengan pura-pura tidak tahu”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema dengan bercerita singkat tentang pertemuannya dengan Empu dangka.

    “Kita sama-sama berutang nyawa dengan orang tua itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara. Menatap Kertanegara seperti kepada saudara kandungnya sendiri.

    “Selamat datang di gubukku yang sederhana”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat kepada Kertanegara.

    Kebo Arema dan Kertanegara begitu cepat menjadi begitu akrab, seperti dua saudara bercerita tentang beberapa hal, terutama tentang keberadaan mereka yang sama-sama pernah disembuhkan oleh Empu Dangka dan pernah lama tinggal di tepian sungai Porong, disebuah gubuk yang begitu sederhana.

    “Di kampung nelayan ini, aku cukup bahagia membantu para nelayan sebagai pawang ikan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara bercerita tentang dirinya di perkampungan kecil nelayan itu.

    “Aku belum pernah mendengar tugas dari seorang pawang ikan”, bertanya Kertanegara kepada Kebo Arema.

    Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Kertanegara, Kebo Arema menjadi maklum, karena sebagai orang daratan Kertanegara tidak mengetahui banyak bagaimana kehidupan seorang nelayan.
    “Tugas seorang pawang ikan adalah membaca bintang, membawa nelayan ketempat dimana ikan kakap merah berkumpul, dimana tempat ikan rengge bermain.Itulah sebagian dari keahliannku. Sementara itu para nelayan disini tidak mengetahui lebih jauh lagi tentang diriku yang sebenarnya. Mereka tidak akan mengetahui, bahwa aku dapat membawa mereka lebih jauh ke Tidore tempat begitu banyak mutiara, atau berkelana di sepanjang laut Selat Malaka. Hanya dengan membaca bintang di langit”, Berkata Kebo Arema menjawab pertanyaan Kertanegara.

    “Paman telah berkelana di banyak tempat”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang banyak bercerita tentang beberapa daerah yang pernah disinggahi, mulai dari pesisir tanah jawa sampai di beberapa nagari disepanjang selat Malaka.

    “Tapi akhirnya berhenti di tepian sungai Porong”, berkata Kebo Arema yang disambut gelak tawa oleh Kertanegara.

    “Aku akan mengajak Paman kembali berkelana, membacakan bintang dilangit untukku”, berkata Kertanegara kepada Keo Arema.

    “Kupersembahkan diriku ini untuk Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil menjura penuh hormat kepada Kertanegara. Seorang Putra Fajar yang sudah lama ditunggunya.

    • asyik berattttttttttttttt

      • he-he-he, gue yang nulis bilang asyik berat, embuhlah para kadang sedoyo

        nyilem dulu ach….janji mau ngantor ba’da johor naik montor mugi-mugi ketemu cewek bahenor

        • he he he …
          kamsiaaa……….

  32. kamsiaaaa, ngapunten sawek saget sowan, lha wong sawahe asat banyune, dadi kudu ekstra olehi nunggoni


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: