SFBdBS-01

Bagian 2

SFBdBS-01-013

Tanaman merayap itu ternyata mempunyai buah yang banyak. Anehnya baik yang masih kecil maupun yang sudah besar mempunyai warna yang sama, yaitu berwarna hijau. Buah yang paling besar dan kemungkinan sudah masak besarnya sebesar setengah kepalan tangan orang dewasa.

Mahesa Murti memetik sebuah yang nampak paling besar, tanpa berpikir panjang langsung mencobanya. Ternyata buah itu cukup manis.

“Manis asam enak”, berkata Mahesa Murti setelah menghabiskan buah itu tanpa sisa. ”Cobalah”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang langsung memetik sebuah yang menurutnya memang sudah masak.

“Lumayan untuk sekedar mengganjal”, berkata Raden Wijaya setelah mencoba buah yang tumbuh di dinding cadas itu.

“Setidaknya memperpanjang umur kita di bawah tanah ini”, berkata Mahesa Murti.

Sementara itu cahaya yang masuk dari langit-langit yang tinggi mulai menghilang, sebagai tanda bahwa matahari telah bergeser. Ruangan di bawah tanah itu pun menjadi semakin redup, semakin gelap.

Didalam kegelapan itulah Mahesa Murti secara bertahap memberi penjelasan awal kepada Raden Wijaya sebelum melaksanakan laku rahasia yang didapat dari sebuah rontal peninggalan Empu Purwa. Raden Wijaya penuh perhatian mencoba mencerna apa yang disampaikan Mahesa Murti.

“Raden pernah melihat seekor ular. Untuk melihat seekor ular secara bathiniah, adalah merasakan sifat-sifat ular itu sendiri, bagaimana seekor ular yang tertidur selama tiga bulan setelah memangsa seekor lembu, itulah ular sebagai lambang kemalasan”, berkata Mahesa Murti mencoba secara bertahap memberikan pengertian-pengertian membuka rahasia bathin.

“Raden pernah melihat seekor kera, perhatikan bagaimana caranya makan, mulutnya masih menyimpan makanan, sementara tangannya masih juga memasukkan makanan kedalam mulutnya, itulah sifat ketamakan yang ada di dalam dirimu”, berkata kembali Mahesa Murti masih memberikan pengertian tentang lambang-lambang.

Raden Wijaya mulai dapat mencerna, bagaimana melihat kedalam diri, berkelana di dalam diri yang selama ini belum pernah dilakukannya.

“Ternyata alam bathin itu begitu luas, seluas alam wadag itu sendiri”, berkata Raden Wijaya yang telah menangkap tahap awal pemahamannya mengenai rahasia bathin.

“Beristirahatlah, besok kita lanjutkan”, berkata Mahesa Murti yang merasa gembira, tahap pertama telah dilalui Raden Wijaya dengan begitu sempurna. Diam-diam memuji kecerdasan bathin Raden Wijaya. Karena tidak semua orang dapat mencerna pemahaman bathiniah.

Demikianlah,dari hari ke hari dan setahap demi setahap Raden Wijaya mulai menerima beberapa pengertian dasar. Di hari ketiga Raden Wijaya sudah masuk lebih dalam lagi mengenai rahasia-rahasia mengungkap diri, mengenal nafsu yang ada di dalam diri dan pengendaliannya.

“Ketika awal pertama belajar kanuragan, seorang guru mengajarkan bagaimana kita mengelak kekiri dan kekanan setiap mendapatkan serangan sebuah senjata kayu, setelah cukup lama berlatih, kita menjadi terbiasa mengelak, seperti itulah kita belajar “titis” mengelak setiap kali datang pikiran nafsu menyerang”, berkata Mahesa Murti yang dengan sabar memberi pemahaman kepada Raden Wijaya.

Pada hari keempat, Mahesa Murti merasakan bahwa Raden Wijaya telah mempunyai dasar yang cukup sebagai landasan yang kuat menerima “laku-rahasia”.

“Aku ingin melihat, sejauh mana daya lompatanmu”, berkata Mahesa Murti meminta Raden Wijaya melakukan sebuah lompatan keatas.

Raden Wijaya mempersiapkan dirinya, melakukan sebuah lompatan.

Hup..!!, Raden Wijaya melompat tinggi sekuat tenaganya. Hasilnya hanya sebatas dan setinggi lututnya.

“Bagus”, berkata Mahesa Murti. “Mulai hari ini aku aku akan mengajarkan sebuah laku rahasia.

Mulailah Mahesa Murti memberi penjelasan apa yang harus dilakukan Raden Wijaya untuk memulai sebuah laku rahasia.

Lubang-lubang diatas langit-langit dalam ruang bawah tanah telah menghilang, sebagi tanda matahari sudah jauh bergeser bersembunyi dibalik kegelapan malam.

Sementara itu, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah memulai laku rahasia, duduk bersila sempurna.

Didalam kegelapan malam, yang juga kegelapan diruang bawah tanah, Raden Wijaya seperti patung budha diam tak bergerak, napasnya semakin lama semakin tidak terdengar lagi. Sementara itu Raden Wijaya tidak melihat dan menyadari, bahwa Mahesa Murti di sebelahnya sudah tidak menyentuh lantai lagi, seperti terangkat mengambang satu jengkal dari permukaan lantai.

Baru setelah cahaya masuk lewat lubang langit-langit, Mahesa Murti memberi isyarat kepada Raden Wijaya mengahiri “lakunya”

“Kita mulai lagi”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya setelah beberapa lama mereka beristirahat sambil memakan buah hijau yang tumbuh di pojok kanan altar.

Kembali Mahesa Murti dan Raden Wijaya bersila sempurna ditempatnya masing-masing.

Raden Wijaya terlihat begitu tatag, nafasnya begitu teratur dan sama sekali tidak terdengar. Sementara itu terlihat seperti hari sebelumnya, tubuh Mahesa Murti terangkat mengapung di udara setinggi dua jengkal.

Raden Wijaya masih tetap duduk sempurna, melaksanakan laku rahasia sebagaimana diajarkan oleh Mahesa Murti. Dan keajaiban pun terjadi, merasakan tubuhnya begitu ringan terangkat sedikit demi sedikit, mengapung di udara setinggi tiga jari.

Seandainya ada orang yang hadir dan melihat apa yang terjadi, pasti menyangka bahwa Mahesa Murti dan Raden Wijaya adalah bukan manusia, tapi makhluk halus penghuni ruang bawah tanah. Bagaimana tidak heran dan terkejut melihat Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengapung tidak menyentuh dinding lantai.

Seharian dan semalaman Mahesa Murti dan Raden Wijaya berlatih laku rahasia itu. Baru ketika cahaya dari lubang langit-langit muncul kembali, Mahesa Murti memberi isyarat kepada Raden Wijaya untuk menghentikannya.

“Coba lakukan sebuah lompatan”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya ketika mereka sudah beristirahat sekian lamanya.

Hup..!!, Raden Wijaya mengerahkan segenab tenaganya. Bukan main gembiranya raden Wijaya merasakan kekuatan yang ada didalam dirinya. Tubuhnya sendiri seperti begitu ringan. Raden Wijaya dapat melompat setengah dari tingginya langit-langit.

“Kita sudah mulai punya sayap”, berkata Mahesa Murti sambil menepuk bahu Raden Wijaya. “Sekarang lakukan sebagaimana aku lakukan”, berkata kembali mahesa Murti sambil berjalan ke sudut ruangan.

Di sudut dinding itu, Mahesa murti diam sejenak, mencoba menilai sejauh mana kira-kira tenaga yang dapat dilontarkan oleh Raden Wijaya.

Terkesima Raden Wijaya melihat Mahesa Murti lompat dari sudut ke sudut dinding secara siksak tiga kali terus ke atas sampai tangannya menyentuh langit-langit yang tinggi, lima belas kali tinggi tubuhnya. Ternyata Mahesa Murti hanya mengeluarkan sepertiga dari kekuatannya.

“Raden pasti bisa juga melakukannya”, berkata Mahesa Murti kepada raden Wijaya memberikan semangat dan keyakinan.

Sambil berkata, tubuh Mahesa Murti turun tidak meluncur deras, tapi turun seperti tertahan perlahan sampai akhirnya kedua kakinya menyentuh dinding lantai.

Sebuah atraksi meringankan tubuh yang luar biasa.

“Lakukanlah secara bertahap, kendalikan kekuatan dan bobot tubuh kita sesuai kehendak kita”, berkata Mahesa Murti Kepada Raden Wijaya.

Dengan penuh semangat dan keyakinan, Raden Wijaya berlatih setahap demi setahap.

Diawali dengan satu loncatan, Raden Wijaya mulai dapat mengatur kekuatan dan mengendalikan bobot beban tubuhnya. Begitu besar semangat berlatih Raden Wijaya. Tidak terasa, seharian penuh Raden Wijaya terus meningkatkan latihannya dengan menambah jumlah lompatan. Dan kembali Raden Wijaya berhasil siksak dua kali lompatan dan turun perlahan nyaris seperti elang hinggap diatas puncak tebing.

Bukan main gembiranya hati Raden Wijaya, meski belum mampu menyentuh dinding langit-langit sebagaimana dilakukan oleh Mahesa Murti.

“Besok kita lanjutkan latihan kita, sekarang kita beristirahat dulu”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya, kagum melihat semangat berlatihnya Raden Wijaya.

Sebelum menjelang tidur, Mahesa Murti dan Raden Wijaya melaksanakan “laku rahasia” beberapa saat tidak begitu lama.

“Bila setiap menjelang tidur kita melakukannya, akan menambah ketajaman pengendalian kita terhadap kekuatan yang ada di dalam diri kita. Kekuatan kita semakin bertambah sesuai pengenalan kita terhadap sumber kekuatan itu sendiri, yaitu Gusti Yang Maha Agung”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

”Inilah sebuah laku rahasia membangun hawa murni warisan Empu Purwa yang berjodoh kepada kita”, kembali berkata Mahesa Murti sambil memandang tulang tengkorak di altar yang masih tegak duduk dalam posisi bersila sempurna.

Demikianlah, Raden Wijaya hari demi hari terus berlatih sampai akhirnya dapat melakukan lompatan dengan begitu sempurna, tangannya berhasil menyentuh dinding langit-langit yang tinggi, dan ketika turun, sebagaimana dilakukan Mahesa Murti, Raden Wijaya pun dapat melakukannya turun dengan pengendalian bobot beban tubuh yang sempurna.

Sebuah atraksi meringankan tubuh yang luar biasa telah di perlihatkan oleh Raden Wijaya dengan begitu sempurna.

“Kita sudah punya sayap”, berkata Mahesa Murti gembira melihat Raden Wijaya berhasil menyempurnakan latihannya.

 ———-oOo———-


SFBdBS-01-014

“Hari ini adalah hari terakhir kita di perut bumi ini, istirahatlah, besok pagi kita harus bersiap keluar dari lubang ini”, berkata Mahesa Murti yang memperkirakan hari sudah masuk malam.

Seperti biasa, menjelang tidur mereka melaksanakan laku rahasia terlebih dahulu. Setelah itu pun mereka berbaring tidur melepaskan kepenatan dan kelelahan setelah seharian berlatih.

Malam di dalam perut bumi memang sepertinya begitu panjang, begitu gelap dan pekat. Suara malam tidak menembus kedalaman bumi. Menjadikan ruangan itu seperti kuburan besar yang sunyi. Hanya nafas mereka saja yang terdengar perlahan didalam kegelapan dan kepekatan.

Dan pagi pun akhirnya datang juga. Matahari menembus celah-celah atap batu cadas seperti pedang-pedang panjang menerangi seisi ruangan.

“Jasad ini harus disempurnakan, sebagaimana permintaan beliau”, berkata Mahesa Murti sambil mengumpulkan dan mengikat tulang dan tengkoran dengan tali dari batang tanaman yang ada di ruangan itu.

“Mari kita masuk”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya mengajak masuk kedalam lubang yang sempit, yang hanya dapat dilalui dengan cara merayap.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya tengah merayap di lubang yang sempit. Seperti ular merayap, mereka menyusuri lubang sempit itu yang tidak selalu lurus, kadang berbelok kekiri, kadang juga berbelok ke kanan, dan bahkan kadang ada juga yang menanjak ke atas. Tapi dengan kekuatan yang sudah berlipat ganda karena sudah berlatih laku rahasia, mereka terus merayap dan tidak merasakan kelelahan. Mereka merayap lebih cepat dibandingkan ketika masuk beberapa hari yang lalu.

Dan akhirnya mereka telah keluar dari lubang yang sempit itu. Raden Wijaya nampak menarik napas panjang, begitu lega perasaannya keluar dari lubang yang sempit itu. Nampak wajahnya menatap keatas memandang mulut sumur yang begitu tinggi.

“Tunggu isyarat dariku”, berkata Mahesa Murti sambil mempersiapkan dirinya, berharap Raden Wijaya tidak segera meloncat sebelum ada isyarat darinya untuk berjaga-jaga terhadap hal-hal yang mungkin dapat terjadi di atas sana yang dapat mengancam keselamatan mereka.

Hup..!!, Mahesa Murti sudah melenting ke atas, terlihat kemudian kakinya menghentak pinggir dinding sumur yang dalam itu sebagai landasan melemparkan tubuhnya yang ringan melenting lebih tinggi lagi. Dan dengan tiga kali hentakan, Mahesa Murti sudah sampai di mulut sumur yang dalam. Mahesa Murti seperti terlahir kembali, melihat suasana kerindangan tumbuhan hutan dan sinar matahari pagi yang begitu menyilaukan matanya, belum terbiasa melihat cahaya setelah sekian lama terkurung di kedalaman perut bumi.

Sementara itu Raden Wijaya masih berada di lubang sumur, melihat Mahesa Murti memberi isyarat untuk segera naik keatas.

Hup..!!, tubuh Raden Wijaya telah melenting keatas, sebagaimana Mahesa Murti melenting begitu cepat seperti seekor belalang melenting beberapa kali dari pingir dinding ke dinding lainnya hingga akhirnya berdiri tegap di atas bibir sumur.

“Gusti Kang Maha Agung masih melindungi diri kita Raden”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang masih tegak di bibir sumur yang dalam. Bersyukur bahwa cucu Ratu Anggabaya yang telah dipercayakan kepadanya masih selamat bersamanya.

“Mari kita mencari tempat yang baik, guna memperabukan jasad Empu Purwa”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-015

Dan mereka pun sibuk membuat sebuah bade sederhana tetapi tetap dengan tujuh panggungan sebagai penghormatan tertinggi.

Bade pun dibakar, api menggulung-gulung membakar batang-batang kayu dan tulang belulang dari Empu purwa.

Ditengah kobaran dan kretak suara kayu terbakar, pendengaran Mahesa Murti yang tajam mendengar ada beberapa langkah kaki menginjak ranting tidak jauh dari mereka.

“Ada beberapa orang bersembunyi di sekitar kita”, berbisik Mahesa Murti kepada Raden Wijaya agar berlaku waspada.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya tidak menunjukkan sikap apapun, sepertinya belum mengetahui bahwa ada beberapa pasang mata tengah mengintai mereka.

“Mereka mendekat”, kembali Mahesa Murti berbisik kepada Raden Wijaya.

Ternyata apa yang Mahesa Murti katakan benar adanya. Lima belas orang tengah mendekati mereka dari arah belakang. Dengan cepat Mahesa Murti dan Raden Wijaya membalikkan badannya.

Mahesa Murti dan Raden Wijaya terpaku terheran-heran. Orang-orang yang mendekati mereka telah bersujud dihadapan mereka. Memanggil dan menyebut Mahesa Murti dan Raden Wijaya sebagai dewa.

“Ampunkan kami dewa agung”, berkata mereka sambil bersujud dihadapan Mahesa Murti dan Raden Wijaya.

Iba hati Mahesa Murti melihat orang-orang itu. Yang ternyata adalah sekelompok suku asli penghuni hutan yang masih begitu terasing yang tidak pernah keluar dari kehidupan hutan sebagai tanah penghidupan mereka

Dan teringat Mahesa Murti bahwa merekalah yang menjebaknya sehingga masuk kedalam lubang sumur yang dalam. Sementara itu Mahesa Murti tidak menyalahkan mereka atas “penumbalan” yang telah terjadi.Karena merupakan hal yang biasa pada jaman itu, penumbalan manusia atas manusia. Pengorbanan manusia atas manusia.

“Bangkitlah”, berkata Mahesa Murti dengan suara yang menggelegar.

“Ampun dewa, jangan celakai kami”, berkata salah seorang yang nampaknya pimpinan orang-orang itu yang telah mulai mengangkat wajahnya menatap Mahesa Murti dan Raden Wijaya penuh rasa takut.

“Mulai hari ini tidak ada lagi penumbalan”, berkata Mahesa Murti dengan wajah dan suara yang agak ditekan berkesan angker.

“Perintah Dewa akan kami patuhi”, berkata pemimpin mereka yang juga terlihat usianya paling tua di antara orang-orang itu.

“Bawa kembali kuda-kuda kami”, berkata mahesa Murti memberi perintah.

Maka pemimpin mereka mengerti apa yang diinginkan dari Mahesa Murti, terlihat salah seorang dari mereka berlari dan menghilang dibalik semak-semak.

Tidak lama kemudian, orang itu telah datang kembali membawa dua ekor kuda. Mahesa Murti dan Raden Wijaya mengenali bahwa kuda-kuda itu adalah miliknya.

“Sekarang menjauhlah, jangan sesekali mendekati tempat ini”, berkata Mahesa Murti memberi isyarat agar mereka pergi menjauh.

Dan mereka pun perlahan menjauh meninggalkan Mahesa Murti dan Raden Wijaya hilang di balik kerimbunan pedalaman hutan Kondang.

Matahari sudah melonjak semakin tinggi diatas cakrawala, dua ekor kuda perlahan berjalan menyusuri kerimbunan hutan kondang. Mahesa Murti dan Raden Wijaya melanjutkan perjalanannya yang tertunda beberapa hari, terkurung terperangkap dalam perut bumi.

“Ternyata paman dapat juga berlaku seperti dewa”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Murti.

Mahesa Murti mengerti apa yang Raden Wijaya maksudkan, maka ia pun berkata, “Kepercayaan mereka sudah begitu tua, butuh banyak waktu untuk merubahnya. Jalan terbaik untuk saat ini adalah menjadi dewa”.

“Dewa hutan Kondang”, berkata Mahesa Murti yang dibalas gelak tawa dari Raden Wijaya.

Matahari telah turun semakin merendah di langit cakrawala senja ketika Mahesa Murti dan Raden Wijaya keluar hutan kondang.

“Di balik bukit batu itu kita akan mendapatkan sebuah padukuhan”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang menyambutnya dengan meyepak perut kuda agar berlari.

Dua ekor kuda berpacu di tengah padang, berpacu mengejar bukit batu dalam bayangan senja.

***

Kita tinggalkan dulu perjalanan Mahesa Murti dan Raden Wijaya, yang selalu menikmati perjalanannya, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, seperti elang laut yang perkasa yang tidak pernah gentar memandang angin prahara, terus maju mengepakkan sayapnya kembali ke puncak bukit batu pulau karang. Diketinggian itulah mereka akan kembali pulang. Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu di sebuah jalan yang panjang, seorang pemuda dengan pakaian yang kasar yang biasa dipakai para petani, tengah berjalan dengan langkah begitu mantap. Dari gerakan langkahnya dapat di duga, bahwa pemuda itu seorang yang sudah cukup terlatih. Terlihat dari irama setiap langkahnya yang jatuh teratur.Tapi keberadaan pemuda yang berpakaian sederhana itu tidak banyak memberikan perhatian. Beberapa orang yang berpapasan dengannya tidak begitu memperhatikannya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-016

Sebuah pedati yang ditarik dengan seekor kuda melewatinya. Dua orang nampak di atasnya. Jalan di depan nampaknya menanjak. Jalan pedati menjadi begitu lambat. Dan di luar keinginan, tiba-tiba saja roda kanan pedati terlepas dari jalurnya. Luar biasa beban yang harus ditahan oleh kuda pedati itu. Sudah dapat di duga, bila kuda pedati itu tidak dapat menahan beban, maka ada kemungkinan pedati itu akan terjungkal ke belakang.

Pemuda sederhana, yang melihat semua kejadian itu dengan cepat memungut sebuah batu besar dijalan, berlari mengganjal sebuah roda sebelah kiri pedati. Pedati pun tidak turun terjungkal ke belakang.

“Terima kasih anak muda”, berkata seorang yang dengan tergesa turun dari pedati.

“Hanya kebetulan aku melihat langsung dari belakang pedati. Mari kita periksa, kenapa roda itu dapat keluar dari jalurnya”, berkata pemuda sederhana itu.”Tolong katakan kepada kawanmu untuk melepas pelana kuda”, berkata pemuda itu sepertinya begitu tanggap apa yang harus dilakukan segera.

Seorang yang telah mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu pun memerintah kawannya untuk melepas pelana kuda dari pedati. Dari gaya ucapannya dapat diketahui bahwa orang itu nampaknya seorang saudagar, sedangkan kawannya itu adalah pembantunya.

Pelana kuda sudah dilepaskan dari pedati. Pemuda dan saudagar itu pun memeriksa roda kanan yang terlepas. Sementara pembantunya tengah mengikat kuda di sebuah pohon di pinggir jalan.

“Pasaknya pecah”, berkata pemuda itu setelah memeriksa jalur roda.

Bersama saudagar dan pembantunya, pemuda sederhana itu pun nampak sibuk ikut menurunkan beberapa barang yang ada di atas pedati. Serta dengan sigap membantu memperbaiki membuat pasak baru dari ranting pohon hitam yang banyak tumbuh di sepanjang jalan.

Dan akhirnya roda pun telah terpasang di tempatnya seperti semula.

“Terima kasih untuk pertolongannya”, berkata saudagar itu merasa gembira melihat roda sudah terpasang. “Perkenalkan namaku Magonda”, lanjut Saudagar itu memperkenalkan dirinya.

“Namaku Kerta”, berkata pemuda sederhana itu.
Magonda memperhatikan pemuda sederhana di hadapannya, baru kali ini setelah beberapa waktu tidak sempat memperhatikannya. Dari pakaian yang di kenakan Kerta, maka Magonda berpikir bahwa Kerta hanyalah seorang pengembara yang sering di jumpainya. Seorang pengembara yang tidak mempunyai arah tujuan. Dan tanpa berpikir panjang menawarkan pekerjaan kepada Kerta. Yang sebenarnya adalah Pangeran Kertanegara, Sang Putra Mahkota.

“Seorang pembantuku terkena sakit malaria, terpaksa aku titipkan di rumah sepupuku di Kotaraja. Kalau kamu tidak keberatan, mungkin kamu bersedia bekerja bersama kami”, berkata Magonda.

“Kemana tujuan tuan?”, bertanya Kertanegara kepada Magonda

Sekejab Magonda menjadi bingung, pemuda didepannya ini bertanya lebih dulu kemana tujuannya sebelum menyampaikan kesediaan atas tawaran kerjanya. Tapi Magonda berpikir cepat. Mungkin anak muda ini ingin mengetahui sejauh mana arah perjalannya. Sehingga tidak bersimpangan dengan tujuan perjalanan pemuda ini.

“Saat ini kami hendak ke Bandar Cangu, setelah sampai di sana kami akan berlayar ke Carubhaya”, berkata Magonda menjelaskan tujuan perjalanannya.

“Aku bersedia bekerja dengan tuan”, berkata Kertanegara setelah berpikir bahwa perjalanannya akan lebih baik lagi bila bergabung bersama Magonda, seorang Saudagar.

Bukan main senangnya Magonda mendengar kesediaan Kertanegara yang sejak semula sudah timbul perasaan suka.

Kertanegara, Magonda dan pembantunya naik di atas pedati kuda. Ternyata Magonda suka bercerita. Banyak sekali yang di ceritakannya, bukan cuma pengalaman perjalanannya sebagai seorang Saudagar, juga bercerita tentang beberapa istrinya yang tersebar di berbagai tempat.

“Seorang istriku di Madura mempunyai senjata tongkat”, berkata Magonda bercerita tentang salah satu istrinya. “Aku sering dikalahkannya dengan tongkat itu”, lanjut Magonda.

“Istri tuan seorang pendekar wanita?”, bertanya Kertanegara dengan lugunya.

Seorang pembantunya yang sedang memegang kendali kuda, pernah juga diceritakan Magonda dengan cerita yang sama langsung tertawa terpingkal-pingkal. Kertanegara menjadi bingung, adakah yang lucu dengan pertanyaaanya ?

“Sukar sekali bicara dengan orang muda sepertimu”, berkata Magonda kepada Kertanegara.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-017

Jarak perjalanan ke Bandar Cangu memang tidak begitu lama lagi. Matahari masih belum tenggelam manakala pedati yang ditumpangi Kertanegara telah sampai di Bandar Cangu. Tiang-tiang layar kapal kayu yang bersandar sudah terlihat dari jauh. Bergeser sedikit dari dermaga akan terlihat bangunan benteng Cangu yang masih dalam pembangunannya.

Begitu ramai suasana di Bandar Cangu. Lalu lalang para buruh mengangkat barang. Kadang juga terlihat beberapa Prajurit Singasari. Yang sangat menarik lagi adalah kehadiran beberapa wanita dengan pakaian yang menggiurkan berjalan sepertinya mengundang setiap mata lelaki. Sudah menjadi kelajiman di setiap Bandar dimanapun akan diramaikan dengan beberapa rumah pelacuran. Bahkan bukan sesuatu yang aneh bila pihak kerajaan menunjuk seseorang sebagai Pejabat rumah bordil istilah untuk tempat pelacuran.

“Kita menginap di sini”, berkata Magonda ketika pedati mereka berhenti di sebuah penginapan.

“Aku akan menemui kawanku, menanyakan apakah ada kapal yang akan berangkat besok”, berkata Magonda kepada Kertanegara yang tengah sibuk menyimpan beberapa barang yang harus dikeluarkan dari pedati.

Malam telah menyelimuti Bandar Cangu, di atas langit bergantung sang rembulan menaburkan cahaya kekuningan di atas tiang-tiang layar kapal kayu yang bersandar, menerangi bangunan benteng Cangu yang masih belum sempurna.

Dari sebuah gundukan tanah tinggi, Kertanegara memandang semua itu bersama jutaan bintang di langit malam.

“Ayahanda telah memulai membuat gerbang yang sempurna di Bandar Cangu ini. Dari tanah inilah Singasari menguasai dunia”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri memuji siasat Ayahandanya membangun benteng dan Bandar Cangu.

Ketika Kertanegara memandang rembulan yang dikelilingi taburan bintang. Hayalannya bergayut pada wajah Menik Kaswari.

“Aku akan membuktikan, bahwa cintaku padamu tidak akan pernah hilang sebagaimana janji bintang kejora diawal pagi”, berkata Kertanegara kepada dirinya sambil memandang wajah bulan yang sepertinya tersenyum memandangnya.

Angin malam berhembus begitu dingin, menyadarkan Kertanegara bahwa malam sudah jauh mendekati pagi. Didalam kekelaman malam Kertanegara kembali ke penginapannya.

Bumi pagi di Bandar Cangu sudah menggeliat, wajah-wajah ceria para buruh bekerja mengangkat barang ke kapal kayu mewarnai dermaga.

Seorang awak kapal telah menarik jangkar keatas, sementara seorang didermaga melepas tali ikatan kapal kayu. Sepuluh budak mengayuh kapal kayu ketengah sungai. Dan kapal kayu pun telah bergerak terbawa arus sungai Brantas.

Tiga orang laki-laki tengah melambaikan tangannya kepada sebuah keluarga yang ada di atas kapal kayu. Sepasang suami istri bersama seorang anak perempuannya yang sudah remaja. Beberapa orang lagi duduk berkerumun menikmati makan pagi, sepertinya para saudagar dan pembantunya yang sudah terbiasa menggunakan kapal kayu ini sebagai jalur perdagangannya.

Kertanegara memandang dermaga Bandar Cangu yang semakin menjauh dari dag belakang kapal kayu. “Perjalananku sudah semakin menjauh dari Kotaraja. Di dermaga inilah aku akan bersandar membawa kembali Menik Kaswari”, berkata Kertanegara memandang dermaga yang semakin menjauh.

“Apakah ini perjalanan pertamamu dengan kapal kayu?”, bertanya Magonda yang sudah ada disampingnya. Dan Kertanegara tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya.

Kapal kayu telah meluncur semakin menjauh, membelah hutan rimba disepanjang sungai Brantas.

“Harus ada pos gardu tambahan di sepanjang perairan ini membantu keberadaan benteng Cangu”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri melihat begitu sunyinya keadaan di sepanjang perairan.

“Kita akan melewati simpang tiga Hutan Bahar”, berkata Magonda menghentikan lamunan Kertanegara.

“Ada apa dengan simpang tiga Hutan Bahar ?”, bertanya Kertanegara tertarik dengan ucapan Magonda.

“Kawanku pemilik kapal kayu ini mengatakan, setelah Datuk Malakar tewas, daerah ini menjadi perairan yang tidak bertuan, para bajak laut semakin merajalela. Dan simpang tiga hutan bahar inilah yang menjadi daerah operasi mereka. Mereka datang dan pergi dari sungai yang ada di mulut Hutan Bahar”, berkata Magonda memberi keterangan kepada Kertanegara.

Bukan main geramnya hati Kertanegara. Sebagai seorang Pangeran, hati kecilnya merasakan kegeraman kepada bajak laut yang tidak lagi memandang kekuasaan Singasari. Tapi kegeraman itu tidak ditunjukkan dihadapan Magonda.

“Para bajak laut sepertinya punya banyak mata, sepertinya sudah membaca kapan kapal kayu yang memuat barang yang berharga lewat di daerahnya”, berkata Magonda kepada Kertanegara dengan wajah penuh khawatir, karena sebentar lagi simpang tiga hutan bahar akan dilaluinya.

“Apakah sudah ada yang melaporkan keadaan ini kepada pejabat di Bandar Cangu”, bertanya Kertanegara kepada Magonda

“Sudah, tapi tidak ada upaya apapun, mungkin mereka masih sibuk membangun benteng di Bandar Cangu”, berkata Magonda kepada Kertanegara.

Apa yang dikhawatirkan Magonda sepertinya memang akan menjadi kenyataan. Sebuah Kapal kayu besar tiba-tiba muncul dari mulut Hutan Bahar.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-018

Kapal kayu di depan yang muncul dari mulut Hutan Bahar telah menghadang di depan.

“Perompak”, berkata seorang awak kapal.

Teriakan awak kapal itu sudah terlambat. Kapal perompak itu sudah merapat di lambung kiri kapal kayu yang ditumpangi Kertanegara. Dua puluh orang bersenjata golok panjang telah melompat menyeberang di atas dek kapal.

“Yang tidak ingin melawan berkumpul di sebelah kanan, aku tidak akan melukai kalian”, berkata seorang yang bertubuh tinggi besar dan bercambang yang sepertinya pimpinan dari para perompak. Senjatanya begitu aneh, sebuah pedang yang terbuat dari tulang ikan pari.

Beberapa penumpang dengan wajah penuh ketakutan telah berkumpul di sebelah kanan dag kapal. Sementara itu sepuluh awak kapal dengan pedang telanjang di tangan telah berkumpul siap menghadapi apapun yang terjadi.

“Menyerahlah, kami lebih banyak dari kalian”, berkata pemimpin perompak itu menggertak para awak kapal.

“Kami lebih baik mati daripada menyerahkan apapun kepada kalian”, berkata seorang awak kapal yang ternyata pimpinan dari para awak kapal itu.

Kertanegara sudah bersiap diri akan terjun bertempur membela para awak kapal. Tapi ada seseorang memanggil namanya.

“Kerta, kemarilah…!!”, terdengar Magonda memanggil Kertanegara dari sebelah dek kanan di antara beberapa penumpang yang telah berkumpul.

Tapi Kertanegara sepertinya sudah tidak peduli dengan panggilan Magonda yang duduk cemas melihat Kertanegara yang tidak ingin bergabung bersamanya. Bahkan dengan gagahnya Kertanegara telah bergabung bersama para awak kapal.

“Dengar sekali lagi orang-orang dungu, menyerahlah. Kami hanya memerlukan barang yang kalian bawa, setelah itu kalian dapat pergi dengan selamat”, berkata pimpinan perompak itu memberikan peringatan kepada para awak kapal agar menyerah.

“Dengar sekali lagi orang sombong, kami tidak akan pernah menyerah”, perkata pimpinan para awak kapal tidak kalah gertaknya.

Bukan main marahnya pemimpin perompak itu. Yang nama panggilannya adalah Daeng Bahar, yang sangat ditakuti oleh kawan maupun lawan. Yang merupakan satu-satunya lawan tanding dan saingan terbesar Datuk Malakar, merasa tidak dipandang mata oleh para awak kapal, darahnya seperti terbakar.

“Habisi mereka !!”, berkata Daeng Bahar kepada anak buahnya yang langsung mengepung para awak kapal dan Kertanegara yang telah ikut bergabung.

Pertempuran pun tidak bisa lagi dihindari. Para perompak langsung menerjang para awak kapal.

Sebuah sabetan golok panjang menyambar kepala Kertanegara. Dengan gesit Kertanegara mengelak merendahkan tubuhnya. Golok panjang yang diayunkan dengan kekuatan penuh lewat di kepala Kertanegara.

Melihat sasarannya terlepas, seorang perompak yang bertubuh bundar semakin penasaran. Ayunan golok panjangnya berubah arah, kali ini langsung membelah kepala Kertanegara. Kembali Kertanegara dengan gesit mengelak dengan mundur ke belakang. Golok panjang menancap setengah jengkal di kayu geladak kapal.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kertanegara. Tendangan kerasnya langsung menghantam wajah orang bertubuh bundar itu. Dan langsung terjengkang tidak sadarkan diri.

Kertanegara mengambil golok panjang yang menancap di kayu geladak kapal. Melihat pertempuran yang berat sebelah. Hampir setiap awak kapal dikerubuti oleh dua orang perompak. Sementara itu pemimpin awak kapal itu pun tengah berjuang menghadapi Daeng Bahar yang bertempur demikian garangnya.

“Aku harus mengurangi kekuatan mereka”, berkata dalam hati Kertanegara sambil mengayunkan golok panjang di tangannya kepada seorang perompak di dekatnya. Perompak itu tidak sempat mengelak, maka yang dapat dilakukannya adalah menangkis sambaran golok panjang yang tertuju pada pinggangnya dengan senjatanya. Maka benturan dua senjata pun terjadi. Senjata perompak itu pun langsung terlepas dari tangannya. Dan tendangan Kertanegara kembali menemui sasaran terbuka, bersarang pada dada perompak yang masih tercengang merasakan tangannya yang masih seperti terbakar akibat benturan goloknya sendiri. Perompak itu pun langsung terjungkal melayang membentur kayu penyangga geladak.

Daeng Bahar ternyata bermata awas, seorang pemimpin yang tahu melindungi anak buahnya. Melihat dengan cepat dua orang anak buahnya terkapar tidak bergerak, matanya memandang tajam ke arah Kertanegara.

Dengan sebuah lentingan panjang melayang ke arah Kertanegara meninggalkan pimpinan awak kapal seorang diri.

Sementara itu pemimpin awak kapal yang ditinggal sendiri oleh lawannya langsung menerjang perompak di dekatnya yang tengah menyerang mengerubuti seorang anak buahnya.

“Akulah lawanmu”, berkata Daeng Bahar kepada Kertanegara dengan mata tajam menakutkan.

Kertanegara tidak menjadi gentar dengan tatapan tajam itu. Tapi juga tidak meremehkan lawannya itu, terutama dengan pedang tulang ikan pari itu yang menurut perhitungan Kertanegara mengandung bisa racun yang tajam.

“Aku sudah siap”, berkata Kertanegara dengan tenang.

“Rasakan pedangku”, berkata Daeng Bahar sambil mengayunkan pedangnya menyambar dada Kertanegara. Serangan itu datangnya begitu cepat, sepertinya angin sambarannya telah menerjang dada Kertanegara. Maka dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya, Kertanegara mundur kebelakang. Pedang tulang pari lewat sejengkal dari dada Kertanegara. Ternyata ayunan keras itu membawa tubuh Daeng Bahar. Melihat pinggang yang terbuka, Kertanegara pun langsung membabat goloknya ke samping searah ayunan pedang tulang pari Daeng Bahar. Tubuh Daeng Bahar pada saat itu seperti mati langkah. Maka jalan satu-satunya adalah menjatuhkan dirinya menghindari serangan golok Kertanegara, bergelinding dua kali di lantai geladak dan dengan cepat bangkit berdiri dengan mata melotot tidak percaya, bahwa anak muda lawannya mempunyai serangan yang begitu hebat, begitu mematikan.

“Gila !!”, berkata Daeng Bahar penuh kemarahan bercampur malu merasa anak buahnya yang begitu segan dan takut kepadanya melihat apa yang terjadi dengannya, mengelinding dilantai geladak kapal.

Daeng Bahar kembali menyerang Kertanegara. Kali ini serangannya penuh dengan perhitungan. Tidak meremehkan anak muda yang menjadi lawannya itu. Dan Kertanegara pun semakin berhati-hati. Pertempuran pun menjadi begitu sengit, masing-masing telah meningkatkan tataran ilmunya. Saling serang, kadang berlompat menghindar dari setiap serangan. Kertanegara bagai burung sikatan menukik cepat menyerang, tapi Daeng Bahar juga dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya menghindar dan langsung balik menyerang.

Magonda yang gemetar berkumpul bersama para penumpang kapal kayu, benar-benar tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, anak muda yang selama ini bersamanya ternyata dapat bertempur begitu hebat, bahkan dapat menandingi serangan pemimpin perompak yang ganas dan begitu cepat. Kadang pandangan matanya seperti kabur tidak bisa lagi mengikuti gerakan dari keduanya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-019

Sementara itu para awak kapal betul-betul berjuang keras menghadapi para perompak dengan jumlah lebih banyak. Beberapa orang sudah ada yang terkapar tidak bergerak. Satu orang perompak dan dua orang lainnya adalak awak kapal itu sendiri. Dengan gigih para awak kapal mempertahankan dirinya dari serangan para perompak yang brutal dan kasar. Beberapa orang awak kapal sudah terluka. Perlawanan mereka sudah semakin melemah, bersamaan tiga orang awak kapal jatuh kembali terkapar. Hanya tinggal lima orang lagi yang masih bertahan menghadapi tujuh belas perompak.

Sebuah suitan nyaring terdengar dari pimpinannya, seperti tahu apa yang harus dilakukan, para awak kapal telah bersatu beradu punggung. Untuk sementara mereka dapat bertahan dengan saling membantu. Tapi para perompak ternyata punya pengalaman bertempur yang banyak, mereka pun sepertinya bersepakat mencari seorang awak yang paling lemah. Maka serangan pun ditujukan pada awak kapal yang dianggapnya paling lemah, seorang awak kapal yang sudah terluka paha kaki kirinya tergores golok panjang para perompak. Dan siasat para perompak berhasil. Para awak kapal di sisi kanan dan kirinya tidak dapat melindungi kawannya. Sebuah tusukan golok panjang menembus awak kapal yang sudah terluka itu. Jatuh lemah terkulai di lantai geladak. Dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Pemimpin awak kapal menyadari, lambat atau cepat mereka pasti habis terbantai. Maka sebelum hal itu terjadi, Pemimpin itupun telah mengambil keputusan yang berat.

“Kami menyerah”, berkata Pemimpin awak kapal itu mengangkat pedangnya diikuti oleh keempat anak buahnya.

“Letakkan senjata kalian”, berkata seorang perompak yang berwajah hitam menyuruh para awak kapal yang sudah menyerah meletakkan senjatanya.

Lima orang awak kapal yang menyerah itu pun telah diikat kuat di pagar geladak.

Sementara itu pemimpin perompak dan Kertanegara masih bertempur dengan keras dan sengitnya. Saling berlompat menghindar dan menyerang. Sukar sekali mengukur siapa yang lebih tinggi ilmunya. Terlihat Daeng bahar mempunyai pengalaman bertempur yang cukup. Serangannya begitu banyak unsur tipuan yang berbahaya. Untungnya Kertanegara seorang yang banyak mengutamakan kecerdikan dan ketenangan, sehingga tidak mudah tertipu. Yang sangat di takuti oleh Kertanegara adalah senjata Daeng Bahar itu sendiri yang terbuat dari tulang ikan pari, yang mempunyai bisa yang kuat. Itulah sebabnya Kertanegara tidak pernah lengah sedikit pun.

Magonda bersama para penumpang yang melihat pertempuran itu menjadi gelisah, berharap Kertanegara mengalahkan pemimpin perompak itu. Tapi Pemimpin perompak itu dalam pandangan Magonda begitu lihai dan ganas. Beberapa kali napasnya seperti berhenti melihat serangan pemimpin perompak itu yang nyaris mengenai tubuh Kertanegara.

Sementara para perompak yang sudah berhasil menyelesaikan pertempurannya memandang geram, tidak sabar untuk ikut membantu pemimpim mereka. Tapi mereka tidak berani melakukannya, sebab mereka tahu bahwa pemimpin mereka adalah orang yang sangat tinggi hati. Takut bantuan mereka malah akan membuat marah, bahkan merendahkan pemimpin mereka sendiri. Maka berpikir seperti itu, mereka menanti pertempuran itu dengan wajah yang tidak sabaran.

Tapi seorang perompak yang berwajah hitam mempunyai pemikiran lain. Dengan cepat berjalan mendekati para penumpang yang sudah dalam keadaan penuh ketakutan. Tiba-tiba saja tangannya menyambar seorang gadis remaja yang tengah gemetar ketakutan.

“Jangan sakiti anak kami”, berkata seorang lelaki ayah dari gadis itu.

Tapi perompak berwajah hitam itu tidak memperdulikan permohonan ayah dari gadis itu. Dengan kasar membawa gadis itu mendekati pertempuran.

“Ampun !!”, berteriak gadis itu memohon untuk dilepaskan.

Ternyata siasat perompak itu berhasil, Kertanegara mendengar teriakan gadis itu. Yang ada dalam bayangannya adalah suara kekasihnya Menik Kaswari, seketika perhatian Kertanegara terpecah. Daeng Bahar pun tahu menggunakan kesempatan itu. Sedetik kelengahan Kertanegara memang sangat fatal akibatnya. Sebuah sabetan pedang ikan pari itu telah berhasil singgah menggores bahunya.

Bukan main kagetnya Kertanegara menyadari dirinya telah terluka. Meski hanya sebuah goresan.

Daeng Bahar bertolak pinggang di hadapan Kertanegara.

“Tidak ada yang dapat selamat dari racun pedang pariku”, berkata Daeng Bahar sambil tertawa panjang.

Apa yang dikatakan Daeng Bahar memang bukan sebuah gertakan. Terlihat Kertanegara merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Tubuhnya mulai terlihat limbung.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-020

Sebuah bayangan muncul seperti terbang dari lambung kanan kapal kayu. Bayangan itu pun begitu cepatnya telah merangkul pinggang Kertanegara yang hampir limbung terjatuh. Dan entah bagaimana caranya sebuah cambuk meluncur dari tangannya menjerat pedang pari di tangan Daeng Bahar yang masih menganga tidak tahu apa yang terjadi. Pedang Pari lepas dari tangannya terlempar tinggi. Dan dengan sekali sentakan sendal pancing, pedang pari itu hancur menjadi debu yang bertaburan jatuh.

“Nelayan bercaping !!”, tidak sadar Daeng Bahar menyebut sebuah nama. Matanya menatap seseorang yang berdiri di hadapannya seperti melihat malaekat pencabut nyawa, penuh rasa takut yang sangat. Orang yang berdiri di hadapan Daeng Bahar memang berpakaian nelayan. Setengah wajahnya tertutup caping bambu.

“Untuk kedua kalinya kuampuni jiwamu, pergilah”, berkata orang bercaping itu kepada Daeng Bahar.

Seperti tikus yang terjebak lama di dalam air, Daeng Bahar dengan penuh ketakutan mundur perlahan diikuti semua anak buahnya meloncat ke kapal kayu miliknya.

Perlahan orang bercaping itu merebahkan tubuh Kertanegara yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Terlihat orang bercaping itu memijat beberapa urat di beberapa tubuh Kertanegara. Kemudian dari balik bajunya mengeluarkan sebuah kayu berwarna hitam sebesar telunjuk jari. Sebuah kayu aji besi keling yang sangat langka. Beberapa penumpang dan awak kapal yang pernah mendengar cerita mengenai kayu aji besi keling itupun seperti melihat hantu, tidak percaya bahwa pusaka itu memang ada. Dan orang bercaping itu terlihat menempelkan kayu aji besi keling itu tepat di bahu Kertanegara yang terluka. Para penumpang dan beberapa awak kapal yang masih tersisa matanya seperti terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kayu aji besi keling itu seperti lintah menempel di bahu Kertanegara tanpa disentuh lagi oleh orang bercaping itu. Dan tidak lama kemudian kayu aji besi keling itupun jatuh dengan sendirinya. Terlihat orang bercaping itu sepertinya menarik napas panjang.

Tanpa berkata-kata, orang bercaping itu mengangkat tubuh Kertanegara di bahunya. Sebagaimana kemunculannya, orang bercaping itupun berkelebat melompat ke sisi lambung kanan kapal. Para penumpang dan lima orang awak kapal masih melihat sebuah jukung meluncur dari sisi kanan kapal kayu semakin menjauh. Orang bercaping itu terlihat duduk di atas jukung itu. Jukung itu pun tidak terlihat lagi masuk ke sebuah sungai kecil terhalang akar-akar kayu dan rindangnya pepohonan.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-021

Jauh di pedalaman hutan Porong, di tepian sungai yang bening dan berbatu, sebuah gubuk sederhana berdiri di atas batu cadas. Atapnya tertutup daun dan ranting kering yang terhubung dan terikat di empat pohon besar sebagai tiang sekaligus pengikat dinding daun pandan yang dianyam kasar seadanya. Sungai yang membelah hutan itu telah diterangi matahari pagi. Sinarnya yang lembut juga menghangatkan atap gubuk yang terbuat dari daun dan ranting kering. Juga menghangatkan siapapun yang ada didalamnya.

Kehangatan itulah yang membangunkan Kertanegara yang terbaring di gubuk sederhana itu.

“Dimana aku”, berkata Kertanegara ketika membuka matanya kepada seorang yang ada didekatnya. Kerut di wajah dan warna putih rambutnya menandakan bahwa orang itu sudah berumur. Namun tubuhnya masih begitu tegap kokoh dan berotot. Sangat berlawanan sekali dibandingkan dengan wajah dan rambutnya yang sudah putih seluruhnya. Namun sinar matanya begitu lembut dan bening sebagaimana bayi yang baru terlahir.

“Sudah tiga hari anakmas tidak sadarkan diri”, berkata orang tua itu kepada Kertanegara.

Dan Kertanegara pun mulai mengingat segalanya. Pertempurannya dengan pemimpin perompak, juga teriakan yang begitu memilukan dari seorang gadis yang sepertinya masih terngiang di telinganya.
Ketika Kertanegara ingin mengangkat badannya, sepertinya tidak ada kekuatan yang dapat digerakkan.

“Tetaplah berbaring, anakmas belum pulih sama sekali”, berkata orang tua itu meminta Kertanegara untuk tidak banyak bergerak.

“Racun pedang ikan pari”, berkata Kertanegara teringat sebuah goresan pedang pemimpin perompak yang telah melukai bahunya.

“Racun itu sudah punah, maafkan aku anakmas,terpaksa aku menutup jalan darah di kepala anakmas untuk menghindari hal yang tidak diinginkan dari bisa racun ikan pari yang sangat keras itu”, berkata orang tua itu berhenti sebentar kemudian berkata lagi, “pilihan yang sangat berat, bila aku tidak melakukannya anakmas tidak tertolong, tapi bila aku melakukannya anakmas akan menjadi lumpuh”.

“Aku lumpuh?”, berkata Kertanegara sambil menggerakkan seluruh tubuhnya. Dan apa yang di katakana orang tua itu benar apa adanya. Kertanegara tidak dapat menggerakkan seluruh anggota badannya. Kedua kakinya, kedua tangannya, juga leher kepalanya.

“Aku lumpuh?”, kembali Kertanegara berkata kepada orang tua itu.

“Kuatkan hati anakmas, aku akan berusaha mengobati. Mudah-mudahan Gusti Kang Maha Cipta memberi jalan terang bagi usaha kita”, berkata orang tua itu dengan begitu sarehnya. Sementara Kertanegara yang telah dicekam oleh perasaan keputus asaan seperti tersiram air dingin yang menyejukkan mendengar ucapan orang tua itu. Kembali ada api semangat untuk dapat sembuh kembali. Meyakinkan diri bahwa tidak ada sakit yang tidak ada obatnya.

“Keyakinan dan kepasrahan yang tinggi hanya tercurah hati ini kepada Gusti Kang Maha Agung, adalah sumber obat yang paling mujarab”, kembali kata-kata orang tua itu menyejukkan hati Kertanegara, sepertinya dapat membaca apa yang dipikirkan oleh Kertanegara di dalam hatinya.

Kertanegara dan orang tua itu menjadi begitu akrab, bahkan menjadi begitu dekat seperti seorang ayah dan anak. Orang tua itu pun banyak bercerita tentang dirinya. Dikatakan bahwa dulu ia tinggal dan dibesarkan di daerah tanah Brantas. Hingga pada suatu hari ada musibah besar air laut setinggi pohon kelapa bingung arah menerjang daratan. Semua keluarganya menghilang. Hanya ia, saudara kembarnya dan kakeknya yang selamat. Karena pada saat kejadian ia bersama kakek dan saudara kembarnya tengah berkunjung ke rumah salah seorang kerabat dekat kakeknya di Panawijen bernama Empu Purwa.

“Namaku Dangka”, berkata orang tua itu

“Namaku Kerta”, berkata Kertanegara

“Dari mana asalmu Kerta ?”, bertanya orang tua itu yang bernama Dangka

“Tumapel”, berkata Kertanegara masih merahasiakan dirinya adalah seorang Pangeran Putra Mahkota.

Dari hari ke hari, orang tua itu merawat Kertanegara.

Ternyata orang tua yang ditakuti oleh pemimpin perompak yang menyebut namanya dengan sebutan nelayan bercaping itu juga seorang tabib yang hebat.

“Jamur kayu hitam ini akan menguatkan jantungmu, dan daun nangka putih ini berguna untuk mengembalikan kerja syarafmu”, berkata orang tua itu kepada Kertanegara memberi keterangan kegunaan air seduhan racikannya. Bukan cuma itu, orang tua itu pun banyak bercerita tentang berbagai tumbuhan serta khasiatnya, seperti daun dewa, daun sambung nyawa, atau bunga wijaya kusuma yang hanya berbunga setahun sekali di malam hari. Anehnya Kertanegara merekam semua ucapan orang tua itu yang begitu terinci seperti membedakan bentuk daun waru dan daun jati merah.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-022

Kertanegara tidak pernah jemu meminum obat dari orang tua itu yang sesungguhnya biasa dipanggil oleh kerabatnya sebagai Empu Dangka. Hatinya menjadi begitu tersentuh melihat kesungguhan Empu Dangka merawat dirinya.

Genap satu bulan Kertanegara berada di gubuk sederhana itu. Akhirnya pengobatan Empu Dangka telah mulai terlihat. Kertanegara telah dapat menggerakkan jari-jari kaki dan tangannya. Bukan main senangnya Empu Dangka melihat perkembangan itu.

Pada hari ketujuh selanjutnya, kertanegara sudah dapat menggerakkan seluruh tubuhnya. Dan tiga hari kemudian Kertanegara sudah dapat bangun dari duduk di pembaringannya.

“Jangan terlalu memaksakan diri, biarkan tubuhmu menguatkan dirinya sendiri”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara yang tengah berusaha berdiri.

Demikianlah, dari hari kehari Kertanegara merasakan perubahan kekuatan dirinya. Bukan main senang hatinya ketika di suatu pagi dapat bangun dan berdiri di atas kedua kakinya. Empu Dangka membuatkan dua buah tongkat penyangga. Melatih Kertanegara berjalan. Bukan main senangnya hati Kertanegara dapat berdiri di pinggir sungai yang airnya begitu jernih. Yang selama ini hanya didengar suara arus dan riaknya air membentur batu besar.

Beberapa hari kemudian, Kertanegara telah dapat berjalan perlahan tanpa bantuan tongkat penyangga.

“Turun dan madilah di sungai sepuasmu”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara

Seperti anak kecil, Kertanegara berdiri di sungai yang tidak dalam itu. Berjalan kesana kemari dengan senangnya. Sepertinya tidak pernah menjadi jemu.

Hangatnya sinar matahari pagi menambah kegembiraan hati Kertanegara.

Begitulah Kertanegara berlatih diri setiap hari berjalan di dalam air sungai, keutuhan dan kekuatan tubuhnya telah kembali seperti sedia kala. Namun masih terus berlatih hingga bahkan dapat berlari melawan arus sungai yang deras.

“Kerta, anakku”, begitulah Empu Kanda memanggil Kertanegara.

“Usiaku sudah semakin rapuh, aku ingin memberikan sedikit ilmu yang ada ini kepadamu”, berkata Empu Kanda kepada Kertanegara.” Semoga berguna dan bermanfaat untukmu”, sambung Empu Kanda melanjutkan.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-023

Kertanegara hatinya menjadi bimbang, sebulan lebih perjalanannya tertunda, terbayang wajah Menik Kaswari yang kecewa, akan menyangka dirinya sebagai seorang lelaki yang tidak berani memperjuangkan arti sebuah cinta.

“Tataran ilmuku masih begitu rendah”, berkata Kertanegara dalam hati mengingat kembali pertempurannya dengan Daeng Bahar.

Kertanegara mencoba menjenguk hatinya yang paling dalam, sepertinya hati ini begitu berat untuk memilih menyetujuai keinginan orang tua di depannya yang menginginkan dirinya mewarisi ilmunya. “Apa artinya seorang Raja bila masih takluk dan gentar melawan sekelas perompak jalanan”, pikiran Kertanegara kembali memberi beberapa pertimbangan.

“Mudah-mudahan diriku ini tidak mengecewakan”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka sebagai jawaban menerima tawarannya.

“Aku ingin melihat sejauh mana tataran ilmu yang sudah kau miliki”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara meminta untuk memperlihatkan sejauh mana tataran yang dimiliki.

Kertanegara dan Empu Dangka mencari tempat yang agak terbuka. Mereka mendapatkan sebuah tempat yang mereka inginkan.

Matahari pada saat itu masih belum naik kepuncak langit. Hembusan angin seperti hangat menyentuh tubuh. Seekor burung Kepodang kuning hinggap di batu sungai. Meneguk sedikit air sungai yang mengalir bening. Burung Kepodang kuning itu pun terbang kembali, mungkin menemui kekasihnya yang begitu lama menunggu.

Kertanegara telah mempersiapkan dirinya, semula gerakannya mengalir lambat tanpa kekuatan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras karena dilakukan dengan segenap tenaga yang ada. Peluh bercucuran di seluruh tubuhnya. Dan akhirnya kecepatan gerakannya pun perlahan berkurang, semakin lambat dan akhirnya berhenti.

“Kerta, apa hubunganmu dengan Empu Purwa?”, bertanya Empu Dangka.

“Beliau dapat dikatakan sebagai buyut guruku”, berkata Kertanegara

“Sudah kuduga, ternyata kita berasal dari perguruan yang sama”, berkata Empu Dangka manggut-manggut. ”Ditangan Empu Purwa dan keturunannya, ilmu itu telah berubah dari watak aslinya”, berkata Empu Dangka melanjutkan.

“Aku belum mengerti apa yang Empu maksudkan”, berkata Kertanegara tidak mengerti maksud perkataannya. Karena sebagai seorang yang selama ini menekuni jurus ilmu yang diwarisi langsung dari ayahnya, secara pribadi membanggakan aliran ilmunya. Apalagi sering Ayahnya sendiri banyak bercerita, begitu tingginya ilmu yang dimiliki oleh Mahesa Agni tidak terlawan oleh siapapun pada jamannya.

“Apakah permainan jurusku ini buruk ?”, berkata Kertanegara.

Empu Dangka tertawa terpingkal pingkal. “Apakah kamu mendengar aku berkata seperti itu?”, balik bertanya Empu Dangka kepada Kertanegara.

“Aku hanya bertanya”, berkata Kertanegara yang dibalas senyuman oleh Empu Dangka.

“Pada dasarnya sebuah ilmu akan terus menuju ke arah kesempurnaan, jurus yang kamu mainkan sudah begitu menjadi sempurna. Terus terang aku mengagumi bahwa ilmu itu telah disempurnakan. Namun perubahan ilmu itu telah menyesuaikan dirinya sebagaimana watak pemiliknya. Yang kulihat perubahannya menjadi begitu keras, sementara watak asli dari ilmu perguruan kita adalah sebuah kelembutan. Melawan kekerasan dengan kelembutan. Melawan kekuatan tanpa kekuatan”, berkata Empu Dangka.

“Aku mohon petunjuk dari Empu”, berkata Kertanegara paham apa yang dikatakan oleh Empu Dangka.

“Aku seperti melihat watak asli dari Empu Purwa, lewat jurus yang kamu mainkan”, berkata Empu Dangka. “Kakekku Empu Brantas banyak bercerita tentang siapa sesungguhnya Empu Purwa. Seorang yang berwatak keras, kadang tidak mampu mengendalikan dirinya. Apalagi bila harga dirinya yang direndahkan, ia tidak akan mudah menerima dan mengalah. Apakah ayahmu tidak pernah bercerita tentang hancurnya bendungan Panawijen?”, bertanya Empu Dangka kepada Kertanegara.

“Pernah, ayahku sendiri pernah bercerita mengenai hal itu”, berkata Kertanegara sambil menganggukkan kepalanya.

“Aku akan menunjukkan watak asli dari perguruan kita yang sebenarnya, tapi tidak hari ini”, berkata Empu Dangka. “Mari kita kembali ke Gubuk, ada beberapa hal utama yang harus aku sampaikan”, berkata Empu Dangka melanjutkan.

Sementara Matahari sudah berdiri di puncaknya, para binatang hutan pasti tengah bersembunyi mengintip kapan terik panas matahari berlalu. Bersembunyi dibalik daun dan ranting, dibalik semak belukar yang kerap, atau seperti badak bercula, tertidur bersama baju lumpurnya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-024

Empu Dangka tengah memberi penjelasan tentang dasar-dasar utama perguruannya. Melukis sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh lingkaran luar mirip sebuah gambar cakra.

“Lingkaran di dalam adalah pancer, dialah Sang Hyang Maha Tunggal pusat dari segala yang hidup dan menghidupi kehidupan ini, sumber dari kekuatan. Datangilah Dia dari semua pintu, Karena Dia lah yang memegang kunci delapan pintu arah mata angin”, berkata Empu Dangka memberi pengertian dasar untuk memulai sebuah laku.

“Apakah aku harus merajah gambar ini sebagaimana yang ada di tangan Empu”, berkata Kertanegra kepada Empu Dangka sambil melirik lukisan cakra di tangan Empu Dangka.

“Anakku, kamu tidak perlu melukisnya di tanganmu, patri-lah di dalam hatimu”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara dengan tersenyum lembut.

Demikianlah Empu Dangka memperkenalkan sifat dan watak dari perguruannya agar menyempurnakan ilmu yang sudah dimiliki oleh Kertanegara lewat jalur Empu Purwa dan Mahesa Agni kembali ke jalurnya yang murni.

“Cambuk adalah senjata utama perguruan kita, sebuah senjata yang mengutamakan sebuah kelembutan dan kelenturan”, berkata Empu Dangka sambil melepas sebuah cambuknya yang selalu terikat di pinggangnya.

Hari pertama itu, Kertanegara mendapatkan beberapa pemahaman dan pengertian dasar dari sebuah laku yang harus dilaksanakan.

Pada hari kedua, Kertanegara melaksanakan sebuah laku, duduk bersila sempurna diatas sebuah batu. Berlatih olah pernapasan rahasia perguruan Empu Dangka. Kekerasan dan semangat Kertanegara memang luar biasa, sehari dan semalaman kertanegara melaksanakan laku yang diajarkan Empu Dangka tanpa merasakan keletihan sedikit pun. Diam-diam Empu Dangka memuji ketahanan tubuh Kertanegara.

“Makan dan beristirahatlah”, berkata Empu Dangka meminta Kertanegara menghentikan laku-nya.

Setelah beberapa hari berlatih melaksanakan sebuah laku. Akhirnya Kertanegara mulai merasakan sesuatu di dalam lakunya. Kertanegara merasakan dirinya seperti ambles ke dalam bumi, terbakar panasnya magma bumi, terlempar terbawa dalam arus sungai yang jernih, dengan sekuat tenaga berenang melawan arus sungai hingga sampai ke hulu, meneguk dan merasakan harumnya setetes air dari sumber mata air yang jernih, merasakan hembusan angin, tubuhnya pun seperti melayang keudara, tertidur di punggung matahari, menatap lembut senyum sang rembulan dan terbang kelangit malam menjadi sebuah bintang.

Sebuah sentuhan dingin menyentuh bahunya, Kertanegara membuka matanya tersadar.

“Akhirnya kamu berhasil, lukislah gambar cakra itu di dalam jiwamu”, berkata Empu Dangka yang melihat dengan penglihatan bathinnya bahwa Kertanegara telah sampai di puncak laku-nya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-025

Kita tinggalkan dulu Kertanegara yang tengah digembleng oleh Empu Dangka menerima warisan ilmunya. Mari kita melihat sampai dimana perjalanan Mahesa Murti dan Raden Wijaya.

Saat itu matahari telah mulai turun dari puncaknya, senja masih jauh. Sekelompok burung pipit terbang ke utara, seperti lukisan alam yang indah dalam warna kapas awan putih tanpa suara angin.

“Kedatangan kita bersama datangnya panen raya”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang sudah rindu dengan kehidupan Padepokan Bajra Seta.

“Dari mana Paman mengetahui bahwa panen raya telah datang?”, bertanya Raden Wijaya.

“Burung-burung pipit itu datang dan pergi dalam waktu dan tempat yang sama sepanjang tahun. Mereka hanya datang ke tempat dimana padi sedang bunting”, berkata Mahesa Murti.

“Artinya perjalanan kita sudah menjadi dekat”, berkata Raden Wijaya.

“Searah burung pipit itu terbang, melewati hutan kecil, sebelum senja kita sudah sampai”, berkata Mahesa Murti sambil menghentak perut kudanya agar berlari lebih kencang lagi.

Dua ekor kuda berpacu membelah padang semak alang-alang luas, dan masuk menghilang ditelan kerindangan hutan yang pekat.

Sinar matahari senja mewarnai langit di atas Padepokan Bajra Seta. Dua ekor kuda terlihat mendekati pintu gerbang Padepokan yang masih terbuka.

“Ketua datang !!”, berkata seorang cantrik dari panggungan.

Dalam waktu singkat, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah dikerumuni para cantrik. Sementara itu di Pendapa seorang wanita cantik berdiri dengan wajah penuh ceria. Siapa lagi wanita tercantik di Padepokan Bajra Seta selain Padmita adanya. Istri tercinta Mahesa Murti dari Padepokan Renapati yang juga anak putri seorang sakti bernama Kiai Wijang.

Diiringi para cantrik, Mahesa Murti dan Raden Wijaya menuju ke pendapa Padepokan Bajra Seta.

“Raden, perkenalkan ini Bibi Padmita”, berkata Mahesa Murti kepada Raden wijaya.

“Sudah pantaskah aku di panggil Bibi ?”, berkata Padmita dengan senyumnya yang begitu mempesona.

Dan malam itu suasana di padepokan Bajra Seta begitu meriah. Kembali ayam-ayam jago dan gurame besar yang lagi bunting di kolam belakang menjadi korban keceriaan orang-orang yang ada di Padepokan Bajra Seta.

Semuanya sepertinya bergembira, menyambut kedatangan Mahesa Murti kembali di Padepokan Bajra Seta.

 ———-oOo———-

 

SFBdBS-01-026

Pagi-pagi sekali Raden Wijaya dan Mahesa Amping sudah bangun. Ketika mereka bersama naik ke Pendapa, Mahesa Murti sudah ada. Mereka pun menikmati makanan dan minuman hangat.

“Hari ini aku ingin mengajak Raden Wijaya ke sawah, melihat panen raya”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

“Aku akan segera menyusul, aku juga sudah rindu melihat sawah kita saat panen”, berkata Mahesa Murti memberi ijin Mahesa Murti dan Raden Wijaya pergi ke sawah.

Dengan gembira Mahesa Amping dan Raden Wijaya turun dari pendapa. Sementara di halaman nampak Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga sudah menanti. Hari itu hampir sebagian para cantrik turun ke sawah untuk melaksanakan panen raya.

Mahesa Murti melihat dari jauh Mahesa Amping dan Raden Wijaya jalan beriring.

“Baru satu malam mereka sudah begitu akrab”, berkata Mahesa Murti sendiri dalam hati.

“Mereka sudah berangkat?”, berkata Padmita yang baru muncul dari pintu membawa jajanan jenang alot.

“Bukankah ada aku di sini ?”, berkata Mahesa Murti kepada Padmita yang langsung duduk meletakkan jajanan jenang alot.

“Apa perlu kutambahkan lagi wedang serenya Kangmas”, berkata Padmita kepada Mahesa Murti yang melihat minuman di depan Mahesa Murti sudah hampir habis.

“Tidak perlu, kehadiranmu sudah cukup melengkapi segalanya”, berkata Mahesa Murti memandang Padmita yang tersenyum malu.

Matahari pun merayap naik perlahan. Sepasang burung murai batu tengah bercumbu di ranting bambu. Sang jantan mulai merayu menebar pesona, saying seekor kadal bunting datang mengganggu. Sepasang burung murai terbang menjauh mencari dahan dan ranting di kerindangan pohon melanjutkan sisa asmara mereka yang tertunda.

“Kangmas akan turun ke sawah?”, bertanya Padmita kepada Mahesa Murti yang dijawab dengan anggukan kepala pelahan.

“Cepatlah Kangmas ke sawah, aku akan menyusul untuk membawakan makanan kesana”, berkata Padmita kepada Mahesa Murti.

Matahari sudah mulai merayap naik, Mahesa Murti keluar Padepokan Bajra Seta menuju ke sawah.

Dipesawahan yang telah menguning, para cantrik tengah sibuk memotong padi. Sehelai demi sehelai batang padi terpotong ania-ani tajam dari tangan yang cekatan. Di beberapa petak sawah nampak beberapa cantrik tengah membakar sekam. Gunungan padi pun telah banyak terkumpul. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak bisa di beli oleh apapun. Mahesa Murti memandang semua itu dalam bathin penuh rasa syukur.

“Begitu damainya seandainya di bumi manapun tidak ada prahara, tidak ada peperangan dan pertumpahan darah”, berkata Mahesa Murti dalam hati ketika perlahan sudah mendekati pesawahan.

“Hasil panen kita kali ini luar biasa”, berkata Wantilan kepada Mahesa Murti.

“Panen pertama di tanah Sima”, berkata Mahesa Murti kepada Wantilan yang nampak wajahnya kemerahan terbakar sinar matahari.

“Panen pertama tanpa ikatan thanibala”, berkata wantilan menyambung ucapan Mahesa Murti.

“Mbokayu Padmita belum muncul ?”, bertanya Mahesa Amping yang baru datang bersama Raden Wijaya bergabung bersama Mahesa Murti dan Wantilan.

“Kamu menanyakan Mbokayu mu atau makanannya?”, bertanya Wantilan menggoda Mahesa Amping.

“Kedua-duanya lah”, berkata Mahesa Amping yang merasa malu bahwa keinginannya sudah dapat di baca oleh Pamannya, Wantilan.

“Sebentar lagi Mbokayumu datang dengan gorengan gurame kering”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping menggoda. Dan tidak terasa perut Mahesa Amping seperti berkerukut mendengar gurame goreng.

Matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya. Dipinggir sawah di bawah pohon pisang yang tumbuh di tegalan, mereka menikmati makan siang yang istimewa. Lauk yang paling enak didunia ini adalah rasa lapar. Raden Wijaya dan Mahesa Amping terlihat begitu penuh semangat dan menikmati rasa lapar mereka bersama seekor goreng gurame kering yang masih hangat.

“Aku akan mengajak Raden Wijaya ke tepian sungai”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti yang tengah bersiap untuk kembali ke Padepokan Bajra Seta.

“Berhati-hatilah”, berkata Mahesa Murti mengijinkannya.

“Paman Sembaga ikut bersama kami”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

Mahesa Murti memandang sebentar kepada Sembaga. Mengerti apa arti pandangan mata dari Mahesa Murti, Sembaga mengangguk perlahan. “Aku akan menjaga dua bocah nakal ini”, berkata Sembaga.

Sembaga, Mahesa Amping dan Raden Wijaya berjalan kearah sungai. Di tepian sungai yang agak luas mereka berhenti. Suasana di tepian begitu teduh, sinar matahari terhalang rindangnya batang pohon waru yang banyak tumbuh di tepian sungai yang bening dan berbatu.

“Aku dan Paman Sembaga sering ketempat ini berlatih”, berkata Mahesa Amping sambil membuka bajunya yang kotor dan meletakkannya di atas sebuah batu.

———-oOo———-

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Mei 2011 at 20:03  Comments (459)  

459 Komentar

  1. Matahari masih belum merayap naik, sinar cahayanya masih begitu redup manakala Mahesa Murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya keluar dari regol gerbang Padepokan. Beberapa cantrik sudah biasa melihat mereka bertiga keluar dari Padepokan Bajra Seta, mungkin ke padukuhan terdekat, ketepian sungai atau memang pergi berburu.

    Jarak antara Pedepokan Bajra Seta dengan Goa Ranggan tidak begitu jauh, hanya setengah hari perjalanan.

    Matahari sudah bergeser setengahnya kearah barat ketika mereka bertiga telah sampai di kaki bukit karang. Perjalanan selanjutnya adalah sebuah pendakian yang melelahkan bagi Mahesa Amping, sementara itu Mahesa Murti dan Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit tenaganya. Keringat sekujur tubuh Mahesa Amping sudah begitu basah. Dalam hati memang ada sedikit penasaran melihat Mahesa Murti dan Raden Wijaya sepertinya berjalan di tanah datar, tidak merasakan kelelahan sedikitpun.

    Akhirnya merekapun telah sampai di mulut goa Ranggan.

    “Ruang mulut goa ini cuma sebatas tubuh kita, tapi di dalamnya kita akan menemui ruangan yang cukup besar seluas bilik kamar kita”, berkata Mahesa Murti yang sebelumnya pernah datang menyelidiki goa Ranggan ini.

    Mereka tidak langsung masuk ke goa, tapi beristirahat sebentar membuka bekal yang sengaja mereka bawa.

    Matahari sudah hampir senja manakala mereka mulai memasuki mulut goa, sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti, ruang goa itu memang Cuma sebatas tubuh orang dewasa. Maka seperti seekor ular mereka merayap perlahan memasuki lebih dalam lagi, hingga akhirnya meraka sampai juga di mulut goa lainnya mendapatkan sebuah sebuah lorong goa yang cukup luas, seluas bilik kamar sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti.

    Sebenarnya, ada beberapa lubang diatas langit-langit ruang goa itu yang dapat ditembusi cahaya matahari. Sementara mereka baru sampai di ruang goa itu disaat hari memang sudah diujung senja, maka ruangan itu terlihat begitu gelap. Mereka tidak dapat melihat apapun selain kegelapan itu sendiri.

    “Mahesa Amping”, berkata Mahesa Murti. “Sengaja aku membawamu kemari, untuk melaksanakan sebuah laku rahasia”, berkata lagi Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang selanjutnya juga mengatakan bahwa hal yang sama telah dilakukan oleh Raden Wijaya.Mahesa Murti pun bercerita tentang kejadian yang mereka alami dalam perjalanan mereka kembali ke Padepokan Bajra Seta, terjebak dalam subuah sumur yang dalam. Sebuah cerita rahasia yang tidak pernah dikatakan oleh siapapun. Dan Mahesa Murti pun telah meminta raden Wijaya untuk tidak bercerita, mengubur cerita ini hanya untuk dirinya sendiri. Karena didalamnya tersangkut sebuah rahasia besar, sebuah laku rahasia.

    “Dengan laku rahasia ini, kamu dapat mengenal dirimu sendiri lebih dalam lagi. Dan dapat mengungkap tenaga murni yang tersembunyi di dalam dirimu sendiri”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    “Diruang goa yang pekat ini, para pendeta telah menemukan dirinya dan penciptanya. Merasakan kematian sebelum datangnya kematian itu sendiri”, berkata mahesa murti memberikan pemahaman bagaimana caranya masuk mengenal diri, mengenal alam besar dan alam alit dan tentunya untuk mengenal lebih dekat lagi kepada Tuhan yang Maha pencipta, Tuhan Yang Maha Agung dan tuhan Yang Maha Tunggal.

    Mahesa Amping mendengarkan semua penjelasan dari Mahesa Murti dengan penuh perhatian. Meresapi setiap kata demi kata.

    “Sekarang kita istirahat dulu, besok pagi kita baru memulai laku itu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Sang fajar telah bersinar terang, cahayanya masuk diantara lubang langit-langit goa seperti pedang panjang menembus bumi.

    “Ada air yang menetes diujung sebelah kanan goa ini, air itu dapat mengenyangkan perut kita”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Cahaya di dalam goa menjadi lebih terang, sebagai tanda diluar sana matahari sudah berada dipuncaknya.

    Hari itu Mahesa Murti tengah memberikan pemahaman kepada Mahesa Amping tentang alam semesta diluar dirinya, segala wujud dan sifatnya.

    “Kenalilah melalui wujud dan sifatnya, kamu dapat merasakan bahwa wujud dan sifatnya ada juga didalam dirimu”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.”Hari ini tugasmu adalah menembus dan mengenali alam sebagai wujud bersama sifatnya”, berkata kembali Mahesa Murti.

    “Lakukanlah”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping setelah memberi penjelasan apa yang harus dilakukannya.

    Terlihat Mahesa Amping tengah melaksanakan sebuah laku. Sementara itu Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut juga mendampingi Mahesa Amping memberikan dukungan bathin, berharap Mahesa Amping berhasil dalam tahap pertamanya untuk mengenali alam dalam wujud dan sifatnya, didalam dirinya.

    Matahari telah bergeser diujung senja, cahaya di dalam goa telah menghilang. Kegelapan menyelimuti isi goa. Tiga orang di dalam goa itu seperti arca budha dalam sila sempurna.

    Malam terus berlalu, kegelapan begitu pekat di dalam goa, jangankan melihat sekitarnya, melihat wujud diri sendiripun tidak mampu. Mahesa Amping hanya merasakan dirinya, dalam wujud kesendirian. Mulailah dirinya berkelana mengenal alam disekitarnya, didalam wujud dan sifatnya.

    Tanpa terasa, waktu terus berlalu. Sedikit cahaya kemerahan mengisi lubang diatas langit-langit adalah tanda bahwa sang fajar telah kembali datang.

    “Katakan apa yang telah kamu rasakan”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping yang sudah terbangun dari lakunya.

    Mahesa Amping pun menceritakan segala yang dirasakannya tanpa sedikitpun yang terlupakan.

    “Puji Syukur kepada Gusti Yang Maha Pencipta, perjalanan pertamamu telah sampai didalam bimbingan-NYA.”, berkata Mahesa Murti setelah mendengar apa saja yang dirasakan oleh Mahesa Amping.

    “Beristirahatlah”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Setelah melihat Mahesa Amping telah cukup beristrihat, Mahesa Murti kembali memberikan beberapa penjelasan apa yang harus dilakukan oleh Mahesa Amping. Sementara itu Raden Wijaya yang ikut mendengarkan seperti teringat kembali bagaimana dirinya memasuki tahap kedua ini.

    “Semua yang berwujud di alam adalah semu, semua akan kembali kepada-NYA. Janganlah takut melihat ketidak beradaanmu, karena yang tiada itu sebenarnya ada, dan yang ada itu sesungguhnya tiada”, berkata Mahesa Murti memberikan tuntunan kepada Mahesa Amping sebagaimana pernah dialami Mahesa Murti sendiri ketika membuka sebuah laku rahasia.


    Kamsiaaaa………………….

    • Kaaaaammmmmmssssssssssssiaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!
      (critane ndhisiki pak Satpam)

  2. matur nuwun , kaaamsiaaaa

  3. Trima kasih Ki Kompor, lanjuuut!!

  4. “Mari kita memulainya lagi”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Seperti sebelumnya, Mahesa Murti dan Raden Wijaya ikut membantu memberi dukungan bathin kepada Mahesa Amping dengan ikut melasanakan sebuah laku.

    Pelan-pelan cahaya matahari sudah tidak nampak kembali, malampun datang merayap, mengisi goa dalam kepekatan. Tiada suara, begitu hening, tiada terdengar suara nafas sedikitpun. Sepertinya di dalam goa tidak ada yang menghuni, begitu sepi.

    Waktu memang sebuah ukuran dunia, dia tidak pernah cepat maupun menjadi lambat. Tapi hitungan waktu di dalam goa seperti sudah terlupakan. Keberadaannya terwakili oleh warna gelap dan warna terang. Ketika warna di dalam goa menjadi terang, mereka beristirahat sejenak, lalu kembali dalam sikap sebuah laku. Tidak terasa mereka sudah memasuki hari keempat. Mahesa Amping sudah akan memasuki tahap akhir dalam lakunya. Mengenal dan mengerti bagaimana menghimpun hawa murni di dalam tubuh. Mengendalikannya menjadi kekuatan diluar wadagnya. Meniadakan bobot tubuh seperti kapas di terbangkan angin, atau menjadikan bobot tubuh berat menjadi puluhan kati.

    Hari itu warna goa sudah begitu terang, manakala Mahesa Murti dan Raden Wijaya membuka matanya, bukan main terperanjatnya mereka. Mahesa Amping tidak ada didekat mereka.Ternyata Mahesa Amping tengah melayang dalam posisi sila sempurna dua jengkal diatas kepala mereka, masih dalam keadaan mata terpejam.Mahesa Murtipun segera berdiri menyentuh sedikit pundak Mahesa Amping dengan jari telunjuknya. Perlahan tubuh Mahesa Amping turun kembali ditempatnya.

    Mahesa Amping pun telah membuka matanya.

    “Laku mu telah selesai, ternyata kamu dilahirkan dengan bakat istimewa melampaui orang biasa”, berkata Mahesa Murti penuh rasa gembira.

    “Terima kasih, semua atas dukungan Kangmas dan Raden tentunya”, berkata Mahesa Amping penuh rasa syukur telah melewati tahap demi tahap sebuah laku rahasia.

    “Hijab yang menutupi alam alit telah terbuka, jangan kamu tinggalkan laku ini dimanapun kamu berada”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    “Berlatihlah untuk mengenal lebih dalam lagi kekuatan yang tak terhingga yang dapat kalian ungkapkan dalam bentuk apapun”, berkata kembali Mahesa Murti tidak hanya kepada Mahesa Amping, juga kepada Raden Wijaya yang meresapi setiap kata Mahesa Murti sebagai pusaka guru yang bermakna dalam, saat itu dan mungkin juga disaat mendatang.

    • tambah kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

      • 😛

        • tambah lagi kamsiaaaaaa….

  5. Wilujêng énjang

    • Wilujêng sontén

  6. kam…..kam…..kamsiiiiiiiaaaaaaaaaa

  7. ni SINDEN siap tampil,
    tentu buat pagelaran pak DALANG nanti malem…

    cantrik siap berdiri tegang,
    tentu buat menyaksikan tontonan wayang mBELINK
    pak DALANG,…lha piye meneh wong kursi-ne wes
    di pek kabeh sama ki Gembleh,

  8. Matur nuwun Ki Kompor.
    Dua hari nggak sambang padepokan, karena kecapaian berlatih akhirnya harus semedi ditempat tidur.
    Alhamdulillah sudah bisa ngabyantoro lagi.
    Sugeng sonten

    • sugeng rawuh ki Honggo,

      selamat berguYON kembali ning padepokan pak DALANG,

  9. sugeng dalu kadang sedoyo

  10. Matahari telah turun dari puncaknya, angin di bukit karang bertiup begitu kencang. Tiga sosok tubuh menuruni lereng bukit karang begitu ringannya. Kadang mereka melompat jauh dari satu tempat ketempat lain seperti kambing gunung yang tidak pernah takut jatuh berlompatan menjejakkan kakinya dari satu sisi ke sisi lainnya. Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di kaki bukit karang.

    Mahesa Murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya nampak tengah berjalan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Wajah mereka begitu ceria, sepertinya tidak ada yang luput dari pandangan mereka selain keindahan, melihat anak kijang yang baru terlahir berjalan terpincang-pincang, mendengar perkutut liar merayu dan memanggil sang betina dengan suaranya yang panjang. Bahkan perkelahian dua ekor burung jantan di angkasa menjadi suatu yang mengasyikkan untuk dipertontonkan.

    Ketika senja melukis cakrawala dalam warna keteduhan, Mahesa murti, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai kembali di Padepokan Bajra Seta.

    Hari itu, seperti hari sebelumnya, disaat matahari sudah mulai bosan menatap bumi dari puncaknya. Burung-burung liar berlindung di pepohonan yang rindang setelah sepanjang siang mencari makanan. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Sembaga berada di tepian sungai yang teduh untuk berlatih.

    “Akhirnya, Mahesa Amping sudah dapat mengungkapkan tenaga cadangannya”, berkata Sembaga kepada dirinya sendiri ketika melihat serangan-serangan Mahesa Amping bagai angin yang menderu berlatih bersama Raden Wijaya.

    Raden Wijaya memang agak menjadi sibuk mengelak dari serangan mahesa Amping yang beruntun, begitu cepat dan penuh dengan kekayaan gerak yang kadang membingungkan Raden Wijaya. Tapi ketenangan Raden Wijaya ternyata menjadi modal tersendiri, dengan ketenangannya ia dapat berpikir jernih, meloloskan diri dari setiap sergapan Mahesa Amping dan langsung menyerang balik.

    Kekuatan dan kecepatan gerak mereka seimbang. Kelebihan tipis dari Mahesa Amping terletak pada kesempurnaan gerak dan pengalaman bertempurnya.

    Seperti dua ekor banteng yang sedang bertempur, tidak terlihat sedikitpun kelelahan di wajah mereka. Ketika warna senja telah turun menyelimuti hamparan tepian sungai, latihan mereka baru berhenti.

    “Hari ini aku tidak kebagian berlatih”, berkata Sembaga dengan bersungut-sungut. “Besok aku akan menantang kalian berdua sekaligus”, berkata kembali Sembaga.

    “Hadiah apa yang akan Paman Sembaga berikan kepadaku, bila sebuah pukulanku menembus tubuh paman”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga.

    “Aku akan menghadiahkan sebuah bogem mentah langsung”, berkata Sembaga yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Demikianlah, dari hari ke hari, Mahesa Amping dan Raden Wijaya terus berlatih. Di tepian sungai, disanggar tertutup atau di beberapa tempat di alam terbuka lainnya dibawah pengawasan Sembaga dan Mahesa Murti. Kehadiran Sembaga dalam latihan-latihan mereka, telah banyak menambah kekayaan dan pengalaman mereka dalam pertempuran yang sebenarnya. Sementara itu, Mahesa Murti dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit membangunkan kesadaran mereka untuk dapat mengungkapkan kekuatan yang tak terhingga yang ada di dalam diri.

    Dan kekuatan itupun akhirnya terbangun.

    Raden Wijaya sudah dapat mengungkapkan kekuatan hawa panas dari dalam dirinya. Dari hentakan tangannya akan meluncur angin panas yang bergulung gulung menghanguskan apapun yang menghadang.

    Sementara itu, sebagaimana pernah dikatakan oleh Mahesa Murti, bahwa Mahesa Amping mempunyai bakat yang istimewa, mempunyai bakat di luar orang biasa. Diam-diam telah menemukan rahasia membangunkan hampir semua kekuatan yang dapat diungkapkan sesuai dengan keinginannya. Membangunkan hawa dingin yang dapat membekukan, membangunkan hawa panas yang dapat membakar apapun yang ada disekelilingnya. Dan yang lebih mengerikan lagi adalah dari sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

    “Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena disitulah sumber petaka dan bencana”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping pada suatu malam di sebuah tempat alam terbuka yang jauh dari kehidupan dan padepokan Bajra Seta. Sebuah tempat yang sering mereka singgahi untuk berlatih meningkatkan tataran ilmu Raden Wijaya dan Mahesa Amping selapis demi selapis menuju kearah kesempurnaanya.

    Disuatu hari, Matahari saat itu sudah rebah diujung senja. Warna cakrawala dikuas bening redup tanpa desiran angin sedikitpun. Gambar pohon randu yang bercabang banyak di sudut depan dinding Padepokan Bajra Seta seperti patung arca. Tidak ada satupun helai daun yang bergerak.

    Panggraita Mahesa Amping yang sudah semakin tajam menangkap sebuah bayangan yang begitu jelas. Wajah yang pernah dikenalnya. Tapi Mahesa Amping tidak mengatakan apapun apa yang dilihatnya kepada Mahesa Murti dan Raden Wijaya yang ketika itu mereka tengah duduk di Pendapa utama.

    Seorang berkuda masuk melewati gerbang Padepokan Bajra Seta yang memang selalu terbuka.

    “Paman Arya Kuda Cemani”, berkata Mahesa Murti yang dengan ketajaman matanya mampu mengenali orang berkuda yang telah masuk melewati pintu gerbang Padepokan.

    • lumayannnnnnnn
      nyilem lagi ach…….jeburrrrrrrrr

      • meskipun telat,
        kamsiaaa………….

        • Dan yang lebih mengerikan lagi adalah dari sorot matanya yang dapat meremukkan kerasnya batu.

          ha ha ha ….
          ilmu Agung Sedayu muncul di sini

          • meskipun telat-telat dikit,
            kamsiaaa………….kamsiaaaaa

  11. Wah tidak terasa sudah sampai episode yang kesekian.
    Terima kasih P. Dalang, sayangnya sampai sekarang belum ada sayembara yang masuk untuk membungkus karya Ki Kompor. P. Satpam, sepertinya hadiahnya kurang menarik ya.

  12. selamat PAGI….ning omahE ni SINDEN
    dhisik Aaah,

    selamat PAGI kadang padepokan,

  13. Sugêng sontên

  14. sugeng dalu kadang sedoyo,
    sesuk hari liburan panjang….indahnya hidup ini, habis subuh langsung nyungsep diselimut tebal sambil menunggu teriakan sang permaisuri tercinta,”sarapan sudah siapp !!!”

    • Monggo Ki…
      semalam sebelumnya tentu lembur menyiapkan tutuge cerita to
      he he he …..

      • Ternyata menulis juga bisa sakaw sebagaimana menunggu rontal…..kalo udeh sakaw, asyiknye kata demi kata meluncur dengan sendirinya…tidak kenal waktu. Mudah-mudahan, doa ki Yudha dapat menjadi kenyataan, setelah pensiun di pabrik petir ini gue bisa menyibukkan diri sebagai penulis cerita silat. MOHON DOA dari sahabat semua………

        • Amin….

          satpamnya kadang juga sakaw buka gandok dan wedar rontal ki

          lha kalau nanti sudah selesai, buka gandok apa ya?
          MOHON PETUNJUK dari sanak kadang semua.
          he he he ….

        • Aamiin,

          setrumlah besi selagi panas,
          eh kleru,
          tempalah besi selagi panas,

  15. Arya Kuda Cemani diterima langsung di Pendapa Bajra Seta. Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Arya Kuda Cemani langsung menyampaikan tujuannya datang ke Padepokan Bajra Seta. Yaitu bercerita tentang hilangnya Putra Mahkota yang sampai saat ini pihak kerajaan telah kehilangan jejaknya. Sang Putra Mahkota seperti hilang ditelan bumi.

    “Sesuai perintah Sri Maharaja, kami petugas sandi diminta hanya sekedar membayangi. Sampai di Bandar Pelabuhan Cangu, kami masih dapat membayanginya. Tapi setelah itu, kami telah kehilangan jejak. Pengeran Kertanegara seperti hilang di telan bumi”, berkata Arya Kuda Cemani bercerita tentang keadaan tentang Putra Mahkota yang hilang.

    “bukankah Putra Mahkota sudah dapat menjaga dirinya sendiri ?”, berkata Raden Wijaya yang sangat mengenal Pangeran Kertanegara sebagai seorang yang sudah memiliki bekal ilmu yang cukup.

    “Pada awalnya memang kami berpikir seperti itu, Sri Maharaja juga berpikir demikian”, berkata Arya Kuda Cemani berhenti sebentar, lalu lanjutnya, “para petugas sandi menangkap berita, ada sekelompok orang tengah membayangi Sang Putra Mahkota, bermaksud melenyapkannya”.

    “Usaha melenyapkan Sang Putra Mahkota adalah sebuah usaha menghancurkan keberadaan Singasari”, berkata Mahesa Murti menyimpulkan keterangan yang disampaikan Arya Kuda Cemani.”Apakah petugas sandi sudah dapat menembus, kira-kira mereka dari pihak mana ?”, bertanya Mahesa Murti kepada Arya Kuda Cemani.

    “Itulah yang belum dapat kami ungkap, untuk inilah Sri Maharaja memerintahkan aku secara khusus datang ke Padepokan Bajra Seta ini ”, berkata Arya Kuda Cemani.

    “Sri Maharaja memerintahkan kami untuk mencari tahu ada dipihak siapa mereka itu ?”, bertanya Mahesa Murti kepada Arya Kuda Cemani.

    “bukan Cuma itu”, berkata Arya Kuda Cemani.”Tapi juga membawa kembali Sang Putra Mahkota dengan selamat tiba di istana”, berkata kembali Arya Kuda Cemani.

    Suasana di Pendapa Bajra Seta sepertinya menjadi begitu hening. Semua kepala sepertinya tengah berpikir dengan pikirannya masing-masing. Akhirnya semua mata tertuju kepada Mahesa Murti, menunggu apa yang akan dikatakannya.

    Nampak Mahesa Murti menarik nafas panjang. Kepercayaan Sri Maharaja terhadap Padepokan Bajra Seta adalah sebuah kebanggaan, sekaligus sebuah kemuliaan, demikian Mahesa Murti berpikir di dalam hatinya.

    “Panggil Paman Sembaga, Paman Wantilan dan Mahesa Semu kemari”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Maka Mahesa Amping langsung turun dari Pendapa. Tidak lama kemudian ia telah datang kembali bersama Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    Dengan singkat, Mahesa Murti bercerita tentang perintah khusus dari Sri Maharaja Singasari kepada Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    “Aku memutuskan, mempercayakan tugas mulia ini kepada kalian berlima”, berkata Mahesa Murti memberikan sebuah keputusan.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya saling memandang. Bukan main senangnya mereka berdua dikutkan dalam tugas khusus itu.

    “Besok pagi kalian sudah dapat berangkat, mungkin diperjalanan Paman Arya Kuda Cemani dapat memberikan beberapa petunjuk apa saja yang dapat kalian lakukan”, berkata Mahesa Murti kepada kelima orang kepercayaannya.

    Dan pagipun telah datang, tanah dan daun masih penuh dengan embun, pagi masih begitu gelab manakala enam ekor kuda keluar dari pintu gerbang regol Padepokan Bajra Seta.

    “Aku titipkan padamu Raden Wijaya dan Mahesa Amping”, berbisik Mahesa Murti kepada Sembaga yang berjalan paling belakang.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Murti, diperjalanan Arya Kuda Cemani memberikan beberapa petunjuk yang dapat mereka lakukan.

    Disebuah persimpangan jalan, mereka berpisah. Arya Kuda Cemani melanjutkan perjalanannya ke Singasari untuk melapor kepada Sri Maharaja. Sementara lima orang pahlawan dari Padepokan Bajra Seta sesuai petunjuk dari Arya Kuda Cemani langsung menuju Bandar Cangu. Tempat terakhir Pangeran Kertanegara dapat dibayangi oleh para petugas sandi.

    • keokeokeok

      kamsiaaaa……………

    • Kaaaaaaaammmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!

      Biar aja Ki Menggung ngurusi ni Sinden,
      ane nyang nungguin tutuge.

  16. Ngaturaken sugeng tanggap warsa dumateng,
    Ki, Ni, Mas, Mbak, PANCA SILA.

  17. Tidak banyak hambatan yang berarti dalam perjalanan mereka ke Bandar Cangu.

    Temaram langit senja begitu indah menghiasi suasana Bandar Cangu. Ujung-ujung tiang layar perahu berjajar. Beberapa buruh hilir mudik mengangkat barang. Beberapa pedati bersandar di beberapa kedai yang tumbuh subur disekitar keramaian Bandar Cangu.

    Sementara itu bila mata kita bergeser ke kiri, terlihat sebuah bangunan benteng prajurit yang luas dan kokoh. Berdiri di pinggir sungai Brantas seperti raksasa penjaga sungai.

    “Kita singgah ke Benteng Cangu”, berkata Wantilan kepada kawan-kawannya yang sudah mengetahui bahwa Mahesa Pukat bertugas di Benteng cangu itu.

    Ketika mereka tiba di pintu gerbang, seorang prajurit keluar dari gardu penjaga.

    “Adakah kepentingan kalian datang ke Benteng ini ?”, berkata Prajurit penjaga itu dengan wajah penuh curiga.

    “Kami bermaksud ingin menemui saudara kami”, berkata Wantilan mewakili kawan-kawannya.

    “Siapa nama Saudara kalian ?”, bertanya prajurit itu masih dengan wajah penuh prasangka.

    “Mahesa Pukat”, berkata Wantilan kepada Prajurit itu.
    Bukan main kagetnya prajurit itu mendengar nama yang disebut oleh Wantilan. Dengan wajah masih penuh curiga dan tidak percaya prajurit itu memandang Wantilan dari ujung kaki sampai kepala, tidak ada sedikitpun kemiripan Wantilan dengan Senopati mereka.

    “Apakah kalian sudah punya janji ?”, berkata Prajurit itu masih dengan keraguan.

    “Belum”, berkata Wantilan yang sudah mulai jengkel kepada prajurit itu.

    “Silahkan kalian menunggu, aku akan melapor kepada ketua regu kami, apakah kalian dapat diterima”, berkata prajurit itu meminta Wantilan dan kawan-kawannya menunggu.

    Terlihat prajurit itu masuk dalam salah satu barak yang terlihat berjejer. Sementara ditengah benteng itu berdiri sebuah bangunan utama. Dan nampak di pojok belakang benteng itu berdiri sebuah panggungan yang tinggi, tempat untuk mengawasi keadaan diluar benteng.

    Tidak lama kemudian, terlihat prajurit penjaga itu telah datang bersama seorang prajurit lainnya, mungkin ketua regu yang telah dikatakannya.

    “Mohon pertimbangan Ki Bekel. Apakah mereka dapat diterima ?”, berkata Parajurit itu ke pada seorang prajurit lagi yang di panggilnya sebagai Ki Bekel.

    Tiba-tiba saja prajurit itu bertolak belakang dengan gagahnya.

    “Kenapa kamu tidak ikat mereka semuanya ?”, berkata prajurit yang di panggil Ki Bekel itu dengan wajah penuh wibawa kepada prajurit penjaga.

    “Aku tidak mengerti, mengapa harus mengikat mereka ?”, bertanya prajurit itu dengan wajah kebingungan.

    Ki Bekel itu pun tertawa terpingkal-pingkal, sementara itu, Mahesa Semu dan Wantilan ang telah mengenali wajah Ki Bekel itu pun ikut tertawa.

    Melihat semua itu, wajah prajurit itu semakin kusut kebingungan. Ki Bekel yang tidak lain adalah Dadulengit itupun menepuk pundak prajurit yang masih kebingungan.

    “Mereka adalah sahabatku, mereka juga saudara Ki Senopati”, berkata Dadulengit kepada Parjurit itu yang langsung menemui sahabat lamanya orang-orang dari Padepokan Bajra Seta yang dianggapnya sebagai pahlawan yang telah ikut membantu membebaskan dirinya dan kawan-kawannya dari perbudakan.

    “Selamat berjumpa wahai sahabat lama”, berkata Dadulengit sambil memeluk mereka satu persatu dengan gembiranya.

    “Pasti kamu Mahesa Amping, cantrik padepokan Bajra Seta paling muda”, berkata Dadulengit masih mengenali Mahesa Amping.
    “Kamu sudah tumbuh sebagai seorang pemuda”, berkata Dadulengit memeluk erat-erat Mahesa Amping dengan gembira.

    “Perkenalkan ini Raden Wijaya”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Raden Wijaya kepada Dadulengit.

    “Perkenalkan, nama lengkapku Ki Bekel Dadulengit”, berkata Dadulengit yang disambut senyum hangat dari semua yang ada disitu, kecuali prajurit penjaga yang masih berdiri disitu.

    “Apakah setelah jadi prajurit kamu masih berjudi ?”, bertanya Mahesa Semu yang ingat kegemaran Dadulengit yang bergelar dewa judi.

    “Dibandar Cangu, aku seperti menemukan sorga yang hilang. Hampir setiap malam aku menyelinap pergi berjudi”, berkata dadulengit berterus terang.

    “Moga-moga saja kamu tidak menjual tameng prajuritmu”, berkata Wantilan yang disambut tawa oleh Dadulengit dan keempat kawannya.

    • kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
      (keokeokkeok-ngeduluin Paklek satpam)

  18. Hebring euyy buat coper nye,

    baru aje ane memerintahkan putri ane buat bikin cover, ehh udah ade……tapi liet aje, ape putri ane bisa belajar bikin gambar ilustrasi, kayaknye sich semanget banget…………….!!!

    SALAM UNTUK LIBURAN PANJANGNYA,
    SEMOGA KESEHATAN DAN KEBAHAGIAAN MENYERTAI KITA BERS

    • BERSAMA maksudnye

      • ha ha ha …..
        repotnya tak punya jiwa seni lukis, coba corat-coret, kok gak keruan hasilnya.
        Akhirnya, ya itu …..
        Tetapi, jika karya putri Ki Kompor sudah jadi, apapun bentuknya, bolehlah dikirim untuk menggantikan koper yang sudah ada.

        eh…, hampir lupa..!
        kamsiaaaa…………..

        • Sugêng énjang

          isuk uthuk-uthuk, uthuk-uthuk isuk

  19. “Penuhilah hati kalian dengan hawa kasih, dan jalanilah kehidupan kalian dengan budi. Jauhilah hati kalian dari nafsu angkara, karena disitulah sumber petaka dan bencana”, (Ki Kompor)

  20. Nuwun
    Wilujeng siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI KERTANEGARA dan RADEN WIJAYA

    Sebagaimana telah punåkawan sampaikan di gandhok ini On 29 Mei 2011 at 22:51 tentang satu pancer dan delapan mandalawangi, maka pada dongeng selanjutnya adalah tentang Kertanegara dan Raden Wijaya, keduanya yang dipentaskan Ki Dhalang Kompor masih sangat muda usia.

    Keduanya diceritakan di tempat yang berbeda sedang berpetualang dalam pendadaran olah ilmu kanuragan, mencapai keseimbangan lahir dan batin, sebagai bekal kelak kalau sudah jadi “orang besar”.

    Kisah petualangan kedua tokoh ini diceritakan dengan serius tapi santai oleh Ki Kompor Dhalang van Cipondoh. Bagaimana si Kerta (maksudnya Kertangeraga) yang dapet ‘ilmu tongkat madura’, dan Raden Wijaya yang “lugu” (lucu tapi wagu). He he he….

    Untuk membuat semangkin meriahnya lakon tongkat madura ini, eh.. keliru,,,,, mangsudde lakon SFBdBS, maka untuk menambah wawasan kita, saya akan mendongeng tokoh Kertanegara dan Raden Wijaya yang “sebenarnya”.

    Begini dongengnya:

    Di dalam prasasti Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1177Ç/1255M) yang dikeluarkan Ranggawuni Wisnuwardhana, yang bergelar Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana atau Narãryya Seminingrat atau Seminingrat Jagannatha.

    Ranggawuni Seminigrat beristrikan Narãryya Waning Hyun, putri pamannya yaitu Bhatara Parameswara (Pararaton menyebutnya: Mahisa Wonga Teleng.) ayah dari Mahisa Campaka alias Narasinghamurti.

    Bhatara Parameswara adalah penguasa Kadiri sepeninggal Prabu Kertajaya yang gugur dalam Perang Ganter. Apabila Bhatara Parameswara benar-benar identik dengan Mahisa Wonga Teleng, maka dapat disimpulkan kalau Narãryya Waning Hyun adalah saudara perempuan Narasinghamurti. Dengan demikian, hubungan antara Narasinghamurti dengan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar.

    Prasasti Wurare yang berangka tahun 1211Ç/1289M menyebutkan bahwa istri Wisnuwardhana adalah Jayawarddhanibarrya (Jayawarddhani), maka dapat dipastikan bahwa Narãryya Waning Hyun identik dengan Jayawardhani.

    Perkawinan antara Wisnuwardhana dan Narãryya Waning Hyun merupakan perkawinan politis dalam upaya penyatuan dua kerajaan (Tumapel Singasari, Janggala dan Kadiri) dalam satu negara kerajaan Singasari.

    Berkat dukungan Sang Apanji Patipati, Wisnuwardhana Nararyya Seminingrat berhasil menyatukan kembali kerajaan Singasari yang diwarisinya dari Anusapati dan kerajaan Kadiri yang diwarisinya melalui pernikahannya dengan Putri Waning Hyun dari Bhatara Parameswara.

    Prasasti Mula Malurung selanjutnya mengabarkan: atas kebesaran para leluhur kerajaan Tumapel, Sang Bhatara Parameswara, ayahanda Nararya Waning Hyun, pamanda sekaligus ayahanda mertua Sang Prabhu Sri Seminingrat, menganugerahkan desa sima Mula-Malurung kepada Pranaraja dan sanak kadang. Karena jasa-jasa Sang Pranaraja yang teramat besar kepada keluarga Janggala-Kadiri,

    Pararaton mengabarkan:

    Bhatara Wisnuwardhana angadegaken kutha ring canggu lor isaka 1193.

    [Batara Wisnuwardana mendirikan benteng di Canggu sebelah utara pada tahun 1193Ç/1271M.]

    Data tahun ini jelas salah, mengingat Prabu Wisnuwardhana dalam Prararton disebutkan .. panjeneng ira Sri Ranggawuni …. moktan ira 1190. Dhinarmma sira ring Jajaghu… (beliau Sri Ranggawuni wafat pada tahun 1190Ç/1268M, dicandikan di Jajaghu). Jadi adalah tidak mungkin Pelabuhan Canggu dibangun setelah beliau wafat. Data yang tepat benar adalah tahun 1174Ç atau 1252M, dua tahun sebelum penobatan Kertanegara menjadi yuwaraja.

    Dalam Pararaton disebutkan Canggu terletak di utara Kotaraja, ibukota Kerajaan Singosari, dibangun sebagai pengganti pelabuhan lama kerajaan Yau Toung atau pelabuhan Yortan, nama lain pelabuhan Jêdung, yang rusak terkena bencana alam; (masih ingat dongeng: mud volcano (pegunungan lumpur), lêndhut bêntèr, trasi muncrat. Timun Mas.).

    Dalam Kidung Sundayana, Canggu disebut sebagai “kota bandar”, disebutkan terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur. Dalam perjalanan waktu Canggu akhirnya memang menjadi “kota”. Sekarang, Desa Canggu termasuk wilayah kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

    Negarakretagama pupuh 41 (3) menguraikan bahwa pada tahun 1176Ç (1254M) Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya. Segenap raja Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu. Setelah dinobatkan, putra mahkota mengambil nama abhiseka Sri Kertanagara.

    i saka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin
    Samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha
    Narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita
    Pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i Singasarinagara
    .

    [Tahun Çaka rasaparwwatenduma (1176Ç/1254M) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura tempat upacara penobatan, Raja baru itu bergelar Kertanagara, tetap demikianlah seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama menjadi praja Singasari.]

    Uraian di atas seolah-oleh memberi kesan pada tahun 1254 itu, Wisnuwardhana menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Kertanagara. Hal itu tidak benar karena dalam prasasti Mula-Malurung dinyatakan dengan jelas bahwa pada tahun 1255 Wisnuwardhana masih memerintah di Tumapel, sebagai raja agung yang menguasai Janggala dan Panjalu.

    Prasasti Mula Malurung mengabarkan bahwa sebelum menjadi raja Singasari, Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau raja muda – yuwaraja pada tahun (1254M – 1268M). Berkat kelahirannya dari perkawinan Wisnuwardhana dengan Permaisuri Waning Hyun, Kertanagara mempunyai kedudukan sebagai raja mahkota, mengepalai raja-raja bawahan lainnya.

    Nama gelar abhiseka yang ia pakai ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

    Kita tahu bahwa hubungan antara Narasinghamurti atau Mahesa Campaka dan Wisnuwardhana tidak hanya sepupu, namun juga sebagai ipar. Sedangkan Menurut Nagarakretagama, Narasingamurti memiliki putra bernama Lembu Tal, yang kemudian menjadi ayah dari Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit.

    Keterkaitan Kertanagara dengan Raden Wijaya dalam panggung sejarah

    Tunggul Ametung & Ken Dedes berputra Anusapati — Anusapati berputra Ranggawuni (Wisnuwardhana) — Ranggawuni (Wisnuwardhana) berputra Kertanegara.

    Ken Arok Rajasa Sang Amurwabhumi & Ken Dedes berputra Mahesa Wonga Teleng — Mahesa Wonga Teleng berputra Mahesa Campaka (Narashingamurti) — Mahesa Campaka (Narasinghamurti) berputra Lembu Tal — Lembu Tal berputra Raden Wijaya.

    Dengan demikian, garis keluarga lurus ke atas Kertanegara adalah buyut Ken Dedes dan Tunggul Ametung dan Raden Wijaya adalah canggah Ken Dedes dann Ken Arok, maka Kertanegara adalah paman tiri Raden Wijaya, dan terakhir Raden Wijaya adalah menantu Kertanegara (Ikuti uraian di bawah).

    Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (1177Ç/1255M); Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau yuwaraja pada tahun 1254M, baru pada tahun 1268, ia bertahta sebagai raja di Singosari. Bertepatan dengan pengangkatan beberapa keluarga raja sebagai yuwaraja yaitu: (Prasasti Mula Malurung Lempengan VIIA dan B):

    i. Nararyya Kirana putera sang prabu Semi Ning Rat sendiri dirajakan di Lamajang (Lumajang);
    ii. Nararyya Murddhaja dirajakan di Daha;
    iii. Nararyya Turukbali, puteri sang prabu, permaisuri Jayakatwang, dirajakan di Glang Glang daerah Wurawan. Sri Jayakatwang adalah keponakan sang prabu Seminingrat;
    iv. Sri Ratnaraja, adik sepupu sang prabu dirajakan di Morono;
    v. Sri Narajaya adik sepupu sang prabu dirajakan di Hring;
    vi. Sri Sabhajaya, sepupu sang prabu dirajakan di Lwa.
    vii. seorang lagi yang namanya tidak disebut menjadi raja di Madhura.

    Disebutkan pula bahwa Pangeran Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani, sedang merayakan pernikahannya (tidak disebutkan nama istrinya)

    Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya dalam Perang Ganter (Ingat dongeng: Ken Arok mengkudeta Kadiri). Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya.

    Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Dengan demikian Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri.

    Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung, Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana).
    Prasasti itu juga menyebutkan nama istri Jayakatwang adalah Turukbali putri Seminingrat.

    Dari Prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang kelak menjadi menantu Kertanagara. Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

    Kemana Raden Wijaya?

    Sejak dinobatkannya Kertanegara sebagai yuwaraja bersama-sama dengan Nararyya Kirana, Nararyya Murddhaja, Nararyya Turukbali, Sri Ratnaraja, Sri Narajaya, Sri Sabhajaya, nama Raden Wijaya tidak pernah disebut.

    Tidak disebutnya Raden Wijaya pada lempengan prasasti, kemungkinan yang paling mendekati kenyataan adalah karena Raden Wijaya belum lahir.

    Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (berangka tahun 1177Ç/1255M ) disebutkan bahwa putri Sang Prabu Wisnuwardhana yang bernama Nararyya Turukbali, dijodohkan dengan Jayakatwang, yang diangkat sebagai rajamuda di Glang Glang daerah Wurawan di Kadiri.

    Perkawinan ini merupakan perkawinan politik, agar Kadiri tetap berada di bawah kekuasaan Singasari. Dari perkawinan antara Jayakatwang dan Turukbali lahirlah Ardaraja.

    Dari perkawinan antara Lembu Tal (sangat disayangkan tidak ada penjelasan sedikitpun nama istrinya), lahirlah Raden Wijaya.

    Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama Mahesa Arema yang diperintah Raja Kertanegara mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis juga dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

    Kebo Arema adalah Panglima Ekspedisi Pamalayu. Kebo Aremalah yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singasari.

    Pemberontakan-pemberontakan itu, meskipun akhirnya dapat ditumpas, tetapi menghambat pelaksanaan gagasan politik perluasan wilayah. Untuk dapat mengirim tentara ke seberang lautan, kekeruhan didalam negeri harus diatasi dulu.

    Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Harsawijaya, dan Negarakretagama pupuh 41, semuanya menyebutkan pengiriman tentara Singasari ke negeri Melayu (Suwarbabhumi) pada tahun 1187Ç (1275M), lima tahun setelah pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara atau Cayaraja.

    Dalam Kidung Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasehat Raganata tentang pengiriman tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanagara. Raganata mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Singasari, sebab Singasari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi.

    Prabu Kertanagara berpendapat, raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabu. Salah satunya putra raja Jayakatwang yang bernama Ardaraja diambil sebagai menantu Kertanagara. Perkawinan ini merupakan pendekatan politik Kertanagara demi reda dan terhapusnya dendam lama Kediri atas Singasari.

    Agar jangan timbul kekeruhan dalam negeri selama tentara Singasari bertugas di negeri Melayu, Ardaraja putra Jayakatwang diambil menantu oleh Kertanagara, bersamaan dengan itu pula Raden Wijaya diangkat sebagai salah satu panglima perang Singasari, menjaga keamanan dalam negeri Singasari selama sebagian pasukan tentara Singasari dikerahkan melakukan Ekspedisi Pamalayu. Raden Wijaya pun dijodohkan dengan dua orang putri Kertanegara.

    Pemberitaan Pararaton tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Pethak. Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.

    Sedangkan menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara:

    1). Dyah Sri Tribhūwaneśwari, dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.

    2). Dyah Dewi Narendraduhitā dengan gelar Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, tidak berputra; adalah putri ketiga dari Raja Singasari Kertanagara, dan merupakan istri kedua Raden Wijaya.

    3). Dyah Dewi Prajnyāparamitā dengan gelar Śri Jayendra Dyah Dewi Prajnyāparamitā, atau sering disingkat dengan nama Prajña Paramita atau Pradnya Paramita adalah putri keempat dari Raja Kertanegara dan merupakan istri ketiga dari Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan.

    4). Dyah Dewi Gayatri, diangkat sebagai rajapatni dengan gelar Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri, adalah istri ke empat dari Raden Wijaya, dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi yang mendapatkan kedudukan di Jiwana (Kahuripan) sebagai Bhre Kahuripan, dan lahir Rajadewi Maharajasa, yang diangkat sebagai Bhre Daha.

    Dari rahim Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, yang bersama-sama dengan Mahapatih Gajah Mada membawa Majapahit penuju masa kegemilangannya.

    Sumber sejarah:

    1. ________. Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). Narasi. Yogyakarta. 2007.

    2. Bade, David W. Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java. A. Chuluunbat Ulaanbaatar 2002.

    3. Bambang Sumadio (Penyunting Jilid), Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Balai Pustaka. Jakarta 1984.

    4. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Kabut. Institut Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Suara Merdeka 17 Mei 2009.

    5. Man, John, Kublai Khan: The Mongol king who remade China, Bantam Books London 2007.

    6. Mangkudimedja, R.M., Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Departemen P dan K, Jakarta 1979;

    7. Marwati, dkk. 1993 . Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

    8. Megandaru W. Kawuryan. Negara Kertagama, Tata Pemerintahan Kraton Majapahit. Panji Pustaka Jakarta 2006;

    9. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. (Terjemahan). S’Gravenhage. 1903

    10. Moehadi. Modul Sejarah Indonesia. Karunia: Jakarta. 1986

    11. Nugroho Notosusanto, Prof. Dr. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Balai Pustaka, Jakarta. 1984;

    12. Padmapuspita, Ki, PararatonTeks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Taman Siswa Jogjakarta. 1966

    13. Pigeaud, Theodoor Gautier Thomas. Java in the Fourteenth Century: A Study in Culture History: The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D., Volume 4, Martinus Nijhoff, The Hague, 1962.

    14. Poerbatjaraka. Kapustakan Jawi. Djambatan. Jakarta. 1964

    15. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

    16. Ricklefs, Merle Calvin. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 Edisi ke-3. Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Jakarta: Serambi, 2005.

    17. Slamet Muljana Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarahnya; LkiS Yogyakarta. 2006.

    18. Slamet Muljana, Prof. Dr. Menuju Puncak Kemegahan.(Sejarah Majapahit) LKiS Yogyakarta 2005.

    19. Sudibya, Z.H.. Babad Tanah Jawi. Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1980.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • kamsia, langsung masuk gudang logistik, dikeluarkan bila sudah waktuna……………..

  21. Sugeng dalu,
    Baru libur sehari kok sudah cuapek ya, gimana besok dan lusa.

  22. Sugêng dalu

    • Sugêng dalu

      he he he .., jadi ingat tadi siang. Digodogkan pisang kepok yang sudah ndalu. tinggal dibuka kulitnya, terus tinggal diemut langsung ditelan, tidak usah dikunyah.

      pisang ndalu bisa dimakan, kalau Sugêng dalu……?

      • Lha mosok si sugêng yang tinggal diemut langsung ditelan, tidak usah dikunyah.
        Pripun…..?

        • Leres lho Ki Puna,
          menawi saged “diruwetkan”
          lha kok ndadak “dipermudah” to…???

          (100% menika panah sendaren saking “kepadhangan” mboten saking “kepetengan” lho)

  23. Saya membaca komentar terutama celoteh-celote paara cantrik yang lucu dan segar…
    Bisa gak dibuat kumpulan cerita yang lucu dan segar para cantrik seperti dongeng arkeolognya ki bayu yang terangkum dalam satu blog.

    • Bisa sih bisa Ki, tetapi waktunya yang tidak tersedia.
      Kecuali kalau ada sabak-kadang yang mempunyai waktu luang, hasilnya bisa dikirim ke padepokan untuk dibuatkan gandoknya.
      monggo

  24. “dalu” dan ndalu. Ternyata Bahsa Jawa adalah bahasa yang paling komplit, tapi jadinya susah dipelajari. Apalagi ngajari cucu untuk berbahasa Jawa.
    Bahkan anak yang 5 tahun di Jogya juga bisanya bahasa Jawa ngoko dan kromo madyo.
    Ora kroso dolanan neng laptop kok ngerti-ngerti meh jam 22.
    Yo wis lah mapan disik, wis dikode “Utine” bocah-bocah.
    Sugeng sare poro kadang.

    • Monggo Ki Honggo.
      Sugêng sare

      • Kammmmmmmmsiiiiiiiiaaaa!!!!!!!!

        • he…..he…..he……
          salah ndeprok….!!
          sugeng nDalu.

  25. hup….baru pulang ngaji,
    siap-siap…..bikin indomie rebus he3x loaper nye poaall kata Ki Widura yang entah ada dimana…..

  26. Mari kita tinggalkan dulu lima ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Kita sudah terlalu lama meninggalkan Kertanegara yang tengah digodok “dikawah candradimuka” hutan Porong oleh Empu Kanda.

    Diujung senja, redup cahaya matahari tanpa desiran angin sedikitpun. Dua sosok bayangan tengah saling menyerang. Ditangan mereka sebuah cambuk panjang meluncur kadang melecut begitu gemulai, kadang bagai sebuah pedang kaku menerjang.

    Kertnegara dan Empu Dangka terlihat tengah berlatih. Kadang kecepatan serangan sepertinya begitu mengerikan. Mereka sepertinya sepasang anak kecil yang bermain, tidak mengenal kengerian yang sebenarnya. Saling mengelak dan menyerang seperti sepasang ular kembar tengah bercinta-kasih, tiada yang menyakitkan. Yang ada hanyalah sebuah kegembiraan.

    “Cukup !!”, berkata Empu Dangka sambil melompat mundur beberapa langkah.”Kemajuanmu benar-benar luar biasa. Begitu sempurna !!”, berkata Empu Dangka mengungkapkan kegembiraaannya.

    “Terima kasih Empu”, berkata Kertanegara sambil mengusap peluh di wajahnya.

    Empu Dangka terlihat masuk ke gubuknya. Sementara Kertanegara sibuk menyiapkan perapian.

    Akhirnya, tidak lama kemudian. Terlihat mereka tengah menikmati makanan dan minuman hangat di gubuk mereka yang begitu sederhana.

    “Seandainya besok aku mati, mungkin aku tidak akan menyesal. Karena semua ilmuku telah luluh di dalam tubuhmu”, berkata Empu Dangka sambil mengangkat minuman hangatnya, meneguknya sedikit.

    “Semoga diriku tidak mengecewakan Empu”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka penuh rasa terima kasih.

    “Anakku “, berkata Empu Dangka. “Aku mempunyai saudara kembar, entah sampai saat ini aku tidak tahu dimana rimbanya”, berkata Empu Dangka dengan mata jauh menerawang menembus batu hitam di seberang sungai.

    “Adakah yang dapat dibedakan diantara kalian ?”, bertanya Kertanegara kepada Empu Dangka.

    “Sukar sekali membedakan diri kami, yang jelas aku berjuang seluas lapang dadaku, sementara saudaraku berjuang sejauh bumi dipijak, itulah yang membedakan diantara kami”, berkata Empu Dangka dengan mata masih memandang jauh melampai batu hitam diseberang sungai.

    “Kebenaran memang harus diperjuangkan, di dalam jiwa bersama Paramashiwa, di bumi sebagai Budha. Sementara Gusti Yang Maha Agung yang mempunyai kehendak”, berkata Kertanegara sepertinya kepada dirinya sendiri.

    Empu Dangka seperti tersentak mendengar ucapan Kertanegara. Matanya menatap Kertanegara begitu tajam.

    “Anakku, kata-katamu adalah kesempurnaan Tattwa. Hari ini aku berguru padamu. Telah tepiciklah aku selama ini, memperjuangkan kebenaran hanya untuk pribadi di dalam diri. Melupakan bumi tempat tubuh ini berpijak. Siwa dan Budha bersatu dalam satu tubuh, tanpa batas antara lahir dan bathin. Seandainya saudaraku ada disini dan mengetahui akan hal ini, kami pasti tidak akan terpisah dalam perseturuan”, berkata Empu Dangka seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.Sebuah gambaran seorang yang mempunyai kelapangan jiwa, mau menerima kebenaran, tidak memperdulikan siapa yang berkata.

    “Untuk kelapangan hati, aku masih harus berguru dengan Empu”, berkata Kertanegara memandang Empu Dangka dengan penuh kebanggaan.

    “Tattwa ibarat sebuah tinta Samudera, ilmu yang kita miliki adalah cuma sebaris kata yang jatuh diujung pena. Semakin kita meneguk air Tattwa, semakin haus dahaga kita rasakan”, berkata Empu dangka kepada Kertanegara.

    • nyielm dulu ach……bleb bleb blebbbb

      • Sinden sama juru gamelan semuanya sudah terkantuk-kantuk…………
        GONG !!!!kaki dhalang tersandung tangan tukang kemong, tukang gendang langsung menyambut,,,dung dung prak, dung dung prak…derrrrrrrrr…..dut.
        LAYARPUN TURUN MENUTUPI PANGGUNG…….

        • dan para penontonpun berteriak, “kamsiaaaa……”

          • dan akupun terpana…teringat sekilas kisah ki kompor versus nimas padmi

  27. Malam telah turun membelenggu hutan Porong dengan kegelapannya. Cahaya oncor dari minyak biji jarak menerangi gubuk di tepian sungai berbatu itu.

    “Besok kamu akan melanjutkan perjalananmu ?”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara yang memang bermaksud melanjutkan perjalanannya.

    “Meski lewat pencerahan tattwa yang telah Empu tuntun selama ini, aku telah menemukan arah perjuanganku sendiri, sementara perjuanganku mendapatkan Menik Kaswari lebih bersifat janji seorang lelaki”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka menjelaskan tujuan awal meninggalkan tanah kelahirannya untuk membawa kembali gadis pujaannya.

    “Mencintai dan dicintai, itu adalah anugerah dari Gusti Yang Maha Kasih. Ikutilah air yang mengalir. Sementara harta, tahta dan wanita ibarat batu-batu hitam ditengah arus sungai. Janganlah menghalangi dirimu mencapai muara cintah kasih yang hakiki, yang abadi”, berkata Empu Dangka.

    “Nasehat Empu adalah pusaka yang akan selalu aku jaga”, berkata Kertanegara dengan perasaan gamang, besok ia akan berpisah dengan orang tua didepannya. Sendiri menghadapi sisa kehidupannya.

    Suasana menjadi begitu hening, Empu Dangka dan Kertanegara sepertinya tengah ada di dalam pikirannya masing-masing. Kegelapan malam tanpa suara angin sepertinya menambah kesunyian itu. Hanya suara air sungai yang terus menderu ditingkahi suara binatang malam. Sekali-kali terdengar suara burung yang terus semakin menjauh.

    “Kamu tidak perlu kembali kesungai Brantas, telusuri sungai ini sampai ke muara sungai porong. Aku ingin kamu menemui seorang sahabatku disana”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara memecah kesunyian diantara mereka.

    “Siapa nama sahabat Empu itu ?”, bertanya Kertanegara
    “Aku tidak tahu nama aslinya, yang kutahu bahwa ia memperkenalkan dirinya dengan nama Kebo Arema”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara.

    Empu Dangkapun sekilas menceritakan beberapa hal mengenai sahabatna itu yang bernama Kebo Arema. Seorang pendekar muda yang sangat disegani oleh para perompak, di sungai dan di lautan. Hingga pada suatu hari terkena sebuah muslihat, dirinya diracuni oleh musuhnya dengan racun yang keras.Syukurlah, garis hidupnya tidak harus mati oleh sebuah racun. Dengan kesabaran akhirnya Empau Dangka dapat menyembuhkannya. Itulah awal perkenalan dan persahabatan antara Kebo Arema dan Empu Dangka.

    • lho….!?
      kamsiaa…..

    • Sepertinya, satu wedaran lagi sudah cukup satu jilid.
      Betulkah Ki Kompor?.
      Satu wedaran lagi, saya boleh buat gandok baru SFBDBS-2?

      • Akkuuuuuuuuuuuurrrr,

        kaaaaaaaaammmmmmmmmsiaaaaaaaa!!!!!!!!!!

  28. Nuwun
    Sugêng sontên

    Sanak Kadang padépokan pêlangisingosari ingkang minulyå

    Dongeng Dhalang Ki Arif Sudjana Al Kompor van Cipondoh, sampai juga ke rencana pengembaraan si Kerta menyusuri Sungai Brantas ke Sungai Porong:

    …….. Kamu tidak perlu kembali kesungai Brantas, telusuri sungai ini sampai ke muara sungai porong. …..” berkata Empu Dangka kepada Kertanegara………………

    I. Sungai Porong

    Perlu diberitahukan kepada si Kerta (maksudnya Kertanegara) supaya agak ati-ati (maksudnya hati-hati), kalau si Kerta menyusuri muara Sungai “Porong” (tanda “…..”) sengaja saya tulis, sebab pada waktu itu — Kidung Sundayana menyebutkan tentang kota Bandar Canggu –, sebagai “sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan sungai (tidak atau belum disebut sebagai Sungai Porong dan Kali Mas), terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

    JIka Si Kerta melewati muara “Sungai Porong”, berarti ke arah Timur Laut menuju Sukitan
    (Cacatan perjalanan pengelana Cina bernama Chou Ku Fei yang menulis dalam karyanya Ling Wai Taita)

    Sukitan merupakan transliterasi Cina dari Supitan (Dalam bahasa Jawa, selat disebut supit atau supitan, atau laut yang sempit), dimaksud di sini adalah Supitan Madura, suatu tempat yang membentang di perairan selat Madura dari Bangil sampai Surabaya atau pantai Barat Daya Madura, merupakan muara “Sungai Porong”

    Kenapa harus ati-ati?

    Dalam Kidung Pararaton disebutkan bahwa telah terjadi perpindahan daerah aliran sungai (DAS) Brantas yang disebut sebagai bencana “pabanyu pindah” Demikian juga Pararaton memberitakan adanya “pagunung anyar, yang timbul karena terjadinya erupsi jalur gunung lumpur dari selatan Jombang-Mojokerto-Bangsal. Jalur itu membentuk jarak sepanjang sekitar 25 km. Dan ini menunjukkan bahwa sepanjang jalur dari Gunung Penanggungan, sesar Watukosek, yang memotong “Kali Porong”, adalah sebuah mud volcano (pegunungan lumpur).

    Secara geologi, Jalur “salah satu cabang Sungai Brantas” sejalur dengan lokasi semburan lêndhut bêntèr yang masih di dalam wilayah bersedimentasi labil dan tertekan (elisional), di bawahnya dari selatan ke utara (tepatnya ke Timur Laut) ada jajaran antiklin Jombang, antiklin Nunung-Ngoro, dan antiklin Ngelom-Watudakon yang terus bergerak yang menyebabkan Delta Brantas tidak stabil.

    Jadi, Si Kerta harus ati-ati kalau menyusuri “Sungai Porong”

    [Catatan:

    1. Itulah sebabnya maka “kutha” di Canggu dibangun, tidak semata-mata sebagai upaya penyerangan ke Mahibit, tempat gerombolan pemberontak Linggapati bertahan, tetapi juga dapat dihubungkan dengan mundurnya fungsi delta Brantas yang didahului oleh rentetan bencana geomorfologis, lêndhut bêntèrsehingga pelabuhan dari muara Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, menjauhi perairan bebas.

    2. lêndhut bêntèr “Jeng” Lusi, alias Lumpur Sidoarjo yang terjadi sekarang juga berada satu jalur dengan peristiwa bencana pabanyu pindah yang diberitakan oleh Pararaton 700 tahun yang lalu.

    II. Kota Surabaya”.

    a. Kertanegara dan Surabaya

    Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.

    Kota Surabaya juga sangat berkaitan dengan revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak penjajahan Belanda maupun Jepang, rakyat Surabaya (Arek-arek Suroboyo) bertempur habis-habisan untuk merebut kemerdekaan.

    Puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945, Arek Suroboyo berhasil menduduki Hotel Oranye (sekarang Hotel Mojopahit) yang saat itu menjadi simbol kolonialisme. Karena kegigihannya itu, maka setiap tanggal 10 Nopember, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan.

    Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, ejaan nama Surabaya awalnya adalah Çhurabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I berangka tahun 1358M atau 1280Ç.

    Dalam prasasti itu tertulis Çhurabhaya termasuk kelompok desa di tepian sungai Brantas sebagai tempat penambangan atau penyeberangan yang sudah ada sejak dahulu (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji praçasti).

    Walaupun prasasti Trowulan I sebagai bukti tertulis tertua yang mencantumkan nama Çhurabhaya, para ahli menduga bahwa Çhurabhaya sudah ada sebelum tahun-tahun tersebut.

    Diyakini oleh para ahli sejarah Çhurabhaya telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sebuah hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanagara tahun 1275M atau 1197Ç, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M atau 1192Ç . [Catatan: Kebenaran hipotesa ini masih perlu dikaji ulang].

    Raden Wijaya dan Surabaya

    Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya mempersiapkan upeti, Wijaya dan pasukannya malah menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan tempurnya menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa di Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.

    Pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari meninggalkan banyak korban. Serangan mendadak yang tidak disadari itu membuat Ike Mese kaget tidak kepalang tanggung.

    Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.

    Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya, harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Dari sini mereka berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.

    Adalah Lembu Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang bekerja sama dengan orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, yang melakukan penumpasan itu.

    Kekalahan balatentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi, kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporak-porandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di dalamnya.

    Menurut Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh (Tanjung Perak sekarang) dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.

    Pada pertempuran ini dicatat dalam sejarah Majapahit, Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan bersama umbu-umbul calon kerajaan yang akan lahir di atas kepala para prajurit Jawa. Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

    Berkibarnya Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.

    Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya. Akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.

    Nama Çhurabhaya pun muncul dalam pujasastra Negarakartagama tahun 1365M. Pupuh XVII, pada bait ke-5:
    yan ring janggala lot sabha nrpati ring çhurabhaya manulus mare buwun [Ketika sampai di Jenggala, sang raja singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.]
    Demikian.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • kamsia….langsung disedot.
      ade atu lagi nech….ane bolak/balik ke om google nanya tentang seputar pemberontakan kelana bhayangkara, ehhh jawabnye malah tentang arisan ibu-ibu bhayangkara dan TK bhayangkara…uch payahnye om google yang bukan wong jowo.

      KAMSIA SEBELUMNYA untk melihat panah sanderan dari ane

  29. Nuwun
    Sugêng énjang pårå kadang

    sebelum matahari terbangun
    di atas tanah perbukitan yang kecil indah nan sejuk itu,
    tempat kami mengingat
    dan selalu menyebut Kebesaran dan Kemuliaan NamaNya,
    juga di Shubuh pagi hari ini
    damai hati mengukir Cinta

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

  30. Sugeng enjang,
    Akur P. Satpam sudahterlalu panjang.

  31. “Bawalah kayu aji besi keling ini, tunjukkan padanya”, berkata Empu Dangka tanpa menjelaskan kenapa dirinya harus menunjukkan kayu aji besi keling itu kepada Kebo Arema.

    Malam sudah semakin larut. Suara binatang malam mendenging mengisi kesunyian. Kadang masih terdengar suara burung celepuk dari tempat yang begitu dan semakin menjauh. Sementara itu cahaya oncor dari minyak biji jarak sudah semakin redup. Empu Dangka dan Kertanegara telah tertidur didalam lelapnya.

    Dan pagipun telah menjelang. Diawali dengan munculnya bintang kejora di langit timur. Hari masih begitu gelap dan dingin, Empu Dangka dan Kertanegara sudah terbangun.

    “Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ketika melepas kepergian Kertanegara.

    Sampai jauh mata Empu Dangka mengiringi sosok Kertanegara yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan sungai.

    Sebagaimana yang disarankan oleh Empu Dangka, dengan sebuah jukung perahu kecil Kertanegara menyusuri sungai Porong. Tidak ada hambatan yang berarti sepanjang perjalanannya. Hanya dalam kesendiriannya, Kertanegara merasa dirinya baru terlahir. Dirabanya sebuah canbuk yang melingkar di pinggangnya. “Dengan cambuk ini aku akan berdharma, melecut Singasari sampai di tempat tertinggi”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri dengan mata menatap kedepan penuh harapan dan semangat.

    Tidak terasa, jukung yang dikayuh Kertanegara telah mengantarnya hingga sampai ditepi muara.

    Ditambatkannya jukung itu di sebuah dermaga. Kertanegara melihat sebuah perkampungan nelayan, kesanalah langkah kakinya menuju.

    Senja telah turun dalam warna buram diatas perkampungan kecil itu.Wajah bulat matahari kuning sudah terpotong diujung barat cakrawala, seperti lukisan alam yang sempurna, begitu sejuk jiwa yang memandangnya.

    Ketika itu masih dalam musim angin barat, gelombang laut masih tinggi. Pada saat seperti itu banyak nelayan tidak berani melaut. Seorang lelaki tengah memperbaiki jalanya yang robek. Sementara dua anak kecil laki-laki bugil bertelanjang masih bermain di depan pondoknya yang sederhana.

    “Maaf mengganggu, dapatkah menunjukkan kepadaku dimana tempat tinggal seorang bernama Kebo Arema ?”, Kertanegara bertanya kepada lelaki itu.

    “Mari kuantar kisanak ke tempat Paman Kebo Arema”, berkata lelaki itu sambil berdiri.

    Kertanegara dan lelaki itu berjalan bersama ketempat tinggal kebo Arema.

    Seorang lelaki yang telah berumur setengah baya nampak tengah duduk di bale-bale sebuah pondok beratap jurai alang-alang. Pakaian yang dikenakannya sebagaimana kebanyakan para nelayan, begitu sederhana. Lelaki itu bertubuh sedang, nampak gagah dan berwajah tampan dengan sepasang alis tebal dan mata yang bersinar tajam, memandakan lelaki ini mempunyai kepribadian diri yang kuat.

    “Paman Kebo Arema, ada yang ingin bertemu”, berkata lelaki yang mengantar Kertanegara kepada seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Kebo Arema.

    Kebo Arema memandang Kertanegara dengan wajah ramah, sementara lelaki yang mengantar Kertanegara pamit meninggalkan mereka.

    “Mari kita duduk di bale-bale”, berkata Kebo Arema menyilahkan Kertanegara duduk bersama di Bale-bale.

    “Ada keperluan apa gerangan kisanak perlu menemui aku”, bertanya Kebo Arema kepada Kertanegara ketika mereka sudah duduk bersama di bale-bale.

    “Apakah paman pernah mengenal seorang bernama Empu Dangka ?”, bertanya Kertanegara mencoba meyakinkan bahwa di depannya adalah Kebo Arema sahabat dari Empu Dangka.

    “Empu Dangka yang tinggal di tepian sungai Porong, mungkin yang kisanak maksudkan ?”, Kebo Arema balik bertanya kepada Kertanegara.

    Dari pertanyaaan itu, Kertanegara merasa yakin bahwa lelaki didepannya itu memang Kebo Arema yang dimaksud.

    Maka sesuai amanat dari Empu Dangka, Kertanegara mengeluarkan kayu aji besi keling dari balik pakaiannya serta menunjukkannya dihadapan Kebo Arema.

    Bukan main kagetnya Kebo Arema melihat kayu aji besi keling berada di tangan Kertanegara. Wajahnya bertambah gelap menatap Kertanegara.

    “Ampunilah hamba Pangeran, hamba tidak berlaku hormat”, berkata Kebo Arema sambil bersujud dihadapan Kertanegara.

    “Bangunlah Paman, bagaimana Paman mengetahui bahwa aku seorang Pangeran ?”, berkata Kertanegara meminta Kebo Arema bangkit.

    Dengan wajah menunduk menjura penuh hormat. Kebo Arema pun menceritakan awal pertemuannya dengan Empu Dangka.

    “Empu Dangka yang sebelumnya kukenal dengan sebutan tabib seribu obat itu telah berhasil menyembuhkanku. Atas rasa terima kasihku, aku telah mempersembahkan diriku sendiri untuk mengabdi sepanjang hidupku kepadanya. Tapi beliau menolaknya dan mengatakan bahwa berbaktilah kepada seorang lelaki yang menunjukkan kepadamu kayu aji besi keling. Dialah putra sang fajar Putra Mahkota Singasari. Dampingilah dia seperti bintang kejora mengawal datangnya sang fajar”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara menceritakan tentang dirinya dan hubungannya dengan kayu aji besi keling yang ditunjukkan Kertanegara kepadanya.

    “Aku jadi malu, selama bersamanya aku menutup diri tentang jati diriku yang sebenarnya. Ternyata Empu Dangka tidak mempermasalahkannya dengan pura-pura tidak tahu”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema dengan bercerita singkat tentang pertemuannya dengan Empu dangka.

    “Kita sama-sama berutang nyawa dengan orang tua itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara. Menatap Kertanegara seperti kepada saudara kandungnya sendiri.

    “Selamat datang di gubukku yang sederhana”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat kepada Kertanegara.

    Kebo Arema dan Kertanegara begitu cepat menjadi begitu akrab, seperti dua saudara bercerita tentang beberapa hal, terutama tentang keberadaan mereka yang sama-sama pernah disembuhkan oleh Empu Dangka dan pernah lama tinggal di tepian sungai Porong, disebuah gubuk yang begitu sederhana.

    “Di kampung nelayan ini, aku cukup bahagia membantu para nelayan sebagai pawang ikan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara bercerita tentang dirinya di perkampungan kecil nelayan itu.

    “Aku belum pernah mendengar tugas dari seorang pawang ikan”, bertanya Kertanegara kepada Kebo Arema.

    Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Kertanegara, Kebo Arema menjadi maklum, karena sebagai orang daratan Kertanegara tidak mengetahui banyak bagaimana kehidupan seorang nelayan.
    “Tugas seorang pawang ikan adalah membaca bintang, membawa nelayan ketempat dimana ikan kakap merah berkumpul, dimana tempat ikan rengge bermain.Itulah sebagian dari keahliannku. Sementara itu para nelayan disini tidak mengetahui lebih jauh lagi tentang diriku yang sebenarnya. Mereka tidak akan mengetahui, bahwa aku dapat membawa mereka lebih jauh ke Tidore tempat begitu banyak mutiara, atau berkelana di sepanjang laut Selat Malaka. Hanya dengan membaca bintang di langit”, Berkata Kebo Arema menjawab pertanyaan Kertanegara.

    “Paman telah berkelana di banyak tempat”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang banyak bercerita tentang beberapa daerah yang pernah disinggahi, mulai dari pesisir tanah jawa sampai di beberapa nagari disepanjang selat Malaka.

    “Tapi akhirnya berhenti di tepian sungai Porong”, berkata Kebo Arema yang disambut gelak tawa oleh Kertanegara.

    “Aku akan mengajak Paman kembali berkelana, membacakan bintang dilangit untukku”, berkata Kertanegara kepada Keo Arema.

    “Kupersembahkan diriku ini untuk Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil menjura penuh hormat kepada Kertanegara. Seorang Putra Fajar yang sudah lama ditunggunya.

    • asyik berattttttttttttttt

      • he-he-he, gue yang nulis bilang asyik berat, embuhlah para kadang sedoyo

        nyilem dulu ach….janji mau ngantor ba’da johor naik montor mugi-mugi ketemu cewek bahenor

        • he he he …
          kamsiaaa……….

  32. kamsiaaaa, ngapunten sawek saget sowan, lha wong sawahe asat banyune, dadi kudu ekstra olehi nunggoni


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: