SFBdBS-01

lanjut ke SFBdBS-02 >>
—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Mei 2011 at 20:03  Comments (459)  

459 Komentar

  1. waduh , kamsiaaa agak telat, lha wong sawahnya njaluk ngombe, kepeksa ngoncori disik

  2. Kertanegara hatinya menjadi bimbang, sebulan lebih perjalanannya tertunda, terbayang wajah Menik Kaswari yang kecewa, akan menyangka dirinya sebagai seorang lelaki yang tidak berani memperjuangkan arti sebuah cinta.

    “Tataran ilmuku masih begitu rendah”, berkata Kertanegara dalam hati mengingat kembali pertempurannya dengan Daeng Bahar.

    Kertanegara mencoba menjenguk hatinya yang paling dalam, sepertinya hati ini begitu berat untuk memilih menyetujuai keinginan orang tua didepannya yang menginginkan dirinya mewarisi ilmunya. “Apa artinya seorang Raja bila masih takluk dan gentar melawan sekelas perompak jalanan”, pikiran Kertanegara kembali memberi beberapa pertimbangan.

    “Mudah-mudahan diriku ini tidak mengecewakan”, berkata Kertanegara kepada Empu Dangka sebagai jawaban menerima tawarannya.

    “Aku ingin melihat sejauh mana tataran ilmu yang sudah kau miliki”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara meminta untuk memperlihatkan sejauh mana tataran yang dimilki.

    Kertanegara dan Empu Dangka mencari tempat yang agak terbuka. Mereka mendapatkan sebuah tempat yang mereka inginkan.

    Matahari pada saat itu masih belum naik kepuncak langit. Hembusan angin seperti hangat menyentuh tubuh. Seekor burung Kepodang kuning hinggap di batu sungai. Meneguk sedikit air sungai yang mengalir bening. Burung Kepodang kuning itupun terbang kembali, mungkin menemui kekasihnya yang begitu lama menunggu.

    Kertanegara telah mempersiapkan dirinya, semula gerakannya mengalir lambat tanpa kekuatan. Namun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras karena dilakukan dengan segenap tenaga yang ada. Peluh bercucuran di seluruh tubuhnya. Dan akhirnya kecepatan gerakannyapun perlahan berkurang, semakin lambat dan akhirnya berhenti.

    “Kerta, apa hubunganmu dengan Empu Purwa ?”, bertanya Empu Dangka.

    “Beliau dapat dikatakan sebagai buyut guruku”, berkata Kertanegara

    “Sudah kuduga, ternyata kita berasal dari perguruan yang sama”, berkata Empu Dangka manggut-manggut.”Ditangan Empu Purwa dan keturunannya, ilmu itu telah berubah dari watak aslinya”, berkata Empu Dangka melanjutkan.

    “Aku belum mengerti apa yang Empu maksudkan”, berkata Kertanegara tidak mengerti maksud perkataannya. Karena sebagai seorang yang selama ini menekuni jurus ilmu yang diwarisi langsung dari ayahnya, secara pribadi membanggakan aliran ilmunya. Apalagi sering Ayahnya sendiri banyak bercerita, begitu tingginya ilmu yang dimiliki oleh Mahesa Agni tidak terlawan oleh siapapun pada jamannya.

    “Apakah permainan jurusku ini buruk ?”, berkata Kertanegara.

    Empu Dangka tertawa terpingkal pingkal. “Apakah kamu mendengar aku berkata seperti itu ?”, balik bertanya Empu Dangka kepada Kertanegara.

    “Aku hanya bertanya”, berkata Kertanegara yang dibalas senyuman oleh Empu Dangka.

    “Pada dasarnya sebuah ilmu akan terus menuju kearah kesempurnaan, jurus yang kamu mainkan sudah begitu menjadi sempurna. Terus terang aku mengagumi bahwa ilmu itu telah disempurnakan. Namun perubahan ilmu itu telah menyesuaikan dirinya sebagaimana watak pemiliknya. Yang kulihat perubahannya menjadi begitu keras, sementara watak asli dari ilmu perguruan kita adalah sebuah kelembutan.Melawan kekerasan dengan kelembutan. Melawan kekuatan tanpa kekuatan”, berkata Empu Dangka.

    “Aku mohon petunjuk dari Empu”, berkata Kertanegara paham apa yang dikatakan oleh Empu Dangka.

    “Aku seperti melihat watak asli dari Empu Purwa, lewat jurus yang kamu mainkan”, berkata Empu Dangka. “Kakekku Empu Brantas banyak bercerita tentang siapa sesungguhnya Empu Purwa. Seorang yang berwatak keras, kadang tidak mampu mengendalikan dirinya. Apalagi bila harga dirinya yang direndahkan, ia tidak akan mudah menerima dan mengalah.Apakah ayahmu tidak pernah bercerita tentang hancurnya bendungan Panawijen?”, bertanya Empu Dangka kepada Kertanegara.

    “Pernah, ayahku sendiri pernah bercerita mengenai hal itu”, berkata Kertanegara sambil menganggukkan kepalanya.

    “Aku akan menunjukkan watak asli dari perguruan kita yang sebenarnya, tapi tidak hari ini”, berkata Empu Dangka. “Mari kita kembali ke Gubuk, ada beberapa hal utama yang harus aku sampaikan”, berkata Empu Dangka melanjutkan.

    Sementara Matahari sudah berdiri di puncaknya, para binatang hutan pasti tengah bersembunyi mengintip kapan terik panas matahari berlalu. Bersembunyi dibalik daun dan ranting, dibalik semak belukar yang kerap, atau seperti badak bercula, tertidur bersama baju lumpurnya.

    • Wah kayangapa bingung dan ramenya situasi Kraton Singasari ya, …. Putera Mahkota menghilang tanpa kabar berita. Muga2 kepethuk Mahisa Pukat di Benteng Changgu. Lanjut terus Ki Dalang, …… mana sindennya, …… suruh nyanyi kutut manggung dong?

    • Matur nuwun Ki Kompor,
      Cakar e cakra sudah saya ukir dalam benak saya.

  3. kamkamkamsiaaaaaaa

    • jamaahhhh oh jamaahhhhhhhhh !!!!

      • buka puasa menyantap lontong opor,
        kamkamkamsiaaa deh Ki Kompor.

        • Ki Menggung……
          mbok Sindene ndang dipapag
          ben Dalange cepet medhar tutuge.

    • ha ha ha …
      telat lagi, monitor macet..
      kamsiaaaa….

  4. Sugêng dalu

    • sugeng dalu ugi Ki Puna,

      jaman dulu ada petuah Jawa,
      “aja cedhak kebo gupak”
      “ora sah ngurusi celeng boloten”

      mbok coba dibahas sesuai dengan konteks situasi saat ini to Ki Puna.
      (bukan nyindir mas BENDUM lho….)

  5. kamsiiiiiiia sekali

  6. Nuwun
    Sugêng énjang

    Katur Ki Gembleh,
    [On 25 Mei 2011 at 21:49 gembleh said:]

    Jangankan pake disindir seperi yang dikatakan Ki Gembleh, lha disebut dengan terang dan jelas sejelas-jelasnya saja masih ngak mau ngerti. Piyé jal
    Itu yang dinamai rai gêdèg.

    Insya Allah Ki, wedaran tentang:
    åjå cêdhak kêbo gupak” dan
    ora sah ngurusi cèlèng bolotên” dan yang sejenisnya, kalau ada, akan disajikan kemudian, saya tak blusukan terlebih dahulu ke gedong pustakanya Ki Bayuaji. Nyuwun pangapunten Ki.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • Awas kesambet Ki Puno!
      Kulo nderek nopo pripun?

      • Sugêng siyang

        Sampun dipun “syarati” nganggé sajèn Ki. Kêmbang sêwêlas warnå komplit, bubur abang-putih; Banyu saking sêgårå kidul lan ubå-rampèn sanèsipun…………
        He he he. mbotên kok Ki, mbotên nganggé sajèn.

        • leres Ki Puna,
          sesajene sampun dipun gantos ngangge
          yu es dalers ingkang berkuasa,
          “yen ora gelem nampa, bakal tak obrak-abrik” katanya…katanya…

    • Sakniki sampun jarang ndamel gêdèg Ki, sing kathah tembok botho utawi cor-coran, dadosipun nggih rai tembok mawon, tambah kandel, mboten wonthen bolonganipun babar pindhah.

  7. Sugeng enjang,
    Mau sarapan nasi uduk dulu yang dikirim Ki Kompor.

  8. Mantab

  9. nginguk gandok , geber wis dibeber, wiyogo wis samekto, gari nunggu ni sinden sing isih lungo karo pak dalang, jare arep golek sego pecel disik

  10. Pak Dalang………
    tutuge pundi…?????

  11. Sementara Kertanegara sedang sibuk berlatih, jangan lupakan Mahesa Murti dan Raden Wijaya Ki Kompor.

  12. Komen saya tidak muncul, kenapa ya?

    • Oooo… jebul sampun.

  13. hadu….
    sampai jam begini dalangnya belum dateng
    dalang kok datangnya subuh, dalang apaan tu…?
    he he he …, ngapunten….
    setia menunggu kok

  14. maaf, maaf, maaf….baru pulang ngaji di sekitar Tebet,
    masih….keringetan………

  15. Ngentosi rontal enggal

  16. SUGENG ENJANG.

  17. sugeng sonten , nunggu kepyak-e pak dalang

  18. maaf….seperti guru yang menang satu malem ama muridnye, ane lagi mencoba meng-intisarikan “wanasanga” satu pancer dan 8 mata angin yang menurut ane berhubungan dengan prinsip dasar tatalaksana secara jiwani dan kehidupan nyata di bumi Singasari di awal pemerintahan raja Kertanegara. Tapi…..sampe subuh belum juga nembus. Jadi sambil nunggu Ki Punakawan dan Ki Banuaji mengirim bahan jadi tentang satu pancer dan delapan mandalawangi-nya, KITA mengikuti perjalanan pulang Mahesa Murti dan Raden Wijaya, atau…..suasana heboh hilangnya sang putra mahkota ????????

    • lha monggo…
      lakone Ki Dalang yang menentukan
      para cantrik cuma ikut nyinau
      he he he

  19. Empu Dangka tengah memberi penjelasan tentang dasar-dasar utama perguruannya. Melukis sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh lingkaran luar mirip sebuah gambar cakra.

    “Lingkaran di dalam adalah pancer, dialah Sang Hyang Maha Tunggal pusat dari segala yang hidup dan menghidupi kehidupan ini, sumber dari kekuatan. Datangilah Dia dari semua pintu, Karena Dia lah yang memegang kunci delapan pintu arah mata angin”,berkata Empu Dangka memberi pengertian dasar untuk memulai sebuah laku.

    “Apakah aku harus merajah gambar ini sebagaimana yang ada di tangan Empu”, berkata Kertanegra kepada Empu Dangka sambil melirik lukisan cakra di tangan Empu Dangka.

    “Anakku, kamu tidak perlu melukisnya di tanganmu, patri-lah di dalam hatimu”, berkata Empu Dangka kepada Kertanegara dengan tersenyum lembut.

    Demikianlah Empu Dangka memperkenalkan sifat dan watak dari perguruannya agar menyempurnakan ilmu yang sudah dimiliki oleh Kertanegara lewat jalur Empu Purwa dan Mahesa Agni kembali kejalurnya yang murni.

    “Cambuk adalah senjata utama perguruan kita, sebuah senjata yang mengutamakan sebuah kelembutan dan kelenturan”, berkata Empu Dangka sambil melepas sebuah cambuknya yang selalu terikat di pinggangnya.

    Hari pertama itu, Kertanegara mendapatkan beberapa pemahaman dan pengertian dasar dari sebuah laku yang harus dilaksanakan.

    Pada hari kedua, Kertanegara melaksanakan sebuah laku, duduk bersila sempurna diatas sebuah batu. Berlatih olah pernapasan rahasia perguruan Empu Dangka. Kekerasan dan semangat Kertanegara memang luar biasa, sehari dan semalaman kertanegara melaksanakan laku yang diajarkan Empu Dangka tanpa merasakan keletihan sedikitpun. Diam-diam Empu Dangka memuji ketahanan tubuh Kertanegara.

    “Makan dan beristirahatlah”, berkata Empu Dangka meminta Kertanegara menghentikan laku-nya.

    Setelah beberapa hari berlatih melaksanakan sebuah laku. Akhirnya Kertanegara mulai merasakan sesuatu didalam laku-nya. Kertanegara merasakan dirinya seperti ambles kedalam bumi, terbakar panasnya magma bumi, terlempar terbawa dalam arus sungai yang jernih, dengan sekuat tenaga berenang melawan arus sungai hingga sampai ke hulu, meneguk dan merasakan harumnya setetes air dari sumber mata air yang jernih, merasakan hembusan angin, tubuhnya pun seperti melayang keudara, tertidur dipunggung matahari, menatap lembut senyum sang rembulan dan terbang kelangit malam menjadi sebuah bintang.

    Sebuah sentuhan dingin menyentuh bahunya, Kertanegara membuka matanya tersadar.

    “Akhirnya kamu berhasil, lukislah gambar cakra itu di dalam jiwamu”, berkata Empu Dangka yang melihat dengan penglihatan bathinnya bahwa Kertanegara telah sampai di puncak laku-nya.

    • pegelaran masih panjang, sang sinden nyang cuma atu-atunye melanggamkan lagu ahmad Albar koloborasi gending gamelan,

      Malam panjang…remang-remang…didalam gelap kudendangkan ….satu lagu….kehidupan.

      Disaat ini…ingin kudendangkan lagi…satu syair lagu…. untukmuuuuuuuuuuuuu.

      • mewakili pak Satpam,
        kaaamsiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaa.

        • suwun….

    • Cihuuuuiiiiii,
      akhirnya tutuge muncul juga,
      cakra manggilingan sudah terpahat dibatin.

      tancap mang……

  20. cakranya nggak nggiling, tapi nggangsing, he heeee matur nuwun

  21. Mengambil guitar punya si Ragil sambil bergaya pura2 mirip mas Ian Antono,

    Disaat ini…. ingin kuterlena lagi….
    terbang tinggi di awan….tinggalkan bumi…..di sini

    Disaat ini….ingin ku mencipta lagi…..
    kan kutuliskan lagu….sambil kukenang….wajahmu

    Malam panjang……remang remang…..
    di dalam gelap aku dengarkan,
    syair lagu kehidupan……

    (weh…si Ragil lha kok nyaut),

    Hanya bilik bambu…..tempat tinggal kita….
    tanpa hiasan…..tanpa lukisan….
    beratap jerami….beralaskan tanah….
    namun semua itu punya kita…..
    namun semua itu milik kita…..
    sendiri…..

  22. Kita tinggalkan dulu Kertanegara yang tengah digembleng oleh Empu Dangka menerima warisan ilmunya. Mari kita melihat sampai dimana perjalanan Mahesa Murti dan Raden Wijaya.

    Saat itu matahari telah mulai turun dari puncaknya, senja masih jauh. Sekelompok burung pipit terbang ke utara, seperti lukisan alam yang indah dalam warna kapas awan putih tanpa suara angin.

    “Kedatangan kita bersama datangnya panen raya”, berkata Mahesa Murti kepada Raden Wijaya yang sudah rindu dengan kehidupan Padepokan Bajra Seta.

    “Dari mana Paman mengetahui bahwa panen raya telah datang?”, bertanya Raden Wijaya.

    “Burung-burung pipit itu datang dan pergi dalam waktu dan tempat yang sama sepanjang tahun. Mereka hanya datang ketempat dimana padi sedang bunting”, berkata Mahesa Murti.

    “Artinya perjalanan kita sudah menjadi dekat”, berkata Raden Wijaya.

    “Searah burung pipit itu terbang, melewati hutan kecil, sebelum senja kita sudah sampai”, berkata Mahesa Murti sambil menghentak perut kudanya agar berlari lebih kencang lagi.

    Dua ekor kuda berpacu membelah padang semak alang-alang luas, dan masuk menghilang ditelan kerindangan hutan yang pekat.

    Sinar matahari senja mewarnai langit di atas Padepokan Bajra Seta. Dua ekor kuda terlihat mendekati pintu gerbang Padepokan yang masih terbuka.

    “ketua datang !!”, berkata seorang cantrik dari panggungan.

    Dalam waktu singkat, Mahesa Murti dan Raden Wijaya telah dikerumuni para cantrik. Sementara itu di Pendapa seorang wanita cantik berdiri dengan wajah penuh ceria. Siapa lagi wanita tercantik di Padepokan Bajra Seta selain Padmita adanya. Istri tercinta Mahesa Murti dari Padepokan Renapati yang juga anak putri seorang sakti bernama Kiai Wijang.

    Diiringi para cantrik, Mahesa Murti dan Raden Wijaya menuju ke pendapa Padepokan Bajra Seta.

    “Raden, perkenalkan ini Bibi Padmita”, berkata Mahesa Murti kepada Raden wijaya.

    “Sudah pantaskah aku di panggil Bibi ?”, berkata Padmita dengan senyumnya yang begitu mempesona.

    Dan malam itu suasana di padepokan Bajra Seta begitu meriah. Kembali ayam-ayam jago dan gurame besar yang lagi bunting di kolam belakang menjadi korban keceriaan orang-orang yang ada di Padepokan Bajra Seta.

    Semuanya sepertinya bergembira, menyambut kedatangan Mahesa Murti kembali di Padepokan Bajra Seta.

    • tarik kangmaseeeee

      • sang sinden udeh keliatan ngantuk, langsung nembang :
        Lebih baik disini……
        rumah kita sendiri……….
        (kayaknya sang sinden pengen pulang cepet, pengen pipis kaleeee)

        • karena di tempat pagelaran wayang kaga ade pakiwan, ni Sinden tak ajak
          ke Huma di atas bukit aje ye…??

  23. Nuwun
    Sugêng dalu

    Sambil membuka rontal pustaka di Padepokan Ki Bayuaji, menelisik apa yang dimaksud dengan wanasanga” satu pancer dan 8 mata angin [On 27 Mei 2011 at 17:26 kompor said:].

    Terlebih dahulu punåkawan medar “åjå cêdhak kêbo gupak” dan “ora sah ngurusi cèlèng bolotên” [On 25 Mei 2011 at 21:49 gembleh said:].

    ÅJÅ CÊDHAK KÊBO GUPAK

    Kalimat selengkapnya (salah satu versi yang ada antara lain):

    Åjå cêdhak-cêdhak kêbo gupak mundhak kênå bléthoké. Unèn-unèn kuwi ugå mêngku karêp yèn thå milih kumpulan kåncå utåwå mitrå kuwi ya sing nggênah.

    Têgêsé åjå mêmitran lan kêkancan karo pawongan kang nduwé sêdyå utåwå pakarti ålå.
    Mêrgå lola-laliné, watak lan pakarti kang ålå iku mau bakal biså nular karo liyané.

    Tuladhané kêkancan karo maling yå mèlu dadi maling, kêkancan karo wong kang dêmên ngapusi, ya katut milu ngapusi.

    Unèn-unèn iki, mènèhi piwulang, yèn thå sakjroning nglakoni urip bêbrayan åjå pisan-pisan nyêdhaki utåwå nglakoni barang kang ålå.

    Contoné kåyå wujudé må-limå, yaiku main, mêndhêm, maling, madhat, lan madhon.

    Kalimat singkat itu, merupakan kata bijak orang Jawa, khususnya yang sudah sêpuh (sêpuh itu sabdané ampuh), saat menasehati putra-putrinya atau anak-anak muda.

    Kalau mengatakan kata “kêbo”, mulutnya harus sampai monyong, untuk melafalkan huruf “O”nya, supaya lebih yakin dan mantap. Yang arti mudahnya adalah, “Jangan dekat kerbau kotor”.

    Gampang khan diartikan? “Kalau kalian mendekati kerbau kotor, maka kalian akan mudah ketularan kotornya. Begitu saja?” Demikian nasehat itu.

    Apa kerbau dalam arti yang sebenarnya. Tentu bukan. Sebab kalau kêbo gupak dalam arti yang sebenarnya, kasihan kakang dan si mbok tani, yang hampir setiap menggarap sawahnya terutama jika membajak, juga bagi bocah-bocah angon, pasti cêdhak kêbo gupak (kêbo di sini bisa juga sapi).

    Åjå cêdhak kêbo gupak, falsafah ini sudah jarang didengar dan tidak dianggap lagi oleh orang-orang jaman sekarang.

    Padahal para sesepuh dan para cendekia pada jaman dulu mewariskan falsafah ini dengan kata-kata sanépan (kiasan) yang sangat halus dan sarat makna.

    Kita diibaratkan hewan atau kerbau, makna yang terkandung adalah manusia jika tidak mau berhati-hati dalam hidupnya dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya sama saja dengan mahkluk yang namanya hewan, dan hewan itu adalah kerbau, sedangkan yang dimaksud kerbau di sini adalah manusia yang kotor.

    Pertanyaan akan muncul, kotor karena apa? Hanya karena belum mandi? Tentu bukan. Kotor yang dimaksud adalah karena perilakunya yang tidak baik. Misalnya tukang curi, tukang copet, tukang korup atau koruptor (koruptor itu juga tukang lho), tukang bohong, tukang janji tapi culas, tukang omong besar, tukang tipu, tukang fitnah, dan sejenisnya — ini yang termasuk kategori kêbo gupak .

    Åjå cêdhak kêbo gupak, falsafah Jawa ini mengajarkan kita dalam pergaulan kita sehari-hari, bahwasanya kita harus jeli dan berhati-hati dalam memilih teman, memilih tempat kita tinggal, memilih tempat kita bermain atau tempat kita berkumpul.

    Jangankan bergaul dengan “kêbo” mendekat saja, apalagi mendekat kêbo gupak, oleh para leluhur sudah dilarang, ini adalah upaya preventif pada diri kita agar hati-hati dan selektif dalam memilih dan menentukan siapa yang bisa dijadikan teman atau karib kita.

    Apa maknanya? Åjå cêdhak kêbo gupak, kita diminta berhati-hati bergaul. Karena dengan siapa kita bergaul, pengaruh pergaulan tersebut tetap akan masuk sedikit atau banyak dalam diri kita.

    Jika kita bergaul dengan orang sholeh, seperti anjuran agama, maka kita akan menjadi ikut sholeh. Jika kita bergaul dengan bajingan, kita bisa menjadi ikut bajingan.

    Oleh karena itu kita diminta berhati-hati dalam menentukan teman pergaulan, atau apapun yang bisa memperngaruhi kita.

    Dunia sudah kelawik terlobak-bakil eh ʞılɐq-ʞɐloqɹǝʇ ʞılɐʍǝʞ ɥǝ ʞıqɐl-ʞɐqolɹǝʇ ʞıʍɐlǝʞ, kadang atau sering terjadi hal yang salah kaprah, salah arah, salah pemahaman, salah penempatan, salah pengertian.

    Bahwa, lawan atau orang yang berbeda keyakinan atau orang yang berseberangan dianggap juga sebagai kêbo gupak .

    Contohnya, seorang yang kebetulan menjadi pimpinan (menjadi pimpinan kok kebetulan!), yang sebenarnya juga tukang korup, tukang tipu, tukang fitnah, tukang må limå juga, memberi nasehat. “Åjå cêdhak kêbo gupak”, kepada para anak buah dan konco-konconya yang setia membabi buta, karena diuntungkan secara materi.

    Lha, si kêbo gupak di sini siapa? Orang-orang yang tidak sejalan, orang-orang yang tidak mau mengikuti jalan sesatnya, orang-orang yang tidak mau bekerja sama di jalan yang salah itu.
    Orang yang tidak mau bahu-membahu dengan mereka. Nah, jadi kacau khan.

    Padahal pimpinan itu sendirilah yang lebih patut diberi cap sebagai “kêbo” bahkan mbahnya kêbo. Plola plolo kåyå kêbo.

    Tapi bagaimana jika ternyata di mana-mana sudah menjadi Kêbon Kêbo (alih-alih Kêbon Binatang).

    Apakah falsafah Jawa itu harus bergeser. Ketika harus bertemu, berteman, dan berkawan dengan siapapun tanpa pandang bulu, ketika ikut ber”belepotan” juga karena dekat-dekat kêbo, menjadi gupak juga, tapi bukankah si gupak masih bisa mandi dan membersihkan diri.

    Jadi nggak perlulah khawatir dengan pendapat orang, sejauh dapat “jaga diri”. Demikian si gupak beralasan.

    Tetapi senengnya (alih-alih susahnya) orang-orang akan tetap menuduhnya sebagai kêbo gupak, meskipun belepotan lumpur bisa bersih dengan sekali bilas, tapi dia sudah jadi kêbo itu sendiri.

    Sekali kêbo tetap kêbo. Sama dan sebangun dengan cêdhak cèlèng bolotên.

    Maka:

    mangkyå darajating pråjå
    kawuryan wus unyå luri
    rurah pangrèhing ukårå
    karånå tanpå palupi
    atilar silas tuti
    sarjånå sujånå kèlu
    kalulun kålåtidhå
    hardayingrat déning karoban rubédå

    [Keluhuran negeri saat ini
    Kemasyurannya telah hilang
    Kacau balau tata aturan segala urusan
    Karena tiada suri tauladan
    Telah meninggalkan etika dan moral
    Cerdik cendekia dan elite terpikat
    Larut dalam arus KALATIDHA
    Kacau balau, atas datangnya huru-hara]

    Tetapi:

    sabêjå-bêjané wong lali isih bêjå wong kang èling lan waspådå
    madhêp mantêp karêp anêngênaké panêmbah lan pasrah marang Kang Murbèng Dhumadi

    Nuwun

    punåkawan bayuaji

    • orang betawi tempo doeloe bikin semur daging kebo pada saat lebaran, dagingnya alot buangeet.

      kayaknya, sekarang jarang orang “kurban” dengan kebo

      kacian deh ame “kebo”, udeh enggak ade yang order lagi buat bajak sawah, dagingnya udeh enggak ada yang mau “gigit”, ehhh buat korban bulan haji udeh enggak ada lagi.

      pantesnye diapain tuch “kebo” hari geni ?????

    • ngaturaken agunging panuwun Ki Puna.

  24. Kang Kompor, masih inget aksi demo 28 Januari 2010 tahun lalu? Ada kebo ikut demo di Bunderan HI lho……

    • sayang tidak diiringi tembang dolanan :

      Kowe bocah bodho, melolo kaya kebo….
      lemu ginak ginuk ora kuru kaya aku…..
      yo ben aku kuru, ora kurang sandhang pangan…
      sinau pikiran mbesuk gedhe mimpin “pemerintahan”

      Tanjung Priok tepi laut……..
      trek’e mogok…pemimpin’e dadi kalut….!!!!

  25. Didaerah Cilegon, utamanya di kampung-kampung, kebo masih populer Ki.
    Maklum karena tidak ada peluang impor kebo, maka makin lama-makin punah. Coba kalau ada yang punya ide punya proyek untuk membudi dayakan kebo, pasti langsung ditata oleh pemerintah (maksudnya proyeknya.. he.. he)
    Sugeng enjang Ki.

  26. Kagem Ki Kompor, lanjut terus.
    Lha meniko dupeh tokoh utama nipun ndamel asma Mahisa, malah membahas per kebo an. Monggo lanjut

    • Nuwun
      Sugêng siyang

      Lêrês Ki Suro. Jangankan tokoh utamanya ndamêl asmå Mahesa alias Kebo, sedangkan yang punya pedepokan pelangisingosari ini juga kagungan gêlar kebo, tapi bukan kebo sembarang kebo, beliau bergelar Rakryan Kebo Arema atawa Rakryan Mahesa Arema.
      Seorang panglima perang Baginda Prabu Kertanegara pada waktu Ekspedisi Pamalayu penyerbuan pasukan Singasari ke Darmasraya.

      Nuwun

      punåkawan bayuaji

  27. kebo danu, kebo mercuet, kebo giro, kebo dungkul, kebo sindet, kebo kumpul, sapa meneh yo, monggo ditambahi piyambak

  28. melu urun rembug ah…
    aja cedhak kebo gupak…
    akan tetapi ada tugas lebih penting dari pada menghindari “kebo gupak”, yaitu membersihkan “kebo gupak”

    tidak manusiawi bila kita membiarkan kebo gupak tetap menjadi kebo gupak, diperlukan keberanian untuk justru mendekati kebo gupak itu untuk menghilangkan “gupak”-nya agar menjadi kebo putih…

    ya ta?
    ah embuh…

    • gampang kok Ki Samy,

      Dicuci pakai sabun KEIMANAN,
      lalu disikat pakai KETAQWAAN.

      lha tapi sing badhe dibersihkan “mbedhal-2” napa mboten nggih…??

  29. Sugêng dalu

  30. Sugêng dalu ugi Ki Puna , lan sanak kadang sedoyo

  31. Sugeng dalu Ki Puno, Ki Bancak dalah sedoyo kadang PDLS.

  32. Sugeng dalu
    Ki Ajar pak Satpam,
    Ki Dhalang Bara Membara,
    Ki Puna.
    Ki Bancak,
    Ki Honggo,
    Ki Samy,
    Ki Suro,
    lha Ki MENGGUNG’e teng pundi to….??

    • keSASAR ki…lha wes tuwa kok yo isih
      coba-coba jalur BARU,

      sepanjang perjalanan isiNE mung pohon,
      rumput, gerumbul tok, gak ada rambu2
      penunjuk arah…apalagi bakul makanan

      mesak-KE,

      • Lha tegese nJenengan kirang waskita,
        menawi kathah wit2an, suket napa malih sing rungkut ngrembuyung, sak cakhete mesti wonten blumBangan.
        Lumayan to ngge ampiran…???

  33. Pagi-pagi sekali Raden Wijaya dan Mahesa Amping sudah bangun. Ketika mereka bersama naik ke Pendapa, Mahesa Murti sudah ada. Merekapun menikmati makanan dan minuman hangat.

    “Hari ini aku ingin mengajak Raden Wijaya kesawah, melihat panen raya”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

    “Aku akan segera menyusul, aku juga sudah rindu melihat sawah kita saat panen”, berkata Mahesa Murti memberi ijin Mahesa Murti dan Raden Wijaya pergi ke sawah.

    Dengan gembira Mahesa Amping dan Raden Wijaya turun dari pendapa. Sementara di halaman nampak Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga sudah menanti. Hari itu hampir sebagian para cantrik turun ke sawah untuk melaksanakan panen raya.

    Mahesa Murti melihat dari jauh Mahesa Amping dan Raden Wijaya jalan beriring.

    “Baru satu malam mereka sudah begitu akrab”, berkata Mahesa Murti sendiri dalam hati.

    “Mereka sudah berangkat ?”, berkata Padmita yang baru muncul dari pintu membawa jajanan jenang alot.
    “Bukankah ada aku disini ?”, berkata Mahesa Murti kepada Padmita yang langsung duduk meletakkan jajanan jenang alot.

    “Apa perlu kutambahkan lagi wedang sare nya Kangmas”, berkata Padmita kepada Mahesa Murti yang melihat minuman di depan Mahesa Murti sudah hampir habis.

    “tidak perlu, kehadiranmu sudah cukup melengkapi segalanya”, berkata Mahesa Murti memandang Padmita yang tersenyum malu.
    Mataharipun merayap naik perlahan. Sepasang burung murai batu tengah bercumbu di ranting bambu. Sang jantan mulai merayu menebar pesona, saying seekor kadal bunting datang mengganggu. Sepasang burung murai terbang menjauh mencari dahan dan ranting di kerindangan pohon melanjutkan sisa asmara mereka yang tertunda.

    “Kangmas akan turun kesawah ?”, bertanya Padmita kepada Mahesa Murti yang dijawab dengan anggukan kepala pelahan.

    “Cepatlah Kangmas kesawah, aku akan menyusul untuk membawakan makanan kesana”, berkata Padmita kepada Mahesa Murti.

    Matahari sudah mulai merayap naik, Mahesa Murti keluar Padepokan Bajra Seta menuju ke sawah.
    Dipesawahan yang telah menguning, para cantrik tengah sibuk memotong padi. Sehelai demi sehelai batang padi terpotong ania-ani tajam dari tangan yang cekatan. Di beberapa petak sawah nampak beberapa cantrik tengah membakar sekam. Gunungan padi pun telah banyak terkumpul. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak bisa di beli oleh apapun. Mahesa Murti memandang semua itu dalam bathin penuh rasa syukur.

    “Begitu damainya seandainya di bumi manapun tidak ada prahara, tidak ada peperangan dan pertumpahan darah”, berkata Mahesa Murti dalam hati ketika perlahan sudah mendekati pesawahan.

    “Hasil panen kita kali ini luar biasa”, berkata Wantilan kepada Mahesa Murti.

    “Panen pertama di tanah Sima”, berkata Mahesa Murti kepada Wantilan yang nampak wajahnya kemerahan terbakar sinar matahari.

    “Panen pertama tanpa ikatan thanibala”, berkata wantilan menyambung ucapan Mahesa Murti.

    “Mbokyu Padmita belum muncul ?”, bertanya Mahesa Amping yang baru datang bersama Raden Wijaya bergabung bersama Mahesa Murti dan Wantilan.

    “Kamu menanyakan Mbokyu mu atau makanannya ?”, bertanya Wantilan menggoda Mahesa Amping.

    “Kedua-duanya lah”, berkata Mahesa Amping yang merasa malu bahwa keinginannya sudah dapat di baca oleh Pamannya, Wantilan.

    “sebentar lagi Mbokyu mu datang dengan gorengan gurame kering”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping menggoda. Dan tidak terasa perut Mahesa Amping seperti berkerukut mendengar gurame goerng.

    Matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya. Dipinggir sawah di bawah pohon pisang yang tumbuh di tegalan, mereka menikmati makan siang yang istimewa. Lauk yang paling enak didunia ini adalah rasa lapar. Raden Wijaya dan Mahesa Amping terlihat begitu penuh semangat dan menikmati rasa lapar mereka bersama sebuah goreng gurame kering yang masih hangat.

    “Aku akan mengajak Raden Wijaya ketepian sungai”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti yang tengah bersiap untuk kembali ke Padepokan Bajra Seta.

    “Berhati-hatilah”, berkata Mahesa Murti mengijinkannya.

    “Paman Sembaga ikut bersama kami”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

    Mahesa Murti memandang sebentar kepada Sembaga. Mengerti apa arti pandangan mata dari Mahesa Murti, Sembaga mengangguk perlahan. “Aku akan menjaga dua bocah nakal ini”, berkata Sembaga.

    Sembaga, Mahesa Amping dan Raden Wijaya berjalan kearah sungai. Ditepian sungai yang agak luas mereka berhenti. Suasana di tepian begitu teduh, sinar matahari terhalang rindangnya batang pohon waru yang banyak tumbuh di tepian sungai yang bening dan berbatu.

    “Aku dan Paman Sembaga sering ketempat ini berlatih”, berkata Mahesa Amping sambil membuka bajunya yang kotor dan meletakkannya diatas sebuah batu.

    • kaamsiiiaaaaaaaa

      • Sinden’e nyaut…Tancap Maaaaaaaaaaang…!!!

    • Ki Ajar,….pak Dhalang mpun kamsiaaa lho….!!

  34. FC Barcelona muantab tenan.
    Bravo 3 – 1

  35. Kamsiaa juga Ki Kompor.
    Selamat berhari Minggu (liburan).

  36. Sugeng enjang kadang sedoyo

  37. Sugeng enjang kadang sedoyo,
    Kemarin iseng-iseng bikin taman buat buat burung, burung crucuk jawa timur dan kutilang ternyata bisa bersahabat. Mungkin karena mereka sudah lama kenal, setiap hari saling menegur dari sangkarnya masing-masing.
    Tapi begitu dimasukkan burung baru, dua ekor cerucuk jawa barat, terjadilah sebuah pertempuran seru. Seperti melihat pertempuran pesawat tempur saling menyerang diudara, kadang menukik tajam tiba-tiba.

    HASILNYA, dua ekor cerucuk jawa barat tewas……..

    Hari ini, dengan terpaksa memindahkan sang pembunuh kembali ke sangkar kecilnya.
    Siap-siap berburu burung warna-warni ke Pasar Pramuka, katanya sih disana banyak pilihan……

    • ikut pak DALANG aaaahhh, cuma beda dikit
      tujuanE…pak DALANG berBURU manuk, lha
      cantrik berBURU sangkar,

      sapa tau besok2 cantrik dapat burung lgi
      kayak kemaren wektu cantrik nunggu sawah
      ning wilayah kademangan sebelah,

  38. kamsiaaaaaa

  39. Sugeng dalu ki Sanak.

  40. selamat malam kadang SFBdBS,

    2 hari cantrik mangkir dari pagelaran pak DALANG,
    baru malem ini bisa kumpul lagi sama kadang SETIA
    padepokan pak DALANG MAHESA,

    • Lumayan, rong dina kula sing ngancani ni Sinden.
      wah jan, penjaluuke pancen macem2.

    • hikss, ada tugas beRAT keng pak DALANG yang
      harus cantrik lakukan :

      PERTAMA…..Ni Sinden yang selama ini setia mendampingi pagelaran pak DALANG, ndilalah
      kok kepingin mudik…katanya “kangen” omah,

      ya terpaksa, dengan rasa SENANG hati cantrik
      mengajukan diri mendampingi…ki Gembleh ora
      pareng meri, m-e-r-i…m-e-r-i,

      KEDUA….sesuai pesan bang HAJI jagalah DIA
      dalam hal ini (ni SINDEN) sampe dia kembali
      ke padepokan SINI,

      KETIGA….tugas telah cantrik laksakan dengan
      sePENUH hati, sampe2 kemanapun Ni SINDEN pergi
      cantrik rela memBUNTUTi/mendemPETi…!!??

      saat MAndi, saat ganti klambi dan saat-saat
      ni SINDEN…Aaah sensor nanti yang laen pada
      pengen ngertI,

      sekian,
      malam ini cantrik SIAP nunggONI pak DALANG lagi

  41. Angkat topi di kepala,
    tangan kanan bersilang di dada,
    menundukkan kepala,
    lima tahun sudah,
    semoga saudara2ku tetap tabah,
    lustrum pertama bencana.

  42. sugeng dalu sanak kadang sedoyo

  43. hadu….di jalan ketemu kerabat dekat yang sudah lama enggak ketemu, langsung mampir kerumahnya…..

    diperjalanan pulang banyak dapet bahan mentah, tinggal menggoreng………….

    • ASIK…sebentar lagi sebagian SIAP disajikan
      pada malam ini,

      sabar meNANTI…tetep pake ciri khas bang HAJI

  44. Sampurasun
    Wilujêng wêngi

    Sagung pårå kadang Padépokan PdLS, GS såhå AdBM ingkang tuhu kinurmatan

    Jadi sambil nunggu …. bahan jadi tentang satu pancer dan delapan mandalawanginya, “wanasanga” satu pancer dan 8 mata angin (satu pancer dan delapan mandalawangi). [On 27 Mei 2011 at 17:26 kompor said:].

    ***

    Menelisik makna kata wanasanga satu pancer delapan mandalawangi. Saya mengajak sanak kadang untuk memahami lebih comprehensive (baik, lengkap dan menyeluruh; mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas), agar memperoleh pemahaman dari makna yang sebenarnya.

    Sejauh ini saya belum mendapatkan suatu data sejarah yang akurat atau alasan yang sangat kuat, yang meyakinkan saya serta dapat saya pertanggung-jawabkan keabsahan sejarahnya; yang menyebutkan bahwa satu pancer dan 8 mata angin berhubungan dengan prinsip dasar tatalaksana secara jiwani dan kehidupan nyata di bumi Singasari di awal pemerintahan raja Kertanegara.

    Sepanjang pemahaman saya, “wanasanga” adalah keyakinan Hindu Dharma, yang menyebutkan bahwa wana sanga, atau lebih tepatnya Nawa Dewata atau Dewata Nawa Sanga adalah sembilan penguasa di setiap penjuru mata angin dalam konsep Hindu Dharma.

    Sembilan penguasa tersebut, Dewa Syiwa berkedudukan sebagai pancêr, yang dikelilingi oleh delapan dewa penguasa delapan penjuru mata angin sebagai aspeknya.

    Diagram matahari bergambar Dewata Nawa Sanga ditemukan pada Surya Majapahit yang disebut juga Surya Wilwatikta, adalah Matahari Majapahit sebagai Lambang Kerajaan Majapahit.
    Lambang yang kerap ditemukan di reruntuhan bangunan yang berasal dari masa Majapahit.

    Lambang ini mengambil bentuk matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengah menampilkan dewa-dewa Hindu. Lambang ini membentuk diagram kosmologi yang disinari jurai matahari khas “Surya Majapahit”, atau lingkaran matahari dengan bentuk jurai sinar yang khas.

    Karena begitu populernya lambang matahari ini pada masa Majapahit, para ahli arkeologi menduga bahwa lambang ini berfungsi sebagai lambang negara Majapahit.

    Bentuk paling umum dari Surya Majapahit terdiri dari gambar sembilan dewa dan delapan berkas cahaya matahari. Lingkaran di tengah menampilkan sembilan dewa Hindu yang disebut Dewata Nawa Sanga.

    Dewa-dewa utama di bagian tengah ini diatur dalam posisi delapan arah mata angin dan satu di tengah.

    Dewa-dewa ini diatur dalam posisi:

    1. Tengah: Syiwa.
    — Dewa Syiwa merupakan penguasa arah tengah (Madhya), bersenjatakan Padma, berwahanakan (berkendaraan) Lembu Nandini, shakti: Dewi Durga (Parwati). —

    2. Timur: Iswara.
    — Dewa Iswara merupakan penguasa arah timur (Purwa), bersenjatakan Bajra, berwahanakan Gajah, shakti: Dewi Uma. —

    3. Barat: Mahadewa.
    — Dewa Mahadewa merupakan penguasa arah barat (Pascima), bersenjatakan Nagapasa, berwahankan Naga, shakti: Dewi Sanci. —

    4. Utara: Wisnu.
    — Dewa Wisnu merupakan penguasa arah utara (Uttara), bersenjatakan Chakra Sudarshana, berwahanakan Garuda, shakti: Dewi Sri. —

    5. Selatan: Brahma.
    — Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan (Daksina), bersenjata Gada, wahananya Angsa, shakti: Dewi Saraswati. —

    6. Timur Laut: Sambu.
    — Dewa Sambu merupakan penguasa arah timur laut (Ersanya), bersenjata Trisula, wahananya Wilmana, shakti: Dewi Mahadewi. —

    7. Barat Laut: Sangkara.
    –Dewa Sangkara merupakan penguasa arah barat laut (Wayabhya), bersenjata Angkus (Duaja), wahananya Singa, shakti: Dewi Rodri. —

    8. Tenggara: Mahesora/Maheswara
    — Dewa Maheswara merupakan penguasa arah tenggara (Gneyan), bersenjata Dupa, wahananya Macan, shakti: Dewi Laksmi. —

    9. Barat Daya: Rudra.
    — Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, berkendaraan Kerbau, shakti: Dewi Samodhi (Santani). —

    Dewa-dewa pendamping lainnya terletak pada lingkaran luar matahari dan dilambangkan sebagai delapan jurai sinar matahari:

    • Timur: Indra dewa cuaca yang menguasai petir, hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa. Dia adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.

    • Barat: Baruna manifestasi Brahman yang bergelar sebagai dewa air, penguasa lautan dan samudra.

    • Utara: Kuwera dewa pemimpin golongan Yaksa, yang bergelar “bendahara para Dewa” sehingga ia disebut juga Dewa Kekayaan.

    • Selatan: Yama dewa pencabut nyawa dan penjaga neraka, manifestasi Brahman yang mengadili roh orang mati, untuk mempertimbangkan apakah suatu roh layak mendapat surga atau sebaliknya, mendapat neraka.

    • Timur Laut: Isyana manifestasi Syiwa.

    • Barat Laut: Bayu sebagai penguasa angin yang merupakan salah satu unsur dari Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar .

    Ragha Sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur Panca Maha Bhuta, yaitu: Prthiwi, Apah, Teja, Bayu dan Akasa.

    Prthiwi adalah unsur tanah, yakni bagian-bagian badan yang padat,

    Apah adalah zat cair, yakni bagian-bagian badan yang cair; seperti darah, kelenjar. Teja adalah api yakni panas badan (suhu).

    Bayu adalah angin, yaitu nafas;

    Akasa adalah ether, yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut, kuku.

    • Tenggara: Agni dewa api, dan pemimpin upacara para dewata.

    • Barat Daya: Nrti atau Surya dewa matahari yang mengatur atau menguasai surya atau matahari yang menjadi tumpuan mahluk hidup.

    Lambang ini digambar dalam berbagai variasi bentuk, seperti lingkaran dewa-dewa dan sinar matahari, atau bentuk sederhana matahari bersudut delapan, seperti lambang Surya Majapahit yang ditemukan di langit-langit Candi Penataran.

    Dewa-dewa ini diatur dalam bentuk seperti mandala. Variasi lain dari Surya Majapahit berupa matahari bersudut delapan dengan gambar dewa Surya di tengah lingkaran tengah mengendarai kuda atau kereta perang.

    Ukiran Surya Majapahit biasanya dapat ditemukan di tengah langit-langit garbhagriha (ruangan tersuci) dari beberapa candi seperti Candi Bangkal, Candi Sawentar, dan Candi Jawi.

    Ukiran Surya Majapahit juga kerap ditemukan pada ‘stella’, ukiran ‘halo’ atau ‘aura’, pada bagian belakang kepala arca yang dibuat pada masa Majapahit. Ukiran ini juga ditemukan di batu nisan yang berasal dari masa Majapahit, seperti di Trowulan.

    Adapun Singasari selama masa pemerintahan Prabu Kertanagara, meskipun kondisi masyarakatnya lebih kepada penganut Buddha, meskipun tidak banyak, terbukti dengan dikirimkannya arca Amogaphasa oleh Prabu Kertanegara kepada raja Darmasraya, tetapi Sang Prabu memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha.

    Ajaran ini disebut Ajaran Syiwa-Buddha; merupakan sinkretisme agama Hindu dan agama Buddha. Oleh karena itu dalam Pararaton. Kertanagara sering juga disebut Bhatara Syiwa Buddha. Dan ajaran ini menjadi populer di Singosari.

    Sebagai penganut Ajaran Syiwa Buddha, disebut juga Jainisme, Sang Prabu Kertanegara adalah Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti.

    Sebagai raja gelar abhiseka Prabu Kertanegara, yakni Shri Jnyanabadreshwara , sehingga agama yang dominan pada saat itu adalah Syiwa-Buddha.

    Sebenarnya kita tidak perlu heran, bahwa sebenarnya dari leluhur Prabu Kertanegara sendiri yakni Ken Dedes, seorang putri dari pendeta Buddha Mpu Purwa penganut aliran Mahayana, tetapi Ken Dedes diduga kuat adalah penganut ajaran Syiwa-Budha yang taat.

    Menurut Nagarakretagama Pupuh 43 (2) sd (6):

    2. nahan hetu narendra bhakti ri pada sri-sakyasinghastiti
    yatnanggegwani pancasila krtasangskarabhisekakrama
    lumra nama jinabhiseka nira sang sri-jnanabajreswara
    tarkka-wyakaranadi sastra ng-anji srinatha wijnanulus.

    [Itulah sebabnya, baginda (Kertanegara) sangat teguh berbakti memuja kaki padma Sakyamuni (Buddha),
    kokoh setia menjalankan pancasila (Pancasila Buddhis), samskara dan abhisekakarma.
    Gelar Jina beliau adalah Shri Jnyanabadreshwara.
    Mumpuni dalam tattwa (filsafat agama Syiwa dan agama Buddha), tata bahasa (sanskerta dan Palli) dan sutra-sutra lainnya.]

    3. ndan ri wreddhi nireki matra rumegep sarwwakriyadhyatmika
    mukya’ng tantra subhuti rakwa tinengot kempen rasanye hati
    puja yoga samadhi pinrih ira’n amrih sthitya ning rat kabeh
    astam tang ganasastra nitya madulur ddaneniwo ring praja.

    [Sangat giat beliau mempelajari segala ilmu spiritualitas.
    Terutama Tantra Subhuti sangat diutamakannya. Ajarannya merasuk kedalam jiwa beliau.
    Beliau giat melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh Kerajaan.
    Agar terhindar dari tenung dan agar seluruh rakyat kecil sejahtera semua.]

    4. tan wwanten karengo kadi nrepati sakweh sangng atitaprabhu
    purnneng sadguna sastrawit nipuna ring tatwopadesagama
    dharmestapageh ing jinabrata mahotsaheng prayogakriya
    nahan hetu ni tus nira padaikacchatra dwaprabhu.

    [Di antara para leluhurnya tidak ada yang setara dengan beliau,
    paham akan sadgunna (Enam macam ilmu Politik yang diajarkan Weda), sempurna dalam ilmu ketata negaraan dan ahli dalam tattwa agama (Syiwa Buddha).
    Teguh menjalankan aturan Jina, dan senantiasa berlaku utama.
    Itulah sebabnya sampai seluruh keturunannya diberkati sebagai pemimpin utama.]

    5. ring sakabdhijanaryyama nrepati mantuk ring jinendralaya
    sangke wruh nira ring kriyantara lawan sarwwopadesadika
    sang mokten Syiwabuddhaloka kalahan sri-natha ning sarat
    ringke sthana niran dhinarmma Syiwabuddharcca halepnyottama

    [Pada tahun Çaka abdhijanarryama (1214 Ç atau 1292 M), baginda berpulang ke Jinalaya (Alam Jina),
    disebabkan beliau telah sempurna dalam kriyantara (Upacara agama Syiwa Buddha) dan sawrwopadesyadika (ajaran agama),
    seluruh rakyat memberikan gelar kepada beliau Bathara Syiwa Buddha.
    Di Candi beliau ditegakkan arca Syiwa Buddha, sangat-sangat indah menawan.]

    6. lawan ring sagala pratista jinawimbatyanta ring sobhita
    tekwann arddhanareswari mwang ika sang sri-bajradewwy apupul
    sang rowang nira wrddhi ring bhuwana tunggal ring kriya mwang brata
    hyang wairocana locana lwir iran-ekarcca prakaseng praja.

    [Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan rupawan.
    Serta Arca Ardhanareshwari (Syiwa dan Durga menjadi satu) disatukan dalam Arca Bajradewi,
    teman hidup beliau dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan negara (Bajradewi istri Kartanegara).
    Arca tersebut juga lambang dari Wairochana dan Lochana dalam satu kesatuan tunggal, sangat masyhur dan indah.]

    Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, tidak lain karena prabu Kertanagara memang mempunyai pengetahuan yang sangat mendalam tentang ajaran agama Syiwa dan Buddha dan memiliki pengetahuan tentang ajaran agama. Itu sebabnya Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang bebas dari segala dosa.

    Gelar keagamaan Kertanagara dalam Nagarakretagama adalah Sri Jnanabajreswara, sedangkan dalam prasasti Tumpang ia bergelar Sri Jnaneswarabajra. Kertanagara diwujudkan dalam sebuah patung Jina Mahakshobhya yang kini terdapat di Taman Apsari, Surabaya.

    Patung yang merupakan simbol penyatuan Syiwa-Buddha itu sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis. Oleh masyarakat patung tersebut dikenal dengan nama Djåkå Dolog.

    Simpulan:
    Kraton Singosari dan masyarakatnya semasa pemerintahan Prabu Kertanegara, diduga lebih banyak menganut Ajaran Syiwa-Buddha; yakni merupakan sinkretisme agama Hindu dan agama Buddha.

    Dongeng selanjutnya adalah tentang Kertanegara dan Raden Wijaya, keduanya yang dipentaskan Ki Dhalang Kompor masih muda usia. Keduanya diceritakan sedang berpetualang dalam pendadaran olah ilmu kanuragan, mencapai keseimbangan lahir dan batin, sebagai bekal kelak kalau sudah jadi “orang besar”

    Akan diwedar dongeng kedua tokoh ini dalam jejak sejarahnya.

    Nuwun

    punåkawan bayuaji
    *********

  45. hadu…..
    sik kuesell.. puoll….
    mboten tumut ronda nggih
    kiriman king Ki Kompor kulo bukak mbebjang enjing kemawon.

  46. Mengenai “nawasanga”, ane mengutip sebuah buku tulisan Agus Sunyoto berjudul SANG PEMBAHARU,perjuangan dan ajaran Syaikh Siti jenar dalam bab belajar kepada pendeta Bhairawa, kutipannya adalaha begini :
    Seorang raja dalam tata praja Majapahit adalah pusat seluruh kekuasaan dalam negara. Itu sebabnya, raja haruslah titisan dewata yang suci (avatar) dan mampu menjalankan tugas-tugasnya sebagai pelindung dunia, pemelihara agama, penjaga moral, pemakmur bumi, maupun penyejahtera kawula.

    Ukuran kelayakan seorang raja adalah tuntunan tentang Astabrata (delapan ajaran)

    Sri Mangana, penguasa Caruban Larang membagi wilayahnya menjadi sembilan nagari yang berilham dari pemahaman beliau mengenai konsep NAWASANGA

    NAWASANGA menjadi sebuah KONSEP ???

    Ketika Wiku Suta Lokeswara memaparkan konsep NAWASANGA(sembilan perwujudan Syiwa) dalam lingkup kekuasaan seorang raja, Abdul Jalil terkejut………dst dst

  47. “Sanggar alam”, berkata Rade Wijaya sambil memandang alam disekitarnya.

    “Mari kita berlatih Raden”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya sambil bersiap dalam kuda-kuda yang mantab.

    “Aku sudah siap menerima serangan”, berkata pula Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

    Sementara itu Sembaga duduk di sebuah batu besar menyaksikan dua orang anak muda berlatih.

    “Lihat seranganku”, berkata Mahesa Amping meluncur dengan tendangannya kearah dada Raden Wijaya. Dengan mudahnya Raden Wijaya mengelak kesamping sambil balas menyerang kaki Mahesa amping yang terbuka. Melihat serangan pertamanya lolos, bahkan dirinya balik diserang, Mahesa Amping menggunakan daya ayunan kaki kirinya yang terlanjur melayang dengan melemparkan kakinya melingkar kekanan, dengan gaya memutar langsung kaki kanannya menjulur mengancam dada Raden Wijayna. Dengan kecepatan yang luar biasa, Raden Wijaya menunduk begitu rendah sambil satu kaki kanannya menyapu melingkar. Kaget luar biasa Mahesa Amping mendapat serangan yang tiba-tiba, langsung dirinya melompat menghindari sapuan kaki Raden Wijaya.

    Demikianlah dua orang muda, Raden Wijaya dan Mahesa Amping saling berbalas menyerang. Tidak dapat langsung ditentukan siapa diantara mereka yang lebih unggul. Mahesa Amping begitu liat dan sempurna dalam segi gerakan, sementara Raden Wijaya dapat mengatur nafas dan mempunyai kecepatan gerak lebih cepat dari Mahesa Amping.

    Sembaga yang menyaksikan latihan dari kedua anak muda itu manggut-manggut langsung dapat menilai keistimewaan masing-masing anak muda itu. “Raden Wijaya sudah dapat menggunakan tenaga cadangannya, sementara Mahesa Amping masih melulu pada tenaga wadaknya”, berkata Sembaga dalam hati menilai latihan bertempur dari kedua anak muda didepannya. Sudah lama memang ada keinginan Sembaga sendiri untuk memberikan ilmunya dalam hal mengungkapkan tenaga cadangan yang ada didalam diri, tapi hatinya menjadi sungkan, melihat diri sendiri yang bukan apa-apa, bukan guru dan bukan kerabat dari Mahesa Amping. “Mahesa Murti pasti punya perhitungan, kapan saatnya”, berkata Sembaga dalam hati menghibur diri.

    Sementara itu, Mahesa Amping dan Raden Wijaya masih terus berlatih, masing-masing telah mengeluarkan apa yang mereka miliki, masing-masing mempunyai keinginan yang sama, sejauh mana tingkat tataran ilmu sahabat baru mereka.

    “Nafasku habis !!”, berkata Mahesa Amping yang meloncat beberapa langkah kebelakang. Peluh telah bercucuran di seluruh tubuhnya. Sementara Raden Wijaya terlihat masih segar bugar.

    “Gantian aku yang menjadi lawanmu”, berkata Sembaga sambil maju menghadapi Raden Wijaya.

    “Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Paman”, berkata Raden Wijaya sopan menjura.

    Dalam waktu singkat sudah terlihat mereka saling balas menyerang, melompat dan menghindari serangan. Sembaga yang berilmu tinggi dapat menyesuaikan dirinya mengimbangi setiap serangan Raden Wijaya. Bila ketika berlatih bersama Mahesa Amping, dengan cepat Raden Wijaya dapat membaca setiap serangan dari Mahesa Amping, karena mereka ada dalam satu garis perguruan yang sama. Namun menghadapi Sembaga, Raden Wijaya betul-betul harus berjuang keras menghadapi jurus yang sebelumnya belum pernah dihadapi. Satu dua kali pertahanan Raden Wijaya dapat ditembus oleh Sembaga. Namun pada serangan selanjutnya, Raden Wijaya sudah dapat melihat kesalahannya, memperbaiki lubang-lubang kelemahannya. Bukan main senangnya Raden Wijaya mendapatkan lawan tanding seorang Sembaga. Pengalaman dan pengenalan atas jurus-jurusnya semakin bertambah.

    “Cukup”, berkata Sembaga sambil melompat beberapa langkah kebelakang.”Hari sudah hampir gelab”, lanjut Sembaga sambil menunjuk kelangit.

    Hari memang sudah senja, matahari sudah turun mengintip diujaung garis cakrawala. Setelah mandi di sungai merekapun kembali ke Padepokan Bajra Seta.

    Demikianlah, Raden Wijaya berlatih setiap hari di Padepokan Bajra Seta, di sanggar tertutup atau di tempat terbuka seperti ditepian sungai bersama Mahesa Amping. Kadang Mahesa Murti sendiri langsung membimbingnya, meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis.

    Sebagaimana Sembaga, Mahesa Murti juga melihat keunggulan Raden Wijaya dari Mahesa Amping yaitu dalam mengungkapkan tenaga cadangannya. Sebagai seorang guru yang bijaksana, sebelum Mahesa Amping mengetahui kekurangannya, ada keinginannya untuk memberikan hal yang sama sebagaimana Raden Wijaya yaitu sebuah laku rahasia.

    Hari itu, matahari masih mengintip di batas fajar. Seperti biasa Raden Wijaya dan Mahesa Amping sudah bangun langsung naik ke Pendapa menemui Mahesa Murti. Seperti biasa mereka menikmati bersama hidangan dan minuman hangat yang di sediakan langsung oleh Padmita.

    “Mahesa Amping”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping. “Hari ini aku akan mengajakmu ke goa Ranggan”.

    Mahesa Amping sedikitnya sudah mengetahui dimana letak Goa Ranggan. Dari beberapa cantrik dan penduduk disekitar Mahesa Amping banyak diceritakan beberapa hal mengenai Goa Ranggan. Sebuah goa yang berada tidak jauh dari Padepokan Bajra Seta, tepatnya di gunung karang. Konon menurut cerita yang di dapat, disana puluhan tahun yang lampau adalah tempat bertapanya seorang pertapa sakti.

    “Raden wijaya boleh diajak turut ?”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti, sepertinya sebuah permintaan.

    Mahesa Murti memandang Mahesa Amping dan Raden Wiajaya silih berganti. Merasa haru melihat keakraban mereka yang sudah begitu dekat.

    “Kita berangkat bersama”, berkata Mahesa Murti yang disambut gembira oleh Mahesa Amping. Dan tentunya Raden Wijaya sendiri juga ikut bergembira, tidak lagi kehilangan beberapa hari dengan Mahesa Amping, sahabatnya satu-satunya yang seusia dengannya di Padepokan Bajra Seta.

    “Katakan kepada Paman Wantilan untuk mengatur segalanya selama aku tidak ada disini”, berkata Mahesa Murti memberikan beberapa pesan kepada istrinya Padmita.

    “Apa yang akan aku katakan bila Paman Wantilan dan siapapun bertanya tentang kepergian Kangmas bertiga ?”, bertanya Padmita kepada Mahesa Murti.

    “Katakan bahwa kami pergi berburu”, berkata Mahesa Murti kepada Padmita yang sebelumnya sudah diceritakan oleh Mahesa Murti tentang keinginannya meningkatkan ilmu Mahesa Amping.

    • sugeng enjang kadang sedoyo

      • sugeng enjing agak siang

        kamsiaaa……. (tadi pagi lupa belum kamsia)

        • sugeng siang agak sore2 dikit

          kamsiaaa……. (tadi pagi lupa belum kamsia)

          • sugeng radi ndalu,

            kamsiaaa…(tadi pagi sebelum siang sebelumnnya sore juga lupa belum kamsia)

  48. Wilujêng siyang

  49. sugeng siang, kamsiaaaaaaa

  50. SELAMAT SORE, KAMSIAAAAA…..


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: