SFBdBS-02

Bagian 1.

SFBdBS-01-035

“Bawalah kayu aji besi keling ini, tunjukkan padanya”, berkata Empu Dangka tanpa menjelaskan kenapa dirinya harus menunjukkan kayu aji besi keling itu kepada Kebo Arema.

Malam sudah semakin larut. Suara binatang malam mendenging mengisi kesunyian. Kadang masih terdengar suara burung celepuk dari tempat yang begitu dan semakin menjauh. Sementara itu cahaya oncor dari minyak biji jarak sudah semakin redup. Empu Dangka dan Kertanegara telah tertidur didalam lelapnya.

Dan pagi pun telah menjelang. Diawali dengan munculnya bintang kejora di langit timur. Hari masih begitu gelap dan dingin, Empu Dangka dan Kertanegara sudah terbangun.

“Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ketika melepas kepergian Kertanegara.

Sampai jauh mata Empu Dangka mengiringi sosok Kertanegara yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan sungai.

Sebagaimana yang disarankan oleh Empu Dangka, dengan sebuah jukung perahu kecil Kertanegara menyusuri sungai Porong. Tidak ada hambatan yang berarti sepanjang perjalanannya. Hanya dalam kesendiriannya, Kertanegara merasa dirinya baru terlahir. Dirabanya sebuah canbuk yang melingkar di pinggangnya. “Dengan cambuk ini aku akan berdharma, melecut Singasari sampai di tempat tertinggi”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri dengan mata menatap kedepan penuh harapan dan semangat.

Tidak terasa, jukung yang dikayuh Kertanegara telah mengantarnya hingga sampai di tepi muara.

Ditambatkannya jukung itu di sebuah dermaga. Kertanegara melihat sebuah perkampungan nelayan, kesanalah langkah kakinya menuju.

Senja telah turun dalam warna buram di atas perkampungan kecil itu. Wajah bulat matahari kuning sudah terpotong di ujung barat cakrawala, seperti lukisan alam yang sempurna, begitu sejuk jiwa yang memandangnya.

Ketika itu masih dalam musim angin barat, gelombang laut masih tinggi. Pada saat seperti itu banyak nelayan tidak berani melaut. Seorang lelaki tengah memperbaiki jalanya yang robek. Sementara dua anak kecil laki-laki bugil bertelanjang masih bermain di depan pondoknya yang sederhana.

“Maaf mengganggu, dapatkah menunjukkan kepadaku dimana tempat tinggal seorang bernama Kebo Arema?”, Kertanegara bertanya kepada lelaki itu.

“Mari kuantar kisanak ke tempat Paman Kebo Arema”, berkata lelaki itu sambil berdiri.

Kertanegara dan lelaki itu berjalan bersama ke tempat tinggal kebo Arema.

Seorang lelaki yang telah berumur setengah baya nampak tengah duduk di bale-bale sebuah pondok beratap jurai alang-alang. Pakaian yang dikenakannya sebagaimana kebanyakan para nelayan, begitu sederhana. Lelaki itu bertubuh sedang, nampak gagah dan berwajah tampan dengan sepasang alis tebal dan mata yang bersinar tajam, menandakan lelaki ini mempunyai kepribadian diri yang kuat.

“Paman Kebo Arema, ada yang ingin bertemu”, berkata lelaki yang mengantar Kertanegara kepada seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Kebo Arema.

Kebo Arema memandang Kertanegara dengan wajah ramah, sementara lelaki yang mengantar Kertanegara pamit meninggalkan mereka.

“Mari kita duduk di bale-bale”, berkata Kebo Arema menyilahkan Kertanegara duduk bersama di Bale-bale.

“Ada keperluan apa gerangan kisanak perlu menemui aku”, bertanya Kebo Arema kepada Kertanegara ketika mereka sudah duduk bersama di bale-bale.

“Apakah paman pernah mengenal seorang bernama Empu Dangka?”, bertanya Kertanegara mencoba meyakinkan bahwa di depannya adalah Kebo Arema sahabat dari Empu Dangka.

“Empu Dangka yang tinggal di tepian sungai Porong, mungkin yang kisanak maksudkan?”, Kebo Arema balik bertanya kepada Kertanegara.

Dari pertanyaaan itu, Kertanegara merasa yakin bahwa lelaki di depannya itu memang Kebo Arema yang dimaksud.

Maka sesuai amanat dari Empu Dangka, Kertanegara mengeluarkan kayu aji besi keling dari balik pakaiannya serta menunjukkannya di hadapan Kebo Arema.

Bukan main kagetnya Kebo Arema melihat kayu aji besi keling berada di tangan Kertanegara. Wajahnya bertambah gelap menatap Kertanegara.

“Ampunilah hamba Pangeran, hamba tidak berlaku hormat”, berkata Kebo Arema sambil bersujud dihadapan Kertanegara.

“Bangunlah Paman, bagaimana Paman mengetahui bahwa aku seorang Pangeran?”, berkata Kertanegara meminta Kebo Arema bangkit.

Dengan wajah menunduk menjura penuh hormat. Kebo Arema pun menceritakan awal pertemuannya dengan Empu Dangka.

“Empu Dangka yang sebelumnya kukenal dengan sebutan tabib seribu obat itu telah berhasil menyembuhkanku. Atas rasa terima kasihku, aku telah mempersembahkan diriku sendiri untuk mengabdi sepanjang hidupku kepadanya. Tapi beliau menolaknya dan mengatakan bahwa berbaktilah kepada seorang lelaki yang menunjukkan kepadamu kayu aji besi keling. Dialah putra sang fajar Putra Mahkota Singasari. Dampingilah dia seperti bintang kejora mengawal datangnya sang fajar”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara menceritakan tentang dirinya dan hubungannya dengan kayu aji besi keling yang ditunjukkan Kertanegara kepadanya.

“Aku jadi malu, selama bersamanya aku menutup diri tentang jati diriku yang sebenarnya. Ternyata Empu Dangka tidak mempermasalahkannya dengan pura-pura tidak tahu”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema dengan bercerita singkat tentang pertemuannya dengan Empu dangka.

“Kita sama-sama berutang nyawa dengan orang tua itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara. Menatap Kertanegara seperti kepada saudara kandungnya sendiri.

“Selamat datang di gubukku yang sederhana”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat kepada Kertanegara.

Kebo Arema dan Kertanegara begitu cepat menjadi begitu akrab, seperti dua saudara bercerita tentang beberapa hal, terutama tentang keberadaan mereka yang sama-sama pernah disembuhkan oleh Empu Dangka dan pernah lama tinggal di tepian sungai Porong, di sebuah gubuk yang begitu sederhana.

“Di kampung nelayan ini, aku cukup bahagia membantu para nelayan sebagai pawang ikan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara bercerita tentang dirinya di perkampungan kecil nelayan itu.

“Aku belum pernah mendengar tugas dari seorang pawang ikan”, bertanya Kertanegara kepada Kebo Arema.

Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Kertanegara, Kebo Arema menjadi maklum, karena sebagai orang daratan Kertanegara tidak mengetahui banyak bagaimana kehidupan seorang nelayan.
“Tugas seorang pawang ikan adalah membaca bintang, membawa nelayan ke tempat dimana ikan kakap merah berkumpul, dimana tempat ikan rengge bermain. Itulah sebagian dari keahlianku. Sementara itu para nelayan disini tidak mengetahui lebih jauh lagi tentang diriku yang sebenarnya. Mereka tidak akan mengetahui, bahwa aku dapat membawa mereka lebih jauh ke Tidore tempat begitu banyak mutiara, atau berkelana di sepanjang laut Selat Malaka. Hanya dengan membaca bintang di langit”, Berkata Kebo Arema menjawab pertanyaan Kertanegara.

“Paman telah berkelana di banyak tempat”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang banyak bercerita tentang beberapa daerah yang pernah disinggahi, mulai dari pesisir tanah jawa sampai di beberapa nagari disepanjang selat Malaka.

“Tapi akhirnya berhenti di tepian sungai Porong”, berkata Kebo Arema yang disambut gelak tawa oleh Kertanegara.

“Aku akan mengajak Paman kembali berkelana, membacakan bintang dilangit untukku”, berkata Kertanegara kepada Keo Arema.

“Kupersembahkan diriku ini untuk Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil menjura penuh hormat kepada Kertanegara. Seorang Putra Fajar yang sudah lama ditunggunya.

———-oOo———-

SFBdBS-01-036

Sang fajar kembali muncul di ujung laut biru. Berduyun duyun deburan ombak membelai pantai pasir putih. Beberapa wanita berkemben mencari lindung laut di pantai ditingkahi beberapa bocah kecil telanjang bermain berlari di atas pasir putih.

Sebagai orang daratan, Kertanegara menikmati pemandangan di depan matanya sebagai anugerah pagi dari Tuhan Yang Maha Pencipta.

“Saat ini masih musim angin barat, para nelayan tidak berani turun kelaut”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

“Gusti Yang Maha Agung telah menganugerahkan alam yang indah untuk dinikmati”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema. Sementara pandang matanya masih terpana memandang matahari yang sudah bulat penuh di ujung cakrawala laut biru.

Berjalan seorang wanita tua menghampiri mereka dengan setumpuk lindung laut.

“Terima kasih Nyi Parmi, sekalian aku titip gubukku ini, mungkin dalam waktu yang sangat lama aku dapat kembali”, berkata Kebo Arema kepada wanita tua itu yang memberikannya setumpuk lindung laut.

Kebo Arema pun telah membuat perapian, membakar lindung laut dalam bentuk tusukan sate panjang. Kertanegara pun ikut membantu membakar lindung laut itu.

“Sarapan pagi yang nikmat”, berkata Kebo Arema sambil mengangkat seekor lindung laut yang sudah masak. Aroma harumnya membuat Kertanegara langsung mengikutinya, mengambil dua ekor lindung bakar yang sangat menggoda.

Sementara itu wajah bulat matahari sudah mulai naik. Suara ombak sudah sedikit mereda.

“Saatnya kita berangkat”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Dan sebuah perahu telah meluncur meninggalkan tepian pantai pasir putih dalam tatapan cahaya lembut matahari pagi.

“Di musim angin barat ini kita tidak bisa langsung menembus madhura dari sisi timur. Kita mendarat dari sisi barat Madhura”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Perahu masih terus melaju membelah ombak laut. Dikayuh oleh dua orang sakti yang bertenaga seperti dua puluh ekor banteng yang disatukan, peruhu itu seperti terbang di atas air laut.

“Itulah pulau Madhura”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.
Sebuah tanah daratan hitam di sebelah kanan mereka memang sudah terlihat. Pulau Madhura seperti raksasa hitam yang membujur tengah tertidur.

“Kita sudah setengah perjalanan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara, memintanya untuk mengayuh perahu ke pantai.

Perahu telah ditarik jauh di atas daratan pantai putih. Matahari sudah hampir di atas puncak cakrawala. Panas cahaya matahari terpantul pasir putih seperti menyengat.

“Ada air tawar yang selalu menetes dibawah goa karang itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil menunjuk sebuah goa karang.

Didepan mereka memang berdiri bukit karang yang tinggi menjulang. Dibawah gunung karang itu ada sebuah lekukan yang dalam, mungkin terkikis oleh pukulan ombak yang terus menerus dan membentuknya seperti goa bermulut panjang. Dari sebuah lubang langit-langit goa itu menetes air.

“Air tawar”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang hanya tersenyum melihat Kertanegara yang mengumpulkan tetesan air di goa itu dengan dua telapak tangannya.

“Pangeran beristirahatlah, aku ada urusan dengan seekor kura-kura”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

“Urusan apa dengan kura-kura?”, bertanya Kertanegara tidak mengerti apa maksud Kebo Arema.

“Aku akan meminjam beberapa telurnya untuk urusan perut kita”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil tersenyum dan kembali ketepi pantai.

Tidak lama kemudian, Kebo Arema sudah muncul kembali dengan membawa beberapa butir telur kura-kura.

Dengan sigap Kebo Arema menimbun telur-telur itu kedalam pasir. Diatas pasir itu Kebo Arema membuat sebuah perapian.

“Urusan telur kura-kura telah dibayar tunai”, berkata kebo Arema sambil duduk memandang perapiannya yang sudah menyala besar. Asapnya membumbung keatas terbang hilang ditiup angin yang berdesir kencang.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-037

Kita tinggalkan dulu Kebo Arema dan Kertanegara yang tengah beristirahat, mari kita kembali ke Benteng Cangu.

Seperti yang telah diceritakan di muka, lima ksatria Padepokan Bajra Seta tengah diantar oleh Dadulengit menemui Mahesa Pukat di pendapa utama.

Bukan main senangnya Mahesa Pukat mendapat kunjungan dari orang-orang Bajra Seta. Tampak hadir bersama mereka Gedemantra dan Putumantra. Mereka semua adalah bagian dari para budak yang ikut ke Benteng Cangu mengabdikan dirinya sebagai prajurit Singasari.

Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Wantilan mewakili saudara-saudaranya dari Bajra Seta bercerita tentang tugasnya untuk mencari keberadaan Putra Mahkota.

“Beberapa petugas sandi telah berhasil menemui seorang penumpang kapal kayu yang berangkat bersama Pangeran Kertanegara dari Bandar Cangu. Dari penumpang itu disadap sebuah berita, bahwa Pangeran Kertanegara dalam keadaan pingsan dibawa oleh seorang yang disebut oleh para perompak bernama Nelayan bercaping kearah sungai Porong”, berkata Wantilan menjelaskan berita terakhir keberadaan Pangeran Kertanegara kepada Mahesa Pukat. “Yang sangat dikhawatirkan, saat ini ada sekelompok orang yang berencana membunuh Pangeran Kertanegara”, berkata kembali Wantilan melanjutkan.

“Kita tidak mengetahui siapa dan dimana tempat tinggal seorang yang bernama Nelayan bercaping itu”, berkata Mahesa Pukat memberikan pandangannya.

“Bagaimana bila kita menganggap Pangeran Kertanegara sudah di selamatkan olen Nelayan bercaping itu, dan saat ini tengah dalam perjalanannya ke Madhura”, berkata tiba-tiba Mahesa Amping memberikan pendapatnya yang sebenarnya adalah tangkapan sekilas panggraitanya.

Mahesa Pukat menatap tajam mahesa Amping, teringat kembali ke masa-masa silam. Mahesa Pukat merasa bahwa Mahesa Amping telah berhasil dan mengenal lebih tajam getar panggraitanya.

“Itukah yang kau tangkap dari panggraitamu?”, bertanya Mahesa Pukat langsung kepada Mahesa Amping.

Kaget Mahesa Amping mendengar pertanyaan Mahesa Pukat, sebenarnyalah apa yang dikatakannya adalah gambaran yang sekilas yang muncul secara tiba-tiba di dalam pandangan bathinnya.

“Tiba-tiba saja aku melihat gambaran seperti itu”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat.

“Secepatnya kita menemui Pangeran Kertanegara sebelum didahului sekelompok orang yang akan membunuhnya”, berkata Mahesa Semu ikut memberikan pandangannya.

“Kita harus bergerak cepat”, berkata Putumantra.

Panggraita Mahesa Amping dapat diterima oleh akal”, berkata Mahesa Pukat memberikan pendapatnya.

“Aku ada usul”, berkata Dadulengit tiba-tiba. Semua mata tertuju kepadanya.

“Usulku adalah bagaimana bila kita lanjutkan pembicaraan ini setelah menikmati hidangan yang sudah tersedia di depan kita”, berkata Dadulengit sambil tersenyum.

“Aku sependapat”, berkata Sembaga yang perutnya sudah lama berbunyi melihat hidangan yang telah tersedia.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-038

Dan malampun terus berlalu, menyelimuti benteng Cangu dalam gelap tanpa bintang di langit biru.

Akhirnya semua sepakat, diputuskan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Madhura.

“Panggraita Mahesa Amping diterima juga oleh akal sehat, bila Pangeran tidak selamat di tangan Nelayan bercaping, tunailah tugas kalian. Tapi bila ada kemungkinan bahwa Pangeran selamat dan sedang dalam perjalanan ke Madhura, langkah kalian harus cepat, mendahului siapapun yang akan berbuat tidak baik bagi keselamatan Putra Mahkota”, berkata Mahesa Pukat memberikan pendapatnya dan langsung disepakati oleh semua yang hadir.

Matahari pagi di atas Bandar Cangu sudah nampak begitu tinggi diujung timur cakrawala. Seorang pemilik kapal kayu kenalan Mahesa Pukat bersedia membawa lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Dengan kapal kayu itulah mereka berangkat ke Curabhaya.

Kapal kayu pun telah meluncur membelah sungai Brantas. Dari atas geladak di sepanjang jalan terlihat pesawahan yang luas, berbungalah mata yang memandangnya. Kedamaian menghampir petak demi petak sawah bagai permadani hijau terhampar luas. Aliran sungai brantas menjadi karunia membasahi sawah lading petani di sepanjang jalan. Tapi ketika kapal kayu melaju di tepi hutan yang sepi, hati menjadi kecut. Sepertinya puluhan mata di balik kerindangan hutan tengah mengawasi, menyergap mereka dengan tiba-tiba. Kehadiran perompak memang masih menjadi hantu yang menakutkan pagi para pedagang. Harapan mereka tentang peranan Benteng Cangu memang sangat besar. Tapi itupun untuk waktu yang agak lama.

Tapi ternyata perompak tidak muncul dari balik hutan. Tiga orang berwajah beringas berdiri diatas geladak kapal dengan golok besar telanjang.

“Yang ingin selamat, berkumpul di sebelah kiri geladak”, berkata seorang yang tinggi besar sepertinya pimpinan dari mereka.

Maka beberapa penumpang dengan wajah penuh ketakutan telah berkumpul di geladak sebelah kiri.

“Lewati mayat kami terlebih dahulu”, berkata salah seorang awak kapal di belakangnya diikuti tiga orang lainnya.

“Kami hanya perlu beberapa barang, jadi jangan menyusahkan diri”, berkata seorang pemimpin perompak menggertak.

“Kami bertanggung jawab di atas kapal ini”, berkata pimpinan awak kapal.

“Dasar kepala batu”, berkata pemimpin perompak sambil maju menerjang pemimpin awak kapal langsung golok besarnya membabat kepala pemimpin awak kapal itu.

Ternyata pemimpin awak kapal bukan sembarang menantang, dengan gesit merendahkan dirinya dan langsung menyerang dengan menyodokkan pedang panjangnya keperut pemimpin perompak itu. Bukan main geramnya pemimpin perompak itu, melihat serangannya dapat ditandingi.

Akhirnya terjadilah perang tanding yang mendebarkan diatas geladak kapal itu antara pemimpin perompak dan pemimpin awak kapal.

Sementara itu, tiga orang awak kapal tidak tinggal diam. Mereka langsung menghadang dua perompak yang tidak menyangka bahwa di kapal kayu itu akan mendapat perlawanan.

Akhirnya terjadilah perang tanding yang mendebarkan diatas geladak kapal itu antara perompak dan para awak kapal. Seorang perompak tanpak tidak gentar mendapat dua orang lawan.

Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta masih belum dapat menilai, apakah pertempuran akan berjalan seimbang. Meski begitu mereka telah mempersiapkan dirinya, akan membantu para awak kapal.

Entah dari mana munculnya, seorang pemuda perlente barwajah tampan, namun senyumnya nampak seperti iblis, dingin dan kejam. Bertolak pinggang di ujung geladag.

“Ternyata tugasku hari ini menjadi begitu ringan”, berkata pemuda perlente itu sepertinya kata-katanya ditujukan kepada pemimpin perompak.

“Sepasang iblis dari gelang-gelang !!”, berkata pemimpin perompak sambil melompat mundur beberapa langkah dari hadapan lawannya. Ternyata pemimpin perompak itu telah mengenal pemuda perlente itu.

“Hantu Wungu, Apakah bayaranmu untuk membunuh Putra Mahkota masih belum banyak ?”, berkata seorang pemuda yang sangat mirip dengan pemuda perlente sambil duduk di pagar geladak. Yang membedakan kedua pemuda itu adalah pemuda yang terlihat belakangan mempunyai cacat luka bakar di pundaknya.

“Dari mana kalian mengetahui tugas rahasia kami ?”, berkata pemimpin perompak yang dipanggil Hantu Wungu terkejut bahwa sepasang iblis dari Gelang-Gelang itu mengetahui tugas rahasianya.

Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta begitu terkejut mendengar pembicaraan itu.

“Tidak ada rahasia untuk kami berdua, karena kami juga punya tugas yang sama, hanya mungkin bayaran kami lebih besar”, berkata pemuda yang punya cacat luka bakar di pundaknya.

“Kalian terlalu menghina, juga tidak bisa menjaga rahasia. Ucapanmu telah didengar oleh semua yang hadir di sini”, berkata Hantu Wungu kepada kedua pemuda yang dipanggil sebagai sepasang iblis dari Gelang-Gelang.

“Kami akan membinasakan semua yang ada di sini tanpa sisa”, berkata pemuda perlente dengan suara yang dingin.”Termasuk kalian, yang telah berani ikut berburu hadiah membunuh Putra Mahkota. Kami tidak ingin berbagi kepada siapapun”, berkata pemuda itu melanjutkan kata-katanya.

Sementara itu, beberapa penumpang yang telah berkumpul di sebelah kiri geladak, mendengar bahwa mereka akan dibinasakan menjadi bertambah ketakutan. Bahkan beberapa orang sudah nampak lemas gemeter keluar keringat dingin.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-038

“Siapapun kalian, enyahlah dari kapal kami”, berkata pemimpin awak kapal yang terbakar amarahnya mendengar pembicaraan mereka. Dengan geram langsung menyerang pemimpin perompak yang dipanggil Hantu Wungu itu.

Sementara itu, tiga orang awak kapal dan dua orang perompak masih terus bertempur.

Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta sudah dapat menilai, siapa yang lebih unggul dari pertempuran itu. Hantu Wungu dan dua orang anak buahnya ternyata sudah tidak bermain-main lagi, telah menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Terlihat pemimpin awak kapal seperti tidak berdaya mengelak serangan dari Hantu Wungu yang semakin cepat. Hampir saja sebuah sabetan golok panjang Hantu Wungu mengenai pinggangnya kalau saja pemimpin awak kapal itu tidak menjatuhkan dirinya berguling di geladak.

Sementara itu, tiga orang awak kapal nasibnya hampir sama, mereka sudah menjadi bulan-bulan dua orang perompak anak buah Hantu Wungu.

Wantilan telah memberi tanda kepada saudara-saudaranya, mereka telah siap turun bertempur sebelum para awak kapal menjadi korban.

“Biarlah aku menghadapi orang ini”, berkata Sembaga kepada pemimpin awak kapal yang baru bangkit berdiri setelah berguling jatuh di lantai geladak.

“Ini adalah tanggung jawabku”, berkata pemimpim awak kapal kayu itu kepada Sembaga.

“Hantu Dungu ini bukan tandinganmu, aku tidak ingin ada korban di kapal ini”, berkata Sembaga berusaha memberi keyakinan kepada pemimpin awak kapal kayu itu.

“Berhati-hatilah”, berkata pemimpin awak kapal itu yang memang merasa bukan tandingan Hantu Wungu, hanya karena rasa tanggung jawabnya saja maka ia masih terus bertahan. Meski di dalam hatinya masih menyangsikan apakah Sembaga dapat menandingi Hantu Wungu. Dalam keraguan pemimpin awak kapal itu pun mundur beberapa langkah.

“Di tempat asalku tidak ada yang berani menghinaku”, berkata Hantu Wungu menunjuk dengan golok besarnya kepada Sembaga, rupanya Hantu Wungu mendengar dengan jelas ketika Sembaga menyebutnya dengan Hantu Dungu.

“Ternyata hantu mudah tersinggung”, berkata Sembaga kepada Hantu Wungu sambil tersenyum. Tidak sedikit pun menampakkan kegentarannya.

Sikap Sembaga membuat Hantu Wungu naik pitam. Tanpa aba-aba lagi sudah langsung menyerang Sembaga.

Ketika menyaksikan pertempuran antara Hantu Wungu dan Pemimpin awak kapal, Sembaga sudah dapat menilai sejauh mana tataran ilmu Hantu Wungu, Maka tanpa melepaskan senjatanya Sembaga melayani serangan hantu Wungu. Sembaga sepertinya tidak ingin membunuh Hantu Wungu, juga tidak ingin secepatnya menyelesaikan pertempurannya. Terlihat Sembaga lebih banyak mengelak, sengaja menguras tenaga Hantu Wungu yang semakin panas melihat serangannya selalu menjadi luput dari sasaran.

Sementara itu Wantilan dan Mahesa Semu juga telah ikut ambil bagian. Wantilan menghampiri dua orang awak kapal yang sudah hampir kehabisan tenaga menghadapi seorang perompak yang terlihat mempunyai kematangan bertempur jauh lebih baik.

“Beristirahatlah, cecunguk ini urusanku”, berkata Wantilan meminta dua orang awak kapal menyingkir.

Melihat ada yang datang membantu, kedua awak kapal yang sudah hampir terkalahkan itu seperti menarik nafas lega. Meski masih merasa sangsi apakah Wantilan dapat melayani lawannya itu.

“Hebat, ternyata ada orang pemberani di kapal ini”, berkata perompak itu memandang tajam Wantilan.

“Aku punya penyakit turunan, badanku gatal-gatal bila lama tidak berkelahi”, berkata Wantilan sambil menggaruk beberapa bagian tubuhnya.

“Apakah sekarang kamu sudah sedemikian gatal?”, bertanya perompak itu masih dengan sorot mata yang tajam menakutkan.

“Gatal sekali untuk menusuk kedua matamu”, berkata Wantilan perlahan kepada perompak itu.

“Kurang ajar, kurobek mulut lancangmu !!”, berkata perompak itu merasa diremehkan oleh Wantilan langsung menyerang dengan golok besarnya.

Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Wantilan dan perompak itu. Wantilan tidak ingin bermain lama dengan perompak itu, dengan pedang panjangnya Wantilan memburu perompak itu yang terkaget bahwa lawannya bukan orang lemah.

Sementara itu, dis isi lainnya. Mahesa Semu sudah menggantikan awak kapal yang juga hampir terbunuh. Ketika sebuah serangan ke arah leher awak kapal itu yang tidak mungkin dapat dihindari. Dengan kecepatan yang luar biasa pedang Mahesa Semu telah menagkis laju golok besar perompak. Dan benturan dua senjatapun terjadi. Bukan main kagetnya perompak itu. Hampir saja senjatanya terlepas. Tangannya terasa panas menahan benturan itu. Namun nyalinya kembali berkembang ketika mengetahui orang yang menahan dan membenturkan senjatanya hanyalah seorang pemuda.

“Anak muda, apakah kamu tidak takut mati?”, berkata perompak itu kepada Mahesa Semu.

“Justru aku yang harus berkata, apakah kamu tidak takut kehilangan senjatamu?”, berkata Mahesa Semu sambil tersenyum.

Perompak itu menjadi panas melihat Mahesa Semu begitu tenang, meski dalam benturan pertama telah merasakan benturan tenaga yang malampaui tenaganya. Tapi perompak itu masih belum merasa suatu kekalahan. Perompak itu masih berpikir dan berharap dapat mengalahkan pemuda di hadapannya dengan kecerdikan dan pengalaman tempurnya.

Tetapi, harapan perompak itu ternyata cuma sampai sebuah harapan. Setelah sekian jurus ia belum mampu juga mengalahkan Mahesa Semu, bahkan sepertinya justru dirinya yang hampir tidak berdaya menerima serangan-serangan Mahesa Semu. Semakin lama sudah dapat dibaca bahwa perompak itu tinggal menunggu waktu. Dan waktu itu pun terjadi, sebuah benturan senjata kembali terjadi. Perompak itu sudah tidak lagi dapat mempertahankan golok besarnya. Telapak tangannya dirasakan begitu panas, dan golok besarnya pun telah terlepas terpental jauh.

Sepasang iblis dari gelang-gelang yang biasanya selalu meremehkan lawan-lawannya menjadi sangat kaget menyaksikan orang-orang yang baru datang menggantikan para awak kapal dan ternyata mempunyai tataran ilmu diatas kelompok Hantu Wungu.

“Menyerahlah”, berkata Mahesa Semu yang dengan gerakan begitu cepat telah mengancam pedangnya di ujung leher seorang perompak lawannya.

Sementara itu, Wantilan juga telah menyelesaikan perkelahiannya. Sebuah tendangan yang cukup keras telah menghantam dada perompak hingga terlempar menghantam pagar geladak langsung pingsan.

Sepasang iblis dari Gelang-gelang semakin tegang. Dua anak buah Hantu Wungu dengan mudah dijatuhkan oleh orang-orang yang belum dikenalnya.

Sementra itu Sembaga masih melayani Hantu Wungu, memancing Hantu Wungu lebih buas lagi menyerangnya. Dengan sekuat tenaga Hantu Wungu terus menyerang Sembaga tanpa mengetahui bahwa dirinya sengaja dipancing untuk menguras tenaganya. Hingga akhirnya Sembaga mulai terlihat tidak telaten lagi. Tiga buah pukulan beruntun begitu cepat menghantam Hantu Wungu. Pukulan pertama sebuah tinju menghantam perutnya. Ketika tubuh Hantu Wungu agak merendah menahan sakit di perutnya yang dirasakan seperti terhantang benda berat yang begitu keras, pukulan kedua kembali dirasakan pada samping tulang lehernya. Dan terakhir, sebuah tamparan menghantam persis pada tulang rahangnya. Seperti handuk basah, Hantu Wungu ambruk lemas tak bertenaga. Pandangan matanya seperti menjadi begitu gelap. Dan Hantu Wungu telah tergeletak pingsan tak bergerak lagi.

Sepasang iblis dari Gelang-Gelang terperanjat melihat tiga pukulan Sembaga yang begitu cepat beruntun menghantam tubuh Hantu Wungu yang sangat disegani di daerah Wungu sehingga bergelar Hantu Wungu. Sepasang Iblis dari Gelang-Gelang adalah orang-orang yang bukan saja kejam, tapi licik dan cerdik. Mereka dapat berhitung dengan cepat, pasti ada beberapa orang lagi seperti Sembaga, bahkan lebih lihai lagi. Maka mereka pun telah sepakat. Terjun ke sungai melarikan diri.

“Jangan kau kejar !!”, berkata Sembaga mencegah Mahesa Amping yang akan ikut terjun kesungai mengejar Sepasang Iblis dari Gelang-Gelang.

“Kita tidak mengetahui keadaan di seberang hutan sana. Atau jangan-jangan itu sebuah pancingan”, berkata Sembaga kepada Mahesa Amping menyampaikan pendapatnya.

“Terima kasih Paman”, berkata Mahesa Amping mengerti dan menerima kekhawatiran Sembaga yang mengingatkannya.

Dalam waktu singkat, Hantu Wungu dan dua orang anak buahnya telah terikat.Mereka diamankan di tengah tiang layar kapal kayu dalam pengawasan yang ketat dari para awak kapal.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-039

Sementara itu, jauh dari Sungai Brantas. Di pantai Karang Anyer, Kebo Arema dan Kertanegara telah merasa cukup beristirahat. Mereka telah bersiap-siap melanjutkan perjalanannya.

Sebuah perahu terlihat begitu kecil di tengah laut yang luas. Diapit dua daratan yang semakin menyempit terus membelah ombak.

“Kita berpacu dengan senja”, berkata Kebo Arema memberi tanda mempercepat dayung mereka.

Di kejauhan sudah terlihat ujung-ujung tiang layar kapal kayu bersandar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Puluhan kapal kayu besar tengah bersandar. Sebuah kapal kayu besar bertiang layar rangkap tengah merenggang dari dermaga.

“Kita telah sampai di Ujung Galuh”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Matahari mengintip separuh wajahnya di ujung sebelah barat. Pulau Madhura terlihat panjang hitam memanjang dalam kesunyiannya. Hati Kertanegara seperti tergetar meletup-letup seakan telah terbang jauh mendarat di pulau hitam itu. Melihat sang kekasih Menik Kaswari dalam tatap sendu rindu.

“Kita bermalam di sini”, berkata Kebo Arema membuyarkan lamunan Kertanegara. “Aku punya keluarga dekat di sini”, berkata lagi Kebo Arema kepada Kertanegara.

Perahu mereka bersandar di dermaga sebuah perkampungan nelayan. Sebuah perkampungan yang unik. Rumah mereka ada di atas air, berupa tongkang kayu beratap diikat pada tonggak-tonggak kayu yang menancap di dasar laut dangkal. Perkampungan terapung, begitulah orang-orang menyebutnya.

“Perkenalkan, inilah saudara sepupuku bernama Bhaya”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara memperkenalkannya kepada Bhaya saudara sepupunya.

Seorang pemuda yang seusia dengan Kertanegara. Wajahnya cukup gagah mirip dengan Kebo Arema, hanya lebih muda, itulah yang membedakannya.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing. Kebo Arema bercerita bahwa rencananya mereka akan menyeberang ke Pulau Madhura mengantar Kertanegara untuk menemui seseorang di sana.

“Di Kademangan Mlajah aku pernah mendengar telah berdiri sebuah barak besar prajurit. Disitulah tempat satu-satunya para prajurit tinggal di Pulau Madhura”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema dan Kertanegara.

“Apakah kamu tidak keberatan mengantar kami kesana?”, berkata Kebo Arema kepada Bhaya.

“Dengan senang hati, Paman”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema.

Dan malam pun telah menyelimuti perkampungan terapung itu. Wajah bulat bulan purnama tergantung di langit kelam. Suara ombak dan angin sepertinya nyanyian malam yang abadi. Kadang tongkang kayu bergetar ditampar gulungan ombak yang tinggi. Orang bilang saat itu Dewi Bulan dan Dewa Laut tengah kasmaran. Tapi tangan Dewa Laut tidak pernah mampu menggapai wajah Sang Dewi Rembulan.

Dan pagi pun telah datang pula. Dewi Bulan telah kembali keperaduannya. Meninggalkan Dewa Laut yang lelah tetidur.

Sebuah Jukung bercadik, berlayar tunggal merenggang dari perkampungan terapung.

“Ke Kademangan Mlajah lewat jalur laut lebih cepat”, berkata Bhaya kepada Kertanegara sambil mengayuh jukungnya yang lebih besar dibandingkan jukung milik Kebo Arema.

Diam-diam Kertanegara memuji Bhaya yang sepertinya begitu mengenal kehidupan laut.

“Jukung ini seperti rumah keduaku, kadang berhari-hari aku terapung di tengah lautan”, berkata Bhaya kepada Kertanegara.

Arah jukung sedikit melengkung melampau paruh burung ujung Madhura.

“Kita telah sampai di pesisir pulau Madhura”, berkata Bhaya kepada Kertanegara ketika jukung mereka telah mendekati pesisir pulau Madhura.

Jukung pun terus melaju menyusuri pesisir pantai Madhura. Layar pun telah dikembangkan. Siang itu angin bertiup keras keutara.

“Sebentar lagi kita akan melewati pantai tanduk pulau sapi”, berkata Bhaya kepada Kertanegara mengatakan pulau Madhura sebagai pulau sapi.

“Kita beristirahat di tanduk sapi”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil menunjuk ke sebuah arah yang merupakan celah sempit antara nusajawa dan Pulau madhura.

Seperti yang dikatakan Kebo Arema, mereka merapat beristirahat di pantai Tanduk. Diperjalanan Bhaya masih sempat menumbak beberapa sotong. Sejenis cumi-cumi namun tubuhnya lebih tambur lagi, sangat banyak di jumpai di sekitar pesisir pantai Pulau Madhura.

“Sotong bakar yang nikmat”, berkata Kertanegara sambil menikmati tiga buah sotong dalam satu tusukan kayu panjang.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-040

Ketika matahari bergeser surut dari puncaknya, Kertanegara, Kebo Arema dan Bhaya terlihat tengah mendorong jukungnya menjauhi pantai. Jukung pun kini telah bergerak kembali menyusuri pesisir Pulau Madhura. Ketika menemui beberapa perahu nelayan yang tengah menurunkan sauhnya di tengah laut, mereka pun saling menyapa atau sekedar melambaikan tangan. Begitulah pekerti kehidupan di tengah laut, mereka saling menyapa dan siap membantu bila diperlukan.

Jarak perjalanan mereka memang sudah begitu dekat. Matahari telah semakin surut ke barat manakala mereka telah menambatkan jukung pada sebatang pohon kelapa. Angin laut sepoi berdesir mengeringkan peluh dan rasa lelah.

“Tidak jauh dari sini ada sebuah pasar”, berkata Bhaya kepada Kertanegara dan Kebo Arema.

Tidak jauh dari pantai tempat mereka menambatkan jukungnya, ada sebuah pasar. Untungnya hari itu adalah hari pasaran. Masih ada sebuah kedai yang masih buka. Mereka mampir sebentar membeli beberapa jajanan dan minuman hangat yang menyegarkan. Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanannya.

Matahari sudah semakin surut ketika mereka telah sampai di Kedemangan Mlajah. Hamparan sawah sepertinya menyambut kedatangan mereka. Kedemangan Mlajah adalah daerah yang ramai, yang merupakan jalur perdagangan antara Madhura dan Nusajawa. Disitulah barak prajurit didirikan di samping untuk menjaga keamanan, juga sebagai perwakilan kerajaan Singasari menempatkan seorang Rakyan mengurus thanibala khusus dari pulau Madhura.

Kepada seorang petani yang tengah membuat tali temali pengusir burung mereka bertanya, dimana letak barak prajurit.
Petani itu pun menunjuk ke sebuah arah.

“Kisanak menyusuri jalan desa ini, ambillah jalan ke kanan ketika menemui pertigaan jalan”, berkata petani itu menunjukkan dimana letak barak prajurit.

Akhirnya, mereka pun telah sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah barak yang besar yang dikelilingi pagar kayu bulat setinggi kepala.

Kepada seorang prajurit penjaga, Kebo Arema menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan seorang perwira tinggi bernama Bangkalan.

“Ki Rangga Bangkalan tidak tinggal di barak, beliau tinggal bersama keluarganya”, berkata prajurit penjaga itu.

“Dapatkah kami ditunjukkan dimana rumah keluarga Ki Rangga?”, berkata Kebo Arema kepada Prajurit itu.

“Ikutilah bulakan panjang di samping barak ini, rumahnya tidak jauh dari sini”, berkata prajurit itu memberi arah kemana harus mencari rumah Ki Rangga Bangkalan.

Kertanegara, Kebo Arema dan Bhaya tengah menelusuri sebuah bulakan panjang. Ketika sampai di ujung bulakang panjang, melewati sebuah rumpun bambu tali, mereka melihat sebuah rumah yang tidak begitu besar dikelilingi pagar kayu yang dibelah sederhana.

Hari sudah hampir senja manakala mereka mencoba membuka regol pintu pagar. Terlihat seorang lelaki duduk sendiri di pendapa.

“Pangeran!!”, berdiri orang itu sambil memeluk Kertanegara yang belum sempat naik ke pendapa. Orang itu yang tidak lain adalah Bangkalan menangis tersegug-segug di pundak Kertanegara.
Kertanegara berfirasat ada sesuatu yang besar yang telah terjadi.

“Katakan paman, apa yang telah terjadi?”, berkata Kertanegara kepada Bangkalan sambil mengguncang kedua pundaknya.

Bangkalan sepertinya tersadar. Dengan wajah masih dalam kesedihan mengajak Kertanegara naik ke Pendapa rumah. Sementara Kebo Arema dan Bhaya ikut juga naik dan duduk di Pendapa.

“Semula aku merasa putus harapan, menyangka Pangeran tidak akan mungkin datang kemari”, berkata Bangkalan setelah dapat menenangkan dirinya.

Akhirnya, dengan panjang lebar Bangkalan bercerita bahwa ketika dalam perjalanannya menuju Kademangan ini, mereka sekeluarga dicegat oleh segerombolan orang.

“Tiga orang prajurit terbunuh, dan aku tidak dapat berdaya ketika mereka membawa pergi Menik Kaswari dengan sebuah ancaman pedang di lehernya”, berkata Bangkalan terdiam sebentar sepertinya tengah mengenang peristiwa itu baru saja terjadi.

“Seorang yang sepertinya pemimpin gerombolan itu berkata kepadaku”, Bercerita kembali Bangkalan tapi cuma sampai disitu membuat Kertanegara tidak lagi dapat bersabar.

“Apa yang dikatakan oleh orang itu?”, bertanya Kertanegara sepertinya tidak sabar lagi.

“Anakku hanya dapat di jemput oleh Pangeran, orang itu mengatakan bahwa Pangeran harus datang sendiri ke tempat mereka”, berkata Bangkalan kepada Kertanegara.

“Dimana tempat mereka?”, bertanya Kertanegara kepada Bangkalan.

“Orang itu menyebut sebuah Padepokan di daerah Mading bernama Padepokan Alasjati”, berkata Bangkalan kepada Kertanegara.

Suasana pun sepertinya menjadi begitu hening. Masing-masing telah berada dalam pikirannya sendiri-sendiri. Seperti halnya Kertanegara yang duduk mematung. Khayalan yang selalu menyertainya dalam perjalanan dimana dalam lamunannya ketika sampai akan disambut sendiri oleh Menik Kaswari dalam suasana sendu rindu. Sepertinya telah hilang terbang entah kemana.

“Apa yang Ki Rangga perbuat selama ini?”, bertanya Kebo Arema kepada Bangkalan mencoba memecahkan keheningan suasana.

“Aku sudah mengutus dua orang prajurit, mengamati Padepokan Alasjati itu”, berkata bangkalan. “Sambil menunggu kedatangan Pangeran”, berkata Bangkalan melanjutkan.

Kembali suasana menjadi hening, masing-masing sepertinya tengah berada dalam pikirannya sendiri-sendiri. Masing-masing mencoba berpikir apa yang harus dilakukan.

“Sebagaimana yang mereka inginkan, akulah alat penukar Menik Kaswari”, berkata Kertanegara mengungkapkan pikirannya.

“Menik Kaswari adalah sebuah umpan, mereka ingin menjebak Pangeran datang ketempat mereka untuk kepentingan mereka yang belum kita ketahui”, berkata Kebo Arema memberikan tanggapannya.

“Tapi penyelesaiannya, aku harus datang ke tempat mereka”, berkata Kertanegara.

“Kita datang bersama ketempat mereka”, berkata Bhaya yang selama ini lebih banyak berdiam diri.

“Benar, kita datang bersama”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan Bhaya.

“Aku akan menyertai kalian bersama lima orang prajurit”, berkata bangkalan dengan wajah penuh semangat.

Angin berdesir menyorongkan batang-batang bambu yang terlihat dari pendapa rumah kediaman Bangkalan. Senja telah turun bersama bayang-bayang suram. Sebentar lagi akan datang wajah malam dalam kegelapan.

Sebuah lentera minyak jarak tergantung di kiri kanan pendapa rumah kediaman Bangkalan. Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya dan Bangkalan masih duduk di pendapa, meski dalam suasana penuh keprihatinan, mereka masih dapat sempat mencicipi hidangan yang disediakan dari tuan rumah.

Dari kegelapan pintu pagar halaman depan, terlihat lima sosok lelaki berjalan mendekati pendapa. Bangkalan yang pertama kali berdiri menyambut kedatangan mereka.

“Adakah yang dapat kami bantu?” berkata Bangkalan kepada lima orang yang baru datang, mengira mereka adalah penduduk sekitar yang memerlukan bantuan atau beberapa keperluan. Dan hal itu memang sering terjadi.

“Apakah ini adalah rumah Ki Rangga Bangkalan?”, terdengar salah seorang dari lima orang yang datang itu bertanya.

“Aku sendiri yang ki sanak maksudkan”, berkata Bangkalan memperkenalkan dirinya.

Belum sempat lima orang yang datang itu mengatakan sesuatu, Kertanegara telah ikut turun dari Pendapa. Terkejut melihat salah seorang dari kelima orang yang baru datang itu sebagai orang yang telah sangat dikenalnya.

“Dimas Wijaya!!”, Kertanegara berkata sambil menghampiri salah seorang yang dikenalnya.

Dan orang yang dipanggil namanya oleh Kertanegara juga memandangnya dengan mata tidak percaya.

“Kangmas !!”, berkata seorang lelaki muda remaja yang tidak lain adalah Raden Wijaya melihat Kertanegara dengan wajah gembira.

Merekapun saling berpelukan, tidak menyangka di tempat yang begitu jauh dari tanah kelahirannya dapat bertemu. Bertemu dengan saudaranya sendiri.

Keempat orang yang datang bersama Raden Wijaya tentunya tidak lain adalah para Ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Setelah menyeberang di Pulau Madhura, perjalanan mereka dilanjutkan lewat jalan darat sampai di Kedemangan Mlajah tanpa banyak kesulitan. Dan akhirnya telah berada di depan pendapa rumah kediaman Bangkalan.

Mereka akhirnya duduk bersama di pendapa. Setelah saling berkenalan dan menceritakan keselamatan masing-masing, merekapun bercerita tentang peristiwa yang mereka alami di atas kapal kayu dalam perjalanan mereka.

“Kita harus mengetahui, siapa di balik ini yang menginginkan kematian Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil juga menjelaskan rencana secepatnya menyelamatkan Menik Kaswari, putri Bangkalan yang saat ini telah disandera di Padepokan Alasjati.

Akhirnya mereka sepakat, berangkat bersama ke Mading. Sampai jauh malam mereka berunding mempersiapkan beberapa hal yang harus dilakukan agar usaha mereka dapat berhasil, yaitu menyelamatkan Menik Kaswari.

“Lewat jalur laut lebih cepat”, berkata Kebo Arema yang sepertinya talah disepakati menjadi pimpinan pasukan kecil itu.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-041

“Kita akan menyusuri Pulau Madura dari pesisir selatan”, berkata Kebo Arema menyampaikan rencana perjalanannya.

Sebagai seorang yang banyak berkelana dari pulau satu ke pulau lainnya dan sangat menguasai kehidupan laut, Kebo Arema sepertinya sangat hafal dengan beberapa tempat khususnya Pulau Madura. “Untuk mencapai hutan Mading, jalan terdekat adalah melewati tanah perdikan baru. Penguasa tanah perdikan itu bernama Ki Gede Banyak Wedi”, kembali Kebo Arema menjelaskan arah perjalanan mereka.

“Sangat kebetulan sekali, aku mengenal dekat dengan penguasa tanah perdikan itu. Seorang yang sangat disayangi oleh Ayahku. Kita dapat menjadikan tempatnya sebagai tempat persiapan memata-matai Padepokan Alasjati dari dekat”, berkata Kertanegara memotong penjelasan Kebo Arema.

“Tidak semudah itu Pangeran, kita harus hati-hati. Kita harus mengetahui kemana arah angin Penguasa Tanah Perdikan itu berpijak”, berkata Kebo Arema memberikan pandangannya. Sementara semua yang hadir di pendapa rumah kediaman Bangkalan mengakui dan membenarkan kehati-hatian dari sikap Kebo Arema.

“Benar, dalam keadaan ini kita harus hati-hati menilai siapa kawan dan siapa lawan”, berkata Wantilan ikut memberikan pandangannya.

“Begitulah maksudku, untuk menjaga keselamatan Pangeran. Bukankah sampai saat ini kita belum mengungkap siapa di belakang layar yang menginginkan kematian Pangeran?”, berkata Kebo Arema membenarkan pendapat Wantilan.

Siapakah yang dimaksud dengan Ki Gede Banyak Wedi?, kita semua telah mengenalnya sebagai orang yang sangat berjasa terutama ketika menyelamatkan Sri Maharaja dan Ratu Anggabhaya sewaktu masih kecil dalam sebuah rencana pembunuhan orang-orang terdekat Baginda Raja Tohjaya, penguasa pada waktu itu. Atas jasa yang besar itulah Banyak Wedi diberikan hadiah dan anugerah sebuah tanah perdikan. Walaupun pada mulanya Banyak Wedi berharap diberikan Tanah Perdikan di tanah kelahirannya sendiri yaitu di Benangka, sebuah daerah di bagian Barat Pulau Madura. Sebagai daerah yang sudah matang. Tapi Sri Maharaja memberikan tanah perdikan jauh dari harapannya, sebuah tanah di hutan larangan. Tapi sebagai seorang yang setia, Banyak Wedi dapat memaklumi maksud sebenarnya dari Tanah Perdikan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagai perwakilan kerajaan Singasari di belahan timur Pulau Madura.

“Arah perjalanan kita bisa berubah, tergantung kemana mata angin bertiup”, berkata kembali Kebo Arema menyampaikan beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan.

Matahari pagi telah mulai merayap naik, tiga buah jukung bercadik dan berlayar tunggal telah jauh meninggalkan Pantai Punuk. Menyusuri pesisir selatan pantai Pulau Madura.

Di tengah perjalanan mereka masih sempat singgah sebentar di sebuah pantai yang sunyi untuk beristirahat. Tapi tidak lama, mereka pun melanjutkan perjalanannya. Kebo Arema nampak memimpin rombongan berada di jukung terdepan.

Malam telah datang menyambut tiga buah jukung yang tengah merapat di tepian Kali Anget yang sepi. Kebo Arema nampak berjalan dimuka bersama Kertanegara dan Bhaya. Dibelakang mereka adalah lima ksatria dari Bajra Seta. Sementara di ujung iringan itu berjalan lima orang prajurit bersama Ki Rangga Bangkalan.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Mereka telah berada di hutan perbatasan Tanah Perdikan baru, tanah perdikan Ki Gede Banyak Wedi. Di hutan itulah mereka beristirahat.

“Besok pagi kita menyelidiki keadaan tanah perdikan ini. Mudah-mudahan dapat menjadi tempat menginap yang baik”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara yang tengah duduk bersandar di sebuah pohon besar tidak jauh darinya.

“Sungenep”, berkata Kertanegara menyebut sebuah nama tempat dalam dongeng para pendeta ketika Dewa Malam berubah menjadi seorang manusia biasa yang tidak pernah bisa tidur. Di “Sungenep” inilah pertama kali Sang Dewa bisa tidur nyenyak.

Dan akhirnya semuanya memang telah tertidur di hutan itu meski pagi sudah hampir datang menjelang. Untuk berjaga-jaga dua orang prajurit sengaja tidak ikut tidur. Hingga ketika datang pagi menjelang baru prajurit itu bergantian tertidur.

Matahari pagi sudah merambat naik mengusir embun hilang di ujung daun hijau.

Terlihat Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan telah memasuki regol gerbang desa. Di Banjar desa mereka berhenti dan menemui seorang pengawal tanah Perdikan. Kebo Arema menyampaikan niatnya untuk menemui Ki Gede Banyak Wedi.

“Katakan bahwa kami datang dari Kotaraja”, berkata Kebo Arema kepada pengawal itu.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-042

Rumah kediaman Ki Gede Banyak Wedi memang terlihat lebih mencolok dibandingkan rumah penduduk di sekitarnya. Tapi tidak seperti umumnya rumah penguasa yang selalu dikelilingi dinding batu yang tinggi. Rumah kediaman Ki Gede Banyak Wedi tidak berpagar dinding. Rumah dan banjar desa seperti menjadi kesatuan yang utuh. Letak pendapa rumah kediaman Ki Banyak Wedi ada di sisi kanan banjar desa. Dari Banjar desa dapat melihat langsung pendapa utama rumah itu.

“Ki Gede berkenan menerima kisanak semua”, berkata pengawal Tanah Perdikan yang sudah datang kembali mempersilahkan Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan naik kependapa utama.

Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan telah duduk di Pendapa. Bukan main kagetnya Ki Gede Banyak Wedi ketika melihat ada Pangeran Kertanegara bersama tamunya.

“Pangeran..!!”, berkata Ki Gede Banyak Wedi seperti tidak mempercayai pada penglihatannya.

“Rejeki melimpah apapun yang kuterima tidak akan sebanding kegembiraanku menerima Pangeran di gubukku ini”, berkata Ki Gede Banyak Wedi mengutarakan kegembiraannya.

Bukan main sibuknya suasana di dapur belakang setelah diberitahu bahwa tamu mereka adalah seorang Pangeran, seorang putra mahkota kerajaan Singasari yang besar. Antara gembira dan gugup untuk menyajikan hidangan apakah yang layak untuk seorang pangeran.

“Aku hanya ingin memperluas wawasanku menjelajah sekitar nagari”, berkata Kertanegara ketika Ki Gede banyak Wedi menanyakannya apakah ada keperluan penting hingga sampai ke tempat kediamannya. Kertanegara masih mencoba merahasiakan kepentingannya.

“Bukankah bila kita berjalan lebih ke utara dari sini, kita akan berhadapan dengan hutan Mading?”, bertanya Kebo Arema tanpa penekanan khusus dalam kata-katanya. Sepertinya pertanyaannya kepada Ki Gede Banyak Wedi cuma sebuah pertanyaan biasa, hanya sebuah kata-kata pengisi keheningan yang dipaksakan.

“Benar, arah utara dari sini adalah hutan Mading”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada Kebo Arema tanpa prasangka apapun.

“Aku pernah mendengar bahwa di hutan Mading itu ada berdiri sebuah Padepokan bernama…..Padepokan Alasjati”, berkata Wantilan kepada Ki Gede masih sebagai sebuah pancingan.

“Ya benar, sebuah Padepokan baru bernama Padepokan Alasjati”, berkata kembali Ki Gede sepertinya membenarkan apa yang dikatakan Wantilan.

“Hutan Mading adalah bagian dari hutan larangan, masuk dalam wilayah amanah sabda prasasti Sri Maharaja di samping tanah perdikan yang dihadiahkan kepada Ki Gede. Sudahkah Padepokan Alasjati itu meminta ijin kepada Ki Gede ?”, bertanya Kebo Arema kepada Ki Gede.

“Selentingan, aku mendapat kabar bahwa mereka adalah para bajak laut yang tengah bersembunyi. Sementara untuk sebuah ijin, tidak ada seorang pun yang telah datang kemari meminta ijin kepadaku”, berkata Ki Gede masih tanpa prasangka apapun.

Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan saling beradu pandang. Jawaban inilah yang ditunggu oleh mereka. KiGede Banyak Wedi jelas tidak punya kaitan apapan dengan Padepokan Alasjati.

“KiGede”, berkata Kebo Arema kepada Ki Gede dengan melepas napasnya lega dan menceritakan hal yang sebenarnya, juga meminta maaf atas sikap kehati-hatian terhadapnya.

“Kita memang selalu harus waspada, sikap kalian kuanggap sesuatu yang wajar, tidak ada yang perlu dimaafkan”, berkata Ki Gede dengan senyumnya ang tidak pernah berubah penuh keramahan.

Akhirnya, bersama Ki Gede Banyak Wedi mereka membuat kembali rencana dan siasat yang harus mereka lakukan. Ternyata kali ini dalam hal siasat, Kebo Arema bertemu dengan pakarnya.
“Kita harus mengetahui dengan jelas, bagaimana keadaan Menik Kaswari dan dimana dirinya disembunyikan”, berkata Ki Gede memberikan beberapa saran serta siasat yang harus mereka lakukan.

“Agar tugas kita tidak terbongkar sebelum waktunya, untuk sementara biarlah pasukan kecil kita tetap bermalam di hutan perbatasan”, berkata Kebo Arema yang disetujui oleh semua yang hadir.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-043

Akhirnya, sebuah permainan apik telah siap untuk dilaksanakan. Ternyata buah pikiran Ki Gede Banyak wedi benar-benar cemerlang.

“Ternyata aku berhadapan dengan mantan penasehat Sri Maharaja”, berkata Kebo Arema kepada Ki Gede Banyak Wedi mengakui kecemerlangan pikirannya mengatur persiapan sebelum dan menjelang penyerangan Padepokan Alasjati.

Dan ketika matahari tengah merayap berdiri di puncaknya, beberapa wanita keluar menyediakan begitu banyak hidangan dan minuman.

“Mudah-mudahan tidak jauh rasanya dengan juru masak istana”, berkata Ki Gede Banyak Wedi membuka ucapan mempersilahkan tamu-tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Juru masak yang baik adalah yang tahu kapan menyajikan sebuah hidangan”, berkata Kebo Arema sambil menyelesaikan sisa rujak degan muda yang masih ada dihadapannya.

“Dan tamu yang baik adalah yang tidak menyisakan setetes pun minuman yang diberikan oleh tuan rumah”, berkata Wantilan yang melihat Kebo Arema sudah menyelesaikan rujak degannya.

Setelah menyelesaikan hidangan berupa makanan dan minuman yang menyegarkan. Mereka pun kembali berbincang-bincang. Banyak dan ada saja yang dapat diperbincangkan, mulai seputar rencana utama mereka merebut kembali Menik Kaswari yang masih berada di Padepokan Alasjati, perbincangan pun meluas ke seputar keamanan perairan Sungai Brantas sebagai jalur perdagangan yang penting bagi perkembangan Singasari.

Dan waktu sepertinya berlalu tanpa terasa, ditambah dengan teduhnya suasana pendapa yang terlindung dari terik matahari karena berdiri antara banjar Desa dan pendapa utama sebuah pohon beringin besar dengan banyak anak cabangnya menjulur di segala tempat merindangi apapun yang ada dibawahnya.

“Pangeran harus menginap di rumahku, mau ditaruh dimana mukaku kepada Sri Maharaja bila membiarkan Pangeran tidur di hutan”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada Kertanegara.

“Songenep”, berkata kertanegara sambil melirik kepada Kebo Arema yang tersenyum.

“Songenep tempat Dewa Malam tertidur itukah yang Pangeran maksudkan?”, bertanya Ki Gede Banyak Wedi yang juga pernah mendengar tentang dongeng Dewa malam.

“Benar, Songenep tempat dewa malam tertidur”, berkata Kertanegara kepada Ki Banyak Wedi membenarkan.

“Sebuah nama yang baik, sebuah tempat singgah yang baik. Tanah perdikan baru ini masih belum memiliki sebuah nama”, berkata Ki Banyak Wedi sambil berulang-ulang menyebut sebuah kata: “Songenep”.

“Tanah Perdikan Songenep !!”, berkata Kertanegara menyambung ucapan Ki Gede.

“Terima kasih, Pangeran orang pertama yang menyebut nama bagi tanah perdikan ini. Aku akan membuat sebuah perayaan besar untuk lahirnya sebuah nama bagi tanah perdikan ini. Tetapi setelah urusan utama kita selesai”, berkata Ki Banyak Wedi seperti mendengar suara bayi anak pertamanya yang terlahir, penuh dengan wajah suka dan cita.

Dan waktu memang tidak pernah terlahir untuk kembali. Waktu terus berjalan melahirkan hari baru.

Pagi itu matahari belum menampakkan dirinya penuh. Ujung-ujung rumput liar masih basah. Wajah pagi masih buram dan dingin. Terlihat dua orang tengah berjalan menyusuri tanah di udara pagi yang sejuk. Arah perjalanan mereka terlihat menjauh meninggalkan Tanah Perdikan Ki Gede Banyak Wedi ke arah utara.

Setelah terlihat lebih jelas wajah kedua orang itu. Tahulah kita bahwa ternyata kedua orang yang berjalan itu adalah Wantilan dan Sembaga. Mereka tengah menuju Padepokan Alasjati.

 ———-oOo———-

 

SFBdBS-01-044

Wantilan dan Sembaga telah keluar dari Tanah Perdikan, sesuai dengan arahan dari Ki Gede Banyak Wedi, maka tidak ada kesulitan arah perjalanan mereka.

“Kita sudah ada dibawah kaki gunung kembar”, berkata Wantilan kepada Sembaga sambil menunjuk ke sebuah arah dimana di depan mereka terlihat dua buah bukit berjajar tinggi menjulang hijau.

Mereka pun terus berjalan mendekati gunung kembar sesuai petunjuk dari Ki gede Banyak Wedi. Hingga akhirnya mereka menemui sebuah tanah lapang luas penuh tumbuhan ilalang. Disana mereka menemui tiga buah lingga dan sebuah altar batu pemujaan di depannya.

Dari altar pemujaan mereka mencari pohon sungkai sebagai patok arah menuju Padepokan Alasjati. Akhirnya Wantilan dan Sembaga melihat bersama sebuah pohon sungkai berdiri menjulang tinggi sekitar 200 meter dari altar batu dimana mereka berdiri.

“Padepokan Alasjati tidak jauh lagi”, berkata Wantilan kepada Sembaga sambil berjalan mendekati pohon Sungkai sebagai patok arah kemana mereka harus menuju.

Matahari sudah hampir berada dipuncaknya, manakala Wantilan dan Sembaga telah berada di depan gerbang sebuah Padepokan. Seorang penjaga dari atas panggungan telah melihat mereka. Terlihat oranng itu turun dari panggungan dan menemui Wantilan dan Sembaga.

“Maaf, apakah aku tidak salah langkah. Inikah Padepokan Alsjati?”, bertanya Wantilan kepada penjaga itu.

“Tidak salah lagi, Kisanak sudah ada di depan pintu gerbangnya”, berkata Penjaga itu dengan mata penuh selidik.

“Sykurlah kami tidak salah langkah. Bolehkah kami masuk bertemu dengan pimpinan Padepokan ini?”, berkata Wantilan dengan ramah .

“Ada kepentingan apa kisanak datang menemui pimpinan kami?”, bertanya penjaga itu masih dengan mata penuh selidik.

“Aku pedagang kuda, mungkin pimpinanmu membutuhkan banyak kuda”, berkata Wantilan kepada penjaga itu yang langsung manggut-manggut mempercayai ucapan Wantilan yang berpenampilan saat itu layaknya seorang pedagang besar.

“Tunggulah sebentar disini, aku akan bicara pada pimpinanku, apakah beliau berkenan menerima kisanak”, berkata penjaga itu langsung meninggalkan mereka.

Wantilan dan Sembaga tidak begitu lama menunggu. Penjaga itu telah datang kembali.

“Nasib kisanak lagi bagus, pimpinan kami berkenan”, berkata penjaga itu dengan senyum penuh arti. ”Wani piro ?”, berkata penjaga itu sambil membuat sebuah isyarat dengan jari-jarinya.

“Aku tidak akan melupakanmu”, bisik Wantilan pelan kepada penjaga itu.

Wantilan dan Sembaga diantar penjaga itu menemui pimpinan mereka di Pendapa utama.

———-oOo———-

bersambung ke bagian 2 (halaman 4)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 Juni 2011 at 08:47  Comments (379)  

379 Komentar

  1. Selamat malam semuanya,
    Kangmas Gembleh
    Ki Bancak
    Ki Sedayu605 (Taon 80-an ada bus saudaranta 605 Manggarai – Banteng)
    met berlibur untuk Ki Arga,…tenang ki…begitu pulang nasi srendengnya langsung diangetin….he3X

    • Kalau Blok M – Pulogadung, Mayasari Bhakti 507 apa ya…….???

  2. mana…., mana….
    nasi srundeng nya

    he he he …
    slamat malem Ki Dalang…

  3. waduh….
    pendopo sudah penuh, halaman depan juga sudah penuh, halaman samping kiri penuh juga, sekarang mulai meluber ke halaman kanan.
    hmmmm,
    masih agak lama ki dalang nutuo pakeliran sfbdbs-02, menunggu halaman samping kana yake…

  4. Sugêng énjang.

    • Sugêng siang.

      • hadir menjelang makan SIANG……mangga,

  5. Sakmeniko sampun siang Ki Yudha …………. hehe

    • Sakmeniko sampun sore Ki Sedayu……. hehe

      • Sakmenika sampun wayah dalu Ki Menggung, Ki Sedayu.

  6. sugeng siang semuanya

    • semuanya sugeng siang

  7. Disiang hari itu pengunjung kedai terus bertambah. Disudut kedai Nampak dua orang pedagang tengah menikmati makanannya sambil berbincang-bincang sekitar keamanan nagari Singasari yang semakin aman, perampokan sudah jarang sekali terdengar baik di darat maupun di perjalanan sungai sepanjang Brantas.

    “Sejak berdirinya benteng Cangu, perjalanan sepanjang sungai Brantas ini menjadi aman. Sudah ada gardu jaga di sepanjang sungai”, berkata seorang pedagang berwajah bulat sambil meneguk minumannya

    “Mudah-mudahan Putra Mahkota dapat melanjutkan keadaan hal ini”, berkata temannya yang berkumis tebal.
    “Itulah yang kita harapkan sebagai seorang pedagang”, berkata pedagang yang berwajah bulat.

    “Tapi aku melihat sesuatu yang lain di Gelang-gelang”, berkata Pedagang yang berkumis tebal. “Sebuah persiapan besar tengah dilakukan disana”, lanjut pedagang berkumis tebal itu lagi.

    “Persiapan dalam hal apa ?”, bertanya pedagang berwajah bulat.

    “Persiapan sebuah pasukan yang besar”, berkata pedagang berkumis tebal

    “Dari mana kamu mengetahuinya”, bertanya pedagang berwajah bulat menjadi penasaran.
    “Seorang temanku mendapat pesanan lima ribu jenis senjata. Dari temanku itulah aku kebagian rejeki mendapat seribu pesanan senjata tombak”, berkata pedagang berkumis tebal .
    “Bukankah pembelian senjata suatu yang wajar ?”, bertanya pedagang bewajah bulat.
    “Bila hanya lima ribu senjata memang dapat dimengerti, mungkin untuk mengganti senjata mereka yang sudah usang. Tapi sebulan sebelumnya mereka juga telah memesan jumlah yang sama kepada temanku itu”, berkata pedagang berkulit tebal.

    Ternyata pembicaraan mereka diam-diam didengar oleh Kertanegara yang duduk tidak begitu jauh dari kedua pedagang itu. Kertanegara sepertinya berpura-pura tidak memperhatikan mereka, sepertinya tengah asyik menikmati hidangan di depannya. Berharap ada pembicaraan lain yang berguna.

    Tapi harapan Kertanegara tinggal harapan, didepan kedai telah terjadi keributan, perhatian kedua pedagang telah beralih kedepan kedai itu.

    Mahesa Semu yang sudah menyelesaikan hidangannya berjalan mendekati pintu kedai. Ternyata diluar kedai telah terjadi keributan kecil para buruh angkut barang. Syukurlah tidak berlanjut karena entah dari mana telah datang dua orang prajurit melerai mereka.

    Ternyata Mahesa Semu mengenal salah seorang prajurit itu, yang tidak lain adalah Dadulengit.
    Mahesa Semu mengajak Dadulengit dan temannya kedalam kedai. Bukan main senangnya Dadulengit bertemu kembali dengan orang-orang dari Padepokan Bajra Seta.

  8. Siang itu juga, rombongan di antar Dadulengit singgah di Benteng Cangu.

    “Selamat datang Pangeran”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut Pangeran Kertanegara bersama rombongan kecilnya.

    “Kalian telah menunaikan tugas dengan baik”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberi selamat kepada para cantrik utama Padepokan Bajra Seta.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing. Senapati Mahesa Pukat ingin mendengar langsung cerita perjalanan mereka di Pulau Madhura. Wantilan mewakili kawan-kawannya bercerita sekitar perjalanan mereka di Pulau Madhura.

    Suasana di pendapa utama benteng cangu itu menjadi seperti hening manakala Senapati Mahesa Pukat menyampaikan berita duka cita, Ayahnya Mahendra telah meninggal dunia.

    “Aku mendapat kabar sehari setelah kalian meninggalkan Bandar Cangu ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan kapan ayahnya Mahendra meninggal dunia.

    Mahesa Amping yang biasanya sangat tabah, tidak mampu menutup rasa dukanya. Terlintas bayangan wajah Mahendra yang begitu penuh senyum saat memberinya dasar kanuragan. Terlihat Mahesa Amping menunduk dalam menahan agar air matanya keluar dan mencoba menguasai gelombang perasaannya dukanya.

    “Sri Maharaja telah berkenan mencandikan jasadnya di Gunung Arjuna”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan dimana jasad Mahendra di kebumikan.

    “Seorang yang setia pada pengabdiannya”, berkata Kebo Arema ketika mengetahui siapa Mahendra lewat penjelasan Kertanegara.

    Senjapun datang meredup rasa duka yang berlarut melepas perasaan yang terhanyut, perlahan Mahesa Amping sudah dapat menguasai perasaannya, menyadari bahwa hidup dan mati adalah sebuah takdir yang sudah digariskan. Semua akan kembali kedalam keabadian Sang Hyang Maha Karsa.

    Malampun berlalu dalam sebuah perjamuan besar di Pendapa utama Benteng Cangu.
    Senapati Mahesa Pukat bersedia menyediakan prajuritnya mengawal Pangeran Kertanegara bersama calon istrinya Menik Kaswari. Akhirnya disepakati, para cantrik padepokan Bajra Seta akan langsung kembali kepadepokannya, sementara Kebo Arema dan Bhaya akan terus bersama Kertanegara tinggal di Kotaraja sesuai dengan permintaan Pangeran Kertanegara.

    “Paman Sembaga sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta, sudah rindu berat untuk segera turun kesawah”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang seperti dapat membaca hati Sembaga dan kawan-kawannya.

    Bersama datangnya pagi, bersama geliat lalu lalang di sekiatar Bandar Cangu yang ramai, sebuah rombongan telah keluar meninggalkannya. Dan di sebuah jalan yang bercabang, rombongan itu pun terpecah. Pangeran Kertanegara dan Menik Kaswari bersama Kebo Arema, Bhaya dan sekelompok prajurit mengambil arah jalan kearah Kotaraja Singasari. Sementara rombongan lainnya terlihat mengambil jalan lain, mereka adalah para cantrik utama Bajra seta bersama Lawe seorang putra tunggal Ki Gede Banyak Wedi yang telah dijinkan menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta.

    • Hwarakadhah…………kamsiaaaaaa deh.

  9. Warakadah….
    Ki Dalang sudah mbeber pakeliran

    kamsiaaa………………

  10. warakadah……………….
    kamsiiiiiiaaaaaa……………..

  11. Langit cerah memayungi lima ekor kuda berlari menembus hutan ilalang. Tiga ekor kuda Nampak selalu berjalan beriring dimuka, penunggangnya masih muda belia sementara itu dibelakang mereka tiga ekor kuda yang selalu mengikuti dan mengimbangi laju kuda mereka.

    Tiga orang penunggang kuda yang masih muda belia adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe. Sementara dibelakang mereka yang selalu mengikuti adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu. Hati mereka semua sudah terpaut untuk segera sampai di Padepokan Bajra Seta. Sepanjang hari mereka memacu kudanya, dibulakan panjang atau di hutan ilalang. Dimalam hari baru mereka beristirahat, kadang di Banjar desa sebuah Padukuhan atau di tanah terbuka dibawah pohon besar agar sedikit berlindung dari angin malam.

    Hari itu matahari senja sudah membayangi bumi ketika mereka keluar dari sebuah hutan. Jarak Padepokan Bajra Seta Cuma terhalang bukit kecil.

    Matahari sudah bersembunyi di ujung cakrawala ketika mereka sampai diatas puncak bukit kecil. Didepan mata mereka memandang hamparan hijau sawah dalam gugus petak bersusun bertingkat.

    “Rumput-rumput liar di sawah menanti kita”, berkata Wantilan sambil memacu kudanya menapaki bulakan panjang.
    Hari memang sudah hampir gelab manakala mereka telah sampai di muka gerbang Padepokan Bajra Seta. Segenap penghuni Padepokan menyambut suka cita kedatangan mereka.

    “Kami membawa putra Ki Gede Banyak Wedi, namanya Lawe”, berkata Wantilan ketika mereka sudah naik pendapa utama memperkenalkan Lawe kepada Mahesa Murti.

    “Aku merasa tersanjung dititipkan putra Paman Bahyak Wedi di Padepokan ini”, berkata Mahesa Murti menerima Lawe seperti keluarganya sendiri.

    Mulai hari itu Lawe telah menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta. Setahap-demi setahap tataran ilmu Lawe terus meningkat. Berlatih bersama Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah membuat perkembangan ilmu Lawe semakin pesat.

    Tidak ada perbedaan di Padepokan Bajra Seta, semua bahu membahu bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka sendiri, disamping olah kanuragan dan olah kajiwan yang dipimpin langsung oleh Mahesa Murti sebagai ketua tunggal Padepokan Bajra Seta.

    Sementara itu kedatangan Kertanegara di Kutaraja disambut dengan suka cita. Sri Maharaja menerima Menik Kaswari sebagai menantunya. Dan pada hari itu juga telah dilangsungkan upacara peresmian mereka dengan upacara kebesaran kerajaan.

    • he he he lupa belum kamsia
      kamsiaaaaa…………………..
      selamat jalan ki, semoga sukses dalam tugas telik sandinya.

  12. maaf,maaf,maaf
    mulai sesuk malem dapat perintah dari Arya Kuda Cemani jadi petugas sandi di Bali, mugi-mugi bisa lempar aji pameling dari sana,

    Sugeng dalu kadang sedoyo ()

    • selamat PAGI,

      selamat berTUGAS pak DALANGe MAHESA…..semoga tugaS dari AKC
      sukses, lancar dilakSAnakan pak DALANGe,

      • Tugas yang InI masuk kategori DARURAT ayake…..lha pak DALANGe
        siDAK luar jawa, he-hee-heeee 🙂

        “tetep seMANGat, tetep berKARya”

  13. Nuwun
    Sugêng siyang

    @ Ki Kompor.

    Mumpung Ki Kompor sedang di Bali, dan kalau Ki Kompor ada waktu senggang selama di Bali (tentunya sepanjang tidak mengganggu tugas utama Ki Kompor).

    Ki Kompor dapat menelusuri jejak peninggalan Arya Wiraraja (yang oleh Ki Kompor disebut Ki Gede Banyak Wedi); di daerah Buleleng.

    Orang Bali menyebut Arya Wiraraja (Banyak Wide) sebagai Ida Wang Bang Banyak Wide; ayah kandung Lawe yang bernama Bali Ida Bang Bagus Pinatih alias Ranggalawe.

    a. Arya Wiraraja yang bergelar Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja, yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, yang dicopot dari jabatannya oleh Kertanegara, karena dianggap mbalélå kepada Sang Prabu Kertanegara.

    Tidak ada niat Arya Wiraraja mbalélå, justru dia bermaksud baik, yang semata-mata untuk kepentingan rakyat dan negara Singasari, bukan untuk kepentingan pribadi Prabu Kertanegara.

    b. Peranan Arya Wiraraja membantu Raden Wijaya saat mendirikan Majapahit di dusun Trik.

    c. Ketulus-ikhlasan Sang Wiraraja menyerahkan putranya, yaitu Ida Bang Bagus Pinatih alias Ranggalawe berjuang mendampingi Raden Wijaya saat-saat memperkokoh Negara Majapahit di awal berdirinya kerajaan itu.

    d. Ranggalawelah yang menyelamatkan Raden Wijaya dalam peperangan melawan Kerajaan Kadiri (Jayakatwang), pada waktu menggempur benteng timur Kota Kadiri, dan membunuh Segara Winotan (salah satu panglima perang Jayakatwang); namun pada akhirnya Ranggalawe harus mati sebagai pengkhianat karena dianggap musuh negara. Ranggalawe mati dibunuh oleh Mahesa Arema yang diutus Raden Wijaya Prabu Kĕrtarājasā di Kali Tambak Beras.

    e. Setelah Ranggalawe gugur, Arya Wiraraja mutung (memutuskan hubungan dengan Raden Wijaya dan Majapahit), dia sakit hati dan memutuskan untuk menghadap Prabu Kĕrtarājasā untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan menagih Sang Prabu semasa perjuangan, yaitu membagi wilayah kerajaan menjadi dua.

    Janji tersebut kemudian dipenuhi oleh Prabu Kĕrtarājasā sehingga kemudian memutuskan membagi wilayah kerajaan menjadi dua: Bagian Timur terus keselatan sampai pantai diserahkan kepada Arya Wiraraja kemudian menjadi raja dengan ibukota Lumajang.

    Bagian Barat masih dikuasai oleh Raja Kĕrtarājasā dengan Ibukota Majapahit. Sejak saat itulah Daerah Majapahit timur merupakan Negara merdeka dan lepas dari kekuasaan Majapahit.

    Sumber:
    1. Babad Ida Bang Manik Angkeran – Bali;
    2. dan sumber-sumber pustaka lainnya yang lazim: Kitab Pararaton, Kidung Harsa Wijaya. Kidung Ranggalawe. Kidung Pamancangan. Kidung Panji Wijayakramah. dan Kidung Sorandaka. Pujasastra Negarakretagama;
    3. Prasasti: Mula Manurung; Prasasti Kranggan (Sengguruh); Prasasti Pakis Wetan; dan Prasasti Sarwadharma.

    Mangga Ki. Ditunggu ndalangnya.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  14. .Sugêng énjang.

  15. sueng siang menjelang jumatan, kamsiiiaaaa

  16. Sugêng dalu

  17. selamat siang

  18. selamat malam, selamat malam mingguan

  19. selamat malam,

  20. Sugêng siyang

  21. Dalam sebuah kesempatan, Kertanegara telah memperkenalkan Kebo Arema kepada Sri Maharaja. Ternyata mereka berdua merasa begitu cocok. Keduanya mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari.

    “Jadi kamu berasal dari suku air”, berkata Sri Maharaja setelah mengenal Kebo Arema lebih jauh lagi.
    “Ada yang bilang bahwa suku air punya nyawa rangkap tiga ?”
    Tersenyum Kebo Arema mendengar pertanyaan Sri Maharaja.

    “Mungkin yang dimaksud tuanku, bahwa suku air adalah orang yang tidak pernah takut menghadapi badai, topan dan ombak.Setiap orang suku air pernah mengalami terapung berhari-hari ditengah laut, terdampar di pulau kosong atau sekarat terkena racun ikan laut paling ganas sekalipun”.

    Demikianlah awal pertemuan Kebo Arema dengan Sri Maharaja. Mereka sama-sama mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari yang mereka sepakati menyebutnya sebagai kerajaan air. Hari-hari selanjutnya, Kebo Arema begitu sering dipanggil ke istana di tempat pribadi Sri Maharaja. Kadang mereka berbincang sampai jauh malam.
    Hari itu kembali Kebo Arema di panggil menghadap Sri Maharaja.

    “Kebo Arema”, berkata Sri Maharaja.”Dalam sebuah perjalanan pulang dari subuah jiarah suci di Biara Beduhur, dalam tujuh malam aku bermimpi dengan mimpi yang sama”

    “Gerangan apa yang tuan mimpikan ?”, bertanya Kebo Arema menjadi sangat ingin tahu apa yang Sri Baginda mimpikan itu.

    “Dalam mimpi itu, aku masih ada di dalam biara Beduhur memandang sebuah lukisan Jung besar berlayar yang megah bagai sebuah Jung para dewa. Entah dari mana datangnya, disebelahku telah berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu memandangku dengan tersenyum begitu ramah sambil menunjuk kearah gambar di batu itu dan berkata bahwa akulah yang berjodoh dapat membawa lukisan dibatu itu keluar dari biara Beduhur. Sampai tujuh malam berturut-turut aku bermimpi yang sama”, berkata Sri Maharaja bercerita tentang mimpinya.

    “Kita bertemu dengan pemuda yang sama dalam mimpi”, berkata Kebo Arema

    “Apa yang kamu mimpikan ?”, terheran Sri Maharaja mendengar ucapan Kebo Arema.

    “Pada waktu itu aku terapung apung ditengah lautan, jukungku pecah dihantam badai gelombang. Tujuh malam di tengah lautan aku bermimpi yang sama. Dalam mimpiku aku telah ada di atas Jung besar yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku. Entah dari mana disampingku berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu berkata kepadaku, bahwa aku berjodoh membawa dan memiliki Jung besar itu”, berkata Kebo Arema bercerita tentang mimpinya.

  22. “Apakah kamu pernah bercerita tentang mimpimu itu kepada orang lain ?”, bertanya Sri Maharaja.

    “Hamba Cuma bercerita kepada Kakek hamba. Setelah mendengar cerita mimpi itu, kakek hamba hanya mengatakan bahwa Gunadharma leluhur para suku air telah menyelamatkan hamba”, berkata Kebo Arema.

    “Pemuda yang kamu mimpikan bernama Gunadharma ?”, bertanya Sri Maharaja

    “Apa yang Tuanku ketahui mengenai Gunadharma leluhur kami ?”, bertanya Kebo Arema

    “Gunadharma adalah murid seorang Brahmana sakti, konon dialah yang dipercayakan Raja Samaratungga membangun biara diatas bukit Beduhur”, berkata Sri Maharaja.

    “Aku akan menatag gambar diatas kulit rontal”, berkata Kebo Arema sambil mengambil selembar kulit rontal dan menatagnya. Ternyata tatag Kebo Arema melukiskan sebuah Jung Besar.

    “Lukisan inikah yang terpahat di Biara Beduhur ?”, bertanya Kebo Arema
    “Benar, kamu dapat melukisnya begitu indah”, berkata Sri Maharaja memuji tatag Kebo Arema di atas kulit rontal

    “Hamba tidak pernah berkunjung ke biara Beduhur, lukisan ini adalah Jung besar yang ada dalam mimpi hamba”.

    “Ternyata kita telah berjodoh, sebagaimana Raja Samaratungga dan Gunadharma membangun mimpi mereka membangun biara besar diatas bukit Beduhur”.

    “Maksud tuanku, kita bersama membangun Jung para dewa itu ?”, bertanya Kebo Arema

    “Benar, kita bukan hanya membangun Jung besar itu, tapi kita akan membangun kerajaan air bersama”, berkata Sri Maharaja dengan penuh semangat, telah dapat membatang tafsir mimpinya.

    “Mulai hari ini, aku serahkan mimpiku kepadamu, membuat jung besar para dewa”, berkata Sri Maharaja.

    “Titah tuanku akan hamba junjung segenab hati”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat.

    “Kutitipkan juga, Putra Mahkota bersamamu”, berkata Sri Maharaja sambil tersenyum, dalam hati telah bersyukur bahwa Pangeran Kertanegara telah mendapatkan sahabat sejati seperti Kebo Arema.

  23. Keesokan harinya, Sri Maharaja telah memanggil Mahapatih untuk membuat persiapan sebuah prasasti pengukuhan sebuah usaha besar membangun kerajaan air di bumi Singasari.

    Gegap gempita suasana di seluruh penjuru bumi Singasari mendengar rencana besar itu. Ada yang gembira dan bangga. Tapi ada juga sebagian yang merasa ketakutan, menjadi semakin merasa terancam. Diam-diam menyebarkan kebencian bahwa Sri Maharaja telah menjadi pikun, telah melakukan perbuatan sia-sia.

    Pagi itu tanah Kutaraja masih basah, gerimis di malam hari menggenangi banyak tanah berlubang. Tiga ekor kuda terlihat keluar dari gerbang kota. Mereka adalah Kebo Arema, Bhaya dan Pangeran Kertanegara yang akan melakukan perjalanan menuju Bandar Cangu.

    Disanalah meraka akan membuat sebuah sejarah baru di bumi Singasari, membangun jung besar sebagaimana terpahat di dinding Biara Bukit Beduhur.
    Jalan yang mereka lewati adalah jalan lintas perdagangan. Beberapa gerobak dengan muatan penuh tampak terlihat tengah berjalan pelan menuju Kutaraja.

    “Sudah lama tidak terdengar ada perampokan di sepanjang perjalanan ini”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Kelak akan juga dirasakan keamanan perjalanan di perairan”, berkata Kebo Arema
    “Tentunya setelah berdirinya sebuah kerajaan air yang akan kita bangun”, berkata Kertanegara penuh semangat.
    “Disamping para perampok, masih ada segelintir orang yang merasa terancam berdirinya sebuah kekuatan di perairan”, berkata Kebo Arema

    “Yang pasti mereka akan melemparkan duri disepanjang perjalanan kita”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Itulah salah satu yang harus kita waspadai”, berkata Kebo Arema sambil memandang jauh keujung batas cakrawala.

    Sementara itu matahari telah jauh bergeser ke barat. Langkah kaki kuda mereka sudah hampir mendekati Bandar Cangu.

    “Selamat datang di benteng Cangu”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut kedatangan mereka di pendapa utama Benteng Cangu.

    Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing. Pangeran Kertanegara menyampaikan tujuan dan rencananya, yaitu membuat sebuah jung besar yang belum ada sebelummnya di jaman itu.

    “Sebuah kebanggaan yang besar bila aku terlibat dalam karya yang maha besar ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberikan dukungannya.

    Akhirnya pembicaraanpun semakin mendalam, semakin terinci . Mulai dari penempatan galangan, pencarian bahan kayu dan berlanjut kepada penggalangan prajurit yang akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jung besar itu sendiri.

  24. “Prajurit air”, berkata Senapati Mahesa Pukat setelah merasa mengerti apa yang harus mereka lakukan mewujudkan impian Sri Maharaja membangun sebuah kerajaan air.

    “Sesuai petunjuk Sri Maharaja, di Benteng ini ada seorang Senapati yang tangguh, mantan seorang guru istana yang terpilih”, berkata Kebo Arema.

    “Sri maharaja terlalu memuji, mudah-mudahan sedikit ilmuku ini masih dapat berguna”, berkata Mahesa Pukat merendahkan dirinya. Diam-diam Kebo Arema menyukai Senapati muda dihadapannya yang rendah hati ini. Banyak hal keterangan yang telah diceritakan oleh Sri Maharaja tentang Mahesa Pukat kepadanya. Diantaranya kesaktian yang dimiliki oleh Senapati muda ini. Dan Kebo Arema meyakini cerita Sri
    Maharaja bukan Cuma isapan jempol belaka.

    Demikianlah, keesokan harinya Mahesa Pukat telah memerintahkan beberapa prajuritnya membangun beberapa bedeng darurat di pinggir sungai Brantas tidak jauh dari Benteng Cangu. Disitulah akan berdiri sebuah galangan tempat pembuatan sebuah jung besar, sebuah jung besar yang belum pernah tercipta di jaman itu sebelumnya.

    Pada hari itu juga, Kebo Arema telah memerintahkan Bhaya keponakannya itu untuk berangkat ke Curabhaya memanggil beberapa saudara mereka dari Suku Air. Pada jaman itu keahlian orang-orang Suku Air dalam pembuatan perahu memang tidak diragukan lagi. Mereka secara turun temurun telah mewarisi ilmu pertukangan pembuatan perahu terbaik.

    “Beberapa dari prajurit di benteng Cangu ini dapat dibentuk menjadi prajurit yang tangguh sesuai dengan medan yang akan mereka hadapi, baik di darat maupun dilautan. Merekalah yang kelak akan menjadi perwira utama yang akan menurunkan keahliannya kepada prajurit baru yang akan kita dapatkan dari beberapa daerah di Singasari ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama di benteng Cangu.

    “Sebuah usaha yang baik. Pembentukan pasukan khusus akan menjadi lebih cepat”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan Senapati Mahesa Pukat.

    Malam itu bulan tua bersembul di atas langit tepian sungai Brantas begitu indahnya. Langit bertaburan bintang menghiasi cakrawala raya. Empat buah obar menerangi tanah lapang ditepian sungai brantas. Kebo Arema, Kertanegara, Bhaya dan 20 orang saudaranya dari Suku Air tengah berkumpul melakukan upacara adat memohon perlindungan dan berkah dari para leluhur.

    “Pangeran”, berkata Kebo Arema. “Leluhur kami telah melarang keturunannya menurunkan ilmu pembuatan perahu kepada selain garis darah. Untuk itulah kami akan melakukan upacara penyatuan darah.Menjadikan Pangeran sebagai saudara kami”

    “Aku bersedia menjadi Saudaramu”, berkata Pangeran Kertanegara.

    Maka sebuah ritual kecilpun berlangsung khikmad. Diawali dari Kebo Arema memakan tiga helai daun cimeng yang diambilnya dari sebuah kotak kayu. Bergilir satu persatu memakan daun cimeng hingga berakhir pada Pangeran Kertanegara yang ikut mengambil tiga helai daun cimeng dan mengunyahnya.Setelah itu mereka meminum air tuak aren dari bumbung bamboo yang sama. Demikianlah mereka melakukan sebuah ritual kecil, mengikat Pangeran Kertanegara sebagai saudara sedarah.

  25. “Mulai hari ini, Pangeran adalah saudara kami. Tidak tabu lagi mengetahui rahasia pengetahuan kami”, berkata Kebo Arema Kepada Pangran Kertanegara.

    Demikianlah mereka memulai sebuah kerja, yang diawali dengan pembuatan sebuah galangan besar di tepian Sungai Brantas. Pangeran Kertanegara melihat sendiri bagaimana orang-orang suku air bekerja. Mereka benar-benar ahli dan pekerja keras. Siang malam bereka bekerja seperti tidak mengenal lelah. Memang sangat mengagumkan, hanya dalam waktu sepekan sebuah galangan besar telah berdiri dengan kokohnya di tepian sungai Brantas.

    “Aku sudah mendapatkan sepuluh prajurit pilihan, para calon perwira pasukan khusus pengawal jung besar”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama Benteng Cangu. Hadir juga pada saat itu Kebo Arema. Atas penghormatan dan permintaan Mahesa Pukat, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema tinggal bersama di Benteng Cangu.

    “Terima kasih, kami sudah membebankan paman Senapati”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Tugas yang tengah Pangeran pikul adalah kewajiban kami sebagai prajurit membantu sepenuh hati”, berkata Mahesa Pukat.

    Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema mengakui dalam hati masing-masing, bahwa Senapati muda didepannya itu benar-benar mendukung sepenuh hati tugas yang tengah mereka emban. Sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Dalam setiap hal tidak ada yang tidak mereka bicarakan bersama, saling meminta pendapat dan jalan keluar bersama.

    “Galangan telah siap, pekerjaan kita selanjutnya adalah mencari bahan kayu pilihan, diantaranya adalah mendapatkan sebuah kayu jati merah sebagai pokok jung”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Pangeran Kertanegara.

    “Apakah ada syarat ketinggian tertentu dari pohon jati mereah itu ?”, bertanya Mahesa Pukat.

    “Kita harus mendapatkan kayu jati merah untuk tulang pokok”, berkata Kebo Arema.”Pohon jati merah yang kita cari harus melebihi ketinggian dua puluh meter”.

    “Sebuah Jung yang luar biasa besarnya”, berkata Mahesa Pukat membayangkan sebuah jung yang sangat besar yang belum pernah dilihatnya pada jaman itu.

    “Aku pernah menemui pohon jati merah setinggi itu di hutan Porong, besok kami akan mencarinya”berkata Kebo Arema. “Sementara untuk bahan kayu lainnya, seperti Kayu benuang dan ulin tidak begitu sulit, kita masih dapat mencarinya di hutan terdekat, tidak perlu persyaratan ketinggian tertentu sebagaimana pohon jati merah.

  26. Alhamdulillah, seminggu nggak sambang padepokan, dapat rapelan banyak.
    Matur nuwun Ki Kompor
    Matur nuwun P, Satpam.

    SUGENG ENJANG SEDOYO.

  27. Sugeng enjang sedoyo.
    Sampun dangu mboten sowan padepokan, poro pinesepuh sampun mbukak rontal kathah. Matur suwun Ki Kompor kaliyan P Satpam

  28. koyone enak nyangkruk neng kene………..

    kulo sowan ki Kompor

    • Sama…!

      koyone enak nyangkruk neng kene………..

      kulo sowan ki Kompor

      • kulo RawON ki Kompor,

  29. selamat SIANG kadang padepokan pak DALANG,

    cantrik haDIR…..(tetep pake gayaNe bang haji)

  30. cantrik hadir, matur nuwun

  31. Pagi itu dua buah jukung meluncur di atas sungai Brantas. Mereka adalah Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya serta lima orang suku air saudara mereka.

    Ketika sampai dipertigaan sungai porong, mereka langsung berbelok arah dan tertelan jauh masuk kepedalaman sungai hutan porong.

    Mereka tidak menyadari, beberapa pasang mata tengah mengikuti perjalanan mereka.

    “berhenti !”, berkata Kebo Arema ketika mengingat sebuah tempat dimana pernah melihat banyak pohon jati merah tumbuh.

    Merekapun menepi , setelah menyembunyikan dua buah jukung jauh dari tepian sungai, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hutan porong sepertinya menelan mereka yang masuk kedalam hutan semakin kedalam, Sebuah hutan lebat yang jarang sekali didatangi orang. Disamping masih banyak binatang buas yang berkeliaran, konon hutan porong adalah hutan kerajaan para dedemit. Jarang sekali orang yang berani masuk ke hutan ini bila saja tidak ada keperluan yang mendesak.

    Akhirnya setelah lama mencari, masuk lebih dalam lagi di kelebatan hutan porong, merekapun menemukan apa yang mereka inginkan. Sebuah pohon jati merah dengan ketinggian lebih dari yang mereka duga sebelumnya. Bukan hanya tinggi dua puluh meter, bahkan lebih dari empat puluh meter dengan lebar batang dua kali pelukan orang dewasa .

    “Dengan pohon jati merah setinggi ini, tidak ada sambungan untuk tulang pokok jung kita”, berkata Kebo Arema gembira sekali menemukan sebuah pohon jati merah yang diharapkan.

    Tanpa diperintah, Bhaya langsung memanjat pohon jati merah itu. Begitu lincah Bhaya memanjat naik dari satu cabang ke cabang lainnya sampai keujung puncak cabang yang paling tinggi. Sebagaimana naiknya, Bhaya menuruni pohon Jati Merah itu juga lebih cepat lagi dibandingkan ketika memanjat.

    “Empat puluh tiga meter”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema dengan gembiranya.

    “Kita persiapkan jalan”, berkata Kebo Arema kepada lima orang saudaranya yang langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mudah ditarik mendekati tepian sungai.

    Ketika mereka bekerja membuka jalan, penciuman Kertanegara yang tajam mencium bau aneh.

    “asap beracun!”, berkata Kertanegara mengingatkan semuanya untuk berhati-hati.

    Tapi peringatan Kertanegara telah terlambat, seorang suku air yang ada ditempat paling ujung telah menghisap asap beracun. Nafasnya seketika menjadi sesak, langsung roboh lemas ditempat. Sementara yang lain masih sempat menutup rapat penciuman mereka sambil menjauhi arah angin.

    Kertanegara langsung menerapkan ilmunya, sebuah angin deras meluncur kesegenap penjuru, membersihkan asap beracun.

  32. Dengan cepat pula mata Kebo Arema menemukan arah sumber asap, tubuh kebo arema seperti anak panah langsung meluncur kearah sumber asap beracun. Ternyata dugaan Kebo Arema tidak meleset. Ada sebuah tabunan api ditemukan masih menyala. Dengan cepat menutup tabunan api itu dengan tanah basah. Bara api itupun seketika padam. Mata kebo Aema mencoba menyusuri semak dan kepekatan hutan.

    “Mereka datang dari arah sungai”, berkata Kebo Arema kepada dirinya sendiri mencoba menerka siapa dan dari mana orang yang menyebarkan racun itu datang. Maka Kebo Arema langsung berlari kearah tepi sungai. Namun sudah terlambat, sebuah jukung sudah jauh meninggalkan tepian. Hanya punggung mereka yang masih terlihat jauh dan tidak mungkin dapat dikejar.

    Kebo Arema kembali ketengah hutan dengan hati berdebar, seorang saudaranya sudah terkena asap beracun.

    “Ia masih hidup”, berbisik Bhaya menenangkan perasaan Kebo Arema sambil menunjuk saudaranya yang tengah diberikan tetesan air rendaman kayu aji batu keling pemberian dari Empu Dangka yang selalu di bawa oleh Kertanegara.

    Ternyata kayu aji batu keeling sangat mujarab menawarkan segala jenis racun. Setelah beberapa tetes air rendaman Kayu Aji Batu Keling masuk lewat bibirnya, terlihat kulit tubuhnya yang semula putih pucat kembali memerah , napasnya kembali teratur seperti sedang tertidur nyenyak.

    Akhirnya mereka memutuskan untuk sementara menghentikan kegiatan kerja, menunggu saudara mereka sehat kembali.

    “Kita beristirahat disini, menunggu perkembangan kesehatan saudara kita”, berkata Kebo Arema meminta semuanya beristirahat.

    “Mulai sekarang kita harus selalu waspada, mereka tidak akan berhenti sampai disini”, berkata Kertanegara.

    “Dengan kejadian ini mataku sudah terbuka, ternyata ada juga orang Singasari yang tidak menginginkan kerja besar ini terwujud”, berkata Kebo Arema

    “Yang mereka inginkan adalah kegagalanku”, berkata Kertanegara

    “Apakah Pangeran sudah dapat menduga, siapa dibalik semua ini?”, bertanya Kebo Arema.

    “Sejauh ini aku sudah dapat menduga, siapa dan apa yang mereka inginkan”, berkata Kertanegara.

    Kebo Arema tidak mendesak siapa orang dibalik semua ini kepada Kertanegara. Ada sesuatu hal lain sehingga Kertanegara masih harus menyimpan rahasia siapa dibalik semua ini yang berusaha menggagalkan kerja mereka.

    Paherangi, demikian nama saudara mereka yang terkena racun terlihat bangun dan hendak bangkit berdiri.

  33. Selamat malam,
    sik asik, besok libur…………

  34. Malam Ki Kompor,
    Iya besok libur Isra Mi’raj.
    Mengenang perjalanan ritual Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
    Pada saat itu perintah Shalat turun.
    Shubanallah (Maha suci Allah).

  35. E lha kok malah lupa ngucapken terima kasih.
    Matur nuwun Ki kompor.

  36. cantrik hadir, matur nuwun, selamat Isra Mi’raj.

  37. Sugeng siang,
    selamat menikmati liburan.

  38. “beristirahatlah, jangan banyak bergerak”, berkata Kebo Arema sambil membantu Paherangi bersandar disebuah batang pohon.

    Malampun akhirnya datang berangsur menutupi hutan porong dengan kegelapan.

    “Biarlah aku dan Bhaya berganti jaga, tenaga kalian sangat diperlukan esok hari”, berkata Kertanegara meminta semuanya untuk beristirahat.

    “Bangunkan aku”, berkata Kertanegara kepada Bhaya yang mendapat tugas jaga pertama.

    Sepanjang malam tidak ada yang mengganggu mereka hingga sampainya datang pagi menjelang.

    Berdasarkan pengalaman hari pertama, maka mereka mulai mengatur siapa bekerja dan siapa yang harus berjaga.

    Sementara itu Paherangi yang terkena asap beracun sudah merasa sehat dan dapat bekerja kembali.

    “Terima kasih Pangeran”, berkata Paherangi yang sudah mengetahui siapa yang menyembuhkannya.”Tanpa Pangeran mungkin aku tidak dapat lagi memandang cahaya pagi hari ini”

    “Tidak perlu mengucapkan terima kasih, bukankah kita bersaudara ?”, berkata Kertanegara yang ikut merasa gembira melihat Paherangi sehat sebagaimana sediakala.

    Nampak terlihat mereka telah kembali bekerja, membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mereka keluarkan dari hutan. Sementara itu Bhaya yang mahir memanjat tengah membuang cabang pohon jati merah. Sebatang demi sebatang cabang ohon kayu jati jatuh terpangkas hingga akhirnya tinggal pokok batangnya saja yang masih berdiri menjulang tinggi.

    Setelah pembukaan jalan sudah dirasa mencukupi, merekapun secara bergantian mulai memotong pokok batang kayu jati merah. Tali tambang besarpun telah terikat di di batang pohon jati merah siap untuk ditarik. Sementara itu di sepanjang jalan telah ditebarkan balok kayu bulat yang berfungsi sebagai roda siap menggelinding manakala pokok batang kayu jati sudah rebah diatasnya.

    Kraak… bum !!!!

    Terdengar suara batang pohon jati merah jatuh kebumi dengan suara yang luar biasa kerasnya. Tanahpun terasa bergetar ketika batang pohon kayu jati merah yang besar itu rebah jatuh kebumi.

    Dan Akhirnya batang pokok kayu jati itupun sedikit demi sedikit bergeser sampai ditepian sungai.

    “Besok kita datang kembali mengambil beberapa cabang batang yang sudah terpangkas, pantang dipisahkan tulang pokok dan tulang rusuk jung harus berasal dari pohon yang sama”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara yang langsung menangkap dan mengerti batang pokok dan batang cabang yang akan ditatak nantinya sebagai tulang pokok dan tulang rusuk Jung.

  39. Dua buah jukung terlihat meluncur menarik batang pohon yang panjang. Arah arus sungai porong yang mengalir kearah sungai brantas sangat banyak membantu mempermudah kerja mereka. Namun ketika jukung mereka masuk kealiran sungai Brantas, mereka harus melawan arus. Tapi para suku air adalah pedayung ulung. Sepertinya mereka tidak merasakan kesukaran. Perlahan tapi pasti jukung mereka terus bergerak menuju Bandar Cangu tempat mereka telah mendirikan sebuah galangan besar ditepian sungai Brantas.

    Tapi semangat mereka seperti terbang.

    Terlihat galangan yang mereka kerjakan siang dan malam selama sepekan hari telah berubah menjadi tumpukan abu.

    “Kemarin malam ada yang membakar galangan kita”, berkata salah seorang dari suku air.”Api sudah membesar tidak mungkin lagi diselamatkan”.

    “Dimana kalian ketika kebakaran ini terjadi ?”, bertanya Kebo Arema menatap semua saudaranya dari suku air yang tidak ikut bersamanya ke hutan Porong mencari pohon Jati Merah.

    Semua saudaranya dari suku air Nampak tertunduk.

    “Sirep mereka begitu kuat, semua saudaramu tertidur. Kami sendiri datang terlambat, galangan sudah setengahnya terbakar api”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang juga hadir di tempat itu menjelaskan dan meminta pengertian Kebo Arema untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada saudaranya.

    “Siapapun mereka, tujuannya hanya satu untuk mematahkan semangat kita.Tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang gampang menyerah”, berkata Kertanegara memberi semangat.

    Ternyata kata-kata Kertanegara seperti siraman minyak mengobarkan api semangat di dada para suku air. Keesokan harinya mereka sudah bekerja kembali membuat galangan dengan penuh semangat, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang gampang dipatahkan.

    Kejadian terbakarnya galangan di dekat Bandar Cangu itupun sebentar saja sudah menggema sampai kepelosok nagari. Semua orang membicarakannya. Beberapa orang bahkan mengaitkan kejadian itu dengan kosongnya singgasana di Kediri.

    “Ada yang ingin menjatuhkan nama Pangeran Kertanegara”, berkata seorang saudagar di sebuah kedai.

    Ternyata semua sudah diperhitungkan dengan masak oleh Pangeran Kertanegara. Jauh sebelum pembuatan galangan, Pangeran Kertanegara sudah menduga akan ada usaha yang menginginkan kegagalannya. Itulah sebabnya galangan pembuatan jung sengaja berada tidak jauh dari Bandar Cangu. Disitulah pusat berita. Dan nama Pangeran Kertanegara telah menjadi pusat berita, usaha pembakaran galangan menyuburkan rasa simpatik dari banyak orang. Siapapun yang lewat di tepian Brantas itu pasti akan melambaikan tangannya, sepertinya ingin mengatakan agar terus bekerja dan jangan mundur. Dan orang-orang suku air sepertinya ikut merasa tersanjung, merasa bangga bekerja bersama pahlawannya Sang Putra Mahkota.

  40. “Gila !!”, berkata seorang yang beralis tebal disebuah kedai di Bandar Cangu sambil menggebrak meja. Tiga orang kawannya Nampak terdiam penuh rasa gentar menghadapi seorang didepannya yang nampaknya seperti pimpinan mereka.

    Sementara dikedai itu sedang sepi pengunjung, cuma ada mereka berempat saja. Pemilik kedai saat itu tidak terlihat, mungkin sedang sibuk di dapur belakang.

    “Usaha kita berbalik arah, usaha kita bahkan telah menjual namanya melambung tinggi”, kembali orang itu berkata yang ditanggapi oleh ketiga kawannya dengan menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.

    Salah seorang dari mereka terlihat lebih berani dibandingkan kedua kawannya mengangkat kepalanya. “Harusnya kita tidak cuma membakar, tapi menghabisi mereka semua disat sirep kita bekerja”.

    “Bagus !”, berkata pemimpin mereka sepertinya mendapatkan rencana baru.

    Seekor elang terus berputar di padang perburuannya. Sekali-kali mengepakkan sayapnya yang panjang. Matanya yang tajam terus mengawasi, menanti saat yang tepat dan cepat untuk menukik menyambar mangsanya yang lengah.

    Suara pekik elang jantan kadang menggetarkan dada.

    Gema terbakarnya sebuah galangan di tepian sungai Brantas juga telah terdengar jauh sampai ke Padepokan Bajra Seta.

    “Mudah-mudahan kehadiran kalian dapat memberikan dukungan bagi Pangeran Kertanegara.Sampaikan salamku kepadanya”, berkata Mahesa Murti ketika melepas Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan berangkat ke Bandar Cangu.

    Dengan menghela napas panjang, Mahesa Murti memandang punggung tiga anak muda diatas kudanya yang menghilang berbelok terhalang dinding Padepokan. Terbayang masa mudanya bersama Mahesa Pukat melanglang dunia. Mengembara dari satu tempat ketempat lainnya, merasakan angin segar di tengah padang ilalang, mencium bau tanah merah di perbukitan hijau. “Masa muda yang indah”, berkata Mahesa Murti kepada dirinya sendiri masih memandang jauh kedepan melampaui pintu gerbang Padepokannya.

    “Sudah lama kita tidak melakukan perjalanan jauh”, berkata Raden Wijaya. Nampak wajahnya begitu ceria. “Mari kita berpacu sampai diatas puncak bukit”, berkata Raden Wijaya sambil mengepak perut kudanya agar berlari lebih cepat lagi.

    Mahesa Amping dan Lawe tidak ingin tertinggal, merekapun menghentakkan kudanya berpacu mengejar Raden Wijaya yang sudah lebih dulu memacu kudanya.

    Terlihat tiga ekor kuda berlari berpacu diatas tanah bulakang panjang, membelah padang ilalang dan terlihat semakin jauh mendekati bukit kecil.

  41. Diatas puncak bukit mereka berhenti sebentar, menengok kebelakang memandang sawah dan ladang yang terhampar. Sepertinya mereka bertiga mempunyai perasaan yang sama, suara rindu para cantrik Padepokan Bajra Seta nun jauh diujung seberang sawah dan ladang yang terhampar indah seakan memanggil mereka, mengucapkan selamat jalan.

    “Aku akan selalu merindukanmu”, berkata Lawe sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya tersenyum melihat laku Lawe, diam-diam mereka juga mempunyai perasaan yang sama, sebuah kekosongan hati meninggalkan tempat yang menyenangkan bersama dalam persaudaraan dan kegembiraan hari-hari di Padepokan Bajra Seta yang tenang dan sejuk, sesejuk senyum cerah para warganya. Dan mereka bertiga akan pergi jauh untuk waktu yang lama.

    Ketika menuruni bukit kecil itu, mereka tidak lagi memacu kudanya. Dibiarkan kaki kuda melangkah berjalan sendiri menuruni bukit. Masing-masing terdiam hanyut dalam angan pikirannya sendiri hingga tidak terasa mereka telah ada di tepi hutan kecil.

    Itulah awal perjalanan mereka. Sebuah awal pengembaraan mereka yang panjang menapaki liku jalan kehidupan yang tidak selalu datar. Lembaran perjalanan mereka diwarnai dengan canda dan tawa, tapi terkadang sangat begitu mencekam seperti menyusuri tepian jurang panjang ditengah malam dalam kepungan puluhan senjata tajam.

    Senja itu mereka tengah menyusuri jalan disebuah Padukuhan, tengah mencari sebuah Banjar Desa untuk bermalam. Tiba-tiba saja puluhan orang datang dari depan dan belakang membewa berbagai macam senjata.

    “Berhenti !!”, berkata seorang yang bertubuh tegap berkumis tebal dengan senjata golok besar telanjang ditangannya.

    Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe segera turun dari kudanya.

    “Beginikah sikap kalian menerima setiap orang asing yang datang di kampungmu?”, berkata Lawe yang merasa tidak menyukai sikap orang-orang dusun yang mengepung dan mengancamnya.

    “Jangan banyak bicara, menyerahlah”, berkata kembali orang itu dengan suara keras.

    “Apa kesalahan kami ?”, bertanya Lawe tidak kalah keras suaranya sepertinya tidak sabaran.

    “Jangan berpura-pura, kalian pasti ingin kembali mencuri sapi kami”, berkata orang itu

    “Darba, jaga sikapmu”, tiba-tiba muncul menyeruak dari kerumunan banyak orang, seorang lelaki sudah berumur namun tubuhnya masih begitu tegap dan berotot.

    “Ki Jagabaya, mereka adalah pencuri”, berkata orang yang berkumis tebal yang dipanggil Darba oleh Ki Jagabaya yang baru saja datang menghampiri mereka.

  42. “sudah kubilang, jaga sikapmu !”berkata Ki Jagabaya kepada Darba yang sepertinya tidak menerima sikap Ki Jagabaya.

    “Maafkan kami anak muda, kemarin malam di padukuhan ini telah kecurian tiga ekor sapi. Wajarlah bila semua orang disini menjadi curiga kepada orang asing”, berkata Ki Jagabaya menjelaskan kepada Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping dengan sikap yang santun.

    “Kami hanya pengembara, rencananya kami ingin menumpang bermalam di Banjar Desa. Namun dengan kejadian ini, biarlah kami bermalam ditempat lain”, berkata Mahesa Amping.

    “Jangan biarkan mereka lepas, mereka harus dihukum”, berkata Darba sambil mengangkat golok besarnya.

    “Benar, mereka harus dihukum”, berkata dua orang yang berdekatan dengan Darba.
    Sementara beberapa orang padukuhan sepertinya meresa segan dengan Ki Jagabaya, mereka hanya berdiri menunggu dalam keraguan.

    Tiba-tiba saja muncul tiga orang pemuda mendekati Ki Jagabaya.

    “Orang asing ini bukan pencurinya, sejak kemarin kami sudah tahu siapa pencurinya”, berkata salah seorang pemuda yang mendekati Ki Jagabaya.

    “Kamu tahu siapa pencurinya ?”, bertanya Ki Jagabaya kepada pemuda itu.

    “Maafkan aku, waktu itu aku takut ayah akan berhadapan dengan orang itu”, berkata pemuda itu.

    “Apakah saat ini kamu masih takut menyebut nama pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya.

    “Rasa takutku telah hilang, melebihi rasa takut bila ayah salah menghukum orang asing ini”, berkata Pemuda itu.
    “Katakan siapa pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya tidak sabaran.

    “Darba dan dua temannya itu”, berkata pemuda itu sambil menunjuk Darba dan dua orang yang ada didekatnya.
    Semua mata memandang Darba dan dua orang temannya.

    “Anak setan, jangan bicara sembarangan”, berkata Darba dengan marahnya. Wajahnya berubah semakin beringas.

    “Kemarin malam kami mengikutimu sampai keujung hutan, disanalah kalian menyimpan sapi-sapi itu”, berkata pemuda itu.

    “Anak setan, kurobek mulutmu”, berkata Darba sambil melangkah mengacungkan golok besarnya.

  43. “Aku yakin anakku tidak berbohong, sudah lama aku mencurigai kalian bertiga”, berkata Ki Jagabaya sambil menghadang langkah Darba.

    “Rupanya anakmu masih berotak, takut ayahnya yang sudah tua tidak akan mampu menghadapi kami bertiga”, berkata Darba langsung menyerang Ki Jagabaya.

    Ternyata Ki Jagabaya meski sudah berumur masih mampu bergerak lincah. Dengan bergeser kesamping menghindar tusukan golok besar Darba, Ki Jagabaya langsung menyerang balik dengan sebuah sabetan tombak pendek bermata dua yang merupakan senjata andalannya.

    Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Darba dan Ki Jagabaya. Semua mata memandang penuh rasa khawatir, apakah Ki Jagabaya yang sudah tua akan dapat menandingi Darba yang bertubuh tegap yang terlihat begitu ganas dan keras melakukan serangannya.

    Mahesa Amping yang mengikuti pembicaraan pemuda yang ternyata putra Ki Jagabaya memberi tanda kepada Lawe untuk bersiap menjaga segala kemungkinan dua orang kawan Darba berbuat kecurangan. Ternyata dugaan Mahesa Amping terbukti, dua orang kawan Darba telah bersiap maju mendekati pertempuran. Mahesa Amping dan Lawe maju menghadang mereka.

    “Kurang enak dipandang, orang tua di keroyok tiga orang sekaligus”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang yang berkulit hitam pekat.

    “Sedari tadi aku sudah tidak sabar untuk mencincangmu”, berkata orang yang berkulit hitam pekat itu sambil mengayunkan pedang besarnya kearah kepala Mahesa Amping yang langsung mengelak dengan gerakan seenaknya. Bukan main marah dan penasarannya orang itu melihat ayunan pedangnya lolos tipis dari sasarannya. Ternyata Mahesa Amping tidak langsung menunjukkan tataran ilmunya, berpura-pura mengelak dengan gerakan seadanya. Semakin geram dan penasaran orang itu untuk menyelesaikan pertempurannya.

    Sementara itu Lawe sudah berhadapan dengan seorang lagi teman Darba yang berwajah menyeramkan, ada bekas luka codet di sepanjang garis pipinya.

    Tidak seperti Mahesa Amping, Lawe tidak sabaran menghadapi lawannya yang berwajah seram itu. Ketika sebuah bacokan mengarah dari atas kepalanya. Dengan kecepatan yang tidak dapat dipercaya oleh lawannya, Lawe bergeser memiringkan badannya. Dan senjata lawan lewat hanya beberapa inci dari tubuh Lawe.

    Orang itu seperti terbelalak tidak percaya, sebuah tamparan yang keras menghantam tangannya yang masih menggenggam pangkal pedang. Tulang tangannya seperti patah dan pedih, tidak terasa pedangnya telah terlepas. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, entah dari mana datangnya serangan, yang dirasakannya tengkorak kepalanya seperti terhantam benda berat. Seketika itu juga orang yang berwajah menyeramkan itu roboh pingsan.

    Orang-orang Padukuhan seperti tidak percaya dengan penglihatannya. Orang yang berwajah seram yang memang baru beberapa minggu ini tinggal di rumah Darba telah dapat dirobohkan dengan cepat oleh seorang pemuda asing yang sebelumnya dituduh sebagai seorang pencuri.

  44. Raden Wijaya hanya tersenyum melihat Lawe yang dengan cepat merobohkan lawannya. Pandangannya masih tetap ke pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin dapat saja terjadi. Namun sekali-kali masih menengok pertempuran Mahesa Amping yang terlihat seperti orang bodoh menghindari serangan lawannya.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, Ki Jagabaya ternyata masih mampu mengimbangi serangan Darba yang keras dan ganas. Mereka sepertinya berpacu meningkatkan tataran ilmunya. Pertempuran menjadi begitu sengit. Masing-masing ingin selekasnya menyelesaikan pertempuran.

    Akhirnya sedikit kelengahan telah menguntungkan posisi Ki Jagabaya. Darba lengah tidak menyadari bahwa tombak pendek Ki Jagabaya bermata dua. Ketika sebuah serangan dari Ki Jagabaya meluncur mengarah perutnya, dengan angkuh Darba mencoba menghantam tombak pendek itu dengan golok besarnya sekuat tenaga dengan keyakinan tombak pendek itu pasti terlempar. Ternyata tombak pendek itu berubah arah. Mata tombak yang lain berubah berputar menukik pangkal paha Darba. Darah memuncrat dari pangkal paha yang tercabik mata tombak Ki Jagabaya yang langsung mencabutnya dan melompat beberapa jarak.

    Rasa pedih dan perih dirasakan darba pada pangkal pahanya yang tertembus mata tombak Ki Jagabaya. Kaki kanannya seperti lumpuh.

    “Mata tombakku mengandung racun yang tajam, menyerahlah, aku punya penawarnya”, berkata Ki Jagabaya menawarkan Darba untuk menyerah.

    Darba yakin Ki Jagabaya tidak berbohong. Apalagi ketika dirasakan badannya ikut menggigil.

    “Aku menyerah”, berkata Darba sambil melemparkan golok besarnya.

    Sementara itu, Mahesa Amping juga melihat akhir pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Maka ada pikiran untuk menyelesaikan pertempurannya yang lebih tepat disebut permainan. Karena Mahesa Amping selama itu hanya melompat dan berlari menghindari setiap serangan dengan gerakan seperti orang bodoh yang membuat lawannya bertambah penasaran.

    Mahesa Amping memang sudah jemu bermain. Ketika sebuah bacokan meluncur dari arah atas kepala, Mahesa Amping tidak menghindar. Dengan memperhitungkan kekuatan dan kecepatan luncuran pedang, Mahesa Amping telah menghentikan laju pedang itu dengan menjepitnya dengan dua buah jari tangannya. Dengan tersenyum Mahesa Amping memandang lawannya yang berusaha menarik sekuat tenaga pedangnya agar terlepas dari jepitan Mahesa Amping yang begitu kuat. Bahkan tidak malu lagi menariknya dengan kedua tangannya. Akibatnya pun jadi sungguh memalukan, orang itu jatuh duduk ditanah terlempar tenaganya sendiri karena dengan cepat Mahesa Amping telah melepaskan jepitan jarinya.

    “Menyerahlah, dua orang temanmu sudah tidak berdaya”, berkata Mahesa Amping dengan sikap tidak seperti orang bodoh lagi. Wajahnya berubah seperti penuh wibawa dan angker.

  45. Ternyata orang yang berwajah hitam pekat itu telah menyadari dengan siapa ia berhadapan. Bagaimana dengan dua buah jari lawannya dapat menahan dan menjepit pedangnya. Disamping itu ia telah melihat dua orang kawannya sudah tidak berdaya.

    “Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melempar pedangnya.

    “Bawa mereka ke rumah Ki Buyut”, berkata Ki Jagabaya kepada beberapa orang yang langsung mengikat Darba dan dua orang kawannya.

    “Terima kasih, apa jadinya diriku yang tua ini bila sampai dikeroyok tiga orang begundal itu”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.
    “Tanpa kehadiran Ki Jagabaya, mungkin kami sudah dicincang habis warga Padukuhan”, berkata Mahesa Amping.

    “Ternyata aku berhadapan dengan orang muda yang telah dapat menguasai diri. Sebelum dicincang kalian sudah lebih dulu membantai seluruh orang padukuhan. Terima kasih kalian tidak melakukannya”, berkata Ki Jagabaya.

    Akhirnya Ki Jagabaya mengajak mereka ikut bersama kerumah Ki Buyut untuk ikut menjadi saksi.

    Hari sudah jauh menjadi malam, manakala mereka sampai dirumah Ki Buyut. Ki Jagabaya pun menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Darba dan dua orang kawannya tidak dapat mengelak lagi, mereka mengakui semua perbuatannya.

    “Bermalamlah dirumahku, aku masih punya persediaan ketela yang baru tadi siang dicabut”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe ketika urusan dengan Darba dan dua orang kawannya dianggap telah selesai. Masalah hukuman apa yang pantas bagi mereka telah diserahkan sepenuhnya kepada Ki Buyut.

    Akhirnya Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe tidak menolak tawaran Ki Jagabaya.

    Sebagaimana yang dijanjikan, Ki Jagabaya telah menjamu mereka dengan ketela rebus yang baru dicabut lengkap dengan kelapa parut mudanya. Apalagi yang menjadi teman minumnya segelas hangat wedang sare lengkap dengan gula batu merahnya.

    “Pwenake pwoall”, berkata Lawe sambil menyerumput wedang sare hangatnya.

    • waduh……
      banjir…..
      kamsia………
      tapi…, ini seharusnya sudah masuk ke gandok 3 ki.

      • He……….he………..he…………..
        kesel kesel kebanjiran, uenake puwooolllll.

        Kula hadir Ki Ajar pak Satpam.

  46. Gandok e full tenan

  47. Wah Ki Kompor nggak jadi liburan, malah lembur.
    Matur nuwun Ki,
    Situ Cipondoh meluap.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: