SFBdBS-02

Bagian 2

SFBdBS-01-045

Wantilan dan Sembaga telah tiba di Pendapa. Seorang yang sudah berumur namun masih tegap menyambut kedatangan mereka. Setelah memperkenalkan dirinya dan Sembaga yang dikatakannya sebagai “bujangnya”, Wantilan menyampaikan tujuannya menawarkan beberapa ekor kuda.

“Kuda kami ini asli dari Pajajaran”, berkata Wantilan layaknya seorang pedagang kepada pimpinan Pedepokan itu yang memperkenalkan dirinya bernama Datuk Alasjati.

“Dari mana kalian mengetahui bahwa kami memerlukan beberapa ekor kuda?”, bertanya Datuk Alasjati bertanya kepada Wantilan.

“Telinga pedagang lebih panjang dari orang biasa”, berkata Wantilan bergaya pedagang sungguhan. ”Kepada Datuk Alasjati, aku berikan harga perkenalan. Sebut saja berapa ekor kuda yang Datuk butuhkan”, kembali Wantilan menawarkan dagangannya.

Lama Datuk Alasjati berpikir panjang. Terutama tentang ”harga perkenalan” yang ditawarkan Wantilan kepadanya.

“Aku butuh lima ekor kuda”, berkata Datuk Alasjati setelah berpikir agak lama.

“Kami akan datang dengan lima ekor kuda, tiga hari setelah hari ini”, berkata Wantilan memberikan keputusan setelah “sepakat” mengenai harga.

“Bayaran akan aku berikan setelah lima ekor kuda datang”, berkata Datuk Alasjati kepada Wantilan.

“Urusan jual beli kuda sudah selesai, bolehkah aku menawarkan hal lain?” bertanya Wantilan kepada Datuk Alasjati.

“Apalagi yang akan kamu tawarkan”, berkata Datuk Alasjati yang maklum bahwa semua pedagang tidak hanya cuma punya satu barang yang diperdagangkan.

“Aku tidak menawarkan barang. Yang kutawarkan apakah Datuk membutuhkan seorang pekatik?”, bertanya Wantilan kepada Datuk Alasjati yang salah tebak, Wantilan tidak menawarkan barang dagangan, tapi seorang pekatik.

“Seorang pekatik?”, balik bertanya Datuk Alasjati

“Dirumahku ada seorang anak yang masih muda belia, anak keponakanku. Seorang anak yang rajin, terutama untuk urusan merawat kuda. Hampir semua kuda daganganku tidak ada yang sakit dirawat oleh anak itu. Sayangnya istriku tidak menyukainya”, berkata Wantilan mengarang sebuah cerita mengenai pekatik yang masih muda belia.

“Ceritamu mengenai seorang pekatik memang mengesankan, sampai saat ini memang aku belum punya seorang pekatik khusus. Bawalah anak itu bersama dengan kuda yang kamu jual”, berkata Datuk Alasjati kepada Wantilan menerima tawaran seorang pekatik.

“Berkenalan dengan Datuk memang sangat menyenangkan”, berkata Wantilan kepada Datuk Alasjati.

“Semoga hubungan dagang kita dapat berlanjut, dimana aku dapat menghubungimu?”, bertanya Datuk Alasjati ketika Wantilan dan Sembaga mohon pamit.

“Aku tinggal tidak jauh dari Pasar Kali Anget, semua orang disitu pasti mengenalku”, berkata Wantilan yang asal sembarang menyebut sebuah nama suatu tempat.

“Kami menunggu janjimu, tiga hari setelah hari ini”, berkata Datuk Alasjati kepada Wantilan yang ikut mengantar sampai kebawah pendapa utama.

Seorang penjaga membukakan pintu gerbang sambil berbisik pelan, “Wani piro??”.

“Tiga hari lagi aku akan datang kembali, aku tidak akan melupakanmu”, berkata Wantilan menepuk perlahan pundak penjaga itu.

Hari sudah hampir senja ketika Wantilan dan Sembaga masuk kedalam kelamnya hutan Mading. Sebagai seorang pengembara, mereka tidak salah arah meskipun kegelapan malam didalam hutan begitu pekat. Mereka terus berjalan sambil melihat arah bintang menuju Tanah Perdikan Ki Gede Banyak Wedi.

Bintang subuh bersinar di ufuk timur sebagai tanda pagi akan segera menjelang. Wantilan dan Sembaga telah sampai di ujung batas Tanah Perdikan. Sebuah gardu ronda yang mereka lewati telah sepi ditingalkan perondanya. Wantilan dan Sembaga langsung menuju ke Banjar desa.
Ketika tiba di banjar Desa, dua orang pengawal Tanah Perdikan terbangun melihat kedatangan mereka.

“Biarlah kami menunggu pagi di sini, takut mengganggu tidurnya Ki Gede”, berkata Wantilan kepada para pengawal tanah Perdikan yang sudah mengenalnya.

“Hitung-hitung menggantikan kami, istirahatlah kalian disini”, berkata salah seorang pengawal tanah perdikan yang telah bersiap untuk pulang kerumahnya.

Wantilan dan Sembaga berbaring di panggung Banjar Desa melepaskan rasa penat setelah setengah hari tidak berhenti berjalan di kegelapan malam.

Pagipun telah datang bersama sang fajar matahari memberi kehangatan dan membangunkan seluruh kehidupan di bumi Tanah Perdikan. Suara kicau burung dan tawa para bocah bermain bertelanjang dada di sekitar banjar desa telah membangunkan Sembaga dan Wantilan.

Sambil melambaikan tangannya kepada Kebo Arema, Kertanegara dan Ki Gede yang tengah duduk di pendapa, Wantilan dan Sembaga langsung ke Pakiwan membersihkan diri. Tidak lama kemudian mereka sudah kembali bergabung bersama di pendapa utama.

Setelah meneguk sedikit minuman hangat yang telah disediakan untuknya, Wantilan melaporkan hasil perjalanan mereka. Mulai dari jarak Padepokan Alasjati, pembicaraan mereka tentang jual beli kuda sampai bagian terakhir tentang seorang pekatik.

“Lain waktu aku minta ganti peran, aku jadi pedagang besar dan Wantilan sebagai pembantuku”, berkata Sembaga mengerutu sambil meneguk minuman hangat di depannya.

“Mengapa harus demikian?”, bertanya Kebo Arema kepada Sembaga.
“Aku tidak kerasan berperan sebagai burung pelatuk yang hanya manggut-manggut tidak berkata sepatahpun”, berkata Sembaga yang disambut tawa semua yang mendengarnya sambil memandang Sembaga masih dengan wajah semburat masam.

“Mahesa Amping harus mempersiapkan dirinya sebagai seorang pekatik”, berkata Wantilan.

“Juga pesanan lima ekor kuda “, berkata Kebo Arema sambil memandang Ki Gede Banyak Wedi.

“Lima Ekor kuda akan kupersiapkan”, berkata Ki Banyak Wedi mengerti apa yang menjadi kewajibannya.

“Semoga semua sesuai dengan rencana”, berkata kertanegara yang merasa puas dengan hasil kerja Wantilan dan Sembaga.

“Dari mana Ki Gede mengetahui bahwa disana memang memerlukan beberapa ekor kuda?”, berkata Wantilan kepada Ki Gede.

“Naluri seorang yang memiliki harta mendadak. Pikirkan dirimu sendiri yang tiba-tiba mendadak diberikan sekampil emas, pasti yang terpikir pertama kali adalah kuda yang terbaik yang belum dimiliki oleh orang-orang di sekitarmu”, berkata Ki Gede menjelaskan kepada Wantilan.

“Pemahaman Ki Gede mengenai naluri seorang manusia memang perlu diacungkan sebuah jempol”, berkata Wantilan yang paham setelah mendengar penjelasan dari Ki Gede.

Hari itu juga Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah dipanggil datang ke Tanah Perdikan untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai tugas-tugasnya sebagai seorang pekatik. Sementara Raden Wijaya dapat sebuah tugas sebagai penghubung selama Mahesa Amping bertugas di dalam Pedepokan Alasjati.

“Perkenalkan ini putraku bernama lawe”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya memperkenalkan putranya yang seusia dengan mereka.

“Ajaklah teman-temanmu ini mengenal Tanah Perdikan”, berkata Ki Gede kepada Lawe putranya.

Lawe seorang putra yang sopan dan mudah bergaul. Dalam waktu dekat sudah menjadi akrab. Sebagaimana perintah ayahnya. Lawe membawa Mahesa Amping dan Raden Wijaya berkeliling tanah perdikan.

Bukan main kagumnya Raden Wijaya melihat tata cara pembangunan Tanah Perdikan. Rumah-rumah dibangun tanpa merubah kultur tanah yang ada. Justru bentuk sawah dan rumah mengikuti kultur tanah yang ada. Diatas tanah tinggi, tiang dipendekkan, sementara diatas tanah datar tiang rumahlah yang ditinggikan. Seperti itu pula letak sawah ladang yang di Tanah Perdikan, menyesuaikan asli kultur tanah yang ada. Ternyata Ki Gede Banyak Wedi memegang kuat budaya hutan larangan.

“Yang panjang jangan dipendekkan, yang pendek jangan dipanjangkan, itulah adat budaya hutan larangan yang harus kami pegang kuat-kuat”, berkata Lawe menjelaskan mengenai bentuk rumah dan sawah lading yang ada di Tanah Perdikan sebagaimana yang diajarkan oleh ayahnya penguasa adat Tanah Perdikan.

Hari yang dijanjikan Wantilan akhirnya datang juga.

Lima ekor kuda berjalan menyusuri bulak panjang keluar dari Tanah Perdikan. Tanah dan rumput yang terinjak kaki-kaki kuda masih basah embun. Warna pagi memang masih suram, cahaya fajar belum muncul di timur cakrawala. Pagi memang masih begitu buram, sepi dan dingin. Tapi udara pagi saat itu begitu menegarkan.

Ketika wajah cahaya matahari mulai muncul, lima orang yang berkuda itu wajahnya menjadi nampak jelas. Ternyata mereka adalah Wantilan, Sembaga, Mahesa Semu, seorang prajurit anak buah Ki Rangga Bangkalan dan seorang yang masih muda belia berkuda paling depan yang tidak lain adalah Mahesa Amping.

Hari itu mereka menuju Padepokan Alas Jati sesuai janji Wantilan untuk membawa lima ekor kuda. Tidak ada hambatan dalam perjalanan mereka. Bahkan dengan berkuda jarak perjalanan mereka menjadi lebih pendek lagi.

Matahari sudah mulai mendaki merayapi cakrawala langit biru yang dipenuhi gumpalan awan kapas putih berubah-rubah bentuk seiring desiran angin yang bertiup. Kadang awan putih melukiskan diri sebagai gambar kuda yang berlari, kadang bergambar sebuah bejana air yang pecah terbelah. Semua itu tidak pernah terlepas dari pandangan Mahesa Amping yang berkuda paling depan. Mahesa Amping sepertinya menikmati perjalanannya. Tidak sedikit pun kecemasan terlihat dalam warna wajahnya.

Akhirnya, mereka sudah sampai di depan gerbang regol Padepokan Alasjati.

Seorang penjaga dari panggungan melihat kehadiran mereka. Wantilan melambaikan tangannya kepada penjaga itu yang sudah dikenalnya. Penjaga itu pun membuka pintu gerbang.

“Tunggulah sebentar, aku akan mengabarkan kedatangan kalian kepad Datuk Alasjati”, berkata penjaga itu kepada Wantilan yang memintanya menunggu sebentar. Tidak lama kemudian penjaga itu telah datang bersama Datuk Alasjati dan dua orang cantrik Padepokan Alasjati.

“Kuda yang bagus!!”, berkata Datuk Alasjati memandang lima ekor kuda yang dibawa Wantilan dengan wajah puas.

“Aku tidak pernah mengecewakan langgananku”, berkata Wantilan kepada Datuk Alasjati.

“Apakah kamu juga membawa seorang pekatik”, bertanya Datuk Alasjati memanda empat orang yang datang bersama Wantilan.

“Inilah keponakanku. Mudah-mudahan tidak mengecewakan Datuk”, berkata Wantilan sambil menggandeng Mahesa Amping memperkenalkan kehadapan Datuk Alasjati.

“Namanya Suro”, berkata Wantilan memperkenalkan Mahesa Amping bernama Suro.

Sekilas Datuk Alasjati memandang Mahesa Amping. Kagum melihat tubuh Mahesa Amping yang kekar berotot sebagai tanda bahwa anak itu memang suka bekerja keras.

“Bawa kuda-kuda itu, antar juga anak ini ke biliknya”, berkata Datuk Alasjati kepada dua orang cantriknya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-046

“Mari kita ke pendapa”, berkata Datuk Alasjati mengajak Wantilan ke pendapa untuk menyelesaikan masalah pembayaran mereka.

“Terima kasih, semoga hubungan kita dapat berlanjut”, berkata Wantilan ketika menerima pembayaran atas lima ekor kuda dari Datuk Alasjati.

Datuk Alasjati mengantar Wantilan dan kawan-kawannya sampai dibawah tangga pendapa.

“Aku titip keponakanku Suro”, berkata Wantilan kepada Datuk Alasjati ketika pamitan akan meninggalkan Padepokan Alasjati.
Kepada penjaga sebagaimana janjinya, Wantilan menyelipkan sekeping emas ditangannya. Bukan main gembiranya penjaga itu.

“Terima kasih banyak”, berkata penjaga itu sepertinya tidak percaya akan menerima imbalan sekeping emas.

Dan Wantilan bersama kawan-kawannya telah berjalan jauh meninggalkan Padepokan Alasjati. Sementara Mahesa Amping tinggal seorang diri.

“Mulai hari ini tugasmu mengurus semua kuda yang ada di sini”, berkata seorang penghuni Padepokan sepertinya orang kepercayaan Datuk Alasjati, terlihat dari sikap beberapa penghuni lainnya yang sangat menghormatinya.

Hari pertama itu tidak banyak yang dikerjakan oleh Mahesa Amping selain membersihkan kandang kuda yang sepertinya tidak terurus dengan baik. Dengan cekatan Mahesa Amping membakar sisa sisa rumput kering yang banyak tergeletak dan dibiarkan begitu saja.

Kandang kuda itu sendiri terletak di belakang Padepokan Alasjati. Ada bilik kecil di sebelah kandang itu yang sepertinya tidak pernah dipakai. Di bilik itulah Mahesa Amping dipersilahkan untuk menghuninya sebagai seorang pekatik. Agak ke tengah di belakang gandok itu ada sebuah pintu kecil. Mahesa Amping melihat seorang keluar dan kembali dari pintu itu membawa bumbung bambu panjang untuk mengisinya dengan air. Mahesa Amping menyempatkan dirinya membuka pintu kecil itu. Ternyata di belakang Padepokan itu mengalir sebuah sungai kecil yang jernih.

Hari itu adalah pagi pertama Mahesa Amping sebagai seorang pekatik di Padepokan Alasjati. Pagi masih basah dan dingin. Mahesa Amping terlihat keluar dari Padepokan Alasjati menuntun seekor kuda mencari rumput segar. Ketika matahari pagi sudah mulai merayap naik, Mahesa Amping telah kembali bersama tumpukan besar rumput segar di pundak kuda yang dituntunya.

Tidak ada lagi yang dikerjakan Mahesa Amping ketika kuda-kuda yang dipeliharanya tengah makan rumput segar. Tapi Mahesa Amping sudah terbiasa ringan tangan. Tanpa diminta telah membantu seorang penghuni Padepokan yang tengah membelah kayu untuk bahan bakar.

“Terima kasih , kerjaku jadi cepat selesai”, berkata orang itu gembira karena pekerjaannya telah dibantu.

“Sama-sama paman, sambil menunggu kuda-kudaku selesai makan. Masih banyak waktu sebelum memandikan mereka”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu.

“Jadi kamu pekatik baru itu”, berkata orang itu yang memperkenalkan dirinya bernama Bahar.

“Namaku Suro”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya.

“Bantu aku membawa kayu bakar ini ke dapur”, berkata Bahar meminta Mahesa Amping membawa kayu bakar ke dapur.
Ternyata orang yang memperkenalkan dirinya bernama Bahar adalah seorang tukang masak di Padepokan Alasjati. Mahesa Amping ikut membantu menyalakan api di tungku.

“Datanglah kemari bila perutmu terasa lapar, tidak perlu sungkan”, berkata Bahar sambil memasukkan beberapa batang jagung kedalam bejana besar diatas tungku yang sudah terbakar.

“Aku pamit dulu, kuda-kudaku sudah menunggu untuk dimandikan”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar setelah mengisi perutnya dengan dua buah jagung rebus dan minuman hangat yang diberikan Bahar kepadanya.

“Aku akan menyisakan jagung rebus ini untukmu”, berkata bahar kepada Mahesa Amping sambil meniup api ditungku dengan sebuah puput bambu kecil. Api di tungku itupun menjadi menyala lebih besar.

 “Terima kasih Paman”, berkata Mahesa Amping sambil berjalan keluar dapur kembali ke kandang kuda.

Mahesa Amping tengah memandikan kuda-kudanya. Tinggal satu ekor kuda lagi, maka selesailah tugasnya hari ini. Sementara itu dengan pendengarannya yang tajam, Mahesa Amping dapat menangkap ada suara langkah kaki menuju ke arahnya.

Setelah dekat Mahesa Amping dapat mengenali orang itu, yang ternyata salah seorang yang kemarin bersamanya membawa lima ekor kuda ke kandangnya.

“Antarkan dua ekor kuda ke depan Pendapa, Datuk Alasjati ingin berjalan-jalan dengan kudanya”, berkata orang terus berlalu meninggalkan Mahesa Amping sendiri.

Terlihat Mahesa Amping menuntun dua ekor kuda menuju pendapa. Di pendapa telah menanti Datuk Alasjati dan seorang kepercayaannya. Mahesa Amping menyerahkan kuda-kudanya.

Mahesa Amping masih sempat melihat Datuk Alasjati dan orang kepercayaannya dengan kudanya telah melewati regol pintu gerbang Padepokan.

Sambil menunggu kembali kuda-kudanya, Mahesa Amping meihat-lihat sekitar Padepokan. Selain bangunan utama, di kiri-kanan Padepokan itu berdiri berjejer barak panjang. Memang ada beberapa orang yang pergi berladang jagung di belakang Padepokan. Namun sebagian lagi sepertinya tidak mempunyai kegiatan lain selain duduk-duduk berkumpul. Sangat jauh berbeda dengan keadaan di Padepokan Bajra Seta dimana semua penghuninya bersama saling membantu dan bekerja. Mahesa Amping melihat bahwa sebagian penghuninya adalah orang-orang kasar.

Mahesa Amping mengelilingi Padepokan Alasjati. Tidak kembali ke biliknya, tapi mampir kedapur. Dilihatnya Bahar tengah memipil jagung, melepaskan biji jagung dari tongkolnya. Mahesa Amping ikut membantunya.

“Aku perhatikan, tidak semua penghuni Padepokan ini bekerja di ladang”, berkata Mahesa Amping berharap ada penjelasan dari Bahar.

Bahar memandang Mahesa Amping dengan tersenyum, tapi matanya seperti memandang kekosongan. “Aku dan mereka yang bekerja di sini adalah para budak belian, sementara mereka yang hanya duduk, makan dan bermabuk-mabukan tiap hari adalah penghuni Padepokan ini yang sebenarnya”, berkata Bahar kepada Mahesa Amping.

Matahari sudah jauh tinggi hampir dipuncaknya, Mahesa Amping melihat Datuk Alasjati dan orang kepercayaannya telah kembali bersama kudanya.

Terlihat Mahesa Amping berlari menjemput tali-tali kuda. Datuk Alasjati yang baru kali ini dilayani oleh seorang pekatik tersenyum memandang Mahesa Amping yang tanggap menjura penuh hormat layaknya seorang pekatik sungguhan.

Mahesa Amping membawa dua ekor kuda kembali ke kandangnya, setelah itu kembali membantu Bahar menjemur biji jagung.

 “Tolong kamu antar hidangan ini ke gandok tengah”, berkata Bahar memnta Mahesa Amping mengantar hidangan yang telah disiapkan ke Gandok tengah.

Terlihat Mahesa Amping membawa hidangan ke Gandok tengah. Di pintu Gandok itu ada seorang penjaga. Berdebar jantung Mahesa Amping, berpikir pasti ada orang penting di kamar itu.

“Langsung antar saa ke dalam”, berkata penjaga yang berwajah brewok bertubuh tambur membukakan kunci Gandok.

Pintupun terbuka, Mahesa Amping masuk kedalam Gandok tengah itu dengan perasaan berdebar. Dugaan Mahesa Amping ternyata benar, seorang wanita tengah duduk mendekap kedua kakinya, dagunya tengah disandarkan pada kedua puncak dengkulnya. Pandangan gadis itu seperti kosong, sampai kehadiran Mahesa Amping tidak diperhatikan.

Mahesa Amping meletakkan hidangan di meja yang ada dipojok kamar. Sebelum keluar memandang sebentar gadis didepannya dengan perasaan iba.

“Pangeran Kertanegara titip salam untukmu”, berkata Mahesa Amping perlahan kepada gadis itu yang tidak lain adalah Menik Kaswari.

Mendengar ucapan Mahesa Amping, wajah Menik Kaswari tiba-tiba berubah. Sebelum gadis itu mengucapkan kata-kata apapun, Mahesa Amping memberi tanda agar Menik Kaswari tetap diam.

Mahesa Amping keluar dari kamar itu, seorang penjaga langsung mengunci kembali pintu kamar.

Mahesa Amping kembali ke dapur menemui Bahar menyampaikan bahwa ia telah mengantarkan hidangan ke Gandok tengah tanpa bercerita tetang gadis yang ditemui di gandok itu.

“Aku akan kekandang kuda, menutupi rumput agar tidak terlalu kering”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar.

Sampai datangnya senja tidak ada yang dikerjakan Mahesa Amping selain memilih rumput yang masih segar, memasukkannya di tempat makanan kuda. Beberapa rumput kering dikumpulkan dan dibakar di depan biliknya

Malampun akhirnya datang. Mahesa Amping sudah naik ke pembaringannya. Pikirannya masih tertuju pada Menik Kaswari yang terkurung di Gandok tengah.

“Kasihan gadis itu”, berkata Mahesa Amping seorang diri diri.

Akhirnya rasa kantuk memaksanya tertidur nyenyak setelah seharian bekerja sebagai seorang pekatik.

Pagipun akhirnya datang kembali, ditandai dengan bersahut-sahutannya suara ayam jantan bersama suara kicau burung yang hinggap diatas dahan pohon.

Terlihat Mahesa Amping tengah menuntun seekor kuda lengkap dengan sebuah arit dan garpu di tangannya.

Sengaja Mahesa Amping mencari rumput agak jauh dari Padepokan Alasjati. Ketika terkumpul setumpuk besar ruput segar, Mahesa Amping bermaksud meninggalkan tempat itu untuk kembali. Tapi pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu. Mahesa Amping sengaja tidak menoleh dan terus bekerja.

“Baru punya jabatan seorang pekatik saja sudah begitu sombong”, berkata seseorang dari arah belakang Mahesa Amping. Suara yang sangat dikenalnya.

Mahesa Amping berbalik badan.

Dihadapannya bertolak pinggang dua orang pemuda seusianya yang tidak lain adalah Raden Wijaya dan Lawe. Dibelakang mereka menggendong sebuah keranjang berisi jamur dan akar obat-obatan. Rupanya mereka tengah menyamar sebagai pembantu tabib mencari bahan obat di hutan.

“Kalian jangan terlalu lama disini, katakan bahwa aku telah menemui Menik Kaswari masih dalam keadaan selamat” berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Lawe.

“Dan ini denah Padepokan itu”, berkata Mahesa Amping sambil menggambar denah padepokan diatas tanah sambil menjelaskan apa saja yang digambarkannya. “Disinilah letak pintu belakang”, berkata Mahesa Amping menjelaskan.

Akhirnya mereka sepakat untuk berpisah dan bertemu di tempat yang sama.

“Besok disaat yang sama aku menunggu kalian di sini”, berkata Mahesa Amping sambil menumpuk rumput di atas pundak kudanya.
Mahesa Amping kembali ke Padepokan Alasjati, sementara Raden Wijaya dan Lawe kembali ke Tanah Perdikan.

“Saat ini pasti Mahesa Amping tengah membersihkan kandang kudanya”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe ketika mereka berjalan sudah cukup jauh.

“Ternyata Mahesa Amping dapat memerankannya”, berkata Lawe kepada Raden Wijaya.

Raden Wijaya sepertinya tertawa sendiri, ada rasa kagum kepada Mahesa Amping yang dapat melakukan apapun, mulai dari merawat kuda, sebagai petani disawah sampai sebagai tukang besi sekalipun. Raden Wijaya memang pernah ditunjukkan oleh Mahesa Amping, bagaimana membentuk sebuah pedang menjadi begitu sempurna, ringan,kuat dan tajam.

Tapi lamunan Raden Wijaya sepertinya menjadi buyar ketika didepannya berpapasan dengan dua orang yang pernah di temuinya dalam perjalanannya diatas kapal kayu.

“Sepasang iblis dari Gelang-Gelang”, berkata Raden Wijaya dalam hati mengingat dua orang berjalan mendekatinya berharap tidak mengenalnya.

Tapi harapan Raden Wijaya meleset, justru dua orang itu mengingatnya. Tertawa dan bertolak pinggang didepannya.

 “Tidak kuduga, kita bertemu dengan salah satu bocah sombong”, berkata salah seorang pemuda yang tidak punya luka dipundaknya.

“Kita ingin tahu, apakah ia masih sombong, jauh dari kelompoknya”, berkata pemuda yang satu lagi.

Sementara Lawe yang belum mengenal dua orang kembar ini seperti tertantang.

“Siapa kamu”, berkata Lawe sepertinya tidak gentar kepada sepasang iblis dari Gelang-gelang.

Melihat sikap Lawe, dua pemuda itu menjadi geram. “Ditempat asalku tidak ada yang berani melotot seperti kamu”, berkata keras pemuda yang tidak punya luka dipundaknya kepada Lawe.

“Itu memang di tempat asalku, tidak berlaku disini”, berkata Lawe lebih keras lagi.

Mendengar ucapan Lawe, pemuda itu seperti disiram air panas, darahnya langsung naik sampai keubun-ubun. “Kita habisi dua anak sombong ini”, berkata demikian pemuda yang tidak punya luka dipundaknya langsung menyerang Lawe.

Sementara itu, pemuda yang satu lagi, melihat saudaranya telah mulai menyerang dan telah memilih lawannya. Maka pemuda itu langsung menyerang Raden Wijaya.

Terjadilah perkelahian yang seru di Hutan Mading.
Ternyata Lawe dapat mengimbangi pemuda itu. Membalas serangan dengan serangan balik yang tidak kalah kerasnya. Sementara itu Raden Wijaya belum menunjukkan dirinya, tidak langsung balas menyerang. Dengan kecepatannya bergerak Raden Wijaya banyak mengelak dan menghindar. Masih ingin mengukur sejauh mana tataran ilmu salah seorang pemuda yang dikenal sebagai sepasang iblis dari Gelang-Gelang.

Pemuda kembar yang mempunyai luka dipundaknya itu menjadi begitu bernafsu, menyangka akan dapat lebih cepat mengalahkan lawannya itu yang hanya dapat menghindar. Dengan sangat bernafsu telah meningkatkan tataran ilmunya secepatnya menyelesaikan perkelahiannya.

Raden Wijaya sudah dapat mengukur tataran ilmu lawannya. Dan nampaknya telah bosan bermain. Maka dalam sebuah serangan ia tidak berusaha menghindar, bahkan membentur tangan pemuda itu yang tengah meluncur menghantam leher Raden Wijaya. Dengan melambari kekuatan ditangan kirinya dengan sedikit tenaga cadangannya, menangkis tangan pemuda itu yang telah mengerahkan sepenuh kekuatannya. Maka terjadilah benturan yang luar biasa. Pemuda itu merasakan tangannya seperti remuk membentur benda keras. Raden Wijaya tidak melepaskan kesempatan itu. Selagi pemuda itu menyeringai merasakan sakit yang luar biasa, sebuah tamparan yang dilambari tenaga cadangan yang kuat menghantam rahangnya. Sudah dapat ditebak, pemuda itu merasakan bumi menjadi gelap dan langsung rebah pingsan.

Melihat saudara kembarnya telah dikalahkan oleh lawannya, pemuda yang tengah menghadapi Lawe menjadi agak panik. Tidak menyangka bahwa pemuda belia yang ditemuinya di atas kapal itu yang disangkanya begitu lemah ternyata mempunyai tataran ilmu lebih tinggi melampau orang-orang yang mengalahkan kelompok Hantu Wungu. Sementara pemuda yang dihadapinya juga tidak mudah untuk dikalahkannya.

Mendapat pemikiran seperti itu, maka hanya satu jurus yang harus dikeluarkannya saat itu, tidak lain jurus langkah seribu.

Pemuda itu tiba-tiba saja bersalto dua kali mundur ke belakang, dan langsung melejit menghilang di kegelapan hutan yang lebat.
Ketika melihat lawannya pergi, Lawe bermaksud mengejarnya. Tapi Raden Wijaya mencegahnya.

“Jangan dikejar, orang itu dapat berbuat licik di kelebatan rimba”, berkata Raden Wijaya mengingatkan Lawe untuk tidak mengejar.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-047

Sementara itu, salah satu saudara kembar itu masih tergeletak pingsan. Raden Wijaya dan Lawe segera mengikat tangan dan kakinya. Karena menunggu lama tidak juga siuman, terpaksa Raden Wijaya dan Lawe mengangkat dan membawanya dengan sebatang kayu panjang, persis seperti membawa binatang hasil buruan. Dengan membawa tawanan yang masih pingsan itu, perjalanan Raden Wijaya dain Lawe jadi sedikit terhambat. Menjelang sore, ketika matahari sudah turun setengah dari puncaknya mereka baru sampai di Tanah Perdikan.

Raden Wijaya dan Lawe langsung bercerita tentang berita dari Mahesa Amping. Juga tentang sepasang iblis dari Gelang-gelang.

“Letakkan orang ini di kamar banjar desa, jaga dan awasi dengan ketat”, berkata Ki Gede kepada salah seorang pengawal tanah perdikan.

Ki Gede dan Kebo Arema beserta rombongannya kembali membuat berbagai siasat dan perhitungan sesuai dengan berita terakhir yang diterima dari Mahesa Amping lewat Raden Wijaya dan Lawe.

“Serangan kita harus serempak, dari luar dan dalam”, berkata Ki Gede Banyak Wedi menyampaikan gagasannya. Dengan rinci Ki Gede menyampaikan gagasan dan siasatnya.

“Raden Wijaya dan Lawe harus dapat menyusup ke dalam Padepokan Alasjati, membantu Mahesa Amping melakukan penyelamatan Menik Kaswari”, berkata Ki Gede dengan rinci menyampaikan gagasan dan siasatnya.

“Aku seperti berhadapan dengan seorang panglima perang”, berkata Kebo Arema kagum atas gagasan dan siasat dari Ki Gede.

“Aku pernah belajar dengan seorang ahli siasat paling hebat di Bumi Singasari”, berkata Ki Gede.

“Siapa?”, bertanya Kertanegara penasaran ingin tahu siapa orangnya yang menjadi guru siasat dari Ki Gede.

“Mahesa Agni”, berkata Ki Gede perlahan.

Kertanegara manggut-manggut membenarkan apa yang dikatakan oleh Ki Gede. Melalui ayahnya Kertanegara pernah diceritakan bagaimana dengan kesabaran Mahesa Agni menyusun tahap demi tahap usahanya memenangkan keponakannya Anusapati dari kubu Tohjaya. Termasuk usaha penyelamatan ayahnya dan Ratu Anggabhaya ketika masih kecil dimana Ki Gede Banyak Wedi ikut didalamnya.

“Penyerangan kita lakukan di saat hari menjelang fajar”, berkata Ki Gede mumutuskan waktu yang tepat untuk melaksanakan siasatnya.

“Serangan fajar”, berkata Kebo arema menyetujui gagasan dan siasat itu.

 “Aku akan membawa sepuluh pengawal tanah perdikan yang terbaik”, berkata Ki Gede.

“Kapan kita lakukan serangan ini?”, bertanya Kertanegara yang sepertinya tidak sabar untuk segera mengeluarkan Menik Kaswari dari Padepokan Alasjati.

“Lebih cepat lebih baek”, berkata Ki Gede.

Dan malam pun kembali datang. Sebagian rombongan yang masih didalam hutan telah dipanggil untuk beristirahat di Tanah Perdikan. Mereka adalah Mahesa Semu, Bhaya, Ki Rangga Bangkalan serta lima orang prajuritnya.

Sang Dewa Malam masih berjaga menyelimuti Tanah Perdikan dengan kegelapannya. Sementar itu Sang Fajar sepertinya sudah begitu jemu menunggu saat dan waktu bertahta di atas cahayanya. Akhirnya penantian itu datang juga, seiring dengan berjalannya sang waktu.

Sementara itu, jauh sebelum fajar menyingsing. Dua ekor kuda sudah jauh keluar dari Tanah Perdikan. Mereka adalah Raden Wijaya dan Lawe yang bertugas sebagai penghubung, membawa berita penting untuk disampaikan ke Mahesa Amping.

Kuda mereka seperti terbang mengejar waktu.

Sang Surya sudah merayap mengintip bumi yang masih basah oleh embun pagi. Seperti hari kemarin, Mahesa Amping tengah menyabit rumput segar untuk makanan kudanya. Mengikat rumput segar dalam satu ikatan dan menumpuknya di atas kiri kanan kudanya. Masih ada waktu menunggu Raden Wijaya dan Lawe.

Yang ditunggu akhirnya datang juga. Raden Wijaya dan Lawe telah datang tepat waktu. Mereka datang berjalan kaki setelah menyembunyikan kuda-kudanya di tempat yang aman dan tidak mudah terlihat.

“Kalian datang tepat waktu”, berkata Mahesa Amping tersenyum menyambut kedatangan Raden Wijaya dan Lawe.

Raden Wijaya dan Lawe langsung menyampaikan beberapa rencana yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan dan membawa keluar Menik Kaswari dari Padepokan Alasjati.

“Peran utama kita adalah menyusup dari dalam”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping

“Dan menyalakan tungku api peperangan”, berkata Lawe menambahkan.

“Serangan fajar”, berkata Mahesa Amping mengerti apa yang harus dilakukan.

“Sampai ketemu lagi wahai pekatik muda”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping ketika mereka berpisah sambil melambaikan tangannya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-048

Seperti kemarin, Mahesa Amping melakukan kegiatan sebagaimana biasa. Membersihkan kandang kuda, memandikan kuda serta pekerjaan yang berhubungan dengan tugas seorang pekatik. Ketika tidak ada yang dikerjakan, Mahesa Amping ikut membantu Bahar di dapur.

Siang itu Mahesa Amping kembali diminta mengantar hidangan ke Gandok tengah. Seperti hari kemarin, penjaga pintu gandok itu menyuruh Mahesa Amping langsung masuk. Tidak seperti hari kemarin dimana Mahesa Amping melihat Menik Kaswari tengah duduk memeluk lututnya tidak bergairah hidup. Tapi kali ini ketika Mahesa Amping masuk, Menik Kaswari langsung memberondong dirinya dengan begitu banyak pertanyaan.

“Pangeran Kertanegara sudah ada di Pulau Madhura?”, bertanya Menik Kaswari kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping memberi tanda agar Menik Kaswari berbicara pelan, jangan sampai diketahui oleh penjaga di luar.

“Doakanlah, Pangeran Kertanegara hari ini dapat menyelamatkan Mbakyu Menik”, berkata perlahan Mahesa Amping kepada Menik Kaswari.

Menik Kaswari sepertinya belum puas dengan sedikit jawaban dari Mahesa Amping.

“Maaf, penyamarku bisa terbongkar”, berkata Mahesa Amping sambil dengan cepat meletakkan hidangan di meja dan langsung keluar dari kamar.

Mahesa Amping nampak melepas nafasnya merasa lega ketika keluar dari gandok tengah. Dari sikapnya, kelihatan penjaga yang berwajah brewok bertubuh tambur itu tidak mencurigainya.

Ketika senja telah turun, Mahesa Amping masih di kandang kuda. Memilih rumput yang masih segar untuk makanan kudanya. Sementara yang terlanjur kering dikeluarkan, ditumpuk dan dibakar.

Malam perlahan datang menggulung lembaran senja yang buram kemerahan menjadi warna kelabu. Di ufuk barat masih tersisa seberkas warna merah yang akhirnya terus pudar menghilang.

Dan malam pun telah memayungi langit di atas Padepokan Alas jati. Beberapa penghuni mengisi malam yang dingin dengan bersenda gurau sambil meminum tuak. Beberapa lagi terlihat sudah naik ke pembaringannya.

Malam itu mahesa Amping sengaja datang menemani Bahar yang belum tidur.

“Aku ingin membuat minuman wedang sare untuk teman berbincang”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar.

“Buatlah yang lebih, kadang ada saja penghuni Padepokan ini yang datang minta dibuatkan minuman hangat”, berkata Bahar.

“Jadi pintu dapur ini tidak dikunci sepanjang malam?”, bertanya Mahesa Amping menyelidik.

 “Ya, sepanjang malam. Agar siapapun yang masih lapar dapat masuk tanpa mengganggu tidurku”, berkata Bahar tanpa prasangka apapun. Tidak menduka kalau Mahesa Amping hanya memastikan apakah pintu dapur terkunci di malam hari.

“Ruang dapur ini hangat, tidak seperti bilikku angin sepertinya menusuk tulang”, berkata Mahesa Amping sambil menikmati minuman hangatnya, wedang sare bersama gula batu.

“Itulah sebabnya, aku sudah tidur jauh sebelum malam”, berkata Bahar kepada Mahesa Amping.

“Kalau begitu, kehadiranku mengganggu waktu tidur Paman?”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar.

“Itu kan bila sendiri. Kalau ada yang menemani aku bisa tidur sampai jauh malam”, berkata Bahar kepada Mahesa Amping.

Dan ternyata Bahar memang teman berbincang yang menyenangkan. Ada saja yang dapat diceritakan dan dibincangkan.

Malam pun terus berlalu bersama berputarnya waktu. Suara binatang malam terdengar dari dapur yang terbuat dari bilik bambu. Dan angin dingin pun kadang menyergap tubuh mereka.

Malam menjadi begitu sepi dan sunyi.

“Aku pamit dulu, mataku sudah berat”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar mohon diri kembali ke biliknya.

Mahesa Amping keluar dari dapur, memandang langit yang kelam bertabur bintang. Batang-batang pohon besar di samping Padepokan Alasjati tergambar seperti sosok raksasa hitam berjajar. Hanya suara gesekan daun dan cabang pohon yang terdengar ketika desir angin bertiup keras.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-049

Mahesa Amping memang belum mengantuk, tapi tetap masuk ke biliknya. Semetara waktu sepertinya begitu lambat berjalan merayap.

Sementara itu langit di atas Padepokan Alasjati telah berubah kelam berawan tebal tanpa satu pun bintang hadir di sana.
Sayup-sayup terdengar tiga kali suara anak katak menjerit ditelan seekor ular. Berselang kemudian tiga kali suara kutilang jantan kehilangan betinanya.

“Raden Wijaya dan Lawe sudah ada di belakang Padepokan”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri dari dalam biliknya.
Nampak Mahesa Amping keluar dari biliknya menyelinap membuka pintu belakang Padepokan Alasjati. Dengan pandangannya yang tajam Mahesa Amping melihat Raden Wijaya dan Lawe muncul dari kegelapan malam. Mahesa Amping memberi tanda agar Raden Wijaya dan Lawe menyeberang.

“Masuk dan bersembunyilah di bilikku”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Lawe ketika kedua kawannya itu sudah berada di dekatnya.

Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe menyelinap masuk bilik.
Awan hitam yang menggelantung diatas Padepokan Alasjati ternyata telah bergeser ditiup angin malam berpindah ke tempat yang jauh. Warna langit pun menjadi cerah, bintang-bintang pun berdatangan menaburi warna langit malam.

Kerlip Bintang kejora sudah mulai terlihat di ujung timur.
Di kegelapan malam, di depan Padepokan Alasjati, jauh dari jarak lemparan lembing dan anak panah beberapa orang terlihat berdiri dalam jarak yang teratur. Setiap orang terlihat membawa dua buah batang bambu, dari setiap batang bambu itu berdiri dua buah buah obor yang belum dinyalakan.

“Nyalakan !!”, terdengar suara keras penuh wibawa yang tidak lain adalah suara Ki Gede Banyak Wedi memberi perintah.
Serentak setiap orang menyalakan keempat obor yang dipegang dikedua kiri dan kanan tangannya.

Nyala puluhan obor itu memang sangat menggetarkan siapapun yang melihatnya dari jauh di kegelapan malam. Seorang penjaga dari panggungan Padepokan Alasjati telah melihatnya, matanya yang sudah terkantuk berat sepertinya hilang seketika. Dengan sigap langsung memukul kentongan kayu tanda bahaya.

Gegerlah seluruh penghuni Padepokan Alasjati melihat puluhan obor musuh telah siap di depan Padepokan. Semua telah mempersiapkan dirinya menghadapi apapun yang terjadi.

Bersamaan dengan itu, tiga sosok tubuh telah menyelinap masuk lewat pintu dapur yang tidak terkunci. Terus masuk ke ruangan tengah. Mereka adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe yang telah ditugaskan menyelinap dari dalam Padepokan Alasjati untuk menyelamatkan Menik Kaswari.

Ternyata Datuk Alasjati orang yang selalu waspada. Ditengah kegemparan akan datangnya musuh, masih sempat memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk menjaga Menik Kaswari di dalam Gandok tengah.

Seperti seekor harimau yang mengunci langkah buruannya. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe telah membagi lawannya masing-masing.

Dengan gerakan yang begitu cepat dan mendadak mereka telah melompat berdiri di depan tiga orang penjaga yang kaget tidak menduga musuh sudah ada di depannya. Keterkejutan inilah yang dipergunakan Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe untuk melakukan sebuah serangan mematikan.

Mahesa Amping dengan kecepatan yang luar biasa menyerang seorang penjaga yang telah dipilihnya. Naas nasib penjaga itu, tanpa sempat melihat dari mana datangnya sebuah tamparan tangan yang keras menghantam tepat diurat tengkuknya, penjaga itu langsung roboh lemas dan pingsan.

Raden Wijaya telah berbuat yang sama, seorang penjaga tiba-tiba saja telah merasakan samping tengkorak kepalanya dihantam oleh tangan yang bertenaga. Seketika penjaga itu seperti mendengar suara mendenging di telinganya, pandangannya menjadi kabur. Dan penjaga itu pun roboh ketika sebuah pukulan tepat mengenai urat mematikan di tengkuknya.

Pada saat yang bersamaan pula, Lawe telah menyerang seorang penjaga yang sudah dipilihnya. Sambil melompat Lawe menerkam lawannya dengan gerakan tangan membacok ke arah tengkuk kanannya. Seperti naluri yang sudah mendarah daging, penjaga itu bukan orang yang lemah dalam kanuragan. Maka tangan kanannya langsung begerak menangkis serangan itu. Tetapi gerakan Lawe ternyata sebuah tipuan, sebelum tangan lawannya menyentuh bacokan tangan kosongnya, sebuah belati ditangan Lawe telah menyelinap langsung menembus jantung lawannya. Penjaga itu pun roboh dengan mata melotot tanpa berkedip.

Mahesa Amping yang sempat melihat bagaimana Lawe merobohkan lawannya sekejab merasa terkejut. Sepertinya tidak menyangka Lawe yang dikenalnya begitu santun dan lemah lembut telah melakukan kekerasan, membunuh lawan tanpa berkedip. Tapi Mahesa Amping hanya menyimpan perasaan itu dalam hati, merasa maklum bahwa inilah sebuah peperangan. Membunuh atau dibunuh.

Mahesa Amping segera mengubur perasaannya, langsung membuka selarak palang pintu yang sengaja dibuat di luar.

“Ikutlah kami Mbakyu Menik, kita harus secepatnya keluar dari sini”, berkata Mahesa Amping kepada Menik Kaswari yang memang sudah tidak tidur lagi ketika mendengar suara kentongan tanda bahaya berbunyi berkali-kali.

“Kamu pengantar hidangan tadi siang itu?”, berkata Menik Kaswari memperhatikan wajah Mahesa Amping yang terlihat jelas dari cahaya klenting minyak jarak dipojok kamar yang mulai redup.
“Benar, mari segera kita keluar dari tempat ini”, berkata Mahesa Amping mengajak Menik Kaswari keluar bersamanya.

Tanpa rintangan yang berarti, Mahesa Amping bersama Menik Kaswari, Raden Wijaya dan Lawe keluar dari bangunan utama Padepokan Alasjati lewat pintu dapur. Mereka langsung menyelinap menuju pintu belakang Padepokan Alasjati.

Terlihat mereka tengah menyeberangi sungai kecil. Ternyata Raden Wijaya dan Lawe telah sengaja mempersiapkan empat ekor kuda tidak begitu jauh dari sungai kecil. Dengan empat ekor kuda itu mereka telah menyelinap menghilang dikegelapan.

Sebelum jauh dari padepokan Alasjati, lawe masih ingat tugas yang harus dilaksanakannya, yaitu melepas panah api sanderan.

Panah api sanderan itu memang sudah ditunggu-tunggu. Sebagai tanda bahwa sandera telah keluar dari kurungan. Panah api sanderan itu juga sebagai tanda bahwa serangan fajar akan segera dimulai.

Puluhan cahaya obor masih berdiri terlihat dari jauh sebagai pasukan yang tengah bersiap. Puluhan obor itu memang tidak bergerak karena menancap dan berdiri ditanah. Yang bergerak adalah orang-orang yang tidak lagi memegang obor. Mereka bergerak dengan cepat menuju pintu gerbang Padepokan Alasjati.

Sepuluh orang dengan cepat telah menyelinap dikegelapan malam dan semak-semak yang tinggi sudah merapat di dinding pagar Padepokan mendekati pintu gerbang.

Dari tempat yang tak terlihat, Kertanegara telah mengerahkan pukulan jarak jauhnya. Dari tangannya meluncur kilatan api menerjang pintu gerbang yang kokoh dari batang kayu yang tebal.

Tiba-tiba saja terdengar suara yang keras. Pintu gerbang seperti didorong benda yang ratusan kati beratnya langsung terbuka terbelah dua. Pada kesempatan itulah sepuluh orang telah masuk kedalam Padepokan Alasjati.

“Bunuh mereka semua”, berkata Datuk Alasjati ketika melihat hanya sepuluh orang yang masuk.

Tapi kesepuluh orang yang telah masuk kedalam Pedepokan Alasjati bukan orang sembarangan. Mereka adalah tiga orang cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta,dua orang pelaut ulung Kebo Arema dan Bhaya bersama Ki Gede Banyak Wedi dan Ki Rangga Bangkalan yang dibantu oleh tiga orang prajurit Singasari yang berpengalaman membuat para penghuni Padepokan Alasjati seperti kumpulan semut yang kedatangan bola api. Terlempar jatuh siapapun yang berani mendekat.

Belum lagi kegentaran mereka mereda, tiba-tiba saja datang tiga belas orang langsung masuk dari pintu gerbang yang sudah terbuka terpecah dua. Kertanegara bersama dua belas orang dibelakangnya langsung datang menyerang.

Para penghuni Padepokan yang berada diposisi membelakangi pintu gerbang nasibnya memang jelek, mereka seperti terjepit oleh dua bola api yang tidak bisa lagi dielakkan.

Sebentar saja hampir seperempat penghuni Padepokan Alasjati sudah berkurang.

Datuk Alasjati menggeram marah, darahnya telah naik hampir ke ubun-ubunnya. Matanya memandang tajam kearah seorang pemuda dengan cambuk di tangan. Hampir seluruh gerakannya menimbulkan korban yang langsung terlempar roboh. Kadang terkena ujung cambuknya, atau kadang lewat tendangannya. Bukan main marahnya Datuk Alasjati melihat anak buahnya jatuh roboh terlempar.

“Akulah lawanmu anak muda”, berkata Datuk Alasjati langsung menghadang Kertanegara.

“Siapapun lawanku, aku sudah siap”, berkata Kertanegara telah bersiap menyerang lawannya yang baru datang menghadangnya.
Kertanegara langsung melecut cambuknya ke udara. Seketika dada Datuk Alasjati sepertinya terhentak.

“Siapakah dirimu anak muda, gerakan cambukmu mengingatkan aku pada seseorang bernama Empu Dangka”, berkata Datuk Alasjati sambil melambari dirinya dengan kekuatan yang dapat mengimbangi daya hentak cambuk Kertanegara.

“Aku muridnya,” berkata Kertanegara masih bersiap menghadapi orang di depannya yang menurutnya berilmu tinggi karena hentakan cambuknya sepertinya tidak berpengaruh.

“Aku pemimpin Padepokan ini, aku mau tahu apakah murid Empu Dangka sudah mewarisi seluruh ilmunya”, berkata Datuk Alasjati.

“Ternyata aku berhadapan dengan Datuk Alasjati”, berkata Kertanegara dengan mata penuh kebencian. “Akulah orang yang kamu tunggu selama ini. Siapapun orang yang telah mengupahmu, aku tidak akan menyerahkan kepalaku”.

“Kebetulan sekali, ternyata kamu Pangeran itu, jagalah kepalamu”, berkata Datuk Alasjati sambil menyerang dengan tombak panjangnya langsung mengarah kepala Kertanegara. Sebuah serangan yang cepat.

Dengan kecepatan yang sama, Kertanegara mengelak mundur ke belakang samba melecutkan cambuknya yang panjang dengan gerak sendal pancing. Datuk Alasjati kaget bukan kepalang melihat serangannya dapat dielakkan dengan begitu mudah serta langsung balik dirinya di serang.

“Gila!!”, berkata Datuk Alasjati sambil mundur jauh kebelakang.
“Ini baru sebuah awal, Datuk”, berkata Kertanegara sambil tersenyum memegang ujung cambuknya.

“Jangan cepat berbangga”, berkata Datuk Alas jati sambil memutar kencang tombak panjangnnya menerjang Kertanegara.

Dan pertempuran antara Kertanegara dan Datuk Alsjati menjadi begitu seru. Sambil bertempur terus menelitik sampai sejauh mana tataran ilmu lawan. Datuk Alasjati terus meningkatkan tataran kekuatan ilmunya menghadapi daya hentak cambuk Kertanegara yang terus meningkat menyesakkan dada.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-050

Tidak disengaja pertempuran antara Datuk Alasjati dan Kertanegara telah terpisah dari pertempuran lainnya. Daya hentak cambuk Kertanegara memang luar biasa. Hentakan itu mempengaruhi siapapun yang mendekat. Siapapun berusaha menyingkir menjauhi pertempuran itu, dada mereka terasa pecah. Hanya Datuk Alasjati yang mampu bertahan mengimbangi serangan cambuk Kertanegara yang menggetarkan itu.

Sementara itu jumlah para penghuni Padepokan Alasjati terus menyusut. Kemampuan lawan mereka ternyata jauh melampaui kemampuan yang mereka miliki. Hingga akhirnya hanya tinggal sepuluh orang yang masih berdiri bertahan.

“Menyerahlah”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada sepuluh orang penghuni Padepokan Alasjati.

Para penghuni Padepokan Alasjati ternyata dapat berhitung dengan baik. Mereka merasakan tataran ilmu mereka dibawah para penyerangnya. Ditandai dengan cepatnya jumlah mereka terus berkurang meski pada awalnya jumlah mereka sebanding. Meski ada juga lawan mereka yang cidera, tapi itu dapat dihitung dengan jari.Kekuatan lawan tidak pernah berkurang.

“Cepat menyerah”, berkata kembali Ki Gede Banyak Wedi dengan suara yang mengguntur.

“Kami menyerah”, berkata salah seorang dari mereka sambil melempar senjatanya yang diikuti oleh semua kawan-kawannya.

Seluruh senjata telah diamankan. Seluruh penghuni Padepokan Alasjati yang tersisa sepuluh orang langsung diikat sebagai tawanan yang tidak berdaya.

Sementara itu pertempuran antara Datuk Alasjati dan Kertanegara masih terus berlangsung. Datuk Alasjati masih terus meningkatkan tataran ilmunya mencoba melambari kekuatan dirinya menahan daya hentak cambuk Kertanegara yang terus meningkat. Datuk Alasjati mencoba mengurangi daya hentakan itu dengan melambari dirinya dengan hawa panas lewat sambaran tongkatnya yang berputar kencang. Tapi dihadapan Kertanegara hawa panas itu seperti tidak berpengaruh. Kertanegara langsung menawarkan hawa panas dengan hawa dingin yang kasat mata keluar dari dalam dirinya. Serangan hawa panas itu seperti tidak berarti, bahkan Datuk Alasjati merasakan dirinya seperti menggigil terserang dingin yang kasat mata keluar dengan sendirinya dari tubuh Kertanegara.

Akibatnya memang sangat fatal. Disamping merasakan dadanya yang terasa sesak ketika menghindar dari sentakan cambuk Kertanegara yang terus mengejarnya, Datuk Alasjati juga meresakan serangan hawa dingin yang sepertinya menyerang menusuk-nusuk tulangnya.

Datuk Alasjati telah berusaha meningkatkan tataran ilmunya pada puncaknya, tapi daya hentak yang menyesakkan dadanya serta hawa dingin yang menusuk-nusuk dirinya tidak juga berkurang. Pucat wajah Datuk Alasjati, tataran ilmu Kertanegara ternyata sukar sekali diukur sampai dimana puncaknya. Timbul rasa penyesalannya mengapa mau menerima tawaran untuk membunuh Pangeran Kertanegara yang dikiranya begitu mudah dapat dilakukannya.

“Menyerahlah”, berkata Kertanegara yang sudah dapat mengendalikan dirinya untuk tidak menuruti kebenciannya melumatkan orang yang telah mengurung Menik Kaswari yang dilihatnya sudah pucat pasi tidak berdaya.

Sebenarnya sudah banyak kesempatan untuk merobohkan lawannya. Tapi Kertanegara tidak juga melakukannya, hanya untuk mengukur sampai sejauh mana tataran ilmu Datuk Alasjati dapat bertahan, dan menekannya agar menyerah. Kertanegara berharap Datuk Alasjati dapat dijadikan alat penghubung, siapa dibalik semua ini yang menginginkan nyawanya sebagai sebuah hadiah.

“Aku menyerah”, berkata Datuk Alasjati yang nampaknya sudah berputus asa. Menyadari bahwa Kertanegara masih bermurah hati tidak membinasakannya. “Terima kasih telah memperpanjang umurku”, berkata kembali Datuk Alasjati sambil melempar tombak panjangnya di tanah.

Dengan mudah datuk Alasjati menyerahkan kedua tangannya untuk diikat. Dikumpulkan bersama anak buahnya sebagai tawanan.

Ditempat yang lain, Mahesa Amping, Raden Wijaya, Lawe dan Menik Kaswari telah semakin jauh dari Padepokan Alasjati.

Sementara itu Matahari pagi sudah bersinar terang. Cahayanya sudah masuk lewat cabang dan daun pepohonan Hutan Mading.

“Tugas kita tanpa rintangan yang berarti”, berkata Raden Wijaya merasa sebentar lagi sudah sampai di Tanah Perdikan.

“Apakah seharusnya aku kembali ke Padepokan Alasjati, mungkin tenagaku dibutuhkan di sana”, berkata Lawe minta pertimbangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Jangan!”, berkata Mahesa Amping. ”Ki Gede pasti punya pertimbangan lain mengapa tugas ini harus kita bertiga yang melaksanakannya”, Lanjut Mahesa Amping.

“Jarak hutan Mading ke Tanah Perdikan sudah begitu dekat, kupikir cukup kalian berdua mendampingi Mbakyu Menik Kaswari sampai di tujuan”, berkata Lawe menyampaikan pendapatnya.

“Apapun perintah pimpinan harus kita patuhi”, berkata Mahesa Amping kepada Lawe mengingatkan. Meski sebenarnya bukan itu yang dipikirkan Mahesa Amping. Panggraitanya yang tajam telah menangkap sesuatu akan terjadi dalam perjalanan mereka.

Apa yang terlintas dalam “pengabaran” bathin yang diterima oleh Mahesa Amping ternyata memang sepertinya akan terjadi. Di depan mereka terlihat tiga orang sepertinya sengaja menunggu mereka.

“Berhati-hatilah”, berkata Mahesa Amping sambil meminta Menik Kaswari berjalan di belakang mereka.

Ketika mereka sudah menjadi semakin dekat dengan tiga orang yang sepertinya sengaja menunggu mereka. Lawe dan Raden Wijaya mengenal salah satu dari tiga orang itu yang tidak lain salah seorang pemuda kembar yang pernah menjadi lawannya.

“Dua orang itulah yang membawa Prastawa”, berkata pemuda itu yang namanya sendiri adalah Praskata kepada seorang di sebelahnya yang sudah berumur yang tidak lain adalah gurunya sendiri.

Orang tua itu adalah seorang yang sangat di segani di Gelang-gelang. Guru dan sekaligus pemimpin Padepokan Gelang-gelang, sebuah Padepokan yang paling tua di daerah Gelang-gelang. Konon nama daerah Gelang-gelang sendiri awalnya berasal dari nama Pedepokan itu yang memang mempunyai sebuah senjata yang menjadi ciri khas dari para cantriknya yaitu berupa senjata gelang-gelang. Sebuah senjata yang berbentuk lingkaran sebesar lingkaran yang dapat dikalungkan di leher orang dewasa. Mata pisau tajamnya ada pada bagian luar lingkaran. Sebuah senjata yang sangat berbahaya apalagi dipegang oleh ahlinya.

Guru sepasang iblis dari gelang-gelang bernama Empu Gelian, menatap geli tertawa kepada Raden Wijaya dan Lawe sebagaimana telah ditunjuk oleh Prastaka muridnya.

“Dua bocah inikah?”, berkata Empu Gelian tertawa tidak menyangka bahwa orang yang mereka cari ternyata dua anak muda yang masih belia.

“Biarlah kami lewat, kami ada urusan yang sangat penting”. Berkata Mahesa Amping yang sudah turun lebih dahulu dari kudanya.

“Kalian tidak akan bisa lewat dari sini, karena nyawamu cuma sampai di sini”, berkata Empu gelian menggertak.

“Hanya Gusti Yang Maha Kuasa yang berhak mengambil setiap nyawa”, berkata Mahesa Amping dengan tenang, tidak ada sedikit pun kegentaran terlihat diwajahnya.

Melihat anak muda didepannya tidak mudah digertak dengan kata-kata, Empu Gelian melepas dua buah gelang dari lehernya. Kilau tajam mata pisau yang melingkar itu memang mempunyai perbawa yang menggiriskan siapapun yang memandangnya. Tapi tidak bagi Mahesa Amping yang tidak menjadi gentar melihat orang tua didepannya yang sepertinya sedang pamer senjata pusaka.

“Kamu belum kenal siapa aku”, berkata Empu Gelian dengan wajah geram melihat Mahesa Amping tidak sedikitpun menampakkan wajah gentarnya.

“Aku belum tahu siapa sebenarnya ki sanak orang tua”, berkata Mahesa Amping masih belum berubah, masih tetap tenang sebagaimana awalnya.

“Di tempat asalku, orang-orang menjuluki diriku sebagai Setan tertawa”, berkata Empu Gelian.

Lawe dan Raden Wijaya tidak mampu menahan ketawanya. Sementara Mahesa Amping dapat menahan rasa gelinya, hanya tersenyum sedikit mendengar julukan orang tua didepannya.

Rasa marah Empu Gelian sepertinya semakin memuncak, melihat tiga orang anak muda belia di depannya bukannya gentar tapi malah tertawa.

“Tahukah kenapa julukanku Setan tertawa??, karena aku sering membunuh musuhku dengan tertawa”, berkata Empu Gelian sambil berusaha menahan kemarahannya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-01-051

“Kalau begitu, mulai hari ini aku memberi julukan baru untukmu, Setan Mati ketawa” berkata Lawe dari belakang Mahesa Amping sambil masih belum dapat menghentikan kegeliannya.

“Kupecahkan mulutmu”, berkata Empu Gelian sambil mengangkat sebuah gelang ke atas tidak dapat lagi menahan kemarahannya.

“Melihat sikapmu, aku akan menambahkan julukan untukmu, Setan Marah Mati ketawa”, berkata Mahesa Amping menambahkan minyak karena dilihatnya orang tua itu matanya sudah merah terbakar amarah.

Tanpa kata-kata, gelang di tangan Empu Gelian yang sudah terangkat tinggi langsung menghantam kepala Mahesa Amping yang ada di dekatnya. Dengan tenang Mahesa Amping surut ke belakang sedikit. Dan dengan kecepatan yang tidak diduga-duga, gerakannya seperti tidak terlihat oleh pandang mata biasa, telah menyentil gelang Empu Gelian dengan sentilan jari telunjuknya.

Ting !!

Bukan main kagetnya Empu Gelian melihat gerakan Mahesa Amping yang begitu cepat, sementara tangannya dirasakan sedikit tergetar karena Mahesa Amping tidak sekedar menyentil, tapi telah sedikit menyalurkan tenaga cadangannya ke ujung telunjuk jarinya.

“Jangan merasa gagah dengan merasa sedikit kemampuan”, berkata Empu Gelian sambil mengayunkan mendatar gelang ditangan satunya.

Wuss !!

Terdengar angin dari gelang itu yang nyaris merobek perut Mahesa Amping yang dengan cepat surut sedikit ke belakang namun tidak langsung melakukan serangan balik, tapi berdiri siap menghadapi serangan selanjutnya.

Terperanjat Empu Gelian mendapati dua serangannya lolos tanpa arti, sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah bahwa anak muda di depannya telah mampu menguasai tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, baik dalam kecepatan gerak maupun dalam menyalurkan kekuatan dari dalam diri.

Maka, serangan selanjutnya dari Empu Gelian merupakan serangan yang penuh perhitungan dan juga penuh tipuan. Sebuah serangan beruntun menerjang Mahesa Amping. Hanya dengan kemampuan gerakannya yang cepat Mahesa Amping masih dapat mengelak serangan demi serangan.

Mahesa Amping telah mengeluarkan belati pendeknya yang selalu dibawa terselip tersembunyi dibalik kainnya. Mahesa Amping menyadari bahwa sangat berbahaya terus-menerus mengelak. Empu Gelian lawannya itu ternyata begitu berpengalaman, gerakannya begitu kaya dengan banyak tipuan yang membahayakan jiwa Mahesa Amping. Akhirnya mahesa Amping terlihat tidak hanya mengelak, tapi langsung membalas serangan Empu Gelian tidak kalah berbahayanya.

Pertempuran pun menjadi semakin dahsyat dan seru. Mahesa Amping dan Empu Gelian terus meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis, masing-masing masih mencoba menelitik dan menjajagi sejauh mana tingkat kemampuan ilmu lawannya. Suara benturan dua senjata pun sering tidak dapat lagi dihindari. Empu Gelian mendapat keuntungan dan kelebihan dengan dua senjata gelangnya. Tapi Mahesa Amping mampu mengimbanginya dengan tidak hanya kecepatan geraknya, tapi juga kemahirannya merubah genggaman belati pendek ditangannya. Kadang belati itu digenggam dalam gerak menikam, kadang belati pendek itu berubah dalam posisi genggaman tangan menusuk dan mengayun.

Pertempuran antara Mahesa Amping dan Empu Gelian menjadi semakin menakjubkan mata, semakin cepat. Menik Kaswari yang menyaksikan langsung pertempuran itu sepertinya hanya melihat dua bayangan hitam saling berkelebat. Kadang terdengar suara dua senjata beradu, kadang hanya suara senjata membelah angin. Wuss !!!. Berdebar-debar perasaan Menik Kaswari tidak karuan. Menik Kaswari hanya berharap, semoga Mahesa Amping yang keluar hidup-hidup dari pertempuran maha dahsyat yang baru pertama kalinya disaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri.

Sementara Lawe dan Raden Wijaya terus mengawasi dua orang di depannya, takut bila saja mereka bertindak pengecut membantu pertempuran itu.

Sambil mengawasi dua orang di depannya, Lawe menyaksikan pertempuran itu sebagai pertempuran yang mengagumkan. Tidak dapat langsung menilai, siapakah yang dapat keluar sebagai pemenangnya. Karena keduanya begitu sama-sama sempurna menguasai senjatanya. Sama-sama dapat bergerak dengan cepat. Lawe hanya dapat berharap, Mahesa Amping dapat keluar mengakhiri pertempuran itu sebagai pemenang.

Hanya Raden Wijaya sepertinya yang dapat menyaksikan pertempuran dengan hati yang tenang.

“Mahesa Amping masih bermain-main”, berkata Raden Wijaya kepada dirinya sendiri. Meskipun ia sendiri melihat kekayaan pengalaman Empu Galian dengan gerakannya yang penuh tipu daya membahayakan. Tapi dirinya yakin, Mahesa Amping dapat mengatasinya. Dan Raden Wijaya memang melihat Mahesa Amping masih belum menunjukkan tataran ilmunya yang sebenarnya.

Sementara itu Prastaka dan saudara perguruaannya berdebar-debar tidak menyangka ada yang dapat mengimbangi ilmu gurunya. Dan orang itu masih begitu muda belia.

“Apakah anak muda itu juga berada di atas kapal kayu ?”, bertanya saudara seperguruannya kepada Praskata.

“Aku melihatnya ada bersama di Kapal kayu, bahkan anak itu bermaksud mengejarku”, berkata Praskata kepada saudara seperguruannya.

“Dari Padepokan mana mereka sesungguhnya”, berkata saudara seperguruannya sambil matanya tidak lepas sedikitpun dari pertempuran di depan matanya yang sangat menggetarkan hatinya. Sebagai murid tertua, baru pertama kali ini melihat gurunya bertempur begitu lama dan mendapatkan lawan yang seimbang.

Pertempuran masih berlangsung . Dan memang Mahesa Amping sebagaimana yang dilihat Raden Wijaya masih belum menuntaskan tataran ilmunya pada puncaknya. Mahesa Amping hanya mengimbangi serangan-serangan Empu Gelian selapis lebih sedikit. Begitulah mereka selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Empu Gelian telah mengeluarkan segenap kemampuannya. Angin serangan senjatanya benar-benar menggiriskan, hawa panas mampu merobek tubuh lawan meski senjata gelangnya belum dan masih jauh dari jangkauan.

Untungnya Mahesa Amping lebih dulu menyadarinya sebelum angin panas itu merobek perutnya. Mahesa Amping telah melapisi dirinya dengan kekuatan hawa dingin yang mampu meredam dan menawarkan hawa panas dari angin senjata Empu Gelian. Bukan main terkejutnya Empu Galian, angin panasnya tidak berarti menghadapi Mahesa Amping.

Sementara itu, arena pertempuran terlihat seperti tanah terbongkar. Semak-semak terlihat hangus terbakar terkena angin panas tersambar senjata gelang milik Empu Gelian.

Empu Gelian menjadi penasaran, sudah ratusan jurus masih juga belum dapat menundukkan lawannya yang masih mudah belia ini. Akhirnya tanpa malu lagi telah meningkatkan tataran ilmunya pada batas puncaknya. Senjata gelangnya terlihat seperti bara merah menyala, sementara angin serangannya terlihat seperti api yang menyebar mengikuti kemanapun Mahesa Amping bergerak. Tapi, angin hawa panas itu tidak juga mampu menembus tubuh Mahesa Amping. Angin hawa panas itu sepertinya langsung menjadi dingin manakala masuk mendekati tubuh Mahesa Amping. Sementara itu serangan belati pendek Mahesa Amping menjadi sangat menyibukkan yang kadang datang seperti ombak menggulung tidak putus.

Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh Mahesa Amping, terlihat Empu Gelian melompat menjauh. Empu Gelian memang sudah tidak sabar lagi, ingin selekasnya menyelesaikan pertempurannya. Mahesa Amping menyadari, pasti Empu Gelian bermaksud mengeluarkan ilmu andalannya. Dugaan Mahesa Amping ternyata tidak meleset jauh. Terlihat Empu Gelian menambah senjata gelangnya yang tergantung dilehernya. Empat buah gelang ditangan Empu Galian menyala seperti bara. Dan dengan kecepatan yang luar biasa satu gelang meluncur menerjang Mahesa Amping yang langsung mengelak kesamping. Belum lagi kaki Mahesa Amping jatuh di bumi, sebuah gelang yang lain kembali menerjang tubuh Mahesa Amping. Begitulah Mahesa Amping diserang oleh Empu Gelian dengan gelang yang membara meluncur seperti bola api. Anehnya gelang itu dapat kembali sendiri ketangan pemiliknya. Bukan main sibuknya Mahesa Amping mengelak tanpa dapat menyerang kembali. Mahesa Amping seperti barang mainan Empu Gelian, kadang harus berguling di tanah menghindar serangan gelang yang datang seperti bola api.

Akhirnya, Mahesa Amping tidak lagi mampu berpikir jernih. Satu waktu tenaganya akan terkuras. Maka pada sebuah serangan, terlihat Mahesa Amping mengelak. Tapi Mahesa Amping sudah dapat menghitung tempo serangan berikutnya.

Sebelum serangan itu datang, sebuah pandangan mata Mahesa Amping tepat menyentuh dada kiri Empu Galian. Jantung Empu Gelian langsung hangus terbakar ditambah sebuah gelang yang tidak sempat ditangkap menembus perutnya.

Dengan mata terbuka terbelalak, Empu Gelian jatuh kebumi terlentang masih menggenggam tiga buah gelang miliknya. Jiwanya sudah melayang.

Mahesa Amping masih berdiri menegang, termangu melihat hasil serangannya diluar pikiran jernihnya.

“Harusnya aku tidak membunuhnya”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri, sepertinya telah menyesali dirinya sendiri yang tidak dapat berpikir jernih, memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan panjang.

Sementara itu Prastaka dan saudara seperguruannya seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Gurunya yang dianggapnya telah mempunyai ilmu setinggi gunung telah tergeletak di tanah tak bernyawa.

Mereka berdua menatap Mahesa Amping dengan pandangan penuh kebencian, namun juga ada perasaan gentar. Tapi Prastaka dan Saudara sepergurunnya ternyata adalah orang yang cerdas, dapat berhitung panjang, selain Mahesa Amping yang telah mengalahkan gurunya. Masih Ada Lawe yang pernah dihadapi dan mengimbangi ilmu Praskata. Dan di samping Lawe, ada seorang lagi yang telah melumpuhkan Prastawa dengan mudah. Akhirnya sebelum berlanjut dalam kesuitan yang lain, Praskata dan saudara seperguruannya telah membawa mayat gurunya.

Ketika agak jauh berjalan beberapa langkah, Praskata berbalik badan. “Aku akan kembali mencari kalian, membayar hutang nyawa guruku”, berkata Praskata langsung berbalik badan kembali mengikuti saudara seperguruannya yang tengah membawa mayat gurunya.

“Datanglah dengan seluruh orang Gelang-gelang, aku tidak takut!!”, berteriak Lawe yang merasa tertantang dengan ucapan Praskata yang pernah bertempur dengannya tapi belum tuntas, belum ada yang kalah dan menang.

Sementara itu, matahari diatas hutan Mading sudah bergeser turun dari puncaknya. Cahayanya sudah tidak lagi menyengat kulit, telah menjadi teduh terhalang cabang daun pepohonan hutan yang lebat.

“Mari kita lanjutkan perjalanan kita”, berkata Mahesa Amping yang telah berada diatas kudanya.

Merekapun kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda, meninggalkan arena sisa pertempuran yang seperti tanah lapang yang terkoyak hangus terbakar.

Kini kita kembali ke Padepokan Alasjati. Terlihat beberapa orang yang terluka tengah diberikan pengobatan. Beberapa mayat telah dikumpulkan. Orang-orang penghuni Padepokan Alasjati yang telah menjadi tawanan telah diberikan kebebasan sementara untuk membantu mengubur mayat-mayat kawan mereka sendiri yang terbunuh dalam pertempuran.

“Apa yang harus kita lakukan dengan para tawanan itu”, berkata Kertanegara kepada Ki Gede Banyak Wedi di pendapa utama Padepokan Alasjati.

“Untuk jangka panjangnya belum dapat kupikirkan, kita lihat perkembangan. Yang harus segera kita dapatkan adalah membuka mulut mereka, siapa dalang di balik semua ini”, berkata Ki Gede kepada Kertanegara.

Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba mencari keterangan dari para tawanan, siapa yang telah membayar begitu mahal untuk kepala seorang Putra Mahkota.

Kertanegara dan Ki Gede Memanggil satu persatu tawanan. Menanyakan beberapa hal. Hingga akhirnya Datuk Alasjati sendiri telah dipanggil menghadap mereka.

“Datuk Alasjati”, berkata Kertanegara kepada Datuk Alasjati yang sudah datang menghadap sebagai seorang tawanan.

“Beberapa tawanan sudah kami tanyakan, tentunya mereka juga telah bercerita kepadamu apa saja yang telah kami tanyakan. Kejujuran Datuk menentukan, perlakuan apa selanjutnya yang dapat kami berikan kepada semua tawanan, termasuk diri pribadi Datuk sendiri”, berkata Kertanegara perlahan tapi didalam kata-katanya mengandung sebuah ancaman.

“Semoga aku dapat menjawab pertanyaan Pangeran”, berkata Datuk Alasjati dengan hati gentar menangkap sebuah ancaman dibalik kelembutan kata-kata Kertanegara.

“Kami akan melepas Datuk, melepas semua tawanan, membiarkan Padepokan ini sebagaimana semula”, berkata Kertanegara berdiam sebentar memberi kesempatan Datu Alasjati berpikir tenang. Dan Kertanegara berkata kembali, “kami akan memberikan semua itu, tentunya setelah Datuk mau menerima sebuah penawaran”.

“Selama tawaran Pangeran dapat kupikul”, berkata Datuk Alasjati seperti pasrah apapun yang akan diperlakukan terhadapnya.

“Tawaran kami tidak berat, dapatkah Datuk bergabung menjadi sahabat kami?” berkata Kertanegara perlahan kepada Datuk Alasjati.

Tampaknya Datuk Alas tengah berpikir keras. Mencoba mengukur kekuatan dua kubu dimana dirinya ada diantaranya. “Pangeran Kertanegara adalah seorang Putra Mahkota, kekuasaannya akan menjadi lebih besar. Tidak ada salahnya bila aku bernaung, berbalik arah menjadi sahabat”, berpikir datuk Alasjati menimbang-nimbang untung dan ruginya menerima tawaran Kertanegara.

“Aku terima tawarannya”, berkata Datuk Alasjati memberikan sebuah keputusan.

“Ternyata Datuk dapat berpikir jernih”, berkata Kertanegara kepada Datuk Alasjati.

Maka sesuai kesepakatan itu, Datuk Alasjati dan anak buahnya tidak lagi diperlakukan sebagai tawanan. Mereka semua telah dibebaskan. Ketika matahari menjelang senja, Kertanegara dan pasukan kecilnya terlihat keluar Padepokan Alasjati.

Datuk Alasjati mengikuti iring-iringan itu keluar dari Padepokannya. “Masih muda, ilmunya sudah begitu tinggi. Aku berjanji setia di belakangnya”, berkata Datuk Alasjati kepada dirinya sendiri ketika rombongan kecil itu tidak terlihat lagi, terhalang kerimbunan hutan dibawah suram cahaya matahari senja tanpa desiran angin. Hutan dalam bayangan senja sepertinya terus membawa Datuk Alasjati untuk merenung, mencoba berpikir jernih, membangun kembali Padepokannya yang telah porak poranda.”Ternyata kesombonganku telah tersungkur tanpa arti di hari ini”, berkata Datuk Alasjati menyesali kesombongannya selama ini yang menganggap ilmunya sudah begitu tinggi.

Menyerang lawan dengan senjatanya sendiri, itulah yang Kertanegara dan Ki Gede inginkan dengan melepas Datuk Alasjati dengan “mengikatnya” sebagai sahabat. Siapa dalang dibalik semua ini memang sudah tergambar. Tetapi Kertanegara dan Ki Gede telah sepakat untuk menyimpannya rapat-rapat.

Hutan dalam bayangan senja menatap rombongan kecil memasuki kerimbunannya. Derap kaki kuda seperti rancak tari pahlawan pulang berperang membawa kemenangan. Tidak ada hambatan lain dalam perjalanan mereka menuju Tanah Perdikan baru yang belum bernama.

Hari telah masuk tengah malam ketika rombongan kecil itu telah masuk Padukuhan paling ujung di Tanah Perdikan. Akhirnya mereka terlihat dari Banjar Desa. Beberapa peronda menyambut kedatangan mereka dengan perasaan suka cita.

“Syukurlah kalian juga telah behasil menjalankan tugas”, berkata Ki Gede ketika melihat Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya di Pendapa utama.

“Mbakyu Menik tengah beristirahat di dalam kamarnya”, berkata Mahesa Amping kepada Kertanegara tanpa ditanya.

“Terima kasih, seusia kalian aku masih takut melewati pohon besar di malam hari”, bekata Kertanegara ketika Raden Wijaya bercerita tentang pertemuan mereka dengan guru sepasang iblis di Hutan Mading.

Malam pun berlalu bersama bulan tua dan bintang bertabur di langit malam.

Tungku di dapur belakang terlihat dinyalakan. Nyi Gede Banyak Wedi dibantu beberapa oaring lelaki tengah sibuk membawa hidangan makanan dan minuman hangat. Pendapa utama dan Banjar desa menjadi ramai. Beberapa orang dari beberapa Padukuhan telah berdatangan, diantaranya adalah sanak kandang para pengawal tanah perdikan yang ikut bertempur di Padepokan Alasjati. Suka cita wajah mereka mendapati suami, anak dan saudara mereka pulang dengan selamat, meski ada satu dua orang mendapat sedikit luka ringan.

Baru ketika pagi akan datang menjelang, beberapa orang telah kembali ke rumahnya. Banjar Desa dan pendapa utama seperti lengang. Satu dua orang nampak masih bercakap-cakap. Sementara sebagian lagi sudah terlelap tertidur nyenyak.

Mata ini sepertinya baru mengejap, sang surya sudah datang menepati janjinya.

Tungku dapur rumah Ki Gede sudah lama menyala. Kesibukan kembali terlihat.

Sementara itu Kertanegara dan Menik Kaswari telah bertemu. Sebuah pertemuan di pagi hari yang mengharu birukan untuk sebuah rindu yang lama tertahan. Di bawah matahari pagi mereka bersama menyusuri jalan berliku sekitar padukuhan Tanah perdikan yang masih asri. Sawah ladang dan bangunan rumah berdiri diatas tanah asli apa adanya menyesuaikan tinggi dan rendahnya keadaan tanah. Sebuah pemandangan yang indah, seindah memandang mata wajah sang kekasih di pagi hari.

“Mari kita kembali”, berkata Kertanegara kepada Menik Kaswari.

“Tidak terasa mungkin kita sudah begitu jauh berjalan, ayah pasti sudah terbangun menunggu kita”, berkata Menik Kaswari yang teringat kepada ayahnya yang masih tertidur di Banjar desa ketika mereka melewatinya.

Di banjar desa Ki Rangga Bangkalan memang sudah terbangun, bahagia memeluk anak gadisnya yang menangis tersedu di pangkuannya. Ayah mana yang tidak bahagia mendapatkan kembali anak gadisnya dengan selamat, tanpa berkurang sehelai rambutpun.

Pagi itu ki Gede telah mengumpulkan beberapa warganya menyampaikan berita penting bahwa mulai hari itu Tanah Perdikan telah mempunyai sebuah nama.

“Songenep artinya tempat singgah yang baik, semoga nama ini menjadi berkah untuk kita semuanya”, berkata Ki Gede menyebut sebuah nama untuk Tanah Perdikannya.

“Hidup Tanah Perdikan Songenep”, terdengar beberapa orang berkali-kali menyebut kata Tanah Perdikan Songenep. Tampaknya mereka ikut gembira mendapatkan sebuah nama untuk Tanah Perdikan yang mereka huni selama ini.

Pada hari itu juga Ki Gede telah menawarkan kepada Kertanegara menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat sebuah upacara pelamaran.

“Ayah gadis itu sudah ada disini, sementara itu salah satu cantrik utama Padepokan Bajra Seta telah membawa peneng utusan resmi dari Sri Maharaja”, berkata Ki Gede kepada Kertanegara.

Perayaan besar pun telah disepakati, perayaan besar untuk dua upacara besar, pemberian nama Tanah Perdikan dan penerimaan resmi keluarga Menik Kaswari atas lamaran Kertanegara.

Sesuai adat, seorang Pangeran berhak membawa gadis yang dicintainya ke istana setelah melakukan upacara boyongan.

Agar persiapan perayaan dapat terlaksana dengan baik dan meriah, ditetapkan harinya dua hari setelah hari itu. Bukan main kesibukan persiapan hari perayaan itu. Sebuah tajuk besar telah didirikan lengkap dengan panggung tempat peralatan gamelan. Akan didatangkan seorang sinden kondang dari Kalianget bernama Ni Ken Padmi. Kemerduan suara Ken Padmi konon mampu menghentikan sebuah daun kering yang terjatuh dari cabangnya.Dan konon, para penonton seperti tersirep, tidak sadar menari sendiri.

———-oOo———-

 

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 Juni 2011 at 08:47  Comments (379)  

379 Komentar

  1. Selamat malam semuanya,
    Kangmas Gembleh
    Ki Bancak
    Ki Sedayu605 (Taon 80-an ada bus saudaranta 605 Manggarai – Banteng)
    met berlibur untuk Ki Arga,…tenang ki…begitu pulang nasi srendengnya langsung diangetin….he3X

    • Kalau Blok M – Pulogadung, Mayasari Bhakti 507 apa ya…….???

  2. mana…., mana….
    nasi srundeng nya

    he he he …
    slamat malem Ki Dalang…

  3. waduh….
    pendopo sudah penuh, halaman depan juga sudah penuh, halaman samping kiri penuh juga, sekarang mulai meluber ke halaman kanan.
    hmmmm,
    masih agak lama ki dalang nutuo pakeliran sfbdbs-02, menunggu halaman samping kana yake…

  4. Sugêng énjang.

    • Sugêng siang.

      • hadir menjelang makan SIANG……mangga,

  5. Sakmeniko sampun siang Ki Yudha …………. hehe

    • Sakmeniko sampun sore Ki Sedayu……. hehe

      • Sakmenika sampun wayah dalu Ki Menggung, Ki Sedayu.

  6. sugeng siang semuanya

    • semuanya sugeng siang

  7. Disiang hari itu pengunjung kedai terus bertambah. Disudut kedai Nampak dua orang pedagang tengah menikmati makanannya sambil berbincang-bincang sekitar keamanan nagari Singasari yang semakin aman, perampokan sudah jarang sekali terdengar baik di darat maupun di perjalanan sungai sepanjang Brantas.

    “Sejak berdirinya benteng Cangu, perjalanan sepanjang sungai Brantas ini menjadi aman. Sudah ada gardu jaga di sepanjang sungai”, berkata seorang pedagang berwajah bulat sambil meneguk minumannya

    “Mudah-mudahan Putra Mahkota dapat melanjutkan keadaan hal ini”, berkata temannya yang berkumis tebal.
    “Itulah yang kita harapkan sebagai seorang pedagang”, berkata pedagang yang berwajah bulat.

    “Tapi aku melihat sesuatu yang lain di Gelang-gelang”, berkata Pedagang yang berkumis tebal. “Sebuah persiapan besar tengah dilakukan disana”, lanjut pedagang berkumis tebal itu lagi.

    “Persiapan dalam hal apa ?”, bertanya pedagang berwajah bulat.

    “Persiapan sebuah pasukan yang besar”, berkata pedagang berkumis tebal

    “Dari mana kamu mengetahuinya”, bertanya pedagang berwajah bulat menjadi penasaran.
    “Seorang temanku mendapat pesanan lima ribu jenis senjata. Dari temanku itulah aku kebagian rejeki mendapat seribu pesanan senjata tombak”, berkata pedagang berkumis tebal .
    “Bukankah pembelian senjata suatu yang wajar ?”, bertanya pedagang bewajah bulat.
    “Bila hanya lima ribu senjata memang dapat dimengerti, mungkin untuk mengganti senjata mereka yang sudah usang. Tapi sebulan sebelumnya mereka juga telah memesan jumlah yang sama kepada temanku itu”, berkata pedagang berkulit tebal.

    Ternyata pembicaraan mereka diam-diam didengar oleh Kertanegara yang duduk tidak begitu jauh dari kedua pedagang itu. Kertanegara sepertinya berpura-pura tidak memperhatikan mereka, sepertinya tengah asyik menikmati hidangan di depannya. Berharap ada pembicaraan lain yang berguna.

    Tapi harapan Kertanegara tinggal harapan, didepan kedai telah terjadi keributan, perhatian kedua pedagang telah beralih kedepan kedai itu.

    Mahesa Semu yang sudah menyelesaikan hidangannya berjalan mendekati pintu kedai. Ternyata diluar kedai telah terjadi keributan kecil para buruh angkut barang. Syukurlah tidak berlanjut karena entah dari mana telah datang dua orang prajurit melerai mereka.

    Ternyata Mahesa Semu mengenal salah seorang prajurit itu, yang tidak lain adalah Dadulengit.
    Mahesa Semu mengajak Dadulengit dan temannya kedalam kedai. Bukan main senangnya Dadulengit bertemu kembali dengan orang-orang dari Padepokan Bajra Seta.

  8. Siang itu juga, rombongan di antar Dadulengit singgah di Benteng Cangu.

    “Selamat datang Pangeran”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut Pangeran Kertanegara bersama rombongan kecilnya.

    “Kalian telah menunaikan tugas dengan baik”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberi selamat kepada para cantrik utama Padepokan Bajra Seta.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing. Senapati Mahesa Pukat ingin mendengar langsung cerita perjalanan mereka di Pulau Madhura. Wantilan mewakili kawan-kawannya bercerita sekitar perjalanan mereka di Pulau Madhura.

    Suasana di pendapa utama benteng cangu itu menjadi seperti hening manakala Senapati Mahesa Pukat menyampaikan berita duka cita, Ayahnya Mahendra telah meninggal dunia.

    “Aku mendapat kabar sehari setelah kalian meninggalkan Bandar Cangu ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan kapan ayahnya Mahendra meninggal dunia.

    Mahesa Amping yang biasanya sangat tabah, tidak mampu menutup rasa dukanya. Terlintas bayangan wajah Mahendra yang begitu penuh senyum saat memberinya dasar kanuragan. Terlihat Mahesa Amping menunduk dalam menahan agar air matanya keluar dan mencoba menguasai gelombang perasaannya dukanya.

    “Sri Maharaja telah berkenan mencandikan jasadnya di Gunung Arjuna”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan dimana jasad Mahendra di kebumikan.

    “Seorang yang setia pada pengabdiannya”, berkata Kebo Arema ketika mengetahui siapa Mahendra lewat penjelasan Kertanegara.

    Senjapun datang meredup rasa duka yang berlarut melepas perasaan yang terhanyut, perlahan Mahesa Amping sudah dapat menguasai perasaannya, menyadari bahwa hidup dan mati adalah sebuah takdir yang sudah digariskan. Semua akan kembali kedalam keabadian Sang Hyang Maha Karsa.

    Malampun berlalu dalam sebuah perjamuan besar di Pendapa utama Benteng Cangu.
    Senapati Mahesa Pukat bersedia menyediakan prajuritnya mengawal Pangeran Kertanegara bersama calon istrinya Menik Kaswari. Akhirnya disepakati, para cantrik padepokan Bajra Seta akan langsung kembali kepadepokannya, sementara Kebo Arema dan Bhaya akan terus bersama Kertanegara tinggal di Kotaraja sesuai dengan permintaan Pangeran Kertanegara.

    “Paman Sembaga sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta, sudah rindu berat untuk segera turun kesawah”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang seperti dapat membaca hati Sembaga dan kawan-kawannya.

    Bersama datangnya pagi, bersama geliat lalu lalang di sekiatar Bandar Cangu yang ramai, sebuah rombongan telah keluar meninggalkannya. Dan di sebuah jalan yang bercabang, rombongan itu pun terpecah. Pangeran Kertanegara dan Menik Kaswari bersama Kebo Arema, Bhaya dan sekelompok prajurit mengambil arah jalan kearah Kotaraja Singasari. Sementara rombongan lainnya terlihat mengambil jalan lain, mereka adalah para cantrik utama Bajra seta bersama Lawe seorang putra tunggal Ki Gede Banyak Wedi yang telah dijinkan menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta.

    • Hwarakadhah…………kamsiaaaaaa deh.

  9. Warakadah….
    Ki Dalang sudah mbeber pakeliran

    kamsiaaa………………

  10. warakadah……………….
    kamsiiiiiiaaaaaa……………..

  11. Langit cerah memayungi lima ekor kuda berlari menembus hutan ilalang. Tiga ekor kuda Nampak selalu berjalan beriring dimuka, penunggangnya masih muda belia sementara itu dibelakang mereka tiga ekor kuda yang selalu mengikuti dan mengimbangi laju kuda mereka.

    Tiga orang penunggang kuda yang masih muda belia adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe. Sementara dibelakang mereka yang selalu mengikuti adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu. Hati mereka semua sudah terpaut untuk segera sampai di Padepokan Bajra Seta. Sepanjang hari mereka memacu kudanya, dibulakan panjang atau di hutan ilalang. Dimalam hari baru mereka beristirahat, kadang di Banjar desa sebuah Padukuhan atau di tanah terbuka dibawah pohon besar agar sedikit berlindung dari angin malam.

    Hari itu matahari senja sudah membayangi bumi ketika mereka keluar dari sebuah hutan. Jarak Padepokan Bajra Seta Cuma terhalang bukit kecil.

    Matahari sudah bersembunyi di ujung cakrawala ketika mereka sampai diatas puncak bukit kecil. Didepan mata mereka memandang hamparan hijau sawah dalam gugus petak bersusun bertingkat.

    “Rumput-rumput liar di sawah menanti kita”, berkata Wantilan sambil memacu kudanya menapaki bulakan panjang.
    Hari memang sudah hampir gelab manakala mereka telah sampai di muka gerbang Padepokan Bajra Seta. Segenap penghuni Padepokan menyambut suka cita kedatangan mereka.

    “Kami membawa putra Ki Gede Banyak Wedi, namanya Lawe”, berkata Wantilan ketika mereka sudah naik pendapa utama memperkenalkan Lawe kepada Mahesa Murti.

    “Aku merasa tersanjung dititipkan putra Paman Bahyak Wedi di Padepokan ini”, berkata Mahesa Murti menerima Lawe seperti keluarganya sendiri.

    Mulai hari itu Lawe telah menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta. Setahap-demi setahap tataran ilmu Lawe terus meningkat. Berlatih bersama Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah membuat perkembangan ilmu Lawe semakin pesat.

    Tidak ada perbedaan di Padepokan Bajra Seta, semua bahu membahu bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka sendiri, disamping olah kanuragan dan olah kajiwan yang dipimpin langsung oleh Mahesa Murti sebagai ketua tunggal Padepokan Bajra Seta.

    Sementara itu kedatangan Kertanegara di Kutaraja disambut dengan suka cita. Sri Maharaja menerima Menik Kaswari sebagai menantunya. Dan pada hari itu juga telah dilangsungkan upacara peresmian mereka dengan upacara kebesaran kerajaan.

    • he he he lupa belum kamsia
      kamsiaaaaa…………………..
      selamat jalan ki, semoga sukses dalam tugas telik sandinya.

  12. maaf,maaf,maaf
    mulai sesuk malem dapat perintah dari Arya Kuda Cemani jadi petugas sandi di Bali, mugi-mugi bisa lempar aji pameling dari sana,

    Sugeng dalu kadang sedoyo ()

    • selamat PAGI,

      selamat berTUGAS pak DALANGe MAHESA…..semoga tugaS dari AKC
      sukses, lancar dilakSAnakan pak DALANGe,

      • Tugas yang InI masuk kategori DARURAT ayake…..lha pak DALANGe
        siDAK luar jawa, he-hee-heeee 🙂

        “tetep seMANGat, tetep berKARya”

  13. Nuwun
    Sugêng siyang

    @ Ki Kompor.

    Mumpung Ki Kompor sedang di Bali, dan kalau Ki Kompor ada waktu senggang selama di Bali (tentunya sepanjang tidak mengganggu tugas utama Ki Kompor).

    Ki Kompor dapat menelusuri jejak peninggalan Arya Wiraraja (yang oleh Ki Kompor disebut Ki Gede Banyak Wedi); di daerah Buleleng.

    Orang Bali menyebut Arya Wiraraja (Banyak Wide) sebagai Ida Wang Bang Banyak Wide; ayah kandung Lawe yang bernama Bali Ida Bang Bagus Pinatih alias Ranggalawe.

    a. Arya Wiraraja yang bergelar Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja, yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, yang dicopot dari jabatannya oleh Kertanegara, karena dianggap mbalélå kepada Sang Prabu Kertanegara.

    Tidak ada niat Arya Wiraraja mbalélå, justru dia bermaksud baik, yang semata-mata untuk kepentingan rakyat dan negara Singasari, bukan untuk kepentingan pribadi Prabu Kertanegara.

    b. Peranan Arya Wiraraja membantu Raden Wijaya saat mendirikan Majapahit di dusun Trik.

    c. Ketulus-ikhlasan Sang Wiraraja menyerahkan putranya, yaitu Ida Bang Bagus Pinatih alias Ranggalawe berjuang mendampingi Raden Wijaya saat-saat memperkokoh Negara Majapahit di awal berdirinya kerajaan itu.

    d. Ranggalawelah yang menyelamatkan Raden Wijaya dalam peperangan melawan Kerajaan Kadiri (Jayakatwang), pada waktu menggempur benteng timur Kota Kadiri, dan membunuh Segara Winotan (salah satu panglima perang Jayakatwang); namun pada akhirnya Ranggalawe harus mati sebagai pengkhianat karena dianggap musuh negara. Ranggalawe mati dibunuh oleh Mahesa Arema yang diutus Raden Wijaya Prabu Kĕrtarājasā di Kali Tambak Beras.

    e. Setelah Ranggalawe gugur, Arya Wiraraja mutung (memutuskan hubungan dengan Raden Wijaya dan Majapahit), dia sakit hati dan memutuskan untuk menghadap Prabu Kĕrtarājasā untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan menagih Sang Prabu semasa perjuangan, yaitu membagi wilayah kerajaan menjadi dua.

    Janji tersebut kemudian dipenuhi oleh Prabu Kĕrtarājasā sehingga kemudian memutuskan membagi wilayah kerajaan menjadi dua: Bagian Timur terus keselatan sampai pantai diserahkan kepada Arya Wiraraja kemudian menjadi raja dengan ibukota Lumajang.

    Bagian Barat masih dikuasai oleh Raja Kĕrtarājasā dengan Ibukota Majapahit. Sejak saat itulah Daerah Majapahit timur merupakan Negara merdeka dan lepas dari kekuasaan Majapahit.

    Sumber:
    1. Babad Ida Bang Manik Angkeran – Bali;
    2. dan sumber-sumber pustaka lainnya yang lazim: Kitab Pararaton, Kidung Harsa Wijaya. Kidung Ranggalawe. Kidung Pamancangan. Kidung Panji Wijayakramah. dan Kidung Sorandaka. Pujasastra Negarakretagama;
    3. Prasasti: Mula Manurung; Prasasti Kranggan (Sengguruh); Prasasti Pakis Wetan; dan Prasasti Sarwadharma.

    Mangga Ki. Ditunggu ndalangnya.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  14. .Sugêng énjang.

  15. sueng siang menjelang jumatan, kamsiiiaaaa

  16. Sugêng dalu

  17. selamat siang

  18. selamat malam, selamat malam mingguan

  19. selamat malam,

  20. Sugêng siyang

  21. Dalam sebuah kesempatan, Kertanegara telah memperkenalkan Kebo Arema kepada Sri Maharaja. Ternyata mereka berdua merasa begitu cocok. Keduanya mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari.

    “Jadi kamu berasal dari suku air”, berkata Sri Maharaja setelah mengenal Kebo Arema lebih jauh lagi.
    “Ada yang bilang bahwa suku air punya nyawa rangkap tiga ?”
    Tersenyum Kebo Arema mendengar pertanyaan Sri Maharaja.

    “Mungkin yang dimaksud tuanku, bahwa suku air adalah orang yang tidak pernah takut menghadapi badai, topan dan ombak.Setiap orang suku air pernah mengalami terapung berhari-hari ditengah laut, terdampar di pulau kosong atau sekarat terkena racun ikan laut paling ganas sekalipun”.

    Demikianlah awal pertemuan Kebo Arema dengan Sri Maharaja. Mereka sama-sama mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari yang mereka sepakati menyebutnya sebagai kerajaan air. Hari-hari selanjutnya, Kebo Arema begitu sering dipanggil ke istana di tempat pribadi Sri Maharaja. Kadang mereka berbincang sampai jauh malam.
    Hari itu kembali Kebo Arema di panggil menghadap Sri Maharaja.

    “Kebo Arema”, berkata Sri Maharaja.”Dalam sebuah perjalanan pulang dari subuah jiarah suci di Biara Beduhur, dalam tujuh malam aku bermimpi dengan mimpi yang sama”

    “Gerangan apa yang tuan mimpikan ?”, bertanya Kebo Arema menjadi sangat ingin tahu apa yang Sri Baginda mimpikan itu.

    “Dalam mimpi itu, aku masih ada di dalam biara Beduhur memandang sebuah lukisan Jung besar berlayar yang megah bagai sebuah Jung para dewa. Entah dari mana datangnya, disebelahku telah berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu memandangku dengan tersenyum begitu ramah sambil menunjuk kearah gambar di batu itu dan berkata bahwa akulah yang berjodoh dapat membawa lukisan dibatu itu keluar dari biara Beduhur. Sampai tujuh malam berturut-turut aku bermimpi yang sama”, berkata Sri Maharaja bercerita tentang mimpinya.

    “Kita bertemu dengan pemuda yang sama dalam mimpi”, berkata Kebo Arema

    “Apa yang kamu mimpikan ?”, terheran Sri Maharaja mendengar ucapan Kebo Arema.

    “Pada waktu itu aku terapung apung ditengah lautan, jukungku pecah dihantam badai gelombang. Tujuh malam di tengah lautan aku bermimpi yang sama. Dalam mimpiku aku telah ada di atas Jung besar yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku. Entah dari mana disampingku berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu berkata kepadaku, bahwa aku berjodoh membawa dan memiliki Jung besar itu”, berkata Kebo Arema bercerita tentang mimpinya.

  22. “Apakah kamu pernah bercerita tentang mimpimu itu kepada orang lain ?”, bertanya Sri Maharaja.

    “Hamba Cuma bercerita kepada Kakek hamba. Setelah mendengar cerita mimpi itu, kakek hamba hanya mengatakan bahwa Gunadharma leluhur para suku air telah menyelamatkan hamba”, berkata Kebo Arema.

    “Pemuda yang kamu mimpikan bernama Gunadharma ?”, bertanya Sri Maharaja

    “Apa yang Tuanku ketahui mengenai Gunadharma leluhur kami ?”, bertanya Kebo Arema

    “Gunadharma adalah murid seorang Brahmana sakti, konon dialah yang dipercayakan Raja Samaratungga membangun biara diatas bukit Beduhur”, berkata Sri Maharaja.

    “Aku akan menatag gambar diatas kulit rontal”, berkata Kebo Arema sambil mengambil selembar kulit rontal dan menatagnya. Ternyata tatag Kebo Arema melukiskan sebuah Jung Besar.

    “Lukisan inikah yang terpahat di Biara Beduhur ?”, bertanya Kebo Arema
    “Benar, kamu dapat melukisnya begitu indah”, berkata Sri Maharaja memuji tatag Kebo Arema di atas kulit rontal

    “Hamba tidak pernah berkunjung ke biara Beduhur, lukisan ini adalah Jung besar yang ada dalam mimpi hamba”.

    “Ternyata kita telah berjodoh, sebagaimana Raja Samaratungga dan Gunadharma membangun mimpi mereka membangun biara besar diatas bukit Beduhur”.

    “Maksud tuanku, kita bersama membangun Jung para dewa itu ?”, bertanya Kebo Arema

    “Benar, kita bukan hanya membangun Jung besar itu, tapi kita akan membangun kerajaan air bersama”, berkata Sri Maharaja dengan penuh semangat, telah dapat membatang tafsir mimpinya.

    “Mulai hari ini, aku serahkan mimpiku kepadamu, membuat jung besar para dewa”, berkata Sri Maharaja.

    “Titah tuanku akan hamba junjung segenab hati”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat.

    “Kutitipkan juga, Putra Mahkota bersamamu”, berkata Sri Maharaja sambil tersenyum, dalam hati telah bersyukur bahwa Pangeran Kertanegara telah mendapatkan sahabat sejati seperti Kebo Arema.

  23. Keesokan harinya, Sri Maharaja telah memanggil Mahapatih untuk membuat persiapan sebuah prasasti pengukuhan sebuah usaha besar membangun kerajaan air di bumi Singasari.

    Gegap gempita suasana di seluruh penjuru bumi Singasari mendengar rencana besar itu. Ada yang gembira dan bangga. Tapi ada juga sebagian yang merasa ketakutan, menjadi semakin merasa terancam. Diam-diam menyebarkan kebencian bahwa Sri Maharaja telah menjadi pikun, telah melakukan perbuatan sia-sia.

    Pagi itu tanah Kutaraja masih basah, gerimis di malam hari menggenangi banyak tanah berlubang. Tiga ekor kuda terlihat keluar dari gerbang kota. Mereka adalah Kebo Arema, Bhaya dan Pangeran Kertanegara yang akan melakukan perjalanan menuju Bandar Cangu.

    Disanalah meraka akan membuat sebuah sejarah baru di bumi Singasari, membangun jung besar sebagaimana terpahat di dinding Biara Bukit Beduhur.
    Jalan yang mereka lewati adalah jalan lintas perdagangan. Beberapa gerobak dengan muatan penuh tampak terlihat tengah berjalan pelan menuju Kutaraja.

    “Sudah lama tidak terdengar ada perampokan di sepanjang perjalanan ini”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Kelak akan juga dirasakan keamanan perjalanan di perairan”, berkata Kebo Arema
    “Tentunya setelah berdirinya sebuah kerajaan air yang akan kita bangun”, berkata Kertanegara penuh semangat.
    “Disamping para perampok, masih ada segelintir orang yang merasa terancam berdirinya sebuah kekuatan di perairan”, berkata Kebo Arema

    “Yang pasti mereka akan melemparkan duri disepanjang perjalanan kita”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Itulah salah satu yang harus kita waspadai”, berkata Kebo Arema sambil memandang jauh keujung batas cakrawala.

    Sementara itu matahari telah jauh bergeser ke barat. Langkah kaki kuda mereka sudah hampir mendekati Bandar Cangu.

    “Selamat datang di benteng Cangu”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut kedatangan mereka di pendapa utama Benteng Cangu.

    Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing. Pangeran Kertanegara menyampaikan tujuan dan rencananya, yaitu membuat sebuah jung besar yang belum ada sebelummnya di jaman itu.

    “Sebuah kebanggaan yang besar bila aku terlibat dalam karya yang maha besar ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberikan dukungannya.

    Akhirnya pembicaraanpun semakin mendalam, semakin terinci . Mulai dari penempatan galangan, pencarian bahan kayu dan berlanjut kepada penggalangan prajurit yang akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jung besar itu sendiri.

  24. “Prajurit air”, berkata Senapati Mahesa Pukat setelah merasa mengerti apa yang harus mereka lakukan mewujudkan impian Sri Maharaja membangun sebuah kerajaan air.

    “Sesuai petunjuk Sri Maharaja, di Benteng ini ada seorang Senapati yang tangguh, mantan seorang guru istana yang terpilih”, berkata Kebo Arema.

    “Sri maharaja terlalu memuji, mudah-mudahan sedikit ilmuku ini masih dapat berguna”, berkata Mahesa Pukat merendahkan dirinya. Diam-diam Kebo Arema menyukai Senapati muda dihadapannya yang rendah hati ini. Banyak hal keterangan yang telah diceritakan oleh Sri Maharaja tentang Mahesa Pukat kepadanya. Diantaranya kesaktian yang dimiliki oleh Senapati muda ini. Dan Kebo Arema meyakini cerita Sri
    Maharaja bukan Cuma isapan jempol belaka.

    Demikianlah, keesokan harinya Mahesa Pukat telah memerintahkan beberapa prajuritnya membangun beberapa bedeng darurat di pinggir sungai Brantas tidak jauh dari Benteng Cangu. Disitulah akan berdiri sebuah galangan tempat pembuatan sebuah jung besar, sebuah jung besar yang belum pernah tercipta di jaman itu sebelumnya.

    Pada hari itu juga, Kebo Arema telah memerintahkan Bhaya keponakannya itu untuk berangkat ke Curabhaya memanggil beberapa saudara mereka dari Suku Air. Pada jaman itu keahlian orang-orang Suku Air dalam pembuatan perahu memang tidak diragukan lagi. Mereka secara turun temurun telah mewarisi ilmu pertukangan pembuatan perahu terbaik.

    “Beberapa dari prajurit di benteng Cangu ini dapat dibentuk menjadi prajurit yang tangguh sesuai dengan medan yang akan mereka hadapi, baik di darat maupun dilautan. Merekalah yang kelak akan menjadi perwira utama yang akan menurunkan keahliannya kepada prajurit baru yang akan kita dapatkan dari beberapa daerah di Singasari ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama di benteng Cangu.

    “Sebuah usaha yang baik. Pembentukan pasukan khusus akan menjadi lebih cepat”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan Senapati Mahesa Pukat.

    Malam itu bulan tua bersembul di atas langit tepian sungai Brantas begitu indahnya. Langit bertaburan bintang menghiasi cakrawala raya. Empat buah obar menerangi tanah lapang ditepian sungai brantas. Kebo Arema, Kertanegara, Bhaya dan 20 orang saudaranya dari Suku Air tengah berkumpul melakukan upacara adat memohon perlindungan dan berkah dari para leluhur.

    “Pangeran”, berkata Kebo Arema. “Leluhur kami telah melarang keturunannya menurunkan ilmu pembuatan perahu kepada selain garis darah. Untuk itulah kami akan melakukan upacara penyatuan darah.Menjadikan Pangeran sebagai saudara kami”

    “Aku bersedia menjadi Saudaramu”, berkata Pangeran Kertanegara.

    Maka sebuah ritual kecilpun berlangsung khikmad. Diawali dari Kebo Arema memakan tiga helai daun cimeng yang diambilnya dari sebuah kotak kayu. Bergilir satu persatu memakan daun cimeng hingga berakhir pada Pangeran Kertanegara yang ikut mengambil tiga helai daun cimeng dan mengunyahnya.Setelah itu mereka meminum air tuak aren dari bumbung bamboo yang sama. Demikianlah mereka melakukan sebuah ritual kecil, mengikat Pangeran Kertanegara sebagai saudara sedarah.

  25. “Mulai hari ini, Pangeran adalah saudara kami. Tidak tabu lagi mengetahui rahasia pengetahuan kami”, berkata Kebo Arema Kepada Pangran Kertanegara.

    Demikianlah mereka memulai sebuah kerja, yang diawali dengan pembuatan sebuah galangan besar di tepian Sungai Brantas. Pangeran Kertanegara melihat sendiri bagaimana orang-orang suku air bekerja. Mereka benar-benar ahli dan pekerja keras. Siang malam bereka bekerja seperti tidak mengenal lelah. Memang sangat mengagumkan, hanya dalam waktu sepekan sebuah galangan besar telah berdiri dengan kokohnya di tepian sungai Brantas.

    “Aku sudah mendapatkan sepuluh prajurit pilihan, para calon perwira pasukan khusus pengawal jung besar”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama Benteng Cangu. Hadir juga pada saat itu Kebo Arema. Atas penghormatan dan permintaan Mahesa Pukat, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema tinggal bersama di Benteng Cangu.

    “Terima kasih, kami sudah membebankan paman Senapati”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Tugas yang tengah Pangeran pikul adalah kewajiban kami sebagai prajurit membantu sepenuh hati”, berkata Mahesa Pukat.

    Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema mengakui dalam hati masing-masing, bahwa Senapati muda didepannya itu benar-benar mendukung sepenuh hati tugas yang tengah mereka emban. Sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Dalam setiap hal tidak ada yang tidak mereka bicarakan bersama, saling meminta pendapat dan jalan keluar bersama.

    “Galangan telah siap, pekerjaan kita selanjutnya adalah mencari bahan kayu pilihan, diantaranya adalah mendapatkan sebuah kayu jati merah sebagai pokok jung”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Pangeran Kertanegara.

    “Apakah ada syarat ketinggian tertentu dari pohon jati mereah itu ?”, bertanya Mahesa Pukat.

    “Kita harus mendapatkan kayu jati merah untuk tulang pokok”, berkata Kebo Arema.”Pohon jati merah yang kita cari harus melebihi ketinggian dua puluh meter”.

    “Sebuah Jung yang luar biasa besarnya”, berkata Mahesa Pukat membayangkan sebuah jung yang sangat besar yang belum pernah dilihatnya pada jaman itu.

    “Aku pernah menemui pohon jati merah setinggi itu di hutan Porong, besok kami akan mencarinya”berkata Kebo Arema. “Sementara untuk bahan kayu lainnya, seperti Kayu benuang dan ulin tidak begitu sulit, kita masih dapat mencarinya di hutan terdekat, tidak perlu persyaratan ketinggian tertentu sebagaimana pohon jati merah.

  26. Alhamdulillah, seminggu nggak sambang padepokan, dapat rapelan banyak.
    Matur nuwun Ki Kompor
    Matur nuwun P, Satpam.

    SUGENG ENJANG SEDOYO.

  27. Sugeng enjang sedoyo.
    Sampun dangu mboten sowan padepokan, poro pinesepuh sampun mbukak rontal kathah. Matur suwun Ki Kompor kaliyan P Satpam

  28. koyone enak nyangkruk neng kene………..

    kulo sowan ki Kompor

    • Sama…!

      koyone enak nyangkruk neng kene………..

      kulo sowan ki Kompor

      • kulo RawON ki Kompor,

  29. selamat SIANG kadang padepokan pak DALANG,

    cantrik haDIR…..(tetep pake gayaNe bang haji)

  30. cantrik hadir, matur nuwun

  31. Pagi itu dua buah jukung meluncur di atas sungai Brantas. Mereka adalah Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya serta lima orang suku air saudara mereka.

    Ketika sampai dipertigaan sungai porong, mereka langsung berbelok arah dan tertelan jauh masuk kepedalaman sungai hutan porong.

    Mereka tidak menyadari, beberapa pasang mata tengah mengikuti perjalanan mereka.

    “berhenti !”, berkata Kebo Arema ketika mengingat sebuah tempat dimana pernah melihat banyak pohon jati merah tumbuh.

    Merekapun menepi , setelah menyembunyikan dua buah jukung jauh dari tepian sungai, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hutan porong sepertinya menelan mereka yang masuk kedalam hutan semakin kedalam, Sebuah hutan lebat yang jarang sekali didatangi orang. Disamping masih banyak binatang buas yang berkeliaran, konon hutan porong adalah hutan kerajaan para dedemit. Jarang sekali orang yang berani masuk ke hutan ini bila saja tidak ada keperluan yang mendesak.

    Akhirnya setelah lama mencari, masuk lebih dalam lagi di kelebatan hutan porong, merekapun menemukan apa yang mereka inginkan. Sebuah pohon jati merah dengan ketinggian lebih dari yang mereka duga sebelumnya. Bukan hanya tinggi dua puluh meter, bahkan lebih dari empat puluh meter dengan lebar batang dua kali pelukan orang dewasa .

    “Dengan pohon jati merah setinggi ini, tidak ada sambungan untuk tulang pokok jung kita”, berkata Kebo Arema gembira sekali menemukan sebuah pohon jati merah yang diharapkan.

    Tanpa diperintah, Bhaya langsung memanjat pohon jati merah itu. Begitu lincah Bhaya memanjat naik dari satu cabang ke cabang lainnya sampai keujung puncak cabang yang paling tinggi. Sebagaimana naiknya, Bhaya menuruni pohon Jati Merah itu juga lebih cepat lagi dibandingkan ketika memanjat.

    “Empat puluh tiga meter”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema dengan gembiranya.

    “Kita persiapkan jalan”, berkata Kebo Arema kepada lima orang saudaranya yang langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mudah ditarik mendekati tepian sungai.

    Ketika mereka bekerja membuka jalan, penciuman Kertanegara yang tajam mencium bau aneh.

    “asap beracun!”, berkata Kertanegara mengingatkan semuanya untuk berhati-hati.

    Tapi peringatan Kertanegara telah terlambat, seorang suku air yang ada ditempat paling ujung telah menghisap asap beracun. Nafasnya seketika menjadi sesak, langsung roboh lemas ditempat. Sementara yang lain masih sempat menutup rapat penciuman mereka sambil menjauhi arah angin.

    Kertanegara langsung menerapkan ilmunya, sebuah angin deras meluncur kesegenap penjuru, membersihkan asap beracun.

  32. Dengan cepat pula mata Kebo Arema menemukan arah sumber asap, tubuh kebo arema seperti anak panah langsung meluncur kearah sumber asap beracun. Ternyata dugaan Kebo Arema tidak meleset. Ada sebuah tabunan api ditemukan masih menyala. Dengan cepat menutup tabunan api itu dengan tanah basah. Bara api itupun seketika padam. Mata kebo Aema mencoba menyusuri semak dan kepekatan hutan.

    “Mereka datang dari arah sungai”, berkata Kebo Arema kepada dirinya sendiri mencoba menerka siapa dan dari mana orang yang menyebarkan racun itu datang. Maka Kebo Arema langsung berlari kearah tepi sungai. Namun sudah terlambat, sebuah jukung sudah jauh meninggalkan tepian. Hanya punggung mereka yang masih terlihat jauh dan tidak mungkin dapat dikejar.

    Kebo Arema kembali ketengah hutan dengan hati berdebar, seorang saudaranya sudah terkena asap beracun.

    “Ia masih hidup”, berbisik Bhaya menenangkan perasaan Kebo Arema sambil menunjuk saudaranya yang tengah diberikan tetesan air rendaman kayu aji batu keling pemberian dari Empu Dangka yang selalu di bawa oleh Kertanegara.

    Ternyata kayu aji batu keeling sangat mujarab menawarkan segala jenis racun. Setelah beberapa tetes air rendaman Kayu Aji Batu Keling masuk lewat bibirnya, terlihat kulit tubuhnya yang semula putih pucat kembali memerah , napasnya kembali teratur seperti sedang tertidur nyenyak.

    Akhirnya mereka memutuskan untuk sementara menghentikan kegiatan kerja, menunggu saudara mereka sehat kembali.

    “Kita beristirahat disini, menunggu perkembangan kesehatan saudara kita”, berkata Kebo Arema meminta semuanya beristirahat.

    “Mulai sekarang kita harus selalu waspada, mereka tidak akan berhenti sampai disini”, berkata Kertanegara.

    “Dengan kejadian ini mataku sudah terbuka, ternyata ada juga orang Singasari yang tidak menginginkan kerja besar ini terwujud”, berkata Kebo Arema

    “Yang mereka inginkan adalah kegagalanku”, berkata Kertanegara

    “Apakah Pangeran sudah dapat menduga, siapa dibalik semua ini?”, bertanya Kebo Arema.

    “Sejauh ini aku sudah dapat menduga, siapa dan apa yang mereka inginkan”, berkata Kertanegara.

    Kebo Arema tidak mendesak siapa orang dibalik semua ini kepada Kertanegara. Ada sesuatu hal lain sehingga Kertanegara masih harus menyimpan rahasia siapa dibalik semua ini yang berusaha menggagalkan kerja mereka.

    Paherangi, demikian nama saudara mereka yang terkena racun terlihat bangun dan hendak bangkit berdiri.

  33. Selamat malam,
    sik asik, besok libur…………

  34. Malam Ki Kompor,
    Iya besok libur Isra Mi’raj.
    Mengenang perjalanan ritual Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
    Pada saat itu perintah Shalat turun.
    Shubanallah (Maha suci Allah).

  35. E lha kok malah lupa ngucapken terima kasih.
    Matur nuwun Ki kompor.

  36. cantrik hadir, matur nuwun, selamat Isra Mi’raj.

  37. Sugeng siang,
    selamat menikmati liburan.

  38. “beristirahatlah, jangan banyak bergerak”, berkata Kebo Arema sambil membantu Paherangi bersandar disebuah batang pohon.

    Malampun akhirnya datang berangsur menutupi hutan porong dengan kegelapan.

    “Biarlah aku dan Bhaya berganti jaga, tenaga kalian sangat diperlukan esok hari”, berkata Kertanegara meminta semuanya untuk beristirahat.

    “Bangunkan aku”, berkata Kertanegara kepada Bhaya yang mendapat tugas jaga pertama.

    Sepanjang malam tidak ada yang mengganggu mereka hingga sampainya datang pagi menjelang.

    Berdasarkan pengalaman hari pertama, maka mereka mulai mengatur siapa bekerja dan siapa yang harus berjaga.

    Sementara itu Paherangi yang terkena asap beracun sudah merasa sehat dan dapat bekerja kembali.

    “Terima kasih Pangeran”, berkata Paherangi yang sudah mengetahui siapa yang menyembuhkannya.”Tanpa Pangeran mungkin aku tidak dapat lagi memandang cahaya pagi hari ini”

    “Tidak perlu mengucapkan terima kasih, bukankah kita bersaudara ?”, berkata Kertanegara yang ikut merasa gembira melihat Paherangi sehat sebagaimana sediakala.

    Nampak terlihat mereka telah kembali bekerja, membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mereka keluarkan dari hutan. Sementara itu Bhaya yang mahir memanjat tengah membuang cabang pohon jati merah. Sebatang demi sebatang cabang ohon kayu jati jatuh terpangkas hingga akhirnya tinggal pokok batangnya saja yang masih berdiri menjulang tinggi.

    Setelah pembukaan jalan sudah dirasa mencukupi, merekapun secara bergantian mulai memotong pokok batang kayu jati merah. Tali tambang besarpun telah terikat di di batang pohon jati merah siap untuk ditarik. Sementara itu di sepanjang jalan telah ditebarkan balok kayu bulat yang berfungsi sebagai roda siap menggelinding manakala pokok batang kayu jati sudah rebah diatasnya.

    Kraak… bum !!!!

    Terdengar suara batang pohon jati merah jatuh kebumi dengan suara yang luar biasa kerasnya. Tanahpun terasa bergetar ketika batang pohon kayu jati merah yang besar itu rebah jatuh kebumi.

    Dan Akhirnya batang pokok kayu jati itupun sedikit demi sedikit bergeser sampai ditepian sungai.

    “Besok kita datang kembali mengambil beberapa cabang batang yang sudah terpangkas, pantang dipisahkan tulang pokok dan tulang rusuk jung harus berasal dari pohon yang sama”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara yang langsung menangkap dan mengerti batang pokok dan batang cabang yang akan ditatak nantinya sebagai tulang pokok dan tulang rusuk Jung.

  39. Dua buah jukung terlihat meluncur menarik batang pohon yang panjang. Arah arus sungai porong yang mengalir kearah sungai brantas sangat banyak membantu mempermudah kerja mereka. Namun ketika jukung mereka masuk kealiran sungai Brantas, mereka harus melawan arus. Tapi para suku air adalah pedayung ulung. Sepertinya mereka tidak merasakan kesukaran. Perlahan tapi pasti jukung mereka terus bergerak menuju Bandar Cangu tempat mereka telah mendirikan sebuah galangan besar ditepian sungai Brantas.

    Tapi semangat mereka seperti terbang.

    Terlihat galangan yang mereka kerjakan siang dan malam selama sepekan hari telah berubah menjadi tumpukan abu.

    “Kemarin malam ada yang membakar galangan kita”, berkata salah seorang dari suku air.”Api sudah membesar tidak mungkin lagi diselamatkan”.

    “Dimana kalian ketika kebakaran ini terjadi ?”, bertanya Kebo Arema menatap semua saudaranya dari suku air yang tidak ikut bersamanya ke hutan Porong mencari pohon Jati Merah.

    Semua saudaranya dari suku air Nampak tertunduk.

    “Sirep mereka begitu kuat, semua saudaramu tertidur. Kami sendiri datang terlambat, galangan sudah setengahnya terbakar api”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang juga hadir di tempat itu menjelaskan dan meminta pengertian Kebo Arema untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada saudaranya.

    “Siapapun mereka, tujuannya hanya satu untuk mematahkan semangat kita.Tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang gampang menyerah”, berkata Kertanegara memberi semangat.

    Ternyata kata-kata Kertanegara seperti siraman minyak mengobarkan api semangat di dada para suku air. Keesokan harinya mereka sudah bekerja kembali membuat galangan dengan penuh semangat, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang gampang dipatahkan.

    Kejadian terbakarnya galangan di dekat Bandar Cangu itupun sebentar saja sudah menggema sampai kepelosok nagari. Semua orang membicarakannya. Beberapa orang bahkan mengaitkan kejadian itu dengan kosongnya singgasana di Kediri.

    “Ada yang ingin menjatuhkan nama Pangeran Kertanegara”, berkata seorang saudagar di sebuah kedai.

    Ternyata semua sudah diperhitungkan dengan masak oleh Pangeran Kertanegara. Jauh sebelum pembuatan galangan, Pangeran Kertanegara sudah menduga akan ada usaha yang menginginkan kegagalannya. Itulah sebabnya galangan pembuatan jung sengaja berada tidak jauh dari Bandar Cangu. Disitulah pusat berita. Dan nama Pangeran Kertanegara telah menjadi pusat berita, usaha pembakaran galangan menyuburkan rasa simpatik dari banyak orang. Siapapun yang lewat di tepian Brantas itu pasti akan melambaikan tangannya, sepertinya ingin mengatakan agar terus bekerja dan jangan mundur. Dan orang-orang suku air sepertinya ikut merasa tersanjung, merasa bangga bekerja bersama pahlawannya Sang Putra Mahkota.

  40. “Gila !!”, berkata seorang yang beralis tebal disebuah kedai di Bandar Cangu sambil menggebrak meja. Tiga orang kawannya Nampak terdiam penuh rasa gentar menghadapi seorang didepannya yang nampaknya seperti pimpinan mereka.

    Sementara dikedai itu sedang sepi pengunjung, cuma ada mereka berempat saja. Pemilik kedai saat itu tidak terlihat, mungkin sedang sibuk di dapur belakang.

    “Usaha kita berbalik arah, usaha kita bahkan telah menjual namanya melambung tinggi”, kembali orang itu berkata yang ditanggapi oleh ketiga kawannya dengan menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.

    Salah seorang dari mereka terlihat lebih berani dibandingkan kedua kawannya mengangkat kepalanya. “Harusnya kita tidak cuma membakar, tapi menghabisi mereka semua disat sirep kita bekerja”.

    “Bagus !”, berkata pemimpin mereka sepertinya mendapatkan rencana baru.

    Seekor elang terus berputar di padang perburuannya. Sekali-kali mengepakkan sayapnya yang panjang. Matanya yang tajam terus mengawasi, menanti saat yang tepat dan cepat untuk menukik menyambar mangsanya yang lengah.

    Suara pekik elang jantan kadang menggetarkan dada.

    Gema terbakarnya sebuah galangan di tepian sungai Brantas juga telah terdengar jauh sampai ke Padepokan Bajra Seta.

    “Mudah-mudahan kehadiran kalian dapat memberikan dukungan bagi Pangeran Kertanegara.Sampaikan salamku kepadanya”, berkata Mahesa Murti ketika melepas Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan berangkat ke Bandar Cangu.

    Dengan menghela napas panjang, Mahesa Murti memandang punggung tiga anak muda diatas kudanya yang menghilang berbelok terhalang dinding Padepokan. Terbayang masa mudanya bersama Mahesa Pukat melanglang dunia. Mengembara dari satu tempat ketempat lainnya, merasakan angin segar di tengah padang ilalang, mencium bau tanah merah di perbukitan hijau. “Masa muda yang indah”, berkata Mahesa Murti kepada dirinya sendiri masih memandang jauh kedepan melampaui pintu gerbang Padepokannya.

    “Sudah lama kita tidak melakukan perjalanan jauh”, berkata Raden Wijaya. Nampak wajahnya begitu ceria. “Mari kita berpacu sampai diatas puncak bukit”, berkata Raden Wijaya sambil mengepak perut kudanya agar berlari lebih cepat lagi.

    Mahesa Amping dan Lawe tidak ingin tertinggal, merekapun menghentakkan kudanya berpacu mengejar Raden Wijaya yang sudah lebih dulu memacu kudanya.

    Terlihat tiga ekor kuda berlari berpacu diatas tanah bulakang panjang, membelah padang ilalang dan terlihat semakin jauh mendekati bukit kecil.

  41. Diatas puncak bukit mereka berhenti sebentar, menengok kebelakang memandang sawah dan ladang yang terhampar. Sepertinya mereka bertiga mempunyai perasaan yang sama, suara rindu para cantrik Padepokan Bajra Seta nun jauh diujung seberang sawah dan ladang yang terhampar indah seakan memanggil mereka, mengucapkan selamat jalan.

    “Aku akan selalu merindukanmu”, berkata Lawe sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya tersenyum melihat laku Lawe, diam-diam mereka juga mempunyai perasaan yang sama, sebuah kekosongan hati meninggalkan tempat yang menyenangkan bersama dalam persaudaraan dan kegembiraan hari-hari di Padepokan Bajra Seta yang tenang dan sejuk, sesejuk senyum cerah para warganya. Dan mereka bertiga akan pergi jauh untuk waktu yang lama.

    Ketika menuruni bukit kecil itu, mereka tidak lagi memacu kudanya. Dibiarkan kaki kuda melangkah berjalan sendiri menuruni bukit. Masing-masing terdiam hanyut dalam angan pikirannya sendiri hingga tidak terasa mereka telah ada di tepi hutan kecil.

    Itulah awal perjalanan mereka. Sebuah awal pengembaraan mereka yang panjang menapaki liku jalan kehidupan yang tidak selalu datar. Lembaran perjalanan mereka diwarnai dengan canda dan tawa, tapi terkadang sangat begitu mencekam seperti menyusuri tepian jurang panjang ditengah malam dalam kepungan puluhan senjata tajam.

    Senja itu mereka tengah menyusuri jalan disebuah Padukuhan, tengah mencari sebuah Banjar Desa untuk bermalam. Tiba-tiba saja puluhan orang datang dari depan dan belakang membewa berbagai macam senjata.

    “Berhenti !!”, berkata seorang yang bertubuh tegap berkumis tebal dengan senjata golok besar telanjang ditangannya.

    Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe segera turun dari kudanya.

    “Beginikah sikap kalian menerima setiap orang asing yang datang di kampungmu?”, berkata Lawe yang merasa tidak menyukai sikap orang-orang dusun yang mengepung dan mengancamnya.

    “Jangan banyak bicara, menyerahlah”, berkata kembali orang itu dengan suara keras.

    “Apa kesalahan kami ?”, bertanya Lawe tidak kalah keras suaranya sepertinya tidak sabaran.

    “Jangan berpura-pura, kalian pasti ingin kembali mencuri sapi kami”, berkata orang itu

    “Darba, jaga sikapmu”, tiba-tiba muncul menyeruak dari kerumunan banyak orang, seorang lelaki sudah berumur namun tubuhnya masih begitu tegap dan berotot.

    “Ki Jagabaya, mereka adalah pencuri”, berkata orang yang berkumis tebal yang dipanggil Darba oleh Ki Jagabaya yang baru saja datang menghampiri mereka.

  42. “sudah kubilang, jaga sikapmu !”berkata Ki Jagabaya kepada Darba yang sepertinya tidak menerima sikap Ki Jagabaya.

    “Maafkan kami anak muda, kemarin malam di padukuhan ini telah kecurian tiga ekor sapi. Wajarlah bila semua orang disini menjadi curiga kepada orang asing”, berkata Ki Jagabaya menjelaskan kepada Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping dengan sikap yang santun.

    “Kami hanya pengembara, rencananya kami ingin menumpang bermalam di Banjar Desa. Namun dengan kejadian ini, biarlah kami bermalam ditempat lain”, berkata Mahesa Amping.

    “Jangan biarkan mereka lepas, mereka harus dihukum”, berkata Darba sambil mengangkat golok besarnya.

    “Benar, mereka harus dihukum”, berkata dua orang yang berdekatan dengan Darba.
    Sementara beberapa orang padukuhan sepertinya meresa segan dengan Ki Jagabaya, mereka hanya berdiri menunggu dalam keraguan.

    Tiba-tiba saja muncul tiga orang pemuda mendekati Ki Jagabaya.

    “Orang asing ini bukan pencurinya, sejak kemarin kami sudah tahu siapa pencurinya”, berkata salah seorang pemuda yang mendekati Ki Jagabaya.

    “Kamu tahu siapa pencurinya ?”, bertanya Ki Jagabaya kepada pemuda itu.

    “Maafkan aku, waktu itu aku takut ayah akan berhadapan dengan orang itu”, berkata pemuda itu.

    “Apakah saat ini kamu masih takut menyebut nama pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya.

    “Rasa takutku telah hilang, melebihi rasa takut bila ayah salah menghukum orang asing ini”, berkata Pemuda itu.
    “Katakan siapa pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya tidak sabaran.

    “Darba dan dua temannya itu”, berkata pemuda itu sambil menunjuk Darba dan dua orang yang ada didekatnya.
    Semua mata memandang Darba dan dua orang temannya.

    “Anak setan, jangan bicara sembarangan”, berkata Darba dengan marahnya. Wajahnya berubah semakin beringas.

    “Kemarin malam kami mengikutimu sampai keujung hutan, disanalah kalian menyimpan sapi-sapi itu”, berkata pemuda itu.

    “Anak setan, kurobek mulutmu”, berkata Darba sambil melangkah mengacungkan golok besarnya.

  43. “Aku yakin anakku tidak berbohong, sudah lama aku mencurigai kalian bertiga”, berkata Ki Jagabaya sambil menghadang langkah Darba.

    “Rupanya anakmu masih berotak, takut ayahnya yang sudah tua tidak akan mampu menghadapi kami bertiga”, berkata Darba langsung menyerang Ki Jagabaya.

    Ternyata Ki Jagabaya meski sudah berumur masih mampu bergerak lincah. Dengan bergeser kesamping menghindar tusukan golok besar Darba, Ki Jagabaya langsung menyerang balik dengan sebuah sabetan tombak pendek bermata dua yang merupakan senjata andalannya.

    Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Darba dan Ki Jagabaya. Semua mata memandang penuh rasa khawatir, apakah Ki Jagabaya yang sudah tua akan dapat menandingi Darba yang bertubuh tegap yang terlihat begitu ganas dan keras melakukan serangannya.

    Mahesa Amping yang mengikuti pembicaraan pemuda yang ternyata putra Ki Jagabaya memberi tanda kepada Lawe untuk bersiap menjaga segala kemungkinan dua orang kawan Darba berbuat kecurangan. Ternyata dugaan Mahesa Amping terbukti, dua orang kawan Darba telah bersiap maju mendekati pertempuran. Mahesa Amping dan Lawe maju menghadang mereka.

    “Kurang enak dipandang, orang tua di keroyok tiga orang sekaligus”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang yang berkulit hitam pekat.

    “Sedari tadi aku sudah tidak sabar untuk mencincangmu”, berkata orang yang berkulit hitam pekat itu sambil mengayunkan pedang besarnya kearah kepala Mahesa Amping yang langsung mengelak dengan gerakan seenaknya. Bukan main marah dan penasarannya orang itu melihat ayunan pedangnya lolos tipis dari sasarannya. Ternyata Mahesa Amping tidak langsung menunjukkan tataran ilmunya, berpura-pura mengelak dengan gerakan seadanya. Semakin geram dan penasaran orang itu untuk menyelesaikan pertempurannya.

    Sementara itu Lawe sudah berhadapan dengan seorang lagi teman Darba yang berwajah menyeramkan, ada bekas luka codet di sepanjang garis pipinya.

    Tidak seperti Mahesa Amping, Lawe tidak sabaran menghadapi lawannya yang berwajah seram itu. Ketika sebuah bacokan mengarah dari atas kepalanya. Dengan kecepatan yang tidak dapat dipercaya oleh lawannya, Lawe bergeser memiringkan badannya. Dan senjata lawan lewat hanya beberapa inci dari tubuh Lawe.

    Orang itu seperti terbelalak tidak percaya, sebuah tamparan yang keras menghantam tangannya yang masih menggenggam pangkal pedang. Tulang tangannya seperti patah dan pedih, tidak terasa pedangnya telah terlepas. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, entah dari mana datangnya serangan, yang dirasakannya tengkorak kepalanya seperti terhantam benda berat. Seketika itu juga orang yang berwajah menyeramkan itu roboh pingsan.

    Orang-orang Padukuhan seperti tidak percaya dengan penglihatannya. Orang yang berwajah seram yang memang baru beberapa minggu ini tinggal di rumah Darba telah dapat dirobohkan dengan cepat oleh seorang pemuda asing yang sebelumnya dituduh sebagai seorang pencuri.

  44. Raden Wijaya hanya tersenyum melihat Lawe yang dengan cepat merobohkan lawannya. Pandangannya masih tetap ke pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin dapat saja terjadi. Namun sekali-kali masih menengok pertempuran Mahesa Amping yang terlihat seperti orang bodoh menghindari serangan lawannya.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, Ki Jagabaya ternyata masih mampu mengimbangi serangan Darba yang keras dan ganas. Mereka sepertinya berpacu meningkatkan tataran ilmunya. Pertempuran menjadi begitu sengit. Masing-masing ingin selekasnya menyelesaikan pertempuran.

    Akhirnya sedikit kelengahan telah menguntungkan posisi Ki Jagabaya. Darba lengah tidak menyadari bahwa tombak pendek Ki Jagabaya bermata dua. Ketika sebuah serangan dari Ki Jagabaya meluncur mengarah perutnya, dengan angkuh Darba mencoba menghantam tombak pendek itu dengan golok besarnya sekuat tenaga dengan keyakinan tombak pendek itu pasti terlempar. Ternyata tombak pendek itu berubah arah. Mata tombak yang lain berubah berputar menukik pangkal paha Darba. Darah memuncrat dari pangkal paha yang tercabik mata tombak Ki Jagabaya yang langsung mencabutnya dan melompat beberapa jarak.

    Rasa pedih dan perih dirasakan darba pada pangkal pahanya yang tertembus mata tombak Ki Jagabaya. Kaki kanannya seperti lumpuh.

    “Mata tombakku mengandung racun yang tajam, menyerahlah, aku punya penawarnya”, berkata Ki Jagabaya menawarkan Darba untuk menyerah.

    Darba yakin Ki Jagabaya tidak berbohong. Apalagi ketika dirasakan badannya ikut menggigil.

    “Aku menyerah”, berkata Darba sambil melemparkan golok besarnya.

    Sementara itu, Mahesa Amping juga melihat akhir pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Maka ada pikiran untuk menyelesaikan pertempurannya yang lebih tepat disebut permainan. Karena Mahesa Amping selama itu hanya melompat dan berlari menghindari setiap serangan dengan gerakan seperti orang bodoh yang membuat lawannya bertambah penasaran.

    Mahesa Amping memang sudah jemu bermain. Ketika sebuah bacokan meluncur dari arah atas kepala, Mahesa Amping tidak menghindar. Dengan memperhitungkan kekuatan dan kecepatan luncuran pedang, Mahesa Amping telah menghentikan laju pedang itu dengan menjepitnya dengan dua buah jari tangannya. Dengan tersenyum Mahesa Amping memandang lawannya yang berusaha menarik sekuat tenaga pedangnya agar terlepas dari jepitan Mahesa Amping yang begitu kuat. Bahkan tidak malu lagi menariknya dengan kedua tangannya. Akibatnya pun jadi sungguh memalukan, orang itu jatuh duduk ditanah terlempar tenaganya sendiri karena dengan cepat Mahesa Amping telah melepaskan jepitan jarinya.

    “Menyerahlah, dua orang temanmu sudah tidak berdaya”, berkata Mahesa Amping dengan sikap tidak seperti orang bodoh lagi. Wajahnya berubah seperti penuh wibawa dan angker.

  45. Ternyata orang yang berwajah hitam pekat itu telah menyadari dengan siapa ia berhadapan. Bagaimana dengan dua buah jari lawannya dapat menahan dan menjepit pedangnya. Disamping itu ia telah melihat dua orang kawannya sudah tidak berdaya.

    “Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melempar pedangnya.

    “Bawa mereka ke rumah Ki Buyut”, berkata Ki Jagabaya kepada beberapa orang yang langsung mengikat Darba dan dua orang kawannya.

    “Terima kasih, apa jadinya diriku yang tua ini bila sampai dikeroyok tiga orang begundal itu”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.
    “Tanpa kehadiran Ki Jagabaya, mungkin kami sudah dicincang habis warga Padukuhan”, berkata Mahesa Amping.

    “Ternyata aku berhadapan dengan orang muda yang telah dapat menguasai diri. Sebelum dicincang kalian sudah lebih dulu membantai seluruh orang padukuhan. Terima kasih kalian tidak melakukannya”, berkata Ki Jagabaya.

    Akhirnya Ki Jagabaya mengajak mereka ikut bersama kerumah Ki Buyut untuk ikut menjadi saksi.

    Hari sudah jauh menjadi malam, manakala mereka sampai dirumah Ki Buyut. Ki Jagabaya pun menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Darba dan dua orang kawannya tidak dapat mengelak lagi, mereka mengakui semua perbuatannya.

    “Bermalamlah dirumahku, aku masih punya persediaan ketela yang baru tadi siang dicabut”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe ketika urusan dengan Darba dan dua orang kawannya dianggap telah selesai. Masalah hukuman apa yang pantas bagi mereka telah diserahkan sepenuhnya kepada Ki Buyut.

    Akhirnya Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe tidak menolak tawaran Ki Jagabaya.

    Sebagaimana yang dijanjikan, Ki Jagabaya telah menjamu mereka dengan ketela rebus yang baru dicabut lengkap dengan kelapa parut mudanya. Apalagi yang menjadi teman minumnya segelas hangat wedang sare lengkap dengan gula batu merahnya.

    “Pwenake pwoall”, berkata Lawe sambil menyerumput wedang sare hangatnya.

    • waduh……
      banjir…..
      kamsia………
      tapi…, ini seharusnya sudah masuk ke gandok 3 ki.

      • He……….he………..he…………..
        kesel kesel kebanjiran, uenake puwooolllll.

        Kula hadir Ki Ajar pak Satpam.

  46. Gandok e full tenan

  47. Wah Ki Kompor nggak jadi liburan, malah lembur.
    Matur nuwun Ki,
    Situ Cipondoh meluap.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: