SFBdBS-02

<<kembali ke SFBdBS-01 | lanjut ke SFBdBS-03 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 Juni 2011 at 08:47  Comments (379)  

379 Komentar

  1. Tidak disengaja pertempuran antara Datuk Alasjati dan Kertanegara telah terpisah dari pertempuran lainnya. Daya hentak cambuk Kertanegara memang luar biasa. Hentakan itu mempengaruhi siapapun yang mendekat. Siapapun berusaha menyingkir menjauhi pertempuran itu, dada mereka terasa pecah. Hanya Datuk Alasjati yang mampu bertahan mengimbangi serangan cambuk Kertanegara yang menggetarkan itu.

    Sementara itu jumlah para penghuni Padepokan Alasjati terus menyusut. Kemampuan lawan mereka ternyata jauh melampaui kemampuan yang mereka miliki. Hingga akhirnya hanya tinggal sepuluh orang yang masih berdiri bertahan.

    “Menyerahlah”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada sepuluh orang penghuni Padepokan Alasjati.

    Para penghuni Padepokan Alasjati ternyata dapat berhitung dengan baik. Mereka merasakan tataran ilmu mereka dibawah para penyerangnya. Ditandai dengan cepatnya jumlah mereka terus berkurang meski pada awalnya jumlah mereka sebanding. Meski ada juga lawan mereka yang cidera, tapi itu dapat dihitung dengan jari.Kekuatan lawan tidak pernah berkurang.

    “Cepat menyerah”, berkata kembali Ki Gede Banyak Wedi dengan suara yang mengguntur.

    “Kami menyerah”, berkata salah seorang dari mereka sambil melempar senjatanya yang diikuti oleh semua kawan-kawannya.

    Seluruh senjata telah diamankan. Seluruh penghuni Padepokan Alasjati yang tersisa sepuluh orang langsung diikat sebagai tawanan yang tidak berdaya.

    Sementara itu pertempuran antara Datuk Alasjati dan Kertanegara masih terus berlangsung. Datuk Alasjati masih terus meningkatkan tataran ilmunya mencoba melambari kekuatan dirinya menahan daya hentak cambuk Kertanegara yang terus meningkat. Datuk Alasjati mencoba mengurangi daya hentakan itu dengan melambari dirinya dengan hawa panas lewat sambaran tongkatnya yang berputar kencang. Tapi dihadapan Kertanegara hawa panas itu seperti tidak berpengaruh. Kertanegara langsung menawarkan hawa panas dengan hawa dingin yang kasat mata keluar dari dalam dirinya. Serangan hawa panas itu seperti tidak berarti, bahkan Datuk Alasjati merasakan dirinya seperti menggigil terserang dingin yang kasat mata keluar dengan sendirinya dari tubuh Kertanegara.

    Akibatnya memang sangat fatal. Disamping merasakan dadanya yang terasa sesak ketika menghindar dari sentakan cambuk kaertanegara yang terus mengejarnya, Datuk Alasjati juga meresakan serangan hawa dingin yang sepertinya menyerang menusuk-nusuk tulangnya.

    Datuk Alasjati telah berusaha meningkatkan tataran ilmunya pada puncaknya, tapi daya hentak yang menyesakkan dadanya serta hawa dingin yang menusuk-nusuk dirinya tidak juga berkurang. Pucat wajah Datuk Alasjati, tataran ilmu Kertanegara ternyata sukar sekali diukur sampai dimana puncaknya. Timbul rasa penyesalannya mengapa mau menerima tawaran untuk membunuh Pangeran Kertanegara yang dikiranya begitu mudah dapat dilakukannya.

    “Menyerahlah”, berkata Kertanegara yang sudah dapat mengendalikan dirinya untuk tidak menuruti kebenciannya melumatkan orang yang telah mengurung Menik Kaswari yang dilihatnya sudah pucat pasi tidak berdaya.

    Sebenarnya sudah banyak kesempatan untuk merobohkan lawannya . Tapi Kertanegara tidak juga melakukannya, hanya untuk mengukur sampai sejauh mana tataran ilmu Datuk Alasjati dapat bertahan, dan menekannya agar menyerah. Kertanegara berharap Datuk Alasjati dapat dijadikan alat penghubung, siapa dibalik semua ini yang menginginkan nyawanya sebagai sebuah hadiah.

    “Aku menyerah”, berkata Datuk Alasjati yang nampaknya sudah berputus asa. Menyadari bahwa Kertanegara masih bermurah hati tidak membinasakannya. “Terima kasih telah memperpanjang umurku”, berkata kembali Datuk Alasjati sambil melempar tombak panjangnya ditanah.

    Dengan mudah datuk Alasjati menyerahkan kedua tangannya untuk diikat. Dikumpulkan bersama anak buahnya sebagai tawanan.

    Ditempat yang lain, Mahesa Amping, Raden Wijaya, Lawe dan Menik Kaswari telah semakin jauh dari Padepokan Alasjati.

    Sementara itu Matahari pagi sudah bersinar terang. Cahayanya sudah masuk lewat cabang dan daun pepohonan Hutan Mading.

    “Tugas kita tanpa rintangan yang berarti”, berkata Raden Wijaya merasa sebentar lagi sudah sampai di Tanah Perdikan.

    “Apakah seharusnya aku kembali ke Padepokan Alasjati, mungkin tenagaku dibutuhkan disana”, berkata Lawe minta pertimbangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Jangan !”, berkata Mahesa Amping.”Ki Gede pasti punya pertimbangan lain mengapa tugas ini harus kita bertiga yang melaksanakannya”, Lanjut Mahesa Amping.

    “Jarak hutan Mading ke Tanah Perdikan sudah begitu dekat, kupikir cukup kalian berdua mendampingi Mbakyu Menik Kaswari sampai di tujuan”, berkata Lawe menyampaikan pendapatnya.

    “Apapun perintah pimpinan harus kita patuhi”, berkata Mahesa Amping kepada Lawe mengingatkan. Meski sebenarnya bukan itu yang dipikirkan Mahesa Amping. Panggritanya yang tajam telah menangkap sesuatu akan terjadi dalam perjalanan mereka.

    Apa yang terlintas dalam “pengabaran”bathin yang diterima oleh Mahesa Amping ternyata memang sepertinya akan terjadi. Didepan mereka terlihat tiga orang sepertinya sengaja menunggu mereka.

    “Berhati-hatilah”, berkata Mahesa Amping sambil meminta Menik Kaswari berjalan dibelakang mereka.

    Ketika mereka sudah menjadi semakin dekat dengan tiga orang yang sepertinya sengaja menunggu mereka. Lawe dan Raden Wijaya mengenal salah satu dari tiga orang itu yang tidak lain salah seorang pemuda kembar yang pernah menjadi lawannya.

    “Dua orang itulah yang membawa Prastawa”, berkata pemuda itu yang namanya sendiri adalah Praskata kepada seorang disebelahnya yang sudah berumur yang tidak lain adalah gurunya sendiri.

    • jangan dirubah lagi Paklek satpam, kadung familier sama model koment ini………..

      • kamsiaaaaaaaaa

        • ya…..ya…..ya……betul betul
          KAMSIA.
          (kamsia tulus tanpa pakai bold)

  2. lho,,,,kok berubah lagi ????

    • Mohon maaf Ki Kompor,
      model komen ini sudah dari “sono”nya (Admin WordPress), saya tidak merubah apa-apa,
      Saya tidak tahu bagaimana mengembalikan ke gaya komen yang lama.
      Model komen biasanya sesuai dengan temanya, kalau merubah berarti harus merubah tema dan menjadi semakin tidak familier

      hadu……
      ngapunten ki,
      atau…. adakah sanak kadang yang tahu bagaimana merubah ke model komen yang lama?

      • eh… lupa..
        kamsiaaa……………..

        • kalo pake model si komeng repot
          pak SATPAM….wara-wiri Ra gelem
          anteng,

          • yen saran kula nggih dicobi mawon ngangge BOLD mbok menawi saged berubah.
            Lha basa jawane berubah apa ya OWAH to ….????

          • selamat malem eyang Gembleh,

            kalo si BOLD hadir pak SATPAM…ketar-ketir,

            ojo2 lali nutup,

          • Sugeng dalu ugi Ki Menggung,

            berubah = owah

            perubahan = owah owahan

            tidak mau berubah = oRA Owah babarblas.

          • yen owah medeni bocah.

          • kok mirip (tanpa BOld) :

            goyang = obah
            berguyang = obah obahan

            tidak mau bergoyang = oRA Obah babarblas.

          • yen obah cepet dikurung

          • yen Ni Sinden bergoyang
            medeni para eyang.

  3. kamsiiiiaaaaa, banyaaaaakkk

  4. semakin lama semakin ramai dan banyak peminat
    lewat tengah malam, halaman dalam penuh, halaman depan juga penuh, sekarang penonton sudah meluber ke halaman samping
    hhmmmm………………………..

    • SFBdBS-02…kok belom diBENDEL pak SATPAM,
      opo isih kurang akeh…!!??

      • ngendikane taksih kekirangan Sinden’e.

        • kemaren cantrik wes laPOR sama
          pak DALANG kok ki,

          atas saran ni SINDEN dewi besok
          cantrik coba nyamperin ke rumah
          ni SINGEN ikKE,

          moga-moga….perjuangan cantrIK mengGondol (berhasil-sukses) ki,

      • hadu….ni SINDEN kedhuseL pak DALANG
        sampe kemringeT,

        usul pak SATPAM :
        sambel nunggu genep-e rontal SFBdBS-02
        giMANA kalo lokasi pagelaran dipindah ning pekarangan mbUri pendopo…!!??

        tinggal olor kabel dikiT, sambung sana
        sambung sini (beres)…he-hee, embuhlah

      • he he he …
        baru dua per tiga Ki (48/75)
        sepertinya menunggu halaman samping penuh baru pindah gandok
        tidak tahulah…, terserah Pak dalangnya.

  5. Sudah selesai saya baca, tambah lagi Ki Kompor…………!
    Kutunggu sampai jam 24.00

  6. Orang tua itu adalah seorang yang sangat di segani di Gelang-gelang. Guru dan sekaligus pemimpin Padepokan Gelang-gelang, sebuah Padepokan yang paling tua di daerah Gelang-gelang. Konon nama daerah Gelang-gelang sendiri awalnya berasal dari nama Pedepokan itu yang memang mempunyai sebuah senjata yang menjadi cirri khas dari para cantriknya yaitu berupa senjata gelang-gelang. Sebuah senjata yang berbentuk lingkaran sebesar lingkaran yang dapat dikalungkan di leher orang dewasa. Mata pisau tajamnya ada pada bagian luar lingkaran. Sebuah senjata yang sangat berbahaya apalagi dipegang oleh ahlinya.

    Guru sepasang iblis dari gelang-gelang bernama Empu Gelian, menatap geli tertawa kepada Raden Wijaya dan Lawe sebagaimana telah ditunjuk oleh Prastaka muridnya.

    “Dua bocah inikah ?”, berkata Empu Gelian tertawa tidak menyangka bahwa orang mereka cari ternyata dua anak muda yang masih belia.

    “Biarlah kami lewat, kami ada urusan yang sangat penting”. Berkata Mahesa Amping yang sudah turun lebih dahulu dari kudanya.

    “Kalian tidak akan bisa lewat dari sini, karena nyawamu cuma sampai disini”, berkata Empu gelian menggertak.

    “Hanya Gusti Yang Maha Kuasa yang berhak mengambil setiap nyawa”, berkata Mahesa Amping dengan tenang, tidak ada sedikitpun kegentaran terlihat diwajahnya.

    Melihat anak muda didepannya tidak mudah digertak dengan kata-kata, Empu Gelian melepas dua buah gelang dari lehernya. Kilau tajam mata pisau yang melingkar itu memang mempunyai perbawa yang menggiriskan siapapun yang memandangnya. Tapi tidak bagi Mahesa Amping yang tidak menjadi gentar melihat orang tua didepannya yang sepertinya sedang pamer senjata pusaka.

    “Kamu belum kenal siapa aku”, berkata Empu Gelian dengan wajah geram melihat Mahesa Amping tidak sedikitpun menampakkan wajah gentarnya.

    “Aku belum tahu siapa sebenarnya kisanak orang tua”, berkata Mahesa Amping masih belum berubah, masih tetap tenang sebagaimana awalnya.

    “Ditempat asalku, orang-orang menjuluki diriku sebagai Setan tertawa”, berkata Empu Gelian.

    Lawe dan Raden Wijaya tidak mampu menahan ketawanya. Sementara Mahesa Amping dapat menahan rasa gelinya, hanya tersenyum sedikit mendengar julukan orang tua didepannya.

    Rasa marah Empu Gelian sepertinya semakin memuncak, melihat tiga orang anak muda belia didepannya bukannya gentar tapi malah tertawa.

    “Tahukah kenapa julukanku Setan tertawa ??, karena aku sering membunuh musuhku dengan tertawa”, berkata Empu Gelian sambil berusaha menahan kemarahannya.

    • masih bertahan menunggu pukul 24.00 hehehehe-10X

      • Jelas masih bertahan, hehehehe-20X

        • Nah pas kan, jam 00.00
          Trimakasih Ki Kompor, baca dulu …

        • Lawe…… apa kelak bergelar Rangga Lawe (sahabat Raden Wijaya)?
          Pamit dulu….. sudah ngantuk.

          • betul-betul-betullllllll, kelak mendapat gelar prajurit sebagai RANGGA………pas sesuai arahan Ki Puna dan Ki BY

            nachhh….sudah pukul 00.15
            masih kuat khan ??? heheheheheh 50x

          • Sebenarnya masih kuat, cuma ingat besok pagi-pagi absent elektronik, kalau terlambat dihitung, dijumlah.
            Terpaksa pamit, kamsiaaa….!!

  7. Sugeng dalu Ki Arga,

    mugi-mugi dapat tidur nyenyak, mugi-mugi dapat bermimpi berjumpa dengan Ni Menik Kaswari gadis manis asli Malang yang berwajah putih halus dengan sebuah hidung mancung mangir, bertubuh tinggi semampai langsing seperti model iklan minuman pelangsing di TV.Bila tersenyum ada lesung pipitnya di kedua pipinya menambah gemas untuk selalu dekat dan memberinya sebuah canda agar melihat kembali lesung pipitnya yang bersembunyi…………………………

    • Sayangnya saat itu belum ada HP buat kirim SMS
      Sayangnya saat itu belum ada FB buat OL- an
      seandainya sudah ada HP atau FB, pastai Kertanegara tidak perlu nekat ke Madura,

      Cukup kirim SMS atau OL di FB dengan sedikit kalimat pesan:

      “Tunggulah yayang, babe gue akan segera datang ngelamar”

      • aTo…..:

        “yayang, kakang besok pagi datang beserta rombangan….ngelamar”

  8. Kamsia banget Ki Kompor

    • pak DALANG kamsiaaaa banget……kamsiaaa banget,

  9. kamsiiiiaaaaa

  10. SELAMAT PAGI.
    MATURNUWUN KI. KOMPOR
    Dibaca nti habis Jum’atan.

  11. Lho……………………l…h…o…….
    biasane jam yah mene wis nongol telung halaman,
    lha iki kok durung ana babarblas to…….?????????

    Pak Dhalang, ndang cepet diunggah to pak…..!!!!!!
    (ogrokan halus tanpa BOLD dan Italic)

    Sugeng dalu.

  12. Leres Ki Gembleh,
    Ki Dalang nembe istirahat dikeroki Nyi Sinden.
    Sugeng dalu

    • Ki Mengggung…..niki lho….wah jan,.blaik tenan,
      ngendikane Ki Honggo, ni Sinden nembe ngeroki pak Dhalang.

  13. melihat berita di tv soal sms dari Singapura kok jadi ingat
    semboyan tiji-tibeh, mati siji-mati kabeh

    Saya yakin Ki Bayu atau Ki Puna pirsa lan kersa menjlentrehkan sejak kapan semboyan tsb dipakai dan dalam konmteks negatif atau positif.

    Sumangga Ki Bayu,
    ngaturaken agunging panuwun sak derengipun.

  14. tukang kendangnya masih ngopi diwarung sebelah

  15. Ki Kompor baru kena “oglangan” ayake
    he he he …, mana mungkin?

    masih sabar ditunggu
    monggo.., sami pinarak ingkang sekeca.

  16. Nyenyaknya tidur tadi malam. Senangnya ketemu gadis cantik jelita seperti yang dikatakan Ki Kompor. Wah …. seandainya gadis itu ikut kontes kecantikan seperti Miss Universe atau Miss World pasti juara. Sayaaang hanya mimpi, bangun tidur bayangan Menik kaswari pun lenyap.
    Ayo Ki Kompor, sudah ditunggu para sanak kadang.

  17. he he he ….
    Pak Dalang kecapekan rupanya
    nggih sampun, mata sudah sepet,
    pamit nggih…..

  18. sugeng sonten, sugeng malem mingguan

  19. maaf,maaf,maaf, baru pulang……………

  20. “kalau begitu, mulai hari ini aku memberi julikan baru untukmu, Setan Mati ketawa” berkata Lawe dari belakang Mahesa Amping sambil masih belum dapat menghentikan kegeliannya.

    “Kupecahkan mulutmu”, berkata Empu Gelian sambil mengangkat sebuah gelang keatas tidak dapat lagi menahan kemarahannya.

    “Melihat sikapmu, aku akan menambahkan julukan untukmu, Setan Marah Mati ketawa”, berkata Mahesa Amping menambahkan minyak karena dilihatnya orang tua itu matanya sudah merah terbakar amarah.

    Tanpa kata-kata, gelang ditangan Empu Gelian yang sudah terangkat tinggi langsung menghantam kepala Mahesa Amping yang ada didekatnya. Dengan tenang Mahesa Amping surut kebelakang sedikit. Dan dengan kecepatan yang tidak diduga-duga, gerakannya seperti tidak terlihat oleh pandang mata biasa, telah menyentil gelang Empu Gelian dengan sentilan jari telunjuknya.
    ting !!

    Bukan main kagetnya Empu Gelian melihat gerakan Mahesa Amping yang begitu cepat, sementara tangannya dirasakan sedikit tergetar karena Mahesa Amping tida k sekedar menyentil, tapi telah sedikit menyalurkan tenaga cadangannya ke ujung telunjuk jarinya.

    “Jangan merasa gagah dengan merasa sedikit kemampuan”, berkata Empu Gelian sambil mengayunkan mendatar gelang ditangan satunya.

    Wuss !!

    Terdengar angin dari gelang itu yang nyaris merobek perut Mahesa Amping yang dengan cepat surut sedikit kebelakang namun tidak langsung melakukan serangan balik, tapi berdiri siap menghadapi serangan selanjutnya.

    Terperanjat Empu Gelian mendapati dua serangannya lolos tanpa arti, sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah bahwa anak muda didepannya telah mampu menguasai tenaga cadangan yang ada didalam dirinya, baik dalam kecepatan gerak maupun dalam menyalurkan kekuatan dari dalam diri.

    Maka serangan selanjutnya dari Empu Gelian merupakan serangan yang penuh perhitungan dan juga penuh tipuan.
    Sebuah serangan beruntun menerjang Mahesa Amping. Hanya dengan kemampuan gerakannya yang cepat Mahesa Amping masih dapat mengelak serangan demi serangan.

    Mahesa Amping telah mengeluarkan belati pendeknya yang selalu dibawa terselip tersembunyi dibalik kainnya. Mahesa Amping menyadari bahwa sangat berbahaya terus-menerus mengelak. Empu Gelian lawannya itu ternyata begitu berpengalaman, gerakannya begitu kaya dengan banyak tipuan yang membahayakan jiwa Mahesa Amping. Akhirnya mahesa Amping terlihat tidak hanya mengelak, tapi langsung membalas serangan Empu Gelian tidak kalah berbahayanya.

    tidak apa-apa Ki
    lagian, seharian juga hanya segelintir penonton yang hadir

  21. Pertempuranpun menjadi semakin dahsyat dan seru. Mahesa Amping dan Empu Gelian terus meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis, masing-masing masih mencoba menelitik dan menjajagi sejauh mana tingkat kemampuan ilmu lawannya. Suara benturan dua senjata pun sering tidak dapat lagi dihindari. Empu Gelian mendapat keuntungan dan kelebihan dengan dua senjata gelangnya. Tapi Mahesa Amping mampu mengimbanginya dengan tidak hanya kecepatan geraknya, tapi juga kemahirannya merubah genggaman belati pendek ditangannya. Kadang belati itu digenggam dalam gerak menikam, kadang belati pendek itu berubah dalam posisi genggaman tangan menusuk dan mengayun.

    Pertempuran antara Mahesa Amping dan Empu Gelian menjadi semakin menakjubkan mata, semakin cepat. Menik Kaswari yang menyaksikan langsung pertempuran itu sepertinya hanya melihat dua bayangan hitam saling berkelebat. Kadang terdengar suara dua senjata beradu, kadang hanya suara senjata membelah angin. Wuss !!!.Berdebar-debar perasaan Menik Kaswari tidak karuan. Menik Kaswari hanya berharap, semoga Mahesa Amping yang keluar hidup-hidup dari pertempuran maha dahsyat yang baru pertama kalinya disaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri.

    Sementara Lawe dan Raden Wijaya terus mengawasi dua orang didepannya, takut bila saja mereka bertindak pengecut membantu pertempuran itu.

    Sambil mengawasi dua orang didepannya, Lawe menyaksikan pertempuran itu sebagai pertempuran yang mengagumkan. Tidak dapat langsung menilai, siapakah yang dapat keluar sebagai pemenangnya. Karena keduanya begitu sama-sama sempurna menguasai senjatanya. Sama-sama dapat bergerak dengan cepat. Lawe hanya dapat berharap, Mahesa Amping dapat keluar mengakhiri pertempuran itu sebagai pemenang.

    Hanya Raden Wijaya sepertinya yang dapat menyaksikan pertempuran dengan hati yang tenang.

    “Mahesa Amping masih bermain-main”, berkata Raden Wijaya kepada dirinya sendiri. Meskipun ia sendiri melihat kekayaan pengalaman Empu Galian dengan gerakannya yang penuh tipu daya membahyakan. Tapi dirinya yakin, Mahesa Amping dapat mengatasinya. Dan Raden Wijaya memang melihat Mahesa Amping masih belum menunjukkan tataran ilmunya yang sebenarnya.

    Sementara itu Praskata dan saudara perguruaannya berdebar-debar tidak menyangka ada yang dapat mengimbangi ilmu gurunya. Dan orang itu masih begitu muda belia.

    “Apakah anak muda itu juga berada di atas kapal kayu ?”, bertanya saudara seperguruannya kepada Praskata.
    “Aku melihatnya ada bersama di Kapal kayu, bahkan anak itu bermaksud mengejarku”, berkata Praskata kepada saudara seperguruannya.

    “Dari Padepokan mana mereka sesungguhnya”, berkata saudara seperguruannya sambil matanya tidak lepas sedikitpun dari pertempuran di depan matanya yang sangat menggetarkan hatinya. Sebagai murid tertua, baru pertama kali ini melihat gurunya bertempur begitu lama dan mendapatkan lawan yang seimbang.

  22. Pertempuran masih berlangsung . Dan memang Mahesa Amping sebagaimana yang dilihat Raden Wijaya masih belum menuntaskan tataran ilmunya pada puncaknya. Mahesa Amping hanya mengimbangi serangan-serangan Empu Gelian selapis lebih sedikit. Begitulah mereka selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Empu Gelian telah mengeluarkan segenab kemampuannya. Angin serangan senjatanya benar-benar menggiriskan, hawa panas mampu merobek tubuh lawan meski senjata gelangnya belum dan masih jauh dari jangkauan.

    Untungnya Mahesa Amping lebih dulu menyadarinya sebelum angin panas itu merobek perutnya. Mahesa Amping telah melapisi dirinya dengan kekuatan hawa dingin yang mampu meredam dan menawarkan hawa panas dari angin senjata Empu Gelian. Bukan main terkejutnya Empu Galian, angin panasnya tidak berarti menghadapi Mahesa Amping.

    Sementara itu arena pertempuran terlihat seperti tanah terbongkar. Semak-semak terlihat hangus terbakar terkena angin panas tersambar senjata gelang milik Empu Gelian.

    Empu Gelian menjadi penasaran, sudah ratusan jurus masih juga belum dapat menundukkan lawannya yang masih mudah belia ini. Akhirnya tanpa malu lagi telah meningkatkan tataran ilmunya pada batas puncaknya. Senjata gelangnya terlihat seperti bara merah menyala, sementara angin serangannya terlihat seperti api yang menyebar mengikuti kemanapun Mahesa Amping bergerak. Tapi angin hawa panas itu tidak juga mampu menembus tubuh Mahesa Amping. Angin hawa panas itu sepertinya langsung menjadi dingin manakala masuk mendekati tubuh Mahesa Amping. Sementara itu serangan belati pendek Mahesa Amping menjadi sangat menyibukkan yang kadang datang seperti ombak menggulung tidak putus.

    Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh Mahesa Amping, terlihat Empu Gelian melompat menjauh. Empu Gelian memang sudah tidak sabar lagi, ingin selekasnya menyelesaikan pertempurannya. Mahesa Amping menyadari, pasti Empu Gelian bermaksud mengeluarkan ilmu andalannya. Dugaan Mahesa Amping ternyata tidak meleset jauh. Terlihat Empu Gelian menambah senjata gelangnya yang tergantung dilehernya. Empat buah gelang ditangan Empu Galian menyala seperti bara. Dan dengan kecepatan yang luar biasa satu gelang meluncur menerjang Mahesa Amping yang langsung mengelak kesamping. Belum lagi kaki Mahesa Amping jatuh di bumi, sebuah gelang yang lain kembali menerjang tubuh Mahesa Amping. Begitulah Mahesa Amping diserang oleh Empu Gelian dengan gelang yang membara meluncur seperti bola api. Anehnya gelang itu dapat kembali sendiri ketangan pemiliknya. Bukan main sibuknya Mahesa Amping mengelak tanpa dapat menyerang kembali. Mahesa Amping seperti barang mainan Empu Gelian, kadang harus berguling ditanah menghindar serangan gelang yang datang seperti bola api.

    Akhirnya Mahesa Amping tidak lagi mampu berpikir jernih. Satu waktu tenaganya akan terkuras. Maka pada sebuah serangan, terlihat Mahesa Amping mengelak. Tapi Mahesa Amping sudah dapat menghitung tempo serangan berikutnya.

    Sebelum serangan itu datang, sebuah pandangan mata Mahesa Amping tepat menyentuh dada kiri Empu Galian. Jantung Empu Gelian langsung hangus terbakar ditambah sebuah gelang yang tidak sempat ditangkap menembus perutnya.

    • WUAH………….wuah……….auwahhhhh………….
      banjir di malam minggu, kamsiaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

      pak Satpam’e lagi malem minggon.
      sayup sayup kedengaran ni Sinden lagi nyanyi,

      Di radio…..aku dengar lagu kesayanganku……
      kututupi…..telingaku dengan kedua belah tanganku…………

  23. Dengan mata terbuka terbelalak, Empu Gelian jatuh kebumi terlentang masih menggenggam tiga buah gelang miliknya. Jiwanya sudah melayang.

    Mahesa Amping masih berdiri menegang, termangu melihat hasil serangannya diluar pikiran jernihnya.

    “harusnya aku tidak membunuhnya”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri, sepertinya telah menyesali dirinya sendiri yang tidak dapat berpikir jernih, memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan panjang.

    Sementara itu Prastaka dan saudara seperguruannya seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Gurunya yang dianggapnya telah mempunyai ilmu setinggi gunung telah tergeletak ditanah tak bernyawa.

    Mereka berdua menatap Mahesa Amping dengan pandangan penuh kebencian, namun juga ada perasaan gentar. Tapi Praskata dan Saudara sepergurunnya ternyata adalah orang yang cerdas, dapat berhitung panjang, selain Mahesa Amping yang telah mengalahkan gurunya. Masih Ada Lawe yang pernah dihadapi dan mengimbangi ilmu Praskata. Dan disamping Lawe, ada seorang lagi yang telah melumpuhkan Prastawa dengan mudah. Akhirnya sebelum berlanjut dalam kesuitan yang lain, Praskata dan saudara seperguruannya telah membawa mayat gurunya.

    Ketika agak jauh berjalan beberapa langkah, Praskata berbalik badan.

    “Aku akan kembali mencari kalian, membayar hutang nyawa guruku”, berkata Praskata langsung berbalik badan kembali mengikuti saudara seperguruannya yang tengah membawa mayat gurunya.

    “Datanglah dengan seluruh orang Gelang-gelang, aku tidak takut !!”, berteriak Lawe yang merasa tertantang dengan ucapan Praskata yang pernah bertempur dengannya tapi belum tuntas, belum ada yang kalah dan menang.

    Sementara itu, matahari diatas hutan Mading sudah bergeser turun dari puncaknya. Cahayanya sudah tidak lagi menyengat kulit, telah menjadi teduh terhalang cabang daun pepohonan hutan yang lebat.

    “Mari kita lanjutkan perjalanan kita”, berkata Mahesa Amping yang telah berada diatas kudanya.

    Merekapun kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda, meninggalkan arena sisa pertempuran yang seperti tanah lapang yang terkoyak hangus terbakar.

    Kini kita kembali ke Padepokan Alasjati. Terlihat beberapa orang yang terluka tengah diberikan pengobatan. Beberapa mayat telah dikumpulkan. Orang-orang penghuni Padepokan Alasjati yang telah menjadi tawanan telah diberikan kebebasan sementara untuk membantu mengubur mayat-mayat kawan mereka sendiri yang terbunuh dalam pertempuran.

    “Apa yang harus kita lakukan dengan para tawanan itu”, berkata Kertanegara kepada Ki Gede Banyak Wedi di pendapa utama Padepokan Alasjati.

    • Lho……………….????????????
      banjir’e kok belon mampet…….????????????………..
      wah situ Cipondoh mBludag tenan..

      yo kamsia banget to ya.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
      SUGENG DALU, SUGENG LAGI MALEM MINGGONAN.

  24. Lho……………….????????????
    banjir’e kok belon mampet…….????????????………..
    wah situ Cipondoh mludag tenan.

    yo kamsia banget to ya.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • tanggule ambrol Ki
      awas…, lumpure (lendut benter) sampe rumahnya Ki gembleh.

      • nggih kula ngungsi dateng Sengkaling to,
        lha wong mpun kangen sate kambing hot-plate di mBatu je.

  25. “Untuk jangka panjangnya belum dapat kupikirkan, kita lihat perkembangan. Yang harus segera kita dapatkan adalah membuka mulut mereka, siapa dalang di balik semua ini”, berkata Ki Gede kepada Kertanegara.

    Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba mencari keterangan dari para tawanan,siapa yang telah membayar begitu mahal untuk kepala seorang Putra Mahkota.
    Kertanegara dan Ki Gede Memanggil satu persatu tawanan. Menanyakan beberapa hal. Hingga akhirnya Datuk Alasjati sendiri telah dipanggil menghadap mereka.

    “Datuk Alasjati”, berkata Kertanegara kepada Datuk Alasjati yang sudah datang menghadap sebagai seorang tawanan.

    “Beberapa tawanan sudah kami tanyakan, tentunya mereka juga telah bercerita kepadamu apa saja yang telah kami tanyakan. Kejujuran Datuk menentukan, perlakuan apa selanjutnya yang dapat kami berikan kepada semua tawanan, termasuk diri pribadi Datuk sendiri”, berkata Kertanegara perlahan tapi didalam kata-katanya mengandung sebuah ancaman.

    “Semoga aku dapat menjawab pertanyaan Pangeran”, berkata Datuk Alasjati dengan hati gentar menangkap sebuah ancaman dibalik kelembutan kata-kata Kertanegara.

    “Kami akan melepas Datuk, melepas semua tawanan, membiarka Padepokan ini sebagaimana semula”, berkata Kertanegara berdiam sebentar memberi kesempatan Datu Alasjati berpikir tenang. Dan Kertanegara berkata kembali , “kami akan memberikan semua itu, tentunya setelah Datuk mau menerima sebuah penawaran”.

    “Selama tawaran Pangeran dapat kupikul”, berkata Datuk Alasjati seperti pasrah apapun yang akan diperlakukan terhadapnya.

    “Tawaran kami tidak berat, dapatkah Datuk bergabung menjadi sahabat kami?”, berkata Kertanegara perlahan kepada Datuk Alasjati.

    Tampaknya Datuk Alas tengah berpikir keras. Mencoba mengukur kekuatan dua kubu dimana dirinya ada diantaranya. “Pangeran Kertanegara adalah seorang Putra Mahkota, kekuasaannya akan menjadi lebih besar. Tidak ada salahnya bila aku bernaung, berbalik arah menjadi sahabat”, berpikir datuk Alasjati menimbang-nimbang untung dan ruginya menerima tawaran Kertanegara.

    “Aku terima tawarannya”, berkata Datuk Alasjati memberikan sebuah keputusan.

    “Ternyata Datuk dapat berpikir jernih”, berkata Kertanegara kepada Datuk Alasjati.

    Maka sesuai kesepakatan itu, Datuk Alasjati dan anak buahnya tidak lagi diperlakukan sebagai tawanan. Mereka semua telah dibebaskan. Ketika matahari menjelang senja, Kertanegara dan pasukan kecilnya terlihat keluar Padepokan Alasjati.

    • Huaduh……..huaduh…….huaduh…….

      Ki Bancak, Ki Honggo, Ki Menggung, Ki Arga……
      mangga Ki, enggal2 rawuh, mumpung taksih anget.

  26. Datuk Alasjati mengikuti iring-iringan itu keluar dari Padepokannya. “Masih muda, ilmunya sudah begitu tinggi. Aku berjanji setia dibelakangnya”, berkata Datuk Alasjati kepada dirinya sendiri ketika rombongan kecil itu tidak terlihat lagi, terhalang kerimbunan hutan dibawah suram cahaya matahari senja tanpa desiran angin. Hutan dalam bayangan senja sepertinya terus membawa Datuk Alasjati untuk merenung, mencoba berpikir jernih, membangun kembali Padepokannya yang telah porak poranda.”Ternyata kesombonganku telah tersungkur tanpa arti di hari ini”, berkata Datuk Alasjati menyesali kesombongannya selama ini yang menganggap ilmunya sudah begitu tinggi.

    Menyerang lawan dengan senjatanya sendiri, itulah yang Kertanegara dan Ki Gede inginkan dengan melepas Datuk Alasjati dengan “mengikatnya” sebagai sahabat. Siapa dalang dibalik semua ini memang sudah tergambar. Tetapi Kertanegara dan Ki Gede telah sepakat untuk menyimpannya rapat-rapat.

    Hutan dalam bayangan senja menatap rombongan kecil memasuki kerimbunannya. Derap kaki kuda seperti rancak tari pahlawan pulang berperang membawa kemenangan. Tidak ada hambatan lain dalam perjalanan mereka menuju Tanah Perdikan baru yang belum bernama.

    Hari telah masuk tengah malam ketika rombongan kecil itu telah masuk Padukuhan paling ujung di Tanah Perdikan. Akhirnya mereka terlihat dari Banjar Desa. Beberapa peronda menyambut kedatangan mereka dengan perasaan suka cita.

    “Sukurlah kalian juga telah behasil menjalankan tugas”, berkata Ki Gede ketika melihat Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya di Pendapa utama.

    “Mbakyu Menik tengah beristirahat didalam kamarnya”, berkata Mahesa Amping kepada Kertanegara tanpa ditanya.

    “Terima kasih, seusia kalian aku masih takut melewati pohon besar dimalam hari”, bekata Kertanegara ketika Raden Wijaya bercerita tentang pertemuan mereka dengan guru sepasang iblis di hutan mading.

    Malampun berlalu bersama bulan tua dan bintang bertabur di langit malam.

    Tungku di dapur belakang terlihat dinyalakan. Nyi Gede Banyak Wedi dibantu beberapa oaring lelaki tengah sibuk membawa hidangan makanan dan minuman hangat. Pendapa utama dan Banjar desa menjadi ramai. Beberapa orang dari beberapa Padukuhan telah berdatangan, diantaranya adalah sanak kandang para pengawal tanah perdikan yang ikut bertempur di Padepokan Alasjati. Suka cita wajah mereka mendapati suami, anak dan saudara mereka pulang dengan selamat, meski ada satu dua orang mendapat sedikit luka ringan.

    Baru ketika pagi akan datang menjelang, beberapa orang telah kembali kerumahnya. Banjar Desa dan pendapa utama seperti lengang. Satu dua orang nampak masih bercakap-cakap. Sementara sebagian lagi sudah terlelap tertidur nyenyak.

    Mata ini sepertinya baru mengejap, sang surya sudah datang menepati janjinya.

    Tungku dapur rumah Ki Gede sudah lama menyala. Kesibukan kembali terlihat.

  27. Sementara itu Kertanegara dan Menik Kaswari telah bertemu. Sebuah pertemuan di pagi hari yang mengharu birukan untuk sebuah rindu yang lama tertahan. Di bawah matahari pagi mereka bersama menyusuri jalan berliku sekitar padukuhan Tanah perdikan yang masih asri. Sawah ladang dan bangunan rumah berdiri diatas tanah asli apa adanya menyesuaikan tinggi dan rendahnya keadaan tanah. Sebuah pemandangan yang indah, seindah memandang mata wajah sang kekasih dipagi hari.

    “Mari kita kembali”, berkata Kertanegara kepada Menik Kaswari.

    “Tidak terasa mungkin kita sudah begitu jauh berjalan, ayah pasti sudah terbangun menunggu kita”, berkata Menik Kaswari yang teringat kepada ayahnya yang masih tertidur di Banjar desa ketika mereka melewatinya.

    Dibanjar desa Ki Rangga Bangkalan memang sudah terbangun, bahagia memeluk anak gadisnya yang menangis tersedu di pangkuannya. Ayah mana yang tidak bahagia mendapatkan kembali anak gadisnya dengan selamat, tanpa berkurang sehelai rambutpun.

    Pagi itu ki Gede telah mengumpulkan beberapa warganya menyampaikan berita penting bahwa mulai hari itu Tanah Perdikan telah mempunyai sebuah nama.

    “Songenep artinya tempat singgah yang baik, semoga nama ini menjadi berkah untuk kita semuanya”, berkata Ki Gede menyebut sebuah nama untuk Tanah Perdikannya.

    “Hidup Tanah Perdikan Songenep”, terdengar beberapa orang berkali-kali menyebut kata Tanah Perdikan Songenep. Tampaknya mereka ikut gembira mendapatkan sebuah nama untuk Tanah Perdikan yang mereka huni selama ini.

    Pada hari itu juga Ki Gede telah menawarkan kepada Kertanegara menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat sebuah upacara pelamaran.

    “Ayah gadis itu sudah ada disini, sementara itu salah satu cantrik utama Padepokan Bajra Seta telah membawa peneng utusan resmi dari Sri Maharaja”, berkata Ki Gede kepada Kertanegara.

    Perayaan besarpun telah disepakati, perayaan besar untuk dua upacara besar, pemberian nama Tanah Perdikan dan penerimaan resmi keluarga Menik Kaswari atas lamaran Kertanegara.

    Sesuai adat, seorang Pangeran berhak membawa gadis yang dicintainya keistana setelah melakukan upacara boyongan.

    Agar persiapan perayaan dapat terlaksana dengan baik dan meriah, ditetapkan harinya dua hari setelah hari itu. Bukan main kesibukan persiapan hari perayaan itu. Sebuah tajuk besar telah didirikan lengkap dengan panggung tempat peralatan gamelan. Akan didatangkan seorang sinden kondang dari Kalianget bernama Ni Kenpadmi . Kemerduan suara Ken Padmi konon mampu menghentikan sebuah daun kering yang terjatuh dari cabangnya.Dan konon, para penonton seperti tersirep, tidak sadar menari sendiri.

    • ha ha ha ….
      betul-betul banjir bandang….
      tak bisa ditahan lagi
      ampun…….

      • hlep…..hlep……hlep……..
        glegek……glegek……..glegek……..

        Huampuunnn puooolllllllllllllllllll.

      • lho….
        sindenne Ni Ken Padmi to?
        wah….

        • Terus tukang kendangnya siapa ya?

    • Ki Menggung…………….
      ni KP didhapuk dados ni Sinden sing ngedhab-edhabi,
      lha ingkang menika napa nggih badhe njenengan pek ugi to Ki Menggung ?

  28. Waduuuh ….. malem minggu keterjang banjir.
    Rupanya Ki Kompor sedang matek aji.

  29. banyu mili, mengalir menganak sungai, kamsiiiiiiaaaaaaa

  30. Hadir lagi.
    Barang kali banjir lagi……. siap nampung.

  31. masih ada yang belum tidur ???

    Ni Sinden Ken Padmi tengah menembangkan Asmaradhana…..oh cinta yang hilang….dimanakah kamu wahai bayangan cintaku ….

  32. Alhamdulillah, wingi sedino ora sambang padepokan, esuk-esuk oleh kiriman banyu mili soko “situ Cipondoh”.
    Matur nuwun Ki Kompor. Kamsiaaa juga.
    Sugeng Enjang.

  33. Untung masih ada para Endang, dan Mentrik yang ngangeti masakan dadi ora basi, esuk-esuk iso nggo sarapan.
    SUGENG ENJANG Kadang sedoyo.

  34. Didalam persiapan pembuatan tajuk dan panggung yang hampir selesai, terlihat Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping ikut membantu. Ternyata Mahesa Amping bukan hanya ahli memainkan belati pendeknya. Ia juga mahir merangkai beberapa hiasan janur. Pada saat itu terlihat tangan Mahesa Amping begitu cepat dan luwesnya membuat janur merak penghias nampan kalung penganten.

    “Diistana aku sering melihat hiasan janur, tapi tidak sesempurna buatannmu”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping yang tidak menjawab hanya sedikit tersenyum.

    Pekerjaan pebuatan hiasan janur nampaknya sudah hampir selesai. Tidak ada lagi yang dikerjakan oleh Lawe dan Raden Wijaya selain menonton kerja Mahesa Amping menyelesaikan hiasan burung meraknya dibawah cahaya oncor minyak jarak yang banyak dipasang sepanjang tajuk dimalam itu.

    “Ayahku sudah memberi ijin bahwa aku diperbolehkan ikut kalian menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta”, berkata Lawe kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Mudah-mudahan sainganku tidak bertambah”, berkata Mahesa Amping sambil merangkai janur.

    “Saingan dalam hal apa ?”, bertanya Lawe tidak mengerti.

    “Ada seorang gadis yang diam-diam dicintai, tapi ketika aku datang gadis itu jatuh cinta padaku”, berkata Raden Wijaya membantu menjelaskan apa yang dikatakan Mahesa Amping. Dan Lawe langsung tersenyum mengerti apa yang maksud dari perkataan Mahesa Amping.

    “Jadi sahabat kita ini takut kalau aku akan ikut bersaing ?”, berkata Lawe sambil melirik Mahesa Amping yang sepertinya tidak mendengarkan celoteh Lawe.

    “Begitulah”, berkata Raden Wijaya menjawab pertanyaan Lawe.

    “Apakah gadis itu begitu cantik ?”, bertanya Lawe

    “Begitulah”, berkata Raden Wjaya

    “Apakah gadis itu bersuara merdu sebagaimana Ni Sindeng Ken Padmi ?”

    “Begitulah”, berkata Raden Wijaya.

    Begitulah mereka bertiga bercanda saling menggoda. Terlihat mereka telah bersatu sebagaimana tiga sahabat yang tidak mudah lagi dipisahkan. Hati mereka sepertinya telah terikat. Seperti janur burung merak di tangan Mahesa Amping yang terangkai begitu indah. Mungkin hanya waktu sisa usia yang dapat memisahkan mereka. Sebagaimana sebuah rangkaian janur yang indah akan layu dan lekang dimakan waktu.

    Dan waktu yang ditunggu akhirnya tiba, malam perayaan untuk dua ungkapan rasa sukur lahirnya sebuah nama bagi Tanah perdikan dan resminya Pangeran Kertanegara memboyong Menik Kaswari ke Istana.

    • lho…, wah….
      kamsiaaaa…………………

  35. Puncak perayaan adalah mendengarkan suara indah Ni Sinden Ken Padmi membawakan empat belas tembang macatan. Seluruh hadirin seperti tersirep diam dan hening ketika suara Ni Sinden Ken Padmi mulai mengalunkan tembang cinta asmaradana yang mendayu dayu membawa pendengarnya dalam suasana cinta, rindu dan kemesraan cinta. Jiwa hadirin yang telah terbawa irama suara cinta itu tiba-tiba terhanyut oleh suasana duka sedih penuh kecewa ketika suara indah Ni Sinden Ken Padmi mengalunkan tembang Maskumambang. Jiwa pendengar tiba-tiba saja seperti terlempar dalam medan perang grumuh, melompat, menerkam dan menerjang musuh ketika suara Ni Sinden Ken Padmi begitu menghentak-hentak penuh semangat. Dan Ni Sinden Ken Padmi sang bidadari cinta penuh pesona cahaya dewi panggung menutup suasana hati pencintanya dengan tembang kenangan Kinanti dalam irama kegembiraan penuh kasih sayang.

    “Tidak pernah kulupakan seumur hidupku, mendengar langsung suara sinden kondang Singasari ini”, berkata Sembaga.

    “Ternyata cerita orang tentang Ni Sinden Ken Padmi bukan usapan jempol, seluruh jiwaku seperti hanyut terbawa suaranya yang bening”, berkata Wantilan.

    Namun ketika semua orang tengah membicarakan tentang indahnya suara Ni Sinden Ken Padmi, terjadi sebuah kegaduhan besar.

    “Tawanan hilang !!”, terdengar suara entah dari mana semakin lama bertambah saling mengulang kata yang sama,

    “Tawanan hilang !!!!!
    Tampak beberapa orang berlari menuju bilik kecil di banjar desa tempat Prastawa, salah seorang dari sepasang iblis dari Gelang-gelang ditawan.

    “Dia lari lewat wuwungan”, berkata Ki Gede Banyak Wedi yang melihat wuwungan di bilk itu yang rusak.

    “Dahan pohon beringin itu mempermudah tawanan”, berkata Kebo Arema menunjuk sebuah dahan beringin yang melunjur diatas atap bilik tempat tawanan dikurung.

    Namun akhirnya, kegaduhan itu tidak berlarut-larut merusak suasana perayaan yang meriah. Ki Gede Banyak Wedi meminta semua orang kembali ketempatnya menyaksikan beberapa tontonan yang masih belum habis seperti tarian gemulai para gadis cantik diiringi degung gamelan irama malam.

    “Hiburan masih belum selesai, mari kita kembali”, berkata Ki Gede Banyak Wedi mengajak tamunya dan semua orang untuk melupakan tentang tawanan yang kabur, kembali menyaksikan hiburan di panggung yang masih tersisa.

    Diujung malam panggung hiburan telah berakhir. Masih ada beberapa orang yang menyisakan paginya disekitar panggung dan banjar desa hingga datangnya fajar.

    Dan Matahari menggeliat malas mendatangi pagi. Dipendapa beberapa orang telah berkumpul, sepertinya akan melakukakn perjalanan panjang.

    • lanjut……

  36. mo berangkat ke Bekasi……..
    mudah-mudahan enggak macet, bisa pulang cepat

    • O….., tak kira akan ada banjir bandang lagi
      Selamat jalan Ki,
      Amin…, dan semoga tidak ada halangan di jalan

  37. selamat siang, selamat jalan pak dalang semoga selamat sampai tujuan, kamsiiiiiaaaaa

  38. Sudah pulang apa belum ya Ki Dalang Kompor ?
    Tutuge ditunggu ….. !!

  39. “Aku titip anakku Lawe”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada Wantilan ketika melepas rombongan kecil kembali kekampung halaman mereka masing-masing.

    Tidak ada hambatan yang berarti hingga ketika rombongan kecil itu telah sampai di Pantai Kalianget.

    “Jaga dirimu anakku”, Berkata Ki Rangga Bangkalan melepas putrinya Menik Kaswari yang akan melanjutkan perjalanan lewat sungai porong. Sementara Ki Rangga Bangkalan bersama lima orang prajuritnya kembali Benteng barunya menyusuri selatan pantai Madhura.

    Terlihat tiga jukung keluar dari Pantai Kalianget. Satu jukung menuju arah barat, sementara dua jukung lagi melintas selat Madhura menuju muara sungai Porong.

    Ketika dua buah jukung menepi di Pantai muara sungai Porong, Matahari sudah jauh tergelincir kebarat. Pasir pantai lembut terinjak dingin, memandang matahari terbenam dari bibir pantai muara sungai Porong seperti memandang pintu nirwana dalam lukisan alam yang indah dan sempurna. Suara ombak dan pantai pasir putih, perkampungan nelayan yang teduh dikelilingi warna hijau hutan Porong dalam warna senja.

    “Kita bermalam di gubukku”, berkata Kebo Arema mengajak rombongan kecil menuju perkampungan nelayan.
    Ketika mereka memasuki perkampungan nelayan, beberapa pria menyapa ramah Kebo Arema.

    Dan malampun berlalu bersama suara desir ombak yang tidak pernah putus. Terlihat api unggun menyala didepan gubuk sederhana. Sebagian pria duduk dibale sederhana menikmati minuman hangat. Sementara itu Mahesa Amping, Raden Wijaya, Lawe dan Kertanegara tengah menghangatkan diri di dekat api unggun yang masih menyala.

    “Maukah kalian membantuku”, berkata Kertanegara kepada Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping.

    “Apa yang dapat kami bantu, Pangeran ?”, bertanya Mahesa Amping penasaran.

    “mengungkap sebuah rahasia”, berkata Kertanegara.

    “Sebuah Rahasia ?”, bertanya Lawe menjadi sangat tertarik mendengar Kertanegara mengatakan sebuah rahasia.

    Kertanegara kemudian bercerita singkat, bahwa ketika menggeledah seisi Padepokan Alasjati, dirinya mendapatkan sebuah tusuk konde emas yang sangat dikenalnya. Tusuk konde itu adalah milik saudara perempuannya Putri Turuk Bali yang berasal dari pemberiannya menjelang perkawinannya dengan Pangeran Jayakatwang.

    “Tusuk konde itu kupesan sendiri dari seorang pengrajin emas”, berkata Kertanegara meyakinkan bahwa tusuk konde itu adalah milik saudara perempuannya Putri Turuk Bali.

    “Apa yang dapat kami lakukan ?”, bertanya Raden Wijaya.

    • Sedikit oleh-oleh dari Bekasi

      • Terimakasih, kamsiaaaaaaaaa….

  40. terima kasiiiih

  41. Nuwun
    Sugêng sontên

    TIJI-TIBÈH,

    Katur Ki Gembleh, [On 17 Juni 2011 at 20:42 gembleh said: SFBdBS]
    Mugi karaharjan tansah lumintu dumatêng Ki Gembleh sakulåwargå, ugi sadåyå sanak kadang padépokan pêlangisingosari, GS dalah AdBM.

    Sêsanti tiji-tibèh sangat dipegang erat oleh para loyalis Pangéran Sambêrnyåwå atau Kanjêng Gusti Pangéran Aryå Adipati (KGPAA) Mangkunagårå I ketika berperang melawan Kumpeni Belanda. “Tiji Tibèh“. Mati siji mati kabèh, mukti siji mukti kabèh.

    Tiji tibèh adalah semangat yang menggelora. Sebuah jargon indoktrinatif yang memiliki kedalaman, spirit, nilai-nilai etos, dan liatnya loyalitas. Pada tataran tertentu, atas nama kebersamaan dan perasaan senasib, semangat itu memang terwujudkan. Tentu saja, ini semua mengingatkan kita pada doktrin kaum kiri baru (new left): sama rasa-sama rata.

    Konsep loyalitas dalam terminologi kebudayaan Jawa memang unik. Meski terkadang terkesan “membabi-buta“, sejatinya tidaklah serendah itu konsepnya. Loyalitas merupakan titik tertinggi dari serangkaian tataran pengabdian, untuk itu — jika titik puncak itu telah tergapai — maka tak ada pilihan lain kecuali harus ditohi takêr pati (dibela mati-matian).

    Di luar diksi tentang kesetiaan, sebenarnya doktrin tiji tibèh juga dapat menjadi medium bagi tersalurkannya rasa kecewa yang amat sangat (kagol). Sebagaimana kekecewaan KGPAA Mangkunagårå I pada pemerintahan kolonial, ia tak ingin kamuktèn itu musnah dan dirêngkuh atau dimiliki oleh kerabatnya yang lain. Biarlah sekalian tahta kamuktèn itu musnah bersama (sampyuh) daripada ia harus menyaksikan kamuktèn saudaranya dari bilik gelap kekecewaan dan kekalahan.

    Siasat serupa, di era perjuangan kemerdekaan pun telah diterapkan para mentor pejuang negeri ini. Keberanian laskar rakyat, yang hanya bersenjata bambu runcing, melawan tentara kolonial yang menyandang bedil, tak mungkin terjadi tanpa adanya kobar spirit semacam doktrin tiji tibèh itu.

    Di sisi lain, tentara kolonial pun akhirnya juga dibuat gentar oleh ultimatum yang – menurut mereka – dipandang tidak cukup masuk akal, yaitu tekad ngêbyuki bathang sayutå (beralasakan sejuta mayat –manusia–).

    Ketika nyawa manusia sudah tak dijadikan tolok ukur bagi sebuah tuntutan, maka yang terjadi adalah “kenekatan”, sebagaimana kamikaze khas tentara Jepang. Ini semua jelas akan memiliki daya getar yang luar biasa.

    Tetapi sejarah telah memberikan contoh dengan sangat gamblang, bahwa segalak-galaknya Pangeran Sambernyawa, bagaimana pun akhirnya dapat dirangkul juga dengan satu siasat yang “sangat Jawa”, kompromistis.

    Bagaimana korelasi dari putaran diksi itu terhadap haru-biru yang muncul sepekan terakhir? Tentu saja sangatlah jelas dan cêthå wélå-wélå.

    Spirit tiji tibèh telah diadopsi untuk mengartikulasikan kekecewaannya yang mendalam. Sebagaimana kekecewaan Mangkunagårå I kepada saudara-saudaranya, yang dianggapnya telah berkongsi dengan penjajah.

    Ia tak hendak hancur lebur sendirian, jika terjadi pun harus melalui sampyuh.

    Bahwa kekecewaan itu menjadi kekuatan yang positif bagi upaya pembongkaran sejumlah skandal. Sangat kita hargai. Itu yang kita tunggu!

    Tentu kita tak ingin “nyanyian”nya sekadar menjadi ekspresi tembang sumbang kekecewaan, tetapi menjadi lagu merdu yang membuka selubung bahwa betapa banyak kebobrokan yang terjadi di sana.

    Tembang manis bagi anak negeri untuk membuka tabir kebenaran. Sungguhkah? semuanya terpulang kepada mereka sendiri.

    Tetapi, kita harus tetap sadar, bahwa sesungguhnya, kita (yang nggak tahu apa-apa, yang nggak ikut-ikutan, kagak ikutan makan nangkenye) sering diikut-hanyutkan dalam serangkaian arus besar yang tak jelas ke mana akan bermuara.

    Diskusi begitu ramai di layar kaca, tulisan berserak di setiap media, analisis bertaburan dalam keremangan dan spekulasi. Betapa samarnya dan absurd.

    Demikian Ki.

    Nuwun

    punakawan bayuaji

    • Matur sembah nuwun katur Ki Puna,
      atas penjlentrehan yang begitu gamblang.

      Kalau mati siji mati kabeh mungkin hanya sekedar ancaman, namun kalau mukti siji mukti kabeh mungkin agak susah karena hal ini menyangkut hawa-nafsu manusia yang sering tidak berbatas.
      Hampir empat dasa warsa yang lalu program ini dijalankan dengan amat terkendali karena tangan yang membagi kamukten selalu memegang penggebug untuk menjaga stabilitas.

      Pertanyaannya adalah, apakah saat ini masih ada yang berani dan mampu berakting seperti itu……….????????

      sugeng dalu Ki Puna..

  42. “Menyerahkan kembali tusuk konde ini ke pemiliknya. Aku ingin tahu bagaimana sikapnya pertama kali ketika melihat tusuk konde ini”, berkata Kertanegara menjelaskan.

    “Kenapa harus kami yang menyerahkannya ?”, bertanya Mahesa Amping

    “Karena ini menyangkut rahasia keluarga”, berkata Kertanegara.”mengenai kapan kalian dapat menyampaikannya, tidak usah terburu-buru, kapanpun kalian punya kesempatan waktu”, berkata Kertanegara melanjutkan.

    “Ingat, ini rahasia”, berkata Kertanegara sambil menyerahkan tusuk konde kepada Raden Wijaya.

    Ternyata dibalik permintaan Kertanegara, ada sebuah keinginan lain dari pemikiran kertanegara yang mampu membaca masa depan dengan panggraitanya yang tajam bahwa tiga pemuda belia ini mempunyai masa depan yang gemilang. Perjalanan Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe akan menambah wawasan dan pendalaman mereka tentang keadaan daerah Gelang-gelang dan sekitarnya. Permintaan Kertanegara bermakna seperti senjata trisula.Banyak hal lain yang diinginkan dari ketiga pemuda belia yang masih didekatnya itu. Seperti anak elang yang telah tumbuh sayap, Kertanegara mulai melihat dunia perburuannya. Dan sebagai seorang Panglima yang akan berperang, Kertanegara sudah menemukan siapa saja yang akan menjadi sayap-sayap tempurnya, menuju kemenangan gemilang.

    Langit malam bertabur bintang. Suara debur ombak semakin malam semakin keras terdengar.Dan Api unggun sudah semakin redup tidak ada lagi yang menambahkan kayu kering. Penghuni gubuk kecil beratap ilalang itu sudah jauh bemimpi.
    Dan pagi pun telah datang.

    Dua buah jukung terlihat sudah menyusuri sungai porong, membelakangi dan meninggalkan matahari yang mengintip dibalik timur laut memberi cahaya di atas pantai pasir putih muara porong yang indah.

    Matahari pagi, perkampungan nelayan yang damai dan pantai pasir putih muara porong yang indah sudah lama tertinggal jauh. Dua buah jukung semakin jauh masuk kepedalaman kegelapan hutan porong yang lebat.
    Tepat manakala matahari telah bergeser dari puncaknya, mereka telah sampai di tempat kediaman Empu Dangka di tepian sungai.

    Gubuk sederhana itu memang masih berdiri. Tapi sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Meski begitu mereka tetap beristirahat ditepian sungai itu,membuka perbekalan yang mereka bawa.

    Kebo Arema dan Kertanegara yang pernah lama tinggal ditepian sungai itu masih tetap menyapu dengan matanya setiap sudut tepian sungai masih berharap Empu Dangka muncul. Tapi yang dinantikan tidak juga ada.

    Akhirnya, setelah merasa cukup beristirahat di tepian tempat dimana Empu Dangka pernah menghuninya, merekapun melanjutkan perjalanan.

    • Kamsiaaaaaaaaaaaaaaa…….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
      mendhisiki pak Satpam.

      • he he he …
        tadi itu cuapek sekali,
        sudah istirahat sejenak,
        lumayan lah, untuk lembur lagi malam ini.
        eh…, hampir lupa
        kamsiaa…………………………

    • Terimakasih, selamat malam.

  43. kamsiiiiaaaa

  44. Sugêng énjang

  45. sugeng siang

  46. Matahari senja telah merebahkan dirinya, dua buah jukung keluar dari mulut sungai hutan Porong. Air sungai Brantas begitu tenang mengalir menyambut dua buah jukung menggunting arusnya yang berlawanan arah.

    Perjalanan memang masih panjang. Sang malam telah datang memayungi sungai Brantas dengan kegelapannya. Kesunyian perjalanan malam menyusuri sungai Barantas seperti berlalu melintas kuburan tua, kesunyian begitu mencekam. Hanya suara dayung yang dikayuh memecah air terdengar menyusup kesunyian dalam cahaya lentera yang bergoyang.

    “Kita berhenti sambil menunggu fajar”, berkata Kebo Arema ketika merasa hari telah jauh diujung malam.

    Merekapun mencari daerah terbuka. Disebuah tempat di tepian yang berbatu mereka menyandarkan jukungnya.

    Mahesa Amping dan Bhaya terpilih mendapatkan giliran berjaga. Dibelakang mereka hutan lebat dalam kekelaman yang pekat. Sesekali terdengar suara anjing hutan saling berebut daging buruan, setelah itu malam menjadi sepi kembali.

    Tidak ada hal yang berarti yang mengganggu istirahat mereka di malam itu. Dan pagipun akhirnya datang juga. Hutan gelab dibelakang mereka sudah berubah menjadi terang oleh cahaya matahari pagi, terlihat jelas deretan pohon besar berdiri menjulang tinggi dirambati dahan rotan liar dan tangkai tanaman menjalar menutupi pokok-pokok batang kayu yang besar. Sebuah hutan liar yang masih perawan.

    Setelah bersih-bersih diri merekapun terlihat tengah mempersiapkan diri melanjutkan perjalanannya.

    “Setengah hari perjalanan kita sudah sampai di Bandar Cangu”, berkata Kebo Arema menjelaskan jarak perjalanan mereka.
    Terlihat dua buah jukung meluncur menggunting arus sungai Brantas. Kadang ditengah perjalanan bersisipan dengan perahu kapal dagang. Atau melewati beberapa nelayan diatas jukung kecil melemparkan jalanya.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, disaat matahari telah turun bergeser sedikit dari puncaknya, mereka telah tiba di Bandar Cangu yang ramai. Berjejer perahu kapal dagang tengah bersandar. Disebuah dermaga yang tidak begitu ramai mereka menyandarkan jukungnya.

    Terlihat mereka memasuki sebuah kedai, Seorang pelayan datang menghampiri.

    “Pesan makanan apa tuan muda”, berkata pelayan itu kepada Lawe yang memanggilnya dengan sebutan tuan muda.
    “Aku pesan nasi srendeng hangat lengkap dengan daging empalnya”, berkata Lawe kepada pelayan itu.

    • sedikit, tapi terus berlanjut……….he3X

      • ni Sinden nyaut,
        banyak banyak terima kasih………….!!!!!!

    • O….
      sudah disini rupanya
      hadu……
      datang bakda Maghrib, cuapek, leyehan di depan TV terus less……………
      he he he ….
      kamsiaaa……………………….

  47. Kemanakah gerangan Ki Menggung YuPram…..??????

    apakah masih sibuk dengan ni Sinden ya….??

  48. Selamat malam Ki …………

  49. matur nuhuuuuun

  50. Terimakasih Ki Kompor, sekalian pamit seminggu absent. Tolong wedar terus ya, supaya ada yang dirapel waktu pulang. Sampai ketemu minggu depan, selamat malam.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: