SFBDBS-03

<<kembali ke SFBdBS-02 | lanjut ke SFBdBS-04 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 Juni 2011 at 05:33  Comments (418)  

418 Komentar

  1. selamat sore kadang sedoyo

    • kadang sore selamat sedoyo

      • sedoyo kadang selamat sore

        • sore kadang sedoyo selamat

          • selamat sedoyo kadang sore

  2. Sugeng dalu sedoyo kadang,
    Nunggu kehadiran nayogo, sinden dan Ki Dalang.

  3. Sugeng dalu para kadhang sutresna,

    Sugeng lagi disuruh Ki Dhalang mencantholken rontal di kawat jemuran biar cepet kering.

  4. karena malam dingin, maka nggak kering-kering,

  5. Selamat malam Ki Kompor.
    Komputernya sudah sehat apa belum?

    • Selamat pagi Ki MAHESA Kompor.
      pak Dokter KOMPUTER jadi datang apa kagak…!!??

      sabar menunggu…..(pake gaya bang HAJI)

  6. selamat pagi kadang padepokan…..selamat berTUGAS

    semoga SUKSES,

    • selamat pagi ni Sinden padepokan…..selamat berTUGAS

      rutin ning kamtor padepokan,

      • beres…..jangan khawatir

        sudah dislempitken dengan aman.

        eh mangsude sudah diselametin nding…..!!!!

  7. SELAMAT SIANG,
    Puanase pol.

  8. selamat malam

  9. Setia menanti wedarannya Ki Kompor.

  10. sugeng dalu,
    akhirnya komputer sudah bisa pulang dari UGD,sang dokter bilang masalahnya bukan dari virus…tapi dari anti virusnya yang ngambek karena minta di update selalu diabaikan….he-he-he(maklum…pengennya nyari yang gratisan)
    maaf…lagi nyari si ilham yang nyasar……
    1. Raden wijaya ketemu sama Dara petak dan dara jingga di sebuah sayembara cari mantu.
    2. Dara petak dan dara jingga diculik terus diselametin ame R. Wijaya
    atau…ketemu kakeknya raja sunda di palembang ketika nongkrong makan empek-empek ????

    • Istilahnya jaman dulu, ini sopongiler (spoiler).
      hikss……

      • jaman dulu Istilahnya, ini sopongiler (spoiler).
        hikss……hikss

        • pak DALANG bikin sopongiler…..he-heee3x

  11. SUGENG ENJANG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  12. sugeng siang, wis ngiler

  13. Selamat malam,
    bingung juga baca sejarah,mana yang bener…
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga anak Kertanegara
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga adik dari dara kencana istri kertanegara juga saudara kandung dara puspa istri dari Prabu Ragasuci raja Saunggaluh.
    enaknya sih ada bantuan dari Ki banuaaji atau Ki Punakawan LONTOOOOOOOOOOONG………..

    • Lho………..?????
      bukannya gitaris Dara Puspita itu mBak Suzy Nander….???

      Emang ade itu group band Dara Petak atawa Dara Jingga…???
      jangn2 vokalisnya si JuPe ame si DePe nih.

  14. ungak2 seks………..

    • Sugeng rawuh lan sugeng dalu Ki PoniJO.
      Sumangga katuran pinarak sinambi nengga Ki Dhalang medhar carios babad Dara Petak lan Dara Jingga.

  15. sugeng dalu wis ngiler banget

    • Sabar sebentar Ki Bancak,

      Siapa tahu di kisah selanjutnya diceritakan Dara Petak dan Dara Jingga diculik oleh Sinuhun Gembleh Hanyolowadi, gegedhug tlatah lendhut benter, untuk dijadikan istri2nya.
      Belum sempat ijab kabul di depan penghulu, keburu datang pendekar dari Ranah Minang, yang mempunyai ajian Pujakesuma, yang bergelar Ki Hulubalang Bancak merebut kedua Dara tsb. .Walaupun wurung dengan kedua Dara tadi, gegedhug tadi tetap hepi, soalnya ternyata Ni Sinden (yang namanya KP, lho) belum dijemput Ki Menggung. Asyiklah mereka berdua naik gunung.

      • naik gunung-turun gunung….
        masuk hutan keluar hutan….

        menjelajah bukit, lembah2
        sampe….blumbang,
        mandek sik kueseelll ki !!??

  16. Beginilah ceritosnya….

  17. Setelah beristirahat sejenak di kedai, merekapun melihat-lihat keadaan kota Sriwijaya untuk sebagai bahan laporan tugas mereka sebagai petugas delik sandi.

    Menyusuri kota tua Sriwijaya yang ramai memang sangat menyenangkan. Hilir mudik pedati dijalan membawa aneka barang milik para saudagar. Dijalan juga sepertinya sudah terbiasa melihat para orang asing dari berbagai bangsa berlalu lalang. Rumah-rumah besar dengan pilar ukiran kayu jati berpagar dinding batu berderet sepanjang jalan yang tertata rapi.

    Tanah Sriwijaya sudah lama tak bertuan, tapi para warganya sepertinya tidak memperdulikannya. Siapapun penguasanya, yang penting mereka dalam keadaan tetap damai, dalam bertani, berdagang dan kehidupan lainnya.

    Tanah Sriwijaya pada saat ada dalam pengendalian para penguasa dari Tanah Melayu. Tapi siapa yang peduli ??

    Begitulah suasana yang ditangkap oleh Raden Wijaya, Lawe, Mahesa Amping dan Argalanang ketika mereka menyusuri kota tua Sriwijaya.

    Merekapun kembali ke Bandar Sebukit, melihat berbagai barang diangkut naik ke jung besar milik para saudagar dari berbagai bangsa. Merekapun melihat diantara berbagai barang yang keluar masuk lewat Bandar Sebukit yang ramai itu adalah lada hitam. Mereka mendapat keterangan bahwa lada hitam adalah lada yang paling diminati oleh para pedagang asing karena merupakan lada yang terbaik. Lada hitam ini dibawa oleh para pedagang setempat dari pedalaman sungai Kampar. Sebuah tempat yang jauh.

    “Jung bangsawan Sunda”, berkata Argalanang menunjuk sebuah jung yang elok dengan banyak umbul-umbul berwarna kuning bergambar kepala harimau.

    Ternyata Argalanang memang telah banyak mengenal berbagi jenis jung.

    Jung elok itu memang milik bangsawan Sunda. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dihormati di bumi Pasundan yang tidak lain adalah Raja Ragasuci penguasa Saunggalah putra Raja Darmasiksa yang telah mengasingkan dirinya bertapa di Gunung Galunggung sebagai seorang Resi Guru yang sakti.

    Raja Ragasuci sendiri terbilang masih Paman Raden Wijaya dari garis ibunya yang berdarah sunda. Ibunda Raden Wijaya dan Raja Ragasuci sebagai saudara lain ibu. Raja Ragasuci mempunyai seorang ibu berdarah campuran bangsawan Sriwijaya dan Melayu.

    Kehadiran Ragasuci di kota Sriwijaya adalah sebuah kunjungan ketanah leluhur ibundanya. Masih ada pamannya di kota Sriwijaya, kakak kandung dari ibundanya bernama Bagus kemuning, seorang bangsawan yang sangat disegani dan begitu berpengaruh.

    “Ternyata kamu berminat menyunting seorang putri dari Tanah Melayu ?”, bertanya Bagus Kemuning kepada kemenakannya Raja Ragasuci yang datang menemuinya di rumahnya.

    “Begitulah Paman, mudah-mudahan aku dapat memenangkan sayembara itu”, berkata Raja Ragasuci.

  18. Pada saat itu memang di Tanah Melayu akan diadakan sebuah sayembara besar memperebutkan seorang putri Raja Melayu yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

    Namun yang dapat mengikuti hanya dari kalangan yang berdarah bangsawan dari berbagai nagari. Salah satunya adalah Raja Ragasuci sendiri.

    Berita sayembara itu akan dilaksanakan pada hari purnama pekan depan telah didengar pula oleh Raden Wijaya dan kawan-kawannya yang tengah melaksanakan tugas sandi.

    “Besok kita berangkat ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang.

    Demikianlah, pada hari itu mereka mencari rumah penginapan disekitar Bandar Sebukit.

    Malam telah menyelimuti Bandar Sebukit yang telah lelah setelah seharian ditingkahi kesibukan dan kepenatannya. Udara dingin di luar rumah menjadikan jalan-jalan menjadi begitu sepi dan lengang.

    Mahesa Amping belum tidur di kamar penginapannya. Pendengarannya yang tajam telah mendengar pembicaraan di kamar sebelah yang terpisah oleh dinding yang terbuat dari bilik kayu. Sebuah pembicaraan yang begitu menarik perhatiannya.

    “Apa susahnya menghancurkan jung Singasari itu”, berkata sesorang terdengar dari bilik kamar Mahesa Amping yang telah mempertajam pendengarannya.

    “Tapi sampai hari ini mereka masih belum kembali”, berkata suara yang lain.

    “Apa yang akan kita laporkan kepada Tuanku Bagus Kemuning ?”, berkata suara orang yang pertama.

    “Tunggu sampai besok, baru kita dapat menghadap”, berkata suara yang lain.

    “Yang kutakutkan, mereka tidak singgah ke sebukit tapi langsung pulang ke Tanah Melayu”, berkata orang yang pertama.

    “Apa yang kamu takutkan ?”, bertanya suara orang kedua.

    “Kamu ini benar-benar tukul !, berkata orang pertama. “Tuanku Bagus Kemuning telah berpesan bahwa tugas ini jangan sampai didengar Baginda Raja”, berkata orang pertama melanjutkan.

    “Kamu benar, tapi aku bukan tukul”, berkata orang kedua terdengar oleh Mahesa Amping dengan kepekaan pendengarannya yang tajam terdengar membanting badannya ke pembaringan.

    Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi. Yang terdengar adalah lenguh dengkur napas mereka yang saling bersahutan. Dengan pendengarannya yang tajam Mahesa Amping sudah menduga bahwa mereka sudah jauh terlelap tidur.

    Tiba-tiba saja pendengaran Mahesa Amping mendengar suara yang mencurigakan berasal dari atap rumah. Segera Mahesa Amping membangunkan Raden Wijaya yang sekamar dengannya. Ketika dilihatnya Raden Wijaya telah terbangun, Mahesa Amping segera keluar kamar langsung melenting kea tap rumah. Sesosok bayangan masih sempat dilihatnya telah berkelebat menghilang dikegelapan malam.

    Mahesa Amping kembali masuk kekamarnya, mencoba menempelkan telinganya di dinding untuk mendengar apa yang telah terjadi dikamar sebelah.
    Suara dengkur sudah tidak terdengar lagi, bahkan lenguh desah halus napas sekalipun.

    “Apa yang telah terjadi ?”, bertanya Raden Wijaya yang belum dapat mengerti apa yang tengah terjadi.

    Mahesa Amping menjelaskan kepada Raden Wijaya mulai dari apa yang dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan orang disebelah kamar dan terakhir suara mencurigakan diatas atap rumah.

    “Aku merasa orang disebelah sudah tidak bernyawa”, berkata Mahesa Amping yang percaya sekali dengan kepekaan pendengarannya.

    “Kita lihat apa yang terjadi”, berkata Raden Wijaya.
    Mereka berdua telah keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar sebelah.

    Pintu kamar itu ternyata tidak diselarak dari dalam.

    Ketika pintu terbuka, terkejut Mahesa Amping dan Raden Wijaya melihat apa yang ada didepan matanya.

    “Mereka berdua sudah mati”, berkata Mahesa Amping melihat dua orang tergeletak dipembaringannya dalam keadaan tidak bergerak. Seluruh tubuhnya terlihat berwarna hijau.

    “Racun ikan buntal !!”, berkata Raden Wijaya sambil menunjuk dua buah duri kecil menancap di leher kedua orang yang terbaring tak bernyawa itu.

    “Dari mana Raden mengetahui bahwa mereka terkena racun ikan buntal ?”, bertanya Mahesa Amping yang merasa heran Raden Wijaya telah memastikan bahwa kedua orang itu terkena racun ikan buntal yang pernah didengarnya memang mempunyai daya racun yang amat kuat.

    Raden Wijaya mengeluarkan sebuah bubu bambu kecil dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati mengeluarkan sebuah duri kecil dari dalam bubu bambu kecil itu.

    “Sebuah duri yang sama yang telah menghabisi nyawa ibundaku”, berkata Raden Wijaya sambil mencabut sebuah duri yang ada dileher salah satu mayat.

    • pak DALANGe…….KAMSIAaaaaa…….KAMSIAaaaaaa

  19. akhirnya……
    Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeber” wayangnya lagi.
    matur suwun nggih.

    • akhirnya pagi ini,
      Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeberi” wayangnya lagi.
      matur suwun nggih.

      • SUGENG ENJiNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  20. Akhirnya, akhirnya… he..he
    matur nuwun Ki Kompor, mugi-mugi risang komputer mboten kimat malih.

    Sugeng Enjang

  21. akhirnya, ….akhirnya,…… matur nuwun

  22. Lamunan Raden Wijaya melayang jauh kebelakang, disuatu malam menjelang keberangkatannya bersama Mahesa Murti menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta

    “Diujung duri ikan buntal ini nyawa ibundamu berkhir. Bawalah bersamamu, sampai saat ini ayahmu belum dapat mengungkap dibalik kematian ibundamu”, berkata Lembu Tal kepada Raden Wijaya.

    Dimanapun Raden Wijaya berada, bubu bambu kecil itu selalu menyertainya.

    “Hari ini pintu rahasia lorong teka-teki keluargaku mulai terkuak, aku akan terus menyusurinya”, berkata Raden Wijaya sambil memasukkan kembali duri ikan buntalnya.

    Mahesa Amping yang pernah diceritakan mengenai hal itu oleh Raden Wijaya memahami apa yang dirasakan Raden Wijaya saat itu.

    “Hanya mereka yang telah mempunyai kemampuan tinggi yang dapat melempar duri kecil itu tepat menembus sasaran”, berkata Mahesa Amping.
    Akhirnya mereka segera menyelinap keluar dari kamar naas itu kembali kekamarnya.

    Dan sang waktu perlahan terus menyusut perjalanan malam. Membungkus rahasia kegelapan sampai akhirnya datang sang pagi yang bening berwajah lugu menangkap kehangatan matahari yang bersinar diujung tepi cakrawala.

    Diawali suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan.

    Bandar Sebukit telah terbangun kembali dalam kehiruk pikukan pagi diantara coloteh para buruh angkut barang yang mengais rejeki mengangkat barang diatas bahunya satu persatu.

    Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah memasuki sebuah kedai yang sudah buka dipagi itu menjual makanan dan minuman hangat untuk sarapan pagi.

    Ketika mereka masuk, sudah ada beberapa orang pengunjung. Merekapun mencari tempat yang kosong.

    Dengan perlahan, agar tidak didengar orang lain, Raden Wijaya menceritakan kejadian semalam kepada Lawe dan Argalanang termasuk teka-teki rahasia keluarganya.

    “Apakah ayahmu pernah bercerita tentang orang yang bernama Bagus Kemuning ?”, bertanya Lawe kepada raden Wijaya.

    “Belum”, berkata Raden Wijaya datar sambil menggelengkan kepalanya.

    “Kita harus mencari tahu banyak hal tentang orang itu”, berkata Argalanang

    Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk menunda keberangkatan mereka dipagi itu. Mereka sepakat untuk menyelidiki siapa sebenarnya pemilik nama Bagus Kemuning itu.

  23. Akhirnya, dengan hati-hati mereka bertanya dengan orang-orang disekitar Bandar Sebukit dan kota Sriwijaya. Ternyata mereka mendapatkannya dengan mudah. Hampir semua orang di kota Sriwijaya itu mengenal Bagus Kemuning sebagai orang yang sangat disegani dan berpengaruh di bumi Sriwijaya.

    Matahari sudah naik kepuncaknya. Seorang tukang buah duku terlihat tengah berteduh dibawah sebuah pohon ambon yang rindang didepan pagar rumah Bagus Kemuning.

    “Rancak nian rejekimu wahai tukang buah”, berkata seorang yang berpakaian sederhana keluar dari regol rumah Bagus Kemuning menghampiri tukang buah yang tengah berteduh. Nampaknya seorang pelayan di rumah itu.

    “Seharian ini belum ada kutemui seorangpun pembeli, apanya yang rancak”, berkata tukang buah itu yang ternyata Argalanang yang tengah menyamar.
    “Buahmu kubeli semuanya”, berkata orang itu.

    “Apakah aku tidak salah dengar ?, biasanya orang membeli segantal dua gantal”, berkata Argalanang.

    “Tuanku telah kedatangan banyak tamu, tolong antar sekalian kedalam”, berkata orang itu.

    Argalanang berjalan mengikuti pelayan itu masuk kerumah Bagus Kemuning. Diatas pendapa dilihat banyak orang tengah berbincang-bincang. Dari pakaiannya, Argalanang dapat mencirikan setiap orang yang ada di atas pendapa itu. Seorang berpakaian adat Melayu pastilah tuan rumah yang bernama Bagus Kemuning. Sementara yang lainnya berpakaian sebagaimana para pembesar dari Tanah Sunda. “Ternyata orang-orang dari Tanah Pasundan yang bertamu”, berkata Argalanang dalam hati setelah sekilas menyapu dengan pandangannya orang-orang yang ada di atas pendapa.

    “Tamu tuanmu orang-orang pasundan?”, Argalanang berkata sambil menuang dukunya ke bakul yang disediakan sebagai tempat buah dukunya.

    “Bukan orang Pasundan sembarangan, tapi Raja dari Tanah Sunda”, berkata pelayan itu sepertinya membanggakan dirinya telah kedatangan tamu seorang raja meski sebenarnya bukan tamunya, tapi tamu tuannya.

    “Seorang Raja dari Tanah Sunda ?”, berkata Argalanang merasa gembira menemukan warta baru. Tapi dihadapan pelayan itu Argalanang pura-pura terkejut.

    “Yang benar Raja Saunggalah yang terkenal bernama Raja Ragasuci”, berkata pelayan itu yang masih membanggakan dirinya.

    “Apakah tuanmu itu masih kerabat dengan Raja Ragasuci”?, bertanya kembali Argalanang

    “Raja itu masih kemenakan tuanku”, berkata pelayan itu

    “Betapa membanggakannya dapat langsung melayani seorang Raja”, berkata Argalanang mengompori pelayan itu yang ia tahu tengah merasa bangga.

    “Hari ini harusnya kamu juga berbangga hati, buahmu dinikmati langsung oleh seorang raja”, berkata pelayan itu.

    “Betul-betul-betul, dirumah aku akan bercerita kepada ninik mamakku, bahwa buah duku kebunku dinikmati oleh seorang raja”, berkata Argalanang.

    “Laris manis tanjung kimpul. Dagangan habis rejeki kumpul”, berkata Argalanang ketika menerima pembayaran dari pelayan itu.

    Terlihat Argalanang dengan langkah gembira layaknya seorang pedagang tulen yang tengah mujur besar berjalan keluar dari regol pintu rumah Bagus Kemuning.

  24. laris manis tanjung kimpullllll

    • Dagangan habis rejeki kumpul
      hiks….
      matur suwun.

  25. Ikutan matur nuwun ach.
    Biasanya jam wayah gini Ki Dalang sok mulai (ngawali) suluk lagi.
    Monggo Ki Dalang mboten sah pekewet. ( e kok kuwalik).

  26. Laris manis tanjung kimpul.
    Dagangan habis rejeki kumpul
    ………..(masih nunggu )………..
    matur nuwun

  27. Laris manis tanjung kimpul,
    Ni Sinden sing manis disrobot Ki GundUL.

    Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
    Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!

    • Laris manis tanjung pinang,
      Ni Sinden manis bikin terkenang-kenang,

      Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
      Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!!!!!!

  28. SUGENG ENDaNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  29. SUGENG ENJAG.
    siap-siap nggotong kotak wayang, diulihake disik, mengko sore dipasang maneh.

    • tilik padepokan…..SELAMAT SORE

      mbantu ngotong kotak wayang, mumpung ni Sinden diJEMput
      ki Gembleh,

  30. selamat sore semuanya

  31. hup….
    Selamat malem, baru pulang nyari si Ilham masih belon dateng…………

  32. ilham yahyanya sudah pensiun, mugkin ilham mahil yang masih ada, selamat malam Ki

  33. Sim salabim jadi apa….plok….plok….plok……
    eh….ternyata si ilham nyamperin Ki Dhalang…..
    tariiiiiiiiiiikkkkkkk …….maaaaaaaaaang……..!!!!!

  34. Senja telah turun menaungi Bandar Sebukit. Cahaya matahari yang bening dan sejuk terbawa arus air sungai Musi yang beriak ditiup angin segar.
    Terlihat empat orang pemuda duduk diatas dermaga yang sepi.

    “Racun ikan Buntal, Bagus Kemuning dan Ragasuci mempunyai benang ikatan yang tidak dapat dipisahkan dengan kematian ibunda Raden”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    “tapi benang itu masih jauh untuk diurai”, berkata Raden Wijaya
    “Sebaik-baik menyembunyikan bangkai, pasti tercium juga”, berkata Lawe membesarkan harapan Raden Wijaya.

    “Seandainya aku dapat mengejar orang diatas atap rumah penginapan itu, rahasia ini tentunya sudah dapat terkuak”, berkata Mahesa Amping yang menyesali dirinya yang tidak langsung menangkap orang yang telah membunuh kedua orang dikamar penginapan.

    “Siapapun pemilik racun ikan Buntal, adalah kunci teka-teki keluargaku”, berkata Raden Wijaya lirih sepertinya bicara kepada dirinya sendiri.

    “Apakah Bagus Kemuning dapat bertanggung jawab atas kematian dua orang kepercayaannya ?”, berkata Argalanang.

    “Kita belum mendapatkan bukti yang kuat”, berkata Mahesa Amping

    “Kita harus membayangi terus Bagus Kemuning”, berkata Lawe

    “Besok mereka akan ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang. “Kapan kita berangkat ke Tanah Melayu ?”, bertanya Argalanang meminta pendapat.

    “Kupikir sebaiknya kita juga berangkat besok”, berkata Raden Wijaya memastikan.

    Akhirnya disepakati berangkat ke Tanah Melayu keesokan harinya.

    • syukurlah…, si Ilham sudah diketemukan

      • syukurlah…, si Ilham sudah kembali PULANG

  35. Alhamdulillah sudah ketemu si Arga Lanang.
    Selamat week end ki Kompor

    • selamat berLIBUR pak DALANGe,

  36. KAMSIAaaa…..KAMSIAaaa…..KAMSIAaaaaaaaaaaaa,

    sugeng “MEGENGAN” kadang padepokan ki MAHESA

  37. Kamsia dulu lah. Sudah lama tidak nengok padepokan ternyata banyak yang sudah ketinggalan. makasih Ki Kompor

  38. Pagi itu kabut masih membujur seperti kapas-kapas di sepanjang sungai Musi. Sebuah jung terlihat bergerak menjauhi dermaga dalam keremangan kabut pagi.

    “Pagi berkabut, sebuah tanda hari akan cerah”, berkata Argalanang diatas jung yang telah semakin menjauh dari Bandar Sebukit.

    Dan seiring berjalannya waktu, mereka telah tiba di Muara Musi.

    “Pasar terapung sudah sepi”, berkata Lawe ketika mereka melewati sebuah pasar terapung yang sudah tidak begitu ramai karena matahari pagi sudah semakin menaik keatas cakrawala.

    “Tapi kedai terapungnya masih ada”, berkata Argalanang sambil mengayuh jung nya mendekati sebuah jukung yang menjual makanan dan minuman.

    “Nasi kapaunya masih ada Pacik ?”, berkata Argalanang kepada seorang pemilik kedai terapung ketika jung mereka sudah merapat.

    “Hari ini pengunjung tidak begitu ramai, nasi kapauku masih tersisa banyak”, berkata pemilik kedai terapung itu.

    “Kami pesan empat nasi kapau lengkap dengan kakap bumbu asem belimbing”, berkata Argalanang.
    Dengan sigap pemilik kedai itu membungkus pesanan nasi kapau lengkap dan langsung menggantungkannya diujung galar bambu.

    “Terima pesanannya anak muda”, berkata pemilik kedai terapung itu sambil menyodorkan galar bambu tempat menggantung empat bungkus nasi kapau dari atas jukungnya.

    Dengan lahap mereka menikmati hidangan diatas jung dibawah cahaya matahari pagi yang hangat.

    Setelah beristirahat sejenak merekapun melanjutkan perjalannya menuju tanah Melayu.

    Jung mereka telah keluar dari Sungai Musi masuk dalam perairan laut selat Malaka dibawah sinar matahari yang hangat.

    Awan putih dilangit biru yang cerah mengiringi jung mereka terbawa angin yang kadang bergoyong terguncang dihempas ombak.

    Ketika matahari mulai merangkak dibawah cakrawala, jung mereka sudah mulai mendekati Tanah Melayu ditandai dengan warna air yang mulai menghijau sebagai tanda sebuah muara akan mereka temui.

    “Kita memasuki perairan Batanghari”, berkata Argalanang seperti sudah begitu kenal setiap dataran pulau perak ini.

    • masih punya hutang 2 rontal….
      hiks…

  39. Terus kapan mau mbayar utangnya Ki Dalang, he…he.
    Ini namanya penonton yang nglonjak.
    Sugeng dalu Ki

  40. Alhamdulillah isish anget, matur nuwun Ki.

  41. Bandar Melayu adalah pintu kedua selain Bandar Sebukit untuk barang perdagangan antar bangsa. Disinilah beberapa pedagang asing membawa berbagai hasil hutan dan rempah-rempah. Para pedagang asing tidak perlu lagi berlayar jauh sampai nusa jawa atau tanah Maluku karena sudah diambil alih oleh para pedagang Melayu. Hal ini sudah berlangsung lama sejak masa emas kerajaan Sriwijaya.

    Itulah sebabnya, kehadiran Jung Singasari merupakan sebuah saingan yang besar yang akan memutus rantai perdagangan mereka.

    Tapi pemikiran para saudagar Melayu yang sebagian besar adalah para bengsawan Tanah Melayu ini tidak sejalan dengan Rajanya yang berprinsip kepada kebebasan dan kedamaian umat.

    “Persaingan itu tumbuh sebagai tantangan agar kita dapat berbuat lebih arif lagi”, berkata Baginda Raja kepada beberapa bangsawan yang ingin mempengaruhinya untuk memerangi Singasari.

    Itulah sebabnya para bangsawan telah mengambil jalan sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Bagus Kemuning yang diam-diam memerintahkan para prajurit Melayu menyergap Jung Singasari di Selat Sunda beberapa hari yang lalu.

    Kehadiran Raja Ragasuci yang akan mengikuti sayembara memperebutkan salah seorang putri Raja, telah membangkitkan semangat Bagus Kemuning.

    “Ragasuci harus memenangkan sayembara ini”, berkata Bagus Kemuning dalam hatinya berharap bahwa kelak lewat Ragasuci pandangan Baginda Raja dapat berubah.

    Sementara itu di Bandar Melayu beberapa petugas sandi Singasari telah merapatkan jung nya di dermaga. Hari itu sebuah lembaran baru dari sejarah besarpun telah mulai dipagelarkan.

    “Aku baru mengerti mengapa para pedagang Melayu tidak menyukai kehadiran Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya ketika menginjakkan kaki pertamanya di Tanah Melayu. Melihat beberapa jung asing merapat di Bandar Melayu.

    “Akupun baru menangkap pemikiran Sri Maharaja Singasari tentang sebuah kerajaan laut”, berkata Mahesa Amping.

    “Sebuah pemikiran yang baru”, berkata Lawe.

    “Raja di darat dan Raja di lautan, itulah raja sejati”, berkata Raden Wijaya

    “Kita telah memulainya dihari ini”, berkata Mahesa Amping.

    “Aku tidak paham perkataan kalian, yang kupahami bahwa perutku sudah berteriak kriuk-kriuk”, berkata Argalanang yang disambut tawa oleh semua kawannya.

    “Ternyata yang ada di pikiran orang Pantai pasir seputih tidak jauh dari perut”, berkata Lawe yang disambut tawa lebih keras lagi.

    “Justru dari perutlah keluar hal-hal besar”, berkata Argalanang tidak menerima dikatakan hanya paham sekitar perut.

    “Kamu benar, dari perut sering keluar hal-hal besar terutama lewat jalan belakang”, berkata Lawe yang disambut kembali dengan tawa.

    “Mari kita cari kedai yang terbaik di Bandar Melayu ini”, berkata Raden Wijaya yang berusaha menengahi terutama melihat wajah Argalanang yang nampak bersungut-sungut cemberut.

    • pagelaran sejarah besar telah dimulai………….

      • Kaaaaammmmmmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!!!

        langsung nyrobot.

  42. pagelaran ibadah akan segera bertambah , mak nyuuuus

  43. Sugeng Enjang,
    Matur nuwun Ki Dalang

  44. Sebagaimana Bandar besar lainnya, Bandar Melayu adalah sebuah persinggahan para pedagang dari berbagai suku bangsa yang sepertinya tidak pernah sepi sepanjang hari, di siang hari maupun di malam hari.

    Kerlap-kerlip lampu terlihat di perkampungan yang tumbuh ramai disepanjang Bandar serta cahaya oncor yang diletakkan disetiap persimpangan jalan menandai kehidupan malam di Bandar Melayu yang sepertinya tidak pernah tidur.

    Beberapa buruh nampak masih sibuk mengangkut barang memuat sebuah Jung besar milik pedagang dari Gujarat, mungkin besok pagi akan berangkat berlayar.
    Sebuah kedai yang juga menyediakan jasa penginapan masih terlihat ramai. Disitulah empat pemuda petugas sandi dari Singasari beristirahat setelah menempuh perjalanannya.

    “Siapapun yang akan memndukung majikanku, tidak usah membayar apapun di kedai ini”, berkata seorang yang berwajah hitam legam sambil berdiri. Didekatnya terlihat seorang pemuda yang duduk tenang seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang kepercayaannya.

    Seketika itu juga hampir semua yang ada di kedai itu mengangkat tangannya sebagai arti ikut mendukung, kecuali empat pemuda yang baru datang menunggu pesanannya.

    Melihat hanya empat pemuda itu saja yang tidak mengangkat tangannya, orang berwajah hitam legam itu menghampiri keempat pemuda itu.

    “Kenapa kalian tidak mengangkat tangan he ?”, berkata orang itu sambil bertolak pinggang.Tercium aroma arak dari mulutnya. Ternyata orang ini telah banyak menenggak arak dan menjadi mabuk berat.

    “Kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe mewakili kawan-kawannya.
    “kalian harus mendukung !!”, orang itu berteriak keras.

    “Kami belum mengenal majikanmu, bagaimana kami harus mendukung ?, berkata Lawe yang sudah terlihat tidak sabaran.

    “Ternyata kalian orang baru disini. Pasang telinga kalian, majikannku adalah putra Datuk Belang yang dihormati dari Sungai Kampar”, berkata orang itu.
    “Siapapun majikanmu, kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe yang sudah semakin panas hatinya.

    “Bila kalian tidak mendukung, artinya kalian telah meremehkan majikanku”, berkata orang itu sambil membelalakkan biji matanya begitu menyeramkan.

    “Bila kami tidak mendukung kamu mau apa he ?”, berkata Lawe sambil berdiri tidak gentar.
    “Kamu memang perlu diberi pelajaran”, berkata orang itu sambil melayangkan sebuah tamparan kearah wajah Lawe.

    Ternyata orang itu belum mengenal Lawe. Dikiranya Lawe hanya seorang anak kemarin sore yang dapat digertak hanya dengan sebuah tamparan.
    Lawe tidak segera bergerak, menunggu sampai tamparan itu meluncur mendekatinya. Maka ketika telapak tangan itu sudah hampir mengenai wajahnya, dengan titis Lawe memiringkan sedikit kepalanya. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu terhuyung kesamping menabrak tiang utama bangunan.

    Brakk !!

    Untungnya kayu itu terbuat dari bahan kayu besi yang kokoh. Akibatnya justru kepala orang itu yang seperti pening terhantam tiang kayu itu.
    Terkesima semua orang dikedai itu melihat hanya dalam satu gerakan ringan orang itu sudah terlempar terpelanting menabrak tiang kayu.

    “Bangkitlah bila kamu masih mampu berdiri. Dan pasang telingamu lebar-lebar. Aku putra Raja Belang yang terkenal dan paling ditakuti dari Pulau Madhura.
    Lawe rupanya hanya ingin mengambul dengan mengatakan dirinya putra Raja Belang dari Pulau Madhura. Lawe sendiri tidak mengerti bahwa “Belang” di Tanah Melayu diartikan sebagai Harimau.

    “Maafkan anak buahku yang terlalu banyak minum arak”, berkata seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri didekat Lawe.

    Terkesiap sejenak Lawe memandang mata anak muda yang begitu tajam. Juga raut wajah dari pemuda itu memang terlihat asing tidak seperti wajah orang pada umumnya yang punya lekukan diantara hidung dan bibir atas. Sementara anak muda ini sepertinya tidak punya “anakan” dibawah hidungnya.

    Anak muda itu ternyata dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Lawe, maka dengan tersenyum ramah anak muda itu menjura memberi hormat.

    “Terima kasih telah memberi sedikit pelajaran kepada anak buahku “, berkata anak muda itu yang terus melangkah mendekati anak buahnya yang masih duduk bersandar tiang kayu.

    • Selamat liburan kadang sedoyo….
      hiks….

  45. Selamat liburan ugi Ki Dalang.
    Monggo disekecakaken, liburanipun, taksih katah waosan dados mboten sisah ngoyo. Menjelang Ramadhan kagem tadarusan.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: