SFBDBS-03

Bagian 1.

SFBdBS-03-059

“Beristirahatlah, jangan banyak bergerak”, berkata Kebo Arema sambil membantu Paherangi bersandar di sebuah batang pohon.

Malam pun akhirnya datang berangsur menutupi hutan porong dengan kegelapan.

“Biarlah aku dan Bhaya berganti jaga, tenaga kalian sangat diperlukan esok hari”, berkata Kertanegara meminta semuanya untuk beristirahat.

“Bangunkan aku”, berkata Kertanegara kepada Bhaya yang mendapat tugas jaga pertama.

Sepanjang malam tidak ada yang mengganggu mereka hingga sampainya datang pagi menjelang.

Berdasarkan pengalaman hari pertama, maka mereka mulai mengatur siapa bekerja dan siapa yang harus berjaga.

Sementara itu Paherangi yang terkena asap beracun sudah merasa sehat dan dapat bekerja kembali.

“Terima kasih Pangeran”, berkata Paherangi yang sudah mengetahui siapa yang menyembuhkannya.”Tanpa Pangeran mungkin aku tidak dapat lagi memandang cahaya pagi hari ini”

“Tidak perlu mengucapkan terima kasih, bukankah kita bersaudara?”, berkata Kertanegara yang ikut merasa gembira melihat Paherangi sehat sebagaimana sediakala.

Nampak terlihat mereka telah kembali bekerja, membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mereka keluarkan dari hutan. Sementara itu Bhaya yang mahir memanjat tengah membuang cabang pohon jati merah. Sebatang demi sebatang cabang ohon kayu jati jatuh terpangkas hingga akhirnya tinggal pokok batangnya saja yang masih berdiri menjulang tinggi.

Setelah pembukaan jalan sudah dirasa mencukupi, merekapun secara bergantian mulai memotong pokok batang kayu jati merah. Tali tambang besar pun telah terikat di batang pohon jati merah siap untuk ditarik. Sementara itu di sepanjang jalan telah ditebarkan balok kayu bulat yang berfungsi sebagai roda siap menggelinding manakala pokok batang kayu jati sudah rebah di atasnya.

Kraak… bum !!!!

Terdengar suara batang pohon jati merah jatuh ke bumi dengan suara yang luar biasa kerasnya. Tanah pun terasa bergetar ketika batang pohon kayu jati merah yang besar itu rebah jatuh kebumi. Dan Akhirnya batang pokok kayu jati itupun sedikit demi sedikit bergeser sampai ditepian sungai.

“Besok kita datang kembali mengambil beberapa cabang batang yang sudah terpangkas, pantang dipisahkan tulang pokok dan tulang rusuk jung harus berasal dari pohon yang sama”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara yang langsung menangkap dan mengerti batang pokok dan batang cabang yang akan ditatak nantinya sebagai tulang pokok dan tulang rusuk Jung.

Dua buah jukung terlihat meluncur menarik batang pohon yang panjang. Arah arus sungai porong yang mengalir ke arah sungai brantas sangat banyak membantu mempermudah kerja mereka. Namun ketika jukung mereka masuk ke aliran sungai Brantas, mereka harus melawan arus. Tapi para suku air adalah pedayung ulung. Sepertinya mereka tidak merasakan kesukaran. Perlahan tapi pasti jukung mereka terus bergerak menuju Bandar Cangu tempat mereka telah mendirikan sebuah galangan besar ditepian sungai Brantas.

Tapi semangat mereka seperti terbang.

Terlihat galangan yang mereka kerjakan siang dan malam selama sepekan hari telah berubah menjadi tumpukan abu.

“Kemarin malam ada yang membakar galangan kita”, berkata salah seorang dari suku air. ”Api sudah membesar tidak mungkin lagi diselamatkan”.

“Dimana kalian ketika kebakaran ini terjadi?”, bertanya Kebo Arema menatap semua saudaranya dari suku air yang tidak ikut bersamanya ke hutan Porong mencari pohon Jati Merah.

Semua saudaranya dari suku air Nampak tertunduk.

“Sirep mereka begitu kuat, semua saudaramu tertidur. Kami sendiri datang terlambat, galangan sudah setengahnya terbakar api”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang juga hadir di tempat itu menjelaskan dan meminta pengertian Kebo Arema untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada saudaranya.

“Siapapun mereka, tujuannya hanya satu untuk mematahkan semangat kita.Tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang gampang menyerah”, berkata Kertanegara memberi semangat.

Ternyata kata-kata Kertanegara seperti siraman minyak mengobarkan api semangat di dada para suku air. Keesokan harinya mereka sudah bekerja kembali membuat galangan dengan penuh semangat, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang gampang dipatahkan.

Kejadian terbakarnya galangan di dekat Bandar Cangu itu pun sebentar saja sudah menggema sampai kepelosok nagari. Semua orang membicarakannya. Beberapa orang bahkan mengaitkan kejadian itu dengan kosongnya singgasana di Kediri.

“Ada yang ingin menjatuhkan nama Pangeran Kertanegara”, berkata seorang saudagar di sebuah kedai.

Ternyata semua sudah diperhitungkan dengan masak oleh Pangeran Kertanegara. Jauh sebelum pembuatan galangan, Pangeran Kertanegara sudah menduga akan ada usaha yang menginginkan kegagalannya. Itulah sebabnya galangan pembuatan jung sengaja berada tidak jauh dari Bandar Cangu. Disitulah pusat berita. Dan nama Pangeran Kertanegara telah menjadi pusat berita, usaha pembakaran galangan menyuburkan rasa simpatik dari banyak orang. Siapapun yang lewat di tepian Brantas itu pasti akan melambaikan tangannya, sepertinya ingin mengatakan agar terus bekerja dan jangan mundur. Dan orang-orang suku air sepertinya ikut merasa tersanjung, merasa bangga bekerja bersama pahlawannya Sang Putra Mahkota.

 “Gila!!”, berkata seorang yang beralis tebal di sebuah kedai di Bandar Cangu sambil menggebrak meja. Tiga orang kawannya Nampak terdiam penuh rasa gentar menghadapi seorang di depannya yang nampaknya seperti pimpinan mereka.

Sementara di kedai itu sedang sepi pengunjung, cuma ada mereka berempat saja. Pemilik kedai saat itu tidak terlihat, mungkin sedang sibuk di dapur belakang.

“Usaha kita berbalik arah, usaha kita bahkan telah menjual namanya melambung tinggi”, kembali orang itu berkata yang ditanggapi oleh ketiga kawannya dengan menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.

Salah seorang dari mereka terlihat lebih berani dibandingkan kedua kawannya mengangkat kepalanya. “Harusnya kita tidak cuma membakar, tapi menghabisi mereka semua disaat sirep kita bekerja”.

“Bagus!”, berkata pemimpin mereka sepertinya mendapatkan rencana baru.

Seekor elang terus berputar di padang perburuannya. Sekali-kali mengepakkan sayapnya yang panjang. Matanya yang tajam terus mengawasi, menanti saat yang tepat dan cepat untuk menukik menyambar mangsanya yang lengah.

Suara pekik elang jantan kadang menggetarkan dada.

Gema terbakarnya sebuah galangan di tepian sungai Brantas juga telah terdengar jauh sampai ke Padepokan Bajra Seta.

“Mudah-mudahan kehadiran kalian dapat memberikan dukungan bagi Pangeran Kertanegara.Sampaikan salamku kepadanya”, berkata Mahesa Murti ketika melepas Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan berangkat ke Bandar Cangu.

Dengan menghela napas panjang, Mahesa Murti memandang punggung tiga anak muda di atas kudanya yang menghilang berbelok terhalang dinding Padepokan. Terbayang masa mudanya bersama Mahesa Pukat melanglang dunia. Mengembara dari satu tempat ketempat lainnya, merasakan angin segar di tengah padang ilalang, mencium bau tanah merah di perbukitan hijau. “Masa muda yang indah”, berkata Mahesa Murti kepada dirinya sendiri masih memandang jauh kedepan melampaui pintu gerbang Padepokannya.

“Sudah lama kita tidak melakukan perjalanan jauh”, berkata Raden Wijaya. Nampak wajahnya begitu ceria. “Mari kita berpacu sampai diatas puncak bukit”, berkata Raden Wijaya sambil mengepak perut kudanya agar berlari lebih cepat lagi.

Mahesa Amping dan Lawe tidak ingin tertinggal, mereka pun menghentakkan kudanya berpacu mengejar Raden Wijaya yang sudah lebih dulu memacu kudanya.

Terlihat tiga ekor kuda berlari berpacu di atas tanah bulakan panjang, membelah padang ilalang dan terlihat semakin jauh mendekati bukit kecil.

Diatas puncak bukit mereka berhenti sebentar, menengok kebelakang memandang sawah dan ladang yang terhampar. Sepertinya mereka bertiga mempunyai perasaan yang sama, suara rindu para cantrik Padepokan Bajra Seta nun jauh di ujung seberang sawah dan ladang yang terhampar indah seakan memanggil mereka, mengucapkan selamat jalan.

“Aku akan selalu merindukanmu”, berkata Lawe sambil melambaikan tangannya.

Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya tersenyum melihat laku Lawe, diam-diam mereka juga mempunyai perasaan yang sama, sebuah kekosongan hati meninggalkan tempat yang menyenangkan bersama dalam persaudaraan dan kegembiraan hari-hari di Padepokan Bajra Seta yang tenang dan sejuk, sesejuk senyum cerah para warganya. Dan mereka bertiga akan pergi jauh untuk waktu yang lama.

Ketika menuruni bukit kecil itu, mereka tidak lagi memacu kudanya. Dibiarkan kaki kuda melangkah berjalan sendiri menuruni bukit. Masing-masing terdiam hanyut dalam angan pikirannya sendiri hingga tidak terasa mereka telah ada di tepi hutan kecil.

Itulah awal perjalanan mereka. Sebuah awal pengembaraan mereka yang panjang menapaki liku jalan kehidupan yang tidak selalu datar. Lembaran perjalanan mereka diwarnai dengan canda dan tawa, tapi terkadang sangat begitu mencekam seperti menyusuri tepian jurang panjang ditengah malam dalam kepungan puluhan senjata tajam.

Senja itu mereka tengah menyusuri jalan di sebuah Padukuhan, tengah mencari sebuah Banjar Desa untuk bermalam. Tiba-tiba saja puluhan orang datang dari depan dan belakang membawa berbagai macam senjata.

“Berhenti!!”, berkata seorang yang bertubuh tegap berkumis tebal dengan senjata golok besar telanjang d itangannya.

Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe segera turun dari kudanya. “Beginikah sikap kalian menerima setiap orang asing yang datang di kampungmu?”, berkata Lawe yang merasa tidak menyukai sikap orang-orang dusun yang mengepung dan mengancamnya.

“Jangan banyak bicara, menyerahlah”, berkata kembali orang itu dengan suara keras.

“Apa kesalahan kami?”, bertanya Lawe tidak kalah keras suaranya sepertinya tidak sabaran.

“Jangan berpura-pura, kalian pasti ingin kembali mencuri sapi kami”, berkata orang itu

“Darba, jaga sikapmu”, tiba-tiba muncul menyeruak dari kerumunan banyak orang, seorang lelaki sudah berumur namun tubuhnya masih begitu tegap dan berotot.

“Ki Jagabaya, mereka adalah pencuri”, berkata orang yang berkumis tebal yang dipanggil Darba oleh Ki Jagabaya yang baru saja datang menghampiri mereka.

 “Sudah kubilang, jaga sikapmu!” berkata Ki Jagabaya kepada Darba yang sepertinya tidak menerima sikap Ki Jagabaya.

“Maafkan kami anak muda, kemarin malam di padukuhan ini telah kecurian tiga ekor sapi. Wajarlah bila semua orang di sini menjadi curiga kepada orang asing”, berkata Ki Jagabaya menjelaskan kepada Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping dengan sikap yang santun.

“Kami hanya pengembara, rencananya kami ingin menumpang bermalam di Banjar Desa. Namun dengan kejadian ini, biarlah kami bermalam di tempat lain”, berkata Mahesa Amping.

“Jangan biarkan mereka lepas, mereka harus dihukum”, berkata Darba sambil mengangkat golok besarnya.

“Benar, mereka harus dihukum”, berkata dua orang yang berdekatan dengan Darba. Sementara beberapa orang padukuhan sepertinya meresa segan dengan Ki Jagabaya, mereka hanya berdiri menunggu dalam keraguan.

Tiba-tiba saja muncul tiga orang pemuda mendekati Ki Jagabaya. “Orang asing ini bukan pencurinya, sejak kemarin kami sudah tahu siapa pencurinya”, berkata salah seorang pemuda yang mendekati Ki Jagabaya.

“Kamu tahu siapa pencurinya?”, bertanya Ki Jagabaya kepada pemuda itu.

“Maafkan aku, waktu itu aku takut ayah akan berhadapan dengan orang itu”, berkata pemuda itu.

“Apakah saat ini kamu masih takut menyebut nama pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya.

“Rasa takutku telah hilang, melebihi rasa takut bila ayah salah menghukum orang asing ini”, berkata Pemuda itu.

“Katakan siapa pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya tidak sabaran.

“Darba dan dua temannya itu”, berkata pemuda itu sambil menunjuk Darba dan dua orang yang ada di dekatnya.

Semua mata memandang Darba dan dua orang temannya.

“Anak setan, jangan bicara sembarangan”, berkata Darba dengan marahnya. Wajahnya berubah semakin beringas.

“Kemarin malam kami mengikutimu sampai ke ujung hutan, disanalah kalian menyimpan sapi-sapi itu”, berkata pemuda itu.

“Anak setan, kurobek mulutmu”, berkata Darba sambil melangkah mengacungkan golok besarnya.

 “Aku yakin anakku tidak berbohong, sudah lama aku mencurigai kalian bertiga”, berkata Ki Jagabaya sambil menghadang langkah Darba.

“Rupanya anakmu masih berotak, takut ayahnya yang sudah tua tidak akan mampu menghadapi kami bertiga”, berkata Darba langsung menyerang Ki Jagabaya.

Ternyata Ki Jagabaya meski sudah berumur masih mampu bergerak lincah. Dengan bergeser kesamping menghindar tusukan golok besar Darba, Ki Jagabaya langsung menyerang balik dengan sebuah sabetan tombak pendek bermata dua yang merupakan senjata andalannya.

Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Darba dan Ki Jagabaya. Semua mata memandang penuh rasa khawatir, apakah Ki Jagabaya yang sudah tua akan dapat menandingi Darba yang bertubuh tegap yang terlihat begitu ganas dan keras melakukan serangannya.

Mahesa Amping yang mengikuti pembicaraan pemuda yang ternyata putra Ki Jagabaya memberi tanda kepada Lawe untuk bersiap menjaga segala kemungkinan dua orang kawan Darba berbuat kecurangan. Ternyata dugaan Mahesa Amping terbukti, dua orang kawan Darba telah bersiap maju mendekati pertempuran. Mahesa Amping dan Lawe maju menghadang mereka.

“Kurang enak dipandang, orang tua di keroyok tiga orang sekaligus”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang yang berkulit hitam pekat.

“Sedari tadi aku sudah tidak sabar untuk mencincangmu”, berkata orang yang berkulit hitam pekat itu sambil mengayunkan pedang besarnya ke arah kepala Mahesa Amping yang langsung mengelak dengan gerakan seenaknya. Bukan main marah dan penasarannya orang itu melihat ayunan pedangnya lolos tipis dari sasarannya. Ternyata Mahesa Amping tidak langsung menunjukkan tataran ilmunya, berpura-pura mengelak dengan gerakan seadanya. Semakin geram dan penasaran orang itu untuk menyelesaikan pertempurannya.

Sementara itu Lawe sudah berhadapan dengan seorang lagi teman Darba yang berwajah menyeramkan, ada bekas luka codet di sepanjang garis pipinya.

Tidak seperti Mahesa Amping, Lawe tidak sabaran menghadapi lawannya yang berwajah seram itu. Ketika sebuah bacokan mengarah dari atas kepalanya. Dengan kecepatan yang tidak dapat dipercaya oleh lawannya, Lawe bergeser memiringkan badannya. Dan senjata lawan lewat hanya beberapa inci dari tubuh Lawe.

Orang itu seperti terbelalak tidak percaya, sebuah tamparan yang keras menghantam tangannya yang masih menggenggam pangkal pedang. Tulang tangannya seperti patah dan pedih, tidak terasa pedangnya telah terlepas. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, entah dari mana datangnya serangan, yang dirasakannya tengkorak kepalanya seperti terhantam benda berat. Seketika itu juga orang yang berwajah menyeramkan itu roboh pingsan.

Orang-orang Padukuhan seperti tidak percaya dengan penglihatannya. Orang yang berwajah seram yang memang baru beberapa minggu ini tinggal di rumah Darba telah dapat dirobohkan dengan cepat oleh seorang pemuda asing yang sebelumnya dituduh sebagai seorang pencuri.

Raden Wijaya hanya tersenyum melihat Lawe yang dengan cepat merobohkan lawannya. Pandangannya masih tetap ke pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin dapat saja terjadi. Namun sekali-kali masih menengok pertempuran Mahesa Amping yang terlihat seperti orang bodoh menghindari serangan lawannya.

Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, Ki Jagabaya ternyata masih mampu mengimbangi serangan Darba yang keras dan ganas. Mereka sepertinya berpacu meningkatkan tataran ilmunya. Pertempuran menjadi begitu sengit. Masing-masing ingin selekasnya menyelesaikan pertempuran.

Akhirnya sedikit kelengahan telah menguntungkan posisi Ki Jagabaya. Darba lengah tidak menyadari bahwa tombak pendek Ki Jagabaya bermata dua. Ketika sebuah serangan dari Ki Jagabaya meluncur mengarah perutnya, dengan angkuh Darba mencoba menghantam tombak pendek itu dengan golok besarnya sekuat tenaga dengan keyakinan tombak pendek itu pasti terlempar. Ternyata tombak pendek itu berubah arah. Mata tombak yang lain berubah berputar menukik pangkal paha Darba. Darah memuncrat dari pangkal paha yang tercabik mata tombak Ki Jagabaya yang langsung mencabutnya dan melompat beberapa jarak.

Rasa pedih dan perih dirasakan darba pada pangkal pahanya yang tertembus mata tombak Ki Jagabaya. Kaki kanannya seperti lumpuh.

“Mata tombakku mengandung racun yang tajam, menyerahlah, aku punya penawarnya”, berkata Ki Jagabaya menawarkan Darba untuk menyerah.

Darba yakin Ki Jagabaya tidak berbohong. Apalagi ketika dirasakan badannya ikut menggigil. “Aku menyerah”, berkata Darba sambil melemparkan golok besarnya.

Sementara itu, Mahesa Amping juga melihat akhir pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Maka ada pikiran untuk menyelesaikan pertempurannya yang lebih tepat disebut permainan. Karena Mahesa Amping selama itu hanya melompat dan berlari menghindari setiap serangan dengan gerakan seperti orang bodoh yang membuat lawannya bertambah penasaran.

Mahesa Amping memang sudah jemu bermain. Ketika sebuah bacokan meluncur dari arah atas kepala, Mahesa Amping tidak menghindar. Dengan memperhitungkan kekuatan dan kecepatan luncuran pedang, Mahesa Amping telah menghentikan laju pedang itu dengan menjepitnya dengan dua buah jari tangannya. Dengan tersenyum Mahesa Amping memandang lawannya yang berusaha menarik sekuat tenaga pedangnya agar terlepas dari jepitan Mahesa Amping yang begitu kuat. Bahkan tidak malu lagi menariknya dengan kedua tangannya. Akibatnya pun jadi sungguh memalukan, orang itu jatuh duduk di tanah terlempar tenaganya sendiri karena dengan cepat Mahesa Amping telah melepaskan jepitan jarinya.

“Menyerahlah, dua orang temanmu sudah tidak berdaya”, berkata Mahesa Amping dengan sikap tidak seperti orang bodoh lagi. Wajahnya berubah seperti penuh wibawa dan angker.

Ternyata orang yang berwajah hitam pekat itu telah menyadari dengan siapa ia berhadapan. Bagaimana dengan dua buah jari lawannya dapat menahan dan menjepit pedangnya. Disamping itu ia telah melihat dua orang kawannya sudah tidak berdaya.

“Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melempar pedangnya.

“Bawa mereka ke rumah Ki Buyut”, berkata Ki Jagabaya kepada beberapa orang yang langsung mengikat Darba dan dua orang kawannya.

“Terima kasih, apa jadinya diriku yang tua ini bila sampai dikeroyok tiga orang begundal itu”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

“Tanpa kehadiran Ki Jagabaya, mungkin kami sudah dicincang habis warga Padukuhan”, berkata Mahesa Amping.

“Ternyata aku berhadapan dengan orang muda yang telah dapat menguasai diri. Sebelum dicincang kalian sudah lebih dulu membantai seluruh orang padukuhan. Terima kasih kalian tidak melakukannya”, berkata Ki Jagabaya.

Akhirnya Ki Jagabaya mengajak mereka ikut bersama kerumah Ki Buyut untuk ikut menjadi saksi.

Hari sudah jauh menjadi malam, manakala mereka sampai dirumah Ki Buyut. Ki Jagabaya pun menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Darba dan dua orang kawannya tidak dapat mengelak lagi, mereka mengakui semua perbuatannya.

“Bermalamlah di rumahku, aku masih punya persediaan ketela yang baru tadi siang dicabut”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe ketika urusan dengan Darba dan dua orang kawannya dianggap telah selesai. Masalah hukuman apa yang pantas bagi mereka telah diserahkan sepenuhnya kepada Ki Buyut.

Akhirnya Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe tidak menolak tawaran Ki Jagabaya. Sebagaimana yang dijanjikan, Ki Jagabaya telah menjamu mereka dengan ketela rebus yang baru dicabut lengkap dengan kelapa parut mudanya. Apalagi yang menjadi teman minumnya segelas hangat wedang sare lengkap dengan gula batu merahnya.

“Uwenake pwuoll”, berkata Lawe sambil menyerumput wedang sare hangatnya.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-059

Ketika pagi menjelang, hari masih begitu gelap. Terlihat Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe telah meninggalkan padukuhan. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bandar Cangu yang sudah tidak begituh jauh lagi. Angin bertiup sepoi di pagi yang cerah. Dengan rancak tiga ekor kuda menapaki bulakan panjang, membelah padang ilalang, menapaki bukit dan lembah hijau pegunungan. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe sepertinya menikmati perjalanan mereka. Seperti elang muda yang terbang bebas diudara mengarungi luasnya kehidupan alam raya.

Sementara itu di hari yang sama, Kertanagara bersama Kebo Arema dan para saudaraya masih tengah bergulat membangun jung besar di tepian Sungai Brantas. Mereka bekerja dengan penuh semangat sepertinya tidak mengenal lelah. Dan sebuah kerangka jung besar telah berdiri diatas galangan seperti patung kerangka ikan raksasa berdiri di tepian Sungai Brantas. Siapapun yang lewat di tepian Sungai Brantas sepertinya sudah tidak sabar menanti, lahirnya sebuah jung besar yang megah yang belum pernah tercipta sebelumnya.

“Besok kita harus menyelenggarakan upacara rangka”, berkata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara dan Mahesa Pukat di pendapa utama Benteng Cangu di malam hari.

“Apa yang kita lakukan dalam upacara rangka itu?”, bertanya Mahesa Pukat.

“Membakar sisa-sisa tatal kayu jati yang sudah tidak terpakai. Sebagian abunya di larung di air, sementara sebagian lagi di tanam di bumi”, berkata Kebo Arema menjelaskan sebuah ritual kecil yang dinamakannya upacara rangka.

“Adakah makna yang disampaikan dari upacara rangka ini?”, bertanya Mahesa Pukat.

“Setiap upacara mengandung makna, abu kayu jati yang di larung di air sungai sebagai pertanda menyatunya jung dengan lingkungannya agar mereka selalu bersahabat saling menjaga. Sementara abu yang ditanam dibumi, sebagai pertanda agar kemana pun kita berlayar jauh harus selalu mengingat dimana tempat kita berasal untuk datang kembali”.

Mahesa Pukat dan Kertanegara sepertinya dapat mengerti dan menangkap maksud dari upacara rangka yang akan mereka lakukan besok hari.

Langit malam diatas tepian Sungai Brantas dipenuhi kabut hitam. Hawa dingin menyergap tubuh seakan menyuruh setiap jiwa berlindung di bilknya untuk segera tertidur. Bhaya merasakan sesuatu yang tidak wajar tengah menghentak jiwanya. Dirasakannya rasa kantuk yang luar biasa yang tidak wajar. Dengan mengendapkan segala kekuatan yang ada di dalam bathinnya, Bhaya berusaha melawan rasa kantuknya. Mengintip dari dalam biliknya siap sedia menjaga hal-hal yang mungkin saja dapat terjadi. Sementara itu semua saudaranya, baik

Ternyata sebuah sirep yang kuat tengah bekerja sebagaimana yang diduga oleh Bhaya. Seorang tidak jauh dari galangan tengah menerapkan aji sirepnya. Sebuah asap tipis terlihat mengepul dari dupa yang dibakar terbawa angin malam merasuki semua yang ada di galangan, membius mereka dalam kantuk yang luar biasa.

Dari biliknya Bhaya dapat mengawasi keadaan diluar, bukan main kagetnya ketika samar-samar sebuah bayangan tengah mendekati galangan. “Membakar galangan!!!”, hanya itulah yang ada dalam pikiran Bhaya melihat sesosok bayangan yang mengendap-endap mendekati Galangan.

Terlihat Bhaya perlahan keluar dari biliknya. Seperti harimau mendekati mangsanya, Bhaya sedikit demi sedikit mendekati bayangan itu yang masih belum menyadari bahaya tengah mengancamnya. Dua buah belati pendek, senjata andalannya telah tergenggam di dua tangannya. Sebuah terkaman kuat tidak dapat dielakkan lagi. Dan sebuah tikaman belati telah masuk langsung menembus jantung. Sosok bayangan itu tidak sempat lagi berteriak, napasnya sudah langsung menghilang dibekap tangan Bhaya yang kuat.

Tiba-tiba pendengaran Bhaya yang tajam mendengar sebuah langkah kaki. Ketika berbalik badan terlihat tiga sosok bayangan dimalam yang gelap telah menghampirinya.

“Kamu telah selamat dari sirepku, tapi tidak akan selamat dari pedangku”, berkata seseorang yang paling terdepan langsung menyerang Bhaya.

Meski senjata Bhaya berupa belati pendek, tidak menjadikan dirinya lemah. Dengan gesit Bhaya merangsek tubuhnya dengan pertarungan jarak pendek. Orang itu sepertinya kewalahan menerima serangan-serangan Bhaya yang datang seperti ombak bergulung.

Untunglah dua orang temannya datang membantu. Sekarang keadaan menjadi terbalik, Bhaya sepertinya kewalahan mengelak serangan ketiga lawannya yang datang silih berganti, tiada memberinya kesempatan melakukan serangan balik sedikitpun.

Peluh sudah membasahi seluruh tubuh Bhaya, tenaganya sedikit demi sedikit terus menyusut. Gerakan tubuhnya semakin lama menjadi tidak segesit ketika tenaganya yang berada dipuncaknya. Hingga pada sebuah serangan, Bhaya kurang cepat menghindar, sebuah sabetan pedang berhasil menggores pundaknya. Darah segar keluar dari garis lukanya, terasa begitu pedih ketika bercampur peluh.

“Kamu akan segera mati”, berkata seorang yang beralis tebal sambil mengayunkan pedangnya.

Kembali Bhaya mengelak, namun sebuah serangan telah datang menyusul dari tempat yang lain. Begitulah serangan terus meluncur seperti ombak yang tidak pernah habis menggulung Bhaya yang masih terus mengelak dan menghindar.

 ———-oOo———-

 SFBdBS-03-060

Mahesa Pukat, Kertanegara dan Kebo Arema telah datang ke Galangan. Bhaya langsung menjelaskan apa yang telah terjadi.

“Kalian datang disaat yang tepat”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe.

“Awalnya kami sungkan mengetuk pintu benteng di saat hari sudah menjelang malam, akhirnya langkah kaki kami mengarah ke Galangan ini”, berkata Mahesa Amping.

“Benteng Cangu selalu terbuka untuk kalian, lain kali tidak perlu sungkan lagi”, berkata Mahesa Pukat mengajak Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe beristirahat di Benteng Cangu.

Sisa malam memang sudah tinggal sedikit lagi, beberapa orang di galangan sudah tidak merasa mengantuk lagi. Dua orang dari suku Air terlihat tengah menyingkirkan mayat orang yang terkena racunnya sendiri. Sementara beberapa orang lagi tengah mengikat dua orang tawanan.

Pagi itu begitu cerah, langit putih bersih disinari hangatnya matahari. Tiga ekor angsa terlihat berenang di tepian Sungai Brantas masuk ke kolong galangan. Sepasang kadal hijau saling berkejaran di atas rumput yang masih basah. Di seberang sungai puluhan burung emprit pengembara turun memenuhi tanah berair dangkal.

Tidak jauh dari galangan terlihat beberapa orang suku air telah selesai melaksanakan pemakaman dua jenasah. Mereka melaksanakan pemakaman dengan sebaik-baiknya sebagaimana layaknya, meski yang dikuburkan adalah orang yang hendak mencelakai diri mereka.

Setelah proses pemakaman sudah selesai, maka sesuai dengan rencana hari itu akan dilaksanakan sebuah upacara guyur rangka, sebuah upacara yang bertujuan sebagai rasa syukur bahwa rangka jung telah selesai didirikan. Dimulai dengan pembacaan mantra suci yang ditujukan untuk memohon keselamatan dari Gusti Sing Maha Karsa. Dilanjutkan dengan pembakaran tatag sisa kayu jati merah.

Abu dari kayu jati merah itu sebagian dilarung ke sungai, sementara sisanya ditanam di bumi. Upacara berakhir dengan saling menyiram diatas rangka jung. Orang-orang dari suku air semua saling menyiram.

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang baru melihat sebuah upacara guyur rangka dilaksanakan menjadi terhibur, mereka sepertinya melihat sekumpulan anak-anak kecil tengah bermain air.
Selesai upacara guyur rangka, yang dinantikan pun tiba, apalagi kalau bukan sebuah perjamuan besar. Semua sepertinya menikmati perjamuan itu hingga tak terasa matahari telah turun bergeser di barat cakrawala.

Malam itu, seperti biasa di pendapa Benteng Cangu pembicaraan berkisar tentang beberapa hal penting mengenai pelaksanaan jung, disamping juga laporan dari Senapati Mahesa Pukat tentang kemajuan latihan para calon perwira pasukan khususnya.

Namun ketika pembicaraan bergeser sekitar pengakuan dari dua orang tawanan yang berkaitan dengan seorang Bangsawan di tanah Gelang-gelang, semua mata tertuju kepada Pangeran Kertanegara, karena sepertinya ujung permasalahan bersumber dari sebuah keinginan menjatuhkan nama Pangeran Kertanegara.

“Sudah saatnya kita memberi sedikit cubitan, sekedar peringatan bahwa kita bisa melakukan lebih besar lagi”, berkata Pangeran Kertanegara sepertinya mengerti bahwa semua mengharapkan sebuah tanggapan darinya.

“Ya, sekedar cubitan peringatan kepada seorang saudara”, berkata Senapati Mahesa Pukat membenarkan sikap Pangeran Kertanegara.

“Kalau untuk memberikan sekedar cubitan, tentunya tidak perlu sepasukan prajurit. Kami bertiga dapat melakukannya”, berkata Raden Wijaya sambil melirik kepada Mahesa Amping dan Lawe.

“Aku setuju, kita mengirim tiga bocah begundal tengik berbuat ulah di tanah Gelang-gelang”, berkata Kebo Arema sambil memberi gambaran apa yang harus dilakukan oleh Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe di tanah Gelang-gelang.

Demikianlah, keesokan harinya Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe belum berangkat ke Tanah Gelang-gelang. Pagi itu mereka masih melihat kesibukan para calon perwira pasukan khusus berlatih sebagai pasukan air yang mumpuni.

Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe hari itu juga melihat kesibukan para suku air menyiapkan beberapa papan kayu ulin untuk bahan pelapis rangka jung yang sudah berdiri. Kayu ulin adalah sebuah jenis kayu yang kuat dan tahan air. Semakin terendam lama di air akan menjadi semakin keras. Barulah kesesokan harinya Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe telah bersiap-siap meninggalkan Benteng Cangu.

Pagi itu matahari sudah menerangi Benteng Cangu dengan cahayanya yang hangat. Tiga ekor kuda terlihat keluar dari gerbang pintu Benteng Cangu. Mereka adalah Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan melaksanakan tugasnya ke Tanah Gelang-gelang.

Awan putih terlihat menghiasi langit biru. Tiga elang belia terbang melayang-layang mengitari padang ilalang dan pergi melesat tinggi jauh menghilang di balik bukit.

“Ternyata Kuta Raja sudah menjadi semakin ramai”, berkata Raden Wijaya ketika mereka sampai di Kuta Raja. Sejak berguru di Padepokan Bajra Seta, baru kali ini melihat kembali Kuta Raja yang sudah menjadi kian ramai. Iring-iringan gerobak berlalu lalang di jalan membawa berbagai macam barang.

“Ternyata anakku sudah menjadi pemuda yang gagah”, berkata Ratu Anggabhaya menerima mereka di istana dengan perasaan gembira melihat cucunya Raden Wijaya.

Raden Wijaya memperkenalkan Mahesa Amping dan Lawe kepada keluarganya.

“Ternyata kamu anak Ki Banyak Wedi, wajahmu mirip sekali dengannya”, berkata Lembu Tal ayah Raden Wijaya ketika diperkenalkan dengan Lawe.

“Aku yakin di sepanjang jalan para begundal tengik tidak ada yang berani mengganggu kalian”, berkata Ratu Anggabhaya.

“Justru kamilah yang sering mengganggu mereka”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa semua.

Demikianlah mereka bertiga bermalam di istana Kuta Raja. Kepada keluarganya Raden Wijaya tidak bercerita tentang rencana mereka ke Tanah Gelang-Gelang. Hanya dikatakan bahwa mereka tengah ditugaskan “Laku langlang” mengembara ke beberapa tempat.

“Dari sini kami akan ke Kediri dan terus ke Tanah Gelang-gelang”, berkata Raden Wijaya mengatakan arah perjalanan mereka.

“Bumi Singasari begitu luas, sudah seharusnya kalian mengenalnya satu persatu”, berkata Ratu Anggabhaya.

———-oOo———-

 SFBdBS-03-063

Bumi Singasari memang begitu luas, lebih luas dibandingkan ketika Ken Arok menundukkan Kediri. Keamanan, Kesejahteraan dan kemakmuran menyelimuti bumi Singasari. Para putra Raja yang berdaulat di berbagai daerah sepertinya saling berlomba membangun daerahnya masing-masing. Sepertinya ingin menunjukkan kelebihan dari saudaranya. Persaingan itu telah tumbuh dan berkembang semenjak adanya kekosongan penguasa di Kediri. Menguasai Kediri ibarat menguasai setengah tanah Singasari, itulah yang mereka inginkan. Dan di antara putra dan keluarga Sri Maharaja yang telah menunjukkan persaingannya itu adalah Raja Jayakatwang, putra keturunan terakhir Raja Kertajaya, putra Raja Kediri terakhir yang saat ini berkuasa di Tanah Gelang-gelang.

“Aku putra Kediri, akulah yang berhak menjadi penguasa di Kediri”, berkata Raja Jayakatwang kepada permaisusinya Turuk Bali.

“Ayahanda telah menganugrahi kepada kita Tanah Gelang-gelang”, berkata Ratu Turuk Bali sepertinya mengingatkan suaminya untuk menerimanya.

“Tanah Gelang-gelang bukan Kediri”, berkata Raja Jayakatwang. “Dan apapun akan kulakukan untuk menguasai Kediri, meski dengan cara paksa”.

Ratu Turuk Bali tidak lagi membantah apapun yang diinginkan suaminya yang keras seperti batu. Sebagai istri yang setia harus tunduk patuh. Meski didalam hati kurang menyetujui apa yang dilakukan suaminya, seperti peningkatan kekuatan prajuritnya, seakan-akan Raja Jayakatwang tengah menyusun kekuatan yang besar untuk menghadapi sebuah perang besar. Siapa yang akan diperangi? itulah yang membuat hati Ratu Turuk Bali seperti tersayat, terapung-apung dalam kebimbangan.

“Ada tiga pemuda ingin menghadap tuanku Ratu”, berkata seorang bibi dayang kepada Ratu Turuk Bali yang saat itu berada di Taman.

“Apakah mereka menyebut sebuah keperluan”, bertanya Ratu Turuk Bali.

“Mereka hanya mengatakan ingin menghadap Tuanku Ratu, salah seorang menyebut dirinya putra Lembu Tal bernama Raden Wijaya dari Kutaraja”, berkata Bibi Dayang itu.

“Bawa mereka kemari”, berkata Ratu Turuk Bali yang sudah mengenal Raden Wijaya sebagai anak sepupunya Lembu Tal.

Bukan main gembiranya Ratu Turuk Bali menerima kedatangan Raden Wijaya, seorang keponakannya dari Kutaraja. Sejak kedatangannya di Tanah Gelang-gelang sudah lama tidak bertemu dengan saudara sedarah dari Kutaraja.

“Keponakanku sudah menjadi seorang pemuda gagah”, berkata Ratu Turuk Bali menyambut kedatangan Raden Wijaya.

“Perkenalkan ini kawan-kawanku”, berkata Raden Wijaya memperkenalkan Mahesa Amping dan Lawe kepada Ratu Turuk Bali.
Banyak sekali yang ditanyakan Ratu Turuk Bali tentunya sekitar Kutaraja yang sudah begitu lama tidak dikunjungi. Akhirnya dalam sebuah kesempatan, Raden Wijaya menunjukkan sebuah tusuk konde kepada Ratu Turuk Bali.

“Ini adalah milikku, kenapa bisa ada di tanganmu?”, bertanya Ratu Turuk Bali yang mengenal bahwa tusuk konde itu adalah benar miliknya.

Raden Wijaya pun bercerita dengan panjang lebar semua kejadian yang dialami Pangeran Kertanegara di Pulau Madhura. “Rahasia tusuk konde ini biarlah tetap menjadi rahasia, biarlah Raja Jayakatwang tidak mengetahui bahwa aku sudah mengetahui apa yang telah dilakukannya sejauh ini”, berkata Ratu Turuk Bali sambil matanya memandang jauh, menembus rimbunan soka merah yang berjejer rapi di pinggir dinding pagar istana.

“Untuk itu, biarlah kami tidak terlalu lama di Istana ini”, berkata Raden Wijaya mencari alasan agar tidak diminta menginap di Istana.
Ratu Turuk Bali dapat menerima alasan Raden Wijaya, terutama mengenai rahasia tusuk konde. Meski rasa rindunya harus dikorbankannya.

“Jagalah diri kalian”, berkata Ratu Turuk Bali melepas kepergian Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe.

Hari memang hampir senja, sebagaimana layaknya seorang pengembara, Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe terlihat di jalan kota yang sudah tidak begitu ramai lagi. Dilihatnya tidak jauh dari istana sebuah barak besar prajurit.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-064

 “Kita buat mereka tidak tidur malam ini”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping ketika melihat dari gerbang yang masih terbuka beberapa kelompok prajurit Gelang-gelang tengah berkumpul di depan barak mereka.

Sambil berjalan Raden Wijaya menerangkan apa yang harus mereka lakukan. Raden Wijaya mengajak dua orang kawannya ini ke alun-alun utama. Sebagai seorang yang pernah tinggal di Kutaraja, Raden Wijaya sudah dapat menerka ada apa saja biasanya di alun-alun utama. Ternyata yang dicari Raden Wijaya adalah seekor Harimau jantan.

Demikianlan setiap seorang Raja di singasari biasanya memiliki beberapa binatang sebagai lambang kekuasaan, seperti gajah, kuda-kuda yang terpilih dan juga seekor harimau. Dan di alun-alun tanah Gelang-gelang dipelihara sekor harimau yang besar. Harimau itu sepertinya dipelihara dengan baik. Kerangkengnya terbuat dari kayu yang kuat dengan ukuran yang cukup luas. Pada saat Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe berada di dekat kerangkeng, harimau itu sedang tidur.

“Kita bergerak di saat hari menjelang malam”, berkata Raden Wijaya

“Kita harus mendapatkan kayu untuk memikulnya”, berkata Lawe yang melihat ukuran harimau begitu besar.

Demikianlah sesuai rencana mereka bertiga telah menyiapkan segalanya, menunggu saat hari menjelang malam.

Malam itu bulan sabit menggatung di langit Gelang-gelang. Alun-alun terlihat begitu sepi dan gelap. Tiga sosok bayangan mengendap-endap mendekati kerangkeng harimau yang sedang berbaring. Ternyata harimau mempunyai pendengaran yang begitu tajam. Meski tidak terlihat bangun, telinganya sudah mengetahui ada yang mendekatinya. Di kegelapan malam, terlihat matanya mengawasi tiga sosok tubuh yang mendekatinya.

Terlihat Raden Wijaya membuka selarak kayu yang mengunci pintu kerangkeng. Perlahan Raden Wijaya membuka pintu kerangkeng dan masuk kedalamnya.

Ternyata, harimau itu memang telah bersiap sejak awal. Begitu Raden Wijaya masuk kedalam, harimau itu langsung bangkit menatap Raden Wijaya dengan matanya yang tajam menyala di kegelapan malam. Bersamaan dengan suara auman besar, raja rimba itu melompat menerkam Raden Wijaya. Tapi semua itu sudah diperhitungkan oleh Raden Wijaya. Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, melebihi kecepatan gerak lompat harimau itu, Raden Wijaya sudah melenting ke samping. Begitu kecewanya sang raja rimba mendapatkan tempat kosong. Baru saja harimau itu menjejakkan kakinya, Raden Wijaya sudah melenting hinggap di punggung harimau itu.

Dan sebuah pukulan yang kuat telah menghantam tengkuk urat simpul sang raja hutan. Tanpa bersuara lagi, sang raja hutan jatuh rebah pingsan.

Mahesa Amping dan Lawe menarik napas panjang, meskipun sudah mengetahui bahwa Raden Wijaya pasti dapat mengatasi harimau besar itu, tapi masih saja ada perasaan tegang melihat begitu garangnya harimau di dalam kerangkeng itu.

Bulan sabit masih menggantung di atas langit, hanya beberapa bintang menemani langit malam. Sesosok bayangan melompati dinding pagar barak langsung mengendap-endap menuju gardu ronda. Seorang peronda yang nampak terkantuk-kantuk menjadi terkejut ketika telah berdiri dihadapannya seorang pemuda yang tersenyum kepadanya.

Belum lagi prajurit itu berkata apapun, dirasakan ulu hatinya telah terbentur pukulan keras. Ternyata pemuda itu telah memukulnya dengan kecepatan yang luar biasa. Terlihat prajurit itu roboh pingsan. Dan pemuda dihadapannya yang tidak lain adalah Raden Wijaya nampak berlari ke arah pintu gerbang untuk membukanya.

Ketika pintu gerbang barak prajurit terbuka, dari luar masuk dua orang dengan memikul sebatang kayu panjang. Yang dipikul tidak lain adalah seekor harimau besar yang masih pingsan. Dengan cekatan ikatan kaki harimau itu pun dilepaskan. Dan mereka pun dengan cepat keluar dari pintu gerbang dengan menguncinya dari luar dengan sebuah pikulan yang mereka bawa.

Yang pertama kali sadar ternyata harimau itu, dengan sebuah raungan besar kucing hutan itu mengeluarkan kegusarannya. Suaranya terdengar begitu keras menggema memenuhi barak-barak prajurit yang baru saja naik dari pembaringannya.

Gemparlah suasana di barak prajurit itu, ratusan prajurit telah keluar dengan berbagai senjata. Ada yang keluar dengan membawa pedang, ada juga yang membawa tombak. Di hadapan mereka berdiri seekor harimau besar yang sedang gusar.

Sepuluh orang prajurit yang nampaknya sudah terbiasa menghadapi harimau garang terlihat maju kedepan dengan tombak ditangan. Tanpa isyarat apapun, bersamaan mereka melemparkan tombak ke arah harimau. Sungguh naas nasib harimau itu, tiga buah batang tombak berhasil menembus punggungnya. Sebuah raungan kemarahannya terdengar menggema memenuhi suasana malam yang sepi sebagai suara terakhir yang menggetarkan. Sang raja rimba telah rebah tak bernyawa.

Malam itu juga gegerlah separuh kota Tanah Gelang-gelang. Mereka bukan hanya terkejut menyaksikan seekor harimau peliharaan Raja Jayakatwang yang sangat dibanggakan itu telah mati. Tapi yang sangat mereka herankan lagi adalah sebuah kain yang melintang di punggung haraimau yang sudah mati itu bertuliskan sebuah kalimat pendek : “BINGKISAN KECIL DARI SANG PUTRA MAHKOTA”

Pagi itu, berita tentang kematian harimau peliharaan Raja Jayakatwang sudah sampai juga di taman keputrenan.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-065

“Kertanegara tidak pernah berubah”, berkata Ratu Turuk Bali kepada dirinya sendiri. Sebagai seorang adik, Ratu Turuk Bali paham sekali tentang sikap dan watak kakaknya Kertanegara yang tidak ingin dikalahkan dalam hal apapun. Mungkin akibat dari sikap setiap orang di kelilingnya yang selalu mengagungkan dirinya sebagai seorang putra mahkota sejak kecil.

“Aku berharap Kertanegara tidak berbuat lebih besar lagi”, berkata Ratu Turuk Bali di taman seorang diri. Wajahnya begitu suram, sepertinya begitu penuh kekhawatiran memandang masa depan penuh pertentangan di antara dua orang yang sama-sama dicintai, saudaranya dan suaminya.

Sementara itu orang Raja Jayakatwang tengah menerima seorang kepercayaannya yang datang menghadap. “Kenapa baru hari ini kamu katakan ada tiga orang pemuda asing datang menghadap Ratu Turuk Bali?”, berkata Raja Jayakatwang dengan marahnya.

“Ampun tuanku, setelah ada kejadian matinya harimau peliharaan tuan, aku baru merasa curiga dengan kedatangan mereka”, berkata orang kepercayaannya.

“Cari dan bunuh mereka”, berkata Raja Jayakatwang dengan murkanya.

Di sebuah kedai dekat dengan sebuah pasar yang cukup ramai di Tanah Gelang-gelang tiga orang pemuda tengah merencanakan sebuah perampokan. Yang akan dirampok tidak lain adalah sebuah kiriman seribu senjata pedang yang di pesan langsung oleh Raja Jayakatwang.
“Kabarnya barang dagangan itu akan datang besok siang”, berkata Raden Wijaya.

“Berarti kita harus mencegat mereka di luar kota”, berkata Lawe.

“Aku belum mendengar usulan darimu”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

“Entahlah, aku justru melihat ada sebuah perangkap tengah dipasang untuk kita”, berkata Mahesa Amping sesuai dengan apa yang dirasakan lewat panggraitanya yang tajam

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mahesa Amping memang tengah terjadi. Kehadiran mereka sudah diketahui. Mereka sudah ada dalam jaring mata-mata. Kehadiran dan pembicaraan mereka telah disadap.

Pagi itu di sebuah jalan yang sepi jauh gerbang kota Tanah Gelang-gelang, berjalan dua buah iring-iringan pedati yang dijaga oleh sepuluh orang pengawal barang. Tidak terlihat apa yang dibawa, karena pedati terlihat tertutup rapat. Sebagai pertanda bahwa barang yang dibawa pasti barang berharga.

“Saatnya kita beraksi”, berkata Raden Wijaya sambil memberi tanda.
Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping langsung meloncat ketengah jalan.

“Berhenti!!”, berkata Lawe dengan garangnya berlagak sebagai penyamun sungguhan.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-066

“Apa yang kalian inginkan”, berkata orang yang paling terdekat dengan Lawe tidak kalah garangnya.

“Pergi dan tinggalkan barangmu”, berkata Lawe.

“Jumlah kami lebih banyak dari kalian”, berkata kembali Pengawal barang itu.

“Kalian cuma sepuluh orang pengawal barang, tidak ada artinya”, berkata Lawe masih dengan sikap yang garang seperti penyamun sungguhan.

“Jumlah kami bukan sepuluh”, berkata Pengawal Barang itu. Bersamaan dengan itu keluar dari dalam dua pedati sepuluh orang. Ternyata didalam pedati yang rapat tertutup bersembunyi sepuluh orang prajurit dari Tanah Gelang-gelang.

“Dan kami bukan pengawal barang, tapi para prajurit yang siap menangkap kalian”, berkata orang itu sambil tertawa yang diikuti tawa dari semua prajurit yang ada di situ merasa telah berhasil mengelabui tiga orang pemuda di depannya.

“Kita telah dijebak”, berkata Mahesa Amping kepada Lawe dan Raden Wijaya.

“Kepung dan habisi mereka”, berkata orang itu yang ternyata seorang perwira tinggi.

Maka para prajurit itu pun telah menyebar mengepung. Mereka merasa yakin bahwa sasaran mereka tidak akan dapat melarikan diri. Ternyata mereka salah terka, tiga pemuda yang mereka kepung tidak terlihat gentar sedikit pun.

“Olah raga pagi yang menyenangkan”, berkata Lawe kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Maka ketika prajurit itu bergerak menyerang, merekapun ikut bergerak memencar. Maka terjadilah tiga kerumunan pertempuran yang seru. Gerakan Lawe memang begitu lincah baik saat mengelak dari setiap serangan bahkan ketika menyerang lawannya. Untungnya Lawe memang tidak menggunakan senjatanya. Beberapa prajurit habis babak belur terkena pukulan dan tendangannya. Tapi serangan dan kepungan kepada Lawe masih tidak juga kendor.

Sementara itu beberapa prajurit yang menyerang Raden Wijaya benar-benar dibuat bingung. Dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh pandangan mata biasa, Raden Wijaya seperti menghilang dari kepungan. Dan tiba-tiba saja sudah ada dibelakang salah satu prajurit yang naas langsung kena pukulan dari Raden Wijaya yang tidak menggunakan tenaga cadangannya. Tapi tetap saja prajurit itu langsung roboh merasakan tulang iganya seperti patah.

Tidak seperti Lawe atau Raden Wijaya. Mahesa Amping bertempur seperti orang yang tidak mengenal ilmu kanuragan. Mahesa Amping tanpa senjata bergerak sejadi-jadinya membuat para prajurit yang menyerangnya menjadi penasaran. Tidak satupun serangan senjata pedang mereka mengenai sasaran. Mahesa Amping mengelak sejadinya bahkan menyerang dengan seperti asal-asalan, tapi selalu serangannya itu menimbulkan korban. Seperti tendangan langkah kaki kuda menyepak kebelakang telah mematahkan pergelangan tangan seorang prajurit, pedang ditangannya langsung terlepas. Sementara ketika ia mengelak seperti tersungkur menabrak badan salah seorang prajurit yang langsung roboh sesak napas seperti tertabrak sebuah gunung batu.

 ———-oOo———-

 

SFBdBS-03-067

Bukan main penasarannya ketujuh orang prajurit yang mengeroyok Lawe. Tidak ada satu pun serangan yang dapat menembus dan melukai Lawe yang bergerak begitu lincah dan cepat seperti burung sikatan meliuk di antara sabetan dan ayunan pedang panjang. Setelah sekian lama menyerang, tenaga ketujuh prajurit itu pun semakin menyusut. Sementara Lawe tidak juga terlihat kelelahan sedikit pun. Akhirnya Lawe tidak ingin bermain terus, karena tenaganya akan dapat ikut terkuras, berpikir demikian Lawe telah meningkatkan tataran ilmunya, maka yang terjadi adalah benar-benar menghebohkan,dalam sebuah gebrakan, tiga orang prajurit langsung roboh pingsan.

Melihat tiga orang temannya begitu cepat roboh hanya dalam satu gebrakan, keempat prajurit menjadi bimbang, apakah mereka masih mampu menghadapi Lawe hanya dengan berempat. Ketika mereka masih dalam keadaan bimbang, seorang sudah kembali dirobohkan oleh Lawe hanya dengan sebuah tendangan melingkar langsung menyambar dadanya.

Sementara itu, sebagaimana Lawe. Raden Wijaya juga sudah merasa lama bermain-main. Dengan kecepatan yang sukar diterima oleh pandangan kasat mata. Tiga orang prajurit sudah terlempar merasakan pukulan dan tendangan yang entah dari mana datangnya. Tiga orang prajurit langsung roboh pingsan.

Tidak seperti Lawe dan Raden Wijaya. Mahesa Amping masih tetap melakukan permainannya. Melakukan gerakan semaunya dan seperti asal-asalan. Tapi akibatnya memang luar biasa. Lima Prajurit terlihat berbaring tidak mampu bangkit berdiri karena merasakan badannya remuk, tulangnya seperti patah dan ngilu.

“Apakah kamu masih punya tenaga untuk bermain?”, berkata Mahesa Amping dengan tersenyum kepada seorang prajurit, seorang perwira tinggi yang masih tetap menyerang meski hanya tinggal seorang diri.

“Sebagai prajurit, kematian bukan sebuah hal yang menakutkan”, berkata perwira itu sambil terus mengayunkan pedangnya.

Diam-diam Mahesa Amping mengagumi sikap perwira itu. Begitu setia kepada tugasnya dan tidak takut mati. Seorang prajurit yang berjiwa ksatria. Itulah sebabnya Mahesa Amping tidak begitu bernafsu untuk merobohkannya apalagi melukainya. Mahesa Amping tengah berpikir untuk menaklukkannya dengan cara yang lain.

Dalam sebuah kesempatan, Mahesa Amping melompat beberapa langkah menjauh. “Kisanak. Lihatlah batu besar itu”, berkata Mahesa Amping menunjuk kesebuah batu sebesar kerbau tidak jauh dari mereka berdua berdiri.

Ketika perwira itu melihat ke arah batu yang ditunjuk oleh Mahesa Amping. Maka dengan sebuah sorotan pandangan mata, tidak dengan kekuatan penuh, hanya seperlima dari kekuatannya, batu itu telah pecah berkeping-keping. Perwira itu menatap Mahesa Amping seperti tidak percaya.

“Aku dapat membunuh pasukan segelar papan hanya dengan sekali sapuan pandangan mata”

“Menyerahlah !!”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang berwibawa serta sorat mata yang tajam menakutkan.

Bergetar rasa jantung Perwira itu menatap mata Mahesa Amping. Dalam hati berpikir bahwa ternyata Pemuda dihadapannya adalah seorang yang berilmu tinggi. Tapi tidak menggunakan ilmunya yang sebenarnya. Yakinlah bahwa pemuda dihadapannya orang yang berhati bersih dan telah berusaha lunak menghadapi para prajurit yang berusaha menangkapnya, bahkan membunuhnya sesuai perintah Raja Jayakatwang.

“Terima kasih atas kebaikanmu anak muda, aku menyerah”, berkata Perwira itu sambil menjatuhkan pedangnya.

“Suruh semua kawanmu menyerah”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang masih penuh wibawa karena sedikit dilambari tenaga cadangan yang langsung menggetarkan dada perwira itu.

“Lemparkan senjata kalian, menyerahlah”, berkata perwira itu dengan suara lantang.

Mendengar suara pemimpinnya yang memerintahkan untuk menyerah, tanpa menunggu perintah kedua kalinya, tiga orang prajurit yang masih berhadapan dengan bimbang melawan Lawe langsung melemparkan senjatanya.

Sementara itu empat orang prajurit yang melawan Raden Wijaya yang sedang setengah putus asa menjadi bulan-bulanan pukulan Raden Wijaya seperti orang yang kepanasan mendapatkan datangnya hujan. Mereka langsung melempar senjatanya, gembira ikut menyerah !!!!.

“Katakan pada Rajamu, ini Cuma sekedar peringatan atas peristiwa di Pulau Madhura dan pembakaran galangan di Bandar Cangu. Kami dapat melakukan jauh lebih besar lagi !!”, berkata Raden Wijaya dengan lantang ketika dua pedati yang memuat beberapa prajurit yang terluka mulai bergerak diiringi beberapa prajurit yang lesu berjalan meninggalkan pedang mereka yang masih tergeletak.

Jalan di tengah hutan yang jauh dari gerbang kota itu kembali seperti sunyi. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe telah jauh meninggalkan Tanah Gelang-gelang.

Ternyata apa yang terjadi di jalan ditengah hutan itu tidak lepas dari perhatian tiga pasang mata yang terus mengintai.

“Pemuda itukah yang membunuh kakakku ?”, bertanya seorang yang sudah berumur kepada dua orang pemuda yang menyertainya.

———-oOo———-

 

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 Juni 2011 at 05:33  Comments (418)  

418 Komentar

  1. selamat sore kadang sedoyo

    • kadang sore selamat sedoyo

      • sedoyo kadang selamat sore

        • sore kadang sedoyo selamat

          • selamat sedoyo kadang sore

  2. Sugeng dalu sedoyo kadang,
    Nunggu kehadiran nayogo, sinden dan Ki Dalang.

  3. Sugeng dalu para kadhang sutresna,

    Sugeng lagi disuruh Ki Dhalang mencantholken rontal di kawat jemuran biar cepet kering.

  4. karena malam dingin, maka nggak kering-kering,

  5. Selamat malam Ki Kompor.
    Komputernya sudah sehat apa belum?

    • Selamat pagi Ki MAHESA Kompor.
      pak Dokter KOMPUTER jadi datang apa kagak…!!??

      sabar menunggu…..(pake gaya bang HAJI)

  6. selamat pagi kadang padepokan…..selamat berTUGAS

    semoga SUKSES,

    • selamat pagi ni Sinden padepokan…..selamat berTUGAS

      rutin ning kamtor padepokan,

      • beres…..jangan khawatir

        sudah dislempitken dengan aman.

        eh mangsude sudah diselametin nding…..!!!!

  7. SELAMAT SIANG,
    Puanase pol.

  8. selamat malam

  9. Setia menanti wedarannya Ki Kompor.

  10. sugeng dalu,
    akhirnya komputer sudah bisa pulang dari UGD,sang dokter bilang masalahnya bukan dari virus…tapi dari anti virusnya yang ngambek karena minta di update selalu diabaikan….he-he-he(maklum…pengennya nyari yang gratisan)
    maaf…lagi nyari si ilham yang nyasar……
    1. Raden wijaya ketemu sama Dara petak dan dara jingga di sebuah sayembara cari mantu.
    2. Dara petak dan dara jingga diculik terus diselametin ame R. Wijaya
    atau…ketemu kakeknya raja sunda di palembang ketika nongkrong makan empek-empek ????

    • Istilahnya jaman dulu, ini sopongiler (spoiler).
      hikss……

      • jaman dulu Istilahnya, ini sopongiler (spoiler).
        hikss……hikss

        • pak DALANG bikin sopongiler…..he-heee3x

  11. SUGENG ENJANG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  12. sugeng siang, wis ngiler

  13. Selamat malam,
    bingung juga baca sejarah,mana yang bener…
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga anak Kertanegara
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga adik dari dara kencana istri kertanegara juga saudara kandung dara puspa istri dari Prabu Ragasuci raja Saunggaluh.
    enaknya sih ada bantuan dari Ki banuaaji atau Ki Punakawan LONTOOOOOOOOOOONG………..

    • Lho………..?????
      bukannya gitaris Dara Puspita itu mBak Suzy Nander….???

      Emang ade itu group band Dara Petak atawa Dara Jingga…???
      jangn2 vokalisnya si JuPe ame si DePe nih.

  14. ungak2 seks………..

    • Sugeng rawuh lan sugeng dalu Ki PoniJO.
      Sumangga katuran pinarak sinambi nengga Ki Dhalang medhar carios babad Dara Petak lan Dara Jingga.

  15. sugeng dalu wis ngiler banget

    • Sabar sebentar Ki Bancak,

      Siapa tahu di kisah selanjutnya diceritakan Dara Petak dan Dara Jingga diculik oleh Sinuhun Gembleh Hanyolowadi, gegedhug tlatah lendhut benter, untuk dijadikan istri2nya.
      Belum sempat ijab kabul di depan penghulu, keburu datang pendekar dari Ranah Minang, yang mempunyai ajian Pujakesuma, yang bergelar Ki Hulubalang Bancak merebut kedua Dara tsb. .Walaupun wurung dengan kedua Dara tadi, gegedhug tadi tetap hepi, soalnya ternyata Ni Sinden (yang namanya KP, lho) belum dijemput Ki Menggung. Asyiklah mereka berdua naik gunung.

      • naik gunung-turun gunung….
        masuk hutan keluar hutan….

        menjelajah bukit, lembah2
        sampe….blumbang,
        mandek sik kueseelll ki !!??

  16. Beginilah ceritosnya….

  17. Setelah beristirahat sejenak di kedai, merekapun melihat-lihat keadaan kota Sriwijaya untuk sebagai bahan laporan tugas mereka sebagai petugas delik sandi.

    Menyusuri kota tua Sriwijaya yang ramai memang sangat menyenangkan. Hilir mudik pedati dijalan membawa aneka barang milik para saudagar. Dijalan juga sepertinya sudah terbiasa melihat para orang asing dari berbagai bangsa berlalu lalang. Rumah-rumah besar dengan pilar ukiran kayu jati berpagar dinding batu berderet sepanjang jalan yang tertata rapi.

    Tanah Sriwijaya sudah lama tak bertuan, tapi para warganya sepertinya tidak memperdulikannya. Siapapun penguasanya, yang penting mereka dalam keadaan tetap damai, dalam bertani, berdagang dan kehidupan lainnya.

    Tanah Sriwijaya pada saat ada dalam pengendalian para penguasa dari Tanah Melayu. Tapi siapa yang peduli ??

    Begitulah suasana yang ditangkap oleh Raden Wijaya, Lawe, Mahesa Amping dan Argalanang ketika mereka menyusuri kota tua Sriwijaya.

    Merekapun kembali ke Bandar Sebukit, melihat berbagai barang diangkut naik ke jung besar milik para saudagar dari berbagai bangsa. Merekapun melihat diantara berbagai barang yang keluar masuk lewat Bandar Sebukit yang ramai itu adalah lada hitam. Mereka mendapat keterangan bahwa lada hitam adalah lada yang paling diminati oleh para pedagang asing karena merupakan lada yang terbaik. Lada hitam ini dibawa oleh para pedagang setempat dari pedalaman sungai Kampar. Sebuah tempat yang jauh.

    “Jung bangsawan Sunda”, berkata Argalanang menunjuk sebuah jung yang elok dengan banyak umbul-umbul berwarna kuning bergambar kepala harimau.

    Ternyata Argalanang memang telah banyak mengenal berbagi jenis jung.

    Jung elok itu memang milik bangsawan Sunda. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dihormati di bumi Pasundan yang tidak lain adalah Raja Ragasuci penguasa Saunggalah putra Raja Darmasiksa yang telah mengasingkan dirinya bertapa di Gunung Galunggung sebagai seorang Resi Guru yang sakti.

    Raja Ragasuci sendiri terbilang masih Paman Raden Wijaya dari garis ibunya yang berdarah sunda. Ibunda Raden Wijaya dan Raja Ragasuci sebagai saudara lain ibu. Raja Ragasuci mempunyai seorang ibu berdarah campuran bangsawan Sriwijaya dan Melayu.

    Kehadiran Ragasuci di kota Sriwijaya adalah sebuah kunjungan ketanah leluhur ibundanya. Masih ada pamannya di kota Sriwijaya, kakak kandung dari ibundanya bernama Bagus kemuning, seorang bangsawan yang sangat disegani dan begitu berpengaruh.

    “Ternyata kamu berminat menyunting seorang putri dari Tanah Melayu ?”, bertanya Bagus Kemuning kepada kemenakannya Raja Ragasuci yang datang menemuinya di rumahnya.

    “Begitulah Paman, mudah-mudahan aku dapat memenangkan sayembara itu”, berkata Raja Ragasuci.

  18. Pada saat itu memang di Tanah Melayu akan diadakan sebuah sayembara besar memperebutkan seorang putri Raja Melayu yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

    Namun yang dapat mengikuti hanya dari kalangan yang berdarah bangsawan dari berbagai nagari. Salah satunya adalah Raja Ragasuci sendiri.

    Berita sayembara itu akan dilaksanakan pada hari purnama pekan depan telah didengar pula oleh Raden Wijaya dan kawan-kawannya yang tengah melaksanakan tugas sandi.

    “Besok kita berangkat ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang.

    Demikianlah, pada hari itu mereka mencari rumah penginapan disekitar Bandar Sebukit.

    Malam telah menyelimuti Bandar Sebukit yang telah lelah setelah seharian ditingkahi kesibukan dan kepenatannya. Udara dingin di luar rumah menjadikan jalan-jalan menjadi begitu sepi dan lengang.

    Mahesa Amping belum tidur di kamar penginapannya. Pendengarannya yang tajam telah mendengar pembicaraan di kamar sebelah yang terpisah oleh dinding yang terbuat dari bilik kayu. Sebuah pembicaraan yang begitu menarik perhatiannya.

    “Apa susahnya menghancurkan jung Singasari itu”, berkata sesorang terdengar dari bilik kamar Mahesa Amping yang telah mempertajam pendengarannya.

    “Tapi sampai hari ini mereka masih belum kembali”, berkata suara yang lain.

    “Apa yang akan kita laporkan kepada Tuanku Bagus Kemuning ?”, berkata suara orang yang pertama.

    “Tunggu sampai besok, baru kita dapat menghadap”, berkata suara yang lain.

    “Yang kutakutkan, mereka tidak singgah ke sebukit tapi langsung pulang ke Tanah Melayu”, berkata orang yang pertama.

    “Apa yang kamu takutkan ?”, bertanya suara orang kedua.

    “Kamu ini benar-benar tukul !, berkata orang pertama. “Tuanku Bagus Kemuning telah berpesan bahwa tugas ini jangan sampai didengar Baginda Raja”, berkata orang pertama melanjutkan.

    “Kamu benar, tapi aku bukan tukul”, berkata orang kedua terdengar oleh Mahesa Amping dengan kepekaan pendengarannya yang tajam terdengar membanting badannya ke pembaringan.

    Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi. Yang terdengar adalah lenguh dengkur napas mereka yang saling bersahutan. Dengan pendengarannya yang tajam Mahesa Amping sudah menduga bahwa mereka sudah jauh terlelap tidur.

    Tiba-tiba saja pendengaran Mahesa Amping mendengar suara yang mencurigakan berasal dari atap rumah. Segera Mahesa Amping membangunkan Raden Wijaya yang sekamar dengannya. Ketika dilihatnya Raden Wijaya telah terbangun, Mahesa Amping segera keluar kamar langsung melenting kea tap rumah. Sesosok bayangan masih sempat dilihatnya telah berkelebat menghilang dikegelapan malam.

    Mahesa Amping kembali masuk kekamarnya, mencoba menempelkan telinganya di dinding untuk mendengar apa yang telah terjadi dikamar sebelah.
    Suara dengkur sudah tidak terdengar lagi, bahkan lenguh desah halus napas sekalipun.

    “Apa yang telah terjadi ?”, bertanya Raden Wijaya yang belum dapat mengerti apa yang tengah terjadi.

    Mahesa Amping menjelaskan kepada Raden Wijaya mulai dari apa yang dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan orang disebelah kamar dan terakhir suara mencurigakan diatas atap rumah.

    “Aku merasa orang disebelah sudah tidak bernyawa”, berkata Mahesa Amping yang percaya sekali dengan kepekaan pendengarannya.

    “Kita lihat apa yang terjadi”, berkata Raden Wijaya.
    Mereka berdua telah keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar sebelah.

    Pintu kamar itu ternyata tidak diselarak dari dalam.

    Ketika pintu terbuka, terkejut Mahesa Amping dan Raden Wijaya melihat apa yang ada didepan matanya.

    “Mereka berdua sudah mati”, berkata Mahesa Amping melihat dua orang tergeletak dipembaringannya dalam keadaan tidak bergerak. Seluruh tubuhnya terlihat berwarna hijau.

    “Racun ikan buntal !!”, berkata Raden Wijaya sambil menunjuk dua buah duri kecil menancap di leher kedua orang yang terbaring tak bernyawa itu.

    “Dari mana Raden mengetahui bahwa mereka terkena racun ikan buntal ?”, bertanya Mahesa Amping yang merasa heran Raden Wijaya telah memastikan bahwa kedua orang itu terkena racun ikan buntal yang pernah didengarnya memang mempunyai daya racun yang amat kuat.

    Raden Wijaya mengeluarkan sebuah bubu bambu kecil dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati mengeluarkan sebuah duri kecil dari dalam bubu bambu kecil itu.

    “Sebuah duri yang sama yang telah menghabisi nyawa ibundaku”, berkata Raden Wijaya sambil mencabut sebuah duri yang ada dileher salah satu mayat.

    • pak DALANGe…….KAMSIAaaaaa…….KAMSIAaaaaaa

  19. akhirnya……
    Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeber” wayangnya lagi.
    matur suwun nggih.

    • akhirnya pagi ini,
      Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeberi” wayangnya lagi.
      matur suwun nggih.

      • SUGENG ENJiNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  20. Akhirnya, akhirnya… he..he
    matur nuwun Ki Kompor, mugi-mugi risang komputer mboten kimat malih.

    Sugeng Enjang

  21. akhirnya, ….akhirnya,…… matur nuwun

  22. Lamunan Raden Wijaya melayang jauh kebelakang, disuatu malam menjelang keberangkatannya bersama Mahesa Murti menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta

    “Diujung duri ikan buntal ini nyawa ibundamu berkhir. Bawalah bersamamu, sampai saat ini ayahmu belum dapat mengungkap dibalik kematian ibundamu”, berkata Lembu Tal kepada Raden Wijaya.

    Dimanapun Raden Wijaya berada, bubu bambu kecil itu selalu menyertainya.

    “Hari ini pintu rahasia lorong teka-teki keluargaku mulai terkuak, aku akan terus menyusurinya”, berkata Raden Wijaya sambil memasukkan kembali duri ikan buntalnya.

    Mahesa Amping yang pernah diceritakan mengenai hal itu oleh Raden Wijaya memahami apa yang dirasakan Raden Wijaya saat itu.

    “Hanya mereka yang telah mempunyai kemampuan tinggi yang dapat melempar duri kecil itu tepat menembus sasaran”, berkata Mahesa Amping.
    Akhirnya mereka segera menyelinap keluar dari kamar naas itu kembali kekamarnya.

    Dan sang waktu perlahan terus menyusut perjalanan malam. Membungkus rahasia kegelapan sampai akhirnya datang sang pagi yang bening berwajah lugu menangkap kehangatan matahari yang bersinar diujung tepi cakrawala.

    Diawali suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan.

    Bandar Sebukit telah terbangun kembali dalam kehiruk pikukan pagi diantara coloteh para buruh angkut barang yang mengais rejeki mengangkat barang diatas bahunya satu persatu.

    Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah memasuki sebuah kedai yang sudah buka dipagi itu menjual makanan dan minuman hangat untuk sarapan pagi.

    Ketika mereka masuk, sudah ada beberapa orang pengunjung. Merekapun mencari tempat yang kosong.

    Dengan perlahan, agar tidak didengar orang lain, Raden Wijaya menceritakan kejadian semalam kepada Lawe dan Argalanang termasuk teka-teki rahasia keluarganya.

    “Apakah ayahmu pernah bercerita tentang orang yang bernama Bagus Kemuning ?”, bertanya Lawe kepada raden Wijaya.

    “Belum”, berkata Raden Wijaya datar sambil menggelengkan kepalanya.

    “Kita harus mencari tahu banyak hal tentang orang itu”, berkata Argalanang

    Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk menunda keberangkatan mereka dipagi itu. Mereka sepakat untuk menyelidiki siapa sebenarnya pemilik nama Bagus Kemuning itu.

  23. Akhirnya, dengan hati-hati mereka bertanya dengan orang-orang disekitar Bandar Sebukit dan kota Sriwijaya. Ternyata mereka mendapatkannya dengan mudah. Hampir semua orang di kota Sriwijaya itu mengenal Bagus Kemuning sebagai orang yang sangat disegani dan berpengaruh di bumi Sriwijaya.

    Matahari sudah naik kepuncaknya. Seorang tukang buah duku terlihat tengah berteduh dibawah sebuah pohon ambon yang rindang didepan pagar rumah Bagus Kemuning.

    “Rancak nian rejekimu wahai tukang buah”, berkata seorang yang berpakaian sederhana keluar dari regol rumah Bagus Kemuning menghampiri tukang buah yang tengah berteduh. Nampaknya seorang pelayan di rumah itu.

    “Seharian ini belum ada kutemui seorangpun pembeli, apanya yang rancak”, berkata tukang buah itu yang ternyata Argalanang yang tengah menyamar.
    “Buahmu kubeli semuanya”, berkata orang itu.

    “Apakah aku tidak salah dengar ?, biasanya orang membeli segantal dua gantal”, berkata Argalanang.

    “Tuanku telah kedatangan banyak tamu, tolong antar sekalian kedalam”, berkata orang itu.

    Argalanang berjalan mengikuti pelayan itu masuk kerumah Bagus Kemuning. Diatas pendapa dilihat banyak orang tengah berbincang-bincang. Dari pakaiannya, Argalanang dapat mencirikan setiap orang yang ada di atas pendapa itu. Seorang berpakaian adat Melayu pastilah tuan rumah yang bernama Bagus Kemuning. Sementara yang lainnya berpakaian sebagaimana para pembesar dari Tanah Sunda. “Ternyata orang-orang dari Tanah Pasundan yang bertamu”, berkata Argalanang dalam hati setelah sekilas menyapu dengan pandangannya orang-orang yang ada di atas pendapa.

    “Tamu tuanmu orang-orang pasundan?”, Argalanang berkata sambil menuang dukunya ke bakul yang disediakan sebagai tempat buah dukunya.

    “Bukan orang Pasundan sembarangan, tapi Raja dari Tanah Sunda”, berkata pelayan itu sepertinya membanggakan dirinya telah kedatangan tamu seorang raja meski sebenarnya bukan tamunya, tapi tamu tuannya.

    “Seorang Raja dari Tanah Sunda ?”, berkata Argalanang merasa gembira menemukan warta baru. Tapi dihadapan pelayan itu Argalanang pura-pura terkejut.

    “Yang benar Raja Saunggalah yang terkenal bernama Raja Ragasuci”, berkata pelayan itu yang masih membanggakan dirinya.

    “Apakah tuanmu itu masih kerabat dengan Raja Ragasuci”?, bertanya kembali Argalanang

    “Raja itu masih kemenakan tuanku”, berkata pelayan itu

    “Betapa membanggakannya dapat langsung melayani seorang Raja”, berkata Argalanang mengompori pelayan itu yang ia tahu tengah merasa bangga.

    “Hari ini harusnya kamu juga berbangga hati, buahmu dinikmati langsung oleh seorang raja”, berkata pelayan itu.

    “Betul-betul-betul, dirumah aku akan bercerita kepada ninik mamakku, bahwa buah duku kebunku dinikmati oleh seorang raja”, berkata Argalanang.

    “Laris manis tanjung kimpul. Dagangan habis rejeki kumpul”, berkata Argalanang ketika menerima pembayaran dari pelayan itu.

    Terlihat Argalanang dengan langkah gembira layaknya seorang pedagang tulen yang tengah mujur besar berjalan keluar dari regol pintu rumah Bagus Kemuning.

  24. laris manis tanjung kimpullllll

    • Dagangan habis rejeki kumpul
      hiks….
      matur suwun.

  25. Ikutan matur nuwun ach.
    Biasanya jam wayah gini Ki Dalang sok mulai (ngawali) suluk lagi.
    Monggo Ki Dalang mboten sah pekewet. ( e kok kuwalik).

  26. Laris manis tanjung kimpul.
    Dagangan habis rejeki kumpul
    ………..(masih nunggu )………..
    matur nuwun

  27. Laris manis tanjung kimpul,
    Ni Sinden sing manis disrobot Ki GundUL.

    Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
    Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!

    • Laris manis tanjung pinang,
      Ni Sinden manis bikin terkenang-kenang,

      Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
      Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!!!!!!

  28. SUGENG ENDaNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  29. SUGENG ENJAG.
    siap-siap nggotong kotak wayang, diulihake disik, mengko sore dipasang maneh.

    • tilik padepokan…..SELAMAT SORE

      mbantu ngotong kotak wayang, mumpung ni Sinden diJEMput
      ki Gembleh,

  30. selamat sore semuanya

  31. hup….
    Selamat malem, baru pulang nyari si Ilham masih belon dateng…………

  32. ilham yahyanya sudah pensiun, mugkin ilham mahil yang masih ada, selamat malam Ki

  33. Sim salabim jadi apa….plok….plok….plok……
    eh….ternyata si ilham nyamperin Ki Dhalang…..
    tariiiiiiiiiiikkkkkkk …….maaaaaaaaaang……..!!!!!

  34. Senja telah turun menaungi Bandar Sebukit. Cahaya matahari yang bening dan sejuk terbawa arus air sungai Musi yang beriak ditiup angin segar.
    Terlihat empat orang pemuda duduk diatas dermaga yang sepi.

    “Racun ikan Buntal, Bagus Kemuning dan Ragasuci mempunyai benang ikatan yang tidak dapat dipisahkan dengan kematian ibunda Raden”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    “tapi benang itu masih jauh untuk diurai”, berkata Raden Wijaya
    “Sebaik-baik menyembunyikan bangkai, pasti tercium juga”, berkata Lawe membesarkan harapan Raden Wijaya.

    “Seandainya aku dapat mengejar orang diatas atap rumah penginapan itu, rahasia ini tentunya sudah dapat terkuak”, berkata Mahesa Amping yang menyesali dirinya yang tidak langsung menangkap orang yang telah membunuh kedua orang dikamar penginapan.

    “Siapapun pemilik racun ikan Buntal, adalah kunci teka-teki keluargaku”, berkata Raden Wijaya lirih sepertinya bicara kepada dirinya sendiri.

    “Apakah Bagus Kemuning dapat bertanggung jawab atas kematian dua orang kepercayaannya ?”, berkata Argalanang.

    “Kita belum mendapatkan bukti yang kuat”, berkata Mahesa Amping

    “Kita harus membayangi terus Bagus Kemuning”, berkata Lawe

    “Besok mereka akan ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang. “Kapan kita berangkat ke Tanah Melayu ?”, bertanya Argalanang meminta pendapat.

    “Kupikir sebaiknya kita juga berangkat besok”, berkata Raden Wijaya memastikan.

    Akhirnya disepakati berangkat ke Tanah Melayu keesokan harinya.

    • syukurlah…, si Ilham sudah diketemukan

      • syukurlah…, si Ilham sudah kembali PULANG

  35. Alhamdulillah sudah ketemu si Arga Lanang.
    Selamat week end ki Kompor

    • selamat berLIBUR pak DALANGe,

  36. KAMSIAaaa…..KAMSIAaaa…..KAMSIAaaaaaaaaaaaa,

    sugeng “MEGENGAN” kadang padepokan ki MAHESA

  37. Kamsia dulu lah. Sudah lama tidak nengok padepokan ternyata banyak yang sudah ketinggalan. makasih Ki Kompor

  38. Pagi itu kabut masih membujur seperti kapas-kapas di sepanjang sungai Musi. Sebuah jung terlihat bergerak menjauhi dermaga dalam keremangan kabut pagi.

    “Pagi berkabut, sebuah tanda hari akan cerah”, berkata Argalanang diatas jung yang telah semakin menjauh dari Bandar Sebukit.

    Dan seiring berjalannya waktu, mereka telah tiba di Muara Musi.

    “Pasar terapung sudah sepi”, berkata Lawe ketika mereka melewati sebuah pasar terapung yang sudah tidak begitu ramai karena matahari pagi sudah semakin menaik keatas cakrawala.

    “Tapi kedai terapungnya masih ada”, berkata Argalanang sambil mengayuh jung nya mendekati sebuah jukung yang menjual makanan dan minuman.

    “Nasi kapaunya masih ada Pacik ?”, berkata Argalanang kepada seorang pemilik kedai terapung ketika jung mereka sudah merapat.

    “Hari ini pengunjung tidak begitu ramai, nasi kapauku masih tersisa banyak”, berkata pemilik kedai terapung itu.

    “Kami pesan empat nasi kapau lengkap dengan kakap bumbu asem belimbing”, berkata Argalanang.
    Dengan sigap pemilik kedai itu membungkus pesanan nasi kapau lengkap dan langsung menggantungkannya diujung galar bambu.

    “Terima pesanannya anak muda”, berkata pemilik kedai terapung itu sambil menyodorkan galar bambu tempat menggantung empat bungkus nasi kapau dari atas jukungnya.

    Dengan lahap mereka menikmati hidangan diatas jung dibawah cahaya matahari pagi yang hangat.

    Setelah beristirahat sejenak merekapun melanjutkan perjalannya menuju tanah Melayu.

    Jung mereka telah keluar dari Sungai Musi masuk dalam perairan laut selat Malaka dibawah sinar matahari yang hangat.

    Awan putih dilangit biru yang cerah mengiringi jung mereka terbawa angin yang kadang bergoyong terguncang dihempas ombak.

    Ketika matahari mulai merangkak dibawah cakrawala, jung mereka sudah mulai mendekati Tanah Melayu ditandai dengan warna air yang mulai menghijau sebagai tanda sebuah muara akan mereka temui.

    “Kita memasuki perairan Batanghari”, berkata Argalanang seperti sudah begitu kenal setiap dataran pulau perak ini.

    • masih punya hutang 2 rontal….
      hiks…

  39. Terus kapan mau mbayar utangnya Ki Dalang, he…he.
    Ini namanya penonton yang nglonjak.
    Sugeng dalu Ki

  40. Alhamdulillah isish anget, matur nuwun Ki.

  41. Bandar Melayu adalah pintu kedua selain Bandar Sebukit untuk barang perdagangan antar bangsa. Disinilah beberapa pedagang asing membawa berbagai hasil hutan dan rempah-rempah. Para pedagang asing tidak perlu lagi berlayar jauh sampai nusa jawa atau tanah Maluku karena sudah diambil alih oleh para pedagang Melayu. Hal ini sudah berlangsung lama sejak masa emas kerajaan Sriwijaya.

    Itulah sebabnya, kehadiran Jung Singasari merupakan sebuah saingan yang besar yang akan memutus rantai perdagangan mereka.

    Tapi pemikiran para saudagar Melayu yang sebagian besar adalah para bengsawan Tanah Melayu ini tidak sejalan dengan Rajanya yang berprinsip kepada kebebasan dan kedamaian umat.

    “Persaingan itu tumbuh sebagai tantangan agar kita dapat berbuat lebih arif lagi”, berkata Baginda Raja kepada beberapa bangsawan yang ingin mempengaruhinya untuk memerangi Singasari.

    Itulah sebabnya para bangsawan telah mengambil jalan sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Bagus Kemuning yang diam-diam memerintahkan para prajurit Melayu menyergap Jung Singasari di Selat Sunda beberapa hari yang lalu.

    Kehadiran Raja Ragasuci yang akan mengikuti sayembara memperebutkan salah seorang putri Raja, telah membangkitkan semangat Bagus Kemuning.

    “Ragasuci harus memenangkan sayembara ini”, berkata Bagus Kemuning dalam hatinya berharap bahwa kelak lewat Ragasuci pandangan Baginda Raja dapat berubah.

    Sementara itu di Bandar Melayu beberapa petugas sandi Singasari telah merapatkan jung nya di dermaga. Hari itu sebuah lembaran baru dari sejarah besarpun telah mulai dipagelarkan.

    “Aku baru mengerti mengapa para pedagang Melayu tidak menyukai kehadiran Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya ketika menginjakkan kaki pertamanya di Tanah Melayu. Melihat beberapa jung asing merapat di Bandar Melayu.

    “Akupun baru menangkap pemikiran Sri Maharaja Singasari tentang sebuah kerajaan laut”, berkata Mahesa Amping.

    “Sebuah pemikiran yang baru”, berkata Lawe.

    “Raja di darat dan Raja di lautan, itulah raja sejati”, berkata Raden Wijaya

    “Kita telah memulainya dihari ini”, berkata Mahesa Amping.

    “Aku tidak paham perkataan kalian, yang kupahami bahwa perutku sudah berteriak kriuk-kriuk”, berkata Argalanang yang disambut tawa oleh semua kawannya.

    “Ternyata yang ada di pikiran orang Pantai pasir seputih tidak jauh dari perut”, berkata Lawe yang disambut tawa lebih keras lagi.

    “Justru dari perutlah keluar hal-hal besar”, berkata Argalanang tidak menerima dikatakan hanya paham sekitar perut.

    “Kamu benar, dari perut sering keluar hal-hal besar terutama lewat jalan belakang”, berkata Lawe yang disambut kembali dengan tawa.

    “Mari kita cari kedai yang terbaik di Bandar Melayu ini”, berkata Raden Wijaya yang berusaha menengahi terutama melihat wajah Argalanang yang nampak bersungut-sungut cemberut.

    • pagelaran sejarah besar telah dimulai………….

      • Kaaaaammmmmmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!!!

        langsung nyrobot.

  42. pagelaran ibadah akan segera bertambah , mak nyuuuus

  43. Sugeng Enjang,
    Matur nuwun Ki Dalang

  44. Sebagaimana Bandar besar lainnya, Bandar Melayu adalah sebuah persinggahan para pedagang dari berbagai suku bangsa yang sepertinya tidak pernah sepi sepanjang hari, di siang hari maupun di malam hari.

    Kerlap-kerlip lampu terlihat di perkampungan yang tumbuh ramai disepanjang Bandar serta cahaya oncor yang diletakkan disetiap persimpangan jalan menandai kehidupan malam di Bandar Melayu yang sepertinya tidak pernah tidur.

    Beberapa buruh nampak masih sibuk mengangkut barang memuat sebuah Jung besar milik pedagang dari Gujarat, mungkin besok pagi akan berangkat berlayar.
    Sebuah kedai yang juga menyediakan jasa penginapan masih terlihat ramai. Disitulah empat pemuda petugas sandi dari Singasari beristirahat setelah menempuh perjalanannya.

    “Siapapun yang akan memndukung majikanku, tidak usah membayar apapun di kedai ini”, berkata seorang yang berwajah hitam legam sambil berdiri. Didekatnya terlihat seorang pemuda yang duduk tenang seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang kepercayaannya.

    Seketika itu juga hampir semua yang ada di kedai itu mengangkat tangannya sebagai arti ikut mendukung, kecuali empat pemuda yang baru datang menunggu pesanannya.

    Melihat hanya empat pemuda itu saja yang tidak mengangkat tangannya, orang berwajah hitam legam itu menghampiri keempat pemuda itu.

    “Kenapa kalian tidak mengangkat tangan he ?”, berkata orang itu sambil bertolak pinggang.Tercium aroma arak dari mulutnya. Ternyata orang ini telah banyak menenggak arak dan menjadi mabuk berat.

    “Kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe mewakili kawan-kawannya.
    “kalian harus mendukung !!”, orang itu berteriak keras.

    “Kami belum mengenal majikanmu, bagaimana kami harus mendukung ?, berkata Lawe yang sudah terlihat tidak sabaran.

    “Ternyata kalian orang baru disini. Pasang telinga kalian, majikannku adalah putra Datuk Belang yang dihormati dari Sungai Kampar”, berkata orang itu.
    “Siapapun majikanmu, kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe yang sudah semakin panas hatinya.

    “Bila kalian tidak mendukung, artinya kalian telah meremehkan majikanku”, berkata orang itu sambil membelalakkan biji matanya begitu menyeramkan.

    “Bila kami tidak mendukung kamu mau apa he ?”, berkata Lawe sambil berdiri tidak gentar.
    “Kamu memang perlu diberi pelajaran”, berkata orang itu sambil melayangkan sebuah tamparan kearah wajah Lawe.

    Ternyata orang itu belum mengenal Lawe. Dikiranya Lawe hanya seorang anak kemarin sore yang dapat digertak hanya dengan sebuah tamparan.
    Lawe tidak segera bergerak, menunggu sampai tamparan itu meluncur mendekatinya. Maka ketika telapak tangan itu sudah hampir mengenai wajahnya, dengan titis Lawe memiringkan sedikit kepalanya. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu terhuyung kesamping menabrak tiang utama bangunan.

    Brakk !!

    Untungnya kayu itu terbuat dari bahan kayu besi yang kokoh. Akibatnya justru kepala orang itu yang seperti pening terhantam tiang kayu itu.
    Terkesima semua orang dikedai itu melihat hanya dalam satu gerakan ringan orang itu sudah terlempar terpelanting menabrak tiang kayu.

    “Bangkitlah bila kamu masih mampu berdiri. Dan pasang telingamu lebar-lebar. Aku putra Raja Belang yang terkenal dan paling ditakuti dari Pulau Madhura.
    Lawe rupanya hanya ingin mengambul dengan mengatakan dirinya putra Raja Belang dari Pulau Madhura. Lawe sendiri tidak mengerti bahwa “Belang” di Tanah Melayu diartikan sebagai Harimau.

    “Maafkan anak buahku yang terlalu banyak minum arak”, berkata seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri didekat Lawe.

    Terkesiap sejenak Lawe memandang mata anak muda yang begitu tajam. Juga raut wajah dari pemuda itu memang terlihat asing tidak seperti wajah orang pada umumnya yang punya lekukan diantara hidung dan bibir atas. Sementara anak muda ini sepertinya tidak punya “anakan” dibawah hidungnya.

    Anak muda itu ternyata dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Lawe, maka dengan tersenyum ramah anak muda itu menjura memberi hormat.

    “Terima kasih telah memberi sedikit pelajaran kepada anak buahku “, berkata anak muda itu yang terus melangkah mendekati anak buahnya yang masih duduk bersandar tiang kayu.

    • Selamat liburan kadang sedoyo….
      hiks….

  45. Selamat liburan ugi Ki Dalang.
    Monggo disekecakaken, liburanipun, taksih katah waosan dados mboten sisah ngoyo. Menjelang Ramadhan kagem tadarusan.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: