SFBDBS-03

Bagian 2.

SFBdBS-03-068

Jalur perdagangan antara Tanah Gelang-gelang ke Kediri memang sudah ramai. Beberapa padukuhan di jalur perdagangan itu sepertinya ikut tumbuh berkembang. Mahesa Amping, Raden Wijaya telah singgah di sebuah pasar kademangan Kedungjati. Tampaknya pasar itu tempat persinggahan beberapa saudagar.

“Berikan kami hidangan terbaik di kedai ini”, berkata Lawe kepada seorang pelayan pria di sebuah kedai yang cukup ramai.

“Pelayan!!”, berkata sambil menghampiri kepada pelayan itu seorang pria yang sudah cukup berumur namun masih nampak kekar.

“Berikan tuan muda ini makanan yang terbaik di kedai ini, besok pagi mereka sudah tidak lagi dapat menikmatinya”, berkata pria itu kepada seorang pelayan sambil melirik kepada Mahesa Amping.

“Kenapa Kisanak begitu mudah menentukan umur kami?”, berkata Mahesa Amping yang merasa bahwa pria asing ini sengaja akan membuat sebuah ulah.

“Karena kamu berutang nyawa guru kami”, berkata seorang pemuda yang datang bersama saudaranya yang terlihat mirip, ternyata dua pemuda yang berjuluk sepasang iblis dari Gelang-gelang.
“Pamanku akan membuat perhitungan denganmu”, Berkata Prastawa dengan mata penuh kebencian.

“Nanti malam, saat bulan purnama, kutunggu kamu di puncak bukit Jati”, berkata pria itu yang mengaku adik dari Empu Gelian yang pernah dikalahkan dan terbunuh oleh Mahesa Amping di Pulau Madhura.
Sepasang iblis dari Gelang-gelang dan pamannya telah meninggalkan kedai.

Kepada seorang pelayan, Mahesa Amping bertanya tentang arah menuju puncak bukit Jati. Maka ditunjukkannya oleh pelayan itu arah menuju puncak bukit Jati.

“Di puncak bukit Jati ada lingga persembahan Dewa Syiwa, apakah tuan akan melakukan persembahan kesana?”, bertanya pelayan itu menanyakan maksud tujuan Mahesa Amping menanyakan tempat itu.

“Benar, kami akan melakukan persembahan ke tempat itu”, berkata Mahesa Amping agar tidak ada pertanyaan lain lagi.

Setelah menyelesaikan hidangan yang telah disediakan, Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya terlihat keluar dari kedai itu.
Puncak Bukit Jati memang tidak begitu jauh dari kedemangan Kedung jati yang terletak dibawah kaki bukit Jati. Sebuah Kademangan yang cukup subur dan menjadi sebuah tempat persinggahan yang ramai karena merupakan pertengahan jarak antara Kediri dn tanah Gelang-gelang.

Hari masih begitu terang dan senja masih lama untuk dinantikan. Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya tidak langsung ke Puncak Bukit Jati. Mereka masih melihat-lihat keadaan pasar yang masih ramai.

Di pojok pasar ada sebuah rumah pandai besi yang tengah sibuk mengerjakan beberapa pesanan senjata.

“Pasti pesanan dari Tanah Gelang-gelang”, berkata Lawe ketika melihat seorang pande besi tengah menempa lempengan besi.

“Tanah gelang-gelang tengah membangun sebuah pasukan yang kuat”, berkata Raden Wijaya.

Mahesa Amping nampak merenung, terbayang beberapa pertempuran yang telah terjadi sejak ia berada di Padepokan Bajra Seta. Terbayang mayat-mayat yang tergeletak, beberapa tubuh yang terluka.

Tiba-tiba terlintas sebuah pertempuran besar dalam bayangan Mahesa Amping. Sebuah pertempuran besar yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Nampak begitu jelas seorang panglima perang yang gagah perkasa yang ia sangat kenal sekali yang tidak lain adalah Raden Wijaya. Sementara seorang panglima pengapitnya adalah seorang pemuda dengan wajah begitu pucat yang terlihat gemetar memegang pedangnya sendiri.

“Siapakah pemuda itu?”, bertanya Mahesa Amping pada dirinya sendiri.

Mahesa Amping tersentak kaget ketika bahunya ditepuk oleh sesorang. “Hari sudah hampir senja, saatnya kita berangkat ke Puncak Bukit Jati”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping sambil menepuk bahunya.

Maka Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya terlihat tengah mendaki Bukit Jati. Ketika mereka tiba di puncak bukit Jati, matahari sudah tenggelam di barat. Cahaya senja telah menyelimuti puncak Bukit Jati yang datar penuh di tumbuhi ilalang panjang. Sebuah lingga terlihat ditengah tanah datar. Ada altar batu tempat persembahan didepan batu lingga. Angin berhembus keras di atas puncak bukit jati merebahkan batang ilalang, menerbangkan daun-daun kering.

“Kita beristirahat di sini”, berkata Lawe sambil bersandar di batang pohon ambon yang rindang. Satu-satunya pohon yang tumbuh di tanah puncak bukit Jati.

“Semoga mereka tidak membawa banyak orang”, berkata Mahesa Amping

“Apa yang kamu takutkan ?”, bertanya Lawe.

“Yang kutakutkan adalah akan banyak jatuh korban”, berkata Mahesa Amping.

Dan waktu terus berlalu.

Sambil beristirahat Mahesa Amping masih dipenuhi rasa kebimbangan.”Pria itu menuntut hutang nyawa padaku. Dan pertempuran ini bukan yang terakhir, di belakang menunggu tuntutan yang sama, dari mereka yang masih merasa punya kewajiban atas sebuah hutang nyawa”.

Dan waktu terus berlalu.

 Suara angin mulai sedikit menyusut bersama datangnya keremangan malam.Bulan bulat muncul di ujung timur bersama cahaya redup bintang-bintang kecil. Purnama di puncak bukit jati begitu sepi dan mencekam dalam kesenyapan malam.

Terdengar suara anjing melolong panjang dari bawah lereng bukit sepertinya ikut menambah suasana semakin mencekam.

Dan waktu terus berlalu.

Bulan bulat penuh telah menggantung di puncak langit malam. Cahaya purnama dan kerlip laksaan bintang diatas puncak bukit jati seperti sebuah panggung pagelaran yang kosong dalam debar penungguan yang panjang.

Tiga sosok tubuh terlihat muncul dari lereng bukit sebagai tiga bayangan hitam dibawah cahaya purnama datang mendekati mereka.

Setelah mendekat, terlihat jelas siapakah mereka yang ternyata adalah dua orang iblis dari Gelang-gelang bersama pamannya.

“Kukira kamu akan lari jauh menghindari pertempuran”, berkata pria yang dipanggil paman oleh dua pemuda yang menyertainya.

“Seperti yang kisanak lihat, disini aku menunggu pertempuran itu”, berkata Mahesa Amping penuh percaya diri.

Melihat ketenangan Mahesa Amping, pria yang dipanggil paman oleh sepasang iblis dari gelang-gelang itu menjadi semakin terbakar bara api dendamnya. Sampai saat itu orang itu masih belum yakin bahwa Empu Geilian kakaknya itu kalah karena ilmunya dibawah anak muda ini. Orang itu masih berpikir bahwa Empu Gelian kalah karena kelengahan dan ketidak sengajaan atau boleh dibilang nasibnya lagi naas hingga dapat dikalahkan oleh pemuda belia ini.

“Jangan kau kira setelah dapat mengalahkan kakakku, kamu merasa telah mempunyai ilmu yang mumpuni, jangan-jangan kakakku kalah hanya karena kelicikanmu”, berkata pria itu.

“Aku memang telah membunuh empu Gelian, tapi yang kulakukan adalah sebatas membela diri. Dan bukan sebuah kelicikan”, berkata Mahesa Amping membela diri.

Di Tanah Gelang-gelang tidak ada seorang pun yang berani berurusan dengan pria ini yang biasa di panggil Ki Rante, mungkin karena senjata andalannya berupa sebuah cambuk rantai baja kecil. Meski lebih muda dari Empu Gelian, tapi dari sisi tataran ilmu, Ki Rante tidak dapat dikatakan dibawah Empu Gelian. Karena Ki Rante tidak hanya berguru di Padepokan Gelang-gelang, dalam pengembaraannya telah banyak mengambil ilmu dari beberapa guru.

“Di tanah Gelang-gelang orang memanggilku Ki Rante, tidak seorang pun yang berani berurusan denganku”, berkata Ki Rante berharap pemuda ini pernah mendengar namanya yang sangat disegani di Tanah Gelang-gelang.

“Maaf Ki Rante, baru kali ini aku mendengar nama itu”, berkata jujur Mahesa Amping yang memang baru mengenal nama Ki Rante.

Bukan main gusarnya Ki Rante mendengar ucapan Mahesa Amping yang tidak menjadi gentar mendengar namanya. Perutnya terasa diaduk-aduk saking begitu marah dan gusarnya.

“Hari ini aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu telah berani berurusan denganku”, berkata Ki Rante yang telah mengurai cambuk rantai dari pinggangnya. Sebuah cambuk yang terbuat dari rantai baja kecil yang diujungnya terikat sebuah gelang yang tipis dan tajam.

Melihat Ki rante telah mengeluarkan senjatanya, Mahesa Amping mengeluarkan senjata andalannya, sebuah belati pendek. Jarang sekali Mahesa Amping menggunakan senjatanya, hanya pada keadaan tertentu dan terpaksa.

Dan menghadapi lawannya kali ini Mahesa Amping tidak berani menganggap sepele. Getar jiwanya merasakan bahwa Ki Rante bukan lawan yang ringan.

Melihat Ki rante telah menjurai cambuknya, sepasang iblis dari Gelang-gelang mundur memberi jarak.

Sementara itu Raden Wijaya dan Lawe dengan dada yang berdebar ikut mundur menjauh, namun tetap waspada menjaga setiap kemungkinan yang dapat saja terjadi, terutama berjaga-jaga apabila sepasang iblis dari Gelang-gelang akan berbuat licik.

“Bersiaplah”, berkata Ki rante sambil memutar cambuk rantainya yang semakin lama terlihat menjadi semakin kencang berputar.
Wuss !!

Tiba-tiba saja cambuk Ki Rante melejit menyambar wajah Mahesa Amping. Dengan sigap Mahesa Amping bergeser kesamping. Karena mengenai tempat yang kosong, cambuk Ki Rante di tarik kebelakang sedikit dan seperti ular hidup cambuk itu mengejar mematuk ke arah Mahesa Amping yang baru saja bergerak bergeser kesamping.

Kali ini Mahesa Amping memang tidak sempat lagi menghindar, maka yang dilakukannya adalah menangkis cambuk rantai itu dengan belati pendeknya disertai sedikit tenaga cadangan.

Trang !!

Dua senjata telah berbentur membentuk percikan sinar api.

Kaget sekali Ki Rante merasakan getaran pada tangannya.

“Jangan merasa hebat dulu”, berkata Ki Rante sambil memutar cambuk rantai besinya. Kali ini terlihat lebih cepat dari sebelumnya.

Wuss !!

Kali ini cambuk Ki Rante bergerak menyambar berputar putar ke arah Mahesa Amping dengan kecepatan tinggi.

 ———-oOo———-

 

SFBdBS-03-069

Mahesa Amping langsung melenting.

Tapi cambuk Ki Rante benar-benar nggenggirisi, cambuk itu seperti bermata terus mengejar kemana pun Mahesa Amping menghindar.

Akhirnya Mahesa Amping mengambil keputusan untuk tidak hanya mengelak menghindari serangan, karena akan merugikannya bila dilakukannya terus menerus, apalagi serangan Ki Rante bukan sembarang serangan, sebuah serangan yang cepat dan berubah-ubah arah seperti bermata menyerang pada titik kelemahan lawan.

Pada serangan berikutnya, Mahesa Amping melenting mengelak sebuah serangan dan langsung menyusup mendekati tubuh lawan menyabet pergelangan tangan Ki Rante dengan sabetan yang cepat.

Terkesiap Ki Rante mendapat serangan balik yang begitu cepat.

Dengan cepat menarik tangannya kesamping sambil meluncurkan sebuah tendangan ke arah perut Mahesa Amping, sementara itu cambuknya berbalik arah mengejar punggung Mahesa Amping.

Mendapatkan dua serangan dari arah yang berbeda sekaligus, Mahesa Amping melompat kesamping. Tendangan dan mata cambuk telah mengenai tempat kosong. Tapi Mahesa Amping tidak hanya melompat kesamping. Tangannya yang kuat telah memukul cambuk searah gerakannya.

Akibatnya memang mendebarkan, cambuk itu telah bergerak menjadi lebih cepat dari sebelumnya mengejar si empunya. Bukan main kagetnya Ki Rante melihat cambuknya sendiri meluncur mengejar dirinya.

Tapi bukan Ki Rante yang tidak bisa menghindar dari senjatanya sendiri. Dengan menundukkan kepalanya, cambuk itu melesat diatas kepalanya. Dan dengan menggunakan kecepatan dan kekuatan cambuk yang tengah meluncur, Ki Rante sudah dapat menguasai senjatanya yang langsung berbalik arah mengayun mengejar Mahesa Amping. Demikianlah pertempuran setahap demi setahap terus meningkat menjadi semakin menegangkan dan menjadi semakin seru.

Berdebar  jantung Raden Wijaya melihat pertempuran itu. Berharap Mahesa Amping tetap waspada. Sebagai seorang sahabat yang sering berlatih bersama, Raden Wijaya melihat Mahesa Amping masih terus menjajagi tataran ilmu lawan. Mahesa Amping masih dalam pertengahan tataran ilmunya.

Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, Mahesa Amping masih terus mengimbangi tataran ilmu lawannya, selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya sejalan dengan kecepatan dan kekuatan Ki Rante yang terus meningkatkan tataran ilmunya dengan rasa penuh penasaran bahwa pemuda ini masih dapat menghindari serangannya, bahkan dapat dengan cepat melakukan serangan balik dengan tidak kalah dahsyatnya.

“Rasakan awan panasku”, berkata Ki Rante sambil mengayunkan cambuknya dengan melambari dengan ilmu simpanannya. Kali ini cambuk meluncur bersama angin panas yang datang mendahului.

Terkesiap Mahesa Amping merasakan angin panas membakar tubuhnya, untungnya Mahesa Amping sudah melambari dirinya dengan kekebalan, jadi hawa panas itu hanya sedikit membakar kulit luarnya, tetapi tetap saja Mahesa Amping merasakan sedikit rasa perih. Rasa perih itulah yang memancing naluri bawah sadarnya bergerak dengan sendirinya menghalau kekuatan lawan berupa hawa dingin yang kuat, bukan hanya menawarkan hawa panas yang ada di sekitarnya, tapi hawa dingin itu seperti menghentak membekukan jantung lawannya.

Terkesiap Ki Rante merasakan hawa dingin yang begitu kuat. Tidak ada jalan lain selain menghentakkan tataran ilmunya lebih tinggi.

Cambuk Ki Rante telah berubah seperti bara yang menyala berputar putar mengejar Mahesa Amping. Merasakan bahwa Ki Rante telah menghentakkan tataran ilmunya, sambil menghindar dari serangan lawannya, Mahesa Amping langsung melakukan serangan balik dengan menghentakkan tataran ilmunya selapis lebih tinggi. Berusaha meredam kekuatan lawan.

Kembali Ki rante merasakan tubuhnya diliputi hawa dingin yang mencekat, hampir saja jantungnya ikut berhenti berdetak kalau saja tidak melompat jauh keluar dari arena pertempuran.

Mahesa Amping tidak berusaha mengejar. Masih berdiri dengan sikap yang utuh penuh kepercayaan diri memandang Ki Rante dengan sorot mata yang tajam.

“Wajarlah bila kangmas Gelian dapat dikalahkannya. Kekuatan ilmunya mampu melampaui aji awan panasku”, berkata Ki Rante dengan mata tidak berkedip memandang Mahesa Amping yang masih berdiri di tengah arena menantinya.

“Bukan maksudku merendahkanmu Ki Rante, aku dapat melakukan jauh dari apa yang kau kira”, berkata Mahesa Amping dengan menghentakkan kekuatan yang tersembunyi lewat suaranya.

Bukan main kagetnya Ki Rante, suara Mahesa Amping seperti menggoncang seisi dadanya. Meski ia berusaha meredamnya dengan sepenuh kekuatan yang ada, tapi suara itu tetap saja dapat menyusup. Tanpa sengaja Ki Rante merenggut dadanya dengan kedua tangannya menahan rasa sakit yang menghentak dadanya, cambuknya sudah dilepaskan dari tangannya.

Raden Wijaya dan Lawe yang ada di dekat arena itu pun ikut merasakan getaran suara itu, meski bukan menjadi sasaran arah kekuatan suara itu sendiri. Diam-diam memuji sahabatnya yang bukan hanya dapat melontarkan kekuatan lewat sorot matanya, kali ini telah memperlihatkan ilmunya yang lain lewat suara.

Apa yang dirasakan Raden Wijaya dan Lawe, ternyata dirasakan juga oleh Sepasang iblis dari Gelang-gelang. Wajahnya menjadi pucat. Diam-diam menyadari, selama ini Mahesa Amping telah berusaha lunak menghadapi ulah mereka.

Untungnya Mahesa Amping telah banyak belajar dengan pengalaman bathinnya, telah dapat menguasai pikirannya sendiri sebagaimana pernah terjadi ketika berhadapan dengan Empu Gelian dimana pikirannya telah berbuat diluar kemauannya.

Mahesa Amping telah berjalan menghampiri Ki Rante

“Apakah Ki Rante masih ingin melanjutkan pertempuran ini?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Rante. Kali ini Mahesa Amping tidak melontarkan kekuatan ilmunya lewat suaranya. Mahesa Amping bertanya dengan suara yang sewajarnya.

Ki Rante tidak langsung menjawab, terlihat bersila mengatur pernapasannya berusaha mengembalikan kekuatan dirinya. Ketika dirasakan dadanya sudah tidak menjadi sesak, Ki Rante membuka perlahan kelopak matanya. Menarik napas panjang merasakan udara dingin masuk mengisi rongga dadanya begitu lancar dan menyegarkan.

“Terima kasih telah berlaku lunak padaku, memberi kesempatan hidup kepadaku yang bodoh ini, yang tidak mengenal Gunung Agung di depan mata”, berkata Ki Rante tulus dari hatinya sendiri.

“Ki Rante, aku ingin berterus terang kepadamu. Seandainya datang kepadaku Maha Dewa menawarkan kepadaku sebuah pilihan yang dapat dikabulkan, maka yang kuminta adalah pengulangan dua detik saat Empu Gelian belum terbunuh oleh kekuatanku sendiri. Ki Rante telah kehilangan seorang saudara kandung, sementara seumur hidupku diliputi mimpi penyesalan”, berkata Mahesa Amping sepertinya mengungkapkan segala penderitaan bathin yang selama ini selalu menggayuti jiwanya.

“Maafkan aku anak muda, aku yang tua menjadi malu telah mengikuti rasa keangkuhan diri, mengikuti rasa malu apa kata orang bila aku yang terkenal ini tidak menuntut balas, seharusnya aku berkaca kepada hati yang bersih, agar dapat mengikuti apa kata hati tentang kebenaran yang hakiki. Kangmas Gelian telah dibeli untuk berbuat sebuah keonaran. Bila aku membelanya itu sama artinya membenarkan sebuah keonaran. Tapi aku yang tua ini tidak pernah mau berkaca dan mendengar apa kata hati”.

“Gusti yang Maha Karsa, Gusti yang Maha Hidup telah bersemayam dalam hati dan jiwa yang bersih sebagai Syiwa dan Budha”, berkata Mahesa Amping sambil menjura kepada Ki Rante.

“Kata-katamu adalah kedamaian, berbahagialah siapa pun yang selalu bersamamu”, berkata Ki Rante penuh hormat dan kagum atas sikap Mahesa Amping.

Sementara hari sudah sedikit lagi menyisakan ujung malam yang terpotong, sebentar lagi pagi menjelang. Terlihat Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya telah menuruni Puncak Bukit Jati diiringi pandangan mata dari Ki Rante, Prastawa dan Praskata yang akhirnya menghilang tertelan jalan yang menurun.

Bintang fajar terlihat berseri di ufuk timur mengawali sang surya yang akan datang mengikuti kewajibannya sebagai pemberi kehangatan dan kehidupan di bumi. Memberikan apa yang harus diberikan.

Sangkala telah membangunkan pagi dalam suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan terdengar dari bawah lereng Gunung Jati. Halimun pun pergi berlalu meninggalkan tetes-tetes embun di ujung daun, bunga dan rumput-rumput liar di lereng Gunung Jati seperti butiran-butiran mutiara dalam pantulan sinar matahari pagi.

“Hidup ini ternyata begitu indah”, berkata Mahesa Amping sambil memandang tetes embun pagi yang hampir terjatuh di ujung tangkai kelopak bunga anggrek hitam yang tengah berkembang.

Begitulah bila hati selalu terpaut kepada Yang Maha Hidup, Yang Maha mempunyai Keindahan.

Sementara itu di tempat yang berbeda, warna angkara dendam kesumat masih seperti segores luka basah yang tidak pernah kunjung sembuh. Terus menganga dan bernanah.

“Semua usaha kita meruntuhkan pamor putra mahkota seperti menabrak gunung batu”, berkata seorang kepercayaan Raja Jayakatwang.

“Dan kamu akan juga berkata sebagaimana para Brahmana, para dewa selalu melindungi sang Rajasa serta putra-putranya?”, berkata Raja Jayakatwang dalam kemurkaannya.

“Ampun tuanku, seperti itulah para Brahmana berseloka”, berkata orang kepercayaannya dengan menundukkan kepalanya.

“Buanglah keyakinan itu dikepalamu, akulah sejatinya putra dewata”, berkata Raja Jayakatwang sambil memberi perintah kepada orang kepercayaannya untuk meninggalkannya.

Inilah sebenarnya sumber awal sebuah kekeruhan yang bergema menjadi sebuah dendam kesumat yang tidak mudah dipadamkan dan terus berkobar dalam jiwa Raja Jayakatwang. Hilangnya sebuah singgasana bukan sebuah kehinaan bagi para putra Bangsawan Kediri. Yang mereka rasakan adalah kepahitan atas berpindahnya sabda para Brahmana atas siapa yang berhak disembah sebagai putra darah sejati para Dewata.

“Sabda para Brahmana hanya sebatas seloka, sejati putra Dewata ada didalam hati setiap manusia yang menghambakan diri kepada Gusti Yang Maha Hidup yang bertahta dalam singgasana jiwa dan bersemayam di hati sebagai sang Syiwa Budha”, berkata Ratu Turuk Bali mencoba meluruskan pemahaman suaminya sebagai buah kasihnya untuk mengenal sejati hakikat diri.

Tetapi hati Raja Jayakatwang sudah begitu hitam. Sejak lahir telah disusui oleh para pecundang yang kalah dalam sebuah peperangan. Sejak kecil selalu dibisikkan untuk mengembalikan wahyu suci sabda para Brahmana dalam wujud tahta singgasana tempat bersemayamnya para putra Dewata.

“Tempat bersemayamnya para putra dewata ada pada tahta singgasana di Tanah Kediri, itulah yang akan kubuktikan kepada para kawula di seluruh nagari bumi Singasari”, berkata Raja Jayakatwang yang menganggap kata-kata permaisurinya sebagai penghalangan dan persanggahan yang terselubung untuk meredamkan api cita-citanya.

Begitulah bila hati sudah begitu membatu, tidak ada sisi sedikitpun tempat menerima setetes cahaya sejati kebenaran. Sebagaimana tanah tandus, air hujan tidak pernah singgah, datang dan terus menghilang tanpa tersisa.

Dan Raja Jayakatwang sebagai Putra Mahkota angkaranya , terus mengintai area perburuannya, bersembunyi dibalik arah angin dan belukar. Menunggu………………………

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-070

“Terlalu”, berkata Mahesa Pukat yang disambut gelak tawa dari semua yang ada di Pendapa Benteng Cangu setelah mendengar cerita mereka ketika berada di Tanah Gelang-gelang.

“Itu kan sesuai arahan dari Paman Kebo Arema sang dalang”, berkata Lawe

“Kalian telah melaksanakan tugas dengan baik”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Ada tugas baru menanti kalian”, berkata Mahesa Pukat.
Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe menanti kelanjutan kata-kata Mahesa Pukat.

“Membantu melatih prajurit baru dari pasukan khusus”, berkata Mahesa Pukat melanjutkan kata-katanya.

“Kami bangga dapat berbuat sesuatu apapun bagi lahirnya sebuah kerajaan air”, berkata Raden Wijaya.

“Kangmas Mahesa Murti pasti senang mendengarnya, kalian dibutuhkan disini”, berkata Mahesa Pukat.

Setelah beberapa hari di Benteng Cangu, menyaksikan awal pembuatan Benteng baru, Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya mohon ijin untuk kembali ke Padepokan Bajra Seta dan berjanji akan segera datang kembali.

Demikianlah, di Bandar Cangu telah terjadi kesibukan baru. Disamping pembuatan Jung besar yang sudah terlihat mendekati proses akhir. Bersebelahan dengan galangan telah dibangun sebuah benteng baru sebagai pusat pembinaan lahirnya para pasukan khusus yang akan menjadi prajurit pengawal jung besar.

Hari demi hari, siapapun yang berlayar di jalur sungai Brantas yang melewati Bandar Cangu akan melihat sebuah kesibukan yang luar biasa. Melihat jung besar berdiri di atas galangan bersama para suku air yang tengah bekerja. Sementara disisi lain sebuah benteng baru yang besar telah mulai berdiri. Jung besar dan Benteng baru meski belum sempurna terbentuk, tapi sudah terlihat seperti dua raksasa yang berdiri di pinggir sungai Brantas.

“Sebentar lagi, impian Sri Maharaja tentang kerajaan air akan terwujud”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Kertanegara pada suatu malam di Pendapa Benteng Cangu.

“Aku pun sudah tidak sabar berdiri diatas jung besar itu mengarungi lautan”, berkata Kertanegara

“Semoga tidak ada lagi yang datang menggangu”, berkata Mahesa Pukat.

“Kupikir, setelah apa yang dilakukan oleh Raden Wijaya bersama Lawe dan Mahesa Amping, mereka tentu sudah menjadi agak jera”, berkata Kertanegara.

“Apa pendapat Pangeran mengenai singgasana yang kosong di Kediri?”, bertanya Mahesa Pukat ingin tahu pandangan Kertanegara mengenai Kediri.

“Jayakatwang melihat Kediri sebagai pintu gerbang, jadi bukan tujuan akhirnya”, berkata Kertanegara memberikan pandangannya.

“Artinya, bara yang akan berkobar di Tanah Gelang-gelang akan menjadi padam dengan sendirinya bila Kediri ada dalam genggaman tangan kita”, berkata Kebo Arema ikut memberikan pandangannya.

“Mudah-mudahan Sri Maharaja sudah dapat membaca perkembangan terakhir di Tanah Gelang-gelang”, berkata Mahesa Pukat.

“Secepatnya, Ayahanda harus sudah menyadarinya sebelum terlambat”, berkata Kertanegara

“Kalau begitu, besok kita ke Kutaraja, disamping melaporkan perkembangan pembangunan Jung, kita juga akan menyampaikan beberapa hal mengenai Tanah Gelang-gelang”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Demikianlah keesokan harinya Kebo Arema dan Kertanegara telah berangkat ke Kutaraja.

“Kutitipkan sementara pembangunan di Bandar Cangu ini, dua tiga hari”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat ketika meninggalkan Benteng Cangu.

Siang itu telah menandai harinya dengan cuaca yang cerah. Jalan sepanjang jalur antara Bandar Cangu dan Kutaraja sudah ramai dilalui pedati para saudagar. Beberapa Padukuhan dan pasar kecil di sepanjang jalan tumbuh seperti jamur di musim hujan, muncul meramaikan suasana sepanjang perjalanan sebagai tempat persinggahan.

“Sebuah perjalanan yang menyenangkan”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema ketika baru saja keluar dari persinggahan di sebuah kedai di tengah perjalanannya.

“Semoga apa yang kita lihat dan kita rasakan, juga menyelimuti seluruh bumi Singasari”, berkata Kebo Arema.

“Sayangnya masih ada orang yang tidak menyukai bumi Singasari dalam kedamaian”, berkata Kertanegara.

“Masih ingat pesan Empu Dangka tentang Putra Mahkota Raja Angkara?”, bertanya Kebo Arema sambil memandang jauh ke depan, dibiarkannya kudanya berjalan sendiri.

“Kecil menjadi teman, besar menjadi musuh”, berkata Kertanegara mengingat kembali perkataan gurunya Empu Dangka mengenai hakikat nafsu yang ada didalam diri yang digambarkan sebagai Sang Putra Mahkota Raja Angkara.

“Alam alit adalah cermin untuk melihat alam besar dijagat raya, dan kita dilahirkan sebagai Ksatria dititipkan menjaganya dalam damai”, berkata Kebo Arema sambil memandang matahari yang sudah bergeser jatuh ke barat.

“Matahari telah semakin ke barat”, berkata Kebo Arema sambil sedikit menepuk kudanya agar berjalan sedikit lebih cepat lagi.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-071

Dan sedikit lebih cepat mereka tiba di Kutaraja di saat senja menatap bumi dalam warna abu-abu bening. Sebening tatapan Padmita sang kekasih menyambut kedatangan Pangeran pujaan hatinya.

“Sri Maharaja meminta aku mengunjunginya”, berkata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara mohon diri menemui Sri Maharaja.

“Jangan tidur di Gardu ronda”, berkata Pangeran Kertanegara mengingatkan kebiasaan Kebo Arema menyisakan malamnya bersama para pengawal istana di gardu ronda.

Terlihat Kebo Arema diantar seorang pengawal raja menyusuri lorong taman menuju bangsal istana.

“Kapan paman tiba?”, bertanya seorang prajurit pengawal istana yang berpapasan.

“Di saat senja, nanti aku mampir di gardumu”, berkata Kebo Arema yang mengenal prajurit pengawal istana itu.

Akhirnya Kebo Arema telah tiba di bangsal istana dimana Sri Maharaja telah menunggunya.

“Selamat datang sahabatku raja lautan”, berkata Sri Maharaja menyambut kedatangan sahabatnya Kebo Arema.

“Semoga kesejahteraan selalu meliputi sahabatku penguasa bumi”, berkata Kebo Arema penuh persahabatan.

Setelah menyampaikan berita tentang keselamatan masing-masing, banyak hal yang ditanyakan Sri Maharaja terutama mengenai pembangunan Jung besar di tepian sungai Brantas. Dan ternyata Sri Maharaja banyak mengetahui dari para petugas sandinya semua kejadian di Bandar Cangu, termasuk peristiwa pembakaran galangan.

“Aku memang telah banyak mendengar dan mengetahui, aku hanya ingin mendengar pandanganmu mengenai beberapa peristiwa itu”, berkata Sri Maharaja.

“Ada asap ada api, apakah tuanku tidak merasakannya?”, bertanya Kebo Arema.

“Aku ada diantara api itu. Bagaimana aku dapat melihatnya bila aku sendiri berada didalamnya”, berkata Sri Maharaja. “Kamulah yang kuharapkan mengurai pandanganmu”.

“Menurut hamba, selama tuanku masih hidup, bara itu tidak akan menjadi besar”, berkata Kebo Arema

“Apa yang dapat aku lakukan, agar bara itu tidak menghanguskan bumi Singasari setelah ketiadaanku ?”, bertanya Sri Maharaja

“Jangan berikan singgasana Kediri kepada siapapun, kecuali kepada orang sendiri yang dapat diyakini kesetiaannya”, berkata Kebo Arema.

“Sebut sebuah nama”, berkata Sri Maharaja sambil tersenyum sepertinya telah menangkap semua ucapan Kebo Arema.

“Hamba menyerah, ternyata tuanku telah menjebak hamba”, berkata Kebo Arema.

“Ternyata pandanganku telah engkau katakan dengan sebenarnya, aku tidak bermaksud menjebakmu, hanya sekedar meyakinkan apakah pandanganku masih ada didalam ketidak keberpihakan”, berkata Sri Maharaja.

“Jadi hamba tidak perlu menyebut sebuah nama?”, berkata Kebo Arema mencoba menengok isi hati Sri Maharaja lebih jauh lagi.
Sri Maharaja tersenyum.

“Biarlah untuk sampai saat ini kita tidak usah menyebut sebuah nama, simpanlah nama itu untuk sampai saatnya tiba”, berkata Sri Maharaja masih dengan wajah penuh senyum yang hanya diketahui oleh Kebo Arema seorang.

Malam pun telah merayapi cakrawala langit diatas istana Singasari ketika Kebo Arema pamit dan meninggalkan Bangsal Istana.
Ternyata, Kebo Arema tidak kembali ke biliknya yang telah disediakan, seperti apa yang di katakan oleh pangeran Kertanegara, di sebuah gardu jaga Kebo Arema singgah menemui beberapa prajurit pengawal yang sudah dikenalnya dengan akrab.

“Bolehkah aku si pengelana tua yang dahaga turut menikmati hangatnya wedang jahe di malam sedingin ini?”, berkata Kebo Arema kepada tiga orang prajurit pengawal di sebuah gardu jaga.

“Tentu saja bila dibayar dengan sebuah cerita tentang para dara cantik di Tanah melayu yang menari menyambut para tamu asing yang singgah di rumah tuak”, berkata seorang prajurit pengawal yang telah mengenal Kebo Arema yang biasanya tidak pernah habis bercerita tentang petualangannya di tanah seberang.

Dan seperti biasanya, ketika pagi sudah menjadi terang, Kebo Arema masih terlihat melingkar di gardu jaga. Tidak ada seorang pun yang berani membangunkannya kecuali bibi tua dayang pengasuh di Bangsal Pangeran yang terpaksa membangunkannya karena Pangeran Kertanegara telah menunggunya di meja makan untuk sarapan pagi bersamanya.

Seperti yang dijanjikan kepada Mahesa Pukat, dua tiga hari mereka akan kembali ke Bandar Cangu.Hanya tiga hari Kebo Arema dan Pengeran Kertanegara di Kutaraja. Pikiran dan hati mereka memang sepertinya sudah terpaut dengan Jung besar ditepian sungai Brantas.

Pagi itu dua ekor kuda terlihat keluar dari gerbang kota. Bumi Kutaraja yang berbukit dan sejuk sepertinya telah mengenal setiap langkah kaki mereka yang tidak lain adalah Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara yang akan kembali ke Bandar Cangu.

Terlihat langkah kaki kuda mereka semakin menjauh meninggalkan debu di jalan dan menghilang diujung jalan yang menurun.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-072

Pada saat yang sama, jauh dari Kutaraja, tiga ekor kuda nampak baru keluar dari sebuah hutan kecil. Mereka adalah Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya menunggang kudanya masing-masing dalam wajah penuh ceria.

Sebagaimana diceritakan dimuka, mereka ke Padepokan Bajra untuk mohon doa restu kepada ketua Padepokan yaitu Mahesa Murti untuk membantu terwujudnya sebuah pasukan baru yang akan menjadi prajurit pengawal Jung besar yang tengah dibangun di Bandar Cangu. Mahesa Murti tidak keberatan, bahkan menjadi bangga bahwa kehadiran murid Padepokan Bajra Seta dapat berguna dan dibutuhkan.

“Berjanjilah untuk menjaga nama baik Padepokan Bajra Seta”, demikian ucapan Mahesa Murti melepas keberangkatan Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

Matahari siang itu terhalang awan, padang ilalang seperti dipayungi keteduhan. Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya terus memacu kudanya. Menikmati angin segar berhembus di lereng hijau pegunungan, merasakan keramahan para warga padukuhan disepanjang perjalanan. Mereka seperti tiga ekor elang muda terbang dalam kebebasannya.

Sementara itu pembangunan barak prajurit di dekat galangan telah hampir selesai. Pembangunan yang dilakukan oleh banyak orang, terutama para prajurit di Benteng Cangu yang dikerahkan oleh Senapatinya sendiri yaitu Mahesa Pukat menjadikan barak besar itu menjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

“Terima kasih telah mewakili kami mengawasi pembangunan barak dan Jung”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat ketika telah tiba di Bandar Cangu dan melihat langsung pembangunan barak dan jung setelah beberapa hari ditinggalkannya bersama Pangeran Kertanegara.

Hanya berselisih satu hari setelah Kabo Arema dan Pangeran Kertanegara tiba di Benteng Cangu. Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya menyusul telah tiba kembali di Benteng Cangu.

“Seluruh warga titip salam untuk Kangmas”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat ketika baru saja tiba dari perjalanannya.

Cahaya beberapa oncor yang dipasang di antara sudut kanan dan kiri dinding pagar dalam Benteng Cangu telah menerangi halaman di depan pendapa utamanya yang luas dan lengang. Beberapa prajurit yang bertugas jaga dimalam hari terlihat sudah berada di panggungan.

Terlihat di Pendapa utama beberapa orang masih tengah berbincang.

“Kalian tiba tepat waktu, dua hari lagi barak prajurit akan selesai”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

“Sebentar lagi barak itu akan menjadi ramai dipenuhi tiga ratus prajurit muda”, berkata Kebo Arema.

“Dan tiga pelatih muda”, berkata pengeran Kertanegara sambil melirik Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

“Saat ini sudah ada dua puluh lima orang pemuda yang tiba lebih awal dari beberapa daerah, untuk sementara mereka ditampung di Benteng ini”, berkata Mahesa Pukat.

“Mudah-mudahan barak baru segera selesai, agar ransum prajurit di Benteng ini tidak banyak terganggu”, berkata Raden Wijaya.

“Untuk sebuah kesejahteraan dan keamanan di bumi Singasari, tidak akan membuat miskin Sri Maharaja”, berkata Kebo Arema.

“Di Kutaraja, Bendahara Kerajaan telah memberi bekal kepadaku, jadi kita tidak perlu khawatir kekurangan selama disini”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Ketika pamit dari Bangsal Istana, Sri Maharaja juga memberiku bekal sangu, aku bingung untuk kugunakan apa, sementara sangu yang lalu masih belum terpakai”, berkata Kebo Arema seperti orang bingung.

“Paman tidak perlu bingung, menjamu kami di kedai nasi bakar Pakde Widura di ujung Pasar Bandar Cangu setiap malam, pasti sangu Paman akan berkurang”, berkata Raden Wijaya.

“Betul-betul-betul”, berkata Lawe menyetujui

“Aku pesan bekakak ayam panggang, dua !!”, berkata Mahesa Amping sambil menunjukkan dua jarinya.

“Bila aku tahu Paman punya banyak sangu, aku tidak akan membayar apapun dikedai yang kita singgahi di sepanjang Kutaraja ke Bandar Cangu”, berkata Pangeran Kertanegara sambil tersenyum.

“Memang sudah semestinya begitu, sangu dari Bendahara Kerajaan lah yang harus keluar”, berkata Kebo Arema.

“Mengapa harus seperti itu ?”bertanya Pangeran Kertanegara yang tahu Kebo Arema sedang bercanda.

“Bukankah di perjalanan itu aku tengah mengemban tugas Kerajaan?”, berkata Kebo Arema. “Mengawal seorang Putra Mahkota”, lanjut Kebo Arema yang pandai berkelit bukan hanya dalam olah kanuragan, tapi juga dalam olah kata-kata.

“Untuk selanjutnya, di siang hari kita minta dijamu oleh Pangeran, sementara di malam hari kita sandera sangu Paman Kebo Arema. Setujuuuu?”, berkata Lawe

“Setujuuuuuuuuu”, berkata Mahesa Amping dan Raden Wijaya berbarengan.

———-oOo———-

 

SFBdBS-03-073

Air sungai Brantas mengalir jernih mengantar para pedagang di atas kapal kayu berlayar jauh. Ketika mereka melewati Bandar Cangu, terlihat barak besar berdiri di tepian Brantas.

Keberadaan Barak itu memang cukup luas, berjejer dua baris barak saling berhadapan, sebaris lagi menghadap ke tepian. Barak itu juga telah dilengkapi dengan sanggar tertutup yang cukup luas serta begitu lengkap.

Hari itu adalah hari pertama tiga ratus pemuda dari berbagai daerah di bumi Singasari bergabung. Mereka dikelompokkan menjadi sepuluh kelompok dibawah pimpinan seorang perwira pilihan yang bertanggung jawab langsung kepada seorang pimpinan tunggal dibarak itu, yaitu Pangeran Kertanegara sang Putra Mahkota.

Hari pertama itu tidak ada kegiatan selain pembagian tugas yang harus mereka lakukan bersama dengan penuh rasa tanggung jawab dan mandiri. Baru pada hari kedua mereka secara bergiliran dilatih untuk menjadi prajurit sungguhan.

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang ditunjuk sebagai pelatih telah mulai bertugas. Mereka berbagi tugas seperti Mahesa Amping melatih ketahanan fisik, Raden Wijaya melatih ketrampilan gerak dan Lawe sebagai pelatih jurus kanuragan. Sementara dalam hal penempaan keprajuritan itu sendiri ada dalam pengawasan Senapati Mahesa Pukat.

Demikianlah para pemuda itu setiap hari ditempa sebagaimana seorang prajurit. Pada pagi hari mereka diajak Mahesa Amping berjalan dan berlari menyusuri jalan panjang atau mendaki dan merayap tebing-tebing terjal tidak jauh dari Bandar Cangu. Setelah istirahat di siang hari mereka dilatih Raden Wijaya melakukan beberapa ketrampilan seperti melompat di antara patok-patok yang telah disediakan di sanggar terbuka atau berlatih keseimbangan diatas balok titian. Dan menjelang senja sampai jauh masuk keujung malam mereka berlatih jurus kanuragan dibawah bimbingan Lawe.

Para pemuda itu sendiri bukan orang-orang yang kosong sekali dalam kanuragan, di tempat asalnya mereka sudah punya bekal yang kuat dalam kanuragan. Penempaan di Bandar Cangu lebih mendekati kearah pembauran agar tata gerak mereka ada dalam satu watak yang seragam.

Tidak ada halangan yang berarti dalam pelaksanaan penempaan para prajurit muda itu. Meski dari usia Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya masih muda, mereka dapat melaksanakan tugas sesuai yang diembannya, sementara para prajurit muda itu menghargai mereka baik dalam sikap maupun dalam menjalankan pengarahan setiap latihan sehari-hari.

“Gila !!, orang itu sepertinya punya udel dua. Belum pernah kulihat napasnya tersengal-sengal”, berkata seorang pemuda yang berkulit hitam kepada temannya tentang Mahesa Amping dalam sebuah latihan.

“Dengan kesungguhan, kalian dapat melakukannya tanpa menguras habis tenaga kalian”, berkata Mahesa Amping sambil memberi pengarahan bagaimana cara mengendalikan pernapasan yang sebenarnya.

 ———-oOo———-

SFBdBS-03-074

Sementara ketika berlatih ketrampilan dan keseimbangan badan, mereka mengakui kelebihan Raden Wijaya dari mereka.

“Siapa yang melebihi kecepatanku, silahkan menggantikan diriku sebagai pelatih”, berkata Raden Wijaya dengan senyumnya menantang para prajurit muda untuk berlari diatas sebuah titian panjang.

Tidak satu pun yang dapat melebihi kecepatan Raden Wijaya.

Demikianlah mereka berlatih dengan penuh semangat. Hari demi hari tanpa mengenal lelah. Akhirnya kerja keras mereka sudah mulai terlihat. Mulai dari ketahanan fisik, ketrampilan maupun penguasaan mereka pada jalur kanuragan.

Mahesa Pukat sudah mulai terjun memberikan latihan pertempuran yang sebenarnya. Mereka dilatih bagaimana bertempur secara berkelompok, bertempur di peperangan yang sebenarnya.

Tidak terasa, empat bulan purnama berlalu di Bandar Cangu.

“Hari ini, aku masih memberikan kesempatan kepada kalian. Apakah ada diantara kalian yang ingin keluar dari kesatuan ini?”, bertanya Pangeran Kertanegara pada suatu pagi dalam sebuah upacara resmi penganugerahan kekancingan pasukan khususnya.

Pangeran Kertanegara mencoba menahan kata-katanya.

Setelah beberapa saat menahan kata-katanya, tidak ada satu pun yang mengangkat tangan atau menyampaikan pernyataan.

“Baiklah, kediaman kalian sebagai jawaban pertanyaanku. Mulai hari ini kalian resmi sebagai pasukan khusus. Prajurit sejati yang akan menjaga bumi Singasari”.

Kata-kata Pangeran Singasari disambut teriakan gembira yang menggempita. Hari itu mereka telah resmi menjadi seorang prajurit. Berhak mengenakan peneng keprajuritan sebagai bukti kekancingan resmi dari Kerajaan Singasari.

“Ketika purnama naik diatas tepian Brantas, kalian harus sudah ada kembali di barak ini”, berkata Pangeran Kertanegara yang telah memberikan kesempatan prajuritnya untuk pulang kampung selama sebulan penuh bertemu dengan keluarganya.

Sementara itu di galangan, Jung besar telah berdiri dengan sempurnanya. Sebuah Jung besar yang sangat indah, sebuah Jung besar yang tidak pernah ada sebelumnya di jaman itu. Sebuah Jung besar yang begitu indah yang ada di relief batu candi beduhur telah berdiri nyata. Siapapun yang berlayar melewati Bandar Cangu akan singgah melihat jung besar dalam decak penuh takjub dan bangga telah melihat sebuah karya besar.

Tersiarlah di segenap penjuru Tanah Jawa, telah tercipta sebuah jung besar yang maha indah dan megah di Bandar Cangu. Di pasar, di kedai dan di setiap perjumpaan, tidak bosan-bosannya Jung Besar menjadi sebuah pembicaraan yang tidak pernah habis dibicarakan.

Purnama telah terpaku di langit tepian sungai Brantas menganugerahkan sebuah pemandangan yang indah rupawan di kota pelabuhan Bandar Cangu.

Sudah sepekan ini orang-orang berduyun-duyun datang ke Bandar Cangu untuk melihat langsung sebuah jung besar yang indah dan megah.

“Luar biasa, begitu mirip, begitu indah dan megah”, berkata Sri Maharaja yang datang langsung ke Bandar Cangu untuk melakukan sebuah upacara menginjak air, sebuah upacara yang harus dilakukan manakala sebuah jung untuk pertama kalinya turun di sungai maupun di laut lepas.

Rombongan Sri Maharaja datang di Bandar Cangu bersama Ratu Anggabhaya yang ikut merasa penasaran untuk melihat dengan mata kepala sendiri pembicaraan orang tentang megahnya jung besar di Bandar Cangu. Sekaligus juga untuk bertemu dengan cucu tercintanya Raden Wijaya yang sepertinya sudah begitu lama meninggalkannya.

Hari itu, tepat tanggal dan bulan baik, sebuah upacara besar mengiringi turunnya jung besar dari galangan terapung di tempat yang sesungguhnya, diatas air kehidupannya.

Diawali dengan doa puja-dan puji kehadirat Gusti Sing Maha Karsa, Sri Maharaja telah memberi restu dengan cara memecahkan kendi diatas anjungan. Bertebaranlah air bunga tujuh rupa mengalir membasahi anjungan bersama suara riuh segenap para kawula yang hadir tumpah ruah memenuhi galangan di tepian Brantas.

Sri Maharaja segera turun dari galangan, memberikan kesempatan kepada para pekerja menurunkan Jung yang telah sempurna turun ke tepian Sungai Brantas.

Terdengar suara riuh semakin bergemuruh manakala kaki-kaki galangan telah dipatahkan, jung besar turun sedikit demi sedikit mencium air sungai Brantas. Pecahlah suara sorak yang riuh seperti gemuruh penuh kegembiraan manakala seluruh badan jung besar jatuh ke dalam Sungai Brantas, terapung megah seperti bayi raksasa angsa terguncang-guncang.

Huuuuuuuuu !!!!!! terdengar suara gemuruh kegembiraan.

Bila ada yang pernah datang dalam penobatan seorang raja, maka perayaan lahirnya sebuah jung besar yang indah dan megah di Bandar Cangu bisa dikatakan melebihi dari kemeriahan perayaan penobatan seorang raja. Tiga hari tiga malam perayaan besar telah dilaksanakan dengan begitu meriah. Bandar Cangu yang ramai semakin menjadi padat melimpah ruah.

Dari segenap penjuru bumi Singasari orang berduyun-duyun berdatangan seperti tidak pernah habisnya. Ikut merasakan dan menikmati sebuah pesta agung sebagai rasa sukur telah terciptanya sebuah maha karya kebanggaan bersama seluruh penghuni bumi Singasari Raya.

“Para Dewa telah memindahkan batu suci di Candi Beduhur menjadi hidup” , berkata seorang Brahmana yang menyaksikan langsung sebuah jung yang begitu indah sebagaimana pernah dilihatnya dalam sebuah pahatan di sebuah batu candi di Bukit Beduhur.

———-oOo———-

Bersanbung ke bagian 3

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 Juni 2011 at 05:33  Comments (418)  

418 Komentar

  1. selamat sore kadang sedoyo

    • kadang sore selamat sedoyo

      • sedoyo kadang selamat sore

        • sore kadang sedoyo selamat

          • selamat sedoyo kadang sore

  2. Sugeng dalu sedoyo kadang,
    Nunggu kehadiran nayogo, sinden dan Ki Dalang.

  3. Sugeng dalu para kadhang sutresna,

    Sugeng lagi disuruh Ki Dhalang mencantholken rontal di kawat jemuran biar cepet kering.

  4. karena malam dingin, maka nggak kering-kering,

  5. Selamat malam Ki Kompor.
    Komputernya sudah sehat apa belum?

    • Selamat pagi Ki MAHESA Kompor.
      pak Dokter KOMPUTER jadi datang apa kagak…!!??

      sabar menunggu…..(pake gaya bang HAJI)

  6. selamat pagi kadang padepokan…..selamat berTUGAS

    semoga SUKSES,

    • selamat pagi ni Sinden padepokan…..selamat berTUGAS

      rutin ning kamtor padepokan,

      • beres…..jangan khawatir

        sudah dislempitken dengan aman.

        eh mangsude sudah diselametin nding…..!!!!

  7. SELAMAT SIANG,
    Puanase pol.

  8. selamat malam

  9. Setia menanti wedarannya Ki Kompor.

  10. sugeng dalu,
    akhirnya komputer sudah bisa pulang dari UGD,sang dokter bilang masalahnya bukan dari virus…tapi dari anti virusnya yang ngambek karena minta di update selalu diabaikan….he-he-he(maklum…pengennya nyari yang gratisan)
    maaf…lagi nyari si ilham yang nyasar……
    1. Raden wijaya ketemu sama Dara petak dan dara jingga di sebuah sayembara cari mantu.
    2. Dara petak dan dara jingga diculik terus diselametin ame R. Wijaya
    atau…ketemu kakeknya raja sunda di palembang ketika nongkrong makan empek-empek ????

    • Istilahnya jaman dulu, ini sopongiler (spoiler).
      hikss……

      • jaman dulu Istilahnya, ini sopongiler (spoiler).
        hikss……hikss

        • pak DALANG bikin sopongiler…..he-heee3x

  11. SUGENG ENJANG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  12. sugeng siang, wis ngiler

  13. Selamat malam,
    bingung juga baca sejarah,mana yang bener…
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga anak Kertanegara
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga adik dari dara kencana istri kertanegara juga saudara kandung dara puspa istri dari Prabu Ragasuci raja Saunggaluh.
    enaknya sih ada bantuan dari Ki banuaaji atau Ki Punakawan LONTOOOOOOOOOOONG………..

    • Lho………..?????
      bukannya gitaris Dara Puspita itu mBak Suzy Nander….???

      Emang ade itu group band Dara Petak atawa Dara Jingga…???
      jangn2 vokalisnya si JuPe ame si DePe nih.

  14. ungak2 seks………..

    • Sugeng rawuh lan sugeng dalu Ki PoniJO.
      Sumangga katuran pinarak sinambi nengga Ki Dhalang medhar carios babad Dara Petak lan Dara Jingga.

  15. sugeng dalu wis ngiler banget

    • Sabar sebentar Ki Bancak,

      Siapa tahu di kisah selanjutnya diceritakan Dara Petak dan Dara Jingga diculik oleh Sinuhun Gembleh Hanyolowadi, gegedhug tlatah lendhut benter, untuk dijadikan istri2nya.
      Belum sempat ijab kabul di depan penghulu, keburu datang pendekar dari Ranah Minang, yang mempunyai ajian Pujakesuma, yang bergelar Ki Hulubalang Bancak merebut kedua Dara tsb. .Walaupun wurung dengan kedua Dara tadi, gegedhug tadi tetap hepi, soalnya ternyata Ni Sinden (yang namanya KP, lho) belum dijemput Ki Menggung. Asyiklah mereka berdua naik gunung.

      • naik gunung-turun gunung….
        masuk hutan keluar hutan….

        menjelajah bukit, lembah2
        sampe….blumbang,
        mandek sik kueseelll ki !!??

  16. Beginilah ceritosnya….

  17. Setelah beristirahat sejenak di kedai, merekapun melihat-lihat keadaan kota Sriwijaya untuk sebagai bahan laporan tugas mereka sebagai petugas delik sandi.

    Menyusuri kota tua Sriwijaya yang ramai memang sangat menyenangkan. Hilir mudik pedati dijalan membawa aneka barang milik para saudagar. Dijalan juga sepertinya sudah terbiasa melihat para orang asing dari berbagai bangsa berlalu lalang. Rumah-rumah besar dengan pilar ukiran kayu jati berpagar dinding batu berderet sepanjang jalan yang tertata rapi.

    Tanah Sriwijaya sudah lama tak bertuan, tapi para warganya sepertinya tidak memperdulikannya. Siapapun penguasanya, yang penting mereka dalam keadaan tetap damai, dalam bertani, berdagang dan kehidupan lainnya.

    Tanah Sriwijaya pada saat ada dalam pengendalian para penguasa dari Tanah Melayu. Tapi siapa yang peduli ??

    Begitulah suasana yang ditangkap oleh Raden Wijaya, Lawe, Mahesa Amping dan Argalanang ketika mereka menyusuri kota tua Sriwijaya.

    Merekapun kembali ke Bandar Sebukit, melihat berbagai barang diangkut naik ke jung besar milik para saudagar dari berbagai bangsa. Merekapun melihat diantara berbagai barang yang keluar masuk lewat Bandar Sebukit yang ramai itu adalah lada hitam. Mereka mendapat keterangan bahwa lada hitam adalah lada yang paling diminati oleh para pedagang asing karena merupakan lada yang terbaik. Lada hitam ini dibawa oleh para pedagang setempat dari pedalaman sungai Kampar. Sebuah tempat yang jauh.

    “Jung bangsawan Sunda”, berkata Argalanang menunjuk sebuah jung yang elok dengan banyak umbul-umbul berwarna kuning bergambar kepala harimau.

    Ternyata Argalanang memang telah banyak mengenal berbagi jenis jung.

    Jung elok itu memang milik bangsawan Sunda. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dihormati di bumi Pasundan yang tidak lain adalah Raja Ragasuci penguasa Saunggalah putra Raja Darmasiksa yang telah mengasingkan dirinya bertapa di Gunung Galunggung sebagai seorang Resi Guru yang sakti.

    Raja Ragasuci sendiri terbilang masih Paman Raden Wijaya dari garis ibunya yang berdarah sunda. Ibunda Raden Wijaya dan Raja Ragasuci sebagai saudara lain ibu. Raja Ragasuci mempunyai seorang ibu berdarah campuran bangsawan Sriwijaya dan Melayu.

    Kehadiran Ragasuci di kota Sriwijaya adalah sebuah kunjungan ketanah leluhur ibundanya. Masih ada pamannya di kota Sriwijaya, kakak kandung dari ibundanya bernama Bagus kemuning, seorang bangsawan yang sangat disegani dan begitu berpengaruh.

    “Ternyata kamu berminat menyunting seorang putri dari Tanah Melayu ?”, bertanya Bagus Kemuning kepada kemenakannya Raja Ragasuci yang datang menemuinya di rumahnya.

    “Begitulah Paman, mudah-mudahan aku dapat memenangkan sayembara itu”, berkata Raja Ragasuci.

  18. Pada saat itu memang di Tanah Melayu akan diadakan sebuah sayembara besar memperebutkan seorang putri Raja Melayu yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

    Namun yang dapat mengikuti hanya dari kalangan yang berdarah bangsawan dari berbagai nagari. Salah satunya adalah Raja Ragasuci sendiri.

    Berita sayembara itu akan dilaksanakan pada hari purnama pekan depan telah didengar pula oleh Raden Wijaya dan kawan-kawannya yang tengah melaksanakan tugas sandi.

    “Besok kita berangkat ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang.

    Demikianlah, pada hari itu mereka mencari rumah penginapan disekitar Bandar Sebukit.

    Malam telah menyelimuti Bandar Sebukit yang telah lelah setelah seharian ditingkahi kesibukan dan kepenatannya. Udara dingin di luar rumah menjadikan jalan-jalan menjadi begitu sepi dan lengang.

    Mahesa Amping belum tidur di kamar penginapannya. Pendengarannya yang tajam telah mendengar pembicaraan di kamar sebelah yang terpisah oleh dinding yang terbuat dari bilik kayu. Sebuah pembicaraan yang begitu menarik perhatiannya.

    “Apa susahnya menghancurkan jung Singasari itu”, berkata sesorang terdengar dari bilik kamar Mahesa Amping yang telah mempertajam pendengarannya.

    “Tapi sampai hari ini mereka masih belum kembali”, berkata suara yang lain.

    “Apa yang akan kita laporkan kepada Tuanku Bagus Kemuning ?”, berkata suara orang yang pertama.

    “Tunggu sampai besok, baru kita dapat menghadap”, berkata suara yang lain.

    “Yang kutakutkan, mereka tidak singgah ke sebukit tapi langsung pulang ke Tanah Melayu”, berkata orang yang pertama.

    “Apa yang kamu takutkan ?”, bertanya suara orang kedua.

    “Kamu ini benar-benar tukul !, berkata orang pertama. “Tuanku Bagus Kemuning telah berpesan bahwa tugas ini jangan sampai didengar Baginda Raja”, berkata orang pertama melanjutkan.

    “Kamu benar, tapi aku bukan tukul”, berkata orang kedua terdengar oleh Mahesa Amping dengan kepekaan pendengarannya yang tajam terdengar membanting badannya ke pembaringan.

    Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi. Yang terdengar adalah lenguh dengkur napas mereka yang saling bersahutan. Dengan pendengarannya yang tajam Mahesa Amping sudah menduga bahwa mereka sudah jauh terlelap tidur.

    Tiba-tiba saja pendengaran Mahesa Amping mendengar suara yang mencurigakan berasal dari atap rumah. Segera Mahesa Amping membangunkan Raden Wijaya yang sekamar dengannya. Ketika dilihatnya Raden Wijaya telah terbangun, Mahesa Amping segera keluar kamar langsung melenting kea tap rumah. Sesosok bayangan masih sempat dilihatnya telah berkelebat menghilang dikegelapan malam.

    Mahesa Amping kembali masuk kekamarnya, mencoba menempelkan telinganya di dinding untuk mendengar apa yang telah terjadi dikamar sebelah.
    Suara dengkur sudah tidak terdengar lagi, bahkan lenguh desah halus napas sekalipun.

    “Apa yang telah terjadi ?”, bertanya Raden Wijaya yang belum dapat mengerti apa yang tengah terjadi.

    Mahesa Amping menjelaskan kepada Raden Wijaya mulai dari apa yang dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan orang disebelah kamar dan terakhir suara mencurigakan diatas atap rumah.

    “Aku merasa orang disebelah sudah tidak bernyawa”, berkata Mahesa Amping yang percaya sekali dengan kepekaan pendengarannya.

    “Kita lihat apa yang terjadi”, berkata Raden Wijaya.
    Mereka berdua telah keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar sebelah.

    Pintu kamar itu ternyata tidak diselarak dari dalam.

    Ketika pintu terbuka, terkejut Mahesa Amping dan Raden Wijaya melihat apa yang ada didepan matanya.

    “Mereka berdua sudah mati”, berkata Mahesa Amping melihat dua orang tergeletak dipembaringannya dalam keadaan tidak bergerak. Seluruh tubuhnya terlihat berwarna hijau.

    “Racun ikan buntal !!”, berkata Raden Wijaya sambil menunjuk dua buah duri kecil menancap di leher kedua orang yang terbaring tak bernyawa itu.

    “Dari mana Raden mengetahui bahwa mereka terkena racun ikan buntal ?”, bertanya Mahesa Amping yang merasa heran Raden Wijaya telah memastikan bahwa kedua orang itu terkena racun ikan buntal yang pernah didengarnya memang mempunyai daya racun yang amat kuat.

    Raden Wijaya mengeluarkan sebuah bubu bambu kecil dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati mengeluarkan sebuah duri kecil dari dalam bubu bambu kecil itu.

    “Sebuah duri yang sama yang telah menghabisi nyawa ibundaku”, berkata Raden Wijaya sambil mencabut sebuah duri yang ada dileher salah satu mayat.

    • pak DALANGe…….KAMSIAaaaaa…….KAMSIAaaaaaa

  19. akhirnya……
    Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeber” wayangnya lagi.
    matur suwun nggih.

    • akhirnya pagi ini,
      Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeberi” wayangnya lagi.
      matur suwun nggih.

      • SUGENG ENJiNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  20. Akhirnya, akhirnya… he..he
    matur nuwun Ki Kompor, mugi-mugi risang komputer mboten kimat malih.

    Sugeng Enjang

  21. akhirnya, ….akhirnya,…… matur nuwun

  22. Lamunan Raden Wijaya melayang jauh kebelakang, disuatu malam menjelang keberangkatannya bersama Mahesa Murti menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta

    “Diujung duri ikan buntal ini nyawa ibundamu berkhir. Bawalah bersamamu, sampai saat ini ayahmu belum dapat mengungkap dibalik kematian ibundamu”, berkata Lembu Tal kepada Raden Wijaya.

    Dimanapun Raden Wijaya berada, bubu bambu kecil itu selalu menyertainya.

    “Hari ini pintu rahasia lorong teka-teki keluargaku mulai terkuak, aku akan terus menyusurinya”, berkata Raden Wijaya sambil memasukkan kembali duri ikan buntalnya.

    Mahesa Amping yang pernah diceritakan mengenai hal itu oleh Raden Wijaya memahami apa yang dirasakan Raden Wijaya saat itu.

    “Hanya mereka yang telah mempunyai kemampuan tinggi yang dapat melempar duri kecil itu tepat menembus sasaran”, berkata Mahesa Amping.
    Akhirnya mereka segera menyelinap keluar dari kamar naas itu kembali kekamarnya.

    Dan sang waktu perlahan terus menyusut perjalanan malam. Membungkus rahasia kegelapan sampai akhirnya datang sang pagi yang bening berwajah lugu menangkap kehangatan matahari yang bersinar diujung tepi cakrawala.

    Diawali suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan.

    Bandar Sebukit telah terbangun kembali dalam kehiruk pikukan pagi diantara coloteh para buruh angkut barang yang mengais rejeki mengangkat barang diatas bahunya satu persatu.

    Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah memasuki sebuah kedai yang sudah buka dipagi itu menjual makanan dan minuman hangat untuk sarapan pagi.

    Ketika mereka masuk, sudah ada beberapa orang pengunjung. Merekapun mencari tempat yang kosong.

    Dengan perlahan, agar tidak didengar orang lain, Raden Wijaya menceritakan kejadian semalam kepada Lawe dan Argalanang termasuk teka-teki rahasia keluarganya.

    “Apakah ayahmu pernah bercerita tentang orang yang bernama Bagus Kemuning ?”, bertanya Lawe kepada raden Wijaya.

    “Belum”, berkata Raden Wijaya datar sambil menggelengkan kepalanya.

    “Kita harus mencari tahu banyak hal tentang orang itu”, berkata Argalanang

    Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk menunda keberangkatan mereka dipagi itu. Mereka sepakat untuk menyelidiki siapa sebenarnya pemilik nama Bagus Kemuning itu.

  23. Akhirnya, dengan hati-hati mereka bertanya dengan orang-orang disekitar Bandar Sebukit dan kota Sriwijaya. Ternyata mereka mendapatkannya dengan mudah. Hampir semua orang di kota Sriwijaya itu mengenal Bagus Kemuning sebagai orang yang sangat disegani dan berpengaruh di bumi Sriwijaya.

    Matahari sudah naik kepuncaknya. Seorang tukang buah duku terlihat tengah berteduh dibawah sebuah pohon ambon yang rindang didepan pagar rumah Bagus Kemuning.

    “Rancak nian rejekimu wahai tukang buah”, berkata seorang yang berpakaian sederhana keluar dari regol rumah Bagus Kemuning menghampiri tukang buah yang tengah berteduh. Nampaknya seorang pelayan di rumah itu.

    “Seharian ini belum ada kutemui seorangpun pembeli, apanya yang rancak”, berkata tukang buah itu yang ternyata Argalanang yang tengah menyamar.
    “Buahmu kubeli semuanya”, berkata orang itu.

    “Apakah aku tidak salah dengar ?, biasanya orang membeli segantal dua gantal”, berkata Argalanang.

    “Tuanku telah kedatangan banyak tamu, tolong antar sekalian kedalam”, berkata orang itu.

    Argalanang berjalan mengikuti pelayan itu masuk kerumah Bagus Kemuning. Diatas pendapa dilihat banyak orang tengah berbincang-bincang. Dari pakaiannya, Argalanang dapat mencirikan setiap orang yang ada di atas pendapa itu. Seorang berpakaian adat Melayu pastilah tuan rumah yang bernama Bagus Kemuning. Sementara yang lainnya berpakaian sebagaimana para pembesar dari Tanah Sunda. “Ternyata orang-orang dari Tanah Pasundan yang bertamu”, berkata Argalanang dalam hati setelah sekilas menyapu dengan pandangannya orang-orang yang ada di atas pendapa.

    “Tamu tuanmu orang-orang pasundan?”, Argalanang berkata sambil menuang dukunya ke bakul yang disediakan sebagai tempat buah dukunya.

    “Bukan orang Pasundan sembarangan, tapi Raja dari Tanah Sunda”, berkata pelayan itu sepertinya membanggakan dirinya telah kedatangan tamu seorang raja meski sebenarnya bukan tamunya, tapi tamu tuannya.

    “Seorang Raja dari Tanah Sunda ?”, berkata Argalanang merasa gembira menemukan warta baru. Tapi dihadapan pelayan itu Argalanang pura-pura terkejut.

    “Yang benar Raja Saunggalah yang terkenal bernama Raja Ragasuci”, berkata pelayan itu yang masih membanggakan dirinya.

    “Apakah tuanmu itu masih kerabat dengan Raja Ragasuci”?, bertanya kembali Argalanang

    “Raja itu masih kemenakan tuanku”, berkata pelayan itu

    “Betapa membanggakannya dapat langsung melayani seorang Raja”, berkata Argalanang mengompori pelayan itu yang ia tahu tengah merasa bangga.

    “Hari ini harusnya kamu juga berbangga hati, buahmu dinikmati langsung oleh seorang raja”, berkata pelayan itu.

    “Betul-betul-betul, dirumah aku akan bercerita kepada ninik mamakku, bahwa buah duku kebunku dinikmati oleh seorang raja”, berkata Argalanang.

    “Laris manis tanjung kimpul. Dagangan habis rejeki kumpul”, berkata Argalanang ketika menerima pembayaran dari pelayan itu.

    Terlihat Argalanang dengan langkah gembira layaknya seorang pedagang tulen yang tengah mujur besar berjalan keluar dari regol pintu rumah Bagus Kemuning.

  24. laris manis tanjung kimpullllll

    • Dagangan habis rejeki kumpul
      hiks….
      matur suwun.

  25. Ikutan matur nuwun ach.
    Biasanya jam wayah gini Ki Dalang sok mulai (ngawali) suluk lagi.
    Monggo Ki Dalang mboten sah pekewet. ( e kok kuwalik).

  26. Laris manis tanjung kimpul.
    Dagangan habis rejeki kumpul
    ………..(masih nunggu )………..
    matur nuwun

  27. Laris manis tanjung kimpul,
    Ni Sinden sing manis disrobot Ki GundUL.

    Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
    Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!

    • Laris manis tanjung pinang,
      Ni Sinden manis bikin terkenang-kenang,

      Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
      Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!!!!!!

  28. SUGENG ENDaNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  29. SUGENG ENJAG.
    siap-siap nggotong kotak wayang, diulihake disik, mengko sore dipasang maneh.

    • tilik padepokan…..SELAMAT SORE

      mbantu ngotong kotak wayang, mumpung ni Sinden diJEMput
      ki Gembleh,

  30. selamat sore semuanya

  31. hup….
    Selamat malem, baru pulang nyari si Ilham masih belon dateng…………

  32. ilham yahyanya sudah pensiun, mugkin ilham mahil yang masih ada, selamat malam Ki

  33. Sim salabim jadi apa….plok….plok….plok……
    eh….ternyata si ilham nyamperin Ki Dhalang…..
    tariiiiiiiiiiikkkkkkk …….maaaaaaaaaang……..!!!!!

  34. Senja telah turun menaungi Bandar Sebukit. Cahaya matahari yang bening dan sejuk terbawa arus air sungai Musi yang beriak ditiup angin segar.
    Terlihat empat orang pemuda duduk diatas dermaga yang sepi.

    “Racun ikan Buntal, Bagus Kemuning dan Ragasuci mempunyai benang ikatan yang tidak dapat dipisahkan dengan kematian ibunda Raden”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    “tapi benang itu masih jauh untuk diurai”, berkata Raden Wijaya
    “Sebaik-baik menyembunyikan bangkai, pasti tercium juga”, berkata Lawe membesarkan harapan Raden Wijaya.

    “Seandainya aku dapat mengejar orang diatas atap rumah penginapan itu, rahasia ini tentunya sudah dapat terkuak”, berkata Mahesa Amping yang menyesali dirinya yang tidak langsung menangkap orang yang telah membunuh kedua orang dikamar penginapan.

    “Siapapun pemilik racun ikan Buntal, adalah kunci teka-teki keluargaku”, berkata Raden Wijaya lirih sepertinya bicara kepada dirinya sendiri.

    “Apakah Bagus Kemuning dapat bertanggung jawab atas kematian dua orang kepercayaannya ?”, berkata Argalanang.

    “Kita belum mendapatkan bukti yang kuat”, berkata Mahesa Amping

    “Kita harus membayangi terus Bagus Kemuning”, berkata Lawe

    “Besok mereka akan ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang. “Kapan kita berangkat ke Tanah Melayu ?”, bertanya Argalanang meminta pendapat.

    “Kupikir sebaiknya kita juga berangkat besok”, berkata Raden Wijaya memastikan.

    Akhirnya disepakati berangkat ke Tanah Melayu keesokan harinya.

    • syukurlah…, si Ilham sudah diketemukan

      • syukurlah…, si Ilham sudah kembali PULANG

  35. Alhamdulillah sudah ketemu si Arga Lanang.
    Selamat week end ki Kompor

    • selamat berLIBUR pak DALANGe,

  36. KAMSIAaaa…..KAMSIAaaa…..KAMSIAaaaaaaaaaaaa,

    sugeng “MEGENGAN” kadang padepokan ki MAHESA

  37. Kamsia dulu lah. Sudah lama tidak nengok padepokan ternyata banyak yang sudah ketinggalan. makasih Ki Kompor

  38. Pagi itu kabut masih membujur seperti kapas-kapas di sepanjang sungai Musi. Sebuah jung terlihat bergerak menjauhi dermaga dalam keremangan kabut pagi.

    “Pagi berkabut, sebuah tanda hari akan cerah”, berkata Argalanang diatas jung yang telah semakin menjauh dari Bandar Sebukit.

    Dan seiring berjalannya waktu, mereka telah tiba di Muara Musi.

    “Pasar terapung sudah sepi”, berkata Lawe ketika mereka melewati sebuah pasar terapung yang sudah tidak begitu ramai karena matahari pagi sudah semakin menaik keatas cakrawala.

    “Tapi kedai terapungnya masih ada”, berkata Argalanang sambil mengayuh jung nya mendekati sebuah jukung yang menjual makanan dan minuman.

    “Nasi kapaunya masih ada Pacik ?”, berkata Argalanang kepada seorang pemilik kedai terapung ketika jung mereka sudah merapat.

    “Hari ini pengunjung tidak begitu ramai, nasi kapauku masih tersisa banyak”, berkata pemilik kedai terapung itu.

    “Kami pesan empat nasi kapau lengkap dengan kakap bumbu asem belimbing”, berkata Argalanang.
    Dengan sigap pemilik kedai itu membungkus pesanan nasi kapau lengkap dan langsung menggantungkannya diujung galar bambu.

    “Terima pesanannya anak muda”, berkata pemilik kedai terapung itu sambil menyodorkan galar bambu tempat menggantung empat bungkus nasi kapau dari atas jukungnya.

    Dengan lahap mereka menikmati hidangan diatas jung dibawah cahaya matahari pagi yang hangat.

    Setelah beristirahat sejenak merekapun melanjutkan perjalannya menuju tanah Melayu.

    Jung mereka telah keluar dari Sungai Musi masuk dalam perairan laut selat Malaka dibawah sinar matahari yang hangat.

    Awan putih dilangit biru yang cerah mengiringi jung mereka terbawa angin yang kadang bergoyong terguncang dihempas ombak.

    Ketika matahari mulai merangkak dibawah cakrawala, jung mereka sudah mulai mendekati Tanah Melayu ditandai dengan warna air yang mulai menghijau sebagai tanda sebuah muara akan mereka temui.

    “Kita memasuki perairan Batanghari”, berkata Argalanang seperti sudah begitu kenal setiap dataran pulau perak ini.

    • masih punya hutang 2 rontal….
      hiks…

  39. Terus kapan mau mbayar utangnya Ki Dalang, he…he.
    Ini namanya penonton yang nglonjak.
    Sugeng dalu Ki

  40. Alhamdulillah isish anget, matur nuwun Ki.

  41. Bandar Melayu adalah pintu kedua selain Bandar Sebukit untuk barang perdagangan antar bangsa. Disinilah beberapa pedagang asing membawa berbagai hasil hutan dan rempah-rempah. Para pedagang asing tidak perlu lagi berlayar jauh sampai nusa jawa atau tanah Maluku karena sudah diambil alih oleh para pedagang Melayu. Hal ini sudah berlangsung lama sejak masa emas kerajaan Sriwijaya.

    Itulah sebabnya, kehadiran Jung Singasari merupakan sebuah saingan yang besar yang akan memutus rantai perdagangan mereka.

    Tapi pemikiran para saudagar Melayu yang sebagian besar adalah para bengsawan Tanah Melayu ini tidak sejalan dengan Rajanya yang berprinsip kepada kebebasan dan kedamaian umat.

    “Persaingan itu tumbuh sebagai tantangan agar kita dapat berbuat lebih arif lagi”, berkata Baginda Raja kepada beberapa bangsawan yang ingin mempengaruhinya untuk memerangi Singasari.

    Itulah sebabnya para bangsawan telah mengambil jalan sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Bagus Kemuning yang diam-diam memerintahkan para prajurit Melayu menyergap Jung Singasari di Selat Sunda beberapa hari yang lalu.

    Kehadiran Raja Ragasuci yang akan mengikuti sayembara memperebutkan salah seorang putri Raja, telah membangkitkan semangat Bagus Kemuning.

    “Ragasuci harus memenangkan sayembara ini”, berkata Bagus Kemuning dalam hatinya berharap bahwa kelak lewat Ragasuci pandangan Baginda Raja dapat berubah.

    Sementara itu di Bandar Melayu beberapa petugas sandi Singasari telah merapatkan jung nya di dermaga. Hari itu sebuah lembaran baru dari sejarah besarpun telah mulai dipagelarkan.

    “Aku baru mengerti mengapa para pedagang Melayu tidak menyukai kehadiran Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya ketika menginjakkan kaki pertamanya di Tanah Melayu. Melihat beberapa jung asing merapat di Bandar Melayu.

    “Akupun baru menangkap pemikiran Sri Maharaja Singasari tentang sebuah kerajaan laut”, berkata Mahesa Amping.

    “Sebuah pemikiran yang baru”, berkata Lawe.

    “Raja di darat dan Raja di lautan, itulah raja sejati”, berkata Raden Wijaya

    “Kita telah memulainya dihari ini”, berkata Mahesa Amping.

    “Aku tidak paham perkataan kalian, yang kupahami bahwa perutku sudah berteriak kriuk-kriuk”, berkata Argalanang yang disambut tawa oleh semua kawannya.

    “Ternyata yang ada di pikiran orang Pantai pasir seputih tidak jauh dari perut”, berkata Lawe yang disambut tawa lebih keras lagi.

    “Justru dari perutlah keluar hal-hal besar”, berkata Argalanang tidak menerima dikatakan hanya paham sekitar perut.

    “Kamu benar, dari perut sering keluar hal-hal besar terutama lewat jalan belakang”, berkata Lawe yang disambut kembali dengan tawa.

    “Mari kita cari kedai yang terbaik di Bandar Melayu ini”, berkata Raden Wijaya yang berusaha menengahi terutama melihat wajah Argalanang yang nampak bersungut-sungut cemberut.

    • pagelaran sejarah besar telah dimulai………….

      • Kaaaaammmmmmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!!!

        langsung nyrobot.

  42. pagelaran ibadah akan segera bertambah , mak nyuuuus

  43. Sugeng Enjang,
    Matur nuwun Ki Dalang

  44. Sebagaimana Bandar besar lainnya, Bandar Melayu adalah sebuah persinggahan para pedagang dari berbagai suku bangsa yang sepertinya tidak pernah sepi sepanjang hari, di siang hari maupun di malam hari.

    Kerlap-kerlip lampu terlihat di perkampungan yang tumbuh ramai disepanjang Bandar serta cahaya oncor yang diletakkan disetiap persimpangan jalan menandai kehidupan malam di Bandar Melayu yang sepertinya tidak pernah tidur.

    Beberapa buruh nampak masih sibuk mengangkut barang memuat sebuah Jung besar milik pedagang dari Gujarat, mungkin besok pagi akan berangkat berlayar.
    Sebuah kedai yang juga menyediakan jasa penginapan masih terlihat ramai. Disitulah empat pemuda petugas sandi dari Singasari beristirahat setelah menempuh perjalanannya.

    “Siapapun yang akan memndukung majikanku, tidak usah membayar apapun di kedai ini”, berkata seorang yang berwajah hitam legam sambil berdiri. Didekatnya terlihat seorang pemuda yang duduk tenang seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang kepercayaannya.

    Seketika itu juga hampir semua yang ada di kedai itu mengangkat tangannya sebagai arti ikut mendukung, kecuali empat pemuda yang baru datang menunggu pesanannya.

    Melihat hanya empat pemuda itu saja yang tidak mengangkat tangannya, orang berwajah hitam legam itu menghampiri keempat pemuda itu.

    “Kenapa kalian tidak mengangkat tangan he ?”, berkata orang itu sambil bertolak pinggang.Tercium aroma arak dari mulutnya. Ternyata orang ini telah banyak menenggak arak dan menjadi mabuk berat.

    “Kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe mewakili kawan-kawannya.
    “kalian harus mendukung !!”, orang itu berteriak keras.

    “Kami belum mengenal majikanmu, bagaimana kami harus mendukung ?, berkata Lawe yang sudah terlihat tidak sabaran.

    “Ternyata kalian orang baru disini. Pasang telinga kalian, majikannku adalah putra Datuk Belang yang dihormati dari Sungai Kampar”, berkata orang itu.
    “Siapapun majikanmu, kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe yang sudah semakin panas hatinya.

    “Bila kalian tidak mendukung, artinya kalian telah meremehkan majikanku”, berkata orang itu sambil membelalakkan biji matanya begitu menyeramkan.

    “Bila kami tidak mendukung kamu mau apa he ?”, berkata Lawe sambil berdiri tidak gentar.
    “Kamu memang perlu diberi pelajaran”, berkata orang itu sambil melayangkan sebuah tamparan kearah wajah Lawe.

    Ternyata orang itu belum mengenal Lawe. Dikiranya Lawe hanya seorang anak kemarin sore yang dapat digertak hanya dengan sebuah tamparan.
    Lawe tidak segera bergerak, menunggu sampai tamparan itu meluncur mendekatinya. Maka ketika telapak tangan itu sudah hampir mengenai wajahnya, dengan titis Lawe memiringkan sedikit kepalanya. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu terhuyung kesamping menabrak tiang utama bangunan.

    Brakk !!

    Untungnya kayu itu terbuat dari bahan kayu besi yang kokoh. Akibatnya justru kepala orang itu yang seperti pening terhantam tiang kayu itu.
    Terkesima semua orang dikedai itu melihat hanya dalam satu gerakan ringan orang itu sudah terlempar terpelanting menabrak tiang kayu.

    “Bangkitlah bila kamu masih mampu berdiri. Dan pasang telingamu lebar-lebar. Aku putra Raja Belang yang terkenal dan paling ditakuti dari Pulau Madhura.
    Lawe rupanya hanya ingin mengambul dengan mengatakan dirinya putra Raja Belang dari Pulau Madhura. Lawe sendiri tidak mengerti bahwa “Belang” di Tanah Melayu diartikan sebagai Harimau.

    “Maafkan anak buahku yang terlalu banyak minum arak”, berkata seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri didekat Lawe.

    Terkesiap sejenak Lawe memandang mata anak muda yang begitu tajam. Juga raut wajah dari pemuda itu memang terlihat asing tidak seperti wajah orang pada umumnya yang punya lekukan diantara hidung dan bibir atas. Sementara anak muda ini sepertinya tidak punya “anakan” dibawah hidungnya.

    Anak muda itu ternyata dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Lawe, maka dengan tersenyum ramah anak muda itu menjura memberi hormat.

    “Terima kasih telah memberi sedikit pelajaran kepada anak buahku “, berkata anak muda itu yang terus melangkah mendekati anak buahnya yang masih duduk bersandar tiang kayu.

    • Selamat liburan kadang sedoyo….
      hiks….

  45. Selamat liburan ugi Ki Dalang.
    Monggo disekecakaken, liburanipun, taksih katah waosan dados mboten sisah ngoyo. Menjelang Ramadhan kagem tadarusan.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: