SFBDBS-03

SFBdBS-03-075

Hingga akhirnya di ujung hari ketiga, di ujung senja yang bening……………………., beberapa keluarga dan kerabat para prajurit muda melambaikan tangannya tanpa kata-kata.

Ratu Anggabhaya dan putranya Lembu Tal menatap panjang tanpa suara.

Hanya Sri Maharaja yang berbinar penuh kegembiraan melihat jung impiannya telah terwujud, dan hari itu perlahan-lahan bergerak merenggang menjauhi tepian menuju pelayaran perdananya.

“Selamat jalan wahai Putra Sangkala”, berkata Sri Maharaja lirih sambil menatap dan memandang Jung impiannya telah bergerak semakin menjauh.

Dan angsa raksasa itu telah terapung jauh meninggalkan tanah kelahirannya.

Seperti warna bening pemisah batas senja, suasana hati orang-orang yang ditinggalkan memang jauh berbeda dengan mereka yang akan pergi berlayar jauh. Suasana sendu penuh rindu menggayuti orang-orang yang tertinggal.

Sementara mereka yang akan berlayar jauh, hati dan pikirannya dipenuhi suasana kegembiraan yang berdegap-degup menyongsong petualangan masa depan kehidupan yang panjang.

Apapun suasana hati yang menggayuti saat itu, sangkala di ujung senja itu telah memisahkan mereka.

Jung terapung diatas aliran Sungai Brantas di bawah cahaya purnama yang masih bulat.

“Besok pagi kita sudah sampai di Bandar Carubhaya”, berkata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara di atas anjungan.

Angin malam berhembus dingin menyapu wajah. Dibawah lampu bahtera yang tergantung bergoyang Kebo Arema memandang keremangan malam di atas sungai Brantas. Wajahnya yang keras sepertinya tengah menikmati suasana kehidupannya sebagai nakhoda jung besar impiannya.

“Ada dua kebahagiaan yang selalu ditemui para pelaut”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wujaya yang juga tengah menikmati malam diatas anjungan.“Pertama di saat matahari terbit dan terbenam, kedua di saat jung merapat di daratan”, lanjut Kebo Arema.

“Aku sering mendengar, seorang pelaut tua pulang kekampung halamannya membawa kemiskinannya”, berkata Lawe.

“Benar, diwaktu muda mereka begitu kaya, membeli segala kesenangan tanpa menyisakannya”, berkata Mahesa Amping menambahkan.

“Begitulah para pelaut, harta adalah hutang yang harus dilunasi setelah kejemuan dan keterasingan di tengah lautan terbayar lunas di Bandar-bandar tempatnya berlabuh. Yang tersisa adalah kekayaan hati dan jiwa yang tidak pernah berkurang. Itulah kekayaan para pelaut sejati dalam pemahaman diri akan hidup dan kehidupan. Mereka telah menaklukkan rasa takut, mengenal rasa takut sebagaimana rasa asin air laut yang tidak akan menawarkan dahaga. Kekuatan bathin mereka adalah cuma sebuah keyakinan bahwa badai pasti akan berlalu, itulah kepercayaan mereka, kekayaan bathin yang dimiliki seorang pelaut sejati”, berkata Kebo Arema penuh semangat.

Bulan Purnama telah bergeser rebah di ujung barat, langit kelam dan dinginnya malam adalah selimut abadi para juru mudi yang terus bertahan berteman dengan kemudi ganda menjaga jung berada pada jalurnya.

Ketika warna langit mulai memerah, suara ayam jantan terdengar jauh bersautan dari hutan seberang. Bibir tepian Sungai Brantas semakin terlihat jelas. Cahaya pagi mulai menyapu bumi menaburkan perak diatas mulut sungai yang berwarna kehijauan, sebagai tanda batas sungai telah mendekati laut lepas.

Matahari pagi terus merayapi langit cakrawala yang berawan diujung tiang-tiang layar di Bandar Curabhaya.

Perlahan jung besar merayap mendekati dermaga.

“Jung Singasari!!!!”, berteriak orang-orang di dekat dermaga yang berdecak kagum melihat jung yang begitu megah dan sangat besar menurut ukuran jaman itu.

“Jung Singasari!!!”, kembali orang-orang berteriak sambil mendekati jung besar itu. Selama ini mereka hanya sebatas mendengar, jauh di Bandar Cangu tengah dibuat sebuah jung raksasa. Dan kali ini mereka menyaksikannya.

“Sebuah jung raksasa yang indah”, berkata seorang yang telah mendekati dermaga.

Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah turun di dermaga, seorang yang sudah cukup berumur menjura penuh hormat.

“Selamat datang di Curabhaya, sebuah kebanggaan Pangeran singgah di Bandar kami”, berkata orang itu yang ternyata seorang rakyan pelabuhan bernama Sura yang masih mengenal Pangeran Kertanegara ketika masih menjadi Perwira menengah di Kutaraja.

“Apakah aku berhadapan dengan Syah Bandar Curabhaya?”, berkata Pangeran Kertanegara sambil tersenyum.”Perut Paman Sura sudah semakin membuncit”, lanjutnya.

“Yang pasti sudah tidak bisa di jadikan mainan kuda-kudaan oleh anak nakal itu”, berkata Sura mengingatkan dirinya ketika di Kutaraja sering bermain bersama Kertanegara kecil yang nakal.

Syah Bandar Sura dengan gembira mengajak Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema ke rumahnya. Sebuah rumah yang cukup besar tidak jauh dari Bandar Curabhaya.

“Kulihat ada beberapa jung Malaka singgah di Bandar ini”, berkata Kebo Arema kepada Sura.

“Mereka menurunkan sutra dan keramik di Bandar ini dari Pamalayu”, berkata Sura.

“Kemana kalian akan membawa jung Singasari yang megah ini dipersinggahan terakhir?”, bertanya Sura.

“Dari Curabhaya ini kami akan menaikkan banyak rempah-rempah, singgah di Tanah Sunda menaikkan kapas dan cula badak, menaikkan emas dan perak di Tanah Salaka ujung nusa jawa. Di pamalayu kami akan menukar langsung barang kami kepada para pedagang Persi dan Cina”, berkata Kebo Arema

“Kalian akan menggunting keberadaan pedagang Pamalayu?”, bertanya Sura merasa khawatir hubungannya dengan beberapa saudagar dari Pamalayu akan terputus.

“Sudah saatnya Singasari menunjukkan dirinya, berhadapan dengan pembeli yang sebenarnya”, berkata Pangeran Kertanegara.

———-oOo———-

SFBdBS-03-076

“Kalau memang itu yang Pangeran inginkan, hamba siap membantu”, berkata Syahbandar Sura

Lewat Sura yang disegani di Bandar Curabhaya, Pangeran Kertanegara diperkenalkan dengan beberapa saudagar.

Hari itu terlihat beberapa orang buruh kasar tengah menaikkan rempah-rempah keatas jung. Keesokan harinya, terlihat jung Singasari yang megah telah merenggang meninggalkan Bandar Curabhaya.

“Kita akan singgah di Pragota”, berkata Kebo Arema menjelaskan tempat yang akan disinggahi.

“Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Sura tentang para pedagang dari Tanah Melayu”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Apakah Pangeran menjadi gentar?” bertanya Kebo Arema menatap Pangeran Kertanegara sepertinya ingin mengetahui isi hati Pangeran Kertanegara di lubuk hatinya paling dalam.

“Aku tidak gentar, cuma yang kupikirkan persinggungan yang bakal terjadi”, berkata Kertanegara

“Layar sudah kita kembangkan, pantang kita bersurut”, berkata Kebo Arema memberi semangat.

“Aku baru mengenal kehidupan di lautan, bukan cuma angin badai yang kita hadapi, tapi pengaruh para saudagar di setiap Bandar kadang dapat menggulingkan kita”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Didalam pelayaran kita akan menemui banyak kawan dan lawan, inilah kehidupan yang harus kita hadapi”, berkata Kebo Arema.

Matahari senja memancarkan cahayanya diatas Nusa Jawa mengawani Jung Singasari terus melaju dalam pelayaran perdananya menyinggahi Bandar-bandar besar sepanjang pantai utara Nusa Jawa.

Sebagaimana di Bandar Curabhaya, di setiap Bandar yang disinggahi semua orang berdecak kagum menatap jung besar dan megah begitu indah seperti jung yang hanya dimiliki para dewata dalam alam hayal mereka.

“Jung Singasari!!”, berkata seorang di dermaga memanggil kawan-kawannya melihat lebih dekat jung terbesar di jaman itu sedang merapat.

Bandar besar terdekat setelah Curabhaya yang disinggahi adalah Bandar Pragota, setelah itu jung Singasari ini melanjutkan pelayarannya ke Muara Jati, sebuah Bandar pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai bangsa. Syahbandar di Muara Jati menyambut mereka dengan begitu ramah dan memperkenalkan mereka dengan seorang Bangsawan Sunda yang langsung memesan perlengkapan pertanian dan berbagai senjata yang banyak dimana memang bahwa Kerajaan Singasari saat itu terkenal dengan keahliannya sebagai pembuat senjata dan alat pertanian yang baik.

“Kami perlu banyak senjata yang terbaik, tentunya buatan asli Singasari”, berkata Bangsawan Sunda itu.

Selanjutnya, Kebo Arema juga telah mengantar Jung Singasari ini masuk menyusuri Sungai Citarum sampai ke Muara Gembong Karawang.

“Inilah tempat pertama nenek moyang kita berlabuh di Nusa Jawa”, berkata Kebo Arema ketika menyusuri Sungai Citarum.

Ternyata, tidak semua orang menyukai kehadiran Jung Singasari. Sebagaimana yang dikatakan Kebo Arema, dalam pelayaran pasti akan menemui banyak kawan, dan juga lawan.

Jauh di tanah Melayu, beberapa bangsawan Melayu yang merasa tersaingi dengan kehadiran jung dari Singasari itu tengah memutar sebuah siasat.

“Gila nian!!, baru kali ini kulihat jung sebesar itu”, berkata seorang bangsawan yang pernah melihat jung Singasari ketika berada di Bandar Curabhaya.“Mereka dapat membawa barang lebih banyak dari yang kita bawa”.

“Kita harus dapat menjegal mereka sebelum menyeberang ke Bumi Melayu”, berkata seorang yang lainnya.

Ketika persekongkolan para Bangsawan Melayu untuk menjegal saingan baru mereka, jung Singasari telah sampai di ujung Nusa Jawa sekitar daerah Rakata. Mereka singgah di sebuah Bandar kecil yang tidak begitu ramai. Ternyata Kebo Arema bukan Cuma pandai membaca bintang, penciuman dagangnya juga dapat diandalkan.

“Disinilah tempat asal pembuatan perak yang terkenal, perak asli dari Salaka”, berkata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara menjelaskan mengapa harus singgah di Bandar ujung nusa jawa ini.

Mereka pun singgah di Tanah Rakata. Ternyata bukan hanya perak yang mereka dapatkan dengan harga yang menguntungkan, tapi mereka juga mendapatkan lada dengan mutu terbaik.Bahkan yang tidak disangka-sangka, disini juga banyak didapat cula badak dengan harga yang begitu murah.

“Mengapa jarang sekali para pedagang berlayar sampai di Bandar ini?”, bertanya Pangeran Kertanegara merasa penasaran dengan keadaan Bandar yang sepi.

“Inilah keuntungan kita, para pelaut enggan berlayar sampai kesini karena beranggapan disinilah tempat para jin dan dedemit mendirikan kerajaannya”, berkata Kebo Arema sambil tersenyum.”Anggapan itu memang beralasan, badai di sekitar selat sunda ini memang datang seperti hantu, datang seketika tanpa mengenal musim dan tidak dapat dibaca”.

“Dengan cara apa kita menghadapi hantu itu?”, bertanya Pangeran Kertanegara

“Lewat jalan rahasia, sedikit pelaut yang mengetahui tentang jalan rahasia itu”, berkata Kebo Arema.

———-oOo———-

SFBdBS-03-077

Matahari senja telah kembali datang. Jung raksasa bertiang layar tujuh itu pun telah mengangkat sauhnya bersiap meninggalkan dermaga.

Wajah bulan sabit bercahaya buram bersembunyi di balik awan diatas Selat Sunda diujung malam ketika Jung milik Dewata seperti yang terlukis di Candi Beduhur itu dibawa angin menyeberangi mendekati Bumi Melayu.

Mereka memang tidak menemui hantu yang mengganggu, dikeremangan malam itu mereka melihat dua buah jung terlihat semakin mendekat.

“Bersiaplah, mungkin yang kita hadapi adalah para perompak”, berkata Kebo Arema kepada para prajurit yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Kebo Arema telah membuat tanda dengan bahasa lentera, tapi tidak ada jawaban dari dua buah jung yang terus mendekati, bahkan terlihat mereka telah mematikan lenteranya, yakinlah Kebo Arema bahwa mereka akan berbuat suatu kejahatan.

“Matikan semua lentera”, berteriak Kebo Arema ketika melihat dua buah jung didepannya telah mematikan lenteranya.

Para prajurit telah siaga di sepanjang pagar geladag. Mahesa Amping ada di kanan geladak, Raden Wijaya terlihat di kiri geladag. Sementara Lawe menjaga bagian buritan.

Di keremangan malam dua buah jung terlihat telah mengapit rapat jung dari Singasari.

“Jangan biarkan mereka masuk, pertahankan kedudukan kalian”, berkata Kebo Arema dari Anjungan. Jung musuh telah semakin merapat, mengunci jung dari Singasari dengan tali temali.

Berhamburan orang-orang asing itu melompat ke geladag. Dan terjadilah pertempuran yang mencekam di keremangan malam di Selat Sunda itu.

Untungnya para prajurit muda ini telah sering berlatih di atas geladag. Dipertempuran yang sesungguhnya ini mereka telah menunjukkan segala kemampuannya. Terlihat beberapa orang dari pihak musuh yang langsung terjungkal kedasar laut sebelum mampu menginjakkan kakinya di geladak. Namun beberapa orang yang terlihat berkemampuan tinggi berhasil melompat setelah melukai prajurit yang menjaganya.

Tapi semua tidak lepas dari perhatian Mahesa Amping yang bertanggung jawab di kanan Geladak.

“Gantikan tempatku”, berkata Mahesa Amping kepada seorang prajurit di dekatnya dan langsung menghadang musuh yang terlihat berkemampuan tinggi.

“Akulah lawanmu”, berkata Mahesa Amping sambil menangkis sebuah sabetan yang hampir saja menebas leher seorang prajurit.

“Punya nyali juga kau”, berkata orang itu kaget merasakan tangannya bergetar.

Tanpa kata-kata peringatan, orang itu langsung membabat perut Mahesa Amping dengan pedangnya.

Mahesa Amping hanya kerkelit sedikit, membiarkan pedang lawan lewat di hadapannya. Dan diluar perhitungan lawannya, Mahesa Amping dengan kecepatan yang tak terlihat tiba-tiba saja telah menjepit pedang lawannya dengan hanya dua jari tangannya.

Dengan sebuah hentakan pedang lawan itu ditariknya ke depan. Bukan main !! tenaga tarikan itu tidak bisa ditahan oleh orang itu, daya tarikan itu seperti berasal dari tenaga sepuluh ekor banteng, terlihat orang itu seperti layangan ringan ditarik sorong kedepan. Dan tiba-tiba saja sebuah tendangan dirasakan menghantam pinggangnya seperti terhantam batu bongkahan besar, orang itu telah jatuh rebah tak bergerak lagi.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Raden Wijaya dan Lawe, mereka tidak bermain-main lagi, tapi berusaha secepatnya merobohkan lawan dan langsung membantu para prajurit membereskan setiap lawan yang berhasil masuk ke geladag.

Tapi para penyerang masih terus menerjang masuk membanjiri geladag. Melihat hal ini, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dua orang murid Empu Dangka seperti terbang diatas pagar geladag langsung menyapu bersih siapapun musuh yang berusaha masuk menerobos.

“Mengambil madu membelah sarang”, berkata Pangeran Kertanegara kepada Kebo Arema sambil melompat ke jung lawan yang ada di sebelah bahu kanan geladag.
Kebo Arema mengerti apa yang diinginkan Pangeran Kertanegara, ia pun telah melompat ke jung lawan yang ada di sebelah bahu geladag.

Tidak ayal lagi, puluhan orang terlempar terkena pukulan dan tendangan Pengeran Kertanegara. Kehadiran Pangeran Kertanegara juga telah menghentikan aliran gelombang musuh ke bahu kanan geladag.

Sebagaimana Pangeran Kertanegara, Kebo Arema seperti bola api ditengah lebah hitam. Siapapun yang mendekat akan terlempar jatuh tak mampu bergerak lagi.

“Terima kasih”, berkata Bhaya kepada Raden Wijaya yang telah menyelamatkan dirinya dari seorang musuh yang akan menyerangnya dari arah belakang.

“Jangan keluar dari kelompok”, berkata Raden Wijaya mengingatkan Bhaya yang terlalu semangat keluar dari kelompoknya.

“Aku akan mengingatnya”, berkata Bhaya yang kembali membantu kekelompoknya.

Sedikit demi sedikit jumlah pihak penyerang sudah semakin menyusut. Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah membuat musuh kocar-kacir di jungnya sendiri. Sementara musuh yang sudah terlanjur berada di atas geladag langsung terserap oleh kepungan para prajurit muda yang baru pertama kali bertempur dengan musuh sungguhan.

———-oOo———-

SFBdBS-03-078

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya memang sudah dapat dipercaya, menjaga dan mengingatkan para prajurit untuk tetap berada dalam kelompoknya, melakukan penyerangan secara berkelompok saling membantu.

Para penyerang yang ada di geladag benar-benar menghadapi serangan yang rapi dan tersusun rapat. Mereka tidak mampu memecahkan barisan para prajurit Singasari yang sudah sering dilatih menghadapi serangan di lautan. Para penyerang sepertinya digiring untuk terpencar perseorangan masuk terkunci dalam sergapan.

Lambat tapi pasti jumlah para penyerang sudah semakin menyusut.
Terlihat Lawe telah merobohkan seorang penyerang terakhir di Buritan.

“Menyerahlah!!”, berkata Mahesa Amping di geladag kanan kepada pihak lawan yang tinggal sepuluh orang.

“Kami menyerah”, berkata seorang dari sepuluh orang yang sudah terkepung rapat.

Sementara di geladak kiri, tujuh orang musuh tanpa kata-kata telah melempar senjatanya.

“Tahan serangan!!”, berteriak Raden Wijaya mengingatkan para prajurit untuk tidak membantai tujuh orang yang sudah melemparkan senjatanya tanda menyerah.

Para penyerang di atas geladag sudah dapat dikuasai, mereka telah dikumpulkan dan diikat.

Sementara itu di jung lawan, Pangeran Kertanegara bermaksud untuk segera menghentikan pertempuran tanpa menimbulkan banyak korban, maka dengan kekuatan yang ada didalam dirinya, Pangeran Kertanegara telah mampu menghadirkan kabut putih. Dua puluh orang musuh yang tersisa telah terperangkap kabut putih yang tebal. Mereka bukan saja tidak dapat melihat, tapi tubuh mereka telah menggigil kedinginan. Kabut itu ternyata mengandung hawa dingin yang luar biasa. Mebihi dinginnya es menusuk kulit mereka.

“Menyerahlah, aku akan menghentikan penderitaan kalian”, berkata Pangeran Kertanegara.

Apa yang di lakukan oleh Kebo Arema diatas jung lawan?

Tidak seperti Pangeran Kertanegara yang menundukkan lawannya dengan kabut putihnya, Kebo Arema telah menundukkan lawannya dengan cara yang berbeda. Lima belas orang yang tersisa yang tengah mengepung Kebo Arema benar-benar dibuat bingung. Dengan kecepatan yang luar biasa, hanya dalam hitungan detik, entah setan apa yang memindahkan, pedang para pengepung telah berpindah tangan.

“Aku dengan mudah memindahkan pedang kalian, dengan mudah pula membunuh kalian”, berkata Kebo Arema sambil mengangkat lima belas pedang tinggi-tinggi.

“Tuan telah berlaku murah hati, kami menyerah”, berkata seseorang yang membayangkan bahwa Kebo Arema dapat melakukan lebih dari itu untuk selembar nyawanya. Yang juga diikuti oleh teman-temannya, menyerah tanpa perlawanan lagi.

———-oOo———-

SFBdBS-03-079

Hari masih menyisakan malam. Tiga buah jung terlihat diatas laut malam bergelombang laju dalam layar penuh terkembang ditiup angin kencang.

Disaat pagi menjelang, tiga jung itu telah sampai di pantai Pasir Seputih.

Jung tidak dapat mendarat sampai ke pantai. Pangeran Kertanegara dan beberapa orang telah terlihat diatas jukung kecil mendekati pantai. Sebuah kelompok besar menyongsong kedatangan mereka.

“Siapakah penguasa disini agar kami dapat datang menghadap”, berkata Pangeran Kertanegara kepada sekumpulan orang yang datang menyongsong mereka.

“Aku Minak Gajah, penguasa tanah ini. Kisanak dapat bicara denganku”, berkata seorang yang terlihat paling tua tapi masih terlihat gagah. Matanya bening dan tajam, tanda telah menguasai kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

“Kami datang dari Bumi Singasari, di selat Sunda Jung kami diserang oleh orang-orang yang semula kami kira para perompak. Ternyata mereka para prajurit dari Kerajaan Tanah Melayu”, berkata Pangeran Kertanegara.”Kami telah menawan beberapa orang yang masih hidup, juga dua buah jung mereka”.

“Hanya orang-orang gagah saja yang dapat mengalahkan para prajurit Tanah Melayu”, berkata Minak Gajah kagum mendengar cerita Pangeran Kertanegara.

“Kami hanya membela diri”, berkata Pangeran Kertanegara merendahkan dirinya.

“Mereka juga sering datang membuat kekacauan di tempat ini”, berkata Minak Gajah bercerita bahwa ia dan keluarganya sebenarnya berasal dari Palembang sebagai keturunan bangsawan Sriwijaya yang mengungsi karena terus diburu oleh para prajurit dari Tanah Melayu. “Mereka takut Sriwijaya bangkit kembali, dan terus menumpas keluarga dan keturunan bangsawan Sriwijaya”, berkata Minak Gajah melanjutkan.

Akhirnya Minak Gajah mengajak rombongan Pangeran Kertanegara singgah di rumahnya yang tidak jauh dari pantai pasir seputih.

Matahari sudah terlihat merayapi cakrawala menghangati suasana pagi perkampungan pinggir pantai itu. Dan Minak Gajah telah menunjukkan keramahan seorang tuan rumah yang baik. Rombongan Pangeran Kertanegara telah dijamu dengan hidangan yang memuaskan.Banyak sekali yang ditanyakan oleh Minak Gajah, terutama Jung yang besar dan megah yang baru pertama kali dilihatnya.

Karena keramahan Minak Gajah, akhirnya Pangeran Kertanegara membuka jati dirinya sebagai Putra Mahkota Singasari yang tengah melakukan pelayaran percobaan.

“Sebenarnya kami akan mencoba berlayar sampai Tanah Melayu, tapi melihat gelagat yang kurang baik dari para penguasa di Tanah Melayu, mungkin pelayaran kami Cuma sampai di Bandar Sebukit”, berkata Pangeran Kertanegra menjelaskan tujuan pelayaran mereka.

———-oOo———-

SFBdBS-03-080

“Kami juga akan membuat sebuah perhitungan dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kami”, berkata pangeran Kertanegara menyatakan sikapnya atas sikap para penguasa Tanah Melayu.

“Sebaiknya Pangeran tidak datang ke Bandar Sebukit, kekuasaan Tanah Melayu sudah sampai ke Sebukit”, berkata Minak Gajah memberi saran agar tidak melanjutkan pelayarannya ke Bandar Sebukit.

“Aku sependapat, bukan berarti kita gentar menghadapi mereka”, berkata Kebo Arema memberikan pendapatnya untuk tidak melanjutkan pelayaran sampai ke Sebukit. “sebagai gantinya, cukup menerjunkan petugas sandi yang akan melanjutkan pelayaran kita sampai ke Tanah Melayu”, berkata Kebo Arema melanjutkan.

“Siapa orang kita yang dapat melakukan tugas sandi itu?”, bertanya Pangeran Kertanegara

“Siapa lagi kalau bukan tiga orang begundal tengik yang pernah bertugas di Tanah Gelang-gelang”, berkata Kebo Arema sambil melirik kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

“Kami dapat meminjamkan jung layar dan seorang pemandu”, berkata Minak Gajah.

Demikianlah antara Pangeran dan Minak Gajah telah mengikat persahabatan untuk saling membantu terutama dalam hal rencana besar membuat perhitungan dengan penguasa di Tanah Melayu.
Sementara itu, sesuai adat di jaman itu. Siapapun yang kalah perang akan menerima nasib yang paling hina sebagai budak belian. Itulah yang berlaku pada nasib para prajurit Tanah Melayu yang telah kalah menyerah dan menjadi tawanan. Tapi Pangeran Kertanegara tidak mengambil haknya.

“Hari ini kalian telah kulepaskan, tidak jadi budak belian dan juga bukan tawanan. Kembalilah ke tempat asal kalian”, berkata Pangeran Kertanegara membuat para tawanan menjadi bingung apa yang harus mereka katakan.

“Ampun tuanku, berpulang sebagai prajurit yang kalah perang, bagi kami adalah lebih hina dari seorang budak belian yang hina sekalipun. Ijinkanlah kami menetap di Pasir Seputih ini”, berkata salah seorang tawanan mewakili kawan-kawannya.

Pangeran Kertanegara memandang kepada Menak Gajah, meminta pertimbangannya.

“Begitulah adat kami orang Melayu, pantang pulang dengan wajah tercoreng. Kami tidak berkeberatan mereka memilih tinggal bersama di Tanah Pasir Seputih ini”, berkata Minak Gajah.

“Baiklah kalau begitu, mulai hari ini kuserahkan diri kalian kepada Minak Gajah. Junjunglah langit diatas bumi yang kau pijak”, berkata Pangeran Kertanegara kepada para prajurit Tanah Melayu yang telah dibebaskan itu.

“Budi Tuanku setinggi gunung, jiwa Tuanku seluas lautan”, berkata salah seorang prajurit Tanah Melayu menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga kepada Pangeran Kertanegara.

Dilepas senja, Rombongan Pangeran Kertanegara telah meninggalkan Pantai Pasir Seputih kembali ke kampung halamannya di Bumi Singasari.

———-oOo———-

SFBdBS-03-081

Keesokan harinya di senja yang bening, terlihat Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe telah meninggalkan Pantai Pasir Seputih bersama sebuah jung layar dan seorang pemandu yang umurnya masih seusia dengan mereka dan memperkenalkan dirinya bernama Argalanang yang masih kemenakan dari Minak Gajah.

Layar jung telah dikembangkan, angin laut telah membawanya mengarungi tepian pantai daratan yang panjang. Dibawah sinar rembulan malam dan jutaan bintang di langit kelam jung terus laju menggunting laut Selat Malaka yang dalam.

“Kita menepi sejenak di kampung terapung”, berkata Argalanang ketika jung mereka telah menepi di dermaga sebuah muara yang besar yang mengingatkan pada muara Porong yang indah.

Suasana pagi di kampung terapung terlihat begitu indah dalam warna sinar matahari pagi yang bersinar bersembul dari balik sebuah bukit.

Kampung terapung yang di katakan oleh Argalanang adalah sebuah perkampungan rumah-rumah nelayan yang berdiri diatas papan-papan kayu hitam. Penduduknya pada umumnya adalah para nelayan yang berasal dari Tanah Bugis.

Empat pemuda terlihat menyusuri gang demi gang seperti dermaga panjang yang sengaja dibuat untuk para pejalan kaki. Argalanang berjalan di muka, sepertinya telah banyak mengenal daerah pemukiman nelayan ini.

“Pasar terapung”, berkata Argalanang menunjuk kesebuah kumpulan jung kecil yang banyak bersandar. Sebuah pemandangan yang unik dalam pikiran Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya sebagai orang asli dari Nusa Jawa. Mereka melihat baik pembeli maupun pedagang berada dalam jung kecil diatas sungai. Sebagaimana pasar biasa, di pasar terapung ini juga tersedia berbagai kebutuhan, mulai dari sayur mayur, buah segar dan juga gerabah.

Argalanang melambaikan tangannya kepada seorang diatas sebuah jung, yang ternyata adalah sebuah kedai terapung.

“Nasi kapau dan iwak kakap bumbu kuning asem belimbing, empat”, berkata Argalanang kepada seorang pedagang diatas jung kecilnya.

Nikmatnya menyantap hidangan diatas dermaga sambil memandang kesibukan para ibu muda berbelanja di pasar terapung di bawah matahari pagi yang baru terbangun di timur cakrawala mengintip malu.

“Jangan sekali-kali memberi senyum apalagi menyapa para gadis di Tanah melayu ini”, berkata Argalanang yang telah menyelesaikan makanan dan minumannya.

“Kenapa harus begitu ?”, bertanya Lawe merasa baru mendengar ada adat seperti itu.

“Sebuah senyum dan sapaan dianggap sebuah lamaran”, berkata Argalanang menjelaskan. Si gadis yang kau sapa akan pulang mengabarkan kepada orang tuanya bahwa dijalan ada seorang pemuda yang telah memberi sebuah tanda lamaran”, Argalanang melanjutkan penjelasannya.

“Sebuah senyum dan sapa diartikan sebuah tanda lamaran?”, ikut bertanya Mahesa Amping.

“Begitulah, ayah si gadis akan datang menemuimu meminta untuk melamar secara resmi”, berkata Argalanang.

“Bila kita menolaknya ?”, bertanya Raden Wijaya

“Ayah si gadis akan memintamu membayar sebuah denda seharga seekor domba besar”, berkata Argalanang.

“Sebuah denda yang mahal, hanya karena memberi senyum kepada seorang gadis”, berkata Lawe sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ketika matahari sudah semakin merayap keatas cakrawala, mereka telah berada diatas jung kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Bandar Sebukit.

Matahari dan langit pagi memencarkan air sungai Musi berwarna kuning perak. Sungai Musi memang sebuah sungai yang besar dan panjang. Jung berlayar menyusuri Sungai Musi yang luas. Kadang mereka berpapasan dengan jung besar milik para pedagang yang akan menuju laut lepas.

“Bandar Sebukit sudah terlihat”, berkata Argalanang menenjuk sebuah daratan yang banyak jung besar tengah bersandar.

“Lebih ramai dari Bandar Cangu”, berkata Raden Wijaya melihat begitu banyak jung besar yang merapat.

“Jung bertiang layar lima itu adalah milik para pedagang dari Persia”, berkata Argalanang yang nampaknya banyak mengenal asal sebuah jung besar hanya dengan melihat bentuk dan banyaknya tiang layar.

“Yang bertiang tiga itu berasal dari Gujarat”, berkata kembali Argalanang sambil menunjuk sebuah jung bertiang tiga.

“Masih kalah besar dengan Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya yang teringat pada Jung kebanggaannya yang juga disebut sebagai Jung Bukit Beduhur oleh orang-orang dari Bandar Pragota.

Jung mereka telah disandarkan di sebuah dermaga yang sepi. Matahari telah berdiri di puncaknya ketika mereka berjalan mendekati sebuah kedai yang nampaknya paling ramai dikunjungi.

Mereka memilih meja di sebelah sudut di dalam kedai. Memesan beberapa hidangan kepada seorang pelayan tua yang datang mendekati mereka.

“Tolong bawakan segera minumannya, kami sangat haus”, berkata Argalanang kepada Pelayan tua itu.

“Wedang jahe hangat, Paman”, berkata Lawe memesan minumannya.

“Disini tidak ada wedang jahe, bagaimana dengan Liang teh hangat?”, bertanya Pelayan tua.

“Liang teh hangat dengan gula aren terpisah”, berkata Argalanang buru-buru menyela agar tidak menarik perhatian pengunjung lain yang ada di dekatnya.

———-oOo———-

SFBdBS-03-082

Setelah beristirahat sejenak di kedai, mereka pun melihat-lihat keadaan kota Sriwijaya untuk sebagai bahan laporan tugas mereka sebagai petugas delik sandi.

Menyusuri kota tua Sriwijaya yang ramai memang sangat menyenangkan. Hilir mudik pedati di jalan membawa aneka barang milik para saudagar. Di jalan juga sepertinya sudah terbiasa melihat para orang asing dari berbagai bangsa berlalu lalang. Rumah-rumah besar dengan pilar ukiran kayu jati berpagar dinding batu berderet sepanjang jalan yang tertata rapi.

Tanah Sriwijaya sudah lama tak bertuan, tapi para warganya sepertinya tidak memperdulikannya. Siapapun penguasanya, yang penting mereka dalam keadaan tetap damai, dalam bertani, berdagang dan kehidupan lainnya.

Tanah Sriwijaya pada saat ada dalam pengendalian para penguasa dari Tanah Melayu. Tapi siapa yang peduli??

Begitulah suasana yang ditangkap oleh Raden Wijaya, Lawe, Mahesa Amping dan Argalanang ketika mereka menyusuri kota tua Sriwijaya.

Merekapun kembali ke Bandar Sebukit, melihat berbagai barang diangkut naik ke jung besar milik para saudagar dari berbagai bangsa. Merekapun melihat diantara berbagai barang yang keluar masuk lewat Bandar Sebukit yang ramai itu adalah lada hitam. Mereka mendapat keterangan bahwa lada hitam adalah lada yang paling diminati oleh para pedagang asing karena merupakan lada yang terbaik. Lada hitam ini dibawa oleh para pedagang setempat dari pedalaman sungai Kampar. Sebuah tempat yang jauh.

“Jung bangsawan Sunda”, berkata Argalanang menunjuk sebuah jung yang elok dengan banyak umbul-umbul berwarna kuning bergambar kepala harimau.

Ternyata Argalanang memang telah banyak mengenal berbagi jenis jung.

Jung elok itu memang milik bangsawan Sunda. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dihormati di bumi Pasundan yang tidak lain adalah Raja Ragasuci penguasa Saunggalah putra Raja Darmasiksa yang telah mengasingkan dirinya bertapa di Gunung Galunggung sebagai seorang Resi Guru yang sakti.

Raja Ragasuci sendiri terbilang masih Paman Raden Wijaya dari garis ibunya yang berdarah sunda. Ibunda Raden Wijaya dan Raja Ragasuci sebagai saudara lain ibu. Raja Ragasuci mempunyai seorang ibu berdarah campuran bangsawan Sriwijaya dan Melayu.

Kehadiran Ragasuci di kota Sriwijaya adalah sebuah kunjungan ke tanah leluhur ibundanya. Masih ada pamannya di kota Sriwijaya, kakak kandung dari ibundanya bernama Bagus Kemuning, seorang bangsawan yang sangat disegani dan begitu berpengaruh.

“Ternyata kamu berminat menyunting seorang putri dari Tanah Melayu?”, bertanya Bagus Kemuning kepada kemenakannya Raja Ragasuci yang datang menemuinya di rumahnya.

“Begitulah Paman, mudah-mudahan aku dapat memenangkan sayembara itu”, berkata Raja Ragasuci.

Pada saat itu memang di Tanah Melayu akan diadakan sebuah sayembara besar memperebutkan seorang putri Raja Melayu yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

Namun yang dapat mengikuti hanya dari kalangan yang berdarah bangsawan dari berbagai nagari. Salah satunya adalah Raja Ragasuci sendiri.

Berita sayembara itu akan dilaksanakan pada hari purnama pekan depan telah didengar pula oleh Raden Wijaya dan kawan-kawannya yang tengah melaksanakan tugas sandi.

“Besok kita berangkat ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang.

Demikianlah, pada hari itu mereka mencari rumah penginapan disekitar Bandar Sebukit.

Malam telah menyelimuti Bandar Sebukit yang telah lelah setelah seharian ditingkahi kesibukan dan kepenatannya. Udara dingin di luar rumah menjadikan jalan-jalan menjadi begitu sepi dan lengang.

Mahesa Amping belum tidur di kamar penginapannya. Pendengarannya yang tajam telah mendengar pembicaraan di kamar sebelah yang terpisah oleh dinding yang terbuat dari bilik kayu. Sebuah pembicaraan yang begitu menarik perhatiannya.

“Apa susahnya menghancurkan jung Singasari itu”, berkata sesorang terdengar dari bilik kamar Mahesa Amping yang telah mempertajam pendengarannya.

“Tetapi sampai hari ini mereka masih belum kembali”, berkata suara yang lain.

“Apa yang akan kita laporkan kepada Tuanku Bagus Kemuning?”, berkata suara orang yang pertama.

“Tunggu sampai besok, baru kita dapat menghadap”, berkata suara yang lain.

“Yang kutakutkan, mereka tidak singgah ke Sebukit tapi langsung pulang ke Tanah Melayu”, berkata orang yang pertama.

“Apa yang kamu takutkan ?”, bertanya suara orang kedua.

“Kamu ini benar-benar tukul!, berkata orang pertama. “Tuanku Bagus Kemuning telah berpesan bahwa tugas ini jangan sampai didengar Baginda Raja”, berkata orang pertama melanjutkan.

“Kamu benar, tapi aku bukan tukul”, berkata orang kedua terdengar oleh Mahesa Amping dengan kepekaan pendengarannya yang tajam terdengar membanting badannya ke pembaringan.

Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi. Yang terdengar adalah lenguh dengkur napas mereka yang saling bersahutan. Dengan pendengarannya yang tajam Mahesa Amping sudah menduga bahwa mereka sudah jauh terlelap tidur.

Tiba-tiba saja pendengaran Mahesa Amping mendengar suara yang mencurigakan berasal dari atap rumah. Segera Mahesa Amping membangunkan Raden Wijaya yang sekamar dengannya. Ketika dilihatnya Raden Wijaya telah terbangun, Mahesa Amping segera keluar kamar langsung melenting ke atap rumah. Sesosok bayangan masih sempat dilihatnya telah berkelebat menghilang di kegelapan malam.

Mahesa Amping kembali masuk kekamarnya, mencoba menempelkan telinganya di dinding untuk mendengar apa yang telah terjadi di kamar sebelah. Suara dengkur sudah tidak terdengar lagi, bahkan lenguh desah halus napas sekalipun.

“Apa yang telah terjadi?”, bertanya Raden Wijaya yang belum dapat mengerti apa yang tengah terjadi.

Mahesa Amping menjelaskan kepada Raden Wijaya mulai dari apa yang dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan orang di sebelah kamar dan terakhir suara mencurigakan diatas atap rumah.

“Aku merasa orang di sebelah sudah tidak bernyawa”, berkata Mahesa Amping yang percaya sekali dengan kepekaan pendengarannya.

“Kita lihat apa yang terjadi”, berkata Raden Wijaya. Mereka berdua telah keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar sebelah.

Pintu kamar itu ternyata tidak diselarak dari dalam. Ketika pintu terbuka, terkejut Mahesa Amping dan Raden Wijaya melihat apa yang ada didepan matanya.

“Mereka berdua sudah mati”, berkata Mahesa Amping melihat dua orang tergeletak di pembaringannya dalam keadaan tidak bergerak. Seluruh tubuhnya terlihat berwarna hijau.

“Racun ikan buntal!!”, berkata Raden Wijaya sambil menunjuk dua buah duri kecil menancap di leher kedua orang yang terbaring tak bernyawa itu.

“Dari mana Raden mengetahui bahwa mereka terkena racun ikan buntal?”, bertanya Mahesa Amping yang merasa heran Raden Wijaya telah memastikan bahwa kedua orang itu terkena racun ikan buntal yang pernah didengarnya memang mempunyai daya racun yang amat kuat.

Raden Wijaya mengeluarkan sebuah bubu bambu kecil dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati mengeluarkan sebuah duri kecil dari dalam bubu bambu kecil itu.

“Sebuah duri yang sama yang telah menghabisi nyawa ibundaku”, berkata Raden Wijaya sambil mencabut sebuah duri yang ada dileher salah satu mayat.

———-oOo———-

SFBdBS-03-083

Lamunan Raden Wijaya melayang jauh ke belakang, di suatu malam menjelang keberangkatannya bersama Mahesa Murti menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta

“Diujung duri ikan buntal ini nyawa ibundamu berakhir. Bawalah bersamamu, sampai saat ini ayahmu belum dapat mengungkap dibalik kematian ibundamu”, berkata Lembu Tal kepada Raden Wijaya.

Dimanapun Raden Wijaya berada, bubu bambu kecil itu selalu menyertainya.

“Hari ini pintu rahasia lorong teka-teki keluargaku mulai terkuak, aku akan terus menyusurinya”, berkata Raden Wijaya sambil memasukkan kembali duri ikan buntalnya.

Mahesa Amping yang pernah diceritakan mengenai hal itu oleh Raden Wijaya memahami apa yang dirasakan Raden Wijaya saat itu.

“Hanya mereka yang telah mempunyai kemampuan tinggi yang dapat melempar duri kecil itu tepat menembus sasaran”, berkata Mahesa Amping.

Akhirnya mereka segera menyelinap keluar dari kamar naas itu kembali kekamarnya.

Dan sang waktu perlahan terus menyusut perjalanan malam. Membungkus rahasia kegelapan sampai akhirnya datang sang pagi yang bening berwajah lugu menangkap kehangatan matahari yang bersinar diujung tepi cakrawala.

Diawali suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan. Bandar Sebukit telah terbangun kembali dalam ke hiruk pikukan pagi di antara coloteh para buruh angkut barang yang mengais rejeki mengangkat barang diatas bahunya satu persatu.

Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah memasuki sebuah kedai yang sudah buka di pagi itu menjual makanan dan minuman hangat untuk sarapan pagi.

Ketika mereka masuk, sudah ada beberapa orang pengunjung. Mereka pun mencari tempat yang kosong.

Dengan perlahan, agar tidak didengar orang lain, Raden Wijaya menceritakan kejadian semalam kepada Lawe dan Argalanang termasuk teka-teki rahasia keluarganya.

“Apakah ayahmu pernah bercerita tentang orang yang bernama Bagus Kemuning?”, bertanya Lawe kepada raden Wijaya.

“Belum”, berkata Raden Wijaya datar sambil menggelengkan kepalanya.

“Kita harus mencari tahu banyak hal tentang orang itu”, berkata Argalanang

Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk menunda keberangkatan mereka di pagi itu. Mereka sepakat untuk menyelidiki siapa sebenarnya pemilik nama Bagus Kemuning itu.

Akhirnya, dengan hati-hati mereka bertanya dengan orang-orang di sekitar Bandar Sebukit dan kota Sriwijaya. Ternyata mereka mendapatkannya dengan mudah. Hampir semua orang di kota Sriwijaya itu mengenal Bagus Kemuning sebagai orang yang sangat disegani dan berpengaruh di Bumi Sriwijaya.

Matahari sudah naik ke puncaknya. Seorang tukang buah duku terlihat tengah berteduh dibawah sebuah pohon ambon yang rindang di depan pagar rumah Bagus Kemuning.

“Rancak nian rejekimu wahai tukang buah”, berkata seorang yang berpakaian sederhana keluar dari regol rumah Bagus Kemuning menghampiri tukang buah yang tengah berteduh. Nampaknya seorang pelayan di rumah itu.

“Seharian ini belum ada kutemui seorang pun pembeli, apanya yang rancak”, berkata tukang buah itu yang ternyata Argalanang yang tengah menyamar.

“Buahmu kubeli semuanya”, berkata orang itu.

“Apakah aku tidak salah dengar?, biasanya orang membeli segantal dua gantal”, berkata Argalanang.

“Tuanku telah kedatangan banyak tamu, tolong antar sekalian kedalam”, berkata orang itu.

Argalanang berjalan mengikuti pelayan itu masuk kerumah Bagus Kemuning. Diatas pendapa dilihat banyak orang tengah berbincang-bincang. Dari pakaiannya, Argalanang dapat mencirikan setiap orang yang ada di atas pendapa itu. Seorang berpakaian adat Melayu pastilah tuan rumah yang bernama Bagus Kemuning. Sementara yang lainnya berpakaian sebagaimana para pembesar dari Tanah Sunda. “Ternyata orang-orang dari Tanah Pasundan yang bertamu”, berkata Argalanang dalam hati setelah sekilas menyapu dengan pandangannya orang-orang yang ada di atas pendapa.

“Tamu tuanmu orang-orang pasundan?”, Argalanang berkata sambil menuang dukunya ke bakul yang disediakan sebagai tempat buah dukunya.

“Bukan orang Pasundan sembarangan, tapi Raja dari Tanah Sunda”, berkata pelayan itu sepertinya membanggakan dirinya telah kedatangan tamu seorang raja meski sebenarnya bukan tamunya, tapi tamu tuannya.

“Seorang Raja dari Tanah Sunda?”, berkata Argalanang merasa gembira menemukan warta baru. Tapi di hadapan pelayan itu Argalanang pura-pura terkejut.

“Yang benar Raja Saunggalah yang terkenal bernama Raja Ragasuci”, berkata pelayan itu yang masih membanggakan dirinya.

“Apakah tuanmu itu masih kerabat dengan Raja Ragasuci?”, bertanya kembali Argalanang

“Raja itu masih kemenakan tuanku”, berkata pelayan itu

“Betapa membanggakannya dapat langsung melayani seorang Raja”, berkata Argalanang mengompori pelayan itu yang ia tahu tengah merasa bangga.

“Hari ini harusnya kamu juga berbangga hati, buahmu dinikmati langsung oleh seorang raja”, berkata pelayan itu.

“Betul-betul-betul, di rumah aku akan bercerita kepada ninik mamakku, bahwa buah duku kebunku dinikmati oleh seorang raja”, berkata Argalanang.

“Laris manis tanjung kimpul. Dagangan habis rejeki kumpul”, berkata Argalanang ketika menerima pembayaran dari pelayan itu.

Terlihat Argalanang dengan langkah gembira layaknya seorang pedagang tulen yang tengah mujur besar berjalan keluar dari regol pintu rumah Bagus Kemuning.

———-oOo———-

SFBdBS-03-084

Senja telah turun menaungi Bandar Sebukit. Cahaya matahari yang bening dan sejuk terbawa arus air sungai Musi yang beriak ditiup angin segar. Terlihat empat orang pemuda duduk diatas dermaga yang sepi.

“Racun ikan Buntal, Bagus Kemuning dan Ragasuci mempunyai benang ikatan yang tidak dapat dipisahkan dengan kematian ibunda Raden”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

“Tetapi benang itu masih jauh untuk diurai”, berkata Raden Wijaya
“Sebaik-baik menyembunyikan bangkai, pasti tercium juga”, berkata Lawe membesarkan harapan Raden Wijaya.

“Seandainya aku dapat mengejar orang diatas atap rumah penginapan itu, rahasia ini tentunya sudah dapat terkuak”, berkata Mahesa Amping yang menyesali dirinya yang tidak langsung menangkap orang yang telah membunuh kedua orang di kamar penginapan.

“Siapapun pemilik racun ikan Buntal, adalah kunci teka-teki keluargaku”, berkata Raden Wijaya lirih sepertinya bicara kepada dirinya sendiri.

“Apakah Bagus Kemuning dapat bertanggung jawab atas kematian dua orang kepercayaannya?”, berkata Argalanang.

“Kita belum mendapatkan bukti yang kuat”, berkata Mahesa Amping

“Kita harus membayangi terus Bagus Kemuning”, berkata Lawe

“Besok mereka akan ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang. “Kapan kita berangkat ke Tanah Melayu?”, bertanya Argalanang meminta pendapat.

“Kupikir sebaiknya kita juga berangkat besok”, berkata Raden Wijaya memastikan.

Akhirnya disepakati berangkat ke Tanah Melayu keesokan harinya.

Pagi itu kabut masih membujur seperti kapas-kapas di sepanjang sungai Musi. Sebuah jung terlihat bergerak menjauhi dermaga dalam keremangan kabut pagi.

“Pagi berkabut, sebuah tanda hari akan cerah”, berkata Argalanang diatas jung yang telah semakin menjauh dari Bandar Sebukit.

Dan seiring berjalannya waktu, mereka telah tiba di Muara Musi.

“Pasar terapung sudah sepi”, berkata Lawe ketika mereka melewati sebuah pasar terapung yang sudah tidak begitu ramai karena matahari pagi sudah semakin menaik keatas cakrawala.

“Tapi kedai terapungnya masih ada”, berkata Argalanang sambil mengayuh jungnya mendekati sebuah jukung yang menjual makanan dan minuman.

“Nasi kapaunya masih ada Pacik?”, berkata Argalanang kepada seorang pemilik kedai terapung ketika jung mereka sudah merapat.

“Hari ini pengunjung tidak begitu ramai, nasi kapauku masih tersisa banyak”, berkata pemilik kedai terapung itu.

“Kami pesan empat nasi kapau lengkap dengan kakap bumbu asem belimbing”, berkata Argalanang.

Dengan sigap pemilik kedai itu membungkus pesanan nasi kapau lengkap dan langsung menggantungkannya di ujung galar bambu.

“Terima pesanannya anak muda”, berkata pemilik kedai terapung itu sambil menyodorkan galar bambu tempat menggantung empat bungkus nasi kapau dari atas jukungnya.

Dengan lahap mereka menikmati hidangan diatas jung dibawah cahaya matahari pagi yang hangat. Setelah beristirahat sejenak mereka pun melanjutkan perjalannya menuju tanah Melayu. Jung mereka telah keluar dari Sungai Musi masuk dalam perairan laut selat Malaka dibawah sinar matahari yang hangat.

Awan putih dilangit biru yang cerah mengiringi jung mereka terbawa angin yang kadang bergoyong terguncang dihempas ombak. Ketika matahari mulai merangkak dibawah cakrawala, jung mereka sudah mulai mendekati Tanah Melayu ditandai dengan warna air yang mulai menghijau sebagai tanda sebuah muara akan mereka temui.

“Kita memasuki perairan Batanghari”, berkata Argalanang seperti sudah begitu kenal setiap dataran pulau perak ini.

Bandar Melayu adalah pintu kedua selain Bandar Sebukit untuk barang perdagangan antar bangsa. Disinilah beberapa pedagang asing membawa berbagai hasil hutan dan rempah-rempah. Para pedagang asing tidak perlu lagi berlayar jauh sampai Nusa Jawa atau tanah Maluku karena sudah diambil alih oleh para pedagang Melayu. Hal ini sudah berlangsung lama sejak masa emas Kerajaan Sriwijaya.

Itulah sebabnya, kehadiran Jung Singasari merupakan sebuah saingan yang besar yang akan memutus rantai perdagangan mereka.

Tapi pemikiran para saudagar Melayu yang sebagian besar adalah para bangsawan Tanah Melayu ini tidak sejalan dengan Rajanya yang berprinsip kepada kebebasan dan kedamaian umat.

“Persaingan itu tumbuh sebagai tantangan agar kita dapat berbuat lebih arif lagi”, berkata Baginda Raja kepada beberapa bangsawan yang ingin mempengaruhinya untuk memerangi Singasari.

Itulah sebabnya, para bangsawan telah mengambil jalan sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Bagus Kemuning yang diam-diam memerintahkan para prajurit Melayu menyergap Jung Singasari di Selat Sunda beberapa hari yang lalu.

Kehadiran Raja Ragasuci yang akan mengikuti sayembara memperebutkan salah seorang putri Raja, telah membangkitkan semangat Bagus Kemuning.

“Ragasuci harus memenangkan sayembara ini”, berkata Bagus Kemuning dalam hatinya berharap bahwa kelak lewat Ragasuci pandangan Baginda Raja dapat berubah.

Sementara itu di Bandar Melayu beberapa petugas sandi Singasari telah merapatkan jung nya di dermaga. Hari itu sebuah lembaran baru dari sejarah besarpun telah mulai dipagelarkan.

“Aku baru mengerti mengapa para pedagang Melayu tidak menyukai kehadiran Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya ketika menginjakkan kaki pertamanya di Tanah Melayu. Melihat beberapa jung asing merapat di Bandar Melayu.

“Akupun baru menangkap pemikiran Sri Maharaja Singasari tentang sebuah kerajaan laut”, berkata Mahesa Amping.

“Sebuah pemikiran yang baru”, berkata Lawe.

“Raja di darat dan Raja di lautan, itulah raja sejati”, berkata Raden Wijaya

“Kita telah memulainya di hari ini”, berkata Mahesa Amping.

“Aku tidak paham perkataan kalian, yang kupahami bahwa perutku sudah berteriak kriuk-kriuk”, berkata Argalanang yang disambut tawa oleh semua kawannya.

“Ternyata yang ada di pikiran orang Pantai pasir seputih tidak jauh dari perut”, berkata Lawe yang disambut tawa lebih keras lagi.

“Justru dari perutlah keluar hal-hal besar”, berkata Argalanang tidak menerima dikatakan hanya paham sekitar perut.

“Kamu benar, dari perut sering keluar hal-hal besar terutama lewat jalan belakang”, berkata Lawe yang disambut kembali dengan tawa.

“Mari kita cari kedai yang terbaik di Bandar Melayu ini”, berkata Raden Wijaya yang berusaha menengahi terutama melihat wajah Argalanang yang nampak bersungut-sungut cemberut.

———-oOo———-

SFBdBS-03-085

Sebagaimana Bandar besar lainnya, Bandar Melayu adalah sebuah persinggahan para pedagang dari berbagai suku bangsa yang sepertinya tidak pernah sepi sepanjang hari, di siang hari maupun di malam hari.

Kerlap-kerlip lampu terlihat di perkampungan yang tumbuh ramai di sepanjang Bandar serta cahaya oncor yang diletakkan di setiap persimpangan jalan menandai kehidupan malam di Bandar Melayu yang sepertinya tidak pernah tidur.

Beberapa buruh nampak masih sibuk mengangkut barang memuat sebuah Jung besar milik pedagang dari Gujarat, mungkin besok pagi akan berangkat berlayar.

Sebuah kedai yang juga menyediakan jasa penginapan masih terlihat ramai. Disitulah empat pemuda petugas sandi dari Singasari beristirahat setelah menempuh perjalanannya.

“Siapapun yang akan mendukung majikanku, tidak usah membayar apapun di kedai ini”, berkata seorang yang berwajah hitam legam sambil berdiri. Di dekatnya terlihat seorang pemuda yang duduk tenang seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang kepercayaannya.

Seketika itu juga hampir semua yang ada di kedai itu mengangkat tangannya sebagai arti ikut mendukung, kecuali empat pemuda yang baru datang menunggu pesanannya.

Melihat hanya empat pemuda itu saja yang tidak mengangkat tangannya, orang berwajah hitam legam itu menghampiri keempat pemuda itu.

“Kenapa kalian tidak mengangkat tangan he?”, berkata orang itu sambil bertolak pinggang.Tercium aroma arak dari mulutnya. Ternyata orang ini telah banyak menenggak arak dan menjadi mabuk berat.

“Kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe mewakili kawan-kawannya.

“Kalian harus mendukung!!”, orang itu berteriak keras.

“Kami belum mengenal majikanmu, bagaimana kami harus mendukung?”, berkata Lawe yang sudah terlihat tidak sabaran.

“Ternyata kalian orang baru disini. Pasang telinga kalian, majikannku adalah putra Datuk Belang yang dihormati dari Sungai Kampar”, berkata orang itu.

“Siapapun majikanmu, kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe yang sudah semakin panas hatinya.

“Bila kalian tidak mendukung, artinya kalian telah meremehkan majikanku”, berkata orang itu sambil membelalakkan biji matanya begitu menyeramkan.

“Bila kami tidak mendukung kamu mau apa he?”, berkata Lawe sambil berdiri tidak gentar.

“Kamu memang perlu diberi pelajaran”, berkata orang itu sambil melayangkan sebuah tamparan ke arah wajah Lawe.

Ternyata orang itu belum mengenal Lawe. Dikiranya Lawe hanya seorang anak kemarin sore yang dapat digertak hanya dengan sebuah tamparan.

Lawe tidak segera bergerak, menunggu sampai tamparan itu meluncur mendekatinya. Maka ketika telapak tangan itu sudah hampir mengenai wajahnya, dengan titis Lawe memiringkan sedikit kepalanya. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu terhuyung ke samping menabrak tiang utama bangunan.

Brakk !!

Untungnya kayu itu terbuat dari bahan kayu besi yang kokoh. Akibatnya justru kepala orang itu yang seperti pening terhantam tiang kayu itu.

Terkesima semua orang dikedai itu melihat hanya dalam satu gerakan ringan orang itu sudah terlempar terpelanting menabrak tiang kayu.

“Bangkitlah bila kamu masih mampu berdiri. Dan pasang telingamu lebar-lebar. Aku putra Raja Belang yang terkenal dan paling ditakuti dari Pulau Madhura.

Lawe rupanya hanya ingin mengambul dengan mengatakan dirinya putra Raja Belang dari Pulau Madhura. Lawe sendiri tidak mengerti bahwa “Belang” di Tanah Melayu diartikan sebagai Harimau.

“Maafkan anak buahku yang terlalu banyak minum arak”, berkata seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri didekat Lawe.

Terkesiap sejenak Lawe memandang mata anak muda yang begitu tajam. Juga raut wajah dari pemuda itu memang terlihat asing tidak seperti wajah orang pada umumnya yang punya lekukan diantara hidung dan bibir atas. Sementara anak muda ini sepertinya tidak punya “anakan” dibawah hidungnya.

Anak muda itu ternyata dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Lawe, maka dengan tersenyum ramah anak muda itu menjura memberi hormat.

“Terima kasih telah memberi sedikit pelajaran kepada anak buahku”, berkata anak muda itu yang terus melangkah mendekati anak buahnya yang masih duduk bersandar tiang kayu.

———-oOo———-

SFBdBS-03-085

Anak muda itu terlihat memapah anak buahnya kembali ke tempat duduknya semula.

Suasana kedaipun kembali seperti sediakala. Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya dan Argalanang terlihat menikmati hidangan yang disediakan.

Lepas malam baru mereka naik ke panggung tempat penginapan yang telah disediakan untuk beristirahat.

Tidak ada kejadian di malam itu, meski begitu mereka tetap berjaga-jaga secara bergantian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apalagi setelah kejadian di kedai yang sedikit menghebohkan,

Dan malam pun berlalu menyelimuti segenab kegelisahan dan keletihan di hari-hari yang melelahkan ketika kantuk membius segenab indra, segenab rasa, segenab jiwa dalam kegelapan mimpi.

Hingga akhirnya pagi pun datang menjelang membangunkan jiwa, rasa dan indra yang ditandai dengan keremangan warna pagi, sentuhan dingin semilir angin pagi dan terdengarnya sayup-sayu suara kokok ayam jantan saling bersahutan dari tempat yang amat jauh.

Bandar Melayu sudah terbangun, cahaya oncor di perempatan jalan sudah meredup. Terlihat perempuan penjual jajanan pagi tengah melayani beberapa buruh yang belum sempat mandi mengisi perutnya untuk dapat siap bekerja kembali.

Dan warna keremangan pagipun perlahan tersapu sinar matahari dalam semburat cahaya kuning sejuk menyinari panggung alam dalam kebenderangannya.

Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya dan Argalanang terlihat telah bersiap-siap untuk berangkat ke Kotaraja Melayu, melaksanakan tugas mereka sebagai delik sandi di Tanah Melayu.

Jarak kotaraja dan Bandar Melayu memang tidak begitu jauh, hanya terhalang hutan kecil dan beberapa Padukuhan. Dan sudah ada jalan pedati yang biasa dilalui para pedagang untuk mencapainya.

“Tadi malam, di kedai kamu katakan dirimu sebagai putra Raja belang, apakah benar demikian?”, bertanya Argalanang ke pada Lawe ketika mereka sudah beberapa langkah meninggalkan Bandar Melayu.

“Aku hanya sedikit membual”, berkata Lawe sambil tersenyum.

“Di sepanjang Tanah Perak ini orang mengartikan belang sebagai Harimau”, berkata Argalanang menjelaskan.

“Kalau kutahu dari dulu mungkin aku tidak mengatakan sebagai putra Raja Belang”, berkata Lawe.

“Selama ini kupikir cerita tentang manusia harimau itu Cuma sebuah dongeng, ternyata aku melihatnya langsung tadi malam dikedai didalam diri anak muda itu”, berkata Argalanang.

“Darimana kamu yakin bahwa anak muda itu sebagai manusia Harimau?”, bertanya Lawe penasaran.

“Kulihat sendiri anak muda itu tidak punya anakan dibawah hidungnya”, berkata Argalanang.

“Akupun melihatnya”, berkata Lawe sambil mengingat kembali kejanggalan pada diri anak muda yang ditemuinya semalam.

“Itulah yang membedakan kita dengan mereka sebagaimana yang diceritakan oleh orang-orang tua di kampungku”, berkata Argalanang.

“Apa yang diceritakan oleh orang-orang tua di kampungmu mengenai manusia harimau?”, bertanya Lawe yang menjadi tertarik mengenai manusia Harimau.

“Manusia harimau adalah sebuah ilmu keturunan yang tidak dapat dilepaskan. Ketika lahir mereka berwujud sempurna sebagaimana kita. Tapi ketika ilmu keturunannya telah larut diwarisi, langsung pewaris ilmu itu akan berubah tidak lagi mempunyai anakan dibawah hidungnya”, berkata Argalanang diam sejenak. “Dan dapat berujud sebagai harimau sungguhan ketika marah”, berkata Argalanang melanjutkan ceritanya.

“Sebuah ilmu warisan yang aneh”, berkata Raden Wijaya yang ikut tertarik dengan cerita Argalanang.

“Semoga saja harimau itu bukan orang-orang yang sedang menunggu kita”, berkata Mahesa Amping sambil menunjuk kedepan jalan.

Ternyata jauh di depan mereka terlihat dua orang telah menunggu.

Semakin dekat semakin jelas, ternyata anak muda dan anak buahnya yang semalam telah membuat sedikit keributan di kedai.

“Aku sengaja menunggu kalian, terutama kepada Putra Raja Belang”, berkata anak muda itu setelah mereka bertemu.

“Maaf, semalam aku Cuma sedikit membual”, berkata Lawe ingin menjelaskan.

“Aku menunggu sudah cukup lama, apakah putra Raja Belang tidak punya keberanian?,” berkata anak muda itu.

“Tapi…………..”, berkata Lawe

“Tidak jauh dari sini ada sebuah bulakan, kutunggu kamu di situ”, berkata anak muda itu sepertinya tidak ingin mendengar penjelasan Lawe langsung berjalan.

“Kita ikuti apa maunya”, berkata Mahesa Amping kepada Lawe yang masih belum tahu apa yang harus dilakukannya.

Mereka mengikuti kemana anak muda itu berjalan. Yang ternyata ke sebuah bulakan yang cukup luas.

“Karena kamu sudah mengaku sebagai putra Raja Belang, aku menantangmu”, berkata anak muda itu sambil bertolak pinggang.

———-oOo———-

 Bersambung ke Jilid 4


Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 Juni 2011 at 05:33  Comments (418)  

418 Komentar

  1. selamat sore kadang sedoyo

    • kadang sore selamat sedoyo

      • sedoyo kadang selamat sore

        • sore kadang sedoyo selamat

          • selamat sedoyo kadang sore

  2. Sugeng dalu sedoyo kadang,
    Nunggu kehadiran nayogo, sinden dan Ki Dalang.

  3. Sugeng dalu para kadhang sutresna,

    Sugeng lagi disuruh Ki Dhalang mencantholken rontal di kawat jemuran biar cepet kering.

  4. karena malam dingin, maka nggak kering-kering,

  5. Selamat malam Ki Kompor.
    Komputernya sudah sehat apa belum?

    • Selamat pagi Ki MAHESA Kompor.
      pak Dokter KOMPUTER jadi datang apa kagak…!!??

      sabar menunggu…..(pake gaya bang HAJI)

  6. selamat pagi kadang padepokan…..selamat berTUGAS

    semoga SUKSES,

    • selamat pagi ni Sinden padepokan…..selamat berTUGAS

      rutin ning kamtor padepokan,

      • beres…..jangan khawatir

        sudah dislempitken dengan aman.

        eh mangsude sudah diselametin nding…..!!!!

  7. SELAMAT SIANG,
    Puanase pol.

  8. selamat malam

  9. Setia menanti wedarannya Ki Kompor.

  10. sugeng dalu,
    akhirnya komputer sudah bisa pulang dari UGD,sang dokter bilang masalahnya bukan dari virus…tapi dari anti virusnya yang ngambek karena minta di update selalu diabaikan….he-he-he(maklum…pengennya nyari yang gratisan)
    maaf…lagi nyari si ilham yang nyasar……
    1. Raden wijaya ketemu sama Dara petak dan dara jingga di sebuah sayembara cari mantu.
    2. Dara petak dan dara jingga diculik terus diselametin ame R. Wijaya
    atau…ketemu kakeknya raja sunda di palembang ketika nongkrong makan empek-empek ????

    • Istilahnya jaman dulu, ini sopongiler (spoiler).
      hikss……

      • jaman dulu Istilahnya, ini sopongiler (spoiler).
        hikss……hikss

        • pak DALANG bikin sopongiler…..he-heee3x

  11. SUGENG ENJANG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  12. sugeng siang, wis ngiler

  13. Selamat malam,
    bingung juga baca sejarah,mana yang bener…
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga anak Kertanegara
    satu sisi bilang dara petak dan dara jingga adik dari dara kencana istri kertanegara juga saudara kandung dara puspa istri dari Prabu Ragasuci raja Saunggaluh.
    enaknya sih ada bantuan dari Ki banuaaji atau Ki Punakawan LONTOOOOOOOOOOONG………..

    • Lho………..?????
      bukannya gitaris Dara Puspita itu mBak Suzy Nander….???

      Emang ade itu group band Dara Petak atawa Dara Jingga…???
      jangn2 vokalisnya si JuPe ame si DePe nih.

  14. ungak2 seks………..

    • Sugeng rawuh lan sugeng dalu Ki PoniJO.
      Sumangga katuran pinarak sinambi nengga Ki Dhalang medhar carios babad Dara Petak lan Dara Jingga.

  15. sugeng dalu wis ngiler banget

    • Sabar sebentar Ki Bancak,

      Siapa tahu di kisah selanjutnya diceritakan Dara Petak dan Dara Jingga diculik oleh Sinuhun Gembleh Hanyolowadi, gegedhug tlatah lendhut benter, untuk dijadikan istri2nya.
      Belum sempat ijab kabul di depan penghulu, keburu datang pendekar dari Ranah Minang, yang mempunyai ajian Pujakesuma, yang bergelar Ki Hulubalang Bancak merebut kedua Dara tsb. .Walaupun wurung dengan kedua Dara tadi, gegedhug tadi tetap hepi, soalnya ternyata Ni Sinden (yang namanya KP, lho) belum dijemput Ki Menggung. Asyiklah mereka berdua naik gunung.

      • naik gunung-turun gunung….
        masuk hutan keluar hutan….

        menjelajah bukit, lembah2
        sampe….blumbang,
        mandek sik kueseelll ki !!??

  16. Beginilah ceritosnya….

  17. Setelah beristirahat sejenak di kedai, merekapun melihat-lihat keadaan kota Sriwijaya untuk sebagai bahan laporan tugas mereka sebagai petugas delik sandi.

    Menyusuri kota tua Sriwijaya yang ramai memang sangat menyenangkan. Hilir mudik pedati dijalan membawa aneka barang milik para saudagar. Dijalan juga sepertinya sudah terbiasa melihat para orang asing dari berbagai bangsa berlalu lalang. Rumah-rumah besar dengan pilar ukiran kayu jati berpagar dinding batu berderet sepanjang jalan yang tertata rapi.

    Tanah Sriwijaya sudah lama tak bertuan, tapi para warganya sepertinya tidak memperdulikannya. Siapapun penguasanya, yang penting mereka dalam keadaan tetap damai, dalam bertani, berdagang dan kehidupan lainnya.

    Tanah Sriwijaya pada saat ada dalam pengendalian para penguasa dari Tanah Melayu. Tapi siapa yang peduli ??

    Begitulah suasana yang ditangkap oleh Raden Wijaya, Lawe, Mahesa Amping dan Argalanang ketika mereka menyusuri kota tua Sriwijaya.

    Merekapun kembali ke Bandar Sebukit, melihat berbagai barang diangkut naik ke jung besar milik para saudagar dari berbagai bangsa. Merekapun melihat diantara berbagai barang yang keluar masuk lewat Bandar Sebukit yang ramai itu adalah lada hitam. Mereka mendapat keterangan bahwa lada hitam adalah lada yang paling diminati oleh para pedagang asing karena merupakan lada yang terbaik. Lada hitam ini dibawa oleh para pedagang setempat dari pedalaman sungai Kampar. Sebuah tempat yang jauh.

    “Jung bangsawan Sunda”, berkata Argalanang menunjuk sebuah jung yang elok dengan banyak umbul-umbul berwarna kuning bergambar kepala harimau.

    Ternyata Argalanang memang telah banyak mengenal berbagi jenis jung.

    Jung elok itu memang milik bangsawan Sunda. Pemiliknya adalah seorang yang sangat dihormati di bumi Pasundan yang tidak lain adalah Raja Ragasuci penguasa Saunggalah putra Raja Darmasiksa yang telah mengasingkan dirinya bertapa di Gunung Galunggung sebagai seorang Resi Guru yang sakti.

    Raja Ragasuci sendiri terbilang masih Paman Raden Wijaya dari garis ibunya yang berdarah sunda. Ibunda Raden Wijaya dan Raja Ragasuci sebagai saudara lain ibu. Raja Ragasuci mempunyai seorang ibu berdarah campuran bangsawan Sriwijaya dan Melayu.

    Kehadiran Ragasuci di kota Sriwijaya adalah sebuah kunjungan ketanah leluhur ibundanya. Masih ada pamannya di kota Sriwijaya, kakak kandung dari ibundanya bernama Bagus kemuning, seorang bangsawan yang sangat disegani dan begitu berpengaruh.

    “Ternyata kamu berminat menyunting seorang putri dari Tanah Melayu ?”, bertanya Bagus Kemuning kepada kemenakannya Raja Ragasuci yang datang menemuinya di rumahnya.

    “Begitulah Paman, mudah-mudahan aku dapat memenangkan sayembara itu”, berkata Raja Ragasuci.

  18. Pada saat itu memang di Tanah Melayu akan diadakan sebuah sayembara besar memperebutkan seorang putri Raja Melayu yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

    Namun yang dapat mengikuti hanya dari kalangan yang berdarah bangsawan dari berbagai nagari. Salah satunya adalah Raja Ragasuci sendiri.

    Berita sayembara itu akan dilaksanakan pada hari purnama pekan depan telah didengar pula oleh Raden Wijaya dan kawan-kawannya yang tengah melaksanakan tugas sandi.

    “Besok kita berangkat ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang.

    Demikianlah, pada hari itu mereka mencari rumah penginapan disekitar Bandar Sebukit.

    Malam telah menyelimuti Bandar Sebukit yang telah lelah setelah seharian ditingkahi kesibukan dan kepenatannya. Udara dingin di luar rumah menjadikan jalan-jalan menjadi begitu sepi dan lengang.

    Mahesa Amping belum tidur di kamar penginapannya. Pendengarannya yang tajam telah mendengar pembicaraan di kamar sebelah yang terpisah oleh dinding yang terbuat dari bilik kayu. Sebuah pembicaraan yang begitu menarik perhatiannya.

    “Apa susahnya menghancurkan jung Singasari itu”, berkata sesorang terdengar dari bilik kamar Mahesa Amping yang telah mempertajam pendengarannya.

    “Tapi sampai hari ini mereka masih belum kembali”, berkata suara yang lain.

    “Apa yang akan kita laporkan kepada Tuanku Bagus Kemuning ?”, berkata suara orang yang pertama.

    “Tunggu sampai besok, baru kita dapat menghadap”, berkata suara yang lain.

    “Yang kutakutkan, mereka tidak singgah ke sebukit tapi langsung pulang ke Tanah Melayu”, berkata orang yang pertama.

    “Apa yang kamu takutkan ?”, bertanya suara orang kedua.

    “Kamu ini benar-benar tukul !, berkata orang pertama. “Tuanku Bagus Kemuning telah berpesan bahwa tugas ini jangan sampai didengar Baginda Raja”, berkata orang pertama melanjutkan.

    “Kamu benar, tapi aku bukan tukul”, berkata orang kedua terdengar oleh Mahesa Amping dengan kepekaan pendengarannya yang tajam terdengar membanting badannya ke pembaringan.

    Setelah itu tidak terdengar pembicaraan lagi. Yang terdengar adalah lenguh dengkur napas mereka yang saling bersahutan. Dengan pendengarannya yang tajam Mahesa Amping sudah menduga bahwa mereka sudah jauh terlelap tidur.

    Tiba-tiba saja pendengaran Mahesa Amping mendengar suara yang mencurigakan berasal dari atap rumah. Segera Mahesa Amping membangunkan Raden Wijaya yang sekamar dengannya. Ketika dilihatnya Raden Wijaya telah terbangun, Mahesa Amping segera keluar kamar langsung melenting kea tap rumah. Sesosok bayangan masih sempat dilihatnya telah berkelebat menghilang dikegelapan malam.

    Mahesa Amping kembali masuk kekamarnya, mencoba menempelkan telinganya di dinding untuk mendengar apa yang telah terjadi dikamar sebelah.
    Suara dengkur sudah tidak terdengar lagi, bahkan lenguh desah halus napas sekalipun.

    “Apa yang telah terjadi ?”, bertanya Raden Wijaya yang belum dapat mengerti apa yang tengah terjadi.

    Mahesa Amping menjelaskan kepada Raden Wijaya mulai dari apa yang dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan orang disebelah kamar dan terakhir suara mencurigakan diatas atap rumah.

    “Aku merasa orang disebelah sudah tidak bernyawa”, berkata Mahesa Amping yang percaya sekali dengan kepekaan pendengarannya.

    “Kita lihat apa yang terjadi”, berkata Raden Wijaya.
    Mereka berdua telah keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar sebelah.

    Pintu kamar itu ternyata tidak diselarak dari dalam.

    Ketika pintu terbuka, terkejut Mahesa Amping dan Raden Wijaya melihat apa yang ada didepan matanya.

    “Mereka berdua sudah mati”, berkata Mahesa Amping melihat dua orang tergeletak dipembaringannya dalam keadaan tidak bergerak. Seluruh tubuhnya terlihat berwarna hijau.

    “Racun ikan buntal !!”, berkata Raden Wijaya sambil menunjuk dua buah duri kecil menancap di leher kedua orang yang terbaring tak bernyawa itu.

    “Dari mana Raden mengetahui bahwa mereka terkena racun ikan buntal ?”, bertanya Mahesa Amping yang merasa heran Raden Wijaya telah memastikan bahwa kedua orang itu terkena racun ikan buntal yang pernah didengarnya memang mempunyai daya racun yang amat kuat.

    Raden Wijaya mengeluarkan sebuah bubu bambu kecil dari balik pakaiannya. Dengan hati-hati mengeluarkan sebuah duri kecil dari dalam bubu bambu kecil itu.

    “Sebuah duri yang sama yang telah menghabisi nyawa ibundaku”, berkata Raden Wijaya sambil mencabut sebuah duri yang ada dileher salah satu mayat.

    • pak DALANGe…….KAMSIAaaaaa…….KAMSIAaaaaaa

  19. akhirnya……
    Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeber” wayangnya lagi.
    matur suwun nggih.

    • akhirnya pagi ini,
      Ki “dhalang” Kompor sudah “mbeberi” wayangnya lagi.
      matur suwun nggih.

      • SUGENG ENJiNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  20. Akhirnya, akhirnya… he..he
    matur nuwun Ki Kompor, mugi-mugi risang komputer mboten kimat malih.

    Sugeng Enjang

  21. akhirnya, ….akhirnya,…… matur nuwun

  22. Lamunan Raden Wijaya melayang jauh kebelakang, disuatu malam menjelang keberangkatannya bersama Mahesa Murti menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta

    “Diujung duri ikan buntal ini nyawa ibundamu berkhir. Bawalah bersamamu, sampai saat ini ayahmu belum dapat mengungkap dibalik kematian ibundamu”, berkata Lembu Tal kepada Raden Wijaya.

    Dimanapun Raden Wijaya berada, bubu bambu kecil itu selalu menyertainya.

    “Hari ini pintu rahasia lorong teka-teki keluargaku mulai terkuak, aku akan terus menyusurinya”, berkata Raden Wijaya sambil memasukkan kembali duri ikan buntalnya.

    Mahesa Amping yang pernah diceritakan mengenai hal itu oleh Raden Wijaya memahami apa yang dirasakan Raden Wijaya saat itu.

    “Hanya mereka yang telah mempunyai kemampuan tinggi yang dapat melempar duri kecil itu tepat menembus sasaran”, berkata Mahesa Amping.
    Akhirnya mereka segera menyelinap keluar dari kamar naas itu kembali kekamarnya.

    Dan sang waktu perlahan terus menyusut perjalanan malam. Membungkus rahasia kegelapan sampai akhirnya datang sang pagi yang bening berwajah lugu menangkap kehangatan matahari yang bersinar diujung tepi cakrawala.

    Diawali suara kokok ayam jantan yang saling bersahutan.

    Bandar Sebukit telah terbangun kembali dalam kehiruk pikukan pagi diantara coloteh para buruh angkut barang yang mengais rejeki mengangkat barang diatas bahunya satu persatu.

    Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah memasuki sebuah kedai yang sudah buka dipagi itu menjual makanan dan minuman hangat untuk sarapan pagi.

    Ketika mereka masuk, sudah ada beberapa orang pengunjung. Merekapun mencari tempat yang kosong.

    Dengan perlahan, agar tidak didengar orang lain, Raden Wijaya menceritakan kejadian semalam kepada Lawe dan Argalanang termasuk teka-teki rahasia keluarganya.

    “Apakah ayahmu pernah bercerita tentang orang yang bernama Bagus Kemuning ?”, bertanya Lawe kepada raden Wijaya.

    “Belum”, berkata Raden Wijaya datar sambil menggelengkan kepalanya.

    “Kita harus mencari tahu banyak hal tentang orang itu”, berkata Argalanang

    Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk menunda keberangkatan mereka dipagi itu. Mereka sepakat untuk menyelidiki siapa sebenarnya pemilik nama Bagus Kemuning itu.

  23. Akhirnya, dengan hati-hati mereka bertanya dengan orang-orang disekitar Bandar Sebukit dan kota Sriwijaya. Ternyata mereka mendapatkannya dengan mudah. Hampir semua orang di kota Sriwijaya itu mengenal Bagus Kemuning sebagai orang yang sangat disegani dan berpengaruh di bumi Sriwijaya.

    Matahari sudah naik kepuncaknya. Seorang tukang buah duku terlihat tengah berteduh dibawah sebuah pohon ambon yang rindang didepan pagar rumah Bagus Kemuning.

    “Rancak nian rejekimu wahai tukang buah”, berkata seorang yang berpakaian sederhana keluar dari regol rumah Bagus Kemuning menghampiri tukang buah yang tengah berteduh. Nampaknya seorang pelayan di rumah itu.

    “Seharian ini belum ada kutemui seorangpun pembeli, apanya yang rancak”, berkata tukang buah itu yang ternyata Argalanang yang tengah menyamar.
    “Buahmu kubeli semuanya”, berkata orang itu.

    “Apakah aku tidak salah dengar ?, biasanya orang membeli segantal dua gantal”, berkata Argalanang.

    “Tuanku telah kedatangan banyak tamu, tolong antar sekalian kedalam”, berkata orang itu.

    Argalanang berjalan mengikuti pelayan itu masuk kerumah Bagus Kemuning. Diatas pendapa dilihat banyak orang tengah berbincang-bincang. Dari pakaiannya, Argalanang dapat mencirikan setiap orang yang ada di atas pendapa itu. Seorang berpakaian adat Melayu pastilah tuan rumah yang bernama Bagus Kemuning. Sementara yang lainnya berpakaian sebagaimana para pembesar dari Tanah Sunda. “Ternyata orang-orang dari Tanah Pasundan yang bertamu”, berkata Argalanang dalam hati setelah sekilas menyapu dengan pandangannya orang-orang yang ada di atas pendapa.

    “Tamu tuanmu orang-orang pasundan?”, Argalanang berkata sambil menuang dukunya ke bakul yang disediakan sebagai tempat buah dukunya.

    “Bukan orang Pasundan sembarangan, tapi Raja dari Tanah Sunda”, berkata pelayan itu sepertinya membanggakan dirinya telah kedatangan tamu seorang raja meski sebenarnya bukan tamunya, tapi tamu tuannya.

    “Seorang Raja dari Tanah Sunda ?”, berkata Argalanang merasa gembira menemukan warta baru. Tapi dihadapan pelayan itu Argalanang pura-pura terkejut.

    “Yang benar Raja Saunggalah yang terkenal bernama Raja Ragasuci”, berkata pelayan itu yang masih membanggakan dirinya.

    “Apakah tuanmu itu masih kerabat dengan Raja Ragasuci”?, bertanya kembali Argalanang

    “Raja itu masih kemenakan tuanku”, berkata pelayan itu

    “Betapa membanggakannya dapat langsung melayani seorang Raja”, berkata Argalanang mengompori pelayan itu yang ia tahu tengah merasa bangga.

    “Hari ini harusnya kamu juga berbangga hati, buahmu dinikmati langsung oleh seorang raja”, berkata pelayan itu.

    “Betul-betul-betul, dirumah aku akan bercerita kepada ninik mamakku, bahwa buah duku kebunku dinikmati oleh seorang raja”, berkata Argalanang.

    “Laris manis tanjung kimpul. Dagangan habis rejeki kumpul”, berkata Argalanang ketika menerima pembayaran dari pelayan itu.

    Terlihat Argalanang dengan langkah gembira layaknya seorang pedagang tulen yang tengah mujur besar berjalan keluar dari regol pintu rumah Bagus Kemuning.

  24. laris manis tanjung kimpullllll

    • Dagangan habis rejeki kumpul
      hiks….
      matur suwun.

  25. Ikutan matur nuwun ach.
    Biasanya jam wayah gini Ki Dalang sok mulai (ngawali) suluk lagi.
    Monggo Ki Dalang mboten sah pekewet. ( e kok kuwalik).

  26. Laris manis tanjung kimpul.
    Dagangan habis rejeki kumpul
    ………..(masih nunggu )………..
    matur nuwun

  27. Laris manis tanjung kimpul,
    Ni Sinden sing manis disrobot Ki GundUL.

    Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
    Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!

    • Laris manis tanjung pinang,
      Ni Sinden manis bikin terkenang-kenang,

      Tanceeeeeeeeeeep maaaaaaaaang,
      Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!!!!!!

  28. SUGENG ENDaNG KADANG PADEPOKAN MAHESA KOMPOR

  29. SUGENG ENJAG.
    siap-siap nggotong kotak wayang, diulihake disik, mengko sore dipasang maneh.

    • tilik padepokan…..SELAMAT SORE

      mbantu ngotong kotak wayang, mumpung ni Sinden diJEMput
      ki Gembleh,

  30. selamat sore semuanya

  31. hup….
    Selamat malem, baru pulang nyari si Ilham masih belon dateng…………

  32. ilham yahyanya sudah pensiun, mugkin ilham mahil yang masih ada, selamat malam Ki

  33. Sim salabim jadi apa….plok….plok….plok……
    eh….ternyata si ilham nyamperin Ki Dhalang…..
    tariiiiiiiiiiikkkkkkk …….maaaaaaaaaang……..!!!!!

  34. Senja telah turun menaungi Bandar Sebukit. Cahaya matahari yang bening dan sejuk terbawa arus air sungai Musi yang beriak ditiup angin segar.
    Terlihat empat orang pemuda duduk diatas dermaga yang sepi.

    “Racun ikan Buntal, Bagus Kemuning dan Ragasuci mempunyai benang ikatan yang tidak dapat dipisahkan dengan kematian ibunda Raden”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    “tapi benang itu masih jauh untuk diurai”, berkata Raden Wijaya
    “Sebaik-baik menyembunyikan bangkai, pasti tercium juga”, berkata Lawe membesarkan harapan Raden Wijaya.

    “Seandainya aku dapat mengejar orang diatas atap rumah penginapan itu, rahasia ini tentunya sudah dapat terkuak”, berkata Mahesa Amping yang menyesali dirinya yang tidak langsung menangkap orang yang telah membunuh kedua orang dikamar penginapan.

    “Siapapun pemilik racun ikan Buntal, adalah kunci teka-teki keluargaku”, berkata Raden Wijaya lirih sepertinya bicara kepada dirinya sendiri.

    “Apakah Bagus Kemuning dapat bertanggung jawab atas kematian dua orang kepercayaannya ?”, berkata Argalanang.

    “Kita belum mendapatkan bukti yang kuat”, berkata Mahesa Amping

    “Kita harus membayangi terus Bagus Kemuning”, berkata Lawe

    “Besok mereka akan ke Tanah Melayu”, berkata Argalanang. “Kapan kita berangkat ke Tanah Melayu ?”, bertanya Argalanang meminta pendapat.

    “Kupikir sebaiknya kita juga berangkat besok”, berkata Raden Wijaya memastikan.

    Akhirnya disepakati berangkat ke Tanah Melayu keesokan harinya.

    • syukurlah…, si Ilham sudah diketemukan

      • syukurlah…, si Ilham sudah kembali PULANG

  35. Alhamdulillah sudah ketemu si Arga Lanang.
    Selamat week end ki Kompor

    • selamat berLIBUR pak DALANGe,

  36. KAMSIAaaa…..KAMSIAaaa…..KAMSIAaaaaaaaaaaaa,

    sugeng “MEGENGAN” kadang padepokan ki MAHESA

  37. Kamsia dulu lah. Sudah lama tidak nengok padepokan ternyata banyak yang sudah ketinggalan. makasih Ki Kompor

  38. Pagi itu kabut masih membujur seperti kapas-kapas di sepanjang sungai Musi. Sebuah jung terlihat bergerak menjauhi dermaga dalam keremangan kabut pagi.

    “Pagi berkabut, sebuah tanda hari akan cerah”, berkata Argalanang diatas jung yang telah semakin menjauh dari Bandar Sebukit.

    Dan seiring berjalannya waktu, mereka telah tiba di Muara Musi.

    “Pasar terapung sudah sepi”, berkata Lawe ketika mereka melewati sebuah pasar terapung yang sudah tidak begitu ramai karena matahari pagi sudah semakin menaik keatas cakrawala.

    “Tapi kedai terapungnya masih ada”, berkata Argalanang sambil mengayuh jung nya mendekati sebuah jukung yang menjual makanan dan minuman.

    “Nasi kapaunya masih ada Pacik ?”, berkata Argalanang kepada seorang pemilik kedai terapung ketika jung mereka sudah merapat.

    “Hari ini pengunjung tidak begitu ramai, nasi kapauku masih tersisa banyak”, berkata pemilik kedai terapung itu.

    “Kami pesan empat nasi kapau lengkap dengan kakap bumbu asem belimbing”, berkata Argalanang.
    Dengan sigap pemilik kedai itu membungkus pesanan nasi kapau lengkap dan langsung menggantungkannya diujung galar bambu.

    “Terima pesanannya anak muda”, berkata pemilik kedai terapung itu sambil menyodorkan galar bambu tempat menggantung empat bungkus nasi kapau dari atas jukungnya.

    Dengan lahap mereka menikmati hidangan diatas jung dibawah cahaya matahari pagi yang hangat.

    Setelah beristirahat sejenak merekapun melanjutkan perjalannya menuju tanah Melayu.

    Jung mereka telah keluar dari Sungai Musi masuk dalam perairan laut selat Malaka dibawah sinar matahari yang hangat.

    Awan putih dilangit biru yang cerah mengiringi jung mereka terbawa angin yang kadang bergoyong terguncang dihempas ombak.

    Ketika matahari mulai merangkak dibawah cakrawala, jung mereka sudah mulai mendekati Tanah Melayu ditandai dengan warna air yang mulai menghijau sebagai tanda sebuah muara akan mereka temui.

    “Kita memasuki perairan Batanghari”, berkata Argalanang seperti sudah begitu kenal setiap dataran pulau perak ini.

    • masih punya hutang 2 rontal….
      hiks…

  39. Terus kapan mau mbayar utangnya Ki Dalang, he…he.
    Ini namanya penonton yang nglonjak.
    Sugeng dalu Ki

  40. Alhamdulillah isish anget, matur nuwun Ki.

  41. Bandar Melayu adalah pintu kedua selain Bandar Sebukit untuk barang perdagangan antar bangsa. Disinilah beberapa pedagang asing membawa berbagai hasil hutan dan rempah-rempah. Para pedagang asing tidak perlu lagi berlayar jauh sampai nusa jawa atau tanah Maluku karena sudah diambil alih oleh para pedagang Melayu. Hal ini sudah berlangsung lama sejak masa emas kerajaan Sriwijaya.

    Itulah sebabnya, kehadiran Jung Singasari merupakan sebuah saingan yang besar yang akan memutus rantai perdagangan mereka.

    Tapi pemikiran para saudagar Melayu yang sebagian besar adalah para bengsawan Tanah Melayu ini tidak sejalan dengan Rajanya yang berprinsip kepada kebebasan dan kedamaian umat.

    “Persaingan itu tumbuh sebagai tantangan agar kita dapat berbuat lebih arif lagi”, berkata Baginda Raja kepada beberapa bangsawan yang ingin mempengaruhinya untuk memerangi Singasari.

    Itulah sebabnya para bangsawan telah mengambil jalan sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Bagus Kemuning yang diam-diam memerintahkan para prajurit Melayu menyergap Jung Singasari di Selat Sunda beberapa hari yang lalu.

    Kehadiran Raja Ragasuci yang akan mengikuti sayembara memperebutkan salah seorang putri Raja, telah membangkitkan semangat Bagus Kemuning.

    “Ragasuci harus memenangkan sayembara ini”, berkata Bagus Kemuning dalam hatinya berharap bahwa kelak lewat Ragasuci pandangan Baginda Raja dapat berubah.

    Sementara itu di Bandar Melayu beberapa petugas sandi Singasari telah merapatkan jung nya di dermaga. Hari itu sebuah lembaran baru dari sejarah besarpun telah mulai dipagelarkan.

    “Aku baru mengerti mengapa para pedagang Melayu tidak menyukai kehadiran Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya ketika menginjakkan kaki pertamanya di Tanah Melayu. Melihat beberapa jung asing merapat di Bandar Melayu.

    “Akupun baru menangkap pemikiran Sri Maharaja Singasari tentang sebuah kerajaan laut”, berkata Mahesa Amping.

    “Sebuah pemikiran yang baru”, berkata Lawe.

    “Raja di darat dan Raja di lautan, itulah raja sejati”, berkata Raden Wijaya

    “Kita telah memulainya dihari ini”, berkata Mahesa Amping.

    “Aku tidak paham perkataan kalian, yang kupahami bahwa perutku sudah berteriak kriuk-kriuk”, berkata Argalanang yang disambut tawa oleh semua kawannya.

    “Ternyata yang ada di pikiran orang Pantai pasir seputih tidak jauh dari perut”, berkata Lawe yang disambut tawa lebih keras lagi.

    “Justru dari perutlah keluar hal-hal besar”, berkata Argalanang tidak menerima dikatakan hanya paham sekitar perut.

    “Kamu benar, dari perut sering keluar hal-hal besar terutama lewat jalan belakang”, berkata Lawe yang disambut kembali dengan tawa.

    “Mari kita cari kedai yang terbaik di Bandar Melayu ini”, berkata Raden Wijaya yang berusaha menengahi terutama melihat wajah Argalanang yang nampak bersungut-sungut cemberut.

    • pagelaran sejarah besar telah dimulai………….

      • Kaaaaammmmmmmmmmmmssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaa!!!!!!!

        langsung nyrobot.

  42. pagelaran ibadah akan segera bertambah , mak nyuuuus

  43. Sugeng Enjang,
    Matur nuwun Ki Dalang

  44. Sebagaimana Bandar besar lainnya, Bandar Melayu adalah sebuah persinggahan para pedagang dari berbagai suku bangsa yang sepertinya tidak pernah sepi sepanjang hari, di siang hari maupun di malam hari.

    Kerlap-kerlip lampu terlihat di perkampungan yang tumbuh ramai disepanjang Bandar serta cahaya oncor yang diletakkan disetiap persimpangan jalan menandai kehidupan malam di Bandar Melayu yang sepertinya tidak pernah tidur.

    Beberapa buruh nampak masih sibuk mengangkut barang memuat sebuah Jung besar milik pedagang dari Gujarat, mungkin besok pagi akan berangkat berlayar.
    Sebuah kedai yang juga menyediakan jasa penginapan masih terlihat ramai. Disitulah empat pemuda petugas sandi dari Singasari beristirahat setelah menempuh perjalanannya.

    “Siapapun yang akan memndukung majikanku, tidak usah membayar apapun di kedai ini”, berkata seorang yang berwajah hitam legam sambil berdiri. Didekatnya terlihat seorang pemuda yang duduk tenang seperti tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang kepercayaannya.

    Seketika itu juga hampir semua yang ada di kedai itu mengangkat tangannya sebagai arti ikut mendukung, kecuali empat pemuda yang baru datang menunggu pesanannya.

    Melihat hanya empat pemuda itu saja yang tidak mengangkat tangannya, orang berwajah hitam legam itu menghampiri keempat pemuda itu.

    “Kenapa kalian tidak mengangkat tangan he ?”, berkata orang itu sambil bertolak pinggang.Tercium aroma arak dari mulutnya. Ternyata orang ini telah banyak menenggak arak dan menjadi mabuk berat.

    “Kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe mewakili kawan-kawannya.
    “kalian harus mendukung !!”, orang itu berteriak keras.

    “Kami belum mengenal majikanmu, bagaimana kami harus mendukung ?, berkata Lawe yang sudah terlihat tidak sabaran.

    “Ternyata kalian orang baru disini. Pasang telinga kalian, majikannku adalah putra Datuk Belang yang dihormati dari Sungai Kampar”, berkata orang itu.
    “Siapapun majikanmu, kami tidak mendukung siapapun”, berkata Lawe yang sudah semakin panas hatinya.

    “Bila kalian tidak mendukung, artinya kalian telah meremehkan majikanku”, berkata orang itu sambil membelalakkan biji matanya begitu menyeramkan.

    “Bila kami tidak mendukung kamu mau apa he ?”, berkata Lawe sambil berdiri tidak gentar.
    “Kamu memang perlu diberi pelajaran”, berkata orang itu sambil melayangkan sebuah tamparan kearah wajah Lawe.

    Ternyata orang itu belum mengenal Lawe. Dikiranya Lawe hanya seorang anak kemarin sore yang dapat digertak hanya dengan sebuah tamparan.
    Lawe tidak segera bergerak, menunggu sampai tamparan itu meluncur mendekatinya. Maka ketika telapak tangan itu sudah hampir mengenai wajahnya, dengan titis Lawe memiringkan sedikit kepalanya. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu terhuyung kesamping menabrak tiang utama bangunan.

    Brakk !!

    Untungnya kayu itu terbuat dari bahan kayu besi yang kokoh. Akibatnya justru kepala orang itu yang seperti pening terhantam tiang kayu itu.
    Terkesima semua orang dikedai itu melihat hanya dalam satu gerakan ringan orang itu sudah terlempar terpelanting menabrak tiang kayu.

    “Bangkitlah bila kamu masih mampu berdiri. Dan pasang telingamu lebar-lebar. Aku putra Raja Belang yang terkenal dan paling ditakuti dari Pulau Madhura.
    Lawe rupanya hanya ingin mengambul dengan mengatakan dirinya putra Raja Belang dari Pulau Madhura. Lawe sendiri tidak mengerti bahwa “Belang” di Tanah Melayu diartikan sebagai Harimau.

    “Maafkan anak buahku yang terlalu banyak minum arak”, berkata seorang pemuda yang tiba-tiba saja sudah berdiri didekat Lawe.

    Terkesiap sejenak Lawe memandang mata anak muda yang begitu tajam. Juga raut wajah dari pemuda itu memang terlihat asing tidak seperti wajah orang pada umumnya yang punya lekukan diantara hidung dan bibir atas. Sementara anak muda ini sepertinya tidak punya “anakan” dibawah hidungnya.

    Anak muda itu ternyata dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Lawe, maka dengan tersenyum ramah anak muda itu menjura memberi hormat.

    “Terima kasih telah memberi sedikit pelajaran kepada anak buahku “, berkata anak muda itu yang terus melangkah mendekati anak buahnya yang masih duduk bersandar tiang kayu.

    • Selamat liburan kadang sedoyo….
      hiks….

  45. Selamat liburan ugi Ki Dalang.
    Monggo disekecakaken, liburanipun, taksih katah waosan dados mboten sisah ngoyo. Menjelang Ramadhan kagem tadarusan.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: