SFBDBS-03

<<kembali ke SFBdBS-02 | lanjut ke SFBdBS-04 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 Juni 2011 at 05:33  Comments (418)  

418 Komentar

  1. selamat PAGI pak DALANGe,

    tetep semangat Ki…..selamat berKARYA,

    • selamat PAGI kadang padepokan ki KOMPOR,
      tanpa BOLD tanpa ITALIC tanpa subSIDI

      hikss, kleru….mangsuDe sapu LIDI,

  2. Sugeng Enjang,
    I Like Monday.

  3. sugeng siang, matur nuwun

  4. …………………………………………………………………………………………………
    tes….tes…..tes…..
    …………………………………………………………………………………………………
    …………………………………………………………………………………………………

    • tes-tes-tes……….masuk Ki/Nyi/Ni……….wes nyambung kok,

      monggo pinarak teng pendopo padepokan ki MAHESA

  5. gandok anyer toch…lega….

  6. “Kalau memang itu yang Pangeran inginkan, hamba siap membantu”, berkata Syahbandar Sura

    Lewat Sura yang disegani di Bandar Curabhaya, Pangeran Kertanegara diperkenalkan dengan beberapa saudagar.

    Hari itu terlihat beberapa orang buruh kasar tengah menaikkan rempah-rempah keatas jung.

    Keesokan harinya, terlihat jung Singasari yang megah telah merenggang meninggalkan Bandar Curabhaya.

    “Kita akan singgah di Pragota”, berkata Kebo Arema menjelaskan tempat yang akan disinggahi.

    “Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Sura tentang para pedagang dari Tanah Melayu”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Apakah Pangeran menjadi gentar ?”bertanya Kebo Arema menatap Pangeran Kertanegara sepertinya ingin mengetahui isi hati Pangeran Kertanegara di lubuk hatinya paling dalam.

    “Aku tidak gentar, cuma yang kupikirkan persinggungan yang bakal terjadi”, berkata Kertanegara

    “Layar sudah kita kembangkan, pantang kita bersurut”, berkata Kebo Arema memberi semangat.

    “Aku baru mengenal kehidupan di lautan, bukan cuma angin badai yang kita hadapi, tapi pengaruh para saudagar di setiap Bandar kadang dapat menggulingkan kita”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Didalam pelayaran kita akan menemui banyak kawan dan lawan, inilah kehidupan yang harus kita hadapi”, berkata Kebo Arema.

    Matahari senja memancarkan cahayanya diatas Nusa jawa mengawani Jung Singasari terus melaju dalam pelayaran perdananya menyinggahi Bandar-bandar besar sepanjang pantai utara Nusa Jawa.

    Sebagaimana di Bandar Curabhaya, disetiap Bandar yang disinggahi semua orang berdecak kagum menatap jung besar dan megah begitu indah seperti jung yang hanya dimiliki para dewata dalam alam hayal mereka.

    “Jung Singasari !!”, berkata seorang di dermaga memanggil kawan-kawannya melihat lebih dekat jung terbesar di jaman itu sedang merapat.

    Bandar besar terdekat setelah Curabhaya yang disinggahi adalah Bandar Pragota, setelah itu jung Singasari ini melanjutkan pelayarannya ke Muara Jati, sebuah Bandar pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai bangsa. Syahbandar di Muara Jati menyambut mereka dengan begitu ramah dan memperkenalkan mereka dengan seorang Bangsawan Sunda yang langsung memesan perlengkapan pertanian dan berbagai senjata yang banyak dimana memang bahwa Kerajaan Singasari saat itu terkenal dengan keahliannya sebagai pembuat senjata dan alat pertanian yang baik.

    “Kami perlu banyak senjata yang terbaik, tentunya buatan asli Singasari”, berkata Bangsawan Sunda itu.

  7. Selanjutnya, Kebo Arema juga telah mengantar jung Singasari ini masuk menyusuri Sungai Citarum sampai ke muara Gembong Karawang.

    “Inilah tempat pertama nenek moyang kita berlabuh di Nusa Jawa”, berkata Kebo Arema ketika menyusuri sungai Citarum.

    Ternyata, tidak semua orang menyukai kehadiran Jung Singasari. Sebagaimana yang dikatakan Kebo Arema, dalam pelayaran pasti akan menemui banyak kawan, dan juga lawan.

    Jauh di tanah Melayu, beberapa bangsawan Melayu yang merasa tersaingi dengan kehadiran jung dari Singasari itu tengah memutar sebuah siasat.

    “Gila nian !!, baru kali ini kulihat jung sebesar itu”, berkata seorang bangsawan yang pernah melihat jung Singasari ketika berada di Bandar Curabhaya.“Mereka dapat membawa barang lebih banyak dari yang kita bawa”.

    “Kita harus dapat menjegal mereka sebelum menyeberang ke Bumi Melayu”, berkata seorang yang lainnya.

    Ketika persekongkolan para Bangsawan Melayu untuk menjegal saingan baru mereka, jung Singasari telah sampai di ujung nusa jawa sekitar daearah Rakata. Mereka singgah disebuah Bandar kecil yang tidak begitu ramai. Ternyata Kebo Arema bukan Cuma pandai membaca bintang, penciuman dagangnya juga dapat diandalkan.

    “Disinilah tempat asal pembuatan perak yang terkenal, perak asli dari Salaka”, berkata Kebo Arema kepada Pangeran Kertanegara menjelaskan mengapa harus singgah di Bandar ujung nusa jawa ini.

    Merekapun singgah di Tanah Rakata. Ternyata bukan hanya perak yang mereka dapatkan dengan harga yang menguntungkan, tapi mereka juga mendapatkan lada dengan mutu terbaik.Bahkan yang tidak disangka-sangka, disini juga banyak didapat cula badak dengan harga yang begitu murah.

    “Mengapa jarang sekali para pedagang berlayar sampai di Bandar ini ?”, bertanya Pangeran Kertanegara merasa penasaran dengan keadaan Bandar yang sepi.

    “Inilah keuntungan kita, para pelaut enggan berlayar sampai kesini karna beranggapan disinilah tempat para jin dan dedemit mendirikan kerajaannya”, berkata Kebo Arema sambil tersenyum.”Anggapan itu memang beralasan, badai di sekitar selat sunda ini memang datang seperti hantu, datang seketika tanpa mengenal musim dan tidak dapat dibaca”.

    “Dengan cara apa kita menghadapi hantu itu ?”, bertanya Pangeran Kertanegara

    “Lewat jalan rahasia, sedikit pelaut yang mengetahui tentang jalan rahasia itu”, berkata Kebo Arema.

    • titik-titik

      (dari testesbatumalangsaid)

      • “Jalan rahasia…..????”
        wah tentu hanya Ki Menggung yang tahu.
        (mangsud’e jalan rahasia menjemput Ni Sinden)

        Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………!!!!!!!!!!
        Sugeng dalu.

        • “Jalan rahasia…..????”
          wah tentu hanya pak DALANGe yang tahu.
          (mangsud’e jalan rahasia yang dirahasiakan)

          Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………!!!!!!!!!!
          Sugeng enjang

  8. jalur rahasia rakata, wah seru, kamsiiaaaaa

  9. OK lah kalo beegitu.
    Kamsia K Kompor
    Selamat malam.

  10. Sugeng dalu Ki Bancak, Ki Honggo,

    sugeng enjang Ki Menggung.

    • sugeng dalu ugi Ki

      • sugeng enjang ugi Ki Gembleh,

  11. Sugeng Enjang kadang sedoyo

  12. selamat siang poro kadang sedoyo

  13. Matahari senja telah kembali datang. Jung raksasa bertiang layar tujuh itupun telah mengangkat sauhnya bersiap meninggalkan dermaga.

    Wajah bulan sabit bercahaya buram bersembunyi dibalik awan diatas Selat Sunda diujung malam ketika Jung milik Dewata seperti yang terlukis di candi Beduhur itu dibawa angin menyeberangi mendekati Bumi Melayu.

    Mereka memang tidak menemui hantu yang mengganggu, dikeremangan malam itu mereka melihat dua buah jung terlihat semakin mendekat.

    “Bersiaplah, mungkin yang kita hadapi adalah para perompak”, berkata Kebo Arema kepada para prajurit yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

    Kebo Arema telah membuat tanda dengan bahasa lentera, tapi tidak ada jawaban dari dua buah jung yang terus mendekati, bahkan terlihat mereka telah mematikan lenteranya, yakinlah Kebo Arema bahwa mereka akan berbuat suatu kejahatan.

    “Matikan semua lentera”, berteriak Kebo Arema ketika melihat dua buah jung didepannya telah mematikan lenteranya.

    Para prajurit telah siaga disepanjang pagar geladag. Mahesa Amping ada di kanan geladak, Raden Wijaya terlihat di kiri geladag. Sementara Lawe menjaga bagian buritan.

    Dikeremangan malam dua buah jung terlihat telah mengapit rapat jung dari Singasari.

    “Jangan biarkan mereka masuk, pertahankan kedudukan kalian”, berkata Kebo Arema dari Anjungan.
    Jung musuh telah semakin merapat, mengunci jung dari Singasari dengan tali temali.

    Berhamburan orang-orang asing itu melompat ke geladag. Dan terjadilah pertempuran yang mencekam di keremangan malam di Selat Sunda itu.

    Untungnya para prajurit muda ini telah sering berlatih di atas geladag. Dipertempuran yang sesungguhnya ini mereka telah menunjukkan segala kemampuannya. Terlihat beberapa orang dari pihak musuh yang langsung terjungkal kedasar laut sebelum mampu menginjakkan kakinya di geladak. Namun beberapa orang yang terlihat berkemampuan tinggi berhasil melompat setelah melukai prajurit yang menjaganya.

    Tapi semua tidak lepas dari perhatian Mahesa Amping yang bertanggung jawab di kanan Geladak.

    “Gantikan tempatku”, berkata Mahesa Amping kepada seorang prajurit didekatnya dan langsung menghadang musuh yang terlihat berkemampuan tinggi.

    “Akulah lawanmu”, berkata Mahesa Amping sambil menangkis sebuah sabetan yang hampir saja menebas leher seorang prajurit.

    “Punya nyali juga kau”, berkata orang itu kaget merasakan tangannya bergetar.

    • lumayan…..solat isa dulu ach….
      bleb…bleb…blebbbbbb……………

      • Kamsia……………..deh.

  14. Lumayan pulang dari mesjid sholat Isya, bisa ngambil jatah, mumpung Dalangnya sedang sholat.
    Matur Nuwun Ki Dalang, wayang sampun kulo toto (rapi), monggo diwiwiti malih.

  15. baru dapet tiga perempat halaman…..
    ciattttttt…dua orang murid Empu Dangka terbang menyapu bersih lawan…….

    ciatttttttt…..bikin kopi dulu ach……..

  16. Wah Ikutan bikin kopi ah.

  17. Ki Pengendhang mulai suluk…..

    Cobalah Dek,….. minta kopi susunya
    sekalian……. dengan dua lembar rontalnya

    Ni Sinden’e nyaut………

    Tunggu dulu…….airnya belum masak
    lagi pula……Ki Menggung’e belum nampak.

    (para cantrik nyenggaki : dithuthuk nganggo pipa ledheng….)

  18. Tanpa kata-kata peringatan, orang itu langsung membabat perut Mahesa Amping dengan pedangnya.

    Mahesa Amping hanya kerkelit sedikit, membiarkan pedang lawan lewat di hadapannya. Dan diluar perhitungan lawannya, Mahesa Amping dengan kecepatan yang tak terlihat tiba-tiba saja telah menjepit pedang lawannya dengan hanya dua jari tangannya.

    Dengan sebuah hentakan pedang lawan itu ditariknya kedepan. Bukan main !! tenaga tarikan itu tidak bisa ditahan oleh orang itu, daya tarikan itu seperti berasal dari tenaga sepuluh ekor banteng, terlihat orang itu seperti layangan ringan ditarik sorong kedepan. Dan tiba-tiba saja sebuah tendangan dirasakan menghantam pinggangnya seperti terhantam batu bongkahan besar, orang itu telah jatuh rebah tak bergerak lagi.

    Hal yang sama juga dilakukan oleh Raden Wijaya dan Lawe, mereka tidak bermain-main lagi, tapi berusaha secepatnya merobohkan lawan dan langsung membantu para prajurit membereskan setiap lawan yang berhasil masuk ke geladag.

    Tapi para penyerang masih terus menerjang masuk membanjiri geladag. Melihat hal ini, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dua orang murid Empu Dangka seperti terbang diatas pagar geladag langsung menyapu bersih siapapun musuh yang berusaha masuk menerobos.

    “Mengambil madu membelah sarang”, berkata Pangeran Kertanegara kepada Kebo Arema sambil melompat ke jung lawan yang ada di sebelah bahu kanan geladag.
    Kebo Arema mengerti apa yang diinginkan Pangeran Kertanegara, iapun telah melompat ke jung lawan yang ada di sebelah bahu geladag.

    Tidak ayal lagi, puluhan orang terlempar terkena pukulan dan tendangan Pengeran Kertanegara. Kehadiran Pangeran Kertanegara juga telah menghentikan aliran gelombang musuh ke bahu kanan geladag.

    Sebagaimana Pangeran Kertanegara, Kebo Arema seperti bola api ditengah lebah hitam. Siapapun yang mendekat akan terlempar jatuh tak mampu bergerak lagi.

    “Terima kasih”, berkata Bhaya kepada Raden Wijaya yang telah menyelamatkan dirinya dari seorang musuh yang akan menyerangnya dari arah belakang.

    “Jangan keluar dari kelompok”, berkata Raden Wijaya mengingatkan Bhaya yang terlalu semangat keluar dari kelompoknya.

    “Aku akan mengingatnya”, berkata Bhaya yang kembali membantu kekelompoknya.

    Sedikit demi sedikit jumlah pihak penyerang sudah semakin menyusut. Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema telah membuat musuh kocar-kacir di jungnya sendiri. Sementara musuh yang sudah terlanjur berada di atas geladag langsung terserap oleh kepungan para prajurit muda yang baru pertama kali bertempur dengan musuh sungguhan.

    • ciatttttttt….rontal langsung dilempar melayang-layang tinggi.
      Sebelah tangan yang lain langsung menyambar kopi yang sudah tinggal setengah………srupppppppp

  19. sruuuuppppppp, kaammmmssssiiiiiiiaaaaaaaaaaaaa

  20. walah….
    tangan wis suwe digawe ubek-ubek padepokan, dadak “nggratil” nyenggol lawang terus “njeglek” dewe.
    hikss….
    sudah larut malam baru ketahuan, mudah-mudahan “dhalang”nya tidak purik karena pintunya tertutup.
    pak satpamnya juga belum bisa sambang padepokan rupanya, sehingga telat menanggapi komen yang ada.

    ngapunten nggih…

    • hikss, reflek-E ki SENO betol2 yahud
      ketok lawang buka…..wush3x “njeglek”

      • sugeng enjang kadang padepokan ki MAHESA KOMPOR

        • hayo2 nang mLEBU…..lawangE wes mbuka,

  21. kulo nuwun, regol ngajeng sampun dipun bikak

  22. Walah lawang dibukak, karo Ki Arema piyambak.
    Jan kebangeten P. Satpam ki won ijin kok ora nunjuk pengganti sing jogo regol. Nganti Komandan sibuk dewe.

  23. ciatttttttt….baru pulang ngaji

    sret….sret….sret!!! kayak zoro cuma yang dibikin hurup K

  24. Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya memang sudah dapat dipercaya, menjaga dan mengingatkan para prajurit untuk tetap berada dalam kelompoknya, melakukan penyerangan secara berkelompok saling membantu.

    Para penyerang yang ada di geladag benar-benar menghadapi serangan yang rapi dan tersusun rapat. Mereka tidak mampu memecahkan barisan para prajurit Singasari yang sudah sering dilatih menghadapi serangan di lautan. Para penyerang sepertinya digiring untuk terpencar perseorangan masuk terkunci dalam sergapan.

    Lambat tapi pasti jumlah para penyerang sudah semakin menyusut.
    Terlihat Lawe telah merobohkan seorang penyerang terakhir di Buritan.

    “Menyerahlah !!”, berkata Mahesa Amping di geladag kanan kepada pihak lawan yang tinggal sepuluh orang.

    “Kami menyerah”, berkata seorang dari sepuluh orang yang sudah terkepung rapat.
    Sementara di geladak kiri, tujuh orang musuh tanpa kata-kata telah melempar senjatanya.

    “Tahan serangan !!”, berteriak Raden Wijaya mengingatkan para prajurit untuk tidak membantai tujuh orang yang sudah melemparkan senjatanya tanda menyerah.

    Para penyerang di atas geladag sudah dapat dikuasai, mereka telah dikumpulkan dan diikat.

    Sementra itu di jung lawan, Pangeran Kertanegara bermaksud untuk segera menghentikan pertempuran tanpa menimbulkan banyak korban, maka dengan kekuatan yang ada didalam dirinya, Pangeran Kertanegara telah mampu menghadirkan kabut putih. Dua puluh orang musuh yang tersisa telah terperangkap kabut putih yang tebal. Mereka bukan saja tidak dapat melihat, tapi tubuh mereka telah menggigil kedinginan. Kabut itu ternyata mengandung hawa dingin yang luar biasa. Mebihi dinginnya es menusuk kulit mereka.

    “Menyerahlah, aku akan menghentikan penderitaan kalian”, berkata Pangeran Kertanegara.

    Apa yang di lakukan oleh Kebo Arema diatas jung lawan ?

    Tidak seperti Pangeran Kertanegara yang menundukkan lawannya dengan kabut putihnya, Kebo Arema telah menundukkan lawannya dengan cara yang berbeda. Lima belas orang yang tersisa yang tengah mengepung Kebo Arema benar-benar dibuat bingung. Dengan kecepatan yang luar biasa, hanya dalam hitungan detik, entah setan apa yang memindahkan, pedang para pengepung telah berpindah tangan.

    “Aku dengan mudah memindahkan pedang kalian, dengan mudah pula membunuh kalian”, berkata Kebo Arema sambil mengangkat lima belas pedang tinggi-tinggi.

    “Tuan telah berlaku murah hati, kami menyerah”, berkata seseorang yang membayangkan bahwa Kebo Arema dapat melakukan lebih dari itu untuk selembar nyawanya. Yang juga diikuti oleh teman-temannya, menyerah tanpa perlawanan lagi.

    • sret…sret…srettt!!!!seperti zoro, bikin hurup K

  25. Hari masih menyisakan malam. Tiga buah jung terlihat diatas laut malam bergelombang laju dalam layar penuh terkembang ditiup angin kencang.

    Disaat pagi menjelang, tiga jung itu telah sampai di pantai Pasir Seputih.

    Jung tidak dapat mendarat sampai kepantai. Pangeran Kertanegara dan beberapa orang telah terlihat diatas jukung kecil mendekati pantai. Sebuah kelompok besar menyongsong kedatangan mereka.

    “Siapakah penguasa disini agar kami dapat datang menghadap”, berkata Pangeran Kertanegara kepada sekumpulan orang yang datang menyongsong mereka.

    “Aku Minak Gajah, penguasa tanah ini. Kisanak dapat bicara denganku”, berkata seorang yang terlihat paling tua tapi masih terlihat gagah. Matanya bening dan tajam, tanda telah menguasai kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

    “Kami datang dari Bumi Singasari, di selat Sunda Jung kami diserang oleh orang-orang yang semula kami kira para perompak. Ternyata mereka para prajurit dari Kerajaan Tanah Melayu”, berkata Pangeran Kertanegara.”Kami telah menawan beberapa orang yang masih hidup, juga dua buah jung mereka”.

    “Hanya orang-orang gagah saja yang dapat mengalahkan para prajurit Tanah Melayu”, berkata Minak Gajah kagum mendengar cerita Pangeran Kertanegara.

    “Kami hanya membela diri”, berkata Pangeran Kertanegara merendahkan dirinya.

    “Mereka juga sering datang membuat kekacauan di tempat ini”, berkata Minak Gajah bercerita bahwa ia dan keluarganya sebenarnya berasal dari Palembang sebagai keturunan bangsawan Sriwijaya yang mengungsi karena terus diburu oleh para prajurit dari Tanah Melayu.”Mereka takut Sriwijaya bangkit kembali, dan terus menumpas keluarga dan keturunan bangsawan Sriwijaya”, berkata Minak Gajah melanjutkan.

    Akhirnya Minak Gajah mengajak rombongan Pangeran Kertanegara singgah di rumahnya yang tidak jauh dari pantai pasir seputih.

    Matahari sudah terlihat merayapi cakrawala menghangati suasana pagi perkampungan pinggir pantai itu. Dan Minak Gajah telah menunjukkan keramahan seorang tuan rumah yang baik. Rombongan Pangeran Kertanegara telah dijamu dengan hidangan yang memuaskan.Banyak sekali yang ditanyakan oleh Minak Gajah, terutama Jung yang besar dan megah yang baru pertama kali dilihatnya.

    Karena keramahan Minak Gajah, akhirnya Pangeran Kertanegara membuka jati dirinya sebagai Putra Mahkota Singasari yang tengah melakukan pelayaran percobaan.

    “Sebenarnya kami akan mencoba berlayar sampai Tanah Melayu, tapi melihat gelagat yang kurang baik dari para penguasa di Tanah Melayu, mungkin pelayaran kami Cuma sampai di Bandar Sebukit”, berkata Pangeran Kertanegra menjelaskan tujuan pelayaran mereka.

    • sret,,,sret….sretttttttt
      K = kopi dulu achhhh

      • Walah….., kasihan
        Pak Dhalang tidak ada yang membuatkan kopi

  26. Sugèng Enjing

  27. Selamat malam Ki Kompor.

  28. Tidak tahu, kenapa ya pintu gandok kok tiba-tiba njeglek sendiri
    padahal gak ada angin lho
    saya cari-cari barangkali ada alat rahasia yang dipasang pak satpam, tidak ketemu.
    kirim panah sendaren ke pak satpam juga belum terjawab.

    • Nanging Pak Satpam njih nate njeglekaken kori gandok NSSI kok, rumiyin kulo badhe mlebet njih mboten saged. Sugeng dalu Ki Arema.

      • Sugeng dalu Ki Arga
        mangga, sami-sami ngantuantu beberan lakon dari Ki “dhalang” Kompor.

  29. Sugeng dalu Ki Arema,

    • Sugeng dalu Ki Honggo
      dereng sare to?

    • sugeng dalu Ki Honggopati, Ki (Kebo)Arema dan Ki Arga.
      Mumpung regol padepokan masih terbuka, beberan lakone masih anget baru satu rontal…..lumayan untuk sambutan Ki Arga yang baru nginguk dari ngelanglang buana……….

  30. Akhirnya….. semua rontal Ki Kompor selesai saya baca.
    Ayo…. mana lanjutnya Ki Kompor………..!!

  31. “Kami juga akan membuat sebuah perhitungan dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kami”, berkata pangeran Kertanegara menyatakan sikapnya atas sikap para penguasa Tanah Melayu.

    “Sebaiknya Pangeran tidak datang ke Bandar Sebukit, kekuasaan Tanah Melayu sudah sampai ke Sebukit”, berkata Minak Gajah memberi saran agar tidak melanjutkan pelayarannya ke Bandar Sebukit.

    “Aku sependapat, bukan berarti kita gentar menghadapi mereka”, berkata Kebo Arema memberikan pendapatnya untuk tidak melanjutkan pelayaran sampai ke Sebukit .”sebagai gantinya, cukup menerjunkan petugas sandi yang akan melanjutkan pelayaran kita sampai ke Tanah Melayu”, berkata Kebo Arema melanjutkan.

    “Siapa orang kita yang dapat melakukan tugas sandi itu ?”, bertanya Pangeran Kertanegara

    “Siapa lagi kalau bukan tiga orang begundal tengik yang pernah bertugas di Tanah Gelang-gelang”, berkata Kebo Arema sambil melirik kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

    “Kami dapat meminjamkan jung layar dan seorang pemandu”, berkata Minak Gajah.
    Demikianlah antara Pangeran dan Minak Gajah telah mengikat persahabatan untuk saling membantu terutama dalam hal rencana besar membuat perhitungan dengan penguasa di Tanah Melayu.
    Sementara itu, sesuai adat dijaman itu. Siapapun yang kalah perang akan menerima nasib yang paling hina sebagai budak belian. Itulah yang berlaku pada nasib para prajurit Tanah Melayu yang telah kalah menyerah dan menjadi tawanan. Tapi Pangeran Kertanegara tidak mengambil haknya.

    “Hari ini kalian telah kulepaskan, tidak jadi budak belian dan juga bukan tawanan. Kembalilah ketempat asal kalian”, berkata Paneran Kertanegara membuat para tawanan menjadi bingung apa yang harus mereka katakan.

    “Ampun tuanku, berpulang sebagai prajurit yang kalah perang, bagi kami adalah lebih hina dari seorang budak belian yang hina sekalipun. Ijinkanlah kami menetap di Pasir Seputih ini”, berkata salah seorang tawanan mewakili kawan-kawannya.

    Pangeran Kertanegara memandang kepada Menak Gajah, meminta pertimbangannya.

    “Begitulah adat kami orang Melayu, pantang pulang dengan wajah tercoreng. Kami tidak berkeberatan mereka memilih tinggal bersama di Tanah Pasir Seputih ini”, berkata Minak Gajah.

    “Baiklah kalau begitu, mulai hari ini kuserahkan diri kalian kepada Minak Gajah. Junjunglah langit diatas bumi yang kau pijak”, berkata Pangeran Kertanegara kepada para prajurit Tanah Melayu yang telah dibebaskan itu.

    “Budi Tuanku setinggi gunung, jiwa Tuanku seluas lautan”, berkata salah seorang prajurit Tanah Melayu menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga kepada Pangeran Kertanegara.

    Dilepas senja, Rombongan Pangeran Kertanegara telah meninggalkan Pantai Pasir Seputih kembali ke kampung halamannya di Bumi Singasari.

    • Kamsiaaaa……………….

  32. sebaris kata lanjutannya…..kira-kira begini :
    Keesokan harinya, di senja yang bening, Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya terlihat meninggalkan Pantai Pasir Seputih bersama sebuah jung layar dan seorang pemandu.bla…bla…bla

    Pemandu itu seusia dengan mereka bernama Arga Lanang…………

    • Hehe….lha Arga Wadon ikut nggak Ki ?

    • hikss….

  33. HADIR…..sabtu pagi agak keSIANGAN

    • selamat pagi pak DALANGe
      selamat pagi kadang PADEPOKANe

      selamat pagi SEDAYAne….

      • KAMSIA….KAMSIAA….KAMSIAAAaaaaa

  34. Sampurasun
    Wilujêng énjing ndongkap siyang

    Ternyata Pangeran Kertanegara, bersama calon menantunya — sudah dinikahin belum sih, kalu sudah dinikahin berarti sudah jadi menantunye Prabu Kertanegara — yaitu Raden Wijaya dan Pengawalnya (kelak adalah Panglima Perang Kerajaan Singasari) Ki Kebo Anabrang Mahesa Arema, lagi mengadakan “kunjungan incognito” ke Tanah Swarnabhumi. Demikian gelar kisah Ki Dhalang Kompor.

    Dalam sejarah, memang pernah dibuktikan bahwa telah terjadi hubungan yang sangat baik antara Kerajaan di Bhumijawa (Singasari, Majapahit) dan Kerjaaan di Swarnabhumi (Mālayu Kuno — bukan Sriwijaya –).

    Begini dongengnya:

    Wilayah Kerajaan Mālayu Kuno secara geografis terletak di sekitar daerah aliran Sungai Batanghari yang meliputi Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Barat sekarang; di sekitar Kabupaten Tanah Datar Pagarruyung; dan di sekitar daerah aliran sungai Rokan, Kampar, dan Indragiri di wilayah Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau.

    Di beberapa tempat, di tepian sungai Batanghari banyak ditemukan situs arkeologi, mulai dari daerah hilir di wilayah Provinsi Jambi hingga daerah hulu di wilayah Provinsi Sumatera Barat, antara lain Muara Sabak, Koto Kandis,

    Situs di daerah pertemuan Sungai Batanghari dan Sungai Kumpeh Ujung Plancu, Suakkandis, dan Sematang Pundung, Muara Jambi, dan Solok Sipin di wilayah Provinsi Jambi; dan Situs Padanglawas, Rambahan, Pulau Sawah, Bukik Awang Maombiak, dan Padangroco di wilayah Provinsi Sumatera Barat.

    Berdasarkan identifikasi unsur pertanggalan yang diperoleh dari paleografi tulisan-tulisan singkat pada lempeng emas di Candi Gumpung, tulisan singkat pada batu pipisan dari Koto Kandis, tulisan singkat pada arca makara dari Solok Sipin, dan pecahan keramik menunjukkan pertanggalan sekitar abad ke-8–11 M.

    Unsur pertanggalan situs tersebut terletak di daerah hilir Batanghari. Unsur pertanggalan yang lebih muda ditemukan di situs-situs di hulu Batanghari berasal dari sekitar abad ke-13-14 M.

    Unsur pertanggalan ini diperoleh pada Prasasti Dharmaśraya dari Padangroco yang menunjukkan angka tahun 1286 M, Prasasti Amoghapāśa dari Rambahan menunjukkan angka tahun 1347 M, dan pecahan keramik dari situs Rambahan, Pulau Sawah, Siguntur, dan Padangroco menunjukkan pertanggalan abad ke-13-14 M.

    Dari beberapa temuan arkeologis di atas, ternyata sebagian besar ada keterpengaruhan Kerajaan di Bhumijawa terhadap kerajaan di Swarnabhumi.

    Dan seperti yang kita ketahui dari sumber sejarah yang ada, pada abad-12 sd 14 M Kerajaan Bhumijawa yang dmaksud adalah Singasari dan Majapahit.

    Prasasti Dharmaśraya yang berangka tahun 1208 Ç atau 1286 M, sejaman dengan era Kerajaan Singasari di Jawa dan Kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatera.

    Prasasti ini menceritakan bahwa pada tahun 1208 Ç, atas perintah Prabu Kertanegara dari Singasari sebuah arca Amoghapasalokeswara dipindahkan dari Bhumijawa ke Swarnabhumi untuk ditegakkan di Dharmasraya.

    Pemberian prasasti ini ini membuat rakyat Swarnabhumi bergirang hati dan bersuka cita, terutama rajanya yang bernama Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa.

    — Prasasti ini kini disimpan di Museum Gajah Jakarta dengan nomor inventaris D.198-6468 (bagian alas atau prasasti) dan D.198-6469 (bagian arca). —

    Mangga dilanjutken Ki Kompor…………

    Hatur nuhun
    Rampes

    cantrik bayuaji

  35. selamat siang, matur nuwun

  36. Hadiiirrrrr….!!!

  37. Keesokan harinya disenja yang bening, terlihat Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe telah meninggalkan Pantai Pasir Seputih bersama sebuah jung layar dan seorang pemandu yang umurnya masih seusia dengan mereka dan memperkenalkan dirinya bernama Argalanang yang masih kemenakan dari Minak Gajah.

    Layar jung telah dikembangkan, angin laut telah membawanya mengarungi tepian pantai daratan yang panjang. Dibawah sinar rembulan malam dan jutaan bintang di langit kelam jung terus laju menggunting laut selat malaka yang dalam.

    “Kita menepi sejenak di kampung terapung”, berkata Argalanang ketika jung mereka telah menepi di dermaga sebuah muara yang besar yang mengingatkan pada muara Porong yang indah.

    Suasana pagi di kampung terapung terlihat begitu indah dalam warna sinar matahari pagi yang bersinar bersembul dari balik sebuah bukit.

    Kampung terapung yang di katakan oleh Argalanang adalah sebuah perkampungan rumah-rumah nelayan yang berdiri diatas papan-papan kayu hitam.Penduduknya pada umumnya adalah para nelayan yang berasal dari Tanah Bugis.

    Empat pemuda terlihat menyususuri gang demi gang seperti dermaga panjang yang sengaja dibuat untuk para pejalan kaki. Argalanang berjalan dimuka, sepertinya telah banyak mengenal daerah pemukiman nelayan ini.

    “Pasar terapung”, berkata Argalanang menunjuk kesebuah kumpulan jung kecil yang banyak bersandar.Sebuah pemandangan yang unik dalam pikiran Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya sebagai orang asli dari Nusa Jawa. Mereka melihat baik pembeli maupun pedagang berada dalam jung kecil diatas sungai.Sebagaimana pasar biasa, dipasar terapung ini juga tersedia berbagai kebutuhan, mulai dari sayur mayor, buah segar dan juga gerabah.

    Argalanang melambaikan tangannya kepada seorang diatas sebuah jung, yang ternyata adalah sebuah kedai terapung.

    “Nasi kapau dan iwak kakap bumbu kuning asem belimbing, empat”, berkata Argalanang kepada seorang pedagang diatas jung kecilnya.

    Nikmatnya menyantap hidangan diatas dermaga sambil memandang kesibukan para ibu muda berbelanja di pasar terapung di bawah matahari pagi yang baru terbangun ditimur cakrawala mengintip malu.

    “Jangan sekali-kali memberi senyum apalagi menyapa para gadis di Tanah melayu ini”, berkata Argalanang yang telah menyelesaikan makanan dan minumannya.

    “Kenapa harus begitu ?”, bertanya Lawe merasa baru mendengar ada adat seperti itu.

    “Sebuah senyum dan sapaan dianggap sebuah lamaran”, berkata Argalanang menjelaskan. Si gadis yang kau sapa akan pulang mengabarkan kepada orang tuanya bahwa dijalan ada seorang pemuda yang telah memberi sebuah tanda lamaran”, Argalanang melanjutkan penjelasannya.

    “Sebuah senyum dan sapa diartikan sebuah tanda lamaran?”, ikut bertanya Mahesa Amping.

    “Begitulah, ayah si gadis akan datang menemuimu meminta untuk melamar secara resmi”, berkata Argalanang.

    “Bila kita menolaknya ?”, bertanya Raden Wijaya

    “Ayah si gadis akan memintamu membayar sebuah denda seharga seekor domba besar”, berkata Argalanang.

    “Sebuah denda yang mahal, hanya karena memberi senyum kepada seorang gadis”, berkata Lawe sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

    Ketika matahari sudah semakin merayap keatas cakrawala, mereka telah berada diatas jung kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Bandar Sebukit.

    Matahari dan langit pagi memencarkan air sungai Musi berwarna kuning perak. Sungai Musi memang sebuah sungai yang besar dan panjang. Jung berlayar menyusuri Sungai Musi yang luas. Kadang mereka berpapasan dengan jung besar milik para pedagang yang akan menuju laut lepas.

    “Bandar Sebukit sudah terlihat”, berkata Argalanang menenjuk sebuah daratan yang banyak jung besar tengah bersandar.

    “Lebih ramai dari Bandar Cangu”, berkata Raden Wijaya melihat begitu banyak jung besar yang merapat.

    “Jung bertiang layar lima itu adalah milik para pedagang dari Persia”, berkata Argalanang yang nampaknya banyak mengenal asal sebuah jung besar hanya dengan melihat bentuk dan banyaknya tiang layar.

    “Yang bertiang tiga itu berasal dari Gujarat”, berkata kembali Argalanang sambil menunjuk sebuah jung bertiang tiga.

    “Masih kalah besar dengan Jung Singasari”, berkata Raden Wijaya yang teringat pada Jung kebanggaannya yang juga disebut sebagai jung Bukit Beduhur oleh orang-orang dari Bandar Pragota.

    Jung mereka telah disandarkan disebuah dermaga yang sepi. Matahari telah berdiri dipuncaknya ketika mereka berjalan mendekati sebuah kedai yang nampaknya paling ramai dikunjungi.

    Mereka memilih meja disebelah sudut di dalam kedai. Memesan beberapa hidangan kepada seorang pelayan tua yang datang mendekati mereka.

    “Tolong bawakan segera minumannya, kami sangat haus”, berkata Argalanang kepada Pelayan tua itu.

    “Wedang jahe hangat, Paman”, berkata Lawe memesan minumannya.

    “Disini tidak ada wedang jahe, bagaimana dengan Liang teh hangat ?”, bertanya Pelayan tua.

    “Liang teh hangat dengan gula aren terpisah”, berkata Argalanang buru-buru menyela agar tidak menarik perhatian pengunjung lain yang ada didekatnya.

    • mumpung regol masih terbuka…………….

    • Nasi kapau dan iwak kakap bumbu kuning asem belimbing, haduuuu…… pasti lezat.

  38. mumpung regol terbuka, uluk salam kulo nuwun

    • Monggo ki, pinarak ingkang sekeca.

      • mumpung regol belom ketutup, uluk salam kulo nuwun….KAMSIAaaaa,

  39. Sugeng dalu Kadang sedoyo.
    Wayah ngene iki biasane wis dungkap perang kembang. Monggo Ki Dalang enggal diwiwiti.

  40. sawek janturan Ki sakmenika

  41. Selamat pagi Ki Kompor,
    Sugeng enjing poro kadang sedoyo.

  42. ABSEN…wush-wessssh,

  43. selamat sore

  44. Sugeng sonten,
    Sayah nggih bubar week end

  45. maaf….komputer ane lagi kena virus !!!!

    • wah….

      ya sudah…, diservis dulu

      internet di padepokan juga “kena virus” rupanya, mulai kemarin “dat-nyeng”, sering ngadatnya daripada nyambungnya.

      hikss….

      • Sugeng dalu Ki Dhalang,
        kalau gitu ditabung dulu aja, ntar langsung digelontorken.

        Sugeng dalu Ki Seno.

  46. Wah perlu cuci otak Ki Dalang. komputernya. Ikut prihatin lah, tapi sesuai saran Ki Arema, seyogyanya segera dikirim ke UGD.
    Sugeng dalu Ki,

  47. Nuwun sewu nyuwun pamit rumiyin, benjang kedah tang enjang.

  48. lumayan……masih ada komputer cadangan dikotak katik dikit ehhh bum….masih mau idup….

    terpaksa nulis dari awal….sampe dimana ya ????

    Lumayan….sambil menunggu sang putra Mahkota yang punya hoby obrak abrik virus…….

    hiks….

    • Berarti malam ini ada harapan …………….

  49. Sugeng Enjang,
    sambil nunggu komputer Ki Dalang yang masih diruang perawatan.

  50. HADIR…..tanpa tersenyum dan menyapa

    • hikssss, khawatir disangka meLAMAR…..he-heeee3x

      selamat pagi pak DALANGe….semoga si KOM dirumah
      cepat mendapatkan pengobatan dari pak Dokter KOM,

      tetep SEMANGAT, masak pak DALANG kalah sama si
      viRUS…..!!??

      • kalah sih kagak….cuma sewot dikit lihat si virus merambatI
        si KOM.

        TERLALU…..(pake gaya khas bang OMA)


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: