SFBDBS-07

<<kembali ke SFBdBS-06 | lanjut ke SFBdBS-08 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 8 November 2011 at 00:01  Comments (253)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-07/trackback/

RSS feed for comments on this post.

253 KomentarTinggalkan komentar

  1. hore, kamsiiiiaaaaaa

    • HADU KEDHISIKAN KI BC MASUK PRIPITAN

  2. selamat MALAM…..cantrik HADIR,

  3. Selamet pagi, mengHADIRkan diri

    • sugeng enjang, mengABSEN diri sendiri

      • pak DALANG lagi tugas cangkulan, gelaRAN rontal
        baru wedar malam nanti….”tetep semangaaaat”

        • semangat teteeeep

  4. Akhirnya disepakati, Raden Wijaya dan Lawe ditugaskan sebagai pemimpin tertinggi armada besar Jung Singasari, mempunyai wewenang penuh untuk mengambil berbagai pertimbangan dan keputusan besar.Sementra itu Mahesa Amping ditunjuk untuk mendampingi Kebo Arema, merintis jalur pelayaran baru kea rah timur.

    Ketika keputusan ini disampaikan kepada para prajurit pengawal jung singasari, mereka menerima dan berjanji akan mematuhi segala perintah dan keputusan.

    “Kita harus mohon doa restu dari Sri Baginda Maharaja di Kutaraja”, berkata Kebo Arema.
    Keesokan harinya, keempat orang pentolan armada besar laut Singasari ini telah memacu kudanya berangkat ke Kotaraja untuk mohon doa restu dri Sri Maharaja Singasari.

    Mereka tiba di Kotaraja bersamaan dengan hari Maguntur Raya. Disaksikan bersama para pejabat istana, dibalai maguntur raya Kebo Arema menyampaikan laporan khusus tentang berbagai hal menyangkut tentang Armada besar jung Singasari di hadapan Sri Maharaja Singasari.

    Sri Maharaja Singasari menerima laporan Kebo Arema dengan penuh gembira dan suka cita, impiannya tentang kerajaan laut telah menjadi kenyataan.

    “Armada jung Singasari telah membawa kemakmuran yang besar, pemikiran dan rencanamu untuk menyatukan jalur perdagangan laut dari timur ke barat adalah pemikiran yang cerdas, doa dan restuku menyertai kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja Singasari di ruang rapat balai magunturan raja.

    Setelah keluar dari balai Maguntur raya, mereka tidak langsung kembali ke Bandar Cangu. Mereka berempat menyempatkan waktu beristirahat semalam di pesanggrahan Ratu Anggabhaya, memohan restu dan nasehat langsung dari Ratu Anggabhaya.Keesokan harinya baru mereka berempat berangkat menuju Bandar Cangu.

    “Selamat jalan para pendekar laut sejati”, berkata Ratu Anggabhaya melepas keberangkatan mereka.
    Kotaraja saat itu sudah memasuki pergantian musim panas, dipagi yang hangat itu terlihat empat ekor kuda keluar dari gerbang kota menyusuri jalan tanah yang terbuka kearah Bandar Cangu.

    Lengkung langit bertebaran awan putih, matahari musim panas terasa lebih menyengat cahayanya membakar bumi. Diiringi debu yang mengepul dibelakang kaki-kaki kuda, empat orang berkuda terlihat rancak melarikan kudanya diatas jalan tanah yang kering, mereka adalah Kebo Arema, Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang tengah menembus hari menuju Bandar Cangu. Keceriaan nampak menyelimuti wajah mereka. Dibenak hati masing-masing masih terbayang wajah Sri Baginda Maharaja yang penuh suka cita dan perasaan gembira mendengar laporan Kebo Arema di ruang Balai Maguntur Raya. Ibarat arah matahari, tugas “kekancingan” membangun armada besar laut Singasari sudah menapak diarah puncak matahari. Setengahnya lagi adalah menunggu datangnya senja kesempurnaan.

    Dan senja akhirnya telah tiba menyambut langkah kaki kuda mereka di padukuhan terdekat dari Bandar Cangu yang ramai.

  5. “Selamat datang kembali di Benteng Cangu”, berkata
    Mahesa Pukat menyambut kedatangan Kebo Arema, Lawe dan Mahesa Amping yang baru tiba dari Kutaraja.

    Setelah bersih-bersih dan beristirahat sejenak, barulah mereka berkumpul kembali di pendapa Benteng Cangu, banyak yang mereka bicarakan sepanjang malam, antara lain tentang rencana keberangkatan pelayaran menuju daerah timur.

    Dan rembulan sepotong nampaknya begitu lelah mengegelantung diatas langit benteng Cangu. Suara burung celepuk terdengar panjang dan semakin menjauh hilang ditelan kesunyian malam.

    Hari-hari berlalu menunggu saat keberangkatan pelayaran ke daerah timur nampaknya sudah hampir tiba. Beberapa prajurit yang ijin ke kampung halamannya bertemu dengan keluarganya masing-masing nampaknya hampir dapat dipastikan telah berdatangan berkumpul kembali di barak-barak mereka.

    Dan pagi itu terlihat sebuah jung besar bergerak perlahan meninggalkan dermaga Bandar Cangu. Kebo Arema, Mahesa Amping dan tiga ratus prajurit pengawal melambaikan tangannya kepada orang-orang yang berdiri di sepanjang Bandar Cangu melepas kepergian mereka, melepas para pelaut sejati, pejuang perintis daerah baru bagi kemakmuran dan kejayaan Singasari.

    “Selamat jalan sahabat”, berkata Lawe melambaikan tangannya mengiringi jung Singasari yang terus melaju membelakangi Bandar Cangu yang akhirnya hanya terlihat buritan bahteranya yang semakin menjauh hilang diujung batas mata memandang.

    Raden Wijaya dan Lawe mulai merasakan ketidak hadiran dua orang terdekatnya ketika langkah kaki mereka beranjak dari tepi dermaga Bandar Cangu, ketika tiba di benteng Cangu, dan ketika datang berkunjung ke barak prajurit pengawal jung Singasari keesokan harinya.

    Tapi perasaan itu tidak dibiarkan membeku, justru perasaan itu telah menggerakkan hati dan semangat mereka untuk dapat berkarya, membuat berbagai kesibukan baru.

    Ternyata berawal dari sinilah sifat dan sikap kepemimpinan raden wijaya mulai terlatih.

    Dimulai dari pembangunan balai tamu yang besar ditengah barak-barak prajurit tempat Raden Wijaya dan Lawe dapat menerima para tamunya dari berbagai kalangan, sekaligus tempat mereka beristirahat.

    Raden Wijaya dan Lawe nampaknya berkeinginan keluar dari ketergantungan Benteng Cangu yang selama ini banyak membantu.

    Mahesa Pukat diam-diam memuji keputusan Raden Wijaya dan Lawe, Armada laut Singasari adalah kesatuan dan kekuatan yang besar, balai tamu yang besar dan megah adalah citra perwakilan wibawa kesatuan mereka.

    “Terima kasih atas pengertian dan dukungan dari Paman Senapati”, berkata Raden Wijaya atas dukungan dan simpatik yang besar dari Mahesa Pukat.

    • dua rontal untuk gandhok anyer

      • Kamsiaaa… !!

        • Kaaammmssiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!

          • matur nuwuuuunnnn

          • nuwuuuunnnn matur

          • Mancuuuuur Nuuwuuuuuun.

  6. ABSEN

  7. dua rontal sudah siap digelar untuk besok pagi,
    atau…………..

    • siap!!!

    • suwun

    • kamSIA….!!!

  8. SIAP, KAPAN SAJA, TETAPI KALAU BISA LEBIH CEPAT, KENAPA TIDAK, NUWUN

    • SIAP-SIAP KAPAN SAJA,……..NUWUN JUGA

      • Siap kapan siap saja………….juga nuwun.

  9. HADIR (pake bold)….HADIR (pake italic)

    ndhisiki ki GembLEH

  10. Sugeng dalu Ki Menggung,
    kadosipun Pak Dhalang ketiduran………

    Tak nDulit Ni Sinden wae ah……..

  11. On 23 November 2011 at 22:48 kompor said:

    dua rontal sudah siap digelar untuk besok pagi,
    atau…………..

    he he he ….
    sekarang ini sudah pagi apa belum ya??

    halah….
    ataunya itu bisa besok malam, lusa pagi, lusa malam, dst.

    monggo Pak “Dhalang” Kompor “Bara Membara”, pakeliran sudah siap.

  12. hup…baru sampe rumah,

  13. Setelah balai tamu berdiri dengan megahnya ditengah barak-barak prajurit, kembali Raden Wijaya menunjukkan bakat kepemimpinannya yang cemerlang. Raden Wijaya telah membuat kesepakatan dagang bersama berbagai kalangan terutama para bangsawan Singasari.

    Dibawah kepemimpinan Raden Wijaya, lima bahtera Jung Singasari tidak pernah sepi dan selalu sarat penuh membawa berbagai barang pulang dan pergi sepanjang jalur perdagangan antara Bandar Cangu dan Tanah Melayu. Dan armada jung Singasari sudah mulai dikenal oleh para saudagar besar sebagai armada dagang yang paling disegani, dapat menjaga keamanan barang perdagangan sampai ditempat tujuan.

    Kekuatan armada laut Singasari telah ikut memicu kemakmuran di dalam nagari, berbagai hasil pertanian, berbagai hasil kerajinan yang berlimpah dapat diperdagangkan keluar nagari ke berbagai tempat yang jauh sampai ke Tanah Melayu.

    Disaat musim pasang laut, armada jung Singasari dapat melayari sampai jauh kedaerah pedalaman hulu sungai diberbagai banyak Nagari, dipedalaman hulu sungai Citarum di tanah Pasundan, di pedalaman hulu sungai Musi dan dipedalaman hulu sungai Batanghari di Tanah Melayu.

    Lewat tangan kepemimpinan Raden Wijaya, pilar-pilar istana kerajaan laut Singasari telah mulai terbangun.
    Sementara itu, dilangit malam dibawah cahaya bulan dan bintang terlihat sebuah bahtera dengan tujuh buah layar terkembang penuh tengah melaju diatas lautan luas, kadang bahtera itu bergoyang dipermainkan gelombang laut.

    “Kita telah memasuki perairan Masalembo, para pelaut menamakan daerah ini sebagai neraka laut”, berkata seorang yang nampak gagah diatas anjungan kepada seorang pemuda didekatnya. Ternyata dua orang itu tidak lain adalah Kebo Arema dan Mahesa Amping di atas Jung Singasari.

    “Kenapa para pelaut menyebut daerah ini sebagai neraka laut ?”, bertanya Mahesa Amping penuh penasaran.

    “Hantu badai sering datang dengan tiba-tiba sebagai pusaran puting beliung yang menakutkan menyeret dan menenggelamkan sebuah bahtera hingga kedasar laut dalam ”, berkata Kebo Arema sambil matanya menatap jauh kedepan, sepertinya takut ucapannya didengar oleh hantu badai yang baru saja disebutnya.

    Ternyata ucapan Kebo Arema sepertinya di dengar oleh hantu badai yang paling ditakuti, tiba-tiba saja terdengar suara angin bergemuruh berasal dari lambung kanan jung Singasari.

    “putar kemudi membelakangi arah badai”, berteriak Kebo Arema kepada dua orang yang telah siap siaga memegang kemudi ganda yang menjadi cirri khas jung Singasari.

    Terlihat juru mudi itu dengan sigap telah memutar arah tepat bersamaan dengan datangnya gelombang besar mendorong bahtera yang seperti terbang begitu tinggi melambung.

  14. Disinilah para prajurit merasakan berhadapan dengan keganasan laut yang sebenarnya, namun berkat latihan yang sering mereka lakukan terutama dalam menghadapi datangnya badai laut, mereka seperti diuji dengan medan yang sebenarnya, disinilah para prajurit awak jung Singasari dituntut untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan. Tanpa mengenal gentar beberapa prajurit berlari mendekati tali tiang layar, dengan cepat mereka berhasil menurunkan tiang layar. Dan jung Singasari telah selamat dari gulungan angin yang berputar lewat diatas jung Singasari yang tengah meluncur terhempas menukik menuruni gelombang pasang.

    Jung Singasari telah terhempas menampar air laut dibawahnya mengangkat air laut naik mengisi dan membasahi hampir sepanjang geladak seperti hujan besar tercurah dari langit. Satu jam lebih seluruh awak jung Singasari diguncang gelombang, disinilah mereka diuji untuk dengan tangkas mengarahkan bahtera mengikuti kemana arah gelombang datang, dan Kebo Arema adalah pengarah dan pemandu mereka yang sangat dipercaya.

    “Pertahankan arah, belakangi ombak gelombang”, berteriak Kebo Arema dengan suaranya yang keras ditengah suara gemuruh angin gelombang ombak laut yang datang mengejar.

    Akhirnya setelah sekian lama bermain dan bertarung dengan gelombang, mereka merasakan gelombang sudah tidak datang dan mengejar lagi, sepertinya makhluk gelombang pasang telah telah bosan mengoyak-ngoyak bahtera itu, mungkin telah jauh dari area perburuannya.

    “Kita telah jauh keluar dari jalur mata angin, kembangkan kembali layar penuh”, berkata Kebo Arema memberi perintah kepada prajuritnya yang langsung dilaksanakan dengan trampil dan penuh cekatan.Dan semuanya sepertinya telah memahami dan mengerti apa yang harus dilakukan sesuai dengan tugasnya masing-masing.

    “Pertahankan arah, kita telah kembali pada jalur mata angin”, kembali Kebo Arema berkata kepada dua orang yang bertugas menjaga kemudi kembar.

    Badai pasti berlalu, demikianlah para awak bahtera itu merasakan makna yang sebenarnya. Sebuah makna yang bukan sekedar kata-kata, tapi mereka memang merasakan dan menghadapinya dalam kehidupan nyata, melewati saat yang begitu mencekam, merasakan tubuh terhempas dan tergoncang bersamaan dengan guyuran tumpahan air asin laut menampar wajah.

    “Berbahagialah, tidak semua orang merasakan apa yang baru saja kita alami, merasakan nyawa akan hilang, merasakan hidup akan berakhir”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan beberapa prajurit yang ada dianjungan yang diketahui baru pertama kali ini merasakan keganasan gelombang badai yang sesungguhnya.

    “Inilah pelajaran pertama, dan kalian telah melewatinya dengan benar”, berkata kembali Kebo Arema.

    Sementara itu diujung timur cakrawala langit, semburat warna merah mencium ujung tepian laut sebagai tanda sang dewi pagi akan datang menjelang.

    Kearah semburat warna merah itulah bahtera itu mengarahkan kemudinya, mengarahkan layar harapan.

    • Kamsiaaa…!!
      Selamat pagi.

    • matur suwun Pak Dhalang

  15. Sugeng Enjing Para Sanak Kadang Padepokan…
    Nyuwun doa supados ontran2 wonten enggal2 lerem…
    Niat sae ananging wonten in tengah margi malah nyebabaken kerusuhan..

    • saya juga miris Ki
      mudah-mudahan segera ada penyelesaian sehingga kehidupan masyarakat yang tidak tahu menahu bisa kembali normal, tanpa ketakutan.

      • hadu…ane ketinggalan informasi nich, ada kerusuhan dimana ????

  16. Seekor elang laut terlihat terbang mengambang berputar putar, itulah bahasa alam sebagai tanda bahwa daratan sudah semakin mendekat.

    “Sebentar lagi kita akan menemui daratan”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil matanya menatap dan mengikuti arah elang laut yang tengah berputar-putar.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, terlihat bayangan hitam daratan diujung pandangan yang jauh. Sebuah pemandangan yang indah, sebuah harapan yang indah setelah sekian lama jiwa terasa jenuh memandang hamparan laut luas yang sepertinya tidak bertepi.

    “Daratan !!”, berteriak seorang prajurit melepas rasa kegembiraannya.
    Bahtera itu terus melaju mendekati bayangan hitam yang semakin nampak jelas.

    Akhirnya daratan tidak lagi sebagai bayangan hitam, tapi sudah terlihat jelas sebagai gerumbul hutan bakau yang subur hijau menutupi tepian bibir laut. Beberapa nelayan terlihat tengah mengayuh jukungnya dan melambaikan tangannya kearah bahtera besar yang baru dilihatnya untuk pertama kalinya.

    “Dengan bahtera sebesar itu kita dapat mencari ikan ditempat lebih jauh lagi”, berkata seorang anak lelaki tanggung kepada seorang lelaki tua, mungkin ayahnya.

    “Dengan bahtera itu kita tidak perlu menepi, berlayar sepanjang masa”, berkata lelaki tua sambil tersenyum, matanya mengagumi bahtera yang tengah melaju dekat jukungnya yang kecil terguncang-guncang terkena sayap ombak bahtera besar.

    “Inilah daratan Bone, kampung para pelaut”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping di anjungan.
    Akhirnya bahtera telah memasuki sebuah teluk besar, terlihat sebuah perkampungan nelayan yang besar.

    Perlahan jung Singasari mendekati sebuah dermaga besar. Tiga orang prajurit dengan penuh cekatan melompat ke tepi dermaga, dan dengan sigap pula menyambut ujung tali yang dilemparkan kearahnya dari atas Bahtera.

    “Inilah Bandar Bacukiki”, berkata Kebo Arema memperkenalkan nama Bandar tempat bahtera mereka saat itu telah merapat.

    “Bandar yang sepi”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bandar itu tidak seperti layaknya Bandar-bandar besar yang pernah dikunjunginya.

    “Kitalah yang akan meramaikannya kelak”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.”Bandar Bacukiki ini adalah gerbang utama menuju Tanah Gurun, selama ini para pelaut mandar menyembunyikan Pulau Gurun, sebuah daratan yang kaya akan pala dan lada, apakah kamu sudah menangkap kemana arah pembicaraanku ?”, bertanya Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Kita memutuskan mata rantai para pelaut mandar, membawa pala dan lada dari Tanah Gurun langsung ke Tanah Melayu dengan harga yang bagus”, berkata Mahesa Amping.

  17. “Aku senang punya kawan seperjalanan yang otaknya sangat encer”, berkata Kebo Arema sambil menepuk-nepuk bahu Mahesa Amping.”Mari kita turun melihat keadaan Bandar Bacukiki”, berkata kembali Kebo Arema.

    Ketika mereka berdua telah turun di dermaga, seorang yang sudah cukup berumur namun masih terlihat kegagahannya telah mendatangi mereka.

    “Siapakah diantara tuan yang menjadi pimpinan bahtera besar ini”, bertanya orang itu.

    “Akulah pemimpin bahtera besar ini, putra Karaeng Tuku yang pernah menyelamatkan sepuluh pelaut mandar di pulau Wangi-wangi’, berkata Kebo Arema dengan bahasa asli mandar yang cukup kental kepada orang yang datang menyapanya.

    Terlihat orang itu tertegun sebentar mendengar ucapan Kebo Arema, dahinya terlihat semakin bertambah kerutan seperti tengah mengingat-ingat sesuatu dengan kuat.

    “Aku belum pikun, dihadapanku pasti Karaeng Taka, putra penguasa Pulau Wangi-wangi yang telah menyelamatkan selembar nyawaku ini”, berkata orang itu setelah merasa ingatannya telah menemukan sebuah kenangan yang sudah lama terlupakan.

    “Benar, aku Karaeng Taka. Ternyata Paman Malarangeng masih gagah seperti dulu yang kukenal”, berkata Kebo Arema yang ternyata mengenal orang dihadapannya.

    “Tidak kusangka, hari ini aku bertemu dengan putra Karaeng Tuku yang dulu masih kecil dan sangat nakal”, berkata orang itu yang di panggil Paman Malarangeng penuh kegembiraan menyalami erat tangan Kebo Arema serta mengguncang-guncang bahunya seperti layaknya orang yang lebih tua kepada seorang bocah.

    “Mari ikut berkunjung kerumahku, keluargaku akan senang dapat mengenal putra penyelamatku dari Wangi-wangi”, berkata Paman Malarangeng mengajak Kebo Arema dan Mahesa Amping ke rumahnya.

    Ternyata rumah Paman Malarangeng tidak begitu jauh dari dermaga, sebuah rumah panggung yang besar.

    Dirumah panggung itu Kebo Arema diperkenalkan kepada semua keluarga dan kerabatnya, berkali-kali Paman Malarangeng menyebut nama Kebo Arema sebagai putra yang penyelamat dari Wangi-wangi.

    “Orang Mandar adalah para pembuat jung yang cakap, melihat Bahtera besarmu aku jadi iri, ternyata bukan hanya orang mandar satu-satunya yang cakap dalam membuat sebuah jung besar”, berkata Paman Malarangeng.

    “paman Malarangeng tidak usah berkecil hati, bahtera besar itu adalah karya para putra mandar”, berkata Kebo Arema kepada Paman Malarangeng yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “Ternyata karya orang kita sendiri”, berkata Paman Malarangeng sambil masih mengangguk-anggukkan kepalanya tanda penuh kekaguman dan kebanggaan.

    • nDhisiki pak Satpam,
      nDhisiki Ki Menggung,
      nDhisiki Ki Arga,
      nDhisiki Ki Bancak,
      nDhisiki Ki LarDust,

      KKKaaaammmmssssiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!

    • hadu…..

      telat aku, semalam nguantuke puoll………., gak tahan menunggu kehadiran Pak Dhalang

      hmmm…
      matur suwun. (gak bengok, sudah diwakili Ki Gembleh)

      • Wiew …. (tiru-tiru Nyi DewiKZ)

        tiga rontal lagi, SFBDBS-07 sudah bisa dibungkus.

        menunggu………. !

  18. Pasti paman Malarangeng yang ini kaga pake kumis.

    (soalnya si paman ini jujur banget………..!!!!!!!)

    Kaaammmsssiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!

  19. Selamat siang kadang sedoyo,
    pwenek tenan tidur, sampe mimpi ketemu kawan-kawan lama, kawan-kawan lama yang entah ada dimana sekarang………………..

  20. “Kami membawa banyak barang berbagai senjata dan alat pertanian, mudah-mudahan berguna untuk orang-orang disini”, berkata Kebo Arema kepada Paman Malarangeng.

    “Kebetulan sekali, kami disini tengah membangun kekuatan, orang-orang suku dalam sering datang menyerang”, berkata Paman Malarangeng.

    “Kulihat perkampungan besar ini tidak begitu kaya, apa yang mereka harapkan ?, bertanya Kebo Arema.

    “Mereka tidak mencari harta, tapi mencari para wanita”, berkata Paman Malarangeng.

    “Ternyata perang lama”, berkata Kebo Arema sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Tahan keberangkatan kalian hingga tiga hari, kami akan memuat bahtera kalian dengan kebutuhan yang cukup selama pelayaran menuju Tanah Gurun”, berkata Paman Malarangeng.

    Hari itu juga Kebo Arema telah memerintahkan beberapa prajurit untuk menurunkan berbagai senjata dan alat pertanian. Pada jaman itu Singasari memang terkenal sebagai daerah pengrajin alat-alat pertanian dan berbagai senjata.

    “Aku memang pernah mendengar bahwa di Tanah Singasari banyak ahli pembuat alat dan senjata”, berkata Paman Malarangeng sambil memeriksa berbagai senjata. “Ringan dan kuat”, berkata kembali Paman Malarangeng sambil menimang-nimang sebuah golok panjang.

    Dan tidak terasa senja telah turun di Bandar Bacukiki, puluhan kalelawar terlihat telah keluar dari sarangnya meski hari masih bening, mungkin sudah tidak sabar setelah seharian menunggu datangnya malam.

    Malam itu Kebo Arema dan Mahesa Amping beristirahat di rumah Paman Malarangeng. Banyak yang mereka percakapkan sambil menunggu datangnya rasa kantuk tiba.

    “Perkampungan ini sangat terbuka, memudahkan musuh menyerang dari banyak tempat”, berkata Kebo Arema memberi penilaian tentang keadaan perkampungan Bandar Bacukiki.

    “Mungkin kamu punya saran untuk itu”, berkata Paman Malarangeng meminta saran kepada Kebo Arema.

    “Membangun rumah pantau yang tinggi, yang dapat melihat kedatangan musuh dari tempat yang jauh”, berkata Kebo Arema.

    “Sebuah usul yang baik”,berkata Paman Malarangeng menyetujui usul dari Kebo Arema.

    “Aku juga punya seorang kawan yang dapat melatih sebuah pasukan khusus”, berkata Kebo Arema sambil melirik Mahesa Amping.

    “Kami menghaturkan ribuan terima kasih, pasukan khusus itu akan menjaga dan melindungi wanita-wanita kami”, berkata Paman Malarangeng yang sudah menbayangkan sebuah pasukan yang kuat.

    • terima kasih, matur nuwun

      • selamat sore Ki Bancak, monggo…kata pak Satpam tinggal tiga rontal lagi kita sudah boleh masuk ke gandhok delapan.

        Terima kasih telah mengawani perjalanan ini………………….

  21. Keesokan harinya, Paman Malarangeng telah mengumpulkan semua lelaki yang ada. Ternyata mereka umumnya telah mempunyai dasar kanuragan yang lumayan. Maka dengan telaten Mahesa Amping meningkatkan tataran mereka tanpa merubah apapun yang telah mereka miliki. Mahesa Amping memberikan beberapa bentuk latihan yang harus mereka lakukan, baik latihan yang akan meningkatkan tataran ilmu secara perorangan maupun secara berkelompok.

    “Waktu yang ada memang sangat singkat, Paman Malarangeng harus mengawasi mereka untuk selanjutnya”, berkata Mahesa Amping kepada Paman Malarangeng.

    “Ketika kembali dari Tanah Gurun, kuharap kalian punya waktu yang cukup”, berkata Paman Malarangeng yang bersedia mengawasi latihan-latihan yang telah diberikan oleh Mahesa Amping.

    Dan waktu memang terasa begitu singkat, tiga hari telah berlalu, selama itu para lelaki di perkampungan Bandar Bacukiki telah mempelajari beberapa hal yang dapat meningkatkan kemampuan mereka, baik secara perorangan maupun secara berkelompok, meski dibutuhkan waktu yang cukup unutk melatihnya.

    Senja itu langit sudah berwarna bening kelabu, puluhan kalelawar telah memenuhi angkasa Bandar Bacukiki. Terlihat tiga orang prajurit tengah melepaskan tali temali tambatan dermaga.

    “Kami menunggu kedatangan kalian kembali”, berkata Paman Malarangeng melambaikan tangannya bersama beberapa lelaki di dermaga Bandar Bacukiki.

    Dan Bahtera besar itu terlihat perlahan bergerak bergeser menjauhi dermaga Bandar Bacukiki, menyusuri hutan bakau yang subur menutupi bibir pantai lengkung teluk Bone.

    Malam itu bulan bulat kuning bergelantung diatas langit bersama jutaan bintang berkelip mengawani sebuah bahtera yang tengah terapung diatas hamparan laut luas seperti tidak bertepi. Tujuh tiang layar terlihat sudah mengembang ditiup angin yang sepertinya tidak pernah lelah bertiup sepanjang malam.

    Dan rembulan telah mengiringi bahtera besar itu berlayar menuju ke pulau pelabuhan berikutnya hingga diujung sisa malam.
    Temaram warna merah menyala terlihat diujung sebuah pulau hitam.

    “Arahkan layar ke pulau hitam itu”, berkata Kebo Arema kepada juru mudinya.

    Dan bahtera besar itu telah mengarahkan layarnya kea rah pulau yang terlihat kelam bermahkota cahaya warna merah menyala.
    Cahaya warna merah itu sudah semakin buram karena harus berbagi cahayanya mengisi seluruh lengkung langit.Sebuah bahtera elok berlayar tujuh terlihat terapung ditengah lautan luas menuju sebuah pulau yang semakin terlihat jelas.

    • rontal kedua………..!!!!!

  22. “Kita sudah masuk keperairan pulau wangi-wangi”, berkata Kebo Arema sambil matanya tidak melepas sedikitpun daratan didepannya, tidak sebagamana biasanya bila bahtera hampir mendekati sebuah tempat untuk berlabuh, kali ini terlihat raut wajah Kebo Arema begitu tegang, sepertinya ada sebuah kenangan kelam mengisi seluruh benak dan pikirannya.

    Lamunan Kebo Arema telah tersungkur jauh melampaui waktu yang begitu jauh, terlempar dalam kenangan kelam ketika dirinya harus keluar meninggalkan pulau wangi-wangi tempat dirinya dibesarkan. Terbayang jelas ketika di suatu hari Ayahnya telah menyuruhnya keluar dari Pulau Wangi-wangi.

    “Kamu adalah putra tunggalku, pergilah sejauh kamu bisa. Datanglah kembali setelah kamu telah menjadi seorang lelaki”, berkata Ayah Kebo Arema kepada dirinya.

    Kebo Arema masih mengingat jelas, hari itu Pulau Wangi-wangi telah didatangi segerombolan orang, salah seorang diantaranya adalah pamannya sendiri. Pamannya adalah seorang buangan dari pulau Wangi-wangi karena telah melakukan sebuah dosa yang tidak dapat diampuni, telah menodai seorang gadis. Dan gadis itu adalah sepupunya sendiri, sebuah garis perkawinan yang ditabukan oleh orang pulau Wangi-wangi.

    Hari itu Paman Kebo Arema datang untuk merebut kekuasaan ayah Kebo Arema. Meski ayah Kebo Arema adalah orang yang kuat dan disegani di pulau Wangi-wangi, namun menghadapi gerombolan itu pasti tidak akan mampu melawannya. Menghadapi suasana yang sulit dan berbahaya itu, ayahnya telah meminta Kebo Arema segera meninggalkan Pulau Wangi-wangi untuk menghindari hal-hal yang mungkin saja dapat terjadi.

    Kebo Arema tidak pergi jauh, hanya meyeberang ke sebuah pulau terdekat. Dari beberapa nelayan yang juga dikenalnya sebagai penghuni pulau Wangi-wangi didapat sebuah berita menyedihkan, Ayahnya telah terbunuh. Dan Pamannya telah menjadi penguasa pulau wangi-wangi bersama gerombolannya.

    “Pulau Wangi-wangi saat ini seperti neraka, pamanmu dan gerombolannya telah berlaku diluar batas kemanusian, mereka seperti raja besar yang harus dilayani, merebut semua wanita yang diinginkannya”, berkata nelayan itu mengakhiri ceritanya kepada Kebo Arema.

    Sejak saat itu Kebo Arema telah mengembara jauh, dihati kecilnya ada sebuah tekad untuk kembali menuntut balas.
    Dan hari itu Kebo Arema telah datang kembali setelah pengembaraannya yang panjang.

    Terlihat matahari telah bersembul dari balik daratan pulau Wangi-wangi yang cukup luas. Sebuah daratan yang cukup hijau. Burung-burung kecil berburu ikan di peraiaran yang semakin mendekati daratan.

    Dan Bahtera telah menjatuhkan jangkarnya, laut landai tidak memungkinkan bahtera besar itu menepi sampai ke daratan. Terlihat sepuluh jukung kecil keluar dari jung Singarasi mendekati bibir pantai Pulau Wangi-wangi.

    Lima orang berperawakan tegar sepertinya tengah menanti kedatangan mereka.

    • rontal ke tiga ….!!!!
      Gimana Paklek Satpam ??, ane udeh punya tiket masuk kegandhok anyer.

      • Hadu…….
        mohon maaf Pak Kompor “Bara Membara”
        ternyata satpam salah hitung, saat ini baru 71 halaman A5 font Georgia 11. Satu bundel 75 halaman. Jadi sepertinya paling tidak dua rontal lagi baru bisa dibundel.
        ngapunten……

        Gandok baru sedang satpam siapkan, segel dibuka setelah sfbdbs-07 bisa dibundel.

        nuwun

  23. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    Menjelang pergantian Tahun Hijriyah, wangsa Bayuaji mengucapkan:

    Sugêng Warså Énggal 1 Muharram 1433H

    Mohon maaf atas segala kesalahan dan khilaf yang telah lalu.
    Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Aamiin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Selamat malam Ki Bayuaji, lama tak bersua

      Wangsa Mahesa Kompor juga mengucapkan selamat tahun baru Hijrah, semoga ada niat untuk memulainya sebagai jalan baru, tekat baru menjadi manusia yang lebih baik lagi, SOMOGA

      • Selamat malam PAK DALANG, lama tak bersua JUGA

        CANTRIK YUDHA juga mengucapkan selamat tahun baru Hijrah, semoga ada niat untuk memulainya sebagai jalan baru, tekat baru menjadi manusia yang lebih baik lagi, SOMOGA

        • Selamat malam Ki Yudha, sayangnya para sinden sudah kepincut berat sama pemilik kaos ukuran XXXXXL dari pulau Bandeng presto,hehehe 3 x bergema

          • WE-LAH…..APA BETULAN KI MAHESA KOMPOR,

            YANG CANTRIK DENGAR SIH….BUKAN NI SINDEN,
            ANANGING BU LIK-e NI SINDEN,

  24. MENUNGGU BUKA-AN GANDOK ANYAR OOOOIIIII-OOOOIIII,

    PAK SATPAM CEPET DI BUKA GEMBOK GANDOK-08,
    PAK DALANG MAU NBEBER RONTAL SABTU MALAM

    MESAK-KE NI SINDEN DARI TADI DUDUK DHEPROK
    NING TERAS GANDOK.

  25. Ternyata Paklek Satpam salah hitung,
    gak papa, rontal baru masih terus dimasak sampe mateng untuk tiket masuk gandhok anyer

  26. Sepuluh buah jung telah merapat dipantai berpasir.Empat puluh lelaki terihat telah meloncat keair laut dangkal. Sinar matahari pagi menyinari wajah-wajah mereka yang terus melangkah kedepan.

    “Aku hanya ingin bicara dengan pemimpin kalian”, berkata salah seorang dari lima orang lelaki perperawakan kekar dan tegar.

    “Akulah pemimpinnya”, berkata Kebo Arema dengan suara menantang keras.

    Kelima orang itu terkejut mendengar suara yang tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun.

    “Kamu harus tahu aturan di atas pulau ini”, berkata kembali salah seorang dari mereka.

    “Selama aturan itu tidak merugikan, kami akan mentaatinya”, berkata Kebo Arema kepada orang itu.

    “Aturan kepada siapapun yang singgah di pulau ini adalah menyerahkan setengah barang yang dibawanya”, berkata orang itu dengan suara yang agak sedikit ditinggikan.

    “Kami tidak akan menerima aturan itu, niat kami semula hanya singgah, tapi niat kami berubah melihat kesewenang-wenangan aturan di pulau ini”, berkata Kebo Arema.

    “Bila tidak menerima aturan di pulau ini, silahkan tinggalkan tempat ini”, berkata orang itu.

    “Kami memang tidak sekedar singgah, kami datang untuk menguasai pulau ini”, berkata Kebo Arema dengan suara yang tidak kalah kerasnya dengan orang itu.

    Kelima orang itu kaget dan terkejut mendengar ucapan Kebo Arema yang terkesan seperti menantang perang. Tapi kelima orang itu cukup cerdik, mereka berlima tidak akan mungkin menang menghadapi empat puluh orang yang terlihat sudah siap bertempur.

    “Kami akan lapor kepada Pimpinan kami, tunggulah disini, kami akan datang dan mengusir kalian seperti menggebuk seekor anjing kurapan”, berkata orang itu sambil mengajak keempat kawannya pergi.

    “Katakan kepada pemimpin kalian, aku putra Kareng Tuku datang untuk menuntut balas”, berkata Kebo Arema kepada kelima orang yang tengah akan pergi meninggalkan mereka.

    Salah seorang dari kelima orang yang hendak berlalu itu nampaknya terkejut mendengar sebuah nama disebut oleh Kebo Arema, orang itu terlihat berbalik badan memperhatikan Kebo Arema dari ujung kaki sampai ke kepala.

    “Aku akan menyampaikannya kepada pemimpin kami”, berkata orang itu yang langsung berbalik badan mengejar keempat kawannya yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.

    “Kira-kira berapa kekuatan mereka”, berkata Mahesa Amping yang berdiri didekat Kebo Arema.

    “Menurutku tidak melebihi banyaknya lelaki di Bandar Bacukiki”, berkata Kebo Arema.

  27. “Aku pernah melihat kemampuan para lelaki di Bandar Bacukiki, bersiaplah kalian menghadapi perang brubuh yang kasar”, berkata Mahesa Amping kepada semua prajurit yang ikut merapat di pantai pulau Wangi-wangi.
    Tidak lama kemudian datanglah rombongan orang dari arah daratan.

    “Ternyata keponakanku yang datang”, berkata seorang yang nampaknya orang penting di pulau wangi-wangi itu.

    “Ternyata Paman Karaeng Jagong tidak pernah susut tua”, berkata Kebo Arema menatap tajam seorang lelaki dihadapannya yang di panggilnya sebagai paman Karaeng Jagong.

    “Karaeng Taka, ternyata kamu sudah menjadi seorang lelaki”, berkata Karaeng Jagong yang masih mengenali Kebo Arema sebagai putra saudaranya.

    “Darah harus dibalas darah, begitulah tutur dari penjunjung adat di pulau ini”, berkata Kebo Arema dengan suara bergetar menahan gejolak dendamnya yang telah lama berlalu dan hadir menghantui di banyak mimpi-mimpinya.

    “Dulu aku datang menemui ayahmu untuk membalas sakit hati sebagai orang buangan yang terhina, dan sekarang kamu datang kepadaku sebagai seorang putra yang akan menuntut balas, membeli darah dengan darah”, berkata Karaeng Jagong kepada Kebo Arema yang sepertinya masih meremehkan kemampuan keponakannya itu.

    “Aku datang untuk mensucikan pulau ini dengan darahmu”, berkata Kebo Arema masih dengan suara bergetar menahan rasa gusar yang sangat.

    “Habisi mereka, bahtera besar akan menjadi milik kita”, berkata Karaeng Jagong memberi perintah untuk menyerang.

    Sebagaimana yang dikatakan Mahesa Amping, terjadilah perang brubuh yang sangat kasar. Tapi para prajurit muda Singasari adalah prajurit yang tangguh dan juga sudah terlatih lama. Mereka langsung menghadapi serangan orang-orang pulau wangi-wangi.

    Pertempuranpun tidak dapat dihindari lagi, jumlah kekuatan lawan memang berimbang.

    Tapi para prajurit Singasari tidak merasa gentar, terlihat mereka sudah dapat menguasai medan pertempuran, penguasaan mereka melakukan peperangan secara berkelompok maupun secara perorangan telah menjadikan mereka lebih menguasai pertempuran. Ditambah lagi diantara mereka ada Mahesa Amping yang meski tidak menggunakan kemampuan dan kekuatan sebenarnya yang luar biasa melampaui kemampuan orang biasa. Tapi hampir setiap musuh yang datang langsung terpelanting jauh dengan merasakan tulang-tulang rusuknya nyeri patah.

    Sementara itu Kebo Arema telah beradu tanding bersama Karaeng Jagong pamannya sendiri. Kebo Arema masih belum menunjukkan kemampuan yang sebenarnya, masih terus mengimbangi serangan Karaeng Jagong sambil mencari kelemahan-kelemahan yang mungkin dapat ditembusi.

    • gimana paklek satpam ?, ni sinden sudah lama ngedeprok di tangga luar nunggu gandhok anyer dibuka.

      • betol 3x dan terus berGEMA….sampe pak Satpam mBUKA gandok anyar,

        belom CUKUPkah….?? he3x, rasa2nya 2 rontal paketan pak DALANG cukup buat nukar KUNCI gembok…!!!

        bukankah begitu pak SATPAM (tanpa ada bold ato italic)

        • kamsia pak DALANG…..KAMSIA-KAMSIA-KAMSIAaaaaa

          • selamat malam Ki Yudha,
            tumben pemilik kaus ukuran xxxxl dari pulau bandeng presto kok belum juga mecungul

  28. cerita selanjutnya……….
    – Kebo Arema ditunjuk sebagai penguasa di Pulau Wangi-wangi
    – ketika kembali dari pelayaran di daerah timur, sri baginda Maharaja telah mangkat, digantikan oleh sang putra mahkota yang saat itu masih menjadi Raja di Kediri

    So pasti, Sri Maharaja Kertanegara akan melanjutkan impian ayahandanya, membangun kerajaan laut Singasari jauh lebih luas lagi.

    So pasti, beliau tidak akan lupa dengan para sahabat lamanya, menurut perhitungan ane, Kebo Arema pasti akan diangkat sebagai menteri kelautan dan perikanan. Sementara itu Raden Wijaya dan Lawe kebagian duduk di BAKIN.

    Sementara itu, Mahesa Amping masih diluar kabinet, mungkin beliau diarahkan sebagai ketua MUI.

    • Kapan wedarnya ?
      Ditungguuu…!!

      • menunggu…!!!

        • Menunggu dengan sabar mumpung hari Minggu.

        • Maaf Ki
          Kami sedang stress, mulai tadi malam tidak bisa membuat SBB-04.
          Alhamdulillah, sekarang sudah selesai dengan sedikit akal-akalan.
          Mohon bersabar, sedang dalam proses pengumpulan “ubo-rampi” pembuatan gandok SFBDBS-08

          ditunggu……!!!

  29. SFBDBS-08 sudah dibuka.
    Tetapi SFBDBS-07 belum bisa dibundel, kurang satu halaman.

    Silahkan Ki Kompor mulai wedaran di SFBDBS-08, tetapi satu halaman bagian depan akan kami gabung dengan SFBDBS-07

    nuwun
    satpampelangi

  30. selamat gandok anyar, matur nwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: