SFBDBS-07

SFBDBS 07-177

Ternyata muara sungai Batanghari memang sudah begitu dekat, terlihat tiga buah jung besar tengah memasuki bibir muara sungai Batanghari, terlihat juga beberapa jukung para nelayan yang baru pulang melaut ikut meramaikan suasana Muara sungai itu.

Angin laut berhembus lembut, cahaya perak sinar matahari membias seperti warna pelangi diatas warna air berwarna kehijauan. Jung Singasari sudah memasuki bibi muara sungai Batanghari yang lebar dan panjang. Semakin masuk kedalam, semakin banyak menemui sungai yang bercabang membelah daratan menjadi sebagai sebuah pulau.

“Tanah seribu pulau, itulah nama lain untuk Tanah melayu”, berkata Kebo Arema kepada Ratu Anggabhaya sambil melihat beberapa cabang sungai yang berliku.

Sementara itu ketika matahari telah bergeser sedikit jatuh dari puncaknya, Jung Singasari telah mendekati Bandar Melayu. Terlihat tiang-tiang layar jung besar bergoyang dipermainkan gelombang air sungai di sepanjang dermaga.

Akhirnya Jung Singasari telah merapat di tepi dermaga.

“Jung raksasa itu pastilah Jung Singasari dari Bandar Cangu, jauh lebih besar dari apa yang pernah kubayangkan”, berkata seorang pedagang India kepada kawannya ketika melihat jung Singasari merapat di Dermaga.

“Dengan Jung sebesar itu, aku berani mengarungi lautan yang keras”, berkata kawannya.

Sementara itu diatas Jung Singasari terlihat beberapa kesibukan kecil, beberapa prajurit dengan cekatan melompat ketepi dermaga, membawa tali temali untuk diikatkan ditonggak-tonggak dermaga. Di buritan dua orang prajurit tengah menurunkan tali jangkar, meyakinkan bahwa jangkar benar-benar sudah jatuh sampai kedasar sungai.

“Kami menunggu kabar dari kalian bertiga”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan turun lebih dulu.

Telah disepakati sebelumnya, bahwa ketiga pemuda itu akan menjadi penghubung yang akan mengabarkan kepada pihak Istana Tanah Melayu bahwa utusan dari Kerajaan Singasari akan datang berkunjung menghaturkan sebuah pinangan.

“Ada baiknya bila kita menemui Datuk Belang, mungkin beliau dapat membantu serta memberikan beberapa pertimbangan”, berkata raden Wijaya ketika mereka sudah hampir mendekati kotaraja Tanah Melayu.

Rumah Datuk Belang memang tidak jauh dari Kotaraja.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya mereka telah sampai di rumah Datuk Belang, sebuah rumah panggung yang besar.

“Mudah-mudahan beliau ada dirumah”, berkata Mahesa Amping sambil tertus melangkah mendekati anak tangga.

Seorang yang seumur Datuk Belang telah menyongsong mereka, ternyata seorang pelayan Datuk Belang yang sudah mereka kenal.

“Selamat berjumpa kembali”, berkata Pelayan tua itu. ”Sebentar sore Datuk Belang dan Pranjaya pasti kembali, saat ini mereka masih ada diistana menghadap Sri baginda”, berkata kembali pelayan tua itu.

“Tentu ada urusan yang sangat penting sampai Sri baginda memanggil mereka”, berkata mahesa Amping kepada pelayan tua itu.

“Mungkin”, berkata pelayan tua itu sambil tersenyum dan pamit untuk menyiapkan makanan dan minuman kepada meraka.

“Tidak usah repot-repot Paman”, berkata Lawe yang dibalas oleh pelayan tua itu dengan penuh senyum.
Sementara itu hari memang sebentar lagi menjelang sore, mereka tidak menunggu begitu lama. Datuk Belang dan Pranjaya yang ditunggu akhirnya telah datang.

Bukan main senangnya Datuk Belang dan Pranjaya melihat kehadiran ketiga pemuda itu ada dirumahnya.
Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Raden Wijaya langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka yang sesungguhnya.

“Jadi kalian datang bersama utusan Raja Singasari untuk meminang seorang putri Raja Melayu”, berkata datuk belang setelah mendengar semua perkataan Raden Wijaya.

“Mungkin Datuk belang dapat memberi beberapa pertimbangan untuk kami”, berkata Raden Wijaya.

“Sepengetahuanku, hanya ada dua putri di istana, Dara Petak dan Dara Jingga. Siapakah diantara mereka yang akan dipinang untuk Raja Singasari?”, bertanya Datuk Belang sambil memandang Raden Wijaya dan Mahesa Amping secara bergantian. Diam-diam Datuk Belang sudah mengetahui perasaan yang ada dihati kedua pemuda ini kepada kedua putri Raja Melayu.

Datuk Belang tersenyum mendapatkan tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

“Apakah pertanyaanku begitu sulit?”, bertanya Datuk Belang masih dengan penuh senyum.

“Pertanyaan Datuk memang begitu sulit untuk dapat kami menjawabnya”, berkata raden Wijaya seperti orang yang tidak berdaya.

“Bila pertanyaanku yang pertama ini begitu sulit, aku akan memberikan sebuah pertanyaan kedua, semoga pertanyaan kedua ini tidak sulit untuk dijawab”, berkata Datuk Belang sambil memandang Mahesa Amping dan Raden Wijaya secara bergantian.

“Semoga saja tidak serumit pertanyaan pertama”, berkata Raden Wijaya tidak sabaran untuk mendengar pertanyaan kedua dari datuk Belang.

———-oOo———-

SFBDBS 07-178

“Dengarkan”, berkata Datuk Belang. “Bersediakah kalian berdua menjadi suami dari dua orang putri Dara Petak dan Dara Jingga, seandainya ayahandanya datang kepada kalian, meminang kalian berdua ?”

“Meminang kami?”, bertanya Mahesa Amping.

“Aku ingin jawaban dan bukan balas bertanya”, berkata Datuk Belang. “Bukankah kalian sudah tahu adat di Tanah Melayu, pihak wanitalah yang akan datang meminang”, berkata kembali Datuk Belang.

“Dua pertanyaan yang datuk sampaikan kepada kami memang begitu sulit untuk dapat kami jawab, pertanyaan pertama menyangkut kepentingan perasaan pribadi kami, sementara pertanyaan kedua berkaitan erat dengan tugas kami sebagai utusan Sri baginda Maharaja Singasari, dan kami tidak ingin terjebak dalam perselingkuhan antara tugas dan pribadi”, berkata Mahesa Amping mewakili sahabatnya Raden Wijaya.

“Sudahlah ayah, dua orang tamu kita sudah begitu pening, jangan berputar-putar”, berkata Pranjaya yang kasihan melihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya seperti orang kebingungan.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan pertanyaan ketiga, untuk menjawabnya dibutuhkan sebuah keberanian”, berkata Datu Belang sambil memandang Mahesa Amping dan Raden Wijaya bergantian. Bibirnya masih menyungging sebuah senyum.

“Mudah-mudahan kami dapat menjawabnya”, berkata Raden Wijaya.

“Sebelum kusampaikan pertanyaanku, aku akan sedikit bercerita”, berkata Datuk Belang.

Sebagaimana yang dikatakan, Datuk Belang pun akhirnya bercerita.

Dahulu kala, ayahanda Srimat Tribhuwanaraja bersahabat dengan seorang pendeta suci bernama Empu Mraten. Kepada sahabatnya ayahanda Tribhuwanaraja telah berjanji bahwa salah satu putranya akan diberikan kepada sahabatnya itu yang kelak akan dididik menjadi pendeta suci.

Namun janji ayahanda Tribhuwanaraja tidak dapat dilaksanakan, karena beliau hanya berputra tunggal.
Ketika Tribhuwanaraja dinobatkan sebagai Raja, Empu Mraten datang untuk mengingatkan janji ayahandanya dengan mengatakan bahwa bila janji ini tidak dilaksanakan akan membawa malapetaka besar di Tanah Melayu.

“Aku hanya berputra tunggal”, berkata Ayahanda Tribhuwanaraja penuh kebingungan kepada sahabatnya Empu Mraten.

Ketika masalah ini disampaikan kepada Tribhuwanaraja, sebagai seorang anak yang berbakti ia mencoba memberikan sebuah usulan.

“Permaisuriku tengah mengandung, seorang putra atau seorang putri, aku akan memberikannya kepadamu sebagai pengganti diriku”, berkata Tribhuwanaraja kepada Empu Mraten.

Akhirnya Empu Mraten menerima usulan itu.

 “Bilamana anakmu seorang putra, aku akan menjadikannya sebagai seorang Srimat, namun bila anakmu seorang putri, aku akan mengembalikannya setelah dia dewasa. Yang datang mengambil anakmu adalah seorang perjaka yang mampu mengalahkan ilmuku”, berkata Empu Mraten memberikan beberapa persyaratan.

Beberapa bulan kemudian Sang permaisuri melahirkan anak pertamanya. Dan ternyata anak yang dilahirkan itu adalah seorang putri.

Sampai disitu Datuk Belang mengakhiri ceritanya, penuh senyum memandang kepada Mahesa Amping dan raden Wijaya.

“Pertanyaan ketiga, siapakah diantara kalian yang dapat mewakili untuk mengambil putri Tribhuwanaraja dari tangan Empu Mraten?”, bertanya Datuk Belang.

“Aku bersedia mewakili mengambil putri Raja”, berkata Mahesa Amping langsung menawarkan dirinya.

“Terima kasih, kamu telah menjawab langsung pertanyaanku yang ketiga. Berarti pula bahwa dua buah tugasku yang kuemban dari Tribhuwanaraja telah kutunaikan”, berkata Datuk Belang.

“Aku belum dapat menangkap perkataan Datuk yang terakhir”, berkata Raden Wijaya.

“Tadi pagi aku dipanggil Sri Baginda Raja, beliau memberikan dua buah tugas kepadaku, tugas pertama adalah datang ke Singasari untuk meminang kalian berdua. Tugas selanjutnya adalah meminta kalian mengambil kembali putrinya dari pendeta suci Empu Mraten. Kedatangan kalian adalah berkah tak terkirakan untuk kami. Kalian datang seperti pucuk dicinta ulampun tiba”, berkata Datuk Belang dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.

“Dimana kami dapat menjumpai Empu Mraten ?, bertanya Mahesa Amping.

“Mereka tinggal disebuah kuil suci bernama kuil Muaro, berjarak sekitar setengah hari perjalanan dari Kotaraja. Pranjaya dapat menjadi petunjuk jalan yang baik untuk kalian”, berkata Datuk Belang.

Semua mata memandang kepada Pranjaya. Baru disadari bahwa Pranjaya ternyata telah memakai busana seorang prajurit lengkap Tanah Melayu.

“Kamu sudah menjadi seorang prajurit?”, berkata Lawe.

“Benar, namaku sekarang adalah Hang Pranjaya, Sri Baginda Raja telah mengaruniakan kepadaku sebagai Senapati prajurit perang”, berkata Pranjaya penuh kebanggaan.

“Tanah Melayu ini akan menjadi aman dibawah lindungan seorang senapati perangnya yang berilmu tinggi”, berkata Raden Wijaya memberi selamat kepada Pranjaya.

“Bukankah Sri Baginda Raja pernah meminta kalian sebagai panglima prajuritnya?”, berkata Pranjaya.

“Dan sekarang dua dari pemuda ini tidak akan menolak pinangan Sri Baginda Raja untuk kedua putrinya”, berkata Datuk Belang yang ditanggapi penuh tawa semua yang ada di panggung pendapa.

———-oOo———-

SFBDBS 07-179

Dan haripun terus berlalu membawa sang waktu berjalan melewati malam.

Pagi itu matahari sudah merayap mengintip dari sela-sela hutan galam ketika sebuah jukung terapung diatas sebuah anak sungai Musi. Diatas jukung itu duduk dua orang pemuda yang terlihat bersama mendayung dengan kayuhnya membawa jukung melaju meluncur membelah air sungai yang jernih.

Dua orang pemuda diatas jukung itu ternyata Mahesa Amping dan Pranjaya. Mereka tengah melakukan perjalanan menuju Kuil Suci Muaro yang terletak di pulau kecil bernama Pulau Muaro. Dikuil itulah tempat tinggal Empu Mraten sebagai guru suci membagi ilmu bersama murid-murid setianya.

Pulau Muaro adalah sebuah bukit kecil yang dikelilingi oleh sebuah sungai. Di puncak bukit kecil itulah sebuah kuil berdiri megah dihiasi taman hutan alam yang asri dibawahnya menambah keelokan kuil seperti sebuah persinggahan milik para dewa-dewi.

“Kuil Muaro sudah terlihat”, berkata Pranjaya sambil menunjuk ke sebuah arah.

“Kuil diatas bukit, sebuah kuil yang indah”, berkata Mahesa Amping sambil tak jemu memandang kuil diatas bukit yang memang seperti lukisan alam yang indah.

Akhirnya jukung mereka telah menepi di Pulau Muaro. Terlihat mereka tengah mendekati sebuah anak tangga batu. Itulah jalan satu-satunya menuju kekuil Muara yang berada diatas puncak bukit kecil itu.

“Apakah anak muda berdua akan melakukan persembahan?”, bertanya seorang yang sudah begitu tua dipintu masuk kuil penuh keramahan. Orang tua itu sebagaimana para penghuni sebuah kuil pada umumnya, memakai kain kasar berwarna putih yang sudah kusam melilit beberapa bagian tubuhnya.

“Kami datang bukan untuk melakukan persembahan, kami datang untuk menemui Guru Suci Empu Mraten”, berkata Pranjaya juga dengan penuh hormat.

Orang tua itu memandang Mahesa Amping dan Pranjaya sambil tersenyum.

“Teruslah kalian berjalan, ketika kalian menemui sebuah kolam ikan, berbeloklah kekanan hingga kalian menemui sebuah altar batu, tunggulah disitu”, berkata orang tua itu.

Mahesa Amping dan Pranjaya mengikuti arah yang ditunjukkan orang tua itu. Akhirnya mereka menemui sebuah altar yang menghadap sebuah taman kecil. Sebuah taman kecil yang indah yang sepertinya terawat dengan baik.

Tidak lama kemudian muncullah orang tua yang mereka temui di pintu kuil, hanya bedanya orang tua itu memakai pakaian yang lebih baik, masih bersih dan belum menjadi kusam.

“Mungkin kalian menjadi bingung, orang yang kalian temui di muka kuil itu adalah saudara kembarku, bukankah kalian mengatakan kepadanya ada urusan denganku?”, berkata orang itu dengan penuh ramah yang ternyata adalah Guru Suci Empu Mraten Sendiri.

Mahesa Amping dan Pranjaya memang melihat kesamaaan itu, maka dengan penuh hormat mengucapkan salam kepada orang tua dihadapannya itu.

 “Mari kita bicara diatas altar”, berkata Empu Mraten mempersilahkan dua orang tamunya duduk diatas sebuah batu altar yang bersih dan begitu licin, mungkin sudah puluhan tahun dipakai sebagai tempat pertemuan dan sudah sering diduduki.

Mahesa Amping dan Pranjaya langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka di kuil Muaro itu.

“Jadi kalian adalah utusan Tribhuwanaraja untuk membawa kembali putrinya”, berkata Empu Matren penuh senyum.

“Benar, untuk itulah kami datang ke kuil ini”, berkata Mahesa Amping membenarkan.

“Pastinya kamu sudah tahu persyaratan yang telah disepakati”, berkata Empu Matren kepada Mahesa Amping sambil menatap tajam seperti tengah mengukur sejauh mana tingkat ilmu pemuda itu.

“Diriku menjadi salah satu persyaratan itu”, berkata Mahesa Amping.

“Aku yakin Tribhuwanaraja tidak akan salah memilih orang”, berkata Empu Mraten masih memandang tajam kearah Mahesa Amping.

“Semoga aku dapat mengemban tugas ini dengan baik”, berkata Mahesa Amping.

“Aku akan mengujimu dengan sebuah pertanyaan, siapakah yang lebih bodoh dari keledai dungu ?”, bertanya Empu Matren.

Mahesa amping diam sejenak, pertanyaan itu mengingatkan dirinya kepada Mahendra. Disaat masih kecil sering dibacakan kepadanya berbagai kitab kuno, dan terakhir lewat Gurusuci Darmasiksa pengenalannya terhadap isi kitab-kitab kuno itu menjadi semakin kaya dan semakin tembus pandang.

“Yang paling dungu dari seekor keledai dungu adalah buih ombak yang mengaku sebagai lautan”, berkata Mahesa Amping yang ingat pada salah satu syair dalam sebuah kitab kuno.

“Luar biasa, aku senang dengan kamu anak muda, ternyata kamu sudah mendalami sebuah kitab kuno yang sangat rahasia, hanya para brahmana yang diperkenankan menelitik kitab kuno itu”, berkata Empu Matren gembira Mahesa Amping telah mampu menjawab pertanyaannya.

Terlihat Mahesa Amping bernafas lega, pertanyaan Empu Matren ternyata menguji sejauh mana tingkat pemahamannya mengenai ajaran Tatwa.

“Anak muda, apakah kamu dapat bersembunyi di tempat terang”, bertanya kembali Empu Matren yang sepertinya menguji Mahesa Amping sejauh mana pengenalannya pada ilmu kejiwan.

Terlihat Mahesa Amping tersenyum, terlintas hari-hari terakhir pertemuannya dengan Gurusuci Darmasiksa di Padepokan Kahuripan.

“Aku bahkan dapat bersembunyi di tengah lapangan”, berkata Mahesa Amping dengan penuh senyum.

“Ternyata Tribhuwanaraja tidak salah mengutus orang”, berkata Empu Matren merasa puas sekali.

———-oOo———-

SFBDBS 07-180

“Anak muda, ayahanda Trubhuwanaraja adalah sahabatku, tahukah kamu mengapa dirinya akan menyerahkan putranya kepadaku?”, bertanya Empu Matren kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping menggelengkan kepalanya tanda tidak mengetahuinya.

“Ayahanda Tribhuwanaraja kalah taruhan kepadaku, beliau tidak dapat memecahkan jurus ilmu yang kuciptakan sendiri bernama jurus tapak suci teratai terbang”, berkata Empu Matren.

“Mari kita ke sanggar terbuka”, berkata Empu Matren bangkit dari duduknya mengajak Mahesa Amping dan Pranjaya mengikutinya.

Terlihat mereka memasuki kuil lebih kedalam, ternyata ditengah bangunan kuil ada ruangan terbuka. Sebuah ruangan yang cukup luas untuk sebuah sanggar tempat berlatih olah kanuragan. Beberapa cantrik langsung menghentikan latihannya ketika mereka melihat kedatangan Empu Matren, Pranjaya dan Mahesa Amping.

“Persiapkan dirimu anak muda”, berkata Em Matren yang sudah terlihat berdiri kokoh diatas kedua kakinya.

“Aku sudah siap”, berkata Mahesa Amping yang juga telah berdiri berbuat yang sama menyalurkan tenaganya di atas kedua kakinya yang sepertinya menapak dengan kuat diatas lantai tanah sanggar terbuka.

Tiba-tiba saja tubuh Empu Matren melenting terbang menyerang dengan cepat kearah tubuh Mahesa Amping.
Menghadapi serangan awal yang keras dan cepat itu, Mahesa Amping bergerak menghindar dengan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna. Namun Empu Matren tidak melepasnya, terus memburu kemanapun Mahesa Amping bergerak menghindar.

Serangan demi serangan Empu Matren terlihat begitu cepat dan sangat berbahaya, kadang seperti menjepit dalam dua sisi serangan yang bersamaan, namun Mahesa Amping selalu dapat menghindar. Pertempuran terlihat begitu seru dan menjadi begitu cepat, terlihat tubuh-tubuh mereka melesat begitu cepat seperti dua ekor burung sikatan bertempur diudara saling berkejaran.

Empu Matren menjadi begitu penasaran, sudah puluhan jurus dikeluarkannya belum juga dapat mengalahkan Mahesa Amping yang selalu menghindar dan tidak melakukan balas menyerang.

Ternyata Mahesa Amping tidak hanya menghindar, diam-diam membaca setiap gerakan Empu Matren, memahat dan menyimpannya didalam benaknya. Mahesa Amping memang mempunyai daya ingat yang luar biasa, hanya dengan sekali pandang ia dapat mengingat semua jurus yang dilakukan oleh Empu Matren.

Peluh sudah membasahi sekujur tubuh Empu Matren.
Wajahnya yang sudah berkeriput ternyata tidak sebanding dengan kekuatan dan kecepatan bergeraknya yang nampak begitu kuat dan sangat cekatan.

 “Luar biasa, semuda ini sudah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna”, berkata Empu Mraten dalam hati sambil terus memburu kemanapun Mahesa Amping menghindar.

“Pengulangan yang ketiga”, berkata Mahesa Amping dalam hati telah dapat menyimpan dan menghapal seluruh jurus yang dilakukan oleh Empu Matren.

Ternyata Mahesa Amping telah dapat mencerna seluruh jurus yang dikeluarkan Empu Matren yang diciptakannya sendiri bernama Tapak Suci Teratai Terbang.

“Luar biasa”, berkata Empu Matren yang tiba-tiba saja mendapatkan serangan dari Mahesa Amping.

Empu Matren seperti tidk percaya dengan apa yang dilihatnya, Mahesa Amping telah menyerangnya dengan jurusnya sendiri.

Ternyata Mahesa Amping sambil bertempur telah berhasil mengubah setiap jurus milik Empu Matren menjadi lebih sempurna.

Terlihat Empu Matren telah menghadapi jurusnya sendiri, bahkan menjadi lebih sempurna ditangan Mahesa Amping. Meski sebagai seorang pencipta, Empu Matren sudah mengenal betul jurus-jurusnya, maka tidak heran bila Empu Matren dapat menghindar dan balas menyerang. Pertempuran mereka seperti sebuah latihan dari dua orang saudara seperguruan.

“Sempurna”, berkata Empu Matren yang nyaris terkena serangan Mahesa Amping yang diluar dugaannya telah mengubah jurusnya dengan lebih sempurnya.

“Aku tidak pernah mewariskan ilmuku kepada siapapun selain kepada murid-muridku”, berkata Empu Matren sambil melenting kebelakang menghindari serangan Mahesa Amping yang tidak pernah diduganya.

“Hari ini Empu telah mewariskan ilmu itu kepadaku”, berkata Mahesa Amping yang tidak segera memburu dan menyerang Empu Matren yang melenting kebelakang.

“Aku ingin tahu sejauh mana kamu dapat menyerap jurusku”, berkata Empu matren sambil kembali melakukan serangan.

Maka sebagaimana sebelumnya, sebuah pertempuran kembali terjadi dengan jurus yang nyaris sama.

Mendapatkan jurus ciptaannya dilakukan oleh orang lain, bahkan menjadi lebih sempurna, membuat Empu Matren menjadi begitu bersemangat seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Berkali-kali tidak sengaja keluar pujian mengagumi perubahan jurusnya yang menjadi begitu indah dan sempurna.

Hingga akhirnya sebuah pukulan berhasil menembus pertahanan Empun Matren, tangan kanan Mahesa Amping berhasil menghantam pinggang Empu Matren yang terbuka.

Tubuh Empu Matren terlihat terdorong kesamping dan jatuh terguling, Mahesa Amping tidak menyalurkan seluruh kekuatannya.

———-oOo———-

SFBDBS 07-181

bersambung ke bagian 2

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 8 November 2011 at 00:01  Comments (253)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-07/trackback/

RSS feed for comments on this post.

253 KomentarTinggalkan komentar

  1. hore, kamsiiiiaaaaaa

    • HADU KEDHISIKAN KI BC MASUK PRIPITAN

  2. selamat MALAM…..cantrik HADIR,

  3. Selamet pagi, mengHADIRkan diri

    • sugeng enjang, mengABSEN diri sendiri

      • pak DALANG lagi tugas cangkulan, gelaRAN rontal
        baru wedar malam nanti….”tetep semangaaaat”

        • semangat teteeeep

  4. Akhirnya disepakati, Raden Wijaya dan Lawe ditugaskan sebagai pemimpin tertinggi armada besar Jung Singasari, mempunyai wewenang penuh untuk mengambil berbagai pertimbangan dan keputusan besar.Sementra itu Mahesa Amping ditunjuk untuk mendampingi Kebo Arema, merintis jalur pelayaran baru kea rah timur.

    Ketika keputusan ini disampaikan kepada para prajurit pengawal jung singasari, mereka menerima dan berjanji akan mematuhi segala perintah dan keputusan.

    “Kita harus mohon doa restu dari Sri Baginda Maharaja di Kutaraja”, berkata Kebo Arema.
    Keesokan harinya, keempat orang pentolan armada besar laut Singasari ini telah memacu kudanya berangkat ke Kotaraja untuk mohon doa restu dri Sri Maharaja Singasari.

    Mereka tiba di Kotaraja bersamaan dengan hari Maguntur Raya. Disaksikan bersama para pejabat istana, dibalai maguntur raya Kebo Arema menyampaikan laporan khusus tentang berbagai hal menyangkut tentang Armada besar jung Singasari di hadapan Sri Maharaja Singasari.

    Sri Maharaja Singasari menerima laporan Kebo Arema dengan penuh gembira dan suka cita, impiannya tentang kerajaan laut telah menjadi kenyataan.

    “Armada jung Singasari telah membawa kemakmuran yang besar, pemikiran dan rencanamu untuk menyatukan jalur perdagangan laut dari timur ke barat adalah pemikiran yang cerdas, doa dan restuku menyertai kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja Singasari di ruang rapat balai magunturan raja.

    Setelah keluar dari balai Maguntur raya, mereka tidak langsung kembali ke Bandar Cangu. Mereka berempat menyempatkan waktu beristirahat semalam di pesanggrahan Ratu Anggabhaya, memohan restu dan nasehat langsung dari Ratu Anggabhaya.Keesokan harinya baru mereka berempat berangkat menuju Bandar Cangu.

    “Selamat jalan para pendekar laut sejati”, berkata Ratu Anggabhaya melepas keberangkatan mereka.
    Kotaraja saat itu sudah memasuki pergantian musim panas, dipagi yang hangat itu terlihat empat ekor kuda keluar dari gerbang kota menyusuri jalan tanah yang terbuka kearah Bandar Cangu.

    Lengkung langit bertebaran awan putih, matahari musim panas terasa lebih menyengat cahayanya membakar bumi. Diiringi debu yang mengepul dibelakang kaki-kaki kuda, empat orang berkuda terlihat rancak melarikan kudanya diatas jalan tanah yang kering, mereka adalah Kebo Arema, Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang tengah menembus hari menuju Bandar Cangu. Keceriaan nampak menyelimuti wajah mereka. Dibenak hati masing-masing masih terbayang wajah Sri Baginda Maharaja yang penuh suka cita dan perasaan gembira mendengar laporan Kebo Arema di ruang Balai Maguntur Raya. Ibarat arah matahari, tugas “kekancingan” membangun armada besar laut Singasari sudah menapak diarah puncak matahari. Setengahnya lagi adalah menunggu datangnya senja kesempurnaan.

    Dan senja akhirnya telah tiba menyambut langkah kaki kuda mereka di padukuhan terdekat dari Bandar Cangu yang ramai.

  5. “Selamat datang kembali di Benteng Cangu”, berkata
    Mahesa Pukat menyambut kedatangan Kebo Arema, Lawe dan Mahesa Amping yang baru tiba dari Kutaraja.

    Setelah bersih-bersih dan beristirahat sejenak, barulah mereka berkumpul kembali di pendapa Benteng Cangu, banyak yang mereka bicarakan sepanjang malam, antara lain tentang rencana keberangkatan pelayaran menuju daerah timur.

    Dan rembulan sepotong nampaknya begitu lelah mengegelantung diatas langit benteng Cangu. Suara burung celepuk terdengar panjang dan semakin menjauh hilang ditelan kesunyian malam.

    Hari-hari berlalu menunggu saat keberangkatan pelayaran ke daerah timur nampaknya sudah hampir tiba. Beberapa prajurit yang ijin ke kampung halamannya bertemu dengan keluarganya masing-masing nampaknya hampir dapat dipastikan telah berdatangan berkumpul kembali di barak-barak mereka.

    Dan pagi itu terlihat sebuah jung besar bergerak perlahan meninggalkan dermaga Bandar Cangu. Kebo Arema, Mahesa Amping dan tiga ratus prajurit pengawal melambaikan tangannya kepada orang-orang yang berdiri di sepanjang Bandar Cangu melepas kepergian mereka, melepas para pelaut sejati, pejuang perintis daerah baru bagi kemakmuran dan kejayaan Singasari.

    “Selamat jalan sahabat”, berkata Lawe melambaikan tangannya mengiringi jung Singasari yang terus melaju membelakangi Bandar Cangu yang akhirnya hanya terlihat buritan bahteranya yang semakin menjauh hilang diujung batas mata memandang.

    Raden Wijaya dan Lawe mulai merasakan ketidak hadiran dua orang terdekatnya ketika langkah kaki mereka beranjak dari tepi dermaga Bandar Cangu, ketika tiba di benteng Cangu, dan ketika datang berkunjung ke barak prajurit pengawal jung Singasari keesokan harinya.

    Tapi perasaan itu tidak dibiarkan membeku, justru perasaan itu telah menggerakkan hati dan semangat mereka untuk dapat berkarya, membuat berbagai kesibukan baru.

    Ternyata berawal dari sinilah sifat dan sikap kepemimpinan raden wijaya mulai terlatih.

    Dimulai dari pembangunan balai tamu yang besar ditengah barak-barak prajurit tempat Raden Wijaya dan Lawe dapat menerima para tamunya dari berbagai kalangan, sekaligus tempat mereka beristirahat.

    Raden Wijaya dan Lawe nampaknya berkeinginan keluar dari ketergantungan Benteng Cangu yang selama ini banyak membantu.

    Mahesa Pukat diam-diam memuji keputusan Raden Wijaya dan Lawe, Armada laut Singasari adalah kesatuan dan kekuatan yang besar, balai tamu yang besar dan megah adalah citra perwakilan wibawa kesatuan mereka.

    “Terima kasih atas pengertian dan dukungan dari Paman Senapati”, berkata Raden Wijaya atas dukungan dan simpatik yang besar dari Mahesa Pukat.

    • dua rontal untuk gandhok anyer

      • Kamsiaaa… !!

        • Kaaammmssiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!

          • matur nuwuuuunnnn

          • nuwuuuunnnn matur

          • Mancuuuuur Nuuwuuuuuun.

  6. ABSEN

  7. dua rontal sudah siap digelar untuk besok pagi,
    atau…………..

    • siap!!!

    • suwun

    • kamSIA….!!!

  8. SIAP, KAPAN SAJA, TETAPI KALAU BISA LEBIH CEPAT, KENAPA TIDAK, NUWUN

    • SIAP-SIAP KAPAN SAJA,……..NUWUN JUGA

      • Siap kapan siap saja………….juga nuwun.

  9. HADIR (pake bold)….HADIR (pake italic)

    ndhisiki ki GembLEH

  10. Sugeng dalu Ki Menggung,
    kadosipun Pak Dhalang ketiduran………

    Tak nDulit Ni Sinden wae ah……..

  11. On 23 November 2011 at 22:48 kompor said:

    dua rontal sudah siap digelar untuk besok pagi,
    atau…………..

    he he he ….
    sekarang ini sudah pagi apa belum ya??

    halah….
    ataunya itu bisa besok malam, lusa pagi, lusa malam, dst.

    monggo Pak “Dhalang” Kompor “Bara Membara”, pakeliran sudah siap.

  12. hup…baru sampe rumah,

  13. Setelah balai tamu berdiri dengan megahnya ditengah barak-barak prajurit, kembali Raden Wijaya menunjukkan bakat kepemimpinannya yang cemerlang. Raden Wijaya telah membuat kesepakatan dagang bersama berbagai kalangan terutama para bangsawan Singasari.

    Dibawah kepemimpinan Raden Wijaya, lima bahtera Jung Singasari tidak pernah sepi dan selalu sarat penuh membawa berbagai barang pulang dan pergi sepanjang jalur perdagangan antara Bandar Cangu dan Tanah Melayu. Dan armada jung Singasari sudah mulai dikenal oleh para saudagar besar sebagai armada dagang yang paling disegani, dapat menjaga keamanan barang perdagangan sampai ditempat tujuan.

    Kekuatan armada laut Singasari telah ikut memicu kemakmuran di dalam nagari, berbagai hasil pertanian, berbagai hasil kerajinan yang berlimpah dapat diperdagangkan keluar nagari ke berbagai tempat yang jauh sampai ke Tanah Melayu.

    Disaat musim pasang laut, armada jung Singasari dapat melayari sampai jauh kedaerah pedalaman hulu sungai diberbagai banyak Nagari, dipedalaman hulu sungai Citarum di tanah Pasundan, di pedalaman hulu sungai Musi dan dipedalaman hulu sungai Batanghari di Tanah Melayu.

    Lewat tangan kepemimpinan Raden Wijaya, pilar-pilar istana kerajaan laut Singasari telah mulai terbangun.
    Sementara itu, dilangit malam dibawah cahaya bulan dan bintang terlihat sebuah bahtera dengan tujuh buah layar terkembang penuh tengah melaju diatas lautan luas, kadang bahtera itu bergoyang dipermainkan gelombang laut.

    “Kita telah memasuki perairan Masalembo, para pelaut menamakan daerah ini sebagai neraka laut”, berkata seorang yang nampak gagah diatas anjungan kepada seorang pemuda didekatnya. Ternyata dua orang itu tidak lain adalah Kebo Arema dan Mahesa Amping di atas Jung Singasari.

    “Kenapa para pelaut menyebut daerah ini sebagai neraka laut ?”, bertanya Mahesa Amping penuh penasaran.

    “Hantu badai sering datang dengan tiba-tiba sebagai pusaran puting beliung yang menakutkan menyeret dan menenggelamkan sebuah bahtera hingga kedasar laut dalam ”, berkata Kebo Arema sambil matanya menatap jauh kedepan, sepertinya takut ucapannya didengar oleh hantu badai yang baru saja disebutnya.

    Ternyata ucapan Kebo Arema sepertinya di dengar oleh hantu badai yang paling ditakuti, tiba-tiba saja terdengar suara angin bergemuruh berasal dari lambung kanan jung Singasari.

    “putar kemudi membelakangi arah badai”, berteriak Kebo Arema kepada dua orang yang telah siap siaga memegang kemudi ganda yang menjadi cirri khas jung Singasari.

    Terlihat juru mudi itu dengan sigap telah memutar arah tepat bersamaan dengan datangnya gelombang besar mendorong bahtera yang seperti terbang begitu tinggi melambung.

  14. Disinilah para prajurit merasakan berhadapan dengan keganasan laut yang sebenarnya, namun berkat latihan yang sering mereka lakukan terutama dalam menghadapi datangnya badai laut, mereka seperti diuji dengan medan yang sebenarnya, disinilah para prajurit awak jung Singasari dituntut untuk melakukan apa yang harus mereka lakukan. Tanpa mengenal gentar beberapa prajurit berlari mendekati tali tiang layar, dengan cepat mereka berhasil menurunkan tiang layar. Dan jung Singasari telah selamat dari gulungan angin yang berputar lewat diatas jung Singasari yang tengah meluncur terhempas menukik menuruni gelombang pasang.

    Jung Singasari telah terhempas menampar air laut dibawahnya mengangkat air laut naik mengisi dan membasahi hampir sepanjang geladak seperti hujan besar tercurah dari langit. Satu jam lebih seluruh awak jung Singasari diguncang gelombang, disinilah mereka diuji untuk dengan tangkas mengarahkan bahtera mengikuti kemana arah gelombang datang, dan Kebo Arema adalah pengarah dan pemandu mereka yang sangat dipercaya.

    “Pertahankan arah, belakangi ombak gelombang”, berteriak Kebo Arema dengan suaranya yang keras ditengah suara gemuruh angin gelombang ombak laut yang datang mengejar.

    Akhirnya setelah sekian lama bermain dan bertarung dengan gelombang, mereka merasakan gelombang sudah tidak datang dan mengejar lagi, sepertinya makhluk gelombang pasang telah telah bosan mengoyak-ngoyak bahtera itu, mungkin telah jauh dari area perburuannya.

    “Kita telah jauh keluar dari jalur mata angin, kembangkan kembali layar penuh”, berkata Kebo Arema memberi perintah kepada prajuritnya yang langsung dilaksanakan dengan trampil dan penuh cekatan.Dan semuanya sepertinya telah memahami dan mengerti apa yang harus dilakukan sesuai dengan tugasnya masing-masing.

    “Pertahankan arah, kita telah kembali pada jalur mata angin”, kembali Kebo Arema berkata kepada dua orang yang bertugas menjaga kemudi kembar.

    Badai pasti berlalu, demikianlah para awak bahtera itu merasakan makna yang sebenarnya. Sebuah makna yang bukan sekedar kata-kata, tapi mereka memang merasakan dan menghadapinya dalam kehidupan nyata, melewati saat yang begitu mencekam, merasakan tubuh terhempas dan tergoncang bersamaan dengan guyuran tumpahan air asin laut menampar wajah.

    “Berbahagialah, tidak semua orang merasakan apa yang baru saja kita alami, merasakan nyawa akan hilang, merasakan hidup akan berakhir”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan beberapa prajurit yang ada dianjungan yang diketahui baru pertama kali ini merasakan keganasan gelombang badai yang sesungguhnya.

    “Inilah pelajaran pertama, dan kalian telah melewatinya dengan benar”, berkata kembali Kebo Arema.

    Sementara itu diujung timur cakrawala langit, semburat warna merah mencium ujung tepian laut sebagai tanda sang dewi pagi akan datang menjelang.

    Kearah semburat warna merah itulah bahtera itu mengarahkan kemudinya, mengarahkan layar harapan.

    • Kamsiaaa…!!
      Selamat pagi.

    • matur suwun Pak Dhalang

  15. Sugeng Enjing Para Sanak Kadang Padepokan…
    Nyuwun doa supados ontran2 wonten enggal2 lerem…
    Niat sae ananging wonten in tengah margi malah nyebabaken kerusuhan..

    • saya juga miris Ki
      mudah-mudahan segera ada penyelesaian sehingga kehidupan masyarakat yang tidak tahu menahu bisa kembali normal, tanpa ketakutan.

      • hadu…ane ketinggalan informasi nich, ada kerusuhan dimana ????

  16. Seekor elang laut terlihat terbang mengambang berputar putar, itulah bahasa alam sebagai tanda bahwa daratan sudah semakin mendekat.

    “Sebentar lagi kita akan menemui daratan”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil matanya menatap dan mengikuti arah elang laut yang tengah berputar-putar.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, terlihat bayangan hitam daratan diujung pandangan yang jauh. Sebuah pemandangan yang indah, sebuah harapan yang indah setelah sekian lama jiwa terasa jenuh memandang hamparan laut luas yang sepertinya tidak bertepi.

    “Daratan !!”, berteriak seorang prajurit melepas rasa kegembiraannya.
    Bahtera itu terus melaju mendekati bayangan hitam yang semakin nampak jelas.

    Akhirnya daratan tidak lagi sebagai bayangan hitam, tapi sudah terlihat jelas sebagai gerumbul hutan bakau yang subur hijau menutupi tepian bibir laut. Beberapa nelayan terlihat tengah mengayuh jukungnya dan melambaikan tangannya kearah bahtera besar yang baru dilihatnya untuk pertama kalinya.

    “Dengan bahtera sebesar itu kita dapat mencari ikan ditempat lebih jauh lagi”, berkata seorang anak lelaki tanggung kepada seorang lelaki tua, mungkin ayahnya.

    “Dengan bahtera itu kita tidak perlu menepi, berlayar sepanjang masa”, berkata lelaki tua sambil tersenyum, matanya mengagumi bahtera yang tengah melaju dekat jukungnya yang kecil terguncang-guncang terkena sayap ombak bahtera besar.

    “Inilah daratan Bone, kampung para pelaut”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping di anjungan.
    Akhirnya bahtera telah memasuki sebuah teluk besar, terlihat sebuah perkampungan nelayan yang besar.

    Perlahan jung Singasari mendekati sebuah dermaga besar. Tiga orang prajurit dengan penuh cekatan melompat ke tepi dermaga, dan dengan sigap pula menyambut ujung tali yang dilemparkan kearahnya dari atas Bahtera.

    “Inilah Bandar Bacukiki”, berkata Kebo Arema memperkenalkan nama Bandar tempat bahtera mereka saat itu telah merapat.

    “Bandar yang sepi”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bandar itu tidak seperti layaknya Bandar-bandar besar yang pernah dikunjunginya.

    “Kitalah yang akan meramaikannya kelak”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.”Bandar Bacukiki ini adalah gerbang utama menuju Tanah Gurun, selama ini para pelaut mandar menyembunyikan Pulau Gurun, sebuah daratan yang kaya akan pala dan lada, apakah kamu sudah menangkap kemana arah pembicaraanku ?”, bertanya Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Kita memutuskan mata rantai para pelaut mandar, membawa pala dan lada dari Tanah Gurun langsung ke Tanah Melayu dengan harga yang bagus”, berkata Mahesa Amping.

  17. “Aku senang punya kawan seperjalanan yang otaknya sangat encer”, berkata Kebo Arema sambil menepuk-nepuk bahu Mahesa Amping.”Mari kita turun melihat keadaan Bandar Bacukiki”, berkata kembali Kebo Arema.

    Ketika mereka berdua telah turun di dermaga, seorang yang sudah cukup berumur namun masih terlihat kegagahannya telah mendatangi mereka.

    “Siapakah diantara tuan yang menjadi pimpinan bahtera besar ini”, bertanya orang itu.

    “Akulah pemimpin bahtera besar ini, putra Karaeng Tuku yang pernah menyelamatkan sepuluh pelaut mandar di pulau Wangi-wangi’, berkata Kebo Arema dengan bahasa asli mandar yang cukup kental kepada orang yang datang menyapanya.

    Terlihat orang itu tertegun sebentar mendengar ucapan Kebo Arema, dahinya terlihat semakin bertambah kerutan seperti tengah mengingat-ingat sesuatu dengan kuat.

    “Aku belum pikun, dihadapanku pasti Karaeng Taka, putra penguasa Pulau Wangi-wangi yang telah menyelamatkan selembar nyawaku ini”, berkata orang itu setelah merasa ingatannya telah menemukan sebuah kenangan yang sudah lama terlupakan.

    “Benar, aku Karaeng Taka. Ternyata Paman Malarangeng masih gagah seperti dulu yang kukenal”, berkata Kebo Arema yang ternyata mengenal orang dihadapannya.

    “Tidak kusangka, hari ini aku bertemu dengan putra Karaeng Tuku yang dulu masih kecil dan sangat nakal”, berkata orang itu yang di panggil Paman Malarangeng penuh kegembiraan menyalami erat tangan Kebo Arema serta mengguncang-guncang bahunya seperti layaknya orang yang lebih tua kepada seorang bocah.

    “Mari ikut berkunjung kerumahku, keluargaku akan senang dapat mengenal putra penyelamatku dari Wangi-wangi”, berkata Paman Malarangeng mengajak Kebo Arema dan Mahesa Amping ke rumahnya.

    Ternyata rumah Paman Malarangeng tidak begitu jauh dari dermaga, sebuah rumah panggung yang besar.

    Dirumah panggung itu Kebo Arema diperkenalkan kepada semua keluarga dan kerabatnya, berkali-kali Paman Malarangeng menyebut nama Kebo Arema sebagai putra yang penyelamat dari Wangi-wangi.

    “Orang Mandar adalah para pembuat jung yang cakap, melihat Bahtera besarmu aku jadi iri, ternyata bukan hanya orang mandar satu-satunya yang cakap dalam membuat sebuah jung besar”, berkata Paman Malarangeng.

    “paman Malarangeng tidak usah berkecil hati, bahtera besar itu adalah karya para putra mandar”, berkata Kebo Arema kepada Paman Malarangeng yang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.

    “Ternyata karya orang kita sendiri”, berkata Paman Malarangeng sambil masih mengangguk-anggukkan kepalanya tanda penuh kekaguman dan kebanggaan.

    • nDhisiki pak Satpam,
      nDhisiki Ki Menggung,
      nDhisiki Ki Arga,
      nDhisiki Ki Bancak,
      nDhisiki Ki LarDust,

      KKKaaaammmmssssiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!

    • hadu…..

      telat aku, semalam nguantuke puoll………., gak tahan menunggu kehadiran Pak Dhalang

      hmmm…
      matur suwun. (gak bengok, sudah diwakili Ki Gembleh)

      • Wiew …. (tiru-tiru Nyi DewiKZ)

        tiga rontal lagi, SFBDBS-07 sudah bisa dibungkus.

        menunggu………. !

  18. Pasti paman Malarangeng yang ini kaga pake kumis.

    (soalnya si paman ini jujur banget………..!!!!!!!)

    Kaaammmsssiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!

  19. Selamat siang kadang sedoyo,
    pwenek tenan tidur, sampe mimpi ketemu kawan-kawan lama, kawan-kawan lama yang entah ada dimana sekarang………………..

  20. “Kami membawa banyak barang berbagai senjata dan alat pertanian, mudah-mudahan berguna untuk orang-orang disini”, berkata Kebo Arema kepada Paman Malarangeng.

    “Kebetulan sekali, kami disini tengah membangun kekuatan, orang-orang suku dalam sering datang menyerang”, berkata Paman Malarangeng.

    “Kulihat perkampungan besar ini tidak begitu kaya, apa yang mereka harapkan ?, bertanya Kebo Arema.

    “Mereka tidak mencari harta, tapi mencari para wanita”, berkata Paman Malarangeng.

    “Ternyata perang lama”, berkata Kebo Arema sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Tahan keberangkatan kalian hingga tiga hari, kami akan memuat bahtera kalian dengan kebutuhan yang cukup selama pelayaran menuju Tanah Gurun”, berkata Paman Malarangeng.

    Hari itu juga Kebo Arema telah memerintahkan beberapa prajurit untuk menurunkan berbagai senjata dan alat pertanian. Pada jaman itu Singasari memang terkenal sebagai daerah pengrajin alat-alat pertanian dan berbagai senjata.

    “Aku memang pernah mendengar bahwa di Tanah Singasari banyak ahli pembuat alat dan senjata”, berkata Paman Malarangeng sambil memeriksa berbagai senjata. “Ringan dan kuat”, berkata kembali Paman Malarangeng sambil menimang-nimang sebuah golok panjang.

    Dan tidak terasa senja telah turun di Bandar Bacukiki, puluhan kalelawar terlihat telah keluar dari sarangnya meski hari masih bening, mungkin sudah tidak sabar setelah seharian menunggu datangnya malam.

    Malam itu Kebo Arema dan Mahesa Amping beristirahat di rumah Paman Malarangeng. Banyak yang mereka percakapkan sambil menunggu datangnya rasa kantuk tiba.

    “Perkampungan ini sangat terbuka, memudahkan musuh menyerang dari banyak tempat”, berkata Kebo Arema memberi penilaian tentang keadaan perkampungan Bandar Bacukiki.

    “Mungkin kamu punya saran untuk itu”, berkata Paman Malarangeng meminta saran kepada Kebo Arema.

    “Membangun rumah pantau yang tinggi, yang dapat melihat kedatangan musuh dari tempat yang jauh”, berkata Kebo Arema.

    “Sebuah usul yang baik”,berkata Paman Malarangeng menyetujui usul dari Kebo Arema.

    “Aku juga punya seorang kawan yang dapat melatih sebuah pasukan khusus”, berkata Kebo Arema sambil melirik Mahesa Amping.

    “Kami menghaturkan ribuan terima kasih, pasukan khusus itu akan menjaga dan melindungi wanita-wanita kami”, berkata Paman Malarangeng yang sudah menbayangkan sebuah pasukan yang kuat.

    • terima kasih, matur nuwun

      • selamat sore Ki Bancak, monggo…kata pak Satpam tinggal tiga rontal lagi kita sudah boleh masuk ke gandhok delapan.

        Terima kasih telah mengawani perjalanan ini………………….

  21. Keesokan harinya, Paman Malarangeng telah mengumpulkan semua lelaki yang ada. Ternyata mereka umumnya telah mempunyai dasar kanuragan yang lumayan. Maka dengan telaten Mahesa Amping meningkatkan tataran mereka tanpa merubah apapun yang telah mereka miliki. Mahesa Amping memberikan beberapa bentuk latihan yang harus mereka lakukan, baik latihan yang akan meningkatkan tataran ilmu secara perorangan maupun secara berkelompok.

    “Waktu yang ada memang sangat singkat, Paman Malarangeng harus mengawasi mereka untuk selanjutnya”, berkata Mahesa Amping kepada Paman Malarangeng.

    “Ketika kembali dari Tanah Gurun, kuharap kalian punya waktu yang cukup”, berkata Paman Malarangeng yang bersedia mengawasi latihan-latihan yang telah diberikan oleh Mahesa Amping.

    Dan waktu memang terasa begitu singkat, tiga hari telah berlalu, selama itu para lelaki di perkampungan Bandar Bacukiki telah mempelajari beberapa hal yang dapat meningkatkan kemampuan mereka, baik secara perorangan maupun secara berkelompok, meski dibutuhkan waktu yang cukup unutk melatihnya.

    Senja itu langit sudah berwarna bening kelabu, puluhan kalelawar telah memenuhi angkasa Bandar Bacukiki. Terlihat tiga orang prajurit tengah melepaskan tali temali tambatan dermaga.

    “Kami menunggu kedatangan kalian kembali”, berkata Paman Malarangeng melambaikan tangannya bersama beberapa lelaki di dermaga Bandar Bacukiki.

    Dan Bahtera besar itu terlihat perlahan bergerak bergeser menjauhi dermaga Bandar Bacukiki, menyusuri hutan bakau yang subur menutupi bibir pantai lengkung teluk Bone.

    Malam itu bulan bulat kuning bergelantung diatas langit bersama jutaan bintang berkelip mengawani sebuah bahtera yang tengah terapung diatas hamparan laut luas seperti tidak bertepi. Tujuh tiang layar terlihat sudah mengembang ditiup angin yang sepertinya tidak pernah lelah bertiup sepanjang malam.

    Dan rembulan telah mengiringi bahtera besar itu berlayar menuju ke pulau pelabuhan berikutnya hingga diujung sisa malam.
    Temaram warna merah menyala terlihat diujung sebuah pulau hitam.

    “Arahkan layar ke pulau hitam itu”, berkata Kebo Arema kepada juru mudinya.

    Dan bahtera besar itu telah mengarahkan layarnya kea rah pulau yang terlihat kelam bermahkota cahaya warna merah menyala.
    Cahaya warna merah itu sudah semakin buram karena harus berbagi cahayanya mengisi seluruh lengkung langit.Sebuah bahtera elok berlayar tujuh terlihat terapung ditengah lautan luas menuju sebuah pulau yang semakin terlihat jelas.

    • rontal kedua………..!!!!!

  22. “Kita sudah masuk keperairan pulau wangi-wangi”, berkata Kebo Arema sambil matanya tidak melepas sedikitpun daratan didepannya, tidak sebagamana biasanya bila bahtera hampir mendekati sebuah tempat untuk berlabuh, kali ini terlihat raut wajah Kebo Arema begitu tegang, sepertinya ada sebuah kenangan kelam mengisi seluruh benak dan pikirannya.

    Lamunan Kebo Arema telah tersungkur jauh melampaui waktu yang begitu jauh, terlempar dalam kenangan kelam ketika dirinya harus keluar meninggalkan pulau wangi-wangi tempat dirinya dibesarkan. Terbayang jelas ketika di suatu hari Ayahnya telah menyuruhnya keluar dari Pulau Wangi-wangi.

    “Kamu adalah putra tunggalku, pergilah sejauh kamu bisa. Datanglah kembali setelah kamu telah menjadi seorang lelaki”, berkata Ayah Kebo Arema kepada dirinya.

    Kebo Arema masih mengingat jelas, hari itu Pulau Wangi-wangi telah didatangi segerombolan orang, salah seorang diantaranya adalah pamannya sendiri. Pamannya adalah seorang buangan dari pulau Wangi-wangi karena telah melakukan sebuah dosa yang tidak dapat diampuni, telah menodai seorang gadis. Dan gadis itu adalah sepupunya sendiri, sebuah garis perkawinan yang ditabukan oleh orang pulau Wangi-wangi.

    Hari itu Paman Kebo Arema datang untuk merebut kekuasaan ayah Kebo Arema. Meski ayah Kebo Arema adalah orang yang kuat dan disegani di pulau Wangi-wangi, namun menghadapi gerombolan itu pasti tidak akan mampu melawannya. Menghadapi suasana yang sulit dan berbahaya itu, ayahnya telah meminta Kebo Arema segera meninggalkan Pulau Wangi-wangi untuk menghindari hal-hal yang mungkin saja dapat terjadi.

    Kebo Arema tidak pergi jauh, hanya meyeberang ke sebuah pulau terdekat. Dari beberapa nelayan yang juga dikenalnya sebagai penghuni pulau Wangi-wangi didapat sebuah berita menyedihkan, Ayahnya telah terbunuh. Dan Pamannya telah menjadi penguasa pulau wangi-wangi bersama gerombolannya.

    “Pulau Wangi-wangi saat ini seperti neraka, pamanmu dan gerombolannya telah berlaku diluar batas kemanusian, mereka seperti raja besar yang harus dilayani, merebut semua wanita yang diinginkannya”, berkata nelayan itu mengakhiri ceritanya kepada Kebo Arema.

    Sejak saat itu Kebo Arema telah mengembara jauh, dihati kecilnya ada sebuah tekad untuk kembali menuntut balas.
    Dan hari itu Kebo Arema telah datang kembali setelah pengembaraannya yang panjang.

    Terlihat matahari telah bersembul dari balik daratan pulau Wangi-wangi yang cukup luas. Sebuah daratan yang cukup hijau. Burung-burung kecil berburu ikan di peraiaran yang semakin mendekati daratan.

    Dan Bahtera telah menjatuhkan jangkarnya, laut landai tidak memungkinkan bahtera besar itu menepi sampai ke daratan. Terlihat sepuluh jukung kecil keluar dari jung Singarasi mendekati bibir pantai Pulau Wangi-wangi.

    Lima orang berperawakan tegar sepertinya tengah menanti kedatangan mereka.

    • rontal ke tiga ….!!!!
      Gimana Paklek Satpam ??, ane udeh punya tiket masuk kegandhok anyer.

      • Hadu…….
        mohon maaf Pak Kompor “Bara Membara”
        ternyata satpam salah hitung, saat ini baru 71 halaman A5 font Georgia 11. Satu bundel 75 halaman. Jadi sepertinya paling tidak dua rontal lagi baru bisa dibundel.
        ngapunten……

        Gandok baru sedang satpam siapkan, segel dibuka setelah sfbdbs-07 bisa dibundel.

        nuwun

  23. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    Menjelang pergantian Tahun Hijriyah, wangsa Bayuaji mengucapkan:

    Sugêng Warså Énggal 1 Muharram 1433H

    Mohon maaf atas segala kesalahan dan khilaf yang telah lalu.
    Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Aamiin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Selamat malam Ki Bayuaji, lama tak bersua

      Wangsa Mahesa Kompor juga mengucapkan selamat tahun baru Hijrah, semoga ada niat untuk memulainya sebagai jalan baru, tekat baru menjadi manusia yang lebih baik lagi, SOMOGA

      • Selamat malam PAK DALANG, lama tak bersua JUGA

        CANTRIK YUDHA juga mengucapkan selamat tahun baru Hijrah, semoga ada niat untuk memulainya sebagai jalan baru, tekat baru menjadi manusia yang lebih baik lagi, SOMOGA

        • Selamat malam Ki Yudha, sayangnya para sinden sudah kepincut berat sama pemilik kaos ukuran XXXXXL dari pulau Bandeng presto,hehehe 3 x bergema

          • WE-LAH…..APA BETULAN KI MAHESA KOMPOR,

            YANG CANTRIK DENGAR SIH….BUKAN NI SINDEN,
            ANANGING BU LIK-e NI SINDEN,

  24. MENUNGGU BUKA-AN GANDOK ANYAR OOOOIIIII-OOOOIIII,

    PAK SATPAM CEPET DI BUKA GEMBOK GANDOK-08,
    PAK DALANG MAU NBEBER RONTAL SABTU MALAM

    MESAK-KE NI SINDEN DARI TADI DUDUK DHEPROK
    NING TERAS GANDOK.

  25. Ternyata Paklek Satpam salah hitung,
    gak papa, rontal baru masih terus dimasak sampe mateng untuk tiket masuk gandhok anyer

  26. Sepuluh buah jung telah merapat dipantai berpasir.Empat puluh lelaki terihat telah meloncat keair laut dangkal. Sinar matahari pagi menyinari wajah-wajah mereka yang terus melangkah kedepan.

    “Aku hanya ingin bicara dengan pemimpin kalian”, berkata salah seorang dari lima orang lelaki perperawakan kekar dan tegar.

    “Akulah pemimpinnya”, berkata Kebo Arema dengan suara menantang keras.

    Kelima orang itu terkejut mendengar suara yang tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun.

    “Kamu harus tahu aturan di atas pulau ini”, berkata kembali salah seorang dari mereka.

    “Selama aturan itu tidak merugikan, kami akan mentaatinya”, berkata Kebo Arema kepada orang itu.

    “Aturan kepada siapapun yang singgah di pulau ini adalah menyerahkan setengah barang yang dibawanya”, berkata orang itu dengan suara yang agak sedikit ditinggikan.

    “Kami tidak akan menerima aturan itu, niat kami semula hanya singgah, tapi niat kami berubah melihat kesewenang-wenangan aturan di pulau ini”, berkata Kebo Arema.

    “Bila tidak menerima aturan di pulau ini, silahkan tinggalkan tempat ini”, berkata orang itu.

    “Kami memang tidak sekedar singgah, kami datang untuk menguasai pulau ini”, berkata Kebo Arema dengan suara yang tidak kalah kerasnya dengan orang itu.

    Kelima orang itu kaget dan terkejut mendengar ucapan Kebo Arema yang terkesan seperti menantang perang. Tapi kelima orang itu cukup cerdik, mereka berlima tidak akan mungkin menang menghadapi empat puluh orang yang terlihat sudah siap bertempur.

    “Kami akan lapor kepada Pimpinan kami, tunggulah disini, kami akan datang dan mengusir kalian seperti menggebuk seekor anjing kurapan”, berkata orang itu sambil mengajak keempat kawannya pergi.

    “Katakan kepada pemimpin kalian, aku putra Kareng Tuku datang untuk menuntut balas”, berkata Kebo Arema kepada kelima orang yang tengah akan pergi meninggalkan mereka.

    Salah seorang dari kelima orang yang hendak berlalu itu nampaknya terkejut mendengar sebuah nama disebut oleh Kebo Arema, orang itu terlihat berbalik badan memperhatikan Kebo Arema dari ujung kaki sampai ke kepala.

    “Aku akan menyampaikannya kepada pemimpin kami”, berkata orang itu yang langsung berbalik badan mengejar keempat kawannya yang sudah beberapa langkah meninggalkannya.

    “Kira-kira berapa kekuatan mereka”, berkata Mahesa Amping yang berdiri didekat Kebo Arema.

    “Menurutku tidak melebihi banyaknya lelaki di Bandar Bacukiki”, berkata Kebo Arema.

  27. “Aku pernah melihat kemampuan para lelaki di Bandar Bacukiki, bersiaplah kalian menghadapi perang brubuh yang kasar”, berkata Mahesa Amping kepada semua prajurit yang ikut merapat di pantai pulau Wangi-wangi.
    Tidak lama kemudian datanglah rombongan orang dari arah daratan.

    “Ternyata keponakanku yang datang”, berkata seorang yang nampaknya orang penting di pulau wangi-wangi itu.

    “Ternyata Paman Karaeng Jagong tidak pernah susut tua”, berkata Kebo Arema menatap tajam seorang lelaki dihadapannya yang di panggilnya sebagai paman Karaeng Jagong.

    “Karaeng Taka, ternyata kamu sudah menjadi seorang lelaki”, berkata Karaeng Jagong yang masih mengenali Kebo Arema sebagai putra saudaranya.

    “Darah harus dibalas darah, begitulah tutur dari penjunjung adat di pulau ini”, berkata Kebo Arema dengan suara bergetar menahan gejolak dendamnya yang telah lama berlalu dan hadir menghantui di banyak mimpi-mimpinya.

    “Dulu aku datang menemui ayahmu untuk membalas sakit hati sebagai orang buangan yang terhina, dan sekarang kamu datang kepadaku sebagai seorang putra yang akan menuntut balas, membeli darah dengan darah”, berkata Karaeng Jagong kepada Kebo Arema yang sepertinya masih meremehkan kemampuan keponakannya itu.

    “Aku datang untuk mensucikan pulau ini dengan darahmu”, berkata Kebo Arema masih dengan suara bergetar menahan rasa gusar yang sangat.

    “Habisi mereka, bahtera besar akan menjadi milik kita”, berkata Karaeng Jagong memberi perintah untuk menyerang.

    Sebagaimana yang dikatakan Mahesa Amping, terjadilah perang brubuh yang sangat kasar. Tapi para prajurit muda Singasari adalah prajurit yang tangguh dan juga sudah terlatih lama. Mereka langsung menghadapi serangan orang-orang pulau wangi-wangi.

    Pertempuranpun tidak dapat dihindari lagi, jumlah kekuatan lawan memang berimbang.

    Tapi para prajurit Singasari tidak merasa gentar, terlihat mereka sudah dapat menguasai medan pertempuran, penguasaan mereka melakukan peperangan secara berkelompok maupun secara perorangan telah menjadikan mereka lebih menguasai pertempuran. Ditambah lagi diantara mereka ada Mahesa Amping yang meski tidak menggunakan kemampuan dan kekuatan sebenarnya yang luar biasa melampaui kemampuan orang biasa. Tapi hampir setiap musuh yang datang langsung terpelanting jauh dengan merasakan tulang-tulang rusuknya nyeri patah.

    Sementara itu Kebo Arema telah beradu tanding bersama Karaeng Jagong pamannya sendiri. Kebo Arema masih belum menunjukkan kemampuan yang sebenarnya, masih terus mengimbangi serangan Karaeng Jagong sambil mencari kelemahan-kelemahan yang mungkin dapat ditembusi.

    • gimana paklek satpam ?, ni sinden sudah lama ngedeprok di tangga luar nunggu gandhok anyer dibuka.

      • betol 3x dan terus berGEMA….sampe pak Satpam mBUKA gandok anyar,

        belom CUKUPkah….?? he3x, rasa2nya 2 rontal paketan pak DALANG cukup buat nukar KUNCI gembok…!!!

        bukankah begitu pak SATPAM (tanpa ada bold ato italic)

        • kamsia pak DALANG…..KAMSIA-KAMSIA-KAMSIAaaaaa

          • selamat malam Ki Yudha,
            tumben pemilik kaus ukuran xxxxl dari pulau bandeng presto kok belum juga mecungul

  28. cerita selanjutnya……….
    – Kebo Arema ditunjuk sebagai penguasa di Pulau Wangi-wangi
    – ketika kembali dari pelayaran di daerah timur, sri baginda Maharaja telah mangkat, digantikan oleh sang putra mahkota yang saat itu masih menjadi Raja di Kediri

    So pasti, Sri Maharaja Kertanegara akan melanjutkan impian ayahandanya, membangun kerajaan laut Singasari jauh lebih luas lagi.

    So pasti, beliau tidak akan lupa dengan para sahabat lamanya, menurut perhitungan ane, Kebo Arema pasti akan diangkat sebagai menteri kelautan dan perikanan. Sementara itu Raden Wijaya dan Lawe kebagian duduk di BAKIN.

    Sementara itu, Mahesa Amping masih diluar kabinet, mungkin beliau diarahkan sebagai ketua MUI.

    • Kapan wedarnya ?
      Ditungguuu…!!

      • menunggu…!!!

        • Menunggu dengan sabar mumpung hari Minggu.

        • Maaf Ki
          Kami sedang stress, mulai tadi malam tidak bisa membuat SBB-04.
          Alhamdulillah, sekarang sudah selesai dengan sedikit akal-akalan.
          Mohon bersabar, sedang dalam proses pengumpulan “ubo-rampi” pembuatan gandok SFBDBS-08

          ditunggu……!!!

  29. SFBDBS-08 sudah dibuka.
    Tetapi SFBDBS-07 belum bisa dibundel, kurang satu halaman.

    Silahkan Ki Kompor mulai wedaran di SFBDBS-08, tetapi satu halaman bagian depan akan kami gabung dengan SFBDBS-07

    nuwun
    satpampelangi

  30. selamat gandok anyar, matur nwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: