SFBDBS-07

<<kembali ke SFBdBS-06 | lanjut ke SFBdBS-08 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 8 November 2011 at 00:01  Comments (253)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-07/trackback/

RSS feed for comments on this post.

253 KomentarTinggalkan komentar

  1. mewakili kadang padepokan pak DALANG….HADIR 50x (angkat jari)

    tak lupa cantrik sampe-kan KAMSIA-KAMSIAaaaa……KAMSIAaaaaa

  2. Selamat menunaikan sholat magrib,
    Langsung kedapur mengolah sayur RONTAL,

  3. sugeng dalu , hadir

  4. Ternyata muara sungai Batanghari memang sudah begitu dekat, terlihat tiga buah jung besar tengah memasuki bibir muara sungai Batanghari, terlihat juga beberapa jukung para nelayan yang baru pulang melaut ikut meramaikan suasana Muara sungai itu.

    Angin lautt berhembus lembut, cahaya perak sinar matahari membias seperti warna pelangi diatas warna air berwarna kehijauan. Jung Singasari sudah memasuki bibi muara sungai Batanghari yang lebar dan panjang. Semakin masuk kedalam, semakin banyak menemui sungai yang bercabang membelah daratan menjadi sebagai sebuah pulau.

    “tanah seribu pulau, itulah nama lain untuk Tanah melayu”, berkata Kebo Arema kepada Ratu Anggabhaya sambil melihat beberapa cabang sungai yang berliku.
    Sementara itu ketika matahari telah bergeser sedikit jatuh dari puncaknya, Jung Singasari telah mendekati Bandar Melayu. Terlihat tiang-tiang layar jung besar bergoyang dipermainkan gelombang air sungai disepanjang dermaga.

    Akhirnya Jung Singasari telah merapat ditepi dermaga.

    “Jung raksasa itu pastilah Jung Singasari dari Bandar Cangu, jauh lebih besar dari apa yang pernah kubayangkan”, berkata seorang pedagang india kepada kawannya ketika melihat jung Singasari merapat di Dermaga.

    “Dengan Jung sebesar itu, aku berani mengarungi lautan yang keras”, berkata kawannya.

    Sementara itu diatas Jung Singasari terlihat beberapa kesibukan kecil, beberapa prajurit dengan cekatan melompat ketepi dermaga, membawa tali temali untuk diikatkan ditonggak-tonggak dermaga. Diburitan dua orang prajurit tengah menurunkan tali jangkar, meyakinkan bahwa jangkar benar-benar sudah jatuh sampai kedasar sungai.

    “Kami menunggu kabar dari kalian bertiga”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan turun lebih dulu.

    Telah disepakati sebelumnya, bahwa ketiga pemuda itu akan menjadi penghubung yang akan mengabarkan kepada pihak Istana Tanah Melayu bahwa utusan dari Kerajaan Singasari akan datang berkunjung menghaturkan sebuah pinangan.

    “Ada baiknya bila kita menemui Datuk Belang, mungkin beliau dapat membantu serta memberikan beberapa pertimbangan”, berkata raden Wijaya ketika mereka sudah hampir mendekati kotaraja Tanah Melayu.
    Rumah Datuk Belang memang tidak jauh dari Kotaraja.

    Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya mereka telah sampai di rumah Datuk Belang, sebuah rumah panggung yang besar.

    “Mudah-mudahan beliau ada dirumah”, berkata Mahesa Amping sambil tertus melangkah mendekati anak tangga.

  5. Seorang yang seumur Datuk Belang telah menyongsong mereka, ternyata seorang pelayan Datuk Belang yang sudah mereka kenal.

    “Selamat berjumpa kembali”, berkata Pelayan tua itu.”Sebentar sore Datuk Belang dan Pranjaya pasti kembali, saat ini mereka masih ada diistana menghadap Sri baginda”, berkata kembali pelayan tua itu.

    “tentu ada urusan yang sangat penting sampai Sri baginda memanggil mereka”, berkata mahesa Amping kepada pelayan tua itu.

    “Mungkin”, berkata pelayan tua itu sambil tersenyum dan pamit untuk menyiapkan makanan dan minuman kepada meraka.

    “Tidak usah repot-repot Paman”, berkata Lawe yang dibalas oleh pelayan tua itu dengan penuh senyum.
    Sementara itu hari memang sebentar lagi menjelang sore, mereka tidak menunggu begitu lama. Datuk Belang dan Pranjaya yang ditunggu akhirnya telah datang.

    Bukan main senangnya Datuk Belang dan Pranjaya melihat kehadiran ketiga pemuda itu ada dirumahnya.
    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Raden Wijaya langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka yang sesungguhnya.

    “Jadi kalian datang bersama utusan Raja Singasari untuk meminang seorang putri Raja Melayu”,berkata datuk belang setelah mendengar semua perkataan Raden Wijaya.

    “Mungkin Datuk belang dapat memberi beberapa pertimbangan untuk kami”, berkata Raden Wijaya.

    “Sepengetahuanku, hanya ada dua putri di istana, Dara Petak dan Dara Jingga. Siapakah diantara mereka yang akan dipinang untuk Raja Singasari ?”, bertanya Datuk Belang sambil memandang Raden Wijaya dan Mahesa Amping secara bergantian.Diam-diam Datuk Belang sudah mengetahui perasaan yang ada dihati kedua pemuda ini kepada kedua putri Raja Melayu.
    Datuk Belang tersenyum mendapatkan tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

    “Apakah pertanyaanku begitu sulit ?”, bertanya Datuk Belang masih dengan penuh senyum.

    “Pertanyaan Datuk memang begitu sulit untuk dapat kami menjawabnya”, berkata raden Wijaya seperti orang yang tidak berdaya.

    “Bila pertanyaanku yang pertama ini begitu sulit, aku akan memberikan sebuah pertanyaan kedua, semoga pertanyaan kedua ini tidak sulit untuk dijawab”, berkata Datuk Belang sambil memandang Mahesa Amping dan Raden Wijaya secara bergantian.

    “Semoga saja tidak serumit pertanyaan pertama”, berkata Raden Wijaya tidak sabaran untuk mendengar pertanyaan kedua dari datuk Belang.

  6. “Dengarkan”, berkata Datuk Belang. “Bersediakah kalian berdua menjadi suami dari dua orang putri Dara Petak dan Dara Jingga, seandainya ayahandanya datang kepada kalian, meminang kalian berdua ?”

    “Meminang kami ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Aku ingin jawaban dan bukan balas bertanya”, berkata Datuk Belang. “Bukankah kalian sudah tahu adat di Tanah Melayu, pihak wanitalah yang akan datang meminang”, berkata kembali Datuk Belang.

    “Dua pertanyaan yang datuk sampaikan kepada kami memang begitu sulit untuk dapat kami jawab, pertanyaan pertama menyangkut kepentingan perasaan pribadi kami, sementara pertanyaan kedua berkaitan erat dengan tugas kami sebagai utusan Sri baginda Maharaja Singasari, dan kami tidak ingin terjebak dalam perselingkuhan antara tugas dan pribadi”, berkata Mahesa Amping mewakili sahabatnya Raden Wijaya.

    “Sudahlah ayah, dua orang tamu kita sudah begitu pening, jangan berputar-putar”, berkata Pranjaya yang kasihan melihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya seperti orang kebingungan.

    “Baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan pertanyaan ketiga, untuk menjawabnya dibutuhkan sebuah keberanian”, berkata Datu Belang sambil memandang Mahesa Amping dan Raden Wijaya bergantian. Bibirnya masih menyungging sebuah senyum.

    “Mudah-mudahan kami dapat menjawabnya”, berkata Raden Wijaya.

    “Sebelum kusampaikan pertanyaanku, aku akan sedikit bercerita”, berkata Datuk Belang.
    Sebagaimana yang dikatakan, Datuk Belang pun akhirnya bercerita.

    Dahulu kala, ayahanda Srimat Tribhuwanaraja bersahabat dengan seorang pendeta suci bernama Empu Mraten. Kepada sahabatnya ayahanda Tribhuwanaraja telah berjanji bahwa salah satu putranya akan diberikan kepada sahabatnya itu yang kelak akan dididik menjadi pendeta suci.

    Namun janji ayahanda Tribhuwanaraja tidak dapat dilaksanakan, karena beliau hanya berputra tunggal.
    Ketika Tribhuwanaraja dinobatkan sebagai Raja, Empu Mraten datang untuk mengingatkan janji ayahandanya dengan mengatakan bahwa bila janji ini tidak dilaksanakan akan membawa malapetaka besar di Tanah Melayu.

    “Aku hanya berputra tunggal”, berkata Ayahanda Tribhuwanaraja penuh kebingungan kepada sahabatnya Empu Mraten.

    Ketika masalah ini disampaikan kepada Tribhuwanaraja, sebagai seorang anak yang berbakti ia mencoba memberikan sebuah usulan.

    “Permaisuriku tengah mengandung, seorang putra atau seorang putri, aku akan memberikannya kepadamu sebagai pengganti diriku”, berkata Tribhuwanaraja kepada Empu Mraten.

    Akhirnya Empu Mraten menerima usulan itu.

  7. “Bilamana anakmu seorang putra, aku akan menjadikannya sebagai seorang Srimat, namun bila anakmu seorang putri, aku akan mengembalikannya setelah dia dewasa. Yang datang mengambil anakmu adalah seorang perjaka yang mampu mengalahkan ilmuku”, berkata Empu Mraten memberikan beberapa persyaratan.

    Beberapa bulan kemudian Sang permaisuri melahirkan anak pertamanya. Dan ternyata anak yang dilahirkan itu adalah seorang putri.

    Sampai disitu Datuk Belang mengakhiri ceritanya, penuh senyum memandang kepada Mahesa Amping dan raden Wijaya.

    “Pertanyaan ketiga, siapakah diantara kalian yang dapat mewakili untuk mengambil putri Tribhuwanaraja dari tangan Empu Mraten ?”, bertanya Datuk Belang.

    “Aku bersedia mewakili mengambil putri Raja”, berkata Mahesa Amping langsung menawarkan dirinya.

    “Terima kasih, kamu telah menjawab langsung pertanyaanku yang ketiga.Berarti pula bahwa dua buah tugasku yang kuemban dari Tribhuwanaraja telah kutunaikan”, berkata Datuk Belang.
    Aku belum dapat menangkap perkataan Datuk yang terakhir”, berkata Raden Wijaya.

    “Tadi pagi aku dipanggil Sri Baginda Raja, beliau memberikan dua buah tugas kepadaku, tugas pertama adalah datang ke Singasari untuk meminang kalian berdua. Tugas selanjutnya adalah meminta kalian mengambil kembali putrinya dari pendeta suci Empu Mraten. Kedatangan kalian adalah berkah tak terkirakan untuk kami. Kalian datang seperti pucuk dicinta ulampun tiba”, berkata Datuk Belang dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.

    “Dimana kami dapat menjumpai Empu Mraten ?, bertanya Mahesa Amping.

    “Mereka tinggal disebuah kuil suci bernama kuil Muaro, berjarak sekitar setengah hari perjalanan dari Kotaraja. Pranjaya dapat menjadi petunjuk jalan yang baik untuk kalian”, berkata Datuk Belang.

    Semua mata memandang kepada Pranjaya. Baru disadari bahwa Pranjaya ternyata telah memakai busana seorang prajurit lengkap Tanah Melayu.

    “Kamu sudah menjadi seorang prajurit ?”, berkata Lawe.

    “Benar, namaku sekarang adalah Hang Pranjaya, Sri Baginda Raja telah mengaruniakan kepadaku sebagai Senapati prajurit perang”, berkata Pranjaya penuh kebanggaan.

    “Tanah Melayu ini akan menjadi aman dibawah lindungan seorang senapati perangnya yang berilmu tinggi”, berkata Raden Wijaya memberi selamat kepada Pranjaya.

    “Bukankah Sri Baginda Raja pernah meminta kalian sebagai panglima prajuritnya ?”, berkata Pranjaya.

    “Dan sekarang dua dari pemuda ini tidak akan menolak pinangan Sri Baginda Raja untuk kedua putrinya”, berkata Datuk Belang yang ditanggapi penuh tawa semua yang ada di panggung pendapa.

    • ciaaaaaaaaat !!!

      Hang Kompor berdiri diatas sebuah kapal Bajak Laut dengan sorot mata menyala siap membakar siapapun yang berani menantangnya.

      Ternyata ada yang berani datang mendekat.

      “Sory Om, lupa bawa korek api, minta apinya dong”, berkata orang itu sambil meletakkan sebatang rokoknya diujung bibirnya.

      • Rokok klobot campurane menyan……
        jangan repot repot……….
        masih ade stock rontal kaga….???

        Nyambung gak nyambung hora apa apa
        sing penting mendhisiki Ki Menggung.

        Kaaam……sssiiiiiaaaaaa…..!!!!!!!

  8. Hujan badai disertai gelegar guruh mendera perairan Musi
    ditengah gelegak arus air sungai yang bergolak
    nampak sebuah biduk terombang ambing.
    Hang Gembleh berjuang agar biduknya tetap melaju
    melewati tempat pemujaan di pulau Kemaro
    dilewatinya pulau Salah Nama sarang elang bondol
    terus terseok seok mendayung, pulau Borang-lah tujuanya.
    Akan ditemuinya Hang Kompor disana,
    untuk menagih rontal lanjutannya.

    (setelah diadakan investigasi, ternyata instruksi penagihan rontal datang dari Ki Menggung….!!!!)

    • HUJAN BADAI DI NEGRI SEBRANG
      KASIH KI GEMBLEH TUK NI SINDEN SEORANG

  9. monggo Ki , dipun lajengaken,, poro wiyogo sampun samekto, nuwun

  10. HADIR pak DALANG,

    biar hujan menghadang cantrik sempatkan datang
    itupun kalo ada nunutan…..he-heee 15x

    kalo kagak ada nunutan….!!??
    cantrik jalan kaki sambil ngrundel ning perjalanan

    malam ki GEMBLEH, kadang padepokan sedayanya
    pak DALANG ni SINDEN “teeeetap semangaaaaaaat”

    GULA PASIR PUTIH WARNANYA
    RONTAL TERKIRIM KAMSIA TENTUNYA

    • hadu ….ngantuke poal,
      Tanggung, baru dapet satu rontal……

  11. hadu……………
    sik lemes iki
    belum bisa buat kunci duplikat padepokan
    lapor Ki Arema, lha malah dipenthelengi
    nasib…….

  12. YES…… !!!
    YES…… !!!
    YES…… !!!

    Kunci duplikat sudah bisa dibuat
    hadu….., dua hari setres aku….

    nanti malam mudah-mudahan bisa lanjutkan bangun pendapa SBB.

    • cantrik TUNGGU

      • siap menunggu

  13. Dan haripun terus berlalu membawa sang waktu berjalan melewati malam.

    Pagi itu matahari sudah merayap mengintip dari sela-sela hutan galam ketika sebuah jukung terapung diatas sebuah anak sungai Musi. Diatas jukung itu duduk dua orang pemuda yang terlihat bersama mendayung dengan kayuhnya membawa jukung melaju meluncur membelah air sungai yang jernih.

    Dua orang pemuda diatas jukung itu ternyata Mahesa Amping dan Pranjaya. Mereka tengah melakukan perjalanan menuju Kuil suci Muaro yang terletak di pulau kecil bernama pulau Muaro.Dikuil itulah tempat tinggal Empu Mraten sebagai guru suci membagi ilmu bersama murid-murid setianya.

    Pulau Muaro adalah sebuah bukit kecil yang dikelilingi oleh sebuah sungai. Dipuncak bukit kecil itulah sebuah kuil berdiri megah dihiasi taman hutan alam yang asri dibawahnya menambah keelokan kuil seperti sebuah persinggahan milik para dewa-dewi.

    “Kuil Muaro sudah terlihat”, berkata Pranjaya sambil menunjuk kesebuah arah.

    “Kuil diatas bukit, sebuah kuil yang indah”, berkata Mahesa Amping sambil tak jemu memandang kuil diatas bukit yang memang seperti lukisan alam yang indah.
    Akhirnya jukung mereka telah menepi di Pulau Muaro. Terlihat mereka tengah mendekati sebuah anak tangga batu. Itulah jalan satu-satunya menuju kekuil Muara yang berada diatas puncak bukit kecil itu.

    “Apakah anak muda berdua akan melakukan persembahan ?”, bertanya seorang yang sudah begitu tua dipintu masuk kuil penuh keramahan. Orang tua itu sebagaimana para penghuni sebuah kuil pada umumnya, memakai kain kasar berwarna putih yang sudah kusam melilit beberapa bagian tubuhnya.

    “Kami datang bukan untuk melakukan persembahan, kami datang untuk menemui Guru Suci Empu Mraten”, berkata Pranjaya juga dengan penuh hormat.
    Orang tua itu memandang Mahesa Amping dan Pranjaya sambil tersenyum.

    “Teruslah kalian berjalan, ketika kalian menemui sebuah kolam ikan, berbeloklah kekanan hingga kalian menemui sebuah altar batu, tunggulah disitu”, berkata orang tua itu.

    Mahesa Amping dan Pranjaya mengikuti arah yang ditunjukkan orang tua itu. Akhirnya mereka menemui sebuah altar yang menghadap sebuah taman kecil. Sebuah taman kecil yang indah yang sepertinya terawat dengan baik.

    Tidak lama kemudian muncullah orang tua yang mereka temui di pintu kuil, hanya bedanya orang tua itu memakai pakaian yang lebih baik, masih bersih dan belum menjadi kusam.

    “Mungkin kalian menjadi bingung, orang yang kalian temui di muka kuil itu adalah saudara kembarku, bukankah kalian mengatakan kepadanya ada urusan denganku ?”, berkata orang itu dengan penuh ramah yang ternyata adalah Gurusuci Empu Mraten Sendiri.

    Mahesa Amping dan Pranjaya memang melihat kesamaaan itu, maka dengan penuh hormat mengucapkan salam kepada orang tua dihadapannya itu.

  14. “Mari kita bicara diatas altar”, berkata Empu Mraten mempersilahkan dua orang tamunya duduk diatas sebuah batu altar yang bersih dan begitu licin, mungkin sudah puluhan tahun dipakai sebagai tempat pertemuan dan sudah sering diduduki.

    Mahesa Amping dan Pranjaya langsung menyampaikan maksud kedatangan mereka di kuil Muaro itu.

    “Jadi kalian adalah utusan Tribhuwanaraja untuk membawa kembali putrinya”, berkata Empu Matren penuh senyum.

    “Benar, untuk itulah kami datang ke kuil ini”, berkata Mahesa Amping membenarkan.

    “Pastinya kamu sudah tahu persyaratan yang telah disepakati”, berkata Empu Matren kepada Mahesa Amping sambil menatap tajam seperti tengah mengukur sejauh mana tingkat ilmu pemuda itu.

    “Diriku menjadi salah satu persyaratan itu”, berkata Mahesa Amping.

    “Aku yakin Tribhuwanaraja tidak akan salah memilih orang”, berkata Empu Mraten masih memandang tajam kearah Mahesa Amping.

    “Semoga aku dapat mengemban tugas ini dengan baik”, berkata Mahesa Amping.
    “Aku akan mengujimu dengan sebuah pertanyaan, siapakah yang lebih bodoh dari keledai dungu ?”, bertanya Empu Matren.

    Mahesa amping diam sejenak, pertanyaan itu mengingatkan dirinya kepada Mahendra. Disaat masih kecil sering dibacakan kepadanya berbagai kitab kuno, dan terakhir lewat Gurusuci Darmasiksa pengenalannya terhadap isi kitab-kitab kuno itu menjadi semakin kaya dan semakin tembus pandang.

    “Yang paling dungu dari seekor keledai dungu adalah buih ombak yang mengaku sebagai lautan”, berkata Mahesa Amping yang ingat pada salah satu syair dalam sebuah kitab kuno.

    “Luar biasa, aku senang dengan kamu anak muda, ternyata kamu sudah mendalami sebuah kitab kuno yang sangat rahasia, hanya para brahmana yang diperkenankan menelitik kitab kuno itu”, berkata Empu Matren gembira Mahesa Amping telah mampu menjawab pertanyaannya.

    Terlihat Mahesa Amping bernafas lega, pertanyaan Empu Matren ternyata menguji sejauh mana tingkat pemahamannya mengenai ajaran Tatwa.

    “Anak muda, apakah kamu dapat bersembunyi di tempat terang”, bertanya kembali Empu Matren yang sepertinya menguji Mahesa Amping sejauh mana pengenalannya pada ilmu kejiwan.

    Terlihat Mahesa Amping tersenyum, terlintas hari-hari terakhir pertemuannya dengan Gurusuci Darmasiksa di Padepokan Kahuripan.

    “Aku bahkan dapat bersembunyi di tengah lapang”, berkata Mahesa Amping dengan penuh senyum.

    “Ternyata Tribhuwanaraja tidak salah mengutus orang”, berkata Empu Matren merasa puas sekali.

  15. “Anak muda, ayahanda Trubhuwanaraja adalah sahabatku, tahukah kamu mengapa dirinya akan menyerahkan putranya kepadaku ?”, bertanya Empu Matren kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping menggelengkan kepalanya tanda tidak mengetahuinya.

    “Ayahanda Tribhuwanaraja kalah taruhan kepadaku, beliau tidak dapat memecahkan jurus ilmu yang kuciptakan sendiri bernama jurus tapak suci teratai terbang”, berkata Empu Matren.

    “Mari kita ke sanggar terbuka”, berkata Empu Matren bangkit dari duduknya mengajak Mahesa Amping dan Pranjaya mengikutinya.

    Terlihat mereka memasuki kuil lebih kedalam, ternyata ditengah bangunan kuil ada ruangan terbuka. Sebuah ruangan yang cukup luas untuk sebuah sanggar tempat berlatih olah kanuragan. Beberapa cantrik langsung menghentikan latihannya ketika mereka melihat kedatangan Empu Matren, Pranjaya dan Mahesa Amping.

    “Persiapkan dirimu anak muda”, berkata Em Matren yang sudah terlihat berdiri kokoh diatas kedua kakinya.

    “Aku sudah siap”, berkata Mahesa Amping yang juga telah berdiri berbuat yang sama menyalurkan tenaganya di atas kedua kakinya yang sepertinya menapak dengan kuat diatas lantai tanah sanggar terbuka.

    Tiba-tiba saja tubuh Empu Matren melenting terbang menyerang dengan cepat kearah tubuh Mahesa Amping.
    Menghadapi serangan awal yang keras dan cepat itu, Mahesa Amping bergerak menghindar dengan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna. Namun Empu Matren tidak melepasnya, terus memburu kemanapun Mahesa Amping bergerak menghindar.

    Serangan demi serangan Empu Matren terlihat begitu cepat dan sangat berbahaya, kadang seperti menjepit dalam dua sisi serangan yang bersamaan, namun Mahesa Amping selalu dapat menghindar. Pertempuran terlihat begitu seru dan menjadi begitu cepat, terlihat tubuh-tubuh mereka melesat begitu cepat seperti dua ekor burung sikatan bertempur diudara saling berkejaran.

    Empu Matren menjadi begitu penasaran, sudah puluhan jurus dikeluarkannya belum juga dapat mengalahkan Mahesa Amping yang selalu menghindar dan tidak melakukan balas menyerang.

    Ternyata Mahesa Amping tidak hanya menghindar, diam-diam membaca setiap gerakan Empu Matren, memahat dan menyimpannya didalam benaknya. Mahesa Amping memang mempunyai daya ingat yang luar biasa, hanya dengan sekali pandang ia dapat mengingat semua jurus yang dilakukan oleh Empu Matren.

    Peluh sudah membasahi sekujur tubuh Empu Matren.
    Wajahnya yang sudah berkeriput ternyata tidak sebanding dengan kekuatan dan kecepatan bergeraknya yang nampak begitu kuat dan sangat cekatan.

  16. hadu….
    pasukan merah putih sudah tertinggal satu kosong oleh pasukan datuk Maringgi.

    • KALAH untuk MENANG ki….he-hee, ada yang bilang strategi,

      he-heee, ya sudah…moga2 sampe final dan MENANG

      • Menang tanpa ngasorake,

        gemrudug tanpa bal mlebu babar-blas

        sedih tanpa guna

  17. HADIR,

    KAMSIA PAK DALANG MAHESA KOMPOR

    • mengHADIRkan diri,

      Kamsia pak Dhalang,
      pak Satpam’e apa ya isih lemes….??????

  18. kamsiiiiaaaa , obat kalah

  19. “Luar biasa, semuda ini sudah dapat menguasai ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna”, berkata Empu Mraten dalam hati sambil terus memburu kemanapun Mahesa Amping menghindar.

    “Pengulangan yang ketiga”, berkata Mahesa Amping dalam hati telah dapat menyimpan dan menghapal seluruh jurus yang dilakukan oleh Empu Matren.

    Ternyata Mahesa Amping telah dapat mencerna seluruh jurus yang dikeluarkan Empu Matren yang diciptakannya sendiri bernama Tapak Suci Teratai Terbang.

    “Luar biasa”, berkata Empu Matren yang tiba-tiba saja mendapatkan serangan dari Mahesa Amping.

    Empu Matren seperti tidk percaya dengan apa yang dilihatnya, Mahesa Amping telah menyerangnya dengan jurusnya sendiri.

    Ternyata Mahesa Amping sambil bertempur telah berhasil mengubah setiap jurus milik Empu Matren menjadi lebih sempurna.

    Terlihat Empu Matren telah menghadapi jurusnya sendiri, bahkan menjadi lebih sempurna ditangan Mahesa Amping. Meski sebagai seorang pencipta, Empu Matren sudah mengenal betul jurus-jurusnya, maka tidak heran bila Empu Matren dapat menghindar dan balas menyerang. Pertempuran mereka seperti sebuah latihan dari dua orang saudara seperguruan.

    “Sempurna”, berkata Empu Matren yang nyaris terkena serangan Mahesa Amping yang diluar dugaannya telah mengubah jurusnya dengan lebih sempurnya.

    “Aku tidak pernah mewariskan ilmuku kepada siapapun selain kepada murid-muridku”, berkata Empu Matren sambil melenting kebelakang menghindari serangan Mahesa Amping yang tidak pernah diduganya.

    “Hari ini Empu telah mewariskan ilmu itu kepadaku”, berkata Mahesa Amping yang tidak segera memburu dan menyerang Empu Matren yang melenting kebelakang.

    “Aku ingin tahu sejauh mana kamu dapat menyerap jurusku”, berkata Empu matren sambil kembali melakukan serangan.

    Maka sebagaimana sebelumnya, sebuah pertempuran kembali terjadi dengan jurus yang nyaris sama.

    Mendapatkan jurus ciptaannya dilakukan oleh orang lain, bahkan menjadi lebih sempurna, membuat Empu Matren menjadi begitu bersemangat seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Berkali-kali tidak sengaja keluar pujian mengagumi perubahan jurusnya yang menjadi begitu indah dan sempurna.

    Hingga akhirnya sebuah pukulan berhasil menembus pertahanan Empun Matren, tangan kanan Mahesa Amping berhasil menghantam pinggang Empu Matren yang terbuka.

    Tubuh Empu Matren terlihat terdorong kesamping dan jatuh terguling, Mahesa Amping tidak menyalurkan seluruh kekuatannya.

    • Hiii….
      Malem jumaat…seyemmm, udeh jam nul-nul lewat dikit,

      Istirohat dulu ach….semoga subuh enggak kesiangan,apa kata anak-anak kalo babenya kesiangan hehehe….

    • Selamat pagi.
      Kamsiaaaa………!!

  20. Sugeng enjanggggg

  21. Ngebayangin suasana di Istana Negara waktu Pak Beye melantik anggota Kabinetnya. Mungkin kalah syahdu dibanding suasana di Istana Kutaraja Singasari 800 tahun yang lalu, yang digambarkan dengan lembut oleh Ki Dalang Arief K Sujana.
    Ingin rasanya kita ikut hadir di sana, merasakan nikmatnya harum bunga melati, dan wewangian kesturi pada jamannya.
    Coba simak yang berikut ini :

    SFBdBS-01-002
    AKHIRNYA, Hari yang ditunggu pun tiba. Pagi itu Istana berhias indah. Di depan pintu gerbang telah terangkai untaian janur kuning selamat datang sebagai tanda bahwa hari itu akan ada sebuah upacara besar. Sepanjang dinding Istana telah berhias umbul-umbul warna-warni mengiringi umbul-umbul kebesaran kerajaan–kerajaan dibawah daulat Singasari Raya. Istana Singasari yang megah nampak menjadi lebih indah melebihi pemandangan hari-hari sebelumnya.

    Masuk kedalam, di Paseban Raya telah berkumpul para undangan, para Rakryan tinggi kerajaan, para utusan kerajaan seluruh daulat Singasari Raya, para Bhirawa suci dan tentunya mereka yang akan mendapatkan anugerah Sri Maharaja, yang akan dinobatkan dan dikukuhkan dalam upacara besar itu.

    Sementara itu, di Penataran samping Paseban Raya, para kawula, warga Kotaraja ikut berdesakan penuh semangat ingin menyaksikan langsung upacara penobatan dan pengukuhan. Dan tentunya dapat melihat langsung kemegahan Istana Singasari dari dekat, meski hanya di Penataran, sebuah lapangan besar berdampingan dengan Paseban Raya.

    Di Panggung Paseban Raya, Sri Maharaja telah berdiri bersama permaisuri dinaungi Payung kebesaran kerajaan Kiai Penanggungan. Sebuah payung pusaka kerajaan yang dikeramatkan. Konon, seorang abdi dalem istana yang bertugas membawa payung ini harus berpantang, ditabukan makan buah labu parang merah. Pernah ada seorang abdi dalem yang lupa melanggar pantangan ini. Akibatnya memang diluar akal dan pikiran, Payung Kiai Penanggungan tidak dapat diangkat, seperti diberati oleh beban ribuan kati. Konon juga menurut beberapa orang tua di jaman itu, payung Kiai Penanggungan dapat mengusir hujan. Cuaca menjadi begitu cerah bila mana payung keramat ini telah berdiri hadir melengkapi setiap upacara kerajaan. Dalam kisah yang lain, Payung Kiai Penanggungan menurut para Bhirawa suci adalah hadiah Dewa Siwa kepada Raden Erlangga ketika berada di puncak gunung Penanggungan dalam pengungsiannya bersembunyi dari kejaran musuh-musuhnya.

    “Sejahteralah Sri Seminingrat yang bergelar Maharaja Sri Jayawisnuwardhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana sang penguasa utama kerajaan Singasari Raya, penuh kemuliaan Sang Permaisuri Waning Hyun dengan abhiseka Sri Jaya Wardhani”, terdengar suara Mahapatih yang menjadi juru bicara Sri Maharaja mengawali upacara suci itu dengan mengucapkan puja dan puji kepada Sri Maharaja dan permaisuri.

    Setelah mengatur nafas perlahan, Sang Maha Patih membacakan satu persatu para putra raja yang dinobatkan sebagai adipati di penjuru tanah daulat Singasari Raya. Beberapa Rakryan tinggi kerajaan yang dititahkan menduduki jabatan baru, juga para Bhirawa suci dan kawula biasa yang karena jasanya telah diberikan anugerah Tanah Sima.

    Semua mendengar dengan penuh hikmad, satu persatu ucapan yang disampaikan Sang Mahapatih wakil juru bicara Sri Maharaja. Suasana menjadi begitu hening penuh kehormatan, sepertinya ucapan Sang Mahapatih adalah titah langsung Sri Maharaja.
    Setelah Sang Mahapatih membacakan satu persatu para penerima penobatan, pengukuhan dan anugerah Sri Maharaja, maka satu persatu para penerima penobatan, pengukuhan dan anugerah berjejer berbaris berhadap panggung Paseban Raya untuk menerima langsung tanda prasasti dari Sri Maharaja berupa sebuah kotak sebesar setengah telapak tangan kayu hitam persegi panjang berukir tanda kebesaran yang masing-masing berbeda sesuai penobatan, pengukuhan dan anugerah yang diberikan.
    Dan akhirnya, tahap demi tahap pelaksanaan upacara suci penobatan, pengukuhan itu pun berakhir. Ditandai dengan turunnya Sri Maharaja dan Permaisuri meninggalkan panggung Paseban Raya.

    “Selamat bertugas Rakryan Rangga Mahesa Pukat”, berkata Rakryan Tumenggung Honggopati kepada Mahesa Pukat dalam sebuah perjamuan besar yang diadakan sebagai rasa suka cita setelah upacara di paseban Raya telah usai.
    “Terima kasih, mohon doa restunya”, berkata Mahesa Pukat kepada Rakryan Tumenggung Honggopati sahabat lamanya itu.
    Sementara itu, di tempat yang sama, Mahesa Murti tengah berbincang bersama seorang Bhirawa yang juga sama-sama diberi anugerah Tanah Sima.

    “Semoga Sri Maharaja selalu diberkati oleh para Dewa”, berkata Sang Bhirawa kepada Mahesa Murti. “Sri Maharaja tangannya bermata, bersaksi atas segala jasa”, lanjutnya.
    “Anugerah ini adalah titipan dari Yang Maha Pemberi Anugerah, lewat tangan Sri Maharaja anugerah ini dititipkan”, berkata Mahesa Murti.

    “Pandangan Anakmas begitu luhur, berbahagialah Penasehat Agung Mahendra, telah berputra seperti anakmas”, berkata Sang Bhirawa kepada Mahesa Murti yang juga mengenal Mahendra.
    ———-oOo———-

    SFBdBS-01-003
    Dan perjamuan masih terus berlangsung, suka cita meliputi suasana kegembiraan menyambut keputusan Sri Maharaja menempatkan beberapa keluarga dekat di daerah-daerah yang penting. Sebuah keputusan yang tepat untuk mengikat kedaulatan Singasari Raya. Disamping juga dengan cerdas telah memberikan anugerah kepada para pendeta dan kawula biasa yang telah banyak berjasa yaitu berupa Tanah Sima. Dukungan akan menjadi semakin meluas untuk kedamaian bumi Singasari Raya.

    Ditengah perjamuan yang hangat itu, datang menghampiri Mahesa Murti seorang yang berperawakan tubuh tegap, penuh wibawa, namun wajahnya selalu menunjukkan senyum keramahan. Dengan penuh hormat Mahesa Murti menyambut orang yang menghampirinya itu yang sudah dikenalnya, yang tidak lain adalah Ratu Anggabhaya Mahesa Cempaka. Bersamanya seorang anak laki-laki remaja seusia Mahesa Amping.

    “Beri hormat kepada Pamanmu”, berkata Ratu Anggabhaya memperkenalkan anak laki-laki yang mempunyai wajah begitu tampan yang tidak lain adalah putranya sendiri Raden Wijaya.

    ……………………………………. dst

  22. selamat siang, matur nuwun

  23. Terima kasih Ki TP telah menayangkan kembali cerita pembuka,
    Dan terima kasih untuk sahabat semua yang mengawani seluruh kisah dari satu rontal ke rontal berikut,
    Terus terang-terang terus, saya enggak pernah ngedit semua rontal,semua mengalir seperti air dan langsung digelar.
    Pernah Pakde Satpam ngirim lewat aji Pameling tentang susunan keluarga raja Singasari, karena saya salah nyebut “cucu”, menjadi “Anak”. UNTUNGNYA, dengan kekuasaan seorang dalang….cerita bisa dibelokkan, DAN SELAMATLAH ALUR CERITA.

    Kamsia
    Kamsia
    Kamsia

    • pak DALANG memang kudu jago nGELES,
      telat ngelesi bisa2 kaTUT ni SIndEN-eeee

  24. selamat malam…..cantrik HADIR,

  25. Dan Mahesa Amping juga tidak memburu lawannya.

    “Cukup, aku menyerah kalah”, berkata Empu Matren yang telah bangkit berdiri kembali.

    “Kukira selama ini jurusku sudah begitu sempurna, terima kasih telah membuka mataku yang sudah lamur ini”, berkata Empu Matren sambil menjura penuh hormat kepada Mahesa Amping yang merasa berterima kasih dan gembira melihat sendiri jurusnya menjadi lebih sempurna dan begitu indah.

    “Jarang sekali aku melihat seseorang yang mempunyai hati seluas samudera seperti Empu Matren, melihat dan menghargai setiap karsa, bukan dari siapa dan dari mana karsa itu berasal”, berkata Mahesa Amping sambil membalas penjuraan hormat dari Empu Matren.

    “Mari kita kembali ke altar perjamuan”, berkata Empu Matren menggandeng bahu Mahesa Amping mengajaknya kembali ke Altar perjamuan yang diikuti Pranjaya dibelakangnya.

    Dengan penuh keramahan Empu Matren menjamu tamunya Mahesa Amping dan Pranjaya. Kepada seorang cantrik yang melayani perjamuan itu Empu Matren meminta untuk memanggil Dara Kencana.

    “Sebagaimana yang pernah kukatakan, akan datang seorang utusan yang datang untuk membawamu kembali kepada orang tua kandungmu sendiri”, berkata Empu Matren kepada seorang gadis jelita yang datang bersimpuh dihadapannya. Ternyata gadis jelita itu adalah Dara Kencana, putri Tribhuwanaraja yang selama ini diasuh dan dibesarkan di kuil Muaro.

    “hari sudah senja, bermalamlah di kuil ini,besok aku baru mengijinkan kalian kembali”, berkata Empu Matren kepada Mahesa Amping dan Pranjaya.

    “persiapkanlah dirimu, besok kamu akan melakukan sebuah perjalanan”, berkata Empu Matren kepada Dara Kencana yang berpamit mohon diri beristirahat.

    Dan malampun telah datang menyelimuti kuil Muaro, cahaya bulan temaram menaburkan sinarnya jatuh mencumbu rumput-rumput hijau yang manja menghias taman altar perjamuan.

    Banyak hal yang mereka percakapkan, dan Empu Matran semakin mengenal Mahesa Amping sebagai sosok pemuda yang sangat tinggi pemahaman dan pengenalannya atas ilmu kejiwan. Dan mereka sepertinya telah menemukan kawan berbincang yang cocok satu dengan yang lainnya, seperti gayung bersambut, seperti seikat kacang diatas nampan jamuan, seperti keranjang menemukan kembali pikulannya yang lama hilang, membawa mereka kepasar rahasia makna yang ramai, mendulang keuntungan harta kekayaan samudera bathin kejiwaan yang begitu luas tak mungkin dapat dikeringkan hanya dalam percakapan semalam, bahkan sepanjang usia perjalanan diujung kematian.

    Ketika bulan bulat penuh rebah dibawah bukit kecil pulau Muaro, sisa malam yang terasa dingin telah mengingatkan mereka untuk beristirahat.

    “Hari sudah jauh malam, saatnya kalian untuk beristirahat”, berkata Empu Matren mempersilahkan Mahesa Amping dan Pranjaya beristirahat ditempat yang telah disediakan.

    Dan sang waktu akhirnya datang mengubah warna cakrawala lengkung langit, mendatangkan pagi bersama sang fajar yang masih malu bersembunyi mengintip diujung bumi.

    Kicau burung diatas kuil Muaro seperti nyanyian pagi yang merdu telah membangunkan penghuninya. Embun pagi diujung rumput hijau seperti butiran mutiara menggeliat dibelai sang surya yang sudah merata meyirami cahayanya mengusir sisa-sisa dingin malam.

    “Perbaktian kepada Sang Hyiang Tunggal tak terbatas tempat dan waktu, dimanapun wajahmu berpaling, dimanapun dirimu berdiri, kamu dapat melakukan persembahan dalam bhakti”, berkata Empu Matren kepada Dara Kencana yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

    “Semoga kesejahteran selalu membimbing perjalanan kalian”, berkata Empu Matren ketika Mahesa Amping, Dara Kencana dan Pranjaya telah bersiap diatas jukungnya.

    Dan sebuah jukung telah meluncur membelakangi kuil Muaro diiringi puluhan mata yang terus mengikutinya hingga akhirnya telah menghilang tidak dapat terlihat lagi dipersimpangan cabang sungai yang berkelok.

    Dua orang pemuda tengah mengayuh jukungnya menyusuri anak sungai Musi yang berkelok-kelok dilindungi hutan kayu yang rimbun. Seorang Dara Cantik duduk diantaranya menatap kedepan, membiarkan angin pagi meniup rambutnya yang terbang terurai.

    Mahesa Amping, Pranjaya dan Dara Kencana tengah melakukan perjalanannya diatas sebuah jukung di pedalaman sungai hutan belantara yang kelam. Baru ketika matahari sudah merayap tinggi mengintip di sela-sela daun dan batang pohon kayu hutan yang kerap, jukung mereka telah keluar dari anak sungai Musi, masuk dalam perairan sungai Musi yang luas dan panjang.Terlihat dua buah jung besar beriringan melawan arus sungai purbakala itu.

    “Mereka telah kembali”, berkata Ratu Anggabhaya dari anjungan melihat sebuah jung merapat didermaga.

    “Seorang putri yang cantik luar biasa”, berkata Lembu Tal yang melihat seorang gadis bersama Pranjaya dan Mahesa Amping berdiri diatas jukung tengah melangkah menjejakkan kakinya di ujung bibir dermaga.

    Sementara itu Raden Wijaya dan Lawe sudah turun lebih dahulu langsung menyongsong kedatangan sahabatnya itu dan menggiringnya dengan berbagai pertanyaan.

    “Berkat doa kalian semua, perjalanan kami diberikan banyak kemudahan”, berkata Mahesa Amping sambil menjawab beberapa pertanyaan Lawe.

    “Akan lebih baik bila ceritamu disimpan dulu, mungkin akan terasa nikmat bila ceritamu mengalir bersama minuman segar dan sepiring lemang berkuah gulai”, berkata Raden Wijaya yang memaklumi kelelahan dua orang sahabatnya serta Dara Kencana yang baru tiba dari perjalanan panjangnya.

    Dan merekapun terlihat menuju kesebuah kedai langganan mereka di simpang jalan yang ramai.

    • Kamsiiiaaa…!!

    • kaaaaammmmssssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaa

  26. HADIR PAGI, kamsiaaa-kamsiaaa

  27. Selamat hari libur sabtuan

  28. Pak “Dhalang” Kompor belum hadir ye….
    kelir sudah dipasang ….,
    blencong sudah dinyalakan ….,
    wayang sudah disiapkan ….,
    tinggal nunggu dhalangnya

  29. Goooooooolllllllllllllll ….. 1-0

  30. Rooooooontaallllllllll………….5 lembar.

  31. “Mudah-mudahan kami tidak ketinggalan alur cerita”, berkata Ratu Anggabhaya yang menyusul kemudian bersama Lembu Tal dan Kebo Arema.

    “Cerita belum dimulai, menunggu datangnya nasi lemang berkuah gulai”, berkata Lawe dengan warna garis wajahnya yang selalu penuh keceriaan.

    Akhirnya sambil menikmati hidangan yang disediakan di kedai itu, Mahesa Amping bercerita sekitar perjalanannya ke kuil Muaro dan perjumpaannya dengan Empu Matren. Sebelum memulai ceritanya, Mahesa Amping memperkenalkan Dara Kencana kepada semua yang ada di kedai itu.

    “Jadi kalian semua berasal dari Tanah Singasari ?”, berkata Dara Kencana yang sudah mulai tidak merasa canggung lagi.
    Sementara itu mentari diatas Bandar Sebukit telah bergeser surut, angin membawa pergi awan hitam berkabut jauh kehilir sungai.
    Seiring perjalanan waktu yang terus berlalu, sebuah iring-iringan kecil terlihat tengah berjalan membelakang Bandar Sebukit.

    Iring-iringan itu menjadi perhatian banyak orang sepanjang jalan antara Bandar Sebukit menuju Kotaraja.

    “Diantara mereka pasti ada seorang pembesar dari Kerajaan Singasari”, berkata seseorang yang nampaknya banyak mengenal berbagai tanda kebesaraan dari berbagai kerajaan kepada seorang kawannya ketika iring-iringan kecil bersama sekitar sepuluh orang prajurit yang berjalan membawa berbagai umbul-umbul kebesaran kerajaan Singassari melewati mereka.

    Jarak antara Bandar Sebukit dengan Kotaraja memang tidak begitu jauh. Kotaraja tempat istana Tanah Melayu adalah sebuah dataran perbukitan yang cukup luas dikelilingi sungai, salah satunya adalah Sungai Musi.
    Tribhuwanaraja dan Permaisurinya menyongsong kedatangan iring-iringan kecil itu di depan pintu gerbang istana yang sudah diberitahukan terlebih dahulu lewat beberapa utusan yang telah datang mendahului.

    Dara Kencana telah dipertemukan kembali kepada orang tuanya. Sebuah pertemuan yang sangat mengharukan.

    Terlihat sang permaisuri memeluk erat putri sulungnya yang terkasih, sepertinya tidak ingin melepaskannya lagi, tidak ingin kehilangan kembali.

    “Aku tidak bermimpi, aku memang tidak sedang bermimpi”, berkata Sang permaisuri sambil terus memeluk putrinya.

    “Ibunda tidak bermimpi”, berkata Dara Kencana berusaha mengendalikan perasaan hatinya yang ikut terbawa arus keharuan yang begitu sangat.

  32. “Kembali kedatanganmu membawa karunia kebahagiaan untuk kami”, berkata Tribhuwanaraja memeluk Mahesa Amping sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.

    Dan iring-iringan dari kerajaan Singasari disambut penuh kehormatan dan keramahan, mereka dijamu di rumah panggung serapat, sebuah tempat khusus Baginda Raja menerima dan menjamu para pejabat istana dan tamu-tamu terhormatnya.

    “Sempurnalah segala suka cita kegembiraan kita, aku akan meminang dua orang putra kalian untuk kedua putri tercintaku, Dara Petak dan dara jingga”, berkata Tribhuwanaraja disebuah perjamuannya.

    “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, dengan segenap penghormatan yang besar mendapatkan karunia pinangan dari penguasa tanah Melayu yang besar, kami menyerahkan kedua putra kami”, berkata Ratu Anggabhaya mewakili kepala keluarga pihak lelaki menerima pinangan Tribhuwanaraja.

    “Lain ladang lain pula ilalang, kamipun menerima persimpangan adat diantara kita sebagaimana keluasan hati tuan-tuan yang menerima persimpangan adat yang berbeda dengan hati lapang. Untuk dan atas nama darah persaudaraan yang abadi, kami serahkan putri terkasih Dara Kencana sebagai kapur sirih dan pinang hiasan kasih sayang, menerima pinangan sang penguasa Singasari Raya”, berkata Tribhuwanaraja menerima pinangan utusan kerajaan Singasari yang diwakili langsung oleh Ratu Anggabhaya.

    Dan gending gamelan kebahagiaan sepertinya mengiringi suara hati dalam kecap suka cita perjamuan diatas rumah panggung serapat itu.

    Sepekan kemudian telah dilangsungkan sebuah upacara pernikahan yang dilanjutkan dengan perayaan besar selama tujuh hari tujuh malam, dihadiri segenap warga dan pembesar istana, seluruh raja-raja bawahan Kerajaan Melayu Raya, dan beberapa utusan Kerajaan sahabat terdekat.

    Didalam catatan kuno seorang pujangga pengembara, perayaan besar itu terjadi dipertengahan musim penghujan. Pada saat itu para pelaut memenuhi daratan, mendamparkan sauhnya di Bandar-bandar besar yang ramai menanti datangnya musim panas kembali, memanggil kerinduan para pelaut untuk mengembangkan layar menyusuri pesisir pantai, menembus selat raya dan mengarungi samudera.

    Selama tinggal di Istana Melayu, Mahesa Amping dan Raden telah banyak memberikan perubahan yang berarti, terutama dalam peningkatan tataran ilmu para prajurit Tanah Melayu. Bersama Pranjaya mereka telah melatih sepasukan prajurit khusus. Pengalaman mereka sebagai pelatih para prajurit muda pengawal jung Singasari di Bandar Cangu telah mengajarkan mereka berbuat lebih baik lagi meningkatkan kemampuan para prajurit di tanah Melayu, baik secara perorangan maupun kemampuan mereka di medan perang secara berkelompok.

    Sementara itu Ratu Anggabhaya, Lembu Tal dan Kebo Arema banyak mengisi waktu mereka berkunjung kerumah Datuk Belang. Hampir sepanjang malam mereka terlihat dan terlibat dalam pembicaraan yang hangat, melupakan kejemuan. Dan datuk Belang adalah tuan rumah yang baik, mendapatkan kunjungan para tamu yang baik pula. Dan sepanjang malam rumah panggung besar itu tidak pernah sunyi dari kehangatan dan kegembiraan.

  33. Diatas langit ribuan burung pengembara terbang kearah selatan, itulah bahasa alam pergantian musim penghujan akan berganti.

    “Semoga persaudaraan kita abadi”, berkata Tribhuwanaraja menyampaikan salam perpisahannya kepada iring-iringan kecil yang dipimpin langsung oleh Ratu Anggabhaya.

    “Kesetiaanku adalah penantian kesabaran yang abadi, doa keselamatan akan selalu kupanjatkan untuk kakang Wijaya”, berkata Dara Petak melepas suaminya Raden Wijaya.

    “Terbanglah, tempatmu adalah puncak-puncak gunung tinggi dibelantara samudera raya. Aku akan menjaga putramu, membesarkannya untuk dapat membawaku pergi mencari jejakmu”, berkata Dara Jingga kepada Mahesa Amping penuh senyum kebahagiaan, tidak ada air mata setetespun. Dara Jingga tidak menginginkan kesedihannya akan membawa keraguan langkah suaminya Mahesa Amping.

    Dan siang itu Jung Singasari terlihat perlahan bergerak meninggalkan dermaga Bandar Sebukit mengikuti aliran sungai Batanghari yang hangat disinari matahari musim panas yang cerah.

    Senja telah menanti Jung Singasari di muara besar sungai Batanghari. Dan layarpun terlihat telah terkembang membawa jung Singasari menyusuri pantar Swarnabumi yang damai.

    Setelah dua hari dua malam berlayar di lautan, mereka telah melewati muara sungai Musi. Terlihat jung Singasari tengah mengarah ke pulau Banca.

    “Pulau Banca adalah tempat persinggahan yang tepat untuk mengisi persediaan air tawar dan pangan kita selama berlayar”, berkata Kebo Arema menjelaskan mengapa harus singgah di pulau Banca.
    Demikianlah mereka memang telah bersandar di dermaga pulau banca.

    “Selamat datang saudaraku”, berkata Gagak Seta, juragan besar pulau banca menyambut kedatangan mereka.

    “Musim melaut telah kembali, kulihat banyak jung besar bersandar di pulaumu”, berkata Kebo Arema kepada Gagak Seta.

    “Rejekiku akan datang bersama datangnya musim melaut”, berkata Gagak Seta tersenyum.

    “Tapi aku tidak melihat barang daganganmu menumpuk diujung sana?”, bertanya Kebo Arema yang tidak melihat barang dagangan gagak Seta yang sebelumnya dilihatnya selalu menumpuk tinggi, mulai dari beras dan berbagai sayuran yang biasanya dibutuhkan untuk persediaan selama dalam pelayaran yang jauh.

    “Sudah dua hari ini para pedagang dikepulauan Banca ini tidak berani datang menyeberang”, berkata Gagak Seta yang tiba-tiba saja warna garis wajahnya yang biasanya periang berubah menjadi sedikit masam.

    “Apakah ada gangguan dari para perompak ?”, bertanya Kebo Arema merasa ikut prihatin.

  34. “Sudah tidak ada lagi perompak yang berkeliaran di kepulauan banca ini”, berkata Gagak Seta sambil menggelengkan kepalanya.

    “jadi apa yang mengganggu mereka?”, bertanya Kebo Arema semakin penasaran.

    “Ular naga besar berkaki enam”, berkata Gagak Seta

    “Apakah kamu sudah pernah melihatnya ?”, bertanya kembali Kebo Arema.

    “Aku baru mendengar dari orang-orang yang selamat, yang nyaris dibantai ular besar itu”, berkata Gagak Seta sedikit bercerita.”Hari ini kami di Pulau Banca ini bermaksud mendatangi sarang ular naga itu”, berkata kembali Gagak Seta.

    “Kami akan ikut menyertai”, berkata Kebo Arema kepada Gagak Seta.

    “Terima kasih, kami memang butuh orang-orang yang mempunyai keberanian”, berkata Gagak Seta merasa gembira atas penyertaan Kebo Arema.

    “Sampai lupa mengajak kalian singgah dirumahku, mungkin banyak yang harus kita bicarakan sebelum mendatangi pulau sarang naga besar itu”, berkata Gagak Seta sambil mengajak rombongan Kebo Arema singgah dan beristirahat dirumahnya.

    Setelah tiba di rumah panggung Gagak Seta, seperti biasa mereka bersih-bersih dan beristirahat sejenak menikmati hidangan dari tuan rumah yang cukup ramah.
    Akhirnya pembicaraan kembali kepada ssosok ular naga berkaki enam. Dan gagak Seta bercerita sedikit tentang ular naga berkaki enam itu.

    Gagak Seta bercerita bahwa beberapa puluh tahun yang lalu, ketika kepulauan Banca ini digunakan sebagai sarang para perompak. Ada sekelompok bajak laut yang berhasil menjarah sebuah jung besar yang membawa banyak barang dagangan.

    Disebuah pulau mereka membuka berbagai barang hasil jarahannya itu. Dan salah satu barang jarahannya itu adalah sebuah peti kayu yang besar.
    Bukan main kagetnya para perompak itu ketika membuka peti kayu besar itu yang ternyata adalah seekor ular naga berkaki enam. Para bajak laut semuanya berlari meninggalkan pulau itu.

    “Sampai saat ini tidak ada yang berani mendekati pulau itu”, berkata Gagak Seta mengakhiri ceritanya.

    “Dan baru sekarang Ular naga itu mengganggu manusia ?”, bertanya Raden Wijaya yang tertarik mengenai cerita ular naga berkaki enam itu.

    “Benar, baru kali ini ular naga itu mengganggu, mungkin makanan di pulau itu sudah menipis habis”, berkata Gagak Seta.

  35. “Mungkin ular naga tua yang terusir dari kelompoknya, aku pernah mendengar cerita itu”, berkata Mahesa Amping ikut memberikan pikirannya.

    “banyak kemungkinannnya, kita harus datang kesarangnya, memastikan apa sebenarnya yang telah terjadi”, berkata Gagak Seta.

    Akhirnya diputuskan besok pagi mereka akan berangkat ke sarang pulau naga itu. Gagak Seta akan mengajak tiga orang lelaki yang berani dari pulau Banca, sementara itu Kebo Arema mengajak Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe menyertainya.

    Keesokan harinya, ketika matahari sudah bangkit beranjak diujung timur pulau Banca yang terlindung barisan pohon kelapa yang kokoh berdiri bercanda bersama hembusan angin pantai bertiup sepanjang hari. Tiga buah jukung kecil meninggalkan pulau Banca. Mereka adalah para lelaki pemberani yang akan menuju ke pulau naga.

    Tidak ada hambatan apapun ketika mereka telah mendekati pulau Naga yang sudah puluhan tahun tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya.

    Terlihat tiga buah jukung telah sampai dipantai pulau naga. Delapan orang lelaki melompat menjejakkan kakinya dipasir putih pantai yang telah hangat terbakar sinar matahari. Semua mata tertuju kepada sebuah hutan kayu yang rimbun dihadapan mereka, pohon-pohon kayu raksasa yang besar tinggi menutup seluruh daratan pulau naga itu.

    “Berhati-hatilah”, berkata Kebo Arema berjalan dimuka mendekati hutan kayu yang lebat itu.

    “Lihatlah, ular naga besar itu masuk dari tempat ini”, berkata salah seorang lelaki dari pulau Banca yang ikut menyertai mereka melihat sebuah semak yang terkuak, beberapa ranting kecil nampak patah.

    “Kita masuk lewat jalan ini”, berkata Gagak Seta.
    Jejak itu memang cukup besar, memudahkan mereka untuk berjalan menembus hutan yang penuh semak belukar itu.

    Mereka belum masuk begitu jauh menembus kerapatan belukar hutan, tiba-tiba saja langkah kaka mereka terpaksa berhenti.

    Nafas mereka sepertinya tertahan, tidak jauh dari mereka terlihat dua sosok ular naga berkaki enam diatas sebuah belumbang. Panjang ular naga itu mencapai sekitar sepuluh meteran, badannya sebesar sepelukan orang dewasa.

    “Ular naga yang besar”, berbisik Kebo Arema seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
    Belum habis perkataan Kebo Arema, tiba-tiba saja mereka melihat kedua naga besar itu seperti gelisah.

    “Menyingkir jauh-jauh”, berkata Kebo Arema yang melihat dua ekor naga besar itu melangkah mendekati mereka.

  36. Maka dengan sigap mereka berlari menjauh.

    Ternyata kedua ekor naga besar itu tidak mengejar mereka, tapi terus berjalan dengan keenam kakinya mengikuti jejak yang sepertinya jalan mereka untuk menuju kepantai.

    Menyadari bahwa kedua ekor naga besar itu tidak mengejar mereka, maka dengan keberanian yang teguh kedelapan orang pemberani itu terus membuntuti arah langkah kedua ekor naga itu.

    Kedua ekor naga besar itu telah mencapai pantai, ternyata kegelisahan mereka karena ada seekor naga besar lain yang terlihat baru saja tiba diujung pasir pantai.

    Dua ekor naga besar terlihat menunjukkan taring-taring mereka, sepertinya sebuah bahasa mengusir naga besar yang baru datang.

    Naga besar pendatang baru terlihat ikut mempertunjukkan taringnya.

    Sementara itu delapan pasang mata dengan nafas tertahan menunggu apa yang akan terjadi, ternyata seekor naga besar pendatang baru cukup cerdas untuk tidak melayani tantangan kedua naga besar yang sepertinya telah bersiap menerkam lawannya. Terlihat naga besar pendatang itu perlahan mundur, perlahan menghilang masuk kedalam laut yang dalam.

    Melihat lawannya pergi masuk kedalam laut, kedua ekor naga besar itu terlihat telah kembali masuk kedalam hutan.

    “Sebagaimana yang pernah kamu katakana, naga besar yang terakhir kita lihat adalah naga besar yang terusir dari kelompoknya”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Binatang liar dihutan ini masih banyak, tidak akan habis hanya untuk dua ekor naga besar itu”, berkata Gagak Seta.

    “Dapat disimpulkan, bukan dua ekor naga besar itu yang sering menggangu penduduk, tapi seekor naga yang terbuang dari kelompoknya, seekor naga besar yang sedang marah”, berkata Raden Wijaya ikut memberikan sebuah kesimpulan.

    “naga itulah yang harus kita binasakan”, berkata sesoarng lelaki pulau Banca yang terlihat begitu geram, mungkin karena salah satu korban adalah saudaranya sendiri.

    “Kita pancing naga besar itu”, berkata Gagak Seta

    “Dengan apa ?”, bertanya Lawe.

    Maka gagak Seta menyampaikan beberapa hal yang dapat dimengerti dan semua nampaknya menyetujui rencana Gagak Seta itu.

    “Ketika Naga besar itu menunjukkan dirinya, kita arahkan dirinya ke darat. Kita dapat leluasa bergerak dibandingkan berada diatas air”, berkata Gagak Seta menyampaikan beberapa rencananya.

  37. Terlihat delapan orang telah keatas jukungnya masing-masing. Terlihat mereka mendayung berputar putar sekitar tempat terakhir naga besar itu masuk kedasar laut dalam.

    Cukup lama mereka berputar putar, yang ditunggu sepertinya tidak akan pernah muncul.

    Ketika rasa kecewa dan putus asa mulai menjangkiti beberapa orang, terlihat dari wajahnya yang nampak lelah. Tiba-tiba saja mata mereka semua tertuju pada satu tempat dimana air laut disekitarnya sepertinya bergolak.

    Seekor naga besar yang ditunggu telah menyembul dari permukaan laut, air laut disekitarnya sepertinya langsung bergelombang.

    Tanpa aba-aba apapun, ketiga jukung itu telah meluncur kedarat. Dengan sigap kedelapan orang itu telah melompat menjejakkan kakiknya di pasir pantai yang landai.

    Sebagaimana yang mereka perhitungkan, naga besar itu mengejar mereka sampai ke pantai.

    Kedelapan orang itu telah melepaskan senjatanya masing masing, perlahan mereka mundur mendekati daratan yang tidak lagi berpasir.

    Ular naga berkaki enam itu terus mengejar mereka. Dan sebuah sabetan ekornya tiba-tiba saja nyaris menghantam tubuh Gagak Seta yang berada paling dekat dengannya.

    Dengan gesit gagak seta melompat menghindar. Namun sabetan ekor naga besar itu terus melaju, seorang lelaki putra pulau Banca tidak dapat mengelak sabetan yang datang begitu cepat itu, tubuhnya terlempar sampai dengan puluhan kaki jauhnya. Lelaki itu nampak meringis menahan rasa sakit yang sangat, tulang rusuknya terasa remuk dan patah.

    “Lindungi orang itu”, berkata Mahesa Amping kepada Lawe.

    Terlihat Lawe berlari mendekati orang itu yang masih menahan rasa sakitnya tidak mampu bangkit berdiri, dengan kedua tangannya Lawe segera menyeret orang itu menjauhi serangan naga besar yang buas itu.

    Ternyata Naga besar itu adalah makhluk cerdas, tahu kelemahan lawan. Tiba-tiba saja makhluk besar itu merayap dengan cepat mengejar Lawe yang tengah menyeret seorang yang terluka.

    Mahesa Amping merasakan bahaya besar tengah mengancam sahabatnya, pada saat itu Lawe memang tidak dalam keadaan siap menerima terkaman.

    Tanpa berpikir panjang, tubuh Mahesa Amping seperti terbang melesat jauh dan hinggap tepat dileher makhluk melata yang besar itu.

    Crattttt !!!!!

  38. Dua buah belati kembar senjata andalan Mahesa Amping telah menembus dua mata naga besar itu. Dan dengan hitungan kejapan mata, tubuh Mahesa Amping telah bergerak melesat menjauh dan berdiri dengan kedua belati pendeknya yang terlihat berlumur darah segar.

    Tubuh naga besar itu berguling-guling merasakan sakit yang sangat pada kedua matanya, terdengar suara mencicit panjang keluar dari mulutnya yang bertaring menyeramkan.

    Suara mencicit panjang itu seperti sebuah aba-aba, serentak lima orang telah bergerak dengan senjatanya masing-masing.

    Dengan lompatan panjang, Kebo Arema berhasil merobek leher naga besar itu. Bersamaan dengan itu, sebuah keris Raden Wijaya telah menghujam dalam diperut naga besar itu. Sementara itu Gagak Seta dengan golok panjangnya yang tajam, nyaris membuntungi kaki depan makhluk mengerikan itu.

    Namun malang bagi kedua lelaki asal pulau Banca yang ingin ikut membantai naga besar itu. Dalam keadaan kalap dan terluka makhluk itu telah mengayunkan ekornya, kedua orang itu seperti terhantam benda keras yang kuat, mereka terlempar jauh dan sepertinya tidak terlihat bergerak lagi. Ternyata mereka telah jatuh pingsan.

    Mahesa Amping segera mendekati kedua orang itu.

    “Syukurlah, hanya pingsan”, berkata Mahesa Amping dalam hati setelah meyakinkan bahwa nyawa keduanya masih dapat tertolong.

    Sementara itu Naga besar itu masih berkelepar meronta kesana kemari, terlihat darah mengalir dari luka robekan pedang Kebo Arema dilehernya yang cukup dalam dan melebar hampir dapat dikatakan setengah dari lingkaran badannya yang besar sepelukan tangan. Darah juga terlihat keluar dari perut dan kaki depannya yang nyaris hampir kutung.

    Lama juga ular naga besar berkaki enam itu bertahan dari sisa hidupnya. Namun perlahan tapi pasti kekuatan makhluk besar itu semakin surut karena kehabisan darah.

    Akhirnya tidak ada lagi gerakan, ular naga berkaki enam itu sudah tidak kuasa mempertahankan kematiannya, tergeletak dipantai dengan tubuh kotor berbaur debu pasir putih. Ombak air laut sekali kali terlihat membasahi bangkai ular naga besar itu, perlahan bergeser mendekati bibir laut.

    “bagaimana dengan kedua ular naga yang ada di hutan itu”, bertanya Mahesa Amping kepada Gagak Seta ketika mereka sudah ada diatas jukung menjauhi bibir pantai Pulau naga.

    “Mudah-mudahan mereka tidak membahayakan penduduk kepulauan ini”, berkata Gagak Seta sambil memandang pulau naga yang sudah semakin menjauh.

    “Semoga hanya satu ekor naga yang tersisih dari kelompoknya”, berkata Mahesa Amping sepertinya berharap Cuma naga itu satu-satunya yang telah meresahkan penduduk kepulauan Banca.

    “Aku juga berharap yang sama”, berkata Gagak Seta tersenyum kepada Mahesa Amping.

    • Untuk dua buah gol kemenangan Garuda muda,

      Selamat hari minggu, selamat berlibur

    • Malam minggu Ki Kompor ngamuk……. ..
      8 rontal dipasang sekaligus……….
      Kamsiaaaaaaaaaa…….. !!!!

  39. waduh pesta,terima kasiiiiiihhhhhh

    • Pesta goal 8 – 0 langsung. Lek Satpam pasti nyungseb.

      • Betul… betul….betul…..

        mendem rontal Ki…..

        tetapi masih sempat masukkan rontal-rontalnya tersebut ke tempatnya
        Bundel bagian satu dan bundel bagian 2, tinggal menunggu naskah dari Pak Dhalang bundel bagian 3 agar bisa dibundel SFBDBS-07
        he he he ….
        sugeng siang Ki

        • Ya Kamsiiiiiaaaaaa dong…..!!!!!

  40. Walah karoban rontal. Suwun Ki

    • Walah rontal karoban. Suwun ugi Ki

  41. HADIR,

    selamat berLIBUR pak DALANGe….wah-wah si ILHAM betol2
    mbanyu MILI.

    tetep SEMANGAT,

    • kagem ki Gembleh,

      salam cantrik boeat ni SINDEN…..salam tepang giTU !!!

      • Masih tetep rukun seperti sedia kala Ki Menggung,

        Tetep berladasken semboyan lama, mangan ora mangan sing penting kumpul.

        Kadang diselingi dengan : kumpil ora kumpul sing penting tetep Nyinden.

        he….he…..he……
        sugeng dalu.

  42. sugeng siang poro kadang sedoyo

  43. selamat malam…..cantrik HADIR,

    • selamat nonton BOLA pak DALANGe, selamat dandan buat
      ni SINDENe.

      buat pak SATPAM…..cantrik lapor, pintu SBB njegLEK hora
      iso di masuk-i.

  44. keok, keok, kkeeeooooooookk

  45. Wis direwangi jempalikan ora karuan, Ni Sinden tetep mrucut….!!!!
    Katuit digondol Macan Melaya.

    Jangan terpuruk ………………..GARUDAKU.
    TETAP TENGADAHKAN WAJAHMU dan KEPAKKAN SAYAPMU

    • sedih…
      kecewa….
      TAPI TETEP SEMANGAT COY !!!!

      • Obat sedih, obat kecewa kok belum diwedar Ki ?

  46. selamat PAGI…..cantrik HADIR,

    • selamat SIANG…..cantrik HADIR,

      • selamat siang, kawulo hadir

  47. Selamat malam, rontalnya masih belum empuk,
    Lagi nyari bahan pelayaran sekitar perairan Masalembo,bandar Bacukiki, dan pulau wangi-wangi tempat Gajah mada pulang mudik setiap lebaran.hehehe 3x

    • Sabar menunggu.

  48. Senja sudah terlihat tua manakala jukung-jukung mereka kembali di Pulau Banca.

    “Syukurlah kalian telah kembali dengan selamat”, berkata Ratu Anggabhaya bersama Lembu Tal dan Dara petak menyambut kedatangan mereka kembali dari perburuan ular naga berkaki enam yang meresahkan penduduk kepulauan Banca.

    Dan malamnya, sambil beristirahat sebuah cerita tentang perburuan ular naga menjadi sebuah pembicaraan yang menarik. Sementara itu rembulan telah melenggut bersembunyi di balik batang-batang pohon kelapa, ombak laut pasang datang dan pergi berlari berkejaran sepanjang pantai.

    Malam berlalu di pulau Banca bersama suara ombak yang bersatu dengan gesekan suara daun nyiur kering dan angin pantai seperti degung gamelan pengantin pengantar tidur, damai membuai jiwa dalam ketenangan yang sunyi.

    Tidak terasa, sang pagi pun akhirnya telah datang menjelang.

    Terlihat jung Singasari telah bergerak perlahan meninggalkan dermaga Pulau Banca. Persediaan air tawar dan pangan telah mengisi lambung jung, dan pelayaran panjang telah dimulai kembali.

    “Sudah saatnya kalian menentukan arah jalan, meniti kehidupan untuk hari depan yang panjang”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe.

    Saat itu malam telah datang memayungi anjungan jung Singasari diatas hamparan laut buram, tidak seorangpun yang melihat perubahan wajah Mahesa Amping, pikirannya seperti terapung-apung diantara berbagai banyak jalan kehidupan. Mahesa Amping seperti berdiri di banyak persimpangan jalan. Terbayang sebuah keluarga kecil ditengah sawah ladang saat memetik panen jagung raya.Terbayang pula wajah para cantrik disisa malam yang teduh bersenandung tentang ujar-ujar kitab kuno. Dan lamunannya melambung tinggi, mendapati sebuah wajah penuh senyum, wajah senapati muda lengkap dengan pakaian kepangkatan seorang prajurit.

    Tiba-tiba saja Mahesa Amping seperti dibawa pergi bersama lamunannya, terjerambat ditengah kecamuk peperangan besar, mendengar rintihan, mendengar umpatan-umpatan kotor, dan meihat mayat bergelimpangan diatas genangan darah manusia. Salah satu mayat itu adalah wajah prajurit muda yang kemarin masih bersamanya berlatih memegang pedang, dan wajah mayat yang lain lagi adalah seorang prajurit tua yang pekan lalu asyik bercerita kepadanya bahwa istrinya yang sudah lama dinikahi ternyata telah hamil muda.

    “Aku yakin kalian bertiga akan menjadi kebanggaan prajurit Singasari”, berkata Ratu Anggabhaya yang langsung membuyarkan semua lamunan Mahesa Amping.

    “Setelah tiba di Tanah Singasari, aku akan membicarakannya langsung kepada Sri baginda Raja”, berkata kembali Ratu Anggabhaya tanpa memperhatikan perubahan wajah Mahesa Amping yang masih seperti terapung-apung dipermainkan gelombang laut buram kehidupan yang bersimpang.

    “Aku memilih jalanku, atau jalan yang memilih tanpa pilihan ?”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

  49. Sementara itu Jung Singasari telah melewati Selat Sunda, langsung menyisir pantai utara Nusajawa. Sebagaimana ketika bertolak dari Tanah Singasari, Jung Singasari juga telah singgah di beberapa Bandar besar yang ada di Nusajawa, disamping untuk saling bertukar barang dagangan, mereka juga memenuhi lambung jung dengan berbagai persediaan selama pelayaran.

    Di Bandara Churabaya mereka singgah sebentar sekedar menanti angin laut. Dimalam semilir angin yang bertiup mendorong layar terkembang membawa mereka pulang ke kampung kerinduan.Bumi Singasari Raya.
    Dipagi yang cerah, Jung Singasari telah kembali ke sanggarnya, telah merapat didermaga Bandar Cangu yang ramai.

    Ratu Anggabhaya, Lembu Tal dan Dara Kencana dikawal oleh sekitar dua puluh orang prajurit langsung berangkat ke Kotaraja.

    “Di Benteng Cangu tugas telah menantiku”, berkata raden Wijaya ketika mengantar Ratu Anggabhaya dan Lembu Tal memberikan alasan tidak dapat menyertainya ke Koraraja.

    “Salam untuk Sri Baginda Raja, aku berjanji akan membawa keuntungan berlipat”, berkata Kebo Arema kepada Ratu Anggabhaya turut mengantar keberangkatan iring-iringan utusan raja itu.

    Setelah iring-iringan utusan kerajaan itu sudah jauh meninggalkan Bandar Cang,terlihat Kebo Arema, Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe telah melangkahkan kakinya menuju Benteng Cangu.

    “Selamat datang wahai para pelaut”, berkata Mahesa Pukat yang menyongsong kedatangan mereka menuruni tapak kaki tangga pendapa.
    “Selamat berjumpa kembali Senapati muda Singasari”, berkata Kebo Arema.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, merkapun saling berceritatentang berbagai hal, berbagai pengalaman selama dalam pelayaran. Sementara Mahesa Pukat bercerita tentang berbagai hal, terutama tentang lima buah jung Singasari yang sudah mendekati kesempurnaaan, juga tentang seribu lima ratus prajurit muda siap menerima tempaan lahir dan bathin.

    “Para prjurit muda itu sudah mengisi barak-baraknya, siap menerima tempaan dan pendadaran”, berkata Mahesa Pukat bercerita tentang beberapa hal yang berkaitan dengan persiapan penempaan prajurit muda.

    “Terima kasih untuk semuanya”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat yang telah banyak membantu.

    Kebo Arema, Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya memang sudah tidak sabar lagi untuk melihat barak-barak baru serta lima buah jung baru yang sudah mendekati kesempurnaannya. Setelah beristirahat yang cukup mereka langsung menuju barak-barak baru, juga melihat lima buah jung raksasa yang sudah mendekati kesempurnaan. Baru setelah matahari menukik diujung senja, mereka kembali ke Benteng Cangu untuk membuat beberapa rencana yang akan dilakukan keesokan harinya.

  50. Sejak saat itu, hari-hari mereka tercurah dalam penempaan para prajurit muda. Pengalaman pertama mereka membina para prajurit baru sebelumnya menjadi pengalaman yang berharga untuk melakukan lebih baik lagi. Para prajurit muda memang sengaja dilatih dalam berbagai medan, kadang mereka dibawa ke hutan belantara, kadang mereka dibawa berlayar jauh menyusuri sungai Brantas. Diharapkan mereka akan menjadi prajurit yang tangguh, di daratan dan di lautan.

    Di hutan belantara mereka dilatih menguasai alam, bersembunyi dan menyerang lawan di kegelapan dan kepekatan hutan. Sementara di lautan luas mereka dilatih menghadapi serangan badai, membaca bintang, menggulung layar dan kemudi dan berperang di perairaan dalam berbagai gelar peperangan.

    Secara bertahap kemampuan kanuragan mereka terus ditingkatkan, baik dalam pertempuran secara perorangan maupun secara berkelompok. Ternyata mereka adalah para prajurit muda yang berbakat, setelah beberapa bulan ditempa dan digembleng dengan cara yang baik tanpa melupakan segi dan nilai-nilai kemanusiaan, mereka telah terbentuk sebagai prajurit yang tangguh. Prajurit khusus yang dapat berperang disegala medan, di darat dan dilautan.

    Seiring dengan perjalanan waktu, lima buah jung singasari telah selesai siap diarungi. Mulailah para prajurit muda dilatih di medan yang sebenarnya, medan tugas prajurit pengawal kerajaan laut Singasari Raya.

    Tiga ratus prajurit yang sudah berpengalaman, yang merupakan prajurit khusus pertama telah dibagi dalam enam kelompok di enam jung yang berbeda.Enam orang yang paling cakap dipercayakan sebagai kepala kelompok yang bertanggung jawab sebagai kepala pengawal Jung.

    “Saatnya kerajaan laut Singasari memperkenalkan diri kepenjuru dunia”, berkata Kebo Arema pada suatu malam di pendapa Benteng Cangu membuat sebuah rencana pelayaran yang panjang.

    Sejak saat itu, jung Singasari banyak terlihat di sepanjang pesisir Nusajawa sampai ke Tanah Melayu. Mereka adalah para pelaut yang tangguh dan pemberani. Para bajak laut berpikir tiga kali untuk mendekati mereka. Dan para saudagar di setiap Bandar yang disinggahi merasa senang berbagi keuntungan dengan mereka.

    “Pekan depan kita akan mencoba berlayar ke arah timur matahari, berlayar sampai ke Tanah Gurun”, berkata Kebo Arema menyampaikan rencananya.

    “Merintis jalur perdagangan baru ?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Kebo Arema.

    “menyatukan jalur perdagangan dari timur ke barat”, berkata Kebo Arema sambil menjelaskan beberapa hal keuntungan dengan menyatukan jalur perdagangan.

    “Benteng Cangu ini akan terasa sepi tanpa kehadiran kalian”, berkata Mahesa Amping sambil menatap Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya secara bersamaan.

    “Harus ada yang tetap mengawasi armada besar Jung Singasari selama pelayaran kami ke daerah timur”, berkata Kebo Arema.

    • Saya kira tengah malam baru diwedar…. ternyata……
      Kamsiaaaaa… !!

    • dherek KAMSIA……3 SUGUHAN LANGSUNG SRUPUT,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: