SFBDBS-08

<<kembali ke SFBdBS-07 | lanjut ke SFBdBS-09 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2011 at 10:28  Comments (279)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

279 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dapatkah Mahesa Amping menerima permintaan Sri Maharaja Kertanegara sebagai seorang Rangga ???,

    sementara diujung timur Tanah melayu, dirinya yang dikenal sebagai Manusia Dewa pernah diminta untuk menjadi seorang panglima angkatan perang raya bergelar nama sebagai seorang HANG.

    Mahesa Amping sebenarnya cuma ingin menjadi seorang petani kecil sepertihalnya cita-cita Ebit G Ade dalam lagunya, (hehehe 3x bergema)

    • salah ya kalo bilang ditimur tanah melayu ???

  2. “Titah paduka akan kami junjung sebagai pusaka”, berkata Mahesa Amping dan Lawe bersamaan.

    “aku akan memanggil Mahapatih untuk melaksanakan upacara kebesaran sebagai hari pelantikan kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja penuh senyum kebahagiaan.

    Demikianlah, pada hari yang ditentukan upacara besar pelantikan dilaksanakan dengan penuh kemeriahan. Inilah pertama kali Sri Maharaja Kertanegara membuat kekancingan, mengukuhkan pejabat utama istana.

    Seluruh raja yang ada di bawah kekuasaan Singasari telah diundang untuk menghadiri upacara pelantikan itu.

    Dan kotaraja seperti berhias dengan berbagai umbul-umbul dan janur disepanjang jalan.

    Ketika Sang Mahapatih membacakan titah dan sabda Sri Baginda Maharaja Kertanegara, gemuruh suara para undangan dan seluruh warga. Puja-puji mereka sampaikan atas pilihan Maharaja yang bijak atas para putra terbaik Singasari.

    Dan hari pelantikan empat orang pilihan Maharaja itu telah ditandai dengan turunnya hujan dari langit. Para orang tua memastikan bahwa ini adalah sebagai tanda para dewa merestui, Singasari akan mengalami masa keemasan.

    “Hujan adalah lambing kesuburan, semoga ini sebuah tanda kebaikan bagi Singasari”, berkata seorang Brahmana tua dibawah tarub yang datang sebagai undangan menyaksikan pelantikan bersama guyuran hujan yang sepertinya tercurah dari langit.

    “Payung pananggungan tidak mampu menahan hujan”, berkata seorang tua renta yang berlindung di bawah pohon beringin tua ditengah lapangan alun-alun kotaraja.

    Untungnya hujan turun tidak berlarut sampai senja. Malam perjamuan menjadi begitu hangat, semua menikmati kegembiraan itu.

    Dan malampun akhirnya berlalu meninggalkan bumi, meyerahkan tahta sang waktu kepada sang pagi yang datang bersama sang surya menerangi seluruh dataran bumi dengan cahayanya yang hangat.

    Sementara itu, umbul-umbul dan janur masih menghiasi kotaraja, sebuah iring-iringan pasukan terlihat melintas dijalan menuju gerbang kotaraja. Mereka adalah pasukan yang ada dibawah pimpinan Senapati dan dua orang rangga muda yang baru kemarin dilantik. Meraka tengah kembali ketempatnya, ke Bandar Cangu.

    “Menguasai tanah Bali, itulah tugas pertama kita”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping.

    “Di Tanah Madhura ada Ki banyak Wedi, ditanah Pasundan ada Gurusuci Darmasiksa,dan di Tanah melayu kita sudah mengikatnya dengan perkawinan, hanya Bali yang belum kita ikat dengan apapun”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pandangannya.

  3. matur nuwun, matur nuwun, matur nuwun, …

  4. selamat malam, matur kesuwun

  5. hadu….
    baru sempat tilik padepokan
    hanya ngintip saja, cuapeke puol……
    ngantuk lagi…
    pamit nggih…
    mboten tumut ronda

    • eh…, lupa..
      rontal sudah berceceran
      belum sempat merapikan
      maaf ya Pak Lik

      kamsiiiaaaaa……………………..

  6. selamat siang semuanya

  7. “Di Bandar Cangu kita dapat meminta pertimbangan Paman Kebo Arema dan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Benar, mereka adalah ahli siasat yang mumpuni”, berkata Lawe ikut mengambil pembicaraan.

    Sementara itu ketika mereka menemui sebuah pertigaan, Wantilan dan Sembaga tidak dapat menyertai karena harus kembali ke Padepokan Bajra Seta.

    “Salam untuk kakang Mahesa Murti dan seluruh warga Padepokan”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian mereka kembali Ke Padepokan Bajra Seta.

    “Kami akan merindukan kalian”, berkata Sembaga sambil melambaikan tangannya.

    Kegamangan mengisi hati dan persaan Mahesa Amping menatap Wantilan dan Sembaga telah semakin menjauh dari pandangannya. Terlintas sebuah suasana di Padepokan Bajra Seta yang gayem. Hati kecil Mahesa Amping telah terbawa dalam kenangan dan kerinduannya pada Padepokan Bajra Seta nun jauh disana.

    Tidak terasa langkah kuda telah membawanya semakin keutara, membawanya mengikuti benang-benang merah garis kehidupan.

    Dan ketika senja turun membayangi wajah bumi, iring-iringan itu telah kembali di kesatuannya di Bandar Cangu.

    “Selamat datang wahai para perwira muda”, berkata Kebo Arema menyambut kedatangan mereka.

    “Selamat datang wahai Senapati muda”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

    “Selama tidak ada kalian, Senapati Mahesa Pukat selalu datang menemaniku, atau sebaliknya aku yang datang ke bentengnya”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah bersama di pendapa Balai Tamu.

    Sementara itu sang malam sudah mulai turun menutupi pandangan mata di atas langit Balai Tamu di pinggir sungai Brantas itu. Angin malam bersemilir sejuk. Malam itu kelihatannya hujan tidak akan turun, ada banyak bintang bertaburan di langit malam.

    “Sri Maharaja Kertanegara telah memberi tugas kepada kami untuk menguasai Tanah Bali, kami ingin masukan dari Paman berdua”, berkata raden Wijaya kepada Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

    “Aku dapat memahami pandangan Sri Maharaja Kertanegara atas Tanah Bali”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah terlihat dua warna.

    “Sampai saat ini kita belum mengetahui kekuatan Tanah Bali”, berkata Mahesa Pukat menyampaikan pandangannya.

    “Artinya kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahannya sebelum melakukan sebuah serangan”, berkata Raden Wijaya menangkap kata-kata Mahesa Pukat.

    • Kaaaaaaaaaammmssiiaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      ndhisiki,
      Ki Wayan
      Ki Made
      Ki Nyoman
      Ki Ketut.
      (sak durunge dilurug Mahisa Amping)

  8. “Harus ada seseorang yang dapat dipercaya, mengamati Tanah Bali dari dekat”, berkata Mahesa Pukat.

    Entah kenapa semua wajah tiba-tiba saja berbarengan memandang kepada Mahesa Amping.

    “Kenapa kalian semua memandangku ?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura keheranan.

    “Artinya semua sepakat kamulah yang paling cocok mengamati Tanah Bali dari dekat, melaksanakan tugas delik sandi”, berkata Raden Wijaya.

    “Seorang Rangga harus patuh melaksanakan perintah Senapatinya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Betul, betul, betul “, berkata Rangga Lawe membenarkan.
    Dan ketika hari telah bergulir dipertengahan malam, Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke Bentengnya.

    “Aku khawatir kalian tidak dapat beristirahat selama masih ada aku”, berkata mahesa Pukat sambil berdiri. “Sampai ketemu besok”, berkata Mahesa Pukat ketika menuruni tangga pendapa Balai tamu.

    “Aku lupa kalian baru pulang dari perjalanan panjang, beristirahatlah”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

    Akhirnya mereka satu persatu memang telah masuk kepembaringannya masing-masing, meregangkan otot-otot yang tegang berkuda seharian.

    Dan diatas langit Balai tamu ditepian Sungai Brantas itu masih dipenuhi kerlap-kerlip bintang-bintang kecil. Bulan sabit telah jatuh bergeser ke Barat. Langit purba di malam itu tidak berawan, begitu jernih berwarna biru kelam. Terdengar dikesunyian malam suara celepuk malam yang terus menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang terjebak jauh dari induknya. Dari tepian sungai Brantas tidak putus saling menyambut suara katak mengiringi malam, mungkin tengah memanggil dan merindukan datangnya sang hujan.

    Dan pagipun akhirnya datang juga, warna sungai dan langit seperti satu warna, putih keperakan disinari cahaya matahari pagi yang telah datang mengintip diujung timur bumi.

    Pagi itu Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah berkumpul bersama di pendapa Balai Tamu menikmati suasana dan warna pagi ditepian sungai Brantas yang indah. Di Hutan seberang sungai sekumpulan burung bentet loreng terbang bersama mencari persinggahan baru, sebagai tanda bahwa pergantian musim akan segera datang.

    “Aku punya kenalan seorang saudagar yang sering berdagang ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Sebuah berita baik, setidaknya aku dapat ikut berlayar bersamanya”, berkata mahesa Amping.

    “Aku akan menemuinya, kapan akan bertolak ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema.

  9. Sugeng enjing…

    Matur nuwunnn…..

  10. SUGENG SIANG, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

  11. SUGENG NDALU, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

    • TETEP SEMANGAAAAATTTTTT……!!!!????

  12. Selamat malam para kadhang sedoyo,
    Hadu…baru pulang lembur,belon punya bayangan, seharian si ilham pusing tujuh keliling cuma cari selisih koreksi penjurnalan…….

    • tidak apa-apa ki
      saya juga belum sempat baca dongengnya semalam
      PR akhir semester menumpuk puk….
      he he he ….
      ngintip bentar terus nyilem lagi

  13. Pagi itu matahari bersinar cerah mewarnai Bandar Cangu yang sudah ramai sejak pagi dini. Sebuah bahtera terlihat perlahan bertolak meninggalkan Bandar Cangu pelahan dibawa arus sungai Brantas yang jernih putih keperakan dibias cahaya matahari pagi. Bahtera dagang itu milik seorang saudagar yang akan berlayar menuju ke Tanah Bali. Diatas Bahtera itulah Mahesa Amping ada bersamanya.

    Angin yang berhembus diawal musim kemarau itu terasa begitu sejuk membelai wajah Mahesa Amping diatas geladak Bahtera.Tidak ada yang tahu bahwa pemuda itu adalah seorang Rangga prajurit Singasari. Mahesa Amping memang sengaja menyamarkan jati dirinya dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Kepada Saudagar yang sekaligus pemilik bahtera kayu ini yang menjadi kawan kenalan Kebo Arema, Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menemui saudara perempuannya yang sudah begitu lama berpisah.

    Bahtera itu terus melaju dibawa aliran sungai Brantas melewati hutan yang lebat dikanan kirinya, atau sesekali melewati hamparan sawah yang luas menghijau, diselingi puluhan burung bangau putih terbang melintas, berkerumun turun diatas pematang sawah. Seorang bocah kecil terlihat berlari mengusik burung bangau yang terbang kembali menjauh.

    Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, ternyata dirinya tengah merenungi garis hidupnya yang Padepokan Bajra Seta, hidup sebagai seorang cantrik, merasakan suasana kehidupan padepokan Bajra Seta yang Gayem, mengembara berlayar keberbagai belahan dunia, hingga akhirnya telah diangkat sebagai seorang prajurit, diangkat sebagai seorang Rangga.

    Sementara itu sang waktu terus berlalu, bahtera itu telah mendekati Bandar Curabhaya disaat menjelang senja.

    Hanya sebentar bahtera itu bersandar di Bandar Curabhaya, setelah memuat dan menuruni beberapa barang pesanan, bahtera itu telah bertolak kembali kearah timur Jawadwipa menuju Tanah Bali.

    Bahtera itu telah mengembangkan layarnya, angin laut berhembus cukup kencang. Dibawah langit malam bahtera itu terapung diatas hamparan laut biru yang luas menyusuri tepian pantai Jawadwipa.

    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Untuk pertama kalinya”, berkata Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.

    “Apakah anak muda punya saudara yang tinggal di Tanah Bali ?”, bertanya orang tua itu.

    “Aku punya seorang saudara perempuan yang sudah lama tinggal di Tanah Bali”, berkata Mahesa Amping.
    Tanpa ditanya orang tua itu bercerita bahwa dirinya adalah seorang pedagang batu aji.

    “Kadang aku juga berdagang keris bertuah, tergantung pesanan”, berkata orang tua itu.

    • lumayan….dapet juga satu rontal,

      • KAMSIA…..selamat PAGI,

  14. ki sandikala, …

    =====
    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.
    …. dst …..
    =====

    menurut saya, itu adalah “bagian terbaik” dari seluruh rontal yang sudah di posting, …

    ada baiknya jalan ceritanya “diperlambat” dengan menuturkan keadaan, perilaku, dan peristiwa yang terjadi di sekeliling tokoh yang sedang diceritakan, … kalau tidak keliru, istilahnya “romantis”, …

    nuwun, …

    • betul… betul… betul…

      • betul,betul, betul, kecepatan dikurangi biar bisa melihat-lihat pemandangan alam sekitar….bukankah begitu Ki Sukasrana ????

  15. betul… betul… betul…kamsiiiaaaa

  16. Kebersamaan mereka sebagai sesama penumpang dibahtera, sama-sama berlayar ditengah lautan luas telah membawa keakraban diantara mereka.

    “Orang-orang memanggilku sebagai Ki Ketut Areng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya.

    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping ikut memperkenalkan dirinya.

    “Singgahlah kerumahku beberapa hari sebelum melanjutkan perjalananmu”, berkata orang tua itu yang mengaku bernama Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping untuk singgah dirumahnya.

    “Terima kasih, aku akan singgah”, berkata Mahesa Amping kepada kawan berlayarnya itu.

    “Hari masih jauh pagi, sebaiknya kita tidur beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng sambil menggelar tikar pandan yang dibawanya. “Tikar ini cukup untuk kita berdua”, berkata Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping berbagi tikar pandannya sebagai alas tidur menanti datangnya pagi.

    Akhirnya mereka terlihat lelap tertidur diatas geladak bahtera, angin dingin laut malam tidak terasa berhembus menyapu. Terlihat seluruh tubuh mereka sudah terbungkus kain panjang sekedar mengurangi dinginnya angin laut malam.

    Langit malam sedikit demi sedikit semakin surut berganti menjadi langit pagi. Ditandai dengan warna semburat kemerahan menyala diujung timur bumi. Dan semburat warna merah itu akhirnya merata mewarnai seluruh lengkung langit.

    “Malam telah kita lewati”, berkata Ki Ketut Areng yang mulai terjaga dari tidurnya kepada Mahesa Amping yang sudah bangun lebih dulu tengah bersandar didinding geladak.

    “Itukah Balidwipa ?”, bertanya Mahesa Amping sambil menunjuk kearah timur matahari.

    “Itulah Balidwipa, pulau tempat matahari terbit”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap cahaya kuning matahari yang mengintip dari balik bumi Tanah Bali.

    “Bahtera sepertinya akan merapat”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bahtera berbelok ke kanan kearah tepian pesiri Tanah Jawa.

    “Benar, bahtera akan merapat di Tanah Sempit sempit”, berkata Ki Ketut Areng yang kelihatannya sudah sering berlayar menuju Tanah Bali.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Ketut Areng, bahtera memang tengah merapat disebuah Bandar kecil bernama Tanah sempit sempit, entah kenapa dinamakan demikian, mungkin letak Bandar itu yang dibatasi oleh dua buah anak sungai yang bermuara diselat Bali, mungkin.

    “Diujung senja bahtera ini baru akan berlayar kembali, mari kita turun kedarat”, berkata Ki Ketut Areng yang telah bersiap-siap untuk turun kedarat.

    • lumayan…dapet satu rontal

  17. Bulat penuh matahari sudah terlihat diujung timur langit, cahaya pagi telah menerangi seluruh tanah Bandar kecil itu. Terlihat Ki Ketut Areng diiringi Mahesa Amping tengah mendekati sebuah perkampungan nelayan.

    Ternyata mereka tengah mendekati sebuah kedai makanan yang ada di perkampungan nelayan itu.
    “Kami minta minuman hangat”, berkata Ki Ketut Areng kepada pemilik kedi itu.

    Tidak lama kemudian pemillk kedai itu sudah membawakan minuman hangat serta beberapa jajanan.

    “Aku membawa kesukaan tuan, serabi dan dage goreng”, berkata pemilik kedai itu kepada Ki Ketut Areng yang ternyata sudah sangat sering berkunjung ke kedainya.

    Terlihat Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng tengah menikmati minuman hangat serta serabi dan Dage gorengnya.

    “Apa yang biasa Ki Ketut Areng lakukan selama menunggu bahtera berlayar kembali ?”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng.

    “Berdagang”, berkata Ki Ketut Areng sambil tersenyum.

    “Berdagang ?”, bertanya Mahesa Amping keheranan.

    “Diperkampungan nelayan ini ada seorang juragan yang cukup makmur, aku akan menawarkan sebuah keris kecil kepadanya”, berkata Ki Ketut Areng.

    Maka ketika bumi sudah terang tanah, Ki Ketut Areng dan Mahesa Amping terlihat telah keluar dari kedai itu. Terlihat mereka tengah memasuki perkampungan itu menuju kesebuah rumah panggung yang paling besar yang ada di perkampungan nelayan itu.

    “Selamat bertemu kembali wahai juragan besar”, berkata Ki Ketut Areng melambaikan tangannya kepada seorang yang berwajah bundar berperawakan sedang diatas panggung pendapanya.

    “Naiklah ketas Ki Ketut”, berkata orang itu kepada Ki Ketut Areng.
    Terlihat Ki Ketut Areng diringi Mahesa Amping tengah menaiki anak tangga pendapa.

    “Perkenalkan teman mudaku”, berkata Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata seorang yang sangat ramah.
    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping memprkenalkan dirinya.

    “orang-orang memanggilku Ki Sukasrana”, berkata orang itu memperkenalkan dirinya.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Ki Sukasrana pun bercerita tentang batu aji yang pernah dibelinya dari Ki Ketut Areng.

    • suwun…suwun…suwun…
      eh….,
      kammssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      • diperLAMBAT biar tambah nikmat…..KAMSIA pak DALANG

  18. cantrik HADIR,

    • cantrik nyusul HADIR,, matur nuwun

  19. horee, … aku dishooting, …. hahahahaha, …. !!!!

    naaahhh, …. ini lebih baik ki, … pembaca serasa terlibat langsung dalam peristiwa yang diceritakan. … itulah gaya atau ciri khas begawan sh mintardja, …

    kamsiaaa, … !!!!

  20. “Batu aji nya telah kuikat dengan ikatan kuningan”, berkata Ki Sukasrana sambil memperlihatkan sebuah batu cincing dijarinya yang berwarna seperti buah atap.”Ternyata batu akik ini adem dipakainya”, berkata Ki Sukasrana yang merasa cocok dengan batu akik yang dipakainya.

    “Aku membawakan untukmu sebuah keris kecil, sebagaimana barang yang biasa kubawa, Ki Sukasrana boleh menyimpannya dulu, bila sehari dua hari ada kecocokan, silahkan Ki Sukasrana membelinya”, berkata Ki Ketut mengeluarkan sebuah keris kecil berwarna emas.

    Sebagai seorang yang ahli pembuat berbagai senjata, Mahesa Amping dapat mengetahui bahan apa yang digunakan untuk pembuatan keris kecil itu, tapi Mahesa Amping tidak menunjukkan keahliannya didepan kedua orang itu.

    “Aku akan menyimpannya”, berkata Ki Sukasrana kepada Ki Ketut Areng sambil menerima keris kecil itu.

    Namun belum lama mereka bercakap-cakap, terlihat empat orang lelaki tengah memapah seorang yang nampaknya telah pingsan mendekati rumah Ki Sukasrana.

    “Itu anak buahku”, berkata Ki Sukasrana mengenali orang-orang yang datang.

    “Ada apa dengan Tole ?”, berkata Ki Sukasrana kepada salah seorang yang datang memapah kawannya itu.

    “Tidak sengaja kami mendapatkan ular api dijaring kami, Tole bermaksud membuangnya, namun tiba-tiba saja ular api itu mematuk kakinya”, berkata salah seorang yang baru datang itu.

    “Bawa Tole keatas pendapa, segera panggilkan Tabib Koneng kemari”, berkata Juragan Sukasrana kepada anak buahnya.

    “Sudah tiga hari ini Tabib Koneng belum pulang mengantar istrinya ke rumah mertuanya di kampong kidul”, berkata salah seorang anak buah Ki Sukasrana.

    “Badannya masih hangat, mungkin aku dapat mengobatinya”, berkata Mahesa Amping yang tanpa disuruh telah memeriksa badan orang yang tengah pingsan itu.

    Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan belati kecilnya dari balik pakaiannya. Dan dengan cekatan tangan Mahesa Amping telah mengerat bagian kaki yang terluka dipatuk ular. Dengan mimijat beberapa bagian tubuh orang yang telah pingsan itu, dan sedikit mengerahkan kesaktiannya, telapak tangan Mahesa Amping menempel di bagian yang terluka itu. Tidak begitu lama telah keluar darah hitam dari kaki yang terluka.

    “racunnya telah keluar”, berkata mahesa Amping ketika darah merah terlihat keluar dari bagian luka orang yang pingsan itu.”Ambilkan segelas air”, berkata Mahesa Amping.

    Maka salah seorang anak buah Ki Sukasrana masuk kedalam rumah, tidak lama kemudian sudah membawa semangkuk air.

  21. Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan sebuah bubu bambu yang selalu dibawanya dibalik ikat pinggangnya. Ternyata didalam bubu bamboo kecil itu berisi bubuk racikan obat. Mahesa Amping terlihat tengah melarutkan bubuk racikan obat itu dengan air yang ada dimangkuk. Dan dengan tangannya meneteskan air itu ke bibir orang yang pingsan itu.
    Tidak lama kemudian, terlihat wajah orang yang pingsan itu yang semula putih pucat terlihat sudah mulai berwarna memerah. Mahesa Amping terlihat memegang lengan orang itu.

    “Denyut nadinya telah normal kembali”, berkata Mahesa Amping sambil menarik nafas lega sebagai tanda bahwa orang yang terkena bisa racun ular api itu dapat diselamatkan.

    Melihat perubahan diwajah orang yang pingsan itu, beberapa orang yang ada di pendapa itu ikut menarik nafas lega, merasa kawannya akan sembuh dan dapat diselamatkan.

    “Dimana aku ?”, bertanya orang yang pingsan itu ketika membuka matanya melihat banyak orang disekelingnya.

    “ kamu baru saja selamat dari bisa racun ular api”, berkata Ki Sukasrana kepada orang yang baru siuman itu.

    ”Minumlah obat ini sampai habis”, berkata mahesa Amping sambil memberikan mangkuk berisi obat racikannya kepada orang yang baru siuman itu yang sudah dapat duduk bersandar dinding kayu.

    Terlihat orang itu meminum obat racikan disebuah mangkuk yang diberikan Mahesa Amping dan kembali bersandar didinding kayu, wajahnya terlihat semakin segar tidak pucat lagi sebagaimana sebelumnya.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah menyelamatkan anak buahku”, berkata K Sukasrana yang melihat anak buahnya sudah menjadi lebih segar daro sebelumnya.

    “Diujung barat kampung ini kulihat ad hutan kecil, carilah jamur kayu merah dihutan itu, mudah-mudahan penyembuhannya akan menjadi lebih cepat lagi”, berkata Mahesa Amping sambil menyebut beberapa tumbuhan yang banyak tumbuh disekitar perkampungan itu sebagai bahan campuran obat.

    “Aku tidak menyangka bahwa teman mudaku ini adalah seorang tabib”, berkata Ki Ketut Areng

    “Aku hanya punya sedikit ilmu”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

    “Antarlah Tole kerumahnya, jangan lupa untuk mencarikan jamur kayu merah dan beberapa bahan tumbuhan untuk obat”, berkata Ki Sukasrana kepada keempat anak buahnya untuk mengantar Tole yang sudah dapat berdiri, meski masih sedikit lemas.

    Sementara itu matahari diatas perkampungan nelayan itu sudah cepat naik kepuncaknya, untungnya didepan rumah Ki Sukasrana berdiri tumbuh sebuah pohon jamblang yang berdahan dan berdaun cukup lebat sehingga sinar matahari tidak langsung masuk menyengat kulit disiang hari itu.

    “kalian pasti sudah sangat lapar”, berkata Ki Sukasrana sambil berdiri tersenyum.

    • lumayan…..hari ini pulang gawe agak sorean dikit, hehehe

  22. ikut-ikutan sok tau ah, ……

    belum sempat mahisa amping dan ki ketut areng berdiri, pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah nyai sukasrana. “silakan kisanak, makan seadanya. hari ini saya masak lawar, pepesan ayam dan mangut lele, …”

    dan seterusnya terserah ki sandikala, ….

    • wah…..
      giliran Ki Sukasrana rupanya, he he he …..
      asiikkk……………

      eh…, hampir lupa
      kamsiaaaa………….. …………. ….. …. .. . . .
      (makin lama makin tidak terdengar karena sudah nyilem lagi

  23. Ternyata Ki Sukasrana masuk kedalam untuk menengok Nyai Sukasrana yang sudah hampir selesai menyelesaikan beberapa masakan.

    Ki Sukasrana telah kembali ke pendapa menemani tamunya. Tidak lama berselang terdengar pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah Nyai Sukasrana yang sekilas masih nampak sisa-sisa kecantikannya ketika masih muda dulu.

    “Silahkan kisanak makan seadanya, hari ini kami Cuma memasak lawar, pepesan ayam dan mangut lele”, berkata Nyai Sukasrana kepada mahesa Amping dan Ki Ketut Areng.

    “Terima kasih, kami telah merepotkan nyai”, berkata Ki Ketut Areng kepada nyai Sukasrana yang hanya tersenyum dan kembali lagi masuk kedalam menghilang dibalik pintu pringgitan.

    Dan sang waktu ternyata begitu cepat berlalu, tidak terasa matahari sudah rebah turun sedikit ke barat.
    “Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian”, berkata Ki Sukasrana mengantar Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng menuruni tangga pendapanya.

    “Semoga dipertemuan berikutnya, buah jamblang itu sudah banyak yang masak”, berkata Mahesa Amping menunjuk kearah pohon jamblang didepan rumah Ki Sukasrana.

    “Semoga tidak ada hambatan dalam perjalanan kalian”, berkata Ki Sukasrana dari atas pendapanya.

    Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah kembali ke Bandar kecil itu. Bahtera yang mereka tumpangi masih terlihat merapat disebuah dermaga.

    Ketika matahari sudah berbaring diujung barat bumi, dibatas senja bahtera itu telah bertolak meninggalkan Bandar Tanah sempit sempit.

    Sang malam terlihat begitu kelam mewarnai langit laut selat Bali, tapi masih ada beberapa bintang sebagai tanda bahwa hari tidak akan turun hujan.

    Bahtera itu berlayar diatas hamparan laut sunyi. Kadang terlihat kerlap-kerlip lampu centing bergoyang diatas jukung berlayar tunggal nelayan yang tengah mencari ikan, mereka memang terlahir sebagai nelayan, hidup berkeluarga dan beranak pinak melahirkan para nelayan muda di masa yang akan datang. Sebuah kehidupan malam ditengah lautan yang begitu sunyi, menjaring ikan untuk kehidupan keluarganya. Dan mereka tidak pernah jemu untuk melakoninya. Adalah sebuah kebahagiaan tak terkira manakala pulang dari melaut membawa banyak ikan dikaping bambu. Itulah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli, sebagaimana seorang petani melihat panen jagungnya.

    “Besok menjelang pagi kita sudah tiba di Bandar Buleleng”, berkata Ki Ketut Areng kepada Mahesa Amping yang tengah melihat dua orang lelaki diatas jukungnya terapung ditengah laut malam.

    Sementara itu angin bertiup begitu dingin, tidak terasa bahtera telah melewati selat Bali. Disebelah kanan bahtera membujur gundukan tanah hitam. Itulah Balidwipa disaat malam kelam seperti bayi raksasa yang tengah tertidur.

  24. Gemuruh ombak dipantai kuta
    Sejuk lembut angin di bukit Kintamani
    Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
    Tak mampu mengusir..kau yang manis

    • Bila saja kau ada di sisiku……………………..

  25. MATUR NUWUUUUUN

    • sama-sama ki……”tetep semangat”

      • ni SINDEN ijin pulang kampung…..mumpung libur 3 hari (katanya)

        nyanyi sik ah :
        Siapa yang mau menghuni gedung tua Siapa yang sudi singgah dihati ini Tanpa keramaian kemewahan sunyi……!!!???

        siapa yang mau, jaga gandok malam ini…..siapa, siapaaaa…..!!!???

  26. “Ketika bertolak dari Bandar Cangu, aku tidak merasakan apapun. Namun manakala Bahtera sudah mulai menyentuh pesisir Bali, hati ini seperti tersentak-sentak, ingin rasanya aku terjun berenang ketepian dan berlari pulang”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap pesisir tepian pantai Bali yang terlihat masih menghitam, hanya terlihat kerlip beberapa lampu-lampu kecil berasal dari lampu lenting rumah penduduk di tepi pantai seperti melihat gundukan tanah hitam bertabur bintang-bintang.

    “Mari duduk bersandar, malam masih sangat panjang”, berkata Mahesa Amping kepada ki Ketut Areng yang masih berdiri memandang jauh ketepi pesisir pantai.
    Tidak lama kemudian Ki ketut Areng telah mengikuti
    Mahesa Amping bersandar didinding geladak.

    Malam diatas kepala mereka seperti payung langit raksasa, dalam kekerdilannya, bahtera sepertinya tidak bergerak. Dan Ki Ketut Areng tidak terasa telah bergeser rebah berbaring dan akhirnya telah tertidur. Tinggalah Mahesa Amping yang masih terjaga bersandar didinding geladak. Dan tidak terasa Mahesa Amping telah bergeser berbaring dan akhirnya ikut tertidur.

    Terkejut Mahesa Amping ketika membuka matanya, langit diatas bahtera sudah terang, ternyata sang pagi sudah datang menjelang.

    “hari sudah pagi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng yang juga telah ikut terbangun.

    Setelah merapikan pakaian dan ikat kepalanya, terlihat Mahesa Amping berdiri dipinggir geladak bersama Ki Ketut Areng memandang tak jemu pulau Bali yang hijau terbungkus pohon-pohon hutan yang besar, tinggi dan kerap rapat.

    Bahtera semakin merapat ke pantai mendekati tepian. Diujung timur terlihat tiang-tiang layar bahtera berjajar. Kearah itulah bahtera yang ditumpangi Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng bergerak menghampirinya.

    Bahtera itu telah hamper merapat disebuah dermaga kayu yang panjang, seorang lelaki terlihat dengan beraninya melompat dari geladak sambil membawa tambang besar. Dan ketika kakinya telah menyentuh lantai geladak, dengan cekatan mengikat tali di sebuah tonggak kayu.

    Bahtera telah merapat dan bersandar di Bandar Buleleng yang cukup ramai sebagaimana suasana di Bandar-bandar besar di tanah jawa.

    “Terima kasih untuk tumpangannya”, berkata mahesa Amping kepada saudagar pemilik bahtera.
    “Tunggulah bahtera kami bilamana kamu akan kembali ke tanah Jawa”, berkata saudagar itu kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah menginjakkan kakinya didermaga. Terlihat beberapa orang tengah membawa kuda yang akan diangkut berlayar, mungkin kesebuah tempat yang jauh.

    “Rumahku tidak begitu jauh dari sini”, berkata ki Ketut Areng dengan wajah begitu ceria merasakan udara kampung halamannya sendiri.

  27. Ternyata rumah Ki Ketut Areng memang tidak begitu jauh dari Bandar Buleleng, hanya terpisah dengan sebuah hutan kecil.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng sudah mendekati sebuah regol gerbang Kademangan Kabukbuk. Sebuah Kademangan yang paling dekat dengan Bandar Buleleng.

    Tidaklah aneh bila Kademangan itu cukup ramai menjadi tempat persinggahan orang-orang Bali pedalaman yang akan membawa berbagai dagangannya ke Bandar Buleleng diantaranya adalah ternak kuda sebagaimana yang mereka lihat tengah diangkut berlayar di Bandar buleleng.

    Di pintu regol, Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng disambut gembira oleh seorang gadis yang ternyata putrid tunggal Ki Ketut Areng.

    “Ibu masih belum pulang kepasar”, berkata gadis itu kepada ayahnya Ki Ketut Areng.

    Mahesa Amping dipersilahkan bersih-bersih di pakiwan. Setelah itu Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat beritirahat bercakap-cakap di rumah bamboo, sebuah bangunan yang bertiang bamboo terbuka dan terpisah dari bangunan utama.

    Rumah Ki Ketut Areng memang terlihat asri, ada beberapa tanamam bunga yang terawatt apik di halaman dan tiga buah pohon jepung merah berdiri disisi kiri pagar dinding batu.

    Tidak lama kemudian datanglah dari regol pintu halaman seorang wanita sambil menjungjung keranjang diatas kepalanya yang ternyata adalah Nyai Ketut Areng yang baru pulang dari pasar.

    Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada istrinya. Dan hari itu keluarga Ki Ketut Areng sepertinya merayakan kebahagiaannya dengan memasak berbagai hidangan.

    Hari itu Mahesa Amping bermalam dirumah Ki Ketut Areng, sudah menjadi kebiasaan Mahesa Amping bangun di awal pagi.

    “Wanita bali memang terbiasa melakukan kerja keras seperti membajak sawah dan mencangkul”, berkata Ki Ketut Areng yang dapat membaca keheranan Mahesa Amping melihat istri dan putrid Ki Ketut Areng pagi-pagi sudah keluar rumah membawa pacul dan arit kesawah.

    “Apa kerja laki-laki Bali ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Berjudi menyabung ayam ”, berkata Ki Ketut Areng sambil membelai leher ayam kesayangannya yang sudah lama ditinggalkannya.

    “Nikmat sekali terlahir sebagai pria Bali”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

    Hari itu Ki Ketut Areng mengajak mahesa Amping ke rumah kenalannya seorang pedagang kuda, Mahesa Amping memang sengaja meminta Ki Ketut Areng mencarikannya seekor kuda yang baik.

    “kuda ini asli Sumbawa, beruntung aku belum membawanya kepasar”, berkata kenalan Ki Ketut Areng seorang pedagang kuda.

  28. kulo pesen kuda poni mawon pak dalang, matur nuwun

  29. Malam itu bulan bersinar bulat penuh menyinari halaman rumah Ki Ketut Areng. Semilir angin menggoyangkan bunga dan daun kemboja di sudut halaman rumah. Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat masih berbincang-bincang seputar rencana perjalanan mahesa Amping ke Puri Besakih.

    “Puri Besakih hanya berjarak dua hari perjalanan berkuda”, berkata Ki Ketut Areng memberikan gambaran arah menuju Puri Besakih. Sebagai seorang pedagang batu aji, pengenalan Ki ketut Areng tentang berbagai daerah di Tanah bali memang cukup luas.

    “Puri Besakih terletak dilereng Gunung Agung, berjalanlah mengambil arah matahari terbit disebelah kananmu”, berkata Ki Ketut Areng menambahi penjelasanya.

    Sementara itu angin didepan halaman Ki Ketut Areng semakin dingin, bunga-bunga kemboja merah terlihat banyak berserakan.

    “Saatnya beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng mengajak Mahesa Amping beristirahat karena esok hari akan melakukan perjalanan panjang.

    Malam diatas rumah Ki Ketut Areng berlalu dalam sunyi, hanya suara gemeriaicik air yang terdengar tiada henti berasal dari sungai kecil disebelah rumah Ki Ketut Areng.

    Dan disaat pagi sudah terang bumi, Mahesa Amping pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

    “Aku berdoa untukmu, semoga tidak ada halangan dan hambatan diperjalananmu”, berkata Ki Ketut Areng melepas keberangkatan Mahesa Amping.

    Terlihat Mahesa Amping menuntun kudanya keluar dari regol pintu halaman Ki Ketut Areng.Dan dengan lincahnya telah melompat diatas kudanya.

    “Kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya. Mendapat perintah dari tuan barunya kuda itu seperti mengerti telah melangkahkan kakinya berjalan perlahan.

    “Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu”, berkata Ki Ketut Areng sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping berkuda diatas jalan Kademangan yang sudah ramai orang berlalu lalang untuk pergi ke sawah atau pergi ke pasar.Ketika telah keluar dari regol pintu gerbang Kademangan Kabukbuk, terlihat Mahesa Amping mengambil arah kekanan menyusuri jalan yang sepertinya sudah mengeras, sebagai tanda sering dilewati gerobak kuda memuat barang penuh muatan.Sementara itu Matahari pagi mengintip dari sela-sela daun dan dahan pokok-pokok pohon kayu yang tinggi menjulang disepanjang perjalanannya. Harum tanah hutan basah yang tertiup angin begitu menyegarkan.

    “Aku ingin mencoba sejauh mana kekuatan nafasmu”, berkata mahesa Amping kepada kuda barunya sambil menjejakkan kakinya keperut kudanya.

    Ternyata kuda itu adalah kuda yang pintar, tahu perintah tuannya. Maka terlihat kuda itu telah berlari begitu cepatnya.

    “Kuda pintar”, berkata Mahesa Amping yang merasa gembira dibawa kudanya berlari cepat.

    • lumayan….ba’da subuh dapet satu lontar,

      Selamat pagi para kadhang sedoyo, semalam cuma Ki bancak yang datang ke gardu ronda,

      Pagi ini siap-siap mengantar sang permaisuri ke pura TAKLIM Bukit duri Jakarta alias pengajian rutin kaum ibu, hehehe 3x

  30. “Betul, betul, betul“, berkata Rangga Lawe membenarkan., seperti nonton upin ipin aja………..

    • loh….
      dah lama gak sambang padepokan Ki
      sehat saja kan?

  31. pada kesempatan ini, saya menyampaikan selamat natal kepada sanak kadang yang merayakannya. semoga tuhan selalu bersama kita.

    damai di bumi, damai di surga, …

  32. Sugeng ndalu…

    Lama tidak menyambangi padepokan, eh, Tole kok digigit ular. Apes temen tho yaaaa….

    Kamsiaaaa….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: