SFBDBS-08

Bagian 1.

SFBDBS 08-191

Tiga buah lecutan yang nyaris tak bersuara itu berasal dari kekuatan yang dahsyat telah melecut tiga bagian tubuh Karaeng Jagong yang datang begitu cepat tidak dapat dihindari lagi.

Tiga buah sayatan terlihat jelas ditubuh Karaeng Jagong, memanjang di paha, di dada dan lehernya.

Perlahan tubuh Karaeng Jagong jatuh bertumpu pada kedua siku kakinya, lalu seluruh tubuhnya rebah telentang tak bernyawa.

Bergidik bulu remang Mahesa Amping, baru kali ini melihat Kebo Arema mengeluarkan kemampuan puncaknya, menggetarkan senjata cambuknya yang luar biasa dengan kekuatan yang dahsyat, begitu cepat dan dengan kekuatan penuh. Dan Karaeng Jagong telah merasakan ilmu puncak itu. Langsung jatuh telentang diatas tanah tak bernyawa.

Kebo Arema seperti tidak percaya atas apa yang terjadi, terlihat dirinya masih berdiri kaku menatap tubuh Karaeng Jagong yang rebah di bumi tidak lagi bernyawa.

“Pengendalian diriku terlepas, aku telah berbuat diluar kesadaranku”, berkata Kebo Arema sepertinya menyesali apa yang telah terjadi.

“Siapapun dapat berbuat yang sama, terutama kepada orang yang telah membunuh ayah kandungnya”, berkata Mahesa Amping yang telah mendekati Kebo Arema.

“Yang kusesalkan aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri”, berkata Kebo Arema.

“Aku juga pernah melakukannya, tapi menjadi pelajaran yang sangat mahal”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema agar tidak lagi menyalahi dirinya sendiri.

Langit diatas pantai pulau Wangi-wangi telah semakin terang, sinar matahari sudah merayap menggapai puncaknya. Terlihat beberapa lelaki penduduk asli pulau wangi-wangi yang selama ini bersembunyi dibalik pepohonan telah berani menampakkan dirinya, terutama ketika melihat Karaeng Jagong telah tidak mampu lagi bergerak, mati.

“Jangan hanya berdiri, hari ini aku telah membebaskan kalian dari kesewenang-wenangan”, berkata Kebo Arema dengan bahasa yang fasih, bahasa asli orang pulau wangi-wangi.
Seseorang terlihat sudah berani mendekat, menghampiri Kebo Arema.

“Aku mendengar tuan mengatakan sebagai putra pemimpin kami Karaeng Tuku, kalau memang benar pasti tuan yang bernama Karaeng Taka”, berkata orang itu memperhatikan Kebo Arema dari dekat.

“Benar, akulah Karaeng Taka”, berkata Kebo Arema memberi keyakinan kepada orang itu.

“Penglihatanku tidak akan salah, aku melihat ada bekas luka di atas alismu. Luka akibat sayatan ujung kerang, akulah yang melakukannya”, berkata orang itu penuh kegembiraan merasa yakin orang dihadapannya adalah benar Kebo Arema.

“Aku ingat, pasti kamu Bolange, anak nakal itu”, berkata Kebo Arema yang langsung mengenal lelaki sebaya didepannya itu.

Seperti bocah kecil yang baru saja memenangkan sebuah permainan, mereka saling berpelukan, saling memukul pipi masing-masing menunjukkan rasa kegembiraan mereka yang sudah begitu lama tidak berjumpa.

Melihat Bolange bersama orang asing berpelukan dan bergembira, beberapa penduduk asli pulau Wangi-wangi jadi semakin berani mendekat.

Dengan bangga Bolange memperkenalkan Kebo Arema sebagai putra Karaeng Tuku yang sudah lama menghilang. Beberapa orang yang terlihat sebaya dengan Kebo Arema nampak ikut bergembira, mereka mengenali Kebo Arema yang dulu adalah teman sepermainannya, dan menjadi saksi hari yang memilukan itu, hari dimana pulau Wangi-wangi seperti neraka. Beberapa orang pengikut Karaeng Tuku telah ikut menjadi korban pembantaian.

“Mari kita urus mereka yang masih terluka”, berkata Mahesa Amping kepada beberapa prajurit.

Terlihat Mahesa Amping dan beberapa prajurit tengah mengobati orang-orang yang terluka. Sementara itu hanya dua orang dari pihak prajurit Singasari yang terluka agak parah.

Beberapa penduduk asli pulau Wangi-wangi telah ikut membantu menguburkan beberapa mayat termasuk diantaranya adalah Karaeng Jagong.

Meskipun selama hidupnya banyak melukai perasaan para penduduk, mayat-mayat itu masih diperlakukan dengan baik, disemayamkan dan dikuburkan sebagaimana mestinya.

“Perlakuan apa yang harus diberikan kepada para tawanan itu”, berkata Bolange kepada Kebo Arema sambil menunjuk lima orang tawanan dan beberapa lagi yang terluka.

“Mereka akan menjadi pengawasan kami, aku khawatir penduduk disini tidak dapat lagi menerima kehadiran mereka”, berkata Kebo Arema kepada Bolange.

“Sebuah keputusan yang bijaksana”, berkata Bolange menyetujui keputusan Kebo Arema yang dulunya adalah sahabat sepermainannya.

Pulau Wangi-wangi adalah sebuah daratan yang subur, namun setalah dikuasai oleh Karaeng Jagong dan gerombolannya, pulau itu menjadi seperti pulau neraka, beberapa penduduknya diam-diam meninggalkannya pergi mengungsi, sementara sebagian lagi tetap bertahan, menerima semua perlakuan kehinaan, pasrah atas nasib buruk mereka.

“Kita bangun kembali pulau ini sebagaimana dulu, pulau yang penuh semangat kebersamaan, bersama berladang, bersama berburu ikan, hasilnya untuk bersama, satu untuk semua dan semua untuk satu”, berkata Kebo Arema kepada penduduk asli Pulau Wangi-Wangi.

“Hidup putra Karaeng Tuku !!!”, berkata para penduduk asli bersamaan penuh kegembiraan.

“Saatnya kalian memilih orang terbaik diantara kalian menjadi pemimpin kalian, pemimpin yang dapat mempersatukan setiap hati, pemimpin yang dapat membangkitkan semangat hati, seorang pemimpin yang berdiri dan melepaskan kepentingan diri pribadi, mengembalikan harga diri seluruh warga pulau ini, mengharumkan kembali pulau ini sebagaimana namanya, Wangi-wangi”, berkata Kebo Arema dengan penuh semangat.

“Hidup putra Karaeng Tuku, engkaulah pemimpin pulau wangi-wangi”, berteriak para penduduk asli Wangi-wangi menunjuk Kebo Arema sebagai pemimpin meraka.
Kebo Arema merasa terpojok, tidak ingin menyakiti perasaan hati para penduduk asli pulau Wangi-wangi yang dikenal penuh kesetiaan.

“Aku menerima keputusan kalian, namun ijinkan aku menunjuk beberapa orang yang akan membantuku, yang harus kalian taati sebagaimana kalian mentaati diriku”, berkata Kebo Arema memberikan sebuah usulan.

Demikianlah hari pertama Kebo Arema dan Mahesa Amping tiba di pulau Wangi-wangi.

Pada hari kedua Kebo Arema telah menunjuk empat orang penduduk asli pulau Wangi-wangi menjadi wakil kepemimpinannya yang langsung disetujui oleh para penduduk pulau Wangi-wangi. Diantara wakilnya itu adalah Bolange, seorang yang cukup cakap dan dapat dipercaya.

“Rumah itu hangus terbakar, tidak ada seorang pun yang berani membangun rumah diatas tanah itu”, berkata Bolange kepada Kebo Arema memberi penjelasan tentang sebuah tanah kosong yang dulu adalah sebuah tanah tempat berdirinya rumah keluarga kebo Arema.

“Aku ingin diatas tanah ini dibangun kembali sebuah rumah panggung besar, sebuah rumah banjar tempat semua orang dapat berkumpul dihari-hari tertentu, merapatkan pemikiran yang baik membangun dan menjaga pulau Wangi-wangi”, berkata Kebo Arema kepada Bolange.

“Permintaan tuan Karaeng Taka adalah titah untuk hamba”, berkata Bolange sambil tersenyum.

“Inilah titah pengausa pulau Wangi-wangi yang pertama”, berkata Kebo Arema yang ikut tersenyum melihat gaya Bolange bertutur layaknya seorang hamba kepada Rajanya.

Pada dasarnya orang-orang pulau wangi-wangi memang sangat taat kepada pemimpinnya, namun dalam sikap mereka sepertinya tidak ada batas sebagaimana seorang hamba kepada rajanya, mereka sangat bersahaya, pemimpin mereka adalah sahabat, sementara kesetiaan diperlihatkan dalam perbuatan, bukan dalam sikap dan tutur kata.

Hari ketiga di pulau Wangi-wangi itu adalah sebuah kesibukan besar membangun sebuah rumah banjar sebagaimana yang diinginkan oleh Kebo Arema, pemimpin dan penguasa pulau wangi-wangi yang baru.

Semua orang laki-laki nampak turun bekerja bergotong royong membangun rumah banjar diatas tanah keluarga Kebo Arema. Para prajurit seprtinya tidak mau ketinggalan, mereka ikut turun membantu.

Dan bukan Kebo Arema bila tidak ikut gatal turun membantu, maka sukar sekali membedakan antara atasan dan bawahannya, sama-sama berpeluh, sama-sama berdebu. Dan juga sama-sama makan ditempat yang sama.

Dalam waktu empat pekan, rumah banjar itu sudah berdiri. Begitu megah sebagaimana layaknya rumah seorang sultan di Tanah Melayu. Namun rumah banjar itu adalah milik orang banyak. Semua orang ikut merasa bangga dan merasa memilikinya.

“Kita harus menjaga agar pulau ini tidak kembali dikuasai oleh para bajak laut”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil memberikan pandangannya bahwa kedamaian di Pulau Wangi-wangi juga keamanan palayaran armada besar Singasari di jalur perdagangan timur menuju Tanah Gurun.

Diam-diam Mahesa Amping mengakui keunggulan pemikiran Kebo Arema yang begitu jauh, penuh dengan berbagai perhitungan yang kuat layaknya seorang panglima mengatur siasat peperangan.

“Saatnya kita membangun kekuatan di Pulau Wangi-wangi ini”, berkata Kebo Arema disuatu malam kepada Mahesa Amping di teras panggung pendapa rumah banjar.

Sebagaimana di Bandar Bacukiki, Kebo Arema telah mengumpulkan beberapa pemuda maupun orang dewasa yang masih mempunyai semangat untuk menjadi pasukan pengawal pulau Wangi-wangi.

Untuk hal itu, Kebo Arema telah meminta Mahesa Amping untuk melakukakn tugasnya, membangun dan membina kesatuan itu.

Hari demi hari pasukan pengawal itu telah melakukan berbagai macam latihan, baik latihan ketahanan tubuh maupun latihan pertempuran secara perorangan dan berkelompok.

Ternyata bukan hanya pemuda dan orang dewasa yang ditunjuk sebagai pasukan pengawal yang berlatih, beberapa orang penghuni pulau itu ikut berbondong-bondong meminta dilatih kanuragan juga.

Kebo Arema menyambut baik semangat itu, maka menerima dan mengabulkan keinginan mereka untuk ikut berlatih. Maka Kebo Arema ikut bersama dua orang prajurit yang dianggap cakap turun membantu Mahesa Amping, melatih para penghuni pulau Wangi-wangi.

Tiga bulan telah berlalu, pasukan pengawal pulau Wangi-wangi sudah terlihat kemampuannya, sementara para lelaki penghuni pulau wangi-wangi sudah dapat dipercaya bersama pasukan pengawal akan dapat menjaga pulaunya dari berbagai ancaman yang mungkin dapat terjadi, sebagaimana terjadi pada beberapa tahun silam, pada generasi orang tua mereka.

“Kalian harus berlatih setiap saat, aku telah memberikan semua bahan dasar latihan, semua tergantung pada diri kalian masing-masing, siapa yang rajin berlatih akan menuai hasilnya sendiri”, berkata Mahesa Amping ketika mengakhiri sebuah latihan disuatu hari diujung senja.

“Pilihlah senjata yang kalian sukai”, berkata Kebo Arema pada suatu hari membagikan berbagai macam senjata kepada para penghuni pulau Wangi-wangi. Bukan main senangnya mereka menerima hadiah itu.

“Setiap senjata mempunyai sifat dan keistimewaannya masing-masing, kalian harus memahami senjata yang kalian miliki, mengenal dan merasakan sebagaimana anggota tubuh kalian, sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan”, berkata Mahesa Amping memberikan pemahaman dasar-dasar yang kuat atas berbagai macam senjata.

“Musim panas akan segera berakhir, waktu pelayaran kita sangat terbatas”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, memberikan beberapa kemungkinan yang harus mereka jalani sehubungan dengan tugas mereka merintis jalur perdagangan di daerah timur, terutama dengan hampir datangnya musim penghujan, musim pasang laut.

“Ada dua pilihan, menyeberangi perairan Laut Jawa sebelum datangnya musim pasang, atau tertahan di daerah timur ini menantikan kembali datangnya musim berlayar tiba”, berkata kembali Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

“Aku memilih kita kembali ke tanah Singasari sebelum tiba musim pasang, pelayaran yang panjang mungkin akan membuat kejenuhan para prajurit”, berkata Mahesa Amping memberikan pemikirannya.

“Apakah kamu tidak memperhitungkan diriku sebagai penguasa Pulau Wangi-wangi ini?”, bertanya Kebo Arema dengan senyum dikulum.

“Untuk hal itu aku tidak memperhitungkannya, yang kutahu Paman Kebo Arema tidak pernah bermimpi menjadi seorang penguasa dimanapun”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.

“Ternyata pemikiran kita tidak jauh berbeda, kecintaan kita kepada dunia akan membutakan mata hati kita kepada kecintaan yang hakiki, kecintaan atas karunia dari yang Maha Pencipta, yang harus dipuja dan disembah setiap saat, setiap waktu dalam keadaan apapun, itulah kebahagiaan sejati karunia dari pemilik alam semesta ini, Gusti Yang Maha Hidup, Gusti Yang Maha Tunggal, Gusti Yang selalu menjaga”, berkata Kebo Arema.

“Dan sang penguasa pulau Wangi-wangi harus rela meninggalkan kekuasaannya”, berkata Mahesa Amping.

“Kekuasaan sementara, sebuah titipan”, berkata Kebo Arema penuh senyum.

Demikianlah, mereka sepakat untuk secepatnya kembali ketanah Singasari sebelum datang musim pasang laut tiba.

Keputusan itu disampaikan kepada beberapa wakil pimpinan pulau Wangi-wangi.

Semula mereka merasa keberatan, namun dengan sedikit pengertian akhirnya mereka tidak dapat menahan Kebo Arema.

“Ada tugas yang tengah aku emban, membangun jalur perdagangan yang cukup luas, dari ujung timur Tanah Gurun sampai ke ujung Malaka. Masih banyak tempat yang harus kami singgahi, seperti pesisir Tanjungpura sampai ke ujung Campa. Kemajuan perdagangan Singasari berdampak juga bagi kemakmuran pulau Wangi-wangi ini. Ijinkan dan doakan aku dapat mengemban tugas besar ini”, berkata Kebo Arema memberikan pengertian kepada para wakilnya.

Hari itu senja telah turun menyelimuti pantai pulau Wangi-wangi, terlihat sepuluh jung terakhir yang akan membawa beberapa prajurit ke tengah laut tempat Bahtera besar Singasari menambatkan sauhnya. Mereka akan melakukan pelayaran kembali setelah lama tertunda, berlayar ke Tanah Gurun.

———-oOo———-

SFBDBS 08-192

Bulan bulat diatas langit sepertinya tidak pernah bergeser mengiringi sebuah bahtera yang terapung diatas laut malam. Tujuh layar terkembang penuh ditiup angin menuju timur laut.

Bahtera itu masih terapung di hamparan laut luas yang tidak bertepi, terlihat seperti tidak bergerak mengejar tepi laut yang terus berlari menjauh. Sementara, sang malam diam-diam telah meninggalkan lengkung langit, memberi kesempatan sang pagi memulai melukis langit.

Semburat merah menyala menyembul di ujung timur, sinar lentera bahtera masih terlihat bergelantungan di ujung anjungan dan buritan bergoyang mengikuti gerak bahtera yang terapung di tengah hamparan laut luas tak bertepi.

Dan akhirnya semburan warna merah itu telah merata mengisi lengkung langit, mewarnai kehadiran sang dewi pagi di tengah hamparan permadani laut biru.

Perlahan tapi pasti, sang surya mulai menampakkan setengah wajahnya di ujung timur penuh senyum menawan.

“Jaga arah kemudi, kita berlayar ke arah timur matahari”, berkata Kebo Arema memberi perintah kepada juru mudi.

“Daratan!!!”, berteriak seorang prajurit yang melihat sekumpulan burung manyar karang beterbangan diatas air laut, sepertinya tengah berpesta berburu ikan kecil.

“Putar kemudi kekiri, jauhkan arah bahtera dari kumpulan burung manyar karang itu”, berteriak Kebo Arema membuat dua orang juru mudi terkejut, namun masih sempat mencerna perintah Kebo Arema.Dengan cekatan kemudi kembar telah berputar ke kiri, bahtera bergeser arah ke kiri.

“Kita telah terhindar dari kehancuran, dibawah burung camar karang bukan laut dalam, melainkan sebuah gunung karang yang bersembunyi”, berkata Kebo Arema menjelaskan kepada beberapa prajurit yang tidak mengerti mengapa arah bahtera tiba-tiba saja harus menghindari sekumpulan burung manyar karang.

“Diatas gunung karang itu adalah air laut dangkal tempat ikan-ikan kecil bermain, itulah bahasa alam yang memberi petunjuk burung manyar karang setiap pagi datang mencari makan”, berkata Kebo Arema memberikan penjelesannya. ”Pesanku, jangan coba-coba memasuki laut banda di malam hari, bahtera kita akan tersesat berlabuh di tempat yang salah, tergerus hancur diatas gunung karang itu”, kembali Kebo Arema berkata kepada beberapa prajurit yang langsung memahaminya.

“Aku pernah mendengar cerita ini dari seorang pelaut di Bandar Sebukit, gunung karang yang bersembunyi itu mereka namakan sebagai laut gosong”, berkata Mahesa Amping.

“Pelaut itu benar, gunung karang bersembunyi itu disebut juga dengan nama laut gosong”, berkata Kebo Arema membenarkan Mahesa Amping.

Sementara itu warna pagi sudah menjadi lebih terang, di ujung timur sang surya telah menampakkan seluruh wajahnya yang menawan, bulat kuning terang dan tidak menyilaukan mata.

“Lihatlah, sebuah daratan telah muncul di ujung timur”, berkata salah seorang prajurit yang melihat sebuah titik hitam muncul dari arah timur matahari.

Seperti berjalan diatas bola besar, diatas lengkung laut biru titik hitam itu terus berubah menjadi bayangan hitam. Semakin bahtera besar itu mengejar tepi ujung laut, bayangan hitam itu semakin banyak terlihat.

“Para pelaut mandar merahasiakan jalur perjalanan ini, dan kita orang pertama yang telah menemukan jalan rahasia ini, jalan menuju tempat tumbuhnya pohon emas, cengkeh dan pala”, berkata Kebo Arema penuh kegembiraan melihat bayangan hitam semakin mendekat.

“Kita bersandar ditepi pulau yang terbesar”, berkata Kebo Arema ketika mereka banyak melewati pulau-pulau kecil.
Akhirnya Bahtera besar itu telah berlabuh di sebuah dermaga, beberapa orang terlihat berdiri di sepanjang dermaga, inilah pertama kali mereka melihat sebuah bahtera yang besar, sebuah bahtera yang indah yang pernah mereka saksikan.

“Kami dari Tanah Singasari, dapatkah mengantar kami kepada penguasa pulau ini ?”, berkata Kebo Arema kepada salah seorang yang berbadan tegap, berkulit legam dan mempunyai rambut keriting ikal tanpa ikat kepala. Hampir semua orang yang ditemui di Tanah Gurun ini memiliki kulit yang hitam legam sebagaimana yang tengah berbicara bersama Kebo Arema.

“Mari kuantar kalian kepada pimpinan kami”, berkata orang itu menampakkan senyum dengan deretan giginya yang putih bersih.

Kebo Arema bersama Mahesa Amping diajak oleh orang itu kesebuah perkampungan besar, terlihat rumah-rumah yang begitu sederhana, berbentuk lingkaran kayu mengelilingi dinding dengan atap setengah lingkaran terbuat dari daun enau.

“Tunggulah disini, aku akan menemuinya”, berkata orang itu ketika mereka berada di sebuah rumah yang paling besar yang ada diperkampungan itu.

“Pandita O Luhu Tuban, ada tamu ingin bertemu”, berteriak orang itu sepertinya ingin memberitahu orang didalam rumah itu.

Maka muncullah seorang tua dari pintu yang terbuka, rambut di kepalanya sudah memutih. Orang tua itu mendatangi Kebo Arema dan Mahesa Amping.

“Tuan pasti datang dari tempat yang jauh”, berkata orang tua itu setelah berhadapan dengan Mahesa Amping dan Kebo Arema.

“Benar, kami datang dari ujung barat matahari terbenam, kami berasal dari Nusajawa”, berkata Kebo Arema.

Sementara itu orang yang mengantar Kebo Arema dan Mahesa Amping telah berpamit meninggalkan mereka.

Dengan ramah orang tua yang dipanggil Pandita O Luhu Tuban itu mengajak Mahesa Amping dan Kebo Arema duduk diatas rumput di depan rumah bulat melingkar itu.

“Dalam setiap dua kali musim panas, beberapa orang suku laut datang kemari menukar cengkeh dan pala dengan kulit binatang, mungkin kalian datang sebagaimana mereka datang”, berkata Pandita O Luhu Tuban memulai pembicaraannya.

“Kami datang membawa banyak barang besi, itulah hadiah yang setara dengan cengkeh dan pala”, berkata Kebo Arema sambil menunjukkan beberapa barang senjata yang sengaja dibawa.

“Barang bagus !”, berkata Pandita O Luhu Tuban menimang-nimang sebuah parang panjang.

“Senjata ini adalah salah satu barang yang kami bawa, ada banyak lagi yang dapat kami tunjukkan kepada tuan”, berkata Kebo Arema.

“Buah cengkeh dan pala tumbuh dengan sendirinya di hutan kami, sementara barang besi ini dibuat dengan keringat dan kesungguhan. Kami akan memenuhi bahtera tuan dengan cengkeh dan pala sebanyak yang tuan inginkan”, berkata Pandita O Luhu Tuban penuh kegembiraan.

Demikianlah awal pertemuan antara Kebo Arema, Mahesa Amping dan Pandita O Luhu Tuban. Ketika matahari terlihat semakin merayap naik, Mahesa Amping dan Kebo Arema berpamit diri.

Keesokan harinya Kebo Arema bersama Mahesa Amping dibantu beberapa prajurit datang ke rumah Pandita O Luhu Tuban dengan membawa berbagai macam senjata yang banyak.

“Kami berjanji, di persinggahan selanjutnya akan membawa senjata parang yang banyak untuk tuan Pandita O Luhu Tuban”, berkata Kebo Arema yang melihat Pandita O Luhu Tuban begitu senang dan menyukai bentuk senjata parang. Sejenis golok yang tidak begitu panjang dan besar, di hulu kecil dan agak melebar di ujungnya serta hanya mempunyai satu sisi yang tajam.

Sebagaimana yang dijanjikan oleh Pandita O Luhu Tuban, buah cengkeh dan pala benar-benar telah mengisi lambung bahtera yang besar.

“Mereka mengisi lambung Bahtera kita dengan emas, sementara yang kita berikan kepada mereka hanya setumpuk besi”, berkata Kebo Arema merasa puas dengan hasil pertukaran mereka, terutama melihat begitu banyak buah cengkeh mengisi lambung bahtera, dimana saat itu harga sekilo cengkeh dapat sebanding dengan harga sekilo emas jauh di kota-kota negeri tak berujung, sebuah keuntungan yang berlimpah.

Bahtera besar itu tidak terlalu lama singgah di pulau sorga rempah-rempah itu, sepekan kemudia bahtera itu sudah terlihat bergerak meninggalkan dermaga, meninggalkan kepulauan yang sangat diimpikan dan dicari oleh para pelaut sebagai tempat asal pohon emas, buah cengkeh dan pala.

Bahtera besar itu sudah kembali berada diatas hamparan laut biru, mengarungi kesunyian malam, berkawan bintang dan rembulan.

Ketika pagi menjelang, Bahtera besar ini telah menjatuhkan sauhnya di perairan Kepulauan Wangi-wangi.

Para penduduk Pulau Wangi-wangi menyambut gembira kedatangan mereka, terutama Kebo Arema yang sudah dinobatkan sebagai seorang penguasa di pulau Wangi-wangi.

Setelah sepekan lamanya tinggal di Pulau Wangi-wangi, melihat semangat para lelaki penghuni pulau wangi-wangi, maka dengan berat hati Kebo Arema harus meninggalkan mereka.

“Setahun sekali, sepanjang musim berlayar, kami akan singgah di pulau ini”, berkata Kebo Arema kepada seluruh penghuni pulau wangi-wangi yang mengantar keberangkatannya ditepi pantai.

Malam itu, Bahtera besar itu sudah kembali berada diatas hamparan laut biru, mengarungi kesunyian malam, berkawan bintang dan rembulan.

Tidak seperti pada saat keberangkatannya, bahtera besar ini tidak singgah mengisi persediaan pangan selama pelayaran di Bandar Bacukiki. Bahtera besar ini langsung menuju pantai Tanjungpura.

“Badai di perairan Masalembo tidak dapat diduga, kita menyeberangi Laut Jawa lewat Pantai Tanjungpura”, berkata Kebo Arema memberikan beberapa hal menyangkut jalur pelayaran yang akan mereka lalui.

Namun, badai perairan Maslembo yang ingin mereka hindari harus dibayar dengan kejenuhan pelayaran selama tiga hari terapung diatas hamparan laut Selat Bone yang panjang.

Di pagi yang cerah, pantai Tanjungpura telah menyambut kedatangan mereka. Sebuah Bandar yang cukup ramai sebagaimana Bandar-bandar besar pada umumnya. Kedatangan bahtera besar ini cukup menarik perhatian banyak orang, mereka begitu terpesona dan mengakui keindahan bentuk bahtera Singasari ini.

Beberapa bahtera besar tidak sebesar bahtera Singasari terlihat tengah merapat dipinggir dermaga. Beberapa diantaranya adalah bahtera dari negeri Campa.

“Pada saatnya kita akan berlayar sampai kenegeri Campa, negeri dengan banyak wanita cantik berkulit halus”, berkata Kebo Arema kepada beberapa prajurit ketika mereka beristirahat disebuah kedai di Bandar Tanjungpura.

Setelah mengisi lambung bahtera dengan berbagai persediaan secukupnya, bahtera itu terlihat telah bergerak merenggangi dermaga disaat senja mewarnai lengkung langit Bandar Tanjungpura.

“Gelombang Laut Jawa adalah gelombang laut yang gemulai dibandingkan gelombang laut dimanapun didunia”, berkata Kebo Arema di anjungan kepada Mahesa Amping yang selalu mengawaninya.

Sebagaimana yang dikatakan Kebo Arema, mereka memang tidak menemui badai di laut jawa, yang mereka dapati adalah kesunyian malam yang senyap. Rembulan terlihat muram tidak bulat lagi dan selalu dihalangi awan hitam. Jutaan bintang di langit purba adalah lukisan sunyi sepanjang malam.

Rembulan, bintang-bintang dan awan dilangit adalah lukisan abadi, kemarin, hari ini dan esok tidak akan berubah, sementara perasaan hatilah yang kadang menjadi penyimpangan warna lukisan alam menjadi begitu indah atau begitu menjemukan. Dan para para prajurit di bahtera itu nampaknya telah mulai jemu memandang hamparan laut yang tidak pernah berubah hilang sepanjang hari, di saat malam, di pagi hari dan menjelang siang benderang.

Mahesa Amping dan Kebo Arema selalu bergantian berjaga di anjungan, berjaga dari segala kemungkinan yang mungkin saja dapat terjadi. Namun sepanjang perjalanan pelayaran mereka mengarungi laut jawa yang tenang tidak terjadi hal apapun yang menghambat dan merintangi perjalanan Bahtera besar mereka.

“Daratan !!”, berkata seorang prajurit melihat sebuah daratan hitam membujur panjang, yang tidak lain adalah Nusajawa.

Daratan hitam panjang itu akhirnya nampak sebagai daratan yang hijau berkalung pasir putih yang indah. Terlihat juga sebuah Bandar yang ramai, berbagai bahtera terlihat telah merapat.

Bahtera Singasari terlihat tengah merapat mendekati sebuah dermaga, Bandar Churabaya yang ramai.

“Bahtera besar itu baru kembali dari pelayaran panjang, kedaratan tempat matahari terbit”, berkata seorang buruh angkut kepada seorang kawannya.

Setelah beristirahat yang cukup, di pertengahan malam, bahtera besar itu terlihat telah meninggalkan Bandar Churabaya menuju Bandar Cangu. Angin laut berhembus cukup keras, membawa Bahtera Singasari melaju diatas peraiaran sungai Brantas.

Wajah para prajurit terlihat begitu cerah, sebentar lagi mereka akan berkumpul kembali bersama keluarga, sanak keluarga atau seorang kekasih tercinta setelah lama meninggalkannya. Sungai Brantas ibarat pintu gerbang batas padukuhan, dan sepertinya mereka sudah memasuki kampung halaman sendiri. Mereka begitu mengenali setiap lekuk tanah, gerumbul hutan kayu yang lebat atau hamparan sawah membentang tersusun rapi dalam petak-petak yang berjenjang, perjalanan malam yang panjang sepertinya sudah tidak terasa menjemukan lagi.

Pagi itu begitu cerah, matahari telah merayap naik menyinari air sungai seperti hamparan perak yang berliku tergunting ujung runcing anjungan meninggalkan gelombang berlari hingga sampai ketepian tanah bibir sungai.

Dan kegembiraan menyelubungi setiap rongga dada para prajurit diatas Bahtera besar itu manakala sebuah Bandar yang ramai telah terlihat.

Bahtera besar itu sudah kembali ke tempat asalnya, kembali di tempat tanah kelahirannya.

———-oOo———-

SFBDBS 08-193

“Ternyata kalian memang dapat diandalkan”, berkata Kebo Arema kepada Raden Wijaya dan Lawe di pendapa rumah panggung yang megah yang mereka sebut sebagai Rumah Balai tamu.

Rumah balai tamu itu menghadap tepian sungai Brantas, dibelakangnya berjajar barak-barap prajurit. Angin senja sejuk bertiup mempermainkan dahan dan daun pepohonan di sekitar tepian sungai Brantas. Beberapa burung kecil terlihat melintas kembali ke sarangnya yang hangat, berlindung dari angin dan malam yang dingin.

Raden Wijaya dan Lawe bercerita tentang beberapa hal menyangkut perkembangan armada besar bahtera di jalur perdagangan yang telah mereka rintis selama ini.

“Bahtera kita akan menyatukan perdagangan dari ujung daratan timur sampai ke barat”, berkata Kebo Arema penuh semangat.

“Menguasai jalur perdagangan dari timur ke barat, membawa kemakmuran yang berlimpah bagi tanah Singasari”, berkata Raden Wijaya penuh kegembiraan.

“Sri Baginda Maharaja pasti akan bangga, kita telah mewujudkan mimpinya”, berkata Kebo Arema

“Kapan kita dapat menyampaikan berita gembira ini ke kotaraja?”, bertanya Lawe

“Kita punya banyak waktu, besok kita bisa berangkat ke kotaraja”, berkata Kebo Arema yang sepertinya memegang kendali dari keempat sekawan ini.

Sore harinya mereka berempat masih sempat berkunjung ke Benteng Cangu menemui Mahesa Pukat. Dan sebagaimana biasa, setelah lama tidak berjumpa, Kebo Arema banyak bercerita tentang perjalanannya ke arah timur. Kebo Arema juga menyampaikan tentang rencana mereka ke Kotaraja.

“Aku berdoa untuk keselamatan kalian, semoga perjalanan kalian tidak menemui hambatan”, berkata Mahesa Pukat melepas mereka di ujung senja kembali ke tempatnya ke rumah balai tamu.

Dan keesokan harinya, empat ekor kuda telah meninggalkan Bandar Cangu.

Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya dan Kebo Arema terlihat diatas kudanya, sementara itu jalan tanah masih begitu lengang, hari memang masih begitu pagi.

Tidak ada hambatan apapun di perjalanan, ketika matahari telah bergeser jauh ke barat mereka telah sampai di gerbang batas Kotaraja.

Ketika sampai di Istana, seperti biasa mereka langsung ke Pesanggrahan Ratu Anggabhyaya. Dan kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Ratu Anggabhaya dan Lembu Tal.

“Pasanggrahan ini telah menjadi hangat kembali”, berkata Ratu Anggabhaya menyambut kedatangan mereka.
Seperti biasa, setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing, merekapun bercerita tentang berbagai hal dimulai dari saat terakhir perjumpaan mereka.

———-oOo———-

SFBDBS 08-194

“Kalian telah mewujudkan mimpi Sri Baginda Maharaja”, berkata Ratu Anggabhaya ketika selesai mendengar cerita Kebo Arema tentang jalur pelayaran yang telah berhasil mereka rintis.

“Baru hari ini aku dapat mengerti gagasan Sri Baginda Maharaja tentang Kerajaan lautnya”, berkata Lembu Tal

“Pemikiranmu memang selalu kalah satu langkah oleh anakmu sendiri”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Lembu Tal yang hanya menganggug-anggukkan kepalanya dan tersenyum sebagai tanda membenarkan.

“Pada mulanya mimpi Sri Baginda Maharaja memang sangat sukar dipahami oleh banyak orang”, berkata Kebo Arema. “Tapi setelah melihat hasil akhir, mereka mengakui bahwa itu adalah sebuah gagasan yang luar biasa”, berkata Kebo Arema melanjutkan.

“Kuakui, Sri Baginda Maharaja mampu berpikir melompat jauh kedepan, itulah bakatnya yang terlahir, tidak semua orang memilikinya”, berkata Ratu Anggabhaya.”Sayangnya pemikir itu saat ini tengah jatuh sakit”, berkata kembali Ratu Anggabhaya

“Sri Baginda Maharaja sedang sakit ?”, bertanya serempak Mahesa Amping, Lawe, Raden Wijaya dan Kebo Arema seperti tdak percaya apa yang baru saja didengarnya.

“Sudah dua pekan ini beliau berbaring sakit, dua kali pertemuan di Maguntur Raya beliau tidak dapat hadir”, berkata Ratu Anggabhaya meyakinkan.

“Kami datang ke Kotaraja bermaksud membawa berita gembira kepadanya”, berkata Kebo Arema sambil menarik nafas panjang.

“Mungkin kehadiran kalian berempat dapat menjadi obat, aku akan mencoba agar kalian dapat bertemu dengan beliau”, berkata Ratu Anggabhaya.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan tuan Ratu Anggabhaya”, berkata Kebo Arema gembira.

Demikianlah, keesokan harinya Ratu Anggabhaya mencoba menemui Sri Baginda Maharaja yang masih berbaring sakit di kamar pribadinya. Dalam kesempatan itu Ratu Anggabhaya bercerita tetang Armada bahtera Singasari yang telah berhasil merintis jalur perdagangan dari ujung timur sampai ke barat. Mendengar tentang Armada Bahtera Singasari, wajah Sri Baginda Maharaja Nampak menjadi berseri-seri.

“Bawalah mereka kehadapanku, agar aku dapat mendengar cerita langsung dari mereka”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Ratu Anggabhaya yang merasa gembira, wajah pucat Sri Maharaja sepertinya telah berubah kemerahan dan begitu penuh semangat.

“Aku akan membawa mereka”, berkata Ratu Anggabhaya setengah berbisik.

Tidak lama kemudian Ratu Angabhaya telah datang kembali bersama Raden Wijaya, Kebo Arema, Lawe dan Mahesa Amping. Ternyata Sri Baginda Maharaja tidak lagi berbaring, tapi sudah bersandar dengan setengah punggungnya diatas tempat tidurnya.

“Berceritalah wahai pejuang mimpiku, para panglima kerajaan lautku”, berkata Sri Baginda Maharaja.

Dengan perlahan Kebo Arema bercerita tentang Armada Bahtera Singasari yang telah mulai merintis jalur pelayarannya.

“Kami telah menemukan daratan tempat asal pohon cengkeh dan Pala di ujung timur laut matahari terbit”, berkata Kebo Arema.

“Kalian telah mewujudkan mimpiku, membangun kerajaan laut Singasari untukku”, berkata Sri Baginda dengan wajah penuh berseri sepertinya telah melupakan rasa sakit dibadan. “Hari ini aku rela Gusti Yang Maha Hidup mengambil nyawaku”, berkata kembali Sri Baginda Maharaja penuh kebahagiaan.

“Sri Baginda Maharaja harus tetap hidup, tuan adalah cahaya semangat hamba”, berkata Kebo Arema perlahan kepada Sri Baginda Maharaja.

“Wahai cucunda Sanggrama Wijaya, mendekatlah”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya yang langsung mendekat.

“Kutitipkan kerajaan lautku kepadamu, engkaulah cahaya mataku di masa depan, bawalah cahaya mataku bersama armada bahteramu sejauh dan seluas kamu dapat berlayar mengarunginya. Berjanjilah wahai cucundaku”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya yang tertunduk haru.

“Cucunda berjanji, membawa Bahtera Singasari mempersatukan ujung timur matahari sampai kebarat matahari terbenam”, berkata Raden Wijaya dengan penuh kesungguhan hati.

Sementara itu awan diatas Istana Singasari Nampak mendung, tidak lama kemudian terdengar suara air hujan gerimis kecil membasahi rumput-rumput dan tanaman penghias taman. Seorang prajurit pengawal istana terlihat berlindung di bawah pohon beringin tua. Hujan gerimis yang turun diujung senja berlangsung cukup lama.

“Kami mohon pamit,semoga Baginda dapat beristirahat dan lekas sembuh”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Sri Baginda Maharaja

“Terima kasih telah mengunjungiku”, berkata Sri Bagida Maharaja melepas kepergian meraka.

Tiga hari setelah pertemuan itu ada berita bahwa Sri Baginda Maharaja telah pulih kesehatannya. Seisi Istana Nampak menjadi begitu gembira melihat perkembangan kesehatan Sri Baginda Maharaja yang terus terlihat semakin sehat. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Sri Baginda Maharaja kembali sakit bahkan terlihat lebih parah dari sebelumnya, nafasnya telihat sudah tidak teratur, denyut nadinya begitu lemah. Tabib istana sepertinya sudah merasa putus asa, segala ramuan obat tidak juga memberikan kesembuhan pada diri Sri Baginda Maharaja yang memang sudah cukup tua. Dan penyakit yang tengah dideritanya ini sepertinya merenggut kebugaran yang tersisa.

———-oOo———-

SFBDBS 08-195

Berita tentang Sri Baginda Maharaja Singasari yang sedang gering akhirnya sampai juga di Tanah Kediri. Bukan main gundahnya Raja Kertanegara yang mendengar berita itu dari seorang utusan istana Kutaraja. Maka pada hari itu juga Raja Kertanegara langsung berangkat ke Singasari.

Namun usia manusia memang sudah ditentukan, tidak bisa diundur atau dimajukan. Bersamaan dengan keberangkatan Raja Kertanegara dari Kediri, Sri Baginda Maharaja Singasari telah diangkat ke alam keabadian, alam tempat segala berasal, dari tiada kembali ketiada.

Bumi Singasari berkabung, langit Singasari berkabut mendung. Tiga hari tiga malam hujan gerimis tiada henti, sepertinya mewakili duka cita seluruh jiwa di Tanah Singasari yang berduka, meratap menangisi kepergian seorang Raja Besar yang Agung, Raja Besar yang dicintai dan mencintai para kawulanya. Seorang Prabu Semeningrat dikenang sebagai Raja Agung yang selalu mengampuni musuh-musuhnya, Ksatria besar di medan perang, mengamankan perjalanan para Saudagar, pelindung dan pemberi kemakmuran para kawulanya.

Jasad Prabu Seminingrat diperabukan dengan upacara yang besar. Abunya dicandikan disebuah tempat yang tinggi, sebagai penghormatan tertinggi untuk diagungkan, sebagai Maharaja titisan dewa kasih.

Setelah masa berkabung telah melewati hari ke empat puluh, maka pada hari itu naiklah sang putra mahkota menggantikan ayahandanya, Kertanegara telah dinobatkan sebagai Maharaja Singasari berkedudukan di Kutaraja.

Gema riuh ripah seluruh warga berbondong-bondong dari pelosok tanah Singasari berkunjung ke Kutaraja demi menyaksikan upacara agung penobatan sang putra Mahkota menjadi Maharaja Singasari.

Seorang pujangga pengembara mengabadikannya dalam sebuah rontal syairnya:

Pada hari itu bumi Singasari dipenuh suka cita,
dimusim penghujan, ditahun genap,
Raja dari Kediri itu datang berkuda di pagi hari,
duduk di istana Kutaraja dianugerahi mahkota tiga belas batu mutiara,
dikalungi seratus sebelas pucuk melati, diperciki air suci,
pulanglah para kawula membawa baki persembahannya,
Semua wajah dipenuhi suka cita.

Demikianlah awal dan hari pertama Sri Baginda Maharaja Kertanegara naik tahta menggantikan kedudukan ayahandanya Prabu Seminingrat.

Semua harapan kini tertuju kepada sang penguasa baru, Sri Baginda Maharaja Kertanegara. Mampukah Sang putra Mahkota membangun bumi Singasari diatas pilar-pilar warisan ayahandanya tercinta ?

Dan di malam hari penobatan itu dilangsungkan sebuah pesta perjamuan yang meriah. Kebo Arema, Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe hadir di malam penuh kebahagiaan itu.

“Aku ingin Paman hadir di hari Maguntur raya”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Kebo Arema disela-sela pesta perjamuan yang meriah.

“Hamba bukan pejabat istana”, berkata Kebo Arema

“Aku Maharaja Singasari mengundang langsung hambanya”, berkata Sri Baginda Raja penuh senyum.

“Undangan paduka adalah sebuah kehormatan besar”, berkata Kebo Arema yang tidak dapat menghindar lagi.

Demikianlah, pada hari Maguntur Raya, dimana para pejabat istana menyampaikan laporannya atas tugas-tugas yang diembannya dihadapan Sri Baginda Maharaja. Kebo Arema ikut hadir didalamnya duduk bersama para pejabat istana.

Maka setelah semua pejabat istana telah menyampaikan laporannya, Sri Baginda Maharaja meminta Kebo Arema menyampaikan laporannya mengenai perkembangan tugas-tugasnya membangun jalur perdagangan laut Singasari.

Semula Kebo Arema merasa ragu dan menduga-duga, untuk apa Sri Baginda Maharaja memintanya menyampaikan laporannya ditempat terbuka, Kebo Arema tidak sempat berpikir banyak, dengan lugas dirinya telah menyampaikan beberapa kemajuan dan perkembangan terkini dalam hal pembukaan jalur perdagangan laut Singasari.

“Kami telah membuka jalur pelayaran kebarat sampai Ke Tanah Melayu. Kami juga telah menemukan Tanah tempat pohon Cengkeh dan Pala tumbuh. Bahtera laut Singasari telah menguasai jalur perdagangan dari timur terbit Matahari sampai kearah terbenam Matahari”, berkata Kebo Arema menyampaikan laporannya di ruang Maguntur raya.

“Kalian telah mendengar sendiri, itulah cita-cita ayahanda Prabu Seminingrat yang akan menjadi arah dari cita-citaku juga, membangun kerajaan laut Singasari yang besar, membangun dan meluaskan daerah Singasari melebihi panjalu dan jenggala”, berkata Sri Baginda Maharaja penuh semangat.

Diam-diam Kebo Arema kagum atas cara sahabatnya ini membangun sebuah gagasan dihadapan para pejabat istana, membangun sebuah kebersamaan.

“Bakat kepemimpinannya telah mulai tumbuh”, berkata Kebo Arema dalam hati.

Demikianlah, ketika hari sudah naik terang, Sri Baginda Maharaja telah meninggalkan ruang Maguntur Raya diikuti oleh para pejabat istana. Sementara itu Kebo Arema langsung kembali kepasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Sesampainya di Pasanggrahan, berbagai pertanyaan datang dari Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping, menanyakan perasaan Kebo Arema hadir di ruang Maguntur Raya.

———-oOo———-

SFBDBS 08-196

“Hari ini aku seperti menjadi pejabat besar istana”, berkata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya.

“Wajah dan penampilan Paman sudah sangat mendukung”, berkata Lawe sambil manggut-manggut.

Sementara itu sang kala di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya sepertinya terlalu cepat berlalu, tidak terasa senja telah datang memeluk pucuk-pucuk atap, menelingkungi rumput-rumput taman pelataran yang hijau dalam kabut bening. Patung dewi kasih yang berdiri di tepi kolam kecil termenung menatap ikan-ikan kecil berwarna-warni menelusup berenang diantara teratai yang tengah berbunga putih.

Disaat itulah hadir Sri Maharaja Kertanegara di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Sebuah kehormatan Sri Paduka datang ketempat kami”, berkata Ratu Anggabhaya menyambut kedatangan Maharaja Kertanegara dengan penuh kegembiraan.

“Aku rindu mendengar celoteh empat orang sahabatku para pelaut sejati”, berkata Maharaja Kertanegara yang langsung duduk bersama di pendapa sepertinya sengaja menghilangkan kesan kewibawaannya sebagai seorang Maharaja Singasari.

Demikianlah mereka sepertinya menemukan kembali suasana keakraban sebagaimana mereka pernah bersama di Bandar Cangu, bersama membangun sebuah bahtera besar Singasari. Pembicaraan pun menjadi begitu terbuka, tidak ada batasan lagi antara raja dan hambanya.

“Bilamana boleh memilih, aku lebih memilih bersama kalian, mengarungi lautan dan menyinggahi bandar-bandar besar di ujung dunia”, berkata Maharaja Kertanegara.

“Ananda telah diberkati duduk di singgasana sebagai garis takdir suci, sebagaimana daun tua gugur berganti muda, sebagaimana sang kala terus berganti. Pada saatnya aku pun akan tua, penat dan cepat lelah, saatnya mencari pengganti daun-daun muda yang lebih segar mewarnai taman pemikiran istana Singasari yang terus maju dan berkembang”, berkata Ratu Anggabhaya.

“Kami masih memerlukan pemikiran Pamanda”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Ratu Anggabhaya.

“Bahtera besar Singasari telah kadung mengembangkan sayapnya, berlayarlah sejauh dan seluas lautan, kami para orang tua hanya berdoa, kalian para orang muda untuk terus menatap kedepan, berhati-hati menjaga bahtera tidak karam ditelan gelombang”, berkata Ratu Anggabhaya.

Ketika hari sudah mendekati larut malam, Maharaja Kertanegara pamit untuk kembali beristirahat. Dalam kesempatan itu, Kebo Arema mewakili ketiga kawannya ikut berpamit bahwa besok pagi mereka akan kembali ke Bandar Cangu.

“Bukankah musim berlayar masih belum datang?”, bertanya Maharaja Kertanegara.

“Kami sudah terlalu lama di Istana Singasari”, berkata Kebo Arema memberi alasan.

“Mereka sudah punya istana sendiri di Bandar Cangu, itulah sebabnya mereka ingin cepat meninggalkan kita”, berkata Lembu Tal sambil melirik kepada anaknya Raden Wijaya.

Pagi itu sudah terang bumi, angin sejuk lewat tangkai-tangkai pohon dan dedaunan hijau yang kerap, kesejukan angin menjadi bertambah segar bila terhirup masuk kedalam hidung.

Empat orang lelaki terlihat tengah menunggangi kudanya berjalan tidak terlalu tergesa-gesa, udara pagi yang segar menyapu wajah mereka.

Ternyata mereka tidak lain adalah Kebo Arema, Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang telah jauh meninggalkan gerbang kotaraja.

“Secepatnya aku akan bersama kembali di Bandar Cangu”, berkata Mahesa Amping ketika mereka sampai di persimpangan jalan.

“Salam untuk semua warga Padepokan Bajra Seta”, berkata Raden Wijaya melepas Mahesa Amping yang terlihat mengambil jalan ke arah barat.

Mahesa Amping baru merasakan kesendiriannya ketika telah melangkah jauh dari jalan persimpangan tempat mereka berpisah. Untuk mengusir kesendiriannya itu, terlihat Mahesa Amping menghentak kudanya agar berlari cepat. Kuda Mahesa Amping adalah kuda yang sudah begitu jinak, mengerti apa yang diinginkan tuannya. Dan kuda itu sudah terlihat memacu langkahnya berlari seperti terbang menyusuri jalan tanah lapang. Debu mengepul terbang di belakang kaki kuda yang berlari kencang.

Mahesa Amping memperlambat laju kudanya, tidak lagi menyususri jalan tanah, tapi berbelok mengambil jalan ke kiri ke arah padang ilalang yang luas.

Ternyata Mahesa Amping bermaksud mengambil arah jalan lebih cepat menuju Padepokan Bajra Seta.

Lengkung langit diatas padang ilalang terlihat berawan mendung, sebagai tanda hujan akan segera datang.Terlihat Mahesa Amping bersama kudanya terus maju yang terkadang hilang terhalang gerumbul semak-semak yang tinggi.Untunglah, manakala hujan telah turun begitu derasnya, Mahesa Amping sudah berada di bibir sebuah hutan. Kerap dahan dan dedaunan di hutan itu telah melindungi Mahesa Amping dari terpaan air hujan yang begitu lebat tercurah dari atas langit.

Mahesa Amping bermaksud mencari tempat bernaung, disamping berlindung dari hujan, juga sekedar mengistirahatkan kudanya yang telah begitu lama berjalan.

Ternyata Mahesa Amping tidak sendiri di hutan itu, dibawah sebuah pohon besar terlihat seorang lelaki tua tengah berlindung dari hujan.

“Hujan begitu deras”, berkata Mahesa Amping ketika dekat dengan lelaki tua itu sebagai perkataan awal, pengganti sapaan kepada orang yang baru dikenal.

“Hujan memang sangat deras”, berkata orang itu membalas ucapan Mahesa Amping.

“Anakmas dari mana dan hendak kemana ?”, bertanya orang tua itu dengan ramah.

“Aku dari arah Kotaraja bermaksud hendak ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping.

“Padepokan Bajra Seta?”, bertanya orang itu sepertinya ingin memperjelas apa yang didengarnya.

———-oOo———-

SFBDBS 08-197

“Padepokan Bajra Seta, aku akan kesana”, berkata Mahesa Amping memperjelas ucapannya karena pada saat itu suara air hujan memang cukup membisingkan.

“Apakah anakmas salah seorang cantri di Padepokan Bajra Seta?”, kembali orang tua itu bertanya

“Benar, aku cantrik di padepokan itu”, berkata Mahesa Amping tidak menutupi jati dirinya

“Ternyata Gusti telah meringankan langkah kakiku, aku pun juga bermaksud akan ke Padepokan Bajra Seta”, berkata orang tua itu penuh senyum.

“Ada keperluan apakah yang membawa orang tua datang mengunjungi Padepokan kami”, bertanya Mahesa Amping.

“Namaku Empu Nada, demikian orang-orang memanggilku, aku memang bermaksud ke Padepokan Bajra Seta untuk sedikit urusan”, berkata orang tua itu yang memperkenalkan dirinya bernama Empu Nada. “Puji syukur Sang Gusti telah pertemukan aku dengan salah seorang cantriknya, jadi aku tidak perlu banyak bertanya arah menuju Padepokan Bajra Seta”

“Namaku Mahesa Amping, kita dapat berjalan bersama”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya dan tidak berusaha mendesak dan mencari tahu kepentingan orang tua itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Empu Nada.

“Terima kasih”, berkata Empu Nada dengan wajah gembira.

Sementara itu hujan nampaknya sudah reda, beberapa butir air yang tersimpan di pelepah daun kadang terlepas jatuh menyiram bumi.

“Hujan sudah reda, aku senang punya teman di perjalanan”, berkata Mahesa Amping yang sepertinya sudah sangat dekat dan menyukai orang tua yang baru saja dikenalnya itu.

“Akupun sangat senang mendapatkan kawan yang dapat mengantarku sampai ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Empu Nada yang terlihat tengah bersiap untuk berjalan bersama.

Terlihat mereka berdua telah berjalan menyusuri jalan setapak yang biasa dipakai oleh para pemburu. Akhirnya mereka pun telah keluar dari hutan itu, langit siang diluar hutan itu sudah nampak bersih meski awan tipis masih menyembunyikan wajah Sang Mentari.

“Aku telah menyusahkan anakmas, kehadiranku telah membuat anakmas berjalan kaki”, berkata Empu Nada merasa tidak enak hati melihat Mahesa Amping berjalan kaki menuntun kudanya.

“Jarak perjalanan kita sudah tidak begitu jauh”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

Sebenarnya perkataan Mahesa Amping hanya sekedar bahasa manis saja, kenyataannya perjalanan mereka masih cukup jauh, terutama bila ditempuh dengan berjalan kaki. Banyak hal yang mereka bicarakan selama di perjalanan. Mahesa Amping semakin mengenal beberapa hal pribadi dari orang tua itu, meski hanya sebatas beberapa sifat dan wataknya yang ternyata seorang yang sangat menyenangkan, sangat terbuka dan seorang pendengar yang baik.

“Jadi Anakmas sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta”, berkata Empu Nada ketika mendengar cerita Mahesa Amping tentang beberapa perjalanan pelayarannya.

“Kira-kira empat kali pergantian musim hujan”, berkata Mahesa Amping.

“Berapa lama lagi kita akan sampai ke Padepokan Bajra Seta?”, bertanya Empu Nada ketika melihat matahari sudah mulai turun miring ke arah barat.

“Padepokan Bajra Seta ada di belakang bukit itu”, berkata Mahasa Amping sambil menunjuk ke arah sebuah bukit.

“Berarti kita masih menemui malam di perjalanan”, berkata Empu Nada.

“Kita bermalam di puncak bukit itu”, berkata Mahesa Amping memberikan gambaran perjalanan mereka.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, mereka telah sampai diatas puncak bukit disaat malam telah turun mendekap bumi. Di puncak bukit itu banyak berdiri batu-batu besar. Di sela-sela batu itulah mereka merebahkan dirinya sekedar menghindari terpaan angin dingin malam.

Ketika semburat warna merah muncul di ujung malam, mereka berdua sudah terjaga. Terlihat mereka tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanannya.

Demikianlah, ketika matahari sudah jauh merayap menjelang siang terlihat mereka sudah mendekati padukuhan terdekat, tidak lama lagi mereka akan sampai di Padepokan Bajra Seta.

Diregol gerbang Padepokan Bajra Seta, beberapa cantrik menyambut gembira kedatangan Mahesa Amping.

“Perkenalkan ini Empu Nada, kami bertemu diperjalanan, ada maksud bertemu dengan Kakang Mahesa Murti”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan kawan seperjalanannya ketika bertemu dengan Mahesa Murti di Pendapa Padepokan Bajra Seta.

“Apakah mataku ini tidak salah mengenal orang?”, berkata Mahesa Murti yang masih ingat wajah Empu Nada, seorang kepercayaan dari Pangeran Gaco Bahari dari Kediri.

“Anakmas tidak salah mata, kita pernah bermain dalam satu dua jurus”, berkata Empu Nada dengan wajah penuh senyum.

“Selamat datang Di Padepokan sederhana kami, Empu Nada pasti punya kepentingan yang kuat datang ke tempat ini”, berkata Mahesa Murti yang sudah hilang kecurigaannya terhadap Empu Nada, mungkin air wajah dari Empu Nada yang Nampak begitu polos, begitu penuh kasih memancar dari sinar wajahnya.

Setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Nada dipersilahkan beristirahat sejenak sambil menyantap beberapa potong makanan dan minuman hangat.

Akhirnya, perlahan Empu Nada menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke Padepokan Bajra Seta.

———-oOo———-

SFBDBS 08-198

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2011 at 10:28  Comments (279)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

279 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dapatkah Mahesa Amping menerima permintaan Sri Maharaja Kertanegara sebagai seorang Rangga ???,

    sementara diujung timur Tanah melayu, dirinya yang dikenal sebagai Manusia Dewa pernah diminta untuk menjadi seorang panglima angkatan perang raya bergelar nama sebagai seorang HANG.

    Mahesa Amping sebenarnya cuma ingin menjadi seorang petani kecil sepertihalnya cita-cita Ebit G Ade dalam lagunya, (hehehe 3x bergema)

    • salah ya kalo bilang ditimur tanah melayu ???

  2. “Titah paduka akan kami junjung sebagai pusaka”, berkata Mahesa Amping dan Lawe bersamaan.

    “aku akan memanggil Mahapatih untuk melaksanakan upacara kebesaran sebagai hari pelantikan kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja penuh senyum kebahagiaan.

    Demikianlah, pada hari yang ditentukan upacara besar pelantikan dilaksanakan dengan penuh kemeriahan. Inilah pertama kali Sri Maharaja Kertanegara membuat kekancingan, mengukuhkan pejabat utama istana.

    Seluruh raja yang ada di bawah kekuasaan Singasari telah diundang untuk menghadiri upacara pelantikan itu.

    Dan kotaraja seperti berhias dengan berbagai umbul-umbul dan janur disepanjang jalan.

    Ketika Sang Mahapatih membacakan titah dan sabda Sri Baginda Maharaja Kertanegara, gemuruh suara para undangan dan seluruh warga. Puja-puji mereka sampaikan atas pilihan Maharaja yang bijak atas para putra terbaik Singasari.

    Dan hari pelantikan empat orang pilihan Maharaja itu telah ditandai dengan turunnya hujan dari langit. Para orang tua memastikan bahwa ini adalah sebagai tanda para dewa merestui, Singasari akan mengalami masa keemasan.

    “Hujan adalah lambing kesuburan, semoga ini sebuah tanda kebaikan bagi Singasari”, berkata seorang Brahmana tua dibawah tarub yang datang sebagai undangan menyaksikan pelantikan bersama guyuran hujan yang sepertinya tercurah dari langit.

    “Payung pananggungan tidak mampu menahan hujan”, berkata seorang tua renta yang berlindung di bawah pohon beringin tua ditengah lapangan alun-alun kotaraja.

    Untungnya hujan turun tidak berlarut sampai senja. Malam perjamuan menjadi begitu hangat, semua menikmati kegembiraan itu.

    Dan malampun akhirnya berlalu meninggalkan bumi, meyerahkan tahta sang waktu kepada sang pagi yang datang bersama sang surya menerangi seluruh dataran bumi dengan cahayanya yang hangat.

    Sementara itu, umbul-umbul dan janur masih menghiasi kotaraja, sebuah iring-iringan pasukan terlihat melintas dijalan menuju gerbang kotaraja. Mereka adalah pasukan yang ada dibawah pimpinan Senapati dan dua orang rangga muda yang baru kemarin dilantik. Meraka tengah kembali ketempatnya, ke Bandar Cangu.

    “Menguasai tanah Bali, itulah tugas pertama kita”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping.

    “Di Tanah Madhura ada Ki banyak Wedi, ditanah Pasundan ada Gurusuci Darmasiksa,dan di Tanah melayu kita sudah mengikatnya dengan perkawinan, hanya Bali yang belum kita ikat dengan apapun”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pandangannya.

  3. matur nuwun, matur nuwun, matur nuwun, …

  4. selamat malam, matur kesuwun

  5. hadu….
    baru sempat tilik padepokan
    hanya ngintip saja, cuapeke puol……
    ngantuk lagi…
    pamit nggih…
    mboten tumut ronda

    • eh…, lupa..
      rontal sudah berceceran
      belum sempat merapikan
      maaf ya Pak Lik

      kamsiiiaaaaa……………………..

  6. selamat siang semuanya

  7. “Di Bandar Cangu kita dapat meminta pertimbangan Paman Kebo Arema dan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Benar, mereka adalah ahli siasat yang mumpuni”, berkata Lawe ikut mengambil pembicaraan.

    Sementara itu ketika mereka menemui sebuah pertigaan, Wantilan dan Sembaga tidak dapat menyertai karena harus kembali ke Padepokan Bajra Seta.

    “Salam untuk kakang Mahesa Murti dan seluruh warga Padepokan”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian mereka kembali Ke Padepokan Bajra Seta.

    “Kami akan merindukan kalian”, berkata Sembaga sambil melambaikan tangannya.

    Kegamangan mengisi hati dan persaan Mahesa Amping menatap Wantilan dan Sembaga telah semakin menjauh dari pandangannya. Terlintas sebuah suasana di Padepokan Bajra Seta yang gayem. Hati kecil Mahesa Amping telah terbawa dalam kenangan dan kerinduannya pada Padepokan Bajra Seta nun jauh disana.

    Tidak terasa langkah kuda telah membawanya semakin keutara, membawanya mengikuti benang-benang merah garis kehidupan.

    Dan ketika senja turun membayangi wajah bumi, iring-iringan itu telah kembali di kesatuannya di Bandar Cangu.

    “Selamat datang wahai para perwira muda”, berkata Kebo Arema menyambut kedatangan mereka.

    “Selamat datang wahai Senapati muda”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

    “Selama tidak ada kalian, Senapati Mahesa Pukat selalu datang menemaniku, atau sebaliknya aku yang datang ke bentengnya”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah bersama di pendapa Balai Tamu.

    Sementara itu sang malam sudah mulai turun menutupi pandangan mata di atas langit Balai Tamu di pinggir sungai Brantas itu. Angin malam bersemilir sejuk. Malam itu kelihatannya hujan tidak akan turun, ada banyak bintang bertaburan di langit malam.

    “Sri Maharaja Kertanegara telah memberi tugas kepada kami untuk menguasai Tanah Bali, kami ingin masukan dari Paman berdua”, berkata raden Wijaya kepada Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

    “Aku dapat memahami pandangan Sri Maharaja Kertanegara atas Tanah Bali”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah terlihat dua warna.

    “Sampai saat ini kita belum mengetahui kekuatan Tanah Bali”, berkata Mahesa Pukat menyampaikan pandangannya.

    “Artinya kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahannya sebelum melakukan sebuah serangan”, berkata Raden Wijaya menangkap kata-kata Mahesa Pukat.

    • Kaaaaaaaaaammmssiiaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      ndhisiki,
      Ki Wayan
      Ki Made
      Ki Nyoman
      Ki Ketut.
      (sak durunge dilurug Mahisa Amping)

  8. “Harus ada seseorang yang dapat dipercaya, mengamati Tanah Bali dari dekat”, berkata Mahesa Pukat.

    Entah kenapa semua wajah tiba-tiba saja berbarengan memandang kepada Mahesa Amping.

    “Kenapa kalian semua memandangku ?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura keheranan.

    “Artinya semua sepakat kamulah yang paling cocok mengamati Tanah Bali dari dekat, melaksanakan tugas delik sandi”, berkata Raden Wijaya.

    “Seorang Rangga harus patuh melaksanakan perintah Senapatinya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Betul, betul, betul “, berkata Rangga Lawe membenarkan.
    Dan ketika hari telah bergulir dipertengahan malam, Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke Bentengnya.

    “Aku khawatir kalian tidak dapat beristirahat selama masih ada aku”, berkata mahesa Pukat sambil berdiri. “Sampai ketemu besok”, berkata Mahesa Pukat ketika menuruni tangga pendapa Balai tamu.

    “Aku lupa kalian baru pulang dari perjalanan panjang, beristirahatlah”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

    Akhirnya mereka satu persatu memang telah masuk kepembaringannya masing-masing, meregangkan otot-otot yang tegang berkuda seharian.

    Dan diatas langit Balai tamu ditepian Sungai Brantas itu masih dipenuhi kerlap-kerlip bintang-bintang kecil. Bulan sabit telah jatuh bergeser ke Barat. Langit purba di malam itu tidak berawan, begitu jernih berwarna biru kelam. Terdengar dikesunyian malam suara celepuk malam yang terus menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang terjebak jauh dari induknya. Dari tepian sungai Brantas tidak putus saling menyambut suara katak mengiringi malam, mungkin tengah memanggil dan merindukan datangnya sang hujan.

    Dan pagipun akhirnya datang juga, warna sungai dan langit seperti satu warna, putih keperakan disinari cahaya matahari pagi yang telah datang mengintip diujung timur bumi.

    Pagi itu Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah berkumpul bersama di pendapa Balai Tamu menikmati suasana dan warna pagi ditepian sungai Brantas yang indah. Di Hutan seberang sungai sekumpulan burung bentet loreng terbang bersama mencari persinggahan baru, sebagai tanda bahwa pergantian musim akan segera datang.

    “Aku punya kenalan seorang saudagar yang sering berdagang ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Sebuah berita baik, setidaknya aku dapat ikut berlayar bersamanya”, berkata mahesa Amping.

    “Aku akan menemuinya, kapan akan bertolak ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema.

  9. Sugeng enjing…

    Matur nuwunnn…..

  10. SUGENG SIANG, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

  11. SUGENG NDALU, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

    • TETEP SEMANGAAAAATTTTTT……!!!!????

  12. Selamat malam para kadhang sedoyo,
    Hadu…baru pulang lembur,belon punya bayangan, seharian si ilham pusing tujuh keliling cuma cari selisih koreksi penjurnalan…….

    • tidak apa-apa ki
      saya juga belum sempat baca dongengnya semalam
      PR akhir semester menumpuk puk….
      he he he ….
      ngintip bentar terus nyilem lagi

  13. Pagi itu matahari bersinar cerah mewarnai Bandar Cangu yang sudah ramai sejak pagi dini. Sebuah bahtera terlihat perlahan bertolak meninggalkan Bandar Cangu pelahan dibawa arus sungai Brantas yang jernih putih keperakan dibias cahaya matahari pagi. Bahtera dagang itu milik seorang saudagar yang akan berlayar menuju ke Tanah Bali. Diatas Bahtera itulah Mahesa Amping ada bersamanya.

    Angin yang berhembus diawal musim kemarau itu terasa begitu sejuk membelai wajah Mahesa Amping diatas geladak Bahtera.Tidak ada yang tahu bahwa pemuda itu adalah seorang Rangga prajurit Singasari. Mahesa Amping memang sengaja menyamarkan jati dirinya dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Kepada Saudagar yang sekaligus pemilik bahtera kayu ini yang menjadi kawan kenalan Kebo Arema, Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menemui saudara perempuannya yang sudah begitu lama berpisah.

    Bahtera itu terus melaju dibawa aliran sungai Brantas melewati hutan yang lebat dikanan kirinya, atau sesekali melewati hamparan sawah yang luas menghijau, diselingi puluhan burung bangau putih terbang melintas, berkerumun turun diatas pematang sawah. Seorang bocah kecil terlihat berlari mengusik burung bangau yang terbang kembali menjauh.

    Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, ternyata dirinya tengah merenungi garis hidupnya yang Padepokan Bajra Seta, hidup sebagai seorang cantrik, merasakan suasana kehidupan padepokan Bajra Seta yang Gayem, mengembara berlayar keberbagai belahan dunia, hingga akhirnya telah diangkat sebagai seorang prajurit, diangkat sebagai seorang Rangga.

    Sementara itu sang waktu terus berlalu, bahtera itu telah mendekati Bandar Curabhaya disaat menjelang senja.

    Hanya sebentar bahtera itu bersandar di Bandar Curabhaya, setelah memuat dan menuruni beberapa barang pesanan, bahtera itu telah bertolak kembali kearah timur Jawadwipa menuju Tanah Bali.

    Bahtera itu telah mengembangkan layarnya, angin laut berhembus cukup kencang. Dibawah langit malam bahtera itu terapung diatas hamparan laut biru yang luas menyusuri tepian pantai Jawadwipa.

    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Untuk pertama kalinya”, berkata Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.

    “Apakah anak muda punya saudara yang tinggal di Tanah Bali ?”, bertanya orang tua itu.

    “Aku punya seorang saudara perempuan yang sudah lama tinggal di Tanah Bali”, berkata Mahesa Amping.
    Tanpa ditanya orang tua itu bercerita bahwa dirinya adalah seorang pedagang batu aji.

    “Kadang aku juga berdagang keris bertuah, tergantung pesanan”, berkata orang tua itu.

    • lumayan….dapet juga satu rontal,

      • KAMSIA…..selamat PAGI,

  14. ki sandikala, …

    =====
    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.
    …. dst …..
    =====

    menurut saya, itu adalah “bagian terbaik” dari seluruh rontal yang sudah di posting, …

    ada baiknya jalan ceritanya “diperlambat” dengan menuturkan keadaan, perilaku, dan peristiwa yang terjadi di sekeliling tokoh yang sedang diceritakan, … kalau tidak keliru, istilahnya “romantis”, …

    nuwun, …

    • betul… betul… betul…

      • betul,betul, betul, kecepatan dikurangi biar bisa melihat-lihat pemandangan alam sekitar….bukankah begitu Ki Sukasrana ????

  15. betul… betul… betul…kamsiiiaaaa

  16. Kebersamaan mereka sebagai sesama penumpang dibahtera, sama-sama berlayar ditengah lautan luas telah membawa keakraban diantara mereka.

    “Orang-orang memanggilku sebagai Ki Ketut Areng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya.

    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping ikut memperkenalkan dirinya.

    “Singgahlah kerumahku beberapa hari sebelum melanjutkan perjalananmu”, berkata orang tua itu yang mengaku bernama Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping untuk singgah dirumahnya.

    “Terima kasih, aku akan singgah”, berkata Mahesa Amping kepada kawan berlayarnya itu.

    “Hari masih jauh pagi, sebaiknya kita tidur beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng sambil menggelar tikar pandan yang dibawanya. “Tikar ini cukup untuk kita berdua”, berkata Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping berbagi tikar pandannya sebagai alas tidur menanti datangnya pagi.

    Akhirnya mereka terlihat lelap tertidur diatas geladak bahtera, angin dingin laut malam tidak terasa berhembus menyapu. Terlihat seluruh tubuh mereka sudah terbungkus kain panjang sekedar mengurangi dinginnya angin laut malam.

    Langit malam sedikit demi sedikit semakin surut berganti menjadi langit pagi. Ditandai dengan warna semburat kemerahan menyala diujung timur bumi. Dan semburat warna merah itu akhirnya merata mewarnai seluruh lengkung langit.

    “Malam telah kita lewati”, berkata Ki Ketut Areng yang mulai terjaga dari tidurnya kepada Mahesa Amping yang sudah bangun lebih dulu tengah bersandar didinding geladak.

    “Itukah Balidwipa ?”, bertanya Mahesa Amping sambil menunjuk kearah timur matahari.

    “Itulah Balidwipa, pulau tempat matahari terbit”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap cahaya kuning matahari yang mengintip dari balik bumi Tanah Bali.

    “Bahtera sepertinya akan merapat”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bahtera berbelok ke kanan kearah tepian pesiri Tanah Jawa.

    “Benar, bahtera akan merapat di Tanah Sempit sempit”, berkata Ki Ketut Areng yang kelihatannya sudah sering berlayar menuju Tanah Bali.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Ketut Areng, bahtera memang tengah merapat disebuah Bandar kecil bernama Tanah sempit sempit, entah kenapa dinamakan demikian, mungkin letak Bandar itu yang dibatasi oleh dua buah anak sungai yang bermuara diselat Bali, mungkin.

    “Diujung senja bahtera ini baru akan berlayar kembali, mari kita turun kedarat”, berkata Ki Ketut Areng yang telah bersiap-siap untuk turun kedarat.

    • lumayan…dapet satu rontal

  17. Bulat penuh matahari sudah terlihat diujung timur langit, cahaya pagi telah menerangi seluruh tanah Bandar kecil itu. Terlihat Ki Ketut Areng diiringi Mahesa Amping tengah mendekati sebuah perkampungan nelayan.

    Ternyata mereka tengah mendekati sebuah kedai makanan yang ada di perkampungan nelayan itu.
    “Kami minta minuman hangat”, berkata Ki Ketut Areng kepada pemilik kedi itu.

    Tidak lama kemudian pemillk kedai itu sudah membawakan minuman hangat serta beberapa jajanan.

    “Aku membawa kesukaan tuan, serabi dan dage goreng”, berkata pemilik kedai itu kepada Ki Ketut Areng yang ternyata sudah sangat sering berkunjung ke kedainya.

    Terlihat Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng tengah menikmati minuman hangat serta serabi dan Dage gorengnya.

    “Apa yang biasa Ki Ketut Areng lakukan selama menunggu bahtera berlayar kembali ?”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng.

    “Berdagang”, berkata Ki Ketut Areng sambil tersenyum.

    “Berdagang ?”, bertanya Mahesa Amping keheranan.

    “Diperkampungan nelayan ini ada seorang juragan yang cukup makmur, aku akan menawarkan sebuah keris kecil kepadanya”, berkata Ki Ketut Areng.

    Maka ketika bumi sudah terang tanah, Ki Ketut Areng dan Mahesa Amping terlihat telah keluar dari kedai itu. Terlihat mereka tengah memasuki perkampungan itu menuju kesebuah rumah panggung yang paling besar yang ada di perkampungan nelayan itu.

    “Selamat bertemu kembali wahai juragan besar”, berkata Ki Ketut Areng melambaikan tangannya kepada seorang yang berwajah bundar berperawakan sedang diatas panggung pendapanya.

    “Naiklah ketas Ki Ketut”, berkata orang itu kepada Ki Ketut Areng.
    Terlihat Ki Ketut Areng diringi Mahesa Amping tengah menaiki anak tangga pendapa.

    “Perkenalkan teman mudaku”, berkata Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata seorang yang sangat ramah.
    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping memprkenalkan dirinya.

    “orang-orang memanggilku Ki Sukasrana”, berkata orang itu memperkenalkan dirinya.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Ki Sukasrana pun bercerita tentang batu aji yang pernah dibelinya dari Ki Ketut Areng.

    • suwun…suwun…suwun…
      eh….,
      kammssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      • diperLAMBAT biar tambah nikmat…..KAMSIA pak DALANG

  18. cantrik HADIR,

    • cantrik nyusul HADIR,, matur nuwun

  19. horee, … aku dishooting, …. hahahahaha, …. !!!!

    naaahhh, …. ini lebih baik ki, … pembaca serasa terlibat langsung dalam peristiwa yang diceritakan. … itulah gaya atau ciri khas begawan sh mintardja, …

    kamsiaaa, … !!!!

  20. “Batu aji nya telah kuikat dengan ikatan kuningan”, berkata Ki Sukasrana sambil memperlihatkan sebuah batu cincing dijarinya yang berwarna seperti buah atap.”Ternyata batu akik ini adem dipakainya”, berkata Ki Sukasrana yang merasa cocok dengan batu akik yang dipakainya.

    “Aku membawakan untukmu sebuah keris kecil, sebagaimana barang yang biasa kubawa, Ki Sukasrana boleh menyimpannya dulu, bila sehari dua hari ada kecocokan, silahkan Ki Sukasrana membelinya”, berkata Ki Ketut mengeluarkan sebuah keris kecil berwarna emas.

    Sebagai seorang yang ahli pembuat berbagai senjata, Mahesa Amping dapat mengetahui bahan apa yang digunakan untuk pembuatan keris kecil itu, tapi Mahesa Amping tidak menunjukkan keahliannya didepan kedua orang itu.

    “Aku akan menyimpannya”, berkata Ki Sukasrana kepada Ki Ketut Areng sambil menerima keris kecil itu.

    Namun belum lama mereka bercakap-cakap, terlihat empat orang lelaki tengah memapah seorang yang nampaknya telah pingsan mendekati rumah Ki Sukasrana.

    “Itu anak buahku”, berkata Ki Sukasrana mengenali orang-orang yang datang.

    “Ada apa dengan Tole ?”, berkata Ki Sukasrana kepada salah seorang yang datang memapah kawannya itu.

    “Tidak sengaja kami mendapatkan ular api dijaring kami, Tole bermaksud membuangnya, namun tiba-tiba saja ular api itu mematuk kakinya”, berkata salah seorang yang baru datang itu.

    “Bawa Tole keatas pendapa, segera panggilkan Tabib Koneng kemari”, berkata Juragan Sukasrana kepada anak buahnya.

    “Sudah tiga hari ini Tabib Koneng belum pulang mengantar istrinya ke rumah mertuanya di kampong kidul”, berkata salah seorang anak buah Ki Sukasrana.

    “Badannya masih hangat, mungkin aku dapat mengobatinya”, berkata Mahesa Amping yang tanpa disuruh telah memeriksa badan orang yang tengah pingsan itu.

    Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan belati kecilnya dari balik pakaiannya. Dan dengan cekatan tangan Mahesa Amping telah mengerat bagian kaki yang terluka dipatuk ular. Dengan mimijat beberapa bagian tubuh orang yang telah pingsan itu, dan sedikit mengerahkan kesaktiannya, telapak tangan Mahesa Amping menempel di bagian yang terluka itu. Tidak begitu lama telah keluar darah hitam dari kaki yang terluka.

    “racunnya telah keluar”, berkata mahesa Amping ketika darah merah terlihat keluar dari bagian luka orang yang pingsan itu.”Ambilkan segelas air”, berkata Mahesa Amping.

    Maka salah seorang anak buah Ki Sukasrana masuk kedalam rumah, tidak lama kemudian sudah membawa semangkuk air.

  21. Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan sebuah bubu bambu yang selalu dibawanya dibalik ikat pinggangnya. Ternyata didalam bubu bamboo kecil itu berisi bubuk racikan obat. Mahesa Amping terlihat tengah melarutkan bubuk racikan obat itu dengan air yang ada dimangkuk. Dan dengan tangannya meneteskan air itu ke bibir orang yang pingsan itu.
    Tidak lama kemudian, terlihat wajah orang yang pingsan itu yang semula putih pucat terlihat sudah mulai berwarna memerah. Mahesa Amping terlihat memegang lengan orang itu.

    “Denyut nadinya telah normal kembali”, berkata Mahesa Amping sambil menarik nafas lega sebagai tanda bahwa orang yang terkena bisa racun ular api itu dapat diselamatkan.

    Melihat perubahan diwajah orang yang pingsan itu, beberapa orang yang ada di pendapa itu ikut menarik nafas lega, merasa kawannya akan sembuh dan dapat diselamatkan.

    “Dimana aku ?”, bertanya orang yang pingsan itu ketika membuka matanya melihat banyak orang disekelingnya.

    “ kamu baru saja selamat dari bisa racun ular api”, berkata Ki Sukasrana kepada orang yang baru siuman itu.

    ”Minumlah obat ini sampai habis”, berkata mahesa Amping sambil memberikan mangkuk berisi obat racikannya kepada orang yang baru siuman itu yang sudah dapat duduk bersandar dinding kayu.

    Terlihat orang itu meminum obat racikan disebuah mangkuk yang diberikan Mahesa Amping dan kembali bersandar didinding kayu, wajahnya terlihat semakin segar tidak pucat lagi sebagaimana sebelumnya.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah menyelamatkan anak buahku”, berkata K Sukasrana yang melihat anak buahnya sudah menjadi lebih segar daro sebelumnya.

    “Diujung barat kampung ini kulihat ad hutan kecil, carilah jamur kayu merah dihutan itu, mudah-mudahan penyembuhannya akan menjadi lebih cepat lagi”, berkata Mahesa Amping sambil menyebut beberapa tumbuhan yang banyak tumbuh disekitar perkampungan itu sebagai bahan campuran obat.

    “Aku tidak menyangka bahwa teman mudaku ini adalah seorang tabib”, berkata Ki Ketut Areng

    “Aku hanya punya sedikit ilmu”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

    “Antarlah Tole kerumahnya, jangan lupa untuk mencarikan jamur kayu merah dan beberapa bahan tumbuhan untuk obat”, berkata Ki Sukasrana kepada keempat anak buahnya untuk mengantar Tole yang sudah dapat berdiri, meski masih sedikit lemas.

    Sementara itu matahari diatas perkampungan nelayan itu sudah cepat naik kepuncaknya, untungnya didepan rumah Ki Sukasrana berdiri tumbuh sebuah pohon jamblang yang berdahan dan berdaun cukup lebat sehingga sinar matahari tidak langsung masuk menyengat kulit disiang hari itu.

    “kalian pasti sudah sangat lapar”, berkata Ki Sukasrana sambil berdiri tersenyum.

    • lumayan…..hari ini pulang gawe agak sorean dikit, hehehe

  22. ikut-ikutan sok tau ah, ……

    belum sempat mahisa amping dan ki ketut areng berdiri, pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah nyai sukasrana. “silakan kisanak, makan seadanya. hari ini saya masak lawar, pepesan ayam dan mangut lele, …”

    dan seterusnya terserah ki sandikala, ….

    • wah…..
      giliran Ki Sukasrana rupanya, he he he …..
      asiikkk……………

      eh…, hampir lupa
      kamsiaaaa………….. …………. ….. …. .. . . .
      (makin lama makin tidak terdengar karena sudah nyilem lagi

  23. Ternyata Ki Sukasrana masuk kedalam untuk menengok Nyai Sukasrana yang sudah hampir selesai menyelesaikan beberapa masakan.

    Ki Sukasrana telah kembali ke pendapa menemani tamunya. Tidak lama berselang terdengar pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah Nyai Sukasrana yang sekilas masih nampak sisa-sisa kecantikannya ketika masih muda dulu.

    “Silahkan kisanak makan seadanya, hari ini kami Cuma memasak lawar, pepesan ayam dan mangut lele”, berkata Nyai Sukasrana kepada mahesa Amping dan Ki Ketut Areng.

    “Terima kasih, kami telah merepotkan nyai”, berkata Ki Ketut Areng kepada nyai Sukasrana yang hanya tersenyum dan kembali lagi masuk kedalam menghilang dibalik pintu pringgitan.

    Dan sang waktu ternyata begitu cepat berlalu, tidak terasa matahari sudah rebah turun sedikit ke barat.
    “Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian”, berkata Ki Sukasrana mengantar Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng menuruni tangga pendapanya.

    “Semoga dipertemuan berikutnya, buah jamblang itu sudah banyak yang masak”, berkata Mahesa Amping menunjuk kearah pohon jamblang didepan rumah Ki Sukasrana.

    “Semoga tidak ada hambatan dalam perjalanan kalian”, berkata Ki Sukasrana dari atas pendapanya.

    Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah kembali ke Bandar kecil itu. Bahtera yang mereka tumpangi masih terlihat merapat disebuah dermaga.

    Ketika matahari sudah berbaring diujung barat bumi, dibatas senja bahtera itu telah bertolak meninggalkan Bandar Tanah sempit sempit.

    Sang malam terlihat begitu kelam mewarnai langit laut selat Bali, tapi masih ada beberapa bintang sebagai tanda bahwa hari tidak akan turun hujan.

    Bahtera itu berlayar diatas hamparan laut sunyi. Kadang terlihat kerlap-kerlip lampu centing bergoyang diatas jukung berlayar tunggal nelayan yang tengah mencari ikan, mereka memang terlahir sebagai nelayan, hidup berkeluarga dan beranak pinak melahirkan para nelayan muda di masa yang akan datang. Sebuah kehidupan malam ditengah lautan yang begitu sunyi, menjaring ikan untuk kehidupan keluarganya. Dan mereka tidak pernah jemu untuk melakoninya. Adalah sebuah kebahagiaan tak terkira manakala pulang dari melaut membawa banyak ikan dikaping bambu. Itulah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli, sebagaimana seorang petani melihat panen jagungnya.

    “Besok menjelang pagi kita sudah tiba di Bandar Buleleng”, berkata Ki Ketut Areng kepada Mahesa Amping yang tengah melihat dua orang lelaki diatas jukungnya terapung ditengah laut malam.

    Sementara itu angin bertiup begitu dingin, tidak terasa bahtera telah melewati selat Bali. Disebelah kanan bahtera membujur gundukan tanah hitam. Itulah Balidwipa disaat malam kelam seperti bayi raksasa yang tengah tertidur.

  24. Gemuruh ombak dipantai kuta
    Sejuk lembut angin di bukit Kintamani
    Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
    Tak mampu mengusir..kau yang manis

    • Bila saja kau ada di sisiku……………………..

  25. MATUR NUWUUUUUN

    • sama-sama ki……”tetep semangat”

      • ni SINDEN ijin pulang kampung…..mumpung libur 3 hari (katanya)

        nyanyi sik ah :
        Siapa yang mau menghuni gedung tua Siapa yang sudi singgah dihati ini Tanpa keramaian kemewahan sunyi……!!!???

        siapa yang mau, jaga gandok malam ini…..siapa, siapaaaa…..!!!???

  26. “Ketika bertolak dari Bandar Cangu, aku tidak merasakan apapun. Namun manakala Bahtera sudah mulai menyentuh pesisir Bali, hati ini seperti tersentak-sentak, ingin rasanya aku terjun berenang ketepian dan berlari pulang”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap pesisir tepian pantai Bali yang terlihat masih menghitam, hanya terlihat kerlip beberapa lampu-lampu kecil berasal dari lampu lenting rumah penduduk di tepi pantai seperti melihat gundukan tanah hitam bertabur bintang-bintang.

    “Mari duduk bersandar, malam masih sangat panjang”, berkata Mahesa Amping kepada ki Ketut Areng yang masih berdiri memandang jauh ketepi pesisir pantai.
    Tidak lama kemudian Ki ketut Areng telah mengikuti
    Mahesa Amping bersandar didinding geladak.

    Malam diatas kepala mereka seperti payung langit raksasa, dalam kekerdilannya, bahtera sepertinya tidak bergerak. Dan Ki Ketut Areng tidak terasa telah bergeser rebah berbaring dan akhirnya telah tertidur. Tinggalah Mahesa Amping yang masih terjaga bersandar didinding geladak. Dan tidak terasa Mahesa Amping telah bergeser berbaring dan akhirnya ikut tertidur.

    Terkejut Mahesa Amping ketika membuka matanya, langit diatas bahtera sudah terang, ternyata sang pagi sudah datang menjelang.

    “hari sudah pagi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng yang juga telah ikut terbangun.

    Setelah merapikan pakaian dan ikat kepalanya, terlihat Mahesa Amping berdiri dipinggir geladak bersama Ki Ketut Areng memandang tak jemu pulau Bali yang hijau terbungkus pohon-pohon hutan yang besar, tinggi dan kerap rapat.

    Bahtera semakin merapat ke pantai mendekati tepian. Diujung timur terlihat tiang-tiang layar bahtera berjajar. Kearah itulah bahtera yang ditumpangi Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng bergerak menghampirinya.

    Bahtera itu telah hamper merapat disebuah dermaga kayu yang panjang, seorang lelaki terlihat dengan beraninya melompat dari geladak sambil membawa tambang besar. Dan ketika kakinya telah menyentuh lantai geladak, dengan cekatan mengikat tali di sebuah tonggak kayu.

    Bahtera telah merapat dan bersandar di Bandar Buleleng yang cukup ramai sebagaimana suasana di Bandar-bandar besar di tanah jawa.

    “Terima kasih untuk tumpangannya”, berkata mahesa Amping kepada saudagar pemilik bahtera.
    “Tunggulah bahtera kami bilamana kamu akan kembali ke tanah Jawa”, berkata saudagar itu kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah menginjakkan kakinya didermaga. Terlihat beberapa orang tengah membawa kuda yang akan diangkut berlayar, mungkin kesebuah tempat yang jauh.

    “Rumahku tidak begitu jauh dari sini”, berkata ki Ketut Areng dengan wajah begitu ceria merasakan udara kampung halamannya sendiri.

  27. Ternyata rumah Ki Ketut Areng memang tidak begitu jauh dari Bandar Buleleng, hanya terpisah dengan sebuah hutan kecil.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng sudah mendekati sebuah regol gerbang Kademangan Kabukbuk. Sebuah Kademangan yang paling dekat dengan Bandar Buleleng.

    Tidaklah aneh bila Kademangan itu cukup ramai menjadi tempat persinggahan orang-orang Bali pedalaman yang akan membawa berbagai dagangannya ke Bandar Buleleng diantaranya adalah ternak kuda sebagaimana yang mereka lihat tengah diangkut berlayar di Bandar buleleng.

    Di pintu regol, Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng disambut gembira oleh seorang gadis yang ternyata putrid tunggal Ki Ketut Areng.

    “Ibu masih belum pulang kepasar”, berkata gadis itu kepada ayahnya Ki Ketut Areng.

    Mahesa Amping dipersilahkan bersih-bersih di pakiwan. Setelah itu Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat beritirahat bercakap-cakap di rumah bamboo, sebuah bangunan yang bertiang bamboo terbuka dan terpisah dari bangunan utama.

    Rumah Ki Ketut Areng memang terlihat asri, ada beberapa tanamam bunga yang terawatt apik di halaman dan tiga buah pohon jepung merah berdiri disisi kiri pagar dinding batu.

    Tidak lama kemudian datanglah dari regol pintu halaman seorang wanita sambil menjungjung keranjang diatas kepalanya yang ternyata adalah Nyai Ketut Areng yang baru pulang dari pasar.

    Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada istrinya. Dan hari itu keluarga Ki Ketut Areng sepertinya merayakan kebahagiaannya dengan memasak berbagai hidangan.

    Hari itu Mahesa Amping bermalam dirumah Ki Ketut Areng, sudah menjadi kebiasaan Mahesa Amping bangun di awal pagi.

    “Wanita bali memang terbiasa melakukan kerja keras seperti membajak sawah dan mencangkul”, berkata Ki Ketut Areng yang dapat membaca keheranan Mahesa Amping melihat istri dan putrid Ki Ketut Areng pagi-pagi sudah keluar rumah membawa pacul dan arit kesawah.

    “Apa kerja laki-laki Bali ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Berjudi menyabung ayam ”, berkata Ki Ketut Areng sambil membelai leher ayam kesayangannya yang sudah lama ditinggalkannya.

    “Nikmat sekali terlahir sebagai pria Bali”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

    Hari itu Ki Ketut Areng mengajak mahesa Amping ke rumah kenalannya seorang pedagang kuda, Mahesa Amping memang sengaja meminta Ki Ketut Areng mencarikannya seekor kuda yang baik.

    “kuda ini asli Sumbawa, beruntung aku belum membawanya kepasar”, berkata kenalan Ki Ketut Areng seorang pedagang kuda.

  28. kulo pesen kuda poni mawon pak dalang, matur nuwun

  29. Malam itu bulan bersinar bulat penuh menyinari halaman rumah Ki Ketut Areng. Semilir angin menggoyangkan bunga dan daun kemboja di sudut halaman rumah. Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat masih berbincang-bincang seputar rencana perjalanan mahesa Amping ke Puri Besakih.

    “Puri Besakih hanya berjarak dua hari perjalanan berkuda”, berkata Ki Ketut Areng memberikan gambaran arah menuju Puri Besakih. Sebagai seorang pedagang batu aji, pengenalan Ki ketut Areng tentang berbagai daerah di Tanah bali memang cukup luas.

    “Puri Besakih terletak dilereng Gunung Agung, berjalanlah mengambil arah matahari terbit disebelah kananmu”, berkata Ki Ketut Areng menambahi penjelasanya.

    Sementara itu angin didepan halaman Ki Ketut Areng semakin dingin, bunga-bunga kemboja merah terlihat banyak berserakan.

    “Saatnya beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng mengajak Mahesa Amping beristirahat karena esok hari akan melakukan perjalanan panjang.

    Malam diatas rumah Ki Ketut Areng berlalu dalam sunyi, hanya suara gemeriaicik air yang terdengar tiada henti berasal dari sungai kecil disebelah rumah Ki Ketut Areng.

    Dan disaat pagi sudah terang bumi, Mahesa Amping pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

    “Aku berdoa untukmu, semoga tidak ada halangan dan hambatan diperjalananmu”, berkata Ki Ketut Areng melepas keberangkatan Mahesa Amping.

    Terlihat Mahesa Amping menuntun kudanya keluar dari regol pintu halaman Ki Ketut Areng.Dan dengan lincahnya telah melompat diatas kudanya.

    “Kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya. Mendapat perintah dari tuan barunya kuda itu seperti mengerti telah melangkahkan kakinya berjalan perlahan.

    “Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu”, berkata Ki Ketut Areng sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping berkuda diatas jalan Kademangan yang sudah ramai orang berlalu lalang untuk pergi ke sawah atau pergi ke pasar.Ketika telah keluar dari regol pintu gerbang Kademangan Kabukbuk, terlihat Mahesa Amping mengambil arah kekanan menyusuri jalan yang sepertinya sudah mengeras, sebagai tanda sering dilewati gerobak kuda memuat barang penuh muatan.Sementara itu Matahari pagi mengintip dari sela-sela daun dan dahan pokok-pokok pohon kayu yang tinggi menjulang disepanjang perjalanannya. Harum tanah hutan basah yang tertiup angin begitu menyegarkan.

    “Aku ingin mencoba sejauh mana kekuatan nafasmu”, berkata mahesa Amping kepada kuda barunya sambil menjejakkan kakinya keperut kudanya.

    Ternyata kuda itu adalah kuda yang pintar, tahu perintah tuannya. Maka terlihat kuda itu telah berlari begitu cepatnya.

    “Kuda pintar”, berkata Mahesa Amping yang merasa gembira dibawa kudanya berlari cepat.

    • lumayan….ba’da subuh dapet satu lontar,

      Selamat pagi para kadhang sedoyo, semalam cuma Ki bancak yang datang ke gardu ronda,

      Pagi ini siap-siap mengantar sang permaisuri ke pura TAKLIM Bukit duri Jakarta alias pengajian rutin kaum ibu, hehehe 3x

  30. “Betul, betul, betul“, berkata Rangga Lawe membenarkan., seperti nonton upin ipin aja………..

    • loh….
      dah lama gak sambang padepokan Ki
      sehat saja kan?

  31. pada kesempatan ini, saya menyampaikan selamat natal kepada sanak kadang yang merayakannya. semoga tuhan selalu bersama kita.

    damai di bumi, damai di surga, …

  32. Sugeng ndalu…

    Lama tidak menyambangi padepokan, eh, Tole kok digigit ular. Apes temen tho yaaaa….

    Kamsiaaaa….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: