SFBDBS-08

SFBDBS 08-198
“Garis hidupku memang aneh, dulu aku telah salah berdiri di belakang Pangeran Gaco Bahari”, berkata Empu Nada berhenti sebentar membiarkan Mahesa Murti mengenang sedikit tentang Pangeran Gaco Bahari yang pernah ingin memberontak atas kekuasaan syah Singasari. “Saat ini kembali langkahku salah berpijak”, lanjut Empu Nada menyambung perkataaannya.

Akhirnya Empu Nada bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perampok tunggal yang sedang sakit parah terkena banyak senjata lawan.

“Aku membawanya ke gubukku, merawatnya”, bercerita Empu Nada.

”Ketika dirinya telah kembali sembuh seperti sedia kala, kuberharap dengan bimbingan dan tuntunanku, orang itu akan kembali kejalan yang benar”, berkata Empu Nada sambil berhenti sebentar menarik nafas panjang, sepertinya tengah mengumpulkan beberapa kenangan.

“Aku gembira sekali, orang itu ternyata punya bakat dan kecerdasan yang kuat”, berkata Empu Nada.

Terlihat wajah Empu Nada tiba-tiba begitu suram, sepertinya dipenuhi duka dan penyesalan yang sarat.

“Ternyata aku telah menciptakan tanduk untuk seokar srigala, apalagi ketika datang seorang Raja dari Gelang-Gelang yang memberikannya banyak janji-janji, srigala itu sepertinya telah kembali kepadang perburuannya, kepadang perburuan yang lebih besar.Saat ini srigala itu telah berencana dengan Raja Gelang-gelang untuk merampok kekuasaan penguasa baru Singasari”, berkata Empu Nada mengakhiri ceritanya.

“Apakah Empu Nada pernah memberitahukan kepadanya bahwa langkahnya telah masuk dijalan simpang?”, bertanya Mahesa Murti kepada Empu Nada.

“Srigala itu sudah tidak mempan lagi dimasuki nasehat apapun, bahkan dirinya merasa telah sampai pada batas pencarian ke AKU-annya”, berkata Empu Nada.

“Carilah Aku dimana tidak ada aku?”, bertanya Mahesa Murti menegaskan

“Benar, dirinya telah menemukan AKU yang lain, si AKU nafsunya sendiri yang diakuinya sebagai penguasa tunggal, membenarkan segala tindakannya, semua dianggapnya sebagai kebaikan.Mata hatinya sepertinya telah terbalik, matahari telah terbit di ujung barat mata hatinya”, berkata Empu Nada.

“Siapakah nama orang itu ?”, bertanya Mahesa Murti

“Namanya Mahesa Rangga”, berkata Empu Nada.

“Aku pernah mendengar nama itu disebut oleh salah seorang pedagang yang berasal dari arah barat Singasari, menurutnya adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak terkalahkan, dan diam-diam telah memupuk kekuatan, sebagai kekuatan bayangan, sebagai penguasa bayangan yang juga ikut menarik upeti dari beberapa padukuhan terdekat”, berkata Mahesa Murti.

“Ternyata anakmas punya banyak telinga”, berkata Empu Nada.

“Beberapa bulan yang lalu, ada banyak pesanan senjata dari pedagang yang berasal dari barat Singasari”, berkata Mahesa Murti.

“Mereka memang telah memupuk sebuah kekuatan disana”, berkata Empu Nada meyakinkan.

“Srigala itu sudah mempunyai tanduk, kita harus cepat bertindak sebelum srigala itu bersayap”, berkata Mahesa Amping yang selama itu ikut mendengar memberikan tanggapannya.

“Itulah maksud kedatanganku ke Padepokan Bajra Seta ini, meminta pertimbangan dan tindakan dari pimpinan Padepokan ini yang kutahu selalu menjunjung tinggi kebenaran”, berkata Empu Nada.

Sementara itu matahari diatas Padepokan Bajra Seta telah pudar mendekati senja, lengkung langit berwarna putih sejuk menelengkungi keteduhan. Beberapa cantrik terlihat masuk regol gerbang Padepokan dengan pakaian yang berlumpur. Rupanya mereka baru pulang dari sawah. Saat itu memang awal musim penghujan, saat yang baik untuk membajak sawah disaat tanah basah tersiram banyak hujan.

“Paman Sembaga dan Paman Wantilan sudah datang, undanglah mereka ke pendapa”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping segera turun dari pendapa menemui Sembaga dan Wantilan.

“Ternyata Sang pelaut telah kembali”, berkata Sembaga menggoda menyambut kedatangan Mahesa Amping.

“Aku rindu mengotori seluruh tubuh degan lumpur di sawah”, berkata Mahesa Amping penuh senyum.

“Siapakah yang ada di Pendapa bersama sang ketua?”, bertanya Wantilan penuh selidik.

“Paman pasti pernah mengenalnya, seorang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari dari Kediri yang dulu pernah paman hancurkan Padepokannya beberapa tahun yang lalu”, berkata Mahesa Amping.

“Untuk apa dia datang ke Padepokan kita?”, bertanya Wantilan.

“Kakang Mahesa Murti meminta Paman berdua datang nanti malam ke pendapa utama, ada yang ingin disampaikan, mungkin keingintahuan paman berdua akan terjawab”, berkata Mahesa Amping.

“Kalau begitu kami akan segera membersihkan diri”, berkata Sembaga.

“Juga berganti pakaian”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum melihat Sembaga dan Wantilan berjalan cepat meninggalkannya, mungkin seperti yang dikatakannya akan segera bersih-bersih diri.

Terlihat Mahesa Amping telah kembali naik kependapa utama Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu sang waktu terus bergulir diatas Padepokan Bajra Seta, wajah langit semakin meredup dan akhirnya kusam pekat menghitam.

———-oOo———-

SFBDBS 08-199

Sang Malam telah datang bersama armada kegelapannya, menyergap dan menutupi batas pandang wajah bumi.

“Sebelum melangkah lebih jauh, yang paling utama adalah melihat kekuatan lawan”, berkata Mahesa Murti di pendapa utama Bajra Seta. Telah hadir di pendapa adalah Sempaga dan Wantilan yang telah diberitahu tentang beberapa hal yang telah terjadi dan berkaitan dengan kedatangan Empu Nada Di Padepokan Bajra Seta.

“Dan kehadiranku disini berkaitan dengan penyelidikan kekuatan lawan itu”, berkata Sembaga

“Ternyata Paman Sembaga telah tanggap, benar apa yang Paman duga, aku berkeinginan menugaskan Paman berdua bersama Mahesa Amping kedaerah barat itu”, berkata Mahesa Murti.

“Sudah lama kaki ini tidak menginjak tanah lebih jauh dari sawah dan ladang dipadepokan Bajra Seta ini”, berkata Wantilan penuh senyum.

“Kapan kami akan berangkat?”, berkata Sembaga sepertinya sudah tidak sabaran lagi.

“Hari ini Mahesa Amping baru saja tiba, biarlah dia beristirahat dulu satu dua hari”, berkata Mahesa Murti.

Mahesa Amping memang terlihat sudah sangat suntuk, akhirnya Mahesa Murti menyilahkan Mahesa Amping dan Empu Nada beristirahat lebih dulu.

Dan malam di musim penghujan itu memang begitu dingin, di pertengahan malam kembali hujan mengguyur bumi, membasahi halaman depan Padepokan Bajra Seta, melelapkan semua yang telah tertidur diawal malam.

Dan hujan baru sedikit berhenti di awal pagi dengan siraman gerimis kecilnya, membuat siapapun akan enggan membuka matanya. Namun di pagi yang masih bergerimis itu Mahesa Amping dan Empu Nada sudah terlihat keluar dari kamarnya. Setelah bersih-bersih diri mereka langsung ke Pendapa utama.

“Ternyata anakmas Mahesa Murti telah terbiasa bangun di awal pagi”, berkata Empu Nada yang telah melihat Mahesa Murti ternyata sudah mendahuluinya berada di Pendapa utama Padepokan Bajra Seta.

“Orang tua bilang bangun pagi akan memanjangkan usia”, berkata Mahesa Murti kepada Empu Nada.

“Dan rejeki kita tidak keduluan dipatuk ayam”, berkata Mahesa Amping melanjutkan.

Sambil menikmati wedang jahe hangat dan beberapa potong ubi manis mereka saling bercerita banyak hal, terutama Mahesa Amping banyak bercerita tentang perjalanan pelayarannya bersama bahtera besar Singasari menuju Tanah Gurun, sebuah pulau di ujung timur matahari sebagai tempat asal pohon cengkeh dan pala, sebuah tanaman di jaman itu yang harganya sama dengan harga sebuah emas.

“Impian Maharaja Seminingrat telah terwujud, saatnya Maharaja Kertanegara melanjutkan dan memapankannya”, berkata Mahesa Murti menanggapi cerita Mahesa Pukat.

“Musuh-musuh Maharaja muda itu ternyata punya siasat yang sangat tajam, menusuk Singasari disaat semua daya pikiran tertuju ke luar, membangun jalur perdagangan laut bagi kemakmuran nagari”, berkata Empu Nada.

“Empu Nada benar, kita harus menutup kelemahan itu, agar Singasari tidak terganggu memperluas cakrawala kekuasaannya yang luhur bagi bumi Singasari tercinta”, berkata mahesa Murti.

“Ternyata aku datang di tempat yang benar, di Padepokan para ksatria Singasari”, berkata Empu Nada

“Empu Nada telah datang di tempat sanak kadang sendiri”, berkata Mahesa Murti.

Terlihat Empu Nada tersenyum menangkap maksud perkataan dari Mahesa Murti.

“Gambar Cakra di lengan Empu Nada telah mempertemukan dua saudara yang telah lama terpisah, jalur perguruan sejati”, berkata Mahesa Murti.”Jalur perguruan Sejati masih hidup di Padepokan Bajra Seta ini lewat Paman Mahesa Agni murid tunggal Empu Purwa saudara seperguruan Empu Brantas”, berkata Mahesa Murti memberikan penjelasannya.

“Dalam permainan sejurus dua jurus bersamamu, aku juga telah menduga bahwa kita punya dasar kanuragan yang sama”, berkata Empu Nada penuh kegembiraan.

“Ada berita gembira lain yang akan aku sampaikan untuk Empu Nada”, berkata Mahesa Murti sambil menatap Empu Nada.

“Cepat katakana, jangan buat orang setuaku ini jadi penasaran”, berkata Empu Nada tidak sabaran.

“Berbahagialah, bahwa Maharaja Singasari yang tengah berkuasa saat ini adalah murid terkasih dari saudara Empu Nada sendiri”, berkata Mahesa Murti kepada Empu Nada.

“Aku memang punya saudara kembar, mungkinkah yang engakau maksudkan adalah Dangka saudara kembarku itu ?”, bertanya Empu Nada masih ragu.

“Benar, saudara kembar Empu Nada yang telah mengangkat murid kepada Maharaja Kertanegara bernama Empu Dangka”, berkata Mahesa Murti.

“Sudah lama kami berpisah, apakah anakmas mengetahui keberadaan saudaraku itu?”, bertanya Empu Nada.

“Ketika kami pulang dari Tanah Madhura,menyusuri sungai porong, kami tidak menemukan Empu Dangka ditempat terakhirnya, sepertinya telah hilang ditelan bumi”, berkata Mahesa Amping ikut bercerita ketika bersama Kertanegara menyusuri sungai Porong tempat terakhir Empu Dangka.

“Berita bahwa saudaraku telah mewariskan ilmunya kepada Maharaja Singasari sepertinya sebuah air suci yang membersihkan rasa bersalahku selama ini, telah salah mengasuh para srigala yang haus darah”, berkata Empu Nada yang Nampak raut dan garis wajahnya terlihat begitu cerah penuh kegembiraan.

———-oOo———-

SFBDBS 08-200

Sementara gerimis diluar pendapa utama terlihat sudah surut, bumi sudah terlihat tersenyum terang bersama awan putih bening mengisi cakrawala. Beberapa burung kecil terlihat terbang melintas.Dan pagi yang cerah seperinya mewarnai langit Padepokan Bajra Seta. Mungkin kehadiran Mahesa Amping menjadikan suasana Padepokan itu telah menjadi semakin menambah kegembiraan.

Mahesa Amping terlihat mengajak Empu Nada berkeliling Padepokan Bajra Seta, juga mengajaknya keluar padepokan Bajra seta melihat-lihat suasana para petani yang tengah menanam bibit-bibit batang padi satu persatu mengisi petak-petak sawah mereka.

“Suasana yang menyenangkan, pesona alam yang indah dalam gairah kegembiraan para petani”, berkata Empu Nada.

“Kedamaian seperti inilah yang kadang datang mengusik hari-hari dalam pengembaraanku”, berkata Mahesa Amping.

“Kedamaian yang selalu membuat iri para petualang seperti diriku”, berkata Empu Nada.

“Seandainya saja bumi tanpa bencana dan peperangan, suasana kedamaian ini akan menjadi lukisan yang abadi”, berkata Mahesa Amping.

“Gusti yang Maha Pemrakarsa telah menciptakan garis takdirnya, keabadian hanya miliknya, kefanaan di alam dunia adalah milik makhluknya. Dengan dasar inilah kita hambanya disuruh memilih, masuk dalam keabadiannya atau terjerumus dalam kefanaan abadi”, berkata Empu Nada.

“Petuah Empu Nada adalah pusaka”, berkata Mahesa Amping yang menangkap makna terdalam dari tutur Empu Nada.

“Anakmas telah sampai dalam pencerahan bathin, aku senang telah bertemu dengan orang-orang macam anakmas, Padepokan Bajra Seta telah melahirkan banyak putra terbaik sebagai cahaya bumi dikegelapan malam”, berkata Empu Nada.

Sementara itu matahari sudah semakin merayap tinggi, dari sebuah saung terlihat seorang lelaki bertelanjang dada memanggil mereka.

Mahesa Amping dan Empu Nada mendekatinya, ternyata lelaki bertelanjang dada itu tidak lain adalah Mahesa Semu.

“Mbokyu Padmita sengaja membuat pecak gabus kesukaanmu”, berkata Mahesa Semu ketika Mahesa Amping dan Empu Nada mendekatinya.

Demikianlah, mereka sejenak menikmati makan siang di pinggir sawah, meriung bersama para cantrik lainya yang sudah dari pagi berkeringat bekerja di sawah. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan bersama yang jarang sekali dirasakan oleh Empu Nada.

“Makanan yang paling nikmat yang pernah aku rasakan”, berkata Empu Nada sambil menyuap nasi liwet dan sepotong gabus pecaknya diatas sehelai daun pisang yang masih basah.

Hari yang telah ditentukan akhirnya telah tiba.
Tiga ekor kuda terlihat pagi itu telah keluar dari regol gerbang Padepokan. Mereka adalah Wantilan, Sembaga dan Mahesa Amping.

“Berbahagialah anakmas yang telah banyak melahirkan para ksatria berjiwa mulia”, berkata Empu Nada kepada Mahesa Murti ketika melepas kepergian tiga orang cantrik pilihan Padepokan Bajra Seta.

“Tugas kita hanya menanam dan merawatnya, Gusti Yang Maha Karsa yang menentukan berhasil atau tidaknya panen raya”, berkata Mahesa Murti tersenyum.

“Kamu benar Anakmas, aku memang harus belajar banyak dengan anakmas”, berkata Empu Nada ketika melihat tiga ekor kuda telah menghilang di tikungan jalan.

Wantilan, Sembaga dan Mahesa Amping memang sudah masuk ke tikungan jalan, menyusuri jalan Padukuhan.

Dan manakala berhadapan dengan padang ilalang yang luas, mereka menepak perut kuda agar berlari kencang.
Terlihat tiga ekor kuda berlari kencang saling berkejaran membelah ilalang yang tinggi hingga sebadan. Angin pagi menerpa wajah-wajah mereka, mengusap semangat pengembara di padang pengembaraan, mengusap semangat tiga ksatria menuju padang perbhaktian. Mereka seperti elang gurun yang terbang bebas merdeka mencari padang perburuannya, hinggap sebentar di puncak-puncak bukit karang yang tinggi, melewati ngarai dan lembah hijau, atau menghilang ditelan kepekatan hutan rimba yang lebat.

Setelah beberapa hari menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka telah mendekati tempat daerah yang mereka tuju.

Terlihat tiga ekor kuda telah memasuki sebuah regol gerbang sebuah kademangan, matahari pagi menyapu wajah-wajah mereka. Beberapa petani yang akan berangkat menuju ke sawah hanya sebentar menatap mereka, sepertinya kademangan itu sudah terbiasa didatangi para tamu asing.

“Permisi Paman, dapatkah menunjukkan kepada kami rumah Saudagar Kimung ?”, bertanya Mahesa Amping kepada seorang petani yang berpapasan dengannya.

“Rumah Saudagar Kimung tidak jauh lagi, jalan lurus dari sini kisanak akan menemui rumah yang cukup besar dengan lumbung padi yang juga cukup besar. Didepan pendapa berdiri pohon asam yang besar”, berkata petani itu memberikan ancer-ancer rumah Saudagar Kimung.

“Terima kasih Paman”, berkata Mahesa Amping kepada petani itu.

Sebagaimana yang dikatakan petani itu, mereka menemukan sebuah rumah besar dengan sebuah lumbung padi yang juga cukup besar, ada pohon asam yang sudah tua berbatang besar melebihi sepelukan tangan orang dewasa. Sebagaimana umumnya rumah yang ada di Kademangan itu, rumah itu terbuka tidak dibatasi pagar. Terlihat keranda bambu di depan rumahnya sebagai tempat merayap pohon labu parang yang nampaknya sudah banyak yang telah kuning matang.

———-oOo———-

SFBDBS 08-201

“Selamat datang di Kademangan Padang Bulan”, berkata seorang lelaki bertubuh tambur turun dari pendapa rumah yang ternyata adalah Saudagar Kimung.

“Ternyata nama Saudagar Kimung sangat santer di penjuru Kademangan ini, kami tidak susah mencarinya”, berkata Wantilan yang langsung menyalami lelaki pemilik rumah itu.

Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan segera diajak naik ke pendapa rumah.

“Percayalah, aku dapat memegang rahasia”, berkata Saudagar Kimung dengan berbisik takut ada yang mendengar.

Ternyata Saudagar Kimung memang dapat dipercaya, jangankan kepada orang lain, kepada keluarganya sendiri rahasia rencana ketiga cantrik padepokan Bajra Seta ini sangat tertutup. Hanya dikatakan bahwa ketiga kawan jauhnya ini akan memulai penghidupan baru, mencoba membuka usaha sebagai tukang pandai besi.

Hari pertama memang tidak banyak yang dilakukan oleh Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan selain mempersiapkan beberapa peralatan kerja sebagai tukang pandai besi.

Pada hari kedua Saudagar Kimung mengajak mereka bertiga kepasar di Kademangan Padang Bulan yang cukup ramai, apalagi disaat hari pasaran.

Nasib mereka cukup beruntung, seorang pejabat pasar memberikan tempat yang cukup luas diujung pasar. Pada hari itu juga mereka langsung membuat sebuah gubuk yang bukan hanya sebagai tempat kerja dan usaha, tapi sekaligus sebagai tempat tinggal mereka bertiga.

Wantilan, Sembaga dan terutama Mahesa Amping ternyata memang seorang pandai besi sungguhan yang ahli, siapapun yang melihat hasil kerja mereka tidak akan menyangka bahwa mereka sebenarnya bukan pandai besi sungguhan. Hasil karya mereka dapat dikatakan begitu halus dan sangat baik.

Mereka mulai bekerja sepanjang hari, maka dalam waktu sepekan berbagai peralatan pertanian dan senjata sudah terlihat menumpuk siap diperdagangkan.

“Apakah kisanak ingin membeli barang kami?”, berkata Mahesa Amping kepada dua orang lelaki berwajah kasar.

“Ternyata kamu ini orang baru disini, kami disini tidak untuk membeli, tapi meminta kutipan”, berkata salah seorang yang paling garang.

“Kami telah membayar kutipan kepada petugas pasar kemarin sore”, berkata Mahesa Amping.

“Kami bukan petugas pasar, tapi kami penguasa tempat ini”, berkata orang itu dengan mata melotot.

“Maaf, kami memang orang baru disini. Hari ini kami baru memulai usaha, bagaimana bila kami memberi kalian hadiah dua buah senjata”, berkata mahesa Amping dengan gaya seorang pedagang yang mengalah dan tahu berperilaku kepada orang-orang kasar di pasar pada umumnya.

“Untuk kali ini aku terima”, berkata orang itu penuh gembira.

Mahesa Amping segera memberikan mereka dua buah golok besar mirip dengan golok besar yang mereka bawa yang terlihat terselip di pinggang masing-masing.

“Buatan kami adalah yang terbaik di Tanah Singasari ini”, berkata Mahesa Amping sambil menyerahkan golok besar buatannya.

Terlihat kedua orang itu menimang-nimang golok besar pemberian itu serta membandingkan dengan senjatanya sendiri. Sedikit banyak kedua orang itu memang tahu menilai tentang senjata yang baik.

“Senjata yang baik, sangat ringan dan enak dipegang”, berkata kawannya yang satu lagi.

“Anggap saja itu hadiah perkenalan kita”, berkata Mahesa Amping penuh senyum keramahan.

“Jarang sekali aku berhadapan dengan pedagang seperti kalian, tidak kikir dan mudah diatur”, berkata orang yang berwajah paling garang.

“Kami disini mencari peruntungan, bukan mencari musuh”, berkata Mahesa Amping masih dengan wajah ramah dan penuh senyum.

“Pekan depan kami akan datang kembali”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping sambil memberi tanda kepada kawannya untuk berlalu meninggalkan tempat pandai besi itu.

“Untungnya bukan aku yang menghadapi orang itu”, berkata Wantilan kepada Mahesa Amping ketika kedua orang itu sudah pergi berlalu.

Ternyata keberadaan pandai besi yang baru diujung pasar cukup menarik perhatian, banyak orang yang berbelanja mampir ketempat itu, baik hanya sekedar melihat-lihat, tapi ada juga yang langsung membeli barang dagangan mereka.

Sepekan kemudian, dagangan mereka seperti laris manis. Mungkin dari mulut ke mulut barang dagangan mereka telah diakui sebagai barang buatan yang sangat halus dan baik.

Hingga pada sebuah hari pekan, pada sebuah hari pasaran, yang mereka nantikan akhirnya datang juga.

“Disinikah kamu mendapatkan dua buah golok besar itu?”, berkata seorang yang berpakaian perlente layaknya seorang bangsawan kepada salah seorang anak buahnya yang ternyata salah seorang yang dulu pernah diberi hadiah dua buah golok besar oleh mahesa Amping.

“Benar, disinilah aku mendapatkannya”, berkata anak buahnya yang ditanyakan itu sambil menganggukkan kepalanya.

Seperti biasa, Sembaga pada saat itu tengah asyik menempa besi, sementara Wantilan terlihat tengah menghaluskan sebuah pedang yang nampaknya hampir jadi.

———-oOo———-

SFBDBS 08-202

“Silahkan tuan melihat-lihat barang dagangan kami”, berkata Mahesa Amping mendekati orang itu yang terlihat sepertinya sangat disegani oleh lima orang yang datang bersamanya, diantaranya adalah yang sudah dikenal oleh Mahesa Amping.

Orang itu memang terlihat angkuh, tampa berkata apapun langsung memeriksa sebuah pedang panjang dan mencobanya dalam beberapa gerakan.

“Tuan dapat menguji ketajaman pedang buatan kami”, berkata Mahesa Amping sambil mengeluarkan sebuah batang bambu yang panjangnya kurang lebih sedepa.

“Silahkan tebas bambu ini”, berkata Mahesa Amping sambil menjulurkan bambu itu dihadapan orang itu. Maka tanpa banyak cakap orang itu telah membuat ancang-ancang untuk mengayunkan pedang ditangannya.

Luar biasa, bambu ditangan Mahesa Amping sudah terpotong dengan halusnya dengan sekali tebasan.

“Pedang yang bagus”, berkata orang itu langsung memuji pedang hasil karya Mahesa Amping.

“Buatan kami berasal dari besi pilihan”, berkata Mahesa Amping sambil membungkukkan badan penuh kerendahan hati layaknya seorang pedagang kepada seorang bangsawan calon pembeli yang royal.

“Aku pesan seratus pedang, seratus golok panjang dan seratus mata tombak”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping.

“Bila pesanan tuan telah selesai, kemana kami dapat mengantarnya?”, bertanya Mahesa Amping.

“Bawalah ke Gunung Jati, setiap orang disini sudah tahu dimana aku tinggal”, berkata orang itu.

“Dapatkah aku tahu siapakah nama tuan, agar mudah mencari tempat tinggal tuan”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu.

“Ternyata kamu orang baru disini, namaku Mahesa Rangga”, berkata orang itu yang mengatakan dirinya bernama Mahesa Rangga.

“Secepatnya kami akan menyelesaikan pesanan tuan”, berkata Mahesa Amping penuh gembira, tapi orang itu juga para anak buahnya mengartikan lain kegembiraan Mahesa Amping.

Tanpa kata-kata orang itu sudah berbalik badan bersama anak buahnya meninggalkan Mahesa Amping.

“Kita perlu bahan yang cukup untuk melayani pesanan mereka”, berkata Wantilan kepada Mahesa Amping yang diam-diam telah mencuri dengar pembicaraan Mahesa Amping dengan orang yang mengaku bernama Mahesa Rangga.

“Besok Saudagar Kimung akan berangkat berdagang kearah timur, kita bisa titip pesan kepadanya untuk dibawakan dari Padepokan Bajra Seta sesuai pesanan”, berkata Mahesa Amping.

“Otakmu cukup encer, kita tidak perlu banyak kerja, barang sudah siap jadi”, berkata Wantilan sambil menepuk-nepuk pundak Mahesa Amping.

“Kita tidak perlu memberikan semua pesanan mereka”, berkata Mahesa Amping

“Tidak memberikan semua pesanan mereka?”, bertanya Wantilan tidak mengerti maksud perkataan Mahesa Amping yang tersenyum melihat wajah Wantilan yang berkerut penuh tanda Tanya.

“Ssst !, ada pembeli datang”, berkata mahesa Amping memberi tanda ada beberapa orang yang tengah berjalan ketempat mereka.

Maka seperti biasa Mahesa Amping melayani orang-orang yang datang melihat-lihat, sekali-sekali Mahesa Amping memamerkan beberapa senjata dan beberapa alat pertanian barang dagangannya.

Ketika beberapa pembeli sudah pergi, kembali Wantilan menagih penjelasan kepada Mahesa Amping.

“Nanti malam akan kujelaskan semuanya”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum.

“Aku tunggu penjelasanmu”, berkata Wantilan yang langsung kembali bekerja menghaluskan beberapa alat yang terlihat hambir sempurna.

Sebagaimana yang telah dijanjikan, maka pada malam harinya Mahesa Amping menjelaskan semua rencananya.

“Jadi kita membuat senjata dari bahan besi campuran?”, bertanya Wantilan

“Benar, dibawah kekuatan senjata yang kita miliki, setidaknya bila beradu dengan senjata kita akan mudah patah”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Kamu memang anak nakal”, berkata Wantilan yang langsung setuju

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Wantilan sudah ada di rumah Saudagar Kimung untuk menitipkan beberapa pesan rahasia yang akan disampaikannya kepada Mahesa Murti di Padepokan Bajra Seta.

Pada hari-hari berikutnya, Mahesa Amping, Wantilan dan Sembaga terlihat sangat sibuk bekerja sepanjang hari, bahkan kadang sampai jauh malam. Ternyata mereka tengah membuat sebuah senjata yang khusus mereka ciptakan sendiri yang dirancang akan mudah patah, namun sebagai seorang ahli tidak akan mudah diketahui.

Sepekan kemudian telah datang tiga orang cantrik Padepokan Bajra Seta membawa barang pesanan yang ditipkan lewat Saudagar Kimung. Maka pesanan seratus pedang, seratus golok panjang dan seratus mata tombak sudah terkumpul.

“Tiga ratus prajurit dari Bandar Cangu secara bertahap akan datang memenuhi tempat ini”, berkata salah seorang cantrik Bajra Seta menyampaikan sebuah berita. “Raden Wijaya dan Lawe ikut dalam pasukan itu sebagai pimpinan”, berkata cantrik itu melanjutkan.

———-oOo———-

SFBDBS 08-203

Gunung jati adalah sebuah kawasan perbukitan berhutan lebat. Sebagaimana namanya, didalam hutan ini memang banyak tumbuh tanaman jati yang sudah berumur puluhan tahun. Dahulu orang-orang disekitarnya biasa mengambil kayu jati untuk membangun rumah mereka di hutan ini, disamping juga sebagai tempat berburu yang baik karena masih banyak dihuni berbagai binatang buruan liar. Namun setelah hutan itu dikuasai para gerombolan yang dikepalai oleh seorang yang bernama Mahesa Rangga, para penduduk sekitar tidak berani lagi datang ke hutan gunung jati.

Gerombolan Mahesa Rangga ini semakin merajelela, bahkan mereka saat itu sudah berani meminta kutipan di beberapa kademangan sekitarnya sebagaimana yang pernah dialami sendiri oleh Mahesa Amping di pasar, pada saat panen raya atau kepada para saudagar yang datang dari berbagai tempat.Para bebahu Kademangan tidak berani melapor, mereka masih memilih aman hanya dengan sekedar memberikan kutipan.

Namun akhir-akhir ini gerombolan Mahesa Rangga yang diam-diam sangat dibenci oleh penduduk disekitarnya sudah mulai berbuat keonaran dan membuat resah, mereka sudah mulai mengganggu wanita yang sudah bersuami dan para gadis penduduk di sekitarnya.

Dari beberapa penduduk di Kademangan Padang Bulan, Mahesa Amping dapat mengorek beberapa keterangan tentang gerombolan ini, ternyata umumnya mereka adalah bekas perampok dan perusuh yang merasa tersingkir dengan kekuasaan prajurit Singasari di banyak jalan jalur perdagangan yang ramai. Sayangnya para prajurit Singasari masih kurang banyak untuk mengawasi seluruh Tanah Singasari yang luas, diantaranya pengawasan disekitar gunung jati ini.

Pagi itu terlihat tiga orang tengah menuntun tiga ekor kuda. Terlihat kuda-kuda itu membawa muatan barang di punggungnya.

Ternyata ketiga lelaki itu adalah Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan yang tengah mendaki membawa senjata pesanan Mahesa Rangga di Gunung Jati.

Terlihat mereka telah semakin masuk ke hutan gunung jati. Akhirnya setelah berjalan setengah harian mereka telah sampai disebuah tanah datar. Diatas tanah datar itu berdiri banyak gubuk-gubuk liar beratap daun dan berdinding kayu sekedarnya. Namun ditengah gubuk-gubuk yang dibangun ala kadarnya itu berdiri sebuah bangunan yang cukup megah, hamper seluruhnya terbuat dari kayu jati yang sudah dihaluskan, bahkan ada beberapa bagian seperti pagar pendapa terlihat diukir dengan apiknya.

Ketika Mahesa Amping,Sembaga dan Wantilan melewati sebuah gubuk, keluar seorang lelaki dari gubuk itu menghampiri mereka. Ternyata lelaki berwajah garang yang sudah dikenal Mahesa Amping yang selalu datang setiap pekan meminta kutipan.

“Ternyata kamu si pandai besi yang baik hati”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping.

“Aku membawa barang pesanan tuanmu”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu.

“Mari kuantar kalian kepada Sang Ketua”, berkata orang itu menggiring Mahesa Amping, Wantilan dan Sembaga menuju rumah jati itu yang ternyata adalah tempat tinggal Sang Ketua Mahesa Rangga.

“Kalian tunggu disini, aku akan menemui sang ketua”, berkata orang itu meminta Mahesa Amping dan kawan-kawannya menunggu di bawah halaman pendapa rumah jati itu.

Terlihat orang itu masuk kedalam rumah.

Tidak lama berselang orang itu terlihat kembali keluar dari pintu berjalan menghampiri Mahesa Amping dan kedua kawannya.

“Sang Ketua ternyata malas menemui kalian, silahkan letakkan barang-barang yang kamu bawa disini”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping.

Maka Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan segera membongkar barang muatan dari punggung kuda, meletakkannya di halaman pendapa.

“Terimalah pembayaran atas penjualan barangmu”, berkata orang itu sambil memberikan sekampit pembayaran.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping menerima pembayaran itu langsung membukanya. “Tuanmu ternyata sangat baik hati, pembayaran ini lebih dari cukup”, berkata Mahesa Amping dengan penuh gembira.”Terimalah ini sebagai balas jasa telah mengantar tuanmu kepada kami”, berkata kembali Mahesa Amping sambil memberikan sedikit persenan kepada orang itu yang diambilnya dari kampil pembayaran yang diterimanya.

“Ternyata kamu tahu apa yang ada didalam pikiranku”, berkata orang itu dengan senyum penuh arti.

“Boleh kami beristirahat sejenak di sekitar tempat ini?”, bertanya Mahesa Amping kepada orang itu.

“Terserah kalian”, berkata orang itu sambil pergi meninggalkan Mahesa Amping bertiga.

Terlihat Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan mencari tempat berteduh disebuah pohon besar diantara gubuk-gubuk yang tidak beraturan letaknya mengelilingi rumah Sang Ketua.

Sambil beristirahat mereka memperhatikan orang-orang yang ada didalam gubuk, terlihat ada yang sedang tidur dan sebagian lagi sepertinya tengah bersenda gurau. Sebagian besar terlihat sebagai orang-orang kasar, terdengar dari gaya bahasanya.

Setelah matahari sudah mulai jenuh berdiri dipuncaknya, Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan terlihat tengah bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Beberapa mata terlihat mengiringi langkah kaki mereka, namun sebagian lagi sepertinya memandang tak acuh.

Hari sudah mendekati senja manakala mereka telah sampai dikaki hutan gunung jati. Di tanah terbuka mereka langsung menghentakkan lari kuda mereka. Maka tidak begitu lama mereka telah sampai kembali di Kademangan Padang Bulan.

Dan sandikala telah datang menelungkupi bumi, memanggil burung-burung kecil untuk kembali kesarangnya. Para ibu memanggil anaknya yang masih bermain dihalaman rumah, sementara itu beberapa lelaki bertelanjang dada terlihat baru pulang dari sawahnya.

———-oOo———-

SFBDBS 08-204

Di ujung senja, sudut pasar itu sudah begitu sepi. Mahesa Amping , Sembaga dan Wantilan masih terlihat duduk-duduk dibale bambu di depan gubuk mereka. Sayup-sayup terdengar suara burung jalak suren mencari pasangannya.

“Mengapa kamu tersenyum”, berkata Wantilan yang heran melihat Mahesa Amping tersenyum sendiri.

“Aku kenal betul dengan suara jalak suren itu”, berkata Mahesa Amping masih tersenyum.

“Aku belum mengerti”, berkata Wantilan merasa tidak mengerti apa arti ucapan Mahesa Amping.

Ternyata Mahesa Amping memang tidak perlu menjawab. Muncul dari kegelapan malam dari balik pohon ambon yang lebat dua orang yang berjalan mengendap-endap.

Setelah dua orang itu semakin mendekat, barulah terlihat wajah kedua orang itu yang ternyata adalah Raden Wijaya dan Lawe.

“Permisi, numpang tanya, aku mencari tiga orang pandai besi yang mumpuni”, berkata Lawe bercanda menyapa mereka.

“Selamat datang di Kademangan Padang Bulan”, berkata Sembaga menyambut kedatangan mereka.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, Raden Wijaya menyampaikan berita bahwa dirinya telah datang bersama dengan tiga ratus prajurit dari Bandar Cangu.

“Dimana sekarang mereka?”, bertanya Wantilan.

“Dihutan sebelah timur tidak jauh dari sini”, berkata Raden Wijaya.”Mereka datang secara bergelombang, aku datang bersama kelompok terakhir”, berkata Raden Wijaya melanjutkan.

“Satu hari penuh beristirahat kukira cukup untuk pasukanmu”, berkata Mahesa Amping kepada raden Wijaya.

Semalaman mereka berbicara tentang beberapa hal menyangkut rencana penyerangan mereka menghabisi gerombolan Mahesa Rangga di hutan Gunung Jati.

“Siapkan panah api, kita akan memulai peperangan dengan sebuah kepanikan besar”, berkata Mahesa Amping memberikan beberapa usulan.

“Aku setuju, kita telah memenangkan awal pertempuran”, berkata Raden Wijaya menyetujui usulan dari Mahesa Amping.

“Aku juga punya usul”, berkata Lawe

“Apa usulmu?”, bertanya Sembaga kepada Lawe yang Nampak begitu serius.

“Usulku bagaimana kalau kita memasak air dulu, aku yakin dengan segelas wedang jahe hangat akan datang ilham yang cemerlang”, berkata Lawe dengan wajah penuh senyum.

“Usul yang hebat, biarlah biarlah aku yang melakukan tugas itu”, berkata Mahesa Amping menimpali canda Lawe sambil berdiri dan masuk kedalam.

Tidak lama kemudian, Mahesa Amping sudah datang membawa sebuah kendi besar berisi wedang jahe hangat yang baunya sudah tercium menyegarkan. Mahesa Amping masuk kembali kedalam gubuknya dan kembali dengan membawa beberapa tangkai jagung manis yang terlihat masih panas karena baru saja diangkat dari perapian.

“Tadi siang ada yang menukar sebuah cangkul dengan jagung manis”, berkata Mahesa Amping sambil meletakkan bakul berisi jagung manis yang masih panas.

“Serbuuuu !!!”, berkata Lawe yang langsung menyambar jagung manis didepan matanya.

Semua yang ada tersenyum melihat kelakuan Lawe yang tidak pernah berubah, selalu mengundang banyak tawa diantara mereka.

Sementara itu di kejauhan terdengar suara kentongan bambu dipukul dengan nada dara muluk berasal dari sebuah gardu di Padukuhan terdekat. Hari memang sudah masuk di pertengahan malam.

“Kami pamit untuk kembali ke pasukan”, berkata Raden Wijaya menyampaikan keinginannya untuk kembali kepasukannya.

“Selamat beristirahat”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian Raden Wijaya dan lawe yang akan kembali bersama pasukannya.

Raden Wijaya dan Lawe terlihat berjalan kearah sebagaimana mereka muncul. Dan mereka sudah menghilang ditelan kegelapan malam. Sementara itu Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan tengah membersihkan bale tempat mereka duduk. Dibale itulah mereka merebahkan dirinya, menghabiskan sisa malam yang dingin.

“Beristirahatlah, biarlah aku yang berjaga”, berkata Mahesa Amping kepada Wantilan dan Sembaga

“bangunkan aku bila kantukmu sudah tidak dapat tertahan lagi”, berkata Sembaga sambil menyarungkan sekujur tubuhnya dengan kain panjang.

Tidak lama kemudian Sembaga dan Wantilan sudah terlihat nyenyak tertidur. Sementara itu Mahesa Amping terlihat menyandarkan dirinya didinding pagar gubuknya.Matanya terlihat terpejam, namun kewaspadaannya masih tetap terjaga. Tidak satupun bunyi yang terlepas dari pendengarannya.

Namun malam yang tersisa itu berlalu sebagaimana adanya, tidak ada apapun yang terjadi dimalam itu.

Dan akhirnya sang pagi telah datang.

“Kenapa kamu tidak membangunkan aku?”, berkata Sembaga kepada Mahesa Amping yang terbangun dan melihat hari sudah menjadi terang tanah.

“Aku melihat paman tidur begitu pulas nyenyaknya”, berkata Mahesa Amping penuh senyum.

———-oOo———-

SFBDBS 08-205

Pagi itu Kademangan Padang Bulan disiram gerimis kecil panjang, membuat orang-orang menjadi malas keluar rumahnya. Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan terlihat masih duduk-duduk dibale bambu sepertinya masih malas untuk menggelar barang dagangannya, mungkin karena hari itu bukan hari pasaran.

Ketika gerimis sudah berhenti, baru terlihat mereka menggelar barang dagangannya. Tidak seperti hari-hari lalu, sembaga hari ini tidak membelah kayu dan membuat perapian. Sementara itu Wantilan terlihat tengah menghaluskan beberapa barang yang kemarin belum sempat dihaluskan. Namun sebentar saja pekerjaan itu sudah diselesaikan oleh Wantilan.

“Hari ini kita harus beristirahat yang cukup”, berkata Sembaga sambil duduk di Bale dan menyandarkan badannya dipagar rumah.

“Rebusan jagung manis”, berkata Mahesa Amping keluar sambil membawa beberapa potong jagung manis.
Hari itu tidak banyak yang dilakukan oleh Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan. Seharian mereka hanya bercakap-cakap diatas Bale.

“Tugas kita sebagai pandai besi sudah mendekati masa paripurna”, berkata Mahesa Amping

“Kasihan beberapa pelanggan kita”, berkata Wantilan.

“Kita dapat meminta juragan Kimung untuk mencari kerabatnya yang mau melanjutkan usaha kita ini”, berkata Sembaga.

“Benar, kita dapat mendidik beberapa orang di Padepokan Bajra Seta”, berkata Wantilan.

“Setelah urusan kita selesai, kita bias membicarakannya bersama juragan Kimung”, berkata Mahesa Amping.

Sementara itu hari terus bergulir, matahari perlahan merayap mendaki dan menuruni lengkung langit hingga akhirnya menggelantung diujung barat cakrawala. Langit tua sudah berwarna awan senja kelabu.

Beberapa burung manyar berkepala kuning yang seharian ramai diatas dahan pohon ambon yang rindang sudah tidak terdengar lagi suaranya, mungkin sudah kembali kesarangnya yang hangat.

Sementara itu di hutan sebalah timur Kademangan Padang Bulan, beberapa prajurit Singasari terlihat tengah mempersiapkan dirinya. Tenaga mereka sepertinya telah pulih kembali setelah seharian cukup beristirahat.

“Kita menunggu Mahesa Amping yang akan menjadi pemandu kita menuju hutan gunung jati”, berkata Raden Wijaya kepada beberapa prajurit.

Ternyata orang yang ditunggu akhirnya datang juga, terlihat Mahesa Amping telah datang seorang diri.

“Paman Wantilan dan Paman Sembaga telah berangkat lebih dulu mendahului kita ke hutan gunung jati”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

Langit diatas tanah datar di hutan gunung jati saat itu sudah masuk malam. Dari jauh hanya terlihat kerlap-kerlip cahaya berasal dari oncor minyak jarak yang digantung didepan gubuk-gubuk para gerombolan Mahesa Rangga. Beberapa orang terlihat masih berkerumun, sementara beberapa orang lagi sudah mulai beranjak naik ketempat tidur.

Dulu sebelum para gerombolan Mahesa Rangga menghuni hutan gunung jati, hutan ini sangat angker dimalam hari, para pemburu tidak ada yang berani bermalam di hutan ini, beberapa orang pernah bertemu dengan makhluk hantu genduruwo, sejenis hantu bermata satu sangat menyeramkan dan suka sekali menghisap darah manusia.

Namun manakala para gerombolan Mahesa Rangga menghuni hutan gunung jati, hutan ini berubah lebih menakutkan lagi, para penduduk tidak takut lagi pada genduruwo, tapi takut kepada penghuninya para gerombolan Mahesa Rangga yang umumnya sangat galak dan kasar. Ada beberapa penduduk yang tidak pernah kembali lagi kerumah setelah memasuki hutan gunung jati, berdasarkan cerita salah seorang penduduk yang berhasil meloloskan diri, orang-orang yang tersasar memasuki hutan gunung jati telah ditangkap, disiksa dan harus bersedia melayani sebagai budak. Dan yang sangat dibenci oleh para penduduk sekitar hutan gunung jati adalah bahwa para gerombolan sering turun gunung di malam hari mencari para wanita muda.

Malam itu para penduduk boleh bernafas lega, sebab mulai malam itu Mahesa Rangga melarang anak buahnya turun gunung di malam hari, mereka harus beristirahat karena disiang harinya harus melakukan beberapa latihan dibawah bimbingan langsung dari Mahesa Rangga.

Demikianlah, ketika malam mulai merayap, beberapa orang yang masih berkerumun satu persatu bergeser masuk kepembaringannya. Akhirnya ketika dipertengahan malam, suasana di sekitar gubuk-gubuk itu sudah begitu sepi, semua penghuninya sudah tertidur. Hanya beberapa peronda yang bertugas di malam itu sekali-kali berkeliling untuk memastikan tidak ada sesuatu yang mungkin membahayakan.

Suasana tanah datar tempat para gerombolan Mahesa Rangga yang tenang dan sepi itu tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat, dimulai dengan sebuah panah api sanderan terlihat membumbung tinggi. Itulah sebuah tanda pasukan panah api dari para prajurit Singasari yang sudah lama mengepung hunian itu beraksi. Dari tangan mereka meluncur anak panah berapi menghujani gubuk-gubuk yang beratap daun alang-alang yang mudah terbakar.

Paniklah bukan main para penghuni gubuk-gubuk itu yang berlari keluar menyelamatkan diri dari kobaran api yang dalam sekejap sudah menjalar memakan tiang dan dinding pagar gubuk-gubuk itu.

Beberapa orang tidk sempat membawa senjata apapun, namun sebagian lagi adalah orang-orang yang mempunyai kesiagaan yang kuat, mereka sudah menyadari ada musuh yang akan menyergap mereka.

Para prajurit Singasari tidak menyia-nyiakan keadaan lawan mereka yang tengah panik, dari kegelapan malam bermunculan langsung menyerang para gerombolan Mahesa Rangga.

———-oOo———-

SFBDBS 08-206

Akibatnya memang sudah dapat ditebak, beberapa orang yang tidak sempat membawa senjatanya langsung menjadi bulan-bulanan para prajurit Singasari. Dan dalam waktu singkat sudah dapat dilumpuhkan.

Sementara itu beberapa orang yang sudah siap membawa senjatanya terlihat dapat bertahan mengimbangi serangan para prajurit yang datang menyerang.

Belum sempat para prajurit Singasari menguasai para gerombolan yang panic dan terjepit. Tiba-tiba saja dari rumah jati meluncur sesosok tubuh yang langsung menerjang beberapa prajurit yang ditemuinya. Terlihat di tangannya sebuah cambuk pendek berputar kesana kemari, siapapun yang dekat dengannya terlempar dan terluka oleh sabetan cambuknya.

“Aku lawanmu”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata adalah Mahesa Rangga sang ketua.

“Bukankah kamu si pandai besi itu?”, berkata Mahesa Rangga berdiri menghadap Mahesa Amping.

“Mulai hari ini aku sudah pensiun”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

“Sebentar lagi kamu akan pensiun hidup”, berkata Mahesa Rangga sambil memegang ujung cambuknya.

“Empu Nada berpesan untuk berhati-hati menghadapi senjata cambukmu”, berkata Mahesa Amping.

“Sudah kuduga, pasti ulah orang tua itu yang membawa pasukan Singasari datang ke hutan ini”, berkata Mahesa Rangga penuh kemarahan yang terlihat dari kilatan matanya.

“Empu Nada sudah berbuat sesuai kata hatinya”, berkata Mahesa Amping.

“Kata hati seorang yang menerima keadaan, kata hati seorang yang tidak punya cita-cita dan keinginan”, berkata Mahesa Rangga.

“Keinginanmu terlewat tinggi”, berkata mahesa Amping mencoba memancing kemarahan dari Mahesa Rangga.

Ternyata pancingan Mahesa Amping mengenai sasaran.

“Kamulah tumbal pertama cita-citaku”, berkata Mahesa Rangga sambil melepaskan gerakan sendal pancing menyerang dengan cambuknya kearah Mahesa Amping.
Tar !!!, terdengar suara cambuk mengenai tempat kosong karena Mahesa Amping telah berhasil bergeser kebelakang, namun masih merasakan getaran kekuatan tenaga cambuk sebagai tanda pemilik cambuk mempunyai tenaga cadangan yang kuat.

Ternyata cambuk itu seperti bermata, kemanapun Mahesa Amping berhindar cambuk itu terus mengejarnya.
Mahesa Amping sepertinya telah menjadi bulan-bulanan orang bercambuk itu.

Sementara itu para prajurit Singasari masih terus mendesak para gerombolan yang berkelahi dengan cara yang kasar, baik dengan gerakan maupun dengan ucapannya.

Trang !!!, dua buah pedang beradu dengan kerasnya. Salah satunya terlihat pupus putung. Itulah pedang buatan usulan Mahesa Amping yang rapuh.

Trang !!!!

Trang !!!

Trang !!!

Beberapa senjata telah beradu dengan kerasnya, dan hasilnya adalah sebuah sumpah serapah dari beberapa orang anak buah Mahesa Rangga yang kecewa dengan senjata barunya.

“Senjata jelek”, berkata orang itu sambil melempar golok besarnya yang sudah putung.

“Menyerahlah!!”, berkata seorang prajurit Singasari menggertak lawannya yang sudah tidak bersenjata.

Diwaktu yang sama, Mahesa Amping dan Mahesa Rangga terlihat bertempur semakin seru. Mahesa Amping telah merubah siasat berkelahinya, tidak lagi terus menghindar, tapi sekali-kali berbalik menyerang masuk kepertahanan lawannya yang bercambuk.

Bukan main kagetnya orang bercambuk itu mendapatkan serangan balik dari Mahesa Amping yang begitu cepat serta tidak dapat diduga. Terlihat orang itu telah bergeser beberapa langkah kesamping menghindari serangan belati pendek Mahesa Amping yang terus mengejarnya.

Namun Mahesa Rangga adalah orang yang telah digembleng langsung oleh Empu Nada telah sampai pada tataran tingkat tinggi. Maka sambil bergeser menjauh, kembali menyerang dengan cambuknya kali ini menyerang melingkar.

Demikianlah pertempuran antara dua Mahesa ini telah menjadi semakin seru dan menegangkan. Pertempuran semakin cepat dan kuat, masing-masing telah mengeluarkan seluruh kemampuannya.Masing-masing telah meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis.

Sementara itu para prajurit Singasari yang dipimpin oleh Raden Wijaya dan Lawe serta dibantu oleh dua orang cantrik utama Padepokan Bajra Seta yaitu Sembaga dan Wantilan telah hamper dapat menguasai lawannya.

Trang !!

Trang !!

Dua buah senjata pedang kembali terlihat putus putung. Dan dua buah sumpah serapah kembali terdengar.

“Senjata setan !!”, dua orang anak buah Mahesa Rangga melontarkan kamus sumpah serapahnya.

 “Menyerahlah !!”, berkata Lawe kepada seorang lawannya yang hanya memegang sebuah senjata yang sudah putung setengahnya.

“Setengah pedangku ini masih lebih panjang dari belatimu”, berkata orang itu sambil melakukan serangan dengan langsung membabat leher kepala Lawe.

Lawe bukan lagi anak muda biasa, ketrampilan kanuragan serta telah dapat melambari tenaga cadangan. Maka sambil merendahkan tubuhnya, membiarkan pedang putung itu lewat diatas kepalanya, dibenturkannya senjata putung itu dengan belatinya.

Trang !!!

Kali ini pedang putung kembali hampir mendekati gagang pedang.

“Apakah kamu masih belum juga menyerah?”, bertanya Lawe sambil menggoyang-goyangkan belatinya ingin menunjukkan bahwa senjatanya sekarang sudah jauh lebih panjang dari pada pedang lawan yang sudah putung tinggal gagangnya saja yang masih dipegangnya.

“Pedang murahan!!”, berkata orang itu sambil melempar gagang pedang itu ke wajah Lawe.

Untungnya Lawe telah selalu waspada, hanya dengan memiringkan kepalanya, nyaris gagang pedang itu lolos lewat beberapa centi dari wajahnya.

Plok !! Plokk !!

Tangan Lawe yang sudah tidak sabaran telah dua kali menampar bolak-balik kanan dan kiri wajah lawannya. Tamparan itu ternyata sangat begitu kuat dan keras. Langsung lawan Lawe roboh dengan kepala terasa berkunang kunang jatuh rebah ketanah, mungkin telah pingsan.

Sementara itu Mahesa Amping dan Mahesa Rangga masih bertempur dengan serunya, dua buah senjata yang mereka miliki memang mempunyai perbedaan yang mencolok, sebuah cambuk harus dimainkan dengan jarak yang cukup, sementara belati pendek harus menyerang pada sisi yang dekat. Demikianlah, Mahesa Rangga berusaha mencari jarak agar serangannya dapat mendapatkan sasaran, sementara itu Mahesa Amping berusaha mendekati lawan agar belati pendeknya dapat mencari sasaran dengan mudah.

Demikianlah mereka telah meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi, bergerak lebih cepat lagi. Dan pertempuran kedua orang berilmu ini sudah tidak mudah disimak lagi, mereka seperti tidak pernah menginjak bumi lagi, terbang dan melenting, melesat dan melejit saling menyerang lawannya. Begitu cepatnya hingga hanya terlihat bayang-bayang yang tersamar.

Lecutan cambuk Mahesa Rangga sudah tidak terdengar lagi, tapi justru getarannya semakin terasa merangsek menyesakkan dada. Mahesa Amping menyadari hal itu, diam-diam telah melambari kekuatan kekebalan tubuhnya.

———-oOo———-

SFBDBS 08-207

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2011 at 10:28  Comments (279)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

279 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dapatkah Mahesa Amping menerima permintaan Sri Maharaja Kertanegara sebagai seorang Rangga ???,

    sementara diujung timur Tanah melayu, dirinya yang dikenal sebagai Manusia Dewa pernah diminta untuk menjadi seorang panglima angkatan perang raya bergelar nama sebagai seorang HANG.

    Mahesa Amping sebenarnya cuma ingin menjadi seorang petani kecil sepertihalnya cita-cita Ebit G Ade dalam lagunya, (hehehe 3x bergema)

    • salah ya kalo bilang ditimur tanah melayu ???

  2. “Titah paduka akan kami junjung sebagai pusaka”, berkata Mahesa Amping dan Lawe bersamaan.

    “aku akan memanggil Mahapatih untuk melaksanakan upacara kebesaran sebagai hari pelantikan kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja penuh senyum kebahagiaan.

    Demikianlah, pada hari yang ditentukan upacara besar pelantikan dilaksanakan dengan penuh kemeriahan. Inilah pertama kali Sri Maharaja Kertanegara membuat kekancingan, mengukuhkan pejabat utama istana.

    Seluruh raja yang ada di bawah kekuasaan Singasari telah diundang untuk menghadiri upacara pelantikan itu.

    Dan kotaraja seperti berhias dengan berbagai umbul-umbul dan janur disepanjang jalan.

    Ketika Sang Mahapatih membacakan titah dan sabda Sri Baginda Maharaja Kertanegara, gemuruh suara para undangan dan seluruh warga. Puja-puji mereka sampaikan atas pilihan Maharaja yang bijak atas para putra terbaik Singasari.

    Dan hari pelantikan empat orang pilihan Maharaja itu telah ditandai dengan turunnya hujan dari langit. Para orang tua memastikan bahwa ini adalah sebagai tanda para dewa merestui, Singasari akan mengalami masa keemasan.

    “Hujan adalah lambing kesuburan, semoga ini sebuah tanda kebaikan bagi Singasari”, berkata seorang Brahmana tua dibawah tarub yang datang sebagai undangan menyaksikan pelantikan bersama guyuran hujan yang sepertinya tercurah dari langit.

    “Payung pananggungan tidak mampu menahan hujan”, berkata seorang tua renta yang berlindung di bawah pohon beringin tua ditengah lapangan alun-alun kotaraja.

    Untungnya hujan turun tidak berlarut sampai senja. Malam perjamuan menjadi begitu hangat, semua menikmati kegembiraan itu.

    Dan malampun akhirnya berlalu meninggalkan bumi, meyerahkan tahta sang waktu kepada sang pagi yang datang bersama sang surya menerangi seluruh dataran bumi dengan cahayanya yang hangat.

    Sementara itu, umbul-umbul dan janur masih menghiasi kotaraja, sebuah iring-iringan pasukan terlihat melintas dijalan menuju gerbang kotaraja. Mereka adalah pasukan yang ada dibawah pimpinan Senapati dan dua orang rangga muda yang baru kemarin dilantik. Meraka tengah kembali ketempatnya, ke Bandar Cangu.

    “Menguasai tanah Bali, itulah tugas pertama kita”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping.

    “Di Tanah Madhura ada Ki banyak Wedi, ditanah Pasundan ada Gurusuci Darmasiksa,dan di Tanah melayu kita sudah mengikatnya dengan perkawinan, hanya Bali yang belum kita ikat dengan apapun”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pandangannya.

  3. matur nuwun, matur nuwun, matur nuwun, …

  4. selamat malam, matur kesuwun

  5. hadu….
    baru sempat tilik padepokan
    hanya ngintip saja, cuapeke puol……
    ngantuk lagi…
    pamit nggih…
    mboten tumut ronda

    • eh…, lupa..
      rontal sudah berceceran
      belum sempat merapikan
      maaf ya Pak Lik

      kamsiiiaaaaa……………………..

  6. selamat siang semuanya

  7. “Di Bandar Cangu kita dapat meminta pertimbangan Paman Kebo Arema dan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Benar, mereka adalah ahli siasat yang mumpuni”, berkata Lawe ikut mengambil pembicaraan.

    Sementara itu ketika mereka menemui sebuah pertigaan, Wantilan dan Sembaga tidak dapat menyertai karena harus kembali ke Padepokan Bajra Seta.

    “Salam untuk kakang Mahesa Murti dan seluruh warga Padepokan”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian mereka kembali Ke Padepokan Bajra Seta.

    “Kami akan merindukan kalian”, berkata Sembaga sambil melambaikan tangannya.

    Kegamangan mengisi hati dan persaan Mahesa Amping menatap Wantilan dan Sembaga telah semakin menjauh dari pandangannya. Terlintas sebuah suasana di Padepokan Bajra Seta yang gayem. Hati kecil Mahesa Amping telah terbawa dalam kenangan dan kerinduannya pada Padepokan Bajra Seta nun jauh disana.

    Tidak terasa langkah kuda telah membawanya semakin keutara, membawanya mengikuti benang-benang merah garis kehidupan.

    Dan ketika senja turun membayangi wajah bumi, iring-iringan itu telah kembali di kesatuannya di Bandar Cangu.

    “Selamat datang wahai para perwira muda”, berkata Kebo Arema menyambut kedatangan mereka.

    “Selamat datang wahai Senapati muda”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

    “Selama tidak ada kalian, Senapati Mahesa Pukat selalu datang menemaniku, atau sebaliknya aku yang datang ke bentengnya”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah bersama di pendapa Balai Tamu.

    Sementara itu sang malam sudah mulai turun menutupi pandangan mata di atas langit Balai Tamu di pinggir sungai Brantas itu. Angin malam bersemilir sejuk. Malam itu kelihatannya hujan tidak akan turun, ada banyak bintang bertaburan di langit malam.

    “Sri Maharaja Kertanegara telah memberi tugas kepada kami untuk menguasai Tanah Bali, kami ingin masukan dari Paman berdua”, berkata raden Wijaya kepada Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

    “Aku dapat memahami pandangan Sri Maharaja Kertanegara atas Tanah Bali”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah terlihat dua warna.

    “Sampai saat ini kita belum mengetahui kekuatan Tanah Bali”, berkata Mahesa Pukat menyampaikan pandangannya.

    “Artinya kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahannya sebelum melakukan sebuah serangan”, berkata Raden Wijaya menangkap kata-kata Mahesa Pukat.

    • Kaaaaaaaaaammmssiiaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      ndhisiki,
      Ki Wayan
      Ki Made
      Ki Nyoman
      Ki Ketut.
      (sak durunge dilurug Mahisa Amping)

  8. “Harus ada seseorang yang dapat dipercaya, mengamati Tanah Bali dari dekat”, berkata Mahesa Pukat.

    Entah kenapa semua wajah tiba-tiba saja berbarengan memandang kepada Mahesa Amping.

    “Kenapa kalian semua memandangku ?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura keheranan.

    “Artinya semua sepakat kamulah yang paling cocok mengamati Tanah Bali dari dekat, melaksanakan tugas delik sandi”, berkata Raden Wijaya.

    “Seorang Rangga harus patuh melaksanakan perintah Senapatinya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Betul, betul, betul “, berkata Rangga Lawe membenarkan.
    Dan ketika hari telah bergulir dipertengahan malam, Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke Bentengnya.

    “Aku khawatir kalian tidak dapat beristirahat selama masih ada aku”, berkata mahesa Pukat sambil berdiri. “Sampai ketemu besok”, berkata Mahesa Pukat ketika menuruni tangga pendapa Balai tamu.

    “Aku lupa kalian baru pulang dari perjalanan panjang, beristirahatlah”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

    Akhirnya mereka satu persatu memang telah masuk kepembaringannya masing-masing, meregangkan otot-otot yang tegang berkuda seharian.

    Dan diatas langit Balai tamu ditepian Sungai Brantas itu masih dipenuhi kerlap-kerlip bintang-bintang kecil. Bulan sabit telah jatuh bergeser ke Barat. Langit purba di malam itu tidak berawan, begitu jernih berwarna biru kelam. Terdengar dikesunyian malam suara celepuk malam yang terus menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang terjebak jauh dari induknya. Dari tepian sungai Brantas tidak putus saling menyambut suara katak mengiringi malam, mungkin tengah memanggil dan merindukan datangnya sang hujan.

    Dan pagipun akhirnya datang juga, warna sungai dan langit seperti satu warna, putih keperakan disinari cahaya matahari pagi yang telah datang mengintip diujung timur bumi.

    Pagi itu Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah berkumpul bersama di pendapa Balai Tamu menikmati suasana dan warna pagi ditepian sungai Brantas yang indah. Di Hutan seberang sungai sekumpulan burung bentet loreng terbang bersama mencari persinggahan baru, sebagai tanda bahwa pergantian musim akan segera datang.

    “Aku punya kenalan seorang saudagar yang sering berdagang ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Sebuah berita baik, setidaknya aku dapat ikut berlayar bersamanya”, berkata mahesa Amping.

    “Aku akan menemuinya, kapan akan bertolak ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema.

  9. Sugeng enjing…

    Matur nuwunnn…..

  10. SUGENG SIANG, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

  11. SUGENG NDALU, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

    • TETEP SEMANGAAAAATTTTTT……!!!!????

  12. Selamat malam para kadhang sedoyo,
    Hadu…baru pulang lembur,belon punya bayangan, seharian si ilham pusing tujuh keliling cuma cari selisih koreksi penjurnalan…….

    • tidak apa-apa ki
      saya juga belum sempat baca dongengnya semalam
      PR akhir semester menumpuk puk….
      he he he ….
      ngintip bentar terus nyilem lagi

  13. Pagi itu matahari bersinar cerah mewarnai Bandar Cangu yang sudah ramai sejak pagi dini. Sebuah bahtera terlihat perlahan bertolak meninggalkan Bandar Cangu pelahan dibawa arus sungai Brantas yang jernih putih keperakan dibias cahaya matahari pagi. Bahtera dagang itu milik seorang saudagar yang akan berlayar menuju ke Tanah Bali. Diatas Bahtera itulah Mahesa Amping ada bersamanya.

    Angin yang berhembus diawal musim kemarau itu terasa begitu sejuk membelai wajah Mahesa Amping diatas geladak Bahtera.Tidak ada yang tahu bahwa pemuda itu adalah seorang Rangga prajurit Singasari. Mahesa Amping memang sengaja menyamarkan jati dirinya dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Kepada Saudagar yang sekaligus pemilik bahtera kayu ini yang menjadi kawan kenalan Kebo Arema, Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menemui saudara perempuannya yang sudah begitu lama berpisah.

    Bahtera itu terus melaju dibawa aliran sungai Brantas melewati hutan yang lebat dikanan kirinya, atau sesekali melewati hamparan sawah yang luas menghijau, diselingi puluhan burung bangau putih terbang melintas, berkerumun turun diatas pematang sawah. Seorang bocah kecil terlihat berlari mengusik burung bangau yang terbang kembali menjauh.

    Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, ternyata dirinya tengah merenungi garis hidupnya yang Padepokan Bajra Seta, hidup sebagai seorang cantrik, merasakan suasana kehidupan padepokan Bajra Seta yang Gayem, mengembara berlayar keberbagai belahan dunia, hingga akhirnya telah diangkat sebagai seorang prajurit, diangkat sebagai seorang Rangga.

    Sementara itu sang waktu terus berlalu, bahtera itu telah mendekati Bandar Curabhaya disaat menjelang senja.

    Hanya sebentar bahtera itu bersandar di Bandar Curabhaya, setelah memuat dan menuruni beberapa barang pesanan, bahtera itu telah bertolak kembali kearah timur Jawadwipa menuju Tanah Bali.

    Bahtera itu telah mengembangkan layarnya, angin laut berhembus cukup kencang. Dibawah langit malam bahtera itu terapung diatas hamparan laut biru yang luas menyusuri tepian pantai Jawadwipa.

    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Untuk pertama kalinya”, berkata Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.

    “Apakah anak muda punya saudara yang tinggal di Tanah Bali ?”, bertanya orang tua itu.

    “Aku punya seorang saudara perempuan yang sudah lama tinggal di Tanah Bali”, berkata Mahesa Amping.
    Tanpa ditanya orang tua itu bercerita bahwa dirinya adalah seorang pedagang batu aji.

    “Kadang aku juga berdagang keris bertuah, tergantung pesanan”, berkata orang tua itu.

    • lumayan….dapet juga satu rontal,

      • KAMSIA…..selamat PAGI,

  14. ki sandikala, …

    =====
    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.
    …. dst …..
    =====

    menurut saya, itu adalah “bagian terbaik” dari seluruh rontal yang sudah di posting, …

    ada baiknya jalan ceritanya “diperlambat” dengan menuturkan keadaan, perilaku, dan peristiwa yang terjadi di sekeliling tokoh yang sedang diceritakan, … kalau tidak keliru, istilahnya “romantis”, …

    nuwun, …

    • betul… betul… betul…

      • betul,betul, betul, kecepatan dikurangi biar bisa melihat-lihat pemandangan alam sekitar….bukankah begitu Ki Sukasrana ????

  15. betul… betul… betul…kamsiiiaaaa

  16. Kebersamaan mereka sebagai sesama penumpang dibahtera, sama-sama berlayar ditengah lautan luas telah membawa keakraban diantara mereka.

    “Orang-orang memanggilku sebagai Ki Ketut Areng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya.

    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping ikut memperkenalkan dirinya.

    “Singgahlah kerumahku beberapa hari sebelum melanjutkan perjalananmu”, berkata orang tua itu yang mengaku bernama Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping untuk singgah dirumahnya.

    “Terima kasih, aku akan singgah”, berkata Mahesa Amping kepada kawan berlayarnya itu.

    “Hari masih jauh pagi, sebaiknya kita tidur beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng sambil menggelar tikar pandan yang dibawanya. “Tikar ini cukup untuk kita berdua”, berkata Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping berbagi tikar pandannya sebagai alas tidur menanti datangnya pagi.

    Akhirnya mereka terlihat lelap tertidur diatas geladak bahtera, angin dingin laut malam tidak terasa berhembus menyapu. Terlihat seluruh tubuh mereka sudah terbungkus kain panjang sekedar mengurangi dinginnya angin laut malam.

    Langit malam sedikit demi sedikit semakin surut berganti menjadi langit pagi. Ditandai dengan warna semburat kemerahan menyala diujung timur bumi. Dan semburat warna merah itu akhirnya merata mewarnai seluruh lengkung langit.

    “Malam telah kita lewati”, berkata Ki Ketut Areng yang mulai terjaga dari tidurnya kepada Mahesa Amping yang sudah bangun lebih dulu tengah bersandar didinding geladak.

    “Itukah Balidwipa ?”, bertanya Mahesa Amping sambil menunjuk kearah timur matahari.

    “Itulah Balidwipa, pulau tempat matahari terbit”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap cahaya kuning matahari yang mengintip dari balik bumi Tanah Bali.

    “Bahtera sepertinya akan merapat”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bahtera berbelok ke kanan kearah tepian pesiri Tanah Jawa.

    “Benar, bahtera akan merapat di Tanah Sempit sempit”, berkata Ki Ketut Areng yang kelihatannya sudah sering berlayar menuju Tanah Bali.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Ketut Areng, bahtera memang tengah merapat disebuah Bandar kecil bernama Tanah sempit sempit, entah kenapa dinamakan demikian, mungkin letak Bandar itu yang dibatasi oleh dua buah anak sungai yang bermuara diselat Bali, mungkin.

    “Diujung senja bahtera ini baru akan berlayar kembali, mari kita turun kedarat”, berkata Ki Ketut Areng yang telah bersiap-siap untuk turun kedarat.

    • lumayan…dapet satu rontal

  17. Bulat penuh matahari sudah terlihat diujung timur langit, cahaya pagi telah menerangi seluruh tanah Bandar kecil itu. Terlihat Ki Ketut Areng diiringi Mahesa Amping tengah mendekati sebuah perkampungan nelayan.

    Ternyata mereka tengah mendekati sebuah kedai makanan yang ada di perkampungan nelayan itu.
    “Kami minta minuman hangat”, berkata Ki Ketut Areng kepada pemilik kedi itu.

    Tidak lama kemudian pemillk kedai itu sudah membawakan minuman hangat serta beberapa jajanan.

    “Aku membawa kesukaan tuan, serabi dan dage goreng”, berkata pemilik kedai itu kepada Ki Ketut Areng yang ternyata sudah sangat sering berkunjung ke kedainya.

    Terlihat Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng tengah menikmati minuman hangat serta serabi dan Dage gorengnya.

    “Apa yang biasa Ki Ketut Areng lakukan selama menunggu bahtera berlayar kembali ?”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng.

    “Berdagang”, berkata Ki Ketut Areng sambil tersenyum.

    “Berdagang ?”, bertanya Mahesa Amping keheranan.

    “Diperkampungan nelayan ini ada seorang juragan yang cukup makmur, aku akan menawarkan sebuah keris kecil kepadanya”, berkata Ki Ketut Areng.

    Maka ketika bumi sudah terang tanah, Ki Ketut Areng dan Mahesa Amping terlihat telah keluar dari kedai itu. Terlihat mereka tengah memasuki perkampungan itu menuju kesebuah rumah panggung yang paling besar yang ada di perkampungan nelayan itu.

    “Selamat bertemu kembali wahai juragan besar”, berkata Ki Ketut Areng melambaikan tangannya kepada seorang yang berwajah bundar berperawakan sedang diatas panggung pendapanya.

    “Naiklah ketas Ki Ketut”, berkata orang itu kepada Ki Ketut Areng.
    Terlihat Ki Ketut Areng diringi Mahesa Amping tengah menaiki anak tangga pendapa.

    “Perkenalkan teman mudaku”, berkata Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata seorang yang sangat ramah.
    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping memprkenalkan dirinya.

    “orang-orang memanggilku Ki Sukasrana”, berkata orang itu memperkenalkan dirinya.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Ki Sukasrana pun bercerita tentang batu aji yang pernah dibelinya dari Ki Ketut Areng.

    • suwun…suwun…suwun…
      eh….,
      kammssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      • diperLAMBAT biar tambah nikmat…..KAMSIA pak DALANG

  18. cantrik HADIR,

    • cantrik nyusul HADIR,, matur nuwun

  19. horee, … aku dishooting, …. hahahahaha, …. !!!!

    naaahhh, …. ini lebih baik ki, … pembaca serasa terlibat langsung dalam peristiwa yang diceritakan. … itulah gaya atau ciri khas begawan sh mintardja, …

    kamsiaaa, … !!!!

  20. “Batu aji nya telah kuikat dengan ikatan kuningan”, berkata Ki Sukasrana sambil memperlihatkan sebuah batu cincing dijarinya yang berwarna seperti buah atap.”Ternyata batu akik ini adem dipakainya”, berkata Ki Sukasrana yang merasa cocok dengan batu akik yang dipakainya.

    “Aku membawakan untukmu sebuah keris kecil, sebagaimana barang yang biasa kubawa, Ki Sukasrana boleh menyimpannya dulu, bila sehari dua hari ada kecocokan, silahkan Ki Sukasrana membelinya”, berkata Ki Ketut mengeluarkan sebuah keris kecil berwarna emas.

    Sebagai seorang yang ahli pembuat berbagai senjata, Mahesa Amping dapat mengetahui bahan apa yang digunakan untuk pembuatan keris kecil itu, tapi Mahesa Amping tidak menunjukkan keahliannya didepan kedua orang itu.

    “Aku akan menyimpannya”, berkata Ki Sukasrana kepada Ki Ketut Areng sambil menerima keris kecil itu.

    Namun belum lama mereka bercakap-cakap, terlihat empat orang lelaki tengah memapah seorang yang nampaknya telah pingsan mendekati rumah Ki Sukasrana.

    “Itu anak buahku”, berkata Ki Sukasrana mengenali orang-orang yang datang.

    “Ada apa dengan Tole ?”, berkata Ki Sukasrana kepada salah seorang yang datang memapah kawannya itu.

    “Tidak sengaja kami mendapatkan ular api dijaring kami, Tole bermaksud membuangnya, namun tiba-tiba saja ular api itu mematuk kakinya”, berkata salah seorang yang baru datang itu.

    “Bawa Tole keatas pendapa, segera panggilkan Tabib Koneng kemari”, berkata Juragan Sukasrana kepada anak buahnya.

    “Sudah tiga hari ini Tabib Koneng belum pulang mengantar istrinya ke rumah mertuanya di kampong kidul”, berkata salah seorang anak buah Ki Sukasrana.

    “Badannya masih hangat, mungkin aku dapat mengobatinya”, berkata Mahesa Amping yang tanpa disuruh telah memeriksa badan orang yang tengah pingsan itu.

    Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan belati kecilnya dari balik pakaiannya. Dan dengan cekatan tangan Mahesa Amping telah mengerat bagian kaki yang terluka dipatuk ular. Dengan mimijat beberapa bagian tubuh orang yang telah pingsan itu, dan sedikit mengerahkan kesaktiannya, telapak tangan Mahesa Amping menempel di bagian yang terluka itu. Tidak begitu lama telah keluar darah hitam dari kaki yang terluka.

    “racunnya telah keluar”, berkata mahesa Amping ketika darah merah terlihat keluar dari bagian luka orang yang pingsan itu.”Ambilkan segelas air”, berkata Mahesa Amping.

    Maka salah seorang anak buah Ki Sukasrana masuk kedalam rumah, tidak lama kemudian sudah membawa semangkuk air.

  21. Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan sebuah bubu bambu yang selalu dibawanya dibalik ikat pinggangnya. Ternyata didalam bubu bamboo kecil itu berisi bubuk racikan obat. Mahesa Amping terlihat tengah melarutkan bubuk racikan obat itu dengan air yang ada dimangkuk. Dan dengan tangannya meneteskan air itu ke bibir orang yang pingsan itu.
    Tidak lama kemudian, terlihat wajah orang yang pingsan itu yang semula putih pucat terlihat sudah mulai berwarna memerah. Mahesa Amping terlihat memegang lengan orang itu.

    “Denyut nadinya telah normal kembali”, berkata Mahesa Amping sambil menarik nafas lega sebagai tanda bahwa orang yang terkena bisa racun ular api itu dapat diselamatkan.

    Melihat perubahan diwajah orang yang pingsan itu, beberapa orang yang ada di pendapa itu ikut menarik nafas lega, merasa kawannya akan sembuh dan dapat diselamatkan.

    “Dimana aku ?”, bertanya orang yang pingsan itu ketika membuka matanya melihat banyak orang disekelingnya.

    “ kamu baru saja selamat dari bisa racun ular api”, berkata Ki Sukasrana kepada orang yang baru siuman itu.

    ”Minumlah obat ini sampai habis”, berkata mahesa Amping sambil memberikan mangkuk berisi obat racikannya kepada orang yang baru siuman itu yang sudah dapat duduk bersandar dinding kayu.

    Terlihat orang itu meminum obat racikan disebuah mangkuk yang diberikan Mahesa Amping dan kembali bersandar didinding kayu, wajahnya terlihat semakin segar tidak pucat lagi sebagaimana sebelumnya.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah menyelamatkan anak buahku”, berkata K Sukasrana yang melihat anak buahnya sudah menjadi lebih segar daro sebelumnya.

    “Diujung barat kampung ini kulihat ad hutan kecil, carilah jamur kayu merah dihutan itu, mudah-mudahan penyembuhannya akan menjadi lebih cepat lagi”, berkata Mahesa Amping sambil menyebut beberapa tumbuhan yang banyak tumbuh disekitar perkampungan itu sebagai bahan campuran obat.

    “Aku tidak menyangka bahwa teman mudaku ini adalah seorang tabib”, berkata Ki Ketut Areng

    “Aku hanya punya sedikit ilmu”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

    “Antarlah Tole kerumahnya, jangan lupa untuk mencarikan jamur kayu merah dan beberapa bahan tumbuhan untuk obat”, berkata Ki Sukasrana kepada keempat anak buahnya untuk mengantar Tole yang sudah dapat berdiri, meski masih sedikit lemas.

    Sementara itu matahari diatas perkampungan nelayan itu sudah cepat naik kepuncaknya, untungnya didepan rumah Ki Sukasrana berdiri tumbuh sebuah pohon jamblang yang berdahan dan berdaun cukup lebat sehingga sinar matahari tidak langsung masuk menyengat kulit disiang hari itu.

    “kalian pasti sudah sangat lapar”, berkata Ki Sukasrana sambil berdiri tersenyum.

    • lumayan…..hari ini pulang gawe agak sorean dikit, hehehe

  22. ikut-ikutan sok tau ah, ……

    belum sempat mahisa amping dan ki ketut areng berdiri, pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah nyai sukasrana. “silakan kisanak, makan seadanya. hari ini saya masak lawar, pepesan ayam dan mangut lele, …”

    dan seterusnya terserah ki sandikala, ….

    • wah…..
      giliran Ki Sukasrana rupanya, he he he …..
      asiikkk……………

      eh…, hampir lupa
      kamsiaaaa………….. …………. ….. …. .. . . .
      (makin lama makin tidak terdengar karena sudah nyilem lagi

  23. Ternyata Ki Sukasrana masuk kedalam untuk menengok Nyai Sukasrana yang sudah hampir selesai menyelesaikan beberapa masakan.

    Ki Sukasrana telah kembali ke pendapa menemani tamunya. Tidak lama berselang terdengar pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah Nyai Sukasrana yang sekilas masih nampak sisa-sisa kecantikannya ketika masih muda dulu.

    “Silahkan kisanak makan seadanya, hari ini kami Cuma memasak lawar, pepesan ayam dan mangut lele”, berkata Nyai Sukasrana kepada mahesa Amping dan Ki Ketut Areng.

    “Terima kasih, kami telah merepotkan nyai”, berkata Ki Ketut Areng kepada nyai Sukasrana yang hanya tersenyum dan kembali lagi masuk kedalam menghilang dibalik pintu pringgitan.

    Dan sang waktu ternyata begitu cepat berlalu, tidak terasa matahari sudah rebah turun sedikit ke barat.
    “Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian”, berkata Ki Sukasrana mengantar Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng menuruni tangga pendapanya.

    “Semoga dipertemuan berikutnya, buah jamblang itu sudah banyak yang masak”, berkata Mahesa Amping menunjuk kearah pohon jamblang didepan rumah Ki Sukasrana.

    “Semoga tidak ada hambatan dalam perjalanan kalian”, berkata Ki Sukasrana dari atas pendapanya.

    Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah kembali ke Bandar kecil itu. Bahtera yang mereka tumpangi masih terlihat merapat disebuah dermaga.

    Ketika matahari sudah berbaring diujung barat bumi, dibatas senja bahtera itu telah bertolak meninggalkan Bandar Tanah sempit sempit.

    Sang malam terlihat begitu kelam mewarnai langit laut selat Bali, tapi masih ada beberapa bintang sebagai tanda bahwa hari tidak akan turun hujan.

    Bahtera itu berlayar diatas hamparan laut sunyi. Kadang terlihat kerlap-kerlip lampu centing bergoyang diatas jukung berlayar tunggal nelayan yang tengah mencari ikan, mereka memang terlahir sebagai nelayan, hidup berkeluarga dan beranak pinak melahirkan para nelayan muda di masa yang akan datang. Sebuah kehidupan malam ditengah lautan yang begitu sunyi, menjaring ikan untuk kehidupan keluarganya. Dan mereka tidak pernah jemu untuk melakoninya. Adalah sebuah kebahagiaan tak terkira manakala pulang dari melaut membawa banyak ikan dikaping bambu. Itulah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli, sebagaimana seorang petani melihat panen jagungnya.

    “Besok menjelang pagi kita sudah tiba di Bandar Buleleng”, berkata Ki Ketut Areng kepada Mahesa Amping yang tengah melihat dua orang lelaki diatas jukungnya terapung ditengah laut malam.

    Sementara itu angin bertiup begitu dingin, tidak terasa bahtera telah melewati selat Bali. Disebelah kanan bahtera membujur gundukan tanah hitam. Itulah Balidwipa disaat malam kelam seperti bayi raksasa yang tengah tertidur.

  24. Gemuruh ombak dipantai kuta
    Sejuk lembut angin di bukit Kintamani
    Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
    Tak mampu mengusir..kau yang manis

    • Bila saja kau ada di sisiku……………………..

  25. MATUR NUWUUUUUN

    • sama-sama ki……”tetep semangat”

      • ni SINDEN ijin pulang kampung…..mumpung libur 3 hari (katanya)

        nyanyi sik ah :
        Siapa yang mau menghuni gedung tua Siapa yang sudi singgah dihati ini Tanpa keramaian kemewahan sunyi……!!!???

        siapa yang mau, jaga gandok malam ini…..siapa, siapaaaa…..!!!???

  26. “Ketika bertolak dari Bandar Cangu, aku tidak merasakan apapun. Namun manakala Bahtera sudah mulai menyentuh pesisir Bali, hati ini seperti tersentak-sentak, ingin rasanya aku terjun berenang ketepian dan berlari pulang”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap pesisir tepian pantai Bali yang terlihat masih menghitam, hanya terlihat kerlip beberapa lampu-lampu kecil berasal dari lampu lenting rumah penduduk di tepi pantai seperti melihat gundukan tanah hitam bertabur bintang-bintang.

    “Mari duduk bersandar, malam masih sangat panjang”, berkata Mahesa Amping kepada ki Ketut Areng yang masih berdiri memandang jauh ketepi pesisir pantai.
    Tidak lama kemudian Ki ketut Areng telah mengikuti
    Mahesa Amping bersandar didinding geladak.

    Malam diatas kepala mereka seperti payung langit raksasa, dalam kekerdilannya, bahtera sepertinya tidak bergerak. Dan Ki Ketut Areng tidak terasa telah bergeser rebah berbaring dan akhirnya telah tertidur. Tinggalah Mahesa Amping yang masih terjaga bersandar didinding geladak. Dan tidak terasa Mahesa Amping telah bergeser berbaring dan akhirnya ikut tertidur.

    Terkejut Mahesa Amping ketika membuka matanya, langit diatas bahtera sudah terang, ternyata sang pagi sudah datang menjelang.

    “hari sudah pagi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng yang juga telah ikut terbangun.

    Setelah merapikan pakaian dan ikat kepalanya, terlihat Mahesa Amping berdiri dipinggir geladak bersama Ki Ketut Areng memandang tak jemu pulau Bali yang hijau terbungkus pohon-pohon hutan yang besar, tinggi dan kerap rapat.

    Bahtera semakin merapat ke pantai mendekati tepian. Diujung timur terlihat tiang-tiang layar bahtera berjajar. Kearah itulah bahtera yang ditumpangi Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng bergerak menghampirinya.

    Bahtera itu telah hamper merapat disebuah dermaga kayu yang panjang, seorang lelaki terlihat dengan beraninya melompat dari geladak sambil membawa tambang besar. Dan ketika kakinya telah menyentuh lantai geladak, dengan cekatan mengikat tali di sebuah tonggak kayu.

    Bahtera telah merapat dan bersandar di Bandar Buleleng yang cukup ramai sebagaimana suasana di Bandar-bandar besar di tanah jawa.

    “Terima kasih untuk tumpangannya”, berkata mahesa Amping kepada saudagar pemilik bahtera.
    “Tunggulah bahtera kami bilamana kamu akan kembali ke tanah Jawa”, berkata saudagar itu kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah menginjakkan kakinya didermaga. Terlihat beberapa orang tengah membawa kuda yang akan diangkut berlayar, mungkin kesebuah tempat yang jauh.

    “Rumahku tidak begitu jauh dari sini”, berkata ki Ketut Areng dengan wajah begitu ceria merasakan udara kampung halamannya sendiri.

  27. Ternyata rumah Ki Ketut Areng memang tidak begitu jauh dari Bandar Buleleng, hanya terpisah dengan sebuah hutan kecil.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng sudah mendekati sebuah regol gerbang Kademangan Kabukbuk. Sebuah Kademangan yang paling dekat dengan Bandar Buleleng.

    Tidaklah aneh bila Kademangan itu cukup ramai menjadi tempat persinggahan orang-orang Bali pedalaman yang akan membawa berbagai dagangannya ke Bandar Buleleng diantaranya adalah ternak kuda sebagaimana yang mereka lihat tengah diangkut berlayar di Bandar buleleng.

    Di pintu regol, Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng disambut gembira oleh seorang gadis yang ternyata putrid tunggal Ki Ketut Areng.

    “Ibu masih belum pulang kepasar”, berkata gadis itu kepada ayahnya Ki Ketut Areng.

    Mahesa Amping dipersilahkan bersih-bersih di pakiwan. Setelah itu Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat beritirahat bercakap-cakap di rumah bamboo, sebuah bangunan yang bertiang bamboo terbuka dan terpisah dari bangunan utama.

    Rumah Ki Ketut Areng memang terlihat asri, ada beberapa tanamam bunga yang terawatt apik di halaman dan tiga buah pohon jepung merah berdiri disisi kiri pagar dinding batu.

    Tidak lama kemudian datanglah dari regol pintu halaman seorang wanita sambil menjungjung keranjang diatas kepalanya yang ternyata adalah Nyai Ketut Areng yang baru pulang dari pasar.

    Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada istrinya. Dan hari itu keluarga Ki Ketut Areng sepertinya merayakan kebahagiaannya dengan memasak berbagai hidangan.

    Hari itu Mahesa Amping bermalam dirumah Ki Ketut Areng, sudah menjadi kebiasaan Mahesa Amping bangun di awal pagi.

    “Wanita bali memang terbiasa melakukan kerja keras seperti membajak sawah dan mencangkul”, berkata Ki Ketut Areng yang dapat membaca keheranan Mahesa Amping melihat istri dan putrid Ki Ketut Areng pagi-pagi sudah keluar rumah membawa pacul dan arit kesawah.

    “Apa kerja laki-laki Bali ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Berjudi menyabung ayam ”, berkata Ki Ketut Areng sambil membelai leher ayam kesayangannya yang sudah lama ditinggalkannya.

    “Nikmat sekali terlahir sebagai pria Bali”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

    Hari itu Ki Ketut Areng mengajak mahesa Amping ke rumah kenalannya seorang pedagang kuda, Mahesa Amping memang sengaja meminta Ki Ketut Areng mencarikannya seekor kuda yang baik.

    “kuda ini asli Sumbawa, beruntung aku belum membawanya kepasar”, berkata kenalan Ki Ketut Areng seorang pedagang kuda.

  28. kulo pesen kuda poni mawon pak dalang, matur nuwun

  29. Malam itu bulan bersinar bulat penuh menyinari halaman rumah Ki Ketut Areng. Semilir angin menggoyangkan bunga dan daun kemboja di sudut halaman rumah. Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat masih berbincang-bincang seputar rencana perjalanan mahesa Amping ke Puri Besakih.

    “Puri Besakih hanya berjarak dua hari perjalanan berkuda”, berkata Ki Ketut Areng memberikan gambaran arah menuju Puri Besakih. Sebagai seorang pedagang batu aji, pengenalan Ki ketut Areng tentang berbagai daerah di Tanah bali memang cukup luas.

    “Puri Besakih terletak dilereng Gunung Agung, berjalanlah mengambil arah matahari terbit disebelah kananmu”, berkata Ki Ketut Areng menambahi penjelasanya.

    Sementara itu angin didepan halaman Ki Ketut Areng semakin dingin, bunga-bunga kemboja merah terlihat banyak berserakan.

    “Saatnya beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng mengajak Mahesa Amping beristirahat karena esok hari akan melakukan perjalanan panjang.

    Malam diatas rumah Ki Ketut Areng berlalu dalam sunyi, hanya suara gemeriaicik air yang terdengar tiada henti berasal dari sungai kecil disebelah rumah Ki Ketut Areng.

    Dan disaat pagi sudah terang bumi, Mahesa Amping pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

    “Aku berdoa untukmu, semoga tidak ada halangan dan hambatan diperjalananmu”, berkata Ki Ketut Areng melepas keberangkatan Mahesa Amping.

    Terlihat Mahesa Amping menuntun kudanya keluar dari regol pintu halaman Ki Ketut Areng.Dan dengan lincahnya telah melompat diatas kudanya.

    “Kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya. Mendapat perintah dari tuan barunya kuda itu seperti mengerti telah melangkahkan kakinya berjalan perlahan.

    “Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu”, berkata Ki Ketut Areng sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping berkuda diatas jalan Kademangan yang sudah ramai orang berlalu lalang untuk pergi ke sawah atau pergi ke pasar.Ketika telah keluar dari regol pintu gerbang Kademangan Kabukbuk, terlihat Mahesa Amping mengambil arah kekanan menyusuri jalan yang sepertinya sudah mengeras, sebagai tanda sering dilewati gerobak kuda memuat barang penuh muatan.Sementara itu Matahari pagi mengintip dari sela-sela daun dan dahan pokok-pokok pohon kayu yang tinggi menjulang disepanjang perjalanannya. Harum tanah hutan basah yang tertiup angin begitu menyegarkan.

    “Aku ingin mencoba sejauh mana kekuatan nafasmu”, berkata mahesa Amping kepada kuda barunya sambil menjejakkan kakinya keperut kudanya.

    Ternyata kuda itu adalah kuda yang pintar, tahu perintah tuannya. Maka terlihat kuda itu telah berlari begitu cepatnya.

    “Kuda pintar”, berkata Mahesa Amping yang merasa gembira dibawa kudanya berlari cepat.

    • lumayan….ba’da subuh dapet satu lontar,

      Selamat pagi para kadhang sedoyo, semalam cuma Ki bancak yang datang ke gardu ronda,

      Pagi ini siap-siap mengantar sang permaisuri ke pura TAKLIM Bukit duri Jakarta alias pengajian rutin kaum ibu, hehehe 3x

  30. “Betul, betul, betul“, berkata Rangga Lawe membenarkan., seperti nonton upin ipin aja………..

    • loh….
      dah lama gak sambang padepokan Ki
      sehat saja kan?

  31. pada kesempatan ini, saya menyampaikan selamat natal kepada sanak kadang yang merayakannya. semoga tuhan selalu bersama kita.

    damai di bumi, damai di surga, …

  32. Sugeng ndalu…

    Lama tidak menyambangi padepokan, eh, Tole kok digigit ular. Apes temen tho yaaaa….

    Kamsiaaaa….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: