SFBDBS-08

SFBDBS 08-207

“Gila anak muda ini”, berkata dalam hati mahesa Rangga yang melihat Mahesa Amping tidak berpengaruh sama sekali dengan lecutan-lecutan cambuknya yang telah dikerahkan dengan kekuatan ilmu puncaknya.

Beberapa lawan tandingnya selama ini sudah langsung rontok isi dadanya hanya dengan menghentakkan cambuknya, sementara itu dilihatnya Mahesa Amping sepertinya tidak berpengaruh apapun, bahkan dengan cepat dan tak terduga telah merangsek mendekatinya dengan serangan belatinya yang tidak kalah berbahayanya.

Tiba-tiba saja Mahesa Rangga melompat menghindar jauh.

“Senjata ini tidak dapat berbuat banyak”, berkata Mahesa Rangga sambil mengikat tali cambuk melilit dipinggangnya.

“Agar seimbang, aku juga tidak memerlukan senjataku”, berkata Mahesa Amping sambil menyimpan kembali belati pendeknya diselipkan di balik kainnya.

“Aku ingin mengukur sejauh mana kekuatanmu anak muda”, berkata Mahesa Rangga yang sudah menerjang Mahesa Amping dengan sebuah tendangan yang meluncur.
Mahesa Amping menyadari bahwa di ujung serangan itu ada angin yang mendesis begitu panas. Ternyata Mahesa Rangga telah mengeluarkan ilmu pamungkasnya, menyerang dengan pukulan angin panas.

Untungnya Mahesa Amping telah memiliki kekuatan tersembunyi yang selalu melindungi segala bahaya yang akan mengancam, kekuatan tersembunyi itu keluar dengan sendirinya melindungi dengan kekuatan berlawanan. Hawa panas itu dengan seketika dapat diredam dengan hawa dingin yang keluar dengan sendirinya. Dan Mahesa Amping telah mampu mengendalikannya dengan kekuatan berlipat.

“Kurang ajar”, teriak Mahesa Rangga yang berusaha menarik kembali luncuran tendangan kakinya melompat menjauh, ternyata Mahesa Rangga telah merasakan hawa dingin yang kuat sepertinya menusuk kakinya.

“Jangan berbangga hati”, berkata Mahesa Rangga sambil meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi langsung menyerang Mahesa Amping dengan sebuah pukulan yang mengeluarkan angin panas. Sekali lagi Mahesa Amping dapat meredamnya sambil menghindar dan berbalik menyerangnya.

Demikianlah pertempuran menjadi semakin seru jauh lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya ketika mereka masing-masing menggunakan senjata andalannya.

Sementara itu pertempuran antara prajurit Singasari dan para gerombolan Mahesa Rangga sepertinya sudah dapat ditentukan, siapa yang telah dapat menguasai medan. Terlihat gerombolan Mahesa Rangga semakin susut berkurang satu persatu, tinggal beberapa orang saja yang masih tetap bertahan.

Terlihat Raden Wijaya, Lawe, Sembaga dan Wantilan telah menyebar membantu para prajurit Singasari. Mereka nampaknya menjadi penentu dalam setiap kelompoknya. Pertempuran menjadi semakin tidak berimbang. Satu persatu orang-orang gerombolan Mahesa Rangga berguguran tewas, terluka atau tertawan.

Kembali kepertempuran antara Mahesa Amping dan Mahesa Rangga yang sudah memasuki tataran ilmu puncak mereka. Namun Mahesa Amping adalah seorang ahli bahkan dapat dikatakan sebagai Seorang empu untuk bidang kanuragan, sebagai seorang ahli biasanya dengan cepat dapat menghapal dan merekam gerakan lawan, dan Mahesa Amping mengetahui dari setiap langkahnya bahwa Mahesa Rangga diam-diam telah merekam setiap gerakan Mahesa Amping.

Dan ternyata permainan Mahesa Amping sudah tinggal menuai hasilnya, karena selama pertempuran itu Mahesa Amping telah merubah beberapa unsur untuk mengelabui lawannya.

Maka dalam sebuah gebrakan, Mahesa Rangga telah berhasil ditipu oleh Mahesa Amping, sebuah pukulan kedepan yang seharusnya disusul dengan tendangan melingkar, maka ketika Mahesa Rangga tengah menunggu tendangan melingkar ternyata tidak kunjung datang, yang ada adalah sebuah pukulan kedepan yang dilanjutkan dengan bacokan tangan terbuka ke arah leher.

Bukkk!!!

Sebuah bacokan tangan terbuka mengenai batang leher Mahesa Rangga, sebuah pukulan yang dilambari tenaga hawa inti es yang langsung seketika telah membekukan urat leher Mahesa Rangga.

Seketika itu juga Mahesa Rangga merasakan kegelapan, tubuhnya terlihat agak sempoyongan. Tapi kesempatan itu tidak dipergunakan oleh Mahesa Amping, terlihat Mahesa Amping hanya berdiam diri menunggu Mahesa Rangga siap kembali.

“Apakah sudah siap untuk melanjutkan ?”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Rangga yang dilihatnya sudah dapat berdiri tegak kembali.

“Kesombonganmu akan menjadi penyesalan seumur hidupmu”, berkata Mahesa Rangga yang bukannya mengucapkan terima kasih bahkan sebaliknya perlakuan Mahesa Amping disikapi sebagai sebuah kesombongan.

Ternyata Mahesa Rangga masih punya ilmu simpanan, seketika sebuah kabut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya dan melebar menutupi seluruh area tanah datar. Siapapun tidak dapat lagi melihat keadaan sekitarnya.

Tapi kali ini Mahesa Rangga salah perhitungan, dianggapnya pemuda yang menjadi lawannya tidak dapat berbuat apa-apa.

Mahesa Rangga salah duga, pemuda yang menjadi lawannya ternyata sudah mempunyai ilmu yang mumpuni, ketajaman matanya dapat melihat sampai ketempat yang jauh, dan ketajaman matanya mampu juga melihat semut hitam diatas batu hitam disaat malam hari yang gelap.

Ketajaman mata Mahesa Amping mampu melihat kedua tangan Mahesa Rangga tengah memegang masing-masing sebuah paser yang siap dilemparkan kearah Mahesa Amping.

 ———-oOo———-

SFBDBS 08-208

Mahesa Rangga tidak menyangka sama sekali, tiba-tiba saja dirasakan pada tangan kanannya rasa sakit yang sangat seperti terbakar, seketika itu juga tangannya terasa lumpuh, paser ditangannya sudah terjatuh.

Mahesa Rangga tidak menyangka sama sekali, tiba-tiba saja sebuah belati pendek telah menancap dilengan kirinya, paser ditangan kirinya pun telah terjatuh.

Ternyata Mahesa Amping telah melakukan langkah yang tepat, dari sinar matanya melesat sebuah cahaya menyambar dan membakar lengan kanan Mahesa Rangga, sementara sebuah belati yang disimpannya di balik kainnya dengan cepat telah meluncur tepat di pergelangan lengan kiri Mahesa Rangga.

Kabut disekitar arena pertempuran sudah semakin pudar menipis kemudian akhirnya telah hilang sama sekali, karena sumber kabut itu sendiri sudah terluka di kedua pergelangan tangannya.

Terlihat Mahesa Rangga tengah berdiri tegak, sementar kedua tangannya terlihat layu kaku tidak mampu digerakkan.

“Apakah pertempuran ini masih harus dilanjutkan”, berkata Mahesa Amping.

“Terima kasih, kamu telah member kesempatan hidup untukku”, berkata Mahesa Rangga dengan bulu kuduk meremang, membayangkan sebuah sinar panas atau sebuah belati tertuju pada jantungnya, mungkin ia tidak akan sempat lagi mengucapkan sebuah kat-kata apapun, juga pernyataan terima kasihnya.

“Apakah paman sudah menyerah?”, bertanya Mahesa Amping menegaskan.

“Aku menyerah kalah”, berkata Mahesa Rangga terunduk lesu tidak dapat berbuat apapun, terutama mengangkat belati yang telah menancap sampai tembus ujungnya kebelakang, darah segar menetes dari luka itu.

“Aku akan merawat luka paman”, berkata Mahesa Amping mendekati Mahesa Rangga. Dan dengan sigap mencabut belati dari tangan Mahesa Rangga. Dengan sigap pula Mahesa Amping menutup kedua luka atas dan bawah di lengan kiri Mahesa Rangga dengan sebuah ramuan yang selalu dibawanya. Dan ternyata ramuan obat Mahesa Amping yang berupa bubuk itu telah memampatkan darah yang mengalir. Mahesa Amping merobek sebagian kainnya dan membalut luka dipergelangan tangan kiri Mahesa Rangga.

“Terima kasih, ternyata kamu bukan seorang yang sombong, hati kamu begitu bersih anak muda”, berkata Mahesa Rangga yang merasa terharu atas sikap Mahesa Amping yang tidak menampakkan sama sekali sikap permusuhan. Mahesa Rangga sepertinya melihat kedalam dirinya, melihat jauh ke rongga hatinya yang begitu keruh, sikap diri yang begitu angkuh, merendahkan orang-orang lemah, dan merasa dapat berbuat apapun dengan ketinggian ilmunya.

“Maafkan aku, kedua tangan paman mungkin akan lumpuh seumur hidup”, berkata Mahesa Amping.

“Kelumpuhan kedua tangan ini tidak berarti dibandingkan kelumpuhan mata hatiku selama ini”,berkata Mahesa Rangga dengan mata bersinar telah menemukan sesuatu yang selama ini tidak ditemuinya. “kelumpuhan kedua tangan ini telah meruntuhkan kesombonganku, telah membunuh keangkuhanku selama ini, dan hari ini aku mendapatkan penguasa yang sebenarnya, penguasa atas jiwa ini yang sebenarnya”, berkata Mahesa Rangga dengan wajah begitu pasrah.

“Paman telah tersasar di rimba Tattwa, hari ini paman telah ditunjukkan jalan sebenarnya, jalan menuju mata Siwa”, berkata Mahesa Amping sepertinya dapat membaca dan mersakan apa yang dirasakan oleh Mahesa Rangga.

“Kamu telah menemukan jalan-Nya anakku”, berkata tiba-tiba seorang tua yang entah dari mana datangnya sudah ada didekat mereka.

“Maafkan atas apa yang telah aku lakukan selama ini wahai guruku”, berkata Mahesa Rangga kepada orang tua itu yang tidak lain ternyata adalah Empu Nada.

Sementara itu langit diatas tanah datar hutan gunung jati sudah terang, sang pagi rupanya sudah datang bersama sang mentari menyibak cahayanya menembus dari sela-sela dahan dan daun pepohonan yang pepat di hutan itu. Terlihat api yang membakar gubuk-gubuk para gerombolan Mahesa Rangga sudah padam, yang tertinggal adalah abu dan sisa puing-puing kayu yang gosong terbakar.

Pagi itu beberapa prajurit Singasari sangat sibuk berat, terlihat beberapa prajurit tengah memisahkan mayat-mayat yang terbunuh, mengobati para korban yang terluka parah yang mungkin masih dapat diselamatkan, diantara mereka adalah kawan mereka sendiri. Namun para prajurit tidak pernah membedakan lawan dan kawan, semua dirawat sebatas yang dapat mereka lakukan, meskipun adalah lawan mereka sendiri.

Beberapa orang yang tersisa, yang luka ringan dan yang tidak terluka dari para gerombolan itu telah dipisahkan. Untuk menjaga keamanan dengan terpaksa kaki dan tangan mereka telah diikat dengan erat.

“Kita akan membawa mereka ke Kotaraja, biarlah pihak istana yang menetukan hukuman apa yang pantas untuk mereka”, berkata Raden Wijaya dari sebuah sudut pepohonan yang rindang kepada Mahesa Amping yang ada didekatnya melepas kelelahan mereka setelah bertempur sepanjang malam.

“Mungkin besok kita baru dapat berangkat, ada beberapa orang yang masih memerlukan perawatan”, berkata Mahesa Amping.

“Kamu benar, sekalian memulihkan tenaga kita”, berkata raden Wijaya menerima usulan dari Mahesa Amping agar mereka berangkat besok pagi.

Demikianlah, hari itu terlihat mereka beristirahat di atas tanah datar hutan Gunung Jati untuk memberi kesempata mereka yang terluka dapat beristirahat.Baru keesokan harinya disaat hari menjelang pagi mereka semua telah keluar dari hutan Gunung Jati.

———-oOo———-

 

SFBDBS 08-209

Iring-iringan itu sudah jauh meninggalkan Kademangan Padang Bulan. Dan perjalanan mereka itu begitu lambat karena harus membawa beberapa tawanan yang terluka tidak dapat berjalan harus dibawa dengan sebuah tandu.

Setelah melakukan perjalanan panjang, bermalam di beberapa tempat, akhirnya di sore hari yang masih terang bumi mereka telah memasuki pintu gerbang Kotaraja.

Karena pasukan Raden Wijaya tidak mendapat tugas langsung dari Sri Baginda Maharaja Singasari, maka pasukan itu tidak perlu lagi menunggu sebuah upacara penyambutan. Mereka langsung diperintahkan beristirahat di beberapa tempat yang telah disiapkan.

Sementara itu para tawanan telah dibawa ke tempat khusus dan dijaga langsung oleh para prajurit khusus agar mereka dapat diawasi dan tidak melarikan diri.

“Kamu datang seperti layaknya seorang panglima perang”, berkata Ratu Anggabhaya menerima kedatangan Raden Wijaya yang datang bersama Lawe, Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Kami telah menyampaikan kepada pejabat istana bahwa besok akan datang menghadap Sri Baginda Raja”, berkata Raden Wijaya kepada Ratu Anggabhaya.

“Aku akan mengantar kalian”, berkata Ratu Anggabhaya yang selama ini masih dibutuhkan oleh Sri Baginda raja sebagai penasehat istana.

Sementara itu ketika sang malam mulai beranjak diatas langit istana Singasari, seorang utusan raja telah datang ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya menyampaikan pesan langsung dari Sribaginda Maharaja bahwa besok pagi Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping diundang langsung di puri pasanggrahan khusus Sri baginda Maharaja.

“Salam kepada Sri Baginda Maharaja, kami akan datang besok pagi”, berkata Raden Wijaya kepada utusan itu.
“Besok aku tidak jadi mengantar kalian”, berkata Ratu Anggabhaya ketika utusan itu telah pergi meninggalkan mereka.

Dan malam pun akhirnya telah berlalu melampaui sisa batas waktu, beriring di belakangnya datang sang pagi bersama mentari menerangi wajah bumi.

Wajah pagi di langit bumi istana Singasari hari itu begitu cerahnya, suara burung manyar yang bersarang di atas pohon randu di belakang pasanggrahan sudah begitu ramainya menyambut mentari pagi.

“Sengaja aku mengundang kalian datang ke tempatku di pagi hari, aku rindu sarapan pagi bersama kalian ketika di Bandar Cangu”, berkata Sri Baginda Maharaja menyambut kedatangan Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping di puri pasanggrahan khususnya.

“Kami merasa tersanjung dapat sarapan pagi bersama Sri Baginda Maharaja”, berkata Raden Wijaya mewakili kawan-kawannya.

Setelah menikmati beberapa hidangan sarapan pagi yang nikmat di puri pasanggrahan khusus Raja, mereka pun saling bercerita tentang keadaan masing-masing.

“Kalian telah menunjukkan kesetiaan yang tak terhingga bagi keamanan Tanah Singasari”, berkata Sri Baginda Maharaja setelah mendengar laporan dari Raden Wijaya tentang keberhasilan mereka menumpas pemberontakan gerombolan Mahesa Rangga di hutan Gunung Jati.

“Andil Empu Nada sangat besar dalam keberhasilan usaha kami ini”, berkata Mahesa Amping.

“Empu Nada?”, bertanya Sri Baginda Maharaja.
Mahesa Amping langsung bercerita tentang Empu Nada yang datang ke Padepokan Bajra Seta menyampaikan berita tentang sebuah usaha pemberontakan Mahesa Rangga yang juga murid tunggalnya itu.

“Empu Nada yang menunjukkan dimana gerombolan Mahesa Rangga mempersiapkan gerakannya”, berkata Mahesa Amping meengakhiri ceritanya.

“Aku sepertinya pernah mengenal nama orang tua itu”, berkata Sri baginda Maharaja yang mengingat-ingat nama Empu Nada sepertinya pernah ada dalam ingatannya.

“Empu Nada itu saudara kembar guru Sri Baginda Maharaja, Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping bercerita sedikit mengenai Empu Nada.

“Dapatkah kalian membawa orang tua itu kepadaku?”, berkata Sri Baginda Maharaja.

“Hamba akan membawa Empu Nada kehadapan tuan Paduka”, berkata Mahesa Amping yang kemudian langsung keluar dari puri pasanggrahan raja bermaksud untuk menemui Empu Nada.

Empu Nada memang tidak ikut mereka ke dalam istana, tapi masih bergabung dengan beberapa prajurit di sebuah barak Kotaraja menunggu keputusan perintah untuk kembali ke Bandar Cangu.

“Moga-moga aku tidak canggung menghadap Sri Baginda Maharaja”, berkata Empu Nada bercanda kepada Mahesa Amping yang datang bersama seorang pengawal istana.

Demikianlah Empu Nada dan Mahesa Amping diiringi seorang pengawal istana memasuki lorong-lorong jalan di lingkungan istana menuju puri pasanggrahan khusus raja.

“Apakah aku bertemu dengan saudara kembar Empu Dangka?”, bertanya Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada ketika mereka telah muncul di puri Pasanggrahan khusus raja.

“Sri Baginda Maharaja tidak salah lihat, nama hamba Bratanadadewa, saudara kembar Empu Dangka”, berkata Empu Nada membenarkan perkataan Sri Baginda Raja.

“Maaf, aku baru tahu bila Empu Nada ada juga bersama rombongan pasukan dari Bandar Cangu”, berkata Sri baginda Maharaja.

———-oOo———-

SFBDBS 08-210

“Garis hidup telah membawa hamba disini”, berkata Empu Nada.
Sri Baginda Maharaja bercerita sedikit tentang pertemuan dirinya dengan Empu Dangka di hutan sungai Porong.

“Orang tua itu sepertinya sudah mengetahui bahwa hari ini kita akan berjumpa, orang tua itu menitipkan sebuah pesan untuk Empu Nada”, berkata Sri Baginda Maharaja.

“Hamba tidak sabar mendengar pesan itu”, berkata Empu Nada.

“Pesannya adalah bahwa orang tua itu telah membenarkan bahwa Tatwa bukan lagi ibadah hati, namun harus diejawantahkan diluar diri kepada seluruh alam. Laku Siwa memancar keluar sebagai budi, kasat mata dirasakan berwujud sebagai laku sang Budha yang menenteramkan isi dunia”, berkata Sri Baginda Maharaja menyampaikan pesan gurunya Empu Dangka.

“Itulah perselisihan faham diantara kami, akhirnya saudaraku memahami langkahku”, berkata Empu Nada sambil menatap jauh, mengenang kebersamaannya bersama saudaranya Empu Dangka.

“Tanah Singarari ini beruntung telah melahirkan orang-orang seperti kalian di buminya. Kebahagiaanku bila saja kalian berhasrat memenuhi permintaanku”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada, Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping.

“Hasrat gerangan apakah yang dapat kami penuhi”, bertanya Raden Wijaya mewakili.

Sri Baginda Maharaja menatap semua yang hadir dengan sebuah senyuman penuh arti membuat setiap hati menduga-duga gerangan apa yang akan disampaikan oleh nya.

“Wahai Empu Nada saudara guruku, hari ini aku melamarmu untuk kusandingkan sebagai gurusuci istana, apakah diri empu Nada berkenan?”, bertanya Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada.

“Garis hidup telah membawaku di Istana ini, berbakti sebagai gurusuci istana adalah sebuah darma, hamba berkenan memenuhi hasrat paduka”, berkata Empu Nada menerima permintaan Sri baginda Maharaja.

“Wahai saudaraku putra Lembu Tal, dapatkah kamu memenuhi hasratku menjaga bumi Singasari ini, membawahi segenap satria di medan juang membela tanah Singasari sebagai seorang Senapati panglima perang Singasari”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya.

“Hasrat Paduka adalah hasrat siwabudha, memenuhi hasrat paduka adalah darma, hamba berkenan memenuhi panggilan bakti itu”, berkata Raden Wijaya berkenan menerima permintaan Sri Baginda Maharaja Kertanegara.

“Wahai sahabatku yang telah lama membela bumi Singasari tanpa pamrih, maukah kalian menerima hasratku untuk terus menjaga bumi Singasari, berbakti dalam baju kebesaran, membawa umbul-umbul Singasari di medan perang manapun, sebagai seorang Rangga yang setia?”, berkata Sri Baginda Maharaja Kertanegara kepada Lawe dan Mahesa Amping.

“Titah paduka akan kami junjung sebagai pusaka”, berkata Mahesa Amping dan Lawe bersamaan.

“Aku akan memanggil Mahapatih untuk melaksanakan upacara kebesaran sebagai hari pelantikan kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja penuh senyum kebahagiaan.

Demikianlah, pada hari yang ditentukan upacara besar pelantikan dilaksanakan dengan penuh kemeriahan. Inilah pertama kali Sri Maharaja Kertanegara membuat kekancingan, mengukuhkan pejabat utama istana.

Seluruh raja yang ada di bawah kekuasaan Singasari telah diundang untuk menghadiri upacara pelantikan itu.

Dan kotaraja seperti berhias dengan berbagai umbul-umbul dan janur di sepanjang jalan.

Ketika Sang Mahapatih membacakan titah dan sabda Sri Baginda Maharaja Kertanegara, gemuruh suara para undangan dan seluruh warga. Puja-puji mereka sampaikan atas pilihan Maharaja yang bijak atas para putra terbaik Singasari.

Dan hari pelantikan empat orang pilihan Maharaja itu telah ditandai dengan turunnya hujan dari langit. Para orang tua memastikan bahwa ini adalah sebagai tanda para dewa merestui, Singasari akan mengalami masa keemasan.

“Hujan adalah lambang kesuburan, semoga ini sebuah tanda kebaikan bagi Singasari”, berkata seorang Brahmana tua dibawah tarub yang datang sebagai undangan menyaksikan pelantikan bersama guyuran hujan yang sepertinya tercurah dari langit.

“Payung pananggungan tidak mampu menahan hujan”, berkata seorang tua renta yang berlindung di bawah pohon beringin tua di tengah lapangan alun-alun kotaraja.

Untungnya hujan turun tidak berlarut sampai senja. Malam perjamuan menjadi begitu hangat, semua menikmati kegembiraan itu.

Dan malam pun akhirnya berlalu meninggalkan bumi, menyerahkan tahta sang waktu kepada sang pagi yang datang bersama sang surya menerangi seluruh dataran bumi dengan cahayanya yang hangat.

Sementara itu, umbul-umbul dan janur masih menghiasi kotaraja, sebuah iring-iringan pasukan terlihat melintas di jalan menuju gerbang kotaraja. Mereka adalah pasukan yang ada dibawah pimpinan Senapati dan dua orang rangga muda yang baru kemarin dilantik. Mereka tengah kembali ke tempatnya, ke Bandar Cangu.

“Menguasai tanah Bali, itulah tugas pertama kita”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping.

“Di Tanah Madhura ada Ki Banyak Wedi, di tanah Pasundan ada Gurusuci Darmasiksa,dan di Tanah Melayu kita sudah mengikatnya dengan perkawinan, hanya Bali yang belum kita ikat dengan apapun”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pandangannya.

———-oOo———-

SFBDBS 08-211

“Di Bandar Cangu kita dapat meminta pertimbangan Paman Kebo Arema dan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

“Benar, mereka adalah ahli siasat yang mumpuni”, berkata Lawe ikut mengambil pembicaraan.

Sementara itu ketika mereka menemui sebuah pertigaan, Wantilan dan Sembaga tidak dapat menyertai karena harus kembali ke Padepokan Bajra Seta.

“Salam untuk kakang Mahesa Murti dan seluruh warga Padepokan”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian mereka kembali Ke Padepokan Bajra Seta.

“Kami akan merindukan kalian”, berkata Sembaga sambil melambaikan tangannya.

Kegamangan mengisi hati dan persaan Mahesa Amping menatap Wantilan dan Sembaga telah semakin menjauh dari pandangannya. Terlintas sebuah suasana di Padepokan Bajra Seta yang gayem. Hati kecil Mahesa Amping telah terbawa dalam kenangan dan kerinduannya pada Padepokan Bajra Seta nun jauh disana.

Tidak terasa langkah kuda telah membawanya semakin ke utara, membawanya mengikuti benang-benang merah garis kehidupan.

Dan ketika senja turun membayangi wajah bumi, iring-iringan itu telah kembali di kesatuannya di Bandar Cangu.

“Selamat datang wahai para perwira muda”, berkata Kebo Arema menyambut kedatangan mereka.

“Selamat datang wahai Senapati muda”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

“Selama tidak ada kalian, Senapati Mahesa Pukat selalu datang menemaniku, atau sebaliknya aku yang datang ke bentengnya”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah bersama di pendapa Balai Tamu.

Sementara itu sang malam sudah mulai turun menutupi pandangan mata di atas langit Balai Tamu di pinggir sungai Brantas itu. Angin malam bersemilir sejuk. Malam itu kelihatannya hujan tidak akan turun, ada banyak bintang bertaburan di langit malam.

“Sri Maharaja Kertanegara telah memberi tugas kepada kami untuk menguasai Tanah Bali, kami ingin masukan dari Paman berdua”, berkata raden Wijaya kepada Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

“Aku dapat memahami pandangan Sri Maharaja Kertanegara atas Tanah Bali”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah terlihat dua warna.

“Sampai saat ini kita belum mengetahui kekuatan Tanah Bali”, berkata Mahesa Pukat menyampaikan pandangannya.

“Artinya kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahannya sebelum melakukan sebuah serangan”, berkata Raden Wijaya menangkap kata-kata Mahesa Pukat.

“Harus ada seseorang yang dapat dipercaya, mengamati Tanah Bali dari dekat”, berkata Mahesa Pukat.

Entah kenapa semua wajah tiba-tiba saja berbarengan memandang kepada Mahesa Amping.

“Kenapa kalian semua memandangku?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura keheranan.

“Artinya semua sepakat kamulah yang paling cocok mengamati Tanah Bali dari dekat, melaksanakan tugas telik sandi”, berkata Raden Wijaya.

“Seorang Rangga harus patuh melaksanakan perintah Senapatinya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Betul, betul, betul“, berkata Rangga Lawe membenarkan.
Dan ketika hari telah bergulir di pertengahan malam, Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke Bentengnya.

“Aku khawatir kalian tidak dapat beristirahat selama masih ada aku”, berkata Mahesa Pukat sambil berdiri. “Sampai ketemu besok”, berkata Mahesa Pukat ketika menuruni tangga pendapa Balai tamu.

“Aku lupa kalian baru pulang dari perjalanan panjang, beristirahatlah”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

Akhirnya mereka satu persatu memang telah masuk ke pembaringannya masing-masing, meregangkan otot-otot yang tegang berkuda seharian.

Dan diatas langit Balai tamu di tepian Sungai Brantas itu masih dipenuhi kerlap-kerlip bintang-bintang kecil. Bulan sabit telah jatuh bergeser ke Barat. Langit purba di malam itu tidak berawan, begitu jernih berwarna biru kelam. Terdengar dikesunyian malam suara celepuk malam yang terus menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang terjebak jauh dari induknya. Dari tepian sungai Brantas tidak putus saling menyambut suara katak mengiringi malam, mungkin tengah memanggil dan merindukan datangnya sang hujan.

Dan pagi pun akhirnya datang juga, warna sungai dan langit seperti satu warna, putih keperakan disinari cahaya matahari pagi yang telah datang mengintip di ujung timur bumi.

Pagi itu Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah berkumpul bersama di pendapa Balai Tamu menikmati suasana dan warna pagi di tepian sungai Brantas yang indah. Di Hutan seberang sungai sekumpulan burung betet loreng terbang bersama mencari persinggahan baru, sebagai tanda bahwa pergantian musim akan segera datang.

“Aku punya kenalan seorang saudagar yang sering berdagang ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

“Sebuah berita baik, setidaknya aku dapat ikut berlayar bersamanya”, berkata Mahesa Amping.

“Aku akan menemuinya, kapan akan bertolak ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema.

———-oOo———-

SFBDBS 08-212

Pagi itu matahari bersinar cerah mewarnai Bandar Cangu yang sudah ramai sejak pagi dini. Sebuah bahtera terlihat perlahan bertolak meninggalkan Bandar Cangu perlahan dibawa arus sungai Brantas yang jernih putih keperakan dibias cahaya matahari pagi. Bahtera dagang itu milik seorang saudagar yang akan berlayar menuju ke Tanah Bali. Diatas Bahtera itulah Mahesa Amping ada bersamanya.

Angin yang berhembus diawal musim kemarau itu terasa begitu sejuk membelai wajah Mahesa Amping diatas geladak Bahtera. Tidak ada yang tahu bahwa pemuda itu adalah seorang Rangga prajurit Singasari. Mahesa Amping memang sengaja menyamarkan jati dirinya dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Kepada Saudagar yang sekaligus pemilik bahtera kayu ini yang menjadi kawan kenalan Kebo Arema, Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menemui saudara perempuannya yang sudah begitu lama berpisah.

Bahtera itu terus melaju dibawa aliran sungai Brantas melewati hutan yang lebat di kanan kirinya, atau sesekali melewati hamparan sawah yang luas menghijau, diselingi puluhan burung bangau putih terbang melintas, berkerumun turun diatas pematang sawah. Seorang bocah kecil terlihat berlari mengusik burung bangau yang terbang kembali menjauh.

Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, ternyata dirinya tengah merenungi garis hidupnya yang Padepokan Bajra Seta, hidup sebagai seorang cantrik, merasakan suasana kehidupan padepokan Bajra Seta yang Gayem, mengembara berlayar ke berbagai belahan dunia, hingga akhirnya telah diangkat sebagai seorang prajurit, diangkat sebagai seorang Rangga.

Sementara itu sang waktu terus berlalu, bahtera itu telah mendekati Bandar Curabhaya di saat menjelang senja.

Hanya sebentar bahtera itu bersandar di Bandar Curabhaya, setelah memuat dan menuruni beberapa barang pesanan, bahtera itu telah bertolak kembali kearah timur Jawadwipa menuju Tanah Bali.

Bahtera itu telah mengembangkan layarnya, angin laut berhembus cukup kencang. Dibawah langit malam bahtera itu terapung diatas hamparan laut biru yang luas menyusuri tepian pantai Jawadwipa.

“Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali?” berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.

“Untuk pertama kalinya”, berkata Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.

“Apakah anak muda punya saudara yang tinggal di Tanah Bali?” bertanya orang tua itu.

“Aku punya seorang saudara perempuan yang sudah lama tinggal di Tanah Bali”, berkata Mahesa Amping.

Tanpa ditanya orang tua itu bercerita bahwa dirinya adalah seorang pedagang batu aji. “Kadang aku juga berdagang keris bertuah, tergantung pesanan”, berkata orang tua itu.

———-oOo———-

SFBDBS 08-213

Kebersamaan mereka sebagai sesama penumpang di bahtera, sama-sama berlayar di tengah lautan luas telah membawa keakraban diantara mereka.

“Orang-orang memanggilku sebagai Ki Ketut Areng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya.

“Namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping ikut memperkenalkan dirinya.

“Singgahlah ke rumahku beberapa hari sebelum melanjutkan perjalananmu”, berkata orang tua itu yang mengaku bernama Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping untuk singgah di rumahnya.

“Terima kasih, aku akan singgah”, berkata Mahesa Amping kepada kawan berlayarnya itu.

“Hari masih jauh pagi, sebaiknya kita tidur beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng sambil menggelar tikar pandan yang dibawanya. “Tikar ini cukup untuk kita berdua”, berkata Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping berbagi tikar pandannya sebagai alas tidur menanti datangnya pagi.

Akhirnya mereka terlihat lelap tertidur diatas geladak bahtera, angin dingin laut malam tidak terasa berhembus menyapu. Terlihat seluruh tubuh mereka sudah terbungkus kain panjang sekedar mengurangi dinginnya angin laut malam.

Langit malam sedikit demi sedikit semakin surut berganti menjadi langit pagi. Ditandai dengan warna semburat kemerahan menyala di ujung timur bumi. Dan semburat warna merah itu akhirnya merata mewarnai seluruh lengkung langit.

“Malam telah kita lewati”, berkata Ki Ketut Areng yang mulai terjaga dari tidurnya kepada Mahesa Amping yang sudah bangun lebih dulu tengah bersandar di dinding geladak.

“Itukah Balidwipa?”, bertanya Mahesa Amping sambil menunjuk kearah timur matahari.

“Itulah Balidwipa, pulau tempat matahari terbit”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap cahaya kuning matahari yang mengintip dari balik bumi Tanah Bali.

“Bahtera sepertinya akan merapat”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bahtera berbelok ke kanan kearah tepian pesisir Tanah Jawa.

“Benar, bahtera akan merapat di Tanah Sempit”, berkata Ki Ketut Areng yang kelihatannya sudah sering berlayar menuju Tanah Bali.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Ketut Areng, bahtera memang tengah merapat di sebuah Bandar kecil bernama Tanah sempit, entah kenapa dinamakan demikian, mungkin letak Bandar itu yang dibatasi oleh dua buah anak sungai yang bermuara di Selat Bali, mungkin.

“Diujung senja bahtera ini baru akan berlayar kembali, mari kita turun kearah”, berkata Ki Ketut Areng yang telah bersiap-siap untuk turun ke darat.

Bulat penuh matahari sudah terlihat di ujung timur langit, cahaya pagi telah menerangi seluruh tanah Bandar kecil itu. Terlihat Ki Ketut Areng diiringi Mahesa Amping tengah mendekati sebuah perkampungan nelayan.

Ternyata mereka tengah mendekati sebuah kedai makanan yang ada di perkampungan nelayan itu. “Kami minta minuman hangat”, berkata Ki Ketut Areng kepada pemilik kedai itu.

Tidak lama kemudian pemilik kedai itu sudah membawakan minuman hangat serta beberapa jajanan.

“Aku membawa kesukaan tuan, serabi dan dage goreng”, berkata pemilik kedai itu kepada Ki Ketut Areng yang ternyata sudah sangat sering berkunjung ke kedainya.

Terlihat Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng tengah menikmati minuman hangat serta serabi dan Dage gorengnya.

“Apa yang biasa Ki Ketut Areng lakukan selama menunggu bahtera berlayar kembali?”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng.

“Berdagang”, berkata Ki Ketut Areng sambil tersenyum.

“Berdagang?”, bertanya Mahesa Amping keheranan.

“Di perkampungan nelayan ini ada seorang juragan yang cukup makmur, aku akan menawarkan sebuah keris kecil kepadanya”, berkata Ki Ketut Areng.

Maka ketika bumi sudah terang tanah, Ki Ketut Areng dan Mahesa Amping terlihat telah keluar dari kedai itu. Terlihat mereka tengah memasuki perkampungan itu menuju ke sebuah rumah panggung yang paling besar yang ada di perkampungan nelayan itu.

“Selamat bertemu kembali wahai juragan besar”, berkata Ki Ketut Areng melambaikan tangannya kepada seorang yang berwajah bundar berperawakan sedang diatas panggung pendapanya.

“Naiklah keatas Ki Ketut”, berkata orang itu kepada Ki Ketut Areng. Terlihat Ki Ketut Areng diiringi Mahesa Amping tengah menaiki anak tangga pendapa.

“Perkenalkan teman mudaku”, berkata Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata seorang yang sangat ramah.

“Namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya.

“Orang-orang memanggilku Ki Sukasrana”, berkata orang itu memperkenalkan dirinya.

Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Ki Sukasrana pun bercerita tentang batu aji yang pernah dibelinya dari Ki Ketut Areng.

———-oOo———-

SFBDBS 08-214

“Batu aji nya telah kuikat dengan ikatan kuningan”, berkata Ki Sukasrana sambil memperlihatkan sebuah batu cincin di jarinya yang berwarna seperti buah atap. ”Ternyata batu akik ini adem dipakainya”, berkata Ki Sukasrana yang merasa cocok dengan batu akik yang dipakainya.

“Aku membawakan untukmu sebuah keris kecil, sebagaimana barang yang biasa kubawa, Ki Sukasrana boleh menyimpannya dulu, bila sehari dua hari ada kecocokan, silahkan Ki Sukasrana membelinya”, berkata Ki Ketut mengeluarkan sebuah keris kecil berwarna emas.

Sebagai seorang yang ahli pembuat berbagai senjata, Mahesa Amping dapat mengetahui bahan apa yang digunakan untuk pembuatan keris kecil itu, tapi Mahesa Amping tidak menunjukkan keahliannya di depan kedua orang itu.

“Aku akan menyimpannya”, berkata Ki Sukasrana kepada Ki Ketut Areng sambil menerima keris kecil itu.

Namun belum lama mereka bercakap-cakap, terlihat empat orang lelaki tengah memapah seorang yang nampaknya telah pingsan mendekati rumah Ki Sukasrana.

“Itu anak buahku”, berkata Ki Sukasrana mengenali orang-orang yang datang.

“Ada apa dengan Tole?”, berkata Ki Sukasrana kepada salah seorang yang datang memapah kawannya itu.

“Tidak sengaja kami mendapatkan ular api dijaring kami, Tole bermaksud membuangnya, namun tiba-tiba saja ular api itu mematuk kakinya”, berkata salah seorang yang baru datang itu.

“Bawa Tole keatas pendapa, segera panggilkan Tabib Koneng kemari”, berkata Juragan Sukasrana kepada anak buahnya.

“Sudah tiga hari ini Tabib Koneng belum pulang mengantar istrinya ke rumah mertuanya di kampong kidul”, berkata salah seorang anak buah Ki Sukasrana.

“Badannya masih hangat, mungkin aku dapat mengobatinya”, berkata Mahesa Amping yang tanpa disuruh telah memeriksa badan orang yang tengah pingsan itu.

Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan belati kecilnya dari balik pakaiannya. Dan dengan cekatan tangan Mahesa Amping telah mengerat bagian kaki yang terluka dipatuk ular. Dengan mimijat beberapa bagian tubuh orang yang telah pingsan itu, dan sedikit mengerahkan kesaktiannya, telapak tangan Mahesa Amping menempel di bagian yang terluka itu. Tidak begitu lama telah keluar darah hitam dari kaki yang terluka.

“Racunnya telah keluar”, berkata Mahesa Amping ketika darah merah terlihat keluar dari bagian luka orang yang pingsan itu. ”Ambilkan segelas air”, berkata Mahesa Amping.

Maka salah seorang anak buah Ki Sukasrana masuk kedalam rumah, tidak lama kemudian sudah membawa semangkuk air.

———-oOo———-

BERSAMBUNG KE JILID 9

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2011 at 10:28  Comments (279)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

279 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dapatkah Mahesa Amping menerima permintaan Sri Maharaja Kertanegara sebagai seorang Rangga ???,

    sementara diujung timur Tanah melayu, dirinya yang dikenal sebagai Manusia Dewa pernah diminta untuk menjadi seorang panglima angkatan perang raya bergelar nama sebagai seorang HANG.

    Mahesa Amping sebenarnya cuma ingin menjadi seorang petani kecil sepertihalnya cita-cita Ebit G Ade dalam lagunya, (hehehe 3x bergema)

    • salah ya kalo bilang ditimur tanah melayu ???

  2. “Titah paduka akan kami junjung sebagai pusaka”, berkata Mahesa Amping dan Lawe bersamaan.

    “aku akan memanggil Mahapatih untuk melaksanakan upacara kebesaran sebagai hari pelantikan kalian”, berkata Sri Baginda Maharaja penuh senyum kebahagiaan.

    Demikianlah, pada hari yang ditentukan upacara besar pelantikan dilaksanakan dengan penuh kemeriahan. Inilah pertama kali Sri Maharaja Kertanegara membuat kekancingan, mengukuhkan pejabat utama istana.

    Seluruh raja yang ada di bawah kekuasaan Singasari telah diundang untuk menghadiri upacara pelantikan itu.

    Dan kotaraja seperti berhias dengan berbagai umbul-umbul dan janur disepanjang jalan.

    Ketika Sang Mahapatih membacakan titah dan sabda Sri Baginda Maharaja Kertanegara, gemuruh suara para undangan dan seluruh warga. Puja-puji mereka sampaikan atas pilihan Maharaja yang bijak atas para putra terbaik Singasari.

    Dan hari pelantikan empat orang pilihan Maharaja itu telah ditandai dengan turunnya hujan dari langit. Para orang tua memastikan bahwa ini adalah sebagai tanda para dewa merestui, Singasari akan mengalami masa keemasan.

    “Hujan adalah lambing kesuburan, semoga ini sebuah tanda kebaikan bagi Singasari”, berkata seorang Brahmana tua dibawah tarub yang datang sebagai undangan menyaksikan pelantikan bersama guyuran hujan yang sepertinya tercurah dari langit.

    “Payung pananggungan tidak mampu menahan hujan”, berkata seorang tua renta yang berlindung di bawah pohon beringin tua ditengah lapangan alun-alun kotaraja.

    Untungnya hujan turun tidak berlarut sampai senja. Malam perjamuan menjadi begitu hangat, semua menikmati kegembiraan itu.

    Dan malampun akhirnya berlalu meninggalkan bumi, meyerahkan tahta sang waktu kepada sang pagi yang datang bersama sang surya menerangi seluruh dataran bumi dengan cahayanya yang hangat.

    Sementara itu, umbul-umbul dan janur masih menghiasi kotaraja, sebuah iring-iringan pasukan terlihat melintas dijalan menuju gerbang kotaraja. Mereka adalah pasukan yang ada dibawah pimpinan Senapati dan dua orang rangga muda yang baru kemarin dilantik. Meraka tengah kembali ketempatnya, ke Bandar Cangu.

    “Menguasai tanah Bali, itulah tugas pertama kita”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe dan Mahesa Amping.

    “Di Tanah Madhura ada Ki banyak Wedi, ditanah Pasundan ada Gurusuci Darmasiksa,dan di Tanah melayu kita sudah mengikatnya dengan perkawinan, hanya Bali yang belum kita ikat dengan apapun”, berkata Mahesa Amping menyampaikan pandangannya.

  3. matur nuwun, matur nuwun, matur nuwun, …

  4. selamat malam, matur kesuwun

  5. hadu….
    baru sempat tilik padepokan
    hanya ngintip saja, cuapeke puol……
    ngantuk lagi…
    pamit nggih…
    mboten tumut ronda

    • eh…, lupa..
      rontal sudah berceceran
      belum sempat merapikan
      maaf ya Pak Lik

      kamsiiiaaaaa……………………..

  6. selamat siang semuanya

  7. “Di Bandar Cangu kita dapat meminta pertimbangan Paman Kebo Arema dan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Benar, mereka adalah ahli siasat yang mumpuni”, berkata Lawe ikut mengambil pembicaraan.

    Sementara itu ketika mereka menemui sebuah pertigaan, Wantilan dan Sembaga tidak dapat menyertai karena harus kembali ke Padepokan Bajra Seta.

    “Salam untuk kakang Mahesa Murti dan seluruh warga Padepokan”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian mereka kembali Ke Padepokan Bajra Seta.

    “Kami akan merindukan kalian”, berkata Sembaga sambil melambaikan tangannya.

    Kegamangan mengisi hati dan persaan Mahesa Amping menatap Wantilan dan Sembaga telah semakin menjauh dari pandangannya. Terlintas sebuah suasana di Padepokan Bajra Seta yang gayem. Hati kecil Mahesa Amping telah terbawa dalam kenangan dan kerinduannya pada Padepokan Bajra Seta nun jauh disana.

    Tidak terasa langkah kuda telah membawanya semakin keutara, membawanya mengikuti benang-benang merah garis kehidupan.

    Dan ketika senja turun membayangi wajah bumi, iring-iringan itu telah kembali di kesatuannya di Bandar Cangu.

    “Selamat datang wahai para perwira muda”, berkata Kebo Arema menyambut kedatangan mereka.

    “Selamat datang wahai Senapati muda”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

    “Selama tidak ada kalian, Senapati Mahesa Pukat selalu datang menemaniku, atau sebaliknya aku yang datang ke bentengnya”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah bersama di pendapa Balai Tamu.

    Sementara itu sang malam sudah mulai turun menutupi pandangan mata di atas langit Balai Tamu di pinggir sungai Brantas itu. Angin malam bersemilir sejuk. Malam itu kelihatannya hujan tidak akan turun, ada banyak bintang bertaburan di langit malam.

    “Sri Maharaja Kertanegara telah memberi tugas kepada kami untuk menguasai Tanah Bali, kami ingin masukan dari Paman berdua”, berkata raden Wijaya kepada Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

    “Aku dapat memahami pandangan Sri Maharaja Kertanegara atas Tanah Bali”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang sudah terlihat dua warna.

    “Sampai saat ini kita belum mengetahui kekuatan Tanah Bali”, berkata Mahesa Pukat menyampaikan pandangannya.

    “Artinya kita harus mengetahui kekuatan dan kelemahannya sebelum melakukan sebuah serangan”, berkata Raden Wijaya menangkap kata-kata Mahesa Pukat.

    • Kaaaaaaaaaammmssiiaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      ndhisiki,
      Ki Wayan
      Ki Made
      Ki Nyoman
      Ki Ketut.
      (sak durunge dilurug Mahisa Amping)

  8. “Harus ada seseorang yang dapat dipercaya, mengamati Tanah Bali dari dekat”, berkata Mahesa Pukat.

    Entah kenapa semua wajah tiba-tiba saja berbarengan memandang kepada Mahesa Amping.

    “Kenapa kalian semua memandangku ?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura keheranan.

    “Artinya semua sepakat kamulah yang paling cocok mengamati Tanah Bali dari dekat, melaksanakan tugas delik sandi”, berkata Raden Wijaya.

    “Seorang Rangga harus patuh melaksanakan perintah Senapatinya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Betul, betul, betul “, berkata Rangga Lawe membenarkan.
    Dan ketika hari telah bergulir dipertengahan malam, Mahesa Pukat pamit untuk kembali ke Bentengnya.

    “Aku khawatir kalian tidak dapat beristirahat selama masih ada aku”, berkata mahesa Pukat sambil berdiri. “Sampai ketemu besok”, berkata Mahesa Pukat ketika menuruni tangga pendapa Balai tamu.

    “Aku lupa kalian baru pulang dari perjalanan panjang, beristirahatlah”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.

    Akhirnya mereka satu persatu memang telah masuk kepembaringannya masing-masing, meregangkan otot-otot yang tegang berkuda seharian.

    Dan diatas langit Balai tamu ditepian Sungai Brantas itu masih dipenuhi kerlap-kerlip bintang-bintang kecil. Bulan sabit telah jatuh bergeser ke Barat. Langit purba di malam itu tidak berawan, begitu jernih berwarna biru kelam. Terdengar dikesunyian malam suara celepuk malam yang terus menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang terjebak jauh dari induknya. Dari tepian sungai Brantas tidak putus saling menyambut suara katak mengiringi malam, mungkin tengah memanggil dan merindukan datangnya sang hujan.

    Dan pagipun akhirnya datang juga, warna sungai dan langit seperti satu warna, putih keperakan disinari cahaya matahari pagi yang telah datang mengintip diujung timur bumi.

    Pagi itu Kebo Arema, Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah berkumpul bersama di pendapa Balai Tamu menikmati suasana dan warna pagi ditepian sungai Brantas yang indah. Di Hutan seberang sungai sekumpulan burung bentet loreng terbang bersama mencari persinggahan baru, sebagai tanda bahwa pergantian musim akan segera datang.

    “Aku punya kenalan seorang saudagar yang sering berdagang ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Sebuah berita baik, setidaknya aku dapat ikut berlayar bersamanya”, berkata mahesa Amping.

    “Aku akan menemuinya, kapan akan bertolak ke Tanah Bali”, berkata Kebo Arema.

  9. Sugeng enjing…

    Matur nuwunnn…..

  10. SUGENG SIANG, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

  11. SUGENG NDALU, MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAA

    • TETEP SEMANGAAAAATTTTTT……!!!!????

  12. Selamat malam para kadhang sedoyo,
    Hadu…baru pulang lembur,belon punya bayangan, seharian si ilham pusing tujuh keliling cuma cari selisih koreksi penjurnalan…….

    • tidak apa-apa ki
      saya juga belum sempat baca dongengnya semalam
      PR akhir semester menumpuk puk….
      he he he ….
      ngintip bentar terus nyilem lagi

  13. Pagi itu matahari bersinar cerah mewarnai Bandar Cangu yang sudah ramai sejak pagi dini. Sebuah bahtera terlihat perlahan bertolak meninggalkan Bandar Cangu pelahan dibawa arus sungai Brantas yang jernih putih keperakan dibias cahaya matahari pagi. Bahtera dagang itu milik seorang saudagar yang akan berlayar menuju ke Tanah Bali. Diatas Bahtera itulah Mahesa Amping ada bersamanya.

    Angin yang berhembus diawal musim kemarau itu terasa begitu sejuk membelai wajah Mahesa Amping diatas geladak Bahtera.Tidak ada yang tahu bahwa pemuda itu adalah seorang Rangga prajurit Singasari. Mahesa Amping memang sengaja menyamarkan jati dirinya dengan mengenakan pakaian orang kebanyakan. Kepada Saudagar yang sekaligus pemilik bahtera kayu ini yang menjadi kawan kenalan Kebo Arema, Mahesa Amping mengatakan tujuannya ke Bali adalah untuk menemui saudara perempuannya yang sudah begitu lama berpisah.

    Bahtera itu terus melaju dibawa aliran sungai Brantas melewati hutan yang lebat dikanan kirinya, atau sesekali melewati hamparan sawah yang luas menghijau, diselingi puluhan burung bangau putih terbang melintas, berkerumun turun diatas pematang sawah. Seorang bocah kecil terlihat berlari mengusik burung bangau yang terbang kembali menjauh.

    Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, ternyata dirinya tengah merenungi garis hidupnya yang Padepokan Bajra Seta, hidup sebagai seorang cantrik, merasakan suasana kehidupan padepokan Bajra Seta yang Gayem, mengembara berlayar keberbagai belahan dunia, hingga akhirnya telah diangkat sebagai seorang prajurit, diangkat sebagai seorang Rangga.

    Sementara itu sang waktu terus berlalu, bahtera itu telah mendekati Bandar Curabhaya disaat menjelang senja.

    Hanya sebentar bahtera itu bersandar di Bandar Curabhaya, setelah memuat dan menuruni beberapa barang pesanan, bahtera itu telah bertolak kembali kearah timur Jawadwipa menuju Tanah Bali.

    Bahtera itu telah mengembangkan layarnya, angin laut berhembus cukup kencang. Dibawah langit malam bahtera itu terapung diatas hamparan laut biru yang luas menyusuri tepian pantai Jawadwipa.

    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.

    “Untuk pertama kalinya”, berkata Mahesa Amping dengan senyum penuh persahabatan.

    “Apakah anak muda punya saudara yang tinggal di Tanah Bali ?”, bertanya orang tua itu.

    “Aku punya seorang saudara perempuan yang sudah lama tinggal di Tanah Bali”, berkata Mahesa Amping.
    Tanpa ditanya orang tua itu bercerita bahwa dirinya adalah seorang pedagang batu aji.

    “Kadang aku juga berdagang keris bertuah, tergantung pesanan”, berkata orang tua itu.

    • lumayan….dapet juga satu rontal,

      • KAMSIA…..selamat PAGI,

  14. ki sandikala, …

    =====
    “Esok pagi kita sudah sampai di Tanah Sempit Sempit Selat Bali”, berkata seorang tua yang ikut sebagai penumpang di atas Bahtera itu.”Anak muda sudah sering ke Tanah Bali ?”, berkata orang tua itu kepada Mahesa Amping.
    …. dst …..
    =====

    menurut saya, itu adalah “bagian terbaik” dari seluruh rontal yang sudah di posting, …

    ada baiknya jalan ceritanya “diperlambat” dengan menuturkan keadaan, perilaku, dan peristiwa yang terjadi di sekeliling tokoh yang sedang diceritakan, … kalau tidak keliru, istilahnya “romantis”, …

    nuwun, …

    • betul… betul… betul…

      • betul,betul, betul, kecepatan dikurangi biar bisa melihat-lihat pemandangan alam sekitar….bukankah begitu Ki Sukasrana ????

  15. betul… betul… betul…kamsiiiaaaa

  16. Kebersamaan mereka sebagai sesama penumpang dibahtera, sama-sama berlayar ditengah lautan luas telah membawa keakraban diantara mereka.

    “Orang-orang memanggilku sebagai Ki Ketut Areng”, berkata orang tua itu memperkenalkan dirinya.

    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping ikut memperkenalkan dirinya.

    “Singgahlah kerumahku beberapa hari sebelum melanjutkan perjalananmu”, berkata orang tua itu yang mengaku bernama Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping untuk singgah dirumahnya.

    “Terima kasih, aku akan singgah”, berkata Mahesa Amping kepada kawan berlayarnya itu.

    “Hari masih jauh pagi, sebaiknya kita tidur beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng sambil menggelar tikar pandan yang dibawanya. “Tikar ini cukup untuk kita berdua”, berkata Ki Ketut Areng menawarkan Mahesa Amping berbagi tikar pandannya sebagai alas tidur menanti datangnya pagi.

    Akhirnya mereka terlihat lelap tertidur diatas geladak bahtera, angin dingin laut malam tidak terasa berhembus menyapu. Terlihat seluruh tubuh mereka sudah terbungkus kain panjang sekedar mengurangi dinginnya angin laut malam.

    Langit malam sedikit demi sedikit semakin surut berganti menjadi langit pagi. Ditandai dengan warna semburat kemerahan menyala diujung timur bumi. Dan semburat warna merah itu akhirnya merata mewarnai seluruh lengkung langit.

    “Malam telah kita lewati”, berkata Ki Ketut Areng yang mulai terjaga dari tidurnya kepada Mahesa Amping yang sudah bangun lebih dulu tengah bersandar didinding geladak.

    “Itukah Balidwipa ?”, bertanya Mahesa Amping sambil menunjuk kearah timur matahari.

    “Itulah Balidwipa, pulau tempat matahari terbit”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap cahaya kuning matahari yang mengintip dari balik bumi Tanah Bali.

    “Bahtera sepertinya akan merapat”, berkata Mahesa Amping yang melihat Bahtera berbelok ke kanan kearah tepian pesiri Tanah Jawa.

    “Benar, bahtera akan merapat di Tanah Sempit sempit”, berkata Ki Ketut Areng yang kelihatannya sudah sering berlayar menuju Tanah Bali.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Ketut Areng, bahtera memang tengah merapat disebuah Bandar kecil bernama Tanah sempit sempit, entah kenapa dinamakan demikian, mungkin letak Bandar itu yang dibatasi oleh dua buah anak sungai yang bermuara diselat Bali, mungkin.

    “Diujung senja bahtera ini baru akan berlayar kembali, mari kita turun kedarat”, berkata Ki Ketut Areng yang telah bersiap-siap untuk turun kedarat.

    • lumayan…dapet satu rontal

  17. Bulat penuh matahari sudah terlihat diujung timur langit, cahaya pagi telah menerangi seluruh tanah Bandar kecil itu. Terlihat Ki Ketut Areng diiringi Mahesa Amping tengah mendekati sebuah perkampungan nelayan.

    Ternyata mereka tengah mendekati sebuah kedai makanan yang ada di perkampungan nelayan itu.
    “Kami minta minuman hangat”, berkata Ki Ketut Areng kepada pemilik kedi itu.

    Tidak lama kemudian pemillk kedai itu sudah membawakan minuman hangat serta beberapa jajanan.

    “Aku membawa kesukaan tuan, serabi dan dage goreng”, berkata pemilik kedai itu kepada Ki Ketut Areng yang ternyata sudah sangat sering berkunjung ke kedainya.

    Terlihat Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng tengah menikmati minuman hangat serta serabi dan Dage gorengnya.

    “Apa yang biasa Ki Ketut Areng lakukan selama menunggu bahtera berlayar kembali ?”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng.

    “Berdagang”, berkata Ki Ketut Areng sambil tersenyum.

    “Berdagang ?”, bertanya Mahesa Amping keheranan.

    “Diperkampungan nelayan ini ada seorang juragan yang cukup makmur, aku akan menawarkan sebuah keris kecil kepadanya”, berkata Ki Ketut Areng.

    Maka ketika bumi sudah terang tanah, Ki Ketut Areng dan Mahesa Amping terlihat telah keluar dari kedai itu. Terlihat mereka tengah memasuki perkampungan itu menuju kesebuah rumah panggung yang paling besar yang ada di perkampungan nelayan itu.

    “Selamat bertemu kembali wahai juragan besar”, berkata Ki Ketut Areng melambaikan tangannya kepada seorang yang berwajah bundar berperawakan sedang diatas panggung pendapanya.

    “Naiklah ketas Ki Ketut”, berkata orang itu kepada Ki Ketut Areng.
    Terlihat Ki Ketut Areng diringi Mahesa Amping tengah menaiki anak tangga pendapa.

    “Perkenalkan teman mudaku”, berkata Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata seorang yang sangat ramah.
    “namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping memprkenalkan dirinya.

    “orang-orang memanggilku Ki Sukasrana”, berkata orang itu memperkenalkan dirinya.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing, Ki Sukasrana pun bercerita tentang batu aji yang pernah dibelinya dari Ki Ketut Areng.

    • suwun…suwun…suwun…
      eh….,
      kammssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..!!!!!

      • diperLAMBAT biar tambah nikmat…..KAMSIA pak DALANG

  18. cantrik HADIR,

    • cantrik nyusul HADIR,, matur nuwun

  19. horee, … aku dishooting, …. hahahahaha, …. !!!!

    naaahhh, …. ini lebih baik ki, … pembaca serasa terlibat langsung dalam peristiwa yang diceritakan. … itulah gaya atau ciri khas begawan sh mintardja, …

    kamsiaaa, … !!!!

  20. “Batu aji nya telah kuikat dengan ikatan kuningan”, berkata Ki Sukasrana sambil memperlihatkan sebuah batu cincing dijarinya yang berwarna seperti buah atap.”Ternyata batu akik ini adem dipakainya”, berkata Ki Sukasrana yang merasa cocok dengan batu akik yang dipakainya.

    “Aku membawakan untukmu sebuah keris kecil, sebagaimana barang yang biasa kubawa, Ki Sukasrana boleh menyimpannya dulu, bila sehari dua hari ada kecocokan, silahkan Ki Sukasrana membelinya”, berkata Ki Ketut mengeluarkan sebuah keris kecil berwarna emas.

    Sebagai seorang yang ahli pembuat berbagai senjata, Mahesa Amping dapat mengetahui bahan apa yang digunakan untuk pembuatan keris kecil itu, tapi Mahesa Amping tidak menunjukkan keahliannya didepan kedua orang itu.

    “Aku akan menyimpannya”, berkata Ki Sukasrana kepada Ki Ketut Areng sambil menerima keris kecil itu.

    Namun belum lama mereka bercakap-cakap, terlihat empat orang lelaki tengah memapah seorang yang nampaknya telah pingsan mendekati rumah Ki Sukasrana.

    “Itu anak buahku”, berkata Ki Sukasrana mengenali orang-orang yang datang.

    “Ada apa dengan Tole ?”, berkata Ki Sukasrana kepada salah seorang yang datang memapah kawannya itu.

    “Tidak sengaja kami mendapatkan ular api dijaring kami, Tole bermaksud membuangnya, namun tiba-tiba saja ular api itu mematuk kakinya”, berkata salah seorang yang baru datang itu.

    “Bawa Tole keatas pendapa, segera panggilkan Tabib Koneng kemari”, berkata Juragan Sukasrana kepada anak buahnya.

    “Sudah tiga hari ini Tabib Koneng belum pulang mengantar istrinya ke rumah mertuanya di kampong kidul”, berkata salah seorang anak buah Ki Sukasrana.

    “Badannya masih hangat, mungkin aku dapat mengobatinya”, berkata Mahesa Amping yang tanpa disuruh telah memeriksa badan orang yang tengah pingsan itu.

    Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan belati kecilnya dari balik pakaiannya. Dan dengan cekatan tangan Mahesa Amping telah mengerat bagian kaki yang terluka dipatuk ular. Dengan mimijat beberapa bagian tubuh orang yang telah pingsan itu, dan sedikit mengerahkan kesaktiannya, telapak tangan Mahesa Amping menempel di bagian yang terluka itu. Tidak begitu lama telah keluar darah hitam dari kaki yang terluka.

    “racunnya telah keluar”, berkata mahesa Amping ketika darah merah terlihat keluar dari bagian luka orang yang pingsan itu.”Ambilkan segelas air”, berkata Mahesa Amping.

    Maka salah seorang anak buah Ki Sukasrana masuk kedalam rumah, tidak lama kemudian sudah membawa semangkuk air.

  21. Terlihat Mahesa Amping mengeluarkan sebuah bubu bambu yang selalu dibawanya dibalik ikat pinggangnya. Ternyata didalam bubu bamboo kecil itu berisi bubuk racikan obat. Mahesa Amping terlihat tengah melarutkan bubuk racikan obat itu dengan air yang ada dimangkuk. Dan dengan tangannya meneteskan air itu ke bibir orang yang pingsan itu.
    Tidak lama kemudian, terlihat wajah orang yang pingsan itu yang semula putih pucat terlihat sudah mulai berwarna memerah. Mahesa Amping terlihat memegang lengan orang itu.

    “Denyut nadinya telah normal kembali”, berkata Mahesa Amping sambil menarik nafas lega sebagai tanda bahwa orang yang terkena bisa racun ular api itu dapat diselamatkan.

    Melihat perubahan diwajah orang yang pingsan itu, beberapa orang yang ada di pendapa itu ikut menarik nafas lega, merasa kawannya akan sembuh dan dapat diselamatkan.

    “Dimana aku ?”, bertanya orang yang pingsan itu ketika membuka matanya melihat banyak orang disekelingnya.

    “ kamu baru saja selamat dari bisa racun ular api”, berkata Ki Sukasrana kepada orang yang baru siuman itu.

    ”Minumlah obat ini sampai habis”, berkata mahesa Amping sambil memberikan mangkuk berisi obat racikannya kepada orang yang baru siuman itu yang sudah dapat duduk bersandar dinding kayu.

    Terlihat orang itu meminum obat racikan disebuah mangkuk yang diberikan Mahesa Amping dan kembali bersandar didinding kayu, wajahnya terlihat semakin segar tidak pucat lagi sebagaimana sebelumnya.

    “Terima kasih anak muda, kamu telah menyelamatkan anak buahku”, berkata K Sukasrana yang melihat anak buahnya sudah menjadi lebih segar daro sebelumnya.

    “Diujung barat kampung ini kulihat ad hutan kecil, carilah jamur kayu merah dihutan itu, mudah-mudahan penyembuhannya akan menjadi lebih cepat lagi”, berkata Mahesa Amping sambil menyebut beberapa tumbuhan yang banyak tumbuh disekitar perkampungan itu sebagai bahan campuran obat.

    “Aku tidak menyangka bahwa teman mudaku ini adalah seorang tabib”, berkata Ki Ketut Areng

    “Aku hanya punya sedikit ilmu”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

    “Antarlah Tole kerumahnya, jangan lupa untuk mencarikan jamur kayu merah dan beberapa bahan tumbuhan untuk obat”, berkata Ki Sukasrana kepada keempat anak buahnya untuk mengantar Tole yang sudah dapat berdiri, meski masih sedikit lemas.

    Sementara itu matahari diatas perkampungan nelayan itu sudah cepat naik kepuncaknya, untungnya didepan rumah Ki Sukasrana berdiri tumbuh sebuah pohon jamblang yang berdahan dan berdaun cukup lebat sehingga sinar matahari tidak langsung masuk menyengat kulit disiang hari itu.

    “kalian pasti sudah sangat lapar”, berkata Ki Sukasrana sambil berdiri tersenyum.

    • lumayan…..hari ini pulang gawe agak sorean dikit, hehehe

  22. ikut-ikutan sok tau ah, ……

    belum sempat mahisa amping dan ki ketut areng berdiri, pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah nyai sukasrana. “silakan kisanak, makan seadanya. hari ini saya masak lawar, pepesan ayam dan mangut lele, …”

    dan seterusnya terserah ki sandikala, ….

    • wah…..
      giliran Ki Sukasrana rupanya, he he he …..
      asiikkk……………

      eh…, hampir lupa
      kamsiaaaa………….. …………. ….. …. .. . . .
      (makin lama makin tidak terdengar karena sudah nyilem lagi

  23. Ternyata Ki Sukasrana masuk kedalam untuk menengok Nyai Sukasrana yang sudah hampir selesai menyelesaikan beberapa masakan.

    Ki Sukasrana telah kembali ke pendapa menemani tamunya. Tidak lama berselang terdengar pintu pringgitan berderit dan muncul seorang perempuan yang ternyata adalah Nyai Sukasrana yang sekilas masih nampak sisa-sisa kecantikannya ketika masih muda dulu.

    “Silahkan kisanak makan seadanya, hari ini kami Cuma memasak lawar, pepesan ayam dan mangut lele”, berkata Nyai Sukasrana kepada mahesa Amping dan Ki Ketut Areng.

    “Terima kasih, kami telah merepotkan nyai”, berkata Ki Ketut Areng kepada nyai Sukasrana yang hanya tersenyum dan kembali lagi masuk kedalam menghilang dibalik pintu pringgitan.

    Dan sang waktu ternyata begitu cepat berlalu, tidak terasa matahari sudah rebah turun sedikit ke barat.
    “Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian”, berkata Ki Sukasrana mengantar Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng menuruni tangga pendapanya.

    “Semoga dipertemuan berikutnya, buah jamblang itu sudah banyak yang masak”, berkata Mahesa Amping menunjuk kearah pohon jamblang didepan rumah Ki Sukasrana.

    “Semoga tidak ada hambatan dalam perjalanan kalian”, berkata Ki Sukasrana dari atas pendapanya.

    Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah kembali ke Bandar kecil itu. Bahtera yang mereka tumpangi masih terlihat merapat disebuah dermaga.

    Ketika matahari sudah berbaring diujung barat bumi, dibatas senja bahtera itu telah bertolak meninggalkan Bandar Tanah sempit sempit.

    Sang malam terlihat begitu kelam mewarnai langit laut selat Bali, tapi masih ada beberapa bintang sebagai tanda bahwa hari tidak akan turun hujan.

    Bahtera itu berlayar diatas hamparan laut sunyi. Kadang terlihat kerlap-kerlip lampu centing bergoyang diatas jukung berlayar tunggal nelayan yang tengah mencari ikan, mereka memang terlahir sebagai nelayan, hidup berkeluarga dan beranak pinak melahirkan para nelayan muda di masa yang akan datang. Sebuah kehidupan malam ditengah lautan yang begitu sunyi, menjaring ikan untuk kehidupan keluarganya. Dan mereka tidak pernah jemu untuk melakoninya. Adalah sebuah kebahagiaan tak terkira manakala pulang dari melaut membawa banyak ikan dikaping bambu. Itulah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli, sebagaimana seorang petani melihat panen jagungnya.

    “Besok menjelang pagi kita sudah tiba di Bandar Buleleng”, berkata Ki Ketut Areng kepada Mahesa Amping yang tengah melihat dua orang lelaki diatas jukungnya terapung ditengah laut malam.

    Sementara itu angin bertiup begitu dingin, tidak terasa bahtera telah melewati selat Bali. Disebelah kanan bahtera membujur gundukan tanah hitam. Itulah Balidwipa disaat malam kelam seperti bayi raksasa yang tengah tertidur.

  24. Gemuruh ombak dipantai kuta
    Sejuk lembut angin di bukit Kintamani
    Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
    Tak mampu mengusir..kau yang manis

    • Bila saja kau ada di sisiku……………………..

  25. MATUR NUWUUUUUN

    • sama-sama ki……”tetep semangat”

      • ni SINDEN ijin pulang kampung…..mumpung libur 3 hari (katanya)

        nyanyi sik ah :
        Siapa yang mau menghuni gedung tua Siapa yang sudi singgah dihati ini Tanpa keramaian kemewahan sunyi……!!!???

        siapa yang mau, jaga gandok malam ini…..siapa, siapaaaa…..!!!???

  26. “Ketika bertolak dari Bandar Cangu, aku tidak merasakan apapun. Namun manakala Bahtera sudah mulai menyentuh pesisir Bali, hati ini seperti tersentak-sentak, ingin rasanya aku terjun berenang ketepian dan berlari pulang”, berkata Ki Ketut Areng sambil menatap pesisir tepian pantai Bali yang terlihat masih menghitam, hanya terlihat kerlip beberapa lampu-lampu kecil berasal dari lampu lenting rumah penduduk di tepi pantai seperti melihat gundukan tanah hitam bertabur bintang-bintang.

    “Mari duduk bersandar, malam masih sangat panjang”, berkata Mahesa Amping kepada ki Ketut Areng yang masih berdiri memandang jauh ketepi pesisir pantai.
    Tidak lama kemudian Ki ketut Areng telah mengikuti
    Mahesa Amping bersandar didinding geladak.

    Malam diatas kepala mereka seperti payung langit raksasa, dalam kekerdilannya, bahtera sepertinya tidak bergerak. Dan Ki Ketut Areng tidak terasa telah bergeser rebah berbaring dan akhirnya telah tertidur. Tinggalah Mahesa Amping yang masih terjaga bersandar didinding geladak. Dan tidak terasa Mahesa Amping telah bergeser berbaring dan akhirnya ikut tertidur.

    Terkejut Mahesa Amping ketika membuka matanya, langit diatas bahtera sudah terang, ternyata sang pagi sudah datang menjelang.

    “hari sudah pagi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Ketut Areng yang juga telah ikut terbangun.

    Setelah merapikan pakaian dan ikat kepalanya, terlihat Mahesa Amping berdiri dipinggir geladak bersama Ki Ketut Areng memandang tak jemu pulau Bali yang hijau terbungkus pohon-pohon hutan yang besar, tinggi dan kerap rapat.

    Bahtera semakin merapat ke pantai mendekati tepian. Diujung timur terlihat tiang-tiang layar bahtera berjajar. Kearah itulah bahtera yang ditumpangi Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng bergerak menghampirinya.

    Bahtera itu telah hamper merapat disebuah dermaga kayu yang panjang, seorang lelaki terlihat dengan beraninya melompat dari geladak sambil membawa tambang besar. Dan ketika kakinya telah menyentuh lantai geladak, dengan cekatan mengikat tali di sebuah tonggak kayu.

    Bahtera telah merapat dan bersandar di Bandar Buleleng yang cukup ramai sebagaimana suasana di Bandar-bandar besar di tanah jawa.

    “Terima kasih untuk tumpangannya”, berkata mahesa Amping kepada saudagar pemilik bahtera.
    “Tunggulah bahtera kami bilamana kamu akan kembali ke tanah Jawa”, berkata saudagar itu kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng telah menginjakkan kakinya didermaga. Terlihat beberapa orang tengah membawa kuda yang akan diangkut berlayar, mungkin kesebuah tempat yang jauh.

    “Rumahku tidak begitu jauh dari sini”, berkata ki Ketut Areng dengan wajah begitu ceria merasakan udara kampung halamannya sendiri.

  27. Ternyata rumah Ki Ketut Areng memang tidak begitu jauh dari Bandar Buleleng, hanya terpisah dengan sebuah hutan kecil.

    Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng sudah mendekati sebuah regol gerbang Kademangan Kabukbuk. Sebuah Kademangan yang paling dekat dengan Bandar Buleleng.

    Tidaklah aneh bila Kademangan itu cukup ramai menjadi tempat persinggahan orang-orang Bali pedalaman yang akan membawa berbagai dagangannya ke Bandar Buleleng diantaranya adalah ternak kuda sebagaimana yang mereka lihat tengah diangkut berlayar di Bandar buleleng.

    Di pintu regol, Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng disambut gembira oleh seorang gadis yang ternyata putrid tunggal Ki Ketut Areng.

    “Ibu masih belum pulang kepasar”, berkata gadis itu kepada ayahnya Ki Ketut Areng.

    Mahesa Amping dipersilahkan bersih-bersih di pakiwan. Setelah itu Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat beritirahat bercakap-cakap di rumah bamboo, sebuah bangunan yang bertiang bamboo terbuka dan terpisah dari bangunan utama.

    Rumah Ki Ketut Areng memang terlihat asri, ada beberapa tanamam bunga yang terawatt apik di halaman dan tiga buah pohon jepung merah berdiri disisi kiri pagar dinding batu.

    Tidak lama kemudian datanglah dari regol pintu halaman seorang wanita sambil menjungjung keranjang diatas kepalanya yang ternyata adalah Nyai Ketut Areng yang baru pulang dari pasar.

    Ki Ketut Areng memperkenalkan Mahesa Amping kepada istrinya. Dan hari itu keluarga Ki Ketut Areng sepertinya merayakan kebahagiaannya dengan memasak berbagai hidangan.

    Hari itu Mahesa Amping bermalam dirumah Ki Ketut Areng, sudah menjadi kebiasaan Mahesa Amping bangun di awal pagi.

    “Wanita bali memang terbiasa melakukan kerja keras seperti membajak sawah dan mencangkul”, berkata Ki Ketut Areng yang dapat membaca keheranan Mahesa Amping melihat istri dan putrid Ki Ketut Areng pagi-pagi sudah keluar rumah membawa pacul dan arit kesawah.

    “Apa kerja laki-laki Bali ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Berjudi menyabung ayam ”, berkata Ki Ketut Areng sambil membelai leher ayam kesayangannya yang sudah lama ditinggalkannya.

    “Nikmat sekali terlahir sebagai pria Bali”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

    Hari itu Ki Ketut Areng mengajak mahesa Amping ke rumah kenalannya seorang pedagang kuda, Mahesa Amping memang sengaja meminta Ki Ketut Areng mencarikannya seekor kuda yang baik.

    “kuda ini asli Sumbawa, beruntung aku belum membawanya kepasar”, berkata kenalan Ki Ketut Areng seorang pedagang kuda.

  28. kulo pesen kuda poni mawon pak dalang, matur nuwun

  29. Malam itu bulan bersinar bulat penuh menyinari halaman rumah Ki Ketut Areng. Semilir angin menggoyangkan bunga dan daun kemboja di sudut halaman rumah. Mahesa Amping dan Ki Ketut Areng terlihat masih berbincang-bincang seputar rencana perjalanan mahesa Amping ke Puri Besakih.

    “Puri Besakih hanya berjarak dua hari perjalanan berkuda”, berkata Ki Ketut Areng memberikan gambaran arah menuju Puri Besakih. Sebagai seorang pedagang batu aji, pengenalan Ki ketut Areng tentang berbagai daerah di Tanah bali memang cukup luas.

    “Puri Besakih terletak dilereng Gunung Agung, berjalanlah mengambil arah matahari terbit disebelah kananmu”, berkata Ki Ketut Areng menambahi penjelasanya.

    Sementara itu angin didepan halaman Ki Ketut Areng semakin dingin, bunga-bunga kemboja merah terlihat banyak berserakan.

    “Saatnya beristirahat”, berkata Ki Ketut Areng mengajak Mahesa Amping beristirahat karena esok hari akan melakukan perjalanan panjang.

    Malam diatas rumah Ki Ketut Areng berlalu dalam sunyi, hanya suara gemeriaicik air yang terdengar tiada henti berasal dari sungai kecil disebelah rumah Ki Ketut Areng.

    Dan disaat pagi sudah terang bumi, Mahesa Amping pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

    “Aku berdoa untukmu, semoga tidak ada halangan dan hambatan diperjalananmu”, berkata Ki Ketut Areng melepas keberangkatan Mahesa Amping.

    Terlihat Mahesa Amping menuntun kudanya keluar dari regol pintu halaman Ki Ketut Areng.Dan dengan lincahnya telah melompat diatas kudanya.

    “Kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping sambil menepuk perut kudanya. Mendapat perintah dari tuan barunya kuda itu seperti mengerti telah melangkahkan kakinya berjalan perlahan.

    “Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu”, berkata Ki Ketut Areng sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping berkuda diatas jalan Kademangan yang sudah ramai orang berlalu lalang untuk pergi ke sawah atau pergi ke pasar.Ketika telah keluar dari regol pintu gerbang Kademangan Kabukbuk, terlihat Mahesa Amping mengambil arah kekanan menyusuri jalan yang sepertinya sudah mengeras, sebagai tanda sering dilewati gerobak kuda memuat barang penuh muatan.Sementara itu Matahari pagi mengintip dari sela-sela daun dan dahan pokok-pokok pohon kayu yang tinggi menjulang disepanjang perjalanannya. Harum tanah hutan basah yang tertiup angin begitu menyegarkan.

    “Aku ingin mencoba sejauh mana kekuatan nafasmu”, berkata mahesa Amping kepada kuda barunya sambil menjejakkan kakinya keperut kudanya.

    Ternyata kuda itu adalah kuda yang pintar, tahu perintah tuannya. Maka terlihat kuda itu telah berlari begitu cepatnya.

    “Kuda pintar”, berkata Mahesa Amping yang merasa gembira dibawa kudanya berlari cepat.

    • lumayan….ba’da subuh dapet satu lontar,

      Selamat pagi para kadhang sedoyo, semalam cuma Ki bancak yang datang ke gardu ronda,

      Pagi ini siap-siap mengantar sang permaisuri ke pura TAKLIM Bukit duri Jakarta alias pengajian rutin kaum ibu, hehehe 3x

  30. “Betul, betul, betul“, berkata Rangga Lawe membenarkan., seperti nonton upin ipin aja………..

    • loh….
      dah lama gak sambang padepokan Ki
      sehat saja kan?

  31. pada kesempatan ini, saya menyampaikan selamat natal kepada sanak kadang yang merayakannya. semoga tuhan selalu bersama kita.

    damai di bumi, damai di surga, …

  32. Sugeng ndalu…

    Lama tidak menyambangi padepokan, eh, Tole kok digigit ular. Apes temen tho yaaaa….

    Kamsiaaaa….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: