SFBDBS-08

<<kembali ke SFBdBS-07 | lanjut ke SFBdBS-09 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 November 2011 at 10:28  Comments (279)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

279 KomentarTinggalkan komentar

  1. selamat pagi semuanya

  2. 140

  3. malam mingguan, sepiiiiii

    • Kulo wonteng wingking panjenengan Ki Bancak

  4. Sugeng siyang katur para kadhang sedaya.

  5. “Hari ini aku seperti menjadi pejabat besar istana”, berkata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya.

    “Wajah dan penampilan Paman sudah sangat mendukung”, berkata Lawe sambil manggut-manggut.

    Sementara itu sang kala di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya sepertinya terlalu cepat berlalu, tidak terasa senja telah datang memeluk pucuk-pucuk atap, menelingkungi rumput-rumput taman pelataran yang hijau dalam kabut bening. Patung dewi kasih yang berdiri di tepi kolam kecil termenung menatap ikan-ikan kecil berwarna-warni menelusup berenang diantara teratai yang tengah berbunga putih.

    Disaat itulah hadir Sri Maharaja Kertanegara di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    “Sebuah kehormatan Sri Paduka datang ketempat kami”, berkata Ratu Anggabhaya menyambut kedatangan Maharaja Kertanegara dengan penuh kegembiraan.

    “Aku rindu mendengar celoteh empat orang sahabatku para pelaut sejati”, berkata Maharaja Kertanegara yang langsung duduk bersama di pendapa sepertinya sengaja menghilangkan kesan kewibawaannya sebagai seorang Maharaja Singasari.

    Demikianlah mereka sepertinya menemukan kembali suasana keakraban sebagaimana mereka pernah bersama di Bandar Cangu, bersama membangun sebuah bahtera besar Singasari.Pembicaraanpun menjadi begitu terbuka, tidak ada batasan lagi antara raja dan hambanya.

    “Bilamana boleh memilih, aku lebih memilih bersama kalian, mengarungi lautan dan menyinggahi bandar-bandar besar diujung dunia”, berkata Maharaja Kertanegara.

    “Ananda telah diberkati duduk disinggasana sebagai garis takdir suci, sebagaimana daun tua gugur berganti muda, sebagaimana sang kala terus berganti. Pada saatnya akupun akan tua, penat dan cepat lelah, saatnya mencari pengganti daun-daun muda yang lebih segar mewarnai taman pemikiran istana Singasari yang terus maju dan berkembang”, berkata Ratu Anggabhaya.

    “Kami masih memerlukan pemikiran Pamanda”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Ratu Anggabhaya.

    “Bahtera besar Singasari telah kadung mengembangkan sayapnya, berlayarlah sejauh dan seluas lautan, kami para orang tua hanya berdoa, kalian para orang muda untuk terus menatap kedepan, berhati-hati menjaga bahtera tidak karam ditelan gelombang”, berkata Ratu Anggabhaya.

    Ketika hari sudah mendekati larut malam, Maharaja Kertanegara pamit untuk kembali beristirahat. Dalam kesepatan itu, Kebo Arema mewakili ketiga kawannya ikut berpamit bahwa besok pagi mereka akan kembali ke Bandar Cangu.

    “Bukankah musim berlayar masih belum datang?”, bertanya Maharaja Kertanegara.

    “Kami sudah terlalu lama di Istana Singasari”, berkata Kebo Arema memberi alasan.

    “Mereka sudah punya istana sendiri di Bandar Cangu, itulah sebabnya mereka ingin cepat meninggalkan kita”, berkata Lembu Tal sambil melirik kepada anaknya Raden Wijaya.

  6. Pagi itu sudah terang bumi, angin sejuk lewat tangkai-tangkai pohon dan dedaunan hijau yang kerap, kesejukan angin menjadi bertambah segar bila terhirup masuk kedalam hidung.

    Empat orang lelaki terlihat tengah menunggangi kudanya berjalan tidak terlalu tergesa-gesa, udara pagi yang segar menyapu wajah mereka.

    Ternyata mereka tidak lain adalah Kebo Arema, Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang telah jauh meninggalkan gerbang kotaraja.

    “Secepatnya aku akan bersama kembali di Bandar Cangu”, berkata Mahesa Amping ketika mereka sampai dipersimpangan jalan.

    “Salam untuk semua warga Padepokan Bajra Seta”, berkata Raden Wijaya melepas Mahesa Amping yang terlihat mengambil jalan ke arah barat.

    Mahesa Amping baru merasakan kesendiriannya ketika telah melangkah jauh dari jalan persimpangan tempat mereka berpisah. Untuk mengusir kesendiriannya itu, terlihat Mahesa Amping menghentak kudanya agar berlari cepat. Kuda Mahesa Amping adalah kuda yang sudah begitu jinak, mengerti apa yang diinginkan tuannya. Dan kuda itu sudah terlihat memacu langkahnya berlari seperti terbang menyusuri jalan tanah lapang. Debu mengepul terbang dibelakang kaki kuda yang berlari kencang.

    Mahesa Amping memperlambat laju kudanya, tidak lagi menyususri jalan tanah, tapi berbelok mengambil jalan kekiri kearah padang ilalang yang luas.

    Ternyata Mahesa Amping bermaksud mengambil arah jalan lebih cepat menuju Padepokan Bajra Seta.

    Lengkung langit diatas padang ilalang terlihat berawan mendung, sebagai tanda hujan akan segera datang.Terlihat Mahesa Amping bersama kudanya terus maju yang terkadang hilang terhalang gerumbul semak-semak yang tinggi.Untunglah, manakala hujan telah turun begitu derasnya, Mahesa Amping sudah berada di bibir sebuah hutan. Kerap dahan dan dedaunan di hutan itu telah melindungi Mahesa Amping dari terpaan air hujan yang begitu lebat tercurah dari atas langit.

    Mahesa Amping bermaksud mencari tempat bernaung, disamping berlindung dari hujan, juga sekedar mengistirahatkan kudanya yang telah begitu lama berjalan.

    Ternyata Mahesa Amping tidak sendiri di hutan itu, dibawah sebuah pohon besar terlihat seorang lelaki tua tengah berlindung dari hujan.

    “Hujan begitu deras”, berkata Mahesa Amping ketika dekat dengan lelaki tua itu sebagai perkataan awal, pengganti sapaan kepada orang yang baru dikenal.

    “Hujan memang sangat deras”, berkata orang itu membalas ucapan Mahesa Amping.

    “Anakmas dari mana dan hendak kemana ?”, bertanya orang tua itu dengan ramah.

    “Aku dari arah Kotaraja bermaksud hendak ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping.

    “Padepokan Bajra Seta ?”, bertanya orang itu sepertinya ingin memperjelas apa yang didengarnya.

  7. “Padepokan Bajra Seta, aku akan kesana”, berkata Mahesa Amping memperjelas ucapannya karena pada saat itu suara air hujan memang cukup membisingkan.

    “Apakah anakmas salah seorang cantri di Padepokan Bajra Seta ?”, kembali orang tua itu bertanya

    “Benar, aku cantri di padepokan itu”, berkata Mahesa Amping tidak menutupi jati dirinya

    “Ternyata Gusti telah meringankan langkah kakiku, akupun juga bermaksud akan ke Padepokan Bajra Seta”, berkata orang tua itu penuh senyum.

    “Ada keperluan apakah yang membawa orang tua datang mengunjungi Padepokan kami”, bertanya Mahesa Amping.

    “Namaku Empu Nada, demikian orang-orang memanggilku, aku memang bermaksud ke Padepokan Bajra Seta untuk sedikit urusan”, berkata orang tua itu yang memperkenalkan dirinya bernama Empu Nada. “Puji syukur Sang Gusti telah pertemukan aku dengan salah seorang cantriknya, jadi aku tidak perlu banyak bertanya arah menuju Padepokan Bajra Seta”

    “namaku Mahesa Amping, kita dapat berjalan bersama”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya dan tidak berusaha mendesak dan mencari tahu kepentingan orang tua itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Empu Nada.

    “Terima kasih”, berkata Empu Nada dengan wajah gembira.

    Sementara itu hujan nampaknya sudah reda, beberapa butir air yang tersimpan di pelepah daun kadang terlepas jatuh menyiram bumi.

    “Hujan sudah reda, aku senang punya teman diperjalanan”, berkata Mahesa Amping yang sepertinya sudah sangat dekat dan menyukai orang tua yang baru saja dikenalnya itu.

    “Akupun sangat senang mendapatkan kawan yang dapat mengantarku sampai ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Empu Nada yang terlihat tengah bersiap untuk berjalan bersama.

    Terlihat mereka berdua telah berjalan menyusuri jalan setapak yang biasa dipakai oleh para pemburu. Akhirnya merekapun telah keluar dari hutan itu, langit siang diluar hutan itu sudah nampak bersih meski awan tipis masih menyembunyikan wajah Sang Mentari.

    “Aku telah menyusahkan anakmas, kehadiranku telah membuat anakmas berjalan kaki”, berkata Empu Nada merasa tidak enak hati melihat Mahesa Amping berjalan kaki menuntun kudanya.

    “Jarak perjalanan kita sudah tidak begitu jauh”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.
    Sebenarnya perkataan Mahesa Amping hanya sekedar bahasa manis saja, kenyataannya perjalanan mereka masih cukup jauh, terutama bila ditempuh dengan berjalan kaki. Banyak hal yang mereka bicarakan selama diperjalanan. Mahesa Amping semakin mengenal beberapa hal pribadi dari orang tua itu, meski hanya sebatas beberapa sifat dan wataknya yang ternyata seorang yang sangat menyenangkan, sangat terbuka dan seorang pendengar yang baik.

  8. “Jadi Anakmas sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta”, berkata Empu Nada ketika mendengar cerita Mahesa Amping tentang beberapa perjalanan pelayarannya.

    “Kira-kira empat kali pergantian musim hujan”, berkata Mahesa Amping.

    “Berapa lama lagi kita akan sampai ke Padepokan Bajra Seta ?”, bertanya Empu Nada ketika melihat matahari sudah mulai turun miring kearah barat.

    “Padepokan Bajra Seta ada dibelakang bukit itu”, berkata Mahase Amping sambil menunjuk kearah sebuah bukit.

    “Berarti kita masih menemui malam diperjalanan”, berkata Empu Nada.

    “Kita bermalam dipuncak bukit itu”, berkata Mahesa Amping memberikan gambaran perjalanan mereka.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, mereka telah sampai diatas puncak bukit disaat malam telah turun mendekap bumi. Di puncak bukit itu banyak berdiri batu-batu besar. Disela-sela batu itulah mereka merebahkan dirinya sekedar menghindari terpaan angin dingin malam.

    Ketika semburat warna merah muncul diujung malam, mereka berdua sudah terjaga. Terlihat mereka tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanannya.

    Demikianlah, ketika matahari sudah jauh merayap menjelang siang terlihat mereka sudah mendekati padukuhan terdekat, tidak lama lagi mereka akan sampai di Padepokan Bajra Seta.

    Diregol gerbang Padepokan Bajra Seta, beberapa cantrik menyambut gembira kedatangan Mahesa Amping.

    “Perkenalkan ini Empu Nada, kami bertemu diperjalanan, ada maksud bertemu dengan Kakang Mahesa Murti”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan kawan seperjalanannya ketika bertemu denngan Mahesa Murti di Pendapa Padepokan Bajra Seta.

    “Apakah mataku ini tidak salah mengenal orang?”, berkata Mahesa Murti yang masih ingat wajah Empu Nala, seorang kepercayaan dari Pangeran Gaco Bahari dari Kediri.

    “Anakmas tidak salah mata, kita pernah bermain dalam satu dua jurus”, berkata Empu Nada dengan wajah penuh senyum.

    “Selamat datang Di Padepokan sederhana kami, Empu Nada pasti punya kepentingan yang kuat datang ketempat ini”, berkata Mahesa Murti yang sudah hilang kecurigaannya terhadap Empu Nada, mungkin air wajah dari Empu Nada yang Nampak begitu polos, begitu penuh kasih memancar dari sinar wajahnya.

    Setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Nada dipersilahkan beristirahat sejenak sambil menyantap beberapa potong makanan dan minuman hangat.
    Akhirnya, perlahan Empu Nada menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke Padepokan Bajra Seta.

  9. “Garis hidupku memang aneh, dulu aku telah salah berdiri di belakang Pangeran Gaco Bahari”, berkata Empu Nada berhenti sebentar membiarkan Mahesa Murti mengenang sedikit tentang Pangeran Gaco Bahari yang pernah ingin memberontak atas kekuasaan syah Singasari. “Saat ini kembali langkahku salah berpijak”, lanjut Empu Nada menyambung perkataaannya.

    Akhirnya Empu Nada bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perampok tunggal yang sedang sakit parah terkena banyak senjata lawan.

    “Aku membawanya ke gubukku, merawatnya”, bercerita Empu Nada.

    ”Ketika dirinya telah kembali sembuh seperti sedia kala, kuberharap dengan bimbingan dan tuntunanku, orang itu akan kembali kejalan yang benar”, berkata Empu Nada sambil berhenti sebentar menarik nafas panjang, sepertinya tengah mengumpulkan beberapa kenangan.

    “Aku gembira sekali, orang itu ternyata punya bakat dan kecerdasan yang kuat”, berkata Empu Nada.

    Terlihat wajah Empu Nada tiba-tiba begitu suram, sepertinya dipenuhi duka dan penyesalan yang sarat.

    “Ternyata aku telah menciptakan tanduk untuk seokar srigala, apalagi ketika datang seorang Raja dari Gelang-Gelang yang memberikannya banyak janji-janji, srigala itu sepertinya telah kembali kepadang perburuannya, kepadang perburuan yang lebih besar.Saat ini srigala itu telah berencana dengan Raja Gelang-gelang untuk merampok kekuasaan penguasa baru Singasari”, berkata Empu Nada mengakhiri ceritanya.

    “Apakah Empu Nada pernah memberitahukan kepadanya bahwa langkahnya telah masuk dijalan simpang?”, bertanya Mahesa Murti kepada Empu Nada.

    “Srigala itu sudah tidak mempan lagi dimasuki nasehat apapun, bahkan dirinya merasa telah sampai pada batas pencarian ke AKU-annya”, berkata Empu Nada.

    “Carilah Aku dimana tidak ada aku?”, bertanya Mahesa Murti menegaskan

    “Benar, dirinya telah menemukan AKU yang lain, si AKU nafsunya sendiri yang diakuinya sebagai penguasa tunggal, membenarkan segala tindakannya, semua dianggapnya sebagai kebaikan.Mata hatinya sepertinya telah terbalik, matahari telah terbit di ujung barat mata hatinya”, berkata Empu Nada.

    “Siapakah nama orang itu ?”, bertanya Mahesa Murti

    “Namanya Mahesa Rangga”, berkata Empu Nada.

    “Aku pernah mendengar nama itu disebut oleh salah seorang pedagang yang berasal dari arah barat Singasari, menurutnya adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak terkalahkan, dan diam-diam telah memupuk kekuatan, sebagai kekuatan bayangan, sebagai penguasa bayangan yang juga ikut menarik upeti dari beberapa padukuhan terdekat”, berkata Mahesa Murti.

    “Ternyata anakmas punya banyak telinga”, berkata Empu Nada.

  10. “Beberapa bulan yang lalu, ada banyak pesanan senjata dari pedagang yang berasal dari barat Singasari”, berkata Mahesa Murti.

    “Mereka memang telah memupuk sebuah kekuatan disana”, berkata Empu Nada meyakinkan.

    “Srigala itu sudah mempunyai tanduk, kita harus cepat bertindak sebelum srigala itu bersayap”, berkata Mahesa Amping yang selama itu ikut mendengar memberikan tanggapannya.

    “Itulah maksud kedatanganku ke Padepokan Bajra Seta ini, meminta pertimbangan dan tindakan dari pimpinan Padepokan ini yang kutahu selalu menjunjung tinggi kebenaran”, berkata Empu Nada.

    Sementara itu matahari diatas Padepokan Bajra Seta telah pudar mendekati senja, lengkung langit berwarna putih sejuk menelengkungi keteduhan. Beberapa cantrik terlihat masuk regol gerbang Padepokan dengan pakaian yang berlumpur. Rupanya mereka baru pulang dari sawah. Saat itu memang awal musim penghujan, saat yang baik untuk membajak sawah disaat tanah basah tersiram banyak hujan.

    “Paman Sembaga dan Paman Wantilan sudah datang, undanglah mereka ke pendapa”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping segera turun dari pendapa menemui Sembaga dan Wantilan.

    “Ternyata Sang pelaut telah kembali”, berkata Sembaga menggoda menyambut kedatangan Mahesa Amping.

    “Aku rindu mengotori seluruh tubuh degan lumpur disawah”, berkata Mahesa Amping penuh senyum.

    “Siapakah yang ada di Pendapa bersama sang ketua?”, bertanya Wantilan penuh selidik.

    “Paman pasti pernah mengenalnya, seorang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari dari Kediri yang dulu pernah paman hancurkan Padepokannya beberapa tahun yang lalu”, berkata Mahesa Amping.

    “Untuk apa dia datang ke Padepokan kita ?”, bertanya Wantilan.

    “Kakang Mahesa Murti meminta Paman berdua datang nanti malam ke pendapa utama, ada yang ingin disampaikan, mungkin keingintahuan paman berdua akan terjawab”, berkata Mahesa Amping.

    “kalau begitu kami akan segera membersihkan diri”, berkata Sembaga.

    “Juga berganti pakaian”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum melihat Sembaga dan Wantilan berjalan cepat meninggalkannya, mungkin seperti yang dikatakannya akan segera bersih-bersih diri.

    Terlihat Mahesa Amping telah kembali naik kependapa utama Padepokan Bajra Seta.

    Sementara itu sang waktu terus bergulir diatas Padepokan Bajra Seta, wajah langit semakin meredup dan akhirnya kusam pekat menghitam.

    • hup…!!!
      kamsiaaaaa……………….

      • selamat malam Paklek,
        Tangerang sudah beberapa hari ini diguyur hujan,

  11. Sang Malam telah datang bersama armada kegelapannya, menyergap dan menutupi batas pandang wajah bumi.

    “Sebelum melangkah lebih jauh, yang paling utama adalah melihat kekuatan lawan”, berkata Mahesa Murti di pendapa utama Bajra Seta. Telah hadir di pendapa adalah Sempaga dan Wantilan yang telah diberitahu tentang beberapa hal yang telah terjadi dan berkaitan dengan kedatangan Empu Nada Di Padepokan Bajra Seta.

    “Dan kehadiranku disini berkaitan dengan peneylidikan kekuatan lawan itu”, berkata Sembaga

    “Ternyata Paman Sembaga telah tanggap, benar apa yang Paman duga, aku berkeinginan menugaskan Paman berdua bersama Mahesa Amping kedaerah barat itu”, berkata Mahesa Murti.

    “Sudah lama kaki ini tidak menginjak tanah lebih jauh dari sawah dan ladang dipadepokan Bajra Seta ini”, berkata Wantilan penuh senyum.

    “Kapan kami akan berangkat ?”, berkata Sembaga sepertinya sudah tidak sabaran lagi.

    “Hari ini Mahesa Amping baru saja tiba, biarlah dia beristirahat dulu satu dua hari”, berkata Mahesa Murti.

    Mahesa Amping memang terlihat sudah sangat suntuk, akhirnya Mahesa Murti menyilahkan Mahesa Amping dan Empu Nada beristirahat lebih dulu.

    Dan malam di musim penghujan itu memang begitu dingin, di pertengahan malam kembali hujan mengguyur bumi, membasahi halaman depan Padepokan Bajra Seta, melelapkan semua yang telah tertidur diawal malam.

    Dan hujan baru sedikit berhenti di awal pagi dengan siraman gerimis kecilnya, membuat siapapun akan enggan membuka matanya. Namun di pagi yang masih bergerimis itu Mahesa Amping dan Empu Nada sudah terlihat keluar dari kamarnya. Setelah bersih-bersih diri mereka langsung ke Pendapa utama.

    “Ternyata anakmas Mahesa Murti telah terbiasa bangun diawal pagi”, berkata Empu Nada yang telah melihat Mahesa Murti ternyata sudah mendahuluinya berada di Pendapa utama Padepokan Bajra Seta.

    “Orang tua bilang bangun pagi akan memanjangkan usia”, berkata Mahesa Murti kepada Empu Nada.

    “Dan rejeki kita tidak keduluan dipatuk ayam”, berkata Mahesa Amping melanjutkan.

    Sambil menikmati wedang jahe hangat dan beberapa potong ubi manis mereka saling bercerita banyak hal, terutama Mahesa Amping banyak bercerita tentang perjalanan pelayarannya bersama bahtera besar Singasari menuju Tanah Gurun, sebuah pulau diujung timur matahari sebagai tempat asal pohon cengkeh dan pala, sebuah tanaman dijaman itu yang harganya sama dengan harga sebuah emas.

    “Impian Maharaja Seminingrat telah terwujud, saatnya Maharaja Kertanegara melanjutkan dan memapankannya”, berkata Mahesa Murti menanggapi cerita Mahesa Pukat.

  12. “Musuh-musuh Maharaja muda itu ternyata punya siasat yang sangat tajam, menusuk Singasari disaat semua daya pikiran tertuju ke luar, membangun jalur perdagangan laut bagi kemakmuran nagari”, berkata Empu Nada.

    “Empu Nada benar, kita harus menutup kelemahan itu, agar Singasari tidak terganggu memperluas cakrawala kekuasaannya yang luhur bagi bumi Singasari tercinta”, berkata mahesa Murti.

    “Ternyata aku datang di tempat yang benar, di Padepokan para ksatria Singasari”, berkata Empu Nada

    “Empu Nada telah datang di tempat sanak kadang sendiri”, berkata Mahesa Murti.
    Terlihat Empu Nada tersenyum menangkap maksud perkataan dari Mahesa Murti.

    “Gambar Cakra di lengan Empu Nada telah mempertemukan dua saudara yang telah lama terpisah, jalur perguruan sejati”, berkata Mahesa Murti.”Jalur perguruan Sejati masih hidup di Padepokan Bajra Seta ini lewat Paman Mahesa Agni murid tunggal Empu Purwa saudara seperguruan Empu Brantas”, berkata Mahesa Murti memberikan penjelasannya.

    “Dalam permainan sejurus dua jurus bersamamu, aku juga telah menduga bahwa kita punya dasar kanuragan yang sama”, berkata Empu Nada penuh kegembiraan.

    “Ada berita gembira lain yang akan aku sampaikan untuk Empu Nada”, berkata Mahesa Murti sambil menatap Empu Nada.

    “Cepat katakana, jangan buat orang setuaku ini jadi penasaran”, berkata Empu Nada tidak sabaran.

    “Berbahagialah, bahwa Maharaja Singasari yang tengah berkuasa saat ini adalah murid terkasih dari saudara Empu Nada sendiri”, berkata Mahesa Murti kepada Empu Nada.

    “Aku memang punya saudara kembar, mungkinkah yang engakau maksudkan adalah Dangka saudara kembarku itu ?”, bertanya Empu Nada masih ragu.

    “Benar, saudara kembar Empu Nada yang telah mengangkat murid kepada Maharaja Kertanegara bernama Empu Dangka”, berkata Mahesa Murti.

    “Sudah lama kami berpisah, apakah anakmas mengetahui keberadaan saudaraku itu ?”, bertanya Empu Nada.

    “Ketika kami pulang dari Tanah Madhura,menyusuri sungai porong, kami tidak menemukan Empu Dangka ditempat terakhirnya, sepertinya telah hilang ditelan bumi”, berkata Mahesa Amping ikut bercerita ketika bersama Kertanegara menyusuri sungai Porong tempat terakhir Empu Dangka.

    “Berita bahwa saudaraku telah mewariskan ilmunya kepada Maharaja Singasari sepertinya sebuah air suci yang membersihkan rasa bersalahku selama ini, telah salah mengasuh para srigala yang haus darah”, berkata Empu Nada yang Nampak raut dan garis wajahnya terlihat begitu cerah penuh kegembiraan.

  13. Sementara gerimis diluar pendapa utama terlihat sudah surut, bumi sudah terlihat tersenyum terang bersama awan putih bening mengisi cakrawala. Beberapa burung kecil terlihat terbang melintas.Dan pagi yang cerah seperinya mewarnai langit Padepokan Bajra Seta. Mungkin kehadiran Mahesa Amping menjadikan suasana Padepokan itu telah menjadi semakin menambah kegembiraan.

    Mahesa Amping terlihat mengajak Empu Nada berkeliling Padepokan Bajra Seta, juga mengajaknya keluar padepokan Bajra seta melihat-lihat suasana para petani yang tengah menanam bibit-bibit batang padi satu persatu mengisi petak-petak sawah mereka.

    “Suasana yang menyenangkan, pesona alam yang indah dalam gairah kegembiraan para petani”, berkata Empu Nada.

    “Kedamaian seperti inilah yang kadang datang mengusik hari-hari dalam pengembaraanku”, berkata Mahesa Amping.

    “Kedamaian yang selalu membuat iri para petualang seperti diriku”, berkata Empu Nada.

    “Seandainya saja bumi tanpa bencana dan peperangan, suasana kedamaian ini akan menjadi lukisan yang abadi”, berkata Mahesa Amping.

    “Gusti yang Maha Pemrakarsa telah menciptakan garis takdirnya, keabadian hanya miliknya, kefanaan di alam dunia adalah milik makhluknya. Dengan dasar inilah kita hambanya disuruh memilih, masuk dalam keabadiannya atau terjerumus dalam kefanaan abadi”, berkata Empu Nada.

    “Petuah Empu Nada adalah pusaka”, berkata Mahesa Amping yang menangkap makna terdalam dari tutur Empu Nada.

    “Anakmas telah sampai dalam pencerahan bathin, aku senang telah bertemu dengan orang-orang macam anakmas, Padepokan Bajra Seta telah melahirkan banyak putra terbaik sebagai cahaya bumi dikegelapan malam”, berkata Empu Nada.

    Sementara itu matahari sudah semakin merayap tinggi, dari sebuah saung terlihat seorang lelaki bertelanjang dada memanggil mereka.

    Mahesa Amping dan Empu Nada mendekatinya, ternyata lelaki bertelanjang dada itu tidak lain adalah Mahesa Semu.

    “Mbokyu Padmita sengaja membuat pecak gabus kesukaanmu”, berkata Mahesa Semu ketika Mahesa Amping dan Empu Nada mendekatinya.

    Demikianlah, mereka sejenak menikmati makan siang di pinggir sawah, meriung bersama para cantrik lainya yang sudah dari pagi berkeringat bekerja di sawah. Sebuah kegembiraan dan kebahagiaan bersama yang jarang sekali dirasakan oleh Empu Nada.

    “Makanan yang paling nikmat yang pernah aku rasakan”, berkata Empu Nada sambil menyuap nasi liwet dan sepotong gabus pecaknya diatas sehelai daun pisang yang masih basah.

    • lho…lho….lho…

      makanya, tidur kok telinga “mbrenginging”, gak tahunya masih digerojok rontal sama Ki (Kompor) Sandikala

      suwun nggih (dengan rendah karena sudah lewat tengah malam)

      • …….makanya, tidur kok telinga “mbrenginging”, gak tahunya
        Gandhok SSB-08 lawange njêglèg

        sst…sst….sst (berbisik dengan rendah karena sudah lewat tengah malam)

        • lho….
          nggih to ki
          wah……..
          langsung menuju ke TKP

          eh…, lha SBB-09 pun di buka kok Ki

          • Oh…..oh…oh….”“mbrenginging”nya sudah ilang

  14. Hari yang telah ditentukan akhirnya telah tiba.
    Tiga ekor kuda terlihat pagi itu telah keluar dari regol gerbang Padepokan. Mereka adalah Wantilan, Sembaga dan Mahesa Amping.

    “Berbahagialah anakmas yang telah banyak melahirkan para ksatria berjiwa mulia”, berkata Empu Nada kepada Mahesa Murti ketika melepas kepergian tiga orang cantrik pilihan Padepokan Bajra Seta.

    “Tugas kita hanya menanam dan merawatnya, Gusti Yang Maha Karsa yang menentukan berhasil atau tidaknya panen raya”, berkata Mahesa Murti tersenyum.

    “Kamu benar Anakmas, aku memang harus belajar banyak dengan anakmas”, berkata Empu Nada ketika melihat tiga ekor kuda telah menghilang di tikungan jalan.
    Wantilan, Sembaga dan Mahesa Amping memang sudah masuk ke tikungan jalan, menyusuri jalan Padukuhan.

    Dan manakala berhadapan dengan padang ilalang yang luas, mereka menepak perut kuda agar berlari kencang.
    Terlihat tiga ekor kuda berlari kencang saling berkejaran membelah ilalang yang tinggi hingga sebadan. Angin pagi menerpa wajah-wajah mereka, mengusap semangat pengembara di padang pengembaraan, mengusap semangat tiga ksatria menuju padang perbhaktian. Mereka seperti elang gurun yang terbang bebas merdeka mencari padang perburuannya, hinggap sebentar di puncak-puncak bukit karang yang tinggi, melewati ngarai dan lembah hijau, atau menghilang ditelan kepekatan hutan rimba yang lebat.

    Setelah beberapa hari menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka telah mendekati tempat daerah yang mereka tuju.

    Terlihat tiga ekor kuda telah memasuki sebuah regol gerbang sebuah kademangan, matahari pagi menyapu wajah-wajah mereka. Beberapa petani yang akan berangkat menuju ke sawah hanya sebentar menatap mereka, sepertinya kademangan itu sudah terbiasa didatangi para tamu asing.

    “Permisi Paman, dapatkah menunjukkan kepada kami rumah Saudagar Kimung ?”, bertanya Mahesa Amping kepada seorang petani yang berpapasan dengannya.

    “Rumah Saudagar Kimung tidak jauh lagi, jalan lurus dari sini kisanak akan menemui rumah yang cukup besar dengan lumbung padi yang juga cukup besar. Didepan pendapa berdiri pohon asam yang besar”, berkata petani itu memberikan ancer-ancer rumah Saudagar Kimung.

    “Terima kasih Paman”, berkata Mahesa Amping kepada petani itu.

    Sebagaimana yang dikatakan petani itu, mereka menemukan sebuah rumah besar dengan sebuah lumbung padi yang juga cukup besar, ada pohon asam yang sudah tua berbatang besar melebihi sepelukan tangan orang dewasa. Sebagaimana umumnya rumah yang ada di Kademangan itu, rumah itu terbuka tidak dibatasi pagar. Terlihat keranda bambu didepan rumahnya sebagai tempat merayap pohon labu parang yang nampaknya sudah banyak yang telah kuning matang.

    • blug……
      satu rontal lagi telah jatuh …

      selamat pagi

      • MATUR NUWUN, KAMSIIIAAAAA

  15. terima kasih, setelah gandhoknya sehat, giliran banjir rontal, ….

  16. “Selamat datang di Kademangan Padang Bulan”, berkata seorang lelaki bertubuh tambur turun dari pendapa rumah yang ternyata adalah Saudagar Kimung.

    “Ternyata nama Saudagar Kimung sangat santer di penjuru Kademangan ini, kami tidak susah mencarinya”, berkata Wantilan yang langsung menyalami lelaki pemilik rumah itu.

    Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan segera diajak naik ke pendapa rumah.

    “Percayalah, aku dapat memegang rahasia”, berkata Saudagar Kimung dengan berbisik takut ada yang mendengar.

    Ternyata Saudagar Kimung memang dapat dipercaya, jangankan kepada orang lain, kepada keluarganya sendiri rahasia rencana ketiga cantrik padepokan Bajra Seta ini sangat tertutup. Hanya dikatakan bahwa ketiga kawan jauhnya ini akan memulai penghidupan baru, mencoba membuka usaha sebagai tukang pandai besi.

    Hari pertama memang tidak banyak yang dilakukan oleh Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan selain mempersiapkan beberapa peralatan kerja sebagai tukang pandai besi.

    Pada hari kedua Saudagar Kimung mengajak mereka bertiga kepasar di Kademangan Padang Bulan yang cukup ramai, apalagi disaat hari pasaran.

    Nasib mereka cukup beruntung, seorang pejabat pasar memberikan tempat yang cukup luas diujung pasar. Pada hari itu juga mereka langsung membuat sebuah gubuk yang bukan hanya sebagai tempat kerja dan usaha, tapi sekaligus sebagai tempat tinggal mereka bertiga.

    Wantilan, Sembaga dan terutama Mahesa Amping ternyata memang seorang pandai besi sungguhan yang ahli, siapapun yang melihat hasil kerja mereka tidak akan menyangka bahwa mereka sebenarnya bukan pandai besi sungguhan. Hasil karya mereka dapat dikatakan begitu halus dan sangat baik.

    Mereka mulai bekerja sepanjang hari, maka dalam waktu sepekan berbagai peralatan pertanian dan senjata sudah terlihat menumpuk siap diperdagangkan.

    “Apakah kisanak ingin membeli barang kami ?”, berkata Mahesa Amping kepada dua orang lelaki berwajah kasar.

    “Ternyata kamu ini orang baru disini, kami disini tidak untuk membeli, tapi meminta kutipan”, berkata salah seorang yang paling garang.

    “Kami telah membayar kutipan kepada petugas pasar kemarin sore”, berkata Mahesa Amping.

    “Kami bukan petugas pasar, tapi kami penguasa tempat ini”, berkata orang itu dengan mata melotot.

    “Maaf, kami memang orang baru disini. Hari ini kami baru memulai usaha, bagaimana bila kami memberi kalian hadiah dua buah senjata”, berkata mahesa Amping dengan gaya seorang pedagang yang mengalah dan tahu berperilaku kepada orang-orang kasar di pasar pada umumnya.

  17. “Untuk kali ini aku terima”, berkata orang itu penuh gembira.

    Mahesa Amping segera memberikan mereka dua buah golok besar mirip dengan golok besar yang mereka bawa yang terlihat terselip di pinggang masing-masing.

    “Buatan kami adalah yang terbaik di Tanah Singasari ini”, berkata Mahesa Amping sambil menyerahkan golok besar buatannya.

    Terlihat kedua orang itu menimang-nimang golok besar pemberian itu serta membandingkan dengan senjatanya sendiri. Sedikit banyak kedua orang itu memang tahu menilai tentang senjata yang baik.

    “Senjata yang baik, sangat ringan dan enak dipegang”, berkata kawannya yang satu lagi.

    “Anggap saja itu hadiah perkenalan kita”, berkata Mahesa Amping penuh senyum keramahan.

    “Jarang sekali aku berhadapan dengan pedagang seperti kalian, tidak kikir dan mudah diatur”, berkata orang yang berwajah paling garang.

    “Kami disini mencari peruntungan, bukan mencari musuh”, berkata Mahesa Amping masih dengan wajah ramah dan penuh senyum.

    “Pekan depan kami akan datang kembali”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping sambil memberi tanda kepada kawannya untuk berlalu meninggalkan tempat pandai besi itu.

    “Untungnya bukan aku yang menghadapi orang itu”, berkata Wantilan kepada Mahesa Amping ketika kedua orang itu sudah pergi berlalu.

    Ternyata keberadaan pandai besi yang baru diujung pasar cukup menarik perhatian, banyak orang yang berbelanja mampir ketempat itu, baik hanya sekedar melihat-lihat, tapi ada juga yang langsung membeli barang dagangan mereka.

    Sepekan kemudian, dagangan mereka seperti laris manis. Mungkin dari mulut ke mulut barang dagangan mereka telah diakui sebagai barang buatan yang sangat halus dan baik.

    Hingga pada sebuah hari pekan, pada sebuah hari pasaran, yang mereka nantikan akhirnya datang juga.

    “Disinikah kamu mendapatkan dua buah golok besar itu?”, berkata seorang yang berpakaian perlente layaknya seorang bangsawan kepada salah seorang anak buahnya yang ternyata salah seorang yang dulu pernah diberi hadiah dua buah golok besar oleh mahesa Amping.

    “Benar, disinilah aku mendapatkannya”, berkata anak buahnya yang ditanyakan itu sambil menganggukkan kepalanya.

    Seperti biasa, Sembaga pada saat itu tengah asyik menempa besi, sementara Wantilan terlihat tengah menghaluskan sebuah pedang yang nampaknya hampir jadi.

  18. “Silahkan tuan melihat-lihat barang dagangan kami”, berkata Mahesa Amping mendekati orang itu yang terlihat sepertinya sangat disegani oleh lima orang yang datang bersamanya, diantaranya adalah yang sudah dikenal oleh Mahesa Amping.

    Orang itu memang terlihat angkuh, tampa berkata apapun langsung memeriksa sebuah pedang panjang dan mencobanya dalam beberapa gerakan.

    “Tuan dapat menguji ketajaman pedang buatan kami”, berkata Mahesa Amping sambil mengeluarkan sebuah batang bambu yang panjangnya kurang lebih sedepa.

    “Silahkan tebas bambu ini”, berkata Mahesa Amping sambil menjulurkan bambu itu dihadapan orang itu.
    Maka tanpa banyak cakap orang itu telah membuat ancang-ancang untuk mengayunkan pedang ditangannya.

    Luar biasa, bambu ditangan Mahesa Amping sudah terpotong dengan halusnya dengan sekali tebasan.

    “Pedang yang bagus”, berkata orang itu langsung memuji pedang hasil karya Mahesa Amping.

    “Buatan kami berasal dari besi pilhan”, berkata Mahesa Amping sambil membungkukkan badan penuh kerendahan hati layaknya seorang pedagang kepada seorang bangsawan calon pembeli yang royal.

    “Aku pesan seratus pedang, seratus golok panjang dan seratus mata tombak”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping.

    “Bila pesanan tuan telah selesai, kemana kami dapat mengantarnya ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Bawalah ke Gunung Jati, setiap orang disini sudah tahu dimana aku tinggal”, berkata orang itu.

    “Dapatkah aku tahu siapakah nama tuan, agar mudah mencari tempat tinggal tuan”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu.

    “Ternyata kamu orang baru disini, namaku Mahesa Rangga”, berkata orang itu yang mengatakan dirinya bernama Mahesa Rangga.

    “Secepatnya kami akan menyelesaikan pesanan tuan”, berkata Mahesa Amping penuh gembira, tapi orang itu juga para anak buahnya mengartikan lain kegembiraan Mahesa Amping.

    Tanpa kata-kata orang itu sudah berbalik badan bersama anak buahnya meninggalkan Mahesa Amping.

    “Kita perlu bahan yang cukup untuk melayani pesanan mereka”, berkata Wantilan kepada Mahesa Amping yang diam-diam telah mencuri dengar pembicaraan Mahesa Amping dengan orang yang mengaku bernama Mahesa Rangga.

    “Besok Saudagar Kimung akan berangkat berdagang kearah timur, kita bisa titip pesan kepadanya untuk dibawakan dari Padepokan Bajra Seta sesuai pesanan”, berkata Mahesa Amping.

  19. “Otakmu cukup encer, kita tidak perlu banyak kerja, barang sudah siap jadi”, berkata Wantilan sambil menepuk-nepuk pundak Mahesa Amping.

    “Kita tidak perlu memberikan semua pesanan mereka”, berkata Mahesa Amping

    “Tidak memberikan semua pesanan mereka?”, bertanya Wantilan tidak mengerti maksud perkataan Mahesa Amping yang tersenyum melihat wajah Wantilan yang berkerut penuh tanda Tanya.

    “Set !, ada pembeli datang”, berkata mahesa Amping memberi tanda ada beberapa orang yang tengah berjalan ketempat mereka.

    Maka seperti biasa Mahesa Amping melayani orang-orang yang datang melihat-lihat, sekali-sekali Mahesa Amping memamerkan beberapa senjata dan beberapa alat pertanian barang dagangannya.

    Ketika beberapa pembeli sudah pergi, kembali Wantilan menagih penjelasan kepada Mahesa Amping.

    “Nanti malam akan kujelaskan semuanya”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum.

    “Aku tunggu penjelasanmu”, berkata Wantilan yang langsung kembali bekerja menghaluskan beberapa alat yang terlihat hambir sempurna.

    Sebagaimana yang telah dijanjikan, maka pada malam harinya Mahesa Amping menjelaskan semua rencananya.

    “Jadi kita membuat senjata dari bahan besi campuran?”, bertanya Wantilan

    “Benar, dibawah kekuatan senjata yang kita miliki, setidaknya bila beradu dengan senjata kita akan mudah patah”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Kamu memang anak nakal”, berkata Wantilan yang langsung setuju

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Wantilan sudah ada di rumah Saudagar Kimung untuk menitipkan beberapa pesan rahasia yang akan disampaikannya kepada Mahesa Murti di Padepokan Bajra Seta.

    Pada hari-hari berikutnya, Mahesa Amping, Wantilan dan Sembaga terlihat sangat sibuk bekerja sepanjang hari, bahkan kadang sampai jauh malam. Ternyata mereka tengah membuat sebuah senjata yang khusus mereka ciptakan sendiri yang dirancang akan mudah patah, namun sebagai seorang ahli tidak akan mudah diketahui.

    Sepekan kemudian telah datang tiga orang cantrik Padepokan Bajra Seta membawa barang pesanan yang ditipkan lewat Saudagar Kimung. Maka pesanan seratus pedang, seratus golok panjang dan seratus mata tombak sudah terkumpul.

    “Tiga ratus prajurit dari Bandar Cangu secara bertahap akan datang memenuhi tempat ini”, berkata salah seorang cantrik Bajra Seta menyampaikan sebuah berita. “Raden Wijaya dan Lawe ikut dalam pasukan itu sebagai pimpinan”, berkata cantrik itu melanjutkan.

  20. Sugeng Enjing…

    Kamsiaaaa…. isuk2 disuguhi kopi…. eh wesi anget karya om Sembaga…

  21. sugeng enjing, matur nuwun

  22. karena komputer saya rusak, DJVU readernya ikut terhapus, mau download lagi gak jumpa sofware nya. komputer saya di protect IT, yg saya dapatkan cara membaca DJVU nya harus di install dulu….. mohon bantuan aki2 tuk membantu saya ….

    • Kalo saya biasanya pake windjview Ki… Kalo versi yang jadul (versi 0.5.x), tidak perlu install-install segala. langsung dobel klik untuk menggunakan.

      Kalo yang versi rada2 terkini (versi 1.x.x), kayaknya harus melalui proses instalasi.

      Bisa dipun pirsani di http://sourceforge.net/projects/windjview/files/WinDjView/

    • versi lama dan versi baru ada di sini:
      http://djvu.org/resources/

      untuk win-7, vista dan xp (x86 & x64) ada di:
      http://djvu.org/resources/
      (yang ini perlu instalasi)

      • maaf yang kedua salah ketik. yang benar di: http://www.djvuviewer.com/

        • maaf yang ketiga salah ketok, hehehe

          • waduh…, yang ketiga malah gak ketok

          • ada ah, saya sudah coba lho,… di bawah tulisan “And it is totally free. Now how cool is that?” ada tabel yg terdiri dari 4 kolom, klik tulisan “download here” pada kolom terakhir, … isinya file bernama “djvuviewer_setup.exe”. setelah didownload tinggal buka pakai windows explorer, double click dan proses instalasipun berjalan, …

            proses tsb berjalan baik pada komputer yg menggunakan sistem operasi microsoft windows.

            monggo, ….

  23. hadir…..!!!

  24. Gunung jati adalah sebuah kawasan perbukitan berhutan lebat. Sebagaimana namanya, didalam hutan ini memang banyak tumbuh tanaman jati yang sudah berumur puluhan tahun. Dahulu orang-orang disekitarnya biasa mengambil kayu jati untuk membangun rumah mereka di hutan ini, disamping juga sebagai tempat berburu yang baik karena masih banyak dihuni berbagai binatang buruan liar. Namun setelah hutan itu dikuasai para gerombolan yang dikepalai oleh seorang yang bernama Mahesa Rangga, para penduduk sekitar tidak berani lagi datang ke hutan gunung jati.

    Gerombolan Mahesa Rangga ini semakin merajelela, bahkan mereka saat itu sudah berani meminta kutipan di beberapa kademangan sekitarnya sebagaimana yang pernah dialami sendiri oleh Mahesa Amping di pasar, pada saat panen raya atau kepada para saudagar yang datang dari berbagai tempat.Para bebahu Kademangan tidak berani melapor, mereka masih memilih aman hanya dengan sekedar memberikan kutipan.

    Namun akhir-akhir ini gerombolan Mahesa Rangga yang diam-diam sangat dibenci oleh penduduk disekitarnya sudah mulai berbuat keonaran dan membuat resah, mereka sudah mulai mengganggu wanita yang sudah bersuami dan para gadis penduduk disekitarnya.

    Dari beberapa penduduk di Kademangan Padang Bulan, Mahesa Amping dapat mengorek beberapa keterangan tentang gerombolan ini, ternyata umumnya mereka adalah bekas perampok dan perusuh yang merasa tersingkir dengan kekuasaan prajurit Singasari di banyak jalan jalur perdagangan yang ramai. Sayangnya para prajurit Singasari masih kurang banyak untuk mengawasi seluruh Tanah Singasari yang luas, diantaranya pengawasan disekitar gunung jati ini.

    Pagi itu terlihat tiga orang tengah menuntun tiga ekor kuda. Terlihat kuda-kuda itu membawa muatan barang dipunggungnya.

    Ternyata ketiga lelaki itu adalah Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan yang tengah mendaki membawa senjata pesanan Mahesa Rangga di Gunung Jati.

    Terlihat mereka telah semakin masuk ke hutan gunung jati. Akhirnya setelah berjalan setengah harian mereka telah sampai disebuah tanah datar. Diatas tanah datar itu berdiri banyak gubuk-gubuk liar beratap daun dan berdinding kayu sekedarnya. Namun ditengah gubuk-gubuk yang dibangun ala kadarnya itu berdiri sebuah bangunan yang cukup megah, hamper seluruhnya terbuat dari kayu jati yang sudah dihaluskan, bahkan ada beberapa bagian seperti pagar pendapa terlihat diukir dengan apiknya.

    Ketika Mahesa Amping,Sembaga dan Wantilan melewati sebuah gubuk, keluar seorang lelaki dari gubuk itu menghampiri mereka. Ternyata lelaki berwajah garang yang sudah dikenal Mahesa Amping yang selalu datang setiap pekan meminta kutipan.

    “Ternyata kamu si pandai besi yang baik hati”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping.

    “Aku membawa barang pesanan tuanmu”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu.

    “Mari kuantar kalian kepada Sang Ketua”, berkata orang itu menggiring Mahesa Amping, Wantilan dan Sembaga menuju rumah jati itu yang ternyata adalah tempat tinggal Sang Ketua Mahesa Rangga.

  25. “Kalian tunggu disini, aku akan menemui sang ketua”, berkata orang itu meminta Mahesa Amping dan kawan-kawannya menunggu di bawah halaman pendapa rumah jati itu.

    Terlihat orang itu masuk kedalam rumah.

    Tidak lama berselang orang itu terlihat kembali keluar dari pintu berjalan menghampiri Mahesa Amping dan kedua kawannya.

    “Sang Ketua ternyata malas menemui kalian, silahkan letakkan barang-barang yang kamu bawa disini”, berkata orang itu kepada Mahesa Amping.

    Maka Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan segera membongkar barang muatan dari punggung kuda, meletakkannya di halaman pendapa.

    “Terimalah pembayaran atas penjualan barangmu”, berkata orang itu sambil memberikan sekampit pembayaran.

    “Terima kasih”, berkata Mahesa Amping menerima pembayaran itu langsung membukanya.“Tuanmu ternyata sangat baik hati, pembayaran ini lebih dari cukup”, berkata Mahesa Amping dengan penuh gembira.”Terimalah ini sebagai balas jasa telah mengantar tuanmu kepada kami”, berkata kembali Mahesa Amping sambil memberikan sedikit persenan kepada orang itu yang diambilnya dari kampit pembayaran yang diterimanya.

    “Ternyata kamu tahu apa yang ada didalam pikiranku”, berkata orang itu dengan senyum penuh arti.

    “Boleh kami beristirahat sejenak disekitar tempat ini?”, bertanya Mahesa Amping kepada orang itu.

    “Terserah kalian”, berkata orang itu sambil pergi meninggalkan Mahesa Amping bertiga.

    Terlihat Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan mencari tempat berteduh disebuah pohon besar diantara gubuk-gubuk yang tidak beraturan letaknya mengelilingi rumah Sang Ketua.

    Sambil beristirahat mereka memperhatikan orang-orang yang ada didalam gubuk, terlihat ada yang sedang tidur dan sebagian lagi sepertinya tengah bersenda gurau. Sebagian besar terlihat sebagai orang-orang kasar, terdengar dari gaya bahasanya.

    Setelah matahari sudah mulai jenuh berdiri dipuncaknya, Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan terlihat tengah bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Beberapa mata terlihat mengiringi langkah kaki mereka, namun sebagian lagi sepertinya memandang tak acuh.

    Hari sudah mendekati senja manakala mereka telah sampai dikaki hutan gunung jati. Ditanah terbuka mereka langsung menghentakkan lari kuda mereka. Maka tidak begitu lama mereka telah sampai kembali di Kademangan Padang Bulan.

    Dan sandikala telah datang menelungkupi bumi, memanggil burung-burung kecil untuk kembali kesarangnya. Para ibu memanggil anaknya yang masih bermain dihalaman rumah, sementara itu beberapa lelaki bertelanjang dada terlihat baru pulang dari sawahnya.

  26. hadu……
    saya belum sempat baca rontal-rontalnya.
    tiga hari ini cuapeke puoll……….,
    semestinya bagian satu sudah waktunya dipindah ke gandoknya
    tetapi…, masih belum sempat
    ngapunten ngggih ki ……

    • walah…..
      sampek lupa….
      kaammsssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……!!!

  27. HADIR,

  28. kamsiiiaaaa, matur nuwun

    • nuwun matur, kamsiaaaa sampe malam nanti….

      • Kamsia matur nuwun……ini sudah malam.

  29. Diujung senja, sudut pasar itu sudah begitu sepi. Mahesa Amping , Sembaga dan Wantilan masih terlihat duduk-duduk dibale bamboo didepan gubuk mereka.Sayup-sayup terdengar suara burung jalak suren mencari pasangannya.

    “Mengapa kamu tersenyum”, berkata Wantilan yang heran melihat Mahesa Amping tersenyum sendiri.

    “Aku kenal betul dengan suara jalak suren itu”, berkata Mahesa Amping masih tersenyum.

    “Aku belum mengerti”, berkata Wantilan merasa tidak mengerti apa arti ucapan Mahesa Amping.

    Ternyata Mahesa Amping memang tidak perlu menjawab. Muncul dari kegelapan malam dari balik pohon ambon yang lebat dua orang yang berjalan mengendap-endap.

    Setelah dua orang itu semakin mendekat, barulah terlihat wajah kedua orang itu yang ternyata adalah Raden Wijaya dan Lawe.

    “Permisi, numpang tanya, aku mencari tiga orang pandai besi yang mumpuni”, berkata Lawe bercanda menyapa mereka.

    “Selamat datang di Kademangan Padang Bulan”, berkata Sembaga menyambut kedatangan mereka.

    Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, Raden Wijaya menyampaikan berita bahwa dirinya telah datang bersama dengan tiga ratus prajurit dari Bandar Cangu.

    “Dimana sekarang mereka?”, bertanya Wantilan.

    “Dihutan sebelah timur tidak jauh dari sini”, berkata Raden Wijaya.”Mereka datang secara bergelombang, aku datang bersama kelompok terakhir”, berkata Raden Wijaya melanjutkan.

    “Satu hari penuh beristirahat kukira cukup untuk pasukanmu”, berkata Mahesa Amping kepada raden Wijaya.

    Semalaman mereka berbicara tentang beberapa hal menyangkut rencana penyerangan mereka menghabisi gerombolan Mahesa Rangga di hutan Gunung Jati.

    “Siapkan panah api, kita akan memulai peperangan dengan sebuah kepanikan besar”, berkata Mahesa Amping memberikan beberapa usulan.

    “Aku setuju, kita telah memenangkan awal pertempuran”, berkata Raden Wijaya menyetujui usulan dari Mahesa Amping.

    “Aku juga punya usul”, berkata Lawe

    “Apa usulmu ?”, bertanya Sembaga kepada Lawe yang Nampak begitu serius.

    “Usulku bagaimana kalau kita memasak air dulu, aku yakin dengan segelas wedang jahe hangat akan datang ilham yang cemerlang”, berkata Lawe dengan wajah penuh senyum.

  30. “Usul yang hebat, biarlah biarlah aku yang melakukan tugas itu”, berkata Mahesa Amping menimpali canda Lawe sambil berdiri dan masuk kedalam.

    Tidak lama kemudian, Mahesa Amping sudah datang membawa sebuah kendi besar berisi wedang jahe hangat yang baunya sudah tercium menyegarkan. Mahesa Amping masuk kembali kedalam gubuknya dan kembali dengan membawa beberapa tangkai jagung manis yang terlihat masih panas karena baru saja diangkat dari perapian.

    “Tadi siang ada yang menukar sebuah cangkul dengan jagung manis”, berkata Mahesa Amping sambil meletakkan bakul berisi jagung manis yang masih panas.

    “Serbuuuu !!!”, berkata Lawe yang langsung menyambar jagung manis didepan matanya.

    Semua yang ada tersenyum melihat kelakuan Lawe yang tidak pernah berubah, selalu mengundang banyak tawa diantara mereka.

    Sementara itu dikejauhan terdengar suara kentongan bambu dipukul dengan nada dara muluk berasal dari sebuah gardu di Padukuhan terdekat. Hari memang sudah masuk dipertengahan malam.

    “Kami pamit untuk kembali kepasukan”, berkata Raden Wijaya menyampaikan keinginannya untuk kembali kepasukannya.

    “Selamat beristirahat”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian Raden Wijaya dan lawe yang akan kembali bersama pasukannya.

    Raden Wijaya dan Lawe terlihat berjalan kearah sebagaimana mereka muncul. Dan mereka sudah menghilang ditelan kegelapan malam. Sementara itu Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan tengah membersihkan bale tempat mereka duduk. Dibale itulah mereka merebahkan dirinya, menghabiskan sisa malam yang dingin.

    “Beristirahatlah, biarlah aku yang berjaga”, berkata Mahesa Amping kepada Wantilan dan Sembaga

    “bangunkan aku bila kantukmu sudah tidak dapat tertahan lagi”, berkata Sembaga sambil menyarungkan sekujur tubuhnya dengan kain panjang.

    Tidak lama kemudian Sembaga dan Wantilan sudah terlihat nyenyak tertidur. Sementara itu Mahesa Amping terlihat menyandarkan dirinya didinding pagar gubuknya.Matanya terlihat terpejam, namun kewaspadaannya masih tetap terjaga. Tidak satupun bunyi yang terlepas dari pendengarannya.

    Namun malam yang tersisa itu berlalu sebagaimana adanya, tidak ada apapun yang terjadi dimalam itu.

    Dan akhirnya sang pagi telah datang.

    “Kenapa kamu tidak membangunkan aku ?”, berkata Sembaga kepada Mahesa Amping yang terbangun dan melihat hari sudah menjadi terang tanah.

    “Aku melihat paman tidur begitu pulas nyenyaknya”, berkata Mahesa Amping penuh senyum.

    • istirohat dulu ach……..

      • Monggo Ki
        saya juga belum sempat membaca dongeng Ki (Kompor) sandikala
        hadu……,, PR menumpuk..puk…puk…., stress…….

  31. selamat malam……..HADIR,

    • ki GEMBLEH masih sibuk menCOBA-coba kaos pecut keng
      padepokan ADBMers…..he-hee-heee, hiks

      • XXXXLL

      • Iya ki
        mau menahan luapan lendut benter dengan kaos cap pecut grup adbm

  32. Pagi itu Kademangan Padang Bulan disiram gerimis kecil panjang, membuat orang-orang menjadi malas keluar rumahnya. Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan terlihat masih duduk-duduk dibale bambu sepertinya masih malas untuk menggelar barang dagangannya, mungkin karena hari itu bukan hari pasaran.

    Ketika gerimis sudah berhenti, baru terlihat mereka menggelar barang dagangannya. Tidak seperti hari-hari lalu, sembaga hari ini tidak membelah kayu dan membuat perapian. Sementara itu Wantilan terlihat tengah menghaluskan beberapa barang yang kemarin belum sempat dihaluskan. Namun sebentar saja pekerjaan itu sudah diselesaikan oleh Wantilan.

    “Hari ini kita harus beristirahat yang cukup”, berkata Sembaga sambil duduk di Bale dan menyandarkan badannya dipagar rumah.

    “Rebusan jagung manis”, berkata Mahesa Amping keluar sambil membawa beberapa potong jagung manis.
    Hari itu tidak banyak yang dilakukan oleh Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan. Seharian mereka hanya bercakap-cakap diatas Bale.

    “Tugas kita sebagai pandai besi sudah mendekati masa paripurna”, berkata Mahesa Amping
    “Kasihan beberapa pelanggan kita”, berkata Wantilan.

    “Kita dapat meminta juragan Kimung untuk mencari kerabatnya yang mau melanjutkan usaha kita ini”, berkata Sembaga.

    “Benar, kita dapat mendidik beberapa orang di Padepokan Bajra Seta”, berkata Wantilan.

    “Setelah urusan kita selesai, kita bias membicarakannya bersama juragan Kimung”, berkata Mahesa Amping.

    Sementara itu hari terus bergulir, matahari perlahan merayap mendaki dan menuruni lengkung langit hingga akhirnya menggelantung diujung barat cakrawala. Langit tua sudah berwarna awan senja kelabu.

    Beberapa burung manyar berkepala kuning yang seharian ramai diatas dahan pohon ambon yang rindang sudah tidak terdengar lagi suaranya, mungkin sudah kembali kesarangnya yang hangat.

    Sementara itu di hutan sebalah timur Kademangan Padang Bulan, beberapa prajurit Singasari terlihat tengah mempersiapkan dirinya. Tenaga mereka sepertinya telah pulih kembali setelah seharian cukup beristirahat.

    “Kita menunggu Mahesa Amping yang akan menjadi pemandu kita menuju hutan gunung jati”, berkata Raden Wijaya kepada beberapa prajurit.

    Ternyata orang yang ditunggu akhirnya datang juga, terlihat Mahesa Amping telah datang seorang diri.

    “Paman Wantilan dan Paman Sembaga telah berangkat lebih dulu mendahului kita ke hutan gunung jati”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    • gedebug….
      kamsiaaaaa……….
      ada lagi kah Ki?
      he he he ……

      • tentu ADA…….he-he-heeee, KAMSIA

        • pasti ada matur nuwun

  33. Langit diatas tanah datar di hutan gunung jati saat itu sudah masuk malam. Dari jauh hanya terlihat kerlap-kerlip cahaya berasal dari oncor minyak jarak yang digantung didepan gubuk-gubuk para gerombolan Mahesa Rangga. Beberapa orang terlihat masih berkerumun, sementara beberapa orang lagi sudah mulai beranjak naik ketempat tidur.

    Dulu sebelum para gerombolan Mahesa Rangga menghuni hutan gunung jati, hutan ini sangat angker dimalam hari, para pemburu tidak ada yang berani bermalam di hutan ini, beberapa orang pernah bertemu dengan makhluk hantu genduruwo, sejenis hantu bermata satu sangat menyeramkan dan suka sekali menghisap darah manusia.

    Namun manakala para gerombolan Mahesa Rangga menghuni hutan gunung jati, hutan ini berubah lebih menakutkan lagi, para penduduk tidak takut lagi pada genduruwo, tapi takut kepada penghuninya para gerombolan Mahesa Rangga yang umumnya sangat galak dan kasar.Ada beberapa penduduk yang tidak pernah kembali lagi kerumah setelah memasuki hutan gunung jati, berdasarkan cerita salah seorang penduduk yang berhasil meloloskan diri, orang-orang yang tersasar memasuki hutan gunung jati telah ditangkap, disiksa dan harus bersedia melayani sebagai budak. Dan yang sangat dibenci oleh para penduduk sekitar hutan gunung jati adalah bahwa para gerombolan sering turun gunung dimalam hari mencari para wanita muda.

    Malam itu para penduduk boleh bernafas lega, sebab mulai malam itu Mahesa Rangga melarang anak buahnya turun gunung di malam hari, mereka harus beristirahat karena disiang harinya harus melakukan beberapa latihan dibawah bimbingan langsung dari Mahesa Rangga.

    Demikianlah, ketika malam mulai merayap, beberapa orang yang masih berkerumun satu persatu bergeser masuk kepembaringannya. Ahkirnya ketika dipertengahan malam, suasana di sekitar gubuk-gubuk itu sudah begitu sepi, semua penghuninya sudah tertidur.Hanya beberapa peronda yang bertugas dimalam itu sekali-kali berkeliling untuk memastikan tidak ada sesuatu yang mungkin membahayakan.

    Suasana tanah datar tempat para gerombolan Mahesa Rangga yang tenang dan sepi itu tiba-tiba saja berubah seratus delapan puluh derajat, dimulai dengan sebuah panah api sanderan terlihat membumbung tinggi. Itulah sebuah tanda pasukan panah api dari para prajurit Singasari yang sudah lama mengepung hunian itu beraksi. Dari tangan mereka meluncur anak panah berapi menghujani gubuk-gubuk yang beratap daun alang-alang yang mudah terbakar.

    Paniklah bukan main para penghuni gubuk-gubuk itu yang berlari keluar menyelamatkan diri dari kobaran api yang dalam sekejap sudah menjalar memakan tiang dan dinding pagar gubuk-gubuk itu.

    Beberpa orang tidk sempat membawa senjata apapun, namun sebagian lagi adalah orang-orang yang mempunyai kesiagaan yang kuat, mereka sudah menyadari ada musuh yang akan menyergap mereka.

    Para prajurit Singasari tidak menyia-nyiakan keadaan lawan mereka yang tengah panik, dari kegelapan malam bermunculan langsung menyerang para gerombolan Mahesa Rangga.

  34. lha rak tenan, pasti ada tutuge, matur nuwun, kamsiiiiaaaaaa

    • lha rak tenan, pasti ada tutuge, matur nuwun, kamsiiiiaaaaaa

  35. Selamat malam Ki Bancak,
    Selamat malam ki Yudha,
    Selamat malam sebtuan.

    Tiga baris lagi dapet satu rontal, tapi kelobot sang dhalang sudah habis, terpaksa keluar bentar…hehehe

  36. Akibatnya memang sudah dapat ditebak, beberapa orang yang tidak sempat membawa senjatanya langsung menjadi bulan-bulanan para prajurit Singasari. Dan dalam waktu singkat sudah dapat dilumpuhkan.

    Sementara itu beberapa orang yang sudah siap membawa senjatanya terlihat dapat bertahan mengimbangi serangan para prajurit yang datang menyerang.

    Belum sempat para prajurit Singasari menguasai para gerombolan yang panic dan terjepit. Tiba-tiba saja dari rumah jati meluncur sesosok tubuh yang langsung menerjang beberapa prajurit yang ditemuinya. Terlihat ditangannya sebuah cambuk pendek berputar kesana kemari, siapapun yang dekat dengannya terlempar dan terluka oleh sabetan cambuknya.

    “Aku lawanmu”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata adalah Mahesa Rangga sang ketua.

    “Bukankah kamu si pandai besi itu?”, berkata Mahesa Rangga berdiri menghadap Mahesa Amping.

    “Mulai hari ini aku sudah pangsiun”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Sebentar lagi kamu akan pension hidup”, berkata Mahesa Rangga sambil memegang ujung cambuknya.

    “Empu Nada berpesan untuk berhati-hati menghadapi senjata cambukmu”, berkata Mahesa Amping.

    “Sudah kuduga, pasti ulah orang tua itu yang membawa pasukan Singasari datang ke hutan ini”, berkata Mahesa Rangga penuh kemarahan yang terlihat dari kilatan matanya.

    “Empu Nada sudah berbuat sesuai kata hatinya”, berkata Mahesa Amping.

    “Kata hati seorang yang menerima keadaan, kata hati seorang yang tidak punya cita-cita dan keinginan”, berkata Mahesa Rangga.

    “Keinginanmu terlewat tinggi”, berkata mahesa Amping mencoba memancing kemarahan dari Mahesa Rangga.

    Ternyata pancingan Mahesa Amping mengenai sasaran.

    “Kamulah tumbal pertama cita-citaku”, berkata Mahesa Rangga sambil melepaskan gerakan sendal pancing menyerang dengan cambuknya kearah Mahesa Amping.
    Tar !!!, terdengar suara cambuk mengenai tempat kosong karena Mahesa Amping telah berhasil bergeser kebelakang, namun masih merasakan getaran kekuatan tenaga cambuk sebagai tanda pemilik cambuk mempunyai tenaga cadangan yang kuat.

    Ternyata cambuk itu seperti bermata, kemanapun Mahesa Amping berhindar cambuk itu terus mengejarnya.
    Mahesa Amping sepertinya telah menjadi bulan-bulanan orang bercambuk itu.

    • KAAAAMSIIIIIIAAAAAAAAAAAAA…….!!!!!

      (mendoeloei Ki Menggoeng)

  37. Sambil menunggu pak Satpam mengisi gandok no. 3,

    Mosok tulisannya belum diganti :
    Sambil menunggu wedaran dari Ki Kompor

    tarr !!! orang bercambuk itu melepas ujung cambuknya.

  38. Sementara itu para prajurit Singasari masih terus mendesak para gerombolan yang berkelahi dengan cara yang kasar, baik dengan gerakan maupun dengan ucapannya.

    Trang !!!, dua buah pedang beradu dengan kerasnya. Salah satunya terlihat pupus putung. Itulah pedang buatan usulan Mahesa Amping yang rapuh.

    Trang !!!!

    Trang !!!

    Trang !!!

    Beberapa senjata telah beradu dengan kerasnya, dan hasilnya adalah sebuah sumpah serapah dari beberapa orang anak buah Mahesa Rangga yang kecewa dengan senjata barunya.

    “Senjata jelek”, berkata orang itu sambil melempar golok besarnya yang sudah putung.

    “Menyerahlah !!”, berkata seorang prajurit Singasari menggertak lawannya yang sudah tidak bersenjata.

    Diwaktu yang sama, Mahesa Amping dan Mahesa Rangga terlihat bertempur semakin seru. Mahesa Amping telah merubah siasat berkelahinya, tidak lagi terus menghindar, tapi sekali-kali berbalik menyerang masuk kepertahanan lawannya yang bercambuk.

    Bukan main kagetnya orang bercambuk itu mendapatkan serangan balik dari Mahesa Amping yang begitu cepat serta tidak dapat diduga. Terlihat orang itu telah bergeser beberapa langkah kesamping menghindari serangan belati pendek Mahesa Amping yang terus mengejarnya.

    Namun Mahesa Rangga adalah orang yang telah digembleng langsung oleh Empu Nada telah sampai pada tataran tingkat tinggi. Maka sambil bergeser menjauh, kembali menyerang dengan cambuknya kali ini menyerang melingkar.

    Demikianlah pertempuran antara dua Mahesa ini telah menjadi semakin seru dan menegangkan. Pertempuran semakin cepat dan kuat, masing-masing telah mengeluarkan seluruh kemampuannya.Masing-masing telah meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis.

    Sementara itu para prajurit Singasari yang dipimpin oleh Raden Wijaya dan Lawe serta dibantu oleh dua orang cantrik utama Padepokan Bajra Seta yaitu Sembaga dan Wantilan telah hamper dapat menguasai lawannya.

    Trang !!

    Trang !!

    Dua buah senjata pedang kembali terlihat putus putung. Dan dua buah sumpah serapah kembali terdengar.

    “senjata setan !!”, dua orang anak buah Mahesa Rangga melontarkan kamus sumpah serapahnya.

    • Kaaaamsiiiiiaaaaaaaaaaaaaaa…………..!!!!!!!!

      (ndhisiki pak Satpam )

      • sak wingkingipun Ki Gembleh

  39. Selamat malam Ki Gembleh,
    Selamat Malam Ki Budi P,
    Selamat malem sebtuan.

    • Sugeng dalu Ki sandikALA,
      sugeng dalu Ki BP.

      (pak Satpam’e mesthi kesirep….mak leeerrrrrr)

      (Ki Menggung’e mesthi gek tayuban)

      • Sugeng dalu Ki SKMH (Sandhikala Mahesa Kompor) soho keng roko Ki MG (maheso Gembleh) + satriyo piningit (amargi mboten sumerep)

  40. “Menyerahlah !!”, berkata Lawe kepada seorang lawannya yang hanya memegang sebuah senjata yang sudah putung setengahnya.

    “Setengah pedangku ini masih lebih panjang dari belatimu”, berkata orang itu sambil melakukan serangan dengan langsung membabat leher kepala Lawe.

    Lawe bukan lagi anak muda biasa, ketrampilan kanuragan serta telah dapat melambari tenaga cadangan. Maka sambil merendahkan tubuhnya, membiarkan pedang putung itu lewat diatas kepalanya, dibenturkannya senjata putung itu dengan belatinya.

    Trang !!!

    Kali ini pedang putung kembali hampir mendekati gagang pedang.

    “Apakah kamu masih belum juga menyerah ?”, bertanya Lawe sambil menggoyang-goyangkan belatinya ingin menunjukkan bahwa senjatanya sekarang sudah jauh lebih panjang dari pada pedang lawan yang sudah putung tinggal gagangnya saja yang masih dipegangnya.

    “Pedang murahan !!”, berkata orang itu sambil melempar gagang pedang itu kewajah Lawe.
    Untungnya Lawe telah selalu waspada, hanya dengan memiringkan kepalanya, nyaris gagang pedang itu lolos lewat beberapa centi dari wajahnya.

    Plok !! Plokk !!

    Tangan Lawe yang sudah tidak sabaran telah dua kali menampar bolak-balik kanan dan kiri wajah lawannya. Tamparan itu ternyata sangat begitu kuat dan keras. Langsung lawan Lawe roboh dengan kepala terasa berkunang kunang jatuh rebah ketanah, mungkin telah pingsan.

    Sementara itu Mahesa Amping dan Mahesa Rangga masih bertempur dengan serunya, dua buah senjata yang mereka miliki memang mempunyai perbedaan yang mencolok, sebuah cambuk harus dimainkan dengan jarak yang cukup, sementara belati pendek harus menyerang pada sisi yang dekat. Demikianlah, Mahesa Rangga berusaha mencari jarak agar serangannya dapat mendapatkan sasaran, sementara itu Mahesa Amping berusaha mendekati lawan agar belati pendeknya dapat mencari sasaran dengan mudah.

    Demikianlah mereka telah meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi, bergerak lebih cepat lagi. Dan pertempuran kedua orang berilmu ini sudah tidak mudah disimak lagi, mereka seperti tidak pernah menginjak bumi lagi, terbang dan melenting, melesat dan melejit saling menyerang lawannya.Begitu cepatnya hingga hanya terlihat baying-bayang yang tersamar.

    Lecutan cambuk Mahesa Rangga sudah tidak terdengar lagi, tapi justru getarannya semakin terasa merangsek menyesakkan dada. Mahesa Amping menyadari hal itu, diam-diam telah melambari kekuatan kekebalan tubuhnya.

    • Hadu…..
      capek…..
      boyongan rontal Ki (Kompor) Sandikala dari kotak komen ke gandoknya

      hadu…..
      bobo wis….

      • Sugeng dalu PS (paksatpam)

  41. “Gila anak muda ini”, berkata dalam hati mahesa Rangga yang melihat Mahesa Amping tidak berpengaruh sama sekali dengan lecutan-lecutan cambuknya yang telah dikerahkan dengan kekuatan ilmu puncaknya.

    Beberapa lawan tandingnya selama ini sudah langsung rontok isi dadanya hanya dengan menghentakkan cambuknya, sementara itu dilihatnya Mahesa Amping sepertinya tidak berpengarus apapun, bahkan dengan cepat dan tak terduga telah merangsek mendekatinya dengan serangan belatinya yang tidak kalah berbahayanya.

    Tiba-tiba saja Mahesa Rangga melompat menghindar jauh.

    “Senjata ini tidak dapat berbuat banyak”, berkata Mahesa Rangga sambil mengikat tali cambuk melilit dipinggangnya.

    “Agar seimbang, aku juga tidak memerlukan senjataku”, berkata Mahesa Amping sambil menyimpan kembali belati pendeknya diselipkan di balik kainnya.

    “Aku ingin mengukur sejauh mana kekuatanmu anak muda”, berkata Mahesa Rangga yang sudah menerjang Mahesa Amping dengan sebuah tendangan yang meluncur.
    Mahesa Amping menyadari bahwa diujung serangan itu ada angin yang mendesis begitu panas. Ternyata Mahesa Rangga telah mengeluarkan ilmu pamungkasnya, menyerang dengan pukulan angin panas.

    Untungnya Mahesa Amping telah memiliki kekuatan tersembunyi yang selalu melindungi segala bahaya yang akan mengancam, kekuatan tersembunyi itu keluar dengan sendirinya melindungi dengan kekuatan berlawanan. Hawa panas itu dengan seketika dapat diredam dengan hawa dingin yang keluar dengan sendirinya.Dan Mahesa Amping telah mampu mengendalikannya dengan kekuatan berlipat.

    “Kurang ajar”, teriak Mahesa Rangga yang berusaha menarik kembali luncuran tendangan kakinya melompat menjauh, ternyata Mahesa Rangga telah merasakan hawa dingin yang kuat sepertinya menusuk kakinya.

    “Jangan berbangga hati”, berkata Mahesa Rangga sambil meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi langsung menyerang Mahesa Amping dengan sebuah pukulan yang mengeluarkan angin panas.
    Sekali lagi Mahesa Amping dapat meredamnya sambil menghindar dan berbalik menyerangnya.

    Demikianlah pertempuran menjadi semakin seru jauh lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya ketika mereka masing-masing menggunakan senjata andalannya.

    Sementara itu pertempuran antara prajurit Singasari dan para gerombolan Mahesa Rangga sepertinya sudah dapat ditentukan, siapa yang telah dapat menguasai medan. Terlihat gerombolan Mahesa Rangga semakin susut berkurang satu persatu, tinggal beberapa orang saja yang masih tetap bertahan.

    Terlihat Raden Wijaya, Lawe, Sembaga dan Wantilan telah menyebar membantu para prajurit Singasari. Mereka nampaknya menjadi penentu dalam setiap kelompoknya. Pertempuran menjadi semakin tidak berimbang. Satu persatu orang-orang gerombolan Mahesa Rangga berguguran tewas, terluka atau tertawan.

  42. wah banyak rontal hari ini, lumayan buat seton, …
    matur nuwun.

  43. sugeng siang , matur nuwun, kamsiiaaaa

  44. Kembali kepertempuran antara Mahesa Amping dan Mahesa Rangga yang sudah memasuki tataran ilmu puncak mereka. Namun Mahesa Amping adalah seorang ahli bahkan dapat dikatakan sebagai Seorang empu untuk bidang kanuragan, sebagai seorang ahli biasanya dengan cepat dapat menghapal dan merekam gerakan lawan, dan Mahesa Amping mengetahui dari setiap langkahnya bahwa Mahesa Rangga diam-diam telah merekam setiap gerakan Mahesa Amping.

    Dan ternyata permainan Mahesa Amping sudah tinggal menuai hasilnya, karena selama pertempuran itu Mahesa Amping telah merubah beberapa unsur untuk mengelabui lawannya.

    Maka dalam sebuah gebrakan, Mahesa Rangga telah berhasil ditipu oleh Mahesa Amping, sebuah pukulan kedepan yang seharusnya disusul dengan tendangan melingkar, maka ketika Mahesa Rangga tengah menunggu tendangan melingkar ternyata tidak kunjung datang, yang ada adalah sebuah pukulan kedepan yang dilanjutkan dengan bacokan tangan terbuka kearah leher.

    Bukkk!!!

    Sebuah bacokan tangan terbuka mengenai batang leher Mahesa Rangga, sebuah pukulan yang dilambari tenaga hawa inti es yang langsung seketika telah membekukan urat leher Mahesa Rangga.

    Seketika itu juga Mahesa Rangga merasakan kegelapan, tubuhnya terlihat agak sempoyongan. Tapi kesempatan itu tidak dipergunakan oleh Mahesa Amping, terlihat Mahesa Amping hanya berdiam diri menunggu Mahesa Rangga siap kembali.

    “Apakah sudah siap untuk melanjutkan ?”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Rangga yang dilihatnya sudah dapat berdiri tegak kembali.

    “Kesombonganmu akan menjadi penyesalan seumur hidupmu”, berkata Mahesa Rangga yang bukannya mengucapkan terima kasih bahkan sebaliknya perlakuan Mahesa Amping disikapi sebagai sebuah kesombongan.

    Ternyata Mahesa Rangga masih punya ilmu simpanan, seketika sebuah kabut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya dan melebar menutupi seluruh area tanah datar. Siapapun tidak dapat lagi melihat keadaan sekitarnya.

    Tapi kali in Mahesa Rangga salah perhitungan, dianggapnya pemuda yang menjadi lawannya tidak dapat berbuat apa-apa.

    Mahesa Rangga salah duga, pemuda yang menjadi lawannya ternyata sudah mempunyai ilmu yang mumpuni, ketajaman matanya dapat melihat sampai ketempat yang jauh, dan ketajaman matanya mampu juga melihat semut hitam diatas batu hitam disaat malam hari yang gelap.

    Ketajaman mata Mahesa Amping mampu melihat kedua tangan Mahesa Rangga tengah memegang masing-masing sebuah paser yang siap dilemparkan kearah Mahesa Amping.

  45. Mahesa Rangga tidak menyangka sama sekali, tiba-tiba saja dirasakan pada tangan kanannya rasa sakit yang sangat seperti terbakar, seketika itu juga tangannya terasa lumpuh, paser ditangannya sudah terjatuh.

    Mahesa Rangga tidak menyangka sama sekali, tiba-tiba saja sebuah belati pendek telah menancap dilengan kirinya, paser ditangan kirinyapun telah terjatuh.

    Ternyata Mahesa Amping telah melakukan langkah yang tepat, dari sinar matanya melesat sebuah cahaya menyambar dan membakar lengan kanan Mahesa Rangga, sementara sebuah belati yang disimpannya di balik kainnya dengan cepat telah meluncur tepat di pergelangan lengan kiri Mahesa Rangga.

    Kabut disekitar arena pertempuran sudah semakin pudar menipis kemudian akhirnya telah hilang sama sekali, karena sumber kabut itu sendiri sudah terluka dikedua pergelangan tangannya.

    Terlihat Mahesa Rangga tengah berdiri tegak, sementar kedua tangannya terlihat layu kaku tidak mampu digerakkan.

    “Apakah pertempuran ini masih harus dilanjutkan”, berkata Mahesa Amping.

    “Terima kasih, kamu telah member kesempatan hidup untukku”, berkata Mahesa Rangga dengan bulu kuduk meremang, membayangkan sebuah sinar panas atau sebuah belati tertuju pada jantungnya, mungkin ia tidak akan sempat lagi mengucapkan sebuah kat-kata apapun, juga pernyataan terima kasihnya.

    “Apakah paman sudah menyerah ?”, bertanya Mahesa Amping menegaskan.

    “Aku menyerah kalah”, berkata Mahesa Rangga terunduk lesu tidak dapat berbuat apapun, terutama mengangkat belati yang telah menancap sampai tembus ujungnya kebelakang, darah segar menetes dari luka itu.

    “Aku akan merawat luka paman”, berkata Mahesa Amping mendekati Mahesa Rangga. Dan dengan sigap mencabut belati dari tangan Mahesa Rangga. Dengan sigap pula Mahesa Amping menutup kedua luka atas dan bawah di lengan kiri Mahesa Rangga dengan sebuah ramuan yang selalu dibawanya. Dan ternyata ramuan obat Mahesa Amping yang berupa bubuk itu telah memampatkan darah yang mengalir. Mahesa Amping merobek sebagian kainnya dan membalut luka dipergelangan tangan kiri Mahesa Rangga.

    “Terima kasih, ternyata kamu bukan seorang yang sombong, hati kamu begitu bersih anak muda”, berkata Mahesa Rangga yang merasa terharu atas sikap Mahesa Amping yang tidak menampakkan sama sekali sikap permusuhan. Mahesa Rangga sepertinya melihat kedalam dirinya, melihat jauh ke rongga hatinya yang begitu keruh, sikap diri yang begitu angkuh, merendahkan orang-orang lemah, dan merasa dapat berbuat apapun dengan ketinggian ilmunya.

    “Maafkan aku, kedua tangan paman mungkin akan lumpuh seumur hidup”, berkata Mahesa Amping.

  46. “Kelumpuhan kedua tangan ini tidak berarti dibandingkan kelumpuhan mata hatiku selama ini”,berkata Mahesa Rangga dengan mata bersinar telah menemukan sesuatu yang selama ini tidak ditemuinya. “kelumpuhan kedua tangan ini telah meruntuhkan kesombonganku, telah membunuh keangkuhanku selama ini, dan hari ini aku mendapatkan penguasa yang sebenarnya, penguasa atas jiwa ini yang sebenarnya”, berkata Mahesa Rangga dengan wajah begitu pasrah.

    “paman telah tersasar di rimba Tattwa, hari ini paman telah ditunjukkan jalan sebenarnya, jalan menuju mata Siwa”, berkata Mahesa Amping sepertinya dapat membaca dan mersakan apa yang dirasakan oleh Mahesa Rangga.

    “kamu telah menemukan jalan-Nya anakku”, berkata tiba-tiba seorang tua yang entah dari mana datangnya sudah ada didekat mereka.

    “Maafkan atas apa yang telah aku lakukan selama ini wahai guruku”, berkata Mahesa Rangga kepada orang tua itu yang tidak lain ternyata adalah Empu Nada.

    Sementara itu langit diatas tanah datar hutan gunung jati sudah terang, sang pagi rupanya sudah datang bersama sang mentari menyibak cahayanya menembus dari sela-sela dahan dan daun pepohonan yang pepat di hutan itu. Terlihat api yang membakar gubuk-gubuk para gerombolan Mahesa Rangga sudah padam, yang tertinggal adalah abu dan sisa puing-puing kayu yang gosong terbakar.

    Pagi itu beberapa prajurit Singasari sangat sibuk berat, terlihat beberapa prajurit tengah memisahkan mayat-mayat yang terbunuh, mengobati para korban yang terluka parah yang mungkin masih dapat diselamatkan, diantara mereka adalah kawan mereka sendiri. Namun para prajurit tidak pernah membedakan lawan dan kawan, semua dirawat sebatas yang dapat mereka lakukan, meskipun adalah lawan mereka sendiri.

    Beberapa orang yang tersisa, yang luka ringan dan yang tidak terluka dari para gerombolan itu telah dipisahkan. Untuk menjaga keamanan dengan terpaksa kaki dan tangan mereka telah diikat dengan erat.

    “Kita akan membawa mereka ke Kotaraja, biarlah pihak istana yang menetukan hukuman apa yang pantas untuk mereka”, berkata Raden Wijaya dari sebuah sudut pepohonan yang rindang kepada Mahesa Amping yang ada didekatnya melepas kelelahan mereka setelah bertempur sepanjang malam.

    “Mungkin besok kita baru dapat berangkat, ada beberapa orang yang masih memerlukan perawatan”, berkata Mahesa Amping.

    “kamu benar, sekalian memulihkan tenaga kita”, berkata raden Wijaya menerima usulan dari Mahesa Amping agar mereka berangkat besok pagi.

    Demikianlah, hari itu terlihat mereka beristirahat di atas tanah datar hutan Gunung Jati untuk memberi kesempata mereka yang terluka dapat beristirahat.Baru keesokan harinya disaat hari menjelang pagi mereka semua telah keluar dari hutan Gunung Jati.

  47. sugeng dalu, sugeng malem mingguan, matur nuwun

  48. Iring-iringan itu sudah jauh meninggalkan Kademangan Padang Bulan. Dan perjalanan mereka itu begitu lambat karena harus membawa beberapa tawanan yang terluka tidak dapat berjalan harus dibawa dengan sebuah tandu.

    Setelah melakukan perjalanan panjang, bermalam di beberapa tempat, akhirnya di sore hari yang masih terang bumi mereka telah memasuki pintu gerbang Kotaraja.

    Karena pasukan Raden Wijaya tidak mendapat tugas langsung dari Sri Baginda Maharaja Singasari, maka pasukan itu tidak perlu lagi menunggu sebuah upacara penyambutan. Mereka langsung diperintahkan beristirahat dibeberapa tempat yang telah disiapkan.

    Sementara itu para tawanan telah dibawa ketempat khusus dan dijaga langsung oleh para prajurit khusus agar mereka dapat diawasi dan tidak melarikan diri.

    “kamu datang seperti layaknya seorang panglima perang”, berkata Ratu Anggabhaya menerima kedatangan Raden Wijaya yang datang bersama Lawe, Mahesa Amping, Sembaga dan Wantilan di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    “kami telah menyampaikan kepada pejabat istana bahwa besok akan datang menghadap Sri Baginda Raja”, berkata Raden Wijaya kepada Ratu Anggabhaya.

    “Aku akan mengantar kalian”, berkata Ratu Anggabhaya yang selama ini masih dibutuhkan oleh Sri Baginda raja sebagai penasehat istana.

    Sementara itu ketika sang malam mulai beranjak diatas langit istana Singasari, seorang utusan raja telah datang ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya menyampaikan pesan langsung dari Sribaginda Maharaja bahwa besok pagi Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping diundang langsung di puri pasanggrahan khusus Sri baginda Maharaja.

    “Salam kepada Sri Baginda Maharaja, kami akan datang besok pagi”, berkata Raden Wijaya kepada utusan itu.
    “Besok aku tidak jadi mengantar kalian”, berkata Ratu Anggabhaya ketika utusan itu telah pergi meninggalkan mereka.

    Dan malampun akhirnya telah berlalu melampaui sisa batas waktu, beriring dibelakangnya datang sang pagi bersama mentari menerangi wajah bumi.

    Wajah pagi di langit bumi istana Singasari hari itu begitu cerahnya, suara burung manyar yang bersarang di atas pohom randu di belakang pasanggrahan sudah begitu ramainya menyambut mentari pagi.

    “Sengaja aku mengundang kalian datang ketempatku di pagi hari, aku rindu sarapan pagi bersama kalian ketika di Bandar Cangu”, berkata Sri Baginda Maharaja menyambut kedatangan Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping di puri pasanggrahan khususnya.

    “Kami merasa tersanjung dapat sarapan pagi bersama Sri Baginda Maharaja”, berkata Raden Wijaya mewakili kawan-kawannya.

    • weh…..
      Pak Lik belum tidur
      he he he …..
      lumayan…..

  49. Setelah menikmati beberapa hidangan sarapan pagi yang nikmat di puri pasanggrahan khusus Raja, merekapun saling bercerita tentang keadaan masing-masing.

    “kalian telah menunjukkan kesetiaan yang tak terhingga bagi keamanan Tanah Singasari”, berkata Sri Baginda Maharaja setelah mendengar laporan dari Raden Wijaya tentang keberhasilan mereka menumpas pemberontakan gerombolan Mahesa Rangga di hutan Gunung Jati.

    “Andil Empu Nada sangat besar dalam keberhasilan usaha kami ini”, berkata Mahesa Amping.

    “Empu Nada ?”, bertanya Sri Baginda Maharaja.
    Mahesa Amping langsung bercerita tentang Empu Nada yang datang ke Padepokan Bajra Seta menyampaikan berita tentang sebuah usaha pemberontakan Mahesa Rangga yang juga murid tunggalnya itu.

    “Enpu Nada yang menunjukkan dimana gerombolan Mahesa Rangga mempersiapkan gerakannya”, berkata Mahesa Amping meengakhiri ceritanya.

    “Aku sepertinya pernah mengenal nama orang tua itu”, berkata Sri baginda Maharaja yang mengingat-ingat nama Empu Nada sepertinya pernah ada dalam ingatannya.

    “Empu Nada itu saudara kembar guru Sri Baginda Maharaja, Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping bercerita sedikit mengenai Empu Nada.

    “Dapatkah kalian membawa orang tua itu kepadaku ?”, berkata Sri Baginda Maharaja.

    “Hamba akan membawa Empu Nada kehadapan tuan Paduka”, berkata Mahesa Amping yang kemudian langsung keluar dari puri pasanggrahan raja bermaksud untuk menemui Empu Nada.

    Empu Nada memang tidak ikut mereka ke dalam istana, tapi masih bergabung dengan beberapa prajurit di sebuah barak Kotaraja menunggu keputusan perintah untuk kembali ke Bandar Cangu.

    “Moga-moga aku tidak canggung menghadap Sri Baginda Maharaja”, berkata Empu Nada bercanda kepada Mahesa Amping yang datang bersama seorang pengawal istana.
    Demikianlah Empu Nada dan Mahesa Amping diiringi seorang pengawal istana memasuki lorong-lorong jalan di lingkungan istana menuju puri pasanggrahan khusu raja.

    “Apakah aku bertemu dengan saudara kembar Empu Dangka ?”, bertanya Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada ketika mereka telah muncul di puri Pasanggrahan khusu raja.

    “Sri Baginda Maharaja tidak salah lihat, nama hamba Bratanadadewa, saudara kembar Empu Dangka”, berkata Empu Nada membenarkan perkataan Sri Baginda Raja.

    “Maaf, aku baru tahu bila Empu Nada ada juga bersama rombongan pasukan dari Bandar Cangu”, berkata Sri baginda Maharaja.

  50. “Garis hidup telah membawa hamba disini”, berkata Empu Nada.
    Sri Baginda Maharaja bercerita sedikit tentang pertemuan dirinya dengan Empu Dangka di hutan sungai Porong.

    “Orang tua itu sepertinya sudah mengetahui bahwa hari ini kita akan berjumpa, orang tua itu menitipkan sebuah pesan untuk Empu Nada”, berkata Sri Baginda Maharaja.

    “Hamba tidak sabar mendengar pesan itu”, berkata Empu Nada.

    “Pesannya adalah bahwa orang tua itu telah membenarkan bahwa Tatwa bukan lagi ibadah hati, namun harus dikejawantahkan diluar diri kepada seluruh alam. Laku Siwa memancar keluar sebagai budi, kasat mata dirasakan berwujud sebagai laku sang Budha yang menentramkan isi dunia”, berkata Sri Baginda Maharaja menyampaikan pesan gurunya Empu Dangka.

    “Itulah perselisihan paham diantara kami, akhirnya saudaraku memahami langkahku”, berkata Empu Nada sambil menatap jauh, mengenang kebersamaannya bersama saudaranya Empu Dangka.

    “Tanah Singarari ini beruntung telah melahirkan orang-orang seperti kalian di buminya. Kebahagiaanku bila saja kalian berhasrat memenuhi permintaanku”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada, Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping.

    “Hasrat gerangan apakah yang dapat kami penuhi”, bertanya Raden Wijaya mewakili.

    Sri Baginda Maharaja menatap semua yang hadir dengan sebuah senyuman penuh arti membuat setiap hati menduga-duga gerangan apa yang akan disampaikan oleh nya.

    “Wahai Empu Nada saudara guruku, hari ini aku melamarmu untuk kusandingkan sebagai gurusuci istana, apakah diri empu Nada berkenan ?”, bertanya Sri Baginda Maharaja kepada Empu Nada.

    “Garis hidup telah membawaku di Istana ini, berbakti sebagai gurusuci istana adalah sebuah darma, hamba berkenan memenuhi hasrat paduka”, berkata Empu Nada menerima permintaan Sri baginda Maharaja.

    “Wahai saudaraku putra Lembu Tal, dapatkah kamu memenuhi hasratku menjaga bumi Singasari ini, membawahi segenap satria di medan juang membela tanah Singasari sebagai seorang Senapati panglima perang Singasari”, berkata Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya.

    “Hasrat Paduka adalah hasrat siwabudha, memenuhi hasrat paduka adalah darma, hamba berkenan memenuhi panggilan bakti itu”, berkata Raden Wijaya berkenan menerima permintaan Sri Baginda Maharaja Kertanegara.

    “Wahai sahabatku yang telah lama membela bumi Singasari tanpa pamrih, maukah kalian menerima hasratku untuk terus menjaga bumi Singasari, berbakti dalam baju kebesaran, membawa umbul-umbul Singasari dimedan perang manapun, sebagai seorang Rangga yang setia ?”, berkata Sri Baginda Maharaja Kertanegara kepada Lawe dan Mahesa Amping.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: