SFBDBS-10

<<kembali ke SFBdBS_09 | lanjut ke SFBdBS-11 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2012 at 04:45  Comments (461)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

461 KomentarTinggalkan komentar

  1. hahahaha, … ternyata mahisa amping senang “berguyon” toh, …

  2. Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan dari beberapa penduduk yang meragukannya, dengan langkah perlahan penuh ketenangan memisahkan diri menuju kesebuah tempat terpisah.

    Terlihat Mahesa Amping telah duduk sempurna bersila. Air Wajah dan nafasnya begitu tenang slam perti patung Budha. Mahesa Amping memang telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya masuk dalam ketiadaan, alam kesunyatan.

    Terperanjat para penduduk ketika menyaksikan sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa Amping.

    Asap tipis itu terlihat keluar semakin melebar menyelimuti tubuh Mahesa Amping. Dan terus melebar semakin membesar, meluas dan semakin menebal membentuk sebuah kabut putih.

    Seluruh pandangan mata siapan yang ada dipadukuhan itu tidak dapat lagi menembus kabut yang telah diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa.

    Seluruh dan seluas tanah Padukuhan itu telah diliputi kabut putih yang tebal !!!!!!

    Dan apa yang terjadi selanjutnya ?

    Kabut putih yang tebal itu perlahan naik keudara sebagaimana layaknya membentuk gumpalan awan terbang semakin meninggi.

    Seluruh tanah Padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup terhalang awan putih ciptaan kekuatan ilmu Mahesa Amping.

    Wuutttttttt….,

    Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping meluncur menembus kabut awan putih.

    Ternyata hentakan Mahesa Amping adalah sebuah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Dan kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.

    Wuuutttttttt……….,

    Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya kearah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur kebumi.

    Luar biasa !!!!!!!!!

    Gumpalan batu es yang sangat besar telah hancur berkeping-keping luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.

    Hujannn……!!!!

    Hujannn…….!!!!

    Berteriak seluruh penduduk bergembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi Padukuhan. Seluruhnya termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun.

    • hmmmm, semakin sakti saja Mahesa Amping ini
      matur suwun

  3. Sebenarnya Mahesa Amping telah menawarkan “kebisaannya” itu untuk Tomcat.
    Tapi terlalu banyak izin dan prosedur……males dech….,hehehe 1000X

    • ijinkan Mahesa Amping, pake gaya mBELING pak Dalang….hadir
      tanpa di undang….pulang setelah tugas terSELESAIkan.

      HIKSSS,

      • sugeng enjang kadang padepokan sadaya,

        pak DALANGe…..matur nuwun, yerima kasih

  4. selamat siang, hadir, monitor wedaran lagi

  5. tes……tes,

    • hikss, isih durung lancar…..pake ID lama (isih mbuleeet)

  6. Coba Mahisa Amping ikut demo BBM,
    wah jan mesti gayeng tenan.

    Hadir…………
    sugeng dalu katur para kadang sedaya.

  7. Para penduduk sepertinya tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka semua terlihat berlari menuju sawah ladang masing-masing. Bukan main gembiranya ketika menyaksikan sendiri bahwa ulat bulu beracun telah hilang hanyut terbawa air mengalir.

    Terlihat berbondong-bondong mereka kembali ketempat semula dimana Mahesa Amping masih duduk bersila sempurna.

    “Terima kasih wahai Manusia Dewa”, berkata beberapa penduduk sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    Sementara itu hujan terlihat sudah semakin surut dan akhirnya telah berhenti tiris. Perlahan Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya.

    Mahesa Amping tersenyum melihat beberapa penduduk tengah bersujud dihadapannya.

    “Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyiang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian juga”, berkata Mahesa Amping sambil meminta beberapa penduduk untuk bangkit berdiri.

    Pemimpin mereka terlihat mendekati Mahesa Amping yang sudah bangkit berdiri.

    “Terima kasih, tuan telah menyelamatkan kehidupan kami”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping.

    “Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara”, berkata Mahesa Amping.

    “Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap tuan”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang juga datang mendekat.

    “Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini”, berkata Empu Dangka.

    “Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk disini biasa memanggilku Ki Buyut”, berkata pemimpin itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Ki Buyut.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan dirinya, mereka tanpa sungkan lagi langsung menyampaikan arah tujuan mereka yaitu ke Pura Indrakila.

    “Ternyata tuan bertiga adalah para tamu agung Pemilik Pura Indrakila”, berkata Ki Buyut penuh kekaguman mengetahui bahwa ketiga orang dihadapannya hendak mengunjungi Pura Indrakila.” Hari sudah diujung senja, sebuah kehormatan bila saja tuan-tuan sudi beristirahat ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh santun.

    “Hari memang akan segera gelab, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam”, berkata Ki Arya Sidi.

    • kamsiaaaa………………..

      • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

        • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

          • Kamsia.

  8. kamsiaaaa………………..

    • sami2 ki…….genk dalu,

  9. Sebuah kehormatan menjamu tuan-tuan bermalam ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh kegembiraan .

    Terlihat Ki Buyut berbicara dengan salah seorang penduduk, sepertinya sebuah perintah untuk menyiapkan beberapa hal untuk tamu-tamu kehormatannya.

    “Mari kita berjalan menuju rumahku”, berkata Ki Buyut setelah menghampiri Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi.
    Maka berjalanlah mereka bersama menuju kerumah Ki Buyut.

    “Dua hari lagi kami akan panen raya”, berkata Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah disepanjang jalan menuju rumahnya.

    Ternyata rumah Ki Buyut terlihat sangat mencolok diantara rumah-rumah yang ada, terutama dalam ukuran besarnya.

    Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Buyut, mereka menemui seorang yang ternyata orang kepercayaan Ki Buyut untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu-tamunya.

    “Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita”, berkata orang itu kepada Ki Buyut perlahan penuh kesopanan layaknya seorang bawahan.

    “Beristirahatlah”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih.

    Setelah bergantian ke pringgitan, terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi duduk bersama di teras depan berupa saung yang besar.

    “Mudah-mudahan masakan simbok berkenan dilidah tuan-tuan”, berkata Ki Buyut sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

    “Terima kasih, jadi merepotkan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut.

    “Kami tidak repot, sebaliknya kami meresa terhormat tuan-tuan bersedia bermalam disini”, berkata Ki Buyut penuh senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rata sebagaimana umumnya asli Bali.

    Sementara itu langit diatas rumah Ki Buyut sudah terlihat semakin gelap, purnama bulat penuh berdiri diatas pohon kemboja kuning yang tumbuh dihalaman rumah Ki Buyut.

    Suasana di rumah Ki Buyut menjadi begitu hangat, ternyata Ki Buyut adalah seorang yang pandai bercerita. Maka saling bersambutlah cerita mereka silih berganti seperti tidak berujung berganti pangkal dan pokok pembicaraan, mulai dari panen raya sampai kehalusan orang Bali membuat sebuah keris dan berlanjut kemasalah sukar tidurnya Ki Buyut yang terganggu setiap malam karena cucunya yang baru berumur belum sepekan sering menangis dimalam hari.

    • kamsia….pak DALANGe,

      hadir mendhisiKi pak Gembleh seorang,

      • pak Dhalang…………
        neng mBali, si mBok itu artinya mBak lho.

        • Kamssiiiiaaaaa pak Dhalang.

  10. selamat siang, kamsiiaaaaaa

    • sami2,

      sugeng dalu kadang padepokan SADAYAnya

      • nuwun sewu sadaya……kulo bablas tanpo pamit pak DALANG, mblayu terbirit-birit ning blumbang sebelah

        • mangga……mangga……..
          jangan lupa mlumpat mBlumbange sambil
          jongkok mundur, percis si Karebet.

  11. Selamat malam Kadhang sadayana,
    Ba’da isya ngantuk berat langsung bablas tidur………….

  12. sugeng siang…………………………

  13. HADIR

    • (tetep dengan gaya bang Haji)……meNUNGGU,

  14. Sementara itu langit malam dikediaman Ki Buyut telah semakin larut, rembulan telah lama bergeser surut. Wajah keremangan malam yang teduh hanya mendengarkan suara kesunyiannya.

    “Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu”, berkata Ki Buyut sambil mengingatkan tamunya untuk beristirahat.

    Akhirnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Disisa malam itu cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering kadang terdengar adalah suara burung tekukur milik Ki Buyut yang sekali-sekali berbunyi dikesunyian malam.

    Mahesa Amping – lah yang bangun pertama, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

    “Mari kita keluar”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi mengajak keluar dari bilik kamar.

    “Hari masih begitu pagi”, berkata Ki Arya Sidi memandang langit pagi yang masih gelap.

    “Ternyata tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi”, berkata Ki Buyut yang baru saja keluar dari pringgitan.

    “Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut yang sudah duduk bergabung bersama.

    “Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya.

    “Dikesempatan lain waktu saja”, berkata Empu Dangka kepada Ki Buyut yang akhirnya tidak dapat memaksa tamu-tamunya yang untuk lebih lama di rumahnya.

    Ketika matahari pagi telah bersembul diujung timur hamparan sawah yang telah menghijau. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat telah keluar dari rumah Ki Buyut.

    Terlihat pandangan Ki Buyut mengiringi langkah kaki tamu-tamunya yang semakin lama menjauh dan hilang disebuah tikungan jalan.
    Jarak Pura Indrakila dari Kabuyutan tempat mereka bermalam memang tidak lagi begitu jauh. Sementara jalan yang mereka lalui memang agak menanjak karena Pura Indrakila berada dipuncak sebuah bukit.

    Ketika matahari pagi semakin menaik, mereka sudah dapat melihat pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan.

    “Apakah tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni ?”, berkata seorang penjaga kepada mereka bertiga.
    “Benar, kami dari Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

    • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
      mendhisiki pak Satpam

      • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
        matur nuwun

  15. pak Dhalang…….ini malem akan ada wedaran gak….?????

    Hadir……..!!!!!!!

    • kelihatannya tidak ada ki, …
      lebih baik begitu, besok saja diwedar 5-6 sekaligus, …
      hihihihi, …. !!!!

      • hihihihi, ….
        isih durung padang bulan, dadi rung diwedar

  16. hup…..,
    selamat malam kadank sedoyo,

    • selamat pagi…..
      Mahisa Amping sedang kecepekan rupanya, sehingga tidak meneruskan perjalanannya
      hihihihi, …. !!!!

      • hadu……
        lupa ganti baju….

        • Asal tidak lupa ganti…clana !😀

  17. “Ternyata tuan-tuan adalah tamu yang tengah kami nantikan”, berkata penjaga itu sambil mengajak Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi menemui Dewa Bakula.“Kita langsung ke Bale Guru”, berkata kembali penjaga itu.

    Pura Indrakila memang cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah. Sambil berjalan penjaga itu memberikan penjelasan tentang beberapa tempat. Suasana di sekitar Pura Indrakila terlihat tertata apik dan sangat asri.

    “Selamat datang di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula menyambut kedatangan para tamunya di pendapa Bale Guru.

    Mahesa Amping, Empu Dangka maupun Ki Arya Sidi sangat merasa heran melihat perubahan sikap dari Dewa Bakula yang terkesan sangat tidak sombong lagi sebagaimana yang mereka kenal sebelumnya.

    “hari ini adalah hari terakhirku di Balidwipa, besok aku akan kembali ke Tanah Hindu”, berkata Dewa Bakula setelah para tamunya telah duduk bersamanya di pendapa.

    “Apakah karena adanya perjanjian diantara kita,maka tuan pendeta kembali ke Tanah Hindu?”, bertanya Mahesa Amping kepada Dewa Bakula. “Kalau memang karena itu sebabnya, aku dapat melepas perjanjian yang telah kita tetapkan.

    “Bukan itu anak muda”, berkata Dewa Bakula dengan wajah penuh senyum. “Meski kekalahanku itu telah memberikan diriku banyak pelajaran, diantaranya adalah berpikir jernih tentang keberadaan kami para pendeta dari Tanah Hindu ini”, berkata Dewa Bakula melanjutkan perkataannya.

    “Tuan Pendeta telah menemukan dan membedakan kepamrihan, aku berdoa untuk kemerdekaan jiwa tuan yang tengah memasuki alam Tatwa selanjutnya”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi pernyataan dari Dewa Bakula

    “Teria kasih”, berkata Dewa Bakula sambil menjura.

    Namun ketika mereka asyik bercakap-cakap, datanglah seorang penjaga sambil membawa sebuah anak panah yang patah, simbol sebuah tantangan.

    “Seseorang memintaku memberikannya kepada salah seorang diantara tuan-tuan yang bernama Mahesa Amping. Pesannya akan ditunggu kehadirannya di bukit Sembul nanti malam”, berkata penjaga itu.

    Terlihat Dewa Bakula menarik nafas panjang.

    “Maafkan saudara tuaku Dewa Palakuna, ternyata dirinya tidak bisa menerima kekalahanku”, berkata Dewa Bakula yang sudah menduga bahwa tantangan itu berasal dari Dewa Palaguna.

    “Gusti yang Maha Pengasih telah memberikan keluasan ilmunya dalam berbagai tingkat yang berbeda kepada setiap jiwa manusia yang terlahir, perbedaan itulah sebagai sarana kita saling mengenal dan untuk dapat bermawas diri”, berkata Empu Dangka.

  18. “Terima kasih, bahagia aku berada diantara kalian yang ternyata telah melihat cakrawala alam Tattwa yang luas tak terhingga”, berkata Dewa Bakula kembali menjura.

    “Apakah tuan pendeta akan ikut bersama kami ke Bukit Sembul ?”, bertanya Ki Arya Sidi yang sedari awal tidak banyak cakap.

    “Aku akan datang mengantar kalian ke Bukit Sembul”, berkata Dewa Bakula dengan penuh kepastian.

    Tidak terasa hari telah terlihat menjelang sore, matahari dibatas barat bumi tengah memancarkan cahayanya yang lembut. Dan awan di cakrawala langit Pura Indrakila nampaknya begitu putih bersih. Tanaman bunga dan rumput hijau di halaman Bale Guru yang tertata asri seperti tengah menari bersenandung mandi kehangatan dan kelembutan cahaya matahari sore.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi nampaknya tengah menikmati keindahan suasana di Bale Guru itu.
    “Sebelum ke Bukit Sembul, kita singgah ke Puri Dalem. Baginda Raja Indrakila telah merestui semua keputusanku, aku akan memperkenalkan dirimu kepadanya”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

    “Terima kasih memperkenalkan diriku kepada Penguasa Pura Indrakila ini”, berkata Mahesa Amping perlahan.

    Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, Dewa Bakula telah meminta Mahesa Amping datang bersamanya ke Puri Dalem menghadap Baginda Raja Indrakila.

    “kami menunggu di pendapa ini”, berkata Empu Dangka kepada Dewa

    Bakula dan Mahesa Amping yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru hendak menghadap Raja Indrakila di Puri Dalem.
    Ki Arya Sidi dan Empu Dangka mengiringi langkah Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang terlihat tengah berjalan menyusuri jalan setapak dan menghilang disebuah tikungan jalan.

    “Kehadiran Mahesa Amping adalah sebuah anugerah yang besar bagi Pura Indrakila”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dipendapa Bale Guru. Sepertinya berusaha mengisi kesunyian sejak ditinggal Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang tengah menghadap di Puri Dalem astana Raja Indrakila.

    “Sebagaimana kehadirannya di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

    Sementara itu waktu terus berlalu, matahari di atas langit Bale Guru Pura Indrakila telah bergeser semakin surut. Tanaman bunga dan rumput hijau yang tertata asri dihalaman Bale Guru nampaknya telah lelah menari dan bersenandung. Bunga Soka kuning di pojok halaman nampak buram tidak tersinar matahari lagi, pucuk-pucuk rumput hijau terlihat merunduk menanti senja yang akan datang mengunjungi.

    “Hari telah menjelang senja”, berkata Empu Dangka sambi pandangannya menyapu halaman Bale Guru.

    • matur nuwun atas rontalnya yang datang beruntun, … !!!

  19. Alhamdullilah……..akhirnya air mulai surut

    Mudah-mudahan malem ini enggak ada tambahan hujan air….diganti dengan hujan rontalllllllll

    • Setujuuuuu….!!

  20. “Akhirnya mereka telah kembali”, berkata Empu Dangka yang melihat Mahesa Amping dan Dewa Bakula muncul dari sebuah tikungan jalan setapak.

    “Bukit Sembul tidak jauh, kita berangkat menjelang senja berakhir”, berkata Dewa Bakula yang telah duduk bersama di pendapa Bale Guru menyampaikan kapan waktunya berangkat ke Bukit Sembul.
    Bukit Sembul memang tidak begitu jauh dari Pura Indrakila. Diatas puncak bukitnya ada sebuah tanah lapang yang luas. Para Sisya Pura Indrakila pada hari-hari tertentu biasa menggunakannya sebagai sanggar terbuka.

    Ketika senja berakhir, terlihat empat orang lelaki menuruni tangga pendapa Bale Guru. Purnama tak sabar mengintip diantara rimbunan pohon-pohon kayu besar yang tumbuh di beberapa tempat di Pura Indrakila. Suasana diujung senja itu begitu bening dan teduh.

    Kempat lelaki itu tidak keluar lewat regol pintu depan Pura Indrakila, tapi berjalan kearah timur dari Bale Guru memasuki hutan kecil yang tidak begitu lebat. Tidak begitu lama mereka akhirnya telah tiba di Bukit Sembul tengah menaiki sebuah gumuk kecil dan akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit sembul yang tenyata adalah sebuah padang rumput yang lapang.

    Benderang cahaya bulat bulan purnama telah menerangi tanah lapang itu. Terlihat seorang yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang terurai berdiri menyambut kedatangan mereka.

    “Lama aku menunggu kedatangan kalian”, berkata orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

    “Bila ada Raja Leak, pasti amanlah kita”, berkata Ki Arya Sidi merasa gembira bertemu kembali dengan saudara angkatnya itu.

    “Jangan khawatir, para pengikutku telah siap menjalankan tugasnya berjaga-jaga”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyumnya yang mengembang.

    Sementara itu bulan purnama bulat telah bergeser terus kepuncak cakrawala langit malam. Taburan jutaan bintang menambah keindahan suasana diatas puncak Bukit Sembul.

    Akhirnya yang mereka nantikan datang juga. Dari sisi lain terlihat dua orang muncul dalam bayang tersamar terus mendekati mereka.

    Semakin nampak jelas siapa gerangan yang mendekati mereka.

    Ternyata adalah Dewa Palaguna bersama seseorang yang terlihat sudah begitu tua terlihat dari kerut-kerut wajahnya yang mulai kendur.

    “Guru !!!”, berkata Dewa Bakula sambil menjatuhkan dirinya bersujud dihadapan seorang yang datang bersama Dewa Palaguna

    “Bangkitlah Bakula, aku ingin berkenalan dengan orang yang telah mengalahkanku”, berkata orang itu kepada Dewa Bakula.

    Dewa Bakula bangkit berdiri dengan wajah penuh keraguan.

    • Ditunggu hujan rontalnya,
      Kamsiaaaa….

  21. kalimat terakhir maksudnya …….yang telah mengalahkanmu”

  22. horeeeeee, kamsiiiiiaaaa
    tunggu wedaran berikutnya

  23. SFBDBS-10 sudah dibundel

    monggo…., jagongan pindah ke SFBDBS-11 yang sudah dibuka.

    risang/satpam

  24. “Aku bertanding dengan adil, aku sudah menerima kekalahanku dengan wajar. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi”, berkata Dewa Bakula dengan wajah masih penuh keraguan apa kiranya yang akan dilakukan guru dan saudara tuanya itu.

    “Kamu boleh menerima kekalahan itu, tapi aku belum dapat menerimanya”, berkata Dewa Palaguna kepada Dewa Bakula dengan suara lantang sepertinya menyalahkan dan meremehkan Dewa Bakula yang mudah menyerah.

    “Aku sependapat dengan saudara tuamu, menyingkirlah”, berkata orang tua yang dipanggil guru itu kepada Dewa Bakula.

    “Aku mendengar ada yang ingin berkenalan denganku”, berkata Mahesa Amping maju menghadap orang tua itu dengan menjura penuh hormat.

    “Ternyata kamu memang masih muda belia”, berkata orang tua memandang Mahesa Amping dari ujung kaki sampai keatas kepala.”Perkenalkan namaku Aanjav, aku sudah mendengar tentang dirimu lewat muridku Palaguna”, berkata orang itu sambil menatap Mahesa Amping dengan matanya yang begitu tajam sepertinya ingin menelisik kemampuan Mahesa Amping.

    Tapi Mahesa Amping bukan anak muda sembarangan, kilatan cahaya mata Aanjav yang tajam itu seperti menembus sebuah samudra yang dalam.

    Terkejut Aanjav merasakan tabrakan tatapan mata Mahesa Amping.

    “Muridku telah kamu kalahkan, biarlah aku yang tua ini mencoba mengenal beberapa jurus darimu”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping.

    “Hanya untuk mengenal beberapa jurus, bukan sebuah pertandingan hidup mati”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

    “Tapi jangan salahkan diriku bila ada yang mati”, berkata Aanjav penuh percaya diri.

    “Aku telah siap, maksudnya………bukan siap mati”, berkata mahesa Amping dengan senyum dikulum.

    “Tataplah purnama diatas langit sepuasnya, besok mungkin kamu sudah tidak dapat lagi memandangnya”, berkata Aanjav yang kurang senang dengan gurauan Mahesa Amping.

    “Hari ini aku telah menatap rembulan, bila besok tidak lagi menatap rembulan, itu artinya aku tertidur disore hari”, berkata Mahesa Amping tidak menghiraukan orang tua dihadapannya yang tidak suka bergurau.

    “Aku tahu bahwa kamu tengah mengungkit kemarahanku, apapun ucapanmu tidak akan mempengaruhiku”, berkata Aanjav dengan mata yang tajam sepertnya telah dapat membaca arah pikiran dari Mahesa Amping.

    “Aku tidak bermaksud apapun, hanya sekedar merenggangkan ketegangan”berkata Mahesa Amping masih dengan kepercayaannya dirinya yang tinggi.

    • lha…….
      kebablasan Ki…
      tidak apa-apa nanti saya pindahkan
      sudah bisa pindah ke gandok 11


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: