SFBDBS-10

Jilid 10

Bagian 1.

 

SFBDBS 09-241

Pintu goa itu sendiri terhalang semak belukar. Mereka terlihat memasuki lubang goa yang sempit hanya cukup masuk untuk satu orang.

Namun ketika mereka semakin masuk kedalam, ternyata ada ruangan yang cukup luas selebar tiga kali kamar. Dua buah pelita berada di dua sudut cukup menerangi ruangan. Terlihat sebuah bale batu besar di tengah-tengah ruangan. Dan seorang pemuda diatas bale batu itu terkejut melihat kedatangan mereka bertiga.

“Kita kedatangan tamu istimewa, siapkan minuman dan makanan hangat untuk kami”, berkata Ki Jaran Waha kepada pemuda itu.

Dengan sigap pemuda itu turun dari bale batu menyiapkan perapian.

“Silahkan naik keatas bale batu, Cuma itu perabot didalam goa ini”, berkata Ki Jaran Waha mempersilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Setidaknya malam ini kita terlindung dari angin dan embun”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha mencoba membesarkan hatinya.

Demikianlah, malam itu Mahesa Amping dan Empu Dangka bermalam ditempat Ki Jaran Waha didalam sebuah goa.

“Maafkan aku saudaraku, aku telah melumpuhkan tangan kirimu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Akulah yang seharusnya berterima kasih, dengan kejadian itu tangan kananku dapat mengerti arti hidup ini”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

Ketika minuman dan makanan hangat telah disiapkan, mereka pun nampak menikmati hidangan malam itu diatas bale batu. Sepanjang malam mereka asyik bercakap-cakap. Ada-ada saja yang mereka percakapkan.

Ternyata dari percakapan itu dapat diketahui bahwa Ki Jaran Waha adalah seorang Raja Leak. Para pengikutnya tersebar di seluruh daratan bumi Bali.

“Ternyata aku berhadapan dengan seorang Raja”, berkata Empu Dangka.

“Bahkan kita telah makan di satu tempat bersamanya”, menimpali Mahesa Amping.

“Tidak sebagaimana Raja Puri Dalem, Raja Leak Cuma punya perabot Bale Batu”, berkata Ki Jaran Waha yang disambut tawa oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Akhirnya rasa kantuk yang menghentikan pembicaraan mereka. Terlihat satu persatu mencari tempat untuk tidur didalam goa.

Sang malam ternyata hanya tinggal menyisakan waktunya sedikit, sebentar saja sudah terdengar suara ayam hutan berkokok sebagai tanda hari sudah masuk pagi.

“Semoga perjalanan kalian dipenuhi keselamatan”, berkata Ki Jaran Waha mengantar sampai keluar goa Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan melanjutkan perjalanan mereka.
“Semoga hari-harimu dipenuhi kesejahteraan wahai saudaraku”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Ikat pinggang itu adalah tanda pengenalku, seluruh pengikutku di tanah Bali ini akan setia kepadamu sebagaimana mereka setia kepadaku”, berkata Ki Jaran Waha mengingatkan Mahesa Amping atas ikat pinggang pemberiannya. Sebuah ikat pinggang sederhana dengan tameng dari bahan perak bergambar matahari.

Sampai jauh Ki Jaran Waha dan pemuda yang setia menemaninya mengikuti punggung belakang Mahesa Amping dan Empu Dangka yang telah melangkah menjauh dari tempat tinggal mereka hingga akhirnya hilang terhalang semak belukar dan batang-batang kayu besar di hutan itu.

Mahesa Amping dan Empu Dangka terus membelah semak-semak belukar berjalan menyusuri hutan yang masih tetap gelap meski matahari diluar sana telah cukup tinggi.

Akhirnya ketika matahari sudah berdiri diatas puncaknya, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat keluar dari hutan rimba yang pekat, sebuah hutan perawan yang jarang sekali didatangi oleh siapapun yang ternyata didalamnya adalah sebuah kediaman seorang raja Leak, pemimpin tertinggi para manusia Leak di daratan Bali yang ternyata bernama Ki Jaran Waha.

“Semoga Ki Jaran Waha dapat membimbing para pengikutnya menuju jalan kebenaran”, berkata Mahesa Amping sambil menoleh ke arah hutan rimba ketika jarak mereka dengan hutan itu terlihat sudah semakin menjauh.

“Aku pun berharap demikian, semoga juga mereka dapat mengikis sedikit demi sedikit pandangan orang Bali tentang manusia Leak”, berkata Empu Dangka.

Sementara itu hari sudah mendekati senja ketika mereka tiba di sebuah dusun.

“Dapatkah kakek menunjukkan kepada kami Padepokan Panca Agni”, berkata Mahesa Amping kepada seorang tua yang dijumpainya masih berada di sawah.

“Teruslah kalian menyusuri tegalan ini, Padepokan Panca Agni ada di puncak bukit Pejeng Gundul”, berkata orang tua itu sambil menunjuk ke sebuah perbukitan yang sudah begitu dekat dari tempat mereka berdiri.

“Jadi bukit didepan itu bernama bukit Pejeng gundul?”, bertanya Mahesa Amping.

“Benar, di puncak bukit itulah Padepokan Panca Agni berdiri”, berkata orang tua itu mengulangi keterangannya.

“Terima kasih Kek”, berkata Mahesa Amping kepada orang tua itu yang membalasnya dengan sebuah anggukan kepala sebagai tanda keramahannya.

———-oOo———-

SFBDBS 09-242

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang tua itu, Mahesa Amping dan Empu Dangka terus mengikuti tegalan sawah menuju ke sebuah perbukitan kecil.

Akhirnya manakala senja telah turun menyelimuti perbukitan kecil, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah berada diatas puncak bukit Pejeng Gundul. Sebuah hamparan tanah lapang menghadang dihadapan mereka. Tidak ada pohon kayu satu pun. Dan sebuah Padepokan kecil terlihat berdiri sunyi dipayungi langit senja yang bening sepertinya sebuah bangunan yang elok telah tercipta dan bersatu dengan alam perbukitan yang dipenuhi hamparan padang alang-alang.

“Sebuah Padepokan yang menjauh dari lingkungannya”, berkata Mahesa Amping memandang sebuah bangunan Padepokan kecil.

“Mungkin mereka memang ingin menjauh dan keluar dari lingkungan di sekitarnya, atau memang mereka menyukai kesunyian dan kesendirian”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terus melangkah mendekati Padepokan diatas puncak bukit itu.

Ketika mereka sampai di regol Padepokan Panca Agni, pintu gerbang tidak terkunci juga tidak ada panggungan menara ronda sebagaimana sebuah padepokan besar umumnya.

Mahesa Amping mendorong pintu gerbang yang tidak terkunci dan menjulurkan kepalanya melihat kedalam.
Ternyata ada seorang lelaki tua tengah membawa sebuah pelita yang akan diletakkan disusut pintu regol halaman.

“Silahkan masuk, apakah tuan-tuan akan bertemu dengan Ki Arya Sidi ?”, bertanya lelaki tua itu.

“Benar, kami ingin bertemu dengan Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping yang telah membuka pintu gerbang lebih lebar lagi.

“Mari kuantar tuan-tuan ke Pendapa”, berkata Lelaki tua itu mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka menuju pendapa Padepokan Panca Agni.

“Padepokan ini begitu sepi”, bertanya Mahesa Amping kepada lelaki tua itu yang merasa aneh bahwa sebuah Padepokan begitu sepi tidak ada orang yang terlihat selain lelaki tua itu.

Lelaki tua yang mengerti keheranan Mahesa Amping hanya tersenyum.

“Penghuni padepokan saat ini masih ada di sanggar bersama Ki Arya Sidi”, berkata Lelaki tua itu kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan orang tua itu tengah naik tangga pendapa.

“Tunggulah disini, aku akan menyampaikan tentang kedatangan tuan-tuan”, berkata orang tua itu mempersilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka menunggu di Pendapa.

Diam-diam senja sudah semakin surut, pandangan mata di depan halaman sudah semakin buram.

“Maaf, tentunya kalian menunggu disini begitu lama”, berkata Ki Arya Sidi yang telah muncul di Pendapa menemui Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Kami belum begitu lama, justru kamilah yang meminta maaf telah mengganggu kesibukan Ki Arya Sidi”, berkata Empu Dangka.

“Tidak ada yang terganggu, bahkan aku merasa sebuah kehormatan dikunjungi kalian”, berkata Ki Arya Sidi.
Akhirnya mereka pun saling bercerita tentang keselamatan masing-masing.

“Aku berharap kalian dapat dua tiga hari di Padepokan ini”, berkata Ki Arya Sidi penuh pengharapan.

“Kami hanya pengembara yang tidak punya tujuan, dua tiga hari tidak masalah untuk kami”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum memandang Mahesa Amping sepertinya meminta persetujuan.

“Sebuah kenikmatan dua tiga hari dapat terhindar dari angin dan hujan”, berkata Mahesa Amping sepertinya menyetujui.

Terdengar suara pintu berderit dari dalam, seorang lelaki tua yang sudah dikenal oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat membawa beberapa hidangan.

“Silahkan dinikmati hidangan malamnya, mumpung masih hangat”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan para tamunya.

Setelah menikmati hidangan malam, mereka pun mengisi malam dengan perbincangan. Banyak hal yang mereka bicarakan.

“Ternyata Empu Dangka pemerhati masalah para penguasa pura saat ini. Aku pun berpendapat yang sama bahwa saat ini para penguasa pura umumnya telah keluar dari garis kekuasaan para pendahulunya sebagai pelayan rohani”, berkata Ki Arya Sidi menyampaikan pendapatnya.

“Bukankah Ki Arya Sidi adalah guru para pangeran penguasa pura di Balidwipa ini ?”, bertanya Mahesa Amping.

“Secara turun temurun para Pangeran penguasa Pura di Balidwipa ini menjadi seorang sisya di Padepokan Panca Agni ini, namun di tahun ini hanya pangeran dari Pura Pusering Jagad saja yang mengirimkan para Pangerannya. Aku belum tahu apakah keberadaan Padepokan ini sudah mulai meluntur dalam pandangan mereka”, berkata Ki Arya Sidi.

“Jadi hanya empat orang pangeran dari Pura Pusering Jagad di Padepokan Panca Agni ini”, berkata Mahesa Amping.

“Berapapun memang bukan masalah untukku, aku hanya mewarisi apa yang telah ayah dan buyutku melakukannya, membina para pangeran para penguasa pura, menjadi guru para sisya di padepokan Panca Agni ini”, berkata Ki Arya Sidi.

———-oOo———-

SFBDBS 09-243

Dan malam pun berlalu semakin larut diatas bumi Padepokan Panca Agni. Angin semilir dingin menghembus kantuk yang datang menggelayut.

Akhirnya Ki Arya Sidi memaklumi kedua tamunya yang terlihat sudah perlu beristirahat telah mempersilahkan keduanya masuk ke peraduan yang telah disediakan.

“Aku ini memang tuan rumah yang tidak tahu diri, sudah tahu tamunya sudah suntuk masih diajak berbincang-bincang”, berkata Ki Arya Sidi sambil tersenyum.

“Berbincang dengan Ki Arya Sidi memang mengasikkan, tapi kantuk ini memang datang tanpa diundang”, berkata Empu Dangka sambil mengangkat badannya berdiri.

Dan malam pun berlalu bersama suara keheningan yang senyap, meski kadang ditingkahi suara angin mendayu dayu diatas puncak Bukit Pejeng gundul menggulung padang ilalang. Sesekali terdengar suara burung tekukur jantan tengah menjaga sang betina yang tengah mengerami dua butir telur hasil percintaan mereka.

Itulah panggung dunia malam di sekitar Padepokan Panca Agni yang sunyi senyap jauh dari keramaian penduduk di sekitarnya.

Malam pun akhirnya surut pergi ke balik bumi yang lain, berganti sang pagi yang ditandai dengan pecahnya warna awan biru oleh sinar kuning terang di ujung timur bumi. Indahnya warna dunia pagi di saat matahari masih dibawah bibir bumi menjadikan suasana begitu bening sepanjang mata memandang, batang pohon kayu, tanah dan rumput terlihat jelas dalam nuansa kehijauannya.

Dalam suasana pagi yang indah itulah Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat duduk di pendapa Padepokan Panca Agni tengah menikmati suasana pagi.

“Ternyata kalian telah bangun mendahului aku”, berkata Ki Arya Sidi yang baru saja datang dan langsung bergabung di pendapa Padepokan Panca Agni.

“Sang Maha Karsa telah menciptakan awal pagi sebagai keelokan wajah bumi, memberi mata ini memandang tak pernah jemu”, berkata Empu Dangka.

“Aku iri dengan kehidupan kalian, setiap hari menikmati lukisan alam pagi yang berbeda, di sebuah tempat dan waktu”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Ki Arya Sidi tanpa disadari telah melihat warna pagi yang berbeda ketika menerima para pangeran muda di awal pertama sebagai seorang Sisya Padepokan”, berkata Empu Dangka.

“Apa yang Empu katakan memang dapat kurasakan, ada sebuah keindahan yang kurasakan di saat menerima para pangeran muda yang datang dipadepokan ini”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

Sementara itu tidak terasa sang mentari telah merayap naik melewati ujung bibir bumi, menerangi halaman Padepokan Panca Agni.

 

———-oOo———-

SFBDBS 09-244

“Mari kita ke sanggar melihat para sisya berlatih”, berkata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka ke Sanggar.

Ketika mereka tiba di Sanggar, keempat para Sisya Padepokan Panca Agni terlihat tengah berlatih ketahanan tubuh dengan beberapa alat yang ada dan tersedia di dalam sanggar. Namun melihat Guru mereka yang datang bersama dua orang tamu yang sudah dikenalnya mereka menghentikan latihan dan datang menghampiri.

Secara berturut Ki Arya Sidi memperkenalkan keempat Sisyanya kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Mulai dari yang paling tua bernama Wayan Dewa Bayu, adik keduanya bernama Made Dewa Apah, adik ketiga bernama Nyoman Dewa Teja, dan adik ketiganya yang terkecil bernama Ketut Dewa Akasa”, berkata Ki Arya Sidi memperkenalkan keempat sisyanya.

“Namaku Mahesa Amping, dan ini Empu Dangka, kita telah bertemu beberapa hari yang lalu”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya kepada keempat Sisya.

“Saudaraku Mahesa Amping ingin melihat kalian berlatih, lakukanlah dari awal”, berkata Ki Arya Sidi kepada keempat orang Sisyanya.

Maka keempat sisya Padepokan Panca Agni mengambil tempat yang luas didalam sanggar. Terlihat mereka secara bersamaan dan perlahan melakukan gerakan-gerakan jurus perguruan mereka.

“Sebuah jurus yang indah”, berkata Mahesa Amping yang melihat keempat sisya melakukan gerak jurus mereka.
Ternyata yang dilihat Mahesa Amping adalah gerak awal, gerak selanjutnya terlihat semakin lama menjadi semakin cepat.

Sebagai seorang yang ahli kanuragan yang juga dikaruniai daya tangkap yang luar biasa, Mahesa Amping sudah dapat memahat dan menghafal setiap jurus yang dilihatnya.

Maka ketika keempat sisya telah selesai memperlihatkan semua jurus perguruan mereka, Mahesa Amping dengan penuh hormat meminta kepada Ki Arya Sidi untuk memperlihatkan hasil rancangannya mengenai jurus yang baru saja diperagakan itu.

“Ijinkan aku yang bodoh ini memperlihatkan beberapa penyesuaian, mudah-mudahan berguna”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah ke tempat yang agak lapang agar dapat dilihat oleh semua yang ada di sanggar itu.

Terlihat Mahesa Amping telah melakukan gerakan jurus perguruan Panca Agni dengan perlahan.

Bukan main tercengangnya Ki Arya Sidi melihat Mahesa Amping tengah menjalankan gerakan jurusnya yang nyaris sempurna, tidak ada beda sedikit pun sebagaimana sebelumnya telah diperagakan oleh para sisyanya.

Kembali Ki Arya Sidi menjadi semakin tercengang manakala memperhatikan lebih teliti lagi atas semua gerakan yang dilakukan oleh Mahesa Amping. Ternyata sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping untuk memberikan beberapa penyesuaian jurus perguruannya telah benar-benar diperlihatkan.

“Terima kasih, sebuah penyesuaian yang nyaris sempurna”, berkata Ki Arya Sidi penuh kegembiraan melihat beberapa bagian jurus perguruannya telah diubah menjadi begitu sempurna.

“Hanya sedikit penyesuaian”, berkata Mahesa Amping yang telah menghentikan gerakannya.

“Dengan terpaksa aku meminta saudaraku Mahesa Amping lebih lama sedikit di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping. “Untuk memberikan bimbingan langsung tentang penyesuaian jurus perguruan kami kepada para Sisyaku”, berkata kembali Ki Arya Sidi.

“Apa artinya sebuah waktu dan hari bagi seorang pengembara”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
Mahesa Amping tersenyum mendengar perkataan Empu Dangka.

“Semoga tuan rumahnya tidak boson menanggung dua orang pengembara”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh Ki Arya Sidi.

“Untuk dua orang pengembara seperti kalian, kami akan merasa gembira dapat menahan kalian tidak keluar dari gerbang Padepokan ini”, berkata Ki Arya Sidi dengan penuh kegembiraan bahwa permintaannya untuk tinggal beberapa hari lebih lama sepertinya dapat dikabulkan.

Demikianlah, pada hari itu Mahesa Amping langsung membimbing keempat Sisya Padepokan Panca Agni dengan beberapa jurus penyesuaian.

Ternyata para Sisya padepokan Panca Agni adalah orang-orang yang cerdas. Mereka dengan mudah dapat mengikuti bimbingan dari Mahesa Amping.

“Hanya perlu beberapa pengulangan, kalian akan terbiasa dengan beberapa bagian yang berubah”, berkata Mahesa Amping kepada para sisya yang dilihatnya telah dapat melaksanakan bimbingannya.

“Terima kasih, kami akan berlatih terus”, berkata Wayan Dewa Bayu mewakili saudaranya.

“Bagus, aku melihat kalian sangat berbakat”, berkata Mahesa Amping.

Demikianlah, Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi hari itu melihat para sisya berlatih dengan penuh semangat.

“Saatnya aku yang mulai berlatih”, berkata Ki Arya Sidi sambil maju beberapa langkah langsung melakukan gerakan jurus perguruannya.

Sebagai seorang guru, Ki Arya Sidi terlihat sudah dapat langsung melakukan perubahan penyesuaian sebagaimana yang telah diperlihatkan oleh Mahesa Amping.

———-oOo———-

SFBDBS 09-245

Demikianlah, seharian mereka berada di sanggar Padepokan Panca Agni berlatih jurus perguruan mereka yang telah disempurnakan oleh Mahesa Amping. Ketika matahari telah turun mendekati ujung barat lengkung bumi barulah mereka keluar dari sanggar.

“Semangat Ki Arya Sidi ternyata masih membara”, berkata Mahesa Amping ketika mereka duduk di pendapa menghabisi waktu senjanya.

“Kehadiran kamulah yang telah membangkitkan semangatku, terutama penyempurnaan jurus perguruan kami”, berkata Ki Arya Sidi.

“Melihat kawanku Mahesa Amping yang selalu berbagi, aku jadi iri. Sekarang giliranku yang akan berbagi sedikit ilmu cambukku kepadamu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Empu Dangka ingin memberikan ilmu cambuk kepadaku ?”, bertanya Mahesa Amping.

“Cambuk adalah lambang kelembutan, aku melihat sifat dan sikapmu sangat sejiwa dengan lambang cambuk itu sendiri yang kadang lembut, tapi kadang dapat keras menghentak”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. “Itupun bila dirimu berkenan”, berkata kembali Empu Dangka.

“Adalah sebuah kehormatan mewarisi ilmu cambuk dari Empu Dangka, terima kasih telah mempercayakannya kepada diri ini”, berkata Mahesa Amping.

“Aku telah mewarisi ilmu cambuk ini kepada orang yang tepat, aku yakin di tanganmu akan berkembang melebihi apa yang telah aku capai”, berkata Empu Dangka merasa gembira bahwa Mahesa Amping berkenan menerima tawarannya menurunkan ilmu cambuknya.

“Empu Dangka terlalu memuji, mudah-mudahan diriku yang bodoh ini dapat menerima pengajaran yang Empu Dangka berikan”, berkata Mahesa Amping dengan penuh kerendahan hati.

“Merasa bodoh, itulah jiwa para penuntut ilmu sejati. Karena ilmu itu sendiri laksana samudra laut yang maha luas, semakin kita minum semakin kita menjadi haus. Semakin kita mendalaminya, semakin banyak yang tidak kita ketahui”, berkata Empu Dangka

“Ucapan Empu Dangka sebagai pusaka yang akan aku bawa dalam jiwa ini”, berkata Mahesa Amping.

“Besok kita akan mulai berlatih”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Setidaknya hari-hari di Padepokan Panca Agni ini menjadi tidak menjemukan”, berkata Ki Arya Sidi yang merasa gembira bahwa Empu Dangka dan Mahesa Amping agak lebih lama di Padepokannya.

Sementara itu tidak terasa rembulan sudah muncul di ujung timur menggelantung di langit meski awan senja masih terang berwarna pucat. Terlihat padang ilalang yang mengelilingi Padepokan Panca Agni berayun-ayun merunduk ditiup angin.

Dan sang waktu terus berlalu. Langit malam telah menyelimuti Padepokan Panca Agni di puncak bukit Pejeng Gundul itu.

Bersama dengan bergulirnya sang waktu, penguasa malam nampaknya telah bersembunyi di sisi kegelapan bumi lainnya ketika sang fajar datang menjenguk wajah bumi pagi. Suara ayam jago sudah terdengar sayup dari perkampungan yang jauh. Wajah pagi yang bening terlihat semakin cerah dan hangat manakala sang mentari telah muncul utuh bergelantung di ujung lengkung langit sebelah timur.
Para penghuni Padepokan Panca Agni di pagi itu telah memulai kembali melakukan latihan didalam sanggar bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Biarlah aku yang mendampingi para sisya”, berkata Ki Arya Sidi yang nampaknya telah memberikan kesempatan kepada Mahesa Amping untuk menerima pengajaran ilmu cambuk dari Empu Dangka.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.
Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka mengambil tempat disusut Sanggar.

“Aku akan memperkenalkan kepadamu tentang wujud serta sifat dari cambuk ini sebagai dasar mengenal ilmu cambuk”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Maka mulailah Empu Dangka menjelaskan beberapa hal mengenai wujud dan sifat dari sebuah cambuk kepada Mahesa Amping yang mendengarnya dengan penuh perhatian.

Ternyata Mahesa Amping mempunyai daya tangkap yang cemerlang, dengan singkat telah memahami segala sifat maupun watak dari sebuah senjata cambuk yang disampaikan langsung dari Empu Dangka.

Setahap demi setahap Empu Dangka memberikan dasar-dasar menggunakan sebuah senjata cambuk.

“Perlu waktu satu bulan ketika aku memberikan pemahaman dasar-dasar jurus cambuk kepada Kertanegara maupun Kebo Arema. Sementara kamu sudah dapat melakukannya dengan begitu sempurna dalam waktu setengah hari”, berkata Empu Dangka yang merasa kagum atas kecepatan Mahesa Amping menguasai dasar-dasar jurus ilmu cambuknya.

Sementara itu di sisi lain didalam sanggar itu, para sisya masih terus berlatih. Terlihat juga kemajuan mereka yang membuat gembira Ki Arya Sidi sebagai gurunya.

Latihan mereka di dalam sanggar itu akhirnya terhenti ketika sang pelayan tua datang membawa hidangan untuk makan siang.
“Bila tidak ingat sedang berlatih, pasti kuisi penuh perutku ini”, berkata Mahesa Amping sambil memegang paha ayam yang ditanggapi senyum para Sisya.

“Ternyata kita punya perasaan yang sama”, berkata Wayan Dewa Bayu sambil manggut-manggut.

“jangan khawatir, masih ada makan malam”, berkata Ki Arya Sidi.

“Artinya hari ini masih ada seekor ayam yang akan pasrah menerima takdirnya”, berkata Empu Dangka perlahan.

———-oOo———-

SFBDBS 09-246

Setelah beristirahat sejenak, mereka pun kembali berlatih. Terlihat para sisya dibawah bimbingan gurunya tengah berlatih jurus perguruan mereka yang telah disempurnakan. Sementara itu Mahesa Amping dengan tekun berlatih dasar-dasar ilmu cambuk dibawah bimbingan Empu Dangka.

“Jurus ilmu cambuk ini terdiri dari tiga belas jurus, setiap jurus bercabang lima bagian dan setiap cabang mempunyai enam pecahan gerak yang berbeda”, berkata Empu Dangka sambil memperagakan setiap jurus, cabang dan pecahan geraknya kepada Mahesa Amping.

Kembali Empu Dangka tercengang melihat Mahesa Amping dengan cepat dapat menirukan semua jurus yang diperagakannya, meski masih terlihat kaku. Namun dengan beberapa pengulangan Mahesa Amping dapat melakukannya dengan begitu sempurna.

“Luar biasa !!!”, berkata Empu Dangka seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya bahwa dengan waktu yang begitu singkat Mahesa Amping telah menghafal dan melakukan semua jurus ilmu cambuknya dengan begitu sempurna.

Sementara itu hari telah beranjak sore, matahari sudah condong ke barat diatas langit Padepokan Panca Agni.
Terlihat para Sisya tengah beristirahat mengendurkan urat-urat persendian mereka setelah hampir seharian berlatih. Sementara itu Mahesa Amping masih terus berlatih sepertinya tidak merasakan kelelahan apapun.

“Anak muda ini telah menguasai ilmu pengolahan nafas yang sempurna, mungkin tiga hari tiga malam anak muda ini mampu bertahan dalam pertempuran yang sebenarnya”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi ketahanan tubuh Mahesa Amping.

Sambil berlatih, Mahesa Amping melihat para sisya sudah beristirahat. Maka akhirnya Mahesa Amping terlihat menghentikan latihannya. Tidak sedikit pun terlihat kelelahannya.

“Ilmu pengaturan nafasmu sudah begitu sempurna”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Empu Dangka terlalu memuji”, berkata Mahesa Amping merendahkan dirinya.

“Besok aku akan mencari bahan untuk membuat sebuah cambuk, aku perlu janget khusus dan karah-karah baja pilihan”, berkata Empu Dangka

“Aku pernah membuat sebuah cambuk dari bahan jerami”, berkata Mahesa Amping.

Empu Dangka tersenyum mendengar ucapan Mahesa Amping.

“Akulah yang akan membuatnya khusus untukmu. Cambuk yang kupunya ini dan dua lagi yang telah dimiliki oleh Kertanegara dan Kebo Arema adalah buah tangan kakekku sendiri Empu Brantas”, berkata Empu Dangka penuh kegembiraan.

“Memiliki sebuah senjata buatan seorang ahli adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan”, berkata Mahesa Amping sambil memandang cambuk milik Empu Dangka yang masih dipegangnya.

“Aku merasa bangga telah membuat dan menitipkan sebuah cambuk untukmu, aku yakin di tanganmu ilmu cambukku akan berkembang melebihi tataran yang kumiliki”, berkata Empu Dangka.

“Sudah beberapa kali Empu Dangka memujiku, lama-lama kepalaku bisa membesar”, berkata Mahesa Amping.

Terlihat Empu Dangka sedikit tersenyum memandang Mahesa Amping. Didalam hatinya telah timbul kesukaan dan kekaguman atas pemuda yang sederhana itu, dirinya yakin bahwa didalam diri anak muda ini telah bersembunyi kekayaan dan kekuatan ilmu yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang biasa.

“Sanggar ini sudah menjadi gelap”, berkata Ki Arya Sidi menghampiri Mahesa Amping dan Empu Dangka mengajak mereka bersama keluar dari sanggar.

Terlihat mereka bersama telah keluar dari sanggar Padepokan Panca Agni.

Ternyata langit diatas Padepokan sudah di ujung senja. Di pendapa padepokan Panca Agni terlihat pelayan tua tengah menyalakan pelita.

“Kutinggalkan cambukku agar dapat kau pakai untuk berlatih”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika mereka berada di pendapa

“Perlu berapa lama untuk membuat sebuah cambuk ?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Empu Dangka

“Tergantung bahan yang tersedia. Sementara itu aku perlu waktu yang khusus juga tempat yang khusus pula”, berkata Empu Dangka

“Aku yakin, selama aku membuat sebuah cambuk, dirimu sudah menguasai sepenuhnya ilmu cambuk”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Aku akan berusaha”, berkata Mahesa Amping.

Terdengar suara pintu berderit, dan pelayan tua terlihat muncul dari balik pintu itu sambil membawa beberapa hidangan malam.

“Gurame bakar bumbu merah sangat nikmat untuk hidangan malam”, berkata Ki Arya Sidi sambil mempersilahkan kedua tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Malam ini seekor ayam jago telah luput dari takdirnya”, berkata Empu Dangka yang disambut tawa semuanya.

“kapan pun, takdir ayam jago masih tetap ada ditangan Ki Nyoman”, berkata Ki Arya Sidi

“Pelayan tua itu bernama Ki Nyoman ?”, bertanya Mahesa Amping.

“ki Nyoman sudah tinggal di Padepokan ini ketika aku masih kecil”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang pelayannya yang sangat setia.

Sementara itu sang malam telah semakin kelam menyelimuti puncak Bukit Pejeng.

———-oOo———-

SFBDBS 09-247

Langit malam bertaburan bintang purba menjaga penghuni bumi yang telah tertidur bersama mimpinya. Terkantuk kantuk sang rembulan bersama cahayanya yang kian pudar berbaring mendekati kaki langit di ujung barat bumi.

Akhirnya sang rembulan tergelincir jatuh di balik bumi manakala sang fajar merah datang muncul mengintip di ujung timur bumi. Dan warna awan gelap pun pudar menjadi kuning kemerahan tersinar cahaya mentari yang terus merayap di ujung kaki langit.

Langit pagi diatas puncak bukit Pejeng berhias awan putih bersih. Cahaya matahari pagi telah menerangi Padepokan Panca Agni. Sekelompok burung manyar terlihat terbang melintas, seekor induk ayam betina di halaman padepokan terdengar memanggil anak-anaknya untuk berebut mengurai seekor cacing tanah yang terjebak diatas tanah kering.

“Secepatnya aku akan kembali”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi yang mengantarnya sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.

“Aku tidak sabar melihat sebuah cambuk hasil karya seorang Empu”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang hanya tersenyum melambaikan tangannya dan membalikkan badannya terus berjalan melangkahkan kakinya.

Pandang mata Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi terus mengiringi langkah kaki Empu Dangka yang semakin menjauh yang akhirnya menghilang di ujung jalan tanah yang menurun.

“Mari kita ke sanggar, para Sisya sudah mendahului kita disana”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

Ketika Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masuk kedalam sanggar, terlihat para Sisya tengah berlatih.

Mahesa Amping yang melihat para sisya berlatih dengan penuh semangat merasa kagum dan gembira bahwa para sisya telah terlihat semakin berkembang maju, semakin menguasai jurus perguruannya yang telah disempurnakannya.

“Kulihat mereka sudah semakin menguasai”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang terus memperhatikan keempat anak didiknya yang tengah berlatih.

“Aku menyukai semangat mereka”, berkata Ki Arya Sidi.

“Mereka juga nampaknya sangat berbakat”, berkata Mahesa Amping.

Namun perhatian Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi terpecah, terlihat seorang lelaki berjubah pendeta telah masuk kedalam sanggar.

“Maafkan hamba tuan, orang itu sudah hamba coba memperingatkannya agar menunggu di pendapa, tapi orang itu tidak menggubris peringatan hamba”, berkata Ki Nyoman pelayan tua yang juga telah masuk langsung memberitahukan tentang kedatangan orang berjubah pendeta itu. “Orang itu mengatakan dirinya berasal dari Pura Indrakila”, berkata kembali Ki Nyoman kepada Ki Arya Sidi.

“Rahajeng semengan”, berkata Ki Arya Sidi menahan diri bertutur dan bersikap hormat kepada orang yang baru masuk itu” Ada kepentingan apakah tuan pendeta sepagi ini datang ke Padepokan Panca Agni?”, berkata lagi Ki Arya Sidi kepada orang berjubah pendeta itu yang diketahui lewat Ki Nyoman berasal dari Pura Indrakila. Melihat raut wajahnya orang itu dan rambut di kepala yang sudah berwarna putih semuanya itu dapat dikatakan bahwa umur orang itu sudah tua sekitar enam puluh tahunan lebih. Rambut yang sudah berwarna putih itu dibiarkan terurai tanpa ikat kepala.

“Sanggar yang bagus, sanggar yang bagus”, berkata orang berjubah pendeta itu sepertinya tidak menghiraukan pertanyaan Ki Arya Sudi, bahkan terlihat matanya menyapu seisi ruangan sanggar Padepokan Panca Agni. “Sayang penghuninya empat orang Sisya”, berkata kembali orang berjubah pendeta.

“Lebih baik empat orang Sisya tapi sepenuh jiwa menuntut ilmu, daripada seratus sisya tapi setengah jiwa”, berkata Ki Arya Sidi yang mulai kurang senang dengan orang yang datang itu.

“Apa arti menuntut ilmu di tempat yang tidak bermakna”, berkata orang itu masih dengan mata tidak memandang ke arah Ki Arya Sidi melainkan masih menyapu pandangannya ke seluruh isi sanggar.

Ki Arya Sidi sebenarnya sudah semakin tidak suka, namun masih berusaha mengendalikan dirinya.

Sementara itu Mahesa Amping diam-diam memperhatikan orang berjubah pendeta itu. Ada sedikit getaran yang dirasakannya, itu adalah pertanda bahwa orang itu mempunyai tingkat kekuatan bathin yang tinggi.

“Siapakah tuan pendeta, agar kami tuan rumah tidak salah menilai orang”, berkata Ki Arya Sidi yang masih dapat mengendalikan dirinya.

“Orang memanggilku sebagai Guru Dewa Bakula”, berkata orang itu kepada Ki Arya Sidi. Kali ini pandangannya langsung tertuju langsung kepada Ki Arya Sidi.

Bukan main terkejutnya Ki Arya Sidi mendengar orang itu menyebut namanya. Ki Arya Sidi sebagai seorang guru di Padepokan Panca Agni mempunyai pengetahuan dan pergaulan yang luas di Balidwipa pernah mendengar nama Guru Dewa Bakula sebagai orang yang berasal dari negeri Hindu. Guru Dewa Bakula didengarnya sebagai seorang yang sakti yang telah menjadi seorang guru pendeta di Pura Indrakila. Guru Dewa Bakula inilah yang menyebabkan para penguasa Pura di seluruh Balidwipa tidak lagi mengirim para pangerannya ke Padepokan Panca Agni sebagaimana telah dilakukan secara turun temurun. Saat ini hampir semua para pangeran dari semua pura di Balidwipa menjadi sisya di Pura Indrakila. Hanya penguasa dari Pura Pusering Jagad yang masih mempercayai Padepokan Panca Agni ini sebagai tempat membina para Pangerannya.

“Kami sangat tersanjung atas kedatangan tuan Guru Dewa Bakula di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

———-oOo———-

SFBDBS 09-248

“Kedatanganku di Padepokan ini hanya sekedar ingin mengetahui setinggi apa ilmu perguruan Panca Agni sehingga pernah menjadi kawah candradimuka bagi para pangeran di seluruh pura Balidwipa”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Ki Arya Sidi dengan tatapan yang begitu tajam.

Tersentak dada Ki Arya Sidi ditatap dengan pandangan mata yang sangat tajam itu. Sebuah tatapan mata yang dilambari tenaga yang tersembunyi.

Untungnya didekat Ki Arya Sidi ada Mahesa Amping yang diam-diam menyentuh tangan Ki Arya Sidi membantunya menyalurkan tenaga murninya menjadi daya kebal didalam tubuh Ki Arya Sidi tanpa sepengetahuan Ki Arya Sidi tentunya.

“Apakah ada keuntungan bagi tuan untuk menilai tinggi rendahnya ilmu perguruan Panca Agni?”, bertanya Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula dengan tatapan yang kuat.

Kaget bukan kepalang Guru Dewa Bakula mendapatkan seorang muda didekat Ki Arya Sidi mempunyai kekuatan mata yang sangat tajam sebagaimana dirinya. Sedikit dadanya terasa tersentak menatap sorot mata pemuda itu. Diam-diam telah melambari dirinya dengan tenaga murni agar rongga dadanya tidak terguncang.

“Sebenarnya tidak ada keuntungan apapun, hanya sekedar mengetahui sejauh mana tingkat ilmu perguruan Panca Agni”, berkata Guru Dewa Bakula yang masih mengalihkan pandangannya ke arah Mahesa Amping.

“Tuan Pendeta terlalu berkelok-kelok dalam merangkai kata-kata, langsung saja kami maknai perkataan tuan pendeta adalah ingin menguji kemampuan kami?”, berkata Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula mewakili Ki Arya Sidi.

“Ternyata kamu pandai menerjemahkan apa yang aku maksudkan”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Kuterjemahkan lagi lebih pastinya adalah bahwa tuan pendeta ingin adu tanding di tempat ini”, berkata Mahesa Amping dengan begitu tenang bahkan dengan sedikit senyum.

“Aku senang kepadamu yang pandai menerjemahkan ucapanku, aku memang ingin adu tanding ditempat ini”, berkata Guru Dewa Bakula yang diam-diam mengagumi sikap Mahesa Amping yang tidak berpengaruh atas sorot pandang matanya.

“Apakah yang tuan tawarkan kepada kami dari hasil adu tanding itu?”, bertanya Mahesa Amping dengan suara yang datar namun dengan sorot mata yang tidak kalah tajamnya menatap langsung Guru Dewa Bakula.

“Kutawarkan seluruh sisyaku di Pura Indrakila bila dapat menandingiku, sebaliknya serahkan semua sisya di Padepokan Panca Agni ini bila ternyata tidak dapat menandingi ilmuku”, berkata Guru Dewa Bakula dengan suara yang bergema karena dilambari tenaga dalam yang tinggi.

Semua yang ada di sanggar itu merasakan rongga dadanya terguncang.

“Empat puluh sisya sebanding dengan empat sisya, sebuah penawaran yang menarik”, berkata Mahesa Amping sambil tertawa panjang bermaksud meredam daya sentak yang dilontarkan oleh Guru Dewa Bakula.

Ki Nyoman yang paling terguncang terlihat masih memegangi dadanya. Sementara empat orang sisya dan Ki Arya Sidi sudah dapat menguasai dirinya masing-masing.

Sementara itu Guru Dewa Bakula terlihat terkejut merasakan anak muda dihadapannya telah mampu mengimbangi ilmunya lewat pantulan suara.

“Ternyata kamu ingin memamerkan diri”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Aku tidak memamerkan diri, hanya sekedar menyampaikan bahwa ilmu yang tuan pendeta keluarkan dapat juga dilakukan oleh orang di pasar”, berkata Mahesa Amping dengan sedikit senyum

“Artinya ilmuku ini pasaran?”, berkata Guru Dewa Bakula dengan mata melotot tidak senang.

“Terserah tuan pendeta mengartikan perkataannku, meski aku tidak bermaksud berkata seperti itu”, berkata kembali Mahesa Amping dengan senyum dikulum berhasil membakar amarah Guru Dewa Bakula.

“Rasanya aku ingin merobek mulutmu yang terlalu banyak bicara”, berkata Guru Dewa Bakula dengan penuh amarah yang terbakar.

“Sang Hyiang Widi telah menciptakan mulut manusia dengan sempurna, apakah tuan pendeta bermaksud untuk merusaknya?”, bertanya Mahesa Amping dengan suara yang datar.

“Aku benar-benar akan merobek mulutmu”, berkata Guru Dewa Bakula yang sudah tidak dapat mengendalikan lagi perasaannya dan langsung melompat menerjang dengan dua buah tangan menerkam kepala Mahesa Amping.

“Sabar tuan pendeta, kita belum menyampaikan sebuah kesepakatan”, berkata Mahesa Amping sambil bergeser sedikit ke kiri maka terkaman kedua tangan Guru Dewa Bakula mengenai tempat kosong.

“Kesepakatan apa lagi”, berkata Guru Dewa Bakula sambil bertolak pinggang.

“Kesepakatan siapapun yang kalah dalam pertandingan ini akan mengaku murid seumur hidupnya”, berkata Mahesa Amping masih dengan senyum dikulum.

“Akan kujadikan kamu murid yang paling tersiksa sepanjang hidupmu”, berkata Guru Dewa Bakula penuh kemarahan.

“Sepertinya tuan pendeta sudah membayangkan aku sebagai murid yang terkasih”, berkata Mahesa Amping kembali memancing amarah Guru Dewa Bakula.

“Ki Arya Sidi, apakah kamu membiarkan perguruanmu diwakili oleh anak muda bau kencur ini?”, bertanya Guru Dewa Bakula kepada Ki Arya Sidi bermaksud mengecilkan diri Mahesa Amping.

———-oOo———-

SFBDBS 09-249

“Dia adalah saudaraku, dia punya hak mewakili Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi yang telah mengenal Mahesa Amping sebagai pemuda yang memiliki kemampuan ilmu yang tinggi.

“Mari kita selesaikan kesepakatan ini di luar sanggar, di tempat yang lebih luas”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah keluar dari sanggar.

Terlihat Guru Dewa Bakula mengikutinya dari belakang.
Mahesa Amping telah sampai di halaman muka Padepokan Panca Agni.

“Jadi kamu memilih tempat ini”, berkata Guru Dewa Bakula sambil mendengus geram memandang kepada Mahesa Amping.

“Aku takut tuan Pendeta salah sasaran bila kita bertempur didalam sanggar”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

Sementara itu Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya telah tiba juga di halaman muka. Di belakang mereka mengikuti Ki Nyoman pelayan tua berdiri ditempat yang lebih jauh.

“Silahkan tuan pendeta memulai”, kembali Mahesa berkata kepada Guru Dewa masih dengan ketenangannya.
Melihat sikap yang tenang dari Mahesa Amping telah membakar hati pendeta tua itu.

“Anak muda ini begitu percaya diri, pasti baru saja menyelesaikan sebuah ilmu yang diyakininya tidak terkalahkan, dasar katak dalam tempurung”, berkata Guru Dewa Bakula dalam hati menggeram.

“Bukalah matamu lebar-lebar”, berkata Guru Dewa Bakula sambil menerjang terbang dengan kaki menjulur menghantam dada Mahesa Amping.

“Kulihat tuan pendeta menyerang dengan mata terpejam”, berkata Mahesa Amping setelah bergeser menghindari serangan lawan dan melihat Guru Dewa Bakula menemui tempat kosong.

“Jangan besar kepala”, berkata Guru Dewa Bakula sambil melayangkan serangan kedua dengan tangan kanannya yang bergerak begitu cepat, lebih cepat dari serangan pertamanya.

“Untung kepalaku tidak begitu besar”, berkata Mahesa Amping yang memiringkan sedikit kepalanya menghindari kepalan tangan Guru Dewa Bakula yang hanya merasakan angin pukulannya.

Ternyata Mahesa Amping tidak Cuma menghindar, sebuah tangannya melesat cepat menghantam kearah ketiak lawannya.

Bukan main kagetnya Guru Dewa Bakula, serangan itu diluar perhitungannya dan siapapun ahli kanuragan tidak akan berpikir kearah seperti serangan Mahesa Amping. Maka dengan langkah yang terkaget seketika itu juga Guru Dewa Bakula melemparkan dirinya kebelakang dengan gerakan kayang. Itulah satu-satunya cara meloloskan diri dari serangan Mahesa Amping yang aneh dan diluar perhitungannya.

Sebenarnya, sebelum datang menyatroni Padepokan Panca Agni. Guru Dewa Bakula telah banyak mempelajari kelebihan maupun kelemahan dari jurus perguruan Padepokan Panca Agni. Namun kali ini ia terbentur melawan seorang Mahesa Amping yang telah menyempurnakan jurus perguruan Panca Agni.

Guru Dewa Bakula menjadi sangsi, apakah yang dipelajari mengenai jurus perguruan Panca Agni bukan dari sumber aslinya. Dengan takjub ia melihat Mahesa Amping mengimbanginginya dengan jurus perguruan Padepokan Panca Agni tanpa sedikit pun dilihatnya ada celah kelemahan sebagaimana yang sudah dipelajarinya jauh sebelum berangkat mendatangi Padepokan Panca Agni.

Tidak terasa ratusan jurus telah berlalu, Guru Dewa Bakula tidak menemui kesempatan sedikit pun menembus pertahanan jurus perguruan Padepokan Panca Agni. Jurus yang dimainkan oleh Mahesa Amping dengan begitu sempurna.

“Ternyata mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mereka”, berkata Guru Dewa Bakula dalam hati setelah melihat sendiri perubahan yang terjadi dari jurus perguruan Panca Agni sangat berbeda dan berubah tidak lagi sebagaimana yang pernah dilihatnya dari beberapa orang yang pernah menjadi seorang Sisya di Padepokan Panca Agni yang selama ini telah disadapnya.

“Kuingin melihat sejauh mana kekuatan dirimu”, berkata Guru Dewa Bakula sambil melakukan penyerangan kembali. Kali ini dengan meningkatkan tataran kemampuannya lewat penyaluran tenaga murninya dalam setiap gerakan.

Luar biasa serangan itu !!!

Ada semacam angin pukulan hawa panas yang keluar dari setiap serangan Guru Dewa Bakula. Dan hawa panas itu terasa mendahului setiap serangan kearah yang dituju.

Bukan Mahesa Amping kalau tidak menyadari apa yang telah terjadi. Maka Mahesa Amping pun diam-diam telah melambari dirinya dengan kekuatan pengimbang, kekuatan hawa dingin tiba-tiba saja telah menyelimuti seluruh tubuh Mahesa Amping

“Kurang ajar”, berkata Guru Dewa Bakula yang menyadari pengerahan tenaga saktinya berupa pukulan hawa panas menjadi tidak berarti dihadapan Mahesa Amping. Kekuatan ilmunya sepertinya menjadi tawar.

“Jangan gembira dulu, ilmuku belum sampai puncaknya”, berkata Guru Dewa Bakula sambil melontarkan kemampuan puncaknya.

Guru Dewa Bakula memang telah melepaskan kemampuan puncaknya, maka hawa panas pukulannya telah bertambah semakin membakar.

Terlihat rumput-rumput di sekelilingnya menjadi hangus terbakar. Namun ternyata kembali serangan itu menjadi tawar dihadapan Mahesa Amping yang langsung meningkatkan tataran kemampuannya pula.

———-oOo———-

SFBDBS 09-250

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2012 at 04:45  Comments (461)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

461 KomentarTinggalkan komentar

  1. hahahaha, … ternyata mahisa amping senang “berguyon” toh, …

  2. Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan dari beberapa penduduk yang meragukannya, dengan langkah perlahan penuh ketenangan memisahkan diri menuju kesebuah tempat terpisah.

    Terlihat Mahesa Amping telah duduk sempurna bersila. Air Wajah dan nafasnya begitu tenang slam perti patung Budha. Mahesa Amping memang telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya masuk dalam ketiadaan, alam kesunyatan.

    Terperanjat para penduduk ketika menyaksikan sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa Amping.

    Asap tipis itu terlihat keluar semakin melebar menyelimuti tubuh Mahesa Amping. Dan terus melebar semakin membesar, meluas dan semakin menebal membentuk sebuah kabut putih.

    Seluruh pandangan mata siapan yang ada dipadukuhan itu tidak dapat lagi menembus kabut yang telah diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa.

    Seluruh dan seluas tanah Padukuhan itu telah diliputi kabut putih yang tebal !!!!!!

    Dan apa yang terjadi selanjutnya ?

    Kabut putih yang tebal itu perlahan naik keudara sebagaimana layaknya membentuk gumpalan awan terbang semakin meninggi.

    Seluruh tanah Padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup terhalang awan putih ciptaan kekuatan ilmu Mahesa Amping.

    Wuutttttttt….,

    Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping meluncur menembus kabut awan putih.

    Ternyata hentakan Mahesa Amping adalah sebuah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Dan kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.

    Wuuutttttttt……….,

    Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya kearah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur kebumi.

    Luar biasa !!!!!!!!!

    Gumpalan batu es yang sangat besar telah hancur berkeping-keping luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.

    Hujannn……!!!!

    Hujannn…….!!!!

    Berteriak seluruh penduduk bergembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi Padukuhan. Seluruhnya termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun.

    • hmmmm, semakin sakti saja Mahesa Amping ini
      matur suwun

  3. Sebenarnya Mahesa Amping telah menawarkan “kebisaannya” itu untuk Tomcat.
    Tapi terlalu banyak izin dan prosedur……males dech….,hehehe 1000X

    • ijinkan Mahesa Amping, pake gaya mBELING pak Dalang….hadir
      tanpa di undang….pulang setelah tugas terSELESAIkan.

      HIKSSS,

      • sugeng enjang kadang padepokan sadaya,

        pak DALANGe…..matur nuwun, yerima kasih

  4. selamat siang, hadir, monitor wedaran lagi

  5. tes……tes,

    • hikss, isih durung lancar…..pake ID lama (isih mbuleeet)

  6. Coba Mahisa Amping ikut demo BBM,
    wah jan mesti gayeng tenan.

    Hadir…………
    sugeng dalu katur para kadang sedaya.

  7. Para penduduk sepertinya tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka semua terlihat berlari menuju sawah ladang masing-masing. Bukan main gembiranya ketika menyaksikan sendiri bahwa ulat bulu beracun telah hilang hanyut terbawa air mengalir.

    Terlihat berbondong-bondong mereka kembali ketempat semula dimana Mahesa Amping masih duduk bersila sempurna.

    “Terima kasih wahai Manusia Dewa”, berkata beberapa penduduk sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    Sementara itu hujan terlihat sudah semakin surut dan akhirnya telah berhenti tiris. Perlahan Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya.

    Mahesa Amping tersenyum melihat beberapa penduduk tengah bersujud dihadapannya.

    “Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyiang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian juga”, berkata Mahesa Amping sambil meminta beberapa penduduk untuk bangkit berdiri.

    Pemimpin mereka terlihat mendekati Mahesa Amping yang sudah bangkit berdiri.

    “Terima kasih, tuan telah menyelamatkan kehidupan kami”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping.

    “Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara”, berkata Mahesa Amping.

    “Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap tuan”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang juga datang mendekat.

    “Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini”, berkata Empu Dangka.

    “Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk disini biasa memanggilku Ki Buyut”, berkata pemimpin itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Ki Buyut.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan dirinya, mereka tanpa sungkan lagi langsung menyampaikan arah tujuan mereka yaitu ke Pura Indrakila.

    “Ternyata tuan bertiga adalah para tamu agung Pemilik Pura Indrakila”, berkata Ki Buyut penuh kekaguman mengetahui bahwa ketiga orang dihadapannya hendak mengunjungi Pura Indrakila.” Hari sudah diujung senja, sebuah kehormatan bila saja tuan-tuan sudi beristirahat ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh santun.

    “Hari memang akan segera gelab, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam”, berkata Ki Arya Sidi.

    • kamsiaaaa………………..

      • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

        • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

          • Kamsia.

  8. kamsiaaaa………………..

    • sami2 ki…….genk dalu,

  9. Sebuah kehormatan menjamu tuan-tuan bermalam ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh kegembiraan .

    Terlihat Ki Buyut berbicara dengan salah seorang penduduk, sepertinya sebuah perintah untuk menyiapkan beberapa hal untuk tamu-tamu kehormatannya.

    “Mari kita berjalan menuju rumahku”, berkata Ki Buyut setelah menghampiri Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi.
    Maka berjalanlah mereka bersama menuju kerumah Ki Buyut.

    “Dua hari lagi kami akan panen raya”, berkata Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah disepanjang jalan menuju rumahnya.

    Ternyata rumah Ki Buyut terlihat sangat mencolok diantara rumah-rumah yang ada, terutama dalam ukuran besarnya.

    Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Buyut, mereka menemui seorang yang ternyata orang kepercayaan Ki Buyut untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu-tamunya.

    “Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita”, berkata orang itu kepada Ki Buyut perlahan penuh kesopanan layaknya seorang bawahan.

    “Beristirahatlah”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih.

    Setelah bergantian ke pringgitan, terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi duduk bersama di teras depan berupa saung yang besar.

    “Mudah-mudahan masakan simbok berkenan dilidah tuan-tuan”, berkata Ki Buyut sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

    “Terima kasih, jadi merepotkan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut.

    “Kami tidak repot, sebaliknya kami meresa terhormat tuan-tuan bersedia bermalam disini”, berkata Ki Buyut penuh senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rata sebagaimana umumnya asli Bali.

    Sementara itu langit diatas rumah Ki Buyut sudah terlihat semakin gelap, purnama bulat penuh berdiri diatas pohon kemboja kuning yang tumbuh dihalaman rumah Ki Buyut.

    Suasana di rumah Ki Buyut menjadi begitu hangat, ternyata Ki Buyut adalah seorang yang pandai bercerita. Maka saling bersambutlah cerita mereka silih berganti seperti tidak berujung berganti pangkal dan pokok pembicaraan, mulai dari panen raya sampai kehalusan orang Bali membuat sebuah keris dan berlanjut kemasalah sukar tidurnya Ki Buyut yang terganggu setiap malam karena cucunya yang baru berumur belum sepekan sering menangis dimalam hari.

    • kamsia….pak DALANGe,

      hadir mendhisiKi pak Gembleh seorang,

      • pak Dhalang…………
        neng mBali, si mBok itu artinya mBak lho.

        • Kamssiiiiaaaaa pak Dhalang.

  10. selamat siang, kamsiiaaaaaa

    • sami2,

      sugeng dalu kadang padepokan SADAYAnya

      • nuwun sewu sadaya……kulo bablas tanpo pamit pak DALANG, mblayu terbirit-birit ning blumbang sebelah

        • mangga……mangga……..
          jangan lupa mlumpat mBlumbange sambil
          jongkok mundur, percis si Karebet.

  11. Selamat malam Kadhang sadayana,
    Ba’da isya ngantuk berat langsung bablas tidur………….

  12. sugeng siang…………………………

  13. HADIR

    • (tetep dengan gaya bang Haji)……meNUNGGU,

  14. Sementara itu langit malam dikediaman Ki Buyut telah semakin larut, rembulan telah lama bergeser surut. Wajah keremangan malam yang teduh hanya mendengarkan suara kesunyiannya.

    “Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu”, berkata Ki Buyut sambil mengingatkan tamunya untuk beristirahat.

    Akhirnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Disisa malam itu cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering kadang terdengar adalah suara burung tekukur milik Ki Buyut yang sekali-sekali berbunyi dikesunyian malam.

    Mahesa Amping – lah yang bangun pertama, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

    “Mari kita keluar”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi mengajak keluar dari bilik kamar.

    “Hari masih begitu pagi”, berkata Ki Arya Sidi memandang langit pagi yang masih gelap.

    “Ternyata tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi”, berkata Ki Buyut yang baru saja keluar dari pringgitan.

    “Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut yang sudah duduk bergabung bersama.

    “Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya.

    “Dikesempatan lain waktu saja”, berkata Empu Dangka kepada Ki Buyut yang akhirnya tidak dapat memaksa tamu-tamunya yang untuk lebih lama di rumahnya.

    Ketika matahari pagi telah bersembul diujung timur hamparan sawah yang telah menghijau. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat telah keluar dari rumah Ki Buyut.

    Terlihat pandangan Ki Buyut mengiringi langkah kaki tamu-tamunya yang semakin lama menjauh dan hilang disebuah tikungan jalan.
    Jarak Pura Indrakila dari Kabuyutan tempat mereka bermalam memang tidak lagi begitu jauh. Sementara jalan yang mereka lalui memang agak menanjak karena Pura Indrakila berada dipuncak sebuah bukit.

    Ketika matahari pagi semakin menaik, mereka sudah dapat melihat pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan.

    “Apakah tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni ?”, berkata seorang penjaga kepada mereka bertiga.
    “Benar, kami dari Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

    • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
      mendhisiki pak Satpam

      • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
        matur nuwun

  15. pak Dhalang…….ini malem akan ada wedaran gak….?????

    Hadir……..!!!!!!!

    • kelihatannya tidak ada ki, …
      lebih baik begitu, besok saja diwedar 5-6 sekaligus, …
      hihihihi, …. !!!!

      • hihihihi, ….
        isih durung padang bulan, dadi rung diwedar

  16. hup…..,
    selamat malam kadank sedoyo,

    • selamat pagi…..
      Mahisa Amping sedang kecepekan rupanya, sehingga tidak meneruskan perjalanannya
      hihihihi, …. !!!!

      • hadu……
        lupa ganti baju….

        • Asal tidak lupa ganti…clana ! 😀

  17. “Ternyata tuan-tuan adalah tamu yang tengah kami nantikan”, berkata penjaga itu sambil mengajak Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi menemui Dewa Bakula.“Kita langsung ke Bale Guru”, berkata kembali penjaga itu.

    Pura Indrakila memang cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah. Sambil berjalan penjaga itu memberikan penjelasan tentang beberapa tempat. Suasana di sekitar Pura Indrakila terlihat tertata apik dan sangat asri.

    “Selamat datang di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula menyambut kedatangan para tamunya di pendapa Bale Guru.

    Mahesa Amping, Empu Dangka maupun Ki Arya Sidi sangat merasa heran melihat perubahan sikap dari Dewa Bakula yang terkesan sangat tidak sombong lagi sebagaimana yang mereka kenal sebelumnya.

    “hari ini adalah hari terakhirku di Balidwipa, besok aku akan kembali ke Tanah Hindu”, berkata Dewa Bakula setelah para tamunya telah duduk bersamanya di pendapa.

    “Apakah karena adanya perjanjian diantara kita,maka tuan pendeta kembali ke Tanah Hindu?”, bertanya Mahesa Amping kepada Dewa Bakula. “Kalau memang karena itu sebabnya, aku dapat melepas perjanjian yang telah kita tetapkan.

    “Bukan itu anak muda”, berkata Dewa Bakula dengan wajah penuh senyum. “Meski kekalahanku itu telah memberikan diriku banyak pelajaran, diantaranya adalah berpikir jernih tentang keberadaan kami para pendeta dari Tanah Hindu ini”, berkata Dewa Bakula melanjutkan perkataannya.

    “Tuan Pendeta telah menemukan dan membedakan kepamrihan, aku berdoa untuk kemerdekaan jiwa tuan yang tengah memasuki alam Tatwa selanjutnya”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi pernyataan dari Dewa Bakula

    “Teria kasih”, berkata Dewa Bakula sambil menjura.

    Namun ketika mereka asyik bercakap-cakap, datanglah seorang penjaga sambil membawa sebuah anak panah yang patah, simbol sebuah tantangan.

    “Seseorang memintaku memberikannya kepada salah seorang diantara tuan-tuan yang bernama Mahesa Amping. Pesannya akan ditunggu kehadirannya di bukit Sembul nanti malam”, berkata penjaga itu.

    Terlihat Dewa Bakula menarik nafas panjang.

    “Maafkan saudara tuaku Dewa Palakuna, ternyata dirinya tidak bisa menerima kekalahanku”, berkata Dewa Bakula yang sudah menduga bahwa tantangan itu berasal dari Dewa Palaguna.

    “Gusti yang Maha Pengasih telah memberikan keluasan ilmunya dalam berbagai tingkat yang berbeda kepada setiap jiwa manusia yang terlahir, perbedaan itulah sebagai sarana kita saling mengenal dan untuk dapat bermawas diri”, berkata Empu Dangka.

  18. “Terima kasih, bahagia aku berada diantara kalian yang ternyata telah melihat cakrawala alam Tattwa yang luas tak terhingga”, berkata Dewa Bakula kembali menjura.

    “Apakah tuan pendeta akan ikut bersama kami ke Bukit Sembul ?”, bertanya Ki Arya Sidi yang sedari awal tidak banyak cakap.

    “Aku akan datang mengantar kalian ke Bukit Sembul”, berkata Dewa Bakula dengan penuh kepastian.

    Tidak terasa hari telah terlihat menjelang sore, matahari dibatas barat bumi tengah memancarkan cahayanya yang lembut. Dan awan di cakrawala langit Pura Indrakila nampaknya begitu putih bersih. Tanaman bunga dan rumput hijau di halaman Bale Guru yang tertata asri seperti tengah menari bersenandung mandi kehangatan dan kelembutan cahaya matahari sore.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi nampaknya tengah menikmati keindahan suasana di Bale Guru itu.
    “Sebelum ke Bukit Sembul, kita singgah ke Puri Dalem. Baginda Raja Indrakila telah merestui semua keputusanku, aku akan memperkenalkan dirimu kepadanya”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

    “Terima kasih memperkenalkan diriku kepada Penguasa Pura Indrakila ini”, berkata Mahesa Amping perlahan.

    Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, Dewa Bakula telah meminta Mahesa Amping datang bersamanya ke Puri Dalem menghadap Baginda Raja Indrakila.

    “kami menunggu di pendapa ini”, berkata Empu Dangka kepada Dewa

    Bakula dan Mahesa Amping yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru hendak menghadap Raja Indrakila di Puri Dalem.
    Ki Arya Sidi dan Empu Dangka mengiringi langkah Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang terlihat tengah berjalan menyusuri jalan setapak dan menghilang disebuah tikungan jalan.

    “Kehadiran Mahesa Amping adalah sebuah anugerah yang besar bagi Pura Indrakila”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dipendapa Bale Guru. Sepertinya berusaha mengisi kesunyian sejak ditinggal Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang tengah menghadap di Puri Dalem astana Raja Indrakila.

    “Sebagaimana kehadirannya di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

    Sementara itu waktu terus berlalu, matahari di atas langit Bale Guru Pura Indrakila telah bergeser semakin surut. Tanaman bunga dan rumput hijau yang tertata asri dihalaman Bale Guru nampaknya telah lelah menari dan bersenandung. Bunga Soka kuning di pojok halaman nampak buram tidak tersinar matahari lagi, pucuk-pucuk rumput hijau terlihat merunduk menanti senja yang akan datang mengunjungi.

    “Hari telah menjelang senja”, berkata Empu Dangka sambi pandangannya menyapu halaman Bale Guru.

    • matur nuwun atas rontalnya yang datang beruntun, … !!!

  19. Alhamdullilah……..akhirnya air mulai surut

    Mudah-mudahan malem ini enggak ada tambahan hujan air….diganti dengan hujan rontalllllllll

    • Setujuuuuu….!!

  20. “Akhirnya mereka telah kembali”, berkata Empu Dangka yang melihat Mahesa Amping dan Dewa Bakula muncul dari sebuah tikungan jalan setapak.

    “Bukit Sembul tidak jauh, kita berangkat menjelang senja berakhir”, berkata Dewa Bakula yang telah duduk bersama di pendapa Bale Guru menyampaikan kapan waktunya berangkat ke Bukit Sembul.
    Bukit Sembul memang tidak begitu jauh dari Pura Indrakila. Diatas puncak bukitnya ada sebuah tanah lapang yang luas. Para Sisya Pura Indrakila pada hari-hari tertentu biasa menggunakannya sebagai sanggar terbuka.

    Ketika senja berakhir, terlihat empat orang lelaki menuruni tangga pendapa Bale Guru. Purnama tak sabar mengintip diantara rimbunan pohon-pohon kayu besar yang tumbuh di beberapa tempat di Pura Indrakila. Suasana diujung senja itu begitu bening dan teduh.

    Kempat lelaki itu tidak keluar lewat regol pintu depan Pura Indrakila, tapi berjalan kearah timur dari Bale Guru memasuki hutan kecil yang tidak begitu lebat. Tidak begitu lama mereka akhirnya telah tiba di Bukit Sembul tengah menaiki sebuah gumuk kecil dan akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit sembul yang tenyata adalah sebuah padang rumput yang lapang.

    Benderang cahaya bulat bulan purnama telah menerangi tanah lapang itu. Terlihat seorang yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang terurai berdiri menyambut kedatangan mereka.

    “Lama aku menunggu kedatangan kalian”, berkata orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

    “Bila ada Raja Leak, pasti amanlah kita”, berkata Ki Arya Sidi merasa gembira bertemu kembali dengan saudara angkatnya itu.

    “Jangan khawatir, para pengikutku telah siap menjalankan tugasnya berjaga-jaga”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyumnya yang mengembang.

    Sementara itu bulan purnama bulat telah bergeser terus kepuncak cakrawala langit malam. Taburan jutaan bintang menambah keindahan suasana diatas puncak Bukit Sembul.

    Akhirnya yang mereka nantikan datang juga. Dari sisi lain terlihat dua orang muncul dalam bayang tersamar terus mendekati mereka.

    Semakin nampak jelas siapa gerangan yang mendekati mereka.

    Ternyata adalah Dewa Palaguna bersama seseorang yang terlihat sudah begitu tua terlihat dari kerut-kerut wajahnya yang mulai kendur.

    “Guru !!!”, berkata Dewa Bakula sambil menjatuhkan dirinya bersujud dihadapan seorang yang datang bersama Dewa Palaguna

    “Bangkitlah Bakula, aku ingin berkenalan dengan orang yang telah mengalahkanku”, berkata orang itu kepada Dewa Bakula.

    Dewa Bakula bangkit berdiri dengan wajah penuh keraguan.

    • Ditunggu hujan rontalnya,
      Kamsiaaaa….

  21. kalimat terakhir maksudnya …….yang telah mengalahkanmu”

  22. horeeeeee, kamsiiiiiaaaa
    tunggu wedaran berikutnya

  23. SFBDBS-10 sudah dibundel

    monggo…., jagongan pindah ke SFBDBS-11 yang sudah dibuka.

    risang/satpam

  24. “Aku bertanding dengan adil, aku sudah menerima kekalahanku dengan wajar. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi”, berkata Dewa Bakula dengan wajah masih penuh keraguan apa kiranya yang akan dilakukan guru dan saudara tuanya itu.

    “Kamu boleh menerima kekalahan itu, tapi aku belum dapat menerimanya”, berkata Dewa Palaguna kepada Dewa Bakula dengan suara lantang sepertinya menyalahkan dan meremehkan Dewa Bakula yang mudah menyerah.

    “Aku sependapat dengan saudara tuamu, menyingkirlah”, berkata orang tua yang dipanggil guru itu kepada Dewa Bakula.

    “Aku mendengar ada yang ingin berkenalan denganku”, berkata Mahesa Amping maju menghadap orang tua itu dengan menjura penuh hormat.

    “Ternyata kamu memang masih muda belia”, berkata orang tua memandang Mahesa Amping dari ujung kaki sampai keatas kepala.”Perkenalkan namaku Aanjav, aku sudah mendengar tentang dirimu lewat muridku Palaguna”, berkata orang itu sambil menatap Mahesa Amping dengan matanya yang begitu tajam sepertinya ingin menelisik kemampuan Mahesa Amping.

    Tapi Mahesa Amping bukan anak muda sembarangan, kilatan cahaya mata Aanjav yang tajam itu seperti menembus sebuah samudra yang dalam.

    Terkejut Aanjav merasakan tabrakan tatapan mata Mahesa Amping.

    “Muridku telah kamu kalahkan, biarlah aku yang tua ini mencoba mengenal beberapa jurus darimu”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping.

    “Hanya untuk mengenal beberapa jurus, bukan sebuah pertandingan hidup mati”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

    “Tapi jangan salahkan diriku bila ada yang mati”, berkata Aanjav penuh percaya diri.

    “Aku telah siap, maksudnya………bukan siap mati”, berkata mahesa Amping dengan senyum dikulum.

    “Tataplah purnama diatas langit sepuasnya, besok mungkin kamu sudah tidak dapat lagi memandangnya”, berkata Aanjav yang kurang senang dengan gurauan Mahesa Amping.

    “Hari ini aku telah menatap rembulan, bila besok tidak lagi menatap rembulan, itu artinya aku tertidur disore hari”, berkata Mahesa Amping tidak menghiraukan orang tua dihadapannya yang tidak suka bergurau.

    “Aku tahu bahwa kamu tengah mengungkit kemarahanku, apapun ucapanmu tidak akan mempengaruhiku”, berkata Aanjav dengan mata yang tajam sepertnya telah dapat membaca arah pikiran dari Mahesa Amping.

    “Aku tidak bermaksud apapun, hanya sekedar merenggangkan ketegangan”berkata Mahesa Amping masih dengan kepercayaannya dirinya yang tinggi.

    • lha…….
      kebablasan Ki…
      tidak apa-apa nanti saya pindahkan
      sudah bisa pindah ke gandok 11


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: