SFBDBS-10

Bagian 2

SFBDBS 09-250

Sebenarnya tataran kemampuan Mahesa Amping masih belum tuntas pada puncaknya. Anak muda itu masih saja sekedar mengimbangi kekuatan lawan.

“Biarlah lawanku ini mengumbar seluruh ilmu simpanannya”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

Sementara itu Guru Dewa Bakula menjadi sangat penasaran menyaksikan kemampuan anak muda lawannya yang telah mampu menawarkan pukulan angin panasnya yang membakar dan dilontarkan dengan kemampuan tataran puncaknya.

“Anak gila”, berkata Guru Dewa Bakula melenting menjauh menghindari serangan Mahesa Amping yang nyaris mengenai dadanya.

Mahesa Amping tidak memburunya, membiarkan Guru Dewa Bakula siap melakukan serangan berikutnya.

Ternyata Guru Dewa Bakula tidak melakukan serangan kembali. Terlihat tangannya bersedakep diatas dadanya. Sementara bibirnya terlihat seperti komat-kamit membaca mantera.

Mahesa Amping menjadi siaga, mempersiapkan dirinya menghadapi serangan dari Guru Dewa Bakula yang mungkin akan melepaskan ilmu simpanan yang lain.

Ternyata dugaan Mahesa Amping benar adanya.
Entah darimana datangnya suara mendesis dari sekitar halaman muka Padepokan Panca Agni.

“Ular !!!”, berteriak Ki Nyoman yang melihat banyak gerakan diatas tanah halaman Padepokan Panca Agni.

Ternyata yang dilihat oleh Ki Nyoman bukan khayalan mata, ratusan ular cobra hitam tengah menjalar di halaman padepokan Panca Agni. Aneh memang bahwa ratusan ular itu sepertinya telah dikerahkan pikirannya menuju satu titik tempat. Dan satu titik tempat itu adalah dimana Mahesa Amping berdiri.

Sekali lagi bukan Mahesa Amping bila saja menjadi ciut melihat ratusan ular cobra hitam mendatanginya. Anak muda ini sudah menempa dirinya dengan berbagai tempaan. Anak muda ini sudah berhasil menguasai berbagai ilmu. Didalam dirinya sepertinya telah mengendap puncak kemampuan berbagai ilmu yang jarang sekali dimiliki oleh sembarang orang.

Terlihat Mahesa Amping telah melakukan sikap diri yang sama sebagaimana dilakukan oleh Guru Dewa Bakula. Terlihat tangannya juga bersedakep diatas dadanya. Mahesa Amping memang tengah memusatkan segala pikiran dan hatinya, menyerahkan kepasrahan jiwa raga dan sukmanya kepada Sang Hyiang Widi yang mempunyai segala keagungan, dan kekuatan.

“Tidak ada daya dan upaya selain diriMU wahai Gusti Yang Maha Agung”, berkata Mahesa Amping yang telah mencurahkan segenap hatinya menembus alam ketidak terbatasan.

Mahesa Amping dan Guru Dewa Bakula telah melakukan hal yang sama. Sama-sama telah mengerahkan penguasaan dirinya masuk dalam kekuatan alam tak terbatas.

Pertempuran kali ini bukan lagi adu pukul kekuatan, tapi pertempuran yang sedang berlangsung adalah pertempuran kekuatan bathin tingkat tinggi.

Ternyata Mahesa Amping telah berhasil menembus alam tak terbatas diatas lingkaran kekuasaan bathin Guru Dewa Bakula. Mahesa Amping telah berhasil menguasai segala kendali alam pikiran. Kekuatan telah berpihak dalam diri Mahesa Amping !!!!!!. Terlihat ratusan ular cobra hitam telah berubah arah menuju titik yang lain. Dan titik itu adalah tempat dimana Guru Dewa Bakula berdiri !!!!.

“Ular gila!!”, berteriak Guru Dewa Bakula sambil mengibaskan kedua tangannya.

Begitu menakjubkan angin pukulan yang keluar dari kedua tangan Guru Dewa Bakula. Sebuah badai hawa panas menyebar dan menghanguskan ratusan cobra hitam yang langsung mati kering tak bergerak.

Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya terlihat bergerak cepat menjauh menghindari dirinya dari hawa panas meski sudah ada dalam jarak yang cukup jauh.

“Ternyata tuan pendeta tidak menyukai ular”, berkata Mahesa Amping tersenyum kepada Guru Dewa Bakula yang baru saja terlepas dari serangan ratusan ular cobra hitam.

“Baru kali ini kutemui seorang yang dapat mengungguli ilmu Aji Megananda yang kumiliki”, berkata Guru Dewa Bakula yang baru menyadari siapa lawan dihadapannya.

“Silahkan tuan pendeta mengeluarkan ilmu simpanan yang lain, mudah-mudahan aku dapat melayaninya”, berkata Mahesa Amping sambil bersiap diri namun masih bersikap sebagai orang yang tidak jumawa dihadapan lawannya setelah berhasil keluar dari serangan ratusan ular cobra hitam yang dikendalikan oleh kekuatan ilmu Aji Megananda milik Guru Dewa Bakula.

“Bersiaplah melayani permainanku yang lain”, berkata Guru Dewa Bakula sambil menghentakkan kaki kanannya diatas tanah.

Bumm!!!

Terdengar suara berdegum keras ketika kaki Guru Dewa Bakula menghentak bumi.

Akibatnya pun sangat luar biasa !!!

Tanah dihadapan Mahesa Amping sepertinya runtuh membentuk sebuah jurang yang dalam dan terus berguguran maju mengikis setiap jengkal tanah hingga akhirnya telah sampai diatas bumi tempat Mahesa Amping berpijak.

———-oOo———-

SFBDBS 09-251

Terdengar tawa Guru Dewa Bakula menggelegar bergema dari berbagai penjuru melihat apa yang telah diperbuatnya atas diri Mahesa Amping.. Namun tiba-tiba saja tawanya berhenti berubah dengan pandangan terkesima tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Ternyata Guru Dewa Bakula melihat Mahesa Amping tidak berpengaruh apapun, dirinya terlihat seakan masih berdiri sambil bertolak pinggang diatas lubang jurang yang menganga dalam.
“Ilmu sihirmu tidak akan berpengaruh apapun terhadapku”, berkata Mahesa Amping sambil bertolak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ternyata bumi yang berguguran runtuh membentuk sebuah jurang yang dalam adalah sebuah bayangan semu. Bukan main marahnya Guru Dewa Bakula menyaksikan permainannya tidak berpengaruh pada diri Mahesa Amping.

Namun kemarahan Guru Dewa Bakula harus disingkarkan dulu, karena ada yang penting daripada itu yaitu manakala dihadapannya Mahesa Amping telah menjadi tiga orang yang sama bentuk sama rupa tengah mengepungnya.

“Ilmu aji kawah ari-ari!!!”, berkata tidak sengaja keluar dari bibir Guru Dewa Bakula.

“Kami bukan bayangan semu, kami adalah bayangan sejati”, berkata ketiga orang Mahesa Amping secara bersamaan.

Guru Dewa Bakula menyangka bahwa pasti Cuma satu Mahesa Amping yang asli. Ternyata persangkaan Guru Dewa Bakula salah !!! Tiga orang Mahesa Amping menghentakkan sinar dari sorot matanya masing-masing.

Darrrr !!!

Terdengar suara benturan keras berasal dari kurang lebih satu jengkal dari depan dan kanan kiri kaki Guru Dewa Bakula bersumber dari hentakan sorot mata tiga sosok tubuh Mahesa Amping.

“Tiga buah lubang kecil itu bukan bayangan semu, silahkan diperiksa”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

Guru Dewa Bakula langsung memeriksa tiga buah bongkahan tanah dan rumput yang terangkat akibat dari hentakan sinar sorot matanya.

“Gila !!!”, berkata Guru Dewa Bakula yang telah memeriksa tiga bongkahan tanah yang ternyata semuanya adalah asli, bukan bayangan semu sebagaimana yang disangka sebelumnya.

“Aku dapat berbuat lebih keras lagi !!!”, berkata salah seorang Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula.

Darrrrrrrrrr !!!!!

Tiba-tiba saja terdengar suara keras menghantam sebuah batu sebesar kepala kerbau yang tidak jauh dari tempat Guru Dewa Bakula berdiri. Terlihat batu itu hancur luluh berhamburan menjadi sebuah tepung yang sangat halus.

Ternyata itu semua akibat sebuah hentakan yang dahsyat lewat kekuatan sorot mata salah seorang Mahesa Amping.

“Tuan Pendeta, dapatkah tuan melayani kami bertiga?”, berkata Mahesa Amping yang telah kembali menjadi satu sosok tubuh.

Merinding bulu roma Guru Dewa Bakula melihat apa yang terjadi. “Anak muda, kali ini kuakui bahwa kamu memang pantas menjadi lawan tandingku”, berkata Guru Dewa Bakula sambil merangkapkan kedua tangannya diatas dadanya.

Terlihat sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Guru Dewa Bakula. “Sang Budha meninggalkan istana”, berkata Guru Dewa Bakula dengan suara berdesisis seperti berkata kepada dirinya sendiri. Setelah berkata tiba-tiba saja Guru Dewa Bakula tidak terlihat lagi sosoknya, seperti menghilang ditelan bumi.

Mahesa Amping langsung meningkatkan kewaspadaannya, meluluhkan segenap panca indranya kedalam kekuatan panca indra bathin.

Untunglah Mahesa Amping telah menguatkan panca indra bathinnya, karena tiba-tiba saja dirasakannya ada sebuah seleret cahaya merah mengarah punggung belakangnya. Dengan cepat Mahesa Amping melenting kesamping.

Belum sempat kaki Mahesa Amping berpijak ditanah, kembali sebuah serangan seleret cahaya merah meluncur mengarah kepadanya. Maka jalan satu-satunya adalah menjatuhkan dirinya bergelinding di tanah.

Terdengar suara tawa membahana dari segala penjuru, suara tawa kegembiraan dari Guru Dewa Bakula yang merasa kali ini dapat mengalahkan lawannya.

Ki Arya Sidi, Ki Nyoman dan Kempat Sisya Padepokan Panca Agni terlihat mencemaskan keadaan Mahesa Amping.

Mahesa Amping yang tengah dicemaskan itu telah dengan cepat sudah berdiri tegak kembali. Langsung Mahesa Amping menghentakkan kekuatan yang ada didalam dirinya.

“Kabut datang mengiringi perjalanan Sang Budha”, berkata Mahesa Amping dengan suara lirih sepertinya berkata kepada dirinya sendiri.

———-oOo———-

SFBDBS 09-252

Terperanjat Guru Dewa Bakula melihat apa yang terjadi, tiba-tiba saja kabut turun menutupi halaman muka Padepokan Panca Agni.

Siapapun yang ada didalamnya tidak lagi dapat melihat apapun, batas pandang benar-benar telah tertutup oleh kabut yang tiba-tiba turun menutupi segenap sisi halaman Padepokan Panca Agni.

“Tuan Pendeta, aku dapat melihat dimana tuan berdiri, namun Tuan Pendeta tidak dapat melihat dimana keberadaanku”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang terdengar dari berbagai arah penjuru mata angin.

“Pantas anak muda ini begitu percaya diri, entah apalagi yang dapat dilakukan dari perbendaharaan ilmunya yang lain”, berkata Guru Dewa Bakula yang diam-diam mengagumi kesaktian Mahesa Amping seorang muda yang telah mempunyai banyak kemampuan. Kembali terbayang sebuah batu yang hancur luluh berhamburan menjadi tepung halus.

“Terima kasih untuk tidak meluluhkan tubuh tuaku ini menjadi sebuah tepung halus”, berkata Guru Dewa Bakula yang telah menyadari bahwa bila diinginkan sudah lama Mahesa Amping dapat mengalahkannya.

Setelah mendengar perkataan dari Guru Dewa Bakula, dengan perlahan Mahesa Amping telah melepas kekuatan yang memancar dari dalam dirinya. Kabut pun terlihat semakin menipis dan perlahan menghilang seperti terhembus angin.

Batas pandang dihalaman muka Padepokan Panca Agni telah kembali normal sebagaimana semula.

Ternyata jarak antara Guru Dewa Bakula dan Mahesa Amping hanya berjara sepuluh langkah. Terlihat Mahesa Amping tengah berdiri tegak dengan wajah penuh senyum.

“Siapakah namamu anak muda?”, bertanya Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping, seorang anak muda yang telah diakuinya mempunyai kemampuan yang lebih tinggi.

“Namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping kepada Guru Dewa bakula.

“Nama yang baik, aku mengakui kekalahanku atas dirimu”, berkata Guru Dewa Bakula.

Ki Arya Sidi yang mendengar perkataan Guru Dewa Bakula menarik nafas dalam-dalam merasakan kecemasannya selama dalam pertempuran itu telah hilang berganti dengan perasaan gembira bahwa Mahesa Amping yang mewakili perguruannya telah memenangkan pertandingannya.

“Bagaimana dengan kesepakatan kita?”, bertanya kembali Mahesa Amping kepada Guru Dewa Bakula.

“Ucapan seorang lelaki tidak dapat ditarik ulur, mulai hari ini seluruh sisya yang ada di Pura Indrakila kuserahkan kepadamu. Dan sejak hari ini dirimu adalah guru tunggal di Pura Indrakala”, berkata Guru Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

Sekejap Mahesa Amping tertegun. Awalnya ia hanya mewakili perguruan Panca Amping dan tidak terpikir apapun tentang dirinya yang akan menjadi seorang guru tunggal di Pura Indrakila.

Namun Mahesa Amping telah mempunyai pandangan yang luas. Telah diketahui bahwa hampir seluruh pangeran dari berbagai pura di Balidwipa telah menjadi sisya di Pura Indrakila.

“Kehadiranku di Pura Indrakala dapat membantu rencana Singasari menaklukkan kekuasaan Balidwipa ini”, berkata Mahesa Amping berpikir dalam hati. “Aku menerima kesepakatan itu, nantikan diriku bulan purnama yang akan datan di Pura Indrakila.

“Sejak ini sebutan guru didepan namaku sudah kuhapus, aku Dewa Bakula menanti kehadiranmu di Pura Indrakala”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Berbahagialah dirimu yang mempunyai seorang saudara sebagaimana pemuda ini”, berkata Dewa Bakula kepada Ki Arya Sidi menjura penuh hormat. “Mohom maaf bila kehadiranku telah menggangu kenyamanan yang ada dipadepokan Panca Agni ini”, berkata kembali Dewa Bakula sambil mohon untuk pamit diri.

“Semoga kesejahteraan dan keselamat selalu menyertai tuan pendeta”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian Dewa Bakula.

“Aku nantikan kehadiranmu di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula sambil melambaikan tangannya yang telah melangkah menuju pintu regol halaman Padepokan Panca Agni.

Dewa Bakula akhirnya telah tidak terlihat lagi terhalang pagar batu disisi kiri Padepokan Panca Agni.

Sementara itu matahari telah bergeser dari puncaknya. Cahayanya tidak lagi sekeras sebelumnya. Awan putih bergerumbul bergumpalan mengisi seluruh lengkung langit diatas padepokan Panca Agni.

“Mari kita ke Pendapa menunggu Ki Nyoman menyiapkan makan siang untuk kita”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang dibanggakannya itu yang telah banyak membantunya selama ini. Mulai dari pertolongannya melawan Raja Leak di tengah hutan beberapa hari yang lalu, berlanjut dengan kemurahan hati Mahesa Amping telah menjadikan ilmu perguruannya meningkat jauh lebih sempurna dari sebelumnya. Dan terakhir bahwa anak mud itu telah mewakili perguruannya mengalahkan seorang guru pendeta dari Pura Indrakila.

Terlihat Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi beriringan menuju anak tangga pendapa. Sementara itu keempat orang Sisya telah pamit sebelumnya kepada Ki Arya Sidi mohon diri untuk kembali ke Sanggar nya.

“Masaknya terburu-buru, mudah-mudahan bumbunya tidak ada yang ketinggalan”, berkata Ki Nyoman yang datang membawa beberapa hidangan makan siangnya.

“Terima kasih Ki Nyoman, Lauk yang paling nikmat adalah rasa lapar”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Nyoman yang membalasnya dengan penuh senyum dan langsung menghilang dibalik pintu yang dirapatkannya kembali.

———-oOo———-

SFBDBS 09-253

“Silahkan dinikmati”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan Mahesa Amping untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi tengah menikmati makan siangnya. Terdengar suara burung ramai berlompatan diranting pohon beringin besar yang ada disebelah kanan halaman Padepokan Panca Agni. Siang itu langit berawan cerah, sinar mentari terus menjauh dengan sinarnya yang semakin melembut.

Di pendapa Padepokan Panca Agni terlihat Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masih asyik bercakap-cakap. Banyak sekali kecocokan diantara keduanya seakan-akan apapun yang dibicarakan selalu menjadi suatu yang menarik.

“Mungkin aku minta bantuan Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Bantuan apa yang bisa aku lakukan?”, bertanya Ki Arya Sidi belum menangkap kemana arah pembicaraan Mahesa Amping.

“Aku telah berjanji bahwa purnama akan datang akan berada di Pura Indralika”, berkata Mahesa Amping

“Adakah hubungannya dengan diriku”, bertanya kembali Ki Arya Sidi.

“Hubungannya sangat erat sekali”, berkata kembali Mahesa Amping membuat Ki Arya Sidi semakin tidak mengerti.

“Pertama kuanggap ilmu jurus perguruan sudah cukup baik dan sempurna”, berkata Mahesa Amping. “Kedua aku tidak lama di Balidwipa ini”, berkata kembali Mahesa Amping sambil menatap Ki Arya Sidi dengan senyum penuh arti.

“Aku masih belum dapat menangkap kemana arah pembicaraanmu”, berkata Ki Arya Sidi yang masih juga belum dapat menangkap maksud arah pembicaraan dari Mahesa Amping.

“Aku ingin menyerahkan semua Sisya di Pura Indraloka kepada Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping langsung membuat Ki Arya Sidi terbelalak tidak percaya.

“Apakah itu tidak melanggar perjanjian kesepakatan?”, bertanya Ki Arya Sidi agak meragukannya.

“Kita tidak melanggar perjanjian. Aku telah mewakili pertempurannya, sekarang Ki Arya Sidi lah yang mewakili diriku menjadi guru para Sisya di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping

“Tapi aku masih perlu kamu mendampingiku”, berkata Ki Arya Sidi.

“Aku akan selalu disampingmu selama dapat kulakukan”, berkata Mahesa Amping membesarkan hati Ki Arya Sidi.

“Baiklah aku bersedia”, berkata Ki Arya Sidi menyanggupi permintaan Mahesa Amping.

Demikianlah mereka berdua begitu asyiknya merancang rencana mereka di Pura Indrakila.

“Mari kita melihat para sisya berlatih”, berkata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping ke sanggar untuk melihat para siya yang tengah berlatih.

Ketika mereka masuk kedalam sanggar, mereka masih melihat keempat sisya Padepokan Panca Agni berlatih dengan penuh semangat.

“Aku melihat mereka maju dengan sangat pesatnya”, berkata Ki Arya Sidi yang penuh gembira melihat para sisyanya berlatih dengan semangat dan semakin berkembang.

“Jangan lupa agar kalian juga melatih ketahanan dan ketrampilan diri. Kulihat alat latihan disini sudah lebih dari cukup untuk dipergunakan”, berkata Mahesa Amping memberikan sedikit masukan dan pengarahan kepada para sisya.

“Terima kasih Paman Guru, bimbingannya akan aku perhatikan dan laksanakan”, berkata Ketut Dewa Akasa seorang sisya yang paling muda dipadepokan Panca Agni.

Mahesa Amping tersenyum mendengar namanya dipanggil sebagai Paman Guru oleh para Sisya dipadepokan Panca Agni.

“Paman Gurumu memang masih muda, tapi ditangannya kalian akan maju lebih pesat lagi”, berkata Ki Arya Sidi yang dapat mengerti keengganan Mahesa Amping dirinya dipanggil sebagai Paman guru.

“Hari ini aku dipanggil dengan sebutan paman guru, purnama depan aku akan dipanggil sebagai Maha Guru”, berbisik Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang disambut gelak tawa dan senyum berkepanjangan oleh Ki Arya Sidi.

Seiring perjalanan waktu, mentari diatas Padepokan Panca Agni telah bergelantung diujung langit barat. Sinarnya sudah semakin redup. Dan tanah datar bumi telah berwarna bening senja. Padang ilalang yang luas diatas puncak Bukit Pejeng melenggut tertiup angin.

Langit senja yang beningpun lambat laun semakin memudar seiring hilangnya sang mentari yang tergelincir diujung bibir bumi. Layar besar panggung tanah datar bumi telah berlatar kesunyian langit buram diujung senja menjelang malam.

Terlihat puluhan kalong beterbangan keluar dari sarangnya diatas padang ilalang yang luas di puncak bukit pejeng dan terus terbang menghilang dibalik bukit. Terdengar suara ayam jago sayup-sayup dari sebuah perkampungan di bawah bukit.

“Empu Dangka masih juga belum kembali”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping di atas pendapa Padepokan Panca Agni.

“Mungkin perlu waktu yang cukup untuk membuat sebuah cambuk yang bernilai ulung”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang tengah memandang pintu regol halaman muka Padepokan Panca Agni berharap Empu Dangka akan muncul disana.

“Semoga tidak ada aral apapun atas dirinya”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

———-oOo———-

SFBDBS 09-254

Terdengar suara pintu berderit, terlihat Ki Nyoman muncul dari balik pintu itu sambil membawa pelita yang telah ditambahkan minyak jaraknya.

Suasana pendapa menjadi terang setelah disinari cahaya pelita yang diletakkan diatas pojok pagar pendapa.

“Aku tidak melihat seorang wanita di Padepokan ini, apakah Ki Arya Sidi pernah mempunyai seorang istri ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi sekedar membuka pembicaraan.

Terlihat Ki Arya Sidi sepertinya memandang jauh kedepan, menembus kegelapan halaman muka Padepokan Panca Agni. “Istriku sudah lama meninggal”, berkata Ki Arya Sidi perlahan.

“Maafkan bila pertanyaanku membuat Ki Arya Sidi berduka”, berkata Mahesa Amping yang telah membuat Ki Arya Sidi sepertinya tengah menahan sebuah perasaannya yang begitu perih.

“Terlalu cepat Sang Hyiang Gusti mengambilnya”, berkata Ki Arya Sidi dengan suara tertahan.

“Cepat atau lambat kitapun pasti dipanggil-NYA juga”, berkata Mahesa Amping berusaha menghibur.

“Kamu benar, namun dalam kesendirian kadang aku berharap ada sebuah keajaiban istriku datang hidup kembali”, berkata Ki Arya Sidi sepertinya hanya berkata kepada dirinya sendiri.

“Maafkan bila pertanyaanku telah membuka kembali kepedihan dihati Ki Arya Sidi”, berkata kembali Mahesa Amping yang merasa bersalah membuka kembali lembaran lama yang pastinya begitu menyedihkan.

“Jangan merasa bersalah, justru pertanyaanmu telah menyalurkan perasaanku yang selama ini tidak pernah kuungkapkan kepada siapapun”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping agar tidak merasa bersalah telah bertanya tentang masa lalunya.

“Aku dapat ikut merasakan betapa perihnya hati ditinggal oleh seorang yang begitu dicintai”, berkata Mahesa Amping ikut merasa berduka atas apa yang telah dialami oleh Ki Arya Sidi.

“Pada hari-hari pertama, dalam kesendirian aku berharap bahwa apa yang tengah kualami ini adalah sebuah mimpi, kuberharap segera bangun dari mimpi itu. Namun aku tidak dapat keluar dari mimpi itu, karena memang aku tidak tengah bermimpi”, berkata Ki Arya Sidi mengungkapkan perasaannya kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping tidak berkata apapun, hanya merasakan kepedihan yang dialami oleh Ki Arya Sidi.

Suasana dipendapa itupun telah menjadi begitu hening.
Sementara itu malam telah menjadi begitu sepi, meski terdengar suara lengking tenggorek yang tatag mengisi kesunyian malam, justru suara itu telah menambah kesenyian lebih menjadi sebuah kesenyapan.

“Berlatih dibawah langit malam kadang dapat membawa kegembiraan hati”, berkata Mahesa Amping mengajak Ki Arya Sidi turun ke halaman Padepokan Panca Agni untuk berlatih.

Dengan senang hati Ki Sidi mengikuti Mahesa Amping yang telah mendahuluinya menuruni pendapa.

Langit malam saat itu memang telah memayungi Padepokan Panca Agni dalam keremangannya.

“Bersiaplah menghadapi ilmu cambukku”, berkata Mahesa Amping yang telah melepas cambuknya.

“Ilmu perguruan Panca Agni telah disentuh oleh seorang Empu”, berkata Ki Arya Sidi yang telah mempersiapkan dirinya.

Maka terlihatlah dalam keremangan malam di halaman muka Padepokan Panca Agni dua bayangan saling menyerang. Kadang terlihat bayangan cambuk yang datang terus mengejar, namun kadang pula terlihat seperti ombak yang tak pernah surut sebuah serangan datang dari bayangan lainnya.

Demikianlah Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi masih terus berlatih, semakin lama semakin mengasikkan. Mereka sepertinya telah menghapal apa yang akan dilakukan oleh lawan berlatihnya dalam setiap gerakan, menjadikan latihan mereka terlihat begitu hidup, saling berganti menyerang.

“Lihat cambukku”, berkata Mahesa Amping sambil memutar cambuknya dan dengan cepat mematuk kearah dada Ki Arya Sidi

“Aku siap menunggu”, berkata Ki Arya Sidi sambil bergeser kesamping dan dengan kecepatan yang luar biasa telah masuk mendekati jarak lawan berlatihnya meluncurkan serangan dengan sebuah kakinya yang terangkat ke arah pinggang Mahesa Amping.

Demikianlah, Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi sepertinya telah melupakan segalanya kecuali keasyikan merancang dan merangkai serangan-demi serangan sambil berusaha melepaskan diri dari setiap serangan yang kadang datang mengepung bergulung gulung bagai ombak yang tak pernah putus.

“Luar biasa !!!”, berkata seseorang yang entah dari mana telah berdiri diantara keduanya. Keremangan malam menutupi wajahnya.

Dengan serta merta Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi menghentikan latihannya.

“Mengapa kalian berhenti?”, berkata kembali orang itu yang ternyata adalah Empu Dangka.

“Kehadiran Empu Dangka menyadarkan bahwa keringat kami sudah hampir habis”, berkata Ki Arya Sidi sambil mengusap keringat yang mengucur deras di wajahnya.

“hari sudah larut malam”, berkata Mahesa Amping sambil menatap lengkung langit yang buram memayungi Padepokan Panca Agni.

Hari memang telah di pertengahan malam, lengkung langit malam yang gelap telah memayungi padepokan Panca Agni. Kesenyapan malam berlalu kadang diiringi angin dingin yang bertiup menusuk tubuh.

———-oOo———-

SFBDBS 09-255

“Kulihat ilmu cambukmu sudah semakin meningkat”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping di pendapa bersama Ki Arya Sidi.

“Kehadiran Empu Dangka kuharapkan dapat memberikan penilaian dan pandangan”, berkata Mahesa Amping.

“Aku telah membuat sebuah cambuk baru”, berkata Empu Dangka sambil melepaskan sebuah cambuk dari pinggangnya. ”Kupersembahkan cambuk ini kepadamu”, berkata kembali Empu Dangka sambil menyerahkan cambuk barunya kepada Mahesa Amping

“Mudah-mudahan aku yang bodoh ini tidak mengecewakan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Mulai besok kita sudah dapat berlatih dengan cambuk barumu”, berkata Empu Dangka penuh senyum.

Sementara itu hari memang telah terus berlalu jauh mendekati ujung malam. Dalam sebuah kesempatan Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi juga membicarakan tentang Guru Dewa Bakula dari Pura Indrakila.

“Purnama depan aku telah berjanji untuk datang ke Pura Indrakila,”, berkata Mahesa Amping.

“Sebuah beban tanggung jawab yang besar telah menantimu anak muda”, berkata Empu Dangka yang merasa percaya bahwa Mahesa Amping pasti dapat melaksanakannya dengan baik.

“Pandangan dan pemikiran dari Empu Dangka sangat kuharapkan”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Seluruh pangeran dari berbagai pura di Balidwipa telah berada dalam satu garis perguruan”, berkata Empu Dangka memberikan pemikirannya.

“Satu garis perguruan orang bercambuk”, berkata Ki Arya Sidi ikut memberikan usulan.

“Hanya mereka yang tepilih, berjodoh dengan jurus ilmu cambuk”, berkata Mahesa Amping.

“Aku setuju, hanya mereka yang terpilih”, berkata Empu Dangka menambahkan dan menyetujui ucapan Mahesa Amping.

Demikianlah mereka bertiga terus berbincang-bincang tentang pura Indrakila dimana purnama yang akan datang mereka sudah harus berada disana.

“Mari kita beristirahat, masih ada sisa malam untuk sekedar meluruskan badan”, berkata Ki Arya Sidi yang mengingatkan bahwa malam sudah hampir tersisa.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat meninggalkan pendapa menuju biliknya masing-masing. Dan suasana pendapa yang baru saja ditinggalkan penghuninya itu menjadi begitu sunyi senyap. Pelita di pojok kanan pendapa terlihat cahayanya telah redup menyentuh setiap sudut dinding kayu, ditingkahi desir angin yang datang memaksa lidah api pelita meliuk-liuk dalam tarian kesendiriannya, di penghujung malam yang tersisa.

Pagi yang cerah menaungi bumi dalam setiap lengkung kaki langit. Awan putih bersih berbias cahaya hangat mentari menyapu butir-butir embun diujung setiap tangkai daun menguap terbang menghilang..

Bumi pagi berselimut keceriaan manakala Empu Dangka dan Mahesa Amping di padang ilalang di puncak bukit Pejeng Gundul tengah berlatih ilmu cambuk.

Dua buah cambuk yang sama terlihat saling menyerang seperti dua ekor ular sakti yang dapat terbang saling bertempur diatas bumi. Daun ilalang beterbangan manakala tersambar sabetan cambuk yang mengayun melingkar. Tanah tempat mereka berpijak terlihat sudah menjadi lingkaran rata tersapu bersih tergilas langkah kaki mereka yang terus bergerak menyerang atau menghindari setiap serangan lawan berlatihnya.

“Tahap pertama telah kamu kuasai , berkata Empu Dangka sambil menarik cambuknya yang tengah bergerak menerjang tubuh Mahesa Amping. ”Saatnya memahami setiap unsur gerakan ”, berkata kembali Empu Dangka sambil menyampaikan kepada Mahesa Amping pemahaman setiap unsur gerakan ilmu cambuknya.

“Cambuk adalah sebuah senjata yang sangat lembut, namun dibalik kelembutan itulah letak kekuatannya”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Aku mulai jatuh cinta kepada senjata ini”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum memahami setiap uraian yang disampaikan oleh Empu Dangka.

“Biarkan kekuatan tenaga murni yang ada didalam tubuhmu mengalir mengisi setiap jengkal cambukmu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang tengah berlatih memindahkan kekuatan tenaga murninya mengalir mengisi setiap jengkal cambuknya.

“Kekuatan tenaga murni melindungi cambuk dari tajamnya pedang”, berkata Mahesa Amping yang telah mampu memindahkan kekuatan tenaga murninya mengalir berpindah mengisi setiap jengkal cambuknya.

“Aku ingin melihat gerakan ilmu cambukmu yang telah dimuati sumber kekuatan tenaga murni”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Mudah-mudaham aku tidak mengecewakan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping yang tengah berdiri sambil menguarai cambuknya.

Terlihat Mahesa Amping telah mulai bergerak, diawali dengan gerakan perlahan namun Mahesa Amping sudah mulai menyalurkan kekuata tenaga murninya.

Gerakan ilmu cambuk yang Mahesa Amping mainkan terlihat semakin kencang dan keras. Ketika cambuk itu berputar dengan cepat terdengar seperti suara gasing bambu mengaum.

“Geledarrrrrrrr……. !!!!!!!”

Terdengar seperti suara petir manakala cambuk itu di lepaskan dengan gerakan sandal pancing.

———-oOo———-

SFBDBS 09-256

Terlihat Mahesa Amping tengah berdiri tegak sambil tangan kirinya memegang ujung cambuknya.

“Dengan beberapa hari latihan lagi, aku yakin kamu dapat menghentakkan cambukmu lebih sempurna”, berkata Empu Dangka yang merasa cukup puas melihat apa yang dapat dilakukan oleh Mahesa Amping dalam latihan awalnya.

“Terima kasih, aku akan terus berlatih”, berkata Mahesa Amping.

“Kurasa latihan hari ini sudah mencukupi, nanti malam kita dapat berlatih kembali”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka beriringan berjalan menuju Padepokan Panca Agni. Sementara itu matahari diatas puncak bukit Pejeng Gundul sudah berada diatas kepala.

Ketika mereka masuk ke Padepokan Panca Agni, dipendapa sudah menunggu Ki Arya Sidi. “Ki Nyoman telah menyiapkan makan siang untuk kalian”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah menaiki tangga pendapa.

Di Pendapa memang sudah tersedia hidangan, sambil berbincang mereka menikmati makan siang mereka. “Bagaimana perkembangan para Sisya di sanggar?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Aku bangga mempunyai empat orang Sisya yang punya semangat tinggi. Hari ini aku melihat perkembangan yang begitu pesat”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang para Sisyanya.

“Di Pura Indrakila, kita akan menghadapi lebih banyak lagi para Sisya”, berkata Mahesa Amping

“Semoga semangat mereka tidak jauh berbeda dengan para Sisya di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

Tidak terasa matahari di atas Padepokan Panca Agni telah bergeser dari puncaknya, langit berawan cerah memayungi puncak bukit Pejeng Gundul yang dipenuhi padang ilalang luas tempat Padepokan Panca Agni berdiri. Terdengar suara angin bergemuruh datang tanpa penghalang menggulung merebahkan ilalang merunduk tak berdaya ditiup angin yang cukup keras disiang itu.

“Beristirahatlah kalian, aku akan kembali ke sanggar”, berkata Ki Arya Sidi mohon diri untuk kembali ke sanggarnya.

“Nanti malam kami akan berlatih kembali”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi yang tengah menuruni anak tangga pendapa.

Sepeninggal Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat menjadi lebih leluasa membicarakan beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan tugas Mahesa Amping sebagai petugas sandi Singasari.

“Diterima di Padepokan Panca Agni, menjadi guru para Sisya di Pura Indrakila, kamu sudah memberikan setengah kemenangan untuk kerajaan Singasari”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Ada yang Empu Dangka lupa menyebutnya, bahwa aku sudah terikat persaudaraan dengan Raja Leak”, berkata Mahesa Amping yang disambut gelak tawa Empu Dangka.

“Benar, aku lupa menyebutnya. Raja Leak dan kaumnya adalah kekuatan yang dapat diandalkan”, berkata Empu Dangka memberikan beberapa masukan kepada Mahesa Amping yang dirasakan sangat berguna terutama dengan rencana Singasari menguasai Balidwipa.

Tidak terasa sang surya di atas Padepokan panca Agni telah semakin jauh bergeser. Cahayanya sudah semakin lemah tertutup awan tebal.

Diudara bebas terbuka terlihat puluhan burung pipit terbang keutara. Sementara itu seekor Elang terlihat tengah berputar-putar diatas padang ilalang diatas bukit Pejeng Gundul, mungkin tengah mengincar seekor burung puyuh yang tengah asyik menikmati cacing tanah hidangan makan siangnya. Mungkin itulah makanan terakhirnya di hari itu.

“Dialam bebas, siapapun yang mempunyai kekuatan akan menjadi penguasa”, berkata Mahesa Amping sambil menatap seekor Elang yang masih berputar-putar diatas padang ilalang.

“Kekuatan di tangan manusia berbudi, adalah sebuah payung kehidupan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang terlihat menahan nafas dalam-dalam manakala melihat seekor Elang tengah menukik tajam, mungkin ada mangsa buruannya dibawah sana yang sebentar lagi akan menjadi santapan keluarga elang itu.

“Penguasaan Singasari atas Balidwipa ini tidak untuk merubah tatanan yang sudah ada, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan sumber kehidupan sebagaimana adanya”, berkata Empu Dangka.

“Apakah yang Empu Dangka maksudkan adalah mengembalikan keseimbangan perdagangan di Balidwipa ini, dimana saat ini kekuasaan perdagangan di Balidwipa ini telah berada di tangan para saudagar dari negeri Hindu”, berkata Mahesa Amping memberikan pandangannya.

“Ternyata penglihatanmu sangat tajam”, berkata Empu Dangka penuh senyum kepada mahesa Amping yang tengah menatap seekor Elang yang terbang menjauh sambil mencengkerang hasil buruannya. Mungkin disebuah dataran puncak tinggi dimana dua ekor bayi Elang yang masih berbulu halus tengah menunggu.

“Akhirnya aku menemukan tempat berpijak dan arah pengabdian”, berkata Mahesa Amping sambil terus memandang arah terbang seekor Elang yang semakin menjauh. “Terima kasih, selama ini aku sering meragukan kemana arah pengabdiannku. Hari ini hatiku sudah ajeg, bahwa aku berada bersama seekor Rajawali Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang membalasnya hanya dengan sebuah senyuman.

Mahesa Amping dan Empu Dangka untuk beberapa saat tidak berkata apapun, suasana di pendapa sepertinya hening sejenak, mungkin saat itu mereka tengah berada dalam alam pikirannya masing-masing.

———-oOo———-

SFBDBS 09-257

Keheningan pun akhirnya terpecahkan manakala muncul Ki Arya Sidi datang menaiki anak tangga pendapa.

“Apakah Ki Nyoman tidak mengeluarkan minuman brem, sehingga suasana pendapa ini begitu membisu?”, berkata Ki Arya Sidi yang baru datang dengan wajah penuh ceria.

“Bremnya masih ada, bahan ceritanya yang habis”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi.

Ki Arya Sidi terlihat sudah duduk bersama, tiba-tiba saja Ki Nyoman muncul dari balik pintu sambil membawa ancemon hangat, lengkap dengan kelapa dan gula arennya.

“Silahkan dinikmati”, berkata Ki Nyoman sambil meletakkan hidangan ringannya.

“Jadi ingat masa kecil manakala melihat ancemon. Dulu bila ibuku pergi ke pasar, yang kutunggu adalah buah tangannya membawa ancemon kesukaanku”, berkata Ki Arya Sidi.

Sementara itu terlihat Ki Nyoman sedikit tersenyum sambil berjalan kembali kearah pintu, mungkin ikut mengenang masa kecil dan kelucuan junjungannya Ki Arya Sidi yang telah dilayaninya hingga saat itu di Padepokan Panca Agni.

“Masa kecil adalah masa penuh kesenangan”, berkata Ki Arya Sidi sambil menuangkan segelas air putih dari sebuah kendi.

“Bermain mencari kesenangan, hanya itulah pekerjaan seorang anak kecil”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Arya Sidi.

“Sewaktu kecil dulu, Ki Nyoman sering membawaku keluar Padepokan ini, biasanya menjelang senja, aku dibawanya ke sebuah sungai untuk membuat beberapa pliridan.Bukan main senangnya ketika esok harinya kami mendapatkan banyak ikan yang terjebak masuk lubang”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang masa kecilnya.

“Ternyata orang Bali mengenal juga tentang pliridan, kukira Cuma orang jawa saja yang punya cara menjebak ikan dengan cara seperti itu”, berkata Mahesa Amping.

“Sebagai bukti bahwa orang Bali dan orang Jawa berasal dari satu keturunan, masih banyak lagi kesamaan kutemui dalam berbagai hal, bukan Cuma dalam cara menangkap ikan”, berkata Empu Dangka.

“Gara-gara cerita masa kecilku, kulihat kalian belum juga menyentuh ancemon buatan Ki Nyoman”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

Sementara itu langit diatas halaman Padepokan Panca Agni sudah terlihat kelabu, senja telah turun memayungi bumi dalam warna beningnya.Sejauh mata memandang warna senja telah memberikan suasana keheningan yang indah. Seekor kalelawar terlihat terbang melayang, mungkin sudah tidak sabar berburu meninggalkan saudaranya yang masih enggan membuka matanya tengah tidur menggelantung didalam goanya, hari memang belum datang gelap.

Hamparan padang ilalang luas diatas puncak bukit Pejeng Gundul itu telah dipayungi langit malam. Cahaya bulan tertutup awan kelabu masih memberi penerang setiap gerak dan bayangan yang ada.

Manakala sudut pandang telah terbiasa melihat dialam terbuka di malam hari, maka di padang ilalang itu terlihat dua sosok tubuh tengah bertempur begitu serunya. Terlihat dua bayangan kembar dengan gerakan yang indah kadang melenting, maju dan melompat kesana kemari. Terlihat keduanya menggunakan senjata yang sama, sebuah senjata cambuk.

Mereka adalah Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah asyik berlatih di malam hari.

“Permainan cambukmu sudah begitu sempurna”, berkata Empu Dangka sambil bergeser kekiri menghindari sabetan cambuk Mahesa Amping.

Empu Dangka tidak sekedar menghindar, cambuknya dengan cepat memutar menyerang bagian kaki Mahesa Amping.

Melihat serangan balasan yang datang begitu cepat, Mahesa Amping dengan gerakan yang cepat pula langsung melompat sambil menggerakkan cambuknya dengan gerak sendal pancing.

Sekejap terlihat senyum kegembiraan dari Empu Dangka mendapatkan serangan balasan yang tidak terduga dari Mahesa Amping yang tertuju ke dada lawan tandingnya.

“Bagus !!!, gerakanmu tidak dapat dibaca”, berkata Empu Dangka sambil memutar badannya.

“Ilmu meringankan tubuh yang hebat”, berkata Mahesa Amping yang melihat putaran tubuh Empu Dangka yang begitu cepat dan langsung menyerang balik.

Demikianlah, semakin lama gerakan mereka begitu cepat saling menyerang. Mata kasat akhirnya tidak mampu lagi melihat dan mengikuti gerakan mereka. Yang terlihat adalah padang ilalang seperti terkuak membentuk lingkaran luas. Ternyata setiap putaran dan sabetan cambuk mereka telah membuat sebuah prahara angin panas yang kuat. Ilalang disekitar mereka terlihat telah hangus terbakar.

“Bagus, kamu telah dapat mengalirkan kekuatan hawa murnimu lewat setiap gerak cambukmu”, berkata Empu Dangka penuh kegembiraan merasakan angin panas menerjang lewat putaran dan sabetan cambuk di tangan Mahesa Amping. Kalau saja bukan Empu Dangka, mungkin sudah menjadi arang hangus terbakar. Empu Dangka telah mengimbanginya dengan tenaga hawa dingin yang sama kuatnya.

“Gila !!!!”, berkata Empu Dangka yang terlihat tubuhnya melenting keluar dari lingkaran arena ilalang yang telah hangus terbakar.

Ternyata Mahesa Amping dengan cepat telah menyerangnya dengan angin pukulan hawa dingin yang kuat.

“Apakah Empu Dangka sudah lelah?”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum berdiri tegak dengan tangan kirinya tengah menjurai ujung cambuknya di tengah lingkaran ilalang yang telah hangus terbakar.

“Aku hanya kaget bahwa dengan cepat kamu telah merubah tenaga hawa panas menjadi tenaga hawa dingin yang kuat. Jarang sekali orang yang dapat berbuat seperti itu, sementara bagimu dapat dilakukan dengan sambil bermain”, berkata Empu Dangka yang telah berdiri diluar lingkaran arena.

———-oOo———-

SFBDBS 09-258

bersambung ke bagian 3

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2012 at 04:45  Comments (461)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

461 KomentarTinggalkan komentar

  1. hahahaha, … ternyata mahisa amping senang “berguyon” toh, …

  2. Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan dari beberapa penduduk yang meragukannya, dengan langkah perlahan penuh ketenangan memisahkan diri menuju kesebuah tempat terpisah.

    Terlihat Mahesa Amping telah duduk sempurna bersila. Air Wajah dan nafasnya begitu tenang slam perti patung Budha. Mahesa Amping memang telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya masuk dalam ketiadaan, alam kesunyatan.

    Terperanjat para penduduk ketika menyaksikan sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa Amping.

    Asap tipis itu terlihat keluar semakin melebar menyelimuti tubuh Mahesa Amping. Dan terus melebar semakin membesar, meluas dan semakin menebal membentuk sebuah kabut putih.

    Seluruh pandangan mata siapan yang ada dipadukuhan itu tidak dapat lagi menembus kabut yang telah diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa.

    Seluruh dan seluas tanah Padukuhan itu telah diliputi kabut putih yang tebal !!!!!!

    Dan apa yang terjadi selanjutnya ?

    Kabut putih yang tebal itu perlahan naik keudara sebagaimana layaknya membentuk gumpalan awan terbang semakin meninggi.

    Seluruh tanah Padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup terhalang awan putih ciptaan kekuatan ilmu Mahesa Amping.

    Wuutttttttt….,

    Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping meluncur menembus kabut awan putih.

    Ternyata hentakan Mahesa Amping adalah sebuah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Dan kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.

    Wuuutttttttt……….,

    Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya kearah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur kebumi.

    Luar biasa !!!!!!!!!

    Gumpalan batu es yang sangat besar telah hancur berkeping-keping luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.

    Hujannn……!!!!

    Hujannn…….!!!!

    Berteriak seluruh penduduk bergembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi Padukuhan. Seluruhnya termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun.

    • hmmmm, semakin sakti saja Mahesa Amping ini
      matur suwun

  3. Sebenarnya Mahesa Amping telah menawarkan “kebisaannya” itu untuk Tomcat.
    Tapi terlalu banyak izin dan prosedur……males dech….,hehehe 1000X

    • ijinkan Mahesa Amping, pake gaya mBELING pak Dalang….hadir
      tanpa di undang….pulang setelah tugas terSELESAIkan.

      HIKSSS,

      • sugeng enjang kadang padepokan sadaya,

        pak DALANGe…..matur nuwun, yerima kasih

  4. selamat siang, hadir, monitor wedaran lagi

  5. tes……tes,

    • hikss, isih durung lancar…..pake ID lama (isih mbuleeet)

  6. Coba Mahisa Amping ikut demo BBM,
    wah jan mesti gayeng tenan.

    Hadir…………
    sugeng dalu katur para kadang sedaya.

  7. Para penduduk sepertinya tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka semua terlihat berlari menuju sawah ladang masing-masing. Bukan main gembiranya ketika menyaksikan sendiri bahwa ulat bulu beracun telah hilang hanyut terbawa air mengalir.

    Terlihat berbondong-bondong mereka kembali ketempat semula dimana Mahesa Amping masih duduk bersila sempurna.

    “Terima kasih wahai Manusia Dewa”, berkata beberapa penduduk sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    Sementara itu hujan terlihat sudah semakin surut dan akhirnya telah berhenti tiris. Perlahan Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya.

    Mahesa Amping tersenyum melihat beberapa penduduk tengah bersujud dihadapannya.

    “Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyiang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian juga”, berkata Mahesa Amping sambil meminta beberapa penduduk untuk bangkit berdiri.

    Pemimpin mereka terlihat mendekati Mahesa Amping yang sudah bangkit berdiri.

    “Terima kasih, tuan telah menyelamatkan kehidupan kami”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping.

    “Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara”, berkata Mahesa Amping.

    “Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap tuan”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang juga datang mendekat.

    “Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini”, berkata Empu Dangka.

    “Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk disini biasa memanggilku Ki Buyut”, berkata pemimpin itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Ki Buyut.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan dirinya, mereka tanpa sungkan lagi langsung menyampaikan arah tujuan mereka yaitu ke Pura Indrakila.

    “Ternyata tuan bertiga adalah para tamu agung Pemilik Pura Indrakila”, berkata Ki Buyut penuh kekaguman mengetahui bahwa ketiga orang dihadapannya hendak mengunjungi Pura Indrakila.” Hari sudah diujung senja, sebuah kehormatan bila saja tuan-tuan sudi beristirahat ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh santun.

    “Hari memang akan segera gelab, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam”, berkata Ki Arya Sidi.

    • kamsiaaaa………………..

      • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

        • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

          • Kamsia.

  8. kamsiaaaa………………..

    • sami2 ki…….genk dalu,

  9. Sebuah kehormatan menjamu tuan-tuan bermalam ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh kegembiraan .

    Terlihat Ki Buyut berbicara dengan salah seorang penduduk, sepertinya sebuah perintah untuk menyiapkan beberapa hal untuk tamu-tamu kehormatannya.

    “Mari kita berjalan menuju rumahku”, berkata Ki Buyut setelah menghampiri Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi.
    Maka berjalanlah mereka bersama menuju kerumah Ki Buyut.

    “Dua hari lagi kami akan panen raya”, berkata Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah disepanjang jalan menuju rumahnya.

    Ternyata rumah Ki Buyut terlihat sangat mencolok diantara rumah-rumah yang ada, terutama dalam ukuran besarnya.

    Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Buyut, mereka menemui seorang yang ternyata orang kepercayaan Ki Buyut untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu-tamunya.

    “Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita”, berkata orang itu kepada Ki Buyut perlahan penuh kesopanan layaknya seorang bawahan.

    “Beristirahatlah”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih.

    Setelah bergantian ke pringgitan, terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi duduk bersama di teras depan berupa saung yang besar.

    “Mudah-mudahan masakan simbok berkenan dilidah tuan-tuan”, berkata Ki Buyut sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

    “Terima kasih, jadi merepotkan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut.

    “Kami tidak repot, sebaliknya kami meresa terhormat tuan-tuan bersedia bermalam disini”, berkata Ki Buyut penuh senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rata sebagaimana umumnya asli Bali.

    Sementara itu langit diatas rumah Ki Buyut sudah terlihat semakin gelap, purnama bulat penuh berdiri diatas pohon kemboja kuning yang tumbuh dihalaman rumah Ki Buyut.

    Suasana di rumah Ki Buyut menjadi begitu hangat, ternyata Ki Buyut adalah seorang yang pandai bercerita. Maka saling bersambutlah cerita mereka silih berganti seperti tidak berujung berganti pangkal dan pokok pembicaraan, mulai dari panen raya sampai kehalusan orang Bali membuat sebuah keris dan berlanjut kemasalah sukar tidurnya Ki Buyut yang terganggu setiap malam karena cucunya yang baru berumur belum sepekan sering menangis dimalam hari.

    • kamsia….pak DALANGe,

      hadir mendhisiKi pak Gembleh seorang,

      • pak Dhalang…………
        neng mBali, si mBok itu artinya mBak lho.

        • Kamssiiiiaaaaa pak Dhalang.

  10. selamat siang, kamsiiaaaaaa

    • sami2,

      sugeng dalu kadang padepokan SADAYAnya

      • nuwun sewu sadaya……kulo bablas tanpo pamit pak DALANG, mblayu terbirit-birit ning blumbang sebelah

        • mangga……mangga……..
          jangan lupa mlumpat mBlumbange sambil
          jongkok mundur, percis si Karebet.

  11. Selamat malam Kadhang sadayana,
    Ba’da isya ngantuk berat langsung bablas tidur………….

  12. sugeng siang…………………………

  13. HADIR

    • (tetep dengan gaya bang Haji)……meNUNGGU,

  14. Sementara itu langit malam dikediaman Ki Buyut telah semakin larut, rembulan telah lama bergeser surut. Wajah keremangan malam yang teduh hanya mendengarkan suara kesunyiannya.

    “Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu”, berkata Ki Buyut sambil mengingatkan tamunya untuk beristirahat.

    Akhirnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Disisa malam itu cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering kadang terdengar adalah suara burung tekukur milik Ki Buyut yang sekali-sekali berbunyi dikesunyian malam.

    Mahesa Amping – lah yang bangun pertama, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

    “Mari kita keluar”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi mengajak keluar dari bilik kamar.

    “Hari masih begitu pagi”, berkata Ki Arya Sidi memandang langit pagi yang masih gelap.

    “Ternyata tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi”, berkata Ki Buyut yang baru saja keluar dari pringgitan.

    “Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut yang sudah duduk bergabung bersama.

    “Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya.

    “Dikesempatan lain waktu saja”, berkata Empu Dangka kepada Ki Buyut yang akhirnya tidak dapat memaksa tamu-tamunya yang untuk lebih lama di rumahnya.

    Ketika matahari pagi telah bersembul diujung timur hamparan sawah yang telah menghijau. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat telah keluar dari rumah Ki Buyut.

    Terlihat pandangan Ki Buyut mengiringi langkah kaki tamu-tamunya yang semakin lama menjauh dan hilang disebuah tikungan jalan.
    Jarak Pura Indrakila dari Kabuyutan tempat mereka bermalam memang tidak lagi begitu jauh. Sementara jalan yang mereka lalui memang agak menanjak karena Pura Indrakila berada dipuncak sebuah bukit.

    Ketika matahari pagi semakin menaik, mereka sudah dapat melihat pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan.

    “Apakah tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni ?”, berkata seorang penjaga kepada mereka bertiga.
    “Benar, kami dari Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

    • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
      mendhisiki pak Satpam

      • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
        matur nuwun

  15. pak Dhalang…….ini malem akan ada wedaran gak….?????

    Hadir……..!!!!!!!

    • kelihatannya tidak ada ki, …
      lebih baik begitu, besok saja diwedar 5-6 sekaligus, …
      hihihihi, …. !!!!

      • hihihihi, ….
        isih durung padang bulan, dadi rung diwedar

  16. hup…..,
    selamat malam kadank sedoyo,

    • selamat pagi…..
      Mahisa Amping sedang kecepekan rupanya, sehingga tidak meneruskan perjalanannya
      hihihihi, …. !!!!

      • hadu……
        lupa ganti baju….

        • Asal tidak lupa ganti…clana ! 😀

  17. “Ternyata tuan-tuan adalah tamu yang tengah kami nantikan”, berkata penjaga itu sambil mengajak Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi menemui Dewa Bakula.“Kita langsung ke Bale Guru”, berkata kembali penjaga itu.

    Pura Indrakila memang cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah. Sambil berjalan penjaga itu memberikan penjelasan tentang beberapa tempat. Suasana di sekitar Pura Indrakila terlihat tertata apik dan sangat asri.

    “Selamat datang di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula menyambut kedatangan para tamunya di pendapa Bale Guru.

    Mahesa Amping, Empu Dangka maupun Ki Arya Sidi sangat merasa heran melihat perubahan sikap dari Dewa Bakula yang terkesan sangat tidak sombong lagi sebagaimana yang mereka kenal sebelumnya.

    “hari ini adalah hari terakhirku di Balidwipa, besok aku akan kembali ke Tanah Hindu”, berkata Dewa Bakula setelah para tamunya telah duduk bersamanya di pendapa.

    “Apakah karena adanya perjanjian diantara kita,maka tuan pendeta kembali ke Tanah Hindu?”, bertanya Mahesa Amping kepada Dewa Bakula. “Kalau memang karena itu sebabnya, aku dapat melepas perjanjian yang telah kita tetapkan.

    “Bukan itu anak muda”, berkata Dewa Bakula dengan wajah penuh senyum. “Meski kekalahanku itu telah memberikan diriku banyak pelajaran, diantaranya adalah berpikir jernih tentang keberadaan kami para pendeta dari Tanah Hindu ini”, berkata Dewa Bakula melanjutkan perkataannya.

    “Tuan Pendeta telah menemukan dan membedakan kepamrihan, aku berdoa untuk kemerdekaan jiwa tuan yang tengah memasuki alam Tatwa selanjutnya”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi pernyataan dari Dewa Bakula

    “Teria kasih”, berkata Dewa Bakula sambil menjura.

    Namun ketika mereka asyik bercakap-cakap, datanglah seorang penjaga sambil membawa sebuah anak panah yang patah, simbol sebuah tantangan.

    “Seseorang memintaku memberikannya kepada salah seorang diantara tuan-tuan yang bernama Mahesa Amping. Pesannya akan ditunggu kehadirannya di bukit Sembul nanti malam”, berkata penjaga itu.

    Terlihat Dewa Bakula menarik nafas panjang.

    “Maafkan saudara tuaku Dewa Palakuna, ternyata dirinya tidak bisa menerima kekalahanku”, berkata Dewa Bakula yang sudah menduga bahwa tantangan itu berasal dari Dewa Palaguna.

    “Gusti yang Maha Pengasih telah memberikan keluasan ilmunya dalam berbagai tingkat yang berbeda kepada setiap jiwa manusia yang terlahir, perbedaan itulah sebagai sarana kita saling mengenal dan untuk dapat bermawas diri”, berkata Empu Dangka.

  18. “Terima kasih, bahagia aku berada diantara kalian yang ternyata telah melihat cakrawala alam Tattwa yang luas tak terhingga”, berkata Dewa Bakula kembali menjura.

    “Apakah tuan pendeta akan ikut bersama kami ke Bukit Sembul ?”, bertanya Ki Arya Sidi yang sedari awal tidak banyak cakap.

    “Aku akan datang mengantar kalian ke Bukit Sembul”, berkata Dewa Bakula dengan penuh kepastian.

    Tidak terasa hari telah terlihat menjelang sore, matahari dibatas barat bumi tengah memancarkan cahayanya yang lembut. Dan awan di cakrawala langit Pura Indrakila nampaknya begitu putih bersih. Tanaman bunga dan rumput hijau di halaman Bale Guru yang tertata asri seperti tengah menari bersenandung mandi kehangatan dan kelembutan cahaya matahari sore.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi nampaknya tengah menikmati keindahan suasana di Bale Guru itu.
    “Sebelum ke Bukit Sembul, kita singgah ke Puri Dalem. Baginda Raja Indrakila telah merestui semua keputusanku, aku akan memperkenalkan dirimu kepadanya”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

    “Terima kasih memperkenalkan diriku kepada Penguasa Pura Indrakila ini”, berkata Mahesa Amping perlahan.

    Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, Dewa Bakula telah meminta Mahesa Amping datang bersamanya ke Puri Dalem menghadap Baginda Raja Indrakila.

    “kami menunggu di pendapa ini”, berkata Empu Dangka kepada Dewa

    Bakula dan Mahesa Amping yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru hendak menghadap Raja Indrakila di Puri Dalem.
    Ki Arya Sidi dan Empu Dangka mengiringi langkah Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang terlihat tengah berjalan menyusuri jalan setapak dan menghilang disebuah tikungan jalan.

    “Kehadiran Mahesa Amping adalah sebuah anugerah yang besar bagi Pura Indrakila”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dipendapa Bale Guru. Sepertinya berusaha mengisi kesunyian sejak ditinggal Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang tengah menghadap di Puri Dalem astana Raja Indrakila.

    “Sebagaimana kehadirannya di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

    Sementara itu waktu terus berlalu, matahari di atas langit Bale Guru Pura Indrakila telah bergeser semakin surut. Tanaman bunga dan rumput hijau yang tertata asri dihalaman Bale Guru nampaknya telah lelah menari dan bersenandung. Bunga Soka kuning di pojok halaman nampak buram tidak tersinar matahari lagi, pucuk-pucuk rumput hijau terlihat merunduk menanti senja yang akan datang mengunjungi.

    “Hari telah menjelang senja”, berkata Empu Dangka sambi pandangannya menyapu halaman Bale Guru.

    • matur nuwun atas rontalnya yang datang beruntun, … !!!

  19. Alhamdullilah……..akhirnya air mulai surut

    Mudah-mudahan malem ini enggak ada tambahan hujan air….diganti dengan hujan rontalllllllll

    • Setujuuuuu….!!

  20. “Akhirnya mereka telah kembali”, berkata Empu Dangka yang melihat Mahesa Amping dan Dewa Bakula muncul dari sebuah tikungan jalan setapak.

    “Bukit Sembul tidak jauh, kita berangkat menjelang senja berakhir”, berkata Dewa Bakula yang telah duduk bersama di pendapa Bale Guru menyampaikan kapan waktunya berangkat ke Bukit Sembul.
    Bukit Sembul memang tidak begitu jauh dari Pura Indrakila. Diatas puncak bukitnya ada sebuah tanah lapang yang luas. Para Sisya Pura Indrakila pada hari-hari tertentu biasa menggunakannya sebagai sanggar terbuka.

    Ketika senja berakhir, terlihat empat orang lelaki menuruni tangga pendapa Bale Guru. Purnama tak sabar mengintip diantara rimbunan pohon-pohon kayu besar yang tumbuh di beberapa tempat di Pura Indrakila. Suasana diujung senja itu begitu bening dan teduh.

    Kempat lelaki itu tidak keluar lewat regol pintu depan Pura Indrakila, tapi berjalan kearah timur dari Bale Guru memasuki hutan kecil yang tidak begitu lebat. Tidak begitu lama mereka akhirnya telah tiba di Bukit Sembul tengah menaiki sebuah gumuk kecil dan akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit sembul yang tenyata adalah sebuah padang rumput yang lapang.

    Benderang cahaya bulat bulan purnama telah menerangi tanah lapang itu. Terlihat seorang yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang terurai berdiri menyambut kedatangan mereka.

    “Lama aku menunggu kedatangan kalian”, berkata orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

    “Bila ada Raja Leak, pasti amanlah kita”, berkata Ki Arya Sidi merasa gembira bertemu kembali dengan saudara angkatnya itu.

    “Jangan khawatir, para pengikutku telah siap menjalankan tugasnya berjaga-jaga”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyumnya yang mengembang.

    Sementara itu bulan purnama bulat telah bergeser terus kepuncak cakrawala langit malam. Taburan jutaan bintang menambah keindahan suasana diatas puncak Bukit Sembul.

    Akhirnya yang mereka nantikan datang juga. Dari sisi lain terlihat dua orang muncul dalam bayang tersamar terus mendekati mereka.

    Semakin nampak jelas siapa gerangan yang mendekati mereka.

    Ternyata adalah Dewa Palaguna bersama seseorang yang terlihat sudah begitu tua terlihat dari kerut-kerut wajahnya yang mulai kendur.

    “Guru !!!”, berkata Dewa Bakula sambil menjatuhkan dirinya bersujud dihadapan seorang yang datang bersama Dewa Palaguna

    “Bangkitlah Bakula, aku ingin berkenalan dengan orang yang telah mengalahkanku”, berkata orang itu kepada Dewa Bakula.

    Dewa Bakula bangkit berdiri dengan wajah penuh keraguan.

    • Ditunggu hujan rontalnya,
      Kamsiaaaa….

  21. kalimat terakhir maksudnya …….yang telah mengalahkanmu”

  22. horeeeeee, kamsiiiiiaaaa
    tunggu wedaran berikutnya

  23. SFBDBS-10 sudah dibundel

    monggo…., jagongan pindah ke SFBDBS-11 yang sudah dibuka.

    risang/satpam

  24. “Aku bertanding dengan adil, aku sudah menerima kekalahanku dengan wajar. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi”, berkata Dewa Bakula dengan wajah masih penuh keraguan apa kiranya yang akan dilakukan guru dan saudara tuanya itu.

    “Kamu boleh menerima kekalahan itu, tapi aku belum dapat menerimanya”, berkata Dewa Palaguna kepada Dewa Bakula dengan suara lantang sepertinya menyalahkan dan meremehkan Dewa Bakula yang mudah menyerah.

    “Aku sependapat dengan saudara tuamu, menyingkirlah”, berkata orang tua yang dipanggil guru itu kepada Dewa Bakula.

    “Aku mendengar ada yang ingin berkenalan denganku”, berkata Mahesa Amping maju menghadap orang tua itu dengan menjura penuh hormat.

    “Ternyata kamu memang masih muda belia”, berkata orang tua memandang Mahesa Amping dari ujung kaki sampai keatas kepala.”Perkenalkan namaku Aanjav, aku sudah mendengar tentang dirimu lewat muridku Palaguna”, berkata orang itu sambil menatap Mahesa Amping dengan matanya yang begitu tajam sepertinya ingin menelisik kemampuan Mahesa Amping.

    Tapi Mahesa Amping bukan anak muda sembarangan, kilatan cahaya mata Aanjav yang tajam itu seperti menembus sebuah samudra yang dalam.

    Terkejut Aanjav merasakan tabrakan tatapan mata Mahesa Amping.

    “Muridku telah kamu kalahkan, biarlah aku yang tua ini mencoba mengenal beberapa jurus darimu”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping.

    “Hanya untuk mengenal beberapa jurus, bukan sebuah pertandingan hidup mati”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

    “Tapi jangan salahkan diriku bila ada yang mati”, berkata Aanjav penuh percaya diri.

    “Aku telah siap, maksudnya………bukan siap mati”, berkata mahesa Amping dengan senyum dikulum.

    “Tataplah purnama diatas langit sepuasnya, besok mungkin kamu sudah tidak dapat lagi memandangnya”, berkata Aanjav yang kurang senang dengan gurauan Mahesa Amping.

    “Hari ini aku telah menatap rembulan, bila besok tidak lagi menatap rembulan, itu artinya aku tertidur disore hari”, berkata Mahesa Amping tidak menghiraukan orang tua dihadapannya yang tidak suka bergurau.

    “Aku tahu bahwa kamu tengah mengungkit kemarahanku, apapun ucapanmu tidak akan mempengaruhiku”, berkata Aanjav dengan mata yang tajam sepertnya telah dapat membaca arah pikiran dari Mahesa Amping.

    “Aku tidak bermaksud apapun, hanya sekedar merenggangkan ketegangan”berkata Mahesa Amping masih dengan kepercayaannya dirinya yang tinggi.

    • lha…….
      kebablasan Ki…
      tidak apa-apa nanti saya pindahkan
      sudah bisa pindah ke gandok 11


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: