SFBDBS-10

Bagian 3

SFBDBS 09-258

“Semua berkat bimbingan Empu Dangka”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Aku sekedar memberikan sedikit cara, sementara didalam dirimu telah bertumpuk segala macam aji kesaktian”, berkata Empu Dangka yang merasa gembira Mahesa Amping dengan mudah melaksanakan semua yang diajarkannya dengan hasil yang begitu gemilang.

“Malam sudah begitu larut”, berkata Mahesa Amping sambil menatap lengkung langit.

“Besok kita mencari tempat yang jauh dari jangkauan manusia, aku ingin melihat sejauh mana engkau mampu menghentakkan puncak kekuatan dirimu lewat ilmu cambukmu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Artinya sekarang kita kembali ke Padepokan Panca Agni untuk beristirahat, keesokan paginya kita sudah siap mencari tempat sesuai yang Empu Dangka inginkan”, berkata Mahesa Amping sambil melangkah mendekati Empu Dangka mengajaknya kembali kepadepokan Panca Agni.

Ketika mereka sampai di Padepokan Panca Agni, Ki Arya Sidi sudah beristirahat lebih dulu, mungkin hari ini tenaganya banyak dicurahkan untuk membimbing para Sisyanya.

“Ki Arya Sidi sudah lama tertidur, hari ini kulihat beliau begitu lelah hingga masih sore sudah masuk kepembaringannya”, berkata Ki Nyoman sambil membawa air kendi. “Kulihat kalian juga sangat begitu lelah”, berkata kembali Ki Nyoman sambil menyilahkan Mahesa Amping dan Empu Dangka untuk beristirahat.

Tidak lama Mahesa Amping dan Empu Dangka duduk di pendapa, mereka pun akhirnya terlihat masuk ke bilik masing-masing.

Suasana pendapa Padepokan Panca Agni kembali sepi, api pelita disudut pendapa melenggut semakin surut cahayanya. Diluar halaman pendapa cahaya remang malam penuh kebisuan. Langit malam berkabut awan kelabu dengan sedikit angin bertiup sejuk membelai daun dan dahan beringin putih yang tumbuh ditengah halaman Padepokan Panca Agni.

Dan malam masih terus berlalu mendekap wajah bumi bersama nyanyian kesunyian malam dalam lengking tenggorek yang pajang, kadang mencuri sedikit bunyi burung hantu yang semakin menjauh pergi, atau sekali-kali terdengar suara kodok buduk memanggil kekasihnya agar datang mendekat.

Malam pun akhirnya lelah melepaskan bumi dari pelukannya pergi kebalik bumi lain.

Dan sang fajar telah datang membelai bumi dengan senyumnya yang hangat.

“Hari ini tidurku terasa lelap”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah sejak pagi sudah bangun dan berada lebih dulu di pendapa.

“Tidur di saat lelah memang mengasyikkan, ketika bangun badan menjadi sangat segar”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Arya Sidi.

Sementara itu terlihat Ki Nyoman tengah membawa beberapa hidangan untuk sarapan pagi.

 “Hari ini kami bermaksud keluar Padepokan Panca Agni”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi menceritakan maksud dan tujuannya mencari sebuah tempat yang baik untuk menguji kemampuan puncak ilmu cambuk Mahesa Amping.

“Apakah aku boleh ikut?”, bertanya Ki Arya Sidi

“Bila Ki Arya Sidi menginginkan, kami tidak mampu melarang”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum sebagai tanda menyetujui Ki Arya Sidi ikut bersama.

“Aku dapat memberikan sebuah tempat yang baik”, berkata Ki Arya Sidi yang gembira diajak pergi bersama.

“Tidak ada salahnya mengajak Ki Arya Sidi, pasti sebagai orang asli Balidwipa tidak ada sejengkal pun tanah daratan di Balidwipa ini yang belum disinggahi”, berkata Empu Dangka.

Sementara itu hamparan bumi pagi sudah terlihat benderang dihangati cahaya matahari. Sebagaimana pagi kemarin, di halaman muka Padepokan Panca Agni sudah diramaikan oleh suara anak ayam mencicit mengejar induknya yang tengah mencari makanan.

“Kami pergi tidak akan lama”, berkata Ki Arya Sidi didalam sanggar kepada para Sisyanya ketika akan berangkat.”Berlatihlah dengan giat dan semangat”, berkata kembali Ki Arya Sidi sambil melambaikan tangannya keluar menuju pintu sanggar yang terbuka.

Maka terlihatlah tiga orang tengah keluar dari regol pintu halaman Padepokan Panca Agni. Langkah mereka terlihat begitu semangat, terbayang suasana alam bebas mengiringi setiap langkah kaki mereka menjelajahi ngarai, jurang dan bukit.

“Langkah kita mengarah matahari terbenam”, berkata Ki Arya Sidi yang sudah berjanji akan mencarikan sebuah tempat yang cocok dan sesuai bagi Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Mudah-mudahan pemandu kita tidak lupa arah”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

Ketiga orang itu sepertinya tidak punya beban apapun, langkah mereka begitu ringan yang selalu ditingkahi dengan canda kegembiraan.

Ketika mereka menuruni sebuah lembah, matahari terlihat mengiringi dibelakang mereka. Namun manakala mereka tengah memasuki sebuah kademangan yang cukup ramai, matahari sudah berlari mendahului mereka bergantung di puncak langit. Dan hari pun terlihat sudah sangat terang dan panas menyengat.

“Kita sudah ada di kademangan Pejeng yang ramai”, berkata Ki Arya Sidi ketika mereka sudah berada di sebuah perempatan jalan. Terlihat di ujung jalan lurus sebuah pasar yang masih terlihat ramai. Ternyata mereka tiba pada saat hari pasaran.

“Mari kita manjakan perut kita”, berkata Empu Dangka mengajak kedua kawannya untuk singgah di sebuah kedai makanan.

 ———-oOo———-

SFBDBS 09-259

Ketika mereka masuk kedai itu, terlihat beberapa pengunjung tengah menikmati hidangan mereka. Seorang pelayan tua menghampiri mereka dan menunjukkan sebuah tempat yang masih kosong.

“Sediakan masakan terbaik di kedai ini”, berkata Ki Arya Sidi kepada pelayan itu ketika mereka sudah duduk ditempatnya masing-masing.

“Hari ini kami menyediakan masakan Lawar Ayam dan jukut Mapelencing”, berkata pelayan itu.

“Tambahkan brem untuk kami”, berkata Ki Arya Sidi menambahkan pesanannya.

“Ada lagi?”, bertanya pelayan tua itu.

“Lawarnya jangan terlalu pedas”, berkata Ki Arya Sidi

“Dan jangan pakai lama”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh Ki Arya Sidi dan Empu Dangka

Ternyata mereka memang tidak menunggu terlalu lama. Pelayan tua itu telah datang membawa makanan pesanan mereka.

“Sebagaimana pesan tuan, masakan kami memang tidak pakai lama”, berkata pelayan itu sambil mengumbar senyumnya kepada Mahesa Amping.

“Ucapan kami Cuma bercanda”, berkata Mahesa Amping sambil mengangguk dan tersenyum kepada pelayan tua itu.

Setelah pelayan tua itu pergi dan masuk kebelakang, mungkin ada tugas lain menunggunya. Maka terlihat Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah menikmati makan siang mereka.

“Yang muda saja bukan main nikmatnya, apalagi yang sudah tua”, berkata Empu Dangka ketika menikmati jukut Mapelencing yang merupakan sebuah masakan berasal dari rebung bambu.

Mendengar ucapan Ki Dangka membuat Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping tidak mampu menahan rasa gelinya.

Ketika mereka telah menyelesaikan makanan mereka dan bermaksud membayar semuanya, alangkah kagetnya mereka bahwa pelayan tua itu tidak mau menerima pembayaran.

“Seseorang telah membayar semua pesanan tuan”, berkata pelayan tua itu.

“Siapakah yang telah membayar pesanan makanan kami”, berkata Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya ke arah semua pengunjung yang masih ada di kedai itu.

“Orangnya sudah keluar ketika tuan-tuan tengah masih menikmati hidangan”, berkata pelayan tua itu.

Pelayan tua itu tetap menolak manakala Ki Arya Sidi memaksa untuk membayar.

 Akhirnya dengan penuh tanda tanya yang masih mengisi di kepala, mereka bertiga keluar dari kedai.

Namun belum lagi mereka bertiga melangkah jauh dari kedai itu, seorang pemuda datang menghampiri mereka.

“Maaf, ternyata kehadiran kalian disini telah membawa berkah untukku, seseorang telah memberikan kepadaku upah yang cukup hanya sekedar menyampaikan sebuah pesan kepada kalian”, berkata pemuda itu.

“Pesan?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada pemuda itu.
“Orang itu hanya berpesan bahwa kalian ditunggu dibalik gumuk diujung jalan ini”, berkata pemuda itu yang langsung menjura penuh hormat meninggalkan Ki Arya Sidi, Empu Dangka dan Mahesa Amping yang termangu, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

“Apakah orang yang berpesan itu satu orang dengan yang membayar makanan kita dikedai?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Mari kita menuju ke balik gumuk itu, mungkin jawabannya ada disana”, berkata Empu Dangka.

Terlimat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah berjalan ke arah sebuah gumuk yang ditunjukkan oleh pemuda tadi.

Untuk mencapai gumuk itu memang ada jalan lurus dari pasar. Ketika mereka melewati jalan lurus itu, mereka dapat merasakan bahwa jalan itu sangat jarang dilalui oleh orang, terlihat rumput-rumput liar tumbuh segar di sepanjang jalan tidak pernah terinjak. Akhirnya mereka telah sampai diujung jalan yang buntu dibawah gumuk. Tanpa kecurigaan apapun mereka langsung menapaki gumuk itu yang dipenuhi oleh rumput dan ilalang liar.

Ketika mereka sampai diatas gumuk, betapa kagetnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi melihat sepuluh mayat bergelimpangan tidak berdaya. Dari pakaiannya dapat ditandai bahwa mereka adalah pasukan pengawal sebuah Pura. Kesepuluh mayat itu terlihat membawa busur dan anak panah lengkap .

Kening mereka bertambah berkerut manakala dihadapan mereka terlihat dua orang tengah adu tanding. Seorang terlihat bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Sementara lawan lainnya dapat diduga sebagai seorang pendeta, terlihat dari jubah pendeta yang dikenakannya.

“Bukankah itu Ki Jaran Waha?”, berkata Mahesa Amping yang mengenali salah satu orang yang tengah bertempur.

“Benar, itu saudara kita Pemimpin Leak Balidwipa”, berkata Ki Arya Sidi yang juga telah melihat dan mengenali siapa salah satu yang tengah bertempur dengan sengitnya.

“Akhirnya kalian telah datang”, berkata Ki Jaran Waha sambil menghindari sabetan tongkat lawannya dan langsung melenting mendekati Mahesa Amping, Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

 ———-oOo———-

SFBDBS 09-260

“Orang ini bermaksud mencelakaimu, saudaraku”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping masih belum dapat mengerti, bagaimana mungkin orang didepannya yang sama sekali belum dikenalnya telah bermaksud untuk mencekai dirinya.

“Tuan Pendeta, kita belum pernah bertemu. Kesalahan apa dariku sehingga dirimu bermaksud mencelakai aku ?”, bertanya Mahesa Amping kepada seorang berjubah pendeta.

“Asal kau ketahui, aku saudara tua Dewa Bakula yang pernah kau kalahkan”, berkata orang itu.

“Kami bertanding dengan adil, apakah Dewa Bakula tidak menceritakannya kepada tuan Pendeta?”, bertanya kembali Mahesa Amping kepada orang itu.

“Begitu mudahnya Dewa Bakula kalah olehmu, itulah yang aku tidak percayai, pasti kalian telah berbuat curang”, berkata orang itu.

“Percaya atau tidak, adalah hak tuan pendeta”, berkata Mahesa Amping yang merasa tersinggung dikatakan telah berbuat curang.

“Namaku Dewa Palaguna, purnama depan kutunggu dirimu di Pura Indrakila”, berkata orang itu yang mengaku bernama Dewa Palaguna.

“Mengapa harus di pura Indrakila?”, bertanya Mahesa Amping.

“Agar ada saksi bahwa dirimu belum mampu menjadi guru di Pura Indrakila”, berkata Dewa Palaguna yang langsung membalikkan badan berjalan meninggalkan tanah gumuk itu diiringi pandangan mata semua yang ada disitu.

Sepeninggal Dewa Palaguna, Ki Jaran Waha bercerita tentang keberadaannya di tanah gumuk itu. Bermula Ki Jaran Waha yang juga sebagai Raja Leak di Balidwipa mendapat berita tentang sebuah upaya untuk mencelakai Mahesa Amping oleh sekelompok orang yang ternyata berasal dari Pura Besakih yaitu saudara tua dari Dewa Bakula sendiri yang bernama Dewa Palaguna, seorang pendeta guru di Pura Besakih yang dipercayakan membimbing para pangeran penguasa pura Besakih. Dari semua pangeran di seluruh Pura Balidwipa, hanya para pangeran pura Besakih yang tidak berguru di pura Indrakila. Mereka lebih memilih Dewa Palaguna sebagai guru pembimbingnya di pura Besakih.

“Kami mengikuti mereka sampai di Kademangan Pejeng ini”, berkata Ki Jaran Waha melanjutkan ceritanya. “Pengikutku tersebar di Balidwipa ini, jadi tidak ada satupun rahasia yang terlepas dari pendengaranku”, berkata kembali Ki Jaran Waha menutup ceritanya.

“Jadi Ki Jaran Waha yang membayar makanan kami di kedai?”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Jaran Waha.

“Aku memerintah orangku untuk membayarnya”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

“Beruntungnya kita bersaudara dengan seorang Raja”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semua yang ada di tanah gumuk itu.

 Kepada Ki Jaran Waha, Ki Arya Sidi menjelaskan tentang tujuan mereka bertiga, yaitu mencari sebuah tempat untuk melihat sejauh mana Mahesa Amping dapat menghentakkan puncak ilmu cambuknya.

“Apakah aku diijinkan untuk ikut bersama kalian?”, bertanya Ki Jaran Waha.

“Permintaan seorang raja tidak boleh ditolak”, berkata Mahesa Amping yang kembali disambut tawa dari semua yang mendengarnya.

“Mumpung matahari masih bergeser sedikit, perjalanan kita tidak jauh lagi”, berkata Ki Arya Sidi mengajak mereka melanjutkan perjalanannya.

“Bagaimana dengan mayat-mayat itu”, berkata Mahesa Amping yang melihat sepuluh orang prajurit pengawal pura yang telah menjadi mayat bergelimpangan.

“Biarlah para pengikutku yang mengurusnya”, berkata Ki Jaran Waha dengan suara perlahan.

Sementara itu matahari memang telah bergeser sedikit kebarat, awan tebal menyelimutinya membuat cuaca saat itu menjadi adem tidak begitu terik. Ditambah semilir angin diatas gumuk itu berdesir lembut menyentuh kulit.

“Sebuah perjalanan yang menyenangkan”, berkata Ki Jaran Waha ketika angin berhembus lembut membelai rambut dan tubuhnya bersama langkah ketiga teman seperjalanannya.

Terlihatlah empat orang dengan langkah ringan membelah padang ilalang, menembus hutan perdu, lembah dan ngarai.

“Berhati-hatilah Mahesa Amping, kudengar kesaktian Dewa Palaguna dapat meruntuhkan gunung”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping sambil terus berjalan beriringan.

“Terima kasih, kamu telah memperingatkanku. Semoga Gusti yang Maha Agung selalu melindungiku”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Sikap itulah yang harus kita miliki, tidak menggantungkan kepada kesaktian apapun yang kita miliki, tapi menggantungkan segalanya kepada Sanghiang Gusti Yang Maha Agung”, berkata Ki Arya Sidi ikut bicara.

Akhirnya tidak terasa, sambil berjalan dan bercakap-cakap, mereka telah sampai ditempat yang dituju. Sebuah tanah lapang yang dibatasi batuan bercadas disekelilingnya. Sepertinya sebuah tempat yang jarang sekali disinggahi orang karena sangat jauh dari padukuhan terdekat dan tidak ada apapun yang dapat dimanfaatkan selain batu-batu besar berserakan disekitarnya.

“Inilah tempat yang kujanjikan”, berkata Ki Arya Sidi menjelaskan bahwa mereka telah sampai ditempat yang dituju.

“Tempat seperti inilah yang kita butuhkan”, berkata Empu Dangka sambil pandangannya menyapu sekeliling.

 ———-oOo———-

SFBDBS 09-261

 

Sementara itu sang senja telah semakin redup, layar panggung bumi telah berganti warna malam. Semburat bulan tua menerangi tanah lapang berbatu.

“Kita beristirahat dulu, sayang bila bekal ini tidak dihabisi”, berkata Ki Arya Sidi sambil membuka bekal yang dibawanya dari Padepokan Panca Agni.

Terlihat Mahesa Amping telah membuat perapian dari beberapa rumput dan ranting. Dalam sekejap perapian telah menyala.

“Aku menyiapkan bekal agak berlebih, ternyata ini rejekinya Ki Jaran Waha”, berkata Ki Arya Sidi.

“Terima kasih, kehadiranku tidak mengurangi jatah perut kalian bertiga”, berkata Ki Jaran Waha sambil menyuap nasi jagung kemulutnya.

Demikianlah, berempat mereka mengelilingi perapian yang semakin redup. Mahesa Amping sengaja tidak menambahkannya dengan daun dan ranting kering.

Dan akhirnya perapian itu memang tidak lagi menyala, mati tertiup semilir angin basah.

Ketika perapian telah mati, pandangan mereka sudah terbiasa dapat melihat apapun yang ada di atas tanah lapang berbatu itu.

“Semoga Sang Maha Karsa selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ikut berdiri ketika melepas Mahesa Amping yang berdiri dan berjalan menjauh sekitar dua puluh langkah untuk mencoba mengungkapkan puncak ilmu cambuk yang dimiliki sampai sejauh mana.

Bersamaan dengan itu Ki Jaran Waha dan Ki Arya Sidi ikut berdiri mengiringi dengan pandangan matanya Mahesa Amping yang tengah berjalan menjauh dan akhirnya berhenti disebuah tempat.

Terlihat Mahesa Amping telah berdiri tegak, di tangannya telah menggenggam sebuah cambuk yang dibiarkan menjurai hampir menyentuh tanah.

“Wahai Gusti Yang Maha Karsa, kuserahkan diriku dalam kekuasaanMU”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil merasakan dirinya telah hilang bersatu dalam gerak dan kekuasaan Sang Maha Pencipta.

Perlahan Mahesa Amping telah bergerak memainkan jurus cambuknya. Dari Keremangan malam terlihat seperti sebuah gerak tarian yang indah dipandang mata.

“Sebuah permainan cambuk yang indah”, berkata Ki Jaran Waha kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

“Mahesa Amping telah melakukannya dengan begitu sempurna”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Jaran Waha.

“Mahesa Amping telah melambari permainannya dengan kekuatan yang ada didalam dirinya”, kerkata Ki Arya Sidi manakala merasakan udara disekelilingnya semakin menghangat.

Mahesa Amping memang telah mulai mengungkapkan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya, hawa panas telah semakin menyebar mengiringi setiap gerakan cambuknya.

Sementara itu Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Kijaran Waha masih berdiri mengikuti gerak Mahesa Amping meski udara disekitarnya sudah tidak lagi hangat, namun sudah menjadi hawa panas yang kuat membakar kulit. Dengan mengerahkan kekuatan yang mereka miliki, mereka masih tetap bertahan di tempatnya dengan melambari kekuatan hawa dingin sebagai perisai tubuh mereka melindungi hawa panas yang terus merambat semakin memuncak.

“Luar biasa !!!!”, berkata Ki Arya Sidi sambil mundur lima langkah dari tempatnya berdiri merasakan hawa panas telah begitu menyengat.

Terlihat Empu Dangka dan Ki Jaran Waha telah berbuat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Ki Arya Sidi.

“Siapapun lawannya yang berada dibawah tataran ilmunya akan dapat susah dibuatnya”, berkata Ki jaran Waha yang sudah berada didekat Ki Arya Sidi.

Meski jarak mereka dengan Mahesa Amping semakin bergeser menjauh, mereka masih dapat melihat dengan jelas Mahesa Amping yang terus memperlihatkan permainan jurus cambuknya.

Tidak ada terlihat kelelahan sedikitpun diwajah Mahesa Amping. Anak muda ini sepertinya tengah menikmati setiap jurus yang dimainkannya.

“Aku tidak tahan !!!!”, berkata Ki Arya Sidi sambil kembali mundur lima langkah dari tempatnya berdiri manakala dirasakan hawa disekitarnya berubah-ubah dengan cepatnya antara hawa panas yang menyengat menjadi dingin yang sama kuatnya menyengat kulit.

Terlihat Empu Dangka dan Ki Jaran Waha telah berbuat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Ki Arya Sidi.

“Gusti Sang Hyiang Widi telah mengaruniakan dibumi ini seorang yang berbakat luar biasa, sangat langka ada orang yang berbuat begitu cepatnya merubah kekuatan hawa panas dan dingin”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha.

“Sebuah kekuatan yang dapat menyusahkan siapapun lawannya”, berkata Ki Jaran Waha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku melihat anak muda ini belum menghentakkan seluruh kekuatannya”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum bangga merasakan kekuatan Mahesa Amping yang memang masih menyisakan puncak kekuatannya.

“Belum di puncaknya, kita sudah berdiri begitu jauh”, berkata Ki Arya Sidi yang ikut kagum sebagaimana Empu Dangka.

“Aku melihat tanah dan batuan di sekitarnya telah menjadi retak”, berkata Ki Jaran Waha.

———-oOo———-

SFBDBS 09-262

“Perubahan hawa yang berganti dengan cepatnya telah menjadikan benda apapun retak dibuatnya”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Jaran Waha.

“Gusti Maha Adil, memberikan ilmu yang luar biasa itu hanya kepada orang yang bijak sebagaimana Mahesa Amping”, berkata Ki Arya Sidi.

“Seperti itulah Mahesa Amping, tidak mengeluarkan jurus simpanannya kecuali sangat terpaksa dan mendesak”, berkata Empu dangka.

“Mahesa Amping telah dengan sadar telah menguasa segala amarah didalam dirinya”, berkata Ki Arya Sidi menambahkan dan telah mengenal Mahesa Amping seutuhnya lewat pergaulannya selama ini.

“Sementara kita yang tua kadang tergelincir tidak bisa mengendalikan amarah diri kita sendiri”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

“Lihatlah, inilah yang kita tunggu”, berkata Empu Dangka sambil matanya tidak lepas kepada apa yang tengah dilakukan oleh Mahesa Amping.

Ternyata Mahesa Amping tidak lagi melakukan permainan jurus cambuknya. Terlihat tengah berdiri tegak menghadap ke sebuah batu besar hitam sebesar kerbau.

Mahesa Amping tengah mengendapkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba saja dengan gerakan sendal pancing ujung cambuknya telah menghentakkan batu sebesar kerbau dihadapannya.

Desssss….,

Suara cambuk Mahesa Amping tidak menggelegar, hanya seperti suara cambuk biasa memecah angin.

Namun dampak dari lecutan itu sungguh luar biasa !!!!!.

Batu sebesar seekor kerbau hancur luluh lantak menjadi sebuah debu halus yang bertebaran terbang tertiup angin.

Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha yang menyaksikan semua itu terhenyak nafasnya tertahan.

“Sebuah kekuatan yang dahsyat”, berkata Ki Jaran Waha tidak sadar mengucapkan pujiannya atas apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Amping.

“Mahesa Amping telah mampu menyalurkan kekuatannya lewat ujung cambuknya, sebagaimana dilakukannya lewat sorot matanya”, berkata Empu Dangka yang merasa gembira atas apa yang telah dicapai oleh Mahesa Amping.

“Melihat usianya, tataran ilmu yang ada saat ini pasti akan terus berkembang”, berkata Ki Arya Sidi.

“Benar, itulah yang kuharapkan menitipkan ilmu cambukku kepadanya”, berkata Empu Dangka dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.

“Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Empu”, berkata Mahesa Amping yang telah datang mendekat.

“Anakmas telah melakukannya dengan sangat sempurna”, berkata Empu Dangka dengan penuh gembira.
Sementara itu hari sudah berlari menjauhi pertengahan malam, cahaya diatas tanah lapang yang sepi masih bening dinaungi biru langit malam.

“Kita bermalam disini”, berkata Ki Arya Sidi sambil berjalan mencari tempat yang baik yang akhirnya didapati di balik sebuah batu besar yang melindungi mereka dari dinginnya angin malam.

Namun mereka tidak langsung rebah tidur, masih ada saja yang mereka percakapkan di penghujung sisa malam itu.

“Apakah kamu tidak memperkirakan bahwa Dewa Palaguna akan kembali melakukan kelicikan?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

“Hal-hal seperti itu memang bisa saja terjadi”, berkata Empu Dangka ikut memberikan tanggapan.

“Namun kita tidak tahu kelicikan apa lagi yang akan dilakukan oleh Dewa Palaguna”, berkata Ki Arya Sidi.

“Tidak perlu dikhawatirkan, aku dan pengikutku akan terus membayangi mereka”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum penuh ketenangan.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping

“Tidak usah berterima kasih, bukankah kita bersaudara?”, berkata Ki Jaran Waha tersenyum memperlihatkan seluruh giginya yang putih dan rata umumnya orang Bali.

“Beristirahatlah kalian, sebentar lagi nampaknya akan datang pagi, biarlah aku yang berjaga”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan semuanya untuk beristirahat.

Sebagaimana yang dikatakan Ki Arya Sidi, hari memang akan menjelang pagi. Terlihat sejumput semburat warna merah telah bersembul di ujung bumi,sementara warna lengkung langit semakin menghitam.

Perlahan warna merah akhirnya merata mewarnai hampir seluruh lengkung langit. Cahaya bumi pun terlihat begitu bening, sepi dan teduh.

“Beristirahatlah, aku sudah cukup beristirahat”, berkata Mahesa Amping yang sudah terbangun kepada Ki Arya Sidi yang masih bersandar di sebuah batu besar.

“Terima kasih, sekejap dua kejap lumayan untuk berbaring”, berkata Ki Arya Sidi yang terlihat melepaskan sandarannya rebah berbaring.

Mahesa Amping memang tidak dapat memejamkan matanya yang sudah tidak lagi mengantuk. Terutama ketika cahaya bulat matahari telah bersembul mengintip ditepian bumi.

———-oOo———-

SFBDBS 09-263

Matahari diatas tanah gumuk itu telah naik sepertiga menggantung di lengkung langit pagi, empat orang lelaki terlihat berjalan beriring.

“Kita singgah di pasar Pejeng”, berkata Ki Arya Sidi.

“Tepatnya di kedai yang kemarin”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum merasa maklum bahwa perut mereka belum tersentuh apapun.

Ketika mereka sampai di pasar Kademangan Pejeng, suasana di pasar itu memang tengah ramai. Terlihat lalu lalang beberapa wanita dengan bakul diatas kepala.

“Berikan kami makanan terbaik di kedai ini”, berkata Ki Arya Sidi kepada seorang pelayan tua ketika mereka sudah berada didalam kedai makanan.

“Tidak pakai lama”, berkata Ki Jaran Waha yang ditanggapi gelak tawa semuanya.

Maka tidak lama kemudia pelayan tua itu telah membawa hidangan untuk mereka.

“Selamat menikmati”, berkata pelayan tua itu mempersilahkan tamunya penuh kesopanan.

“Sarapan yang nikmat”, berkata Ki Arya Sidi sambil memandang hidangan yang telah siap sedia.

“Tepatnya sarapan pagi menjelang siang”, berkata Empu Dangka yang ditanggapi senyum tawa ketiga kawannnya.

Terlihatlah mereka nampaknya menikmati hidangan itu.
Ketika selesai makan, kembali terjadi apa yang pernah mereka alami, pelayan tua itu tidak menerima pembayaran dari Ki Arya Sidi.

Maka semua mata menatap Ki Jaran Waha yang tenang duduk sambil tersenyum.

“Salah seorang pengikutku telah membayarnya”, berkata Ki Jaran Waha dengan tersenyum perlahan.

“Selama bersama Raja leak, sangu kita utuh”, berkata Ki Arya Sidi sambil memasukkan kembali pecahan logam peraknya.

Sementara itu suasana pasar masih nampak ramai manakala mereka telah keluar dari dalam kedai.

“Sampai disini aku mengiringi kalian”, berkata Ki Jaran Waha yang bermaksud untuk kembali ke tempat tinggalnya.

“Jangan lupa purnama depan”, berkata Ki Arya Sidi mengiringi langkah kaki Ki Jaran Waha yang semakin menjauh menghilang diantara lalu lalang beberapa orang laki-laki dan wanita dikeramaian pasar Kademangan Pejeng.

“Pasar yang ramai sebagai tanda kemakmuran warganya”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping sambil melihat-lihat beberapa barang yang diperjual belikan dipasar itu.

Mentari saat itu memang belum beranjak ke puncaknya, Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi sudah jauh meninggalkan Pasar Kademangan Pejeng.

Terlihat mereka tengah berjalan di sebuah hutan bambu, menyusuri beberapa bulakan panjang dan akhirnya telah berada di sekitar Padukuhan yang terdekat dari Bukit Pejeng Gundul tempat Padepokan Panca Agni berada.

“Bunting padi itu sebentar lagi akan menguning”, berkata Empu Dangka ketika mereka tengah melewati beberapa hamparan sawah.

“Kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh apapun bagi seorang petani disaat melihat padi menguning”, berkata Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya pada hamparan sawah yang tumbuh menghijau.

Akhirnya mereka telah mendaki jalan ke Bukit Pejeng Gundul. Matahari telah mulai condong ke Barat manakala langkah kaki mereka telah sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.

“Selamat datang kembali di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Nyoman yang menyambut kedatangan mereka.

“Para Sisya pasti masih tengah berlatih”, berkata Ki Arya Sidi yang dijawab dengan senyum dan anggukan kepala dari Ki Nyoman.

Setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat duduk di Pendapa. Sementara Ki Arya Sidi masih di sanggar menemui para Sisyanya.

Menjelang senja baru Ki Arya Sidi bergabung duduk di pendapa bercerita tentang perkembangan para Sisyanya yang nampaknya sangat menggembirakan hatinya.

Sementara itu, jauh dari Padepokan Panca Agni disebuah Pura besar, tepatnya di Puri dalem besakih dua orang terlihat tengah berbicara.

Salah seorang dari keduanya telah kita kenal bernama Dewa Palaguna, seorang lagi nampak dari wajah dan pembawaannya yang penuh wibawa tidak lain adalah Raja penguasa Pura Besakih.

“Aku bercuriga bahwa anak muda itu sejatinya adalah utusan Singasari yang sengaja didatangkan untuk membuat kerusuhan di Balidwipa ini”, berkata Dewa palaguna.

“Anak muda itu telah mengalahkan Dewa Bakula”, berkata Raja Pura Besakih dengan wajah buram.

“Adikku Dewa Bakula memang terlalu bodoh dengan mempertaruhkan jabatan guru di Pura Indrakila kepada anak muda itu”, berkata Dewa Palaguna dengan wajah penuh geram.

“Kita masih punya sedikit waktu menjelang purnama untuk melenyapkan anak muda itu”, berkata Raja Pura Besakih kepada Dewa Palaguna yang tengah berpikir keras merancang sebuah muslihat besar.

———-oOo———-

SFBDBS 09-264

“Aku sudah menyiapkan sebuah perangkap untuk anak muda itu”, berkata Dewa Palaguna penuh semangat.

Sementara itu di tempat yang berbeda, di sebuah hutan lebat didalam sebuah goa yang cukup luas. Terlihat Raja Leak tengah bersama dengan beberapa pengikutnya yang setia.

“Mulai besok kalian harus sudah menyebar mengintai setiap gerakan yang bersumber dari Pura Besakih”, berkata Raja Leak yang tidak lain Ki Jaran Waha kepada pengikutnya.

“Kami penuhi perintah Paduka”, berkata salah seorang pengikutnya mewakili kawan-kawannya.

Demikianlah suasana menjelang purnama di pura Indrakila, Dewa Palaguna telah mempersiapkan segalanya, namun tidak menyadari bahwa segala kegiatannya telah dibayangi oleh para manusia Leak yang tersebar terus mengintai di sekitar pura Besakih.

Suasana yang semakin menghangat itu memang tidak terlihat di permukaan. Para saudagar masih seperti biasa berjalan dengan gerobak-gerobak dagangnya menyusuri jalan dan jalur perdagangan. Para petani masih seperti biasa menjelang panen telah berjaga sepanjang hari agar padinya tidak dimakan burung-burung.

Sementara itu kehidupan di Padepokan Panca Agni masih seperti sediakala, para Sisya penuh semangat berlatih. Ki Arya Sidi dengan sepenuh hati membimbing para Sisyanya. Kadang Mahesa Amping ikut memberikan beberapa petunjuk tambahan.

“Semoga perjalanan tuan selalu diberikan naungan keselamatan dari Sang Hyiang Widi”, berkata Ki Nyoman mewakili para Sisya ketika mereka melepas kepergian Ki Arya Sidi bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan berangkat ke Pura Indrakila.

“Berlatihlah terus, kalian tumpuan kelanggengan Pura Pusering Jagad”, berkata Ki Arya Sidi kepada keempat Sisyanya para Pangerang dari Pura Pusering Jagad.

Angin pagi bertiup dingin mengiringi perjalanan Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi. Terlihat mereka tengah menuruni Bukit Pejeng Gundul.

“Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Jaran Waha tentang Dewa Palaguna mungkin saja terjadi”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Kita memang perlu berhati-hati, tapi tidak membuat perjalanan kita menjadi susah”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.

Terlihat Ki Arya Sidi menarik nafas panjang, ia baru sadar bahwa kedua kawannya ini adalah orang-orang yang mumpuni sakti mandraguna. Jangankan sekumpulan gerombolan perampok, sepapan laskar prajurit pun tidak akan mudah mengalahkan mereka.

Ketika matahari mulai menyengat berdiri di puncak cakrawala, Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah sampai di sebuah Padukuhan dibawah bukit tempat Pura Indrakila berdiri.

Ketika Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah melewati regol gerbang padukuhan itu, mereka mendengar kentongan nada titir berbunyi sebagai tanda agar semua penduduk berkumpul segera karena situasi yang gawat darurat.

“Aku tidak melihat ada kebakaran di Padukuhan ini”, berkata Ki Arya Sidi merasa heran mendengar nada titir berbunyi.

“Berhenti !!!”, tiba-tiba saja telah menghadang didepan mereka puluhan lelaki.

“Apa salah kami?”, bertanya Empu Dangka dengan penuh ketenangan.

“Kalian penganut ilmu hitam yang kami cari”, berkata salah seorang yang terlihat seperti pimpinan dari semua orang yang ada menghadang.

“Kami tidak mengerti apa yang kalian katakan”, berkata Empu Dangka masih dengan penuh ketenangan.

“Kalian telah menyebar wabah ulat bulu ganas di sawah ladang kami, nampaknya kalian ingin melihat dari dekat hasil kerja kotor kalian kepada kami”, kembali orang yang seperti pemimpin itu berkata.

“Kalian pasti salah orang, hari ini kami baru datang di Padukuhan ini”, berkata Empu Dangka mencoba meluruskan masalah.

“Dukun Made Jakut tidak pernah berbohong!!”, berkata pemimpin mereka.

“Siapapun nama yang baru saja Kisanak sebut itu, pasti salah orang”, berkata Empu Dangka.

“Aku Made Jakut, tidak pernah salah orang”, berkata salah seorang dengan wajah hitam berbadan tegap yang tiba-tiba saja muncul dari kerumunan.

“Apa yang dapat kisanak buktikan bahwa kamilah orangnya”, berkata Empu Dangka yang sudah mulai mencurigai ada sesuatu yang terselubung dibalik semua ini.

“Aku sudah mengatakan kepada para penduduk di Padukuhan ini bahwa tiga orang penyebar wabah itu akan datang saat menjelang purnama”, berkata orang yang mengaku bernama Made Jakut itu.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat menarik nafas panjang, pikiran mereka sama bahwa ada yang mencoba memfitnah mereka.

“Pasti ini ulah Dewa Palaguna”, berbisik Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang berdiri disampingnya.

“Begitu liciknya Dewa Palaguna yang sengaja mengadu dada dengan para penduduk”, berkata Mahesa Amping perlahan kepada Ki Arya Sidi.

Ki Arya Sidi membenarkan apa yang dikatakan Mahesa Amping. Seandainya ada prajurit segelar sepapan dihadapan kedua sahabatnya ini mungkin tidak ada keraguan apapun dalam melakukan tindakan. Sementara itu yang mereka hadapi adalah para penduduk yang tengah marah terhasut sebuah fitnah yang menyesatkan.

———-oOo———-

SFBDBS 09-265

“Apa yang ingin kalian lakukan atas kami”, bertanya Empu Dangka kepada para penduduk yang menghadangnya.

“Kami akan mengikat dan membakar kalian sebagai tumbal mengusir wabah”, berkata Dukun Made Jakut.

“Bakar…!!!!”,

“Bakar….!!!”,

Berteriak sebagian penduduk sambil mengacungkan berbagai senjata mereka.

Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi benar-benar bertemu dengan jalan buntu, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Disaat kebuntuan dan teriakan para penduduk yang sepertinya tidak mudah dikendalikan lagi, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa panjang dan bergema dari segala penjuru.

“Akulah lelembut penguasa bumi ini”, terdengar suara di ujung tawanya yang juga keras dan bergema.

Sekejap para penduduk tidak lagi berteriak, terlihat wajah mereka nampak pucat penuh ketakutan.

“Wahai para pendududuk bumiku, dukun palsu itulah yang telah menyebarkan wabah kepada kalian”, terdengar kembali suara itu yang masih terdengar tinggi menggema.

“Tunjukkan dirimu, aku tidak takut!!!”, berteriak Dukun Made Jakut yang merasa dipojokkan meski dengan suara masih dihantui rasa takut namun dihadapan para penduduk yang selama ini mengandalkannya mencoba mengangkat dadanya.

Namun percobaan dari Dukun Made Jakut untuk mengumpulkan keberaniannya cukup sampai disitu, tiba-tiba saja sebuah batu kecil melejit dengan kecepatan yang sangat luar biasa persisis menghantam urat lehernya.

Ahhh….,

Hanya itu suara nafas tertahan dari Dukun Made Jakut yang bisa didengar, setelah itu terlihat tubuhnya jatuh lemas.

“Pergilah ke rumah Dukun palsu ini, dirumahnya masih banyak tersimpan bibit ulat bulu beracun yang siap ditebarkan di sawah ladang kalian”, berkata kembali suara yang masih tidak diketahui dari mana datangnya.

“Mari kita periksa rumah Dukun Made Jakut”, berkata pemimpin mereka yang mulai mempercayai sumber suara itu yang mengatakan sebagai lelembut penguasa bumi Padukuhan itu.

Maka terlihat berbondong-bondong para penduduk mengikuti langkah pemimpinnya menuju rumah Dukun Made Jakut.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masih diam ditempat tidak ikut bersama penduduk kerumah Dukun Made Jakut.

“He-he-heh”, terdengar suara dari sebuah semak belukar di sekitar pohon suren. Terlihat sosok badan tinggi besar dengan rambut lepas beriap.

“Sudah kuduga pasti ulah Si Raja Leak”, berkata Mahesa Amping tersenyum memandang orang yang baru datang dari gerumbulan semak belukar.

“Jarang-jarang lelembut keluar di siang bolong”, berkata Ki Arya Sidi menyambut orang yang baru datang yang memang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

“Yang jelas para penduduk mempercayainya”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

“Dukun palsu ini pasti orangnya Dewa Palaguna”, berkata Empu Dangka sambil menunjuk ke arah Dukun Made Jakut yang masih rebah pingsan.

Ketika mereka tengah mempercakapkan apa yang akan mereka lakukan atas diri Dukun Made Jakut, terdengar suara banyak langkah kaki menuju mereka.

“Ssst…, aku akan kembali berperan sebagai lelembut”, berkata Ki Jaran Waha sambil berlari masuk kedalam semak belukar.

“Kami telah menemukan banyak bibit ulat bulu beracun di rumah Dukun Made Jakut”, berkata pemimpin itu kepada Empu Dangka yang dipikir adalah orang yang dituakan diantara mereka bertiga.

“Apa yang dapat kalian lakukan untuk menawarkan ulat bulu beracun di sawah ladang kalian ?”, berkata Empu Dangka kepada pemimpin para penduduk.

“Mungkin memaksa Dukun Made jakut memberikan penawarnya”, berkata pemimpin para penduduk itu sambil menatap dukun Made jakut yang masih rebah.

“Tidak ada penawar ulat bulu beracun selain berharap datangnya hujan”, berkata Empu Dangka penuh keyakinan.

“Sayangnya saat ini masih musim kemarau”, berkata salah seorang dibelakang pemimpin itu.

“Kita tidak dapat mendatangkan hujan”, berkata pemimpin itu menatap penuh kekhawatiran kepada Empu Dangka, sepertinya wajahnya penuh dengan keputus asahan.

“Aku akan mendatangkan hujan”, berkata Mahesa Amping sambil maju kedepan berhadapan dengan para penduduk yang mendengarnya seperti tidak yakin atas apa yang dikatakannya.

“Mendatangkan hujan???”, keluar ucapan berulang-ulang dari beberapa penduduk yang menganggap Mahesa Amping bercanda belaka.

———-oOo———-

SFBDBS 09-266

Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan dari beberapa penduduk yang meragukannya, dengan langkah perlahan penuh ketenangan memisahkan diri menuju kesebuah tempat terpisah.

Terlihat Mahesa Amping telah duduk sempurna bersila. Air Wajah dan nafasnya begitu tenang slam perti patung Budha. Mahesa Amping memang telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya masuk dalam ketiadaan, alam kesunyatan.

Terperanjat para penduduk ketika menyaksikan sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa Amping.

Asap tipis itu terlihat keluar semakin melebar menyelimuti tubuh Mahesa Amping. Dan terus melebar semakin membesar, meluas dan semakin menebal membentuk sebuah kabut putih.

Seluruh pandangan mata siapa yang ada dipadukuhan itu tidak dapat lagi menembus kabut yang telah diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa.

Seluruh dan seluas tanah Padukuhan itu telah diliputi kabut putih yang tebal !!!!!!

Dan apa yang terjadi selanjutnya?

Kabut putih yang tebal itu perlahan naik keudara sebagaimana layaknya membentuk gumpalan awan terbang semakin meninggi.

Seluruh tanah Padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup terhalang awan putih ciptaan kekuatan ilmu Mahesa Amping.

Wuutttttttt….,

Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping meluncur menembus kabut awan putih.

Ternyata hentakan Mahesa Amping adalah sebuah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Dan kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.

Wuuutttttttt……….,

Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya ke arah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur kebumi.

Luar biasa !!!!!!!!!

Gumpalan batu es yang sangat besar telah hancur berkeping-keping luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.

Hujannn……!!!!

Hujannn…….!!!!

Berteriak seluruh penduduk bergembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi Padukuhan. Seluruhnya termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun.

Para penduduk sepertinya tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka semua terlihat berlari menuju sawah ladang masing-masing. Bukan main gembiranya ketika menyaksikan sendiri bahwa ulat bulu beracun telah hilang hanyut terbawa air mengalir.

Terlihat berbondong-bondong mereka kembali ketempat semula dimana Mahesa Amping masih duduk bersila sempurna.

“Terima kasih wahai Manusia Dewa”, berkata beberapa penduduk sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

Sementara itu hujan terlihat sudah semakin surut dan akhirnya telah berhenti tiris. Perlahan Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya.

Mahesa Amping tersenyum melihat beberapa penduduk tengah bersujud dihadapannya.

“Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyiang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian juga”, berkata Mahesa Amping sambil meminta beberapa penduduk untuk bangkit berdiri.

Pemimpin mereka terlihat mendekati Mahesa Amping yang sudah bangkit berdiri.

“Terima kasih, tuan telah menyelamatkan kehidupan kami”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping.

“Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara”, berkata Mahesa Amping.

“Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap tuan”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang juga datang mendekat.

“Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini”, berkata Empu Dangka.

“Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk disini biasa memanggilku Ki Buyut”, berkata pemimpin itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Ki Buyut.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan dirinya, mereka tanpa sungkan lagi langsung menyampaikan arah tujuan mereka yaitu ke Pura Indrakila.

“Ternyata tuan bertiga adalah para tamu agung Pemilik Pura Indrakila”, berkata Ki Buyut penuh kekaguman mengetahui bahwa ketiga orang dihadapannya hendak mengunjungi Pura Indrakila.” Hari sudah diujung senja, sebuah kehormatan bila saja tuan-tuan sudi beristirahat di tempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh santun.

“Hari memang akan segera gelap, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam”, berkata Ki Arya Sidi.

———-oOo———-

SFBDBS 09-267

Sebuah kehormatan menjamu tuan-tuan bermalam di tempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh kegembiraan.

Terlihat Ki Buyut berbicara dengan salah seorang penduduk, sepertinya sebuah perintah untuk menyiapkan beberapa hal untuk tamu-tamu kehormatannya.

“Mari kita berjalan menuju rumahku”, berkata Ki Buyut setelah menghampiri Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi.

Maka berjalanlah mereka bersama menuju kerumah Ki Buyut.

“Dua hari lagi kami akan panen raya”, berkata Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah disepanjang jalan menuju rumahnya.

Ternyata rumah Ki Buyut terlihat sangat mencolok diantara rumah-rumah yang ada, terutama dalam ukuran besarnya. Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Buyut, mereka menemui seorang yang ternyata orang kepercayaan Ki Buyut untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu-tamunya.

“Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita”, berkata orang itu kepada Ki Buyut perlahan penuh kesopanan layaknya seorang bawahan.

“Beristirahatlah”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih.

Setelah bergantian ke pringgitan, terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi duduk bersama di teras depan berupa saung yang besar.

“Mudah-mudahan masakan simbok berkenan dilidah tuan-tuan”, berkata Ki Buyut sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Terima kasih, jadi merepotkan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut.

“Kami tidak repot, sebaliknya kami meresa terhormat tuan-tuan bersedia bermalam disini”, berkata Ki Buyut penuh senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rata sebagaimana umumnya asli Bali.

Sementara itu langit diatas rumah Ki Buyut sudah terlihat semakin gelap, purnama bulat penuh berdiri diatas pohon kemboja kuning yang tumbuh di halaman rumah Ki Buyut.

Suasana di rumah Ki Buyut menjadi begitu hangat, ternyata Ki Buyut adalah seorang yang pandai bercerita. Maka saling bersambutlah cerita mereka silih berganti seperti tidak berujung berganti pangkal dan pokok pembicaraan, mulai dari panen raya sampai kehalusan orang Bali membuat sebuah keris dan berlanjut kemasalah sukar tidurnya Ki Buyut yang terganggu setiap malam karena cucunya yang baru berumur belum sepekan sering menangis dimalam hari.

Sementara itu langit malam dikediaman Ki Buyut telah semakin larut, rembulan telah lama bergeser surut. Wajah keremangan malam yang teduh hanya mendengarkan suara kesunyiannya.

“Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu”, berkata Ki Buyut sambil mengingatkan tamunya untuk beristirahat.

Akhirnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Di sisa malam itu cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering kadang terdengar adalah suara burung tekukur milik Ki Buyut yang sekali-sekali berbunyi dikesunyian malam.

Mahesa Amping lah yang bangun pertama, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

“Mari kita keluar”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi mengajak keluar dari bilik kamar.

“Hari masih begitu pagi”, berkata Ki Arya Sidi memandang langit pagi yang masih gelap.

“Ternyata tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi”, berkata Ki Buyut yang baru saja keluar dari pringgitan.

“Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut yang sudah duduk bergabung bersama.

“Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya.

“Di kesempatan lain waktu saja”, berkata Empu Dangka kepada Ki Buyut yang akhirnya tidak dapat memaksa tamu-tamunya yang untuk lebih lama di rumahnya.

Ketika matahari pagi telah bersembul di ujung timur hamparan sawah yang telah menghijau. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat telah keluar dari rumah Ki Buyut.

Terlihat pandangan Ki Buyut mengiringi langkah kaki tamu-tamunya yang semakin lama menjauh dan hilang disebuah tikungan jalan. Jarak Pura Indrakila dari Kabuyutan tempat mereka bermalam memang tidak lagi begitu jauh. Sementara jalan yang mereka lalui memang agak menanjak karena Pura Indrakila berada dipuncak sebuah bukit.

Ketika matahari pagi semakin menaik, mereka sudah dapat melihat pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan.

“Apakah tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni?”, berkata seorang penjaga kepada mereka bertiga.
“Benar, kami dari Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

———-oOo———-

SFBDBS 09-268

Bersambung ke jilid 11

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2012 at 04:45  Comments (461)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

461 KomentarTinggalkan komentar

  1. hahahaha, … ternyata mahisa amping senang “berguyon” toh, …

  2. Mahesa Amping tidak menanggapi ucapan dari beberapa penduduk yang meragukannya, dengan langkah perlahan penuh ketenangan memisahkan diri menuju kesebuah tempat terpisah.

    Terlihat Mahesa Amping telah duduk sempurna bersila. Air Wajah dan nafasnya begitu tenang slam perti patung Budha. Mahesa Amping memang telah masuk dalam semedinya, memusatkan segala nalar dan budinya masuk dalam ketiadaan, alam kesunyatan.

    Terperanjat para penduduk ketika menyaksikan sebuah asap tipis keluar dari ubun-ubun Mahesa Amping.

    Asap tipis itu terlihat keluar semakin melebar menyelimuti tubuh Mahesa Amping. Dan terus melebar semakin membesar, meluas dan semakin menebal membentuk sebuah kabut putih.

    Seluruh pandangan mata siapan yang ada dipadukuhan itu tidak dapat lagi menembus kabut yang telah diciptakan oleh kekuatan ilmu Mahesa Amping yang luar biasa.

    Seluruh dan seluas tanah Padukuhan itu telah diliputi kabut putih yang tebal !!!!!!

    Dan apa yang terjadi selanjutnya ?

    Kabut putih yang tebal itu perlahan naik keudara sebagaimana layaknya membentuk gumpalan awan terbang semakin meninggi.

    Seluruh tanah Padukuhan seketika menjadi teduh. Mentari sore yang sudah redup menjadi semakin redup terhalang awan putih ciptaan kekuatan ilmu Mahesa Amping.

    Wuutttttttt….,

    Sebuah hentakan terlihat keluar dari kedua tangan Mahesa Amping meluncur menembus kabut awan putih.

    Ternyata hentakan Mahesa Amping adalah sebuah kekuatan hawa inti es yang luar biasa dinginnya. Dan kabut awan seketika berubah menjadi sekumpulan batu es salju yang sangat besar.

    Wuuutttttttt……….,

    Kembali Mahesa Amping menghentakkan kedua tangannya kearah gumpalan batu es salju yang tengah meluncur kebumi.

    Luar biasa !!!!!!!!!

    Gumpalan batu es yang sangat besar telah hancur berkeping-keping luluh menjadi air hujan yang turun bagai air bah tercurah dari langit.

    Hujannn……!!!!

    Hujannn…….!!!!

    Berteriak seluruh penduduk bergembira menyaksikan hujan mengguyur seluruh bumi Padukuhan. Seluruhnya termasuk sawah ladang mereka yang terkena wabah ulat bulu beracun.

    • hmmmm, semakin sakti saja Mahesa Amping ini
      matur suwun

  3. Sebenarnya Mahesa Amping telah menawarkan “kebisaannya” itu untuk Tomcat.
    Tapi terlalu banyak izin dan prosedur……males dech….,hehehe 1000X

    • ijinkan Mahesa Amping, pake gaya mBELING pak Dalang….hadir
      tanpa di undang….pulang setelah tugas terSELESAIkan.

      HIKSSS,

      • sugeng enjang kadang padepokan sadaya,

        pak DALANGe…..matur nuwun, yerima kasih

  4. selamat siang, hadir, monitor wedaran lagi

  5. tes……tes,

    • hikss, isih durung lancar…..pake ID lama (isih mbuleeet)

  6. Coba Mahisa Amping ikut demo BBM,
    wah jan mesti gayeng tenan.

    Hadir…………
    sugeng dalu katur para kadang sedaya.

  7. Para penduduk sepertinya tidak menghiraukan tubuh dan pakaian mereka yang basah kuyup. Mereka semua terlihat berlari menuju sawah ladang masing-masing. Bukan main gembiranya ketika menyaksikan sendiri bahwa ulat bulu beracun telah hilang hanyut terbawa air mengalir.

    Terlihat berbondong-bondong mereka kembali ketempat semula dimana Mahesa Amping masih duduk bersila sempurna.

    “Terima kasih wahai Manusia Dewa”, berkata beberapa penduduk sambil bersujud dihadapan Mahesa Amping.

    Sementara itu hujan terlihat sudah semakin surut dan akhirnya telah berhenti tiris. Perlahan Mahesa Amping membuka kedua kelopak matanya.

    Mahesa Amping tersenyum melihat beberapa penduduk tengah bersujud dihadapannya.

    “Bangunlah, aku tidak pantas disembah. Semua berkat karunia Sang Hyiang Gusti yang Maha Pengasih, juga berkat doa kalian juga”, berkata Mahesa Amping sambil meminta beberapa penduduk untuk bangkit berdiri.

    Pemimpin mereka terlihat mendekati Mahesa Amping yang sudah bangkit berdiri.

    “Terima kasih, tuan telah menyelamatkan kehidupan kami”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping.

    “Berterima kasihlah kepada Gusti Yang Maha Pengasih, sementara diriku hanya sebatas perantara”, berkata Mahesa Amping.

    “Kami mohon maaf atas segala perlakuan buruk terhadap tuan”, berkata pemimpin itu kepada Mahesa Amping, juga kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi yang juga datang mendekat.

    “Siapapun dapat berbuat khilaf menghadapi suasana musibah wabah seperti ini”, berkata Empu Dangka.

    “Namaku Nyoman Atmaya, para penduduk disini biasa memanggilku Ki Buyut”, berkata pemimpin itu yang memperkenalkan dirinya sebagai Ki Buyut.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi berganti memperkenalkan dirinya, mereka tanpa sungkan lagi langsung menyampaikan arah tujuan mereka yaitu ke Pura Indrakila.

    “Ternyata tuan bertiga adalah para tamu agung Pemilik Pura Indrakila”, berkata Ki Buyut penuh kekaguman mengetahui bahwa ketiga orang dihadapannya hendak mengunjungi Pura Indrakila.” Hari sudah diujung senja, sebuah kehormatan bila saja tuan-tuan sudi beristirahat ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh santun.

    “Hari memang akan segera gelab, asal tidak merepotkan kalian, kami akan bermalam”, berkata Ki Arya Sidi.

    • kamsiaaaa………………..

      • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

        • kamsssiiiaaaaaaa….!!!!!

          • Kamsia.

  8. kamsiaaaa………………..

    • sami2 ki…….genk dalu,

  9. Sebuah kehormatan menjamu tuan-tuan bermalam ditempat kami”, berkata kembali Ki Buyut penuh kegembiraan .

    Terlihat Ki Buyut berbicara dengan salah seorang penduduk, sepertinya sebuah perintah untuk menyiapkan beberapa hal untuk tamu-tamu kehormatannya.

    “Mari kita berjalan menuju rumahku”, berkata Ki Buyut setelah menghampiri Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi.
    Maka berjalanlah mereka bersama menuju kerumah Ki Buyut.

    “Dua hari lagi kami akan panen raya”, berkata Ki Buyut sambil memandang hamparan sawah disepanjang jalan menuju rumahnya.

    Ternyata rumah Ki Buyut terlihat sangat mencolok diantara rumah-rumah yang ada, terutama dalam ukuran besarnya.

    Ketika mereka memasuki regol rumah Ki Buyut, mereka menemui seorang yang ternyata orang kepercayaan Ki Buyut untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk tamu-tamunya.

    “Nyi Buyut sudah kuberitahukan tentang kedatangan tamu-tamu kita”, berkata orang itu kepada Ki Buyut perlahan penuh kesopanan layaknya seorang bawahan.

    “Beristirahatlah”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya sambil menunjukkan letak pringgitan untuk bersih-bersih.

    Setelah bergantian ke pringgitan, terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi duduk bersama di teras depan berupa saung yang besar.

    “Mudah-mudahan masakan simbok berkenan dilidah tuan-tuan”, berkata Ki Buyut sambil mempersilahkan tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

    “Terima kasih, jadi merepotkan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut.

    “Kami tidak repot, sebaliknya kami meresa terhormat tuan-tuan bersedia bermalam disini”, berkata Ki Buyut penuh senyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rata sebagaimana umumnya asli Bali.

    Sementara itu langit diatas rumah Ki Buyut sudah terlihat semakin gelap, purnama bulat penuh berdiri diatas pohon kemboja kuning yang tumbuh dihalaman rumah Ki Buyut.

    Suasana di rumah Ki Buyut menjadi begitu hangat, ternyata Ki Buyut adalah seorang yang pandai bercerita. Maka saling bersambutlah cerita mereka silih berganti seperti tidak berujung berganti pangkal dan pokok pembicaraan, mulai dari panen raya sampai kehalusan orang Bali membuat sebuah keris dan berlanjut kemasalah sukar tidurnya Ki Buyut yang terganggu setiap malam karena cucunya yang baru berumur belum sepekan sering menangis dimalam hari.

    • kamsia….pak DALANGe,

      hadir mendhisiKi pak Gembleh seorang,

      • pak Dhalang…………
        neng mBali, si mBok itu artinya mBak lho.

        • Kamssiiiiaaaaa pak Dhalang.

  10. selamat siang, kamsiiaaaaaa

    • sami2,

      sugeng dalu kadang padepokan SADAYAnya

      • nuwun sewu sadaya……kulo bablas tanpo pamit pak DALANG, mblayu terbirit-birit ning blumbang sebelah

        • mangga……mangga……..
          jangan lupa mlumpat mBlumbange sambil
          jongkok mundur, percis si Karebet.

  11. Selamat malam Kadhang sadayana,
    Ba’da isya ngantuk berat langsung bablas tidur………….

  12. sugeng siang…………………………

  13. HADIR

    • (tetep dengan gaya bang Haji)……meNUNGGU,

  14. Sementara itu langit malam dikediaman Ki Buyut telah semakin larut, rembulan telah lama bergeser surut. Wajah keremangan malam yang teduh hanya mendengarkan suara kesunyiannya.

    “Maaf, bila sudah bicara aku memang suka lupa waktu”, berkata Ki Buyut sambil mengingatkan tamunya untuk beristirahat.

    Akhirnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masuk ke bilik yang telah disediakan. Disisa malam itu cucu Ki Buyut sama sekali tidak terbangun menangis. Yang sering kadang terdengar adalah suara burung tekukur milik Ki Buyut yang sekali-sekali berbunyi dikesunyian malam.

    Mahesa Amping – lah yang bangun pertama, menyusul Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

    “Mari kita keluar”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Ki Arya Sidi mengajak keluar dari bilik kamar.

    “Hari masih begitu pagi”, berkata Ki Arya Sidi memandang langit pagi yang masih gelap.

    “Ternyata tuan-tuan sudah lebih dulu bangun pagi”, berkata Ki Buyut yang baru saja keluar dari pringgitan.

    “Tidur kami sangat nyenyak di rumah Ki Buyut”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki Buyut yang sudah duduk bergabung bersama.

    “Hari ini kami akan melaksanakan Tajen, kuharap kalian dapat menyaksikannya”, berkata Ki Buyut kepada tamu-tamunya.

    “Dikesempatan lain waktu saja”, berkata Empu Dangka kepada Ki Buyut yang akhirnya tidak dapat memaksa tamu-tamunya yang untuk lebih lama di rumahnya.

    Ketika matahari pagi telah bersembul diujung timur hamparan sawah yang telah menghijau. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat telah keluar dari rumah Ki Buyut.

    Terlihat pandangan Ki Buyut mengiringi langkah kaki tamu-tamunya yang semakin lama menjauh dan hilang disebuah tikungan jalan.
    Jarak Pura Indrakila dari Kabuyutan tempat mereka bermalam memang tidak lagi begitu jauh. Sementara jalan yang mereka lalui memang agak menanjak karena Pura Indrakila berada dipuncak sebuah bukit.

    Ketika matahari pagi semakin menaik, mereka sudah dapat melihat pura Indrakila berdiri megah dari kejauhan.

    “Apakah tuan-tuan berasal dari Padepokan Panca Agni ?”, berkata seorang penjaga kepada mereka bertiga.
    “Benar, kami dari Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi.

    • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
      mendhisiki pak Satpam

      • Kamssiiiaaaaaaaaa……………!!!!!!!
        matur nuwun

  15. pak Dhalang…….ini malem akan ada wedaran gak….?????

    Hadir……..!!!!!!!

    • kelihatannya tidak ada ki, …
      lebih baik begitu, besok saja diwedar 5-6 sekaligus, …
      hihihihi, …. !!!!

      • hihihihi, ….
        isih durung padang bulan, dadi rung diwedar

  16. hup…..,
    selamat malam kadank sedoyo,

    • selamat pagi…..
      Mahisa Amping sedang kecepekan rupanya, sehingga tidak meneruskan perjalanannya
      hihihihi, …. !!!!

      • hadu……
        lupa ganti baju….

        • Asal tidak lupa ganti…clana ! 😀

  17. “Ternyata tuan-tuan adalah tamu yang tengah kami nantikan”, berkata penjaga itu sambil mengajak Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi menemui Dewa Bakula.“Kita langsung ke Bale Guru”, berkata kembali penjaga itu.

    Pura Indrakila memang cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah. Sambil berjalan penjaga itu memberikan penjelasan tentang beberapa tempat. Suasana di sekitar Pura Indrakila terlihat tertata apik dan sangat asri.

    “Selamat datang di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula menyambut kedatangan para tamunya di pendapa Bale Guru.

    Mahesa Amping, Empu Dangka maupun Ki Arya Sidi sangat merasa heran melihat perubahan sikap dari Dewa Bakula yang terkesan sangat tidak sombong lagi sebagaimana yang mereka kenal sebelumnya.

    “hari ini adalah hari terakhirku di Balidwipa, besok aku akan kembali ke Tanah Hindu”, berkata Dewa Bakula setelah para tamunya telah duduk bersamanya di pendapa.

    “Apakah karena adanya perjanjian diantara kita,maka tuan pendeta kembali ke Tanah Hindu?”, bertanya Mahesa Amping kepada Dewa Bakula. “Kalau memang karena itu sebabnya, aku dapat melepas perjanjian yang telah kita tetapkan.

    “Bukan itu anak muda”, berkata Dewa Bakula dengan wajah penuh senyum. “Meski kekalahanku itu telah memberikan diriku banyak pelajaran, diantaranya adalah berpikir jernih tentang keberadaan kami para pendeta dari Tanah Hindu ini”, berkata Dewa Bakula melanjutkan perkataannya.

    “Tuan Pendeta telah menemukan dan membedakan kepamrihan, aku berdoa untuk kemerdekaan jiwa tuan yang tengah memasuki alam Tatwa selanjutnya”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi pernyataan dari Dewa Bakula

    “Teria kasih”, berkata Dewa Bakula sambil menjura.

    Namun ketika mereka asyik bercakap-cakap, datanglah seorang penjaga sambil membawa sebuah anak panah yang patah, simbol sebuah tantangan.

    “Seseorang memintaku memberikannya kepada salah seorang diantara tuan-tuan yang bernama Mahesa Amping. Pesannya akan ditunggu kehadirannya di bukit Sembul nanti malam”, berkata penjaga itu.

    Terlihat Dewa Bakula menarik nafas panjang.

    “Maafkan saudara tuaku Dewa Palakuna, ternyata dirinya tidak bisa menerima kekalahanku”, berkata Dewa Bakula yang sudah menduga bahwa tantangan itu berasal dari Dewa Palaguna.

    “Gusti yang Maha Pengasih telah memberikan keluasan ilmunya dalam berbagai tingkat yang berbeda kepada setiap jiwa manusia yang terlahir, perbedaan itulah sebagai sarana kita saling mengenal dan untuk dapat bermawas diri”, berkata Empu Dangka.

  18. “Terima kasih, bahagia aku berada diantara kalian yang ternyata telah melihat cakrawala alam Tattwa yang luas tak terhingga”, berkata Dewa Bakula kembali menjura.

    “Apakah tuan pendeta akan ikut bersama kami ke Bukit Sembul ?”, bertanya Ki Arya Sidi yang sedari awal tidak banyak cakap.

    “Aku akan datang mengantar kalian ke Bukit Sembul”, berkata Dewa Bakula dengan penuh kepastian.

    Tidak terasa hari telah terlihat menjelang sore, matahari dibatas barat bumi tengah memancarkan cahayanya yang lembut. Dan awan di cakrawala langit Pura Indrakila nampaknya begitu putih bersih. Tanaman bunga dan rumput hijau di halaman Bale Guru yang tertata asri seperti tengah menari bersenandung mandi kehangatan dan kelembutan cahaya matahari sore.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi nampaknya tengah menikmati keindahan suasana di Bale Guru itu.
    “Sebelum ke Bukit Sembul, kita singgah ke Puri Dalem. Baginda Raja Indrakila telah merestui semua keputusanku, aku akan memperkenalkan dirimu kepadanya”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

    “Terima kasih memperkenalkan diriku kepada Penguasa Pura Indrakila ini”, berkata Mahesa Amping perlahan.

    Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, Dewa Bakula telah meminta Mahesa Amping datang bersamanya ke Puri Dalem menghadap Baginda Raja Indrakila.

    “kami menunggu di pendapa ini”, berkata Empu Dangka kepada Dewa

    Bakula dan Mahesa Amping yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru hendak menghadap Raja Indrakila di Puri Dalem.
    Ki Arya Sidi dan Empu Dangka mengiringi langkah Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang terlihat tengah berjalan menyusuri jalan setapak dan menghilang disebuah tikungan jalan.

    “Kehadiran Mahesa Amping adalah sebuah anugerah yang besar bagi Pura Indrakila”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dipendapa Bale Guru. Sepertinya berusaha mengisi kesunyian sejak ditinggal Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang tengah menghadap di Puri Dalem astana Raja Indrakila.

    “Sebagaimana kehadirannya di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

    Sementara itu waktu terus berlalu, matahari di atas langit Bale Guru Pura Indrakila telah bergeser semakin surut. Tanaman bunga dan rumput hijau yang tertata asri dihalaman Bale Guru nampaknya telah lelah menari dan bersenandung. Bunga Soka kuning di pojok halaman nampak buram tidak tersinar matahari lagi, pucuk-pucuk rumput hijau terlihat merunduk menanti senja yang akan datang mengunjungi.

    “Hari telah menjelang senja”, berkata Empu Dangka sambi pandangannya menyapu halaman Bale Guru.

    • matur nuwun atas rontalnya yang datang beruntun, … !!!

  19. Alhamdullilah……..akhirnya air mulai surut

    Mudah-mudahan malem ini enggak ada tambahan hujan air….diganti dengan hujan rontalllllllll

    • Setujuuuuu….!!

  20. “Akhirnya mereka telah kembali”, berkata Empu Dangka yang melihat Mahesa Amping dan Dewa Bakula muncul dari sebuah tikungan jalan setapak.

    “Bukit Sembul tidak jauh, kita berangkat menjelang senja berakhir”, berkata Dewa Bakula yang telah duduk bersama di pendapa Bale Guru menyampaikan kapan waktunya berangkat ke Bukit Sembul.
    Bukit Sembul memang tidak begitu jauh dari Pura Indrakila. Diatas puncak bukitnya ada sebuah tanah lapang yang luas. Para Sisya Pura Indrakila pada hari-hari tertentu biasa menggunakannya sebagai sanggar terbuka.

    Ketika senja berakhir, terlihat empat orang lelaki menuruni tangga pendapa Bale Guru. Purnama tak sabar mengintip diantara rimbunan pohon-pohon kayu besar yang tumbuh di beberapa tempat di Pura Indrakila. Suasana diujung senja itu begitu bening dan teduh.

    Kempat lelaki itu tidak keluar lewat regol pintu depan Pura Indrakila, tapi berjalan kearah timur dari Bale Guru memasuki hutan kecil yang tidak begitu lebat. Tidak begitu lama mereka akhirnya telah tiba di Bukit Sembul tengah menaiki sebuah gumuk kecil dan akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit sembul yang tenyata adalah sebuah padang rumput yang lapang.

    Benderang cahaya bulat bulan purnama telah menerangi tanah lapang itu. Terlihat seorang yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang terurai berdiri menyambut kedatangan mereka.

    “Lama aku menunggu kedatangan kalian”, berkata orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

    “Bila ada Raja Leak, pasti amanlah kita”, berkata Ki Arya Sidi merasa gembira bertemu kembali dengan saudara angkatnya itu.

    “Jangan khawatir, para pengikutku telah siap menjalankan tugasnya berjaga-jaga”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyumnya yang mengembang.

    Sementara itu bulan purnama bulat telah bergeser terus kepuncak cakrawala langit malam. Taburan jutaan bintang menambah keindahan suasana diatas puncak Bukit Sembul.

    Akhirnya yang mereka nantikan datang juga. Dari sisi lain terlihat dua orang muncul dalam bayang tersamar terus mendekati mereka.

    Semakin nampak jelas siapa gerangan yang mendekati mereka.

    Ternyata adalah Dewa Palaguna bersama seseorang yang terlihat sudah begitu tua terlihat dari kerut-kerut wajahnya yang mulai kendur.

    “Guru !!!”, berkata Dewa Bakula sambil menjatuhkan dirinya bersujud dihadapan seorang yang datang bersama Dewa Palaguna

    “Bangkitlah Bakula, aku ingin berkenalan dengan orang yang telah mengalahkanku”, berkata orang itu kepada Dewa Bakula.

    Dewa Bakula bangkit berdiri dengan wajah penuh keraguan.

    • Ditunggu hujan rontalnya,
      Kamsiaaaa….

  21. kalimat terakhir maksudnya …….yang telah mengalahkanmu”

  22. horeeeeee, kamsiiiiiaaaa
    tunggu wedaran berikutnya

  23. SFBDBS-10 sudah dibundel

    monggo…., jagongan pindah ke SFBDBS-11 yang sudah dibuka.

    risang/satpam

  24. “Aku bertanding dengan adil, aku sudah menerima kekalahanku dengan wajar. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi”, berkata Dewa Bakula dengan wajah masih penuh keraguan apa kiranya yang akan dilakukan guru dan saudara tuanya itu.

    “Kamu boleh menerima kekalahan itu, tapi aku belum dapat menerimanya”, berkata Dewa Palaguna kepada Dewa Bakula dengan suara lantang sepertinya menyalahkan dan meremehkan Dewa Bakula yang mudah menyerah.

    “Aku sependapat dengan saudara tuamu, menyingkirlah”, berkata orang tua yang dipanggil guru itu kepada Dewa Bakula.

    “Aku mendengar ada yang ingin berkenalan denganku”, berkata Mahesa Amping maju menghadap orang tua itu dengan menjura penuh hormat.

    “Ternyata kamu memang masih muda belia”, berkata orang tua memandang Mahesa Amping dari ujung kaki sampai keatas kepala.”Perkenalkan namaku Aanjav, aku sudah mendengar tentang dirimu lewat muridku Palaguna”, berkata orang itu sambil menatap Mahesa Amping dengan matanya yang begitu tajam sepertinya ingin menelisik kemampuan Mahesa Amping.

    Tapi Mahesa Amping bukan anak muda sembarangan, kilatan cahaya mata Aanjav yang tajam itu seperti menembus sebuah samudra yang dalam.

    Terkejut Aanjav merasakan tabrakan tatapan mata Mahesa Amping.

    “Muridku telah kamu kalahkan, biarlah aku yang tua ini mencoba mengenal beberapa jurus darimu”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping.

    “Hanya untuk mengenal beberapa jurus, bukan sebuah pertandingan hidup mati”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

    “Tapi jangan salahkan diriku bila ada yang mati”, berkata Aanjav penuh percaya diri.

    “Aku telah siap, maksudnya………bukan siap mati”, berkata mahesa Amping dengan senyum dikulum.

    “Tataplah purnama diatas langit sepuasnya, besok mungkin kamu sudah tidak dapat lagi memandangnya”, berkata Aanjav yang kurang senang dengan gurauan Mahesa Amping.

    “Hari ini aku telah menatap rembulan, bila besok tidak lagi menatap rembulan, itu artinya aku tertidur disore hari”, berkata Mahesa Amping tidak menghiraukan orang tua dihadapannya yang tidak suka bergurau.

    “Aku tahu bahwa kamu tengah mengungkit kemarahanku, apapun ucapanmu tidak akan mempengaruhiku”, berkata Aanjav dengan mata yang tajam sepertnya telah dapat membaca arah pikiran dari Mahesa Amping.

    “Aku tidak bermaksud apapun, hanya sekedar merenggangkan ketegangan”berkata Mahesa Amping masih dengan kepercayaannya dirinya yang tinggi.

    • lha…….
      kebablasan Ki…
      tidak apa-apa nanti saya pindahkan
      sudah bisa pindah ke gandok 11


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: