SFBDBS-10

<<kembali ke SFBdBS_09 | lanjut ke SFBdBS-11 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 29 Januari 2012 at 04:45  Comments (461)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

461 KomentarTinggalkan komentar

  1. Selamat malam kadang sedoyo,

    Minggu lalu “begadang” ditengah sawah
    Minggu ini dua hari “garap” kolam ikan hias (capenya ngaduk semen)

    —-siapakah yang “nraktir” makanan mereka di kedai ????

    • Lha…., kok malah ada kuis
      hadu……
      ada pilihan gak Ki
      misalnya:
      a. Dewa Bakula
      b. Murid/suruhan Dewa Bakula
      c. Raja Leak (siapa tu namanya, lupa.., he he he..)
      d. dll

  2. Akhirnya dengan penuh tanda tanya yang masih mengisi di kepala, mereka bertiga keluar dari kedai.

    Namun belum lagi mereka bertiga melangkah jauh dari kedai itu, seorang pemuda datang menghampiri mereka.

    “Maaf, ternyata kehadiran kalian disini telah membawa berkah untukku, seseorang telah memberikan kepadaku upah yang cukup hanya sekedar menyampaikan sebuah pesan kepada kalian”, berkata pemuda itu.

    “Pesan ?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada pemuda itu.
    “Orang itu hanya berpesan bahwa kalian ditunggu dibalik gumuk diujung jalan ini”, berkata pemuda itu yang langsung menjura penuh hormat meninggalkan Ki Arya Sidi, Empu Dangka dan Mahesa Amping yang termangu, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

    “Apakah orang yang berpesan itu satu orang dengan yang membayar makanan kita dikedai ?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    “Mari kita menuju kebalik gumuk itu, mungkin jawabannya ada disana”, berkata Empu Dangka.

    Terlimat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah berjalan kearah sebuah gumuk yang ditunjukkan oleh pemuda tadi.

    Untuk mencapai gumuk itu memang ada jalan lurus dari pasar. Ketika mereka melewati jalan lurus itu, mereka dapat merasakan bahwa jalan itu sangat jarang dilalui oleh orang, terlihat rumput-rumput liar tumbuh segar disepanjang jalan tidak pernah terinjak. Akhirnya mereka telah sampai diujung jalan yang buntu dibawah gumuk. Tanpa kecurigaan apapun mereka langsung menapaki gumuk itu yang dipenuhi oleh rumput dan ilalang liar.

    Ketika mereka sampai diatas gumuk, betapa kagetnya Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi melihat sepuluh mayat bergelimpangan tidak berdaya. Dari pakaiannya dapat ditandai bahwa mereka adalah pasukan pengawal sebuah Pura. Kesepuluh mayat itu terlihat membawa busur dan anak panah lengkap .

    Kening mereka bertambah berkerut manakala dihadapan mereka terlihat dua orang tengah adu tanding. Seorang terlihat bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Sementara lawan lainnya dapat diduga sebagai seorang pendeta, terlihat dari jubah pendeta yang dikenakannya.

    “Bukankah itu Ki Jaran Waha ?”, berkata Mahesa Amping yang mengenali salah satu orang yang tengah bertempur.

    “Benar, itu saudara kita Pemimpin Leak Balidwipa”, berkata Ki Arya Sidi yang juga telah melihat dan mengenali siapa salah satu yang tengah bertempur dengan sengitnya.

    “Akhirnya kalian telah datang”, berkata Ki Jaran Waha sambil menghindari sabetan tongkat lawannya dan langsung melenting mendekati Mahesa Amping, Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

    • he he he …..
      kamsiiaaa………………………
      (meskipun kuisnya belum terjawab

  3. horeee,, kamsiiiaaaaaa

    • kamsiaaaa juga , horeeeeee……..

  4. hmm……….
    nguantuke puoolll………………
    pamit ah….

  5. Hadir………….
    Selamat malam.

  6. selamat malam, dan selamat menanti

    • hore………….
      selamat menanti dan selamat malam.

  7. “Orang ini bermaksud mencelakaimu, saudaraku”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

    Mahesa Amping masih belum dapat mengerti, bagaimana mungkin orang didepannya yang sama sekali belum dikenalnya telah bermaksud untuk mencekai dirinya.

    “Tuan Pendeta, kita belum pernah bertemu. Kesalahan apa dariku sehingga dirimu bermaksud mencelakai aku ?”, bertanya Mahesa Amping kepada seorang berjubah pendeta.

    “Asal kau ketahui, aku saudara tua Dewa Bakula yang pernah kau kalahkan”, berkata orang itu.

    “kami bertanding dengan adil, apakah Dewa Bakula tidak menceritakannya kepada tuan Pendeta ?”, bertanya kembali Mahesa Amping kepada orang itu.

    “Begitu mudahnya Dewa Bakula kalah olehmu, itulah yang aku tidak percayai, pasti kalian telah berbuat curang”, berkata orang itu.

    “Percaya atau tidak, adalah hak tuan pendeta”, berkata Mahesa Amping yang merasa tersinggung dikatakan telah berbuat curang.

    “Namaku Dewa Palaguna, purnama depan kutunggu dirimu di Pura Indrakila”, berkata orang itu yang mengaku bernama Dewa Palaguna.

    “Mengapa harus di pura Indrakila ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Agar ada saksi bahwa dirimu belum mampu menjadi guru di Pura Indrakila”, berkata Dewa Palaguna yang langsung membalikan badan berjalan meninggalkan tanah gumuk itu diiringi pandangan mata semua yang ada disitu.

    Sepeninggal Dewa Palaguna, Ki Jaran Waha bercerita tentang keberadaannya di tanah gumuk itu. Bermula Ki Jaran Waha yang juga sebagai Raja Leak di Balidwipa mendapat berita tentang sebuah upaya untuk mencelakai Mahesa Amping oleh sekelompok orang yang ternyata berasal dari Pura Besakih yaitu saudara tua dari Dewa Bakula sendiri yang bernama Dewa Palaguna, seorang pendeta guru di Pura Besakih yang dipercayakan membimbing para pangeran penguasa pura Besakih. Dari semua pangeran di seluruh Pura Balidwipa, hanya para pangeran pura Besakih yang tidak berguru di pura Indrakila. Mereka lebih memilih Dewa Palaguna sebagai guru pembimbingnya di pura Besakih.

    “Kami mengikuti mereka sampai di Kademangan Pejeng ini”, berkata Ki Jaran Waha melanjutkan ceritanya. “Pengikutku tersebar di Balidwipa ini, jadi tidak ada satupun rahasia yang terlepas dari pendengaranku”, berkata kembali Ki Jaran Waha menutup ceritanya.

    “jadi Ki Jaran Waha yang membayar makanan kami di kedai ?”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Jaran Waha.

    “Aku memerintah orangku untuk membayarnya”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

    “Beruntungnya kita bersaudara dengan seorang Raja”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semua yang ada di tanah gumuk itu.

    • hadu….
      aku salah menjawap kuisnya
      eh…., gak begitu salah sih…, kan yang nyuruh Ki Jaran Waha (Raja Leak).. Hore……. benul…, eh … betul…….

  8. penantian yang tidak sia-sia, …matur nuwun ki ….

  9. tidak sia sia menanti, matur nuwun

  10. sugeng dalu

  11. tidak sia sia matur nuwun, tetap menanti (lagi).

  12. Kepada Ki Jaran Waha, Ki Arya Sidi menjelaskan tentang tujuan mereka bertiga, yaitu mencari sebuah tempat untuk melihat sejauh mana Mahesa Amping dapat menghentakkan puncak ilmu cambuknya.

    “Apakah aku diijinkan untuk ikut bersama kalian ?”, bertanya Ki Jaran Waha.

    “Permintaan seorang raja tidak boleh ditolak”, berkata Mahesa Amping yang kembali disambut tawa dari semua yang mendengarnya.

    “Mumpung matahari masih bergeser sedikit, perjalanan kita tidak jauh lagi”, berkata Ki Arya Sidi mengajak mereka melanjutkan perjalanannya.

    “Bagaimana dengan mayat-mayat itu”, berkata Mahesa Amping yang melihat sepuluh orang prajurit pengawal pura yang telah menjadi mayat bergelimpangan.

    “Biarlah para pengikutku yang mengurusnya”, berkata Ki Jaran Waha dengan suara perlahan.

    Sementara itu matahari memang telah bergeser sedikit kebarat, awan tebal menyelimutinya membuat cuaca saat itu menjadi adem tidak begitu terik. Ditambah semilir angin diatas gumuk itu berdesir lembut menyentuh kulit.

    “Sebuah perjalanan yang menyenangkan”, berkata Ki Jaran Waha ketika angin berhembus lembut membelai rambut dan tubuhnya bersama langkah ketiga teman seperjalanannya.

    Terlihatlah empat orang dengan langkah ringan membelah padang ilalang, menembus hutan perdu, lembah dan ngarai.

    “Berhati-hatilah Mahesa Amping, kudengar kesaktian Dewa Palaguna dapat meruntuhkan gunung”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping sambil terus berjalan beriringan.

    “Terima kasih, kamu telah memperingatkanku. Semoga Gusti yang Maha Agung selalu melindungiku”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

    “Sikap itulah yang harus kita miliki, tidak menggantungkan kepada kesaktian apapun yang kita miliki, tapi menggantungkan segalanya kepada Sanghiang Gusti Yang Maha Agung”, berkata Ki Arya Sidi ikut bicara.

    Akhirnya tidak terasa, sambil berjalan dan bercakap-cakap, mereka telah sampai ditempat yang dituju. Sebuah tanah lapang yang dibatasi batuan bercadas disekelilingnya. Sepertinya sebuah tempat yang jarang sekali disinggahi orang karena sangat jauh dari padukuhan terdekat dan tidak ada apapun yang dapat dimanfaatkan selain batu-batu besar berserakan disekitarnya.

    “Inilah tempat yang kujanjikan”, berkata Ki Arya Sidi menjelaskan bahwa mereka telah sampai ditempat yang dituju.

    “Tempat seperti inilah yang kita butuhkan”, berkata Empu Dangka sambil pandangannya menyapu sekeliling.

    Ya .. ya … ya …., betulll…
    seperti inilah yang kita butuhkan, lanjutan cerita Mahesa Amping

    Gak tahu mengapa, saya kok tidak bisa kirim komen melalui kotak komen ya
    hadu……
    terpaksa lewat sini deh

  13. SUGENG DALU, MATUR NUWUN

  14. Selamat malam Ki Sandikala…….
    Sugeng dalu kadang sedoyo……..

  15. Sugeng dalu kadank sedoyo

  16. hadu….
    ternyata P Dhalangnya cuma lewat saja
    he he he …
    ya sudah…, saya juga bobo lagi

  17. ngapunten…..kulo dherek maos wedaran rontal SFBDBS
    teng padepokan sini.

    • kok mandeg…..hora iso mlebu, kenapa njih….???

      apa karena belom terbiasa kirim komen ning kene,
      nyuwun panduan-ipun para kadang sadaya….!!!!

      matur nuwun,

      • hikss, komen yang pertama cantrik dlesepkan,….kok masih tetep menunggu moderasi….??

        iki piye—-piya iki, mumeet aku====aku mumeet

        • piye….piye…..piye…..
          mbuh ra weru……..

  18. Pak Dhalang………
    sangune malem minggon pundi…..?????

  19. selamat pagi semuanya

    • selamat malam semuanya

      • selamat “lebih” malam “dikit” semuanya

        • lebih awal dari kemarin, selamat

  20. Selamet…………
    lebih lambat “dikit” dari kemaren

  21. Selamat malam Ki Kompor Sandikala
    Sugeng dalu Pak Satpam, Ki Gembleh, Ki Bancak ugi poro kadang sedoyo.

  22. Selamat malam,
    Maaf…….perjalanan Mahesa Amping agak tersendat……………….

  23. selamat siang , moggo Ki alon alon waton kelakon, lanjut

  24. Perjalanan Mahisa Amping tersendat,
    Kademangan mBekasi geger tawuran,
    Kademangan sebelah diserbu Tomcat,

    sing penting ranah Situ Cipondoh tetep ayem tentrem,
    sing penting tlatah Sengkaling tetep gemah ripah,
    supaya rontal tetep mBleber ana gandhok..

    Sugeng dalu.

  25. Sementara itu sang senja telah semakin redup, layar panggung bumi telah berganti warna malam. Semburat bulan tua menerangi tanah lapang berbatu.

    “Kita beristirahat dulu, sayang bila bekal ini tidak dihabisi”, berkata Ki Arya Sidi sambil membuka bekal yang dibawanya dari Padepokan Panca Agni.

    Terlihat Mahesa Amping telah membuat perapian dari beberapa rumput dan ranting. Dalam sekejap perapian telah menyala.
    “Aku menyiapkan bekal agak berlebih, ternyata ini rejekinya Ki Jaran Waha”, berkata Ki Arya Sidi.

    “Terima kasih, kehadiranku tidak mengurangi jatah perut kalian bertiga”, berkata Ki Jaran Waha sambil menyuap nasi jagung kemulutnya.

    Demikianlah, berempat mereka mengelilingi perapian yang semakin redup. Mahesa Amping sengaja tidak menambahkannya dengan daun dan ranting kering.

    Dan akhirnya perapian itu memang tidak lagi menyala, mati tertiup semilir angin basah.

    Ketika perapian telah mati, pandangan mereka sudah terbiasa dapat melihat apapun yang ada di atas tanah lapang berbatu itu.

    “Semoga Sing Maha Karsa selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ikut berdiri ketika melepas Mahesa Amping yang berdiri dan berjalan menjauh sekitar dua puluh langkah untuk mencoba mengungkapkan puncak ilmu cambuk yang dimiliki sampai sejauh mana.

    Bersamaan dengan itu Ki Jaran Waha dan Ki Arya Sidi ikut berdiri mengiringi dengan pandangan matanya Mahesa Amping yang tengah berjalan menjauh dan akhirnya berhenti disebuah tempat.

    Terlihat Mahesa Amping telah berdiri tegak, di tangannya telah menggenggam sebuah cambuk yang dibiarkan menjurai hampir menyentuh tanah.

    “Wahai Gusti Yang Maha Karsa, kuserahkan diriku dalam kekuasaanMU”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil merasakan dirinya telah hilang bersatu dalam gerak dan kekuasaan Sang Maha Pencipta.

    Perlahan Mahesa Amping telah bergerak memainkan jurus cambuknya. Dari Keremangan malam terlihat seperti sebuah gerak tarian yang indah dipandang mata.

    “Sebuah permainan cambuk yang indah”, berkata Ki Jaran Waha kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

    “Mahesa Amping telah melakukannya dengan begitu sempurna”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Jaran Waha.

    “Mahesa Amping telah melambari permainannya dengan kekuatan yang ada didalam dirinya”, kerkata Ki Arya Sidi manakala merasakan udara disekelilingnya semakin menghangat.

  26. Selamat Malam kadank sedoyo,
    Sing Maha Karsa telah menggerakkan tangan ini………….

    Mugi-mugi masih terus memberikan RASA karunianya atas diri kita bersama,

    AMIN.

    KAMSIAAAAAAAAAAAAA………

  27. Mahesa Amping memang telah mulai mengungkapkan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya, hawa panas telah semakin menyebar mengiringi setiap gerakan cambuknya.

    Sementara itu Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Kijaran Waha masih berdiri mengikuti gerak Mahesa Amping meski udara disekitarnya sudah tidak lagi hangat, namun sudah menjadi hawa panas yang kuat membakar kulit. Dengan mengerahkan kekuatan yang mereka miliki, mereka masih tetap bertahan ditempatnya dengan melambari kekuatan hawa dingin sebagai perisai tubuh mereka melindungi hawa panas yang terus merambat semakin memuncak.

    “Luar biasa !!!!”, berkata Ki Arya Sidi sambil mundur lima langkah dari tempatnya berdiri merasakan hawa panas telah begitu menyengat.

    Terlihat Empu Dangka dan Ki Jaran Waha telah berbuat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Ki Arya Sidi.

    “Siapapun lawannya yang berada dibawah tataran ilmunya akan dapat susah dibuatnya”, berkata Ki jaran Waha yang sudah berada didekat Ki Arya Sidi.

    Meski jarak mereka dengan Mahesa Amping semakin bergeser menjauh, mereka masih dapat melihat dengan jelas Mahesa Amping yang terus memperlihatkan permainan jurus cambuknya.

    Tidak ada terlihat kelelahan sedikitpun diwajah Mahesa Amping. Anak muda ini sepertinya tengah menikmati setiap jurus yang dimainkannya.

    “Aku tidak tahan !!!!”, berkata Ki Arya Sidi sambil kembali mundur lima langkah dari tempatnya berdiri manakala dirasakan hawa disekitarnya berubah-ubah dengan cepatnya antara hawa panas yang menyengat menjadi dingin yang sama kuatnya menyengat kulit.

    Terlihat Empu Dangka dan Ki Jaran Waha telah berbuat yang sama sebagaimana dilakukan oleh Ki Arya Sidi.

    “Gusti Sang Hyiang Widi telah mengaruniakan dibumi ini seorang yang berbakat luar biasa, sangat langka ada orang yang berbuat begitu cepatnya merubah kekuatan hawa panas dan dingin”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha.

    “Sebuah kekuatan yang dapat menyusahkan siapapun lawannya”, berkata Ki Jaran Waha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Aku melihat anak muda ini belum menghentakkan seluruh kekuatannya”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum bangga merasakan kekuatan Mahesa Amping yang memang masih menyisakan puncak kekuatannya.

    “Belum dipuncaknya, kita sudah berdiri begitu jauh”, berkata Ki Arya Sidi yang ikut kagum sebagaimana Empu Dangka.

    “Aku melihat tanah dan batuan disiktarnya telah menjadi retak”, berkata Ki Jaran Waha.

  28. Alhamdulillah,
    Sudah azan subuh…………………..

    • Alhamdulillah….,
      Mahesa Amping sudah mempunyai tenaga setelah makan bekal yang dibaya Ki Arya Sidi, sehingga bisa melanjutkan kisahnya.
      he he he…..,
      Rahajêng sêmêngan

  29. kamsiiiaaaaaaaa

  30. Kamsia…..kmsia……kamsia…….

  31. “Perubahan hawa yang berganti dengan cepatnya telah menjadikan benda apapun retak dibuatnya”, berkata Empu Dangka menanggapi perkataan Ki Jaran Waha.

    “Gusti Maha Adil, memberikan ilmu yang luar biasa itu hanya kepada orang yang bijak sebagaimana Mahesa Amping”, berkata Ki Arya Sidi.

    “Seperti itulah Mahesa Amping, tidak mengeluarkan jurus simpanannya kecuali sangat terpaksa dan mendesak”, berkata Empu dangka.

    “Mahesa Ampu telah dengan sadar telah menguasa segala amarah didalam dirinya”, berkata Ki Arya Sidi menambahkan dan telah mengenal Mahesa Amping seutuhnya lewat pergaulannya selama ini.

    “Sementara kita yang tua kadang tergelincir tidak bisa mengendalikan amarah diri kita sendiri”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

    “Lihatlah, inilah yang kita tunggu”, berkata Empu Dangka sambil matanya tidak lepas kepada apa yang tengah dilakukan oleh Mahesa Amping.

    Ternyata Mahesa Amping tidak lagi melakukan permainan jurus cambuknya. Terlihat tengah berdiri tegak menghadap kesebuah batu besar hitam sebesar kerbau.

    Mahesa Amping tengah mengendapkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba saja dengan gerakan sendal pancing ujung cambuknya telah menghentakkan batu sebesar kerbau dihadapannya.

    Desssss….,

    Suara cambuk Mahesa Amping tidak menggelegar, hanya seperti suara cambuk biasa memecah angin.

    Namun dampak dari lecutan itu sungguh luar biasa !!!!!.

    Batu sebesar seekor kerbau hancur luluh lantak menjadi sebuah debu halus yang bertebaran terbang tertiup angin.

    Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha yang menyaksikan semua itu terhenyak nafasnya tertahan.

    “Sebuah kekuatan yang dahsyat”, berkata Ki Jaran Waha tidak sadar mengucapkan pujiannya atas apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Amping.

    “Mahesa Amping telah mampu menyalurkan kekuatannya lewat ujung cambuknya, sebagaimana dilakukannya lewat sorot matanya”, berkata Empu Dangka yang merasa gembira atas apa yang telah dicapai oleh Mahesa Amping.

    “Melihat usianya, tataran ilmu yang ada saat ini pasti akan terus berkembang”, berkata Ki Arya Sidi.

    “Benar, itulah yang kuharapkan menitipkan ilmu cambukku kepadanya”, berkata Empu Dangka dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.

    “Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Empu”, berkata Mahesa Amping yang telah datang mendekat.

    • siip….
      kaammssiiiaaaaaaa…………………..!!!

      • Ilmu cambuk Mahesa Amping ngedab-ngedabi tenan. Saya jadi deg-degan dibuatnya.
        Matur nuwun Ki Sandikala, shie shie.

        sugeng rawuh Ki Djojo
        katuran pinarak

    • Kamsiaaaa……

  32. Kamsiaaaa……

    • sugeng dalu Kamsiaaa…..sadayanya,

      • monggo parikan,

        Kecipir mrambat kawat ora mampir pokoke liwat,
        Kecipir mrambat tali ora mampir kangen di hati

        • satu HATI……“tetap semangaaaat”

  33. Wah…..
    Mahesa Amping sudah mulai NYEPI sekarang
    sampai jam segini kok belum latihan lagi
    he he he ….
    sudeng dalu P. Dhalang

  34. Swasti Astu

    Kepada Saudara-saudarku umat Hindu Dharma:

    Rahajeng nyangra rahina Nyepi 1934Ç

    Semoga keselarasan bhuana agung dan bhuana alit di tahun kedepan kembali dan akan selalu baik, kerukunan antar umat beragama juga terjalin dengan lebih baik lagi, Ibu Pertiwi tidak mengalami gangguan-gangguan dan bencana-bencana, terutama bencana yang dilakukan oleh umat manusia, dan semoga kita bisa menyadari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat kepada Ibu Pertiwi dan kepada sesama kita, semua penghuninya, sehingga kita dapat mengubah sikap kita menjadi sesuatu yang lebih baik.

    Swasti Astu

    cantrik bayuaji

    • Sugeng Rawuh Ki Bayu
      Radi dangi mboten pinarak padepokan
      lha rak sami wilujeng to Ki?

      • Alhamdulillah

        Menikmati suasana nyepi di Bali Dwipa, sekaligus menelisik sejarah dan keberadaan situs Wali Pitu di Bali hingga Sasak.

        Salah seorang wali pitu adalah Raden Mas Sepuh seperti diungkapkan cerita tutur adalah seorang bangsawan Blambangan yang lahir dari perkawinan antara Raja Blambangan dan putri Bali/Mengwi. Beliau adalah bangsawan Blambangan yang beragama Islam ketika Blambangan masih Hindu..

        Mohon maaf jarang mengungul

        Insya Allah,dongeng-dongeng arkeologi & antropologi, termasuk dongeng Wali Piutu akan saya wedar.

        Matur nuwun, .

        • Alhamdulillah
          wah…, asiik no.
          njih Ki, masih setia menunggu.

          • monggo Ki Bayu, dongengipun tansah dipun tenggo

  35. Selamat sore.

  36. sugeng dalu, sugeng malem minggon

    • sugeng siang, sugeng malem senin-an

  37. satu HATI……“tetap semangaaaat”

    • hup, lali nutup…….he-hee-heee,

      eeiiiittt….tiba’e wes nutup dewe

      • harah kono……
        dereng sepuh kok wis lalian
        he he he ….
        monggo SST-04 sudah dibuka
        adbm1-007 format djvu juga sudah diupload di adbmcadangan

  38. hup….enaknya pulang kerumah…………

    Semenjak menjabat sebagai “bujangan”, tiap sabtu minggu bergilir kerabat ngajak “plesiran”.

    Mudah-mudahan….berjalannya waktu semua kembali sedia kala, meski sampai hari ini masih “agak rapuh”, terutama ketika lewat tempat-tempat YANG biasa kami “singgahi” bersama sang permaisuri.

    HARI INI, “genk Mahesa Amping ” dalam perjalanan pulang……………….

    • gak apa-apa ki
      masih sabar menunggu kok
      tentu bawa oleh-oleh yang buanyak to
      untuk teman jaga gandok?
      he he he …]
      sugeng siang

  39. “Anakmas telah melakukannya dengan sangat sempurna”, berkata Empu Dangka dengan penuh gembira.
    Sementara itu hari sudah berlari menjauhi pertengahan malam, cahaya diatas tanah lapang yang sepi mash bening dinaungi biru langit malam.

    “Kita bermalam disini”, berkata Ki Arya Sidi sambil berjalam mencari tempat yang baik yang akhirnya didapati di balik sebuah batu besar yang melindungi mereka dari dinginnya angin malam.

    Namun mereka tidak langsung rebah tidur, masih ada saja yang mereka percakapkan dipenghujung sisa malam itu.

    “Apakah kamu tidak memperkirakan bahwa Dewa Palaguna akan kembali melakukan kelicikan ?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

    “Hal-hal seperti itu memang bisa saja terjadi”, berkata Empu Dangka ikut memberikan tanggapan.

    “Namun kita tidak tahu kelicikan apa lagi yang akan dilakukakn oleh Dewa Palaguna”, berkata Ki Arya Sidi.

    “Tidak perlu dikhawatirkan, aku dan pengikutku akan terus membayangi mereka”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum penuh ketenangan.

    “Terima kasih”, berkata Mahesa Amping

    “Tidak usah berterima kasih, bukankah kita bersaudara ?”, berkata Ki Jaran Waha tersenyum memperlihatkan seluruh giginya yang putih dan rata umumnya orang Bali.

    “Beristirahatlah kalian, sebentar lagi nampaknya akan datang pagi, biarlah aku yang berjaga”, berkata Ki Arya Sidi mempersilahkan semuanya untuk beristirahat.

    Sebagaimana yang dikatakan Ki Arya Sidi, hari memang akan menjelang pagi. Terlihat sejumput semburat warna merah telah bersembul di ujung bumi,sementara warna lengkung langit semakin menghitam.

    Perlahan warna merah akhirnya merata mewarnai hampir seluruh lengkung langit. Cahaya bumipun terlihat begitu bening, sepi dan teduh.

    “Beristirahatlah, aku sudah cukup beristirahat”, berkata Mahesa Amping yang sudah terbangun kepada Ki Arya Sidi yang masih bersandar di sebuah batu besar.

    “Terima kasih, sekejap dua kejap lumayan untuk berbaring”, berkata Ki Arya Sidi yang terlihat melepaskan sandarannya rebah berbaring.

    Mahesa Amping memang tidak dapat memejamkan matanya yang sudah tidak lagi mengantuk. Terutama ketika cahaya bulat matahari telah bersembul mengintip ditepian bumi.

    • Oleh-olehnya kok cuma sedikit Ki,
      Kamsiaaaaaa……………

      • hehehe….lebihnya lagi diangetin…………

  40. Matahari diatas tanah gumuk itu telah naik sepertiga menggantung dilengkung langit pagi, empat orang lelaki terlihat berjalan beriring.

    “Kita singgah di pasar Pejeng”, berkata Ki Arya Sidi.

    “Tepatnya di kedai yang kemarin”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum merasa maklum bahwa perut mereka belum tersentuh apapun.

    Ketika mereka sampai di pasar Kademangan Pejeng, suasana di pasar itu memang tengah ramai. Terlihat lalu lalang beberapa wanita dengan bakul diatas kepala.

    “Berikan kami makanan terbaik di kedai ini”, berkata Ki Arya Sidi kepada seorang pelayan tua ketika mereka sudah berada didalam kedai makanan.

    “Tidak pakai lama”, berkata Ki Jaran Waha yang ditanggapi gelak tawa semuanya.

    Maka tidak lama kemudia pelayan tua itu telah membawa hidangan untuk mereka.

    “Selamat menikmati”, berkata pelayan tua itu mempersilahkan tamunya penuh kesopanan.

    “sarapan yang nikmat”, berkata Ki Arya Sidi sambil memandang hidangan yang telah siap sedia.

    “Tepatnya sarapan pagi menjelang siang”, berkata Empu Dangka yang ditanggapi senyum tawa ketiga kawannnya.

    Terlihatlah mereka nampaknya menikmati hidangan itu.
    Ketika selesai makan, kembali terjadi apa yang pernah mereka alami, pelayan tua itu tidak menerima pembayaran dari Ki Arya Sidi.

    Maka semua mata menatap Ki Jaran Waha yang tenang duduk sambil tersenyum.

    “Salah seorang pengikutku telah membayarnya”, berkata Ki Jaran Waha dengan tersenyum perlahan.

    “Selama bersama Raja leak, sangu kita utuh”, berkata Ki Arya Sidi sambil memasukkan kembali pecahan logam peraknya.

    Sementara itu suasana pasar masih nampak ramai manakala mereka telah keluar dari dalam kedai.

    “Sampai disini aku mengiringi kalian”, berkata Ki Jaran Waha yang bermaksud untuk kembali ketempat tinggalnya.

    “jangan lupa purnama depan”, berkata Ki Arya Sidi mengiringi langkah kaki Ki Jaran Waha yang semakin menjauh menghilang diantara lalu lalang beberapa orang laki-laki dan wanita dikeramaian pasar Kademangan Pejeng.

    “Pasar yang ramai sebagai tanda kemakmuran warganya”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping sambil melihat-lihat beberapa barang yang diperjual belikan dipasar itu.

    • eh….., masih ada oleh-olehnya yang tersisa
      kamsssiiiiaaaaa……………………………

      • sssstttttttt………..
        jangan keras keras………
        tuh oleh olehnya masih ada lagi,
        paling bentar lagi bakalan disajiin.

        Kammmssssiiiiaaaaaaaaaaa……..?????!!!!!!!!!!

  41. Mentari saat itu memang belum beranjak ke puncaknya, Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi sudah jauh meninggalkan Pasar Kademangan Pejeng.

    Terlihat mereka tengah berjalan disebuah hutan bambu, menyusuri beberapa bulakan panjang dan akhirnya telah berada disekitar Padukuhan yang terdekat dari Bukit Pejeng Gundul tempat Padepokan Panca Agni berada.

    “Bunting padi itu sebentar lagi akan menguning”, berkata Empu Dangka ketika mereka tengah melewati beberapa hamparan sawah.

    “Kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh apapun bagi seorang petani disaat melihat padi menguning”, berkata Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya pada hamparan sawah yang tumbuh menghijau.

    Akhirnya mereka telah mendaki jalan ke Bukit Pejeng Gundul. Matahari telah mulai condong ke Barat manakala langkah kaki mereka telah sampai di muka regol pintu gerbang Padepokan Panca Agni.

    “Selamat datang kembali di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Nyoman yang menyambut kedatangan mereka.

    “Para Sisya pasti masih tengah berlatih”, berkata Ki Arya Sidi yang dijawab dengan senyum dan anggukan kepala dari Ki Nyoman.

    Setelah bersih-bersih diri, Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat duduk di Pendapa. Sementara Ki Arya Sidi masih disanggar menemui para Sisyanya.

    Menjelang senja baru Ki Arya Sidi bergabung duduk di pendapa bercerita tentang perkembangan para Sisyanya yang nampaknya sangat menggembirakan hatinya.

    Sementara itu, jauh dari Padepokan Panca Agni disebuah Pura besar, tepatnya di Puri dalem besakih dua orang terlihat tengah berbicara.
    Salah seorang dari keduanya telah kita kenal bernama Dewa Palaguna, seorang lagi nampak dari wajah dan pembawaannya yang penuh wibawa tidak lain adalah Raja penguasa Pura Besakih.

    “Aku bercuriga bahwa anak muda itu sejatinya adalah utusan Singasari yang sengaja didatangkan untuk membuat kerusuhan di Balidwipa ini”, berkata Dewa palaguna.

    “Anak muda itu telah mengalahkan Dewa Bakula”, berkata Raja Pura Besakih dengan wajah buram.

    “Adikku Dewa Bakula memang terlalu bodoh dengan mempertaruhkan jabatan guru di Pura Indrakila kepada anak muda itu”, berkata Dewa Palaguna dengan wajah penuh geram.

    “Kita masih punya sedikit waktu menjelang purnama untuk melenyapkan anak muda itu”, berkata Raja Pura Besakih kepada Dewa palaguna yang tengah berpikir keras merancang sebuah muslihat besar.

    • Oleh-olehnya masih ada?
      Keluarkan saja semuanya.
      Kamsiiiiiaaaaa………………….!!!

      • Kata Ki Gembleh….

        sssstttttttt………..
        jangan keras keras………
        tuh oleh olehnya masih ada lagi,
        paling bentar lagi bakalan disajiin.

        Kammmssssiiiiaaaaaaaaaaa……..?????!!!!!!!!!!

  42. “Aku sudah menyiapkan sebuah perangkap untuk anak muda itu”, berkata Dewa Palaguna penuh semangat.

    Sementara itu ditempat yang berbeda, disebuah hutan lebat didalam sebuah goa yang cukup luas. Terlihat Raja Leak tengah bersama dengan beberapa pengikutnya yang setia.

    “Mulai besok kalian harus sudah menyebar mengintai setiap gerakan yang bersumber dari Pura Besakih”, berkata Raja Leak yang tidak lain Ki Jaran Waha kepada pengikutnya.

    “Kami penuhi perintah Paduka”, berkata salah seorang pengikutnya mewakili kawan-kawannya.

    Demikianlah suasana menjelang purnama di pura Indrakila, Dewa Palaguna telah mempersiapkan segalanya, namun tidak menyadari bahwa segala kegiatannya telah dibayangi oleh para manusia Leak yang tersebar terus mengintai disekitar pura Besakih.

    Suasana yang semakin menghangat itu memang tidak terlihat dipermukaan. Para saudagar masih seperti biasa berjalan dengan gerobak-gerobak dagangnya menyusuri jalan dan jalur perdagangan. Para petani masih seperti biasa menjelang panen telah berjaga sepanjang hari agar padinya tidak dimakan burung-burung.

    Sementara itu kehidupan di Padepokan Panca Agni masih seperti sediakala, para Sisya penuh semangat berlatih. Ki Arya Sidi dengan sepenuh hati membimbing para Sisyanya. Kadang Mahesa Amping ikut memberikan beberapa petunjuk tambahan.

    “Semoga perjalanan tuan selalu diberikan naungan keselamatan dari Sang Hyiang Widi”, berkata Ki Nyoman mewakili para Sisya ketika mereka melepas kepergian Ki Arya Sidi bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka yang akan berangkat ke Pura Indrakila.

    “Berlatihlah terus, kalian tumpuan kelanggengan Pura Pusering Jagad”, berkata Ki Arya Sidi kepada keempat Sisyanya para Pangerang dari Pura Pusering Jagad.

    Angin pagi bertiup dingin mengiringi perjalanan Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi. Terlihat mereka tengah menuruni Bukit Pejeng Gundul.

    “Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Jaran Waha tentang Dewa Palaguna mungkin saja terjadi”, berkata Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    “Kita memang perlu berhati-hati, tapi tidak membuat perjalanan kita menjadi susah”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum.
    Terlihat Ki Arya Sidi menarik nafas panjang, ia baru sadar bahwa kedua kawannya ini adalah orang-orang yang mumpuni sakti mandraguna. Jangankan sekumpulan gerombolan perampok, sepapan laskar prajuritpun tidak akan mudah mengalahkan mereka.

    Ketika matahari mulai menyengat berdiri di puncak cakrawala, Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah sampai disebuah Padukuhan di bawah bukit tempat Pura Indrakila berdiri.

    • Hehehe…. banyak sekali…….
      Mbanyu mili……
      Kamsiiiiaaaaaaaaa………..

  43. mili banyune, kamsiiiaaaaa

  44. Ketika Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah melewati regol gerbang padukuhan itu, mereka mendengar kentongan nada titir berbunyi sebagai tanda agar semua penduduk berkumpul segera karena situasi yang gawat darurat.

    “Aku tidak melihat ada kebakaran di Padukuhan ini”, berkata Ki Arya Sidi merasa heran mendengar nada titir berbunyi.

    “Berhenti !!!”, tiba-tiba saja telah menghadang didepan mereka puluhan lelaki.

    “Apa salah kami ?”, bertanya Empu Dangka dengan penuh ketenangan.

    “Kalian penganut ilmu hitam yang kami cari”, berkata salah seorang yang terlihat seperti pimpinan dari semua orang yang ada menghadang.

    “kami tidak mengerti apa yang kalian katakan”, berkata Empu Dangka masih dengan penuh ketenangan.

    “Kalian telah menyebar wabah ulat bulu ganas disawah ladang kami, nampaknya kalian ingin melihat dari dekat hasil kerja kotor kalian kepada kami”, kembali orang yang seperti pemimpin itu berkata.

    “Kalian pasti salah orang, hari ini kami baru datang di Padukuhan ini”, berkata Empu Dangka mencoba meluruskan masalah.

    “Dukun Made Jakut tidak pernah berbohong !!”, berkata pemimpin mereka.

    “Siapapun nama yang baru saja Kisanak sebut itu, pasti salah orang”, berkata Empu Dangka.

    “Aku Made Jakut, tidak pernah salah orang”, berkata salah seorang dengan wajah hitam berbadan tegap yang tiba-tiba saja muncul dari kerumunan.

    “Apa yang dapat kisanak buktikan bahwa kamilah orangnya”, berkata Empu Dangka yang sudah mulai mencurigai ada sesuatu yang terselubung dibalik semua ini.

    “Aku sudah mengatakan kepada para penduduk di Padukuhan ini bahwa tiga orang penyebar wabah itu akan datang saat menjelang purnama”, berkata orang yang mengaku bernama Made Jakut itu.
    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi terlihat menarik nafas panjang, pikiran mereka sama bahwa ada yang mencoba memfitnah mereka.

    “Pasti ini ulah Dewa Palaguna”, berbisik Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang berdiri disampingnya.

    “Begitu liciknya Dewa Palaguna yang sengaja mengadu dada dengan para penduduk”, berkata Mahesa Amping perlahan kepada Ki Arya Sidi.

    Ki Arya Sidi membenarkan apa yang dikatakan Mahesa Amping. Seandainya ada prajurit segelar sepapan dihadapan kedua sahabatnya ini mungkin tidak ada keraguan apapun dalam melakukan tindakan. Sementara itu yang mereka hadapi adalah para penduduk yang tengah marah terhasut sebuah fitnah yang menyesatkan.

    • he,,,,he,,,,,,he………..

      ulat bulunya mah udah pada jadi kupu kupu,
      nyang lagi ngetop itu si Tomcat

      Kaaaammmmmmsssssiiiiaaaaaaaaaaaaa…..??????!!!!!!!!!

  45. Ki Arga…….Ki Bancak………

    menika lho….pak Dhalange nggrojogi banyu mili,
    mbok ndang ditadhahi jun utawi kuali.

    Sugeng dalu Kisanak.

    • cantrik boleh ikut menadah2-i ki Gembleh,

      • HADIR,

        malem ini si hujan menggerimisi wilayah cantrik
        dan sekitarnya…..hem, seJUK ooooooooiiiiii

    • asiikk…………….
      kaammsssiiiiaaaaaaaaaaaaaaaa…………………!!!

    • Sendiko Ki Gembleh.
      Menawi namung kuali kadosipun kirang ageng,
      kulo pados genthong kemawon…..
      Sugeng dalu.

  46. “Apa yang ingin kalian lakukan atas kami”, bertanya Empu Dangka kepada para penduduk yang menghadangnya.

    “Kami akan mengikat dan membakar kalian sebagai tumbal mengusir wabah”, berkata Dukun Made Jakut.

    “bakar…!!!!”,

    “Bakar….!!!”,

    Berteriak sebagian penduduk sambil mengacungkan berbagai senjata mereka.

    Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi benar-benar bertemu dengan jalan buntu, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

    Disaat kebuntuan dan teriakan para penduduk yang sepertinya tidak mudah dikendalikan lagi, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa panjang dan bergema dari segala penjuru.

    “Akulah lelembut penguasa bumi ini”, terdengar suara diujung tawanya yang juga keras dan bergema.

    Sekejap para penduduk tidak lagi berteriak, terlihat wajah mereka nampak pucat penuh ketakutan.

    “Wahai para pendududuk bumiku, dukun palsu itulah yang telah menyebarkan wabah kepada kalian”, terdengar kembali suara itu yang masih terdengar tinggi menggema.

    “Tunjukkan dirimu, aku tidak takut !!!”, berteriak Dukun Made Jakut yang merasa dipojokkan meski dengan suara masih dihantui rasa takut namun dihadapan para penduduk yang selama ini mengandalkannya mencoba mengangkat dadanya.

    Namun percobaan dari Dukun Made Jakut untuk mengumpulkan keberaniannya cukup sampai disitu, tiba-tiba saja sebuah batu kecil melejit dengan kecepatan yang sangat luar biasa persisis menghantam urat lehernya.

    Ahhh….,

    Hanya itu suara nafas tertahan dari Dukun Made Jakut yang bisa didengar, setelah itu terlihat tubuhnya jatuh lemas.

    “Pergilah kerumah Dukun palsu ini, dirumahnya masih banyak tersimpanbibit ulat bulu beracun yang siap ditebarkan disawah ladang kalian”, berkata kembali suara yang masih tidak diketahui dari mana datangnya.

    “Mari kita periksa rumah Dukun Made Jakut”, berkata pemimpin mereka yang mulai mempercayai sumber suara itu yang mengatakan sebagai lelembut penguasa bumi Padukuhan itu.

    Maka terlihat berbondong-bondong para penduduk mengikuti langkah pemimpinnya menuju rumah Dukun Made Jakut.

  47. Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi masih diam ditempat tidak ikut bersama penduduk kerumah Dukun Made Jakut.

    “He-he-heh”, terdengar suara dari sebuah semak belukar disekitar pohon suren. Terlihat sosok badan tinggi besar dengan rambut lepas beriap.

    “Sudah kuduga pasti ulah Si Raja Leak”, berkata Mahesa Amping tersenyum memandang orang yang baru datang dari gerumbulan semak belukar.

    “Jarang-jarang lelembut keluar disiang bolong”, berkata Ki Arya Sidi menyambut orang yang baru datang yang memang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

    “Yang jelas para penduduk mempercayainya”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum.

    “Dukun palsu ini pasti orangnya Dewa palaguna”, berkata Empu Dangka sambil menunjuk kearah Dukun Made Jakut yang masih rebah pingsan.

    Ketika mereka tengah mempercakapkan apa yang akan mereka lakukan atas diri Dukun Made Jakut, terdengar suara banyak langkah kaki menuju mereka.

    “Sset…, aku akan kembali berperan sebagai lelembu”, berkata Ki Jaran Waha sambil berlari masuk kedalam semak belukar.

    “Kami telah menemukan banyak bibit ulat bulu beracun dirumah Dukun Made Jarot”, berkata pemimpin itu kepada Empu Dangka yang dipikir adalah orang yang dituakan diantara mereka bertiga.

    “Apa yang dapat kalian lakukan untuk menawarkan ulat bulu beracun disawah ladang kalian ?”, berkata Empu Dangka kepada pemimpin para penduduk.

    “Mungkin memaksa Dukun Made jakut memberikan penawarnya”, berkata pemimpin para penduduk itu sambil menatap dukun Made jakut yang masih rebah.

    “Tidak ada penawar ulat bulu beracun selain berharap datangnya hujan”, berkata Empu Dangka penuh keyakinan.

    “Sayangnya saat ini masih musim kemarau”, berkata salah seorang dibelakang pemimpin itu.

    “Kita tidak dapat mendatangkan hujan”, berkata pemimpin itu menatap penuh kekhawatiran kepada Empu Dangka, sepertinya wajahnya penuh dengan keputus asahan.

    “Aku akan mendatangkan hujan”, berkata Mahesa Amping sambil maju kedepan berhadapan dengan para penduduk yang mendengarnya seperti tidak yakin atas apa yang dikatakannya.

    “Mendatangkan hujan ???”, keluar ucapan berulang-ulang dari beberapa penduduk yang menganggap Mahesa Amping berguyon belaka.

    • jangan…….jangan…….jangan……!!!!!!!!
      teriak si penjual es campur

      hujan……hujan……..hujan……..hore….!!!!!!!
      teriak si tukang ojek payung.

      banjir……banjir…….banjir……..
      teriak warge Betawi.

  48. Mumpung dikantor menganggap ane “terjebak demo” di jakarta, padahal jam 11 siang rapat di Jakarta udah selesai dan jalanan enggak macet alias lancar……jadi langsung aje meluncur kerumah.

    Hup !!!! heheheh….akulah lelembut penguasa jalan raya !!!!!!

  49. horeeee, lancar,, kamsssiiiiaaaa

  50. hadir…….sak ngarepe Ki Menggung…….

    sugeng dalu kisanak sedaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: