SFBDBS-11

Jilid 11

SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI

Karya : Arief Sujana (Ki Kompor)

Bagian 1.

SFBDBS 11-268

“Ternyata tuan-tuan adalah tamu yang tengah kami nantikan”, berkata penjaga itu sambil mengajak Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi menemui Dewa Bakula.“Kita langsung ke Bale Guru”, berkata kembali penjaga itu.

Pura Indrakila memang cukup luas, terdiri dari beberapa bangunan yang terpisah. Sambil berjalan penjaga itu memberikan penjelasan tentang beberapa tempat. Suasana di sekitar Pura Indrakila terlihat tertata apik dan sangat asri.

“Selamat datang di Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula menyambut kedatangan para tamunya di pendapa Bale Guru.

Mahesa Amping, Empu Dangka maupun Ki Arya Sidi sangat merasa heran melihat perubahan sikap dari Dewa Bakula yang terkesan sangat tidak sombong lagi sebagaimana yang mereka kenal sebelumnya.

“Hari ini adalah hari terakhirku di Balidwipa, besok aku akan kembali ke Tanah Hindu”, berkata Dewa Bakula setelah para tamunya telah duduk bersamanya di pendapa.

“Apakah karena adanya perjanjian diantara kita,maka tuan pendeta kembali ke Tanah Hindu?”, bertanya Mahesa Amping kepada Dewa Bakula. “Kalau memang karena itu sebabnya, aku dapat melepas perjanjian yang telah kita tetapkan.

“Bukan itu anak muda”, berkata Dewa Bakula dengan wajah penuh senyum. “Meski kekalahanku itu telah memberikan diriku banyak pelajaran, diantaranya adalah berpikir jernih tentang keberadaan kami para pendeta dari Tanah Hindu ini”, berkata Dewa Bakula melanjutkan perkataannya.

“Tuan Pendeta telah menemukan dan membedakan kepamrihan, aku berdoa untuk kemerdekaan jiwa tuan yang tengah memasuki alam Tatwa selanjutnya”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi pernyataan dari Dewa Bakula

“Terima kasih”, berkata Dewa Bakula sambil menjura.

Namun ketika mereka asyik bercakap-cakap, datanglah seorang penjaga sambil membawa sebuah anak panah yang patah, simbol sebuah tantangan.

“Seseorang memintaku memberikannya kepada salah seorang diantara tuan-tuan yang bernama Mahesa Amping. Pesannya akan ditunggu kehadirannya di bukit Sembul nanti malam”, berkata penjaga itu.

Terlihat Dewa Bakula menarik nafas panjang.

“Maafkan saudara tuaku Dewa Palaguna, ternyata dirinya tidak bisa menerima kekalahanku”, berkata Dewa Bakula yang sudah menduga bahwa tantangan itu berasal dari Dewa Palaguna.

“Gusti yang Maha Pengasih telah memberikan keluasan ilmunya dalam berbagai tingkat yang berbeda kepada setiap jiwa manusia yang terlahir, perbedaan itulah sebagai sarana kita saling mengenal dan untuk dapat bermawas diri”, berkata Empu Dangka.

“Terima kasih, bahagia aku berada diantara kalian yang ternyata telah melihat cakrawala alam Tattwa yang luas tak terhingga”, berkata Dewa Bakula kembali menjura.

“Apakah tuan pendeta akan ikut bersama kami ke Bukit Sembul?”, bertanya Ki Arya Sidi yang sedari awal tidak banyak cakap.

“Aku akan datang mengantar kalian ke Bukit Sembul”, berkata Dewa Bakula dengan penuh kepastian.

Tidak terasa hari telah terlihat menjelang sore, matahari dibatas barat bumi tengah memancarkan cahayanya yang lembut. Dan awan di cakrawala langit Pura Indrakila nampaknya begitu putih bersih. Tanaman bunga dan rumput hijau di halaman Bale Guru yang tertata asri seperti tengah menari bersenandung mandi kehangatan dan kelembutan cahaya matahari sore.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Arya Sidi nampaknya tengah menikmati keindahan suasana di Bale Guru itu.
“Sebelum ke Bukit Sembul, kita singgah ke Puri Dalem. Baginda Raja Indrakila telah merestui semua keputusanku, aku akan memperkenalkan dirimu kepadanya”, berkata Dewa Bakula kepada Mahesa Amping.

“Terima kasih memperkenalkan diriku kepada Penguasa Pura Indrakila ini”, berkata Mahesa Amping perlahan.

Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya, Dewa Bakula telah meminta Mahesa Amping datang bersamanya ke Puri Dalem menghadap Baginda Raja Indrakila.

“Kami menunggu di pendapa ini”, berkata Empu Dangka kepada Dewa

Bakula dan Mahesa Amping yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru hendak menghadap Raja Indrakila di Puri Dalem. Ki Arya Sidi dan Empu Dangka mengiringi langkah Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang terlihat tengah berjalan menyusuri jalan setapak dan menghilang disebuah tikungan jalan.

“Kehadiran Mahesa Amping adalah sebuah anugerah yang besar bagi Pura Indrakila”, berkata Empu Dangka kepada Ki Arya Sidi di pendapa Bale Guru. Sepertinya berusaha mengisi kesunyian sejak ditinggal Mahesa Amping dan Dewa Bakula yang tengah menghadap di Puri Dalem astana Raja Indrakila.

“Sebagaimana kehadirannya di Padepokan Panca Agni”, berkata Ki Arya Sidi membenarkan perkataan Empu Dangka.

Sementara itu waktu terus berlalu, matahari di atas langit Bale Guru Pura Indrakila telah bergeser semakin surut. Tanaman bunga dan rumput hijau yang tertata asri dihalaman Bale Guru nampaknya telah lelah menari dan bersenandung. Bunga Soka kuning di pojok halaman nampak buram tidak tersinar matahari lagi, pucuk-pucuk rumput hijau terlihat merunduk menanti senja yang akan datang mengunjungi.

“Hari telah menjelang senja”, berkata Empu Dangka sambi pandangannya menyapu halaman Bale Guru.

———-oOo———-

SFBDBS 11-269

“Akhirnya mereka telah kembali”, berkata Empu Dangka yang melihat Mahesa Amping dan Dewa Bakula muncul dari sebuah tikungan jalan setapak.

“Bukit Sembul tidak jauh, kita berangkat menjelang senja berakhir”, berkata Dewa Bakula yang telah duduk bersama di pendapa Bale Guru menyampaikan kapan waktunya berangkat ke Bukit Sembul. Bukit Sembul memang tidak begitu jauh dari Pura Indrakila. Diatas puncak bukitnya ada sebuah tanah lapang yang luas. Para Sisya Pura Indrakila pada hari-hari tertentu biasa menggunakannya sebagai sanggar terbuka.

Ketika senja berakhir, terlihat empat orang lelaki menuruni tangga pendapa Bale Guru. Purnama tak sabar mengintip diantara rimbunan pohon-pohon kayu besar yang tumbuh di beberapa tempat di Pura Indrakila. Suasana diujung senja itu begitu bening dan teduh.

Kempat lelaki itu tidak keluar lewat regol pintu depan Pura Indrakila, tapi berjalan kearah timur dari Bale Guru memasuki hutan kecil yang tidak begitu lebat. Tidak begitu lama mereka akhirnya telah tiba di Bukit Sembul tengah menaiki sebuah gumuk kecil dan akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit sembul yang tenyata adalah sebuah padang rumput yang lapang.

Benderang cahaya bulat bulan purnama telah menerangi tanah lapang itu. Terlihat seorang yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang panjang terurai berdiri menyambut kedatangan mereka.

“Lama aku menunggu kedatangan kalian”, berkata orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

“Bila ada Raja Leak, pasti amanlah kita”, berkata Ki Arya Sidi merasa gembira bertemu kembali dengan saudara angkatnya itu.

“Jangan khawatir, para pengikutku telah siap menjalankan tugasnya berjaga-jaga”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyumnya yang mengembang.

Sementara itu bulan purnama bulat telah bergeser terus kepuncak cakrawala langit malam. Taburan jutaan bintang menambah keindahan suasana diatas puncak Bukit Sembul.

Akhirnya yang mereka nantikan datang juga. Dari sisi lain terlihat dua orang muncul dalam bayang tersamar terus mendekati mereka. Semakin nampak jelas siapa gerangan yang mendekati mereka. Ternyata adalah Dewa Palaguna bersama seseorang yang terlihat sudah begitu tua terlihat dari kerut-kerut wajahnya yang mulai kendur.

“Guru!!!”, berkata Dewa Bakula sambil menjatuhkan dirinya bersujud dihadapan seorang yang datang bersama Dewa Palaguna

“Bangkitlah Bakula, aku ingin berkenalan dengan orang yang telah mengalahkanmu”, berkata orang itu kepada Dewa Bakula.

Dewa Bakula bangkit berdiri dengan wajah penuh keraguan.

“Aku bertanding dengan adil, aku sudah menerima kekalahanku dengan wajar. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi”, berkata Dewa Bakula dengan wajah masih penuh keraguan apa kiranya yang akan dilakukan guru dan saudara tuanya itu.

“Kamu boleh menerima kekalahan itu, tapi aku belum dapat menerimanya”, berkata Dewa Palaguna kepada Dewa Bakula dengan suara lantang sepertinya menyalahkan dan meremehkan Dewa Bakula yang mudah menyerah.

“Aku sependapat dengan saudara tuamu, menyingkirlah”, berkata orang tua yang dipanggil guru itu kepada Dewa Bakula.

“Aku mendengar ada yang ingin berkenalan denganku”, berkata Mahesa Amping maju menghadap orang tua itu dengan menjura penuh hormat.

“Ternyata kamu memang masih muda belia”, berkata orang tua memandang Mahesa Amping dari ujung kaki sampai keatas kepala.”Perkenalkan namaku Aanjav, aku sudah mendengar tentang dirimu lewat muridku Palaguna”, berkata orang itu sambil menatap Mahesa Amping dengan matanya yang begitu tajam sepertinya ingin menelisik kemampuan Mahesa Amping.

Tapi Mahesa Amping bukan anak muda sembarangan, kilatan cahaya mata Aanjav yang tajam itu seperti menembus sebuah samudra yang dalam.

Terkejut Aanjav merasakan tabrakan tatapan mata Mahesa Amping.

“Muridku telah kamu kalahkan, biarlah aku yang tua ini mencoba mengenal beberapa jurus darimu”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping.

“Hanya untuk mengenal beberapa jurus, bukan sebuah pertandingan hidup mati”, berkata Mahesa Amping dengan penuh ketenangan.

“Tapi jangan salahkan diriku bila ada yang mati”, berkata Aanjav penuh percaya diri.

“Aku telah siap, maksudnya………bukan siap mati”, berkata mahesa Amping dengan senyum dikulum.

“Tataplah purnama diatas langit sepuasnya, besok mungkin kamu sudah tidak dapat lagi memandangnya”, berkata Aanjav yang kurang senang dengan gurauan Mahesa Amping.

“Hari ini aku telah menatap rembulan, bila besok tidak lagi menatap rembulan, itu artinya aku tertidur disore hari”, berkata Mahesa Amping tidak menghiraukan orang tua dihadapannya yang tidak suka bergurau.

“Aku tahu bahwa kamu tengah mengungkit kemarahanku, apapun ucapanmu tidak akan mempengaruhiku”, berkata Aanjav dengan mata yang tajam sepertnya telah dapat membaca arah pikiran dari Mahesa Amping.

“Aku tidak bermaksud apapun, hanya sekedar merenggangkan ketegangan” berkata Mahesa Amping masih dengan kepercayaannya dirinya yang tinggi.

———-oOo———-

SFBDBS 11-270

Namun diam-diam Mahesa Amping mengagumi sikap orang tua dihadapannya itu yang tidak mudah diungkit kemarahannya.

“Keluarkanlah senjatamu”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping terlihat dengan penuh ketenangannya mengurai senjata cambuknya dari pinggangnya.

Sementara itu semua yang melihat Mahesa Amping dan Aanjav tengah mempersiapkan diri untuk bertarung sepertinya mengerti bahwa pertarungan yang dahsyat akan terjadi di tanah lapang bukit Sembul itu, terlihat mereka semuanya mencari tempat menjauh.

“Mari kita lihat apakah cambukmu mampu menahan serangan tongkatku”, berkata Aanjav sambil memutar tongkatnya diatas kepalanya.

Wutttt……………,,

Tiba-tiba terdengar suara angin yang cepat berasal dari tongkat Aanjav yang meluncur menghantam ke arah pinggang Mahesa Amping.

“Pukulan yang kuat !!”, berkata Mahesa Amping yang bergeser mundur menghindari hantaman tongkat panjang Aanjav yang kuat dan cepat itu.

Baru saja Mahesa Amping bergeser mundur, tongkat Aanjav telah berubah arah menusuk ke arah perut, kembali Mahesa Amping bergeser mundur ke belakang. Namun kali ini cambuk Mahesa Amping ikut bergerak.

Wutttt……..,

Cambuk Mahesa Amping nyaris menghantam leher Aanjav.

“Arah serangan yang baik”, berkata Aanjav sambil merunduk menghindari serangan cambuk Mahesa Amping.

Degggggg……………,

“Bagaimana yang ini?”, berkata Mahesa Amping sambil menghentakkan cambuknya dengan cara sendal pancing mematuk ke arah leher Aanjav.

“Luar biasa”, berkata Aanjav sambil bergeser badannya kekanan menghindari patukan cambuk Mahesa Amping yang datang tidak terduga dan begitu cepatnya.

Kali ini Aanjav balas menyerang dengan mengibaskan tongkatnya ke arah kaki Mahesa Amping. Dengan cepat Mahesa Amping melompat dan balas menyerang dengan memutarkan cambuknya kearah badan Aanjav bagian atasnya.

Tidak ada cara lain bagi Aanjav selain menangkis serangan Mahesa Amping dengan tongkatnya.

Duarrr………..!!!!!

Dua buah senjata beradu mengeluarkan suara yang terdengar begitu keras dan memercikkan bunga api di keremangan malam diatas tanah lapang Bukit Sembul.

Dua buah senjata yang hanya terbuat dari kayu pilihan dan yang satunya sebuah cambuk dari bahan jengat ketika beradu memercikkan bunga api adalah sebuah tanda bahwa pemilik kedua senjata itu telah memiliki tenaga cadangan yang sangat dahsyat.

“Kali ini Mahesa Amping mendapatkan lawan yang sepadan”, berkata Empu Dangka dalam hati yang menyaksikan pertempuran itu dengan mata yang sepertinya tidak pernah berkedip.

Ternyata perhitungan Empu Dangka sangat beralasan. Aanjav di tanah asalnya sangat disegani. Bahkan namanya sudah terkenal tidak hanya terbatas di Tanah Hindu. Beberapa Datuk sesat di daratan cina yang terkenal akan ketinggian ilmunya akan berpikir ulang untuk berhadapan langsung dengan Aanjav yang dikenal dengan sebutan “Pendeta bertongkat seribu ”.

Kedua murid Aanjav, Dewa Bakula dan Dewa Palaguna diam-diam mengagumi ketinggian ilmu Mahesa Amping. Kedua muridnya ini sudah tahu betul kedahsyatan ilmu gurunya, namun kali ini ada seorang yang masih muda telah mampu melayaninya dengan baik.

“Pertempuran yang dahsyat”, berkata Ki Jaran Waha kepada Ki Arya Sidi yang berdiri di sebelahnya.

“Pertempuran semakin cepat”, berkata Ki Arya Sidi yang melihat pertempuran sudah semakin cepat.

Sebagaimana yang dilihat oleh Ki Arya Sidi, pertempuran memang sudah semakin cepat. Mahesa Amping dan Aanjav telah meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis. Serangan-serangan mereka sudah tidak dapat lagi terlihat oleh pandangan kasat mata. Yang terlihat hanyalah dua bayangan hitam saling menyerang dan balas menyerang.

Yang lebih dahsyat lagi terlihat pada pada arena tempat mereka bertempur yang sudah menjadi rata. Rumput dan alang-alang hangus terbakar menjadi abu dan beterbangan menjauh tertiup angin pukulan yang keras.

Ternyata Mahesa Amping dan Aanjav telah menyalurkan tenaga dari dalam dirinya berupa hawa panas yang luar biasa pada masing-masing senjatanya. Terasa pada setiap angin serangan dan desis pukulan mereka. Jarak tempur mereka terus bergeser tidak lagi berdekatan, karena jarak arah serangan tidak sebatas di ujung tongkat dan di ujung cambuk, tapi sudah bertambah sedepa melebihi senjata mereka masing-masing berupa angin serangan yang sangat panas.
Mahesa Amping memanfaatkan kelenturan senjata cambuknya, sementara itu Aanjav yang terkenal dengan sebutan “Pendeta bertongkat seribu telah memainkan tongkatnya dengan kecepatan yang luar biasa. Pertempuran dua dewa kanuragan ini pun menjadi begitu sengit, seru dan keras.

Kadang-kadang tidak dapat dihindari terjadi benturan senjata. Akibatnya adalah terlihat percikan bunga api layaknya dua benda berujud wesi aji pilihan saling beradu dengan kerasnya.

———-oOo———-

SFBDBS 11-271

Pertempuran telah terlihat semakin seru dan meneganggan. Hawa panas telah menyebar seluas arena pertempuran diantara mereka.

Sementara itu malam telah semakin larut, belum juga ada tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertempuran itu. Tidak ada setitik keringat pun terlihat di wajah-wajah mereka. Sepertinya mereka telah menguasai ilmu pernapasan tingkat tinggi, tidak merasakan kelelahan sedikit pun.

“Pantas bila kedua muridku tidak dapat menandinginya”, berkata Aanjav dalam hati sambil melayani serangan Mahesa Amping yang dahsyat datang beruntun.

Sementara itu Mahesa Amping terus berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan ilmu Aanjav ini yang memang sudah ada pada tataran yang tinggi. Tidak terlihat celah sedikit pun dari jurus-jurus yang dikeluarkan, meski Mahesa Amping pernah melihatnya ketika menghadapi Dewa Bakula dan Dewa Palaguna. Tapi jurus Aanjav dari kedua muridnya ini jauh lebih sempurna lagi.

“Anak ini bergerak seperti setan”, berkata dalam hati Aanjav menghadapi Mahesa Amping yang telah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna, ditambah lagi Mahesa Amping sepertinya mampu membaca kemana arah senjata tongkatnya akan berpindah serangan.

Hanya dengan kematangan ilmunya yang telah banyak berpengalaman menghadapi berbagai lawan dari berbagai ilmu aliran yang berbeda yang membuat Pendeta bertongkat seribu ini mampu menghadapi dan mengimbangi anak muda lawannya itu.

“Luar biasa!!!”, berkata kembali Aanjav dalam hati ketika Mahesa Amping telah mampu menghadapi serangannya dengan jarak pendek, sepertinya tidak merasakan apapun hawa panas yang telah dikerahkan lewat serangan tongkatnya.

Diam-diam Pendeta bertongkat seribu mengagumi Mahesa Amping yang masih muda namun sudah berilmu tinggi. Biasanya hanya dari golongan tua saja yang mampu melayaninya.

Pertempuran masih terus berlangsung dan nampaknya kian seru. Butiran-butiran keringat sudah terlihat di wajah Mahesa Amping maupun pada Aanjav sebagai tanda mereka telah mengerahkan seluruh tenaganya dengan keras.

“Hanya orang gila yang mampu berbuat ini!!!!”, berkata dalam hati Aanjav dengan dada yang berdebar.

Ternyata Mahesa Amping tengah membolak-balikkan kekuatan hawa panas dan hawa dingin silih berganti dengan perubahan yang cepat.

Empu Dangka yang melihat kecerdikan Mahesa Amping hanya tersenyum kecil, sebuah cara yang tidak umum dan tidak semua orang dapat melakukannya.

Empu Dangka melihat perubahan pertempuran, Aanjav sepertinya agak terganggu dengan cara yang dilakukan oleh Mahesa Amping lewat pengerahan hawa panas dan hawa dingin yang berubah dengan cepat dan tidak menentu.

“Dewa mana yang mengendap didalam jiwa anak ini”, berkata dalam hati Aanjav dengan perasaan galau.

Galau memenuhi perasaan Aanjav sang pendeta bertongkat seribu ini.

Galau juga memenuhi perasaan Dewa Palaguna yang melihat gurunya seperti setengah terdesak. Sebagai orang yang berada diluar arena pertempuran dapat merasakan sebuah tekanan akibat dari perubahan hawa panas dan hawa dingin yang silih berganti tak menentu. Dewa Palaguna dapat membayangkan tekanan yang lebih keras lagi akan dialami oleh gurunya yang tengah bertempur itu.

Ki Jaran Waha dan Ki Arya Sidi terlihat mundur menjauh karena merasakan tekanan perubahan hawa panas dan hawa dingin yang dihentakkan oleh kekuatan dari dalam diri Mahesa Amping.

“Bila saja anak muda ini telah mengerahkan kekuatannya seperti ini ketika bertempur melawanku, mungkin aku sudah tidak lagi melihat purnama malam ini”, berkata Dewa Palaguna merasa bersyukur Mahesa Amping ternyata telah bersikap lunak kepadanya sambil menarik nafas panjang.

“Ketika berupaya menghentakkan kekuatan yang ada didalam dirinya beberapa hari yang lalu, Mahesa Amping belum melepaskan seluruh kekuatannya”, berkata Empu Dangka yang baru melihat kekuatan Mahesa Amping yang sebenarnya sambil mundur beberapa langkah menghindari tekanan akibat perubahan kekuatan hawa panas dan hawa dingin yang silih berganti yang dikerahkan Mahesa Amping dalam menghadapi Aanjav yang berilmu tinggi.

Kegalauan menghantui seluruh perasaan Aanjav, ternyata Mahesa Amping telah merambati kekuatannya semakin ke puncaknya. Pikiran Aanjav telah bercabang, disamping menghadapi serangan cambuk Mahesa Amping yang sangat cepat dan beruntun, juga berusaha melambari dirinya dengan hawa panas dan hawa dingin yang silih berganti .

Terlihat tubuh Aanjav melenting jauh ke belakang.

“Cukup!!!”, berkata Aanjav sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda untuk menghentikan pertempurannya. Sebagai seorang yang ahli dan mempunyai pengalaman yang cukup banyak dapat mengetahui apa yang terjadi bila saja lawannya dengan kekuatan yang semakin tinggi dan berubah-ubah itu akan mengakibatkan seluruh urat halus darah akan pecah, sebuah dampak yang sangat mengerikan !!!!!!

Mahesa Amping terlihat masih berdiri ditempatnya.

“Terima kasih telah berbuat lunak kepadaku”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping sambil menjura dalam. “Hari ini aku mengakui dan menerima kekalahan murid-muridku”, berkata Aanjav kepada mahesa Amping.

“Hanya manusia yang berjiwa layaknya samudera yang dapat menerima sebuah kekalahan”, berkata Mahesa Amping kepada Aanjav dengan senyum penuh persahabatan.

“Senang berkenalan denganmu wahai anak muda”, berkata Aanjav kepada Mahesa Amping, sepertinya mereka tidak habis bertempur.

Semua yang menyaksikan pertempuran itu terlihat bernafas lega setelah beberapa saat darah mereka seperti berhenti begitu tegangnya.

“Mereka adalah sahabat Mahesa Amping”, berkata Dewa Bakula kepada Gurunya sambil memperkenalkan Empu Dangka, Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha yang juga baru dikenalnya.

“Hari ini aku berkenalan dengan orang-orang luar biasa dari Balidwipa”, berkata Aanjav penuh senyum keramahan.
Akhirnya mereka menyadari bahwa Dewa Palaguna tidak ada diantara mereka.

“Palaguna belum dapat menilai sebuah kekalahan dengan sebenarnya”, berkata Aanjav sambil menarik nafas dalam menyesali sikap dan perbuatan muridnya yang sudah cukup berumur yang seharusnya sudah dapat berbuat bijak.

Sementara itu cakrawala langit malam sudah semakin hanyut surut dibawa sang waktu, dan sang dewi rembulan sudah letih menjaga bumi berbaring pucat di tepian ujung barat cakrawala langit malam yang sebentar lagi akan berganti pagi.

Benar!!!, bintang fajar telah terlihat tersenyum denngan cahayanya yang gemerlap sebagai tanda pagi akan segera menjelang.

“Mari kita bersama ke Pura Indrakila”, berkata Dewa Bakula mengajak semuanya beristirahat di Pura Indrakila.

“Terima kasih, aku tidak ikut singgah. Penampilanku akan membuat gempar para penghuni Pura Indrakila”, berkata Ki Jaran Waha pamit diri langsung kembali ke tempat kediamannya.

Terdengar Ki Jaran Waha bersuit panjang, maka terlihat beberapa orang keluar dari persembunyiannya. Ternyata Ki Jaran telah menempatkan beberapa pengikutnya untuk berjaga-jaga bilamana ada sebuah kecurangan dari pihak lain.

Dengan diiringi pandangan mata semua yang ada di puncak bukit Sembul itu, Ki Jaran Waha dan pengikutnya telah menuruni puncak Bukit Sembul dan akhirnya menghilang ditelan bumi di sebuah tanah yang menurun terjal.

Tidak lama kemudian semua yang tersisa di tanah lapang bukit Sembul itu pun bergerak menuruni bukit menuju Pura Indrakila.

Mereka berjalan beriring dinaungi langit yang telah bersemburat warna merah merata sebagai tanda sebentar lagi sang mentari akan datang menjaga bumi.

Pagi masih begitu gelap manakala mereka telah sampai di Pura Indrakila. Sebagaimana keluarnya, mereka pun masuk dari sebelah sisi kiri Pura Indrakila langsung menuju Bale Guru.

“Beristirahatlah, aku akan memberitahukan pelayan”, berkata Dewa Bakula ketika mereka tengah manaiki tangga pendapa Bale Guru.

———-oOo———-

SFBDBS 11-272

“Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menaungi perjalananmu”, berkta Empu Dangka mengantar ki Arya Sidi yang tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru.

Diiringi pandangan mata Mahesa Amping dan Empu Dangka, terlihat Ki Arya Sidi menghilangan di tikungan jalan setapak terhalam pohon rengon yang besar.

Sementara itu matahari pagi sudah bergeser naik memancarkan cahayanya yang menyilaukan di ujung timur bumi. Awan cerah seperti kapas mengambang mengisi seluruh cakrawala diatas Bale Guru Pura Indrakila.

Seperti biasa, dipagi itu Mahesa Amping dan Empu Dangka turun ke sanggar untuk memberikan beberapa pengarahan yang diperlukan kepada para Sisya.

“Daya tangkap dan penalaran dari setiap Sisya ternyata tidak sama”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka disela-sela kesibukannya memberikan pengarahan kepada para Sisya.

“Disitulah letak keadilan Gusti Yang Maha Agung”, berkata Empu Dangka dengan senyum dikulum.

“Jadi adil itu bukan berarti sama rata ?”, bertanya Mahesa Amping

“Benar, adil menurut kita tidak sama dengan adil menurut Sang Hyiang Gusti Yang Maha Agung”, berkata Empu Dangka masih dengan senyumnya yang menyejukkan.

Pembicaraan mereka terhenti manakala datang seorang pelayan Puri Dalem Astana menemui mereka.

“Baginda Raja berkenan akan mengunjungi sanggar”, berkata pelayan itu.

“Kami akan menanti kedatangan tuan Baginda”, berkata Mahesa Amping kepada pelayan itu.

Pelayan itu pun terlihat melangkah pergi meninggalkan mereka. Tidak lama berselang, Baginda Raja Indrakila memang telah berkenan datang ke sanggar melihat-lihat kegiatan latihan para Sisya bersama Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Terima kasih telah mengembalikan warna ilmu di Pura Indrakila ini sebagaimana yang telah diturunkan nenek moyang kami secara turun temurun”, berkata Baginda Raja Indrakila merasa gembira melihat tata gerak ilmu kanuragan yang diajarkan Mahesa Amping.

“Apakah tuanku melihat beberapa hal yang berbeda?”, bertanya Mahesa Amping memancing kejelian mata Baginda Raja Indrakila.

“Benar apa yang kamu katakan, aku melihat beberapa hal yang berbeda secara mendasar”, berkata Baginda Raja yang sejak semula melihat ada beberapa perbedaan.

“Itulah hasil pengembangan dan kesempurnaannya”, berkata Mahesa Amping tanpa menerangkan bahwa dialah sebenarnya yang telah menyempurnakan ilmu perguruan Panca Agni.

———-oOo———-

SFBDBS 11-273

Sekilas suasana di Bale Guru menjadi begitu sepi. Mahesa Amping dan Empu Dangka sepertinya tengah ada didalam pikirannya masing-masing.

“Entah kenapa pada saat-saat tertentu yang kubayangkan adalah sebuah keluarga kecil, sebuah gubuk mungil berdiri di dekat sebuah persawahan”, berkata Mahesa Amping yang akhirnya menyampaikan apa yang dipikirkannya.

Empu Dangka tersenyum mendengar apa yang dipikirkan oleh Mahesa Amping.

“Bukan rumah besar seorang perwira besar di kotaraja dengan sejumlah pelayan yang selalu siap melayani?”, bertanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping sepertinya tidak perlu jawaban dari Mahesa Amping.

Mahesa Amping memang tidak segera menjawab, hanya terlihat tarikan nafasnya yang panjang. Empu Dangka tidak mencoba mengungkit apa sebenarnya yang tengah dipikirkan oleh anak muda yang telah mempunyai ketinggian ilmu yang sudah melebihi puncak Gunung Agung itu.

Sementara sang Sandikala telah datang mewarnai cakrawala langit di atas Bale guru Pura Indrakila. Pandangan alam menjadi begitu bening tanpa semilir angin sedikit pun. Pohon-pohon besar di sekitar Bale Guru seperti seonggok raksasa tinggi besar tengah memandang langit. Hamparan rumput hijau di halaman Bale guru seperti rebah bersujud menanti datangnya sang raja malam yang gelap.

Sang Raja malam akhirnya memang datang juga membawa layar kegelapannya menyelimuti hamparan bumi.

“Ki Arya Sidi mungkin besok baru datang kembali”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika mereka masih duduk diatas pendapa Bale Guru yang telah diterangi pelita biji jarak dengan cahayanya yang temaram menggantung di sudut tiang kanan dan kiri pendapa Bale Guru.

“Secepatnya kita harus menyerahkan pembinaan para Sisya di Pura Indrakila ini kepada Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Mengapa harus secepatnya?”, bertanya Empu Dangka
“Secepatnya kita harus melaporkan tugas di Balidwipa ini ke Singasari”, berkata mahesa Amping

“Kita??, kamu saja kalii??”, berkata Empu Dangka penuh canda

“Bukankah saudara kembar Empu dangka sudah menjadi Pendeta Guru Istana di Singasari dan Empu Dangka ingin menemuinya?”, berkata Mahesa Amping tanpa meminta jawaban langsung dari Empu Dangka.

“Anakmas benar, aku akan datang bersamamu ke Singasari”, berkata Empu Dangka dengan wajah berbinar terlihat cahaya matanya yang bening telah berkaca, mungkin menahan getar kerinduan untuk bertemu kepada satu-satunya saudaranya yang juga satu-satunya keluarganya yang masih hidup di dunia ini.

Dering dengung malam terdengar ajek mengiringi suasana malam yang gelap dan sepi disekitar Bale Guru Pura Indrakila. Kadang terdengar suara katak menjerit, mungkin suara terakhirnya ketika berada di ujung taring seekor ular yang malam itu telah mendapatkan santapannya.

“Hari sudah jatuh malam, mari kita masuk beristirahat”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Semilir angin malam membasuh daun-daun dan ranting pepohonan di sekitar Bale Guru Pura Indrakila. Cakrawala langit terlihat sedikit berkabut, tidak ada satu pun bintang yang nampak hadir. Itulah sebuah tanda alam akan datangnya hujan. Dan tidak lama kemudian hujan pun datang juga, tidak begitu besar, hanya rintik-rintik gerimis kecil, dan sepajang malam itu gerimis kecil mengisi sisa hari yang panjang hingga datangnya pagi.

Hujan gerimis turun merata hampir di seluruh Balidwipa. Gerimis juga mengguyur Bukit Pejeng Gundul.
Pagi itu terlihat enam orang lelaki tengah berjalan menuju regol gerbang Padepokan Panca Agni.

“Kutitipkan Padepokan ini kepadamu”, berkata Ki Arya Sidi sambil memeluk erat Ki Nyoman, orang yang selama ini begitu setia melayani dirinya.

“Semoga tuan dapat menjaga kesehatan”, hanya itu yang terucap dari bibir Ki Nyoman, tenggorokannya terasa tersumbat untuk mengatakan hal yang lain.

“Jarak Pura Indrakila tidak begitu jauh, bila ada waktu datanglah ke Pura Indrakila”, berkata Ki Arya Sidi melepaskan pelukannya.

Terlihat Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya tengah berjalan menjauhi Padepokan Panca Agni diiringi tatapan mata seorang pelayan tua yang setia Ki Nyoman. Akhirnya kelima orang yang selama ini dilayaninya itu telah menghilang di sebuah jalan menurun.

“Mereka adalah orang-orang yang baik, bumi akan menerima mereka dimanapun tanah dipijak”, berkata Ki Nyoman sambil menarik nafas panjang menghentakkan kesedihan hatinya.

Hari itu memang hari pasaran ketika mereka tengah mendekati sebuah pasar di disebuah padukuhan yang mereka lewat. Sementara matahari pagi terlihat begitu terang memancarkan cahayanya.

“Sudah lama rasanya tidak minum dawet”, berkata Dewa Ketut Akasa yang melihat penjual dawet dimuka pasar.

Ki Arya Sidi tersenyum mendengar Sisya terkecilnya bicara tentang sebuah dawet.

“Mari kita mampir sejenak merasakan nikmatnya sebuah dawet”, berkata Ki Arya Sidi mengajak para sisyanya mampir meminum dawet.

Bukan main gembiranya Ketut Dewa Akasa mendengar suara gurunya yang memberikan kesempatan mampir ke penjual dawet.

“Buatkan kami empat, pak tua”, berkata Wayan Dewa Bayu sisya tertua dari keempat sisya itu.

———-oOo———-

SFBDBS 09-274

Terlihat pak tua penjual dawet dengan terampil membuat empat mangkuk dawet pesanan, gula aren dan santannya ada dalam tempat terpisah. Ketut Dewa Akasa terlihat menelan ludahnya ketika melihat pak tua tengah melelehkan gula aren cair ke mangkuk satu persatu.

“Silahkan menikmati”, berkata Pak Tua penjual dawet mempersilahkan ke empat mangkuk pesanannya.

“Kurang satu”, berkata Nyoman Dewa Teja yang terlihat sangat teliti.

“Tadi pesannya empat mangkuk”, berkata Pak Tua penjual Dawet.

“Aku yang salah, aku yang memesan empat mangkuk yang seharusnya lima mangkuk”, berkata Wayan Dewa Bayu langsung mengakui kesalahannya.

“Biarlah aku yang menunggu pesanan terakhir”, berkata Made Dewa Apah, saudara kedua mereka yang terlihat sering banyak mengalah dan sangat bijaksana.

Ki Arya Sidi diam-diam tersenyum melihat ragam watak keempat sisyanya.

“Sikap satria telah terlihat dalam diri mereka”, berkata Ki Arya Sidi sambil menikmati minuman dawet yang terasa sangat begitu nikmat.

Ketika mereka tengah menikmati minuman dawet, tiba-tiba saja berlari kearah mereka seorang anak kecil sebaya dengan Ketut Dewa Akasa sambil menangis.

“Paman, hasil penjualan taliku dirampas semuanya”, berkata anak itu kepada pak tua penjual dawet.

“Mengapa kamu tidak melawannya?”, berkata Pak Tua penjual Dewet terlihat sangat kesal

“Mereka terlalu besar untuk dilawan”, berkata anak itu masih menangis.

“Apa yang terjadi pak tua?”, bertanya Nyoman Dewa Teja merasa ingin tahu apa yang terjadi atas anak itu.

“Anak ini adalah keponakanku, setiap hari pasaran ibunya selalu membuat tali dari pelepah pisang untuk dijual di pasar ini. Anak inilah yang menjualkan tali-tali itu. Tapi seperti kemarin, anak-anak brandal telah merampas hasil penjualannya”, berkata Pak Tua penjual dawet memberikan penjelasannya.

“Itulah mereka yang telah merampas hasil penjualanku”, berkata tiba-tiba anak itu sambil menunjuk empat orang anak tanggung yang tengah berjalan akan keluar pasar.

“Ijinkan aku menemui mereka”, berkata Ketut Dewa Akasa kepada Ki Arya Sidi yang seperti tidak menghadapi suatu yang besar mengijinkan anak itu dengan menganggukkan kepalanya. Diam-dia merasa bangga melihat jiwa satria telah tumbuh didalam diri anak sekecil itu.

“Serahkan jajanan itu semua kepadaku”, berkata Ketut Dewa Akasa dihadapan empat anak tanggung itu.

Keempat anak tanggung itu tertawa tidak tertahan mendapatkan seorang bocah yang lebih kecil dari mereka tengah menggertak mereka.

“Apakah kamu akan merampok kami?”bertanya salah seorang dari mereka yang terlihat bertubuh paling tinggi dan kurus.

“Benar aku akan merampok kalian”, berkata Ketut Dewa Akasa dengan gaya penuh keberanian.

“Anak ini memang perlu disumbat mulutnya”, berkata anak yang paling tinggi kurus itu sambil melangkah mendekati Ketut Dewa Akasa dan langsung melayangkan tangannya menampar kearah wajah Ketut Dewa Akasa.

Ternyata Ketut Dewa Akasa bukan anak kecil sembarangan, selama ini telah berlatih bersama ketiga saudaranya dengan cara yang sesungguhnya menghadapi sebuah perkelahian.

Terlihat Ketut Dewa Akasa membiarkan tangan anak itu mendekati wajahnya dengan mata tidak berkedip sedikit pun. Maka ketika tinggal sedikit lagi tangan anak tinggi kurus itu mengenai wajahnya, Ketut Dewa Akasa telah memiringkan sedikit kepalanya.

Tangan anak tinggi kurus itu mengenai tempat kosong dan tubuh anak itu sedikit terhuyung.

Ketut Dewa Akasa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat kakinya telah bergeser menekuk siku kaki anak tinggiu kurus itu. Akibatnya sungguh luar biasa, anak tinggi kurus itu terjungkal kedepan jatuh mencium bumi. Jajanan ditangannya terlihat tercecer di tanah. Terlihat anak tinggi kurus itu bangkit berdiri kembali dengan mata merah penuh kemarahan.

“Kucekik kau sampai mati!!”, berkata anak itu sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah leher Ketut Dewa Akasa.

Dibiarkan tangan anak tinggi kurus itu menyambar lehernya, namun baru saja tangan itu menyentuh kulit lehernya, kedua tangannya telah mencengkam dengan keras kedua tangan anak tinggi kurus itu.

Tangan kecil Ketut Dewa Akasa ternyata sudah terlatih. Buktinya anak tinggi kurus itu terlihat meringis merasakan tangannya tercekal begitu keras.

Dan Ketut tidak hanya sampai disitu, dengan tangan kecilnya memelintir tangan anak tinggi kurus itu kearah keluar dan melemparkannya. Ketika tangan itu terbuka lebar, sebuah tangan mungil Ketut Dewa Akasa telah bersarang keperut anak tinggi kurus itu.

Ki arya Sidi yang melihat dari kejauhan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Harusnya tangan itu mengarah kedada, tapi anak sekecil itu sudah punya jiwa pengasih”, berkata Ki Arya Sidi dalam hati merasa bangga seorang sisyanya telah mempunyai jiwa welas asih.

“Ayo bangkit berdiri, apakah kamu masih kuat?”, bertanya Ketut Dewa Akasa kepada anak tinggi kurus itu yang sepertinya masih belum sanggup berdiri.

———-oOo———-

SFBDBS 11-275

“Berikan kembali apa yang sudah kamu rampas dari anak kecil penjual tali, atau kamu ingin terjungkal seperti kawanmu?”, berkata Ketut Dewa Akasa kepada ketiga anak lainnya.

Ternyata ketiga anak itu berjiwa pengecut, tidak ada sedikit pun pembelaan kepada kawannya yang masih menahan rasa sakit di perutnya.

“Hanya sekepeng inilah yang kami dapatkan dari anak kecil penjual tali itu”, berkata salah seorang anak sambil menyerahkan sekepeng logam.

“Sisanya telah kamu belanjakan jajanan itu”, berkata Ketut Dewa Akasa dengan suara dibesarkan layaknya seorang pendekar besar.

“Benar”, berkata anak itu sambil menganggukkan kepalanya dibenarkan juga oleh kedua kawannya.

“Pergilah, kali ini kalian kumaafkan. Mulai hari ini aku tidak mau mendengar lagi anak kecil penjual tali itu dirampas miliknya”, berkata Ketut Dewa Akasa.

Terlihat ketiga anak itu berjalan cepat meninggalkan seorang kawannya yang terlihat perlahan bangkit berdiri.
Anak tinggi kurus itu perlahan berdiri dan berjalan kearah ketiga kawannya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

Ketut Dewa Akasa telah kembali ke tempat penjual dawet.

“Aku hanya mendapatkan sekepeng, berapa kepeng milikmu yang dirampas?”, berkata Ketut Dewa Akasa kepada anak kecil penjual tali itu.

“Tiga kepeng”, berkata anak kecil itu.

“Ini dua kepeng milikku untukmu, mudah-mudahan besok kamu tidak diganggu lagi”, berkata ketut Dewa Akasa sambil menyerahkan dua kepeng miliknya kepada anak kecil penjual tali itu.

“Terima kasih”, berkata anak itu penuh kegembiraan. “Akan kubelanjakan untuk bahan jamu ibuku yang sedang sakit”, berkata kembali anak kecil itu menuju ke pasar yang masih ramai sambil membawa beberapa ikat tali jualannya yang masih tersisa.

“Aku sangsi apakah kamu dapat melayani ketiga anak itu sekaligus”, berkata Made Dewa Apah menggoda adiknya.

“Aku tidak takut selama yang kubela adalah sebuah keadilan”, berkata Ketut Dewa Akasa penuh semangat.

“Adikmu benar, jiwa satria selalu menegakkan keadilan di muka bumi ini”, berkata Ki Arya Sidi kepada keempat Sisyanya.

Sementara itu matahari terus merayap, suasana pasar terlihat tidak lagi seramai sebelumnya.

“Mari kita melanjutkan perjalanan”, berkata Ki Arya Sidi kepada para Sisyanya.

Terlihat Ki Arya Sidi bersama para Sisyanya telah keluar dari Padukuhan itu dan terus melangkah menyusuri pematang sawah yang luas membentang.

“Padi ini baru berumur dua pekan, masih lama menunggu waktunya panen”, berkata Ki Arya Sidi sambil melihat hamparan sawah yang luas.

Akhirnya mereka telah mendekati sebuah bulakan panjang yang sepi.

“Apakah arah kita menuju bukit didepan kita?”, bertanya Wayan Dewa Bayu kepada Ki arya Sidi.

“Benar, setelah mendaki bukit itu, kita sudah mendekati Pura Indrakila”, berkata Ki Arya Sidi.

Namun begitu mereka memasuki bulakan panjang itu, terdengar suara beberapa orang tengah bertempur. Ki Arya Sidi memberi tanda kepada para Sisyanya untuk melihat apa yang terjadi didepan mereka dengan cara bersembunyi mengendap di beberapa semak dan alang alang. Ketika mereka sudah semakin mendekat, ternyata memang telah terjadi sebuah pertarungan yang cukup sengit. Ada tujuh orang tengah bertarung. Terlihat ada satu orang dikeroyok oleh dua orang.

“Kita belum dapat menentukan siapakah yang patut kita bela”, berkata Ki Arya Sidi perlahan sambil matanya terus mengawasi jalannya pertarungan.

“Tapi kita dapat terlambat membela mereka yang perlu dibela”, berkata Made Dewa Apah penuh kekhawatiran.

“Kalian tetaplah bersembunyi, aku akan mencoba turun ke arena pertarungan”, berkata Ki Arya Sidi yang langsung keluar dari persembunyiannya.

“He he he ada tontonan yang asyik”, berkata Ki Arya Sidi sambil mendekati salah seorang dari dua orang yang tengah mengeroyok.

“Orang gila, enyahlah kamu”, berkata orang itu merasa terganggu dengan kehadiran Ki Arya Sidi yang berlakon layaknya orang gila.

“Aku ingin ikut berkelahi, tidak enak melihat dua orang melawan satu”, berkata Ki Arya Sidi sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Dasar orang gila”, berkata salah seorang diantaranya yang langsung melayangkan golok tajamnya kearah leher Ki Arya Sidi.

Gerakan orang itu masih terhitung sangat lambat dimata Ki Arya Sidi. Maka dengan cepat tangan Ki Arya Sidi sudah dapat mencekal pergelangan orang itu. Dan dengan gaya orang gila betulan, Ki Arya Sidi menubrukkan tubuhnya ke arah orang itu, tentunya dengan sedikit melambari tenaga dalam. Akibatnya cukup mengejutkan, tubuh orang itu langsung terpental bersama terlepasnya golok tajam yang ada ditangannya. Ternyata orang itu tidak mampu bangkit lagi, terlentang ditanah sepertinya sudah pingsan.

Melihat kawannya jatuh pingsan, bukan main marahnya orang yang satunya. “Kuhabisi dulu nyawamu orang tua edan”, berkata orang itu yang langsung menyerang senjatanya kearah leher Ki Arya Sidi.

“Tidak kena, tidak kena”, berkata Ki arya Sidi dengan suara terkekeh mengelak setiap serangan orang itu yang terus mengejarnya merasa penasaran.

Kembali Ki Arya Sidi menabrakkan tubuhnya kearah orang itu,
Bruk……., Terdengar suara tubuh saling beradu.

Anehnya Ki Arya Sidi masih tetap berdiri, sementara orang yang ditubruknya terjengkang mencium tanah dan tidak bergerak lagi. Orang yang sebelumnya dikeroyok terlihat termangu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, orang tua didekatnya telah merobohkan kedua lawannya dengan begitu mudah. Namun belum lagi rasa aneh hilang dari perasaannya, orang tua itu telah mendekati dua pertempuran lainnya.

Terlihat orang itu seperti wajah orang terlolong tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Ki Arya Sidi sudah dengan mudahnya merampas semua senjata dari empat orang yang tengah bertempur.

“Senjata bagus, senjata bagus”, berkata Ki Arya sidi bersama suara tawanya yang terkekeh-kekeh.

“Orang tua edan, kembalikan senjataku”, berkata seorang yang berwajah garang mendekati Ki Arya Sidi bersama dengan kawannya.

Belum sempat kedua orang itu mendekat, Ki Arya Sidi terlihat
membalikkan badannya membelakangi mereka. Dan ketika kedua orang itu sudah mendekat untuk menghajar orang tua yang dianggapnya edan itu. Maka tiba-tiba saja Ki Arya Sidi berjongkok membelakangi.

Apa yang dilakukan oleh Ki Arya Sidi selanjutnya??? Dengan tangan menempel ditanah, dua kaki Ki Arya Sidi menendang kearah belakang tepat menghantam kedua dada lawannya secara bersamaan.

Benar-benar sebuah gerakan yang tidak terduga. Kedua orang itu langsung terlempar jatuh terlentang.

———-oOo———-

SFBDBS 11-276

Berlanjut ke bagian 2

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 April 2012 at 22:30  Comments (259)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

259 KomentarTinggalkan komentar

  1. selamat malam kadank sedoyo

    • lho……….kok sendiriannnn ?????

      • Tidak sendirian kok, ada saya……

  2. Sebagaimana Rangga Lawe, Raden Wijaya merasa kenal dengan orang yang datang bersama Mahesa Amping.

    “Perkenalkan, ini saudara kembar dari Empu Nada”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

    “Ternyata aku bertemu dengan guru Paman Kebo Arema dan Baginda Maharaja Singasari”, berkata Raden Wijaya penuh santun dan penghormatan.

    Tamu dari Raden Wijaya ternyata memaklumi suasana pertemuan itu, orang itupun berpamit diri.

    “Maaf, urusanku sudah selesai, aku mohon pamit diri”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya serta semua yang ada di pendapa Balai Tamu.

    Setelah tamu itu turun dari pendapa, kembali suasana penuh kegembiraan lebih terbuka lagi, mereka saling bercerita beberapa hal seiring selama perpisahan mereka.

    “Aku tidak melihat Paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping menanyakan keadaan kebo Arema.

    “Paman Kebo Arema baru saja keluar, mungkin ada sedikit urusan di Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe kepada Mahesa Amping.

    “Setelah beristirahat, aku akan ke Benteng Cangu sekalian bertemu Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Kita semua akan mengantarmu ke Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe menyambung perkataan Mahesa Amping.

    Pembicaraan mereka tiba-tiba tertahan manakala dari balik pintu keluar seorang pelayan membawa minuman dan hidangan untuk mereka.

    “Silahkan dinikmati hidangannya”, berkata Rangga Lawe memberi kesepatan Mahesa Amping dan Empu Dangka memulai mengambil hidangan yang tersedia.

    “baru kali ini aku dipersilahkan oleh seorang yang bernama Lawe”, berkata Mahesa Amping yang disambut gerai tawa semuanya.

    “Ini untuk pertama dan terakhir, besok kamu bukan tamu lagi”, berkata Rangga Lawe yang membuat suara ketawa kembali menyambung berkepanjangan.

    Demikianlah, mereka saling bersenda gurau sambil menikmati hidangan diatas pendapa Balai Tamu. Empu Dangka dapat menilai begitu dekatnya persahabatan ketiga pemuda yang ada bersamanya itu.

    “Mereka tiga serangkai sahabat sejati dan sehati”, berkata Empu dangka dalam hati menilai keakraban ketiga pemuda dihadapannya itu sambil ikut menikmati senda gurau mereka yang sepertinya tidak ada batas perbedaan warna-warni pangkat dan derajat keturunan.

    • lho…!!??!, berarti kurang satu lagi

      • kamsiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaa.

  3. satpam sudah coba bundel rontal yang tercecer, terbyata masih belum cukup.
    kalau Pak Dhalangnya menambahkan dua rontal lagi, maka SFBDBS-11 sudah bisa dibundel.
    he he he … (dengan nada berharap)

    • cuma dua rontal lagi ????? (sambil bernyanyi)

      makan, makan sendiri,
      nyuci, nyuci sendiri
      ngopi……bikin sendiri

      • cuma dua rontal lagi ???????
        (kirain sambil mencet keyboard)

      • Ngerontalpun ……pun sendiriiiiiiii

  4. Sementara itu di hutan seberang sungai Brantas, sekumpulan burung pengelana terlihat turun bertengger di beberapa ranting. Satu dua burung-burung muda terlihat tengah mencari perhatian dihadapan para burung betina dengan memegarkan bulunya yang halus putih sambil membuat sebuah suara kicau yang merdu. Sebagian lagi terlihat tengah meneguk air ditepian sungai Brantas penuh kepuasan setelah melewati perjalanan panjangnya.

    “Kita akan menemui kemarau panjang”, berkata Empu Dangka dengan pandangan jauh kedepan memandang burung-burung pengelana di seberang sungai Brantas.

    “Saat yang baik untuk membawa prajurit berlayar menuju Balidwipa”, berkata Mahesa Amping ikut memandang ke hutan di seberang Sungai Brantas.

    Dan waktupun terus berlalu, matahari diatas Sungai Brantas telah mulai tergelincir surut kebarat.

    “Mari kita ke Benteng Cangu, menemui Senapati Mahesa Pukat dan Paman Kebo Arema”, berkata Raden Wijaya.

    Maka terlihat mereka tengah menuruni anak tangga Balai Tamu dan melangkah menuju Benteng Cangu yang letaknya tidak begitu berjauhan.

    Tidak begitu lama mereka telah sampai di pintu gerbang Benteng Cangu. Seorang pengawal yang melihat tangan kedmereka langsung membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

    Sementara itu Mahesa Pukat dan Kebo Arema yang tengah berada di atas pendapa Benteng Cangu telah melihat kedatangan mereka yang semakin mendekat.

    “Guru….”, berkata Kebo Arema sambil menuruni anak tangga pendapa.

    “Bangkitlah anakku”, berkata Empu Dangka menyentuh punggung Kebo Arema untuk bangkit berdiri.

    Maka suasana benar-benar menggembirakan, banyak sekali yang mereka percakapkan sepanjang berbagai hal selama perpisahan waktu diantara mereka.

    “Kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping yang telah bercerita cukup panjang mengenai perjalanan tugasnya di Balidwipa.

    “Saran dan pandangan Kakang Mahesa Pukat sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat berharap mendapat berbagai masukan.

    “Apakah kamu tidak ingin menerima saran dan pandanganku ?”, berkata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya yang panjang penuh senyum.

    “Saran dan Pandangan dari Kakang dan Paman sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping mengulang kembali perkataannya.

    Demikianlah, mereka bersama saling memberikan beberapa pandangan berdasarkan apa yang telah diamati Mahesa Amping selama berada di Balidwipa.

    • satu………….,berteriak sambil bersalto tiga kali dan langsung berdiri bertolak pinggang. hehehe

  5. satu rontal lagi, masuk di gandok 12 yang sduah terbuka
    he he he ….

  6. “Kapan kalian akan ke Kotaraja ?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping

    Terlihat Mahesa Amping memandang Raden Wijaya berharap ikut memberikan jawaban.

    “Kami akan berangkat segera, tentunya setelah Mahesa Amping dan Empu Dangka cukup beristirahat”, berkata Raden Wijaya cukup terdengar bijaksana.

    “Kalian semua akan berangkat ke kotaraja ?”, bertanya kembali Mahesa Pukat.

    “Mungkin Rangga Lawe yang harus tertinggal mewakili segalanya di Balai Tamu”, berkata Raden Wijaya.

    Maka semua mata tertuju kepada Rangga Lawe.

    “Sebagai prajurit, aku siap menerima tugas dari Sang Senapati”, berkata Rangga Lawe dengan wajah senyum terpaksa karena sedikit kecewa tidak diikutkan ke Kotaraja.

    Namun perkataan Rangga lawe itu sudah membuat semua diatas pendapa benteng Cangu tertawa.

    Sementara itu waktu berlalu seperti berlari, senja telah mulai merangkak pergi meninggalkan bumi menyelinap dibawah kegelapan malam yang telah mulai merayap menyelimuti bumi.

    “Kami mohon pamit diri”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat mewakili.

    Maka terlihat Kebo Arema, Mahesa Amping, Empu Dangka, Raden Wijaya dan Rangga Lawe tengah menuruni anak tangga pendapa Benteng Cangu diringi pandangan mata Mahesa Pukat sampai
    akhirnya menghilang tidak terlihat lagi ketika mereka terhalang pintu gerbang benteng cangu yang tinggi.

    Berlima mereka beriring berjalan melangkah menuju Balai Tamu Bandar Cangu yang tidak begitu jauh dari Benteng Cangu. Sementara langit malam telah menutupi air sungai Brantas menjadi begitu kelam, hanya terdengar riak gelombangnya sesekali menampar kayu bahtera Singasari yang tengah bersandar di dermaga kayu itu.

    Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di pendapa Balai Tamu.

    “Hamba kira tuan-tuan akan kembali dari Benteng Cangu sampai jauh malam”, berkata pelayan tua itu penuh senyum ramah.

    “Kami rindu dengan masakanmu Pak tua, itulah sebabnya kami segera kembali”, berkata Rangga Lawe kepada pelayan tua itu membuat semua yang mendengar ikut tersenyum.

    Diam-diam Empu Dangka memperhatikan keakraban sikap pelayan tua itu kepada penghuni Balai Tamu itu.”Kesetiaan pelayan tua itu buah dari sikap penghuni rumah ini yang menghormatinya bukan sebagai pesuruh, tapi sebagai sahabat”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi sikap kasih orang-orang disekilingnya itu.

    Sinar bulan sepotong redup memandang wajah alang-alang yang melenggut ditepian sungai Brantas. Dan malampun telah jauh merambah kegelapan.

    • cihuiiiiiiiii……….,

      • he he he ….., gandok 12 sudah dibuka ki
        rontal terakhir sya masukkan di gandok 12.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: