SFBDBS-11

Bagian 2.

SFBDBS 11-276

Dan ternyata kedua orang itu sudah tidak bergerak lagi pingsan untuk waktu yang lama.

“Terima kasih pak tua edan, kamu telah mempermudah pekerjaan kami”, berkata salah seorang yang telah dibantu oleh Ki Arya Sidi. Sementara kedua kawannya terlihat memeriksa apapun yang terselip dibalik pakaian keempat orang lawannya yang tengah pingsan.

“Aku mendapatkannya”, berkata salah seorang sambil memperlihatkan sebuah kotak perhiasan.

“He he he…., ternyata kalian adalah perampok”, berkata Ki Arya Sidi masih bergaya orang gila sambil menggaruk-garuk kepala.

“Pak Tua edan, sekarang pergilah menjauh sebelum kami berubah pikiran untuk membunuhmu”, berkata salah seorang diantara mereka yang nampaknya pemimpin dari kedua kawannya.

“Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa kalian membunuhku”, berkata Ki Arya Sidi sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Aku akan membunuhmu!!”, berkata pemimpin perampok itu sambil mengambil sebuah golok yang tercecer di tanah dan langsung menyerang Ki Arya Sidi.

Ki Arya Sidi membiarkan golok itu semakin dekat dengan kulit lehernya, maka ketika baru saja golok itu akan menyentuh kulitnya, tiba-tiba saja Ki Arya Sidi bergeser sedikit. Bukan main kagetnya orang itu terbawa tenaganya sendiri condong kedepan. Maka kembali Ki Arya Sidi menabrakkan badannya ke tubuh orang itu yang tentunya dengan sedikit melambari dirinya dengan tenaga dalam. Akibatnya seperti keempat orang lawannya, orang itu terpental terpelanting jatuh pingsan.

“He he he….”, Tertawa Ki Arya Sidi sambil memberi tanda agar kedua orang yang tersisa maju melawannya.

Tapi kedua orang itu menjadi begitu jerih membayangkan dirinya akan ikutan jatuh pingsan bila melawan orang tua yang dianggapnya edan itu. Terlihat bukannya maju melawan, melainkan mundur semakin menjauh dan lari begitu kencang takut dikejar oleh Ki Arya Sidi.

“Keluarlah kalian dari persembunyian”, berkata Ki Arya Sidi memanggil keempat sisyanya.

Terlihat keempat Sisyanya telah keluar dari persembunyiannya dan mendekati Ki Arya Sidi.

“Ikatlah orang itu”, berkata Ki Arya Sidi kepada Wayan Dewa Bayu. Maka Wayan Dewa Bayu telah mengikat salah seorang perampok yang masih pingsan itu dengan sebuah kulit kayu yang ada tumbuh disekitar mereka.

“Serahkan kotak perhiasan ini kepada salah seorang dari keempat orang itu yang masih pingsan”, berkata ki Arya Sidi sambil mencari tempat persembunyian.

 Terlihat keempat para Sisya tengah menyatukan keempat orang yang pingsan tergeletak diberbagai tempat. Juga seorang perampok yang sudah dalam keadaan terikat. Para Sisya tidak perlu menunggu lama, beberapa waktu kemudian orang-orang yang pingsan itu telah terlihat siuman.

“Siapa kalian”, berkata salah seorang yang baru tersadar dari pingsannya kepada para Sisya.

“Kami kebetulan lewat, dan melihat kalian telah tergeletak disini”, berkata Nyoman Dewa Bayu mewakili ketiga saudaranya.

“Dimana orang tua edan itu”, berkata salah seorang yang lain sambil matanya menyapu semua tempat mencari-cari sementara orang yang dicarinya tidak ditemuinya.

“Mungkin maksud kisanak adalah seorang lelaki yang sudah cukup berumur?”, berkata Nyoman Dewa Bayu kepada orang itu.

“Benar, seorang lelaki tua”, berkata orang itu membenarkan. “Apakah kamu melihatnya ?”, bertanya orang itu kepada Nyoman Dewa Bayu.

“Aku melihatnya tengah mengikat orang itu”, berkata Nyoman Dewa Bayu sambil menunjuk seorang perampok yang masih terikat. “Orang tua itu juga menitipkan kotak ini kepada kami, katanya ini milik salah seorang diantara kalian”, berkata Nyoman Dewa Bayu sambil menyerahkan kotak kepada salah seorang diantaranya.

“Terima kasih, ternyata kalian adalah orang-orang jujur”, berkata salah seorang kepada para Sisya dengan wajah penuh gembira melihat isi didalam kotak tidak berkurang sedikit pun.

Akhirnya salah seorang diantaranya bercerita tentang apa yang terjadi. Berawal dari perjalanan mereka menuju Kademangan Pejeng dalam rangka mengantar saudara mereka yang akan melaksanakan upacara pernikahan. Namun ditengah jalan telah dicegat oleh tiga orang perampok dan juga bertemu dengan orang tua aneh yang telah membuat mereka pingsan hanya dengan membenturkan tubuhnya.

“Kami berasal dari Padukuhan Kendal di lereng bukit Pura Indrakila”, berkata orang itu mengakhiri ceritanya.

“Kebetulan sekali, tujuan perjalanan kami adalah Pura Indrakila”, berkata Made Dewa Apah ikut bicara.

“Singgahlah ketempat kami bila kalian ada waktu, mungkin kami dapat menjamu kalian sebagai ungkapan rasa terima kasih”, berkata salah seorang yang terlihat paling muda diantara keempat orang diantaranya.

“Kepada orang tua itulah kalian berterima kasih, sementara kami hanya kebetulan lewat”, berkata Nyoman Dewa Bayu.

“Apakah kalian melihat kemana perginya orang tua yang ….. agak kurang waras itu?”, bertanya seorang yang paling tua.

 ———-oOo———-

SFBDBS 11-277

“Waktu kami temui katanya akan mengejar dua orang perampok kearah sana”, berkata Nyoman Dewa Bayu menunjuk sebuah arah.

“Syukurlah, berarti kita tidak akan bertemu lagi dengan orang tua itu”, berkata salah seorang yang sedari tadi tidak pernah bicara, mungkin masih terbayang bagaimana rasa sakit yang tidak terkira yang telah membuatnya pingsan.

Sementara itu Nyoman Dewa Bayu dan ketiga adiknya hanya tersenyum dalam hati mengingat semua ulah gurunya Ki Arya Sidi.

“Bagaimana dengan seorang perampok ini?”, bertanya Made Dewa Apah meminta pertimbangan.

“Biarlah kami yang membawanya untuk diserahkan kepada Ki Buyut di Padukuhan terdekat.

Demikianlah akhirnya keempat orang itu telah melanjutkan perjalanan mereka sambil membawa seorang tawanan.

Ketika keempat orang itu sudah jauh berlalu, maka muncullah Ki Arya Sidi dari persembunyiannya.

“Hari ini aku telah salah menilai orang, kukira ketiga orang yang berpakaian ala bangsawan itu adalah orang baik, ternyata perampok tengik”, berkata Ki Arya Sidi sambil mengibas-kibaskan pakaiannya yang ternyata banyak dihinggapi semut hitam.

“Guru tidak pernah mengajarkan kepada kami jurus gaya katak menendang kebelakang”, berkata Ketut Dewa Akasa kepada Ki Arya Sidi.

“Itu memang tidak ada dalam jurus perguruan kita”, berkata Ki Arya Sidi sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Tapi dampak dari jurus itu benar-benar jempolan, dua orang langsung pingsan”, berkata Nyoman Dewa Teja sambil mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.

“Betul, sebuah jurus maut yang baru kulihat”, berkata Wayan Dewa Bayu menambahkan.

Sementara itu Ketut Dewa Akasa dengan lincah mencoba meniru gerakan yang mereka sebut sebagai jurus maut itu. Maka tertawalah semuanya melihat gerakan Ketut Dewa Akasa.

“Tidak baik memperolok guru sendiri, mari kita melanjutkan perjalanan”, berkata Ki Arya Sidi sambil tersenyum mengajak keempat Sisyanya melanjutkan perjalanan mereka.

Mentari baru saja bergeser sedikit dari puncaknya ketika Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya tengah melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda, sementara itu cakrawala langit biru terlihat begitu cerah dipenuhi awan putih berarak tertiup angin seperti gumpalan kapas besar yang terus berubah bentuk.

Terlihat mereka akhirnya telah sampai di kaki sebuah bukit yang dipenuhi pohon pohon kayu yang lebat. Untuk sementara mereka merasa terlindung dari sengatan sinar matahari disiang hari itu.

 Ki Arya Sidi dan keempat Sisyanya telah mendaki bukit itu menembus semak dan alang-alang yang tumbuh disekitar pohon-pohon besar yang tinggi menjulang. Keadaan di hutan bukit kecil itu begitu teduh dan jalan mereka kadang berliku menghindari semak kayu berduri.

“Bukankah ini jalan yang tadi pernah kita lewati?”, berkata Nyoman Dewa Taja yang dikenal sangat teliti.

“Benar, kita telah berputar arah kembali di tempat yang sama”, berkata Wayan Dewa Bayu membenarkan ucapan adiknya.

“Mungkin kita perlu beristirahat membuka bekal kita”, berkata Ki Arya Sidi sambil memandang berkeliling.

“Dipasar aku sempat mebeli Brem ketan hitam”, berkata Made Dewa Apah sambil membuka bekalnya.

“Pantas kita tersasar berputar-putar di tempat yang sama!!”, bekata Ki Arya Sidi tiba-tiba yang membuat semua mata para Sisya tertuju kepadanya memandang penuh pertanyaan.

Ki Arya Sidi pun akhirnya bercerita bahwa orang tuanya wanti-wanti mengingatkan agar tidak membawa brem ketan hitam bila akan melakukan perjalanan jauh. Pada suatu waktu diam-diam dirinya membawa brem ketan hitam dari rumah ketika akan melakukan sebuah perjalanan jauh bersama ayahnya. Hal yang aneh pun terjadi, mereka berdua tersesat di sebuah hutan yang sering mereka lalui hingga hari senja mereka berdua tidak juga menemukan jalan keluar.

“Marah besar ayahku ketika mengetahui bahwa aku membawa brem ketan hitam dalam perjalanan”, berkata Ki Arya Sidi.

“Apa yang dilakukan Ayah guru pada saat itu?”, bertanya Ketut Dewa Akasa sepertinya penasaran.

“Ayahku mengambil sebagian brem ketan hitamku dan melemparkannya keempat penjuru”, berkata Ki Arya Sidi. “Kata Ayahku para makhluk halus sangat menyukai Brem ketan hitam, itulah sebabnya mereka menahan kita ”, berkata Ki Arya Sidi menjelaskan.

Wayan Dewa Bayu, Made Dewa Apah, Nyoman Dewa Teja dan Ketut Dewa Akasa merasakan bulu tengkuknya berdiri mendengar cerita Ki Arya Sidi, sepertinya merasakan ada makhluk halus yang berdiri didekat mereka.

Sabil tersenyum Ki Arya Sidi mengambil sedikit brem ketan hitam milik Made Dewa Apah dan melemparkannya keempat penjuru arah.

“Silahkan kalian menikmati dan jangan ganggu kami lagi” berkata Ki Arya Sidi setelah melemparkan brem ketan hitam diempat penjuru.

Setelah itu Ki Arya Sidi mempersilahkan keempat Sisyanya untuk menikmati bekal yang mereka bawa.

Perut keempat bersaudara itu ternyata memang sudah cukup lapar setelah setengah harian berjalan, maka terlihat mereka benar-benar menikmati bekal makanan mereka.

 ———-oOo———-

SFBDBS 11-278

Setelah beristirahat yang cukup, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Entah apa karena para makhluk halus hutan itu sudah kebagian brem ketan hitam, atau karena mereka sudah cukup beristirahat. Perjalanan mereka tidak berputar-putar lagi tapi dapat melintasi bukit itu dan telah sampai dikaki bukit tempat Pura Indrakila berdiri.

Mereka tidak singgah di Padukuhan yang mereka lewati tapi langsung mendaki bukit Pura Indrakila karena hari sudah mendekati senja. Akhirnya diujung senja mereka telah sampai di Pura Indrakila.

“Selamat datang di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping menyambut kedatangan Ki Arya Sidi bersama keempat Sisyanya.
Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing, merekapun bercerita sepanjang perpisahan diantara mereka.

“Guruku menemukan sebuah jurus maut di perjalanan, namanya jurus katak menendang kebelakang”, berkata Ketut Dewa Akasa kepada Mahesa Amping.

Semua tertawa ketika Ki Arya Sidi menjelaskan apa yang dimaksud dengan jurus katak menendang kebelakang. Diam-diam Mahesa Amping melihat Ketut Dewa Akasa seperti cermin dirinya ketika masih kecil, mempunyai otak yang cukup encer dan bakat yang baik. Mahesa Amping diam-diam mulai menyukai anak kecil ini.

Pembicaraanpun seketika terhenti manakala seorang lelaki tua yang bertugas melayani di Bale Guru itu muncul sambil membawa minuman hangat dan setumpuk ubi rebus.

Sementara itu waktu terus berlalu, malam telah menyelimuti Bale Guru itu yang hanya diterangi cahaya dua buah pelita.

“Ki Made Rangu akan mengantar kalian untuk beristirahat”, berkata Mahesa Amping sambil masuk kedalam memanggil Ki made Rangu mengantar empat bersaudara itu beristirahat di tempat yang telah ditentukan untuk para Sisya di Pura Indrakila itu.

“Mudah-mudahan mereka dapat cepat berbaur bersama para Sisya lainnya”, berkata Empu Dangka ketika keempat Syisa itu telah diantar oleh Ki Made Rangu ketempatnya beristirahat.

“Kehadiran mereka mungkin bisa memecut semangat para Syisa yang ada sebelumnya, karena mereka sudah berlatih lebih lama”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

Seekor burung celepuk terdengar berbunyi dari pohon asam disamping Bale Guru, suaranya terdengar lagi ditempat yang semakin jauh. Sementara itu angin malam semilir menggoyangkan api pelita menjadikan cahaya di pendapa Bale Guru seketika menjadi buram.

 “Nampaknya Ki Arya Sidi sudah lelah mengantuk”, berkata Empu Dangka sambil tersenyum kepada Ki Arya Sidi yang terlihat memang sudah begitu lelah mengantuk.

Akhirnya mereka pun telah masuk kedalam biliknya masing-masing untuk beristirahat.

Ki Arya Sidi sudah langsung terlelap tidur, sementara itu Mahesa Amping masih belum dapat memejamkan, diawali bayangan Ketut Dewa Akasa yang lucu, angan Mahesa Amping melayang jauh sampai ke tanah Melayu dimana istri tercintanya Dara Jingga ada disana. Terlihat Mahesa Amping tersenyum sendiri, namun tidak lama kemudian yang terdengar adalah suara keluar masuk nafasnya yang halus beraturan. Mahesa Ampingpun akhirnya sudah jauh tertidur pulas.

Sementara itu sang malam terus menyusut selimut kegelapannya dan bumi telah terjaga dari mimpinya manakala terdengar lirih dari jauh suara ayang jantan bersahut-sahutan semakin mendekat.

“Aku akan melaksanakan pemilahan para sisya menjadi tiga kelompok”, berkata Mahesa Amping menyampaikan sebuah rencananya kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

“Aku setuju, dengan demikian akan mempermudah dalam pembinaannya”, berkata Ki Arya Sidi menyukai rencana Mahesa Amping.

Maka pada pagi hari itu Mahesa Amping memberitahukan perihal pemilahan itu kepada semua para sisya. Mahesa Amping langsung menguji satu persatu para sisya di Pura Indrakila itu untuk menentukan ditingkat mana mereka ditempatkan. Keempat bersaudara dari Padepokan Panca Agni pun tidak lepas dari pengujian itu meski mereka telah berlatih lebih matang dibandingkan dengan para Sisya di Pura Indrakila.

Ketika Ketut Dewa Akasa masuk ke sanggar tertutup untuk melakukan sebuah ujian pemilahan, diam-diam Mahesa Amping mengagumi ketangkasan anak kecil itu. Mahesa Amping melihat Ketut Dewa Akasa tidak tertinggal jauh dibandingkan ketiga saudaranya yang sudah terlebih dahulu masuk dalam ujian pemilahan.

“Anak ini hanya kalah sedikit dalam hal tenaga”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dang Ki Arya sidi yang tengah melihat Ketut Dewa Akasa tengah melakukan gerakan jurus perguruannya.

“Bagaimana menurutmu suasana di Pura Indrakila ini?”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Dewa Akasa yang telah menyelesaikan semua ujian pemilahan di sanggar tertutup.

“Sangat menyenangkan, tidak sepi sebagaimana di Bukit Pejeng”, berkata Ketut Dewa Akasa.

Mahesa Amping tersenyum mendengar jawaban Ketut Dewa Akasa dan mempersilahkan Ketut Dewa Akasa keluar dari Sanggar tertutup agar peserta lainnya dapat segera masuk.

Akhirnya seluruh sisya telah melakukan ujian pemilahan, sebuah ujian yang sangat ketat karena bukan hanya dilihat penguasaan jurus, tapi bagaimana mengatur pernafasan yang baik serta kemahiran mereka dalam hal kekuatan dan keseimbangan diatas alat peraga yang ada di sanggar itu.

 ———-oOo———-

SFBDBS 11-279

“Sekarang kalian boleh beristirahat, besok aku akan menyampaikan pengumuman ujian pemilahan ini”, berkata Mahesa Amping yang mempersilahkan para Sisya untuk beristirahat.

Bukan main gembiaranya para Sisya bahwa hari itu mereka tidak perlu berlatih sampai senja.

Sementara itu matahari terlihat telah bersembunyi dibalik kerimbunan daun dan dahan pohon rengat yang tumbuh disisi barat sanggar. Suasana menjadi begitu teduh.

“Mari kita kembali ke pendapa untuk membicarakan hasil dari ujian pemilahan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka.

Akhirnya dua puluh empat sisya di Pura Indrakila itu telah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok sesuai dengan tingkat tataran ketangkasan yang mereka miliki.

Pada keesokan harinya, telah diumumkan kepada para Sisya dikelompok mana mereka ditempatkan.Ternyata Wayan Dewa Bayu dan ketiga adiknya masuk dalam kelompok pertama.

“Aku telah mengumumkan kepada kalian hasil dari ujian pemilahan ini, adakah diantara kalian yang merasa keberatan?”, bertanya Mahesa Amping kepada para Sisya di sanggar terbuka.

Ternyata dari kelompok kedua ada yang mengacungkan tangannya, badan Sisya itu terlihat agak bongsor seusia Wayan Dewa Bayu.

“Maaf guru, aku sangsi apakah anak kecil itu lebih baik dari pada kami?”, berkata pemuda itu sambil menunjuk kepada Ketut Dewa Akasa.

Mahesa Amping tersenyum memandang pemuda itu yang dikenalnya bernama Putu Risang Kamasa yang berasal dari Pura Lempuyang.

“Saudaramu Putu Risang Kamasa telah mencontohkan kepada kalian keberaniannya menyampaikan kejujuran perasaannya, itulah sikap jiwa satria yang merdeka”, berkata Mahesa Amping yang disambut sorak para sisya sambil mengelu-elukan sikap Putu Risang Kamasa.

“Adakah diantara kalian yang masih keberatan dengan hasil ujian ini selain Putu Risang Kamasa?”, berkata lagi Mahesa Amping setelah suara para Sisya sudah agak mereda.

Terlihat tidak ada satupun yang mengangkat tangan.

“Penilaianku atas diri kalian tidak mengenal pilih kasih. Mari kita buktikan apakah Putu Risang Kamasa lebih baik dari saudaranya Ketut Dewa Akasa”, berkata Mahesa Amping sambil meminta Putu Risang Kamasa dan Ketut Dewa Akasa tampil maju kedepan.

Terlihat Ketut Dewa Akasa dan Putu Risang Kamasa sudah maju kedepan dan saling berhadapan.

Diam-diam Mahesa Amping mengagumi sikat Ketut Dewa Akasa yang nampak begitu tenang, sementara itu sikap putu Risang Makasa sangat meremehkan anak yang lebih muda dihadapannya.

 “Bersiaplah saudara kecilku”, berkata Putu Risang Kamasa kepada Ketut Dewa Akasa

“Sejak berdiri disini aku sudah siap”, berkata Ketut Dewa Akasa dengan sedikit senyumnya.

Maka belum habis Ketut Dewa Akasa berbicara, sebuah tendangan telah meluncur dari kaki kanan Putu Risang kamasa.

Ketut Dewa Akasa sangat hapal sekali dengan jurus serangan itu, belum lagi kaki itu menyentuh tubuhnya, terlihat Ketut Dewa Akasa melompat kesamping dengan berbarengan sebuah tangannya yang mungil telah bergerak berlawanan arah memukul pinggang lawannya.

Tidak terpikir lawan kecilnya mampu mengelak dan balas menyerang membuat Putu Risang Kamasa agak kaget dan langsung menjatuhkan dirinya kesamping bergelinding dan dengan cekatan telah berdiri kembali dengan wajah yang tidak percaya atas apa yang dapat dilakukan oleh saudara kecilnya itu yang baru datang bergabung di Pura Indrakila.

Dari pembukaan serangan itu Putu Risang Kamasa sudah mulai sadar bahwa anak kecil dihadapannya itu ternyata sudah cukup terlatih.

“Jangan berbangga dulu saudara kecilku, kita baru mulai”, berkata Putu Risang Kamasa sambil melangkah mendekati Ketut Dewa Akasa langsung melancarkan pukulan jurus berantai.

Tiga kali diserang, tiga kali Ketut Dewa Akasa mengelak. Namun di akhir serangan itu Ketut Dewa Akasa telah balik membalas serangan itu.

Ternyata Putu Risang Kamasa mulai berhati-hati dan mulai membuat perhitungan yang matang tidak lagi menganggap Ketut Dewa Akasa dengan sebelah mata.

Maka duel pertarungan diantara mereka menjadi begitu seru dan menegangkan.

Mahesa Amping yang menyaksikan pertarungan itu terlihat penuh senyum. Diam-diam mengagumi ketenangan Ketut Dewa Akasa dan penguasaan mengendalikan pernafasannya, sementara itu dilihatnya Putu Risang Kamasa terlalu “boros” mengumbar kekuatan dan tenaganya.

Tiga puluh jurus telah berlalu, mereka terlihat saling menyerang dan balas menyerang. Sepertinya mereka sudah sangat hapal betul dan dapat membaca langkah lawannya.

Pertarunganpun semakin seru dan menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik.

Terlihat Mahesa Amping masih tersenyum.

“Ketut Dewa Akasa telah menguasai olah pernafasannya dengan baik”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi yang berada didekatnya melihat Ketut Dewa Akasa masih tetap penuh tenaga, sementara Putu Risang Akasa sudah basah seluruh tubuhnya dengan keringat yang terus mengalir deras.

“Anak itu seperti seekor tikus cerdik tengah menggoda seekor kucing besar”, berkata Ki Arya Sidi penuh kebanggaan.

 ———-oOo———-

SFBDBS 11-280

“Pukulan Putu Risang Kamasa sudah mulai mengambang lemah”, berbisik perlahan Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Kesabaran anak itu sudah tingagal memetik panen”, berkata Empu Dangka yang ikut memberikan tanggapan mendengar bisik-bisik anatara Mahesa Amping dan Mi Arya sidi.

Ternyata penilaian ketiga orang piawai dalam ilmu kanuragan ini tidak meleset jauh, terlihat Putu Risang Kamasa memang sudah semakin lemah. Sementara itu Ketut Dewa Akasa memang sudah menanti kesempatan itu cukup lama. Maka pada sebuah serangan beruntun yang dilakukan oleh Ketut Dewa Akasa agak terlambat untuk dihalau dan dielakkan. Maka perut, pinggang dan pangkal pahanya telah merasakan pukulan dan tendangan yang kuat dari Ketut Dewa Akasa.

Putu Risang Kamasa terlihat terhuyung kesamping dengan nafas yang hampir putus merasakan kerasnya pukulan Ketut Dewa Akasa pada bagian perutnya.

Terlihat Ketut Dewa Akasa hanya berdiri dan tidak menyusul Putu Risang Kamasa dengan serangan lainnya.

“Aku menyerah”, berkata Putu Risang Kamasa sambil masih memegangi perutnya denga kedua tangannya. Kali ini bukan merasakan pukulan diperutnya, tapi merasakan nafasnya sudah menjadi megap dan tersengal-sengal.

“Berbaringlah lurus di tanah, nafasmu akan kembali normal”, berkata Ketut Dewa Akasa sambil mendekati Putu Risang Kamasa membantunya berbaring di tanah.

Dengan beberapa kali tarikan nafas panjang, Putu Risang Kamasa merasakan nafasnya mulai kembali teratur.

“Apakah kamu sudah merasa baikan?”, berkata Mahesa Amping yang datang mendekati Putu Risang Kamasa dengan berjongkok disisinya.

“Kubantu kamu berdiri”, berkata kembali Mahesa Amping sambil menarik tangan pemuda itu.

“Terima kasih guru, hari ini aku mendapat pelajaran yang sangat begitu mahal”, berkata Putu Risang Kamasa yang sudah berdiri sambil mengusap peluh diwajahnya.

“Apa yang kamu dapatkan ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Putu Risang Kamasa dengan senyum penuh kasih sayang.

“Manabung tenaga”, berkata Putu Risang Kamasa perlahan.

Mahesa Amping mempersilahkan Ketut Dewa Akasa dan Putu Risang Kamasa ketempatnya masing-masing.

“Hari ini saudaramu Putu Risang Kamasa sudah tidak sangsi lagi atas penilaiannya pada Ketut Dewa Akasa. Pemilahan yang aku lakukan adalah agar kalian dapat memacu diri lebih baik lagi”, berkata Mahesa Amping kepada para Sisya.

Demikianlah hari-hari Mahesa Amping dibantu Empu Dangka dan Ki Arya Sidi telah membimbing para Sisya di Pura Indrakila. Pemilahan dua kelompok ternyata telah mempermudah dalam pembinaan serta mempercepat proses pematangan dan peningkatan yang dirasakan langsung oleh para Sisya satu persatu.

Sementara itu ada rencana dari Mahesa Amping dan Empu Dangka untuk melepaskan pembinaan para Sisya sepenuhnya kepada Ki Arya Sidi. Itulah sebabnya Mahesa Amping dan Empu Dangka sering mencari alasan untuk meninggalkan Pura Indrakila antara dua sampai tiga hari. Biasanya Mahesa Amping dan Empu Dangka melanglang keberbagai tempat di Balidwipa melaksanakan tugas sandinya menilai setiap keadaan di setiap tempat.

“Ki Arya Sidi dan Ki Jaran Waha dapat kita rangkul sebagai kawan, manakala rencana penguasan Balidwipa ini benar-benar akan dilakukan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dalam perjalanan pulang menuju Pura Indrakila setelah melanglang ke berbagai tempat di Balidwipa.

“Yang perlu dijelaskan kepada Ki Jaran Waha dan Ki Arya Sidi adalah maksud dan tujuan penguasaan Singasari atas Balidwipa tidak semata perluasan kekuasaan, tapi sebuah tugas suci mengembalikan setiap Pura di Balidwipa sebagai payung ruhani umatnya”, berkata Mahesa Amping.

“Semoga mereka dapat menerimanya dengan hati terbuka”, berkata Empu Dangka penuh harapan.

“Selama ini kulihat mereka punya pandangan yang sama”, berkata Mahesa Amping

“Pada saatnya kita harus jujur tentang keberadaan kita sebenarnya”, berkata Empu Dangka.

Sementara itu hari sudah terang, matahari sudah mulai merambat naik kepuncaknya ketika Mahesa Amping dan Empu Dangka telah tiba di Bale Guru setelah empat hari pergi melanglang.

“Kali ini kalian melanglang lebih lama”, berkata Ki Arya Sidi yang menyambut mereka di pendapa Bale Guru.

Setelah menyampaikan keselamatan masing-masing, merekapun saling bercerita tentang berbagai hal.

“Dari hari kehari, perkembangan para Sisya terus meningkat”, berkata Ki Arya Sidi bercerita tentang para Sisya di Pura Indrakila.

“Kulihat pada dasarnya mereka adalah anak-anak muda yang berbakat”, berkata Mahesa Amping menanggapi perkataan Ki Arya Sidi.

Pembicaran mereka terputus manakala Ki Made Rangu keluar dari pintu sambil membawa makanan dan minuman. Terlihat Mahesa Amping tengah menuang kendi air kedalam mangkuknya.

“Makan siang yang nikmat”, berkata Empu Dangka menatap hidangan yang ada.

———-oOo———-

SFBDBS 11-281

“Selama melanglang kalian pasti jarang mendapatkan hidangan yang lengkap”, berkata Ki Arya Sidi penuh senyum.

Demikianlah, mereka terlihat tengah menikmati hidangan yang dibawa Ki Made rangu dengan penuh kegembiraan.

Setelah beristirahat yang cukup, mereka bermaksud turun ke sanggar. Namun rencana mereka tertahan manakala terlihat tiga orang mendekati Pendapa Bale Guru.

Ternyata yang datang adalah Raja Indrakila bersama dua orang pengawalnya.

“Mudah-mudahan kedatanganku tidak mengganggu”, berkata Raja Indrakila dengan penuh senyum naik keatas pendapa.

“Adalah sebuah karunia kehadiran Tuan baginda ke tempat kami”, berkata Ki Arya Sidi mewakili dua orang sahabatnya.

“Beberapa hari yang lalu aku dapat kabar bahwa kalian telah pergi melanglang”, berkata Raja Indrakila ketika sudah duduk bersama di pendapa Bale Guru.

“Hanya sekedar mengganti suasana biar tidak jenuh terlalu lama di sebuah tempat”, berkata Empu Dangka kepada Raja Indrakila.

“Apa yang kalian dapatkan selama melanglang di Balidwipa?”, bertanya Raja Indrakila yang telah mulai banyak mengenal Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Kami melihat sepanjang pesisir Balidwipa telah dipenuhi para saudagar dari Tanah Hindu”, berkata Empu Dangka sambil menatap Raja Indrakila untuk mengetahui sejau mana pandangannya mengenai hal itu.

Terlihat Raja Indrakila menarik nafas dalam. “Bahkan mereka saat ini telah merambah ke daratan”, berkata Raja Indrakila menyambung perkataan Empu Dangka.

“Mereka mendapat tempat tersendiri di Pura Besakih”, berkata Mahesa Amping ikut menyampaikan tanggapannya.

“Aku tidak sepaham dengan Raja Adidewalancana dari Pura Besakih atas kebijakannya menjalin kerjasama hanya kepada para saudagar dari Tanah Hindu. Kebijakan sepihak yang dapat membunuh kemerdekaan untuk berdagang kepada siapapun”, berkata Raja Indrakila menyampaikan pendapatnya.

“Kebijakannya juga telah membentur para pedagang dari Tanah Singasari”, bekata mahesa Amping menambahkan sepertinya memancing pandangan yang lebih luas dari Raja Indrakila.

“Itulah yang kukhawatirkan akan terjadi, Raja Singasari akan mengirim pasukannya yang terkenal kuat ke Balidwipa ini”, berkata Raja Indrakila penuh kekhawatiran.

“Bila Raja Singasari datang ke Balidwipa untuk mengembalikan kemerdekaan perdagangan, dimanakah Tuan Baginda akan berpihak”, bertanya Empu Dangka kepada Raja Indrakila.

“Aku berpihak pada Singasari bilamana hal itu terjadi”, berkata Raja Indrakila penuh kepastian.

“Keberpihakan tuan Baginda berarti berseberangan dengan Raja Adidewalancana dari Pura Besakih”, berkata Empu Dangka kepada Raja Indrakila.

“Aku siap menghadapi apapun selama keberpihakanku kepada sebuah kebenaran”, berkata Raja Indrakila penuh keberanian.

“Perkataan dan pernyataan tuan Baginda telah didengar langsung oleh seorang perwira tinggi dari Singasari”, berkata Empu Dangka penuh senyum.

Raja Indrakila dan Ki Arya Sidi sepertinya belum menangkap arah perkataan Empu Dangka.

“Aku belum dapat menangkap apa yang Empu Dangka maksudkan”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Empu Dangka penuh ketidak mengertian.

“Mahesa Amping yang kalian kenal selama ini adalah seorang perwira tinggi Kerajaan Singasari”, berkata Empu Dangka perlahan penuh senyum.

Semua mata tertuju kepada Mahesa Amping, sepertinya berharap dari bibirnya menyampaikan sebuah pernyataan.

“Berita tentang para saudagar dari Tanah Hindu yang telah menguasai sepanjang pesisir Balidwipa telah sampai ke istana Singasari. Itulah sebabnya aku diutus langsung oleh Raja Kertanegara untuk membuktikan tentang kebenaran berita itu”, berkata mahesa Amping membenarkan pernyataan Empu Dangka.”Maafkan bila selama ini aku telah menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi dan Raja Indrakila.

“Aku merasa gembira, akhirnya raja besar dari Singasari menaruh perhatiannya di Balidwipa ini”, berkata Raja Indrakila.

“Peperangan pasti akan terjadi, namun aku akan memberikan beberapa pertimbangan dari Raja Kertanegara agar tidak terjadi banyak korban dari pihak manapun”, berkata Mahesa Amping.

“Terima kasih, aku yakin dari pengamatanmu selama ini bahwa tidak semua tempat di Balidwipa ini untuk diperangi”, berkata raja Indrakila.

“Tuan Baginda benar, kami hanya ingin mengembalikan Balidwipa sebagai daerah perdagangan yang merdeka. Yang kami akan perangi adalah penguasa Pura Besakih dan para saudagar dari Tanah Hindu yang selama ini telah mengaburkan kekuasaan sebuah pura pada tempatnya”, berkata Mahesa Amping.

“Aku yakin kamu adalah orang kepercayaan khusus dari Raja Kertanegara, semoga beliau mendengar nasehatmu”, berkata Raja Indrakila yang diam-diam merasa bangga bahwa dihadapannya adalah seorang utusan raja Kertanegara yang namanya sudah banyak didengar begitu besar.

———-oOo———-

SFBDBS 11-282

“Tuan Baginda tidak perlu khawatir untuk hal itu, karena dihadapan kita sendiri adalah orang yang sangat dihormati oleh Sri Baginda Maharaja Singasari”, berkata Mahesa Amping sambil melemparkan pandangan matanya kearah Empu Dangka yang hanya sedikit tersenyum.

Semua mata ikut Mahesa Amping memandang kearah Empu Dangka.

“Empu Dangka sendiri adalah seorang guru dari Raja Kertanegara”, berkata mahesa Amping dengan penuh senyum.

“Ternyata dihadapanku adalah orang-orang yang terdekat dari Raja Kertanegara yang besar”, berkata Raja Indrakila seperti tidak percaya atas apa yang didengarnya itu.

“Ternyata kalian berdua begitu pandai menyembunyikan jati diri kalian sebenarnya kepada diriku”, berkata Ki Arya Sidi sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

“Maafkan kami, semua ini karena tugas rahasia yang kami emban”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi dan Raja Indrakila.

“Siapapun diri kalian, yang jelas telah membawa perubahan yang besar di Pura Indrakila ini”, berkata Raja Indrakila.

“Aku telah terlanjur mengenal kalian, diriku begitu yakin atas apapun perjuangan kalian pasti berada diatas segala kasih dan kebenaran. Ijinkan diriku berada dipihakmu dan siap membantu”, berkata Ki Arya Sidi dari perasaan hati yang paling dalam.

“Karena jati diri kami telah kalian ketahui, kami akan kembali ke Singasari untuk menyampaikan hasil pengamatan kami”, berkata Empu Dangka.

“Bagaimana dengan para Sisya di Pura Indrakila ini?”, bertanya Ki Arya Sidi.

“Aku terlanjur jatuh cinta pada Tanah Bali, aku pasti akan datang kembali”, berkata Mahesa Amping yang ditanggapi rasa gembira baik Ki Arya Sidi maupun Raja Indrakila.

Sementara itu mentari di cakrawala langit telah bergeser turun ke barat bumi terhalang kerimbunan daun dan dahan pohon yang tumbuh disekitar bale Guru.

“Awalnya aku datang kemari untuk meminta pertimbangan kalian atas latihanku beberapa hari ini, tapi saat ini aku merasa malu meminta kepada orang-orang terdekat dari Raja Kertanegara”, berkata Raja Indrakila kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Kami bukan siapa-siapa, kami masih siap melayani tuan Baginda”, berkata Mahesa Amping.

“Terima kasih, mudah-mudahan masih ada waktu sebelum kalian kembali ke Singasari”, berkata Raja Indrakila sekalian menyampaikan maksudnya untuk kembali ke Puri Dalem Astana.

“Bukankah kita akan turun melihat para Sisya berlatih?”, berkata Ki Arya Sidi ketika Raja Indrakila telah tidak kelihatan kembali ke kediamannya.

Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah mendatangi sanggar. Beberapa Sisya tengah berlatih di Sanggar terbuka, sebagian lagi berlatih disanggar tertutup.

“Anak-anak muda yang penuh semangat”, berkata Empu Dangka gembira melihat para Sisya berlatih dengan penuh semangat.

“Mereka adalah pemimpin Balidwipa di masa yang akan datang”, berkata ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Ketika senja sudah mulai turun menyelimuti bumi, para sisya telah kembali ke tempatnya. Mahesa Amping, Ki Arya Sidi dan Empu Dangka telah kembali pula ke Bale Guru.

Cahaya temaram menerangi Bale Guru lewat dua buah pelita yang berjajar ditiang pendapa. Angin semilir melepas redup cahaya dua pelita itu bergoyang. Hamparan rumput hijau di muka halaman bale Guru sudah tidak terlihat jelas.

“Ternyata semua sudah kalian rencanakan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Empu Dangka dan Mahesa Amping.

“Apa yang telah kami rencanakan ?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura tidak mengerti apa perkataan dari Ki Arya Sidi.

“Merencanakan agar aku akhirnya dapat diterima oleh para Sisya di Pura Indrakila ini”, berkata Ki Arya Sidi sambil menuangkan sebuah kendi air ke dalam mangkuknya. Mahesa Amping dan Empu Dangka tidak menanggapi perkataan Ki Arya Sidi, terlihat mereka hanya tersenyum dikulum.

“Kami hanya ingin mengembalikan perguruan Panca Agni sebagaimana leluhur dari Ki Arya Sidi telah mencita-citakannya, sebagai candradimuka bagi semua calon penguasa Pura di Balidwipa”, berkata Empu Dangka dengan penuh senyum.

“Bukankah cita-cita itu telah kembali terwujud?, hanya pindah tempat dari Bukit Gundul Pejeng ke Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping menambahkan.

“Sebenarnya aku masih memerlukan kehadiran kalian disini”, berkata Ki Arya Sidi setelah sambil meletakkan kembali mangkuk minumannya yang masih tersisa.

“Aku pasti akan kembali, sebagaimana pernah kukatakan bahwa aku telah jatuh hati pada Tanah Bali, aku merasakan bahwa Balidwipa ini sebagai tanah kelahirannku kedua”, berkata Mahesa Amping.

Sementara itu pelita diatas pendapa Bale guru itu sudah menjadi begitu redup, mungkin Ki Made Rangu lupa mengisi minyak buah jarak diwaktu sore. Angin malam semilir mengusap kulit tubuh. Lantai kayu sudah sedikit berembun.

“Mari kita beristirahat”, berkata Empu Dangka mengajak Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping masuk untuk beristirahat ke biliknya masing-masing.

———-oOo———-

SFBDBS 11-283

Pagi itu kabut turun menyelimuti Pura Indrakila begitu pekat bagai gerumbul kapas membalut menghalangi dan membatasi jarak pandang penglihatan mata. Itulah sebagai tanda alam bahwa sepanjang hari udara di bumi Pura Indrakila akan dipayungi kecerahan.

“Hari ini aku berniat akan memilih beberapa sisya untuk ditingkatkan kemampuannya mengenal dasar mengungkapkan tenaga yang ada didalam diri”, berkata Mahesa dipagi itu kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka ketika mereka bersama menikmati minuman hangat diatas pendapa Bale Guru.

“Kulihat memang sudah saatnya mereka ditingkatkan”, berkata Ki Arya Sidi menyetujui rencana Mahesa Amping.

“Saranku sebaiknya dipilih perwakilan dari setiap Pura agar tidak ada sebuah kecemburuan”, berkata Empu Dangka memberikan sarannya.

“Saran Empu Dangka akan kuperhatikan”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

Demikianlah, pada hari itu Mahesa Amping memilih delapan orang Sisya terbaik menurutnya yang juga masing-masing merupakan perwakilan dari setiap pura di Balidwipa.

“Hari ini aku telah memilih kalian sebagai sisya yang sudah saatnya untuk dapat ditingkatkan tatarannya untuk mengenal bagaimana menggunakan tenaga yang ada didalam diri”, berkata Mahesa Amping kepada delapan Sisya yang dikumpulkannya didalam sanggar tertutup.

Berdebar perasaan para sisya yang pernah mendengar tentang tenaga didalam diri. Selama ini mereka sering mendengar tentang kekuatan yang dapat dilontarkan lewat tenaga yang tersembunyi didalam diri setiap manusia yang sudah terlatih dan mengungkapkan rahasianya.

Sementara itu Mahesa Amping dapat merasakan debar perasaan para sisyanya sebagaimana pernah dirasakannya ketika pertama kali diperkenalkan tentang tenaga dalam oleh gurunya sendiri Mahesa Murti di Padepokan Bajra Seta.

“Untuk dapat mengungkapkan kekuatan yang ada didalam diri, kalian harus menjalani sebuah laku”, berkata Mahesa Amping kepada Para Sisya.

Terlihat wajah para sisya menjadi begitu tegang.

“Aku yakin kalian dapat menjalaninya dengan baik”, berkata Mahesa Amping yang dapat merasakan ketegangan para Sisyanya.

Terlihat wajah dari beberapa Sisya agak mengendur tidak menjadi begitu tegang, sementara beberapa sisya masih merasakan ketegangannya.

“Sebelum menjalani sebuah laku, kalian harus mempersiapkan beberapa hal sehari sebelumnya”, berkata Mahesa Amping sambil menerangkan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksannan sebuah laku.

Para Sisya terlihat begitu seksama menyimak semua penjelasan dari Mahesa Amping.

“Kalian menjalani laku di sanggar tertutup ini selama tiga hari tiga malam, besok setelah senja kuharap kalian sudah mulai menjalaninya”, berkata Mahesa Amping mengahiri penjelasannya kepada para sisya.

Demikianlah, pada hari itu kedelapan sisya itu sesuai petunjuk Mahesa Amping telah membuat beberapa persiapan, diantaranya adalah mencari beberapa buah kelapa yang akan diolah secara khusus sesuai petunjuk Mahesa Amping disamping beberapa persiapan lainnya.

“Kakang akan melakukan sebuah laku ?”, bertanya Made Dewa Akasa kepada kakaknya Wayan Dewa Bayu yang tengah membuat beberapa persiapan untuk menjalani sebuah laku.

“Aku akan menjalani sebuah laku selama tiga hari tiga malam”, berkata Wayan Dewa Bayu kepada adiknya.

“Aku berdoa semoga kakang dapat menjalaninya dengan baik”, berkata Made Dewa Akasa penuh perhatian.

“Pada saatnya kamu juga akan menjalaninya”, berkata Wayan Dewa Bayu sambil tersenyum sepertinya dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh anak itu.

“Sepertinya aku tidak sabar menantikan saat itu datang”, berkata Made Dewa Akasa kepada Wayan Dewa Bayu langsung mengungkapkan perasaannya.

Demikianlah, kedelapan sisya yang terpilih pada hari itu telah melakukan beberapa persiapan lahir dan bathin sesuai petunjuk dari Mahesa Amping.

Dan hari yang penuh mendebarkan itu akhirnya telah tiba.
Senja di Pura Indrakila telah berlalu, malam mulai menyelimuti bumi dengan kegelapannya, kedelapan sisya yang telah dipilh langsung oleh Mahesa Amping sudah berada didalam sanggar tertutup yang gelap yang sengaja tidak diterangi pelita.

Setelah melihat para sisya telah bersikap tubuh sesuai dengan petunjuknya, terlihat Mahesa Amping meninggalkan mereka keluar dari sanggar tertutup.

Keesokan harinya, ketika cahaya matahari pagi terlihat menembus celah-celah bilik bambu sanggar tertutup, terlihat kedelapan sisya masih tidak bergerak dalam sikap lakunya.

“Semoga Sang Hyiang Gusti Yang Maha Agung memberi jalan terang kepada mereka”, berkata Mahesa Amping dalam hati ketika pagi itu memeriksa kedelapan sisya di sanggar tertutup yang masih bersikap laku sesuai petunjuknya.

“Bagaimana menurutmu keadaan mereka ?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang baru saja keluar dari Sanggar tertutup.

“Sampai saat ini mereka masih dapat menjalaninya dengan baik”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

———-oOo———-

SFBDBS 11-284

Pada hari kedua, para sisya didalam sanggar tertutup masih dalam sikap lakunya.

Sementara itu Wayan Dewa Bayu yang telah pernah menerima berbagai laku selama di Bukit Pejeng sudah lebih dulu dapat menyesuaikan dirinya yang terlihat dari tarikan nafasnya yang nyaris begitu halus tidak terdengar lagi.

“Anak ini sudah mulai menemukan jalan nafasnya”, berkata Mahesa Amping yang datang menjenguk dan memperhatikan kedelapan sisya yang tengah menjalani sebuah laku.

“Bagaimana keadaan para sisya?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang terlihat baru saja menutup kembali pintu sanggar.

“Baru Wayan Dewa Bayu saja yang kulihat telah menemui jalan nafasnya, selebihnya masih dalam taraf penyesuaian”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Kita berdoa semoga Sang Hyiang Jagad Yang Maha Agung memberi jalan terang kepada mereka”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi.

Dan hari yang dinantikan akhirnya telah tiba. Dipagi yang bening, diawali dengan suara ayam jantan yang terdengar lirih dari sebuah tempat yang jauh, Mahesa Amping terlihat perlahan membuka sanggar dan menutupnya lagi. Keremangan pagi itu tidak menghalangi ketajaman matanya melihat satu persatu dari kedelapan sisya yang tengah menjalani sebuah laku.

“Mereka semua telah menemukan jalan nafasnya”, berkata Mahesa Amping dalam hati setelah memperhatikan satu persatu dari kedelapan sisyanya yang tidak terdengar sedikitpun tarikan nafasnya. Mereka dapat terlihat seperti delapan arca Budha yang tengah bertapa.

“Bukalah mata kalian secara perlahan, namun jangan lepaskan pandangan hati kalian tertuju hanya kepada Sang Hyiang Gusti Yang Maha Agung”, berkata Mahesa Amping dengan suara perlahan tertuju kepada kedelapan para sisyanya.

Terlihat kedelapan sisya itu perlahan membuka kelopak matanya.

“Terima kasih guru, hari ini sisya merasa menemukan sebuah dunia yang berbeda dari hari sebelumnya”, berkata salah seorang sisya yang tidak mampu menahan gejolak perasaan hatinya terlihat bersimpuh sujud dihadapan Mahesa Amping.

Terlihat ketujuh sisya telah melakukan hal yang sama sujud di hadapan Mahesa Amping sambil menyampaikan apa yang mereka rasakan.

“Bangkitlah wahai para Sisyaku, aku hanya sebagai perantara. Sujud dan bersyukurlah hanya kepada Gusti Yang Maha Agung yang merestuai jiwa kalian masuk dan mulai mengenal kebesarannya”, berkata Mahesa Amping dengan suara penuh kasih ikut merasa suka cita atas apa yang telah dicapai oleh para sisya dalam menjalani sebuah laku.

Terlihat kedelapan sisya itu bangkit dari sujudnya dengan mata yang basah penuh keharuan dan suka cita.

“Sucikanlah diri kalian dan beristirahatlah, jangan isi perut kalian dengan apapun selain dengan sisa ramuan kelapa yang kalian minum di awal laku”, berkata Mahesa Amping kepada kedelapan Sisyanya. “Aku tunggu kalian disini menjelang matahari datang bergeser dari puncaknya”, berkata kembali Mahesa Amping.

Terlihat kedelapan sisya berdiri dan penuh hormat menjura kepada Mahesa Amping berpamit untuk keluar dari sanggar. Diringi pandangan mata Mahesa Amping, kedelapan sisya itu telah keluar dari sanggar.

“Aku melihat sinar mata mereka begitu penuh suka cita”, berkata Ki Arya Sidi yang datang bersama Empu Dangka menemui Mahesa Amping di sanggar tertutup.

“Mereka telah berhasil menjalani laku dengan baik”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

“Sebuah awal yang baik”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi.

Akhirnya menjelang matahari telah bergeser dari puncaknya, Mahesa Amping di temani Ki Arya Sidi dan Empu Dangka telah melihat satu persatu dari kedelapan sisya telah datang masuk ke sanggar tertutup.

“Pusatkan segala nalar budimu, hidupkan dan rasakan kekuatan yang tersembunyi mengalir di segala jalan darah tubuhmu, lompatilah galar bambu sebagaimana biasa kalian pernah melakukannya”, berkata Mahesa Amping meminta satu persatu dari kedelapan sisya melakukakn latihan melompati sebuah galar bambu yang ada didalam sanggar tertutup yang biasa mereka lakukan.

Bukan main kagetnya para sisya mendapatkan hasil lompatannya satu setengah kali lebih tinggi dari yang biasa mereka lakukan. Berkali kali mereka melakukannya dengan gembira.

Terlihat Mahesa Amping keluar dari sanggar dan masuk kembali dengan membawa delapan buah kelapa yang sudah tua. “Pecahkan kelapa ini dengan tanganmu”, berkata Mahesa Amping kepada Wayan Dewa Bayu.

Terlihat Wayan Dewa Bayu tengah memusatkan segala nalar budinya, membangkitkan kekuatan tersembunyi dari dalam dirinya dan mengalirkannya ke ujung telapak tangan kanannya.

Prakkk …….!!!

Terdengar suara buah kelapa pecah terhantam sisi dalam telapak tangan Wayan Dewa Bayu.

“Lakukanlah sebagaimana Wayan Dewa Bayu”, berkata Mahesa Amping kepada ketujuh Sisya lainnya.

———-oOo———-

SFBDBS 11-285

Berlanjut ke bagian 3

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 April 2012 at 22:30  Comments (259)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

259 KomentarTinggalkan komentar

  1. selamat malam kadank sedoyo

    • lho……….kok sendiriannnn ?????

      • Tidak sendirian kok, ada saya……

  2. Sebagaimana Rangga Lawe, Raden Wijaya merasa kenal dengan orang yang datang bersama Mahesa Amping.

    “Perkenalkan, ini saudara kembar dari Empu Nada”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

    “Ternyata aku bertemu dengan guru Paman Kebo Arema dan Baginda Maharaja Singasari”, berkata Raden Wijaya penuh santun dan penghormatan.

    Tamu dari Raden Wijaya ternyata memaklumi suasana pertemuan itu, orang itupun berpamit diri.

    “Maaf, urusanku sudah selesai, aku mohon pamit diri”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya serta semua yang ada di pendapa Balai Tamu.

    Setelah tamu itu turun dari pendapa, kembali suasana penuh kegembiraan lebih terbuka lagi, mereka saling bercerita beberapa hal seiring selama perpisahan mereka.

    “Aku tidak melihat Paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping menanyakan keadaan kebo Arema.

    “Paman Kebo Arema baru saja keluar, mungkin ada sedikit urusan di Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe kepada Mahesa Amping.

    “Setelah beristirahat, aku akan ke Benteng Cangu sekalian bertemu Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Kita semua akan mengantarmu ke Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe menyambung perkataan Mahesa Amping.

    Pembicaraan mereka tiba-tiba tertahan manakala dari balik pintu keluar seorang pelayan membawa minuman dan hidangan untuk mereka.

    “Silahkan dinikmati hidangannya”, berkata Rangga Lawe memberi kesepatan Mahesa Amping dan Empu Dangka memulai mengambil hidangan yang tersedia.

    “baru kali ini aku dipersilahkan oleh seorang yang bernama Lawe”, berkata Mahesa Amping yang disambut gerai tawa semuanya.

    “Ini untuk pertama dan terakhir, besok kamu bukan tamu lagi”, berkata Rangga Lawe yang membuat suara ketawa kembali menyambung berkepanjangan.

    Demikianlah, mereka saling bersenda gurau sambil menikmati hidangan diatas pendapa Balai Tamu. Empu Dangka dapat menilai begitu dekatnya persahabatan ketiga pemuda yang ada bersamanya itu.

    “Mereka tiga serangkai sahabat sejati dan sehati”, berkata Empu dangka dalam hati menilai keakraban ketiga pemuda dihadapannya itu sambil ikut menikmati senda gurau mereka yang sepertinya tidak ada batas perbedaan warna-warni pangkat dan derajat keturunan.

    • lho…!!??!, berarti kurang satu lagi

      • kamsiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaa.

  3. satpam sudah coba bundel rontal yang tercecer, terbyata masih belum cukup.
    kalau Pak Dhalangnya menambahkan dua rontal lagi, maka SFBDBS-11 sudah bisa dibundel.
    he he he … (dengan nada berharap)

    • cuma dua rontal lagi ????? (sambil bernyanyi)

      makan, makan sendiri,
      nyuci, nyuci sendiri
      ngopi……bikin sendiri

      • cuma dua rontal lagi ???????
        (kirain sambil mencet keyboard)

      • Ngerontalpun ……pun sendiriiiiiiii

  4. Sementara itu di hutan seberang sungai Brantas, sekumpulan burung pengelana terlihat turun bertengger di beberapa ranting. Satu dua burung-burung muda terlihat tengah mencari perhatian dihadapan para burung betina dengan memegarkan bulunya yang halus putih sambil membuat sebuah suara kicau yang merdu. Sebagian lagi terlihat tengah meneguk air ditepian sungai Brantas penuh kepuasan setelah melewati perjalanan panjangnya.

    “Kita akan menemui kemarau panjang”, berkata Empu Dangka dengan pandangan jauh kedepan memandang burung-burung pengelana di seberang sungai Brantas.

    “Saat yang baik untuk membawa prajurit berlayar menuju Balidwipa”, berkata Mahesa Amping ikut memandang ke hutan di seberang Sungai Brantas.

    Dan waktupun terus berlalu, matahari diatas Sungai Brantas telah mulai tergelincir surut kebarat.

    “Mari kita ke Benteng Cangu, menemui Senapati Mahesa Pukat dan Paman Kebo Arema”, berkata Raden Wijaya.

    Maka terlihat mereka tengah menuruni anak tangga Balai Tamu dan melangkah menuju Benteng Cangu yang letaknya tidak begitu berjauhan.

    Tidak begitu lama mereka telah sampai di pintu gerbang Benteng Cangu. Seorang pengawal yang melihat tangan kedmereka langsung membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

    Sementara itu Mahesa Pukat dan Kebo Arema yang tengah berada di atas pendapa Benteng Cangu telah melihat kedatangan mereka yang semakin mendekat.

    “Guru….”, berkata Kebo Arema sambil menuruni anak tangga pendapa.

    “Bangkitlah anakku”, berkata Empu Dangka menyentuh punggung Kebo Arema untuk bangkit berdiri.

    Maka suasana benar-benar menggembirakan, banyak sekali yang mereka percakapkan sepanjang berbagai hal selama perpisahan waktu diantara mereka.

    “Kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping yang telah bercerita cukup panjang mengenai perjalanan tugasnya di Balidwipa.

    “Saran dan pandangan Kakang Mahesa Pukat sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat berharap mendapat berbagai masukan.

    “Apakah kamu tidak ingin menerima saran dan pandanganku ?”, berkata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya yang panjang penuh senyum.

    “Saran dan Pandangan dari Kakang dan Paman sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping mengulang kembali perkataannya.

    Demikianlah, mereka bersama saling memberikan beberapa pandangan berdasarkan apa yang telah diamati Mahesa Amping selama berada di Balidwipa.

    • satu………….,berteriak sambil bersalto tiga kali dan langsung berdiri bertolak pinggang. hehehe

  5. satu rontal lagi, masuk di gandok 12 yang sduah terbuka
    he he he ….

  6. “Kapan kalian akan ke Kotaraja ?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping

    Terlihat Mahesa Amping memandang Raden Wijaya berharap ikut memberikan jawaban.

    “Kami akan berangkat segera, tentunya setelah Mahesa Amping dan Empu Dangka cukup beristirahat”, berkata Raden Wijaya cukup terdengar bijaksana.

    “Kalian semua akan berangkat ke kotaraja ?”, bertanya kembali Mahesa Pukat.

    “Mungkin Rangga Lawe yang harus tertinggal mewakili segalanya di Balai Tamu”, berkata Raden Wijaya.

    Maka semua mata tertuju kepada Rangga Lawe.

    “Sebagai prajurit, aku siap menerima tugas dari Sang Senapati”, berkata Rangga Lawe dengan wajah senyum terpaksa karena sedikit kecewa tidak diikutkan ke Kotaraja.

    Namun perkataan Rangga lawe itu sudah membuat semua diatas pendapa benteng Cangu tertawa.

    Sementara itu waktu berlalu seperti berlari, senja telah mulai merangkak pergi meninggalkan bumi menyelinap dibawah kegelapan malam yang telah mulai merayap menyelimuti bumi.

    “Kami mohon pamit diri”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat mewakili.

    Maka terlihat Kebo Arema, Mahesa Amping, Empu Dangka, Raden Wijaya dan Rangga Lawe tengah menuruni anak tangga pendapa Benteng Cangu diringi pandangan mata Mahesa Pukat sampai
    akhirnya menghilang tidak terlihat lagi ketika mereka terhalang pintu gerbang benteng cangu yang tinggi.

    Berlima mereka beriring berjalan melangkah menuju Balai Tamu Bandar Cangu yang tidak begitu jauh dari Benteng Cangu. Sementara langit malam telah menutupi air sungai Brantas menjadi begitu kelam, hanya terdengar riak gelombangnya sesekali menampar kayu bahtera Singasari yang tengah bersandar di dermaga kayu itu.

    Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di pendapa Balai Tamu.

    “Hamba kira tuan-tuan akan kembali dari Benteng Cangu sampai jauh malam”, berkata pelayan tua itu penuh senyum ramah.

    “Kami rindu dengan masakanmu Pak tua, itulah sebabnya kami segera kembali”, berkata Rangga Lawe kepada pelayan tua itu membuat semua yang mendengar ikut tersenyum.

    Diam-diam Empu Dangka memperhatikan keakraban sikap pelayan tua itu kepada penghuni Balai Tamu itu.”Kesetiaan pelayan tua itu buah dari sikap penghuni rumah ini yang menghormatinya bukan sebagai pesuruh, tapi sebagai sahabat”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi sikap kasih orang-orang disekilingnya itu.

    Sinar bulan sepotong redup memandang wajah alang-alang yang melenggut ditepian sungai Brantas. Dan malampun telah jauh merambah kegelapan.

    • cihuiiiiiiiii……….,

      • he he he ….., gandok 12 sudah dibuka ki
        rontal terakhir sya masukkan di gandok 12.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: