SFBDBS-11

Bagian 3.

SFBDBS 11-285

Terlihat satu persatu dari para sisya melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Wayan Dewa Bayu. Terlihat wajah gembira mereka yang telah berhasil memecahkan kelapa dengan telapak tangan telanjang.

“Mulai saat ini, berlatihlah menjalani laku setiap menjelang tidur, dengan cara itu kekuatan kalian akan terus meningkat” berkata Mahesa Amping kepada para Sisyanya.

“Terima kasih Guru, nasehat Guru akan kami pusakai”, berkata Wayan Dewa Bayu mewakili para Sisya.

“Aku akan berangkat ke Tanah Singasari, kutitipkan kalian kepada Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping kepada para Sisya. ”Sekarang beristirahatlah kalian”, berkata kembali Mahesa Amping mempersilahkan para Sisya untuk beristirahat setelah tiga hari tiga malam menjalani sebuah laku.

“Mari kita keluar”, berkata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka keluar dari sanggar tertutup.

Di sanggar terbuka mereka melihat para sisya lainnya tengah berlatih.

“Aku mendapat kabar dari Kakang Wayan Dewa Bayu, Guru akan berangkat ke Singasari”, berkata Ketut Dewa Akasa yang tengah berlatih menggunakan sebuah tongkat panjang langsung menghentikan latihannya ketika Mahesa Amping datang mendekatinya.

“Aku akan datang kembali”, berkata Mahesa Amping penuh senyum, entah kenapa dirinya begitu menyukai anak ini.

“Aku hanya khawatir Guru tidak akan kembali dan melupakan aku”, berkata Ketut Dewa Akasa dengan begitu polosnya kepada Mahesa Amping.

“Apa yang kamu khawatirkan bila aku tidak datang kembali?”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Dewa Akasa.

“Aku khawatir tidak ada yang mengajarkanku memecahcan sebuah kelapa sebagaimana dilakukan oleh Kakang Wayan Dewa Bayu”, berkata Ketut Dewa Akasa masih dengan pemikiran seorang bocah yang lugu.

Mahesa Amping tersenyum mendengar pemikiran Ketut Dewa Akasa. Maka diambilnya sebuah batu koral sebesar kepalan tangannya.

Krakkk………..,

Batu koral itu hancur beterbangan menjadi kepulan abu.
Terbelalak Ketut Dewa Akasa menyaksikan apa yang telah diperbuat oleh Mahesa Amping.

“Aku akan kembali, dan mengajarkan kepadamu melumatkan sebuah batu keras”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum melihat anak itu sepertinya begitu gembira mendengar apa yang dikatakan oleh Mahesa Amping.

Pagi itu udara berkabut menyelimuti Pura Indrakila ketika Mehesa Amping dan Empu Dangka tengah bersiap akan meninggalkan Pura Indrakila untuk waktu yang cukup lama.

“Aku dan para sisya akan merindukan kalian”, berkata Ki Arya Sidi yang mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka sampai di regol muka Pura Indrakila.

“Doa kami semoga keselamatan menaungi perjalanan kalian”, berkata Raja Indrakila yang ikut mengantar kepergian mereka.
Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka telah melangkah semakin menjauh, ketika mereka menemui jalan menurun, Mahesa Amping menoleh kebelakang menatap pura diatas puncak bukit itu masih berkalung kabut putih begitu eloknya, terpesona Mahesa Amping menatap penuh kagum, seperti melihat lukisan nirwana dalam penggambaran para Brahmana.

Langkah Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah semakin menjauh, mendekati kaki lereng bukit Pura Indraloka. Seorang lelaki bertelanjang dada dengan dua ekor kuda terlihat sepertinya tengah menanti kedatangan mereka berdua.

“Selamat berjumpa kembali wahai saudaraku”, berkata orang itu penuh senyum diwajahnya yang ternyata adalah Ki jaran Waha.

“Kukira seorang perampok tunggal yang menunggu untuk membegal kami”, berkata Empu Dangka kepada Ki jaran Waha.

“Pasti perampok itu semalam bermimpi rumahnya kebakaran, dia akan mendapat masalah besar merampok kalian”, berkata Ki Jaran Wahan yang langsung membalas olok-olok Empu Dangka.

“Dari mana Ki jaran Waha mengetahui bahwa kami akan melakukan perjalanan?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki jaran Waha setelah mereka bercerita tentang keselamatan masing-masing.

“Telingaku ada dimana-mana meski aku tidak ada dimana-mana”, berkata Ki Jaran Waha penuh kebanggaan.

“Kuda yang bagus”, berkata Mahesa Amping menilai dua ekor kuda yang dibawa Ki jaran Waha.

“Dimana kutaruh mukaku memberikan kuda kacangan kepada kalian”, berkata Ki Jaran Waha sambil menepuk-nepuk dua ekor kuda yang dibawanya.

“Terima kasih untuk dua ekor kuda yang akan menemani kami sepanjang jalan”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba melompat ke punggung salah satu kuda yang dibawa oleh Ki Jaran Waha.

“Di Bandara Buleleng seorang pengikutku akan mencarikan kapal dagang yang akan mengantar kalian ke Jawadwipa”, berkata Ki Jaran Waha sambil bertolak pinggang mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah berada dipunggung kuda masing-masing.

“Kali ini Ki Jaran Waha salah dengar, tujuan kami adalah Tanah Melaya sebelah barat Balidwipa”, berkata Empu dangka sambil tersenyum melihat Ki jaran Waha memukul-mukul sendiri keningnya.

———-oOo———-

SFBDBS 11-286

“Aku berpesan mohon kiranya Ki jaran Waha untuk tidak memotong telinga orang yang salah mendengar itu”, berkata Mahesa Amping sambil melambaikan tangannya diatas punggung kudanya.

“Selamat jalan, kami akan merindukan kalian”, berkata Ki Jaran Waha ikut melambaikan tangannya.

Sementara itu cakrawala langit saat itu begitu cerah, mentari sudah beranjak jauh meninggalkan tepi ujung bumi, dua ekor kuda terlihat berpacu melintasi padang ilalang, mendaki perbukitan dan lereng hijau, kadang perlahan menyibak semak hutan hitam yang lebat.

“Tanah Melaya di arah Matahari terbenam”, berkata Empu Dangka memberi petunjuk arah perjalanan mereka.
Ketika matahari sudah hampir terbenam, mereka telah memasuki sebuah Padukuhan.

“Kita lewati padukuhan ini, kita akan menemui sebuah rumah pengasingan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping

“Rumah pengasingan”, bertanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Adat di Padukuhan ini memang sangat keras, tabu hukumnya beristri lebih dari satu. Seorang lelaki lelaki yang melanggar harus menerima dikucilkan di sebuah rumah pengasingan”, berkata Empu Dangka menjelaskan kepada Mahesa Amping.

“Siapa dapat menghalangi datangnya cinta?”, berkata Mahesa Amping tanpa menunggu jawaban dari Empu Dangka.

“Tidak satu pun wanita yang dapat menerima dimadu”, berkata Empu Dangka sepertinya ingin menanggapi perkataan Mahesa Amping.

Ternyata mereka memang tidak ada keinginan membahas masalah itu, sebagaimana dikatakan oleh Empu Dangka, terpisah dari lingkungan padukuhan terlihat sebuah gubuk sederhana berada dipinggir sebuah hutan kecil.

Didepan gubuk itu terlihat seorang lelaki tengah membuat sebuah perapian.

“Apa kabar sahabatku Wayan Tagur”, berkata Empu Dangka sambil menuntun kudanya mendekati lelaki itu.

“Pantas tadi siang ada kupu-kupu besar hinggap lama di tiang gubukku”, berkata lelaki itu yang dipanggil Wayan Tagur oleh Empu Dangka.

“Aku bersama keponakanku”, berkata Empu Dangka memperkenalkan Mahesa Amping sebagai keponakannya kepada Wayan Tagur.

“Tunggulah kalian di bale, aku akan meminta istriku untuk membuatkan minuman hangat untuk kalian”, berkata Wayan Tagur sambil masuk kedalam.

Ternyata Wayan Tagur seorang yang asyik diajak bicara, seorang pendengar yang baik, namun kadang mampu menyampaikan beberapa pandangannya.

“Apakah ada dalam pikiranmu untuk mencoba merantau ke Jawadwipa, daripada hidup disini dikucilkan oleh saudara dan kerabat”, bertanya Empu Dangka kepada Wayan Tagur.

“Kami lahir dan dibesarkan di tanah ini, tidak ada sedikitpun pikiran untuk meninggalkan tanah ini meski dalam suasana pengasingan. Sampai saat ini kami rela dikucilkan sebagai dosa yang harus kami pikul sepanjang hayat”, berkata Wayan Tagur mengungkapkan perasaan hatinya.

Suasana pun sekejab menjadi hening tanpa kata-kata, diatas bale itu sepertinya masing-masing tengah berbicara pada pikirannya sendiri-sendiri.

Terdengar pintu bambu berderit, terlihat Nyi Wayan Tagur keluar sambil membawa minuman hangat dan setumpuk jagung rebus yang juga nampak masih hangat.

“Kami merepotkan tuan rumah”, berkata Empu Dangka berbasa-basi.

“Kami senang ada tamu di rumah ini”, berkata Nyi Wayan Tagur sambil meletakkan minuman hangat dan jagung bakarnya dan langsung masuk kembali kedalam gubuk.

Sekejap Mahesa Amping menangkap wajah Nyi wayan Tagur yang masih sangat muda dan terpaut jauh bila dibandingkan dengan usia Wayan Tagur yang terlihat sudah cukup matang.

“Silahkan dinikmati, panen jagung kami tahun ini sangat bagus”, berkata Wayan Tagur mempersilahkan kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Sementara itu sang malam di gubuk pinggir hutan itu sudah menyebar berbagi kegelapannya. Dengung tenggorek ikut memberi warna irama malam yang sepi itu bersama gemercik suara air menggerus batu hitam dari sungai kecil disamping gubuk yang sederhana itu.

“Aku tidak bisa menemani kalian sampai jauh malam”, berkata Wayan Tagur sambil mempersilahkan tamunya untuk beristirahat tidur diatas bale diluar gubuknya.

Perapian dari batang-batang dan daun jagung kering yang dibakar Wayan Tagur didepan rumahnya terlihat sudah tertinggal onggokan bara, kadang muncul api menjilat keluar manakala datang angin meniupnya.

“Silahkan Empu Dangka tidur lebih awal, mataku masih belum mengantuk”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil melonjorkan kakinya dan bersandar di bilik bambu.

“Bangunkan aku bila datang saat yang cukup untuk bergantian berjaga”, berkata Empu Dangka sambil merebahkan badannya diatas bale bambu.

Mahesa Amping memang belum dapat memejamkan matanya, pandangannya terlihat menyapu halaman muka gubuk itu, sepetak kebun jagung yang baru dipanen menyisakan sedikit ujung batangnya diatas tanah.

———-oOo———-

SFBDBS 11-287

“Sebuah gubuk dan kebun yang mungil”, berkata Mahesa Amping dalam hati membayangkan dirinya sebagai seorang petani bersama keluarga kecilnya.

Sementara itu perapian di halaman muka gubuk itu sudah hampir mati tertinggal sedikit bara yang masih menyala dan malam sudah semakin dingin.

Mahesa Amping memang tengah memejamkan matanya, tapi pendengarannya yang tajam masih dapat membedakan bunyi semak yang terinjak oleh seekor kadal. Namun kali ini pendengaran Mahesa Amping terusik oleh suara yang lebih besar lagi, lebih besar dari seekor kera tengah mengendap-ngendap mendekati gubuk itu.

Terlihat perlahan Mahesa Amping membuka matanya tanpa menggerakkan sedikit pun tubuhnya yang masih bersandar di bilik bambu.

Mata Mahesa Amping yang terlatih mampu menembus keremangan malam, dilihatnya ada tiga sosok tubuh mengendap-endap mencurigakannya.

Namun belum lagi Mahesa Amping berbuat sesuatu, dari dalam gubuk keluar Wayan Tagur berdiri di muka halaman.

“Tidak perlu lagi mengendap-endap, aku sudah tahu siapa kalian”, berkata Wayan Tagur membentak-bentak keras.

Mahesa Amping diam-diam mengagumi ketajaman pendengaran Wayan Tagur yang juga telah mendengar apa yang didengarnya.

Mendengar suara Wayan Tagur, ketiga sosok itu langsung keluar dari persembunyiannya.

“Malam ini umurmu tidak akan panjang lagi”, berkata salah seorang dari ketiga orang yang telah datang mendekat.

“Orang mana lagi yang kamu upah malam ini”, berkata Wayan Tagur kepada orang itu yang ternyata masih begitu muda, seusia dan semuda Nyi Wayan Tagur.

“Dua orang kawanku ini paling disegani di Bedugul, sengaja kupanggil kemari untuk menghabisi nyawamu”, berkata Anak muda itu yang terlihat dari pakaiannya pasti seorang yang kaya.

“Ketut Suida, ternyata apa yang telah kuperbuat beberapa hari yang lalu tidak membuatmu jera, kemarin aku masih memandang Ki Demang ayahmu, tapi saat ini aku tidak peduli siapapun dirimu”, berkata Wayan Tagur sepertinya memperingatkan anak muda itu yang bernama Ketut Suida.

“Jangan sesumbar, kemarin yang kubawa hanya begundal kelas teri. Malam ini pasti kamu akan menyesal seumur hidup telah merebut kekasihku”, berkata Ketut Suida dengan jumawanya.

“Ketut Suida, sampai hari ini kamu masih menganggap aku merebut kekasihmu ?”, berkata Wayan Tagur berusaha menahan kemarahannya.

“Kamu telah mengguna-gunainya, itulah yang membuat aku tidak terima”, berkata Ketut Suida kepada Wayan Tagur.

“Matamu mungkin sudah terbalik, cinta Astari berpaling kepadaku karena telah melihat sendiri kedokmu yang sebenarnya, lelaki perusak pagar ayu yang tidak bertanggung jawab”, berkata Wayan Tagur yang sepertinya sudah kehabisan kesabarannya.

Mendengar dirinya disebut sebagai lelaki perusak pagar ayu telah membuat wajah Ketut Suidi menjadi memerah.

“Enyahkan orang itu!!”, berkata Ketut Suidi memerintah kepada kedua orang upahannya.

Maka terlihat dua orang yang dikatakan dari Bedugul itu telah langsung menerjang Wayan Tagur.

Ternyata Wayan Tagur bukan orang sembarangan, terlihat dengan gesit mengelak serangan dua buah golok tajam dan langsung balas menyerang dengan sebuah keris ditangannya.

Maka terjadilah perkelahian yang seru antara Wayan Tagur dan dua orang penyerangnya.

Semula Mahesa Amping ingin turun membantu, tapi dilihatnya Wayan Tagur ternyata mampu menghadapi dua orang sekaligus dengan baik, bahkan dengan pengetahuannya tentang ilmu kanuragan, Mahesa Amping dpat menilai bahwa tataran ilmu Wayan tagur masih diatas kedua orang penyerangnya.

Terlihat dalam waktu yang begitu singkat, kedua orang penyerangnya sudah semakin terdesak.

Sretttt……,

Sebuah keris Wayan Tagur telah berhasil membabat paha kaki kanan dari salah satu penyerangnya. Terlihat orang itu melompat menjauh dengan wajah meringis menahan rasa sakit yang sangat. Sementara itu kawannya berlari mendekatinya.

“Kerisku ini sudah kuwarangi dengan racun yang keras”, berkata Wayan Tagur sambil mengangkat kerisnya tingi-tinggi.

“Berikan penawarnya, kami akan pergi tanpa perhitungan apapun”, berkata kawannya yang sepetinya mempercayai apa yang dikatakan oleh Wayan Tagur.

“Jangan percaya sesumbarnya, dia hanya menggertak”, berkata Ketut Suida kepada salah seorang upahannya.

“Tuan muda, kami bukan anak kemarin yang tidak mengetahui tentang warangan”, berkata orang itu yang melihat kawannya sudah menggigil kedinginan.

“Siapapun yang termakan kerisku ini, umurnya tidak melebihi dari semalaman”, berkata Wayan Tagur dengan suara keras penuh tantangan dan ancaman.

———-oOo———-

SFBDBS 11-288

“Berikanlah penawarnya, kami akan pergi tanpa mengungkit kembali apa yang terjadi malam ini”, berkata kawannya itu dengan suara penuh permintaan.

“Baiklah, hari aku masih berbelas kasihan, aku akan memberikan penawarnya”, berkata Wayan tagur mendekati Nyi Wayan Tagur yang ternyata sudah lama keluar dari biliknya mendengar ada keributan.

Terlihat Wayan Tagur berbisik kepada istrinya. Berselang kemudian istrinya masuk kedalam dan keluar lagi sambil membawa sebuah bubu kecil dan memberikannya kepada suaminya

Wayan Tagur membuka bubu kecil itu dan mengeluarkan tiga butir obat sebesar kelereng.

“Kuberikan penawarnya, lekaslah menghilang dari pandangannku sebelum aku berubah pikiran”, berkata Wayan Tagur sambil memberikan tiga butir obat penawar.

“Terima kasih”, berkata orang itu sambil menerima obat penawar dari Wayan tagur dan tanpa mempedulikan Ketut Suida, orang itu telah berjalan memapah kawannya yang berjalan terpincang-pincang menahan rasa perih yang sangat akibat sayatan keris Wayan tagur.

Melihat orang upahannya yang akan pergi, Ketut Suida sepertinya tidak berpikir panjang langsung balik badan hendak kabur.

Namun gerakan Ketut Suida telah ditangkap basah oleh penglihatan Mahesa Amping yang jeli.

Creppp…..,

Sebuah belati pendek yang selalu dibawa oleh Mahesa Amping terlihat telah menancap masuk ke betis Ketut Suida. Terlihat anak muda itu langsung terjerambat.

“Belatiku ini telah kuwarangi dengan racun ular tedung yang terkenal bisanya”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Suida sambil mendekatinya.

Terlihat Ketut Suida dengan mata terbelalak tengah mencabut belati kecil yang menancap tidak begitu dalam.

“Kasihanilah aku, berikan padaku penawarnya”, berkata Ketut Suida penuh memelas sambil melempar jauh-jauh belati yang menancap di pahanya dengan rasa penuh jerih ketakutan memandang belati itu. “Siapapun dirimu, bermurahlah padaku, aku tidak ingin mati”, berkata kembali Ketut Suida dengan wajah penuh memelas.

“Kulihat racun warang belatiku sudah mulai bekerja, tubuhmu sudah mulai kedinginan”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Suida.

Terlihat Ketut memeriksa tubuhnya, apa yang dikatakan oleh Mahesa Amping ternyata dapat dirasakannya, dirinya terlihat menggigil.

“Aku akan memberikan kepadamu penawarnya, namun berjanjilah untuk tidak mengganggu keluarga Wayan Tagur sampai kapanpun”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh wibawa.

“Aku berjanji, aku berjanji”, berkata Ketut Suida kepada Mahesa Amping penuh kegembiraan.

“Obat penawarku hanya mampu menahan racun ular tedung selama tiga bulan, aku akan menitipkan obat penawarku kepada Wayan Tagur, mintalah kepadanya setiap tiga bulan sekali”, berkata Mahesa Amping sambil mengeluarkan dari sabuknya sebuah arang kecil yang sudah dipersiapkan sebelumnya dari bekas kayu sisa perapian.”Buka mulutmu lebar-lebar”, berkata kembali Mahesa Amping.

Tanpa pikir panjang terlihat Ketut Suida telah membuka mulutnya lebar-lebar. Bersamaan dengan itu tangan Mahesa Amping telah menjentikkan arang hitam langsung masuk kedalam mulut Ketut Suida.

“Telanlah”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Suida yang langsung menelan arang hitam kecil yang ada dimulutnya.

Glekk…, terdengar air liur Ketut Suida membawa arang hitam masuk ketenggorokannya.

“Enyahlah dari pandanganku sebelum aku berubah pikiran”, berkata Mahesa Amping dengan suara penuh wibawa.

Terlihat Ketut Suida bangkit berdiri dan terpincang-pincang melangkah pergi setengah berlari.

“Aku baru mendengar kalau belatimu ternyata diwarangi”, berkata Empu Dangka yang datang menghampiri Mahesa Amping sambil pandangannya mengikuti langkah Ketut Suida yang sudah hampir menjauh dan akhirnya menghilang terhalang belukar yang tinggi tumbuh sekitar pohon ngablang.

“Aku hanya meniru apa yang dikatakan tentang kerisnya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Wayan Tagur yang langsung ikut tersenyum.

“Ternyata keponakanmu cukup tajam penglihatannya, kerisku ini kadang kupakai juga untuk berburu burung belekuk, mana mungkin kuwarangi”, berkata Wayan Tagur penuh senyum.

“Obat apa yang kamu berikan kepada mereka?”, bertanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Wayan Tagur.

“Istriku mengeluarkan obat cacing kering penurun panas”, berkata Wayan Tagur menjelaskan tentang obat yang dikeluarkan dari bubu kecilnya.

“Obat penawar yang kuberikan hanya sebuah arang sisa perapian”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Ternyata malam ini aku dikelilngi oleh dua orang penipu ulung”, berkata Empu Dangka yang dibalas oleh tawa berkepanjangan dari Mahesa Amping dan Wayan Tagur.

Sementara itu temaram warna malam yang dingin telah membasahi tanah halaman ladang jagung didepan gubuk yang baru saja selesai dipanen. Malam sebentar lagi akan berlalu.

———-oOo———-

SFBDBS 11-289

“Semoga keselamatan selalu menaungi perjalanan kalian”, berkata Wayan Tagur mengantar kepergian Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Semoga kesejahteraan selalu hadir dalam keluargamu”, berkata Empu Dangka balas menyampaikan kata salam perpisahan.

Sementara itu matahari pagi baru saja beranjak naik mengintip diujung bumi. Pagi begitu cerah dalam warna hijau yang bening, rerumputan, ilalang dan bunga bakung yang tumbuh berkembang disepanjang jalan sepertinya tengah menari bermandi kehangatan matahari pagi.

Terlihat dua orang berkuda membelakangi matahari pagi, debu-debu terlihat mengepul dibelakang kaki kuda mereka.

Mereka adalah Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah melanjutkan perjalanannya ke Tanah Melaya, sebuah perkampungan nelayan di pesisir barat Balidwipa.

Matahari belum sampai di puncaknya manakala mereka telah berhadapan dengan bibir pantai yang luas, terlihat mereka tengah berkuda menyusuri bibir pantai berpasir putih. Kadang ombak kecil menyapu dan membasahi kaki-kaki kuda mereka.

“Aku punya kenalan di Tanah Melaya”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Akhirnya kuda-kuda mereka telah membawa mereka mendekati sebuah perkampungan nelayan yang terlihat dirimbuni pohon kelapa.

Terlihat mereka telah turun dari kudanya ketika telah sampai di kampung nelayan. Seorang lelaki didepan gubuknya yang tengah memperbaiki jalanya menganggukkan kepalanya ketika dilewati oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka yang berjalan sambil menuntun kuda.

“Orang-orang yang ramah”, berkata Mahesa Amping berbisik kepada Empu Dangka.

Langkah kaki mereka berhenti didepan sebuah gubuk dimana tengah duduk seorang lelaki setengah tua diatas bale-bale bambu.

“Kukira ada saudagar besar datang ke gubukku”, berkata lelaki itu yang sepertinya sudah sangat mengenal Empu Dangka langsung turun dari Bale-bale bambu.

“Kukira Ki Subali sudah tidak mengenali diriku lagi”, berkata Empu Dangka kepada orang itu yang dipanggilnya sebagai Ki Subali.

Udara memang cukup terik diatas perkampungan nelayan itu yang berpasir putih.

“Mari naik dan bicara diatas bale-bale”, berkata Ki Subali mempersilahkan dua orang tamunya naik keatas bale-bale yang cukup lebar untuk mereka bertiga.

“Perkenalkan ini keponakanku, namanya Mahesa Amping”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali memperkenalkan Mahesa Amping sebagai keponakannya.

Terlihat Ki Subali memanggil seorang pemuda yang sedang membelah kayu. Ternyata Ki Subali meminta anak muda itu naik mengambil buah kelapa didepan rumahnya.

“Tolong ambilkan yang muda untuk tamuku”, berkata Ki Subali kepada pemuda itu.

Dengan ringannya anak muda itu memanjat pohon kelapa didepan rumah Ki Subali. “Awas Ki Subali”, berkata Anak muda itu dari atas pohon sambil menjatuhkan beberapa buah kelapa.

“Mudah-mudahan dapat melepas dahaga kalian”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka sambil menyerahkan buah kelapa yang sudah dipangkas ujung pangkalnya agar mudah untuk diminum dan diambil dagingnya.

“Terima kasih Kampur, bawalah untukmu”, berkata Ki Subali kepada pemuda itu yang dipanggilnya bernama Kampur yang baru saja turun dari atas pohon kelapa tengah mengibas-ngibaskan dada dan pundaknya dari debu batang kelapa yang menempel.

Anak muda itu sudah kembali ketempatnya membelah kayu, Ki Subali sudah kembali naik keatas bale-bale menemani tamu-tamunya.

“Kukira Empu Dangka tidak akan singgah lagi ke gubukku”, berkata Ki Subali kepada Empu Dangka.

“Aku perlu bantuanmu untuk mengantar kami menyeberang ke seberang”, berkata Empu Dangka langsung menyampaikan keperluannya kepada Ki Subali.

“Dengan senang hati aku akan mengantar kalian”, berkata Ki Subali langsung menerima permintaan Empu Dangka.

“Ada satu lagi, mudah-mudahan Ki Subali tidak keberatan”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali.

“Mudah-mudahan aku dapat memikulnya”, berkata Ki Subali sambil tersenyum

“Tidak berat, aku bermaksud memberikan dua ekor kuda itu untuk Ki Subali”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali.

“Memang tidak berat, bahkan sangat ringan untuk membawanya kepasar ternak”, berkata Ki Subali yang disambut tawa panjang dari Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Aku tidak melihat Nyi Subali…..”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Subali.

“Sudah dua minggu ini istriku di seberang menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Kebetulan sekali setelah mengantar kalian aku akan singgah kerumah mertuaku itu”, berkata Ki Subali menjelaskan keberadaan Nyi Subali kepada Empu Dangka.

Sementara itu tidak terasa sang waktu telah menarik layar cakrawala langit diatas panggung bumi menjadi warna sore yang teduh. Terlihat matahari kuning bulat masih menggelantung rebah ke barat mendekati ujung laut biru yang datar.

———-oOo———-

SFBDBS 11-290

Dan senjapun ternyata lepas berlalu, mentari sudah lama tenggelam di balik bumi, cakrawala langit malam diatas hamparan laut biru bergelombang dipenuhi taburan bintang.

Terlihat sebuah perahu nelayan terapung dipermainkan ombak. Angin laut yang kuat telah mengembangkan layarnya terus melaju. Ada tiga orang lelaki ditemani cahaya lentara perahu yang temaram bergoyang kekiri dan kekanan. Mereka adalah Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Subali yang tengah mengarungi selat Bali menuju Tanah Jawa.

“Nasib kita sedang baik, lihatlah bintang sulo bawi bersinar begitu terang, itu tanda angin timur masih akan terus berhembus hingga fajar”, berkata Ki Subali yang pandai membaca berbagai bintang.

Hamparan laut biru terhampar bagai permadani bergelombang. Perahu berlayat tunggal itu begitu kerdil terapung dibawa aingin timur yang terus berhembus.

Sebagaimana yang dikatakan Ki Subali, menjelang fajar mereka telah melihat gundukan hitam ratan tanah membujur. Itulah daratan tanah Jawa.

Berdesir detak hati Mahesa Amping menatap hamparan tanah hitam di bawah cakrawala langit yang masih buram. Ada kegembiraan yang melompat-lompat, hati dan perasaan Mahesa Amping sepertinya merasakan laju perahu begitu lambat.

Layar perahu itu sudah digulung, terlihat Ki Subali dengan penuh ketenangan kadang mengayuh mengarahkan perahu berada dibelakang gelombang. Perahu nelayan itu pun terus melaju dibawa ombak mendekati daratan pantai.

“Kita berada di pantai kampung mandar”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka sambil melompat kelaut dangkal.

“Istri Ki Subali orang mandar?”, bertanya Mahesa Amping sambil membantu Ki Subali merapatkan perahunya kedaratan yang lebih dangkal.

“Benar, istriku orang mandar, aku sendiri keturunan Melayu”, berkata Ki Subali sambil mengikat perahunya disebuah tonggak kayu pohon kelapa yang terpenggal.

“Orang Mandar dan orang Melayu adalah keturunan pelaut, darah mereka mungkin berwarna biru”, berkata Empu Dangka. “Mungkin juga darah mereka rasanya asin”, berkata kembali Empu Dangka yang disambut derai tawa dari Mahesa Amping dan Ki Subali, sepertinya mereka telah melupakan semalaman digoyangkan gelombang dan kebosanan.

Sementara itu sang mentari telah muncul mengintip diujung bumi dalam warna kuning elok membias memancar diatas warna biru laut.

“Warna pagi yang indah”, berkata mahesa Amping dalam hati sambil memandang cahaya matahari yang baru terbit diujung tepi laut yang jauh.

“Tidak jauh dari sini ada sebuah kedai”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

“Tunggulah kalian dikedai ini, aku akan segera kembali”, berkata Ki Subali ketika mereka tiba dikedai yang bermaksud untuk singgah kerumah mertuanya sambil melihat istrinya.

“Janganlah diri kami membuat Ki Subali tergesa-gesa, kami tidak sedang berburu waktu”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali.

Langkah Ki Subali sudah tidak terlihat lagi terhalang sebuah gubuk yang berdiri di tikungan jalan. Sementara itu Mahesa Amping dan Empu Dangka memesan minuman hangat kepada pemilik kedai.

“Serabinya masih hangat”, berkata pemilik kedai itu menawarkan serabi yang memang terlihat masih berasap.

Ternyata kedai itu semakin terang pagi semakin banyak didatangi orang, beberapa nelayan yang baru saja kembali dari melaut, atau beberapa wanita yang hanya berkemben selembar kain datang membeli beberapa jajanan, mungkin untuk suami dan anaknya.

“Meski sudah jauh dari tempat asalnya, orang Mandar tetap memegang adatnya”, berkata Empu Dangka yang sudah banyak melanglang keberbagai pulau.

Sementara itu cahaya matahari pagi sudah semakin hangat, warna pagi sudah begitu terang ketika mereka melihat Ki subali sudah datang kembali.

“Bagaimana keadaan mertua dan istrimu?”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Subali yang baru datang dari rumah mertuanya.

“Kulihat mereka dalam keadaan sehat tidak kurang apapun”, berkata Ki Subali penuh senyum.

Terlihat Ki Subali mengambil tempat duduk, namun tidak memesan apapun karena sudah merasa kenyang disuguhi makanan dirumah mertuanya.

“Bila kalian merasa sudah cukup beristirahat, kita dapat melanjutkan perjalanan”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Subali tengah melangkahkan kakinya kearah pantai.Sementara itu matahari pagi diatas cakrawala langit sudah bergeser mengangkat wajahnya seperempat naik permukaan hamparan laut biru.

Ombak pantai berduyun-duyun membasahi kaki mereka yang tengah mendorong perahunya menjauhi pasir dangkal.

Terlihat Ki Subali adalah orang terakhir yang melompat kedalam perahunya manakala kedalaman air dirasakan telah cukup tinggi.

Semilir angin diatas perahu sepanjang pesisir pantai jawa itu berhembus menyejukkan. Dan perahu kecil itu terlihat laju dikayuh Mahesa Amping dan Ki Subali menyusuri tepian pantai timur Jawadwipa. Kadang mereka singgah menepi disebuah pantai untuk sekedar melepas kepenatan, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam terik matahari atau gelapnya langit malam bertaburan bintang.

———-oOo———-

SFBDBS 11-291

Akhirnya,pagi itu mereka telah tiba di Muara Sungai Porong, matahari pagi di belakang punggung mereka bersinar hangat. Hari memang telah terang pagi. Beberapa bocah lelaki terlihat tengah bermain berlari diatas pasir putuh yang lembut.

“Paman Kebo Arema pernah tinggal disini”, berkata Mahesa Amping menunjuk sebuah perkampungan nelayan.

“Kebo Arema seperti raja kecil di perkampungan ini, kita bisa meminjam namanya”, berkata Empu Dangka ikut memandang perkampungan nelayan yang terdiri dari gubuk-gubuk kecil dari bilik bambu dan beratap daun alang-alang yang berjurai. Perkampungan itu sendiri berada dibawah bukit hutan yang hijau. Sebuah pemandangan yang indah berada antara hamparan laut yang luas dan pemandangan bukit tinggi yang hijau.

“Kami kerabat Kebo Arema, kami perlu sebuah jukung untuk sampai ke Sungai Brantas”, berkata Empu Dangka kepada seorang lelaki di depan gubuknya yang tengah menjemur dendeng ikan.

“Kalian kerabat Paman Kebo Arema?”, bertanya lelaki itu sambil tersenyum memandang tiga orang asing dihadapannya.

“Benar, kami kerabatnya”, berkata Empu Dangka penuh senyum keramahan kepada lelaki itu.

“Paman Kebo Arema adalah dewa penolong bagi warga di perkampungan ini, membantu kerabatnya adalah sebuah kebanggaan untuk kami”, berkata lelaki itu sambil bercerita tentang sepak terjang Kebo Arema selama tinggal di perkampungan mereka. ”Saudaraku punya dua buah jukung, mungkin dapat meminjamkannya untuk kalian”, berkata lelaki itu sambil mengajak Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Subali kerumah saudaranya.

Ternyata nasib mereka sedang mujur, saudara lelaki itu bersedia memberikan jukungnya.

“Berhati-hatilah, di hutan porong air sungai cukup deras dan berbatu”, berkata saudara lelaki itu yang bersedia memberikan jukungnya.

“Terima kasih telah mengingatkan kami”, berkata Mahesa Amping kepada saudara lelaki itu.

“Kapan kalian berangkat?”, bertanya lelaki yang mengantar ke rumah saudaranya setelah kembali lagi kerumahnya.

“Setelah beristirahat yang cukup, siang ini kami akan berangkat”, berkata Empu Dangka kepada lelaki itu.

“Beristirahatlah disini”, berkata lelaki itu memperkenalkan dirinya bernama Ragil.

Dengan penuh keramahan Ragil menjamu ketiga tamunya beristirahat di gubuknya.

“Tangkapan ikan di musim ini cukup melimpah”, berkata Ragil bercerita tentang beberapa hal kehidupan seorang nelayan.

Ketika matahari condong sedikit dari puncaknya di Muara Sungai, Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan perjalanannya.

Terima kasih Ki Subali telah mengantar kami sampai di Mura Sungai Porong ini”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali yang siang itu juga akan kembali Ke seberang, ke tanah Melaya di Balidwipa.

“Sampaikan salam kami kepada Paman Kebo Arema”, berkata Ragil kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang telah berada diatas jukungnya.

“Aku akan sampaikan salammu”, berkata Empu Dangka sambil melambaikan tangannya dari atas jukung yang mulai bergerak bergeser dari bibir sungai.

Diiringi pandangan mata Ki Subali dan Ragil, jukung yang dinaiki Mahesa Amping dan Empu Dangka telah bergerak menjauh hingga akhirnya semakin kabur tinggal bayangan hitam dari pandangan mereka karena Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah semakin jauh dari Muara Sungai Porong masuk dalam kerimbunan hutan Porong yang lebat dipenuhi batang-batang pohon kayu yang besar dan tinggi dan kerap dirayapi semak belukar, hutan itu sepertinya tidak pernah dijamah oleh tangan manusia.

“Selama manusia tidak merusaknya, selama itu pula hutan ini menjaga dan memberi kehidupan manusia di dunia”, berkata Empu Dangka sambil menyapu pandangannnya di sekitar hutan yang begitu kerap.

“Gusti Yang Maha Kasih telah memberikan hutan, gunung dan lautan untuk kehidupan manusia”, berkata Mahesa Amping ikut memandang jauh kedalaman hutan yang lebat.

“Matahari sudah semakin condong”, berkata Empu Dangka mengingatkan Mahesa Amping bahwa cahaya diatas sungai itu sudah semakin gelap , cahaya matahari semakin terhalang kerapatan hutan porong yang lebat.

“Sungai semakin dangkal dan berbatu”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dapat menangkap kekhawatirannya.

Akhirnya ketika cahaya diatas sungai porong itu sudah begitu gelap, mereka merapatkan jukungnya disebuah tepian.

“Kita bermalam disini”, berkata Empu Dangka sambil duduk disebuah bebatuan dibawah sebuah pohon kayu besar.

Terlihat Mahesa Amping membuat perapian, membuka bekal yang mereka bawa dan mengumpulkan beberapa umbi-umbian tanaman sejenis talas yang cukup banyak tumbuh di sekitar tepi sungai itu.

“Kamu seperti ayahku, hanya memilih kimpul mitoha”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang sudah mengumpulkan beberapa umbi yang disebut Empu Dangka sebagai kimpul Mitoha.

“Aku menyukainya karena rasanya sangat pulen”, berkata Mahesa Amping menyampaikan alasannya memilih umbi-umbian yang dikumpulkannya.

Demikianlah, mereka menghangatkan diri di tepian sungai hutan porong itu yang sangat lebat dan gelap.

———-oOo———-

SFBDBS 11-292

Ketika pagi telah datang menjelang, cahaya matahari telah masuk diantara kerap dahan dan daun menyinari sungai porong yang jernih berbatu.

“Kita lanjutkan perjalanan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

Terlihat sebuah jukung sudah mulai bergerak menyusuri sungai di hutan porong yang cukup deras dan berbatu. Dengan mahirnya Mahesa Amping mengrahkan jukungnya menghindari batu-batu besar yang ada dihadapan mereka.

“Air sungai sudah semakin dalam”, berkata Mahesa Amping yang melihat air sungai yang disusurinya sudah semakin dalam dan tidak berbatu.

“Kita semakin mendekati sungai Brantas”, berkata Empu Dangka yang begitu kenal dengan keadaan disekitarnya. Karena pernah hidup lama didaerah ini dan dikenal oleh penduduk disekitarnya sebagai nelayan bercaping yang banyak menolong sesamanya, terutama dari para begal yang dulu banyak dan sering mengganggu.

Sementara itu matahari terus bergerak dan bergeser ke barat membuat bayang-bayang semakin memanjang dan memudar.
Akhirnya menjelang senja mereka telah sampai di sebuah pertemuan sungai.

“Kita telah sampai di muka sungai pemisah dua raja”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika jukung mereka telah memasuki sebuah sungai yang jauh lebih luas.

“Sungai Brantas”, berkata Mahesa Amping perlahan mewakili kegembiraan hatinya.

“Kita sama-sama merindukannya”, berkata Empu Dangka yang dapat menangkap perasaan hati Mahesa Amping.

Cahaya senja diatas Sungai Brantas terlihat begitu teduh, sebuah jukung melaju dikayuh oleh sebuah tangan yang kuat dan penuh semangat.

“Dipertengahan malam kita baru dapat beristirahat”, berkata Empu dangka sambil memasang lentera diujung jukungnya, sementara itu cahaya didepan mereka memang telah begitu gelap.

Terlihat mahesa Amping mengayuh jukungnya agak menepi, pandangan matanya yang tajam masih dapat melihat arah dan suasana meski malam telah menyelimuti pemandangan di atas sungai Brantas dan hutan dikiri kanannya.

“Kita menepi”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah menepikan jukungnya di pinggir sebuah hutan.

Seperti biasa Mahesa Amping membuat perapian dan membuka bekal perjalanan mereka.

“Dendeng ikan cucut dari Ragil masih ada”, berkata Mahesa Amping sambil membuka bekalnya.

Sementara malam dihutan tepian sungai Brantas itu telah menjadi begitu kelam bergayut suara kesunyian yang ajeg mengisi setiap waktu. Kadang terdengar lolongan sekumpulan anjing hutan memanggil kawan-kawannya, atau jerit seekor tikus sebagai suara dan nafas terakhirnya ketika berada dimulut seekor ular.

Namun semua suara itu tidak mengganggu Mahesa Amping dan Empu Dangka yang terlihat merebahkan dirinya bersandar pada sebuah pokok kayu pohon besar ditepian sungai Brantas itu.

Dan sang malam akhirnya pasrah menyerahkan kelanggengannya manakala sang fajar datang mengambil alih kuasa waktu yang ditandai dengan penampakan semburat warna kemerahan mengisi ujung timur lengkung langit, warna bumi pagipun menjadi begitu bening dan teduh.

Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat sudah berada di jukungnya kembali. Udara pagi yang sejuk dan segar mengiringi perjalanan mereka membelah air sungai Brantas yang jernih. Kadang mereka bertemu dengan satu dua perahu kayu milik para saudagar yang terlihat bermuatan barang dagangan.

“Kakang Mahesa Pukat telah membuat gardu penjagaan di sepanjang sungai Brantas ini”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Aku pernah mendengar namanya sebagai Senapati yang tangguh dari Bandar Cangu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. ”Jadi orang itu saudara tuamu?”, berkata kembali Empu Dangka.

“Kakang Mahesa Pukat juga guruku”, berkata Mahesa Amping dengan begitu bangganya.

“Beruntunglah Singasari memiliki para ksatria seperti kalian”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih terus mengayuh jukungnya sepertinya ingin membawanya secepatnya terbang ke Bandar Cangu.

“Perkampungan penduduk tumbuh semakin banyak di sepanjang sungai Brantas ini”, berkata Mahesa Amping ketika jukung mereka melewati beberapa perkampungan di sepanjang Sungai Brantas.

“Sungai Empu Baradah ini telah menjadi berkah bagi manusia disekitarnya”, berkata Empu Dangka sambil menyapu pandangannya dihamparan sawah yang luas di tepi sungai Brantas yang mereka lewati.

Sementara itu matahari pagi sudah semakin naik, cahayanya membias diatas air sungai seperti pelangi bertaburan warna-warni. Mahesa Amping masih terus mengayuh jukungnya, sepertinya tidak terlihat sedikitpun kelelahan dalam sinar raut wajahnya.

“Kita telah sampai”, berkata Mahesa Amping ketika matanya menangkap ujung-ujung tiang layar bahtera besar di ujung jauh sudut pandangnya menambah semangatnya untuk mengayuh jukungnya lebih kuat lagi.

Ujung-ujung tiang bahtera itu menjadi semakin mendekat. Mahesa Amping dan Empu Dangka telah mendekati dua buah bahtera besar Singasari yang tengah bersandar di sebuah dermaga yang besar.

———-oOo———-

SFBDBS 11-293

“Sebuah bahtera yang sangat besar dan indah”, berkata Empu Dangka sambil memandang dua buah bahtera besar didepan matanya.

“Itulah Jung Singasari yang kami banggakan”, berkata Mahesa Amping penuh kebanggaan kepada Empu Dangka.

“Kalian pantas membanggakannya”, berkata Empu Dangka sambil matanya tidak pernah melepas pandangannya kearah dua bahtera besar yang semakin menjadi dekat.

Akhirnya mereka merapatkan jukungnya didermaga itu.

Beberapa prajurit yang tengah berada disekitar dermaga itu menyambut kehadiran Mahasa Amping dengan perasaan penuh suka cita.

“Lama sekali tuan Rangga tidak hadir bersama kami”, berkata salah seorang prajurit muda ketika bertemu dengan Mahesa Amping.

Satu persatu Mahesa Amping melayani hampir semua prajurit yang datang menyapanya.

“Selamat datang wahai sahabatku”, berkata seorang pemuda seusia Mahesa Amping dengan pakaian lengkap seorang perwira.

“Selamat bertemu kembali wahai penjaga Singasari yang gagah”, berkata Mahesa Amping kepada pemuda itu yang ternyata adalah Rangga Lawe sahabat dekatnya.

Merekapun saling menanyakan keselamatan mereka masing-masing.

Ketika pandang mata Rangga Lawe bertemu dengan Empu Dangka, ada sedikit keheranan terlihat dari gurat wajah Rangga Lawe.

“Beliau ini bukan Empu Nada, tapi saudara kembarnya”, berkata Mahesa Amping yang mengerti keheranan dari Rangga Lawe dan langsung memperkenalkan Empu Dangka kepadanya.

“Mari kita ke atas, ke Balai Tamu”, berkata Rangga Lawe mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka menuju rumah kayu yang megah dipinggir sungai Brantas yang disebut sebagai Rumah Balai Tamu.

“Nampaknya Raden Wijaya tengah menerima seorang tamu”, berkata Mahesa Amping menatap kearah pendapa Balai tamu.

“Hampir setiap hari kami menerima tamu”, berkata Rangga Lawe penuh senyum sambil terus melangkah menaaiki pendapa balai tamu diiringi Mahesa Amping dan Empu Dangka dibelakangnya.

“Lihatlah, siapa yang bersamaku”, berkata Rangga Lawe kepada Raden Wijaya ketika sudah sampai diatas pendapa.

“Sebuah kegembiraan melihat dirimu kembali”, berkata Raden Wijaya sambil memeluk Mahesa Amping penuh keharuan layaknya seorang sahabat dekat bertemu setelah sekian lama berpisah.

Sebagaimana Rangga Lawe, Raden Wijaya merasa kenal dengan orang yang datang bersama Mahesa Amping.

“Perkenalkan, ini saudara kembar dari Empu Nada”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

“Ternyata aku bertemu dengan guru Paman Kebo Arema dan Baginda Maharaja Singasari”, berkata Raden Wijaya penuh santun dan penghormatan.

Tamu dari Raden Wijaya ternyata memaklumi suasana pertemuan itu, orang itu pun berpamit diri.

“Maaf, urusanku sudah selesai, aku mohon pamit diri”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya serta semua yang ada di pendapa Balai Tamu.

Setelah tamu itu turun dari pendapa, kembali suasana penuh kegembiraan lebih terbuka lagi, mereka saling bercerita beberapa hal seiring selama perpisahan mereka.

“Aku tidak melihat Paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping menanyakan keadaan kebo Arema.

“Paman Kebo Arema baru saja keluar, mungkin ada sedikit urusan di Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe kepada Mahesa Amping.

“Setelah beristirahat, aku akan ke Benteng Cangu sekalian bertemu Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

“Kita semua akan mengantarmu ke Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe menyambung perkataan Mahesa Amping.

Pembicaraan mereka tiba-tiba tertahan manakala dari balik pintu keluar seorang pelayan membawa minuman dan hidangan untuk mereka.

“Silahkan dinikmati hidangannya”, berkata Rangga Lawe memberi kesepatan Mahesa Amping dan Empu Dangka memulai mengambil hidangan yang tersedia.

“Baru kali ini aku dipersilahkan oleh seorang yang bernama Lawe”, berkata Mahesa Amping yang disambut gerai tawa semuanya.

“Ini untuk pertama dan terakhir, besok kamu bukan tamu lagi”, berkata Rangga Lawe yang membuat suara ketawa kembali menyambung berkepanjangan.

Demikianlah, mereka saling bersenda gurau sambil menikmati hidangan diatas pendapa Balai Tamu. Empu Dangka dapat menilai begitu dekatnya persahabatan ketiga pemuda yang ada bersamanya itu.

“Mereka tiga serangkai sahabat sejati dan sehati”, berkata Empu dangka dalam hati menilai keakraban ketiga pemuda dihadapannya itu sambil ikut menikmati senda gurau mereka yang sepertinya tidak ada batas perbedaan warna-warni pangkat dan derajat keturunan.

Sementara itu di hutan seberang sungai Brantas, sekumpulan burung pengelana terlihat turun bertengger di beberapa ranting. Satu dua burung-burung muda terlihat tengah mencari perhatian dihadapan para burung betina dengan memegarkan bulunya yang halus putih sambil membuat sebuah suara kicau yang merdu. Sebagian lagi terlihat tengah meneguk air ditepian sungai Brantas penuh kepuasan setelah melewati perjalanan panjangnya.

“Kita akan menemui kemarau panjang”, berkata Empu Dangka dengan pandangan jauh kedepan memandang burung-burung pengelana di seberang sungai Brantas.

“Saat yang baik untuk membawa prajurit berlayar menuju Balidwipa”, berkata Mahesa Amping ikut memandang ke hutan di seberang Sungai Brantas.

Dan waktu pun terus berlalu, matahari diatas Sungai Brantas telah mulai tergelincir surut kebarat.

“Mari kita ke Benteng Cangu, menemui Senapati Mahesa Pukat dan Paman Kebo Arema”, berkata Raden Wijaya.

Maka terlihat mereka tengah menuruni anak tangga Balai Tamu dan melangkah menuju Benteng Cangu yang letaknya tidak begitu berjauhan.

Tidak begitu lama mereka telah sampai di pintu gerbang Benteng Cangu. Seorang pengawal yang melihat kedatangan mereka langsung membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

Sementara itu Mahesa Pukat dan Kebo Arema yang tengah berada di atas pendapa Benteng Cangu telah melihat kedatangan mereka yang semakin mendekat.

“Guru….”, berkata Kebo Arema sambil menuruni anak tangga pendapa.

“Bangkitlah anakku”, berkata Empu Dangka menyentuh punggung Kebo Arema untuk bangkit berdiri.

Maka suasana benar-benar menggembirakan, banyak sekali yang mereka percakapkan sepanjang berbagai hal selama perpisahan waktu diantara mereka.

“Kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping yang telah bercerita cukup panjang mengenai perjalanan tugasnya di Balidwipa.

“Saran dan pandangan Kakang Mahesa Pukat sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat berharap mendapat berbagai masukan.

“Apakah kamu tidak ingin menerima saran dan pandanganku?”, berkata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya yang panjang penuh senyum.

“Saran dan Pandangan dari Kakang dan Paman sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping mengulang kembali perkataannya.

Demikianlah, mereka bersama saling memberikan beberapa pandangan berdasarkan apa yang telah diamati Mahesa Amping selama berada di Balidwipa.

———-oOo———-

SFBDBS 11-294

bersambung ke SFBDBS-12

<<kembali ke SFBdBS-10 | lanjut ke SFBdBS-12 >>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 April 2012 at 22:30  Comments (259)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

259 KomentarTinggalkan komentar

  1. selamat malam kadank sedoyo

    • lho……….kok sendiriannnn ?????

      • Tidak sendirian kok, ada saya……

  2. Sebagaimana Rangga Lawe, Raden Wijaya merasa kenal dengan orang yang datang bersama Mahesa Amping.

    “Perkenalkan, ini saudara kembar dari Empu Nada”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

    “Ternyata aku bertemu dengan guru Paman Kebo Arema dan Baginda Maharaja Singasari”, berkata Raden Wijaya penuh santun dan penghormatan.

    Tamu dari Raden Wijaya ternyata memaklumi suasana pertemuan itu, orang itupun berpamit diri.

    “Maaf, urusanku sudah selesai, aku mohon pamit diri”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya serta semua yang ada di pendapa Balai Tamu.

    Setelah tamu itu turun dari pendapa, kembali suasana penuh kegembiraan lebih terbuka lagi, mereka saling bercerita beberapa hal seiring selama perpisahan mereka.

    “Aku tidak melihat Paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping menanyakan keadaan kebo Arema.

    “Paman Kebo Arema baru saja keluar, mungkin ada sedikit urusan di Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe kepada Mahesa Amping.

    “Setelah beristirahat, aku akan ke Benteng Cangu sekalian bertemu Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping.

    “Kita semua akan mengantarmu ke Benteng Cangu”, berkata Rangga Lawe menyambung perkataan Mahesa Amping.

    Pembicaraan mereka tiba-tiba tertahan manakala dari balik pintu keluar seorang pelayan membawa minuman dan hidangan untuk mereka.

    “Silahkan dinikmati hidangannya”, berkata Rangga Lawe memberi kesepatan Mahesa Amping dan Empu Dangka memulai mengambil hidangan yang tersedia.

    “baru kali ini aku dipersilahkan oleh seorang yang bernama Lawe”, berkata Mahesa Amping yang disambut gerai tawa semuanya.

    “Ini untuk pertama dan terakhir, besok kamu bukan tamu lagi”, berkata Rangga Lawe yang membuat suara ketawa kembali menyambung berkepanjangan.

    Demikianlah, mereka saling bersenda gurau sambil menikmati hidangan diatas pendapa Balai Tamu. Empu Dangka dapat menilai begitu dekatnya persahabatan ketiga pemuda yang ada bersamanya itu.

    “Mereka tiga serangkai sahabat sejati dan sehati”, berkata Empu dangka dalam hati menilai keakraban ketiga pemuda dihadapannya itu sambil ikut menikmati senda gurau mereka yang sepertinya tidak ada batas perbedaan warna-warni pangkat dan derajat keturunan.

    • lho…!!??!, berarti kurang satu lagi

      • kamsiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaa.

  3. satpam sudah coba bundel rontal yang tercecer, terbyata masih belum cukup.
    kalau Pak Dhalangnya menambahkan dua rontal lagi, maka SFBDBS-11 sudah bisa dibundel.
    he he he … (dengan nada berharap)

    • cuma dua rontal lagi ????? (sambil bernyanyi)

      makan, makan sendiri,
      nyuci, nyuci sendiri
      ngopi……bikin sendiri

      • cuma dua rontal lagi ???????
        (kirain sambil mencet keyboard)

      • Ngerontalpun ……pun sendiriiiiiiii

  4. Sementara itu di hutan seberang sungai Brantas, sekumpulan burung pengelana terlihat turun bertengger di beberapa ranting. Satu dua burung-burung muda terlihat tengah mencari perhatian dihadapan para burung betina dengan memegarkan bulunya yang halus putih sambil membuat sebuah suara kicau yang merdu. Sebagian lagi terlihat tengah meneguk air ditepian sungai Brantas penuh kepuasan setelah melewati perjalanan panjangnya.

    “Kita akan menemui kemarau panjang”, berkata Empu Dangka dengan pandangan jauh kedepan memandang burung-burung pengelana di seberang sungai Brantas.

    “Saat yang baik untuk membawa prajurit berlayar menuju Balidwipa”, berkata Mahesa Amping ikut memandang ke hutan di seberang Sungai Brantas.

    Dan waktupun terus berlalu, matahari diatas Sungai Brantas telah mulai tergelincir surut kebarat.

    “Mari kita ke Benteng Cangu, menemui Senapati Mahesa Pukat dan Paman Kebo Arema”, berkata Raden Wijaya.

    Maka terlihat mereka tengah menuruni anak tangga Balai Tamu dan melangkah menuju Benteng Cangu yang letaknya tidak begitu berjauhan.

    Tidak begitu lama mereka telah sampai di pintu gerbang Benteng Cangu. Seorang pengawal yang melihat tangan kedmereka langsung membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.

    Sementara itu Mahesa Pukat dan Kebo Arema yang tengah berada di atas pendapa Benteng Cangu telah melihat kedatangan mereka yang semakin mendekat.

    “Guru….”, berkata Kebo Arema sambil menuruni anak tangga pendapa.

    “Bangkitlah anakku”, berkata Empu Dangka menyentuh punggung Kebo Arema untuk bangkit berdiri.

    Maka suasana benar-benar menggembirakan, banyak sekali yang mereka percakapkan sepanjang berbagai hal selama perpisahan waktu diantara mereka.

    “Kamu telah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping yang telah bercerita cukup panjang mengenai perjalanan tugasnya di Balidwipa.

    “Saran dan pandangan Kakang Mahesa Pukat sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat berharap mendapat berbagai masukan.

    “Apakah kamu tidak ingin menerima saran dan pandanganku ?”, berkata Kebo Arema sambil mengelus janggutnya yang panjang penuh senyum.

    “Saran dan Pandangan dari Kakang dan Paman sangat diharapkan”, berkata Mahesa Amping mengulang kembali perkataannya.

    Demikianlah, mereka bersama saling memberikan beberapa pandangan berdasarkan apa yang telah diamati Mahesa Amping selama berada di Balidwipa.

    • satu………….,berteriak sambil bersalto tiga kali dan langsung berdiri bertolak pinggang. hehehe

  5. satu rontal lagi, masuk di gandok 12 yang sduah terbuka
    he he he ….

  6. “Kapan kalian akan ke Kotaraja ?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping

    Terlihat Mahesa Amping memandang Raden Wijaya berharap ikut memberikan jawaban.

    “Kami akan berangkat segera, tentunya setelah Mahesa Amping dan Empu Dangka cukup beristirahat”, berkata Raden Wijaya cukup terdengar bijaksana.

    “Kalian semua akan berangkat ke kotaraja ?”, bertanya kembali Mahesa Pukat.

    “Mungkin Rangga Lawe yang harus tertinggal mewakili segalanya di Balai Tamu”, berkata Raden Wijaya.

    Maka semua mata tertuju kepada Rangga Lawe.

    “Sebagai prajurit, aku siap menerima tugas dari Sang Senapati”, berkata Rangga Lawe dengan wajah senyum terpaksa karena sedikit kecewa tidak diikutkan ke Kotaraja.

    Namun perkataan Rangga lawe itu sudah membuat semua diatas pendapa benteng Cangu tertawa.

    Sementara itu waktu berlalu seperti berlari, senja telah mulai merangkak pergi meninggalkan bumi menyelinap dibawah kegelapan malam yang telah mulai merayap menyelimuti bumi.

    “Kami mohon pamit diri”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat mewakili.

    Maka terlihat Kebo Arema, Mahesa Amping, Empu Dangka, Raden Wijaya dan Rangga Lawe tengah menuruni anak tangga pendapa Benteng Cangu diringi pandangan mata Mahesa Pukat sampai
    akhirnya menghilang tidak terlihat lagi ketika mereka terhalang pintu gerbang benteng cangu yang tinggi.

    Berlima mereka beriring berjalan melangkah menuju Balai Tamu Bandar Cangu yang tidak begitu jauh dari Benteng Cangu. Sementara langit malam telah menutupi air sungai Brantas menjadi begitu kelam, hanya terdengar riak gelombangnya sesekali menampar kayu bahtera Singasari yang tengah bersandar di dermaga kayu itu.

    Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di pendapa Balai Tamu.

    “Hamba kira tuan-tuan akan kembali dari Benteng Cangu sampai jauh malam”, berkata pelayan tua itu penuh senyum ramah.

    “Kami rindu dengan masakanmu Pak tua, itulah sebabnya kami segera kembali”, berkata Rangga Lawe kepada pelayan tua itu membuat semua yang mendengar ikut tersenyum.

    Diam-diam Empu Dangka memperhatikan keakraban sikap pelayan tua itu kepada penghuni Balai Tamu itu.”Kesetiaan pelayan tua itu buah dari sikap penghuni rumah ini yang menghormatinya bukan sebagai pesuruh, tapi sebagai sahabat”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi sikap kasih orang-orang disekilingnya itu.

    Sinar bulan sepotong redup memandang wajah alang-alang yang melenggut ditepian sungai Brantas. Dan malampun telah jauh merambah kegelapan.

    • cihuiiiiiiiii……….,

      • he he he ….., gandok 12 sudah dibuka ki
        rontal terakhir sya masukkan di gandok 12.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: