SFBDBS-11

<<kembali ke SFBdBS-10 | lanjut ke SFBdBS-12 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 April 2012 at 22:30  Comments (259)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

259 KomentarTinggalkan komentar

  1. sugeng malem minggon

    • lho bak-e ndok duwur dewe, walah dadi wedi nek ceblok, kancani komen siji neh, ben ono kancane

  2. Ki Arya Sidi, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah mendatangi sanggar. Beberapa Sisya tengah berlatih di Sanggar terbuka, sebagian lagi berlatih disanggar tertutup.

    “Anak-anak muda yang penuh semangat”, berkata Empu Dangka gembira melihat para Sisya berlatih dengan penuh semangat.

    “Mereka adalah pemimpin Balidwipa di masa yang akan datang”, berkata ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.
    Ketika senja sudah mulai turun menyelimuti bumi, para sisya telah kembali ke tempatnya. Mahesa Amping, Ki Arya Sidi dan Empu Dangka telah kembali pula ke Bale Guru.

    Cahaya temaram menerangi Bale Guru lewat dua buah pelita yang berjajar ditiang pendapa. Angin semilir melepas redup cahaya dua pelita itu bergoyang. Hamparan rumput hijau di muka halaman bale Guru sudah tidak terlihat jelas.

    “ternyata semua sudah kalian rencanakan”, berkata Ki Arya Sidi kepada Empu Dangka dan Mahesa Amping.

    “Apa yang telah kami rencanakan ?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura tidak mengerti apa perkataan dari Ki Arya Sidi.

    “Merencanakan agar aku akhirnya dapat diterima oleh para Sisya di Pura Indrakila ini”, berkata Ki Arya Sidi sambil menuangkan sebuah kendi air ke dalam mangkuknya.
    Mahesa Amping dan Empu Dangka tidak menaggapi perkataan Ki Arya Sidi, terlihat mereka hanya tersenyum dikulum.

    “kami hanya ingin mengembalikan perguruan Panca Agni sebagaimana leluhur dari Ki Arya Sidi telah mencita-citakannya, sebagai candradimuka bagi semua calon penguasa Pura di Balidwipa”, berkata Empu Dangka dengan penuh senyum.

    “Bukankah cita-cita itu telah kembali terwujud ?, hanya pindah tempat dari Bukit Gundul Pejeng ke Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping menambahkan.

    “Sebenarnya aku masih memerlukan kehadiran kalian disini”, berkata Ki Arya Sidi setelah sambil meletakkan kembali mangkuk minumannya yang masih tersisa.

    “Aku pasti akan kembali, sebagaimana pernah kukatakan bahwa aku telah jatuh hati pada Tanah Bali, aku merasakan bahwa Balidwipa ini sebagai tanah kelahirannku kedua”, berkata Mahesa Amping.

    Sementara itu pelita diatas pendapa Bale guru itu sudah menjadi begitu redup, mungkin Ki Made Rangu lupa mengisi minyak buah jarak diwaktu sore. Angin malam semilir mengusap kulit tubuh. Lantai kayu sudah sedikit berembun.

    “Mari kita beristirahat”, berkata Empu Dangka mengajak Ki Arya Sidi dan Mahesa Amping masuk untuk beristirahat ke biliknya masing-masing.

    • wah…, baru tahu
      matur suwun nggih (he he he …, gak berani berteriak kamssiiiaaaa…………..!!!) takut mengganggu orang lain yang sedang bobo.

    • Terimakasih, lanjutannya ditunggu.

  3. kakamssiiiaaaa…………..!!!

  4. Pagi itu kabut turun menyelimuti Pura Indrakila begitu pekat bagai gerumbul kapas membalut menghalangi dan membatasi jarak pandang penglihatan mata. Itulah sebagai tanda alam bahwa sepanjang hari udara di bumi pura indrakila akan dipayungi kecerahan.

    “hari ini aku berniat akan memilih beberapa sisya untuk ditingkatkan kemampuannya mengenal dasar mengungkapkan tenaga yang ada didalam diri”, berkata Mahesa dipagi itu kepada Ki Arya Sidi dan Empu Dangka ketika mereka bersama menikmati minuman hangat diatas pendapa Bale Guru.

    “Kulihat memang sudah saatnya mereka ditingkatkan”, berkata Ki Arya Sidi menyetujui rencana Mahesa Amping.

    “Saranku sebaiknya dipilih perwakilan dari setiap Pura agar tidak ada sebuah kecemburuan”, berkata Empu Dangka memberikan sarannya.

    “Saran Empu Dangka akan kuperhatikan”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    Demikianlah, pada hari itu Mahesa Amping memilih delapan orang Sisya terbaik menurutnya yang juga masing-masing merupakan perwakilan dari setiap pura di Balidwipa.

    “hari ini aku telah memilih kalian sebagai sisya yang sudah saatnya untuk dapat ditingkatkan tatarannya untuk mengenal bagaimana menggunakan tenaga yang ada didalam diri”, berkata Mahesa Amping kepada delapan Sisya yang dikumpulkannya didalam sanggar tertutup.

    Berdebar perasaan para sisya yang pernah mendengar tentang tenaga didalam diri. Selama ini mereka sering mendengar tentang kekuatan yang dapat dilontarkan lewat tenaga yang tersembunyi didalam diri setiap manusia yang sudah terlatih dan mengungkapkan rahasianya.

    Sementara itu Mahesa Amping dapat merasakan debar perasaan para sisyanya sebagaimana pernah dirasakannya ketika pertama kali diperkenalkan tentang tenaga dalam oleh gurunya sendiri Mahesa Murti di Padepokan Bajra Seta.

    “Untuk dapat mengungkapkan kekuatan yang ada didalam diri, kalian harus menjalani sebuah laku”, berkata Mahesa Amping kepada Para Sisya.

    Terlihat wajah para sisya menjadi begitu tegang.

    “Aku yakin kalian dapat menjalaninya dengan baik”, berkata Mahesa Amping yang dapat merasakan ketegangan para Sisyanya.

    Terlihat wajah dari beberapa Sisya agak mengendur tidak menjadi begitu tegang, sementara beberapa sisya masih merasakan ketegangannya.

    “Sebelum menjalani sebuah laku, kalian harus mempersiapkan beberapa hal sehari sebelumnya”, berkata Mahesa Amping sambil menerangkan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksannan sebuah laku.

    Para Sisya terlihat begitu seksama menyimak semua penjelasan dari Mahesa Amping.

  5. “kalian menjalani laku di sanggar tertutup ini selama tiga hari tiga malam, besok setelah senja kuharap kalian sudah mulai menjalaninya”, berkata Mahesa Amping mengahiri penjelasannya kepada para sisya.

    Demikianlah, pada hari itu kedelapan sisya itu sesuai petunjuk Mahesa Amping telah membuat beberapa persiapan, diantaranya adalah mencari beberapa buah kelapa yang akan diolah secara khusus sesuai petunjuk Mahesa Amping disamping beberapa persiapan lainnya.

    “kakang akan melakukan sebuah laku ?”, bertanya Made Dewa Akasa kepada kakaknya Wayan Dewa Bayu yang tengah membuat beberapa persiapan untuk menjalani sebuah laku.

    “Aku akan menjalani sebuah laku selama tiga hari tiga malam”, berkata Wayan Dewa Bayu kepada adiknya.

    “Aku berdoa semoga kakang dapat menjalaninya dengan baik”, berkata Made Dewa Akasa penuh perhatian.

    “Pada saatnya kamu juga akan menjalaninya”, berkata Wayan Dewa Bayu sambil tersenyum sepertinya dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh anak itu.

    “Sepertinya aku tidak sabar menantikan saat itu datang”, berkata Made Dewa Akasa kepada Wayan Dewa Bayu langsung mengungkapkan perasaannya.

    Demikianlah, kedelapan sisya yang terpilih pada hari itu telah melakukan beberapa persiapan lahir dan bathin sesuai petunjuk dari Mahesa Amping.

    Dan hari yang penuh mendebarkan itu akhirnya telah tiba.
    Senja di Pura Indrakila telah berlalu, malam mulai menyelimuti bumi dengan kegelapannya, kedelapan sisya yang telah dipilh langsung oleh Mahesa Amping sudah berada didalam sanggar tertutup yang gelap yang sengaja tidak diterangi pelita.

    Setelah melihat para sisya telah bersikap tubuh sesuai dengan petunjuknya, terlihat Mahesa Amping meninggalkan mereka keluar dari sanggar tertutup.

    Keesokan harinya, ketika cahaya matahari pagi terlihat menembus celah-celah bilik bambu sanggar tertutup, terlihat kedelapan sisya masih tidak bergerak dalam sikap lakunya.

    “Semoga Sang Hyiang Gusti Yang Maha Agung memberi jalan terang kepada mereka”, berkata Mahesa Amping dalam hati ketika pagi itu memeriksa kedelapan sisya di sanggar tertutup yang masih bersikap laku sesuai petunjuknya.

    “Bagaimana menurutmu keadaan mereka ?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang baru saja keluar dari Sanggar tertutup.

    “Sampai saat ini mereka masih dapat menjalaninya dengan baik”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    • Kamsiaaaaaaaaaa………..!!!

  6. Pada hari kedua, para sisya didalam sanggar tertutup masih dalam sikap lakunya.

    Sementara itu Wayan Dewa Bayu yang telah pernah menerima berbagai laku selama di Bukit Pejeng sudah lebih dulu dapat menyesuaikan dirinya yang terlihat dari tarikan nafasnya yang nyaris begitu halus tidak terdengar lagi.

    “Anak ini sudah mulai menemukan jalan nafasnya”, berkata Mahesa Amping yang datang menjenguk dan memperhatikan kedelapan sisya yang tengah menjalani sebuah laku.

    “bagaimana keadaan para sisya ?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping yang terlihat baru saja menutup kembali pintu sanggar.

    “Baru Wayan Dewa Bayu saja yang kulihat telah menemui jalan nafasnya, selebihnya masih dalam taraf penyesuaian”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    “Kita berdoa semoga Sang Hyiang Jagad Yang Maha Agung memberi jalan terang kepada mereka”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Ki Arya Sidi.

    Dan hari yang dinantikan akhirnya telah tiba.

    Dipagi yang bening, diawali dengan suara ayam jantan yang terdengar lirih dari sebuah tempat yang jauh, Mahesa Amping terlihat perlahan membuka sanggar dan menutupnya lagi. Keremangan pagi itu tidak menghalangi ketajaman matanya melihat satu persatu dari kedelapan sisya yang tengah menjalani sebuah laku.

    “Mereka semua telah menemukan jalan nafasnya”, berkata Mahesa Amping dalam hati setelah memperhatikan satu persatu dari kedelapan sisyanya yang tidak terdengar sedikitpun tarikan nafasnya. Mereka dapat terlihat seperti delapan arca Budha yang tengah bertapa.

    “Bukalah mata kalian secara perlahan, namun jangan lepaskan pandangan hati kalian tertuju hanya kepada Sang Hyiang Gusti Yang Maha Agung”, berkata Mahesa Amping dengan suara perlahan tertuju kepada kedelapan para sisyanya.

    Terlihat kedelapan sisya itu perlahan membuka kelopak matanya.

    “terima kasih guru, hari ini sisya merasakan menemukan sebuah dunia yang berbeda dari hari sebelumnya”, berkata salah seorang sisya yang tidak mampu menahan gejolak perasaan hatinya terlihat bersimpuh sujud dihadapan Mahesa Amping.

    Terlihat ketujuh sisya telah melakukan hal yang sama sujud di hadapan Mahesa Amping sambil menyampaikan apa yang mereka rasakan.

    “Bangkitlah wahai para Sisyaku, aku hanya sebagai perantara. Sujud dan bersyukurlah hanya kepada Gusti Yang Maha Agung yang merestuai jiwa kalian masuk dan mulai mengenal kebesarannya”, berkata Mahesa Amping dengan suara penuh kasih ikut merasa suka cita atas apa yang telah dicapai oleh para sisya dalam menjalani sebuah laku.

    • kamsia….., hehehe (sambil megang pundak belakang Ki Arga)

      • hadu…..
        kata Ki Arga kesakitan karena sentuhan tangan Pak Dalang mengaliri tenaga dalam.
        he he he …, selamat ,alam Pak Lik

      • Kenapa hanya dipegang, pijit sekalian Ki, he..he…

        • weh………..
          jebul dho dolanan sepur2an to….????
          wah jan kula ketinggalan sepur tenan …..!!!!

  7. Terlihat kedelapan sisya itu bangkit dari sujudnya dengan mata yang basah penuh keharuan dan suka cita.

    “Sucikanlah diri kalian dan beristirahatlah, jangan isi perut kalian dengan apapun selain dengan sisa ramuan kelapa yang kalian minum diawal laku”, berkata Mahesa Amping kepada kedelapan Sisyanya.”Aku tunggu kalian disini menjelang matahari datang bergeser dari puncaknya”, berkata kembali Mahesa Amping.

    Terlihat kedelapan sisya berdiri dan penuh hormat menjura kepada
    Mahesa Amping berpamit untuk keluar dari sanggar.

    Diringi pandangan mata Mahesa Amping, kedelapan sisya itu telah keluar dari sanggar.

    “Aku melihat sinar mata mereka begitu penuh suka cita”, berkata Ki Arya Sidi yang datang bersama Empu Dangka menemui Mahesa Amping di sanggar tertutup.

    “Mereka telah berhasil menjalani laku dengan baik”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Arya Sidi.

    “Sebuah awal yang baik”, berkata Empu Dangka ikut menanggapi.
    Akhirnya menjelang matahari telah bergeser dari puncaknya, Mahesa Amping di temani Ki Arya Sidi dan Empu Dangka telah melihat satu persatu dari kedelapan sisya telah datang masuk ke sanggar tertutup.

    “Pusatkan segala nalar budimu, hidupkan dan rasakan kekuatan yang tersembunyi mengalir di segala jalan darah tubuhmu, lompatilah galar bambu sebagaimana biasa kalian pernah melakukannya”, berkata Mahesa Amping meminta satu persatu dari kedelapan sisya melakukakn latihan melompati sebuah galar bambu yang ada didalam sanggar tertutup yang biasa mereka lakukan.

    Bukan main kagetnya para sisya mendapatkan hasil lompatannya satu setengah kali lebih tinggi dari yang biasa mereka lakukan.
    Berkali kali mereka melakukannya dengan gembira.

    Terlihat Mahesa Amping keluar dari sanggar dan masuk kembali dengan membawa delapan buah kelapa yang sudah tua.

    “Pecahkan kelapa ini dengan tanganmu”, berkata Mahesa Amping kepada Wayan Dewa Bayu.

    Terlihat Wayan Dewa Bayu tengah memusatkan segala nalar budinya, membangkitkan kekuatan tersembunyi dari dalam dirinya dan mengalirkannya keujung telapak tangan kanannya.

    Prakkk …….!!!

    Terdengar suara buah kelapa pecah terhantam sisi dalam telapak tangan Wayan Dewa Bayu.

    “lakukanlah sebagaimana Wayan Dewa Bayu”, berkata Mahesa Amping kepada ketujuh Sisya lainnya.

  8. Istirahat dulu dech……kasian kedelapan sisya yang sudah tiga hari tiga malam tidak tidur menjalani tapa laku geni

    • betul … betul … betul …
      karena gandok kedua sudah ditutup, harus boyongan ke gandok 3
      he he he ….
      selamat pagi
      eh…, kammsssiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaa …………!!!

  9. betul … betul … betul …
    kammsssiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaa ………

    • Kamssiiiiaaaaaaaaa…………..!!!!!!!!!!
      betul…..betul…..betul……

  10. Terlihat satu persatu dari para sisya melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Wayan Dewa Bayu. Terlihat wajah gembira mereka yang telah berhasil memecahkan kelapa dengan telapak tangan telanjang.

    “Mulai saat ini, berlatihlah menjalani laku setiap menjelang tidur, dengan cara itu kekuatan kalian akan terus meningkat”Berkata Mahesa Amping kepada para Sisyanya.

    “Terima kasih Guru, nasehat Guru akan kami pusakai”, berkata Wayan Dewa Bayu mewakili para Sisya.

    “Aku akan berangkat ke Tanah Singasari, kutitipkan kalian kepada Ki Arya Sidi”, berkata Mahesa Amping kepada para Sisya.”Sekarang beristirahatlah kalian”, berkata kembali Mahesa Amping mempersilahkan para Sisya untuk beristirahat setelah tiga hari tiga malam menjalani sebuah laku.

    “Mari kita keluar”, berkata Ki Arya Sidi mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka keluar dari sanggar tertutup.

    Disanggar terbuka mereka melihat para sisya lainnya tengah berlatih.

    “Aku mendapat kabar dari Kakang Wayan Dewa Bayu, Guru akan berangkat ke Singasari”, berkata Ketut Dewa Akasa yang tengah berlatih menggunakan sebuah tongkat panjang langsung menghentikan latihannya ketika Mahesa Amping datang mendekatinya.

    “Aku akan datang kembali”, berkata Mahesa Amping penuh senyum, entah kenapa dirinya begitu menyukai anak ini.

    “Aku hanya khawatir Guru tidak akan kembali dan melupakan aku”, berkata Ketut Dewa Akasa dengan begitu polosnya kepada Mahesa Amping.

    “Apa yang kamu khawatirkan bila aku tidak datang kembali ?”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Dewa Akasa.

    “Aku khawatir tidak ada yang mengajarkanku memecahcan sebuah kelapa sebagaimana dilakukan oleh Kakang Wayan Dewa Bayu”, berkata Ketut Dewa Akasa masih dengan pemikiran seorang bocah yang lugu.

    Mahesa Amping tersenyum mendengar pemikiran Ketut Dewa Akasa. Maka diambilnya sebuah batu koral sebesar kepalan tangannya.
    Krakkk………..,

    Batu koral itu hancur beterbangan menjadi kepulan abu.
    Terbelalak Ketut Dewa Akasa menyaksikan apa yang telah diperbuat oleh Mahesa Amping.

    “Aku akan kembali, dan mengajarkan kepadamu melumatkan sebuah batu keras”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum melihat anak itu sepertinya begitu gembira mendengar apa yang dikatakan oleh Mahesa Amping.

    • matur suwun nggih…

  11. Pagi itu udara berkabut menyelimuti Pura Indrakila ketika Mehesa Amping dan Empu Dangka tengah bersiap akan meninggalkan Pura Indrakila untuk waktu yang cukup lama.

    “Aku dan para sisya akan merindukan kalian”, berkata Ki Arya Sidi yang mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka sampai diregol muka Pura Indrakila.

    “Doa kami semoga keselamatan menaungi perjalanan kalian”, berkata Raja Indrakila yang ikut mengantar kepergian mereka.
    Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka telah melangkah semakin menjauh, ketika mereka menemui jalan menurun, Mahesa Amping menoleh kebelakang menatap pura diatas puncak bukit itu masih berkalung kabut putih begitu eloknya, terpesona Mahesa Amping menatap penuh kagum, seperti melihat lukisan nirwana dalam penggambaran para Brahmana.

    Langkah Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah semakin menjauh, mendekati kaki lereng bukit Pura Indraloka. Seorang lelaki bertelanjang dada dengan dua ekor kuda terlihat sepertinya tengah menanti kedatangan mereka berdua.

    “Selamat berjumpa kembali wahai saudaraku”, berkata orang itu penuh senyum diwajahnya yang ternyata adalah Ki jaran Waha.

    “Kukira seorang perampok tunggal yang menunggu untuk membegal kami”, berkata Empu Dangka kepada Ki jaran Waha.

    “Pasti perampok itu semalam bermimpi rumahnya kebakaran, dia akan mendapat masalah besar merampok kalian”, berkata Ki Jaran Wahan yang langsung membalas olok-olok Empu Dangka.

    “Dari mana Ki jaran Waha mengetahui bahwa kami akan melakukan perjalanan ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki jaran Waha setelah mereka bercerita tentang keselamatan masing-masing.

    “Telingaku ada dimana-mana meski aku tidak ada dimana-mana”, berkata Ki Jaran Waha penuh kebanggaan.

    “Kuda yang bagus”, berkata Mahesa Amping menilai dua ekor kuda yang dibawa Ki jaran Waha.

    “Dimana kutaruh mukaku memberikan kuda kacangan kepada kalian”, berkata Ki Jaran Waha sambil menepuk-nepuk dua ekor kuda yang dibawanya.

    “Terima kasih untuk dua ekor kuda yang akan menemani kami sepanjang jalan”, berkata Mahesa Amping sambil mencoba melompat ke punggung salah satu kuda yang dibawa oleh Ki Jaran Waha.

    “Di Bandara Buleleng seorang pengikutku akan mencarikan kapal dagang yang akan mengantar kalian ke Jawadwipa”, berkata Ki Jaran Waha sambil bertolak pinggang mengantar Mahesa Amping dan Empu Dangka yang sudah berada dipunggung kuda masing-masing.

    “Kali ini Ki Jaran Waha salah dengar, tujuan kami adalah Tanah Melaya sebelah barat Balidwipa”, berkata Empu dangka sambil tersenyum melihat Ki jaran Waha memukul-mukul sendiri keningnya.

    • wah…, ternyata masih ada lagi
      kamsiiaaaa…………….!!!

  12. wah……wah……..(dua kali)
    matur nuwuuuuun

  13. “PASUKAN PANTANG MUNDUR PADEPOKAN PAK DALANG”

    • sugeng dalu sadayanya…..radi suwe kagak ngingguk
      gandok SINI, he-heeeee……pake italic, lebih ASIK”

      • cantrik HADIR, pak DALANGe….”TETAP SEMANGAT”

  14. “Aku berpesan mohon kiranya Ki jaran Waha untuk tidak memotong telinga orang yang salah mendengar itu”, berkata Mahesa Amping sambil melambaikan tangannya diatas punggung kudanya.

    “Selamat jalan, kami akan merindukan kalian”, berkata Ki Jaran Waha ikut melambaikan tangannya.

    Sementara itu cakrawala langit saat itu begitu cerah, mentari sudah beranjak jauh meninggalkan tepi ujung bumi, dua ekor kuda terlihat berpacu melintasi padang ilalang, mendaki perbukitan dan lereng hijau, kadang perlahan menyibak semak hutan hitam yang lebat.

    “Tanah Melaya diarah Matahari terbenam”, berkata Empu Dangka memberi petunjuk arah perjalanan mereka.
    Ketika matahari sudah hampir terbenam, mereka telah memasuki sebuah Padukuhan.

    “Kita lewati padukuhan ini, kita akan menemui sebuah rumah pengasingan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping

    “Rumah pengasingan”, bertanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Adat di Padukuhan ini memang sangat keras, tabu hukumnya beristri lebih dari satu. Seorang lelaki lelaki yang melanggar harus menerima dikucilkan di sebuah rumah pengasingan”, berkata Empu Dangka menjelaskan kepada Mahesa Amping.

    “Siapa dapat menghalangi datangnya cinta ?”, berkata Mahesa Amping tanpa menunggu jawaban dari Empu Dangka.

    “Tidak satupun wanita yang dapat menrima dimadu”, berkata Empu Dangka sepertinya ingin menanggapi perkataan Mahesa Amping.

    Ternyata mereka memang tidak ada keinginan membahas masalah itu, sebagaimana dikatakan oleh Empu Dangka, terpisah dari lingkungan padukuhan terlihat sebuah gubuk sederhana berada dipinggir sebuah hutan kecil.

    Didepan gubuk itu terlihat seorang lelaki tengah membuat sebuah perapian.

    “Apa kabar sahabatku Wayan Tagur”, berkata Empu Dangka sambil menuntun kudanya mendekati lelaki itu.

    “pantas tadi siang ada kupu-kupu besar hinggap lama ditiang gubukku”, berkata lelaki itu yang dipanggil Wayan Tagur oleh Empu Dangka.

    “Aku bersama keponakanku”, berkata Empu Dangka memperkenalkan Mahesa Amping sebagai keponakannya kepada Wayan Tagur.

    “Tunggulah kalian dibale, aku akan meminta istriku untuk membuatkan minuman hangat untuk kalian”, berkata Wayan Tagur sambil masuk kedalam.

    • KAMSIA…..MATUR NUWUN

      hikssssss, mendhiSIki mas Risang

      • he he he …
        baju risang sedang dicuci

        • Kamsiaaaaaa pak Dhalang,
          matur nuwun pak Satpam……

          kangge mahargya rawuhipun Ki Menggung,
          kula mireng pak Dhalang badhe nggrujugi
          rontal….

          • nyang dimaksud
            ” KI MENGGUNG “
            pake bold gitu loh.

    • he he he ….
      masih sore sudah jatuh satu rontal
      pasti ada sambungannya lagi (dari tlatah sengkaling di arah Situ Cipondoh terdengar suara tek..tek..tek.. suara keyboard)
      selamat malam…..

      • samaan dong…..
        disini juga terdengar suara tek…tek…tek…..
        jebule bakul tahu tek, huenake puooollll.

  15. Ternyata Wayan Tagur seorang yang asyik diajak bicara, seorang pendengar yang baik, namun kadang mampu menyampaikan beberapa pandangannya.

    “Apakah ada dalam pikiranmu untuk mencoba merantaua ke Jawadwipa, daripada hidup disini dikucilkan oleh saudara dan kerabat”, bertanya Empu Dangka kepada Wayan Tagur.

    “kami lahir dan dibesarkan ditanah ini, tidak ada sedikitpun pikiran untuk meninggalkan tanah ini meski dalam suasana pengasingan. Sampai saat ini kami rela dikucilkan sebagai dosa yang harus kami pikul sepanjang hayat”, berkata Wayan Tagur mengungkapkan perasaan hatinya.

    Suasanapun sekejab menjadi hening tanpa kata-kata, diatas bale itu sepertinya masing-masing tengah berbicara pada pikirannya sendiri-sendiri.

    Terdengar pintu bambu berderit, terlihat Nyi Wayan Tagur keluar sambil membawa minuman hangat dan setumpuk jagung rebus yang juga nampak masih hangat.

    “kami merepokkan tuan rumah”, berkata Empu Dangka berbasa-basi.

    “kami senang ada tamu di rumah ini”, berkata Nyi Wayan Tagur sambil meletakkan minuman hangat dan jagung bakarnya dan langsung masuk kembali kedalam gubuk.

    Sekejab Mahesa Amping menangkap wajah Nyi wayan Tagur yang masih sangat muda dan terpaut jauh bila dibandingkan dengan usia Wayan Tagur yang terlihat sudah cukup matang.

    “Silahkan dinikmati, panen jagung kami tahun ini sangat bagus”, berkata Wayan Tagur mempersilahkan kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    Sementara itu sang malam di gubuk pinggir hutan itu sudah menyebar berbagi kegelapannya. Dengung tenggorek ikut memberi warna irama malam yang sepi itu bersama gemercik suara air menggerus batu hitam dari sungai kecil disamping gubuk yang sederhana itu.

    “Aku tidak bisa menemani kalian sampai jauh malam”, berkata Wayan Tagur sambil mempersilahkan tamunya untuk beristirahat tidur diatas bale diluar gubuknya.

    Perapian dari batang-batang dan daun jagung kering yang dibakar Wayan Tagur didepan rumahnya terlihat sudah tertinggal onggokan bara, kadang muncul api menjilat keluar manakala datang angin meniupnya.

    “Silahkan Empu Dangka tidur lebih awal, mataku masih belum mengantuk”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil melonjorkan kakinya dan bersandar di bilik bambu.

    “Bangunkan aku bila datang saat yang cukup untuk bergantian berjaga”, berkata Empu Dangka sambil merebahkan badannya diatas bale bambu.

    Mahesa Amping memang belum dapat memejamkan matanya, pandangannya terlihat menyapu halaman muka gubuk itu, sepetak kebun jagung yang baru dipanen menyisakan sedikit ujung batangnya diatas tanah.

  16. ngomong-ngomong soal bakul tahu……, jadi laper nich.
    Dibalikpapan namanya tukang tahu tek-tek, mungkin karena suara gunting ketika memotong-motong tahu jadi kecil-kecil setelah digoreng hangat terusssss ditambah toge dan ditaburin bumbu pecel, au-au-au penake powalllllll

    • hmmmmm. ikut jadi laper…………………….
      buka almari makan sudah gak ada apa-apa yang bisa dimakan
      hadu….
      terpaksa deh.., mi enstan jadi santapan malam ini.
      selamat malem, mau buat mi dulu….

  17. matur nuwuuuuuuuunnnnnn

  18. SELAMAT MALAM SEMUANYA

  19. hup !!!, baru pulang dari rumah mertua di Cikarang
    kapok masuk jakarta di jam pulang kerja, jalan merayap.

    Alahamdulillah….tinggal di Tangerang dan kerja di Tangerang, jam 6.30 masih sempet ngopi….., hehehe

    • Malam ini ada wedaran apa tidak?

      • kayaknya bakal banjir lagi Ki Arga,
        si inspirasi lagi demen banget ndeketin Ki Dhalang.

        • Leres Ki Gembleh, jelas kelihatan kalau Si ilham sedang mengikuti kemanapun Ki Dhalang pergi.

    • makanya ada yang bilang.
      “siapa suruh datang Jakarta..??”

  20. “Sebuah gubuk dan kebun yang mungil”, berkata Mahesa Amping dalam hati membayangkan dirinya sebagai seorang petani bersama keluarga kecilnya.

    Sementara itu perapian di halaman muka gubuk itu sudah hampir mati tertinggal sedikit bara yang masih menyala dan malam sudah semakin dingin.

    Mahesa Amping memang tengah memejamkan matanya, tapi pendengarannya yang tajam masih dapat membedakan bunyi semak yang terinjak oleh seekor kadal. Namun kali ini pendengaran Mahesa Amping terusik oleh suara yang lebih besar lagi, lebih besar dari seekor kera tengah mengendap-ngendap mendekati gubuk itu.

    Terlihat perlahan Mahesa Amping membuka matanya tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya yang masih bersandar di bilik bambu.

    Mata Mahesa Amping yang terlatih mampu menembus keremangan malam, dilihatnya ada tiga sosok tubuh mengendap-endap mencurigakannya.

    Namun belum lagi Mahesa Amping berbuat sesuatu, dari dalam gubuk keluar Wayan Tagur berdiri di muka halaman.

    “Tidak perlu lagi mengendap-endap, aku sudah tahu siapa kalian”, berkata Wayan Tagur membentak-bentak keras.

    Mahesa Amping diam-diam mengagumi ketajaman pendengaran Wayan Tagur yang juga telah mendengar apa yang didengarnya.

    Mendengar suara Wayan Tagur, ketiga sosok itu langsung keluar dari persembunyiannya.

    “malam ini umurmu tidak akan panjang lagi”, berkata salah seorang dari ketiga orang yang telah datang mendekat.

    “Orang mana lagi yang kamu upah malam ini”, berkata Wayan Tagur kepada orang itu yang ternyata masih begitu muda, seusia dan semuda Nyi Wayan Tagur.

    “Dua orang kawanku ini paling disegani di Bedugul, sengaja kupanggil kemari untuk menghabisi nyawamu”, berkata Anak muda itu yang terlihat dari pakaiannya pasti seorang yang kaya.

    “Ketut Suida, ternyata apa yang telah kuperbuat beberapa hari yang lalu tidak membuatmu jera, k kemarin aku masih memandang Ki Demang ayahmu, tapi saat ini aku tidak peduli siapapun dirimu”, berkata Wayan Tagur sepertinya memperingatkan anak muda itu yang bernama Ketut Suida.

    “jangan sesumbar, kemarin yang kubawa hanya begundal kelas teri. Malam ini pasti kamu akan menyesal seumur hidup telah merebut kekasihku”, berkata Ketut Suida dengan jumawanya.

    “Ketut Suida, sampai hari ini kamu masih menganggap aku merebut kekasihmu ?”, berkata Wayan Tagur berusaha menahan kemarahannya.

    • Nah benar kan? Akan ada banjir lagi, ini baru awal.
      Kamsiaaaaaaa……………….!!

  21. “kamu telah mengguna-gunainya, itulah yang membuat aku tidak terima”, berkata Ketut Suida kepada Wayan Tagur.

    “Matamu mungkin sudah terbalik, cinta Astari berpaling kepadaku karena telah melihat sendiri kedokmu yang sebenarnya, lelaki perusak pagar ayu yang tidak bertanggung jawab”, berkata Wayan Tagur yang sepertinya sudah kehabisan kesabarannya.

    Mendengar dirinya disebut sebagai lelaki perusak pagar ayu telah membuat wajah Ketut Suidi menjadi memerah.

    “Enyahkan orang itu !!”, berkata Ketut Suidi memerintah kepada kedua orang upahannya.

    Maka terlihat dua orang yang dikatakan dari Bedugul itu telah langsung menerjang Wayan Tagur.

    Ternyata Wayan Tagur bukan orang sembarangan, terlihat dengan gesit mengelak serangan dua buah golok tajam dan langsung balas menyerang dengan sebuah keris ditangannya.

    Maka terjadilah perkelahian yang seru antara Wayan Tagur dan dua orang penyerangnya.

    Semula Mahesa Amping ingin turun membantu, tapi dilihatnya Wayan Tagur ternyata mampu menghadapi dua orang sekaligus dengan baik, bahkan dengan pengetahuannya tentang ilmu kanuragan, Mahesa Amping dpat menilai bahwa tataran ilmu Wayan tagur masih diatas kedua orang penyerangnya.

    Terlihat dlam waktu yang begitu singkat, kedua orang penyerangnya sudah semakin terdesak.

    Sretttt……,

    Sebuah keris Wayan Tagur telah berhasil membabat paha kaki kanan dari salah satu penyerangnya. Terlihat orang itu melompat menjauh dengan wajah meringis menahan rasa sakit yang sangat. Sementara itu kawannya berlari mendekatinya.

    “Kerisku ini sudah kuwarangi dengan racun yang keras”, berkata Wayan Tagur sambil mengangkat kerisnya tingi-tinggi.

    “Berikan penawarnya, kami akan pergi tanpa perhitungan apapun”, berkata kawannya yang sepetinya mempercayai apa yang dikatakan oleh Wayan Tagur.

    “Jangan percaya sesumbarnya, dia hanya menggertak”, berkata Ketut Suida kepada salah seorang upahannya.

    “Tuan muda, kami bukan anak kemarin yang tidak mengetahui tentang warang”, berkata orang itu yang melihat kawannya sudah menggigil kedinginan.

    “Siapapun yang termakan kerisku ini, umurnya tidak melebihi dari semalaman”, berkata Wayan Tagur dengan suara keras penuh tantangan dan ancaman.

    • Horeeeeeee…………
      Kamsiaaaaaaaaaa………..!!

  22. “Berikanlah penawarnya, kami akan pergi tanpa mengungkit kembali apa yang terjadi malam ini”, berkata kawannya itu dengan suara penuh permintaan.

    “Baiklah, hari aku masih berbelas kasihan, aku akan memberikan penawarnya”, berkata Wayan tagur mendekati Nyi Wayan Tagur yang ternyata sudah lama keluar dari biliknya mendengar ada keributan.

    Terlihat Wayan Tagur berbisik kepada istrinya. Berselang kemudian istrinya masuk kedalam dan keluar lagi sambil membawa sebuah bubu kecil dan memberikannya kepada suaminya

    Wayan Tagur membuka bubu kecil itu dan mengeluarkan tiga butir obat sebesar kelereng.

    “Kuberikan penawarnya, lekaslah menghoang dari pandangannku sebelum aku berubah pikiran”, berkata Wayan Tagur sambil memberikan tiga butir obat penawar.

    “teriam kasih”, berkata orang itu sambil menerima obat penawar dari Wayan tagur dan tanpa mempedulikan Ketut Suidi, orang itu telah berjalan memapah kawannya yang berjalan terpincang-pincang menahan rasa perih yang sangat akibat sayatan keris Wayan tagur.

    Melihat orang upahannya yang akan pergi, Ketut Suida sepertinya tidak berpikir panjang langsung balik badan hendak kabur.

    Namun gerakan Ketut Suida telah ditangkap basah oleh penglihatan Mahesa Amping yang jeli.

    Cerppp…..,

    Sebuah belati pendek yang selalu dibawa oleh Mahesa Amping terlihat telah menancap masuk ke betis Ketut Suida. Terlihat anak muda itu langsung terjerambat.

    “Belatiku ini telah kuwarangi dengan racun ular tedung yang terkenal bisanya”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Suida sambil mendekatinya.

    Terlihat Ketut Suida dengan mata terbelalak tengah mencabut belati kecil yang menancap tidak begitu dalam.

    “Kasihanilah aku, berikan padaku penawarnya”, berkata Ketut Suida penuh memelas sambil melempar jauh-jauh belati yang menancap di pahanya dengan rasa penuh jerih ketakutan memandang belati itu.

    “Siapapun dirimu, bermurahlah padaku, aku tidak ingin mati”, berkata kembali Ketut Suida dengan wajah penuh memelas.

    “Kulihat racun warang belatiku sudah mulai bekerja, tubuhmu sudah mulai kedinginan”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Suida.

    Terlihat Ketut memeriksa tubuhnya, apa yang dikatakan oleh Mahesa Amping ternyata dapat dirasakannya, dirinya terlihat menggigil.

    • Terimakasiiiiihhhh………..!!

  23. “Aku akan memberikan kepadamu penawarnya, namun berjanjilah untuk tidak mengganggu keluarga Wayan tagur sampai kapanpun”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh wibawa.

    “Aku berjanji, aku berjanji”, berkata Ketut Suida kepada Mahesa Amping penuh kegembiraan.

    “Obat penawarku hanya mampu menahan racun ular tedung selama tiga bulan, aku akan menitipkan obat penawarku kepada Wayan Tagur, mintalah kepadanya setiap tiga bulan sekali”, berkata Mahesa Amping sambil mengeluarkan dari sabuknya sebuah arang kecil yang sudah dipersiapkan sebelumnya dari bekas kayu sisa perapian.”Buka mulutmu lebar-lebar”, berkata kembali Mahesa Amping.

    Tanpa pikir panjang terlihat Ketut Suida telah membuka mulutnya lebar-lebar. Bersamaan dengan itu tangan Mahesa Amping telah menjentikkan arang hitam langsung masuk kedalam mulut Ketut Suida.

    “Telanlah”, berkata Mahesa Amping kepada Ketut Suida yang langsung menelan arang hitam kecil yang ada dimulutnya.

    Glekk…, terdengar air liur Ketut Suida membawa arang hitam masuk ketenggorokannya.

    “Enyahlah dari pandanganku sebelum aku berubah pikiran”, berkata Mahesa Amping dengan suara penuh wibawa.

    Terlihat Ketut Suida bangkit berdiri dan terpincang-pincang melangkah pergi setengah berlari.

    “Aku baru mendengar kalau belatimu ternyata diwarangi”, berkata Empu Dangka yang datang menghampiri Mahesa Amping sambil pandangannya mengikuti langkah Ketut Suida yang sudah hampir menjauh dan akhirnya menghilang terhalang belukar yang tinggi tumbuh sekitar pohon ngablang.

    “Aku hanya meniru apa yang dikatakan tentang kerisnya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Wayan Tagur yang langsung ikut tersenyum.

    “Ternyata keponakanmu cukup tajam penglihatannya, kerisku ini kadang kupakai juga untuk berburu burung belekuk, mana mungkin kuwarangi”, berkata Wayan Tagur penuh senyum.

    “Obat apa yang kamu berikan kepada mereka ?”, bertanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Wayan Tagur.

    “Istriku mengeluarkan obat cacing kering penurun panas”, berkata Wayan Tagur menjelaskan tentang obat yang dikeluarkan dari bubu kecilnya.

    “Obat penawar yang kuberikan hanya sebuah arang sisa perapian”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Ternyata malam ini aku dikelilngi oleh dua orang penipu ulung”, berkata Empu Dangka yang dibalas oleh tawa berkepanjangan dari Mahesa Amping dan Wayan Tagur.

    Sementara itu temaram warna malam yang dingin telah membasahi tanah halaman ladang jagung didepan gubuk yang baru saja selesai dipanen. Malam sebentar lagi akan berlalu.

  24. Baju seragam Mas Risang lupa dicuci, kayaknya beliau malam ini “bolos” enggak ngeronda, hehehe

    • wah…wah…wah…..
      mimpi apa aku semalam, lha kok pagi-pagi bangun sudah berceceran rontal jatuh dari Situ Cipondoh.
      hmmmmm
      kemana satpam semalam? perasaan tidak tidur sore-sore amat
      kok gak tahu rontal berguguran

      haduh…..
      ngapunten Pak Lik…..
      dan kammsssiiiaaa…………..!!!!

      • wah…wah…wah…..
        mimpi apa aku semalam, lha kok pagi-pagi bangun sudah berceceran rontal jatuh dari Situ Cipondoh.
        hmmmmm
        kemana satpam semalam? perasaan tidak tidur sore-sore amat
        kok gak tahu rontal berguguran

        haduh…..
        ngapunten Pak Dalang…..
        dan kammsssiiiaaa…………..!!!!

        • haduh… 100% sama…, plagiat…!!!
          he he he ….
          selamat pagi ki gun

  25. horeeee ………..matur nuwun

  26. “Semoga keselamatan selalu menaungi perjalanan kalian”, berkata Wayan Tagur mengantar kepergian Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    “Semoga kesejahteraan selalu hadir dalam keluargamu”, berkata Empu Dangka balas menyampaikan kata salam perpisahan.

    Sementara itu matahari pagi baru saja beranjak naik mengintip diujung bumi. Pagi begitu cerah dalam warna hijau yang bening, rerumputan, ilalang dan bunga bakung yang tumbuh berkembang disepanjang jalan sepertinya tengah menari bermandi kehangatan matahari pagi.

    Terlihat dua orang berkuda membelakangi matahari pagi, debu-debu terlihat mengepul dibelakang kaki kuda mereka.

    Mereka adalah Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah melanjutkan perjalanannya ke Tanah Melaya, sebuah perkampungan nelayan di pesisir barat Balidwipa.

    Matahari belum sampai dipuncaknya manakala mereka telah berhadapan dengan bibir pantai yang luas, terlihat mereka tengah berkuda menyusuri bibir pantai berpasir putih. Kadang ombak kecil menyapu dan membasahi kaki-kaki kuda mereka.

    “Aku punya kenalan di Tanah Melaya”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

    Akhirnya kuda-kuda mereka telah membawa mereka mendekati sebuah perkampungan nelayan yang terlihat dirimbuni pohon kelapa.

    Terlihat mereka telah turun dari kudanya ketika telah sampai di kampung nelayan. Seorang lelaki didepan gubuknya yang tengah memperbaiki jalanya menganggukkan kepalanya ketika dilewati oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka yang berjalan sambil menuntun kuda.

    “Orang-orang yang ramah”, berkata Mahesa Amping berbisik kepada Empu Dangka.

    Langkah kaki mereka berhenti didepan sebuah gubuk dimana tengah duduk seorang lelaki setengah tua diatas bale-bale bambu.

    “Kukira ada saudagar besar datang kegubukku”, berkata lelaki itu yang sepertinya sudah sangat mengenal Empu Dangka langsung turun dari Bale-bale bambu.

    “Kukira Ki Subali sudah tidak mengenali diriku lagi”, berkata Empu Dangka kepada orang itu yang dipanggilnya sebagai Ki Subali.
    Udara memang cukup terik diatas perkampungan nelayan itu yang berpasir putih.

    “Mari naik dan bicara diatas bale-bale”, berkata Ki Subali mempersilahkan dua orang tamunya naik keatas bale-bale yang cukup lebar untuk mereka bertiga.

    “Perkenalkan ini keponakanku, namanya Mahesa Amping”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali memperkenalkan Mahesa Amping sebagai keponakannya.

    • KAMSIA pak DALANG…….KAMSIA pak DALANG

      • selamat Malam MAS RISANG,

        100% sanes plaGIAT……he-heee, yang ini karya senDIRI,

        • kamsia pak Dhalang……kamsia.

          Ki Arga, Ki Bancak,
          menika lho…..banjire mulai mbleber….!!!!!

  27. pak DALANG “TETAP SEMANGAT” maju lurus pantang
    kenduR

    • pak DALANG “TETAP SEMANGAT” maju lurus pantang kenduR

      (lha yen lali nutup bold, apa ya dadi 100% sama ?)

  28. maju terus
    jangan kendur
    kamsssiiiiiaaaaaaaa

  29. buju buneng….,komen sudah bleberan, kudu ditambah nich…hehehe(asli bukan plagiat)

    • numpang nanya Ki Dhalang,
      Ki Subali ape bener sudare Ki Sugali…..????
      wah bisa bisa jadi…..dar….der….dor…..!!!!!

  30. lanjut……..
    tapi…, satpam nguantuke puooolllll
    hadu…..
    silahkan Pak Lik, satpam cari bantal dan kemul
    he he he ……

  31. Terlihat Ki Subali memanggil seorang pemuda yang sedang membelah kayu. Ternyata Ki Subali meminta anak muda itu naik mengambil buah kelapa didepan rumahnya.

    “Tolong ambilkan yang muda untuk tamuku”, berkata Ki Subali kepada pemuda itu.
    Dengan ringannya anak muda itu memanjat pohon kelapa didepan rumah Ki Subali.

    “Awas Ki Subali”, berkata Anak muda itu dari atas pohon sambil menjatuhkan beberapa buah kelapa.

    “Mudah-mudahan dapat melepas dahaga kalian”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka sambil menyerahkan buah kelapa yang sudah dipangkas ujung pangkalnya agar mudah untuk diminum dan diambil dagingnya.

    “Terima kasih Kampur, bawalah untukmu”, berkata Ki Subali kepada pemuda itu yang dipanggilnya bernama Kampur yang baru saja turun dari atas pohon kelapa tengah mengibas-ngibaskan dada dan pundaknya dari debu batang kelapa yang menempel.

    Anak muda itu sudah kembali ketempatnya membelah kayu, Ki Subali sudah kembali naik keatas bale-bale menemani tamu-tamunya.

    “Kukira Empu Dangka tidak akan singgah lagi ke gubukku”, berkata Ki Subali kepada Empu Dangka.

    “Aku perlu bantuanmu untuk mengantar kami menyeberang ke seberang”, berkata Empu Dangka langsung menyampaikan keperluannya kepada Ki Subali.

    “Dengan senang hati aku akan mengantar kalian”, berkata Ki Subali langsung menerima permintaan Empu Dangka.

    “Ada satu lagi, mudah-mudahan Ki Subali tidak keberatan”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali.

    “Mudah-mudahan aku dapat memikulnya”, berkata Ki Subali sambil tersenyum

    “Tidak berat, aku bermaksud memberikan dua ekor kuda itu untuk Ki Subali”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali.

    “Memang tidak berat, bahkan sangat ringan untuk membawanya kepasar ternak”, berkata Ki Subali yang disambut tawa panjang dari Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    “Aku tidak melihat Nyi Subali…..”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Subali.

    “Sudah dua minggu ini istriku di seberang menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Kebetulan sekali setelah mengantar kalian aku akan singgah kerumah mertuaku itu”, berkata Ki Subali menjelaskan keberadaan Nyi Subali kepada Empu Dangka.

    Sementara itu tidak terasa sang waktu telah menarik layar cakrawala langit diatas panggung bumi menjadi warna sore yang teduh. Terlihat matahari kuning bulat masih menggelantung rebah ke barat mendekati ujung laut biru yang datar.

    • Kamsiiiiaaaaaaaaa.

  32. manut Pak Satpam, ikutan ngantuk…….(bukan plagiat lho)

    • Selamat tidur Ki….
      Kamsiaaaaaaaaaaaaa………..!!

    • “Aku tidak melihat Nyi Satpam…..?”(80% plagiat)

      • he he he …..
        sepertinya Ki BP sudah lama tidak hadir
        kehadiran kurang dari 80 % bisa tidak ikut pendadaran lho ki

        • Kalau masalah hadir, setiap hari diusahakan nenggok gandhog, baca lontar sebentar atau agak lama kalau pas hujan lontar terus kabur ……. khawatir kena sendal terbang yang sasaran sebenarnya Ki Pak Satpam.

          • saRUDUK ki BP,

            Kalau masalah hadir, setiap hari teteP usahakan nenggok gandhog, baca lontar sebentar atau agak lama kalau pas hujan lontar terus kabur ……. khawatir kena sendal terbang yang sasaran sebenarnya Ki Pak Satpam

            sanDAL kemeSRAAN ( kata bang IWAN suGALI)

  33. tambahan bonus, natur nuwun

    • bonus tambahan, natur nuwun

      lha komen yang ini terLIHAT jelas kreatif…..beTOL toh
      Mas Risang

      • Hikss, ki GEMBLEH kena maCET ayake….jam seGINI beliaunya
        belom terlihat RIWA-RIWI (njajah ganDOK kanan-kiri)

        • sampun kok Ki Menggung,
          lha kala wau rumaos kula dijawil Yu Padmi,
          bareng ditutake jebul wong liya je…!!!
          njur piye jal….?????

  34. ndepipis ndik pokokan dadak nguantuk banget
    ya wis…, selonjoran sik, sambil nungu Pak Lik rawuh ngastos rontal (sambil menunggu Pak Lik datang membawa rontal)
    he he he …., mudah-mudahan tidak tertidur.

  35. sset…,selamat malam, pelan-pelan mijet keybordnya, takut sang putri cilik bangun…………….

  36. Dan senjapun ternyata lepas berlalu, mentari sudah lama tenggelam di balik bumi, cakrawala langit malam diatas hamparan laut biru bergelombang dipenuhi taburan bintang.

    Terlihat sebuah perahu nelayan terapung dipermainkan ombak. Angin laut yang kuat telah mengembangkan layarnya terus melaju. Ada tiga orang lelaki ditemani cahaya lentara perahu yang temaram bergoyang kekiri dan kekanan. Mereka adalah Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Subali yang tengah mengarungi selat Bali menuju Tanah Jawa.

    “Nasib kita sedang baik, lihatlah bintang sulo bawiE bersinar begitu terang, itu tanda angin timur masih akan terus berhembus hingga fajar”, berkata Ki Subali yang pandai membaca berbagai bintang.

    Hamparan laut biru terhampar bagai permadani bergelombang. Perahu berlayat tunggal itu begitu kerdil terapung dibawa aingin timur yang terus berhembus.

    Sebagaimana yang dikatakan Ki Subali, menjelang fajar mereka telah melihat gundukan hitam ratan tanah membujur. Itulah daratan tanah Jawa.

    Berdesir detak hati Mahesa Amping menatap hamparan tanah hitam di bawah cakrawala langit yang masih buram. Ada kegembiraan yang melompat-lompat, hati dan perasaan Mahesa Amping sepertinya merasakan laju perahu begitu lambat.

    Layar perahu itu sudah digulung, terlihat Ki Subali dengan penuh ketenangan kadang mengayuh mengarahkan perahu berada dibelakang gelombang. Perahu nelayan itupun terus melaju dibawa ombak mendekati daratan pantai.

    “Kita berada di pantai kampung mandar”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka sambil melompat kelaut dangkal.

    “Istri Ki Subali orang mandar ?”, bertanya Mahesa Amping sambil membantu Ki Subali merapatkan perahunya kedaratan yang lebih dangkal.

    “Benar, istriku orang mandar, aku sendiri keturunan Melayu”, berkata Ki Subali sambil mengikat perahunya disebuah tonggak kayu pohon kelapa yang terpenggal.

    “Orang Mandar dan orang Melayu adalah keturunan pelaut, darah mereka mungkin berwarna biru”, berkata Empu Dangka. “Mungkin juga darah mereka rasanya asin”, berkata kembali Empu Dangka yang disambut derai tawa dari Mahesa Amping dan Ki Subali, sepertinya mereka telah melupakan semalaman digoyangkan gelombang dan kebosanan.

    Sementara itu sang mentari telah muncul mengintip diujung bumi dalam warna kuning elok membias memancar diatas warna biru laut.

    “Warna pagi yang indah”, berkata mahesa Amping dalam hati sambil memandang cahaya matahari yang baru terbit diujung tepi laut yang jauh.

    “Tidak jauh dari sini ada sebuah kedai”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    • hadu……
      membaca kata kedai, jadi ingat jam sigini belum sarapan
      hmmm…., lapeeeeeer……

      • hadu…….
        membaca kata kedai, jadi ingat
        jam segini kok pak Satpam nggak ngapel….????
        hem……….capek deh……….

  37. warna pagi yang indah
    selamat pagi
    matur nuwun

  38. ayo tebak2an……..
    malam ini banjir rontal apa ora…..?????
    Kamssiiiiaaaaa sak derengipun.

    • Banjiripun mangke dalu Ki Gembleh, pasti…………..

      • Insya Allah

  39. Selamat malam kadank sedoyo,
    Baru pulang ngantar ipar melamar untuk adiknya, perjalanan menuju rumah gadis idaman betu-betul “perlu perjuangan”, sebuah daerah diujung jakarta yang belum “dijamah aspal”. Sepanjang jalan melewati banyak “lio”, sebuah rumah untuk pembuatan batu bata.

    Sampai dirumah badan “seperti remuk”, langsung bablas tidur……….,

    • monggo…
      kalau capek ya istirahat dulu
      bagaimana si Ilham mau datang kalau lagi capek
      selamat istirahat Pak Lik

  40. “Tunggulah kalian dikedai ini, aku akan segera kembali”, berkata Ki Subali ketika mereka tiba dikedai yang bermaksud untuk singgah kerumah mertuanya sambil melihat istrinya.

    “janganlah diri kami membuat Ki Subali tergesa-gesa, kami tidak sedang berburu waktu”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali.

    Langkah Ki Subali sudah tidak terlihat lagi terhalang sebuah gubuk yang berdiri di tikungan jalan. Sementara itu Mahesa Amping dan Empu Dangka memesan minuman hangat kepada pemilik kedai.

    “Serabinya masih hangat”, berkata pemilik kedai itu menawarkan serabi yang memang terlihat masih berasap.

    Ternyata kedai itu semakin terang pagi semakin banyak didatangi orang, beberapa nelayan yang baru saja kembali dari melaut, atau beberapa wanita yang hanya berkemben selembar kain datang membeli beberapa jajanan, mungkin untuk suami dan anaknya.

    “Meski sudah jauh dari tempat asalnya, orang Mandar tetap memegang adatnya”, berkata Empu Dangka yang sudah banyak melanglang keberbagai pulau.

    Sementara itu cahaya matahari pagi sudah semakin hangat, warna pagi sudah begitu terang ketika mereka melihat Ki subali sudah datang kembali.

    “Bagaimana keadaan mertua dan istrimu ?”, bertanya Empu Dangka kepada Ki Subali yang baru datang dari rumah mertuanya.

    “Kulihat mereka dalam keadaan sehat tidak kurang apapun”, berkata Ki Subali penuh senyum.

    Terlihat Ki Subali mengambil tempat duduk, namun tidak memesan apapun karena sudah merasa kenyang disuguhi makanan dirumah mertuanya.

    “Bila kalian merasa sudah cukup beristirahat, kita dapat melanjutkan perjalanan”, berkata Ki Subali kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka.

    Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Ki Subali tengah melangkahkan kakinya kearah pantai.Sementara itu matahari pagi diatas cakrawala langit sudah bergeser mengangkat wajahnya seperempat naik permukaan hamparan laut biru.

    Ombak pantai berduyun-duyun membasahi kaki mereka yang tengah mendorong perahunya menjauhi pasir dangkal.

    Terlihat Ki Subali adalah orang terakhir yang melompat kedalam perahunya manakala kedalaman air dirasakan telah cukup tinggi.

    Semilir angin diatas perahu sepanjang pesisir pantai jawa itu berhembus menyejukkan. Dan perahu kecil itu terlihat laju dikayuh Mahesa Amping dan Ki Subali menyusuri tepian pantai timur Jawadwipa. Kadang mereka singgah menepi disebuah pantai untuk sekedar melepas kepenatan, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan dalam terik matahari atau gelapnya langit malam bertaburan bintang.

    • lho…, katanya capek…
      he he he ….
      kamsiaaa……………..!!!!

      • lho……??????
        katanya cepek…….
        he….he….he….
        ya kamsssiiiaaaaaa dong ………!!!!!!!

  41. Akhirnya pagi itu mereka telah tiba di Muara Sungai Porong, matahari pagi dibelakang punggung mereka bersinar hangat. Hari memang telah terang pagi. Beberapa bocah lelaki terlihat tengah bermain berlari diatas pasir putuh yang lembut.

    “Paman Kebo Arema pernah tinggal disini”, berkata Mahesa Amping menunjuk sebuah perkampungan nelayan.

    “Kebo Arema seperti raja kecil di perkampungan ini, kita bisa meminjam namanya”, berkata Empu Dangka ikut memandang perkampungan nelayan yang terdiri dari gubuk-gubuk kecil dari bilik bambu dan beratap daun alang-alang yang berjurai. Perkampungan itu sendiri berada dibawah bukit hutan yang hijau. Sebuah pemandangan yang indah berada antara hamparan laut yang luas dan pemandangan bukit tinggi yang hijau.

    “kami kerabat Kebo Arema, kami perlu sebuah jukung untuk sampai ke Sungai Brantas”, berkata Empu Dangka kepada seorang lelaki di depan gubuknya yang tengah menjemur dendeng ikan.

    “Kalian kerabat Paman Kebo Arema ?”, bertanya lelaki itu sambil tersenyum memandang tiga orang asing dihadapannya.

    “Benar, kami kerabatnya”, berkata Empu Dangka penuh senyum keramahan kepada lelaki itu.

    “Paman Kebo Arema adalah dewa penolong bagi warga di perkampungan ini, membantu kerabatnya adalah sebuah kebanggaan untuk kami”, berkata lelaki itu sambil bercerita tentang sepak terjang Kebo Arema selama tinggal di perkampungan mereka.”Saudaraku punya dua buah jukung, mungkin dapat meminjamkannya untuk kalian”, berkata lelaki itu sambil mengajak Empu Dangka, Mahesa Amping dan Ki Subali kerumah saudaranya.

    Ternyata nasib mereka sedang mujur, saudara lelaki itu bersedia memberikan jukungnya.

    “berhati-hatilah, di hutan porong air sungai cukup deras dan berbatu”, berkata saudara lelaki itu yang bersedia memberikan jukungnya.

    “Terima kasih telah mengingatkan kami”, berkata Mahesa Amping kepada saudara lelaki itu.

    “kapan kalian berangkat ?”, bertanya lelaki yang mengantar kerumah saudaranya setelah kembali lagi kerumahnya.

    “Setelah beristirahat yang cukup, siang ini kami akan berangkat”, berkata Empu Dangka kepada lelaki itu.

    “Beristirahatlah disini”, berkata lelaki itu memperkenalkan dirinya bernama Ragil.

    Dengan penuh keramahan Ragil menjamu ketiga tamunya beristirahat di gubuknya.

    “Tangkapan ikan di musim ini cukup melimpah”, berkata Ragil bercerita tentang beberapa hal kehidupan seorang nelayan.

    • kamsiaaaaaaa (takut didahului Ki Risang dan Kangmas Gembleh)

      • Kamsiaaaaaa.

  42. Ketika matahari condong sedikit dari puncaknya di Muara Sungai, Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan perjalanannya.

    Terima kasih Ki Subali telah mengantar kami sampai di Mura Sungai Porong ini”, berkata Empu Dangka kepada Ki Subali yang siang itu juga akan kembali Ke seberang, ketanah Melaya di Balidwipa.

    “Sampaikan salam kami kepada Paman Kebo Arema”, berkata Ragil kepada Mahesa Amping dan Empu Dangka yang telah berada diatas jukungnya.

    “Aku akan sampaikan salammu”, berkata Empu Dangka sambil melambaikan tangannya dari atas jukung yang mulai bergerak bergeser dari bibir sungai.

    Diiringi pandangan mata Ki Subali dan Ragil, jukung yang dinaiki Mahesa Amping dan Empu Dangka telah bergerak menjauh hingga akhirnya semakin kabur tinggal bayangan hitam dari pandangan mereka karena Mahesa Amping dan Empu Dangka sudah semakin jauh dari Muara Sungai Porong masuk dalam kerimbunan hutan Porong yang lebat dipenuhi batang-batang pohon kayu yang besar dan tinggi dan kerap dirayapi semak belukar, hutan itu sepertinya tidak pernah dijamah oleh tangan manusia.

    “Selama manusia tidak merusaknya, selama itu pula hutan ini menjaga dan memberi kehidupan manusia di dunia”, berkata Empu Dangka sambil menyapu pandangannnya disekitar hutan yang begitu kerap.

    “Gusti Yang Maha Kasih telah memberikan hutan, gunung dan lautan untuk kehidupan manusia”, berkata Mahesa Amping ikut memandang jauh kedalaman hutan yang lebat.

    “Matahari sudah semakin condong”, berkata Empu Dangka mengingatkan Mahesa Amping bahwa cahaya diatas sungai itu sudah semakin gelap , cahaya matahari semakin terhalang kerapatan hutan porong yang lebat.

    “Sungai semakin dangkal dan berbatu”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dapat menangkap kekhawatirannya.

    Akhirnya ketika cahaya diatas sungai porong itu sudah begitu gelap, mereka merapatkan jukungnya disebuah tepian.

    “Kita bermalam disini”, berkata Empu Dangka sambil duduk disebuah bebatuan dibawah sebuah pohon kayu besar.

    Terlihat Mahesa Amping membuat perapian, membuka bekal yang mereka bawa dan mengumpulkan beberapa umbi-umbian tanaman sejenis talas yang cukup banyak tumbuh disekitar tepi sungai itu.

    “Kamu seperti ayahku, hanya memilih kimpul mitoha”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang sudah mengumpulkan beberapa umbi yang disebut Empu Dangka sebagai kimpul Mitoha.

    “Aku menyukainya karena rasanya sangat pulen”, berkata Mahesa Amping menyampaikan alasannya memilih umbi-umbian yang dikumpulkannya.

    Demikianlah, mereka menghangatkan diri di tepian sungai hutan porong itu yang sangat lebat dan gelap.

    • kamsiaaaa (mendahului Ki Arga)

      • Coba taruh rontal lagi, mungkin saya yang akan mendahului nulis kamsiaaaa…..

        • oce !!!!

  43. Ketika pagi telah datang menjelang, cahaya matahari telah masuk diantara kerap dahan dan daun menyinari sungai porong yang jernih berbatu.

    “Kita lanjutkan perjalanan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

    Terlihat sebuah jukung sudah mulai bergerak menyusuri sungai di hutan porong yang cukup deras dan berbatu. Dengan mahirnya Mahesa Amping mengrahkan jukungnya menghindari batu-batu besar yang ada dihadapan mereka.

    “Air sungai sudah semakin dalam”, berkata Mahesa Amping yang melihat air sungai yang disusurinya sudah semakin dalam dan tidak berbatu.

    “Kita semakin mendekati sungai Brantas”, berkata Empu Dangka yang begitu kenal dengan keadaan disekitarnya. Karena pernah hidup lama didaerah ini dan dikenal oleh penduduk disekitarnya sebagai nelayan bercaping yang banyak menolong sesamanya, terutama dari para begal yang dulu banyak dan sering mengganggu.

    Sementara itu matahari terus bergerak dan bergeser ke barat membuat bayang-bayang semakin memanjang dan memudar.
    Akhirnya menjelang senja mereka telah sampai di sebuah pertemuan sungai.

    “Kita telah sampai di muka sungai pemisah dua raja”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ketika jukung mereka telah memasuki sebuah sungai yang jauh lebih luas.

    “Sungai Brantas”, berkata Mahesa Amping perlahan mewakili kegembiraan hatinya.

    “Kita sama-sama merindukannya”, berkata Empu Dangka yang dapat menangkap perasaan hati Mahesa Amping.

    Cahaya senja diatas Sungai Brantas terlihat begitu teduh, sebuah jukung melaju dikayuh oleh sebuah tangan yang kuat dan penuh semangat.

    “Dipertengahan malam kita baru dapat beristirahat”, berkata Empu dangka sambil memasang lentera diujung jukungnya, sementara itu cahaya didepan mereka memang telah begitu gelap.

    Terlihat mahesa Amping mengayuh jukungnya agak menepi, pandangan matanya yang tajam masih dapat melihat arah dan suasana meski malam telah menyelimuti pemandangan di atas sungai Brantas dan hutan dikiri kanannya.

    “Kita menepi”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
    Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka tengah menepikan jukungnya di pinggir sebuah hutan.

    Seperti biasa Mahesa Amping membuat perapian dan membuka bekal perjalanan mereka.

    “Dendeng ikan cucut dari Ragil masih ada”, berkata Mahesa Amping sambil membuka bekalnya.

    • kamsiaaaaa (sambil bertolak pinggang menunggu Ki Arga)

      • he he he ….
        ki Arga tertidur rupanya

        • rupanya Ki Arga tertidur
          he….he….he…..

    • Ki Arga kalah dhisik, …………..capek saja dapat 4 rontal, apalagi kalau nggak capek…………………..Matur suwuuuuuuuuuuuun.

  44. kamsssiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaa

  45. ngintip…..
    hmmmm, sik sepi….., pamit lagi ah….

    • hmmmm, pamit lagi ah……sik sepi…..
      mau ikut2an ngintip……

  46. hup….,baru pulang lembur
    Selamat malam kadank sedoyo

    • hup……baru nungguin rontal jatuh
      selamat malam kadang2 sedaya

      • hup….,baru mau bobo
        Selamat malam kadank sedoyo

        • hup….,baru mau mampir
          Selamat malam kadank sedoyo

          • hup….,baru mau ngiyup
            Selamat malam kadank sedoyo

  47. ASIK,

    MASIH BOLEH DOLANAN TEBAL DOLANAN MIRING
    NING PADEPOKAN PAK DALANG-E,

    • SELAMAT PAK DALANG,

      LAMA JUGA CANTRIK KAGAK SAMBANG NING PADEPOKAN
      SINI, TERASA NUANSA GUYUP MASIH KENTAL TERASA….!!!

      • Selamat malam Ki Yudha, lama nian tak bersua

  48. Sementara malam dihutan tepian sungai Brantas itu telah menjadi begitu kelam bergayut suara kesunyian yang ajeg mengisi setiap waktu. Kadang terdengar lolongan sekumpulan anjing hutan memanggil kawan-kawannya, atau jerit seekor tikus sebagai suara dan nafas terakhirnya ketika berada dimulut seekor ular.

    Namun semua suara itu tidak mengganggu Mahesa Amping dan Empu Dangka yang terlihat merebahkan dirinya bersandar pada sebuah pokok kayu pohon besar ditepian sungai Brantas itu.

    Dan sang malam akhirnya pasrah menyerahkan kelanggengannya manakala sang fajar datang mengambil alih kuasa waktu yang ditandai dengan penampakan semburat warna kemerahan mengisi ujung timur lengkung langit, warna bumi pagipun menjadi begitu bening dan teduh.

    Mahesa Amping dan Empu Dangka terlihat sudah berada di jukungnya kembali. Udara pagi yang sejuk dan segar mengiringi perjalanan mereka membelah air sungai Brantas yang jernih. Kadang mereka bertemu dengan satu dua perahu kayu milik para saudagar yang terlihat bermuatan barang dagangan.

    “Kakang Mahesa Pukat telah membuat gardu penjagaan di sepanjang sungai Brantas ini”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

    “Aku pernah mendengar namanya sebagai Senapati yang tangguh dari Bandar Cangu”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.”Jadi orang itu saudara tuamu ?”, berkata kembali Empu Dangka.

    “Kakang Mahesa Pukat juga guruku”, berkata Mahesa Amping dengan begitu bangganya.

    “Beruntunglah Singasari memiliki para ksatria seperti kalian”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping yang masih terus mengayuh jukungnya sepertinya ingin membawanya secepatnya terbang ke Bandar Cangu.

    “Perkampungan penduduk tumbuh semakin banyak disepanjang sungai Brantas ini”, berkata Mahesa Amping ketika jukung mereka melewati beberapa perkampungan di sepanjang Sungai Brantas.

    “Sungai Empu Baradah ini telah menjadi berkah bagi manusia disekitarnya”, berkata Empu Dangka sambil menyapu pandangannya dihamparan sawah yang luas di tepi sungai Brantas yang mereka lewati.

    Sementara itu matahari pagi sudah semakin naik, cahayanya membias diatas air sungai seperti pelangi bertaburan warna-warni. Mahesa Amping masih terus mengayuh jukungnya, sepertinya tidak terlihat sedikitpun kelelahan dalam sinar raut wajahnya.

    “Kita telah sampai”, berkata Mahesa Amping ketika matanya menangkap ujung-ujung tiang layar bahtera besar diujung jauh sudut pandangnya menambah semangatnya untuk mengayuh jukungnya lebih kuat lagi.

    Ujung-ujung tiang bahtera itu menjadi semakin mendekat. Mahesa Amping dan Empu Dangka telah mendekati dua buah bahtera besar Singasari yang tengah bersandar di sebuah dermaga yang besar.

    • rontal selamat datang u/ Ki Yudha

    • Kalah lagi.
      Kamsiaaaaaaa…………!!!

      • Selamat malam Ki Arga

        • Selamat malan juga Ki.

        • Halaaaah …… salah ketik.
          Salamat malam juga Ki.

      • 23 jam 22 menit dari kemunculan terakhir kemarin………………dijamin pasti kalah terus, terlambat maning.

        • Betuuuuuuuullllll……….

  49. “Sebuah bahtera yang sangat besar dan indah”, berkata Empu Dangka sambil memandang dua buah bahtera besar didepan matanya.

    “Itulah Jung Singasari yang kami banggakan”, berkata Mahesa Amping penuh kebanggaan kepada Empu Dangka.

    “Kalian pantas membanggakannya”, berkata Empu Dangka sambil matanya tidak pernah melepas pandangannya kearah dua bahtera besar yang semakin menjadi dekat.

    Akhirnya mereka merapatkan jukungnya didermaga itu.

    Beberapa prajurit yang tengah berada disekitar dermaga itu menyambut kehadiran Mahasa Amping dengan perasaan penuh suka cita.

    “Lama sekali tuan Rangga tidak hadir bersama kami”, berkata salah seorang prajurit muda ketika bertemu dengan Mahesa Amping.

    Satu persatu Mahesa Amping melayani hampir semua prajurit yang datang menyapanya.

    “Selamat datang wahai sahabatku”, berkata seorang pemuda seusia Mahesa Amping dengan pakaian lengkap seorang perwira.

    “Selamat bertemu kembali wahai penjaga Singasari yang gagah”, berkata Mahesa Amping kepada pemuda itu yang ternyata adalah Rangga Lawe sahabat dekatnya.

    Merekapun saling menanyakan keselamatan mereka masing-masing.

    Ketika pandang mata Rangga Lawe bertemu dengan Empu Dangka, ada sedikit keheranan terlihat dari gurat wajah Rangga Lawe.

    “Beliau ini bukan Empu Nada, tapi saudara kembarnya”, berkata Mahesa Amping yang mengerti keheranan dari Rangga Lawe dan langsung memperkenalkan Empu Dangka kepadanya.

    “Mari kita ke atas, ke Balai Tamu”, berkata Rangga Lawe mengajak Mahesa Amping dan Empu Dangka menuju rumah kayu yang megah dipinggir sungai Brantas yang disebut sebagai Rumah Balai Tamu.

    “Nampaknya Raden Wijaya tengah menerima seorang tamu”, berkata Mahesa Amping menatap kearah pendapa Balai tamu.

    “Hampir setiap hari kami menerima tamu”, berkata Rangga Lawe penuh senyum sambil terus melangkah menaaiki pendapa balai tamu diiringi Mahesa Amping dan Empu Dangka dibelakangnya.

    “Lihatlah, siapa yang bersamaku”, berkata Rangga Lawe kepada Raden Wijaya ketika sudah sampai diatas pendapa.

    “Sebuah kegembiraan melihat dirimu kembali”, berkata Raden Wijaya sambil memeluk Mahesa Amping penuh keharuan layaknya seorang sahabat dekat bertemu setelah sekian lama berpisah.

    • Kamsiaaaaa……..

      • He…he….he….
        (hampir kalah lagi)

    • Satu rontal lagi untuk Ki Lurah Yudha yang baru tiba menyelesaikan tugas delik sandinya di negeri AMARTA (hehehe bergema dari segala arah penjuru dunia)

      eittttttt…….kamsia (sambil bertolak pinggang menunggu datangnya Ki Rangga)

      • haduuuuuuu…….ternyata Ki Arga sudah muncul dengan gingkangnya yang nyaris mendekati kesempurnaan.
        Luarrrr biasa !!!!!!, ane ngaku kalah dechhhhhhh

        • He..he..he…
          Pamit dulu, sudah ngantuk.
          Selamat malam.

          • Selamat Ki Arga

          • selamat siang semuanya
            kamsiiiaaaa

          • selamat malam ….
            kamssiiiaaaaaa……

  50. seramat marem,
    Langga rawe……….
    lawe lawe lantas, marang marang putung……….

    ruarrrr biasa……..
    (jadi inget Ki Leak)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: