SFBDBS-12

Jilid 12

SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI

Karya : Arief Sujana (Ki Kompor/Sandikala)

Bagian 1.

KAPAN kalian akan ke Kotaraja?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping

Terlihat Mahesa Amping memandang Raden Wijaya berharap ikut memberikan jawaban.

“Kami akan berangkat segera, tentunya setelah Mahesa Amping dan Empu Dangka cukup beristirahat”, berkata Raden Wijaya cukup terdengar bijaksana.

“Kalian semua akan berangkat ke kotaraja?”, bertanya kembali Mahesa Pukat.

“Mungkin Rangga Lawe yang harus tertinggal mewakili segalanya di Balai Tamu”, berkata Raden Wijaya.

Maka semua mata tertuju kepada Rangga Lawe.

“Sebagai prajurit, aku siap menerima tugas dari Sang Senapati”, berkata Rangga Lawe dengan wajah senyum terpaksa karena sedikit kecewa tidak diikutkan ke Kotaraja.

Namun perkataan Rangga lawe itu sudah membuat semua diatas pendapa benteng Cangu tertawa.

Sementara itu waktu berlalu seperti berlari, senja telah mulai merangkak pergi meninggalkan bumi menyelinap dibawah kegelapan malam yang telah mulai merayap menyelimuti bumi.

“Kami mohon pamit diri”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat mewakili.

Maka terlihat Kebo Arema, Mahesa Amping, Empu Dangka, Raden Wijaya dan Rangga Lawe tengah menuruni anak tangga pendapa Benteng Cangu diringi pandangan mata Mahesa Pukat sampai akhirnya menghilang tidak terlihat lagi ketika mereka terhalang pintu gerbang benteng cangu yang tinggi.

Berlima mereka beriring berjalan melangkah menuju Balai Tamu Bandar Cangu yang tidak begitu jauh dari Benteng Cangu. Sementara langit malam telah menutupi air sungai Brantas menjadi begitu kelam, hanya terdengar riak gelombangnya sesekali menampar kayu bahtera Singasari yang tengah bersandar di dermaga kayu itu.

Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di pendapa Balai Tamu. “Hamba kira tuan-tuan akan kembali dari Benteng Cangu sampai jauh malam”, berkata pelayan tua itu penuh senyum ramah.

“Kami rindu dengan masakanmu Pak tua, itulah sebabnya kami segera kembali”, berkata Rangga Lawe kepada pelayan tua itu membuat semua yang mendengar ikut tersenyum.

Diam-diam Empu Dangka memperhatikan keakraban sikap pelayan tua itu kepada penghuni Balai Tamu itu. ”Kesetiaan pelayan tua itu buah dari sikap penghuni rumah ini yang menghormatinya bukan sebagai pesuruh, tapi sebagai sahabat”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi sikap kasih orang-orang disekilingnya itu.

Sinar bulan sepotong redup memandang wajah alang-alang yang melenggut ditepian sungai Brantas. Dan malam pun telah jauh merambah kegelapan.

Pagi itu udara masih basah berembun, tiga ekor kuda terlihat keluar meninggalkan Bandar Cangu. Merekah adala Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah melakukan perjalanannya menuju Kotaraja.

Di perjalanan banyak mereka temui para saudagar dengan gerobak sarat penuh muatan menuju Bandar Cangu atau tengah menuju Kotaraja Singasari.

“Jalan menuju Kotaraja ke Bandar Cangu sudah menjadi ramai”, berkata Mahesa Amping.

“Perdagangan Singasari telah berkembang meluas ke segenap penjuru dunia”, berkata Raden Wijaya penuh kebanggaan.

“Petani makmur, para saudagar aman berdagang dan para ksatria tidur bersama keluarganya tanpa peperangan, itulah sebuah gambaran nagari yang sejahtera penuh kedamaian”, berkata Empu Dangka dengan wajah penuh berseri.

Terlihat Mahesa Amping merenungi apa yang dikatakan Empu Dangka, berharap keadaan ini terus berlangsung. Telah banyak dilihatnya peperangan yang membawa banyak kedukaan.

“Mungkinkah kita terbebas dari sebuah peperangan?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang berkuda beriring disebelahnya.

“Selama kita hidup di alam dunia ini, kita tidak akan terbebas dari peperangan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Jadi kita tidak pernah terbebas dari peperangan?”, bertanya Raden Wijaya ikut bicara.

“Tengoklah diri kita sendiri anakmas”, berkata Empu Dangka dengan wajah penuh senyum. “Diri kita adalah gambaran dunia alit, setiap saat setiap detik selalu ada peperangan yang terus berkecamuk”, berkata kembali Empu Dangka melanjutkan kata-katanya.

“Perang melawan hawa nafsu”, berkata Mahesa Amping menangkap perkataan Empu Dangka.

“Dunia alit dan dunia besar ternyata sangat saling terkait”, berkata Raden Wijaya yang juga dapat memaknai perkataan Empu Dangka.

“Aku bangga kepada kalian yang dapat menerjemahkan alam alit, semoga kalian dapat menjadi bijak untuk berpijak di dunia kasat mata ini”, berkata Empu Dangka sambil memandang kedua anak muda yang berkuda bersamanya itu dengan wajah penuh senyum berseri-seri.

“Sebuah nagari yang tentram, adem mayem loh jinawi, tidak ada panas yang terlalu, tidak ada dingin yang terlalu, apakah kamu menginginkan nagarimu seperti itu?”, bertanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Semua jiwa menginginkannya”, berkata Raden Wijaya langsung menjawab pertanyaan Empu Dangka.

“Selamanya nagari itu tidak akan maju berkembang, selamanya nagarimu selalu terbelakang”, berkata Empu Dangka. Hanya nagari yang pernah mengalami kehancuran, runtuh poran poranda yang akan menjadi sebuah nagari yang besar”, berkata kembali Empu Dangka.

“Musibah, malapetaka dan bencana ternyata adalah karunia jua yang diturunkan oleh Gusti Yang Maha Agung kepada umat manusia”, berkata Mahesa Amping menangkap perkataan Empu Dangka.

“Itulah wajah kasih yang terpancar lewat sejati Dewa Syiwa”, berkata Empu Dangka menatap Mahesa Amping yang dapat memaknai perkataannya.

“Digembleng sampai hancur lebur, bangkit kembali. Itukah yang seharusnya hidup didalam diri kita?”, bertanya Raden Wijaya.

“Anakmas benar, itulah yang dimaksud dengan semangat”, berkata Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

“Semangat-semangat-semangat!!”, berkata Raden Wijaya sambil mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi sepertinya merasakan pencerahan didalam hatinya.

Sementara itu bayang-bayang matahari sudah semakin merucut, matahari sudah berada dipuncak lengkung langit yang berawan penuh. Cahaya terik begitu menyengat kulit.

“Kita beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Raden Wijaya sambil mengajaknya singgah disebuah kedai dipinggir jalan.

Mereka juga melihat satu dua gerobag kuda dai berada di muka halaman kedai itu, ternyata kedai itu sebagai tempat persinggahan para saudagar dalam setiap perjalanan dagangnya.

Setelah mengikat kuda-kudanya ditempat yang disediakan, Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka terlihat memasuki kedai yang cukup ramai itu.

Seorang lelaki tua pemilik kedai menyambut mereka penuh keramahan.

“Minuman hangat dan nasi begana”, berkata Mahesa Amping kepada pemilik kedai itu.

“kami punya tuak bagus?”, berkata pemilik kedai itu menawarkan tuaknya.

Mahesa Amping menjawabnya dengan sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Lelaki pemilik kedai itu sepertinya tidak merasa heran, baginya memang tidak semua orang menyukai minuman tuak.

“Aku akan menyiapkan pesanan tuan-tuan”, berkata lelaki pemilik kedai itu sambil berbalik badan melangkah masuk kedalam.

“Ternyata ada juga orang yang tidak menyukai tuak”, berkata seorang lelaki tidak jauh dari tempat duduk Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka. Lelaki itu bicara cukup keras kepada temannya namun sepertinya perkataannya itu ditujukan langsung Mahesa Amping.

“Hanya lelaki banci yang tidak berani minum tuak”, berkata kawan lelaki itu yang berwajah bopeng dengan suara yang juga keras sepertinya menyindir Mahesa Amping dan kawan-kawan.

Suara itu bukan hanya didengar oleh Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka, tapi juga terdengar oleh hampir semua yang ada dikedai itu.

Semua orang yang ada di kedai itu menarik nafas tertahan penuh kekhawatiran bahwa akan terjadi sesuatu di kedai itu. Mereka sepertinya tidak sabar menunggu tanggapan dari ketiga orang yang baru datang yang menjadi sasaran sindiran.

Tapi penantian mereka sepertinya sia-sia, Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka tidak menanggapi apapun, mereka seperti tidak mendengar apapun selain sibuk menikmati hidangan pesanan mereka yang baru datang tiba.

Mendapati sindirannya tidak termakan sedikit pun, kedua orang itulah yang sepertinya kebakaran jenggot.

“Kedai ini kedatangan tiga orang banci tuli”, berkata kembali orang pertama dengan suara yang cukup keras.

Namun kembali sindiran mereka seperti air masuk pasir, hilang tanpa jejak. Tidak terlihat perubahan apapun pada wajah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka. Mereka sepertinya tidak mendengar suara apapun.

Kali ini kembali kedua orang itu yang menjadi tidak sabaran mendapatkan sindirannya tidak bergeming sedikit pun.

Sementara itu semua orang yang ada di kedai mulai gelisah, perkiraan mereka akan terjadi sesuatu disambut atau tidak disambut sindiran kedua orang itu.

Perkiraan mereka ternyata akan terjadi, terlihat kedua orang itu sudah berdiri, melangkah mendekati Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya.

“Baru kali ini kumendapatkan ada tiga orang lelaki yang begitu pengecut”, berkata orang yang berwajah bopeng setelah dekat kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka.

Terlihat Mahesa Amping mengangkat wajahnya. “Maaf, aku tidak mengerti apa yang kisanak maksudkan”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu tanpa ada perasaan apapun.

“Kukatakan bahwa kalian adalah tiga orang pengecut, apakah kamu tuli!!”, berkata orang berwajah bopeng dengan suara cukup keras seperti menahan kemarahan yang memuncak.

“Ternyata kisanak mengatakan bahwa kami ini tiga orang pengecut, tidak ada masalah buat kami, setiap orang bebas menyampaikan pandangan apapun perkataannya”, berkata Mahesa Amping kepada orang yang berwajah bopeng yang memandangnya dengan mata yang merah dan melotot.

“Kalian tidak menjadi marah?”, berkata orang berwajah bopeng itu kepada Mahesa Amping, karena hanya Mahesa Amping yang menghentikan makannya, sementara itu Empu Dangka dan Raden Wijaya seperti tidak memperhatikan apapun selain sibuk dengan makanannya.

“Untuk apa kami marah, melihat wajah kalian saja kami sudah penuh ketakutan”, berkata Mahesa Amping dengan suara seperti orang yang sedang penuh ketakutan.

“Ternyata ketiga orang ini benar-benar anak kelinci berhati cecurut”, berkata teman orang berwajah bopeng sambil tertawa tergelak-gelak.

“Meski satu diantara mereka membawa sebuah keris”, berkata orang berwajah bopeng sambil melirik Raden Wijaya yang terlihat sudah hampir menyelesaikan makannya.

Terlihat Raden Wijaya mengangkat wajahnya. “Jangan kalian salah sangka, keris ini Cuma kenang-kenangan mendiang ibuku, sementara aku tidak pernah mencabutnya untuk berkelahi, hanya terkadang dipakai untuk mengiris bawang di dapur”, berkata Raden Wijaya dengan wajah yang biasa-biasa saja.

“Cuma untuk mengiris bawang?”, berkata orang berwajah bopeng kepada kawannya diringi gelak tawa keduanya.

“Mari kita tinggalkan tempat ini, aku khawatir mereka akan mati lemas melihat kita”, berkata kawan orang berwajah bopeng sambil berbalik badan diikuti kawannya melangkah dengan wajah dan sikap seorang gagah meninggalkan medan laga dalam kemenangan.

“Kalian telah memenangkan sebuah pertempuran tanpa bertempur”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya ketika melihat kedua orang itu sudah keluar dari kedai.

Sementara itu matahari di luar kedai sudah terlihat bergeser, cahayanya tidak lagi seterik sebelumnya. Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya telah keluar dari kedai berjalan melangkah kearah tempat kuda-kuda mereka terikat.

“Ternyata jadi orang pengecut itu damai”, berkata Empu Dangka yang telah duduk diatas punggung kudanya.

Mahesa Amping dan Raden Wijaya bersamaan ikut melompat dan duduk diatas kudanya. Awan putih seputih kapas bergerumbul memenuhi lengkung langit biru, semilir angin berhembus sejuk diantara tangkai ranting dan daun hutan sepanjang jalan tanah itu yang semakin memanjak naik.

“Sebentar lagi kita akan sampai”, berkata raden Wijaya sambil menunjuk kearah sebuah perbukitan yang hijau. Tidak terasa kakinya menepak perut kudanya untuk berlari.

Mahesa Amping pun ikut mempercepat lari kudanya.

“Ternyata kalian sudah menjadi orang tidak sabar”, berkata Empu Dangka yang terpaksa ikut mempercepat lari kudanya agar tidak tertinggal oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Cahaya matahari sore bersinar lembut menyambut kedatangan mereka ketika memasuki pintu gerbang kotaraja. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka terlihat beriring diatas punggung kudanya yang dibiarkan berjalan melangkah perlahan diatas jalan Kotaraja yang masih ramai dipenuhi orang-orang yang berjalan hilir mudik, kadang satu dua gerobak kuda para saudagar melewati mereka berjalan kearah pasar kotaraja.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya terlihat telah turun dari atas punggung kudanya ketika mereka sudah sampai didepan pintu gerbang istana.

“Selamat datang di istana Singasari”, berkata seorang prajutit pengawal istana sambil mengambil tali temali kuda untuk dibawanya kepada pekatik istana

“Terima kasih”, berkata Raden Wijaya kepada prajurit pengawal itu.

Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka berjalan dibelakang Raden Wijaya yang melangkah menuju pesanggrahan keluarganya, pesanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Selamat datang wahai para putraku”, berkata Ki Lembu Tal menyambut kedatangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Perkenalkan ini saudara kembar Empu Nada”, berkata Raden Wijaya kepada ayahnya memperkenalkan Empu Dangka.

“Bila saja tidak diberitahu, mungkin aku menganggap Empu Nada dihadapanku”, berkata Ki Lembu Tal yang terkesima melihat kemiripan wajah kembaran Empu nada yang sudah dikenalnya.

“Ternyata ada seorang senapati Singasari”, berkata tiba-tiba seorang yang sudah cukup berumur keluar menyambut mereka yang ternyata adalah Ratu Anggabhaya.

Maka tidak lama berselang, keadaan di pasanggrahan Ratu Anggabhaya menjadi begitu ramai, terutama di dapur belakang dimana para pelayan nampak begitu sibuk menyiapkan hidangan istimewa untuk tamu istimewa mereka.

“Pangeranku terlihat semakin gagah”, berkata seorang wanita tua pelayan istana kepada kawannya di dapur belakang.

“Gagahan mana dengan suamiku”, berkata kawannya yang terlihat masih muda dengan senyum menggoda.

“Jauhh…,seperti langit dan bumi”, berkata wanita tua itu sambil mencabut bulu-bulu ayam yang tinggal tersisa pada sayapnya.

“Tapi aku menganggap suamiku manusia tergagah didunia, terutama ketika…..”, berkata wanita pelayan itu tidak meneruskan kata-katanya.

Sementara itu, seorang prajurit pengawal yang biasa bertugas di pasangrahan Ratu Anggabhaya telah ditugaskan untuk menjemput guru pendeta Empu Nada yang saat ini telah menetap di lingkungan istana, tinggal di belakang istana di sebuah rumah yang dulu pernah didiami Mahendra, seorang pahlawan Singasari.

“Berangkatlah lebih dulu, aku akan menyusul”, berkata Empu Dangka kepada prajurit pengawal itu yang telah menyampaikan pesannya.

“Apa kata mereka bila aku datang tidak bersama tuan guru pendeta”, berkata prajurit pengawal itu kepada Empu Nada.

“Bila demikian, tunggulah sebentar”, berkata Empu Nada sambil tersenyum kepada prajurit pengawal itu.

Prajurit pengawal itu memang tidak menunggu terlalu lama. Empu Nada telah siap untuk berangkat ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Ternyata Empu Nada mempunyai panggraita yang kuat, dalam perjalanannya telah merasakan sesuatu yang akan ditemuinya di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Kakang Dewadangkabrata!!”, berkata Empu Nada tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ketika akan naik anak tangga pendapa di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Dewanadabrata”, berkata Empu Dangka penuh senyum gembira, sebuah pertemuan yang sangat ditunggu-tunggu sejak keberangkatannya dari Balidwipa.

Terlihat dua saudara kembar itu saling berpelukan, menangis penuh keharuan setelah sekian lama mereka berpisah.

Dan malam itu adalah malam yang sangat istimewa, terutama bagi Empu Nada dan Empu Dangka yang seperti tidak ingin dipisahkan lagi, mereka duduk bersama dan bercerita begitu banyak tentang beberapa hal sepanjang perpisahan mereka yang begitu lama.

Keistimewaan perjamuan malam itu di pendapa yang luas menjadi begitu istimewa lagi manakala seorang prajurit pengawal khusus Maharaja Singasari datang membawa kabar bahwa Sri Baginda Maharaja Singasari akan datang ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Tidak lama berselang, Sri Baginda Maharaja Singasari memang telah datang hanya dengan dikawal oleh dua orang prajurit pengawal.

“Haturkan diri ini bersembah sujud dihadapanmu wahai guruku tercinta”, berkata Maharaja Kertanegara dihadapan Empu Dangka sambil bersujud penuh kehormatan.

“Bangunlah anakku, engkau adalah Maharaja Singasari yang perkasa”, berkata Empu Dangka penuh haru bahwa dihadapannya adalah seorang Maharaja besar yang dengan kerendahan hati masih menghormati dirinya sebagai seorang guru.

Maka lengkaplah keharuan dan suka cita atas pertemuan antara saudara kembar, antara guru dan murid dan pertemuan persaudaraan para ksatria Singasari yang telah bersatu dalam sebuah perjamuan malam yang sangat meriah.

“Berkat kalian semua, Singasari telah semakin berjaya”, berkata Maharaja Kertanegara kepada semua yang hadir ditengah suasana perjamuan.

“Kami para orang tua hanya duduk dipinggiran sebagai juru sorak mendukung jiwa-jiwa muda yang terus berkarya bagi kejayaan Singasari”, berkata Ratu Anggabhaya

“Tanpa diri kalian para orang tua, kami tidak akan terlahir seperti saat ini”, berkata Maharaja Kertanegara sambil menjura penuh kehormatan.

Sementara itu sang malam di pendopo besar itu terus berlalu, beberapa pelayan telah membersihkan sisa perjamuan dan menggantikannya dengan beberapa hidangan penutup.

“Kita disini semuanya adalah keluarga, maka tidak perlu sungkan bila Rangga Mahesa Amping dapat bercerita tentang perjalanan tugasnya selama di Balidwipa”, berkata Maharaja Kertanegara meminta Mahesa Amping bercerita tentang apa yang didapatnya selama di Balidwipa.

Maka dengan perlahan Mahesa Amping menyampaikan apa yang telah dilihat dan diketahui tentang Balidwipa.

“Kamu telah membuka sepertiga jalan atas apa yang telah engkau lakukan”, berkata Maharaja Kertanegara ketika mendengar cerita Mahesa Amping bahwa dirinya telah diangkat sebagai seorang guru di Pura Indrakila.

“Tanpa kebersamaan Empu Dangka, mungkin kehadiran hamba di Balidwipa tidak banyak berarti”, berkata Mahesa Amping kepada Sri Baginda Maharaja Singasari itu.

Maka setelah mendengar gambaran yang cukup lengkap dari Mahesa Amping tentang Balidwipa, Maharaja Kertanegara meminta Ratu Anggabhaya dan Empu Dangka untuk memberikan saran dan nasehat yang berharga.

“Sebagaimana yang dikatakan Baginda Maharaja, Mahesa Amping telah membuka sepertiga jalan menuju penguasaan Balidwipa, sisanya adalah menguasai Pura Besakih. Ibarat sebuah tubuh yang utuh, Pura Besakih adalah bagian kepala, menguasai Pura Besakih berarti telah menguasai seluruh Balidwipa”, berkata Empu Dangka memberikan pandangannya.

“Aku sependapat dengan Empu Dangka, harapanku yang paling besar adalah tidak banyak pertumpahan darah sebagai tumbal membawa Balidwipa dipangkuan Singasari Raya”, berkata Ratu Anggabhaya menyampaikan nasehatnya.

Demikianlah, Sri Maharaja Singasari ternyata seorang yang sangat terbuka, memberikan kesempatan pada semua yang hadir untuk menyampaikan pendapatnya.

“Kehadiran para saudagar dari tanah hindu harus juga diperhitungkan”, berkata Raden Wijaya menyampaikan pandangannya.”Berarti ada dua kekuatan yang harus kita kunci, kekuatan Pura Besakih dan gerak kekuatan para saudagar tanah Hindu”, berkata kembali Raden Wijaya yang langsung disetujui oleh semua yang hadir termasuk Maharaja Kertanegara.

“Aku memutuskan bahwa Rangga Mahesa Amping untuk kembali bertugas di Balidwipa membawahi pasukan tidur”, berkata Maharaja Kertanegara memberikan keputusannya meminta Mahesa Amping untuk kembali bertugas di Balidwipa memimpin dan menggerakkan pasukan tidur, sebuah pasukan khusus yang terjun mendahului pasukan inti, bergerak mengamankan medan yang akan dilalui pasukan inti, kehadiran pasukan ini seperti bayangan yang tidak boleh terlihat oleh musuh. Pasukan seperti inilah yang dimaksudkan sebagai pasukan tidur oleh Sri Baginda Maharaja Singasari.

“Hamba siap menerima titah tuanku paduka”, berkata Mahesa Amping sambil menjura penuh hormat dihadapan Sri baginda Maharaja.

“Paman Kebo Arema dapat kau bawa serta”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Mahesa Amping.

“Tuanku Baginda belum menunjuk siapakah senapati yang akan menjadi pemimpin para prajurit yang akan diturunkan di medan Balidwipa”, berkata Raden Wijaya tidak sabar menunggu sebuah keputusan.

“Aku perlu seorang Senapati yang sudah teruji kesetiaannya, namun aku tidak akan menunjuk dirimu wahai saudaraku”, Berkata maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya. “Singasari tidak boleh lengah dan harus tetap terjaga, itulah sebabnya aku masih perlu dirimu tetap menjaga Singasari ini”, berkata kembali Maharaja Kertanegara memberikan alasan mengapa bukan Raden Wijaya yang akan ditugaskan sebagai senapati perangnya di Balidwipa.

Diam-diam semua yang hadir memuji pandangan Maharaja Kertanegara yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Namun semua masih menunggu siapakah yang dititahkan menjadi sang senapati di Balidwipa.

“Dijaman ayahku memerintah, ada seorang senapati yang sangat setia dan berilmu sangat tinggi. Banyak pemberontakan yang dapat ditumpasnya. Saat ini orang itu telah menjadi seorang akuwu di Sangling”, berkata Maharaja Kertanegara.

“Kakang Mahesa Bungalan!!”, berkata Mahesa Amping dalam hati langsung mengenal siapa orang yang dimaksud oleh Maharaja Kertanegara.

“Akuwu Mahesa Bungalan adalah orang yang kuanggap paling tepat saat ini untuk menjadi senapati laskarku di Medan Balidwipa”, berkata Maharaja Kertanegara kepada semua yang hadir malam itu di pendopo pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Hampir semua yang hadir saat itu sudah mengenal Mahesa Bungalan, salah satu putra Mahendra pahlawan Singasari yang tidak disangsikan lagi kesetiaannya, juga pengalamannya memimpin pasukan besar yang pernah ditunjukkan selama ini antara lain dalam penumpasan beberapa gerombolan pemberontak yang telah mencoba mengganggu dan menguji kewibawaan Kerajaan Singasari.

“Meski dirimu tidak terjun di medan Balidwipa, kutitahkan segenap kekuasaanku kepadamu wahai sepupuku untuk menjadi pimpinan tertinggi mengatur segalanya, menyiapkan prajurit segelar sepapan, berwenang menggunakan perbendaharaan kerajaan”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya.

“Titah Baginda Maharaja akan kujunjung tinggi”, berkata Raden Wijaya menjura penuh kehormatan.

Demikianlah, sebuah perundingan awal pergelaran sebuah sejarah Balidwipa telah dimulai. Sementara itu langit malam diatas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya telah semakin larut, suara jengkerik mendengung mengisi kesunyian malam.

Sribaginda Maharaja Singasari terlihat akan beranjak untuk kembali ke Pasanggrahannya. Namun sebelum beranjak Maharaja Kertanegara telah meminta Empu Dangka untuk tinggal diistana mendampinginya.

“Guru sudah sangat tua, tinggallah di Istana ini mendampingiku”, berkata Maharaja Singasari kepada Empu Dangka.

“Aku sangat setuju, biarlah kita yang sudah beruban ini duduk dipinggiran menjadi pemandu”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Empu Dangka menyetujui permintaan Sri baginda Maharaja Singasari.

“Terima kasih telah menerima aku yang sudah rapuh ini, semoga buah pikiranku masih dapat diabdikan diistana ini”, berkata Empu Dangka yang disambut gembira oleh Maharaja Singasari, Empu Nada dan Ratu Anggabhaya.

Terlihat maharaja Singasari yang masih muda itu telah meninggalkan Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Maaf, aku akan membawa saudaraku ke pondokanku”, berkata Empu Nada kepada semuanya bermaksud pamit diri sambil mengajak Empu Dangka.

“Terima kasih telah meramaikan perjamuan malam ini”, berkata Ratu Anggabhaya mengantar kedua saudara kembar itu menuruni anak tangga pendopo Pesanggrahannya.

Tidak lama berselang Mahesa Amping dan Raden Wijaya dipersilahkan untuk beristirahat.

“Beristirahatlah, mulai besok kalian sudah memasuki sebuah tugas yang panjang”, berkata Ki Lembu Tal kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Akhirnya pendapa itu telah menjadi begitu sepi, menyisakan dua pelita yang tergantung menerangi sekelingnya. Sementara itu rembulan diatas langit malam sudah semakin pudar bergeser ke barat terhalang awan tipis. Sekumpulan kalelawar malam masih terlihat satu dua melintas diatas udara dingin malam.

Hawa Angin Malam diatas bumi Singasari yang berbukit memang sangat begitu dingin. Namun beberapa prajurit pengawal yang sedang bertugas malam itu sepertinya tidak mempedulikan hawa dingin yang menusuk kulit, mereka tetap berjaga meronda berkeliling istana.

Pagi itu hawa dingin yang sejuk menyelimuti bumi Singasari, dua ekor kuda terlihat berjalan perlahan melewati pintu gerbang Kotaraja. Mereka yang berkuda itu ternyata adalahRaden Wijaya dan Mahesa Amping.

“Ingin rasanya aku terbang langsung tiba di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping mengungkapkan perasaan hatinya kepada Raden Wijaya.

Raden Wijaya hanya tersenyum mendengar perkataan Mahesa Amping. Sebuah kakinya menghentak perut kuda yang langsung terkaget berlari kencang.

Mahesa Amping segera memburu lari kuda Raden Wijaya yang telah jauh meninggalkannya. Maka terlihat dua ekor kuda tengah berlari saling berkejaran membelah padang ilalang yang luas. Masih terus berlari manaiki dan menuruni bukit-bukit kecil yang landai.

“Kukira kamu tidak kasihan kepada kudamu”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya yang telah berhenti di sebuah sungai kecil yang berair jernih.

“Bukankah kamu ingin terbang sampai di Padepokan Bajra Seta?”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Tapi tidak dengan menyiksa kuda kita mati lemas”, berkata Mahesa Amping sambil turun dari kudanya, membiarkan kudanya turun ke sungai kecil meneguk airnya yang jernih.

Matahari sudah semakin beranjak naik keatas puncak cakrawala langit yang berawan putih cerah. Mahesa Amping dan Raden Wijaya terlihat sudah berada di punggung kudanya tengah mendaki sebuah bukit, mereka sepakat untuk menembus jalan pintas menuju Padepokan Bajra Seta meski jalan yang mereka tempuh harus melewati beberapa perbukitan terjal, sesekali mereka harus turun menuntun kudanya.

Senja bening telah turun menyelimuti hamparan bumi ketika Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah keluar dari sebuah hutan yang lebat. Dihadapannya menghadang hamparan padang ilalang dan sebuah bukit.

“Padepokan Bajra Seta tinggal setengah hari perjalanan”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika mereka telah berada ditengah hamparan padang ilalang yang cukup luas.

“Kuda-kuda kita perlu beristirahat”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

“Kita juga perlu beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya sambil melompat dari punggungnya.

Terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya tengah bersandar dibawah sebuah pohon besar di padang ilalang itu yang dipenuhi akar-akar besar menyembul dari permukaan tanah.

Dan kegelapan malam pun akhirnya telah turun menyelimuti padang ilalang.

“Beristirahatlah lebih dulu, biarlah aku yang berjaga”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

Semburat warna merah terang terlihat telah memancar diujung timur bumi, hari masih gelap dan dingin. Di keremangan pagi yang masih gelap itu terlihat dua ekor kuda sudah menapaki padang ilalang yang masih basah berembun. Mereka adalah Mahesa Amping dan Raden Wijaya yang telah kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Padepokan Bajra Seta.

Ketika pagi sudah mulai berwarna bening, semburat warna merah telah menyebar mengisi lengkung langit, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai di kaki bukit yang hijau. Perlahan mereka memacu kudanya menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon yang rimbun tinggi menghijau.

Semakin naik keatas, tetumbuhan semakin jarang mereka temui, akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit datar yang hanya dipenuhi hamparan rerumputan yang hijau sepanjang mata memandang.

Titik-titik embun di pucuk-pucuk rerumputan terlihat memercik ketika terhentak langkah kaki kuda Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Perlahan mereka menghentikan langkah kaki kuda terpesona menatap hamparan sawah ladang yang terhampar menghijau dibawah bukit jauh dalam warna pagi yang cerah dibawah tatapan matahari yang bercahaya lembut menyinari alam bukit yang hijau.

Terlihat mereka menuruni bukit itu dibawah siraman matahari pagi. Akhirnya mereka telah sampai dibawah kaki bukit tengah menyusuri sebuah bulakan panjang. Dikanan kiri mereka terhampar persawahan yang hijau dipenuhi untaian buah padi yang sudah mulai matang menguning.

“Kita datang menjelang padi akan dituai”, berkata Mahesa Amping diatas kudanya kepada Raden Wijaya sambil menyapu pandangannya diatas hamparan sawah yang sudah tinggi menghijau.

Beberapa petani yang tengah berjalan bersisipan dengan mereka terlihat memandang kepada mereka.

“Jangan biarkan burung pipit mencuri padi kalian”, berkata Mahesa Amping kepada dua orang petani muda yang bersisipan dengan mereka.

Terlihat dua orang petani muda itu melambaikan tangannya setelah mengetahui dan mengenal Mahesa Amping yang menyapa mereka dari atas punggung kuda.

Akhirnya kuda-kuda Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai dimuka regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah turun dari kudanya. Beberapa cantrik yang tengah menyapu halaman muka Padepokan Bajra Seta datang berlari menghampiri mereka.

“Selamat datang kembali di Padepokan Bajra Seta”, berkata salah seorang cantrik menyambut kedatangan mereka.

“Ternyata kita kedatangan tamu perwira tinggi Singasari”, berkata seorang lelaki yang sudah cukup berumur bertelanjang dada menghampiri mereka yang ternyata adalah Sembaga.

“Paman Sembaga kulihat tidak bertambah tua”, berkata Mahesa Amping menyambut uluran tangan Sembaga.

“Kami sangat merindukan kalian”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya ketika mereka telah berada diatas pendapa Padepokan Bajra Seta.

Terlihat seorang wanita muda bersama seorang anak lelaki kecil keluar dari pintu butulan.

“Katakan selamat datang untuk kedua pamanmu”, berkata wanita muda itu yang ternyata adalah Padmita istri Mahesa Murti.

“Selamat datang Paman berdua”, berkata anak kecil itu dengan suaranya yang masih terdengar cadel.

“Mahesa Darma sudah pandai bicara”, berkata Mahesa Amping sambil mengangkat Mahesa Darma tinggi-tinggi.

Ternyata anak itu tidak menjadi takut, malahan menjadi begitu gembiranya.

“Mari ikut Bunda kedapur menyiapkan minuman untuk kedua pamanmu”, berkata Padmita kepada Mahesa Darma yang langsung menghampiri ibunya.

Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Mahesa Murti terlihat diatas pendapa Padepokan Bajra Seta saling bercerita sepanjang perpisahan mereka.

“Kehadiran pasukan tidur sangat besar peranannya, harus dapat membaca pergerakan lawan serta menentukan jalur perjalanan yang aman menuju titik kemenangan”, berkata Mahesa Murti memberikan pandangannya ketika Mahesa Amping bercerita tentang tugas yang akan mereka emban dalam waktu dekat itu, menguasai Balidwipa.

“Aku perlu bantuan beberapa cantrik untuk memperkuat pasukanku”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

“Para cantrik di Padepokan Bajra Seta ini selalu siap sedia menjaga pilar kejayaan Singasari”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Terima kasih Kakang, aku hanya memerlukan tiga orang terbaik di padepokan Bajra Seta ini”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

Pembicaraan mereka terhenti ketika Padmita keluar dari pintu utama sambil membawa minuman hangat dan beberapa potong ubi manis.

“Aku tengah memasak pecak gabus, mudah-mudahan kalian menyukainya”, berkata Padmita sambil meletakkan minuman hangatnya kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

“Mendengar pecak gabus, perutku sudah langsung berbunyi”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semuanya.

Sementara itu bayang-bayang tangkai pohon randu di pojok halaman muka Padepokan Bajra Seta sudah semakin mengerucut, matahari sudah berada di puncak lengkung langit putih berawan penuh.

“Ada tugas yang akan kalian emban”, berkata Mahesa Murti kepada Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu yang telah dipanggil berkumpul bersama di Pendapa Bajra Seta.

“Tugas apa gerangan yang dapat kiranya akan kami emban?”, bertanya Wantilan mewakili Sembaga dan Mahesa Semu.

“Raden Wijaya akan menjelaskan kepada kalian”, berkata Mahesa Murti meminta Raden Wijaya untuk menjelaskannya.

“Saat ini wilayah perdagangan Singasari telah mencakup dari ujung Tanah Gurun sampai keujung Malaka. Namun sampai saat ini kami belum dapat menjangkau Balidwipa karena kekuasaan para saudagar dari Tanah Hindu sudah mendahului kami”, berkata Raden Wijaya menjelaskan duduk persoalan awal agar dapat dimengerti oleh Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu.

“Lanjutkanlah, aku belum dapat menangkap apa hubungannya dengan kehadiran kami bertiga disini?”, berkata Sembaga sepertinya sudah tidak sabaran apa tugas yang akan diembannya.

Raden Wijaya tersenyum mendengar pertanyaan Sembaga. “Baiklah, aku lanjutkan”, berkata Raden Wijaya sambil menarik nafas panjang untuk melanjutkan penjelasannya. “Sri Baginda Maharaja Singasari merasa khawatir bahwa kekuasaan para saudagar Tanah Hindu di Balidwipa dapat mengganggu wilayah perdagangan Singasari yang sudah terjalin sepanjang Tanah Gurun sampai keujung Malaka”, berkata Raden Wijaya berhenti sejenak sambil memandang Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu satu persatu.

“Lanjutkanlah”, berkata kembali Sembaga tidak sabaran.

Kembali Raden Wijaya dan semua yang ada dipendapa Padepokan Bajra Seta itu tersenyum melihat tingkah Sembaga yang tidak sabaran.

“Sri Baginda Maharaja Singasari telah meminta diri kami untuk menyiapkan sebuah pasukan besar untuk menguasai Balidwipa”, berkata Raden Wijaya sambil memperhatikan sikap dari Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu, sejauh mana penangkapan mereka atas penjelasan yang disampaikannya itu.

“Aku sudah dapat menangkap penjelasannmu, kami bertiga diminta untuk bergabung dalam pasukan besar itu”, berkata Sembaga kepada Raden Wijaya.

“Paman Sembaga benar, tepatnya Paman Sembaga, Paman Wantilan dan Kakang Mahesa Semu diminta untuk bergabung dengan pasukanku” berkata Mahesa Amping ikut menjelaskan dan dengan rinci menyampaikan tugas dan tanggung jawab pasukannya yang disebutkan sebagai “pasukan tidur” oleh Sri baginda Maharaja Singasari.

“Pasukan tidur, aku menyukai sebutan itu”, berkata Wantilan dengan wajah penuh kebanggaan membayangkan dirinya bergabung dalam gerakan pasukan tidur dibawah pimpinan Mahesa Amping.

“Jadi kami bertiga bergabung dalam pasukanmu?’, berkata Mahesa Semu kepada Mahesa Amping yang tidak menjawabnya, hanya menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Mahesa Semu.

“Tadinya aku berpikir bahwa pasukan tidur itu tugasnya hanya makan dan tidur”, berkata Sembaga yang ditangkap oleh semua yang ada di pendapa Padepokan Bajra Seta itu dengan tawa yang panjang.

Tawa mereka berhenti manakala datang Padmita membawa hidangan hangat yang harumnya sangat menggoda.

“Pecak gabus, makanan khusus pasukan tidur”, berkata Sembaga yang kembali membuat tawa semua yang ada di panggung pendapa.

Sementara itu, disaat yang sama jauh dari Padepokan Bajra Seta. Disebuah wilayah yang damai dan tenteram, tepatnya di Pakuwonan Sangling, terlihat sepasukan prajurit yang membawa umbul-umbul pertanda kekuasaan kerajaan Singasari baru saja keluar dari pintu batas wilayah Pakuwonan Sangling.

“Sri Baginda Maharaja Singasari telah menjatuhkan mandat kepercayaannnya kepada Kakanda”, berkata seorang wanita muda yang berparas begitu cantik jelita yang tidak lain adalah Ken Padmi, istri Akuwu Mahesa Bungalan.

“Itu artinya aku akan lama meninggalkan Pakuwonan ini”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan menatap istrinya dalam-dalam.

“Sejak dinda memutuskan untuk menjadi istri kakanda, dinda sudah siap menjalani kehidupan di sisi kakanda sebagai istri seorang prajurit”, berkata Ken Padmi dengan suaranya yang penuh ketegaran.

“Ketegaran dinda telah menghilangkan keraguan didalam hati Kakanda, sebelumnya yang Kakanda khawatirkan adalah kesunyian hari-hari tanpa kehadiran Kakanda di Pakuwonan ini”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan yang merasa bangga atas ketegaran istrinya itu.

“Hari-hari penuh kesunyian akan dinda sibukkan dengan berdoa, berharap Kakanda selalu di bawah lindungan Gusti Yang Maha Kasih”, berkata Ken Padmi dengan suaranya yang lembut kepada Akuwu Mahesa Bungalan.

Akuwu Mahesa Bungalan terlihat memalingkan wajahnya kearah taman pasanggrahan Istana Pakuwonan yang tertata begitu indah, tatapannya menyapu hamparan rumput hijau dan jatuh diujung bunga kuntha yang tengah berkembang.

“Dinda sedang mengandung anakku”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan memalingkan wajahnya menatap mata Ken Padmi istrinya.

“Tetapkanlah hati Kakanda, bukankah Kakanda selalu mengajarkan kepada dinda untuk memasrahkan segalanya kepada Gusti Yang Maha Kasih?”, berkata Ken Padmi kembali dengan suara penuh kelembutan berusaha membangun kemantapan dan ketegaran hati suaminya tercinta.

Semilir angin genit membelai tangkai bunga kuntha, serbuk sari diujung bunga itu pun jatuh, berguguran.

“Senja sudah hampir berakhir”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan sambil memandang Ken Padmi istri tercintanya.

“Masih ada beberapa senja yang akan hadir dalam kebersamaan kita”, berkata Ken Padmi sambil mengedipkan matanya menggoda.

Sementara itu diwaktu yang sama di Padepokan Bajra Seta, di pendapa hanya tinggal Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Mahesa Murti. Perlahan malam mulai merayap menutupi warna senja, langit diatas Padepokan Bajra Seta itupun akhirnya dipenuhi kegelapan yang senyap.

“Aku merasakan bahwa ilmu yang kalian bawa dari Padepokan Bajra Seta ini telah menjadi semakin matang bersama panjangnya masa pengembaraan kalian”, berkata Mahesa Murti penuh senyum kebanggaan menatap dua orang cantrik terbaik yang pernah diasuhnya itu.

“Pengembaraan telah mematangkan ilmu yang Paman Mahesa Murti wariskan kepada kami, namun tetap saja aku masih berada jauh dibawah tataran ilmu saudaraku ini”, berkata Raden Wijaya sambil melirik penuh senyum ke arah Mahesa Amping.

Mahesa Murti menatap wajah Mahesa Amping, diam-diam mengagumi pemuda dihadapannya itu, seorang pemuda yang memang mempunyai bakat yang luar biasa yang diharapkan akan dapat melanjutkan dan mengembangkan Padepokan Bajra Seta setelah dirinya tiada. Namun garis hidup ternyata berkata lain, pemuda itu telah menjadi seorang prajurit Singasari, bahkan telah diangkat menjadi seorang guru agung di Pura Indrakila.

“Hati kecil selalu berbisik untuk kembali ke Padepokan yang gayem ini, tempat dimana aku merasakan kedamaian hidup sejati, bersama bau lumpur di sawah dalam canda dan tawa persaudaraan yang penuh ketulusan dari para cantrik Padepokan ini. Namun diri ini sendiri sepertinya tidak mampu menahan arus deras garis hidupku sendiri, aku merasakan diri ini seperti kerikil kecil yang tengah hanyut dibawa arus jauh dari mata air tempatnya tumbuh”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti yang sepertinya dapat menangkap dan membaca perasaan Mahesa Murti terhadapnya.

“Garis hidup dari Gusti Yang Maha Agung adalah ketetapan yang mutlak yang tidak ada seorang hambapun yang dapat menghindarinya. Apapun dan siapapun dirimu, terimalah sebagai karunia ketetapan dari Yang Maha Agung. Bersyukurlah, itulah sebaik-baik sikap pengabdian seorang hamba kepada Sang Maha Karsa.

“Aku mohon doa dan restu dari Kakang, semoga rasa syukur terus hidup dimanapun aku berada”, berkata Mahesa Amping penuh rasa hormat dihadapan guru dan sekaligus kakak angkatnya itu yang sangat dicintainya seperti saudara kandungnya sendiri.

“Aku selalu berdoa untuk kalian”, berkata Mahesa Murti dengan senyumnya yang sejuk kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Dua hari Mahesa Amping dan Raden Wijaya tertahan di Padepokan Bajra Seta melepas segenap kenangan dan kerinduan mereka bersama kehidupan para cantrik Padepokan Bajra Seta yang gayem.

Pada hari ketiga, di pagi yang masih basah dan bening terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta bersama dibelakang mereka tiga orang cantrik terbaik di Padepokan Bajra Seta yang tidak lain adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu. Lima orang kesatria berkuda terlihat tengah berjalan menapaki jalan bulakan yang panjang, membelah padang ilalang, mendaki dan menuruni bukit dan lembah yang hijau dipayungi gerumbul awan dilangit biru.

“Aku pernah mendengar bahwa Balidwipa tercipta dari sebuah bunga surga yang jatuh ke bumi”, berkata Mahesa Semu ketika mereka bersama menghangatkan diri didekat perapian di sebuah hutan tempat mereka bermalam.

“Seperti melihat wajah gadis manis yang tersenyum kepadamu, tidak mudah melupakannya sehari dua hari”, berkata Mahesa Amping membenarkan perkataan Mahesa Semu.

“Sayangnya tidak ada seorang gadis pun yang pernah tersenyum kepadaku”, berkata Sembaga sambil menambahkan ranting kayu kering diatas perapian yang ditanggapi deri tawa semua yang mendengarkan.

“Jangankan seorang gadis dapat tersenyum, anak kecil saja akan berlari memeluk bundanya setiap kali bertemu dengan Paman Sembaga yang seram”, berkata Raden Wijaya.

“Wajah pamanmu memang seram, tapi hatinya selembut salju”, berkata Wantilan ikut berseloroh menghangatkan suasana yang dingin di hutan itu.

“Bila Wantilan menyanjung seseorang, pasti ada yang diinginkan”, berkata Sembaga sambil menambahkan kembali ranting kering di perapian yang sudah hampir surut. “kali ini mungkin berharap aku memanjangkan waktu gilir berjaga malam”, berkata kembali Sembaga melanjutkan kata-katanya yang terhenti.

“Terima kasih, ternyata kamu memang pandai membaca perasan hatiku”, berkata Wantilan dengan wajah penuh senyum.

Demikianlah, lima orang kesatria dari Padepokan Bajra Seta sepertinya telah menemukan kembali suasana pengembaraan yang telah lama mereka tinggalkan.

Seperti biasa dalam setiap pengembaraan, malam itu mereka mengatur waktu secara bergiliran untuk berjaga, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin saja dapat terjadi. Jiwa para pengembara memang selalu dipenuhi naluri kewaspadaan yang tinggi, meski dalam keadaan tertidur mereka selalu dalam keadaan siaga terjaga. Dan malam di hutan itu perlahan merayapi waktu dalam kesenyapan yang dingin ditingkahi berbagai suara binatang hutan yang kadang mengusik kesunyian malam.

bersambung ke bagian 2

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 24 April 2012 at 22:04  Comments (198)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

198 KomentarTinggalkan komentar

  1. bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan melintas dilongkangan. satpam baru pulang dari nganglang
    he he he …, selamat sore

    • Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…………………..dherek sakwingkingipun KI Pak Satpam.

  2. Hadiiiiirrr……..

  3. Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh ……..
    monggo….
    cekelan sing kenceng kersane mboten dhawah

    • lho…, kok salah tempat
      maunya membalas komen Ki BP ko mencelat disini, he he he ….

      • disana atau disini sami mawon,
        ada dimana mana tapi tak kemana mana

  4. wussssss……….,
    Tiba-tiba datang tanpa bayangan berdiri dan bertolak pinggang,
    Ternyata gacoan kita siapa lagi kalo bukan Mahesa Kompor pendekar super sakti (he-he-he bergema dari segala penjuru)

  5. Terlihat kedua puluh orang itu telah menambatkan kudanya masing-masing dan sebagian duduk terpisah namun beberapa orang bersama pimpinannya terlihat bergerumbul.

    “Tugas kita saat ini sangat menyenangkan, hanya membuat sebuah kerusuhan dan perampokan ditempat yang akan dipilih oleh penghubung kita”, berkata pemimpin mereka.

    “Apakah ketua mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya ?”, bertanya salah seorang diantara mereka.

    “Awalnya aku tidak mempedulikan apa keinginan mereka menyuruh kita berbuat keonaran, yang kupedulikan berapa mereka membayar kita”, berkata pemimpin mereka tedengar suaranya yang berat dan parau.

    “Apa yang ketua akhirnya ketahui tentang tujuan mereka ?”, bertanya kembali salah seorang dari mereka kepada pemimpinnya.

    “Akhirnya kuketahui setelah mereka meminta kita berbuat keonaran dengan memakai layaknya seorang prajurit Singasari”, berkata kembali pemimpin mereka.

    “Jadi kita diminta menyamar layaknya seorang prajurit Singasari ?”, bertanya orang yang lain diantara mereka.

    “Terserah dengan persyaratan apapun, yang kita pikirkan berapa upah yang kita terima”, berkata pemimpin mereka yang diiringi gelak tawa dari semua orang yang bergerumul itu.

    Sementara itu Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema masih tetap mengintai dan mencuri dengar percakapan mereka.

    “Akhirnya kita mengetahui siapa mereka”, berkata Mahesa Amping yang mendengar semua yang mereka percakapkan kepada Kebo Arema dan Ki Jaran Waha.

    “Mereka adalah orang-orang bayaran”, berkata Ki Jaran Waha menegaskan

    “Membuat keonaran untuk membakar amarah penduduk memusuhi prajurit Singasari”, berkata Kebo Arema menyimpulkan semuanya dari percakapan yang didengarnya.

    “Apa yang harus kita lakukan pada mereka”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha dan Kebo Arema meminta pertimbangan.

    “Pucuk dicinta ulampun tiba”, berkata Ki Jaran Waha membuat Mahesa Amping dan Kebo Arema mengerutkan kening tidak mengerti.

    “Aku tidak mengerti ki Jaran bicara apa”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

    “Maksudku mencari lima puluh ekor kuda, sudah menanti dua puluh ekor kuda”, berkata Ki Jaran Waha menyeringai menutup mulutnya agar tidak terdengar tawanya.

  6. “Mari kita selesaikan”, berkata Kebo Arema sambil memberi tanda untuk keluar dari pengintaian.

    Terlihat Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema melompat dan berdiri tidak jauh dari gerombolan berkuda.

    “Siapa kalian”, berkata Pemimpinnya itu yang bersama rombongannya sangat terkejut melihat tiga orang berdiri.

    “Tidak perlu kalian tahu siapa kami, yang perlu kalian ketahui bahwa kami tertarik dengan kuda-kuda kalian”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh senyum.

    “Kalian tertarik dengan kuda-kuda kami”, berkata pemimpim itu diiringi tawa semua anak buahnya.

    “Maaf, kutambahkan kalimatnya, kami bukan hanya tertarik tapi bermaksud kalian menyerahkan kuda-kuda itu dengan sukarela”, kembali Kebo Arema berkata kepada orang-orang itu.

    “Menyerahkan kuda-kuda kami dengan sukarela ?”, bertanya kembali pemimpin itu yang diiringi derai tawanya yang juga diikuti para anak buahnya.

    “Apakah kata-kataku begitu lucu”, bertanya Kebo Arema

    “Sangat lucu sekali”, berkata pemimpin itu yang masih belum hilang rasa gelinya.

    “Bagian mana yang menurut kalian sangat lucu?”, bertanya kembali Kebo Arema masih dengan wajah polos.

    “Lucunya adalah tiga ekor cecurut meminta daging segerombolan srigala”, berkata pemimmpin itu yang langsung diiringi gelak tawa semua anak buahnya.

    Terdengar Kebo Arema tertawa sampai perutnya terguncang-guncang membuat Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha tersenyum melihat kelakuan Kebo Arema yang sepertinya tidak mengenal jerih dan takut berhadapan dengan dua puluh orang yang sangat kasar.

    “Kenapa kamu tertawa ?”, bertanya pemimpin itu sepertinya sudah tidak sabaran menghadapi tingkah laku Kebo Arema.

    “Yang kutertawakan adalah penilaian kalian terhadap kami, yang harusnya kalian katakan adalah segerombolan kijang berhadapan dengan tiga ekor harimau penguas hutan rimba raya”, berkata Kebo Arema masih menyisakan derai tawanya yang panjang.

    “Bunuh mereka semua”, berkata pemimpin itu yang langsung dipatuhi oleh orang-orangnya yang terlihat sudah menyebar mengepung Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema.

    Melihat kepungan yang sangat rapat, Mahesa Amping, Ki jaran Waha dan Kebo Arema saling beradu punggung.

    “Habisi mereka !!”, berkata pemimpin itu dengan suara yang keras.

  7. Suasana saat itu memang sangat menegangkan, dua puluh golok panjang tajam berkilat teracung dan bergerak seperti ombak datang menerjang.

    Namun posisi Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema begitu sempit, hanya tujuh orang yang dapat masuk mendahului serangan.

    Tapi apa yang terjadi kemudian ??

    Terbelalak mata pemimpin itu melihat apa yang terjadi, tujuh orang anak buahnya yang terdekat langsung terpental roboh merasakan beberapa tulangnya remuk, sementara itu senjata mereka sudah berpisah terpental kesembarang tempat ketika beradu tangan dengan tiga orang yang semula diremehkannya itu.

    Sisa dari pengeroyok itupun seketika berhenti, semua terkesima atas apa yang telah terjadi menimpa ketujuh kawannya itu.

    “Jangan menjadi gentar, mereka tidak bersejata”, berteriak pemimpin itu mendorong semangat dan keberanian anak buahnya yang dilihatnya menjadi gentar menghadapi ketiga orang yang tidak bersenjata.

    Ternyata teriakan pemimpinnya itu telah memberikan keberanian kembali kepada para pengikutnya itu, maka dengan suara dan teriakan yang bergelora telah mengawali sebuah serbuan yang lebih menghentak lagi datang seperti air bah menerjang ketiga orang yang tidak bersenjata.

    Akibatnya ternyata lebih parah dari sebelumnya, entah dengan cara apa ketujuh orang terlihat sudah langsung roboh tak bergerak langsung pingsan.

    Kembali sisa pengeroyok itu terlihat mundur memberi jarak sengan wajah dan mata terbelalak menyaksikan apa yang dialami oleh ketujuh kawannya itu.

    “Bukankah sudah aku katakan, kalian telah berhadapan dengan tiga ekor harimau penguasa hutan ini”, berkata Kebo Arema sambil bertolak pinggang.

    “jangan menjadi sombong, hadapilah aku”, berkata pemimping itu langsung menerjang kearah Kebo Arema.

    Terlihat Kebo Arema tersenyum menghadapi serangan pemimpin rombongan itu. Sepertinya Kebo Arema ingin bermain-main dengan hanya mengelak dan tidak balas menyerang.

    Melihat serangannya dapat dihindari dengan mudahnya, pemimpin itupun menjadi semakin bernafsu terus melakukan serangan. Namun selalu saja serangan itu dapat dihindari oleh Kebo Arema.

    Sementara itu tiga orang yang ingin mengeroyok Kebo Arema ditahan oleh Mahesa Amping.

    “Biarkan pemimpinmu berkeringat, hadapilah aku”, berkata Mahesa Amping yang telah siap menghadapi ketiga orang itu.

  8. Ketiga orang itu seperti menerima sebuah tantangan, maka dengan senjata yang mengacung keatas siap merobek tubuh Mahesa Amping.

    Tapi nasib mereka sungguh sangat sial hari itu karena berhadapan dengan seorang pemuda yang telah mempunyai ilmu yang sudah sangat mumpuni.

    “berhenti !!”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang terasa menghentak dada.

    Aneh memang aneh !!!

    Ketiga penyerangnya itu sepertinya mengikuti begitu saja perintah Mahesa Amping, mereka seperti patung dalam posisi orang yang siap menyerang.

    Maka dengan mudahnya Mahesa Amping mengambil ketiga golok panjang itu dari siempunya yang masih mematung.

    “Kenapa kalian berhenti ??”, berkata Mahesa Amping menyadarkan ketiga orang penyerangnya yang terkesima melihat senjatanya sudah tidak ada lagi ditangan.

    “Apakah kalian mencari golok-golok ini ?”, berkata Mahesa Amping sambil memperlihatkan tiga buah golok ditangannya.

    Terbelalak ketiga orang itu melihat goloknya telah berpindah tangan.
    Sementara itu Ki jaran Waha yang melihat dua orang sisa gerombolan itu langsung menghampirinya.

    “Kalian telah mendapatkan upah yang sama, mengapa tidak ikut menyerang ?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada kedua orang itu.

    Mendengar pertanyaan Ki Jaran Waha, ternyata mereka menanggapinya sebagai sebuah tantangan.

    “Orang tua renta, jangan menyesal dagingmu akan terkoyak”, berkata salah seorang dari kedua orang itu sambil langsung menebaskan golok panjangnya keleher Ki Jaran Waha diikuti sambaran dari kawannya yang langsung ikut menyerang Ki jaran Waha dengan mengibaskan golok panjangnya membabat kearah pinggang Ki jaran Waha.

    Menghadapi dua serangan yang bersamaan dan mengarah pada tempat yang berbeda tidak membuat Ki Jaran menjadi gentar dan panik.

    Dengan bibir yang terlihat sedikit tersenyum, Ki Jaran Waha membiarkan kedua golok tajam itu menghampirinya. Maka ketika kedua golok tajam itu nyaris sejarak satu lidi dari kulitnya, tiba-tiba saja tubuh Ki Jaran Waha sudah melenting melompat diatas kedua kepala lawannya dan hinggap tepat dibelakang mereka.

    Bukkk !!!!!

    Dua sikut Ki Jaran Waha telah menghantam dua pinggang penyerangnya.

  9. Akibatnya dua orang penyerangnya tersungkur maju kedepan mencium bumi dengan jidatnya, seketika kedua orang itu tidak mampu bangkit berdiri merasakan tulang rusuknya remuk dan patah.

    Kembali kepada tiga orang penyerang Mahesa Amping yang tengah terbelalak melihat senjatanya yang sudah tidak ada lagi ditangannya.

    “Ilmu sihir !”, berkata salah seorang diantaranya.

    “Aku masih bermurah hati tidak menyihir kalian menjadi kerbau bule”, berkata Mahesa Amping dengan penuh senyum.

    Ternyata gurauan Mahesa Amping dianggap sungguhan oleh ketiga orang itu, dalam angan mereka terbayang seekor kebo bule yang dikeramatkan ditanah kelahiran mereka di Tanah mandar.

    “Ampun…..jangan sihir kami jadi kerbau bule”, berkata ketiga orang itu bersamaan.

    “Bangkitlah, aku tidak jadi menyihir kalian”, berkata Mahesa Amping kepada ketiga orang itu.

    “Terima kasih”, berkata ketiganya bersamaan.

    “Bantu aku mengikat semua kawan-kawanmu”, berkata Mahesa Amping menyuruh ketiga orang itu membantunya mengikat semua kawan-kawannya yang sudah tidak berdaya. Terakhir Mahesa Amping mengikat mereka bertiga tanpa ada usaha perlawanan sedikitpun.

    Sementara itu Kebo Arema terlihat masih ingin bermain-main. Wajah dan tubuh pemimpin itu sudah bermandi basah keringat.

    Semangat pemimpin itu sepertinya telah menjadi surut manakala melihat semua anak buahnya sudah dalam keadaan terikat ditambah lagi dengan hampir seluruh tenaganya telah ditumpahkan namun belum satupun serangannya dapat mengenai tubuh lawannya itu yang hanya terus menghindar tidak pernah balas menyerang.

    “Kubunuh kau !!”, berkata pemimpin itu menghentakkan semangatnya berharap serangannya ini dapat menembus tubuh lawan.

    Tapi Kebo Arema dapat membaca bahwa tenaga yang dikerahkan lawannya itu sudah begitu lemah dan lamban. Maka sambil mengegoskan pinggangnya kekanan menghindari tusukan golok lawan yang panjang dan tajam, sebuah tangan Kebo Arema yang sudah puas bermain-main itu telah melayang menyambar tulang rahang lawannya.

    Terlihat dua buah gigi meloncat dari mulut pemimpin itu diikuti bercak darah yang ikut keluar.

    Pemimpin itu terlihat limbung terhuyung tidak mampu lagi menguasai dirinya jatuh terlentang diatas bumi.

    “Kita masih memerlukannya hidup-hidup”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha yang berdiri sebagai penonton.

  10. Tidak lama berselang, pimpinan sekelompok orang upahan itu telah sadarkan diri.

    “Aku tahu pikiranmu sudah mulai bekerja, maka dengarlah baik-baik. Kami tidak pernah melepas seorang korbanpun untuk hidup. Hari ini kami telah bermurah hati kepadamu, hanya dengan syarat kamu dapat diajak bekerja sama”, berkata Kebo Arema kepada orang itu dengan nada mengancam.

    Mendengar suara Kebo Arema yang berat dan bersungguh-sungguh itu, maka orang itu berpikir bahwa Kebo Arema tidak sekedar mengancam.

    “Kerja sama apa yang kalian inginkan”, berkata orang itu pasrah.
    “Berlakulah sepertinya kalian tidak pernah bertemu dengan kami ketika penghubungmu datang”, berkata Kebo Arema memberikan sebuah persyaratan kerjasama dari orang itu.

    “Aku akan melakukannya”, berkata orang itu pasrah.
    Maka satu persatu orang-orang upahan itu dalam keadan terikat telah dibawa masuk kedalam goa. Sementara itu hanya tinggal pemimpin itu saja yang tinggal diluar ditemani Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan
    Kebo Arema menunggu seorang penghubung yang akan memilih tugas yang akan mereka lakukan.

    Sementara itu senja yang bening redup memasuki celah daun dan batang dihutan itu, kegelapan semakin merambat memenuhi hutan itu, meski matahari masih mengintip diujung bumi jauh diluar hutan.

    Terlihat Mahesa Amping telah mengumpulkan ranting-ranting kering untuk membuat perapian ketika melihat suasana didalam hutan semakin menjadi gelap.

    “Apakah penghubungmu itu akan datang hari ini ?”, bertanya Kebo Arema kepada orang itu.

    “Mereka telah berjanji memberikan separuh bayaran di hutan ini”, berkata orang itu memberikan penegasan untuk tidak dianggap berbohong.

    Dan malampun akhirnya perlahan sudah mulai merayapi isi hutan dengan kegelapan dan kesenyapannya. Cahaya perapian saja yang dapat menerangi wajah-wajah mereka yang masih terus menunggu mengikis sedikit demi sedikit kesabaran didalam hati mereka.

    Beruntunglah, kesabaran mereka masih tersisa manakala terdengar suara belukar tergesek oleh gerak dua ekor kuda yang semakin mendekat.

    Terlihat dari kegelapan malam muncul dua sosok tubuh diatas punggung kuda menghampiri mereka.

    “Angin badai diatas lautan”, berkata salah seorang dari mereka ketika sudah mendekat mengucapkan kata sandi.

    “Nelayan pulang bertangan hampa”, berkata pemimpin itu membalas kata sandi.

  11. “Engkaukah pinpinan kelompok ini”, bertanya orang itu masih diatas kudanya kepada pemimpin itu.

    “Benar akulah pemimpinnya”, berkata pemimpin itu sambil melirik wajah Kebo Arema penuh rasa takut. Untungnya wajahnya yang pucat itu terhalang cahaya perapian yang terus bergoyong tertiup angin.

    “Aku tidak melihat orang-orangmu”, berkata orang yang masih diatas kuda itu menyapu pandangannya berkeliling.

    “Orang-orangku sedang beristirahat didalam goa, kami sedang menjaga kuda-kuda dari binatang buas”, berkata pemimpin itu sambil melirik kembali kearah Kebo Arema yang dengan tegangnya menatap wajah pemimpin itu.

    Kedua orang yang masih duduk diatas kudanya terlihat melihat beberapa kuda yang tengah ditambatkan di beberapa tangkai pohon. Nampaknya mempercayai ucapan pemimmpin itu dan tidak mencurigainya.

    “Terimalah separuh bayaran dari kami, sisanya akan kami bayar impas setelah kalian bekerja”, berkata salah seorang yang berkuda itu sambil melemparkan sekampil kain berisi pembayaran kepada pemimpin itu.
    Pemimpin itu sebentar membuka kampil itu dan menutupnya lagi setelah meyakini bahwa isi kampil itu benar berupa separuh upah sesuai perjanjian mereka.

    “Besok kami akan melaksanakannya”, berkata pemimpin itu kepada dua orang diatas kuda.

    “jangan sekali-kali menipu kami”, berkata salah seorang dengan nada suara yang terkesan berat dan angker sambil langsung membalikkan tubuh kudanya.

    Diiringi tatapan mata Mahesa Amping, Ki Jaran Waha, Kebo Arema dan pemimpin itu, terlihat dua orang berkuda itu melangkah menjauh dan menghilang dikegelapan.

    “Mulai saat ini kamu dan orang-orangmu ada dibawah pimpinanku, aku akan menambah bayaran melebihi dari yang akan kamu terima”, berkata Kebo Arema kepada pemimpin itu.

    “Nyawaku dan nyawa orang-orangku berada ditangan tuan, sementara tawaran tuan melebihi dari apa yang kuperkirakan”, berkata pemimpin itu seperti menemukan kembali nyawanya yang hampir terlepas. Wajahnya terlihat menampakkan kegembiraan.

    “Kita akan melakukan keonaran dan perampokan”, berkata Kebo Arema kepada orang itu.

    “Melakukan hal yang sama ?”bertanya orang itu tidak mengerti

    “Kamu benar, kita melakukan hal yang sama, bedanya untuk siapa pencitraan itu”, berkata Kebo arema kepada orang itu yang langsung tanggap apa yang dimaksudkannya.

    “Nampaknya tugasku mengumpulkan lima puluh ekor kuda tidak akan berkurang”, berkata Ki jaran Waha yang ikut menangkap arah rencana dari Kebo Arema.

  12. Banjiiiiiiirrrrr……………….
    Kamsiaaaa…………..!!

  13. “Udara diluar sangat dingin”, berkata Mahesa Amping sambil mengajak semuanya untuk masuk kembali kedalam goa.

    Setalah masuk kedalam goa, Mahesa Amping telah mendatangi satu persatu orang-orang upahan itu yang masih dalam keadaan terikat dibantu oleh pemimpin mereka membuka ikatan tali mereka. Mahesa Amping memeriksa beberapa orang yang terluka ringan, mengobatinya dengan beberapa ramuan yang dibawanya.

    “Besok kalian akan sehat kembali, beristirahatlah malam ini”, berkata Mahesa Amping kepada orang-orang itu yang sudah mengerti lewat penjelasan pemimpin mereka, siapa yang menjadi tuan mereka.

    Dan malampun terus berlalu perlahan merayapi waktu demi waktu begitu lambatnya. Beberapa orang sudah terlihat pulas tertidur,

    sementara lainnya sepertinya belum terbiasa berada didalam sebuah goa yang pengap. Namun akhirnya semuanya sudah tidak terlihat geraknya lagi, semuanya sudah tertidur dengan pulasnya melepaskan segala kepenatan dan kelelahan tubuh setelah seharian melakukan perjalanan dan juga………pertempuran.

    Dan akhirnya sang malam pergi perlahan membawa kegelapan kebelahan bumi lainnya, yang ditandai dengan suara pagi dari ayam hutan jantan yang terdengar sayup dari tempat yang begitu jauh.

    Bersamaan dengan berjalannya cahaya pagi yang bersinar merambati tanah rumput yang basah, mulailah hutan itu diramaikan oleh kicau burung yang terbang dari dahan kedahan mencari makanan sambil menghangatkan badan setelah semalaman terkepung hawa dingin yang mencekam.

    “Siapa namamu agar aku mudah memanggilmu”, berkata Kebo Arema kepada pimpinan gerombolan itu yang terlihat sudah terbangun diawal pagi itu

    “Namuku Badrun”, berkata orang itu kepada Kebo Arema.

    “Orang-orangmu masih perlu beristirahat, menjelang senja baru kita mulai melakukan gerakan kita”, berkata Kebo Arema kepada orang itu yang menyebutkan dirinya bernama Badrun.

    Ternyata hampir semua orang-orang itu lebih memilih beristirahat diluar goa. Maka pagi itu terlihat kesibukan yang cukup lumayan,beberapa orang telah menyiapkan sarapan pagi untuk kebutuhan mereka sendiri.

    Sementara itu didalam goa terlihat Mahesa Amping, Kebo Arema dan Ki Jaran Waha masih sedang bercakap-cakap membicarakan beberapa hal.

    “Pasukan baruku ini akan bergerak mulai malam ini, siang hari kami mencari tempat persembunyian dan mencari sasaran dimalam harinya”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha.

    “Dimana aku dapat menemuimu ?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping

    “Pekan depan kupastikan kita bertemu di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping memastikan.

    • “Dimana akau dapat menemuimu ?” bertanya Ki Jaran Waha kepada Mahisa Amping

      “Nanti, sebentar lagi, tutugane alias lanjutane akan segera saya unggah….!!!!!” teriak Ki Dhalang Kompor dengan penuh semangat.

      • “Setuju sekali….!!!!” sahut Ki Arga dengan antusias.

        • “KAMSIA” cantrik baris belakang serentak meneriak-ken

  14. perjalanan Cantrik rasa2nya tertinggal ter-amat jauh, namun cantrik
    “TETAP SEMANGAT” mengikuti pagelaran pak Dhalang
    Mahesa Kompor.

    sugeng enjang sadaya kadang padepokan, sugeng malam minggon

  15. Pekan depan………..ternyata bukan di cerita ?

  16. Selamat petank kadank sedoyo

    Baru pulang ngelanglang kerumah kerabat, dapat oleh-oleh tiga burung prenjak.

    Ciattt………, mandi dulu ach

  17. Ketika matahari sudah mulai bergerak naik, Mahesa Amping dan Kebo Arema mengajak Badrun keluar hutan untuk melakukan pengintaian dan memilih padukuhan mana yang akan menjadi sasaran mereka.

    Akhirnya mereka menemui sebuah padukuhan yang paling baik, sebuah padukuhan kecil yang sering dilalui antara perjalanan dari Bandar beleleng menuju Pura Besakih.

    “Apapun yang terjadi di Padukuhan ini akan cepat tersebar seperti angin”, berkata Kebo Arema sambil mengamati beberapa rumah sepanjang jalan padukuhan disiang itu yang tidak begitu ramai.

    “Rumah yang besar itu mungkin milik Ki Buyut”, berkata Badrun mengamati sebuah rumah yang paling luas diantara beberapa rumah yang ada.

    “Halaman rumah itu cukup baik untuk mengumpulkan para penduduknya”, berkata Kebo Arema membuat sebuah perencanaan.

    “Ternyata Paman Kebo Arema berbakat sebagai pemimpin perampok sesungguhnya”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang ditanggapi dengan senyum penuh makna.

    “Beruntunglah bahwa jiwa kita selalu dipenuhi oleh kepuasan bathin, banyak orang berilmu tinggi yang gersang jiwanya dan terjerumus mencari kepuasan bathin di dunia ini, terjadilah keangkaraan, penindasan manusia atas manusia”, berkata Kebo Arema seperti kepada dirinya sendiri.

    Badrun yang mendengar percakapan itu terlihat hanya menunduk, tidak tahu dan entah apa yang tengah dipikirkan olehnya.

    “Kurasa pengamatan kita sudah lebih dari cukup”, berkata Kebo Arema mengajak Badrun dan Mahesa Amping kembali ke dalam hutan tempat kediaman Ki Jaran Waha.

    Ketika sampai di hutan didepan goa, ternyata Ki Jaran Waha telah menyiapkan dua ekor kuda untuk Mahesa Amping dan Kebo Arema.

    “Kuda-kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping menilai dua ekor yang disiapkan Ki Jaran.

    “Aku tahu seleramu”, berkata Ki Jarn Waha merasa senang dengan penilaian Mahesa Amping.

    Sementara itu senja di hutan itu telah membuat hutan itu menjadi mulai gelap dan dingin.

    “Kita menunggu saat tengah malam”, berkata Kebo Arema kepada Badrun

    Terlihat Badrun tengah menyampaikan kepada orang-orangnya bahwa nanti malam mereka harus sudah mempersiapkan diri.

    Dan akhirnya ketika malam sudah mulai merangkak merambah hutan, terlihat dua puluh dua ekor kuda tengah berjalan meninggalkan hutan didepan goa itu.

    “Kutunggu dirimu di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang mengiringi kepergian mereka dengan melambaikan tangannya yang dibalas pula dengan lambaian tangan.

    • Kamsiaaaa pak Dhalang.

      • ayo para kanca……………..
        mumpung padhang rembulane,
        pada ngumpul neng Pura Indrakila,
        ndhisiki Mas Amping.

  18. “Mereka tidak kembali ke hutan ini lagi ?”, bertanya pemuda yang menemani Ki Jaran Waha ketika orang-orang berkuda itu menghilang dikegelapan.

    “Mereka akan terus bergerak, sebagaimana sekelompok srigala pengembara”, berkata Ki Jaran kepada pemuda itu.

    Sementara itu Kebo Arema dan gerombolannya terlihat telah keluar dari hutan dan perlahan telah mendekati regol gerbang sebuah padukuhan kecil yang tadi siang sudah mereka amati.

    “Tunggu kami dan bersembunyilah dikegelapan”, berkata Kebo Arema yang telah melompat dari kudanya bersama Mahesa Amping.

    “jagalah kuda-kuda kami”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang diantaranya.

    “Hanya ada dua orang peronda”, berkata Mahesa Amping yang telah menyelinap dikegelapan bersama Kebo Arema.

    “Saatnya bercadar”, berkata Kebo Arema sambil memberi isyarat.
    Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema telah menutup sebagian wajahnya dengan sebuah kain cadar hitam menyisakan rambut dan kedua matanya.

    Terlihat Mahesa Amping berendap mendekati gardu ronda itu.

    Bukkk….bukkkkkkk……,

    Dua buah pukulan dengan tenaga yang tidak penuh tepat bersarang dikedua tengkuk peronda itu yang langsung jatuh tertelungkup. Dengan sebuah tali yang telah dipersiapkan Mahesa Amping mengikat tubuh kedua peronda itu.

    Melihat Mahesa Amping telah menyelesaikan tugasnya, Kebo Arema telah keluar dari persembunyiannya dan langsung membunyikan kentongan bambu yang tergantung di gardu ronda itu dengan nada panjang sebagai tanda agar semua warga berkumpul.

    “Mari kita menjemput Ki Buyut”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    Ternyata bunyi kentongan bambu itu telah didengar oleh Ki Buyut dan keluarganya.

    Ternyata bunyi kentongan nada panjang itu juga telah didengar oleh hampir semua warganya yang baru saja sebentar memejamkan matanya.

    Ternyata bunyi kentongan nada panjang itu adalah sebuah tanda untuk Badrun dan anak buahnya masuk kepadukuhan kecil itu.

    “Ada apa yang terjadi ?”, berkata Ki Buyut kepada seorang pembantunya yang telah turun dari anak tangga pendapa dan telah berdiri di halaman rumahnya.

  19. “Tidak terjadi apapun selama Ki Buyut dapat diajak bekerja sama”, berkata seseorang dengan wajah tertutup cadar hitam sambil menempelkan sebuah golok panjang dileher Ki Buyut.

    Bukan main kagetnya Ki Buyut merasakan kulit lehernya tertekan sebuah benda tajam dari seorang bercadar hitam yang telah datang begitu cepat dan langsung menempelkan senjatanya.

    Nasib pembantunya ternyata mendapatkan hal sama, telah ditempelkan sebuah senjata tajam dilehernya oleh seorang yang bercadar hitam lainnya.

    “jangan berbuat macam-macam”, berkata orang itu dengan suara yang mengancam.”Ikat tuanmu dengan tali ini”, berkata orang itu yang ternyata adalah Mahesa Amping

    “Maaf Ki Buyut”, berkata pembantu itu dengan tangan gemetar mengikat tubuh Ki Buyut.

    Setelah melihat tubuh Ki Buyut terikat, maka Mahesa Amping segera mengikat pembantu itu yang masih gemetar penuh ketakutan.

    Sementara itu beberapa lelaki telah keluar dari rumahnya, setengah berlari mereka menuju rumah Ki Buyut. Namun belum sempat sampai di rumah Ki Buyut sekelompok orang berkuda telah mengepungnya.

    “Jangan coba melawan !!”, berkata Badrun dengan suaranya yang keras dan parau sambil mengangkat tinggi-tinggi golok panjangnya yang berkilau terlihat bersinar dibawah cahaya malam.

    Beberapa lelaki yang tanpa senjata itu bukan main kaget tergetar penuh rasa takut yang sangat melihat pasukan berkuda tengah mengepungnya, terutama melihat senjata yang telanjang mengancam mereka.

    Salah seorang berkuda itu turun dari kudanya langsung mengikat beberapa lelaki yang pucat ketakutan tanpa susah payah dan perlawanan dengan satu ikatan tali.

    “Bawa mereka ke rumah Ki Buyut”, berkata Badrun kepada salah seorang anak buahnya sambil memberi tanda kepada anak buahnya yang lain untuk mengikutinya mencari warga yang telah keluar dari rumahnya.

    Maka dalam waktu yang begitu singkat, puluhan lelaki warga Padukuhan itu telah dapat dilumpuhkan dalam keadaan terikat dihalaman rumah Ki Buyut.

    “Ki Buyut !!”, berkata Kebo Arema dengan wajah masih tertutup cadar hitam kepada ki Buyut sambil menempelkan golok panjangnya di leher Ki Buyut.

    Ki Buyut yang terlihat sudah mulai tua itu menjadi gemetaran merasakan dinginnya benda logam tajam menempel di kulit lehernya, merasakan nyawanya akan lepas meninggalkan tubuhnya.

    “Masuklah kesemua rumah wargamu, bawalah semua barang berharga yang kau temui ke halaman ini”, berkata Kebo Arema dengan kata dan nada penuh ancaman.

    Terlihat dengan wajah pucat pasi Ki Buyut menganggukkan kepalanya tanda bersedia.

    • Kamsiaaaaaa………….

      • kamsiaaaaaaaaaaaaaaaa,
        menginthil Ki Arga,
        mendhisiki pak Satpam.

  20. tong-tong-tong-tongggggggg……!!!!!

    Terlihat Kangmas Gembleh memukul kentongan bambu di gardu ronda membangunkan semua warganya.

    “Ada apa sich, lagi bangun ditiduran, ech salah maksudnya lagi tidurin dibangunan”, berkata Pak Satpam sambil memakai seragamnya yang lecek belon disetrika.

    • “Ada kiriman hujan dari bogor kaleeei”, berkata Ki Arga sambil mengencangkan celana panjangnya yang belum diresleting

      • “Paling-paling seperti kemarin, Kang Mas Gembleh cuma iseng-iseng kesal sendirian ronda”, berkata Ki Budi P sambil mengambil doble sticknya yang sering dibanggakannya kepada anak-anaknnya bahwa dirinya pernah punya simpenan sabuk coklat.

        • “pembagian pertamax gratis”, berkata Ki Gundul yang punya merci taun tujuh puluhan

          • Kaammmmsssiiiiiiaaaaaa.

  21. Belum sampai Indrakila……ternyata sudah ketemu lagi, Betul-betul tepat janjinya ki Dalang. Matur suwun,

  22. “Ingat, aku dapat membantai semua wargamu dan membakar padukuhan ini. Jadi bekerja samalah dengan baik”, berkata Kebo Arema dengan suara yang keren membuat Ki Buyut menambah rasa takutnya.

    Maka bersama pembantunya, terlihat Ki Buyut dan pembantunya telah memasuki rumah demi rumah untuk mengambil semua barang berharga yang dimiliki oleh warganya.

    “Ingat Nyi Made, suamimu dibawah ancaman para gerombolan perampok”, berkata Ki Buyut menjelaskan kepada seorang wanita disebuah rumah yang dimasuki.

    “Kalung emas ini warisan nenekku, hanya ini barang berharga yang kami miliki”, berkata wanita itu dengan wajah penuh cemas memikirkan suaminya yang tengah disandera di halaman muka rumah Ki Buyut.

    “Demi suamimu dan semua warga”, berkata Ki Buyut kepada wanita itu yang melepaskan kalum emasnya yang masih melingkar dilehernya.

    “jangan keluar, aku khawatir gerombolan itu dapat berbuat lain bila melihatmu”, berkata Ki Buyut mengingatkan wanita itu yang memang masih sangat muda.

    Demikianlah, Ki Buyut dan pembantunya telah kembali kehalaman rumahnya menyerahkan barang-barang berharga milik warganya, yang dipikirkan adalah keselamatan dirinya dan semua warga yang tengah disandera.

    “Kamu belum masuk kerumahmu sendiri”, berkata Kebo Arema ketika menerima barang-barang berharga dari Ki Buyut.

    “Aku akan mengambilnya”, berkata Ki Buyut dengan wajah penuh ketakutan melangkah kedalam rumahnya sendiri.

    Ternyata kali ini langkah Ki Buyut tersandung oleh istrinya sendiri.

    “Aku tidak akan memberikan cincin bermata mutiara ini, barang yang sudah lama kuimpikan ketika masih gadis untuk memilikinya”, berkata Nyi Buyut merasa keberatan menyerahkan cincinnya.

    “Bila gerombolan itu masuk dan melihat masih ada cincin ditanganmu, urusan akan jadi panjang”, berkata Ki Buyut mengingatkan istrinya.

    “Seandainya aku ini lelaki, aku akan melawannya”, berkata Nyi Buyut kepada Ki Buyut sambil dengan wajah masam melepaskan cincin yang sangat disayanginya itu.

    “Tidak cukup keberanian, kita harus juga memikirkan kekuatan kita”, berkata Ki Buyut yang merasa tersinggung dengan ucapan istrinya yang menyinggung sikap kelelakiannya.

    “Bukankah kita lebih banyak dari mereka ?”, berkata kembali Nyi Buyut dengan wajah cemberut.

    “Banyak tapi tidak ada keberanian ”, berkata Ki Buyut berusaha menyanggah perkataan istrinya.

  23. “Keberanian kalian hanya saat berjudi di Tajen”, berkata Nyi Buyut sambil mencebirkan bibirnya.

    “Aku tidak mau bersanggah lagi”, berkata Ki Buyut berbalik badan tidak lagi melayani perkataan istrinya yang mengkerdilkan dirinya.

    Maka tidak lama kemudia Ki Buyut sudah keluar lagi sambil membawa barang-barang berharga miliknya.

    “Mengapa kamu lama sekali keluar dari rumahmu sendiri ?”, berkata Kebo Arema kepada Ki Buyut yang tengah menyerahkan barang berharga milknya.

    “Ada beberapa barang yang kusimpan diatas wuwungan”, berkata Ki Buyut menjelaskan sengaja tidak menyinggung hal yang sebenarnya tentang istrinya yang keras.

    “Aku akan memeriksa kedalam, mungkin masih ada yang kamu sembunyikan”, berkata Kebo Arema yang bersikap akan masuk kerumah Ki Buyut.

    “Percayalah, semua sudah kukeluarkan”, berkata Ki Buyut yang takut gerombolan itu masuk kerumahnya berbuat hal-hal lain terhadap keluarganya.

    “Untuk saat ini aku mempercayaimu”, berkata Kebo Arema kepada Ki Buyut yang diam-diam merasa kasihan melihat wajah Ki Buyut yang demikian pucatnya.

    Sementara itu salah seorang anak buah Badrun terlihat sudah membawa dua ekor kuda milik Kebo Arema.

    “Dengarlah semua”, berkata Kebo Arema dengan suara yang bergema diatas punggung kudanya.

    “Apa yang kami lakukan ini adalah untuk perjuangan Raja Adidewalancana Penguasa Pura Besakih menghadapi para prajurit Singasari yang akan menguasai seluruh kehidupan kita”, berkata Kebo Arema kepada semua lelaki di halaman rumah Ki Buyut.

    Terlihat Kebo Arema memberi tanda kepada gerombolannya untuk meninggalkan halaman rumah Ki Buyut.

    Diringi puluhan mata warga padukuhan yang masih terikat, debu mengepul dibelakang kuda-kuda yang melangkah berlari keluar dari halaman rumah Ki Buyut itu dan menghilang ditelan kegelapan malam.

    Maka pada keesokan harinya, kejadian di Padukuhan itu nyaris menjadi perbincangan semua orang, baik diladang, dipasar dan di kedai. Berita perampokan itu sendiri seperti angin terbawa terbang kesegala arah, menyebar hampir kepelosok Balidwipa, jauh dari tempat kejadiannya sendiri.

    “Teganya Raja Adidewalancana mengambil milik warga yang sudah banyak dipenuhi berbagai tula”, berkata seorang kepada kawannya disebuah kedai.

    “Itulah tanda-tanda akhir jaman, penguasa tidak lagi memikirkan penderitaan para kawula, yang diutamakan adalah kelanggengan, kejayaan dirinya sendiri”, berkata kawannya menimpali.

    • “teganya……teganya…….teganya…….” kata Ki Buyut.

      “Kamsiiiiaaaaaaaa…..!!!” teriak para cantrik.

      • “TAMBAH LAGI…..LAGI-LAGI dan LAGI”
        kata kanca2 cantrik di belakang

        • pak DHALANGpun tersenyum…..“mau LAGI…lagi, boleh”

          cuma satu syarat-nya :
          “satu slop kokor, semoci ipok, sepiring pohong goreng”

          • diTUNGGU secePATnya,
            kata si panjak kendang sebelah
            pak Dhalang-e,

          • akuuuuurrrrrrrrrr

  24. Sementara itu disudut kedai, terlihat dua orang yang sedang mencuri dengar dua orang yang berbicara mengenai perampokan yang mengatasnamakan perjuangan Raja Adidewalancana menghadapi para prajurit Singasari.

    “Perang pencitraan telah kita mulai”, berkata Kebo Arema perlahan kepada Mahesa Amping.

    “Dan nampaknya angin telah membawa berita itu jauh dari tempatnya”, berkata Mahesa Amping

    “Dibeberapa padukuhan telah menyiagakan dirinya”, berkata Kebo Arema.

    “Akan menyulitkan kita, benturan tidak dapat dihindarkan”, berkata Mahesa Amping yang merasa khawatir akan ada korban dari orang-orang padukuhan.

    “Kita harus mencari celah agar tidak ada korban”, berkata Kebo Arema dengan wajah tenang, sepertinya dikepalanya sudah mengendap sebuah rencana kecerdikannya yang lain.

    “Aku melihat Paman Kebo Arema sudah menemukan celah itu”, berkata Mahesa Amping yang melihat mata dan bibir Kebo Arema penuh senyum.

    “Aku telah menemukannya, mari kita bicarakan di tempat persembunyian kita”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil mengajak Mahesa Amping keluar dari kedai kembali kepersembunyiannya.

    Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema telah keluar dari kedai berjalan kearah bulakan yang sangat sepi. Setelah meyakini diri tidak ada yang mengikuti mereka, terlihat Kebo Arema dan Mahesa Amping melangkah kearah hutan kecil yang terhalang sebuah rawa galam. Karena rawa galam itulah maka jarang sekali orang datang ke hutan kecil itu. Disitulah gerombolan Kebo Arema menyembunyikan dirinya.

    Siang itu panas matahari begitu terik seperti membakar kulit, tapi keadaan didalam hutan itu sinar matahari tertahan daun dan ranting pohon yang tumbuh begitu kerapnya. Suasana didalam hutan itu begitu teduh, udara diaromai wangi tanah basah hutan yang gembur dan subur yang terbawa oleh semilir angin bertiup memberi kesegaran siapapun yang berada didalamnya.

    “Persiapkan orang-orangmu, malam ini kita kembali beraksi”, berkata Kebo Arema kepada Badrun sambil menyampaikan beberapa gambaran yang dapat mereka lakukan.

    “Yang harus diingat adalah letak dua orang saudagar kaya di Padukuhan itu dan rumah Ki Buyut itu sendiri yang pasti punya simpanan harta yang cukup”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh senyum kepuasan merasa yakin rencananya dapat berhasil dengan gemilang.

    “Sebuah tipu daya yang cemerlang”, berkata Mahesa Amping setelah mendengar penjabaran dari Kebo Arema dengan rinci sekali.

    “Saatnya raja srigala untuk beristirahat siang”, berkata Kebo Arema sambil mencari tempat yang cukup baik untuk merebahkan dirinya disebuah batu besar yang datar dibawah sebuah pohon kayu besar.

    Dan seiring waktu berlalu, matahari diatas hutan itu perlahan merunduk menyongsong wajah senja.

    • Kemana=kemana-kemana

      Terdengar nyi sinden yang berpupur agak tebal melantunkan suaranya yang cukup lembut mendayu-dayu

      • Matur suwuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun

  25. Berita tentang perampokan yang mengatasnamakan perjuangan Raja Adidewalancana memang sudah sampai di Padukuhan Padang Bulia, sebuah padukuhan induk di Kademangan Padang Bulia yang cukup ramai.

    Sore itu meskipun masih jauh saat malam, dua buah gardu ronda yang ada di Padukuhan itu sudah diramaikan beberapa lelaki dan anak-anak muda. Berita tentang sebuah Padukuhan yang telah dirampok telah mendorong kewaspadaan mereka. Namun bukan Cuma itu yang mendorong mereka bersemangat memenuhi gardu ronda, ternyata andil dua orang saudagar kaya di Padukuhan itu turut mendukung dimana hampir sebagian warganya menjadi pekerja di tempat dua saudagar kaya itu.

    “Ternyata nyaman menjadi orang yang tidak punya”, berkata seorang lelaki yang duduk dipanggung gardu ronda kepada kawan-kawannya
    “Kenapa kamu bisa berkata demikian ?”, bertanya salah seorang kawannya.

    “Buktinya aku tidak merasa takut apapun bila para perampok itu datang ke Padukuhan ini, apa yang kutakutkan, aku tidak punya harta apapun selain selembar pakaian ini”, berkata lelaki itu menjelaskan.
    Terlihat beberapa kawannya membenarkan perkataan lelaki itu.

    “Nyaman apanya bila saat paceklik kita tidak punya persediaan apapun”, berkata salah seorang kawannya yang memang senang berkata lain.

    Ternyata ucapan salah seorang yang terakhir ini juga dibenarkan oleh beberapa orang yang ternyata termasuk golongan miskin pendapat yang mudah terombang ambing oleh berbagai pendapat orang.

    Akhirnya pembicaraanpun menjadi semakin ramai hanya mengenai dua pendapat yang berbeda antara nyaman dan tidak nyamannya menjadi orang miskin.

    Namun pembicaraan merekapun terhenti manakala datang kiriman makanan dari salah seorang saudagar kaya.

    “Nanti malam kami akan mengirim panganan lagi, jadi jangan takut kekurangan”, berkata seorang lelaki yang membawa ubi rebus dua bakul besar bersama dua ceret wedang.

    Terlihat belum lagi dua buah bakul besar itu mandeg di atas papan kayu gardu ronda, beberapa tangan sudah berebut mengambil ubi rebus yang masih hangat itu.

    “Belum tengah malam panganan sudah habis”, berkata seorang yang mendapatkan isi bakul menyisakan dua buah ubi rebus.

    “Habisi saja, nanti malam ceritanya lain lagi”, berkata salah seorang yang tengah memakan ubi rebus yang kedua.

    Semua orang sepertinya membenarkan ucapan terakhir itu, nanti malam memang lain cerita karena akan datang kiriman lagi.

  26. Sementara itu, matahari di atas Padukuhan Padang Bulia ternyata sudah begitu lelah, cahayanya sudah semakin memudar dan akhirnya redup diujung batas cakrawala.

    Dan langit malampun perlahan datang menyelimuti bumi, merabunkan setiap pandangan menjadi tersamar yang berujung kepada kegelapan yang semakin merata.

    Perlahan malam telah datang membekap bumi dalam gelap dan kesenyapan yang semakin sunyi.

    Dalam warna malam yang samar, terlihat segerombolan orang berkuda tengah keluar dari sebuah hutan. Terlihat semakin jelas ketika mereka berada diatas tanah rawa galam yang berair dangkal.

    Ternyata mereka mengarah kepadukuhan Padang Bulia.

    Ketika langkah kaki kuda mereka telah mendekati Padukuhan Bulia, mereka berpencar menjadi tiga kelompok. Masing-masing berjalan mengarah tempat yang berbeda.

    Ternyata tiga kelompok yang berpisah itu tidak satupun yang datang lewat regol depan Padukuhan Padang Bulia, mereka terlihat masuk lewat arah lambung Padukuhan Padang Bulia disisi yang berbeda.

    Terlihat satu kelompok telah masuk disisi ujung Padukuhan Padang Bulia, sementara dua kelompok lainnya bersembunyi di kegelapan malam, disemak-semak yang tinggi, dibeberapa rumpun bambu yang kerap.

    “Singkirkan semua penghuninya keluar rumah”, berkata Badrun yang ternyata menjadi pimpinan kelompok yang telah masuk terlebih dahulu lewat sisi ujung Padukuhan itu.

    Terlihat sepuluh orang telah turun dari kudanya dan berendap mendekati dua buah rumah yang terletak diujung Padukuhan.

    “Jangan sakiti kami”, teriak seorang wanita yang penuh ketakutan melihat lima orang berwajah beringas sudah masuk lewat pintu butulan yang berhasil mereka dobrak.

    “Bawalah semua yang ada dirumah ini, kami akan membakarnya”, berkata Badrun dengan mengacungkan golok panjangnya dihadapan wanita yang menangis penuh ketakutan.

    Mendengar bahwa rumahnya akan dibakar, tanpa berpikir panjang lagi wanita itu membangunkan dua orang anaknya yang masih kecil.

    “Mari kita keluar, rumah kita akan dibakar”, berkata wanta itu mengapit kedua anaknya setengah berlari keluar rumah.

    “Tetaplah disini”, berkata Badrun sambil mengancam wanita itu untuk tidak kemana-mana diam dihalaman muka rumahnya.

    Dirumah yang lain, lima orang anak buah Badrun telah berbuat yang sama mengeluarkan penghuni rumahnya.

  27. langsung baca rontal gressss, … terima kasih ki, ….

    • Selamat datang Ki Sukasrana,

  28. Tidak lama kemudia sudah terlihat lidah api mulai menjilati kayu-kayu bagian rumah dan akhirnya menyelinuti seluruh bangunan rumah dengan lidahnya yang merah membumbung tinggi.

    Bersamaan dengan itu sepuluh orang berkuda sudah tidak terlihat lagi menghilang dikegelapan malam.

    “Kebakaran !!!!”, teriak seorng peronda yang melihat cahaya merah diujung Padukuhan.

    Maka semua mata tertuju keujung Padukuhan yang berwarna terang menyala merah. Tanpa berpikir apapun segera mereka berlari kearah sinar merah diujung Padukuhan.

    “cari air, kita harus memadamkannya”, berkata seorng lelaki yang ternyata adalah pemilik rumah itu sendiri yang meninggalkan istri dan anaknya ikut meronda.

    Maka terlihatlah kesibukan yang luar biasa dari semua orang lelaki untuk memadamkan dua buah rumah diujung Padukuhan itu.

    Sementara itu disalah satu rumah seorang saudagar kaya di Padukuhan Padang Bulia, dua orang penjaga rumah telah mendengar keributan orang-orang yang berlari sambil berteriak ada kebakaran.

    “Ada kebakaran diujung Padukuhan”, berkata salah seorang penjaga kepada saudagar yang telah ikut keluar.

    “Biarkan saja, tetaplah disini”, berkata saudagar itu melarang dua orang penjaganya untuk ikut membantu memadamkan kebakaran.

    Kedua orang penjaga itu terlihat serba salah, dihati mereka ada keinginan untuk turun membantu.

    Namun perasaan itu hanya sebentar mengendap di hati dua penjaga itu, karena tiba-tiba saja entah dari mana datangnya muncul dari kegelapan malam sesosok tubuh memakai cadar hitam menutupi sebagian wajahnya.

    “Kenapa kalian tidak keluar rumah membantu tetanggamu yang kebakaran ?”, berkata orang itu dengan suara yang keren penuh kewibawaan dan sangat tenang sekali.

    Kedua orang penjaga itu ternyata orang-orang yang sudah mapan menghadapi sebuah kekerasan, mereka adalah para jagoan pasar yang sudah diketahui keberaniannya oleh saudagar kaya itu. Itulah sebabnya saudagar kaya itu mempercayai rumahnya dijaga oleh mereka.

    Melihat seorang yang mencurigakan datang diringi empat orang dibelakangnya, maka dengan sigap kedua orang penjaga itu telah melepaskan senjatanya dari sarungnya.

    Namun belum lagi senjata itu mapan dalam genggamannya, tiba-tiba saja dirasakan tangannya berbentur oleh sebuah benda keras, seketika senjatanya terpental dan merasakan tulang tangannya seperti remuk lemah tidak berdaya.

    Bukan main kagetnya kedua penjaga itu, tapi rasa kagetnya hanya sebentar karena belum sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sebuah pukulan keras menghantam rahang pipinya.

  29. Terbelalak mata saudagar itu melihat sendiri dua orang penjaganya telah roboh tergeletak di lantai kayu pendapa rumahnya.

    “Aku tidak akan mencelakaimu, tunjukkan dimana kau simpan semua hartamu”, berkata orang bercadar itu kepada saudagar itu sambil menempelkan senjatanya yang terasa dingin dikulit lehernya.

    Sementara itu empat orang yang mengiringi orang bercadar itu sudah menyelinap memasuki semua bilik yang ada dirumah saudagar itu.

    Maka tidak lama kemudian semua penghuni rumah saudagar itu sudah dapat dilumpuhkan, mereka diikat di biliknya masing-masing.

    “Ternyata istrimu masih begitu muda”, berkata orang bercadar itu ketika bersama saudagar itu masuk ke bilik utama yang cukup luas.

    Disana mereka mendapatkan istrinya sudah dalam keadaan terikat.

    Mendengar ucapan perampok itu tentang istrinya, pikiran saudagar itu menjadi semakin bercabang dipenuhi kecemasan yang lain yang lebih menakutkan dari kematian, sebuah kecemasan yang begitu memuncak atas kekhawatiran perampok itu ada keinginan atas istrinya.

    Kecemasan yang sudah merasuk jauh itulah yang membuat saudagar itu dengan sukarela memberikan semua harta yang dimiliki, semua harta yang sudah lama dikumpulkannya yang selama ini telah mengangkat harkat dan martabat dirinya dan keluarganya menjadi orang yang dihormati di Padukuhan Padang Bulia.

    “Terima kasih atas kerelaanmu menyerahkan semua hartamu. Raja Adidewalencana pasti akan merasa sangat berterima kasih”, berkata orang bercadar itu sambil meninggalkannya duduk lemas ditepi peraduannya.

    Saudagar itu masih duduk di pinggir peraduannya, ada kelegaan bahwa para perampok itu telah meninggalkannya tanpa menganiaya dirinya, juga istrinya. Yang dirasakan saudagar itu adalah rasa syukur bahwa nyawanya masih utuh, masih dapat melewati hari-hari berikutnya. Diam-diam saudagar kaya itu mulai menyadari begitu tingginya nilai keselamatan diri dan keluarganya dibandingkan dengan sebuah harta yang melimpah.

    “Terima kasih gusti, engkau masih memberiku hidup sampai hari ini”, berkata Saudagar kaya itu sambil menarik nafas panjang, merasakan nafasnya sendiri masuk kerongga dadanya, merasakan rasa syukur yang sangat.

    Sementara itu dalam waktu yang bersamaaan di rumah saudagar yang lainnya, kejadian yang samapun dialami oleh saudagar itu dan semua penghuninya.

    Lain lagi yang terjadi dirumah Ki Buyut, rumah itu hanya ada para wanita dan anak-anak. Ternyata Ki Buyut dan pembantu laki-lakinya sudah keluar rumah membantu memadamkan kebakaran yang terjadi atas dua buah rumah warganya yang berada di ujung Padukuhan Padang Bulia.

    Maka dengan mudah Badrun dan kawan-kawannya menggasak semua harta yang ada dirumah Ki Buyut tanpa perlawanan apapun.

    • Kamsiaaaaaaa……..!!

      • wah,,,kedhisikan Ki Arga,

        kamsiaaaaaaaaaaaaaaa……!!!!!!

  30. Akhirnya dengan segala upaya dan semangat yang kuat, dua rumah yang terbakar itu telah dapat dipadamkan. Semua orang terlihat menarik nafas lega, masih ada beberapa bagian yang dapat diselamatkan.

    Namun baru saja mereka merasakan kelegaannya, tiba-tiba saja seorang anak lelaki tanggung berlari menemui Ki Buyut.
    “Ayah …..,”

    Terlihat anak lelaki itu dengan air wajah penuh kegundahan itu memeluk Ki Buyut yang ternyata ayahnya sendiri.

    “Katakan apa yang terjadi”, berkata Ki Buyut sambil mengguncang tubuh anak lelakinya.

    “Rumah kita didatangi perampok”, berkata anak lelaki itu kepada Ki Buyut.

    Maka sadarlah Ki Buyut dan semua warga yang ada, bahwa mereka telah diperdayai oleh para perampok.

    Terlihat Ki Buyut dan hampir semua orang berlari menuju rumah Ki Buyut.

    Sambil berlari, pikiran Ki Buyut hampir kosong, yang ada adalah secepatnya sampai dirumah dan melihat apa yang telah terjadi.

    Apapun yang terjadi !!!. Hanya itu yang ada di benak Ki Buyut.

    Ketika masuk kehalaman muka rumahnya, dilihat suasana begitu lengang.

    Dengan tidak sabaran lagi Ki Buyut sudah langsung menerobos masuk kerumahnya sendiri.

    Ada sedikit kelegaan dalam hatinya ketika dilihatnya istri dan kedua orang pembantunya masih dalam keadaan terikat tidak cidera sedikitpun. Sementara itu dibelakang Ki Buyut berturut-turut datang beberapa orang lelaki warganya.

    “Kamu tidak apa-apa Nyi ?”, bertanya Ki Buyut kepada istrinya sambil membuka tali yang mengikat tubuh istrinya.

    “Mereka telah mengambil semua harta milik kita”, berkata Istrinya yang masih belum hilang rasa gemetarnya.

    “Kita telah diperdayai”, berkata Ki Buyut dengan wajah penuh kegeraman.

    “Mari kita kejar, mereka pasti belum jauh”, berkata salah seorang warganya mengajak semua orang mengejar para perampok.

    “Tapi kita tidak tahu kemana arah mereka”, berkata seorang lagi yang sebenarnya pernyataannya itu berawal dari rasa kepengecutan hati menghadapi para perampok.

    Namun pernyataan itu telah menyiram semangat semua orang yang telah bersiap-siap untuk melakukan pengejaran.

    • nah ini baru nomer siji,
      ndhisiki pak Satpam.

      Kamsiaaaaaaaaaaaaaaaa…………!!!!!!!

      (kata pak Satpam, hari ini baru mbeber 5 rontal,
      kurang 5 rontal lagi baru bisa dibundelin

      • mangsud pak Satpam, yang 5 rontal harus malem ini juga,.
        Kagak bisa ditunda sampai besok ya pak Satpam..??

        • saruJUK sekali,

          bisik2 cantrik “dari baris paling buncIT”

          • hikkssss, pelan pelan….
            nanti Ki Dhalange ngamuk,
            malah mbeber 7 rontal,
            kojuuuuurrrrr.

          • tanpa koMANDO mas Satpam berkata peLAN,

            “apa para sepuh-pinisepuh” kuAT nemani
            pak Dhalang gelar rontal sampe larut2 maLAM.

            dari baris depan ki Gembleh menyauT tantangan,
            “aja maneh semalam, 3 hari 3 malem belom tentu
            ku beTAH bertaHAN”………HIKsss,

  31. hemmm………,
    nikmatnya ubi goreng karya sang putri, sayangnya tidak ada kupi……(terpaksa angkat badan cau ke dapur manasin air) sambil bernyanyi :

    masak-masak sendiri
    nyuci-nyuci sendiri
    tidur-tidur sendiri
    (terusannya apa ya, kok gue lupa)

    • lanjutan :

      mobil-mobil sendiri
      rumah-rumah sendiri

      kapa-kapal sendiri
      pesawat-pesawat sendiri

      • baju-baju sendiri
        celana-celana sendiri

        sandal-sandal sendiri
        sepatu-sepatu sendiri

        • sendiri tadi ditungguin,

          sendiri dulu jadi perhatian insani

          • Matur suwun sendiriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

  32. Ha ha ha ha ha ……hadu……………
    kemana satpam semalam? kok sampai tidak tahu ada hujan rontal
    hmmm….., rupanya tertidur sejak bakda Isya
    he he he …, ngapunten Pak dalang…..

    satpam coba bundel
    sepertinya tiga atau empat rontal lagi sudah bisa buka gandok baru
    mudah-mudahan hari ini bisa menutup gandok SFBDBS-12 dan uka SFBDBS-3
    asiikk…………….

  33. sugeng siang
    kamsiiiaaaaaaaa

  34. Hemm……., cuma tiga atau empat rontal lagi ???

    ciaaaatttttttttt………!!!!!

    Mahesa Kompor bersedakep,terlihat asap putih tipis keluar dari ubun-ubunnya……………

    • Hayo balapan………..
      mana yang lebih cepat,
      ketemunya si Sukhoi Super jet 100 yang ilang
      atawa diwedarnya 3-4 rontal…..??????

      • mungkin sama sama berasap,
        bedanya tipis dan tebal.

        • bedanya berkumis dan kinyis2 tak kumisan

  35. “TETAP SEMANGAT”

    cantrik hadir tanpo ada maksud ngoGROg-ogRoG
    jatuhnya ronTAL keng pak DHALANg-e

    • iya…..sama……..
      cuma nungguin lho……..
      tanpa bermangsud ngogrok ogrok.

  36. Terlihat beberapa orang sudah menjadi ragu, akhirnya semua mata tertuju kepada Ki Buyut.

    “Bila kita berhasil mengejarnya, apakah kita mampu melawannya ?”, berkata Ki Buyut melempar lagi keputusannya kepada warganya.

    Terlihat semua orang berpikir, beberapa orang malah bertanya pada diri sendiri apa keuntungannya mengejar para perampok, bukankah dirinya tidak ada kerugian apapun ?

    Ki Buyut dapat membaca keraguan warganya, juga merasa sayang apabila ada korban nyawa dari peristiwa itu.

    “Kita tidak tahu kekuatan mereka, besok kita bicarakan bersama Ki Demang agar peristiwa ini tidak terulang kembali”, berkata Ki Buyut mengambil keputusan untuk tidak mengejar para perampok.

    Sementara itu para perampok sudah semakin jauh, mereka tidak kembali kepersembunyiannya yang lama, seperti gerombolan srigala yang mengembara, mereka terus melangkah dikegelapan malam dan akhirnya menemukan tempat persembunyian yang baru.

    Demikianlah, seperti segerombolan srigala di padang perburuannya, mereka begitu sangat ditakuti. Mereka datang dan pergi seperti angin, menghilang tanpa jejak. Beberapa Padukuhan telah mendapatkan giliran keonaran mereka yang cukup meresahkan. Hingga begitu resahnya di Balidwipa saat itu kelompok mereka disebut sebagai Barong Asu Ngelawang, sebuah nama yang sangat mudah diingat dan begitu menakutkan, terutama disaat menjelang malam.

    “Saatnya kita mencuci tangan”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping di sebuah persembunyiannya.

    “Aku belum dapat menangkap apa yang Paman Kebo Arema maksudkan”, berkata Mahesa Amping.

    “lakon Barong Asu Ngelawang harus diakhiri”, berkata Kebo Arema dengan memandang Mahesa Amping menelitik apakah Mahesa Amping sudah dapat menangkap arah pembicaraannya.

    “Siapakah yang dapat mengakhirinya ?”, bertanya Mahesa Amping.

    “Pasukan prajurit Singasari”, berkata Kebo Arema dengan suara mantap.

    “Pasukan yang dipimpin Kakang Mahesa Bungalan datang dua hari lagi”, berkata Mahesa Amping.

    “Kita memanfaatkan Pasukan tidurmu yang berada di Tanah Melaya”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh kecerahan.

    “Aku melihat dikepala Paman sudah terkumpul sebuah babad yang mengasyikkan”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang dipercaya sudah punya rencana cemerlang.

    Maka seperti yang diduga oleh Mahesa Amping, ternyata Kebo Arema sudah punya sebuah rencana. Dengan rinci Kebo Arema menjabarkannya apa yang harus dilakukan dalam rangka perang pencitraan itu.

    • satu…!!!!!

      • dua…..
        eh..,. mana….mana…..
        jatuh kemana tadi….
        he he he ….
        slamat malam Pak Dhalang.
        satpam sudah nguantuk banget (nguantuke puolll…)
        rontal kedua sampai keempat dibaca besok pagi saja

  37. “Kita harus bergerak cepat sebelum Penguasa Pura Besakih dapat berpikir jernih”, berkata Kebo Arema mengakhiri penjelasannya.

    “Hari ini aku akan berangkat ke Tanah Melaya membawa pasukanku”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.

    Demikianlah, pada hari itu juga Mahesa Amping telah bersiap-siap untuk berangkat ke Tanah Melaya.

    Terlihat seorang penunggang kuda telah keluar dari sebuah hutan menyusuri bulakan panjang dan seperti terbang menghentakkan kudanya berlari kencang membelah padang ilalang, menyusuri lembah gunung dan ngarai.

    Penunggang kuda itu ternyata adalah Mahesa Amping yang telah banyak mengenal setiap tempat di Balidwipa ketika bersama Empu Dangka sering melakukan pengembaraan, ngelanglang ke berbagai tempat.

    Mahesa Amping dalam perjalanannya terlihat menghindari beberapa Padukuhan, dengan sangat terpaksa harus jalan melingkar agar tidak memasuki sebuah Padukuhan. Mahesa Amping sepertinya mengejar waktu, namun dibeberapa tempat sempat beristirahat untuk menyegarkan kembali kudanya.

    Mahesa Amping terus melakukan perjalanan meski langit diatasnya telah berganti malam.

    “Sebentar lagi kita akan sampai”, berkata Mahesa Amping sambil mengusap perut kudanya berhenti disebuah bukit kecil dikeremangan saat pagi menjelang.

    Terlihat Mahesa Amping mengikat tali kudanya disebuah batang kayu apok. Diatas sebuah rerumputan yang masih basah berembun Mahesa Amping perlahan merebahkan tubuhnya bersandar disebuah batu besar.

    Perlahan cahaya matahari diatas bukit kecil itu menghangatkan rerumputan dan batu yang basah. Pemandangan pagi hari di Bukit kecil yang hijau itu begitu cerah.

    “Kuda yang kuat”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri sambil membiarkan kudanya yang terlihat tengah mengunyah rumput hijau dibawah pohon apok.

    “Mari kita melanjutkan perjalanan”, berkata Mahesa Amping sambil menghentakkan perut kudanya dengan kakinya.

    Terlihat Mahesa Amping tengah menuruni bukit kecil yang hijau itu yang banyak ditumbuhi rerumputan dan batu yang berlumut kehijauan diteduhi banyak pohon besar yang rindang.

    “Kukira kamu masih lama baru datang kembali”, berkata Mahesa Semu yang menyambut kedatangan Mahesa Amping di hutan kecil di Tanah Melaya.

    “Kemarin kami menerima lima puluh ekor kuda”, berkata Wantilan bercerita tentang beberapa orang telah membawa lima puluh ekor kuda untuk mereka.

    • dua…!!!!

      • Kok onok perang penccitraan seperti Sbya sajaaaaaaaaaaaaaaaaa……..?

  38. “Ternyata Ki Jaran Waha dapat diandalkan”, berkata Mahesa Amping bercerita tentang salah satu sahabatnya di Balidwipa.

    Akhirnya setelah beristirahat yang cukup, Mahesa Amping bercerita dan menjelaskan beberapa hal tentang rencananya bersama Kebo Arema melakukan perang pembukaan yang disebutnya sebagai perang pencitraan.

    “Akan menjadi lakon yang sangat seru, sepasukan prajurit Singasari menghentikan gerombolan Barong Asu Ngelawang”, berkata Wantilan menyukai rencana itu.

    “Paman Kebo Arema berbakat menjadi seorang dalang”, berkata Sembaga ikut mengomentari.

    Demikianlah, pada hari itu sekelompok pasukan kecil prajurit Singasari berkuda telah keluar dari sebuah hutan.

    Panas matahari yang terik mengiringi perjalanan mereka menyusuri lembah dan ngarai, mendaki perbukitan dan berlari kencang membelah padang ilalang. Dibeberapa tempat mereka berhenti sebentar untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.

    Sengaja mereka melewati jalan-jalan yang sepi yang tidak pernah dilewati oleh orang pada umumnya. Kadang mereka harus jalan melingkar menghindari sebuah padukuhan.

    “Apakah perjalanan kita masih panjang?”, bertanya Wantilan kepada Mahesa Amping ketika mereka tengah menyusuri sebuah lembah dikaki sebuah bukit di malam hari.

    “Menjelang dini hari kita akan sampai”, berkata mahesa Amping.
    Demikianlah, mereka terus berjalan melewati malam diatas punggung kuda menyususri jalan-jalan yang sepi.

    Akhirnya sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, menjelang dinihari mereka telah sampai dimuka hutan tempat gerombolan Kebo Arema menyembunyikan dirinya.

    “Kamu tiba tepat waktu”, berkata Kebo Arema menyambut Mahesa Amping dan kawan-kawannya yang baru tiba.

    “Sepanjang malam kuda-kuda ini berjalan tanpa istirahat”, berkata Mahesa Amping sambil melompat turun dari kudanya.

    “Beristirahatlah, masih ada waktu menjelang tengah malam”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    Terlihat rombongan yang baru datang itu telah berpencar mencari beberapa tempat di hutan itu untuk sekedar beristirahat. Sementara beberapa anak buah Badrun tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi yang lebih banyak agar dapat juga dinikmati oleh rombongan yang baru tiba itu.

    • tiga !!!!

  39. “Malam ini di Kademangan Padang Bulia akan ada panggung seni gambang, mereka sudah membangun tajuk besar di rumah Ki Demang”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping yang sudah nampak segar setelah cukup beristirahat.

    “Jadi pagelaran kita ikut meramaikan hiburan di rumah Ki Demang ?”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.

    Sementara itu sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, di halaman muka rumah Ki Demang telah berdiri sebuah tajuk besar, malam itu akan ada hiburan kesenian gambang yang selalu digelar menjelang pertengahan tahun bersamaan usainya pelaksanaan upacara Odalan.

    Senja yang beningpun akhirnya pudar perlahan meninggalkan wajah bumi berganti menjadi kekelaman malam.

    Terlihat oncor berbaris sepanjang jalan Padukuhan induk menuju kediaman Ki Demang tempat keramaian akan berlangsung. Beberapa orang sudah banyak berkumpul di banjar desa meski pertunjukan masih lama lagi. Kegembiraan terlihat pada wajah-wajah mereka.

    Semakin malam, keramaian semakin bergeser kerumah kediaman Ki Demang dimana seperangkat gamelan gambang sudah siap diatas panggung. Terlihat berduyun duyun orang mulai berdatangan baik dari Padukuhan terdekat maupun juga dari Padukuhan terjauh. Sepertinya semua orang di Kademangan Padang Bulia tidak akan melepaskan hiburan ini, mendengarkan suara pusaka gamelan gambang Ki Seruduk yang hanya dibunyikan hanya pada saat usai upacara odalan.

    Pada malam itu juga Ki Demang telah mengundang Ki Jero Pitutur, seorang dalang dari Balidwipa yang sudah kondang namanya.

    Demikianlah, menjelang malam hiburan itu diawali sambutan sepatah dua patah kata Ki Demang yang dilanjutkan dengan pembacaan mantra-mantra suci membuka kain tabir pusaka gamelan Ki Seruduk.

    Bersoraklah semua warga ketika terdengar iringan suara gamelan gambang saling bersambut satu dengan yang lainnya sebagai irama pembuka.

    Sorak soraipun bertambah meriah manakala sang dalang kondang, Ki Jero Pitutur menyampaiakan sekapur sirihnya bahwa lakon malam ini berjudul alap-alapan Sukesi.

    Namun Ki Jero Pitutur diatas panggung seperti termangu-mangu manakala suara sorak dan sorai yang bergemuruh itu berubah menjadi sua jeritan dari para penonton dibawahnya yang terlihat seperti sekumpulan semut diperciki air, bubar kucar-kacir dalam segala arah.

    Ki Demang bersama para tamu kehormatannya terlihat berdiri ingin tahu apa yang terjadi diluar sana yang membuat para penonton berhamburan menyelamatkan dirinya bahkan ada yang terdesak terhimpit hingga kedepan panggung.

    Ternyata keingin tahuan Ki Dalang atas apa yang telah terjadi akhirnya terjawab juga, ketika para kerumunan penonton sudah terkuak habis, jarak pandangnya jadi lebih jauh dan tidak terhalang lagi.

    • horeeee……!!!!!!

      • Terlihat Mahesa Kompor duduk bersila menunggu sabda dari Pak Satpam, siap-siap pindah gandok anyer (hehehe)

      • Monggo Ki Dalang Gandhog 13 sampun dibikak…………………….(tolah-ngoleki seng mbaurekso kok ora kethok).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: