SFBDBS-12

<<kembali ke SFBdBS-11 | lanjut ke SFBdBS-13 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 24 April 2012 at 22:04  Comments (198)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

198 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dhisiki Pak Dalang ………

    • nyusul ndek burine mas Budi

  2. cihuiiiiiiiii………….,

  3. Pagi itu udara masih basah berembun, tiga ekor kuda terlihat keluar meninggalkan Bandar Cangu. Meraka adala Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah melakukan perjalanannya menuju Kotaraja.

    Diperjalanan banyak mereka temui para saudagar dengan gerobak sarat penuh muatan menuju Bandar Cangu atau tengah menuju Kotaraja Singasari.

    “Jalan menuju Kotaraja ke Bandar Cangu sudah menjadi ramai”, berkata Mahesa Amping.

    “Perdagangan Singasari telah berkembang meluas kesegenab penjuru dunia”, berkata Raden Wijaya penuh kebanggaan.

    “Petani makmur, para saudagar aman berdagang dan para ksatria tidur bersama keluarganya tanpa peperangan, itulah sebuah gambaran nagari yang sejahtera penuh kedamaian”, berkata Empu Dangka dengan wajah penuh berseri.

    Terlihat Mahesa Amping merenungi apa yang dikatakan Empu Dangka, berharap keadaan ini terus berlangsung. Telah banyak dilihatnya peperangan yang membawa banyak kedukaan.

    “Mungkinkah kita terbebas dari sebuah peperangan ?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang berkuda beriring disebelahnya.

    “Selama kita hidup di alam dunia ini, kita tidak akan terbebas dari peperangan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

    “Jadi kita tidak pernah terbebas dari peperangan ?”, bertanya Raden Wijaya ikut bicara.

    “Tengoklah diri kita sendiri anakmas”, berkata Empu Dangka dengan wajah penuh senyum. “Diri kita adalah gambaran dunia alit, setiap saat setiap detik selalu ada peperangan yang terus berkecamuk”, berkata kembali Empu Dangka melanjutkan kata-katanya.

    “Perang melawan hawa nafsu”, berkata Mahesa Amping menangkap perkataan Empu Dangka.

    “Dunia alit dan dunia besar ternyata sangat saling terkait”, berkata Raden Wijaya yang juga dapat memaknai perkataan Empu Dangka.

    “Aku bangga kepada kalian yang dapat menerjemahkan alam alit, semoga kalian dapat menjadi bijak untuk berpijak di dunia kasat mata ini”, berkata Empu Dangka sambil memandang kedua anak muda yang berkuda bersamanya itu dengan wajah penuh senyum berseri-seri.

    “Sebuah nagari yang tentram, adem mayem loh jinawi, tidak ada panas yang terlalu, tidak ada dingin yang terlalu, apakah kamu menginkan nagarimu seperti itu ?”, bertanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Semua jiwa menginginkannya”, berkata Raden Wijaya langsung menjawab pertanyaan Empu Dangka.

    • Kamsiaaaaaaaa…………..

      • hebat…., cuma selisih satu menit !!!!!

        • betull… hebat cuma selisih satu menit

          • eh…, jadi dua menit
            he he he ….

          • Betuuulll Pak Satpam, 1 menit + 1 menit = 11 menit…. eh …. 2 menit. He.. he..he…

  4. “Selamanya nagari itu tidak akan maju berkembang, selamanya nagarimu selalu terbelakang”, berkata Empu Dangka.”Hanya nagari yang pernah mengalami kehancuran, runtuh poran poranda yang akan menjadi sebuah nagari yang besar”, berkata kembali Empu Dangka.

    “Musibah, malapetaka dan bencana ternyata adalah karunia jua yang diturunkan oleh Gusti Yang Maha Agung kepada umat manusia”, berkata Mahesa Amping menangkap perkataan Empu Dangka.

    “Itulah wajah kasih yang terpancar lewat sejati Dewa Syiwa”, berkata Empu Dangka menatap Mahesa Amping yang dapat memaknai perkataannya.

    “Digembleng sampai hancur lebur, bangkit kembali. Itukah yang seharusnya hidup didalam diri kita ?”, bertanya Raden Wijaya.

    “Anakmas benar, itulah yang dimaksud dengan semangat”, berkata Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

    “Semangat-semangat-semangat !!”, berkata Raden Wijaya sambil mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi sepertinya merasakan pencerahan didalam hatinya.

    Sementara itu bayang-bayang matahari sudah semakin merucut, matahari sudah berada dipuncak lengkung langit yang berawan penuh. Cahaya terik begitu menyengat kulit.

    “Kita beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Raden Wijaya sambil mengajaknya singgah disebuah kedai dipinggir jalan.

    Mereka juga melihat satu dua gerobag kuda dai berada di muka halaman kedai itu, ternyata kedai itu sebagai tempat persinggahan para saudagar dalam setiap perjalanan dagangnya.

    Setelah mengikat kuda-kudanya ditempat yang disediakan, Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka terlihat memasuki kedai yang cukup ramai itu.

    Seorang lelaki tua pemilik kedai menyambut mereka penuh keramahan.

    “Minuman hangat dan nasi begana”, berkata Mahesa Amping kepada pemilik kedai itu.

    “kami punya tuak bagus ?”, berkata pemilik kedai itu menawarkan tuaknya.

    Mahesa Amping menjawabnya dengan sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

    Lelaki pemilik kedai itu sepertinya tidak merasa heran, baginya memang tidak semua orang menyukai minuman tuak.

    “Aku akan menyiapkan pesanan tuan-tuan”, berkata lelaki pemilik kedai itu sambil berbalik badan melangkah masuk kedalam.

    “Ternyata ada juga orang yang tidak menyukai tuak”, berkata seorang lelaki tidak jauh dari tempat duduk Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka. Lelaki itu bicara cukup keras kepada temannya namun sepertinya perkataannya itu ditujukan langsung Mahesa Amping.

    • kamsia !!!!

      • ciatttttttttttttttttt (bersalto tiga kali)

        • dug…, bruk ……
          jatuhnya salah.., he he he …..

        • sstttttttt…………..
          kamsiaaaaaaaaaaaa 3x

        • haiyah…….
          pak Satpam mendhisiki……..!!!!!

      • Matur suwun.

        • suwun matur

          • haiyah…….
            ki Budi Prasojo mendhisiki……..!!!!!

          • Haiyah Ki Gundul borongan,………… masak dikomen terakhir, tercatat 8 koment berturut-turut,………apa ini mungkin rekor ya, biar Ki Pak Satpam yang menjawab.

  5. SUGENG DALU KADANG PADEPOKAN SADAYA-nya

  6. sugeng siang
    matur nuwun

  7. sugeng dalu para kadhank sedoyo

    • sugeng dalu Pak Dhalang
      kami menungunggu…!!!
      he he he …..

      • halah…, kliru menulis, maunya menulis menunggu kok tertulis menungunggu, he he he …

  8. “hanya lelaki banci yang tidak berani minum tuak”, berkata kawan lelaki itu yang berwajah bopeng dengan suara yang juga keras sepertinya menyindir Mahesa Amping dan kawan-kawan.

    Suara itu bukan hanya didengar oleh Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka, tapi juga terdengar oleh hampir semua yang ada dikedai itu.

    Semua orang yang ada dikedai itu menarik nafas tertahan penuh kekhawatiran bahwa akan terjadi sesuatu di kedai itu. Mereka sepertinya tidak sabar menunggu tanggapan dari ketiga orang yang baru datang yang menjadi sasaran sindiran.

    Tapi penantian mereka sepertinya sia-sia, Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka tidak menanggapi apapun, mereka seperti tidak mendengar apapun selain sibuk menikmati hidangan pesanan mereka yang baru datang tiba.

    Mendapati sindirannya tidak termakan sedikitpun, kedua orang itulah yang sepertinya kebakaran jenggot.

    “Kedai ini kedatangan tiga orang banci tuli”, berkata kembali orang pertama dengan suara yang cukup keras.

    Namun kembali sindiran mereka seperti air masuk pasir, hilang tanpa jejak. Tidak terlihat perubahan apapun pada wajah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka. Mereka sepertinya tidak mendengar suara apapun.

    Kali ini kembali kedua orang itu yang menjadi tidak sabaran mendapatkan sindirannya tidak bergeming sedikitpun.

    Sementara itu semua orang yang ada dikedai mulai gelisah, perkiraan mereka akan terjadi sesuatu disambut atau tidak disambut sindiran kedua orang itu.

    Perkiraan mereka ternyata akan terjadi, terlihat kedua orang itu sudah berdiri, melangkah mendekati Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya.

    “Baru kali ini kumendapatkan ada tiga orang lelaki yang begitu pengecut”, berkata orang yang berwajah bopeng setelah dekat kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu dangka.

    Terlihat Mahesa Amping mengangkat wajahnya.

    “Maaf, aku tidak mengerti apa yang kisanak maksudkan”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu tanpa ada perasaan apapun.

    “Kukatakan bahwa kalian adalah tiga orang pengecut, apakah kamu tuli !!”, berkata orang berwajah bopeng dengan suara cukup keras seperti menahan kemarahan yang memuncak.

    “Ternyata kisanak mengatakan bahwa kami ini tiga orang pengecut, tidak ada masalah buat kami, setiap orang bebas menyampaikan pandangan apapun perkataannya”, berkata Mahesa Amping kepada orang yang berwajah bopeng yang memandangnya dengan mata yang merah dan melotot.

    • siippp…………..
      suwun

      • eh…, bajunya keliru, he he he …
        saking asiknya melotot mencari lanjutan ceitar yang terputus, lanjut Pak Dhalang….

        • he he he, pak satpam enggak pake baju….., jangan-jangan ????

          • jangan jangan baru mandi malam

  9. “kalian tidak menjadi marah ?”, berkata orang berwajah bopeng itu kepada Mahesa Amping, karena hanya Mahesa Amping yang menghentikan makannya, sementara itu Empu Dangka dan Raden Wijaya seperti tidak memperhatikan apapun selain sibuk dengan makanannya.

    “Untuk apa kami marah, melihat wajah kalian saja kami sudah penuh ketakutan”, berkata Mahesa Amping dengan suara seperti orang yang sedang penuh ketakutan.

    “Ternyata ketiga orang ini benar-benar anak kelinci berhati cecurut”, berkata teman orang berwajah bopeng sambil tertawa tergelak-gelak.

    “Meski satu diantara mereka membawa sebuah keris”, berkata orang berwajah bopeng sambil melirik Raden Wijaya yang terlihat sudah hampir menyelesaikan makannya.

    Terlihat Raden Wijaya mengangkat wajahnya.

    “jangan kalian salah sangka, keris ini Cuma kenang-kenangan mendiang ibuku, sementara aku tidak pernah mencabutnya untuk berkelahi, hanya terkadang dipakai untuk mengiris bawang didapur”, berkata Raden Wijaya dengan wajah yang biasa-biasa saja.

    “Cuma untuk mengiris bawang?”, berkata orang berwajah bopeng kepada kawannya diringi gelak tawa keduanya.

    “Mari kita tinggalkan tempat ini, aku khawatir mereka akan mati lemas melihat kita”, berkata kawan orang berwajah bopeng sambil berbalik badan diikuti kawannya melangkah dengan wajah dan sikap seorang gagah meninggalkan medan laga dalam kemenangan.

    “Kalian telah memenangkan sebuah pertempuran tanpa bertempur”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya ketika melihat kedua orang itu sudah keluar dari kedai.

    Sementara itu matahari di luar kedai sudah terlihat bergeser, cahayanya tidak lagi seterik sebelumnya.

    Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya telah keluar dari kedai berjalan melangkah kearah tempat kuda-kuda mereka terikat.

    “Ternyata jadi orang pengecut itu damai”, berkata Empu Dangka yang telah duduk diatas punggung kudanya.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya bersamaan ikut melompat dan duduk diatas kudanya.

    Awan putih seputih kapas bergerumbul memenuhi lengkung langit biru, semilir angin berhembus sejuk diantara tangkai ranting dan daun hutan sepanjang jalan tanah itu yang semakin memanjak naik.

    “Sebentar lagi kita akan sampai”, berkata raden Wijaya sambil menunjuk kearah sebuah perbukitan yang hijau. Tidak terasa kakinya menepak perut kudanya untuk berlari.

    Mahesa Amping pun ikut mempercepat lari kudanya.

    • Kamssiiiiiaaaaaaa…..!!!!!!!!!!
      mendhisiki siapapun juga yang walaupun bagaimanapun tetep juga disebutken sebagai cantrik padepokan.

    • Kamssiiiiiaaaaaaa…..!!!!!!!!!!

  10. Waduuuuh Pak Satpam, mau kirim komen di SST njawab Ki Gembleh kok tidak bisa masuk ya.

    • kadang WordPress agak mlempem, satpam juga sering tidak bisa kirim komen, belum tahu kenapa.
      coba diulangi ki.

  11. “Ternyata kalian sudah menjadi orang tidak sabar”, berkata Empu Dangka yang terpaksa ikut mempercepat lari kudanya agar tidak tertinggal oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Cahaya matahari sore bersinar lembut menyambut kedatangan mereka ketika memasuki pintu gerbang kotaraja. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka terlihat beriring diatas punggung kudanya yang dibiarkan berjalan melangkah perlahan diatas jalan Kotaraja yang masih ramai dipenuhi orang-orang yang berjalan hilir mudik, kadang satu dua gerobak kuda para saudagar melewati mereka berjalan kearah pasar kotaraja.

    Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya terlihat telah turun dari atas punggung kudanya ketika mereka sudah sampai didepan pintu gerbang istana.

    “Selamat datang di istana Singasari”, berkata seorang prajutit pengawal istana sambil mengambil tali temali kuda untuk dibawanya kepada pekatik istana

    “Terima kasih”, berkata Raden Wijaya kepada prajurit pengawal itu.
    Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka berjalan dibelakang Raden Wijaya yang melangkah menuju pesanggrahan keluarganya, pesanggrahan Ratu Anggabhaya.

    “Selamat datang wahai para putraku”, berkata Ki Lembu Tal menyambut kedatangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Perkenalkan ini saudara kembar Empu Nada”, berkata Raden Wijaya kepada ayahnya memperkenalkan Empu Dangka.

    “Bila saja tidak diberitahu, mungkin aku menganggap Empu Nada dihadapanku”, berkata Ki Lembu Tal yang terkesima melihat kemiripan wajah kembaran Empu nada yang sudah dikenalnya.

    “Ternyata ada seorang senapati Singasari”, berkata tiba-tiba seorang yang sudah cukup berumur keluar menyambut mereka yang ternyata adalah Ratu Anggabhaya.

    Maka tidak lama berselang, keadaan di pasanggrahan Ratu Anggabhaya menjadi begitu ramai, terutama di dapur belakang dimana para pelayan nampak begitu sibuk menyiapkan hidangan istimewa untuk tamu istimewa mereka.

    “Pangeranku terlihat semakin gagah”, berkata seorang wanita tua pelayan istana kepada kawannya di dapur belakang.

    “Gagahan mana dengan suamiku”, berkata kawannya yang terlihat masih muda dengan senyum menggoda.

    “jauhh…,seperti langit dan bumi”, berkata wanita tua itu sambil mencabut bulu-bulu ayam yang tinggal tersisa pada sayapnya.

    “Tapi aku menganggap suamiku manusia tergagah didunia, terutama ketika…..”, berkata wanita pelayan itu tidak meneruskan kata-katanya.

    • Kamsiaaaaaaaaaa……… !!

    • Matur suwuuuuuuun……….

  12. kesehatan agak terganggu, tadi malam tidak bisa tidur
    sekarang terpaksa istirahat di rumah
    hadu…….
    “ngintip” gandok saja harus sembunyi-sembunyi, takut dipelototi polisi yang ada di rumah.
    he he he ….

    selamat pagi,
    sstt……., laptop di “sleep” dulu, ada suara kaki polisi mendekat.

    • Ki Pak Satpam ternyata tattuuut sama polisi…..

      • Polisi yang di rumah galaknya bukan main Ki
        apalagi kalau satpam harus istirahat begini
        he he he …., ssssttt…. mumpung polisinya sedang nonton TV

        • wah….jan ancene mBelink tenan.

          • ssstttt, pun seru-seru….

          • sstt, hati2 pak Satpam.
            jangan2 karya Adhimas Kompor
            juga dibajak orang.
            Moga2 Ki Bayu kersa menjlentrehkan siapa pawongan yang dimaksud.

            sugeng dalu,
            have a nice bedrest.

  13. kamsssiiiiaaaaaaa

  14. selamat malam, sambil nunggu wedaran pak dalang

  15. Sementara itu, seorang prajurit pengawal yang biasa bertugas di pasangrahan Ratu Anggabhaya telah ditugaskan untuk menjemput guru pendeta Empu Nada yang saat ini telah menetap dilingkungan istana, tinggal dibelakang istana disebuah rumah yang dulu pernah didiami Mahendra, seorang pahlawan Singasari.

    “Berangkatlah lebih dulu, aku akan menyusul”, berkata Empu Dangka kepada prajurit pengawal itu yang telah menyampaikan pesannya.

    “Apa kata mereka bila aku datang tidak bersama tuan guru pendeta”, berkata prajurit pengawal itu kepada Empu Nada.

    “Bila demikian, tunggulah sebentar”, berkata Empu Nada sambil tersenyum kepada prajurit pengawal itu.

    Prajurit pengawal itu memang tidak menunggu terlalu lama. Empu Nada telah siap untuk berangkat ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    Ternyata Empu Nada mempunyai panggraita yang kuat, dalam perjalanannya telah merasakan sesuatu yang akan ditemuinya di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    “Kakang Dewadangkabrata !!”, berkata Empu Nada tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ketika akan naik anak tangga pendapa di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    “Dewanadabrata”, berkata Empu Dangka penuh senyum gembira, sebuah pertemuan yang sangat ditunggu-tunggu sejak keberangkatannya dari Balidwipa.

    Terlihat dua saudara kembar itu saling berpelukan, menangis penuh keharuan setelah sekian lama mereka berpisah.

    Dan malam itu adalah malam yang sangat istimewa, terutama bagi Empu Nada dan Empu Dangka yang seperti tidak ingin dipisahkan lagi, mereka duduk bersama dan bercerita begitu banyak tentang beberapa hal sepanjang perpisahan mereka yang begitu lama.

    Keistimewaan perjamuan malam itu di pendapo yang luas menjadi begitu istimewa lagi manakala seorang prajurit pengawal khusus Maharaja Singasari datang membawa kabar bahwa Sri Baginda Maharaja Singasari akan datang ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    Tidak lama berselang, Sri Baginda Maharaja Singasari memang telah datang hanya dengan dikawal oleh dua orang prajurit pengawal.

    “Haturkan diri ini bersembah sujud dihadapanmu wahai guruku tercinta”, berkata Maharaja Kertanegara dihadapan Empu Dangka sambil bersujud penuh kehormatan.

    “Bangunlah anakku, engkau adalah Maharaja Singasari yang perkasa”, berkata Empu Dangka penuh haru bahwa dihadapannya adalah seorang Maharaja besar yang dengan kerendahan hati masih menghormati dirinya sebagai seorang guru.

  16. Maka lengkaplah keharuan dan suka cita atas pertemuan antara saudara kembar, antara guru dan murid dan pertemuan persaudaraan para ksatria Singasari yang telah bersatu dalam sebuah perjamuan malam yang sangat meriah.

    “Berkat kalian semua, Singasari telah semakin berjaya”, berkata Maharaja Kertanegara kepada semua yang hadir ditengah suasana perjamuan.

    “kami para orang tua hanya duduk dipinggiran sebagai juru sorak mendukung jiwa-jiwa muda yang terus berkarya bagi kejayaan Singasari”, berkata Ratu Anggabhaya

    “Tanpa diri kalian para orang tua, kami tidak akan terlahir seperti saat ini”, berkata Maharaja Kertanegara sambil menjura penuh kehormatan.

    Sementara itu sang malam di pendopo besar itu terus berlalu, beberapa pelayan telah membersihkan sisa perjamuan dan menggantikannya dengan beberapa hidangan penutup.

    “Kita disini semuanya adalah keluarga, maka tidak perlu sungkan bila Rangga Mahesa Amping dapat bercerita tentang perjalanan tugasnya selama di Balidwipa”, berkata Maharaja Kertanegara meminta Mahesa Amping bercerita tentang apa yang didapatnya selama di Balidwipa.

    Maka dengan perlahan Mahesa Amping menyampaikan apa yang telah dilihat dan diketahui tentang Balidwipa.

    “Kamu telah membuka sepertiga jalan atas apa yang telah engkau lakukan”, berkata Maharaja Kertanegara ketika mendengar cerita Mahesa Amping bahwa dirinya telah diangkat sebagai seorang guru di Pura Indrakila.

    “Tanpa kebersamaan Empu Dangka, mungkin kehadiran hamba di balidwipa tidak banyak berarti”, berkata Mahesa Amping kepada Sri Baginda Maharaja Singasari itu.

    Maka setelah mendengar gambaran yang cukup lengkap dari Mahesa Amping tentang Balidwipa, Maharaja Kertanegara meminta Ratu Anggabhaya dan Empu Dangka untuk memberikan saran dan nasehat yang berharga.

    “Sebagaimana yang dikatakan Baginda Maharaja, Mahesa Amping telah membuka sepertiga jalan menuju penguasaan Balidwipa, sisanya adalah menguasai Pura Besakih. Ibarat sebuah tubuh yang utuh, Pura Besakih adalah bagian kepala, menguasai Pura Besakih berarti telah menguasai seluruh Balidwipa”, berkata Empu Dangka memberikan pandangannya.

    “Aku sependapat dengan Empu Dangka, harapanku yang paling besar adalah tidak banyak pertumpahan darah sebagai tumbal membawa Balidwipa dipangkuan Singasari Raya”, berkata Ratu Anggabhaya menyampaikan nasehatnya.

    Demikianlah, Sri Maharaja Singasari ternyata seorang yang sangat terbuka, memberikan kesempatan pada semua yang hadir untuk menyampaikan pendapatnya.

  17. “kehadiran para saudagar dari tanah hindu harus juga diperhitungkan”, berkata Raden Wijaya menyampaikan pandangannya.”Berarti ada dua kekuatan yang harus kita kunci, kekuatan Pura Besakih dan gerak kekuatan para saudagar tanah Hindu”, berkata kembali Raden Wijaya yang langsung disetujui oleh semua yang hadir termasuk Maharaja Kertanegara.

    “Aku memutuskan bahwa Rangga Mahesa Amping untuk kembali bertugas di Balidwipa membawahi pasukan tidur”, berkata Maharaja Kertanegara memberikan keputusannya meminta Mahesa Amping untuk kembali bertugas di Balidwipa memimpin dan menggerakkan pasukan tidur, sebuah pasukan khusus yang terjun mendahului pasukan inti, bergerak mengamankan medan yang akan dilalui pasukan inti, kehadiran pasukan ini seperti bayangan yang tidak boleh terlihat oleh musuh. Pasukan seperti inilah yang dimaksudkan sebagai pasukan tidur oleh Sri Baginda Maharaja Singasari.

    “hamba siap menerima titah tuanku paduka”, berkata Mahesa Amping sambil menjura penuh hormat dihadapan Sri baginda Maharaja.

    “Paman Kebo Arema dapat kau bawa serta”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Mahesa Amping.

    “Tuanku Baginda belum menunjuk siapakah senapati yang akan menjadi pemimpin para prajurit yang akan diturunkan di medan Balidwipa”, berkata Raden Wijaya tidak sabar menunggu sebuah keputusan.

    “Aku perlu seorang Senapati yang sudah teruji kesetiaannya, namun aku tidak akan menunjuk dirimu wahai saudaraku”, Berkata maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya. “Singasari tidak boleh lengah dan harus tetap terjaga, itulah sebabnya aku masih perlu dirimu tetap menjaga Singasari ini”, berkata kembali Maharaja Kertanegara memberikan alasan mengapa bukan Raden Wijaya yang akan ditugaskan sebagai senapati perangnya di balidwipa.

    Diam-diam semua yang hadir memuji pandangan Maharaja Kertanegara yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Namun semua masih menunggu siapakah yang dititahkan menjadi sang senapati di Balidwipa.

    “Dijaman ayahku memerintah, ada seorang senapati yang sangat setia dan berilmu sangat tinggi. Banyak pemberontakan yang dapat ditumpasnya. Saat ini orang itu telah menjadi seorang akuwu di Sangling”, berkata Maharaja Kertanegara.

    “kakang Mahesa Bungalan !!”, berkata Mahesa Amping dalam hati langsung mengenal siapa orang yang dimaksud oleh Maharaja Kertanegara.

    “Akuwu Mahesa Bungalan adalah orang yang kuanggap paling tepat saat ini untuk menjadi senapati laskarku di Medan Balidwipa”, berkata Maharaja Kertanegara kepada semua yang hadir malam itu di pendopo pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    Hampir semua yang hadir saat itu sudah mengenal Mahesa Bungalan, salah satu putra Mahendra pahlawan Singasari yang tidak disangsikan lagi kesetiaannya, juga pengalamannya memimpin pasukan besar yang pernah ditunjukkan selama ini antara lain dalam penumpasan beberapa gerombolan pemberontak yang telah mencoba mengganggu dan menguji kewibawaan Kerajaan Singasari.

    • kamsiaaaaaa ….., tereak kenceng-kenceng biar “polisi” dirumah pak satpam denger hehehe

      • hadu…….
        lha kok malah teriak……
        he he he ….
        selamat pagi Pak Dhalang.
        matur suwun

      • Dherek wonten wingkingipun Ki Dalang………………..matru suwun

  18. “Meski dirimu tidak terjun di medan Balidwipa, kutitahkan segenap kekuasaanku kepadamu wahai sepupuku untuk menjadi pimpinan tertinggi mengatur segalanya, menyiapkan prajurit segelar sepapan, berwenang menggunakan perbendaharaan kerajaan”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya.

    “Titah Baginda Maharaja akan kujunjung tinggi”, berkata Raden Wijaya menjura penuh kehormatan.

    Demikianlah, sebuah perundingan awal pergelaran sebuah sejarah Balidwipa telah dimulai. Sementara itu langit malam diatas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya telah semakin larut, suara jengkerik mendengung mengisi kesunyian malam.

    Sribaginda Maharaja Singasari terlihat akan beranjak untuk kembali ke Pasanggrahannya. Namun sebelum beranjak Maharaja Kertanegara telah meminta Empu Dangka untuk tinggal diistana mendampinginya.

    “Guru sudah sangat tua, tinggallah di Istana ini mendampingiku”, berkata Maharaja Singasari kepada Empu Dangka.

    “Aku sangat setuju, biarlah kita yang sudah beruban ini duduk dipinggiran menjadi pemandu”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Empu Dangka menyetujui permintaan Sri baginda Maharaja Singasari.

    “Terima kasih telah menerima aku yang sudah rapuh ini, semoga buah pikiranku masih dapat diabdikan diistana ini”, berkata Empu Dangka yang disambut gembira oleh Maharaja Singasari, Empu Nada dan Ratu Anggabhaya.

    Terlihat maharaja Singasari yang masih muda itu telah meninggalkan Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

    “Maaf, aku akan membawa saudaraku ke pondokanku”, berkata Empu Nada kepada semuanya bermaksud pamit diri sambil mengajak Empu Dangka.

    “Terima kasih telah meramaikan perjamuan malam ini”, berkata Ratu Anggabhaya mengantar kedua saudara kembar itu menuruni anak tangga pendopo Pesanggrahannya.

    Tidak lama berselang Mahesa Amping dan Raden Wijaya dipersilahkan untuk beristirahat.

    “Beristirahatlah, mulai besok kalian sudah memasuki sebuah tugas yang panjang”, berkata Ki Lembu Tal kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Akhirnya pendopo itu telah menjadi begitu sepi, menyisakan dua pelita yang tergantung menerangi sekelingnya. Sementara itu rembulan diatas langit malam sudah semakin pudar bergeser ke barat terhalang awan tipis. Sekumpulan kalelawar malam masih terlihat satu dua melintas diatas udara dingin malam.

    Hawa Angin Malam diatas bumi Singasari yang berbukit memang sangat begitu dingin. Namun beberapa prajurit pengawal yang sedang bertugas malam itu sepertinya tidak mempedulikan hawa dingin yang menusuk kulit, mereka tetap berjaga meronda berkeliling istana.

    • Ternyata masih bersambung, ………matur suwun.

  19. Pagi itu hawa dingin yang sejuk menyelimuti bumi Singasari, dua ekor kuda terlihat berjalan perlahan melewati pintu gerbang Kotaraja. Mereka yang berkuda itu ternyata adalahRaden Wijaya dan Mahesa Amping.

    “Ingin rasanya aku terbang langsung tiba di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping mengungkapkan perasaan hatinya kepada Raden Wijaya.

    Raden Wijaya hanya tersenyum mendengar perkataan Mahesa Amping. Sebuah kakinya menghentak perut kuda yang langsung terkaget berlari kencang.

    Mahesa Amping segera memburu lari kuda Raden Wijaya yang telah jauh meninggalkannya. Maka terlihat dua ekor kuda tengah berlari saling berkejaran membelah padang ilalang yang luas. Masih terus berlari manaiki dan menuruni bukit-bukit kecil yang landai.

    “Kukira kamu tidak kasihan kepada kudamu”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya yang telah berhenti di sebuah sungai kecil yang berair jernih.

    “Bukankah kamu ingin terbang sampai di Padepokan Bajra Seta ?”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Tapi tidak dengan menyiksa kuda kita mati lemas”, berkata Mahesa Amping sambil turun dari kudanya, membiarkan kudanya turun kesungai kecil meneguk airnya yang jernih.

    Matahari sudah semakin beranjak naik keatas puncak cakrawala langit yang berawan putih cerah. Mahesa Amping dan Raden Wijaya terlihat sudah berada dipunggung kudanya tengah mendaki sebuah bukit, mereka sepakat untuk menembus jalan pintas menuju Padepokan Bajra Seta meski jalan yang mereka tempuh harus melewati beberapa perbukitan terjal, sesekali mereka harus turun menuntun kudanya.

    Senja bening telah turun menyelimuti hamparan bumi ketika Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah keluar dari sebuah hutan yang lebat. Dihadapannya menghadang hamparan padang ilalang dan sebuah bukit.

    “Padepokan Bajra Seta tinggal setengah hari perjalanan”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika mereka telah berada ditengah hamparan padang ilalang yang cukup luas.

    “Kuda-kuda kita perlu beristirahat”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

    “Kita juga perlu beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya sambil melompat dari punggungnya.

    Terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya tengah bersandar dibawah sebuah pohon besar di padang ilalang itu yang dipenuhi akar-akar besar menyembul dari permukaan tanah.

    Dan kegelapan malampun akhirnya telah turun menyelimuti padang ilalang.

    “Beristirahatlah lebih dulu, biarlah aku yang berjaga”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    • “Beristirahatlah lebih dulu, biarlah aku yang berjaga”, berkata Ki Dhalang kepada pak Satpam.
      “Soalnya aku mau berjaga sambil meneruskan wedaran rontal yang sudah ditunggu tunggu Ki Arga, Ki Bancak, Ki BP, Ki Menggung dkk”, lanjut Ki Dhalang dengan bersemangat.

      hore…….kamsiaaaaaa…..!!!!!!!

      • Betuuuull……. Wedaran selanjutnya ditunggu….!!
        Kamsiaaaaaaaaaa…..

  20. Semburat warna merah terang terlihat telah memancar diujung timur bumi, hari masih gelap dan dingin. Dikeremangan pagi yang masih gelap itu terlihat dua ekor kuda sudah menapaki padang ilalang yang masih basah berembun. Mereka adalah Mahesa Amping dan Raden Wijaya yang telah kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Padepokan Bajra Seta.

    Ketika pagi sudah mulai berwarna bening, semburat warna merah telah menyebar mengisi lengkung langit, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai dikaki bukit yang hijau. Perlahan mereka memacu kudanya menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon yang rimbun tinggi menghijau.

    Semakin naik keatas, tetumbuhan semakin jarang mereka temui, akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit datar yang hanya dipenuhi hamparan rerumputan yang hijau sepanjang mata memandang.

    Titik-titik embun dipucuk-pucuk rerumputan terlihat memercik ketika terhentak langkah kaki kuda Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    Perlahan mereka menghentikan langkah kaki kuda terpesona menatap hamparan sawah ladang yang terhampar menghijau dibawah bukit jauh dalam warna pagi yang cerah dibawah tatapan matahari yang bercahaya lembut menyinari alam bukit yang hijau.

    Terlihat mereka menuruni bukit itu dibawah siraman matahari pagi. Akhirnya mereka telah sampai dibawah kaki bukit tengah menyusuri sebuah bulakan panjang. Dikanan kiri mereka terhampar persawahan yang hijau dipenuhi untaian buah padi yang sudah mulai matang menguning.

    “Kita datang menjelang padi akan dituai”, berkata Mahesa Amping diatas kudanya kepada Raden Wijaya sambil menyapu pandangannya diatas hamparan sawah yang sudah tinggi menghijau.

    Beberapa petani yang tengah berjalan bersisipan dengan mereka terlihat memandang kepada mereka.

    “Jangan biarkan burung pipit mencuri padi kalian”, berkata Mahesa Amping kepada dua orang petani muda yang bersisipan dengan mereka.

    Terlihat dua orang petani muda itu melambaikan tangannya setelah mengetahui dan mengenal Mahesa Amping yang menyapa mereka dari atas punggung kuda.

    Akhirnya kuda-kuda Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai dimuka regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Terlihat Mahesa Amping dan raden Wijaya telah turun dari kudanya. Beberapa cantrik yang tengah menyapu halaman muka Padepokan Bajra Seta datang berlari menghampiri mereka.

    “Selamat datang kembali di Padepokan Bajra Seta”, berkata salah seorang cantrik menyambut kedatangan mereka.

    “Ternyata kita kedatangan tamu perwira tinggi Singasari”, berkata seorang lelaki yang sudah cukup berumur bertelanjang dada menghampiri mereka yang ternyata adalah Sembaga.

    “Paman Sembaga kulihat tidak bertambah tua”, berkata Mahesa Amping menyambut uluran tangan Sembaga.

    • Kamsiaaa……

  21. “Kami sangat merindukan kalian”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya ketika mereka telah berada diatas pendapa Padepokan Bajra Seta.

    Terlihat seorang wanita muda bersama seorang anak lelaki kecil keluar dari pintu butulan.

    “Katakan selamat datang untuk kedua pamanmu”, berkata wanita muda itu yang ternyata adalah Padmita istri Mahesa Murti.

    “Selamat datang Paman berdua”, berkata anak kecil itu dengan suaranya yang masih terdengar cadel.

    “Mahesa Darma sudah pandai bicara”, berkata Mahesa Amping sambil mengangkat Mahesa Darma tinggi-tinggi.

    Ternyata anak itu tidak menjadi takut, malahan menjadi begitu gembiranya.

    “Mari ikut Bunda kedapur menyiapkan minuman untuk kedua pamanmu”, berkata Padmita kepada Mahesa Darma yang langsung menghampiri ibunya.

    Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Mahesa Murti terlihat diatas pendapa Padepokan Bajra Seta saling bercerita sepanjang perpisahan mereka.

    “Kehadiran pasukan tidur sangat besar peranannya, harus dapat membaca pergerakan lawan serta menentukan jalur perjalanan yang aman menuju titik kemenangan”, berkata Mahesa Murti memberikan pandangannya ketika Mahesa Amping bercerita tentang tugas yang akan mereka emban dalam waktu dekat itu, menguasai Balidwipa.

    “Aku perlu bantuan beberapa cantrik untuk memperkuat pasukanku”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

    “Para cantrik di Padepokan Bajra Seta ini selalu siap sedia menjaga pilar kejayaan Singasari”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Terima kasih Kakang, aku hanya memerlukan tiga orang terbaik di padepokan Bajra Seta ini”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

    Pembicaraan mereka terhenti ketika Padmita keluar dari pintu utama sambil membawa minuman hangat dan beberapa potong ubi manis.

    “Aku tengah memasak pecak gabus, mudah-mudahan kalian menyukainya”, berkata Padmita sambil meletakkan minuman hangatnya kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

    “Mendengar pecak gabus, perutku sudah langsung berbunyi”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semuanya.

    Sementara itu bayang-bayang tangkai pohon randu dipojok halaman muka Padepokan Bajra Seta sudah semakin mengerucut, matahari sudah berada dipuncak lengkung langit putih berawan penuh.

    • Betuuuull……. Wedaran selanjutnya ditunggu….Matur uwun

    • hmmm, pecak gabus……
      sepertinya bagus juga untuk segera memulihkan kesehatan
      tapi…, dimana ya sekarang mencari pecak gabus?

  22. kamsiiiiiiaaaaaaaaaaa

  23. sugeng dalu poro kadang sedoyo

  24. Kamsiiiaaaaa dan sugeng dalu.

  25. “Ada tugas yang akan kalian emban”, berkata Mahesa Murti kepada Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu yang telah dipanggil berkumpul bersama di Pendapa Bajra Seta.

    “Tugas apa gerangan yang dapat kiranya akan kami emban ?”, bertanya Wantilan mewakili Sembaga dan Mahesa Semu.

    “Raden Wijaya akan menjelaskan kepada kalian”, berkata Mahesa Murti meminta Raden Wijaya untuk menjelaskannya.

    “Saat ini wilayah perdagangan Singasari telah mencakup dari ujung Tanah Gurun sampai keujung Malaka. Namun sampai saat ini kami belum dapat menjangkau Balidwipa karena kekuasaan para saudagar dari Tanah Hindu sudah mendahului kami”, berkata Raden Wijaya menjelaskan duduk persoalan awal agar dapat dimengerti oleh Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu.

    “Lanjutkanlah, aku belum dapat menangkap apa hubungannya dengan kehadiran kami bertiga disini ?”, berkata Sembaga sepertinya sudah tidak sabaran apa tugas yang akan diembannya.

    Raden Wijaya tersenyum mendengar pertanyaan Sembaga.

    “Baiklah, aku lanjutkan”, berkata Raden Wijaya sambil menarik nafas panjang untuk melanjutkan penjelasannya. “Sri Baginda Maharaja Singasari merasa khawatir bahwa kekuasaan para saudagar Tanah Hindu di Balidwipa dapat mengganggu wilayah perdagangan Singasari yang sudah terjalin sepanjang Tanah Gurun sampai keujung Malaka”, berkata Raden Wijaya berhenti sejenak sambil memandang Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu satu persatu.

    “lanjutkanlah”, berkata kembali Sembaga tidak sabaran.

    Kembali Raden Wijaya dan semua yang ada dipendapa Padepokan Bajra Seta itu tersenyum melihat tingkah Sembaga yang tidak sabaran.

    “Sri Baginda Maharaja Singasari telah meminta diri kami untuk menyiapkan sebuah pasukan besar untuk menguasai Balidwipa”, berkata Raden Wijaya sambil memperhatikan sikap dari Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu, sejauh mana penangkapan mereka atas penjelasan yang disampaikannya itu.

    “Aku sudah dapat menangkap penjelasannmu, kami bertiga diminta untuk bergabung dalam pasukan besar itu ”, berkata Sembaga kepada Raden Wijaya.

    “Paman Sembaga benar, tepatnya Paman Sembaga, Paman Wantilan dan Kakang Mahesa Semu diminta untuk bergabung dengan pasukanku”berkata Mahesa Amping ikut menjelaskan dan dengan rinci menyampaikan tugas dan tanggung jawab pasukannya yang disebutkan sebagai “pasukan tidur” oleh Sri baginda Maharaja Singasari.

    “Pasukan tidur, aku menyukai sebutan itu”, berkata Wantilan dengan wajah penuh kebanggaan membayangkan dirinya bergabung dalam gerakan pasukan tidur dibawah pimpinan Mahesa Amping.

  26. “Jadi kami bertiga bergabung dalam pasukanmu?’, berkata Mahesa Semu kepada Mahesa Amping yang tidak menjawabnya, hanya menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Mahesa Semu.

    “Tadinya aku berpikir bahwa pasukan tidur itu tugasnya hanya makan dan tidur”, berkata Sembaga yang ditangkap oleh semua yang ada dipendapa Padepokan Bajra Seta itu dengan tawa yang panjang.

    Tawa mereka berhenti manakala datang Padmita membawa hidangan hangat yang harumnya sangat menggoda.

    “Pecak gabus, makanan khusus pasukan tidur”, berkata Sembaga yang kembali membuat tawa semua yang ada di panggung pendapa.

    Sementara itu, disaat yang sama jauh dari Padepokan Bajra Seta. Disebuah wilayah yang damai dan tenteram, tepatnya di Pakuwonan Sangling, terlihat sepasukan prajurit yang membawa umbul-umbul pertanda kekuasaan kerajaan Singasari baru saja keluar dari pintu batas wilayah Pakuwonan Sangling.

    “Sri Baginda Maharaja Singasari telah menjatuhkan mandat kepercayaannnya kepada Kakanda”, berkata seorang wanita muda yang berparas begitu cantik jelita yang tidak lain adalah Ken Padmi, istri Akuwu Mahesa Bungalan.

    “Itu artinya aku akan lama meninggalkan Pakuwonan ini”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan menatap istrinya dalam-dalam.

    “Sejak dinda memutuskan untuk menjadi istri kakanda, dinda sudah siap menjalani kehidupan disisi kakanda sebagai istri seorang prajurit”, berkata Ken Padmi dengan suaranya yang penuh ketegaran.

    “Ketegaran dinda telah menghilangkan keraguan didalam hati Kakanda, sebelumnya yang Kakanda khawatirkan adalah kesunyian hari-hari tanpa kehadiran Kakanda di Pakuwonan ini”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan yang merasa bangga atas ketegaran istrinya itu.

    “Hari-hari penuh kesunyian akan dinda sibukkan dengan berdoa, berharap Kakanda selalu di bawah lindungan Gusti Yang Maha Kasih”, berkata Ken Padmi dengan suaranya yang lembut kepada Akuwu Mahesa Bungalan.

    Akuwu Mahesa Bungalan terlihat memalingkan wajahnya kearah taman pasanggrahan Istana Pakuwonan yang tertata begitu indah, tatapannya menyapu hamparan rumput hijau dan jatuh diujung bunga kuntha yang tengah berkembang.

    “Dinda sedang mengandung anakku”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan memalingkan wajahnya menatap mata Ken Padmi istrinya.

    “Tetapkanlah hati Kakanda, bukankah Kakanda selalu mengajarkan kepada dinda untuk memasrahkan segalanya kepada Gusti Yang Maha Kasih ?”, berkata Ken Padmi kembali dengan suara penuh kelembutan berusaha membangun kemantapan dan ketegaran hati suaminya tercinta.

    Semilir angin genit membelai tangkai bunga kuntha, serbuk sari diujung bunga itupun jatuh, berguguran.

    • ciattttttttt……., sambi melenting bersalto tiga kali dan turun perlahan dengan ringannya.

  27. “Senja sudah hampir berakhir”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan sambil memandang Ken Padmi istri tercintanya.

    “Masih ada beberapa senja yang akan hadir dalam kebersamaan kita”, berkata Ken Padmi sambil mengedipkan matanya menggoda.
    Sementara itu diwaktu yang sama di Padepokan Bajra Seta, di pendapa hanya tinggal Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Mahesa Murti.

    Perlahan malam mulai merayap menutupi warna senja, langit diatas Padepokan Bajra Seta itupun akhirnya dipenuhi kegelapan yang senyap.

    “Aku merasakan bahwa ilmu yang kalian bawa dari Padepokan Bajra Seta ini telah menjadi semakin matang bersama panjangnya masa pengembaraan kalian”, berkata Mahesa Murti penuh senyum kebanggaan menatap dua orang cantrik terbaik yang pernah diasuhnya itu.

    “Pengembaraan telah mematangkan ilmu yang Paman Mahesa Murti wariskan kepada kami, namun tetap saja aku masih berada jauh dibawah tataran ilmu saudaraku ini”, berkata Raden Wijaya sambil melirik penuh senyum kearah Mahesa Amping.

    Mahesa Murti menatap wajah Mahesa Amping, diam-diam mengagumi pemuda dihadapannya itu, seorang pemuda yang memang mempunyai bakat yang luar biasa yang diharapkan akan dapat melanjutkan dan mengembangkan Padepokan Bajra Seta setelah dirinya tiada. Namun garis hidup ternyata berkata lain, pemuda itu telah menjadi seorang prajurit Singasari, bahkan telah diangkat menjadi seorang guru agung di Pura Indrakila.

    “Hati kecil selalu berbisik untuk kembali ke Padepokan yang gayem ini, tempat dimana aku merasakan kedamaian hidup sejati, bersama bau lumpur disawah dalam canda dan tawa persaudaraan yang penuh ketulusan dari para cantrik Padepokan ini. Namun diri ini sendiri sepertinya tidak mampu menahan arus deras garis hidupku sendiri, aku merasakan diri ini seperti kerikil kecil yang tengah hanyut dibawa arus jauh dari mata air tempatnya tumbuh”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti yang sepertinya dapat menangkap dan membaca perasaan Mahesa Murti terhadapnya.

    “Garis hidup dari Gusti Yang Maha Agung adalah ketetapan yang mutlak yang tidak ada seorang hambapun yang dapat menghindarinya. Apapun dan siapapun dirimu, terimalah sebagai karunia ketetapan dari Yang Maha Agung. Bersyukurlah, itulah sebaik-baik sikap pengabdian seorang hamba kepada Sang Maha Karsa.

    “Aku mohon doa dan restu dari Kakang, semoga rasa syukur terus hidup dimanapun aku berada”, berkata Mahesa Amping penuh rasa hormat dihadapan guru dan sekaligus kakak angkatnya itu yang sangat dicintainya seperti saudara kandungnya sendiri.

    “Aku selalu berdoa untuk kalian”, berkata Mahesa Murti dengan senyumnya yang sejuk kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    • eh…. ternyata masih ada to
      hihihihi…, satpam sudah terlelap semalam
      kamsiaaa………………………….!!!

  28. Wussss….., Mahesa Kompor pendekar super sakti terlihat melesat dikegelapan malam dan berhenti di sebuah gardu ronda.

    “Sepi tenan malam ini”, berkata Mahesa Kompor pendekar super sakti.

    Wusss……., Mahesa Kompor pendekar super sakti kembali melesat cepat menghilang dikegelapan malam.

    • timik…timik… (mengendap endap) memasuki peraduan, dengan ilmu penyerap bunyi, perlahan-lahan pintu dibuka dan ditutup kembali.
      takut membangunkan sang putri tercinta
      he he he …., selamat pagi Ki “Kompor” Sandikala.

  29. Nuwun

    Selamet malem Ki Sandikala, selamat berkenalan. Saya adalah Punakawan, abdi Ki Cantrik Bayuaji, tetapi saya bukan punakawan yang sekarang sedang ‘mondok’ di negerinya Firaun itu.

    Ki Gembleh menyebut saya Ki Puna II, inggih mangga mawon.

    Ki Sandikala,

    (Mohon maaf. Dalam sebuah lukisan Bali –katalognya saya miliki– saya temukan sebuah lukisan indah, yang berjudul Sandikala – Sang Imajinasi Waktu -)

    Beberapa “episode” tulisan Ki Sandikala sudah saya baca. Nampaknya Ki Sandikala ‘penerus’ karya Ki dhalang Singgih Hadi Mintardja.

    Salut buat Ki Sandikala.

    Sejak lakon Pelangi di Langit Singasari, yang isinya penuh dengan intrik, pertikaian berdarah, keris bergagang cangkring yang mengumbar amarah dan haus darah, pemimpin negeri yang saling dijatuhkan bahkan dibunuh.

    Pada Sang Fajar Bersinar di Bumi Singasari, benar-benar fajar baru bagi kerajaan yang bernama Singasari itu.

    Nama negeri ini oleh para ahli sejarah lebih dikenal dengan nama ibukotanya yaitu Kotaraja — lokasinya tepatnya kini sulit diketahui dengan pasti, namun taman pemandian Ken Dedes disebutkan terletak di dalam “kota” Tumapel (Kotaraja), yang dalam PdLS adalah di Padang Karautan, sedangkan Serat Kidung Pararaton menyebutnya Taman Boboji, terletak disekitar stasiun Kereta Api Singasari sekarang.

    Singasari mencapai masa keemasannya di bawah pemerintahan duli Paduka Maharaja Kertanegara yang ketika menjadi makamañgalya atau raja muda yuwaraja bergelar Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa, dan ketika sebagai raja bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa.

    Gagasan Penyatuan Bumi Nusantara (Cakrawala Mandala Nusantara) atau wawasan nusantara, dicetuskan oleh Raja Kertanagara ini. Masa-masa pemerintahan beliaulah Nusantara dipersatukan di bawah panji-panji Singasari.

    Pada masa pemerintahannya, Kertanagara sudah mempunyai cita-cita untuk meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke luar Jawa. Tindakan Kertanagara untuk meluaskan kekuasaannya ke luar Jawa tersebut sebenarnya dilakukan untuk menghadang ancaman dari Cina, yakni kaisar Khubilai Khan dari dinasti Yuan, yang juga sedang melebarkan kekuasaannya hingga ke daerah selatan (Burma, Kamboja, Campa, hingga ke Jawa).

    Disinilah Kertanagara mengubah dari yawadwimandala berpusat pada Jawa, ke cakrawala mandala — perluasan sampai ke luar pulau Jawa– . Namun, apa yang telah dilakukan oleh Kertanagara ini sempat terhenti karena penyerangan Jayakatwang dari Kediri (1292). Termasuk Balidwipa, yang dalam Rontal Pujasastra Negarakretagama disebutkan pengiriman kembali tentara Singasari atas perintah Kertanagara untuk menaklukkan Bali. Ekspedisi kedua ini berhasil dan mengantarkan raja Bali sebagai tawanan perang.

    Ternyata apa yang diperjoangkan pada Abad ke-13 di Persada Nusantara oleh Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa yang dalam ke-bhineka-an untuk mempersatukan Nusantara yang dikenal denganCakrawala Mandala Nusantara tersebut, kemudian dijadikan inspirasi dan diperjoangkan kembali oleh Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa untuk memperkuat persatuan Nusantara di bawah kedaulatan Kerajaan Majapahit.

    Selamat berkarya Ki.

    Nuwun

    Punakawan.

    • Selamat malam juga Ki Puna 2, hehehe
      Salam dan doa saya untuk Ki Bayuaji dimanapun beliau berada

    • Sugeng rawuh Ki Puna II, dherek tepang.

  30. Nuwun

    @ Ki Sandikala

    Salam dan doa Ki Sandikala, Insya Allah, saya sampaikan kepada Begawan Bayuaji,.Beliau tengah melanglang jagad, njenguk Ki Puna yang satu itu, yang lagi ‘nyantri’.

    @ Ki Budi Prasojo

    Mugi-mugi pitepangan punika saged ndamel lestantunipun anggen kita silaturrahmi wonten alam amun-amun — dunia maya– padepokan pelangisingasari.

    Kanjeng Nabi Muhammad SAW nate ngendika: “Ora bakal mlebu suwarga wong sing medhot tali silaturahmi”.

    Salah satunggaling hadits dipun sebutaken: Sing sapa kepengin dawa umure lan gampang rejekine padhaa nyambung tali silaturahmi. Wong sing medhot tali silaturahmi, dilaknat dening Allah

    (Nyuwun sewu, menawi lepat, sumangga kaleresaken).

    Nuwun

    Punakawan

  31. matur nuwun Ki Sandikala
    sugeng pepanggihan Ki Puna II
    selamat siang semuanya

  32. Ki Dhalang menyisipkan lirik lagu kenangan,

    Hati kecil berbisik, untuk kembali kepadanya…….
    sribu kata menggoda, sribu sesal di depan mata…..
    seperti menjelma……….
    waktu aku tertawa…..kala memberimu..rontal

  33. Sugeng dalu.

    • Sugeng dalu.ugi

  34. Dua hari Mahesa Amping dan Raden Wijaya tertahan di Padepokan Bajra Seta melepas segenap kenangan dan kerinduan mereka bersama kehidupan para cantrik Padepokan Bajra Seta yang gayem.

    Pada hari ketiga, dipagi yang masih basah dan bening terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta bersama dibelakang mereka tiga orang cantrik terbaik di Padepokan Bajra Seta yang tidak lain adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

    Lima orang kesatria berkuda terlihat tengah berjalan menapaki jalan bulakan yang panjang, membelah padang ilalang, mendaki dan menuruni bukit dan lembah yang hijau dipayungi gerumbul awan dilangit biru.

    “Aku pernah mendengar bahwa Balidwipa tercipta dari sebuah bunga surga yang jatuh ke bumi”, berkata Mahesa Semu ketika mereka bersama menghangatkan diri didekat perapian disebuah hutan tempat mereka bermalam.

    “Seperti melihat wajah gadis manis yang tersenyum kepadamu, tidak mudah melupakannya sehari dua hari”, berkata Mahesa Amping membenarkan perkataan Mahesa Semu.

    “Sayangnya tidak ada seorang gadispun yang pernah tersenyum kepadaku”, berkata Sembaga sambil menambahkan ranting kayu kering diatas perapian yang ditanggapi deri tawa semua yang mendengarkan.

    “jangankan seorang gadis dapat tersenyum, anak kecil saja akan berlari memeluk bundanya setiap kali bertemu dengan Paman Sembaga yang seram”, berkata Raden Wijaya.

    “Wajah pamanmu memang seram, tapi hatinya selembut salju”, berkata Wantilan ikut berseloroh menghangatkan suasana yang dingin di hutan itu.

    “Bila Wantilan menyanjung seseorang, pasti ada yang diinginkan”, berkata Sembaga sambil menambahkan kembali ranting kering diperapian yang sudah hampir surut. “kali ini mungkin berharap aku memanjangkan waktu gilir berjaga malam”, berkata kembali Sembaga melanjutkan kata-katanya yang terhenti.

    “Terima kasih, ternyata kamu memang pandai membaca perasan hatiku”, berkata Wantilan dengan wajah penuh senyum.

    Demikianlah, lima orang kesatria dari Padepokan Bajra Seta sepertinya telah menemukan kembali suasana pengembaraan yang telah lama mereka tinggalkan.

    Seperti biasa dalam setiap pengembaraan, malam itu mereka mengatur waktu secara bergiliran untuk berjaga, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin saja dapat terjadi. Jiwa para pengembara memang selalu dipenuhi naluri kewaspadaan yang tinggi, meski dalam keadaan tertidur mereka selalu dalam keadaan siaga terjaga.

    Dan malam di hutan itu perlahan merayapi waktu dalam kesenyapan yang dingin ditingkahi berbagai suara binatang hutan yang kadang mengusik kesunyian malam.

    • matur suwun

      • matur suwun
        sugeng siang

  35. Ternyata sepanjang malam itu tidak ada hal yang dapat banyak mengganggu, ketika pagi menjelang mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Bandar Cangu.

    Ditemani cahaya matahari yang terus bersinar sepanjang hari, lima orang Ksatria dari Padepokan Bajra Seta memacu kudanya menghadang angin disepanjang jalan tanah yang berdebu.

    Jalan menuju Bandar Cangu sudah semakin mendekat, akhirnya ketika matahari telah bergeser sedikit kebarat mereka telah mendekati Bandar Cangu.

    “Selamat datang wahai saudaraku”, berkata Rangga Lawe menyambut semua yang baru saja tiba bersama Kebo Arema di Balai Tamu.
    Setelah menyampaikan beberapa kata keselamatan masing-masing, mereka yang baru tiba itu bersama dijamu dan beristirahat.

    “Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan bersama Senapati Mahesa Pukat”, berkata Raden Wijaya ditengah-tengah percakapannya.

    “Aku juga sudah begitu rindu dengan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Pukat ikut menambahi.

    “Diakhir senja kita bersama ke Benteng Cangu”, berkata Kebo Arema.
    Demikianlah menjelang saat senja telah berakhir, mereka semua turun dari Balai Tamu menuju Benteng Cangu.

    “Kakang Mahes Murti dan semua warga padepokan Bajra Seta menyampaikan salam untuk Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat sambil bercerita tentang Padepokan Bajra Seta yang baru saja dikunjungi.

    “Dalam kesendirian, kadang aku sangat rindu dengan kehidupan di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Pukat seteleh mendengar cerita Mahesa Amping tentang Padepokan Bajra Seta.

    Akhirnya mereka masuk dalam pembicaraan yang lebih dalam, membahas beberapa hal sehubungan dengan rencana Singasari mengamankan Balidwipa.

    “Seribu orang prajurit di Benteng Cangu ini dapat membantu pasukannmu”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

    “Terima kasih, dua ribu pasukan muda Bahtera laut dan seribu prajurit dari Benteng Cangu adalah sebuah kekuatan yang dapat diandalkan”, berkata Raden Wijaya yang merasa gembirpatkan mendapatkan bantuan seribu prajurit dari Mahesa Pukat.

    “Berapa yang kamu butuhkan untuk memperkuat pasukanmu ?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping adik angkatnya itu yang ternyata telah mengikuti jejak langkahnya menjadi prajurit Singasari. Sepertinya baru kemarin pemuda dihadapannya itu sebagai bocah kecil yang selalu sangat dikhawatirkannya terutama ketika pecah pertempuran, dengan keras dialah yang dengan mengancam agar Mahesa Amping kecil tidak keluar dan bersembunyi di bawah tumpukan lumbung padi dan jagung.

    • Mahesa Kompur super sakti menyalakan rokoknya sambil bersenandung :

      Lalu kubisikkan, sebaris kata-kata
      putus asa…………..
      bentar lagi…….hujan.

      • Kamsiiiiaaaaaaaaaaa…….!!!!!!!!!

  36. “Ada beberapa kekuatan dari Balidwipa yang dapat kuandalkan dapat membantu”, berkata Mahesa Amping menyampaikan siapa saja kekuatan di Balidwipa yang akan diajak bergabung dengan pasukannya.

    “Aku pernah mendengar bahwa seorang pengikut Raja Leak setara dengan sepuluh orang prajurit ?”, berkata Kebo Arema ikut bangga bahwa Mahesa Amping dapat memanfaatkan para pengikut Raja Leak.

    “Raja Indrakila juga telah berjanji untuk mendukung perjuangan kita”, berkata Mahesa Amping menambahkan daftar orang pribumi yang akan mendukung perjuangan mereka.

    “Pasukan khususmu akan menjadi kunci pembuka kemenangan gelar yang akan kita turunkan di Balidwipa”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping.

    “Yang harus diperhitungkan adalah mengalirnya pasukan musuh dari luar Balidwipa yang dibawa oleh para saudagar dari Tanah hindu sebagai prajurit bayaran akan mencari tempat selain Bandar Buleleng yang telah dipenuhi para prajurit Singasari”, berkata Kebo Arema memberikan masukannya.

    “Sebelum datangnya bantuan, para prajurit bayaran itu akan berhadapan dengan pasukanmu, hal itu perlu disiapkan dengan baik”, berkata Mahesa Pukat mengingatkan Mahesa Amping untuk membuat perencanaan dan persiapan yang lebih masak lagi.

    “Artinya aku perlu pasukan yang kuat untuk dapat menutup bocoran-bocoran mengalirnya prajurit bayaran masuk ke Balidwipa”, berkata Mahesa Amping diam-diam mengagumi ketelitian sudut pandang dari Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

    “Bukan Cuma pasukan yang kuat, yang kamu butuhkan juga banyak mata yang terus berjaga, tidak mustahil para prajurit bayaran itu masuk lewat penyamaran berbagai topeng”, berkata Kebo Arema kembali memberikan pandangan dan masukannya.

    “Ternyata mata Sri baginda Maharaja sangat begitu jeli, jauh-jauh telah berpesan kepadaku untuk membawa seorang ahli siasat seperti Pamanda Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping bercerita tentang pesan dan amanat Sri Baginda Raja Singasari untuk membawa Kebo Arema mendampinginya.

    “Sebenarnya Sri Maharaja Singasari menjadi iri melihat keahidupanku sebagai pengangguran di Bandar Cangu ini, sementara kalian tengah berjuang berkeringat darah di Balidwipa”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang.

    “Pamanda kebo Arema pandai merendahkan dirinya, para prajurit bayaran yang sehari-harinya sebagai perompak akan berpikir ulang manakala mengetahui nama besar Karaeng Taka menjadi lawan mereka”, berkata Raden Wijaya yang mengetahui nama besar Kebo Arema di sepanjang selat Malaka yang dikenal sebagai Pendekar muda Karaeng Taka yang sangat ditakuti oleh para perompak.

    • maaf ada yang terlepas belum di copas :

      Terlihat Kebo Arema tidak berkata apapun selain hanya tersenyum sambil memainkan tangannya mengelus janggut panjangnya yang sudah berubah dua warna.

      Sementara itu langit malam diatas Benteng cangu sudah begitu kelam menyisakan kesenyapannya.

  37. kembali Mahesa Kompor super sakti menyalakan rokoknya sambil bersenandung :

    Habis berbatang-batang
    Tuan belum datang,
    Dalam hati resah menjerit bimbang

    Apakah esok hari,
    anak-anakku dapat makan,
    Tuhan berilah setetes rejeki………………….,

    cihuiiiiiiiiii ,,,,tarik Kangmas Gembleh………………

    • beri terang jalan anak hamba………..
      kabulkanlah…….TUHAN.

  38. Pada hari berikutnya, Raden Wijaya langsung melakukan berbagai persiapan. Diantaranya menyiapkan tiga ribu prajurit menjadi sebuah kesatuan yang sangat diandalkan. Dan yang sangat menggembirakan lagi bahwa seorang Senapati tangguh yang dinantikan telah datang sesuai waktu yang direncanakan, dia adalah Akuwu Mahesa Bungalan, salah seorang putra Mahendra pahlawan Singasari yang sudah sangat dipercaya kesetiaannya maupun pengalamannya memimpin pasukan besar. Dialah yang dipercayakan Sri Baginda Maharaja Singasari untuk menjadi Senapati prajurit Singasari yang akan berjuang membawa kewibawaan serta keagungan Singasari di Balidwipa.

    Hal pertama yang dilakukan oleh Akuwu Mahesa Bungalan adalah mempersatukan semangat prajuritnya dalam satu pandangan.

    “Dalam waktu dekat ini kita akan bersama menuju kesebuah medan perang besar, semboyan kita adalah tidak akan pulang sebelum membawa kemenangan besar, dan lebih memilih mati bebantenan ketimbang pulang menjadi pecundang”, berkata Mahesa Bungalan dengan suara yang keras penuh wibawa. Seketika itu suasana menjadi begitu senyap, tiga ribu prajurit sepertinya bersama menahan nafas menanti apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Panglima besar mereka itu. Hari ini aku masih membuka peluang untuk kalian pikirkan, keluar dari pasukanku hari ini adalah sebuah kehormatan daripada lari dari pasukanmu di medan perang”, berkata kembali Akuwu Mahesa Bungalan dengan suara yang terdengar menggema terasa menghentak hati dan dada para prajuritnya.

    Sengaja Akuwu Mahesa Bungalan berhenti bicara untuk memberikan kesempatan prajuritnya untuk berpikir atas apa yang telah ditawarkannya.

    Ternyata tidak satupun dari tiga ribu prajurit itu yang memilih untuk keluar dari pasukannya.

    “Terima kasih telah memutuskan menjadi bagian dari pasukan besar ini”, berkata Mahesa Bungalan yang merasa bangga bahwa tidak ada satupun prajuritnya yang berpikir untuk keluar dari pasukannya meskipun telah diberikan peluang dan kesempatan untuk itu tanpa mengurangi kehormatan apapun yang melekat pada diri mereka. “Aku bangga ada diantara kalian, para prajurit Singasari yang akan membawa kebesaran dan keagungan Singasari, para prajurit sejati kebanggaan Singasari Raya”, berkata Mahesa Bungalan yang diiringi gemuruh suara tiga ribu prajuritnya yang merasa terbangun semangat jiwa prajuritnya.

    Maka pada hari yang telah ditentukan itu akhirnya datang juga, dua buah bahtera besar Singasari telah disiapkan untuk membawa tiga ribu prajuritnya menuju Balidwipa.

    Namun sepekan sebelumnya, tidak seorangpun selain beberapa orang yang mempunyai tujuan yang sama yang dapat melihat lima puluh orang prajurit telah mendahului menuju Balidwipa.

    Mereka adalah sepasukan khusus yang dipimpin langsung oleh seorang prajurit perwira muda yang tidak lain adalah Mahesa Amping yang akan bertugas sebagai pasukan tidur, sebuah pasukan kecil yang tidak mudah terlihat, namun mempunyai berbagai fungsi ganda.

    Lima puluh orang prajurit itu telah berangkat sepekan sebelum keberangkatan tiga ribu prajurit pasukan inti dibawah pimpinan Mahesa Bungalan.

    • cihui…….
      pulang bakda Isya
      cuapek sekali
      rebahkan diri di ruang TV dadak bablasen
      tidak tahu dipadeppokan ada hujan rontal
      he he he …

      kamsiaaa…………………..
      bagian satu sudah bisa dibundel

    • Matur Suwuuuuuuuun……

  39. Kelima puluh prajurit pasukan khusus ini berangkat secara bertahap dalam berbagai bentuk penyamaran. Tidak sebagaimana tiga ribu prajurit inti yang akan menuju Balidwipa lewat Bandar Curabhaya, kelima puluh prasjurit pasukan khusus itu menuju Balidwipa lewat sungai Sorong. Dan menyebrang Balidwipa lewat Muara Sungai Porong.

    Mahesa Amping, Kebo Arema dan tiga orang cantrik terbaik dari Padepokan Bajra Seta berangkat dalam satu rombongan pertama.

    Rombongan ini telah tiba di muara Porong bersamaan dengan waktu senja. Kebo Arema mengajak mereka bermalam di perkampungan nelayan, di gubuk tempat tinggal Kebo Arema yang sudah begitu lama ditinggalkannya itu.

    Seorang perempuan tua terbungkuk-bungkuk berjalan mendekati gubuk tempat tinggal Kebo Arema, mungkin perempuan tua itu merasa heran ada beberapa orang berada di gubuk yang sudah lama kosong tanpa penghuninya itu.

    “Ternyata pemilik rumah ini sendiri”, berkata perempuan itu ketika melihat Kebo Arema yang berada digubuknya sendiri. Yang masih dikenalnya dengan baik.

    “Terima kasih telah menjaga gubuk ini selalu bersih”, berkata Kebo Arema kepada perempuan tua itu.

    Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, terlihat perempuan itu pamit untuk kembali kerumahnya yang tidak begitu jauh selisih beberapa meter dari gubuk tempat tinggal Kebo Arema. Namun tidak lama kemudian perempuan itu telah dtang kembali.

    “Aku punya banyak dendeng ikan”, berkata perempuan itu menyerahkan beberapa potong dendeng ikan.

    “Terima kasih Nyi”, berkata Kebo Arema kepada perempuan itu yang terlihat tengah melangkah untuk kembali kerumahnya.
    Malam di perkampungan muara Porong itu terasa begitu dingin, semilir angin tiada henti berhembus dari lembah bukit hijau yang tinggi menjulang.

    Ketika pagi menjelang mereka berlima melanjutkan perjalanannya menyusuri pesisir ujung Jawadwipa. Mereka singgah dibeberapa tempat sambil tidak lupa memberi berbagai tanda jalur sandi untuk dapat dibaca oleh rombongan dibelakang mereka. Dan akhirnya menyeberang ke Balidwipa lewat tepian pantai Tanah Melaya.

    Pagi yang bening menyambut kedatangan mereka di pesisir pantai Tanah Melaya. Mahesa Amping membawa rombongannya menuju rumah Ki Subali.

    “Semoga kesejahteraan dan keselamatan memenuhi dirimu wahai putra Tanah Melaya penuntun arah bintang ”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Subali yang menyambutnya penuh kegembiraan.

    “Selamat datang kembali di Tanah Melaya”, berkata Ki Subali menyambut rombongan Mahesa Amping.

  40. waduh operasi gabungan sedang disiapkan
    mantaaaaaaap
    kamsssiiiiiiiaaa

  41. “Empu Dangka diminta untuk tinggal di Istana oleh Sri Baginda Maharaja Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Subali yang menanyakan tentang Empu Dangka yang tidak ikut menyertainya.

    “Mudah-mudahan orang tua itu betah tinggal di satu tempat”, berkata Ki Subali yang telah banyak mengenal Empu Dangka sebagai seorang pengembara.

    Setelah beristirahat yang cukup di kediaman rumah Ki Subali, Mahesa Amping bercerita tentang beberapa tugasnya.

    “Apa yang dapat kubantu untuk perjuangan kalian ?”berkata Ki Subali menawarkan dirinya.

    “Ki Subali dapat mengerahkan beberapa orang untuk mengamati sepanjang pesisir pantai barat Balidwipa, melaporkan kepada kami bila menemui ada pihak asing masuk keperairan ini”, berkata Mahesa Amping tentang tugas yang dapat dilakukan oleh Ki Subali yang punya pengaruh besar diantara para nelayan sepanjang pesisir barat Balidwipa.

    “Pekerjaan yang tidak perlu banyak keringat, orang-orangku para nelayan dapat melakukannya sambil mencari ikan di sepanjang pesisir ini”, berkata Ki Subali menyanggupi tugas yang diberikan oleh Mahesa Amping.

    “Aku juga mohon ijin untuk menempatkan pasukanku dihutan ujung Tanah Melaya ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Subali.

    Setelah menyampaikan beberapa hal yang penting terutama tentang tanda dan jalur rahasia yang akan mereka pergunakan, Mahesa Amping mohon pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

    Ketika matahari telah sedikit bergeser kebarat, mereka telah memasuki sebuah hutan disebelah timur pesisir pantai Tanah Melaya.

    “Kita akan menempatkan pasukan bergerak di hutan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema, Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga.

    “Tempat yang baik untuk menyimpan sisa tenaga”, berkata Sembaga sambil pandangannya menyapu sekeliling merasakan keteduhan yang redup.

    “Sebentar lagi rombongan pasukan kita akan mengalir ke hutan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga yang diminta untuk mengatur semua pasukan khususnya mewakili dirinya yang akan melanjutkan perjalanan bersama Kebo Arema.

    “jangan khawatir, kami akan menyiapkan segalanya”, berkata Wantilan mewakili Mahesa Semu dan Sembaga.

    “Aku percaya pada kalian”, berkata Mahesa Amping sambil melambaikan tangannya melanjutkan perjalanannya bersama Kebo Arema.

    Akhirnya bersamaan dengan jatuhnya matahari diujung timur cakrawala langit senja, Mahesa Amping dan Kebo Arema telah memasuki sebuah Padukuhan.

    • Kamsiaaaaaaaa….!!!

      • kamsiiiaaaaaa juga ……????!!!!!

  42. Sore-sore disduguhi rontal…..hup langsung habis…….Matur Suwun Ki Dalang.

  43. Jalan padukuhan itu sudah begitu sepi, akhirnya Mahesa Amping dan Kebo Arema mendapatkan dua orang yang tengah berada di gardu ronda tidak jauh dari sebuah rumah.

    “Tidak usah di Banjar Desa, bermalamlah di rumahku”, berkata salah seorang diantara kedua lelaki itu sambil menunjuk kearah rumahnya.

    “Terima kasih, mudah-mudahan tidak merepotkan”, berkata Mahesa Amping kepada lelaki itu.

    “Tidak merepotkan, aku tinggal sendirian di rumah”, berkata lelaki itu dengan senyum terbuka terlihat begitu ramah.

    Ketika seorang yang bersamanya pamit diri di gardu ronda itu, lelaki itu mengajak Mahesa Amping dan Kebo Arema kerumahnya.

    “Dulu aku sering melanglang, kalian mengingatkan diriku waktu masih muda”, berkata lelaki itu memberi alasan mengapa begitu baik menerima orang asing kerumahnya. “Hari ini aku menerima kalian bermalam, mungkin dalam kehidupan lainnya, buyutku bermalam dirumah buyut kalian, begitulah kehidupan saling bertukar”, berkata kembali lelaki itu yang sudah cukup berumur terlihat dari banyak kerut di wajahnya.

    “Namaku Mahesa Amping dan ini pamanku Kebo Arema, kami bermaksud untuk mengunjungi anak keponakan kami yang tinggal di kaki Bukit Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu menyampaikan tujuan perjalanannya.

    “Namaku Made Jantak, namun orang disini lebih senang menyebutku dengan panggilan Ki Gayem”, berkata orang itu ikut memperkenalkan dirinya.

    Terlihat orang itu yang biasa di panggil Ki gayem itu mempersilahkan Mahesa Amping dan Kebo Arema duduk di Bale-bale bambu, sementara dia sendiri terlihat masuk kedalam.

    Ternyata Ki Gayem keluar kembali sambil membawa setumpuk pisang rebus.

    “Tadi pagi aku baru saja menebang setandan pisang kepok”, berkata Ki Gayem sambil mempersilahkan Mahesa Amping dan Kebo Arema menikmati rebusan pisang kepok yang disediakan.

    Sementara itu langit malam sudah terlihat begitu kelam, pucuk pohon tangkil didepan rumah Ki gayem terlihat merunduk tertiup angin yang berhembus kencang.

    Ternyata Ki Gayem adalah orang yang pandai bercerita, bertemu dengan Kebo Arema maka seperti berjodohlah mereka, sama-sama punya banyak pengalaman diberbagai tempat. Dan banyak tempat yang sama-sama pernah mereka singgahi.

    “Bila tidak ingat aturan, aku mungkin sudah kecantol gadis pulau Bader”, berkata Ki Gayem bercerita tentang sebuah pulau kecil yang sama-sama pernah disinggahi pula oleh Kebo Arema.

    “Lelaki di Pulau Bader dapat dibeli dengan harga lima ekor babi”, berkata Kebo Arema menimpali cerita Ki Gayem membuat cerita mereka seperti tidak pernah putus dan terus berkembang.

    • ditambah lagi Ki Budi P (hehehe)

      • suwun njih

        • inggih pak Satpam.

        • he he he … di Pulau Bader banyak babinya
          lha Pulau Babi banyak apanya ya?

          • Pertanyaan sangat mudah …ya banyak Badernya. Matur suwun Ki Dalang tambahan suguhannya, alhamdulillah kenyang.

  44. Sementara itu sang malam terus merayap menggayuti dingin dan kesenyapan.

    “Maaf bila aku banyak bercerita, sementara kalian harus beristirahat”, berkata Ki Gayem mengerti bahwa malam sudah semakin larut.

    “kami senang dengan semua kisah Ki gayem”, berkata Mahesa Amping kepad Ki Gayem.

    Akhirnya Mahesa Amping dan Kebo Arema masuk ke bilik yang telah disediakan.

    Dan malampun berlalu bersama hawa dingin yang masih terasa menembus bilik yang terbuat dari anyaman bambu.

    “Biarlah aku yang berjaga lebih dulu”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil bersandar pada pilar kayu diujung peraduan.

    “Bangunkan aku bila saatnya tiba”, berkata Kebo Arema sambil meluruskan kakinya diatas peraduan.

    Tidak lama kemudian Kebo Arema sepertinya sudah jauh terlelap, sementara itu terlihat Mahesa Amping masih bersandar pada tiang kayu pilar diujung peraduan.

    Meski matanya terpejam, panca indern Mahesa Amping selalu terjaga. Tidak ada bunyi yang terluput dari pendengarannya, mulai dari suara gesekan bambu disamping rumah Ki Gayem yang beradu tertiup angin, suara tikus yang tengah mengerat kayu, bahkan suara halus seekor cecak yang tengah mengunyah nyamuk yang tertangkap masih dapat didengar oleh Mahesa Amping.

    Panca indera Mahesa Amping memang terus terjaga, sementara itu segala akal budi dan pikirannya telah hilang bersatu dalam alam kesunyatan, alam ketiadaan bunyi dan waktu. Sejenak Mahesa Amping merasakan suara dan getaran kebahagiaan yang membahana, itulah suara nirwana yang memanggil-manggil jiwanya untuk singgah, tapi Mahesa Amping lebih memilih meneruskan pengembaraan jiwanya di alam ketiadaan yang abadi.

    “Terima kasih, telah berjaga sepanjang malam”, berkata Kebo Arema yang telah terbangun kepada Mahesa Amping yang masih bersandar pada pilar kayu diujung peraduan.

    Mendengar suara Kebo Arema, Mahesa Amping membuka kelopak matanya yang terpejam.

    “Hari masih diujung malam, masih ada waktu untuk meluruskan badan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil menggeser punggungnya turun dan rebah diperaduan.

    Terlihat Kebo Arema bangkit dan bersandar pada pilar kayu diujung peraduan.

    “Matahari pagi masih bersembunyi”, berkata Kebo Arema sambil matanya menyapu sekeliling bilik bambu yang masih temaram diterangi sebuah pijar kecil di atas tanah disamping peraduan yang sudah mulai redup, mungkin sudah lama tidak ditambahkan minyak jaraknya.

    Akhirnya sang matahari pagi yang ditunggu telah menggeliat naik, cahayanya terlihat menembus kisi-kisi anyaman bilik bambu.

  45. Selamat pagi kadank sedoyo,

  46. “Aku belum menyiapkan sarapan pagi”, berkata Ki Gayem kepada Kebo Arema dan Mahesa Amping yang akan melanjutkan perjalanannya.

    “Terima kasih telah memberi kami tumpangan”, berkata Kebo Arema kepada Ki Gayem.

    Diiringi tatap pandang Ki Gayem, terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema telah melangkahkan kakinya di jalan Padukuhan yang sudah mulai terlihat ramai.

    Semilir angin mengiringi langkah Mahesa Amping dan Kebo Arema yang telah keluar dari regol pintu gerbang Padukuhan memasuki jalan bulakan panjang.

    “Dibalik gumuk besar itu kita akan memasuki sebuah hutan yang cukup lebat”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema menyampaikan arah yang akan mereka tempuh.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, terlihat mereka tengah mendaki sebuah gumuk besar yang ternyata sebuah batu karang yang banyak ditumbuhi rerumputan.

    “Hutan itukah yang akan kita lewati ?”berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah hutan lebat didepan mereka.

    “Benar, itulah hutan yang harus kita lewati”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil terus melangkah menuruni gumuk besar menuju sebuah hutan yang sudah terlihat.

    Hutan didepan mereka memang sangat begitu lebat, terlihat pohon-pohon kayu tinggi menjulang dan sangat kerap sekali dipenuhi tanaman belukar.

    Panas terik membakar tubuh Mahesa Amping dan Kebo Arema yang tengah berjalan di padang ilalang, terlihat mereka mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai ke hutan lebat dan terhindar dari teriknya matahari yang membakar kulit.

    Akhirnya mereka telah sampai di tepi hutan lebat itu dan langsung memasukinya.

    Hutan itu memang sangat kerap sekali, Mahesa Amping dan Kebo Arema terlihat masuk semakin dalam menerobos semak belukar.

    “Kita telah sampai”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil menunjuk sebuah goa yang tersembunyi oleh batu-batu besar dan semak belukar.

    “Hanya orang aneh yang tinggal di tempat ini”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Tidak begitu aneh setelah kita mengenalnya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum dan mengajak Kebo Arema untuk memasuki goa itu.

    Terlihat Mahesa Amping memasuki goa itu diikuti dari belakang oleh Kebo Arema.

    “Selamat datang saudaraku”, berkata seseorang ketika mereka telah memasuki sebuah bagian goa yang cukup luas.

  47. Matru suwun Ki

    • matru suwun ugi Ki BP

      • Wah Ki Dalang niki pancene radi nopo ngono…………wong tuwo salah tambah diece…….

  48. “Selamat berjumpa kembali wahai penguasa kegelapan”, berkata Mahesa Amping kepada orang yang menyapanya yang tidak lain adalah Ki Jaran Waha yang tengah duduk diatas sebuah pilar batu.

    “Dimana anak muda yang biasa melayanimu ?”, bertanya Mahesa Amping yang melihat Ki Jaran Waha hanya seorang diri.

    “Belum pulang berburu, mungkin sebentar lagi”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping sambil menatap kearah Kebo Arema.

    “Perkenalkan ini sahabatku, paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan diri Kebo Arema kepada Ki jaran Waha.

    Setelah menyampaikan beberapa kata keselamatan masing-masing, akhirnya Mahesa Amping langsung menyampaikan tujuannya datang menemui Ki Jaran Waha.

    “Besok aku akan meminta beberapa pengikutku untuk menyiapkan dua buah lumbung diantara perjalanan bandar Buleleng menuju Pura Besakih”, berkata Ki Jaran Waha yang langsung bersedia membantu Mahesa Amping.

    “Terima kasih atas segala kesediaannya”, berkata Mahesa Amping.

    “Itulah artinya sebuah persaudaraan”, berkata Ki Jaran Waha.”Aku juga akan menyertakan dua puluh lima pengikutku membantu pasukanmu”, berkata kembali Ki Jaran Waha.

    “Aku sangat berterima sekali”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

    “Itulah arti sebuah persaudaraan”, berkata Ki Jaran dengan tawa berderai. “ada lagi ?”, bertanya Ki Jaran Waha setelah tawanya yang berderai berhenti.

    “Masih ada lagi”, berkata Kebo Arema yang sudah mulai terbiasa menghadapi sikap Ki Jaran Waha yang sangat terbuka itu. “Dapatkah Ki Jaran Waha menyiapkan lima puluh ekor kuda dalam waktu yang singkat ini ?”, berkata kembali Kebo Arema meneruskan kata-katanya.
    Kembali terdengar derai tawa Ki Jaran Waha.

    “Tunjukkan dimana aku membawa ke lima puluh ekor kuda itu”, berkata Ki Jaran Waha yang kembali menyanggupinya.

    Mahesa Amping menjelaskan kemana harus membawa kuda-kuda itu serta beberapa kesepakatan lainnya untuk menyiapkan dua buah lumbung bagi pasukan besar yang akan memasuki Balidwipa.

    “Sedapat mungkin kita menghindari banyak darah, terutama para penduduk desa”, berkata Mahesa Amping setelah dengan rinci menjabarkan rencana besar menguasai Balidwipa.

    “Aku sangat mempercayaimu wahai saudaraku, Balidwipa ini adalah tanah airku, bersamamu aku tidak merasa telah menikam dan menghianati tanah kelahiranku sendiri”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

  49. Tiba-tiba percakapan mereka terhenti manakala seorang pemuda masuk ke goa sambil membawa seekor anak kijang.

    “Makan siang sudah datang”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyum dan tawanya.

    Terlihat tangan pemuda itu begitu lincah menguliti kijang muda itu. Maka tidak begitu lama sebuah harum daging bakar sudah tercium memenuhi ruangan goa itu.

    “Selamat menikmati”, berkata Ki Jaran Waha mempersilahkan kedua tamunya makan bersama diatas pilar batu.

    Akhirnya setelah cukup beristirahat, Mahesa Amping mohon pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

    Namun belum lagi Mahesa Amping dan Kebo Arema beranjak dari duduknya, mereka mendengar suara yang mencurigakan berasal dari luar goa.

    Ki Jaran Waha memberi tanda kepada Mahesa Amping dan Kebo Arema untuk keluar mengintai.

    “Kamu tetaplah disini”, berkata Ki Jaran Waha kepada pemuda pelayannya itu sambil beranjak turun melompat dari pilar batu.
    Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema mengikuti langkah kaki Ki Jaran Waha dari belakang.

    “Sseet !”, Ki Jaran Waha memberi tanda sambil mengintip dari balik batu besar yang menghalangi goa itu.

    Ternyata yang dilihat Ki Jaran Waha adalah sekelompok orang berkuda yang tengah berhenti beristirahat di tanah yang cukup luas didalam hutan itu berada didepan goa.

    “Jarang sekali ada orang yang masuk kedalam hutan ini tanpa ada kepentingan yang mendesak”, berkata ki Jaran Waha dengan suara perlahan.

    “Kita harus mengetahui apa kepentingan mereka”, berkata Mahesa Amping juga dengan suara perlahan.

    Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema masih terus mengintai dari balik batu besar, dilihatnya beberapa orang telah turun dari kudanya dan menambatkannya dibeberapa batang kayu pepohonan.

    “Sesuai perintah kita menunggu disini penghubung yang akan menunjukkan tugas kita”, berkata seorang yang telah telah turun dari kudanya diikuti oleh beberapa orang. Sepertinya orang itu adalah pimpinan rombongan itu.

    “Dua puluh orang”, berkata Ki Jaran Waha yang sudah menghitung jumlah orang berkuda itu, tentunya dengan suara tertahan.

    “Kita harus tahu siapa mereka”, berkata Mahesa Amping masih dengan suara perlahan.

    “Dari bahasanya aku mengenal dari mana mereka berasal”, berkata Kebo Arema sambil terus mengintai.

  50. wussss………,
    Terlihat Mahesa Kompor terbang ke kamar mandi untuk siap-siap berangkat ngaji.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: