SFBDBS-13

Jilid 13

SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI

Karya : Arief Sujana (Ki Kompor/Sandikala)

Bagian 1.

Dipagi harinya, pasukan Singasari masih dijamu oleh Ki Demang. Dalam kesempatan perbincangan Kebo Arema berhasil meyakinkan Ki Demang bahwa Pasukan Singasari bermaksud untuk membersihkan kekuasaan perdagangan yang selama ini dikendalikan lewat penguasa Pura Besakih dan pelindungnya para saudagar dari Tanah Hindu.

“Yakinlah, pasukan Singasari tidak akan mengganggu ketenteraman warga Balidwipa”, berkata Kebo Arema kepada Ki Demang.

Barulah menjelang matahari sudah semakin menanjak, tanah bumi sudah terang benderang, Kebo Arema dan pasukannya mohon pamit diri.

“Para tawanan akan kami amankan untuk sementara waktu”, berkata Kebo Arema kepada Ki Demang ketika akan berpisah meninggalkan kademangan Padang Bulia.

Demikianlah, pasukan Singasari terlihat telah semakin jauh dari Kademangan Padang Bulia bermaksud kembali ke Tanah Melaya.

“Ada baiknya kamu membawa beberapa orang ke Pura Indrakila, mungkin mereka dapat banyak membantu”, berkata Kebo Arema memberi saran kepada Mahesa Amping.

“Aku akan mengajak Kakang Mahesa Semu, Paman Wantilan dan Paman Sembaga”, berkata Mahesa Amping menyetujui usul dari Kebo Arema.

Akhirnya, disebuah persimpangan jalan mereka terpaksa berpisah.

“Kebersamaan kami hanya sampai disini”, berkata Mahesa Amping ketika berada di persimpangan jalan.

“Jalur sandi kita tidak boleh terputus”, berkata Kebo Arema mengingatkan Mahesa Amping.

“Aku akan memberi kabar dalam dua tiga hari ini”, berkata Mahesa Amping yang berhenti di persimpangan jalan bersama Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga.

Sementara itu matahari diatas langit sudah mulai bergeser turun, cakrawala langit biru begitu cerah dipenuhi gerumbul awan putih.

Terlihat bunga-bunga liar dan tangkai ilalang menari tertiup angin yang bertiup sepoi basah.

“Mari kita melanjutkan perjalanan”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga ketika melihat Kebo Arema dan Pasukannya telah mulai menjauh menghilang di sebuah tikungan jalan.

Perjalanan menuju Pura Indrakila memang tidak begitu panjang, apalagi bila berkuda dan berjalan diatas tanah rata yang biasa digunakan oleh para saudagar menarik gerobag kudanya.

Maka menjelang sore hari mereka sudah tiba dibawah kaki gunung Pura Indrakila.

Sementara itu Kebo Arema dan pasukannya juga mengalami kelancaran dalam perjalanannya. Mereka pun memilih jalan tanah rata yang biasa digunakan para saudagar menarik gerobak kudanya.

Baru ketika malam telah mulai turun, Kebo Arema dan pasukannya telah kembali di Hutan Tanah Melaya.

“Hari ini kamu dan semua anak buahmu telah selesai, aku tidak akan menghalangi kemanapun kalian akan pergi”, berkata Kebo Arema kepada Badrun.

Terlihat Badrun menarik nafas panjang, tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya.

“Dimata orang-orang Pura Besakih kami adalah penghianat, mereka akan mencari kami sebagai buronan. Tempat yang paling baik sampai saat ini adalah berdiri bersama tuan”, berkata Badrun dengan wajah penuh harap.

Bergantian, saat itu Kebo Arema yang terlihat menarik nafas panjang. Apabila ada Mahesa Amping mungkin dapat berbagi pendapat.

Terlihat Kebo Arema tengah berpikir keras apa yang harus dikatakan kepada Badrun yang masih menunggu jawaban dari Kebo Arema. “Baiklah, kalian ku terima”, berkata Kebo Arema singkat

Bukan main gembiranya Badrun mendengar pernyataan Kebo Arema yang singkat. “Terima kasih tuan”, berkata Badrun penuh kegembiraan.”Aku akan menyampaikan berita gembira ini kepada semua anak buahku”, berkata kembali sambil mohon pamit untuk menemui semua anak buahnya.

Sementara itu, di Pura Besakih berita tentang tertangkapnya gerombolan Barong Asu Ngelawang sudah sampai di telinga mereka.

“Mereka telah membajak orang-orang upahan kita”, berkata Raja Adidewalancana dengan nada penuh kekecewaan.

“Bahkan mereka telah membawa ular-ular itu kerumah kita sendiri”, berkata Dewa Bakula menambahkan.

“Peperangan awal ini telah mereka menangkan, keberpihakan penduduk sudah mereka rebut. Saat ini yang kita harapkan adalah bantuan dari luar”. Berkata Adidewalancana kepada Dewa Bakula.

“Masih ada harapan, pukulan pertama tidak menjamin sebuah kemenangan”, berkata Dewa Bakula memberi harapan kepada Raja Adidewalancana.

“Yang pasti kita harus lebih hati-hati lagi, kekuatan orang-orang Singasari tidak boleh diremehkan”, berkata Adidewalancana.

“Para saudagar dari Tanah Hindu tidak akan meninggalkan kita”, berkata Dewa Bakula memberikan keyakinan kepada Raja Adidewalancana agar tidak begitu khawatir.

Ternyata ucapan Dewa Bakula bukan cuma usapan jempol, lima ratus orang prajurit bayaran pada hari itu telah memasuki perairan Balidwipa lewat pantai baratnya.

Malam telah menyisakan sedikit kegelapannya manakala semburat merah fajar di ufuk timur telah terbangun di cakrawala langit Pura Indrakila. Mahesa Amping terlihat sudah terbangun dan duduk di sisi peraduannya. Telinganya yang tajam mendengar suara burung hantu tidak begitu jauh dari tempatnya.

Terlihat Mahesa Amping telah keluar dari biliknya langsung menuju pendapa Bale Guru. Dikeremangan pagi itu Mahesa Amping melihat di halaman muka seseorang lelaki mendekati pendapa Bale Guru.

“Kukira telingaku yang salah mendengar suara burung hantu menjelang pagi”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu yang ternyata adalah Ki Jaran Waha.

“Maaf telah membangunkanmu”, berkata Ki Jaran Waha sambil melangkah menaiki anak tangga pendapa.

Cahaya dua buah pelita dipendapa Bale Guru itu sudah terlihat redup, warna merah cakrawala langit diatas halaman muka Bale Guru sudah mulai merata.

“Aku sudah biasa bangun di awal pagi”, berkata Mahesa Amping sambil mempersilahkan Ki Jaran Waha duduk bersamanya.

“Aku datang membawa dua buah berita”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping setelah duduk bersama di pendapa.

“Aku tidak sabar untuk mendengarnya”, berkata Mahesa Amping.

Namun belum sempat Ki Jaran Waha menyampaikan beritanya, dari pintu butulan muncul Ki Arya Sidi. “Ternyata sudah ada tamu di pagi hari”, berkata Ki Arya Sidi yang datang menghampiri.

“Konon katanya sarapan pagi di Pura Indrakila sangat istimewa, itulah sebabnya aku mampir kemari diawal pagi”, berkata Ki Jaran Waha penuh senyum memperlihatkan sebaris giginya yang rata dan putih.

Suasana di Pendapa bale Guru itu menjadi lebih ramai lagi manakala Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga ikut bergabung. Mahesa Amping segera memperkenalkan Ki Jaran Waha kepada Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu.

“Mereka bertiga dari Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Mahesa Amping telah bercerita tentang Ki Jaran Waha sebagai seorang tengkulak kuda yang jempolan”, berkata Wantilan bercerita tentang lima puluh ekor kuda kiriman Ki Jaran Waha.

“Aku memilih kuda terbaik untuk kalian”, berkata Ki Jaran Waha penuh gembira mendapat julukan baru sebagai tengkulak kuda.

Suasana diatas pendapa Bale Guru Pura Indrakila itu menjadi lebih meriah lagi manakala seorang pelayan membawa minuman dan makanan hangat.

“Akhirnya yang kutungu datang juga”, berkata Ki Jaran Waha sambil memperhatikan pelayan lelaki yang tengah meletakkan makanan dn minuman di pendapa Bale Guru.

“Mudah-mudahan Ki Jaran Waha tidak melupakan berita yang akan disampaikan setelah perutnya terisi”, berkata Mahesa Amping bercanda yang disambut tawa dari semuanya.

Terlihat semua menikmati hidangan pagi itu di pendapa Bale Guru Pura Indrakila.

“Sepagi ini biasanya aku sudah turun ke sawah, sementara disini duduk menikmati hidangan pagi”, berkata Sembaga sambil meneguk wedang sere hangatnya.

Sambil menikmati hidangan pagi itu, akhirnya Ki Jaran menyampaikan dua buah berita penting kepada Mahesa Amping.

“Berita pertama yang kubawa adalah pemberitahuan bahwa aku sudah menyiapkan dua buah lumbung untuk para prajurit Singasari”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Berita kedua, beberapa orangku telah melihat sebuah jung besar memasuki perairan pantai barat Balidwipa”, berkata Ki Jaran Waha dengan wajah penuh ketegangan kepada Mahesa Amping.

Terlihat semua mata di pendapa Bale Guru itu tertuju kepada Mahesa Amping, berharap Mahesa Amping dapat memberikan keputusan dan pandangannya.

“Kita berbagi tugas”, berkata Mahesa Amping setelah berpikir sejenak. Semua yang ada di atas pendapa Bale Guru Pura Indrakila itu sepertinya tidak sabaran menanti perkataan Mahesa Amping selanjutnya.

“Ki Jaran Waha didampingi Kakang Mahesa Semu berangkat ke Bandar Buleleng untuk memandu dimana letak titik lumbung disamping juga untuk menyampaikan bahwa pihak lawan telah mendatangkan kekuatan dari luar”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha dan Mahesa Semu.

Terlihat Mahesa Amping mengalihkan pandangannya ke arah Wantilan dan Sembaga. Diam-diam Sembaga merasa bangga bahwa anak kecil momongannya itu telah tumbuh dewasa, penuh kepercayaan diri yang tinggi.

“Paman Wantilan dan Paman Sembaga ikut bersamaku kembali ke Tanah Melaya. Mudah-mudahan kita dapat menahan untuk sementara kekuatan lawan yang datang dari luar itu”, berkata Mahesa Amping kepada Wantilan dan Sembaga.

“Kita belum mengetahui berapa besar kekuatan lawan, menurut orang-orangmu berapa perkiraan kekuatan yang akan masuk itu”, berkata Ki Arya Sidi kepada Ki jaran Waha.

“Sekitar lima ratus orang”, berkata Ki Jaran Waha memperkirakan.

“Kekuatan kita di Tanah Melaya saat ini hanya berkisar seratus orang”, berkata Mahesa Amping.

“Jumlah tidak selalu mendukung kemenangan”, berkata Ki Arya Sidi.

“Tugas kita hanya menghambat mereka, sambil menanti bantuan dari Bandar Buleleng”, berkata Mahesa Amping penuh percaya diri dan tidak merasa ada beban yang berat.

“Apakah aku dan para Sisya dapat diijinkan ikut bersamamu ke Tanah Melaya?”, bertanya Ki Arya Sidi kepada Mahesa Amping.

“Hanya sebatas untuk menambah pengalaman, kurasa dapat kuijinkan”, berkata Mahesa Amping dengan perasaan berat hati membawa para Sisya ke medan perang. ”Ki Arya Sidi kuminta dapat mengawasi mereka”, berkata Mahesa Amping melanjutkan.

Maka pada hari itu juga Mahesa Amping dan rombongannya telah keluar dari Pura Indrakila menuju Tanah Melaya. Sementara itu Ki Jaran Waha dan Mahesa Semu sudah berangkat lebih dulu melihat titik persedian lumbung dan menyampaikan kabar ke Bandar Buleleng.

Sementara itu di Hutan Tanah Melaya, Kebo Arema sudah mendapat berita tentang akan datangnya dua buah jung lewat orang-orang Ki Subali yang juga telah disebar mengamati keadaan.

“Apakah kamu dapat memperkirakan berapa jumlah mereka?”, bertanya Kebo Arema kepada utusan Ki Subali.

“Perkiraanku berkisar antara lima ratus orang”, berkata orang utusan Ki Subali itu.

“Terima kasih untuk beritanya”, berkata Kebo Arema ketika utusan itu pamit untuk kembali.

Terlihat Kebo Arema memanggil Badrun dan bercerita tentang berita akan masuknya orang-orang upahan sebagaimana dirinya.

“Kamu lebih mengenal mereka dibandingkan aku”, berkata Kebo Arema kepada Badrun.

“Yang pasti mereka akan merapat diujung malam menjelang pagi”, berkata Badrun memperkirakan kapan mereka akan merapat.

“Garis pantai barat Balidwipa ini cukup luas, apakah kamu dapat memperkirakan dimana mereka akan merapat”, bertanya kembali Kebo Arema kepada Badrun.

“Sepanjang pantai barat ini adalah pantai yang landai, mereka akan merapat dengan jukung”, berkata Badrun yang telah punya banyak pengalaman dengan daerah perairan di sekitar pantai barat Balidwipa.

“Kurasa pantai terbaik untuk merapat adalah pantai Tanah Melaya ini”, berkata kembali Badrun melanjutkan penjelasan dan perkiraannya.

“Terima kasih, bersiaplah untuk menyambut kedatangan mereka”, berkata Kebo Arema kepada Badrun.

Maka pada hari itu juga Kebo Arema telah mengumpulkan orang-orangnya yang terdiri para prajurit Singasari, para pengikut Ki Jaran Waha dan anak buah Badrun.

“Hari ini kita akan menghadapi sebuah pasukan yang lebih besar dari kita”, berkata Kebo Arema dengan suara yang lantang penuh kewibawaan. “Kita sambut mereka dengan hujan panah selamat datang”, berkata kembali Kebo Arema memberikan penjelasan secara rinci bagaimana menghadapi mereka.”Beristirahatlah, masih ada waktu menjelang akhir malam”, berkata Kebo Arema memberi kesempatan pasukannya untuk beristirahat mempersiapkan diri.

Dan waktu pun terus berlalu, di ujung senja suasana hutan diujung pantai Tanah Melaya itu sudah menjadi jauh lebih gelap dibandingkan suasana diluar hutan yang telah redup dan bening. Namun ketika malam telah turun menyelimuti Tanah Melaya, suasana kegelapan sudah menjadi merata.

Didalam suasana malam itulah rombongan Mahesa Amping telah tiba di Hutan Tanah Melaya.

“Pihak lawan akan segera merapat, itulah sebabnya kami datang kemari”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang menyambut kedatangannya.

“Kami tengah mempersiapkan diri”, berkata Kebo Arema yang menjelaskan rencananya menghadapi pasukan lawan.

“Ternyata Sri Baginda Maharaja Singasari tidak salah mata, meminta Paman Kebo Arema mendampingiku”, berkata Mahesa Amping yang melihat kesiapan pasukan didalam hutan itu.

“Masih ada waktu untuk kalian beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang”, berkata Kebo Arema mempersilahkan rombongan Mahesa Amping untuk beristirahat.

Setelah mendapatkan beberapa penjelasan dari Mahesa Amping apa yang harus mereka persiapkan, rombongan yang baru tiba itu terlihat mencari tempat untuk beristirahat.

Dan waktupun terus merambat perlahan menjelajahi perjalanan malam yang terus berlalu dalam kesenyapan dan kesunyiannya. Suara binatang malam kadang terdengar ditingkahi semilir angin dingin menembus lewat celah dahan ranting di hutan Tanah Melaya itu.

“Kami melihat ada dua buah jung besar telah menjatuhkan jangkarnya di perairan pantai Tanah Melaya”, berkata salah seorang yang telah ditugaskan mengawasi daerah perairan sekitar pantai.

“Kembalilah ketempatmu, kami menanti kabar selanjutnya”, berkata Kebo Arema kepada orang itu yang langsung kembali bertugas mengamati perairan.

Terlihat Kebo Arema memeriksa kembali kesiapan pasukannya. Sementara itu malam terus merambat, hampir semua orang didalam hutan itu merasakan perasaan yang mencekam. Berbagai pikiran dan angan-angan selalu menyinggahi benak mereka terutama kesepuluh orang muda para sisya dari Pura Indrakila.

“Mereka akan menemui pertempuran yang sebenarnya”, berkata Ki Arya Sidi dalam hati.

Ternyata perkiraan Badrun tidak meleset jauh, disaat dini hari kala hari masih begitu gelap, di keremangan suasana di ujung malam itu orang-orang yang diutus untuk mengamati keadaan perairan telah melihat begitu banyak jukung mendekati kearah pantai.

“Mereka masih jauh dari pantai”, berkata salah seorang petugas kepada kawannya yang terlihat tengah menyiapkan panah sanderannya.

Maka ketika terlihat jukung-jukung kecil itu telah mendekati garis pantai, maka terlihatlah sebuah panah sanderan berapi melesat keudara.

Bukan main kagetnya orang-orang yang masih diatas jukungnya itu melihat begitu banyak cahaya obor dikegelapan malam memenuhi garis pantai.

Ternyata Kebo Arema telah memberikan perintah untuk setiap orang membawa dua buah obor. Maka pasukannya menjadi dua kali lipat jumlahnya terlihat dari arah lepas pantai.

Hampir setiap orang diatas jukung itu menjadi gentar, dua tiga jukung yang sudah mendekati garis pantai terlihat berbalik arah diikuti oleh yang lainnya. Maka suasana di garis pantai itu begitu semraut antara jukung yang datang dan yang bermaksud kembali.

Ditengah kekacauan dan kesemrautan itulah meluncur hujan panah. Dan korban pun terus berjatuhan menimpa para pendatang itu.

Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tegap melompat ke sebuah jukung yang akan berbalik badan, sebuah sabetan pedang merobek leher orang yang terdepan dan langsung roboh berlumuran darah.

“Siapapun yang berbalik arah akan mengalami nasib serupa”, berkata leleki tegap itu dengan suara yang mengguntur.

Suara lelaki itu ternyata berhasil membuat orang-orang yang bermaksud berbalik arah menjadi jerih, apalagi yang melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pedang itu menebas salah seorang daripadanya.

Puluhan jukung terlihat semakin mendekati garis pantai, bersamaan dengan itu pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema telah berlari mendekati tepian pantai.

Terlihat orang-orang diatas jukung itu sudah melompat keatas air dangkal, bersamaan dengan itu pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema telah sampai di bibir pantai.

Akhirnya perang brubuh tak dapat lagi dihindarkan, tidak dapat dielakkan lagi. Suara beradunya senjata sudah mulai terdengar bercampur dengan suara riuh teriakan dan sumpah serapah sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam sebuah pertempuran di peperangan manapun.

“Tetapkan hatimu”, berkata Ki Arya Sidi sambil membantu salah seorang Sisya yang nampak terdesak mencoba membangunkan kembali semangat dan keberaniannya.

Disisi yang lain, para prajurit Singasari telah menunjukkan kemapanannya dalam bertempur

Sementara itu disisi yang lain lagi, para pengikut Ki Jaran Waha ternyata adalah orang-orang pilih tanding, tidak salah penilaian orang selama ini bahwa satu orang pengikut Ki jaran Waha sepadan dengan sepuluh orang prajurit. Mereka dengan mudahnya melumpuhkan satu persatu lawan mereka yang datang mendekat.

Sampai saat itu pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema masih dapat mempertahankan kedudukan mereka diatas pasir pantai.

Meski terlihat sebagai perang brubuh, pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema masih terus mempertahankan disiplin untuk tidak keluar dari paugeran. Keadaan itu telah membuat pertahanan mereka tetap utuh tidak mudah diterobos oleh lawan mereka yang masih berada diatas air dangkal yang merupakan sebuah kelemahan yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menekan lawan.

Yang paling naas adalah para pendatang yang langsung bertemu badan dengan Mahesa Amping dan Kebo Arema yang berada disisi yang berbeda. Terlihat dua tiga orang langsung terjengkang rebah tidak bergerak lagi terkena sabetan cambuk mereka. Mahesa Amping dan Kebo Arema memaklumi jumlah pasukan mereka yang sedikit, maka mereka telah berusaha mengurangi jumlah lawan mereka.

Meski tanpa pengerahan ilmu puncak mereka, siapapun yang datang menghampiri akan tersapu bersih berhamburan terlempar.

Namun semua itu tidak lepas dari pandangan mata yang tajam seperti mata elang, seorang lelaki yang tegap telah melihat bagaimana Mahesa Amping dan Kebo Arema menghalau pasukannya.

“Aku harus menghentikannya”, berkata orang itu yang langsung berlari kearah Kebo Arema.

“Karaeng Taka”, berkata orang itu ketika berhadapan dengan Kebo Arema yang ternyata mengenalnya.

“Aku sudah menduga orang macam apa yang akan datang di Tanah Melaya ini”, berkata Kebo Arema yang juga telah mengenal sosok lelaki dihadapannya.

“Kita memang selalu ada di tempat yang berbeda”, berkata orang itu sambil melayangkan pedangnya kearah Kebo Arema.

“Karaeng Jabo, terakhir kamu kulepaskan. Tapi tidak untuk hari ini”, berkata Kebo Arema sambil mengelak menghindari sabetan pedang orang yang dipanggilnya dengan sebutan Karaeng Jabo.

“Gila!!”, berkata Karaeng Jabo sambil berlompat kebelakang menghindari sambaran cambuk Kebo Arema yang sepertinya terus mengikutinya kemanapun ia menghindar.

“Aku tidak akan melepasmu lagi”, berkata Kebo Arema sambil terus mengejar Karaeng Jabo dengan cambuknya.

Sementara itu Mahesa Amping masih belum mendapatkan lawan yang setanding, kemanapun arah cambuknya tertuju pasti ada korban yang langsung roboh terkena sabetan cambuknya.

“Secepatnya aku harus mengurangi jumlah mereka”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

Maka Mahesa Amping telah menghentakkan cambuknya dengan kekuatan yang jauh melebihi tataran sebelumnya.

Apa yang terjadi selanjutnya ???

Setiap kali Mahesa Amping melepas cambuknya, puluhan orang seperti tersibak roboh meski belum terkena langsung ujung cambuknya.Ternyata angin sambaran cambuk Mahesa Amping seperti prahara yang kuat, menghantam siapapun yang mendekat. Dalam waktu dekat sudah puluhan orang roboh jatuh diatas pasir pantai.

Dalam waktu yang singkat pasukan bayaran itu sudah semakin menyusut berkurang.

Sembaga yang tidak jauh dari Mahesa Amping seperti terlolong melihat sepak terjang Mahesa Amping.

“Anak itu belum menumpahkan puncak ilmunya”,berkata Sembaga dalam hati merasa yakin bahwa Mahesa Amping hanya mengeluarkan sepersepuluh dari kekuatan ilmunya.

Mahesa Amping telah mampu memecah pertahanan lawan dan mencerai beraikannya. Beberapa orang menjadi jerih berusaha menghindari Mahesa Amping.

Sementara itu kembali kepada keadaan sepuluh anak muda para sisya dari Pura Indrakila, berkat pendampingan Ki Arya Sidi mereka semakin tatag menghadapi pertempuran. Diawali oleh Wayan Dewa Ayu yang sudah dapat berpikir jernih, satu persatu kawan-kawannya pun telah terbawa dan dapat mencurahkan segala kemampuan yang pernah dipelajari selama ini. Dalam keadaan seperti itu mereka telah berubah menjadi seekor anak macan yang telah mengenal kemampuannya sendiri.

“Lihatlah pedang”, berkata Wayan Dewa Ayu sambil mengayunkan pedangnya kepada seorang lawannya.

Bukan main terperanjatnya lawannya itu, karena belum sempat berbuat apapun pedang Wayan Dewa Ayu telah sampai menggores panjang bagian dadanya.

Terdengar lawan Wayan Dewa Ayu berkata sumpah serapah sebelum akhirnya roboh terjerambat mencium pasir pantai yang basah.

Kawan-kawan Wayan Dewa Ayu yang melihatnya semakin menjadi percaya diri, satu persatu ikut mengambil andil untuk berlomba mengurangi jumlah pihak lawan.

“Kalian jangan terlalu masuk kedalam, tetaplah dalam kesatuanmu dan saling berjaga”, berkata Ki Arya Sidi yang sudah melihat perkembangan para sisyanya namun masih terus mendampinginya.

Demikianlah, pertempuran masih terus berlangsung. Ternyata jumlah pendatang yang berlipat itu terlihat sudah semakin menyusut.

Sementara itu Kebo Arema yang tengah bertempur melawan Karaeng Jabo diam-diam ikut mengawasi seluruh pertempuran.

“Aku harus segera menyelesaikannya”, berkata Kebo Arema dalam hati yang sudah lama menguasai jalannya pertempuran hanya untuk berusaha melumpuhkan lawannya hidup-hidup.

Tar !!!!

Terdengar suara cambuk yang dihentakkan oleh Kebo Arema yang dilambari kekuatan tak terhingga dari dalam dirinya.

Tergetar Karaeng Jabo merasakan dadanya seperti terguncang bersamaan dengan hentakan sandal pancing cambuk Kebo Arema keudara.

“Kuberikan kesempatan untukmu lari atau terkubur di pantai ini”, berkata Kebo Arema sambil memegang ujung cambuknya.

“Aku memilih untuk membunuhmu”, berkata Karaeng Jabo sambil menghentakkan segala kejerihannya lewat sebuah lompatan panjang dan pedang ditangan siap membelah badan lawan.

Tapi Kebo Arema lebih memikirkan keadaan pasukannya yang sedikit, maka cambuknya telah bergerak cepat seperti ular air melesat mengejar mangsanya.

Srettttttt !!!!

Terlihat dada Karaeng Jabo tergores jejak darah yang panjang masih dalam keadaan melompat diudara dan jatuh sebelum sempat menggerakkan pedangnya.

Melihat pemimpinnya roboh tergeletak tak bergerak bersimbah darah dan pasir pantai, telah membuat semangat para pendatang sedikit goyah, bahkan ada yang berpikir sangat pendek dan cetek dengan langsung mundur lari mendekati jukungnya.

“Tidak ada yang menuntutku, aku sudah menerima setengah dari upahku”, berkata orang itu sambil mendorong jukungnya menjauhi air yang landai.

Ternyata pikiran itu begitu cepat menular kepada yang lainnya. Maka terlihat beberapa orang melakukan hal yang sama, mundur dan melompat keatas jukungnya.

Akhirnya hanya menyisakan beberapa orang yang karena terpaksa tidak mampu melarikan dirinya.

“Jangan dikejar”, berkata Mahesa Amping kepada seorang prajurit yang bermaksud mengejar lawannya yang telah meninggalkannya berlari mengejar sebuah jukung yang sudah bergerak menjauhi pantai.

Akhirnya beberapa orang yang tersisa dan bertahan itu dengan mudah dapat dilumpuhkan oleh pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema.

“Aku menyerah”, berkata salah seorang yang telah menjadi begitu putus asa melihat dirinya sudah terkepung.

“Kami menyerah”, berkata beberapa orang sambil melemparkan senjatanya.

Demikianlah, hari itu pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema telah berhasil mencegah para prajurit bayaran yang berusaha memasuki Balidwipa.

Sementara itu matahari sudah mulai memanjat diatas pantai Tanah Melaya. Pasukan Mahesa Amping dan Kebo Arema terlihat tengah memisahkan beberapa mayat yang tergeletak dan beberapa orang yang terluka dari pihak lawan maupun pihak kawan sendiri.

Beberapa penduduk sudah mulai berani menampakkan dirinya datang ikut membantu.

Dengan penuh kehormatan semua jenasah korban pertempuran itu disempurnakan tanpa membedakan lawan maupun kawan, semua diperlakukan dengan sama sebagaimana mestinya.

“Semua ksatria pernah merasakan perasaan yang kamu alami pada hari pertama pertempuran mereka”, berkata Mahesa Amping kepada Wayan Dewa Bayu yang terlihat termenung menatap sebuah makam.

“Hatiku belum mampu mengendalikan perasaanku sendiri”, berkata Wayan Dewa Bayu penuh penyesalan.

“Perlu sebuah usaha yang panjang, menjadikan hati sebagai mata pedangmu”, berkata Mahesa Amping sambil menggandeng Wayan Dewa Bayu meninggalkan pemakaman itu.

Sementara sisa senja di dalam hutan Tanah Melaya terasa merayap, keletihan dan kelelahan terlihat di hampir setiap wajah. Siapa yang tidak kecut dan terkejut disaat badan begitu lelah mendengar suara derap ratusan kaki kuda terdengar mendekati mereka.

Akhirnya semua terlihat menarik nafas panjang manakala mengetahui bahwa derap langkah kuda itu berasal dari pasukan berkuda prajurit Singasari terlihat dari umbul-umbul dan rontek yang mereka bawa.

“Ternyata kami datang terlambat”, berkata seorang perwira yang menjadi pimpinan rombongan itu.

“Kamilah yang harus dipersalahkan, kedatangan kami di Bandar Buleleng sudah terlalu malam”, berkata ki Jaran Waha yang ikut bersama rombongan pasukan berkuda itu dengan wajah buram merasa bersalah.

Dibelakang Ki Jaran Waha terlihat Mahesa Semu mengiringinya juga dengan wajah penuh penyesalan baru datang disaat pertempuran telah usai.

“Tidak ada yang perlu merasa bersalah dan menyesal, justru sebagai pelajaran yang mahal untuk kita dapat memperbaikinya”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh keceriaan memanggil beberapa orang untuk duduk bersama.

Terlihat Kebo Arema bercerita dengan singkat apa yang telah terjadi di pantai Tanah Melaya.

“Kita perlu pasukan yang kuat yang dapat bergerak dengan cepat”, berkata Kebo Arema layaknya seorang Senapati besar.

“Kurasa hutan Tanah Melaya ini adalah tempat yang baik”, berkata Mahesa Amping memberi masukan.

“Pengenalanmu atas Balidwipa ini tidak diragukan lagi”, berkata Kebo Arema yang langsung menyetujui usulan Mahesa Amping untuk menempatkan lima ratus prajurit Singasari di hutan Tanah Melaya sebagai pasukan khusus yang dapat bergerak cepat menutup setiap gerakan dari luar Balidwipa

Sementara itu waktu pun terus berlalu, malam didalam hutan Tanah Melaya telah begitu gelap dan senyap. Dari jauh sayup terdengar suara srigala mengalun panjang memanggil kawannya untuk memasuki area perburuan.

Namun keletihan dan kelelahan pada beberapa prajurit Singasari itu sudah membuat tidak mendengar suara apapun, tidak merasakan apapun, karena mereka sudah lama tertidur bersama datangnya malam dan kegelapan. Mungkin beberapa diantaranya tengah bermimpi bertemu dengan kekasih pujaan hati, bermimpi bersama istri dan anak tercinta, atau sebuah mimpi buruk bertemu didatangi seorang musuh yang terbunuh dimedan perang. Lepas dari mimpi sebagai bunga tidur, lepas dari indah dan buruknya sebuah mimpi, ternyata kita memang tidak kuasa untuk membuat sebuah mimpi.

Dan akhirnya pagipun datang menutup semua mimpi, membangunkan semua yang tertidur di dalam hutan Tanah Melaya.

“Saatnya kita mengunci Pura Besakih”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping diawal pagi itu.

Mahesa Amping paham apa yang dimaksudkan oleh Kebo Arema. Maka pada pagi itu semua pasukannya telah dikumpulkannya.

“Mulai hari ini kalian harus melepaskan segala peneng dan ciri apapun sebagai tanda keprajuritan Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Pasukannya.”hari ini kita akan keluar dari hutan ini untuk menyebar dan mengunci setiap gerak apapun dari Pura Besakih”, berkata kembali Mahesa Amping memberikan penjelasan tugas-tugas yang harus mereka lakukan serta membagi mereka dalam beberapa kelompok yang akan membaur hidup bersama sebagai orang kebanyakan di berbagai Padukuhan sebagai petugas delik sandi.

Kelompok pertama yang meninggalkan hutan Tanah Melaya itu adalah sepuluh orang Sisya dari Pura Indrakila bersama Ki Arya Sidi.

“Setelah semua berakhir, aku akan bersama kalian kembali”, berkata Mahesa Amping melepas kepergian mereka kembali Ke Pura Indrakila.

Kelompok kedua yang meninggalkan hutan Tanah Melaya selanjutnya adalah Ki Jaran Waha dan para pengikutnya.

“Terima kasih untuk semua dan untuk segalanya”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang bersama pengikutnya telah bersiap-siap akan meninggalkan hutan Tanah Melaya.

“Ucapan terima kasih tidak berlaku untuk seorang saudara”, berkata ki Jaran Waha dengan wajah penuh senyum.

“Aku telah menitipkan diri kalian bersama pasukan Singasari di hutan Tanah Melaya ini”, berkata Kebo Arema kepada Badrun ketika akan meninggalkan hutan Tanah Melaya bersama Mahesa Amping, Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga.

“Mudah-mudahan kami tidak akan mengecewakan tuan yang telah mempercayai kami”, berkata Badrun mewakili semua anak buahnya yang diminta oleh Kebo Arema untuk tetap bersama Prajurit Singasari.

Demikianlah, menjelang matahari bergeser sedikit dari puncaknya, lima orang penunggung kuda terlihat telah keluar dari hutan Tanah Melaya.

Matahari terus membayangi punggung-punggung mereka yang berjalan terus kearah timur. Hingga akhirnya manakala matahari terlihat redup bersandar di ujung tepian bumi di ufuk barat, mereka memasuki sebuah padukuhan kecil untuk sekedar bermalam.

“Inilah banjar kami yang sederhana”, berkata seorang warga yang mengantar Kebo Arema bersama empat orang kawannya ke banjar desa untuk bermalam.

“Terima kasih, bagi kami ini sudah lebih dari cukup, tidak kehujanan dan keanginan”, berkata Kebo Arema sambil mengucapkan terima kasih kepada orang yang mengantarkannya itu.

“Sebentar lagi mereka akan panen padi”, berkata Mahesa Amping yang melihat didepan banjar desa hamparan sawah yang sudah cukup tua menguning.

“Menanam padi seperti merawat seorang bayi, ketika melihat untaian padi tua menguning, ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh apapun”, berkata Wantilan menyampaikan perasaan hatinya kepada Mahesa Amping.

“Melihat padi menguning, aku jadi rindu pada Padepokan Bajra Seta”, berkata Sembaga.

“Jujur, perasaan itulah yang sering kurasakan selama ini. Kadang aku merasa telah salah untuk memilih jalanku sebagai seorang prajurit”, berkata Mahesa Amping menyampaikan perasaan hatinya.

“Kita tidak kuasa memilih jalan kita sendiri, apakah dirimu pernah meminta untuk kelahiranmu di muka bumi ini?”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

Perkataan Kebo Arema telah membuat suasana di banjar desa itu sejenak menjadi hening, semuanya sepertinya tengah menjenguk keberadaan dirinya masing-masing, dan semuanya sepertinya telah terbentur pada tembok tebal ketidak tahuan.

“Tidak perlu terlalu jauh, ketika disusui ibu saja kita tidak pernah dapat merasa pernah mengingatnya”, berkata kembali Kebo Arema yang sepertinya dapat membaca apa yang tengah direnungkan oleh keempat kawannya itu.

Sementara itu malam mulai turun membatasi jarak pandang, hamparan sawah yang hijau didepan banjar desa perlahan tersamar dan akhirnya tertutup rapat oleh kegelapan malam yang semakin pekat.

“Jarak pandang dibatasi oleh gelapnya malam, jarak pandang mata hati dan pikiran juga dibatasi oleh waktu ketika ada dan tiada”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil menatap kegelapan malam.

Pagi itu matahari bersinar begitu cerahnya, cahaya kuningnya telah menyebar menghangatkan bumi. Terlihat disepanjang jalan padukuhan petani ramai memotong padi dengan penuh gembira yang ditingkahi canda beberapa gadis penuh tawa menggilas batang-batang padi runtuh di ujung jemari kakinya.

“Mata para gadis itu melihat kita atau kuda kita?”, berbisik Sembaga kepada Mahesa Amping yang tengah berkuda membelakangi Kebo Arema, Wantilan dan Mahesa Semu di jalan Padukuhan yang sudah ramai.

“Yang ada dalam pikiran mereka adalah lima orang saudagar kaya tengah berkunjung”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga.

“Yang mereka pikirkan adalah seorang saudagar kaya diiringi empat pelayannya”, berkata Wantilan yang mendengar perkataan Mahesa Amping.

“Menurutmu siapa kira-kira yang pantas disebut saudagar kaya diantara kita berlima?”, berkata Sembaga kepada Wantilan.

“Yang pasti bukan dirimu”, berkata Wantilan singkat.

“Yang pasti juga bukan dirimu”, berkata Sembaga langsung membalas.

Demikianlah, mereka berkuda sepertinya tidak dibatasi waktu. Dalam setiap kesempatan menikmati pemandangan alam yang indah, sawah yang membentang hijau, warna biru pegunungan yang jauh serta lembah yang dihiasi rimbunnya pepohonan tertiup angin memberi aroma sejuk dan sangat menyegarkan.

“Gunung didepan kita itu adalah Gunung Agung”, berkata Mahesa Amping kepada kawan-kawannya sambil menunjuk kearah gunung yang tinggi didepan mereka.

Kearah Gunung Agung itulah nampaknya arah perjalanan mereka.

“Jalur sandi yang akan kita bangun berada di Kademangan Rendang, sebuah tempat yang paling dekat dengan sasaran kita Pura Besakih”, berkata Mahesa Amping memberikan penjelasan tentang sebuah wilayah yang masuk dalam pengamatan mereka.

Akhirnya diawal senja langkah kaki kuda mereka berhenti disebuah Kademangan yang cukup ramai karena merupakan sebuah persinggahan para pedagang yang membawa hasil bumi dan hutan di Balidwipa.

“Inilah Kademangan Rendang”, berkata Mahesa Amping ketika mereka memasuki jalan Padukuhan utama.

Terlihat kuda Mahesa Amping berhenti dimuka sebuah rumah yang paling luas dibandingkan dengan beberapa rumah dikiri kanannya.

Mahesa Amping mengajak semua kawannya untuk masuk ke halaman rumah itu.

“Apakah Ki Demang masih mengenalku?”, berkata Mahesa Amping kepada seorang yang berada diatas Pendapa menyambut kedatangan mereka.

“Mana mungkin kami melupakanmu yang telah mempersatukan kami dua saudara”, berkata orang yang dipanggil Ki Demang sambil mempersilahkan mereka untuk naik keatas pendapa rumahnya.

Setelah menyampaikan beberapa kabar keselamatan masing-masing, Mahesa Amping memperkenalkan Kebo Arema sebagai pedagang kuda dari Bandar Buleleng.

“Selama disini, biarlah kalian tinggal di rumahku”, berkata Ki Demang menawarkan kebaikannya.

“Terima kasih, semoga tidak merepotkan Ki Demang”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang.

Sementara itu diregol halaman terlihat seorang yang seusia Ki Demang berjalan kearah pendapa rumah.

“Ternyata ada sahabat mudaku”, berkata lelaki itu setelah naik ke pendapa rumah menyapa Mahesa Amping.

“Selamat bertemu kembali Ki Amararaja”, berkata Mahesa Amping menyambut lelaki itu yang ternyata adalah Ki Amararaja saudara seayah lain ibu dari Ki Demang.

Maka Mahesa Amping segera memperkenalkan semua kawannya kepada Ki Amararaja, tentunya sesuai dengan jati diri penyamaran sebagai pedagang kuda dan pembantunya.

“Mudah-mudahan usaha kalian dapat berjalan degan baik”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping dan kawan-kawannya.

Sementara itu waktu terus berlalu, sang sandikala terlihat perlahan menyelinap diujung waktu digantikan sang malam.

“Malam ini aku ingin mengajakmu ke Banjar Desa, saat ini kami tengah membentuk para pecalang baru untuk menggantikan beberapa orang pecalang yang sudah mulai tua”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping.

“Dengan senang hati”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Amararaja.

Terlihat Mahesa Amping dan Ki Amararaja tengah menuruni anak tangga pendapa rumah Ki Demang. Sementara itu Kebo Arema, Mahesa Semu dan Sembaga masih ditemani oleh Ki Demang. Banyak sekali yang mereka bicarakan, mulai dari masalah kuda sampai dengan keresahan warga Kademangan atas sebuah kabar angin tentang gerombolan Barong Asu Ngelawang.

Ternyata Kebo Arema terlalu piawai untuk urusan bersandiwara melakoni dirinya dihadapan Ki Demang sebagai pedagang kuda yang berpengalaman.

Sementara itu Mahesa Amping di Banjar Desa tengah melihat para pecalang baru tengah berlatih olah kanuragan dibawah bimbingan Ki Amararaja.

“Ada rencana untuk menambah jumlah pecalang di kademangan ini, jumlah yang ada pada saat ini masih belum dikatakan cukup untuk menjaga ketentraman dan ketenangan di Kademangan ini”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping sambil melihat beberapa Pecalang muda tengah berlatih.

“Aku tertarik dengan cara orang Balidwipa mengamankan kampungnya dengan cara kemandiriannya ini”, berkata Mahesa Amping memberikan pandangannya tentang pecalang di Balidwipa.

“Meski upah sebagai pecalang tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hidup, mereka tetap menjalaninya dengan penuh kebanggaan”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping.

“Bila seorang gadis harus memilih dua orang pemuda, siapa yang dipilihnya bila salah satunya adalah seorang pecalang”, berkata Mahesa Amping sedikit bercanda

“Yang pasti gadis itu akan memilih pecalang, karena biasanya seorang pecalang itu bertubuh kekar, kuat dan ganteng”, berkata Ki Amararaja menimpali canda Mahesa Amping.

Namun diam-diam Mahesa Amping memperhatikan beberapa anak muda yang akan menjadi pecalang itu memang umumnya mempunyai badan yang kekar berisi dan dapat dikatakan cukup “tampan”.

“Tentu saja sang gadis memilih pecalang, karena pemuda yang satunya disamping buruk rupa juga sebagai pemuda luntang-lantung yang tidak punya sandaran hidup”, berkata Mahesa Amping kepada ki Amararaja.

“Ternyata kamu tidak pernah mau menyerah”, berkata Ki Amararaja sambil tertawa panjang.

Udara malam di Kademangan Rendang yang berada disebelah barat lereng Gunung Agung memang cukup dingin. Sementara beberapa pemuda masih tetap semangat terus berlatih, sepertinya sudah terbiasa dengan dinginnya udara malam.

Akhirnya ketika malam mulai masuk dipertengahan mereka baru kembali ke rumah Ki Demang. Ternyata di pendapa tidak ada seorang pun.

“Sepertinya mereka sudah lama tertidur”, berkata Ki Amaraja sambil mengajak Mahesa Amping langsung beristirahat ke bilik yang telah disediakan.

Setelah tiba dibilik Mahesa Amping tidak dapat langsung tidur, terbayang pertempuran kemarin pagi di pantai Tanah Melaya.

Terlihat Mahesa Amping menarik nafas panjang menyerahkan semuanya kepada Gusti Yang Maha Berkehendak.

“Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari kehendakmu”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil berbaring di peraduan dan memejamkan matanya.

Sementara itu langit malam diatas Kademangan Rendang dipenuhi taburan bintang. Semilir angin basah menggugurkan bunga-bunga kemboja merah yang berjejer di sebelah kanan pagar batu halaman rumah Ki Demang.

Udara pagi di Kademangan Rendang begitu dinginnya terasa menusuk tulang, Namun Mahesa Amping dan kawan-kawannya sudah keluar dari biliknya dan duduk di pendapa rumah Ki Demang, tentunya Ki Amararaja dan Ki Demang ikut menemani mereka.

“Ketika kalian di Pakiwan, bagaimana rasanya air disini?”, bertanya Ki Amararaja.

“Luar biasa dinginnya”, berkata Sembaga langsung menyambut terlihat bibirnya masih biru kedinginan.

Akhirnya ketika matahari pagi sudah mulai naik, udara di Kademangan Rendang sudah mulai hangat, Mahesa Amping dan kawan-kawannya terlihat pamit untuk menemui beberapa peternak kuda yang ada disekitar Kademangan Rendang.

“Mudah-mudahan kami dapat kuda yang baik dan cocok harganya”, berkata Kebo Arema sambil turun dari Pendapa diiringi pandangan mata Ki Demang dan Ki Amararaja.

Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya tengah menyusuri jalan Padukuhan tengah menuju peternakan kuda yang ada di Kademangan Rendang. Pada saat itu di Kademangan Rendang sangat terkenal dengan peternakan kudanya.

Namun ditengah jalan, Mahesa Amping menemui sebuah pelepah kelapa terpotong tiga.

“Ada petugas sandi yang akan menemui kita”, berkata Mahesa Amping membaca isyarat sandi yang telah mereka sepakati bersama.

Terlihat Mahesa Amping memberi simpul pada salah satu janur sebagai tanda mereka akan menemuinya di pasar terdekat.

“Biarlah petugas itu menunggu kita dipasar terdekat”, berkata Mahesa Amping sambil melompat keatas kuda melanjutkan perjalanannya.

Akhirnya mereka telah sampai di sebuah peternakan kuda, seorang lelaki telah menyambut kedatangan mereka.

“Apakah kami dapat bertemu dengan pemilik peternakan ini?”, bertanya Kebo Arema kepada orang itu.

Lelaki yang sudah cukup berumur itu tersenyum mendengar pertanyaan Kebo Arema.

“Kalian telah berhadapan dengan pemilik peternakan ini?”, berkata lelaki itu sambil mempersilahkan Kebo Arema dan kawan-kawannya untuk naik ke Pendapa rumahnya.

Terlihat lelaki itu mengiringi tamunya naik kependapa rumahnya dan mempersilahkan duduk.

“Nampaknya kalian baru pertama kali kepeternakan ini”, berkata pemilik peternakan itu memulai pembicaraan.

Kebo Arema langsung menyampaikan maksud dan tujuannya yakni untuk membeli beberapa ekor kuda.

“Tentunya bila harganya cocok”, berkata Kebo Arema kepada lelaki itu.

Terlihat lelaki itu tersenyum setelah mendengar perkataan Kebo Arema.

“Kalian datang terlambat, kemarin sore semua kudaku telah diborong habis”, berkata lelaki itu sambil tersenyum.

“Telah diborong habis?”, berkata Mahesa Amping

“Siapa yang telah membeli semua kudamu?, berkata Kebo Arema kepada lelaki itu.

“Penguasa Pura Besakih, mereka telah memberi panjer”, berkata lelaki itu.

“Bagaimana bila kami membayar dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang telah kalian sepakati?”, berkata Kebo Arema kepada lelaki itu.

Terlihat lelaki itu menarik nafas panjang, sepertinya tengah menimbang-ninmbang. “Maaf, aku tidak bisa mengecewakan pelangganku yang telah membayar panjer”, berkata lelaki itu menolak tawaran Kebo Arema.

“Ternyata kami datang terlambat, dan kita belum berjodoh”, berkata Kebo Arema sambil mohon untuk pamit diri mencari peternak lain disekitar Kademangan Rendang.

“Lain waktu datanglah, aku punya beberapa bibit yang baik”, berkata lelaki itu mengantar tamunya keluar dari pekarangan rumahnya yang terlihat dipenuhi beberapa kuda yang ternyata sudah diborong semuanya oleh penguasa Pura Besakih.

“Ternyata Penguasa Pura Besakih tengah menggalang sebuah kekuatan”, berkata Mahesa Amping ketika mereka sudah berada di sebuah jalan Padukuhan.

“Orang-orang upahan telah merembes masuk ke Balidwipa”, berkata Mahesa Semu ikut memberi kesimpulan.

“Kita tidak dapat menahan mereka yang menyelundup masuk dari berbagai tempat di Balidwipa ini yang cukup luas”, berkata Mahesa Amping merasa prihatin atas penempatan lima ratus prajurit di Hutan Tanah Melaya.

“Pasukan itu harus secepatnya ditarik, ikan-ikan yang kita tunggu ternyata lebih cerdik dari yang kita perkirakan”, berkata Kebo Arema.

“Berita ini harus secepatnya sampai di pasukan induk agar mereka dapat mengambil langkah yang tepat”, berkata Mahesa Amping.

“Mudah-mudahan petugas sandi kita tidak jemu menanti kedatangan mereka”, berkata kebo Arema mengajak semuanya untuk menuju kepasar Kademangan Rendang.

Akhirnya tidak begitu lama mereka telah sampai di Pasar Kademangan Rendang, saat itu hari sudah menjelang siang dan para pengunjung dipasar itu sudah jauh berkurang. Ketika di Pasar Kademangan Rendang, sengaja Mahesa Amping dan kawan-kawannya berada ditempat yang mudah terlihat. Ternyata usaha mereka berhasil, seorang petugas sandi telah melihat mereka dan datang mendekati.

“Kalian lama sekali”, berkata petugas sandi itu.

“Apakah ada pikiranmu untuk pergi sebelum bertemu dengan kami?”, bertanya Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Itu sama artinya lari dari tugas”, berkata petugas sandi itu sambil mengajak semuanya ke sebuah kedai di ujung pasar.

Terlihat Mahesa Amping dan kawan-kawannya telah menambatkan kudanya di sebuah galar panjang dimuka kedai itu dan langsung masuk kedalam kedai. Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menawarkan beberapa masakan.

“Nasi jagung kuah kari”, berkata Sembaga memesan sebuah masakan yang baru didengarnya di Balidwipa.

“Yang lainnya?”, berkata pelayan itu sambil melayangkan pandangannya selain Sembaga.

“Semua pesan nasi jagung kuah kari”, berkata mahesa Amping kepada pelayan itu.

“Dan ayam bumbu merah”, berkata Sembaga menambahkan.

“Yang lainnya?”, berkata pelayan itu sambil melayangkan pandangannya selain Sembaga.

“Semua sama seperti pesanan kawanku ini”, berkata Mahesa Amping kepada pelayan itu.

Maka pelayan itu itu terlihat masuk kedalam untuk menyiapkan pesanan tamunya.

bersambung ke bagian 2

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 10 Mei 2012 at 00:01  Comments (269)  

269 KomentarTinggalkan komentar

  1. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini. satu babad telah kita jalani bersama.

    saatnya menanti gandhok anyer babad baru singasari, Ki Arema enggak perlu takut kontrak perannya selama ini, masih sebagai orang pertikelir yang dipekerjakan oleh kerajaan membantu Raden Wijaya dan Ranggalawe menjalankan bisnisnya antar pulau di nusantar.

    ciaatttttttt !!! (bersalto tiga kali dan turun dengan ringannya seperti bulu ayam melayang jatuh ke bumi)

    • ciaatttttttt !!! ciaaaaattttt…..????
      (bersalto tiga kali mengikuti kemana langkah membawa pak Dalang malem ini, bersalto tiga kali kembali dan turun dengan RIANG-nya seperti anak burung digendong INDUKnya)

  2. Alhamdulillah
    telah selesai satu judul cerita dari Pak Dhalang “Kompor” Sandikala.
    dan sedang menanti babak selanjutnya dengan cerita baru.

    satpam yakin pasti lebih seru

    sedang dipikirkan, covernya seperti apa

    ada usul………

  3. Satu babak cerita telah selesai. Babak baru siap dimulai, semoga kebaikan tidak hanya dalam cerita, namun menjelma dalam kehidupan Ki Dalang khususnya dan sanak kadang padhepokan pada umumnya. Amiin…….tidak lupa Matur suwuuuuuuuuuun

  4. SFBDBS-13 sudah dibundel dan ditata di tempatnya.

    Sedang mengumpulkan “Uba-rampe” pembuatan anak padepokan baru : “KABUT DI BUMI SINGASARI

    Dog…… !!!, SFBDBS ditutup

    namun, sanak-kadang yang masih ingin bergojeg masih diperkenankan, sambil menunggu siapnya anak padepokan baru.

    satpam

  5. Satpam coba buat cover Kabut di Bumi Singosari kok huelek….., adakah yang bisa bantu?

  6. terima kasih ki dhalang, …
    terima kasih ki satpam, …
    terima kasih para bebahu, …

    siap menunggu dibukanya gandhok baru “kdbs”, …

  7. matur nuwun
    tetap semangat menanti
    tutuge

  8. rontal pertama “kabut di bumi Singasari” sudah siap menggelinding menunggu poster besar yang lagi dibuat oleh Pak Satpam.

    tok-tok-tok….tok-tok-tok
    terdengar Pak satpam tengah memukul palu hehehe

    • Hikksss,
      pak Satpam kalah TRENGGInas….(hayoOO pak Satpam)
      rontal perdana pak Dalang KOMPOR, kemrinGET pengen
      cepet2 “methungUL”

  9. rontal kedua “Kabut diatas Singasari” sudah siap, hehehe (langsung terbang melesat menghilang)

    Ki Gundul pasti tidak mampu membayangi Mahesa Kompor yang telah menerapkan ilmu meringankan tubuhnya nyaris diatas kesempurnaan, hehehe…………wingggggg !!!! saking cepatnya sampe terdengar seperti sukhoi terbang melintas langit pelabuhan ratu, hehehe

    • Hup,…..baru nyampe !!??

      cantrik belom siap ngucap mantra elmu sepi angin…..bayangan
      pak Dalang hilang dari pandangan, hehee5x

  10. rontal ketiga “KABUT DI BUMI SINGASARI”sudah siap

    sekelumit penggalannya :

    “Utusan Kaisar sama derajatnya menghadap kaisar itu sendiri, maafkan bila kami tidak berlaku hormat kepada utusan Kaisar Kubilai Khan”, berkata Raden Wijaya sambil menjura penuh hormat kepada Mengki yang ternyata adalah seorang utusan Kaisar Kubilai Khan, sebuah nama yang saat itu sangat menggetarkan hati para raja-raja didunia. Hampir separuh dunia telah ditaklukkan oleh pasukannya yang terkenal kuat dan sangat berani di segala medan pertempuran. Pasukan Burma dengan pasukan gajahnya pernah hancur lebur luluh lantak dihancurkan oleh pasukan Kubilai Khan.

    • SiiiiPPPP,

      sPOIler rontal KdBM “terasa mendeBARkan”…..Asikk, Asiiikkk

      • Wuuusssh,

        dalam hitungan DETIK cantrikpun melesat terbang, menghampiri
        pak Dalang KOMPOR…..miniti jejak jalur evakuasi para personil “baret merah” yang tergabung dalam tim SAR.

        2 bayangan saling kejar mengejar, melesat ringan diantara pohon2
        di atas bukit kecil :
        pak Satpam hanya bisa geleng2 menyaksikan kemapanan elmu
        cantrik GunduL dan pak Dalang.

    • Mohon maaf…..
      satpam seharian kesana-kemari sehingga tidak sempat sambang padepokan.
      datang sudah malam, langsung sim salabim, padepokan Kabut di Bumi Singosari dan gandok pertama KDBS-01 langsung jadi dan bisa digunakan untuk membaca rontal-rontal yang jatuh dari Situ Cipondoh.
      monggo….

  11. waduh pak Dalang, ini pak Satpam sudah siap, kami juga sudah siap, monggo

  12. kuar buasa…

    Sungguh indah karnya nya ki kompor….

    Apa lagi yang bisa ku ucapkan….
    Selain hanya ungkapan trimakasih yang sebesar besarnya, yang telah berkenang sebagai pelanjut maha karaya alharmun sang maestro nusantara.. Sh mintarja….

    Hormat dan selalu dalam limpahan rahmad dan keberkahan bagi ki kompor,,,

    tulisan yang sangat mirip dengan tulisan sang maestro….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: