SFBDBS-13

Bagian 2

“Pasukan induk hari ini telah mencapai lumbung pertama”, berkata petugas sandi itu menyampaikan beritanya.

“Kekuatan dari luar tidak dapat dibendung, secepatnya menarik pasukan yang ada di hutan tanah Melaya”, berkata Mahesa Amping menukar berita kepada petugas sandi.

“Besok siang kita bertemu kembali, kami akan mengamati kekuatan lawan lebih dekat lagi”, berkata Kebo arema kepada petugas sandi itu.

Sementara itu pembicaraan mereka terhenti karena pelayan kedai itu sudah terlihat mendekati mereka bersama pesanan mereka.

“Ternyata aku tidak salah pesan”, berkata Sembaga sambil menikmati nasi jagung kuah kari pesanannya.

Terlihat mereka menikmati hidangan dikedai itu.

Matahari di atas Pasar Kademangan Rendang telah lama turun di puncak cakrawala langit, terlihat lima ekor kuda bersama penunggangnya tengah keluar melintasi gapura pasar Kademangan Rendang. Mereka adalah Mahesa Amping dan kawan-kawannya.

Ketika mereka hendak memasuki rumah Ki Demang, terlihat ada dua orang tamu Ki Demang tengah menuruni anak tangga pendapa. Kedua tamu itu terlihat begitu angkuh, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka manakala bersisipan jalan dengan Mahesa Amping dan kawan-kawannya dihalaman rumah Ki Demang.

“Ternyata Ki Demang baru saja menerima tamu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang dipendapa bersama Ki Amararaja.

Ki Demang tidak langsung menjawab, terlihat menarik nafas panjang dan menundukkan kepalanya.

“Dua orang yang bertamu itu adalah utusan Penguasa Pura Besakih”, berkata Ki Amaraja mewakili Ki Demang menjawab pertanyaan Mahesa Amping.

“Ada keperluan apakah mereka datang ke rumah ini?”, berkata mahesa Amping menyelidik.

“Mereka meminta Kademangan ini menyiapkan lima puluh orang anak muda atau lelaki yang masih kuat untuk menghadapi prajurit Singasari yang akan menyerang Pura Besakih”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

“Parajurit Singasari akan menyerang Pura Besakih?”, bertanya Mahesa Amping pura-pura baru mendengarnya.

“Kedua tamu itu yang mengatakannya”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping

“Bukankah dalam kegiatan pemugaran Pura, dari Kademangan ini selalu mengirim tenaga bantuan?”, bertanya kembali Mahesa Amping.

“Kerja bakti di pura tidak sama dengan peperangan, apalagi menghadapi prajurit Singasari yang kutahu sangat kuat dan berpengalaman. Apalah artinya pemuda dari Kademangan ini yang baru sedikit mengenal kanuragan dan tidak punya pengalaman bertempur”, berkata Ki Amararaja menyampaikan kegusaran hatinya.

“Apa yang Ki Demang dan Ki Amararaja ketahui tentang pasukan Singasari yang akan menyerang Pura Besakih itu?”, bertanya Kebo Arema berusaha menyelidik ada dimana keberpihakan mereka berdua.

“Berdasarkan kabar angin yang kudapat, pasukan Singasari akan datang menyerang Pura Besakih dan tidak akan mengganggu warga Balidwipa kecuali yang berpihak kepada Penguasa Balidwipa”, berkata Ki Demang kepada kebo Arema.

“Hanya itu?”, bertanya kembali Kebo Arema

“Bukan hanya itu”, berkata Ki Demang kepada Kebo Arema

Terlihat Ki Demang menarik nafas panjang sepertinya ingin mengurai sebuah jawaban kata yang panjang.“Selebihnya adalah bahwa Singasari bermaksud membersihkan jalur perdagangannya dari kekuasaan para saudagar dari tanah Hindu dimana Penguasa Pura Besakih telah bersekutu dan menjadi boneka hidup dari para saudagar Tanah Hindu”, berkata Ki Demang menyampaikan wawasannya yang diketahuinya tentang sebuah perselisihan antara Singasari dan penguasa Pura Besakih.

“Jadi siapapun yang memenangkan peperangan ini, warga tidak mendapatkan keuntungan apapun?”, kembali Kebo Arema bertanya.

“Perang ini perang mereka berdua, perang untuk kepentingan mereka”, berkata Ki Demang kepada Kebo Arema.

“Aku punya penilaian berbeda dengan Ki Demang”, berkata Kebo Arema kepada Ki Demang.

“Perbedaan dalam hal apa?”, bertanya Ki Demang kepada Kebo Arema.

“Aku sebagai pedagang kuda melihat sebuah harapan besar dengan peperangan ini, karena selama ini kami sebagai pedagang tidak boleh menjual barang kami keluar Balidwipa selain kepada para saudagar dari Tanah hindu dengan harga yang mereka sendiri tentukan. Padahal setahuku harga kuda di Tanah Jawa lebih tinggi, juga nilai hasil hutan lainnya. Tapi tidak satu pun kapal dagang yang berani memasuki perairan Balidwipa ini karena akan berhadapan dengan perompak yang ada dibelakang mereka”, berkata Kebo Arema memberikan wawasannya.

“Kamu pedagang, wawasanmu pasti lebih luas”, berkata ki Demang mengakui wawasan Kebo Arema.

“Aku belum sempat mengatakan apa harapanku dengan adanya peperangan ini’, berkata Kebo Arema sengaja tidak melanjutkannya.

“Aku ingin dengar”, berkata Ki Demang kepada Kebo Arema.

Terlihat Kebo Arema tidak langsung menjawab, tapi mengangkat cangkir minumannya yang sudah tinggal sedikit dan meneguknya sampai habis.

“Harapanku bahwa peperangan ini dimenangkan oleh pasukan Singasari, para saudagar Tanah Hindu akan menghilang di perairan Balidwipa. Dan kami para pedagang dapat menjual barang kami kepada siapapun dengan harga sesuai persaingan yang sehat. Kukira kemakmuran tidak hanya berpihak kepadaku, juga berpihak pada para pedagang di pedalaman Balidwipa ini”, berkata Kebo Arema seperti layaknya seorang pedagang sungguhan.

“Wawasanmu kuakui sangat dalam dan luas”, berkata Ki Amararaja yang ikut menyimak kata-kata Kebo Arema yang begitu piawai dalam nada dan tekanan suaranya.

“Terima kasih telah memberikan masukan yang berarti kepadaku, wawasanku tentang peperangan ini menjadi lebih luas, sehingga aku dapat tidak sekedar melangkah apalagi salah langkah”, berkata Ki Demang.

“Apakah Ki Demang sudah punya keputusan?”, bertanya Mahesa Amping

“Keputusanku adalah harapanku bagi kemakmuran warga Balidwipa”, berkata Ki Demang.

“Apakah Ki Demang sudah memutuskan untuk membuat sebuah langkah?”, giliran Kebo Arema yang bertanya kepada Ki Demang.

“Untuk tidak mengirim seorang pun ke Pura Besakih”, berkata Ki Demang dengan suara yang mantap

“Artinya Ki Demang saat ini sudah berada dipihak Singasari?”, bertanya Mahesa Amping.

“Untuk saat ini dapat dikatakan demikian, namun secara pasti aku berpihak bagi kemakmuran warga Balidwipa”, berkata Ki Demang menyampaikan garis pandangnya secara luas lagi.

“Aku sependapat dengan Ki Demang, tidak mengirim seorang pun ke Pura Besakih justru sebagai kecintaan kita kepada Tanah leluhur”, berkata Ki Amararaja ikut memberikan pandangannya.

“Jadi Ki Demang dan Ki Amararaja tidak takut bahwa Kademangan Rendang ini adalah para pembangkang?”, bertanya Kebo Arema kepada Ki Demang dan Ki Amararaja.

“Untukku selama itu sebuah kebenaran, aku tidak takut untuk memperjuangkannya”, berkata Ki Demang mewakili Ki Amararaja yang sepertinya punya pandangan yang sama.

“Artinya Ki Demang dan Ki Amararaja telah berdiri bersama kami di tempat yang sama”, berkata Kebo Arema sambil menarik nafas panjang akhirnya dapat mengungkapkan keberpihakan Ki Demang dan Ki Amararaja.

“Aku belum dapat menangkap arah perkataanmu tentang berada ditempat yang sama”, bertanya Ki Demang kepada Kebo Arema.

“Artinya Ki Demang dan Ki Amararaja berada di pihak Singasari, kebetulan sekali bahwa kami adalah bagian dari Pasukan Singasari yang tengah bertugas mengamati pihak lawan”, berkata Kebo Arema membuka jati diri mereka yang sebenarnya.

“Jadi kalian bukan pedagang kuda dari Buleleng?”, berkata Ki Demang kepada Kebo Arema.

Kebo Arema menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya perlahan.

“Ki Demang dan Ki Amararaja di pendapa ini telah duduk bersama dengan seorang prajurit perwira yang sangat disegani dan dihormati di seluruh tanah Singasari, orang yang sudah lama kalian kenal yang tidak lain adalah tuan Rangga Mahesa Amping”, berkata Kebo Arema memperkenalkan Mahesa Amping sebagai prajurit Singasari.

“Ternyata selama ini aku berteman dengan seorang perwira dari Singasari”, berkata Ki Amararaja sambil memandang kearah Mahesa Amping yang membalasnya dengan menganggukkan kepalanya membenarkan semua perkataan Kebo Arema atas dirinya.

“Keberpihakan Ki Demang dan Ki Amararaja adalah salah satu jembatan untuk mencapai sebuah kemenangan”, berkata Mahesa Amping yang nampaknya telah mendapatkan sebuah siasat baru.

“Kami siap menjadi jembatan itu”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

“Ki Demang dapat mempersiapkan lima puluh orang untuk Pura Besakih”, berkata Mahesa Amping.

“Orang-orang muda yang baru mengenal satu dua jurus kanuragan?, aku keberatan”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping tersenyum mendengar perkataan Ki Amararaja, terlihat Mahesa Amping mengatur pernafasannya untuk mengatakan sesuatu.

“Kita tidak mengirim satu pun orang Kademangan Rendang, karena yang akan kirim adalah para prajurit Singasari”, berkata Mahesa Amping sambil memandang kearah Ki Demang dan Ki Amararaja.

“Aku dapat menangkap maksudmu, Kademangan Rendang ini hanya sebagai jembatan untuk menyusupkan para prajurit Singasari ke sarang lawan”, berkata Ki Amararaja yang dapat menangkap maksud dan siasat dari Mahesa Amping.

“Sebuah usulan yang cemerlang”, berkata Kebo Arema setuju dengan siasat itu.

“Utusan penguasa Pura Besakih telah memberi batas waktu dua hari dari sekarang”, berkata Ki Demang menyampaikan batas waktu pengiriman lima puluh orang Kademangan Rendang.

“Hari ini juga kita harus melepas berita untuk menarik sebagian pasukanku yang tersebar di jalur sandi, mereka adalah para prajurit muda pilihan”, berkata Mahesa Amping.

“Sisanya?”, bertanya Kebo Arema

“Para pengikut Ki Jaran Waha”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.

“Apakah aku yang tua ini dapat bergabung bersama kalian?”, berkata Ki Amararaja menawarkan dirinya sendiri.

“Bukankah mereka membutuhkan lelaki yang masih kuat?”, berkata Mahesa Amping balik bertanya kepada Ki Amararaja.

“Artinya aku dapat diterima?”, bertanya kembali Ki Amararaja

“Ki Amararaja menjadi perwakilanKademangan Rendang”, berkata Mahesa Amping kepada Amararaja yang terlihat gembira dapat diikutkan sebagai penyusup di sarang lawan.

“Kakang Mahesa Semu bersama Paman Wantilan dan Paman Sembaga dapat tugas untuk menuntun pasukanku menuju Kademangan Rendang”, berkata Mahesa Amping membagi tugas.

“Ternyata mereka bertiga bukan pembantumu, melainkan saudaramu”, berkata Ki Amararaja yang mendengar bagaimana Mahesa Amping menyebut satu persatu saudara perguruannya dari Padepokan Bajra Seta.

“Mereka bertiga adalah saudara seperguruanku dari Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Amararaja.

“Kalian ternyata para pemain sandiwara yang jempol”, berkata Ki Amararaja kepada Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga yang hanya tersenyum. “Meski dalam lakon kalian harus diam manut layaknya seorang pembantu pedagang kuda kaya”, berkata kembali Ki Amararaja yang ditanggapi semua yang mendengarnya dengan tertawa.

“Bagaimana menurut Ki Amararaja lakonku sebagai pedagang kuda?”, bertanya Kebo Arema masih dalam suasana canda tawa.

“Permainanmu dapat dikatakan nyaris sempurna”, berkata Ki Amararaja kepada Kebo Arema.

Akhirnya pada hari itu juga Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga terlihat sudah mendahului keluar dari rumah Ki Demang untuk menjalankan tugasnya menuntun para prajurit untuk berkumpul di Kademangan Rendang.

Berselang tidak begitu lama Mahesa Amping dan Kebo Arema ikut keluar dari rumah kediaman Ki Demang.

“Semoga keselamatan bersamamu wahai tuan Rangga Mahesa Amping”, berkata Ki Amararaja mengantar Mahesa Amping dan Kebo Arema yang terlihat menuruni anak tangga pendapa.

“Panggil aku sebagaimana biasa Ki Amararaja memanggilnya”, berkata Mahesa Amping sambil melayangkan senyumnya.

Diiringi pandangan mata Ki Amararaja dan Ki Demang, dua ekor kuda dan penunggangnya terlihat keluar melewati regol pintu halaman kediaman Ki Demang dan akhirnya menghilang terhalang pohon ambon besar yang rindang di pinggir jalan Padukuhan utama.

“Ketiga orang yang dipanggil kakang dan paman oleh Mahesa Amping pastilah orang-orang yang berilmu tinggi”, berkata Ki Amararaja kepada saudaranya Ki Demang.

“Sementara kita memperlakukannya sebatas tiga orang pelayan tuan pedagang kuda”, berkata Ki Demang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa merasa lucu telah dikelabui matanya.

“Bukankah dulu kita juga pernah dikelabui oleh Mahesa Amping dan Empu Dangka?”, berkata Ki Amararaja mengingatkan Ki Demang pada awal pertemuan mereka.

Sementara itu matahari di atas cakrawala langit Kademangan Rendang terlihat sudah semakin surut tenggelam mengintip diujung bibir bumi. Pandangan mata tertahan oleh kabut yang terlihat telah turun menyelimuti Kademangan Rendang yang berada disalah satu lereng Gunung Agung.

Terlihat dua orang penunggang kuda telah keluar dari regol gerbang Kademangan Rendang. Mereka adalah Mahesa Amping dan Kebo Arema yang akan melakukan perjalanan menuju Pura Besakih. Jarak dari Kademangan Rendang menuju Pura Besakih memang tidk terlalu jauh, dan sudah ada jalan setapak sehingga memudahkan perjalanan.

Sementara itu sang senja perlahan surut menyeluruk masuk keperaduannya manakala sang malam datang berkuasa diatas tahta singgasana waktu. Dinaungi hutan malam serta cahaya rembulan, Mahesa Amping dan Kebo Arema telah sampai mendekati Pura Besakih dari tempat yang tersembunyi.

“Pura yang indah”, berkata Mahesa Amping memandang Pura Besakih dari jauh dibawah cahaya rembulan yang tengah bergelantung diatas langit malam.

“Pura yang megah diantara pura yang pernah kulihat”, berkata Kebo Arema.

“Mari kita melihat lebih dekat lagi”, berkata Mahesa Amping sambil menambatkan dan menyembunyikan kudanya diikuti oleh Kebo Arema. Terlihat Mahesa Amping dan kebo Arema berjalan mengelilingi Pura Besakih dikegelapan malam.

“Sepertinya pura ini dibangun sebagai sebuah benteng pertahanan yang kuat”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping setelah berkeliling mengamati setiap sisinya.

“Darimana pun kita mendekati, akan menjadi umpan hujan panah”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang mengamati bangunan pura yang berdiri diatas sebuah tanah berundak yang tinggi berujung sebuah jurang yang diketahuinya sebuah jalan untuk sampai ke puncak kawah Gunung Agung.

“Tapi tidak di kegelapan malam”, berkata Kebo Arema yang telah menemukan jalan untuk melakukan sebuah penyerangan.

“Diiringi sebuah kekacauan kecil dari para penyusup”, berkata Mahesa Amping melengkapi siasat Kebo Arema.

“Kurasa kita sudah menemukan jalannya”, berkata Kebo Arema sambil memberi tanda untuk meninggalkan Pura Besakih.

Terlihat mereka kembali ke tempat dimana kuda-kuda mereka disembunyikan. Dibawah kegelapan hutan malam mereka berjalan menjauhi Pura Besakih seperti dua srigala hitam menyusup menghilang di kegelapan malam. Dibawah malam yang sepi, mereka memacu kudanya berlari memecah udara dingin malam.

Akhirnya menjelang dini hari, mereka telah sampai di hutan tempat kediaman Ki Jaran Waha. Terlihat seorang pemuda diluar goa tengah mengumpulkan beberapa ranting kering.

“Aku akan membangunkan Ki Jaran Waha”, berkata seorang pemuda itu yang langsung masuk kedalam goa.
Tidak lama kemudian Ki Jaran Waha terlihat keluar dari dalam goanya.

“Selamat datang wahai saudaraku”, berkata Ki Jaran menyambut kedatangan mereka penuh kegembiraan.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, Mahesa Amping langsung menyampaikan tujuannya datang menemui Ki Jaran Waha.

“Besok pagi aku dan para pengikutku sudah ada di Kademangan Rendang”, berkata Ki Jaran Waha memastikan.

“Terima kasih, aku selalu menjadi seorang saudara yang sering merepotkan Ki Jaran Waha”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Kebetulan aku senang direpotkan oleh saudaraku sendiri”, berkata Ki Jaran Waha.

Sementara itu dari dalam goa muncul pemuda pelayan Ki Jaran Waha membawa makanan dan minuman hangat.

“Aku yakin sepanjang malam kuda dan perut kalian belum terisi apapun”, berkata Ki Jaran Waha menawarkan tamunya menikmati sarapan pagi yang dibawa oleh pelayannya.

“Sepanjang malam kami berjalan tanpa berhenti”, berkata Mahesa Amping sambil mengambil sepotong gendruk bakar.

“Gendruk yang paling enak yang pernah kurasakan”, berkata Kebo Arema sambil mengambil potongan gendruk yang kedua.

“Apapun tersedia disini dan aku merasa jadi orang terkaya di hutan ini”, berkata Ki Jaran sambil tertawa menampakkan sebaris giginya yang putih dan rata.

“Orang kaya adalah yang tidak punya keinginan apapun, tapi memiliki semua yang dinginkan”, berkata Kebo Arema ikut tertawa.

Akhirnya setelah merasa cukup beristirahat, Mahesa Amping dan Kebo Arema bermaksut untuk pamit diri.

“Besok pagi kita bertemu kembali di Kademangan Rendang”, berkata Ki Jaran Waha ketika melepas tamunya kembali ke Kademangan Rendang.

Sementara itu matahari pagi bersinar terlihat begitu cerah menyambut Mahesa Amping dan Kebo Arema keluar dari hutan tempat kediaman Ki jaran Waha.

Dan jarak mereka dengan hutan itu pun akhirnya semakin menjauh.

Mahesa Amping dan Kebo Arema terlihat memacu kudanya berlari diatas jalan tanah rata. Baru menjelang senja sudah hampir tergelincir mereka terlihat memasuki sebuah gapura pasar Kademangan Rendang yang sudah menjadi begitu sepi.

“Kupikir kalian tidak akan datang”, berkata seorang petugas sandi yang ternyata masih setia menunggu.

Terlihat mereka memasuki sebuah kedai yang masih buka.

“Sebenarnya kami ingin tutup, tapi kalau cuma minuman hangat kami masih dapat menyediakan”, berkata pemilik kedai itu yang langsung masuk kedalam.

Tidak lama kemudian pemilik kedai itu sudah datang kembali sambil membawa minuman hangat.

“Pasukan induk hari ini sudah bergeser ke lumbung kedua”, berkata petugas sandi itu menyampaikan beritanya.

“Sasaran hanya dapat didekati dimalam hari”, berkata Mahesa Amping yang menjelaskan keadaan Pura Besakih yang berada di lereng gunung.

“Besok kami mencoba menyusup ke sarang lawan”, berkata Kebo Arema kepada petugas sandi itu.

“Sebuah usaha yang sangat berbahaya”, berkata petugas sandi itu setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap apa yang akan dilakukan oleh para penyusup di dalam sarang lawan.

“Pasukan induk harus menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyerbuan”, berkata Kebo Arema ikut memberikan penjelasannya.

Sementara itu pemilik kedai terlihat membawa pelita yang diletakkannya didepan kedai, diluar kedai suasana memang sudah menjadi gelap.

“Tetaplah kalian berbincang, kedai ini tidak pernah kututup karena aku tidur di kedai ini”, berkata pemilik kedai itu tidak keberatan mereka masih berbincang di dalam kedai.

“Terima kasih Pak Tua, kebetulan kami sudah selesai dan akan kembali ke rumah”, berkata petugas sandi itu mewakili Mahesa Amping dan Kebo Arema pamit kepada pemilik kedai itu.

Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema sudah berada di jalan padukuhan utama mendekati rumah kediaman Ki Demang.

“Pasti kalian sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang”, berkata Ki Demang menyambut kedatangan mereka diatas pendapa rumahnya bersama Ki Amaraja.

“Kami akan bersih-bersih dulu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang yang langsung segera ke Pakiwan diikuti oleh Kebo Arema.

Udara malam di Kademangan Rendang cukup dingin, dibawah cahaya pelita yang tergantung di sudut tiang pendapa terlihat empat orang tengah berbincang-bincang.

“Sekitar lima puluh orang berkumpul di Kademangan Rendang, apakah tidak menimbulkan banyak pertanyaan?”, berkata Mahesa Amping memikirkan hari esok dimana lima puluh orang akan bertemu dan berkumpul di Kademangan Rendang.

“Kekhawatiranmu cukup beralasan”, berkata Ki Demang ikut memikirkannya.

“Kita belokkan mereka ke hutan adat di ujung Padukuhan Bacang”, berkata Ki Amararaja mengusulkan.

“Aku setuju, mereka tidak perlu berkumpul di Kademangan ini, dari hutan adat dapat langsung ke Pura Besakih”,berkata Ki Demang menyetujui usulan Ki Amararaja.

“Apapun masalahnya, bila dipikirkan bersama akan menemukan jalan keluarnya”, berkata Kebo Arema ikut menyetujui rencana itu.

Sementara itu sang malam masih berdiri diatas roda waktu yang terus berputar. Udara dingin kadang menyergap kulit tubuh bersama semilir angin malam datang dan pergi diatas pendapa rumah Ki Demang.

“Mari kita beristirahat, angin diluar sudah begitu dingin”, berkata Ki Demang mengajak semua masuk kedalam untuk beristirahat.

Sesaat kemudian, suasana pendapa rumah Ki Demang sudah terlihat lengang diterangi cahaya temaram dari pelita yang menggantung di sudut tiang pendapa.

Turun lewat anak tangga pendapa, suasana halaman rumah Ki Demang lebih lengang lagi, sinar cahaya oncor yang ada dipinggir regol pintu pagar hanya mampu menerangi kayu regol dan sedikit pagar batu.

Sementara itu jalan tanah yang melintasi rumah kediaman Ki Demang sudah tidak dapat terlihat tertutup seluruhnya oleh kegelapan malam. Jalan tanah itu begitu lengang, sepi dan gelap.

Malam yang lengang, sepi dan gelap serta udara dingin berkabut telah menyelimuti Kademangan Rendang sepanjang malam. Semua orang sudah lama tertidur terlelap menarik kaki dan kepalanya lebih rapat lagi masuk kedalam kain sarungnya.

Perlahan sang malam akhirnya bergeser semakin menjauh pergi ke balik bumi lain digantikan kehadiran sang pagi yang ditandai dengan suara ayam jantan yang sayup terdengar jauh dan semakin lama semakin jelas keras saling bersahut.

Dipagi yang bening itu, jalan padukuhan utama sudah mulai dilewati satu dua orang, mungkin satu dua orang pedagang yang berjalan menuju ke pasar.

Sekumpulan burung camar terbang melintas diatas halaman rumah Ki Demang yang sudah nampak terang.

“Udara pagi di Kademangan ini begitu sejuk”, berkata Kebo Arema diatas pendapa sambil memandang seekor ayam jago yang tengah mengejar seekor anak ayam jantan muda yang baru disapih oleh induknya.

“Biarlah aku bersama Ki Amararaja menanti disini , mungkin tidak semua orang lewat jalan simpang ujung Padukuhan Bacang”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

“Baiklah, aku dan Ki Demang yang berangkat”, berkata Mahesa Amping sambil berdiri dan melangkah menuruni anak tangga pendapa diiringi Ki Demang dibelakangnya.

Terlihat Mahesa Amping bersama Ki Demang tengah berjalan di jalan Padukuhan utama menuju Padukuhan Bacang. Beberapa orang menyapa Ki Demang.

“Ada sedikit keperluan ke Padukuhan Bacang”, berkata Ki Demang sekedar menjawab dan memenuhi beberapa orang yang menyapa dan ingin tahu ada keperluan apa Ki Demang sepagi itu sudah berkeliling.

“Melihat ladang Di Padukuhan Bacang”, berkata lagi Ki Demang asal menjawab kepada beberapa orang yang tengah menebang serumpun bambu dipinggir jalan yang menghambat saluran air.

Akhirnya Mahesa Amping dan Ki Demang sudah berada di persimpangan jalan di ujung Padukuhan Bacang, sebuah Padukuhan yang berada di ujung utara dan berbatasan dengan sebuah hutan adat. Jalan simpang di ujung Padukuhan itu memang masih sepi, belum banyak orang yang melewatinya. Maka yang ditunggu Mahesa Amping dan Ki Demang ternyata mulai berdatangan. Mereka berjalan terpisah.

“Teruslah kalian berjalan kearah hutan seberang itu, tunggulah kami disana”, berkata mahesa Amping kepada tiga orang prajurit yang datang pertama kali.

Begitulah Mahesa Amping mengarahkan pasukannya ke hutan adat. “Hampir semua pasukanku sudah masuk di Hutan Adat”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang.

“Artinya masih ada beberapa orang yang masuk lewat jalan lain langsung ke rumahku”, berkata Ki Demang memperkirakan.

“Ada Ki Amararaja dan Paman Kebo Arema disana”, berkata Mahesa Amping.

Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Demang ternyata menjadi kenyataan. Beberapa orang ternyata memang lewat jalan lain, diantaranya Ki Jaran Waha sendiri bersama para pengikutnya.

“Selamat datang Ki Jaran Waha”, berkata Kebo Arema turun dari pendapa menyambut kedatangan Ki Jaran Waha bersama tiga orang pengikutnya yang sudah masuk ke halaman rumah Ki Demang.

Dengan singkat Kebo Arema menjelaskan bahwa tempat berkumpulnya berada di hutan adat.

“Aku tahu jalan menuju ke hutan itu, biarlah salah seorang diantara kami mundur kebelakang untuk memberitahukan kawan-kawannya yang masih ada di perjalanan”, berkata Ki Jaran Waha yang langsung memerintahkan salah seorang pengikutnya mundur kembali kebelakang.

“Kami akan segera menyusul”, berkata Kebo Arema kepada Ki Jaran Waha.

Akhirnya tidak terasa semua orang yang ditunggu sudah berada di hutan adat. Termasuk Ki Amararaja dan Kebo Arema yang datang menyusul.

“Ingat bahwa kita adalah orang-orang dari Kademangan Rendang”, berkata Mahesa Amping mengingatkan.

“Petani yang baru belajar memegang pedang”, berkata Ki Jaran Waha menambahkan membuat semua merasa geli mendengarnya.

Sementara itu matahari sudah terlihat merayap naik di hutan itu.

“Mari kita berangkat”, berkata Mahesa Amping dengan suara lantang.

Maka berjalanlah rombongan itu keluar dari hutan adat itu menuju Pura Besakih. Terlihat rombongan itu seperti semut berjejer menyusuri jalan setapak yang cukup keras sering dilalui orang manakala berjalan menuju Pura Besakih.

“Pura Besakih sudah terlihat”, berkata salah seorang prajurit yang melihat ujung meru berundak sebelas yang sudah terlihat dari jauh.

Akhirnya mereka telah sampai di puncak sebuah bukit tempat dimana bangunan pura itu berdiri. Dan rombongan itu terlihat berhenti di muka sebuah tangga yang tinggi menuju pintu gerbang Pura Besakih.

Dari atas rombongan itu memang sudah terlihat, dua orang petugas pengintai telah melihat mereka.

“Periksa siapakah mereka yang baru datang itu”, berkata seorang yang terlihat penuh wibawa ketika menerima laporan dari petugas pengintai.

Maka terlihat seorang penjaga Pura tengah menuruni anak tangga yang tinggi itu tempat satu-satu jalan menuju Pura Besakih.

“Siapakah pimpinan kalian?”, bertanya penjaga itu ketika sudah berada di hadapan rombongan Mahesa Amping.

“Aku Demang Amararatu membawa lima puluh orang Kademangan Rendang untuk berbakti”, berkata Ki Demang kepada penjaga itu.

“Bakti kalian diterima oleh Penguasa Pura Besakih”, berkata penjaga itu sambil memberi tanda kepada Ki Demang untuk membawa rombongannya naik ke tangga seribu.

Satu persatu rombongan itu menaiki anak tangga seribu dan akhirnya sampai satu persatu melewati lawang gapura.

“Tunggulah kalian disini”, berkata penjaga itu meminta rombongan menunggu di Bale Pelataran tamu yang berhadapan dengan sebuah anak tangga batu yang tidak lebih tinggi dari tangga seribu.

Terlihat semua rombongan duduk bersimpuh penuh hikmat mencontoh sikap Ki Demang. Mahesa Amping memperhatikan beberapa orang memantau keadaah diluar Pura, sementara itu pasukan panah terlihat bersembunyi disepanjang pagar batu dengan busur dan anak panah yang siap sedia.

“Hujan panah akan melumatkan siapapun yang datang mendekat”,berkata Mahesa Amping dalam hati.

Akhirnya seorang penjaga datang bersama dengan seorang yang terlihat sepertinya atasannya.

“Aku Demang Amararatu membawa lima puluh orang Kademangan Rendang untuk berbakti”, berkata Ki Demang sambil menjura penuh hormat sepertinya sudah terbiasa datang ke Pura Besakih.

“Bakti kalian diterima oleh Penguasa Pura Besakih”, berkata orang yang bersama penjaga itu sambil memberi tanda kepada Ki Demang untuk membawa rombongannya masuk ke lawang Pura lebih dalam lagi.

Akhirnya rombongan dari Kademangan Rendang itu telah sampai di puncak tanah yang lapang.

“Aku Jero Mangku Sanga, mulai saat ini akulah pimpinan kalian selama di Pura Besakih ini”, berkata orang itu yang mengaku sebagai Jero Mangku Sanga dengan suara yang keras dan parau.

Terlihat seorang yang lain datang mendekati Jero Mangku Sanga itu.

“Aku perlu sepuluh orang petugas untuk membantu di dapur umum”, berkata orang itu.

“Aku akan memilih diantara mereka”, berkata Jero Mangku Sanga sambil memeriksa satu persatu rombongan dari Kademangan Rendang.

“Pak tua, sebaiknya kamu keluar dari rombongan ini”, berkata Jero Mangku Sanga kepada Ki Amararaja.

Maka terlihat Ki Amararaja keluar misahkan diri dari rombongannya.

“Orang setua kamu pantasnya di dapur umum”, berkata Jero Mangku Sanga kepada Ki Jaran Waha.

Terlihat Ki Jaran Waha dengan tanpa menyanggah apapun ikut memisahkan diri mendekati Ki Amararaja.

Selanjutnya Jero mangku Sanga memeriksa satu persatu orang-orang dari Kademangan Rendang yang sebenar adalah para penyusup.

Akhirnya Jero Mangku Sanga dapat memilih delapan orang lagi yang kesemuanya adalah para pengikut Ki Jaran Waha yang umumnya adalah orang-orang yang berilmu cukup tinggi, pengikut papan lapis atas yang setia yang dari segi usia memang sudah tidak dapat dikatakan sebagai pemuda lagi.

“Bawalah kesepuluh orang ini bersamamu”, berkata Jero mangku Sangan kepada kawannya.

Maka terlihat kawan Jero Mangku Sanga membawa kesepuluh orang dari rombongan yang akan ditugaskan sebagai pembantu juru masak di dapur umum.

“Menjelang senja kalian berkumpul kembali disini, Raja Adidewalancana berkenan memberikan wejangan”, berkata Jero Mangku Sanga sambil menunjukkan sebuah barak yang kosong untuk mereka beristirahat.

“Maaf, apakah aku sudah diperbolehkan kembali ke Kademanganku”, bertanya Ki Demang kepada Jero Mangku Sanga.

“Penguasa Pura Besakih tidak akan melupakan baktimu, silahkan kamu kembali”, berkata Jero Mangku Sanga kepada Ki Demang sambil melangkah meninggalkan mereka.
Sebelum berangkat Ki Demang menghampiri Mahesa Amping untuk pamit diri.

“Buatlah hubungan kepetugas sandi di Pasar Kademangan”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang sambil memberikan beberapa tanda rahasia.

“Dari sini aku akan langsung ke pasar Kademangan”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

Terlihat Ki Demang melangkahkan kakinya turun menapaki tangga pura Besakih, tidak seorang pun menghiraukan lelaki tua itu keluar dari Pura Besakih.

Sementara itu waktu sepertinya terus perlahan berputar searah perjalanan matahari yang semakin turun menggelantung di barat cakrawala langit.

“Berbanjarlah sesuai tempat asal kalian”, berkata Jero Mangku Sanga mengumpulkan pasukannya yang bersal dari beberapa Kademangan yang berada disekitar lereng Gunung Agung.

Terlihat orang-orang yang berasal dari Kademangan itu berbanjar sesuai tempat asal mereka bergabung dengan sekitar tujuh ratus orang prajurit bayaran yang terlihat dengan bahasa dan pakaian mereka.

Ternyata Jero Mangku Sanga bukan seorang pemimpin tunggal, bersamanya ada delapan orang yang berpakaian sebagaimana Jero Mangku Sanga kenakan. Terlihat berada di kesatuannya masing-masing.

Suasana menjadi sunyi dan lengang manakala terlihat sebuah iring-iringan pengawal berjalan bersama seorang yang memakai tahta dikepalanya. Disampingnya berjalan bersama seorang yang berjubah pendeta.

“Pendeta Guru Dewa Palaguna!!”, berkata Mahesa Amping dalam hati mengenal orang berjubah itu. Diam-diam bersyukur berada dibagian tengah dari rombongannya.

“Selamat datang para putra Kademangan, para putra lereng Gunung Agung. Bakti kalian telah diterima oleh para dewa yang menjaga kawasan suci ini”, berkata Raja Adidewalancana dengan suara yang tinggi yang menandakan sebuah kekuatan tenaga dalam yang kuat yang dimiliki.

“Selamat datang juga kepada para lelaki pemberani dari berbagai penjuru nagari”, berkata kembali Raja Adidewalancana yang disambut gemuruh tujuh ratus prajurit bayaran dengan penuh kebanggaan disebut sebagai para lelaki pemberani.

“Hari ini para prajurit Singasari dengan segala keangkuhannya akan merebut kekuasaan pura Besakih milik para dewa. Mereka akan berhadapan dengan para dewa. Keangkuhan mereka akan dihancurkan oleh para dewa”, berkata Raja Adidewalancana dengan suara penuh semangat. “Para dewata telah berdiri dibelakang kita !!”, berkata kembali Raja Adidewalancana yang disambut oleh gemuruh suara semua orang yang mendengarnya.

Sementara itu di waktu yang sama Ki Demang telah berada di Paras Kademangan yang sudah sepi. Hanya ada beberapa kedai yang masih buka, itu pun karena pemiliknya tinggal dan tidur disitu.

“Aku kawan Rangga Mahesa Amping, apakah kamu yang bernama Sukra?”, berkata Ki Demang kepada seorang lelaki yang berdiri didepan sebuah kedai dengan tanda-tanda tertentu yang sama sesuai yang ditunjukkan oleh Mahesa Amping kepadanya.

“Benar, namaku Sukra”, berkata orang itu yang tidak lain adalah petugas sandi.

Ki Demang langsung menyampaikan berita bahwa Mahesa Amping dan pasukannya telah masuk menyusup ke sarang lawan.

“Aku sendiri yang mengantar mereka sampai ke Pura Besakih”, berkata Ki Demang meyakinkan.

“Hari ini pasukan induk telah bergerak kembali mendekati sasaran”, berkata petugas sandi itu menyampaikan berita terakhir.

“Untuk saat ini hubungan kita terputus, Pura Besakih tidak mudah didekati pada saat seperti ini”, berkata Ki Demang kepada petugas sandi itu.

“Benar, untuk saat ini hubungan kita terputus”, berkata petugas sandi itu menyayangkan hal terputusnya berita antara kelompok Mahesa Amping dan pasukan induk.

“Mudah-mudahan besok ada perkembangan baru, aku akan datang lagi menemuimu”, berkata Ki Demang.

“Aku disini dipasar ini sepanjang hari”, berkata petugas sandi itu.

“Sebagai apa kamu dikedai ini?”, berkata Ki Demang kepada petugas sandi itu.

“Pemilik kedai ini menerima diriku sebagai pembantunya”, berkata Sukra dengan wajah penuh senyum.

“Baik-baiklah kamu bekerja”, berkata Ki Demang kepada Sukra ketika akan melangkah pergi.

Sementara itu di Pura Besakih kunjungan Raja Adidewalancana diakhiri dengan upacara restu dewa yang dilakukan oleh Pendeta Guru Dewa Palaguna menyiram air kelapa kesegala penjuru arah.

Setelah upacara itu berakhir, iring-iringan Raja Adidewalancana berkenan meninggalkan altar kembali ke Pura Dalem Astana.

Semua pasukan telah diperintahkan kembali ke baraknya masing-masing untuk beristirahat.

Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Ki Demang, Pura Besakih telah memperketat penjagaannya. Siapapun tidak dapat leluasa bergerak masuk dan keluar Pura Besakih saat itu.

“Malam ini aku ingin menghirup udara diluar Pura Besakih bersamamu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang mendapat tugas membawa ransum untuk semua pasukan.

“Aku akan menjemputmu”, berkata Ki jaran Waha penuh kepastian.

Maka menjelang malam di Pura Besakih, disaat semua orang tertidur nyenyak . Terlihat dua bayangan melesat terbang begitu cepatnya kesebuah tepian jurang. Sebuah tempat yang tidak ada penjagaan sama sekali karena menurut perkiraan tidak ada seorangpun yang akan mengorbankan dirinya terjun kejurang itu.

Tapi ternyata kedua bayangan itu terlihat telah terjun ke bawah jurang yang terjal itu. Siapapun akan terkesima bahwa kedua bayangan itu tidak langsung terjun meluncur kebawah, tapi terlihat berpijak beberapa kali di beberapa tonjolan batu karang dan akhirnya seperti melayang terbang turun kebawah dengan begitu ringannya.

Akhirnya kedua bayangan itu sudah tidak terlihat lagi, telah menghilang ditelan kelamnya malam.

Sementara itu di Kademangan Rendang, Ki Demang malam itu masih juga belum dapat memejamkan matanya. Meski sudah berbaring diperaduan, pikirannya selalu tertuju kepada pasukan Mahesa Amping yang saat itu telah masuk menyusup di Pura Besakih.

“Apa jadinya pasukan kecil itu seandainya kehadiran mereka tercium oleh pihak lawan”, berkata Ki Demang dalam hati sambil berbaring diperaduannya.

Namun telinganya yang tajam tiba-tiba saja mendengar suara burung Prenjak berbunyi jelas sekali diluar biliknya.

“Mahesa Amping?”, berkata dalam hati Ki Demang ingat akan salah satu isyarat rahasia yang telah disampaikan oleh Mahesa Amping.

“Aku akan keluar sebentar Nyi”, berkata Ki Demang kepada Nyi Demang yang terbangun melihat Ki Demang turun dari peraduannya.

Ketika Ki Demang membuka pintu utama, maka dilihatnya sudah ada dua orang duduk di pendapa rumahnya.

“Ternyata kamu Mahesa Amping”, berkata Ki Demang kepada salah satu dari kedua orang yang ada dipendapa rumahnya yang tidak lain adalah Mahesa Amping bersama Ki Jaran Waha.

“Aku tidak lama Ki Demang, hanya ingin menyampaikan berita kepada pasukan induk”, berkata Mahesa Amping sambil menyampaikan dengan rinci tentang gerakan mereka besok malam.

“Tadi sore aku sudah bertemu dengan petugas sandimu, beritanya pasukan induk sudah bergerak mendekati Pura Besakih”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

“Maaf, kalian belum kusediakan minuman”, berkata Ki Demang ketika Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha mohon pamit diri kembali ke Pura Besakih.

“Terima kasih Ki Demang, Nyi Demang lama menunggu didalam”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang langsung melangkah menuruni anak tangga pendapa.

Diiringi pandang mata Ki Demang yang dalam malam tersamar masih dapat melihat Mahesa Amping dan Ki jaran Waha tengah berjalan di halaman rumahnya. Tapi keduanya tiba-tiba saja melesat seperti burung camar laut terbang melompati pagar batu halaman rumahnya dan menghilang ditelan kegelapan malam.

Ki Dalang terlihat menarik nafas dalam mengagumi kedua tamunya yang ternyata memiliki ilmu yang mumpuni, dapat berlari cepat seperti angin dan terbang cepat layaknya burung camar laut menangkap ikan dipermukaan air.

Ketika masuk ke biliknya, Ki Demang tidak mengatakan apapun kepada Nyi Demang yang ternyata sudah tertidur.

Sementara itu di Pura Besakih, kembali dua sosok bayangan melesat dari tepian jurang dan berendap di kegelapan malam yang berkabut, akhirnya kedua bayangan itu telah menyusup masuk ke sebuah barak tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali para penghuni barak itu sendiri yang tidak tidur menunggu dan menjaga kedatangan mereka.

“Pasukan induk sudah bergerak mendekati Pura Besakih, besok malam kita bergerak bersama menguasai Pura Besakih ini”, berkata Mahesa Amping kepada kawan-kawannya.

“Saatnya kita beristirahat”, berkata Ki Jaran Waha yang terlihat merapatkan kakinya didalam kain sarungnya siap-siap untuk tidur.

Terlihat dua orang petugas ronda malam melewati barak mereka, maka perlahan mereka merebahkan diri berbaring layaknya orang yang sudah lama tertidur.

Tapi ketika penjaga itu telah menjauh melewati barak mereka, tidak ada satupun yang bangun. Ternyata udara yang dingin dan berkabut membuat mereka semakin merapatkan kaki dibalik kain sarungnya, dan tertidur melepaskan kepenatan dan kelelahan berharap besok pagi terbangun dengan badan yang kembali segar.

Pagi itu Mahesa Amping telah terbangun diantara hiruk pikuk beberapa orang yang terlihat berlalu lalang sesuai kepentingannya masing-masing diatas puncak Pura Besakih tempat dimana barak-barak darurat telah didirikan menampung pasukan yang cukup besar sekitar seribu orang.

“Siapkan semua orangmu, nanti malam kita bergerak”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha di pagi itu yang tengah mengantar ransum untuk semua orang di barak-barak.

“Kami akan melakukannya dengan cara kami”, berkata Ki Jaran Waha dengan sebuah senyumnya.

bersambung ke bagian 3

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 10 Mei 2012 at 00:01  Comments (269)  

269 KomentarTinggalkan komentar

  1. Terima kasih atas kebersamaannya selama ini. satu babad telah kita jalani bersama.

    saatnya menanti gandhok anyer babad baru singasari, Ki Arema enggak perlu takut kontrak perannya selama ini, masih sebagai orang pertikelir yang dipekerjakan oleh kerajaan membantu Raden Wijaya dan Ranggalawe menjalankan bisnisnya antar pulau di nusantar.

    ciaatttttttt !!! (bersalto tiga kali dan turun dengan ringannya seperti bulu ayam melayang jatuh ke bumi)

    • ciaatttttttt !!! ciaaaaattttt…..????
      (bersalto tiga kali mengikuti kemana langkah membawa pak Dalang malem ini, bersalto tiga kali kembali dan turun dengan RIANG-nya seperti anak burung digendong INDUKnya)

  2. Alhamdulillah
    telah selesai satu judul cerita dari Pak Dhalang “Kompor” Sandikala.
    dan sedang menanti babak selanjutnya dengan cerita baru.

    satpam yakin pasti lebih seru

    sedang dipikirkan, covernya seperti apa

    ada usul………

  3. Satu babak cerita telah selesai. Babak baru siap dimulai, semoga kebaikan tidak hanya dalam cerita, namun menjelma dalam kehidupan Ki Dalang khususnya dan sanak kadang padhepokan pada umumnya. Amiin…….tidak lupa Matur suwuuuuuuuuuun

  4. SFBDBS-13 sudah dibundel dan ditata di tempatnya.

    Sedang mengumpulkan “Uba-rampe” pembuatan anak padepokan baru : “KABUT DI BUMI SINGASARI

    Dog…… !!!, SFBDBS ditutup

    namun, sanak-kadang yang masih ingin bergojeg masih diperkenankan, sambil menunggu siapnya anak padepokan baru.

    satpam

  5. Satpam coba buat cover Kabut di Bumi Singosari kok huelek….., adakah yang bisa bantu?

  6. terima kasih ki dhalang, …
    terima kasih ki satpam, …
    terima kasih para bebahu, …

    siap menunggu dibukanya gandhok baru “kdbs”, …

  7. matur nuwun
    tetap semangat menanti
    tutuge

  8. rontal pertama “kabut di bumi Singasari” sudah siap menggelinding menunggu poster besar yang lagi dibuat oleh Pak Satpam.

    tok-tok-tok….tok-tok-tok
    terdengar Pak satpam tengah memukul palu hehehe

    • Hikksss,
      pak Satpam kalah TRENGGInas….(hayoOO pak Satpam)
      rontal perdana pak Dalang KOMPOR, kemrinGET pengen
      cepet2 “methungUL”

  9. rontal kedua “Kabut diatas Singasari” sudah siap, hehehe (langsung terbang melesat menghilang)

    Ki Gundul pasti tidak mampu membayangi Mahesa Kompor yang telah menerapkan ilmu meringankan tubuhnya nyaris diatas kesempurnaan, hehehe…………wingggggg !!!! saking cepatnya sampe terdengar seperti sukhoi terbang melintas langit pelabuhan ratu, hehehe

    • Hup,…..baru nyampe !!??

      cantrik belom siap ngucap mantra elmu sepi angin…..bayangan
      pak Dalang hilang dari pandangan, hehee5x

  10. rontal ketiga “KABUT DI BUMI SINGASARI”sudah siap

    sekelumit penggalannya :

    “Utusan Kaisar sama derajatnya menghadap kaisar itu sendiri, maafkan bila kami tidak berlaku hormat kepada utusan Kaisar Kubilai Khan”, berkata Raden Wijaya sambil menjura penuh hormat kepada Mengki yang ternyata adalah seorang utusan Kaisar Kubilai Khan, sebuah nama yang saat itu sangat menggetarkan hati para raja-raja didunia. Hampir separuh dunia telah ditaklukkan oleh pasukannya yang terkenal kuat dan sangat berani di segala medan pertempuran. Pasukan Burma dengan pasukan gajahnya pernah hancur lebur luluh lantak dihancurkan oleh pasukan Kubilai Khan.

    • SiiiiPPPP,

      sPOIler rontal KdBM “terasa mendeBARkan”…..Asikk, Asiiikkk

      • Wuuusssh,

        dalam hitungan DETIK cantrikpun melesat terbang, menghampiri
        pak Dalang KOMPOR…..miniti jejak jalur evakuasi para personil “baret merah” yang tergabung dalam tim SAR.

        2 bayangan saling kejar mengejar, melesat ringan diantara pohon2
        di atas bukit kecil :
        pak Satpam hanya bisa geleng2 menyaksikan kemapanan elmu
        cantrik GunduL dan pak Dalang.

    • Mohon maaf…..
      satpam seharian kesana-kemari sehingga tidak sempat sambang padepokan.
      datang sudah malam, langsung sim salabim, padepokan Kabut di Bumi Singosari dan gandok pertama KDBS-01 langsung jadi dan bisa digunakan untuk membaca rontal-rontal yang jatuh dari Situ Cipondoh.
      monggo….

  11. waduh pak Dalang, ini pak Satpam sudah siap, kami juga sudah siap, monggo

  12. kuar buasa…

    Sungguh indah karnya nya ki kompor….

    Apa lagi yang bisa ku ucapkan….
    Selain hanya ungkapan trimakasih yang sebesar besarnya, yang telah berkenang sebagai pelanjut maha karaya alharmun sang maestro nusantara.. Sh mintarja….

    Hormat dan selalu dalam limpahan rahmad dan keberkahan bagi ki kompor,,,

    tulisan yang sangat mirip dengan tulisan sang maestro….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: