SFBDBS-13

<<kembali ke SFBdBS-12 | lanjut ke SFBdBS-14 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 10 Mei 2012 at 00:01  Comments (269)  

269 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mahesa Amping dan Kebo Arema terlihat memacu kudanya berlari diatas jalan tanah rata. Baru menjelang senja sudah hampir tergelincir mereka terlihat memasuki sebuah gapura pasar Kademangan Rendang yang sudah menjadi begitu sepi.

    “Kupikir kalian tidak akan datang”, berkata seorang petugas sandi yang ternyata masih setia menunggu.

    Terlihat mereka memasuki sebuah kedai yang masih buka.

    “Sebenarnya kami ingin tutup, tapi kalau cuma minuman hangat kami masih dapat menyediakan”, berkata pemilik kedai itu yang langsung masuk kedalam.

    Tidak lama kemudian pemilik kedai itu sudah datang kembali sambil membawa minuman hangat.

    “Pasukan induk hari ini sudah bergeser kelumbung kedua”, berkata petugas sandi itu menyampaikan beritanya.

    “Sasaran hanya dapat didekati dimalam hari”, berkata Mahesa Amping yang menjelaskan keadaan Pura Besakih yang berada di lereng gunung.

    “Besok kami mencoba menyusup ke sarang lawan”, berkata Kebo Arema kepada petugas sandi itu.

    “Sebuah usaha yang sangat berbahaya”, berkata petugas sandi itu setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap apa yang akan dilakukan oleh para penyusup di dalam sarang lawan.

    “Pasukan induk harus menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyerbuan”, berkata Kebo Arema ikut memberikan penjelasannya.

    Sementara itu pemilik kedai terlihat membawa pelita yang diletakkannya didepan kedai, diluar kedai suasana memang sudah menjadi gelap.

    “Tetaplah kalian berbincang, kedai ini tidak pernah kututup karena aku tidur di kedai ini”, berkata pemilik kedai itu tidak keberatan mereka masih berbincang di dalam kedai.

    “Terima kasih Pak Tua, kebetulan kami sudah selesai dan akan kembali kerumah”, berkata petugas sandi itu mewakili Mahesa Amping dan Kebo Arema pamit kepada pemilik kedai itu.

    Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema sudah berada di jalan padukuhan utama mendekati rumah kediaman Ki Demang.

    “Pasti kalian sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang”, berkata Ki Demang menyambut kedatangan mereka diatas pendapa rumahnya bersama Ki Amaraja.

    “Kami akan bersih-bersih dulu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang yang langsung segera ke Pakiwan diikuti oleh Kebo Arema.

    Udara malam di Kademangan Rendang cukup dingin, dibawah cahaya pelita yang tergantung di sudut tiang pendapa terlihat empat orang tengah berbincang-bincang.

    • sepi ????
      kosong ???

      • matur suwun….
        lanjut……
        mumpung besok hari libur, he he he ….,

        • halo hadir …………….

          • mohon doa restunya,

            mudah-mudahan dalam waktu empat hari libur ini penyerbuan Pura Besakih dapat selesai tanpa banyak korban……………….

          • Tak pangestoni sedyamu Dhimas Kompor,
            dok…dok….dok……dok……..krompyang.

  2. “Sekitar lima puluh orang berkumpul di Kademangan Rendang, apakah tidak meninbulkan banyak pertanyaan ?”, berkata Mahesa Amping memikirkan hari esok dimana lima puluh orang akan bertemu dan berkumpul di Kademangan Rendang.

    “Kekhawatiranmu cukup beralasan”, berkata Ki Demang ikut memikirkannya.

    “Kita belokkan mereka ke hutan adat diujung Padukuhan Bacang”, berkata Ki Amararaja mengusulkan.

    “Aku setuju, mereka tidak perlu berkumpul di Kademangan ini, dari hutan adat dapat langsung ke Pura Besakih”,berkata Ki Demang menyetujui usulan Ki Amararaja.

    “Apapun masalahnya, bila dipikirkan bersama akan menemukan jalan keluarnya”, berkata Kebo Arema ikut menyetujui rencana itu.

    Sementara itu sang malam masih berdiri diatas roda waktu yang terus berputar. Udara dingin kadang menyergap kulit tubuh bersama semilir angin malam datang dan pergi diatas pendapa rumah Ki Demang.

    “Mari kita beristirahat, angin diluar sudah begitu dingin”, berkata Ki Demang mengajak semua masuk kedalam untuk beristirahat.

    Sesaat kemudian, suasana pendapa rumah Ki Demang sudah terlihat lengang diterangi cahaya temaram dari pelita yang menggantung disudut tiang pendapa.

    Turun lewat anak tangga pendapa, suasana halaman rumah Ki Demang lebih lengang lagi, sinar cahaya oncor yang ada dipinggir regol pintu pagar hanya mampu menerangi kayu regol dan sedikit pagar batu.

    Sementara itu jalan tanah yang melintasi rumah kediaman Ki Demang sudah tidak dapat terlihat tertutup seluruhnya oleh kegelapan malam. Jalan tanah itu begitu lengang, sepi dan gelap.

    Malam yang lengang, sepi dan gelap serta udara dingin berkabut telah menyelimuti Kademangan Rendang sepanjang malam. Semua orang sudah lama tertidur terlelap menarik kaki dan kepalanya lebih rapat lagi masuk kedalam kain sarungnya.

    Perlahan sang malam akhirnya bergeser semakin menjauh pergi ke balik bumi lain digantikan kehadiran sang pagi yang ditandai dengan suara ayam jantan yang sayup terdengar jauh dan semakin lama semakin jelas keras saling bersahut.

    Dipagi yang bening itu, jalan padukuhan utama sudah mulai dilewati satu dua orang, mungkin satu dua orang pedagang yang berjalan menuju ke pasar.

    Sekumpulan burung camar terbang melintas diatas halaman rumah Ki Demang yang sudah nampak terang.

    “Udara pagi di Kademangan ini begitu sejuk”, berkata Kebo Arema diatas pendapa sambil memandang seekor ayam jago yang tengah mengejar seekor anak ayam jantan muda yang baru disapih oleh induknya.

    • siipp………..
      lanjut….. pak lik

  3. “Biarlah aku bersama Ki Amararaja menanti disini , mungkin tidak semua orang lewat jalan simpang ujung Padukuhan Bacang”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

    “Baiklah, aku dan Ki Demang yang berangkat”, berkata Mahesa Amping sambil berdiri dan melangkah menuruni anak tangga pendapa diiringi Ki Demang dibelakangnya.

    Terlihat Mahesa Amping bersama Ki Demang tengah berjalan di jalan Padukuhan utama menuju Padukuhan Bacang. Beberapa orang menyapa Ki Demang.

    “Ada sedikit keperluan ke Padukuhan Bacang”, berkata Ki Demang sekedar menjawab dan memenuhi beberapa orang yang menyapa dan ingin tahu ada keperluan apa Ki Demang sepagi itu sudah berkeliling.

    “Melihat ladang Di Padukuhan Bacang”, berkata lagi Ki Demang asal menjawab kepada beberapa orang yang tengah menebang serumpun bambu dipinggir jalan yang menghambat saluran air.

    Akhirnya Mahesa Amping dan Ki Demang sudah berada di persimbpangan jalan diujung Padukuhan Bacang, sebuah Padukuhan yang berada diujung utara dan berbatasan dengan sebuah hutan adat.

    Jalan simpang diujung Padukuhan itu memang masih sepi, belum banyak orang yang melewatinya.

    Maka yang ditunggu Mahesa Amping dan Ki Demang ternyata mulai berdatangan. Mereka berjalan terpisah.

    “Teruslah kalian berjalan kearah hutan seberang itu, tunggulah kami disana”, berkata mahesa Amping kepada tiga orang prajurit yang datang pertama kali.

    Begitulah Mahesa Amping mengarahkan pasukannya ke hutan adat.
    “Hampir semua pasukanku sudah masuk di Hutan Adat”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang.

    “Artinya masih ada beberapa orang yang masuk lewat jalan lain langsung kerumahku”, berkata Ki Demang memperkirakan.

    “Ada Ki Amararaja dan Paman Kebo Arema disana”, berkata Mahesa Amping.

    Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Demang ternyata menjadi kenyataan. Beberapa orang ternyata memang lewat jalan lain, diantaranya Ki jaran Waha sendiri bersama para pengikutnya.

    “Selamat datang Ki Jaran Waha”, berkata Kebo Arema turun dari pendapa menyambut kedatangan Ki Jaran Waha bersama tiga orang pengikutnya yang sudah masuk ke halaman rumah Ki Demang.

    Dengan singkat Kebo Arema menjelaskan bahwa tempat berkumpulnya berada di hutan adat.

    “Aku tahu jalan menuju ke hutan itu, biarlah salah seorang diantara kami mundur kebelakang untuk memberitahukan kawan-kawannya yang masih ada diperjalanan”, berkata Ki Jaran Waha yang langsung memerintahkan salah seorang pengikutnya mundur kembali kebelakang.

    “Kami akan segera menyusul”, berkata Kebo Arema kepada Ki Jaran Waha.

    • lanjut…..
      he he he ….

      tapi satpam sudah nguantuk sekali, harus segera bobo

      besok, pagi uthuk-uthuk bakda subuh nderekke Kiaine nganglang, mohon maaf bila selama dua hari tidak bisa nginguk padepokan karena kesibukan dan mungkin karena sinyal yang kurang baik ditempat peristirahatan.

      mohon doanya nggih
      berangkat selamat, pulang selamat

      • “Semoga keselamatan dan kegembiraan selalu menyertaimu”, berkata Ki Amararaja kepada Pak Satpam yang akan berangkat ngelanglang

        • “Do’a Ki Amararaja akan saya pusakai” kata satpam.

          he he he ….
          terima kasih Ki
          sekalian pamit, mungkin dua hari tidak sempat tengok padepokan.

      • Sami Ki, saya juga mau mudik ke Nganjuk, sudah 6 bulan tidak nyambangi keluarga.

        • Wiew……, jangan-jangan nanti ketemu di jalan
          he he he …, bagaimana tahunya

          selamat jalan Ki BP
          ini satpam sedang persiapan, nginguk gandok sebentar

  4. Akhirnya tidak terasa semua orang yang ditunggu sudah berada di hutan adat. Termasuk Ki Amararaja dan Kebo Arema yang datang menyusul.

    “Ingat bahwa kita adalah orang-orang dari Kademangan Rendang”, berkata Mahesa Amping mengingatkan.

    “Petani yang baru belajar memegang pedang”, berkata Ki Jaran Waha menambahkan membuat semua merasa geli mendengarnya.

    Sementara itu matahari sudah terlihat merayap naik di hutan itu.

    “Mari kita berangkat”, berkata Mahesa Amping dengan suara lantang.
    Maka berjalanlah rombongan itu keluar dari hutan adat itu menuju Pura Besakih.

    Terlihat rombongan itu seperti semut berjejer menyusuri jalan setapak yang cukup keras sering dilalui orang manakala berjalan menuju Pura Besakih.

    “Pura Besakih sudah terlihat”, berkata salah seorang prajurit yang melihat ujung meru berundak sebelas yang sudah terlihat dari jauh.

    Akhirnya mereka telah sampai di puncak sebuah bukit tempat dimana bangunan pura itu berdiri. Dan rombongan itu terlihat berhenti di muka sebuah tangga yang tinggi menuju pintu gerbang Pura Besakih.

    Dari atas rombongan itu memang sudah terlihat, dua orang petugas pengintai telah melihat mereka.

    “Periksa siapakah mereka yang baru datang itu”, berkata seorang yang terlihat penuh wibawa ketika menerima laporan dari petugas pengintai.

    Maka terlihat seorang penjaga Pura tengah menuruni anak tangga yang tinggi itu tempat satu-satu jalan menuju Pura Besakih.

    “Siapakah pimpinan kalian ?”, bertanya penjaga itu ketika sudah berada di hadapan rombongan Mahesa Amping.

    “Aku Demang Amararatu membawa lima puluh orang Kademangan Rendang untuk berbakti”, berkata Ki Demang kepada penjaga itu.

    “Bakti kalian diterima oleh Penguasa Pura Besakih”, berkata penjaga itu sambil memberi tanda kepada Ki Demang untuk membawa rombongannya naik ke tangga seribu.

    Satu persatu rombongan itu menaiki anak tangga seribu dan akhirnya sampai satu persatu melewati lawang gapura.

    “Tunggulah kalian disini”, berkata penjaga itu meminta rombongan menunggu di Bale Pelataran tamu yang berhadapan dengan sebuah anak tangga batu yang tidak lebih tinggi dari tangga seribu.

    Terlihat semua rombongan duduk bersimpuh penuh hikmat mencontoh sikap Ki Demang.

    • Kamsiaaaaa.

  5. Mahesa Amping memperhatikan beberapa orang memantau keadaah diluar Pura, sementara itu pasukan panah terlihat bersembunyi disepanjang pagar batu dengan busur dan anak panah yang siap sedia.

    “Hujan panah akan melumatkan siapapun yang datang mendekat”,berkata Mahesa Amping dalam hati.

    Akhirnya seorang penjaga datang bersama dengan seorang yang terlihat sepertinya atasannya.

    “Aku Demang Amararatu membawa lima puluh orang Kademangan Rendang untuk berbakti”, berkata Ki Demang sambil menjura penuh hormat sepertinya sudah terbiasa datang ke Pura Besakih.

    “Bakti kalian diterima oleh Penguasa Pura Besakih”, berkata orang yang bersama penjaga itu sambil memberi tanda kepada Ki Demang untuk membawa rombongannya masuk ke lawang Pura lebih dalam lagi.

    Akhirnya rombongan dari Kademangan Rendang itu telah sampai di puncak tanah yang lapang.

    “Aku Jero Mangku Sanga, mulai saat ini akulah pimpinan kalian selama di Pura Besakih ini”, berkata orang itu yang mengaku sebagai Jero Mangku Sanga dengan suara yang keras dan parau.

    Terlihat seorang yang lain datang mendekati Jero Mangku Sanga itu.
    “Aku perlu sepuluh orang petugas untuk membantu di dapur umum”, berkata orang itu.

    “Aku akan memilih diantara mereka”, berkata Jero Mangku Sanga sambil memeriksa satu persatu rombongan dari Kademangan Rendang.

    “Pak tua, sebaiknya kamu keluar dari rombongan ini”, berkata Jero Mangku Sanga kepada Ki Amararaja.

    Maka terlihat Ki Amararaja keluar misahkan diri dari rombongannya.
    “Orang setua kamu pantasnya di dapur umum”, berkata Jero Mangku Sanga kepada Ki Jaran Waha.

    Terlihat Ki Jaran Waha dengan tanpa menyanggah apapun ikut memisahkan diri mendekati Ki Amararaja.

    Selanjutnya Jero mangku Sanga memeriksa satu persatu orang-orang dari Kademangan Rendang yang sebenar adalah para penyusup.

    Akhirnya Jero Mangku Sanga dapat memilih delapan orang lagi yang kesemuanya adalah para pengikut Ki Jaran Waha yang umumnya adalah orang-orang yang berilmu cukup tinggi, pengikut papan lapis atas yang setia yang dari segi usia memang sudah tidak dapat dikatakan sebagai pemuda lagi.

    “bawalah kesepuluh orang ini bersamamu”, berkata Jero mangku Sangan kepada kawannya.

    Maka terlihat kawan Jero Mangku Sanga membawa kesepuluh orang dari rombongan yang akan ditugaskan sebagai pembantu juru masak di dapur umum.

    • kamsiaaaaaaaaaa lagi………..!!!!!!!!

  6. “Menjelang senja kalian berkumpul kembali disini, Raja Adidewalancana berkenan memberikan wejangan”, berkata Jero Mangku Sanga sambil menunjukkan sebuah barak yang kosong untuk mereka beristirahat.

    “Maaf, apakah aku sudah diperbolehkan kembali ke Kademanganku”, bertanya Ki Demang kepada Jero Mangku Sanga.

    “Penguasa Pura Besakih tidak akan melupakan baktimu, silahkan kamu kembali”, berkata Jero Mangku Sanga kepada Ki Demang sambil melangkah meninggalkan mereka.
    Sebelum berangkat Ki Demang menghampiri Mahesa Amping untuk pamit diri.

    “Buatlah hubungan kepetugas sandi di Pasar Kademangan”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang sambil memberikan beberapa tanda rahasia.

    “Dari sini aku akan langsung ke pasar Kademangan”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

    Terlihat Ki Demang melangkahkan kakinya turun menapaki tangga pura Besakih, tidak seorangpun menghiraukan lelaki tua itu keluar dari Pura Besakih.

    Sementara itu waktu sepertinya terus perlahan berputar searah perjalanan matahari yang semakin turun menggelantung di barat cakrawala langit.

    “Berbanjarlah sesuai tempat asal kalian”, berkata Jero Mangku Sanga mengumpulkan pasukannya yang bersal dari beberapa Kademangan yang berada disekitar lereng Gunung Agung.

    Terlihat orang-orang yang berasal dari Kademangan itu berbanjar sesuai tempat asal mereka bergabung dengan sekitar tujuh ratus orang prajurit bayaran yang terlihat dengan bahasa dan pakaian mereka.

    Ternyata Jero Mangku Sanga bukan seorang pemimpin tunggal, bersamanya ada delapan orang yang berpakaian sebagaimana Jero Mangku Sanga kenakan. Terlihat berada di kesatuannya masing-masing.

    Suasana menjadi sunyi dan lengang manakala terlihat sebuah iring-iringan pengawal berjalan bersama seorang yang memakai tahta dikepalanya. Disampingnya berjalan bersama seorang yang berjubah pendeta.

    “Pendeta Guru Dewa Palaguna !!”, berkata Mahesa Amping dalam hati mengenal orang berjubah itu. Diam-diam bersyukur berada dibagian tengah dari rombongannya.

    “Selamat datang para putra Kademangan, para putra lereng Gunung Agung. Bakti kalian telah diterima oleh para dewa yang menjaga kawasan suci ini”, berkata Raja Adidewalancana dengan suara yang tinggi yang menandakan sebuah kekuatan tenaga dalam yang kuat yang dimiliki.

    “Selamat datang juga kepada para lelaki pemberani dari berbagai penjuru nagari”, berkata kembali Raja Adidewalancana yang disambut gemuruh tujuh ratus prajurit bayaran dengan penuh kebanggaan disebut sebagai para lelaki pemberani.

  7. “Hari ini para prajurit Singasari dengan segala keangkuhannya akan merebut kekuasaan pura Besakih milik para dewa. Mereka akan berhadapan dengan para dewa. Keangkuhan mereka akan dihancurkan oleh para dewa”, berkata Raja Adidewalancana dengan suara penuh semangat. “Para dewata telah berdiri dibelakang kita !!”, berkata kembali Raja Adidewalancana yang disambut oleh gemuruh suara semua orang yang mendengarnya.

    Sementara itu di waktu yang sama Ki Demang telah berada di Paras Kademangan yang sudah sepi. Hanya ada beberapa kedai yang masih buka, itupun karena pemiliknya tinggal dan tidur disitu.

    “Aku kawan Rangga Mahesa Amping, apakah kamu yang bernama Sukra ?”, berkata Ki Demang kepada seorang lelaki yang berdiri didepan sebuah kedai dengan tanda-tanda tertentu yang sama sesuai yang ditunjukkan oleh Mahesa Amping kepadanya.

    “Benar, namaku Sukra”, berkata orang itu yang tidak lain adalah petugas sandi.

    Ki Demang langsung menyampaikan berita bahwa Mahesa Amping dan pasukannya telah masuk menyusup ke sarang lawan.

    “Aku sendiri yang mengantar mereka sampai ke Pura Besakih”, berkata Ki Demang meyakinkan.

    “Hari ini pasukan induk telah bergerak kembali mendekati sasaran”, berkata petugas sandi itu menyampaikan berita terakhir.

    “Untuk saat ini hubungan kita terputus, Pura Besakih tidak mudah didekati pada saat seperti ini”, berkata Ki Demang kepada petugas sandi itu.

    “Benar, untuk saat ini hubungan kita terputus”, berkata petugas sandi itu menyayangkan hal terputusnya berita antara kelompok Mahesa Amping dan pasukan induk.

    “Mudah-mudahan besok ada perkembangan baru, aku akan datang lagi menemuimu”, berkata Ki Demang.

    “Aku disini dipasar ini sepanjang hari”, berkata petugas sandi itu.

    “Sebagai apa kamu dikedai ini ?”, berkata Ki Demang kepada petugas sandi itu.

    “Pemilik kedai ini menerima diriku sebagai pembantunya”, berkata Sukra dengan wajah penuh senyum.

    “Baik-baiklah kamu bekerja”, berkata Ki Demang kepada Sukra ketika akan melangkah pergi.

    Sementara itu di Pura Besakih kunjungan Raja Adidewalancana diakhiri dengan upacara restu dewa yang dilakukan oleh Pendeta Guru Dewa Palaguna menyiram air kelapa kesegala penjuru arah.

    Setelah upacara itu berakhir, iring-iringan Raja Adidewalancana berkenan meninggalkan altar kembali ke Pura Dalem Astana.

    Semua pasukan telah diperintahkan kembali ke baraknya masing-masing untuk beristirahat.

    • jempoooolllll, …. hari ini ada kemajuan besar, … ki dalang menceritakan bergantian dua kejadian yang terjadi pada waktu yang bersamaan, … lanjut ki, …. !!!

      • terispirasi ketika Mahesa agni dalam kurungan dua datuk di tengah pulau bersamaan dengan Ken arok membangun bendungan di padang karautan hehehe lumayan……………..

  8. Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Ki Demang, Pura Besakih telah memperketat penjagaannya. Siapapun tidak dapat leluasa bergerak masuk dan keluar Pura Besakih saat itu.

    “Malam ini aku ingin menghirup udara diluar Pura Besakih bersamamu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang mendapat tugas membawa ransum untuk semua pasukan.

    “Aku akan menjemputmu”, berkata Ki jaran Waha penuh kepastian.

    Maka menjelang malam di Pura Besakih, disaat semua orang tertidur nyenyak . Terlihat dua bayangan melesat terbang begitu cepatnya kesebuah tepian jurang. Sebuah tempat yang tidak ada penjagaan sama sekali karena menurut perkiraan tidak ada seorangpun yang akan mengorbankan dirinya terjun kejurang itu.

    Tapi ternyata kedua bayangan itu terlihat telah terjun ke bawah jurang yang terjal itu. Siapapun akan terkesima bahwa kedua bayangan itu tidak langsung terjun meluncur kebawah, tapi terlihat berpijak beberapa kali di beberapa tonjolan batu karang dan akhirnya seperti melayang terbang turun kebawah dengan begitu ringannya.

    Akhirnya kedua bayangan itu sudah tidak terlihat lagi, telah menghilang ditelan kelamnya malam.

    Sementara itu di Kademangan Rendang, Ki Demang malam itu masih juga belum dapat memejamkan matanya. Meski sudah berbaring diperaduan, pikirannya selalu tertuju kepada pasukan Mahesa Amping yang saat itu telah masuk menyusup di Pura Besakih.

    “Apa jadinya pasukan kecil itu seandainya kehadiran mereka tercium oleh pihak lawan”, berkata Ki Demang dalam hati sambil berbaring diperaduannya.

    Namun telinganya yang tajam tiba-tiba saja mendengar suara burung Prenjak berbunyi jelas sekali diluar biliknya.

    “Mahesa Amping ?”, berkata dalam hati Ki Demang ingat akan salah satu isyarat rahasia yang telah disampaikan oleh Mahesa Amping.

    “Aku akan keluar sebentar Nyi”, berkata Ki Demang kepada Nyi Demang yang terbangun melihat Ki Demang turun dari peraduannya.
    Ketika Ki Demang membuka pintu utama, maka dilihatnya sudah ada dua orang duduk di pendapa rumahnya.

    “Ternyata kamu Mahesa Amping”, berkata Ki Demang kepada salah satu dari kedua orang yang ada dipendapa rumahnya yang tidak lain adalah Mahesa Amping bersama Ki Jaran Waha.

    “Aku tidak lama Ki Demang, hanya ingin menyampaikan berita kepada pasukan induk”, berkata Mahesa Amping sambil menyampaikan dengan rinci tentang gerakan mereka besok malam.

    “Tadi sore aku sudah bertemu dengan petugas sandimu, beritanya pasukan induk sudah bergerak mendekati Pura Besakih”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Amping.

    • Matur suwuuuuuuun

      • Matur suwuuuuuuun

  9. Matur suwuuuuuuun
    kamsssiiiiaaaaaaaaaaaa

    • Matur suwuuuuuuun
      kamsssiiiiaaaaaaaaaaaa

  10. $%#&^%$#@? (ngintip)
    bertanya dalam hati: “kok sepi ya, ya sudah pamit lagi”

    • $%#&^%$#@? (mumpung ada kesempatan, ngintip lagi)
      bertanya dalam hati: “lho…., kok masih sepi ya, ya sudah pamit lagi”

      • Hadiiiirrrrr……..

  11. hadiiiiiieeeeeeeee

  12. hup….selamat malam kadank sadaya,

    baru pulang dari waduk cirata, berangkat dadakan dari malem sabtu langsung mancing di balong/keramba
    Oleh-olehnya bawa ikan koi seberat 1 kg enam ekor (hehehe, sang putri enggak cemberut di bawain ikan)

    • asik…..
      loh.., ikan koi-nya hasil mancing?

      • ikan koi nya dari keramba/balong di jaring……hehehe

        • O….., gitu to
          saya kira ikan koi dipanjing, waduh……

  13. “Maaf, kalian belum kusediakan minuman”, berkata Ki Demang ketika Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha mohon pamit diri kembali ke Pura Besakih.

    “Terima kasih Ki Demang, Nyi Demang lama menunggu didalam”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Demang langsung melangkah menuruni anak tangga pendapa.

    Diiringi pandang mata Ki Demang yang dalam malam tersamar masih dapat melihat Mahesa Amping dan Ki jaran Waha tengah berjalan di halaman rumahnya. Tapi keduanya tiba-tiba saja melesat seperti burung camar laut terbang melompati pagar batu halaman rumahnya dan menghilang ditelan kegelapan malam.

    Ki Dalang terlihat menarik nafas dalam mengagumi kedua tamunya yang ternyata memiliki ilmu yang mumpuni, dapat berlari cepat seperti angin dan terbang cepat layaknya burung camar laut menangkap ikan dipermukaan air.

    Ketika masuk ke biliknya, Ki Demang tidak mengatakan apapun kepada Nyi Demang yang ternyata sudah tertidur.

    Sementara itu di Pura Besakih, kembali dua sosok bayangan melesat dari tepian jurang dan berendap dikegelapan malam yang berkabut, akhirnya kedua bayangan itu telah menyusup masuk ke sebuah barak tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali para penghuni barak itu sendiri yang tidak tidur menunggu dan menjaga kedatangan mereka.

    “Pasukan induk sudah bergerak mendekati Pura Besakih, besok malam kita bergerak bersama menguasai Pura Besakih ini”, berkata Mahesa Amping kepada kawan-kawannya.

    “Saatnya kita beristirahat”, berkata Ki Jaran Waha yang terlihat merapatkan kakinya didalam kain sarungnya siap-siap untuk tidur.

    Terlihat dua orang petugas ronda malam melewati barak mereka, maka perlahan mereka merebahkan diri berbaring layaknya orang yang sudah lama tertidur.

    Tapi ketika penjaga itu telah menjauh melewati barak mereka, tidak ada satupun yang bangun. Ternyata udara yang dingin dan berkabut membuat mereka semakin merapatkan kaki dibalik kain sarungnya, dan tertidur melepaskan kepenatan dan kelelahan berharap besok pagi terbangun dengan badan yang kembali segar.

    Pagi itu Mahesa Amping telah terbangun diantara hiruk pikuk beberapa orang yang terlihat berlalu lalang sesuai kepentingannya masing-masing diatas puncak Pura Besakih tempat dimana barak-barak darurat telah didirikan menampung pasukan yang cukup besar sekitar seribu orang.

    “Siapkan semua orangmu, nanti malam kita bergerak”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha dipagi itu yang tengah mengantar ransum untuk semua orang di barak-barak.

    “kami akan melakukannya dengan cara kami”, berkata Ki Jaran Waha dengan sebuah senyumnya.

    • lanjut……
      liburan masih tersisa satu hari, cukup untuk wedar 4 atau limarontal.
      sementara, bagian dua sudah dibundel, tinggal mengisi bagian 3

  14. SFBDBS-09 sudah saya cek
    yang dibundel sama dengan Pak Lik “Kompor” Sandikala kirimkan. SFBDBS-10 belum sempat cek, jadi masih belum tahu rontal mana yang “kesingsal”

    • sepenggal kisah ketika Mahesa Amping dan Engmu Dangka berkunjung ke Kademangan Rendang

      • walah….,
        benar….
        ada beberapa rontal yang belum dipindahkan
        yangs aya cek sebelumnya nskah yang diunggah dalam file doc

        sekarang sudah lengkap

        maafff…………………

  15. matuuuurrr nuuwuuunnn

    • Mengikuti Ki Bancak………
      matur nuwun.

  16. Matur nuwun juga.

  17. Sementara itu di Pura Dalem Astana, Raja Adidewalancana tengah mendapat laporan bahwa pasukan Singasari telah berada di Kademangan Rendang.

    “Mereka tidak akan mampu memasuki Pura Besakih”, berkata Raja Adidewalancana dengan wajah penuh keyakinan kepada pembantu setianya bernama Jero Mangku Sapta

    “Pasukan pemanah telah kami siagakan”, berkata Jero Mangku Sapta menjelaskan beberapa hal yang telah mereka persiapkan.”kami juga telah memenuhi hutan dengan beberapa ranting kering tersembunyi yang siap membakar mereka”, berkata kembali Jero mangku Sapta kepada Raja Adidewalancana.

    “Para Dewa akan memanggang tubuh mereka sampai hangus, itulah hukuman bagi para penyerang Pura Besakih”, berkata Raja Adidewalancana dengan penuh keyakinan bahwa Dewa Perang akan berpihak kepadanya.

    Ternyata keyakinan Raja Adidewalancana cukup beralasan, disamping lokasi Pura Besakih yang mirip dengan sebuah benteng yang kokoh, juga kecerdikan mereka yang telah membuat sebuah jebakan besar, sebuah jebakan yang sangat berbahaya siapapun yang akan menyerang Pura Besakih. Beberapa ranting kering telah mereka tempatkan diberbagai tempat tersembunyi siap menjadikan hutan sekeliling Pura Besakih sebagai lautan api.

    Sementara itu sebagaimana yang telah diketahui bersama oleh pihak dari Pura Besakih, ternyata pasukan induk dari Singasari yang dipimpin oleh seorang Senapati muda Mahesa Bungalan memang telah sampai di Kademangan Rendang. Agar tidak mengganggu dan meresahkan warganya, pasukan induk itu telah membuat barak-barak darurat di luar Padukuhan disebuah tempat yang cukup lapang yang cukup aman.

    “Apakah aku berhadapan dengan Ki Demang Amararatu ?”, berkata Mahesa Bungalan bersama dua orang perwiranya ketika datang ke rumah Ki Demang.

    “Tuan tidak salah menyebutnya, itulah namaku sebenarnya”, berkata Ki Demang yang menemui Mahesa Bungalan di Pendapa rumahnya.

    “Terima kasih atas segala bantuan yang Ki Demang lakukan kepada kami”, berkata Mahesa Bungalan kepada Ki Demang.

    “Semua yang aku lakukan semata-mata untuk kepentingan warga Balidwipa dimasa yang akan datang”, berkata Ki Demang

    “Secara pribadi, aku sangat membenci peperangan dimanapun”, berkata Mahesa Bungalan membuka sebuah awal pembicaraan dengan sebuah nada suara yang halus.

    Diam-diam Ki Demang mulai menyukai orang dihadapannya ini, seorang Senapati yang tidak menonjolkan kekuasaannya sebagaimana yang biasa dilihat dan ditemui dari beberapa pejabat Pura Besakih.

  18. “Tapi kita harus melihat tujuan dari peperangan itu sendiri”, berkata Ki Demang menanggapi pembicaraan Mahesa Bungalan.

    “Selama masih ada jalan selain peperangan, kita harus mengupayakannya”, berkata Mahesa Bungalan kepada Ki Demang.

    “Masih adakah upaya menghindari peperangan ini ?, sementara segelar sepapan pasukan Singasari sudah siap selangkah lagi”, berkata Ki Demang.

    “Masih ada satu kesempatan, meminta Penguasa Pura Besakih menyerahkan diri”, berkata Mahesa Bungalan.

    “Sebuah permintaan yang sangat mahal, aku belum yakin apakah Penguasa Pura Besakih dapat mengabulkannya”, berkata Ki Demang.

    “Tidak ada salahnya berupaya selama masih ada kesempatan”, berkata Mahesa Bungalan dengan suara yang datar penuh ketenangan.

    “Tuan benar, sebuah upaya selama ada kesempatan”, berkata Ki Demang sepertinya ikut menyetujui.

    “hari ini kami sudah mengirim seorang utusan perdamaian itu”, berkata Mahesa Bungalan kepada Ki Demang.

    “Aku berharap utusan itu kembali membawa sebuah kabar baik”, berkata Ki Demang.

    “Kita mempunyai harapan yang sama”, berkata Mahesa Bungalan dengan wajah penuh senyum.

    Diam-diam Ki Demang sangat mengagumi kepribadian Mahesa Bungalan yang sangat penuh ketenangan sepertinya tidak menghadapi sebuah urusan besar.

    “Kita serahkan semua kepada Gusti Yang Maha Kuasa, Gusti Yang Maha Berkehendak. Kemarin, hari ini dan besok adalah urusannya, kita hanyalah sebuah wayang yang ada didalam genggamannya”, berkata Mahesa Bungalan seperti tahu apa yang ada didalam pikiran Ki Demang.

    “Dengan pasrah berserah diri, jiwa dan pikiran kita menjadi jernih”, berkata Ki Demang menambahkan.

    Sementara itu dari dalam Nyi Demang terlihat membawa beberapa makanan dan minuman.

    “Silahkan dinikmati”, berkata Nyi Demang mempersilahkan tamu-tamunya kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya.

    Sambil mencoba menikmati hidangan yang disediakan, perbincanganpun berlanjut dalam berbagai macam perbincangan, mulai dari panen padi sampai dengan perdagangan kuda.

    “Aku sangat menyukai kuda, bahkan pernah ada niat menjadi peternak kuda”, berkata Mahesa Bungalan.

    “Sebuah niat yang baik, jauh dari sebuah peperangan”, berkata Ki Demang menambahkan.

    • Wiew…..
      kamsiaaa…………………!!!

  19. Sementara itu ditempat berbeda, seorang utusan Singasari telah diterima di Pura Dalem Astana.

    “Senapatimu telah mengirim rontal ini hanya untuk menghinaku”, berkata Raja Adidewalancana setelah membaca sebuah rontal yang dibawa oleh utusan itu.

    “Berikan rontal ini kepada Senapatimu, katakan kepadanya bahwa Raja Adidewalancana tidak akan gentar menghadapi siapapun”, berkata Raja Adidewalancana setelah menulis rontal balasan.

    “Hamba akan membawa pesan tuan”, berkata utusan itu sambil pamit diri untuk keluar dari Pura Besakih.

    Terlihat utusan itu telah keluar dari Pura Besakih dengan berkuda langsung menuju Kademangan Rendang.

    Jarak antara Pura Besakih dan Kademangan Rendang hanya sepenginangan, Sementara itu matahari dilangit cakrawala telah semakin merayap naik mendekati puncaknya. Terlihat seorang prajurit berkuda tengah mendekati Kademangan Rendang langsung menuju pasukan induknya.

    ”Senapati Mahesa Bungalan tengah berada di Rumah Ki Demang”, berkata seorang perwira atasan utusan itu memberitahukannya.

    “Aku akan menemuinya langsung”, berkata utusan itu kepada atasannya untuk menemui Senapati Mahesa Bungalan.

    “Aku akan menugaskan seorang prajurit untuk menemanimu”, berkata perwira atasannya itu sambil memanggil seorang prajurit untuk menemani utusan itu kerumah Ki Demang.

    Sementara itu dirumah Ki Demang terlihat Mahesa Bungalan dan dua orang perwiranya masih berada bersama Ki Demang diatas pendapa tengah berbincang berbagai hal. Ternyata Ki Demang adalah seorang yang pandai mengisi cerita dalam setiap perbincangan, terlihat kadang mereka tertawa bersama mendengar cerita dan tanggapan Ki Demang yang menggelikan.

    “Akhirnya prajurit yang kita nantikan telah sampai”, berkata Mahesa Bungalan ketika melihat dua orang prajurit masuk dan melangkah di halaman Ki Demang.

    “Aku membawa rontal Raja Adidewalancana untuk tuan”, berkata salah seorang prajurit itu setelah naik kependapa menemui Mahesa Bungalan.

    “Terima kasih, kembalilah kalian ke pasukan induk”, berkata Mahesa Bungalan ketika telah menerima rontal yang diberikan oleh utusan itu.

    =PURA BESAKIH MILIK PARA DEWA, SIAPAPUN YANG DATANG MENDEKAT SEBAGAI MUSUH AKAN TERBAKAR =

    “Raja Adidewalancana bukan hanya yakin atas keberadaan Pura Besakih yang berujud sebagai benteng yang kuat, disekitar hutannya juga telah menyiapkan berbagai jebakan”, berkata Mahesa Amping setelah membaca langsung rontal yang ditulis oleh Raja Adidewalancana.

    • KAMSIaaa……!!!

      50% mewakili diri sendiri 50% lagi mewakili Mas Risang
      yang lagi kenCANan ning SOLO.

      • sugeng…dalu pak DALANG MAHESA KOMPOR,

  20. Mahesa Bungalan memberi kesempatan dua orang perwiranya dan Ki Demang untuk membaca rontal yang dikirim oleh Raja Adidewalancana.

    “Tugaskan lima orang prajurit yang ahli dalam membaca jejak bersamamu untuk memeriksa keadaan sekitar hutan di Pura Besakih”, berkata Mahesa Bungalan kepada salah seorang perwiranya.

    ”Segera kami akan memeriksanya”, berkata salah seorang perwira yang ditugaskan untuk memeriksa keadaan hutan disekitar hutan Pura Besakih sambil pamit diri langsung ke pasukan induknya untuk membawa lima orang prajurit yang ahli didalam membaca berbagai jejak.

    Sementara itu diam-diam Ki Demang mengagumi kecerdikan Senapati muda dihadapannya itu setelah membaca rontal dari Raja Adidewalancana.

    “Ternyata Senapati muda ini telah memasang dua kail bercabang bersama utusan perdamaiannya itu”, berkata Ki Demang dalam hati mengagumi kecerdikan Senapati muda dihadapannya itu.

    “Mungkin kami terlalu lama mengganggu ketenangan Ki Demang”, berkata Mahesa Bungalan yang bermaksud untuk keluar dari rumah Ki Demang.

    “Aku tidak merasa terganggu, bahkan kehadiran tuan Senapati telah banyak memberikan ketenangan di rumah ini”, berkata Ki Demang kepada Mahesa Bungalan.

    “Terima kasih untuk hidangannya”, berkata Mahesa Bungalan bersama seorang perwiranya ketika telah turun dari pendapa rumah Ki Demang.

    Sementara itu diwaktu yang sama, Mahesa Amping dan pasukan kecilnya yang telah berada menyusup di Pura Besakih terlihat masih dibaraknya.

    “Ransum siang telah siap”, berkata Ki Jaran Waha yang datang ke barak Mahesa Amping.

    “Dalam kehidupan selanjutnya, mungki Ki jaran Waha akan menjelma sebagai seorang juru masak”, berkata Mahesa Amping sambil menerima ransum besar dari Ki jaran Waha.

    “Menurutku justru dalam kehidupanku sebelumnya, aku pernah menjadi seorang juru masak”, berkata Ki Jaran Waha sambil tersenyum sepertinya menikmati tugas yang diberikan atas dirinya sebagai juru masak di Pura Besakih.

    “Kulihat kesiagaan di Pura Besakih sudah semakin ketat”, berkata Mahesa Amping yang diam-diam memantau keberadaan para prajurit disetiap tempat dalam setiap kesempatan.

    “Tanganku menjadi tidak sabaran menanti saat malam”, berkata Ki Jaran Waha.

    “Atau Ki Jaran Waha sudah bosan menjadi juru masak ?”, bertanya Mahesa Amping menggoda.

    Ki Jaran tidak langsung menjawab hanya melemparkan senyumnya dan langsung melangkah ke barak lain sambil membawa ransum untuk dibagikan.

    • kamsiaaa……………

      • Kamsia juga…….
        ternyata pak Dhalang langsung BANGKIT,
        mendengar request mas Risang.

        • request?
          kaya lagu aja, he he he….

          • eh… kliru baju

  21. Sementara itu diwaktu yang tidak begitu berbeda di Kademangan Rendang terlihat Mahesa Bungalan tengah menunggu laporan dari perwiranya yang saat itu telah ditugaskan memeriksa keadaan sekitar hutan Pura Besakih.

    Akhirnya menjelang saat matahari mulai turun ke barat memancarkan cahayanya yang menjadi semakin redup, perwira itu bersama kelima orang prajuritnya telah kembali ke Kademangan Rendang langsung menghadap Mahesa Bungalan.

    “Yang tuan Senapati khawatirkan ternyata terbukti”, berkata perwira itu yang sudah datang menemui Mahesa Bungalan di barak khususnya.

    “Apa yang kalian temui di hutan sekitar Pura Besakih itu ?”, bertanya Mahesa Bungalan kepada perwiranya.

    “Mereka telah memasang ranjau api diberbagai tempat disekitar hutan itu”, berkata perwira itu.”Kami telah memunahkannya, semoga tidak ada lagi yang tersisa”, berkata kembali perwira itu.

    “Bagus, persiapkan dirimu dan pasukannmu, nanti malam kita bergerak melakukan penyerangan”, berkata Mahesa Bungalan kepada perwiranya itu.

    Sementara itu waktupun terus bergeser, matahari senja sudah terlihat dicakrawala langit belahan barat menyinari bumi dengan cahanya yang semakin redup. Kabut perlahan telah mulai turun menyelimuti puncak Pura Besakih yang berada ditanah tinggi lereng Gunung Agung yang menjulang bagai raksasa hitam menyanggah langit berdiri diatas bumi.

    Langit senjapun akhirnya perlahan menghilang berganti kekelaman dan kegelapan malam. Udara malam yang dingin di puncak Pura Besakih terlihat menjadi begitu hening, beberapa orang terlihat sudah berada di baraknya masing-masing. Sementara itu jarak pandang sudah mulai terbatas, kabut begitu pekat menggulung puncak Pura Besakih.

    Disaat seperti itulah terlihat Ki Jaran Waha telah mempersiapkan dirinya duduk bersila sempurna memejamkan matanya. Sementara semua pengikutnya terlihat telah melakukan hal yang sama.

    “Lindungilah mereka”, berkata Mahesa Amping kepada pasukannya yang tahu apa yang akan dilakukan Ki jaran Waha bersama semua pengikutnya.

    “Aku mengajak Paman Sembaga melihat-lihat keadaan”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga.

    Maka dibawah kabut yang pekat, terlihat Mahesa Amping dan Sembaga telah menyusup berendap diberbagai tempat mengamati persiapan lawan. Ternyata tidak satupun tempat yang tidak dijaga oleh para pemantau. Bersama mereka terlihat pasukan pemanah yang telah siap dengan busur dan anak panahnya.

    “Apakah Paman Sembaga merasakan semangat diri mulai surut dan rasa kantuk yang berat ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Sembaga disebuah tempat yang terlindung oleh kegelapan malam.

    • Matur suwuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun

  22. “Apa yang kamu katakan sudah mulai menjangkiti diriku”, berkata Sembaga yang merasakan semangatnya seakan surut bersama rasa kantuk yang sangat berat.

    “Ki Jaran Waha telah menyebarkan gendam keseluruh penghuni Pura Besakih”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga yang langsung menguatkan dirinya dengan memusatkan semua panca indera dan pikirannya kedalam pencitraan hati yang suci, mengheningkan rasa dan segala cipta.

    “Ajian peluluh sukma”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga sambil tersenyum.

    “Ajian peluluh sukma !!”, berkata Dewa Palaguna dalam hati yang langsung melesat terbang memeriksa keadaan diluar.

    Bukan main terkejutnya Dewa Palaguna menyaksikan hampir semua orang yang ditugaskan memantau keadaan telah tertidur, juga para pasukan pemanahnya.

    “Aku harus memusnahkan sumbernya”, berkata Dewa Palaguna dalam hati mencoba mencari sumber kekuatan gendam yang kuat itu.

    Belum sempat melangkah, Dewa Palaguna terperanjat melihat sebuah panah sanderan melesat kelangit malam seperti api terbang memecah kegelapan malam.

    “Semoga pasukan induk melihatnya”, berkata Mahesa Amping kepada Sembaga setelah melepas panah sanderan dari busurnya.

    “Serang !!!!!”

    Terdengar suara yang mengguntur dari kegelapan malam bersama dengan derap langkah kaki yang terlihat muncul berlari menuju kearah tangga seribu yang terbentang tinggi.

    “Kubunuh kalian semua !!!”, berkata Dewa Palaguna ketika sampai di puncak Pura Besakih bermaksud menemuai sumber ajian peluluh sukma itu berasal. Namun yang dihadapinya adalah sekumpulan pasukan kecil yang siap melindungi Ki Jaran Waha dan pengikutnya.

    “Mereka bukan tandingan tuan pendeta”, Tiba-tiba saja Dewa Palaguna mendengar suara dari arah belakangnya.

    Bukan main terkejutnya Dewa Palaguna ketika melihat sesosok tubuh yang pernah dikenalnya yang tidak lain adalah Mahesa Amping yang tengah berdiri tersenyum memandangnya.

    “Kita berjumpa kembali tuan pendeta”, berkata Mahesa Amping penuh percaya diri.

    “Jangan terlalu percaya diri”, berkata Dewa Palaguna yang langsung menerjang ke arah Mahesa Amping dengan tongkatnya.

    Mahesa Amping tidak membiarkan tongkat itu menyentuh tubuhnya, terlihat Mahesa Amping melenting kesamping dan balas menyerang Dewa Bakula dengan tendangan yang meluncur tajam.

  23. Jangan terlalu percaya diri ….

    betul….. betul…..betul….

    merasa sudah hafal jalan, dalam perjalanan pulang dari Tuban ke Malang rencana mau lewat Jombang. Karena terlalu percaya diri, mungkin juga karena keenakan mengikuti kendaraan di depan yang berderetan, akibatnya salah jalan di Babad. Baru tersadar setelah masuk Lamongan.
    Halah…….., jadi lewat Surabaya, he he he ….

    • Jangan terlalu percaya diri ….nanti bisa keliru yang bertempur pendeta Dewa Bakula atau Dewa Palaguna ?
      Matur suwun Bonusnya Ki.

      • Tentu Dewa Palaguna
        Dewa Bakula sudah baik kok, yang tidak bisa mengakui kekalahannya kan Dewa Palaguna, he he he ….

        • semua sudah baik
          matur nuwuuun

  24. Ternyata Dewa Palaguna terlalu picik, mengetahui bahwa dirinya tidak akan mampu menandingi pemuda dihadapannya itu yang diketahui mempunyai ilmu yang sangat mumpuni yang telah mengalahkan gurunya. Maka Dewa Palaguna bukan sekedar menghindar, tapi melenting jauh masuk mendekati Ki Jaran Waha yang tengah melepaskan ajian ilmunya.

    Bukan main terkejutnya Mahesa Amping melihat Dewa Palaguna yang mencoba mendekati Ki Jaran Waha. Seorang prajurit yang menghadangnya langsung terjengkang tidak mampu menghentikannya.

    Terlihat tangan Dewa Bakula hanya tinggal beberapa jengkal lagi dari batok kepala Ki jaran Waha yang telah buta tuli tidak melihat dan mendengar apapun karena masih melepaskan ajian peluluh sukma bersama para pengikutnya.

    Semua mata para pasukan yang ditugaskan melindungi Ki Jaran Waha dan pengikutnya itu seperti putus asa, tidak cukup bagi mereka melangkah menghentikan tangan Dewa Palaguna yang nyaris menghantam batok kepala Ki Jaran Waha.

    Kebo Arema, Ki Amararaja, Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga juga tidak dapat berbuat apa-apa untuk menahan tangan licik Dewa Palaguna.

    Jalan satu-satunya adalah terbang dan melesat seperti kilat. Tapi siapa yang punya sayap??

    Namun belum lagi tangan Dewa Palaguna nyaris menghancurkan batok kepala Ki Jaran Waha, terdengar suara keras keluar dari mulut Dewa Palaguna menahan rasa sakit yang sangat.

    Achhh !!!!

    Terlihat tangan Dewa Palaguna tertahan dan tercium aroma sengit daging terbakar.

    Ternyata Mahesa Amping telah melepaskan ilmu andalannya lewat sorot matanya telah menyambar tangan Dewa Palaguna. Seketika tangan itu terbakar terkena seleret cahaya yang terpancar dari sorot mata Mahesa Amping.

    Ternyata suara desah menahan rasa sakit yang sangat itu telah membangunkan Ki Jaran Waha. Bukan main terkejutnya Ki Jaran Waha melihat Dewa Palaguna dengan tangan tertahan kearah kepalanya. Maka dengan diluar sadarnya sebagai seorang yang sudah berilmu tinggi tiba-tiba saja tangannya bergerak kearah tepat didada Dewa Palaguna.

    Bukk !!!!

    Terdengan suara dada yang terhantam tangan yang dilambari kekuatan tenaga dalam yang sangat kuat dari dalam diri Ki jaran Waha yang terlepas begitu saja berawal dari keterkejutan yang sangat.

    Pukulan itu memang sangat mematikan, terlihat tubuh Dewa Palaguna limbung terjengkan menimpa seorang pengikut Ki jaran Waha yang terdekat.

    Bersama dengan sadarnya Ki Jaran Waha, ajian peluluh sukmanya telah ikut kais.

    • Alhamdulillah ada rontal untuk berbuka. Matur suwuuuuuuuuuun.

      • selamat berbuka Ki BP

      • Dewa Bakula – Dewa Palaguna

        he he he …., rupanya tangan yang mengetik tidak mau mengikuti perintah otak, maksud hati mau mengetik Dewa Palaguna, yang terketik Dewa Bakula.

        apapun, kamsiiaaa……………………….

        eh.., masih ada lanjutannya apa tidak ya?

        • sudah ada beberapa rontal siap di sajikan….hehehe

          • mana…mana…
            apa belum matang ya..
            he he he ….

  25. Sementara itu setengah pasukan pimpinan Mahesa Bungalan telah meresap masuk ke Pura Besakih, bukan main terkejutnya pasukan pemanah yang baru terbangun dari tidurnya melihat pasukan lawan tengah mendekatinya.

    “Lepaskan panah api”, berkata seorang pasukan pemanah yang ditugaskan untuk membakar hutan disekitar Pura Besakih.
    Maka terlihatlah puluhan panah berapi melintas diudara langit malam yang gelap dan masuk kedalam hutan.

    “Gila !!!, panah api kita tidak membakar apapun dihutan sana”, berkata seorang pemanah api yang melihat hutan didepannya tidak juga terbakar.

    Ternyata mereka tidak tahu bahwa segala ranting-ranting kering yang mereka pasang sebagai bahan pencetus api kebakaran hutan itu telah dipunahkan oleh pasukan Singasari. Akibatnya tidak satupun panah api yang dapat membakar hutan.

    Sementara itu para pasukan pemanah yang tengah terkejut dan baru tersadar dari tidurnya tidak ingin menjadi makanan pedang dari sejumlah prajurit Singasari yang semakin mendekat. Terlihat beberapa orang pasukan pemanah itu telah melepaskan anak panahnya kearah pasukan Singasari. Ada beberapa anak panah yang tepat menembus tubuh lawan, tapi pasukan lawan yang datang seperti ombak itu terus maju menerjang, maka tanpa ampun lagi pasukan pemanah itu termakan tebasan pedang yang tajam berkilau. Darah terlihat memuncrat dari beberapa tubuh yang terkena kibasan pedang. Darah terlihat memercik menodai dinding-dinding batu Pura Besakih. Dan darah terlihat sudah mengalir merambas tanah dan batu lantai di Pura Besakih.

    Sementara itu dipuncak pura besakih, telah terjadi pertempuran yang kurang seimbang antara pasukan Pura Besakih yang baru tersadar dari rasa kantuknya dengan pasukan kecil Mahesa Amping yang telah menghadang mereka turun menjaga pintu tangga seribu yang tengah dimasuki para pasukan Singasari.

    Terlihat pasukan kecil Mahesa Amping dengan gagah berani menyumbat pintu pergola menuju arah bawah. Ternyata tidak mudah menembus pasukan kecil Mahesa Amping yang telah membentuk lingkaran gelar perang Cakra Buyha, maka siapapun yang datang mendekat akan hancur binasa.

    Kekuatan pasukan kecil Mahesa Amping sempat memang membuat keputus asaan beberapa orang kepercayaan yang setia kepada Raja Adidewalancana. Akhirnya mereka memerintahkan sebagian pasukannya melewati dinding pagar batu.

    Terlihat beberapa orang sudah berhasil melompati dinding batu, tapi pasukan Singasari hampir dapat dipastikan telah seluruhnya merembes masuk siap menghadapi lawan yang akan datang mendekat. Bahkan sebagian pasukan telah mencapai puncak Pura Besakih datang membantu pasukan kecil Mahesa Amping yang tetap bertahan menutup jalan keluar.

  26. “Pantas ane sering kesimpatan waktu makan dan minum, ternyata name ane masing sering disebut-sebut”, berkata Dewa Bakula yang tengah menyantap roti cane bersama sang guru di kampung halamannya ditanah hindu.

    “Jangan salahin orang, ente aje yang makan enggak pake nafas”, berkata sang guru yang menggerutu melihat roti cane yang amblas habis kosong diatas piring.

  27. sugeng dalu
    matur nuwun

    • Nunut Ki Bancak……..
      Kamsiiaaaaa……..banyak2………..

  28. Maka terlihatlah sebuah pertempuran diberbagai tempat, mayat sudah mulai terlihat bergelimpangan diberbagai tempat dari kedua belah pihak, dan darahpun terlihat mengalir membasahi lantai Pura Besakih itu.

    “Buka gelar barisan kalian, biarkan pasukan induk memasuki medan perang”, berkata Mahesa Amping kepada pasukannya ketika melihat pasukan induk sudah mulai merembes masuk.

    Maka terjadilah pertempuran brubuh diatas puncak Pura Besakih antara pasukan Singasari yang sudah mulai datang bergelombang memasuki puncak pura Besakih dengan orang-orang yang sebagian besar adalah para prajurit bayaran.

    Ternyata tidak mudah menghadapi pasukan Singasari yang kuat.
    Satu persatu pasukan lawan mulai berguguran, pasukan singasari ternyata begitu tangguh. Dimana sebagian prajuritnya adalah orang-orang yang sudah memiliki pengalaman bertempur yang matang. Meski mereka bertempur menghadapi perang brubuh, kedisiplinan mereka masih tetap dipertahankan, mereka masih tetap dalam kelompoknya untuk saling membantu.

    Pasukan Pura Besakih sudah semakin cepat menyusut manakala terlihat dua buah cambuk menyapu siapapun yang datang mendekat.

    Gelegar !!!!

    Terdengar suara cambuk yang dihentakkan keudara menimbulkan suara seperti guntur dilangit malam menyiutkan dan menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Ternyata suara cambuk itu berasal dari seorang lelaki yang sudah cukup berumur yang tidak lain adalah Kebo Arema. Tidak ada sutupun gerakannya yang luput dari sasaran. Ujung-ujung cambuknya telah menjatuhkan beberapa lawan yang datang mendekat.

    Gelegar !!!!

    Terdengar lagi suara yang sama yang ternyata berasal dari seorang pemuda yang tidak lain adalah Mahesa Amping. Suara gelegar kedua ini semakin terasa meruntuhkan semangat pihak lawan. Meski hanya melepaskan sepersepuluh kekuatannya, cambuk ditangan Mahesa Amping telah berhasil menyapu puluhan tubuh lawan yang langsung terjengkang tidak mampu berdiri lagi merasakan tulang tubuh seperti remuk patah.

    Disisi yang lain, Ki Jaran Waha bersama pengikut lapisan utamanya telah membuat jerih pihak lawan. Mereka seperti barisan obor ditengah kumpulan semut-semut hitam. Pihak lawan seperti tergilas pasukan yang kokoh terus bergerak.

    “Beruntunglah bahwa kami tidak meracuni makananmu”, berkata Ki Jaran Waha ketika menempeleng seorang yang berwajah bringas yang sangat sombong sering membuat ulah ketika dirinya mengantarkan ransum ke baraknya.

  29. Maka pada tahun 1284 Masehi dikirimlah sejumlah pasukan dibawah pimpinan : ·

    1.Ki Kebo Bungalan

    2.Ki Kebo Anabrang

    3.Ki Patih Nengah

    4.Jaran Waha

    5.Ki Arya Sidi

    6.Ki Amarajaya

    Ekspedisi Raja Kerta Negara tersebut mendarat di pantai timur Buleleng, tepatnya di Desa Kubutambahan. Sehingga, ada Pura Pule Kerta Negara di tempat tersebut. Untuk menaklukkan Pulau Bali. Di Bali pasukan tersebut berhasil mengalahkan Raja Bali yang bergelar Paduka Batara Parameswara Seri Hyangning Hyang Adidewa Lancana dan dibawa ke Kerajaan Singhasari sebagai tawanan perang.

    (hehehe…beda-beda dikit dari catatan sejarahnya, enggak ape-ape khan ???)

    • Namanya juga cerita. Bahkan sejarahpun sering kali tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, kecuali cerita yang ada pada Al Qur’an, pasti benarnya dan ada ibroh di dalamnya. Dan yang tidak lupa……..Matur Suwuuuun Ki Dalang.

      • asyyiiiikkkkk
        kamsssiiiaaa

  30. selamat sore kadank sadaya,
    Nunggu kabar dari Pak Satpam, apakah sudah cukup mengisi bagian ke tiga ????

    • he he he ……,

      masih kurang banyak Pak Lik, masih kurang 12 halaman (Georgia 11 kertas A5), kira-kira 9 rontal lagi lah….

      tetapi, kalau mau ditamatkan malam ini asik juga lho…
      he ..he ….he……….he ………………..he ………… (semakin jauh dan semakin tidak terdengar)

      • ha ha ha ……,

        masih kurang banyak Pak Dalang, masih kurang 12 halaman (Chelsea 4 Bayern Munchen 3), kira-kira tahun depan lagi lah
        bisa tanding lagi-kah,

        tetapi, kalau mau diskenariokan mulai malam ini asik juga lho,
        ha ..ha ….ha……….ha ………ha …………(semakin jauh dan semakin tidak terdengar)

  31. @ Ki Sandikala
    @ Ki Budi Prasodjo
    @ Sanak Kadang Padepokan Pelangisingosari

    Wilujeng wengi

    Cerita Ki Sandikala, di luar tokoh unhistorynya, enggak ade nyang beda ame catetan sejarahnye.

    Pada pupuh XLII : 1 Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyebutkan pengiriman tentara Singasari atas perintah Kertanagara untuk menaklukkan Bali. Ekspedisi kedua ini berhasil dan raja Bali ditahan sebagai tawanan perang.

    ring anggawiyatarkka saka sira motusan kana ri bali curnnitan
    ndatandwa kawenang ratunya kahanang teka marek i narendra sakrama.

    [Tahun Çaka anggawiyatarkka (1206Ç) mengirim utusan menghancurkan Bali,
    Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.]

    Dalam kropak Jagad Bali disebutkan pendaratan pasukan Singasari terjadi pada tahun 1206 Çaka / 1284 Masehi di Pantai Timur Buleleng. Tepatnya di desa Kubutambahan,

    Ini ditandai dengan didirikan pura bernama Purâ Pule Kŗtanagara, dan satu pura lagi, yaitu Pura Kebo Edan.

    Dinamai “kebo edan” karena diambil dari dua arca kerbau yang terdapat di sebelah kanan-kiri Arca Bhairawa yang berfungsi sebagai penjaga arca tersebut.

    Arca ini melukiskan ajaran Bhairawa Bima Sakti, yakni pertemuan antara ajaran Bhairawa dan ajaran Siwa. Bhairawa Siva, Bhairawa yang tergolong aliran Tantrayana Prawrtti, karena cenderung mengikuti indria dalam usaha mencapai kebebasan atau kepuasan duniawi tanpa pengakuan indria, suatu keyakinan yang dianut oleh Sri Baginda Prabu Kertanegara, sehingga ajaran ini tersebar sampai ke Bali.

    Salah satu petikan Undang-undang Negara Kerajaan Singasari yang juga diberlakukan di Bali hingga Malayu yakni Manawa Dharmasastra, bahwa sdeorang pemimpin haruslah hidup prihatin dalam arti mengekang hawa nafsu duniawinya, semata-mata demi kesejahteraan rakyatnya.

    Berikut pertikannya:

    indriyanam jaye yogam
    samatistheddivanisam.
    jitendriyo hi saknoti.
    vagesthapayitumprajah

    (Manawa Dharmasastra, VII.44).

    [Siang dan malam seorang pemimpin atau penguasa harus terus berusaha mengendalikan indrianya dengan sekuat tenaga. Kalau pemimpin berhasil menundukkan nafsu indrianya sendiri maka pemimpin itu akan dapat menjadikan rakyatnya taat pada kepemimpinannya.]

    Setiap orang hendaknya mengamalkan ajaran agamanya ke dalam dirinya sendiri dan untuk bekal mengabdi pada sesama. Yang tertinggi ajaran dalam agama itu untuk dijadikan pegangan berbakti kepada Yang Maha Agung. Apalagi bagi seorang yang berkedudukan sebagai penguasa atau pemimpin. Sebelum bertugas mengendalikan pemerintahannya seorang penguasa harus berusaha siang malam mengendalikan indrianya agar patuh pada arahan pikiran dan kesadaran budinya. Suatu ajaran yang patut menjadi pegangan hidup setiap pemimpin.

    Sanak Kadang

    Dalam pada itu, sejarah tidak mungkin tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, tetapi yang seringkali terjadi adalah para “penulis sejarah” justru membelokkan fakta sejarah yang nyata-nyata terjadi dengan cerita lain yang sengaja dibuat untuk tujuan-tujuan tertentu, yang boleh jadi si penulis sejarah atau kelompoknya dapat memperoleh keuntungan-keuntungan.

    Simak saja peristiwa ketika George Washington dan pasukannya menyeberangi Delaware dari Pennsylvania ke New Jersey untuk memount serangan mendadak terhadap pasukan Hessian di Battle of Trenton pada 26 Desember 1776.

    Dalam persitiwa itu Amerika menewaskan 22 Hessians, 98 terluka dan ditangkap hampir 900. Sementara pasukan Washington hanya kehilangan tiga laki-laki..

    Disebutkan dalam sejarah USA dan juga telah dibuatkan lukisan “Penyeberangan Sungai Delaware”, bahwa Washington telah menggunakan bendera The Stars and Stripes, padahal bendera dengan format bintang dan garis-garis itu tidak diadopsi hingga tahun 1777. Jelasnya, Bendera The Stars and Stripes belum ada pada waktu peristiwa penyeberangan Sungai Delaware (tanggal 25 Desember 1776) tersebut.

    Digambarkan pula bahwa penyeberangan dilakukan di siang hari dengan cuaca yang cerah dan terang, dengan ditampilkan pantai New Jersey yang nampak jelas dari kejauhan, namun fakta sebenarnya, penyeberangan itu berlangsung di malam Natal, dibawah hujan yang dingin membeku, disertai hujan es dan salju.

    Alih-alih sebuah perahu dayung, Washington dan pasukannya malah naik ‘gethek’ besar yang cukup stabil untuk membawa meriam, ditambah kuda untuk menarik pasukan dan perbekalan lainnya.

    Demikian Ki, mudah-mudahan bermanfaat, dan rena ing penggalih.

    Nuwun

    Punakawan.

    • Matur suwun Ki, pencerahan yang mencerahkan. Maksud saya dengan kata”sejarah” adalah yang kita baca dari buku sejarah yang sangat tergantung sengan sudut pandang dan kepentingan penulis.

  32. wah…. Pak Dhalangnya ketiduran rupanya

    selamat pagi sanak kadang pelangisingosari

    ups….!, bersamaan, adzan subuh sudah mengalun

  33. sugeng siang
    sedoyo kemawon

  34. “Barisan juru masak ini ternyata adalah orang-orang yang berilmu tinggi”, berkata seorang lagi dalam hati dengan perasaan jerih menghindari berhadapan langsung dengan Ki Jaran Waha dan pengikutnya.

    Tapi beberapa orang tidak lagi dapat kesempatan menghindar, langsung terkibas terjengkang tersapu bersih oleh Ki Jaran dan pengikutnya yang bertempur dengan trenggas tanpa pilih tebu. Semua diterjang runtuh.

    Ternyata semua tidak luput dari pengamatan Mahesa Bungalan yang dengan seksama mengapati semua medan pertempuran.

    “Tekan lawan agar menyerah”, berkata Mahesa Bungalan kepada seorang perwira penghubung.

    Maka perwira penghubung itu secara berantai telah menyampaikannya kesemua pasukan agar melakukan penekanan agar pihak lawan menyerah tanpa menambah korban.

    “Senapati kita adalah seorang yang penuh kasih”, berkata seorang prajurit yang telah mendengar perintah untuk tidak banyak menambah korban.

    “Menyerahlah”, berkata seorang pajurit Singasari ketika bertiga mereka mengepung seorang musuh yang sudah terluka.

    “Aku menyerah”, berkata orang yang sudah terluka itu seperti mendapat sambungan nyawanya yang hampir terlepas.
    Maka terlihat orang itu tanpa perlawanan menerima dirinya diikat sebagai tawanan perang.

    Sementara itu disisi yang lain, seorang lelaki tertawa mendengar tawaran sepuluh orang prajurit yang tengah mengepungnya untuk menyerahkan diri.

    “Kalianlah yang seharusnya menyerah”, berkata lelaki itu sambil tertawa.

    Ternyata lelaki itu bukan sedang membual, ucapannya itu langsung dibuktikan. Kesepuluh prajurit itu terjungkal dan terlempar kocar-kacir keberbagai tempat terkena pukulan dan tendangannya. Satu orang prajurit terlihat mengejang karena terkena sabetan keris lelaki itu yang nampaknya mengandung racun yang sangat keras.

    “Siapa lagi yang ingin merasai kerisku?”, berkata lelaki itu sambil mengacungkan kerisnya tinggi-tinggi.

    Beberapa prajurit yang melihat kawannya mati kejang terkena goresan keris itu menjadi berdebar dan jerih.

    “Keris jigja lekuk sembilan itu sangat indah, sayang telah di waluri racun yang kuat”, berkata seseorang yang muncul datang mendekat yang tidak lain adalah Mahesa Bungalan.

    “Aku juga menyayangkan bila keris pusakaku ini hanya melukai seorang prajurit rendahan”, berkata lelaki itu menatap tajam Mahesa Bungalan.

    • satu dari sembilan !!!!!

  35. Terkejut lelaki itu ketika tatapan matanya beradu mata Mahesa Bungalan. Mata lelaki itu seperti tertarik kesebuah sumber mata air yang dalam tak terbatas.

    “Aku Senapati Singasari, mudah-mudahan diriku ini layak menjadi lawanmu”, berkata Mahesa Bungalan dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi.

    “Hanya Raja Singasari yang patut menjadi lawanku”, berkata lelaki itu penuh jumawa.

    “Sri Baginda Maharaja Singasari telah berkenan memberikan tanda kebesarannya kepadaku, mewakili dirinya dan atas namanya aku datang di Balidwipa ini”, berkata Mahesa Bungalan yang mulai tidak menyukai kesombongan lelaki itu.

    “Itu artinya bahwa rajamu sangat takut berhadapan langsung denganku”, berkata lelaki itu masih dengan sikap yang sangat jumawa.

    “Kalau boleh tahu, siapa gerangan dihadapanku ini yang menyetarakan dirinya dengan tuanku Sri baginda Maharaja Singasari ?”, berkata Mahesa Bungalan dengan suara bergetar menahan diri atas kesombongan lelaki dihadapannya itu.

    “Pasang telingamu tajam-tajam, kamu berhadapan dengan Penguasa Pura Besakih”, berkata lelaki itu yang ternyata adalah Raja Adidewalancana yang berharap Mahesa Bungalan terkejut mendengar siapa dirinya.

    Tapi Mahesa Bungalan seperti tidak merasa terkejut, sedari awal sudah menduga bahwa lelaki dihadapannya ini sudah terbiasa dikelilingi oleh banyak orang yang memujanya.

    “Ternyata hamba berhadapan dengan tuan Raja Adidewalancana”, berkata Mahesa Bungalan layaknya seorang hamba kepada rajanya.

    “Kukira kamu akan langsung lari mendengar namaku”, berkata Raja Adidewalancana kepada Mahesa Bungalan.

    “Hamba seperti mendapat sebuah kehormatan berhadapan langsung dengan tuanku”, berkata Mahesa Bungalan masih dengan sikap hormat.

    “Bersiaplah mati terhormat merasai keris pusaka ini”, berkata Raja Adidewalancana sambil mengayunkan kerisnya dengan cepat mengarah keleher Mahesa Bungalan.

    Mahesa Bungalan merasakan pamor keris itu lewat anginnya yang lewat sangat dekat dari kepalanya ketika bergeser sedikit menghindari sambaran ayunan keris Raja Adidewalancana yang keras dan cepat.

    Melihat Mahesa Bungalan dapat menghindar begitu mudahnya pada serangan pertamanya, secepat kilat Raja Adidewalancana menyusul dengan serangan kedua yang nyaris lebih keras dan lebih cepat dari sebelumnya.

    Kembali Mahesa Bungalan dapat menghindar, namun kali ini langsung balas menyerang Raja Adidewalancana dengan sebuah sabetan pedang mengarah pada dua kaki Raja Adidewalancana.

    • dua dari sembilan !!!! (he-he -he tertawa bergema semakin kecil……terus menghilang)

  36. Terkejut Raja Adidewalancana mendapatkan serangan balik yang tidak kalah cepatnya dari serangannya. Terlihat Raja Adidewalancana melompat sambil menjulurkan kerisnya menusuk cepat kearah dada Mahesa bungalan yang terbuka. Kembali Mahesa Bungalan dengan cepat mengelak keluar dari serangan Raja Adidewalancana sambil balas menyerang menghindari serangan beruntun yang berakibat membahayakan diri sendiri.

    Demikianlah serang dan balas menyerang antara Mahesa Bungalan dan Raja Adidewalancana berlangsung dengan cepat. Semakin lama menjadi semakin kuat dan cepat karena keduanya setahap demi setahap terus meningkatkan tataran ilmunya masing-masing.

    “Senapati muda ini ternyata sangat alot”, berkata Raja Adidewalancana dalam hati merasa penasaran bahwa Mahesa Bungalan masih dapat mengimbangi serangannya.

    Sementara itu pertempuran diberbagai tempat dan sisi sudah mulai nampak mengendur, satu persatu pihak lawan dari Pura Besakih terlihat putus asa menghadapi pasukan Singasari yang berjumlah melebihi jumlah mereka. Hingga akhirnya pasukan Singasari telah dapat menguasai jalannya pertempuran. Satu persatu pihak lawan roboh, satu persatu pihak lawan menyerah melemparkan senjatanya.
    Dan akhirnya pasukan Singasari sudah benar-benar memenangkan jalannya pertempuran, menguasai setiap tapak Pura Besakih tanpa ada lagi perlawanan.

    “Menyerahlah !!”, berkata seorang prajurit bersama lima orang kawannya kepada seorang lawannya yang terlihat sudah terluka.
    Orang yang sudah terluka di beberapa bagian tubuhnya itu terlihat sudah tidak mampu lagi mengangkat senjatanya.

    “Aku menyerah”, berkata orang yang terluka itu dengan suara yang lemah sambil melepaskan senjatanya dari genggaman tangannya.

    Bersamaan dengan semua itu, semburat warna merah sudah terlihat hampir merata memenuhi cakrawala langit diatas Pura Besakih. Sang Fajar nampaknya sudah bersiap menampakkan dirinya menghiasi wajah bumi pagi.

    “Kakang Mahesa Bungalan masih bertempur”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu sambil melangkah mendekati arena pertempuran.

    “Lawannya adalah Raja Addewalancana”, berkata Mahesa Semu kepada Mahesa Amping ketika telah benar-benar mendekati arena pertempuran.

    Ternyata sebagaimana yang dilihat oleh Mahesa Amping dan Mahesa Semu, cuma ada pertempuran tunggal di Pura Besakih itu yaitu antara Mahesa Bungalan dan Raja Adidewalancana.

    Raja Adidewalancana telah merasa dipuncak ilmunya, namun belum juga dapat mengalahkan seorang Senapati muda.

    • tiga dari sembilan (langsung terbang menghilang……………)

      • he he he ….
        lanjut……!!!

        eh…, hampir lupa…
        kamssiiiaaaa……………….!!!

      • Matur suwun.

  37. “Kakang Mahesa Bungalan masih belum meningkatkan tataran ilmunya yang sebenarnya”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu yang berada didekatnya.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, ternyata Mahesa Bungalan masih belum meningkatkan tataran ilmunya lebih tinggi lagi. Nampaknya Mahesa Bungalan masih ingin menjajagi sampai dimana kekuatan lawan.

    Sementara itu beberapa orang terlihat mendekati arena pertempuran antara Mahesa Bungalan dan Raja Adidewalancana yang semakin seru. Mereka bergerak semakin cepat, tanah dan batu kadang terlempar beterbangan tergilas terjangan kaki mereka yang kadang turun menghentak bumi.

    Arena itu akhirnya telah menyerupai sebuah arena yang melingkar, semua orang menyaksikan pertempuran itu dengan perasaan yang tegang. Hampir semua orang berharap Senapatinya dapat mengalahkan lawannya.

    Raja Adidewalancana mulai merasa putus asa, Mahesa Amping ternyata lawan yang tangguh.

    “Senapati muda ini benar-benar tangguh”, berkata Raja Adidewalancana yang mulai merasa putus asa setelah sekian jurus dan meningkatkan tataran ilmunya masih belum dapat juga menundukkan dan mengalahkan lawannya.

    Sementara itu udara pagi sudah mulai menghangat, cahaya matahari sudah bersinar terang menyinari dan menerangi Pura Besakih.

    “Menyerahlah tuan, orang-orang Pura Besakih semua sudah menyerah”, berkata Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana.

    “Jangan terlalu percaya diri, akulah yang akan menghabisi nyawamu dan semua orangmu”, berkata Raja Adedewalancana sambil berloncat menerkam kearah Mahesa Bungalan dengan keris ditangan siap menghujam tubuh Mahesa Bungalan.

    Mahesa Bungalan telah melihat nafas dan tenaga Raja Adidewalancana sudah mulai mengendur. Dan nampaknya Mahesa Bungalan ingin segera mengakhiri pertempuran itu.

    Maka dibiarkannya keris itu meluncur menuju tubuhnya. Akhirnya dengan perhitungan yang matang dan kecepatan yang diluar perhitungan Raja Adidewalancana, tiba-tiba saja kaki Mahesa Bungalan menyepak keras punggung telapak tangan Raja Adidewalancana yang masih menggenggam kerisnya.

    Akibatnya sungguh diluar jangkauan pikiran Raja Adidewalancana, punggung telapak tangannya merasakan panas yang tidak terkira bercampur dengan rasa ngilu dan nyeri. Maka tanpa sadar keris ditangannya telah terlepas dan terlempar jauh.

    “Menyerahlah”, berkata Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana yang terlihat memegang tangannya yang masih sangat sakit.

    • empat dari sembilan (langsung ngibrit lari menghilang, hehehe)

  38. Tapi Raja Adidewalancana menjawabnya dengan melompat terbang seperti rajawali terbang menerkam mangsanya.

    Dengan tenang Mahesa Bungalan bergeser dengan kecepatan yang tidak dapat dibaca oleh mata Raja Adidewalancana.
    Akibatnya terjangan Raja Adidewalancana mengenai tempat kosong.

    Brakkkk !!!

    Terlihat tanah dan batu berhamburan terhantam terjangan Raja Adidewalancana.

    “Aku disini tuanku”, berkata Mahesa Bungalan sambil melempar pedangnya.

    Terlihat mata Raja Adidewalancana begitu nanar penuh kemurkaan. Seperti seekor banteng yang terluka langsung menerjang Mahesa Bungalan.

    Tapi Mahesa Bungalan telah bergerak dengan cepat, tidak banyak orang yang dapat mengikuti gerak Mahesa Bungalan yang telah menerapkan ilmu peringan tubuh yang sudah mendekati puncak kesempurnaannya. Yang banyak orang lihat adalah tiba-tiba saja Mahesa Bungalan telah berpindah tempat seperti tidak melangkah.

    Kembali Raja Adidewalancana menemui tempat kosong meluncur berguling-guling terbawa tenaganya sendiri.

    “Aku disini tuanku”, berkata kembali Mahesa Bungalan sambil berdiri tegak dihadapan Raja Adidewalancana yang tengah rebah telentang ditanah.

    Ternyata Raja Adidewalancana sudah kehabisan nafas dan tenaga.

    “jangan permalukan aku, bunuhlah aku”, berkata Raja Adidewalancana dengan nafas yang memburu.

    “Tidak semua kematian dimedan perang sebuah kehormatan, mengakui dan menerima sebuah kekalahan jauh lebih mulia”, berkata Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana.

    “kamu benar anak muda, selama ini aku merasa paling kuat, selama ini aku merasa sangat berkuasa, dan selama ini aku merasa semua orang memujaku. Tapi hari ini aku dikalahkan oleh seorang Senapati muda sepertimu. Baru kali ini aku merasakan kelemahanku, baru kali ini aku meresakan kenistaanku. Ternyata kelemahan dan kenistaan telah menyempurnakan perjalanan hidupku mengenal pemilik kekuatan dan kemuliaan yang sebenarnya”, berkata Raja Adidewalancana berusaha bangkit duduk bersila mengatur nafasnya. Matanya terlihat terpejam.

    Mahesa Bungalan membiarkan Raja Adidewalancana mengembalikan tenaganya.

    “Aku menyerahkan diriku kepadamu, saat ini aku adalah tawananmu”, berkata Raja Adidewalancana ketika merasakan nafasnya tidak lagi memburu, sedikit demi sedikit dirasakan tenaganya mulai datang kembali, meski belum pulih seutuhnya.

    • Lima dari sembilan !!!!(langsung terbang melenting keudara hilang ditelan kegelapan malam)

  39. “Kami akan tetap menghormati tuan, menjaga seluruh keluarga di Pura Dalem Astana”, berkata Mahesa Bungalan kepada Raja
    Adidewalancana ketika akan melangkah diiringi sejumlah prajurit Singasari menuju Pura Dalem Astana.

    Sementara itu matahari pagi telah bergeser semakin naik, semilir angin sejuk mengurangi panas cahaya matahari pagi. Beberapa orang prajurit terlihat tengah mengumpulkan mayat-mayat yang bergelimpangan baik kawan maupun dari pihak lawan.

    “Makamkan mereka disebelah bukit kecil itu, agar semua yang datang ke Pura Besakih dapat melihat dan berdoa untuk mereka”, berkata Mahesa Bungalan memberi petunjuk dimana sebaiknya mayat-mayat itu dimakamkan.

    Para prajurit Singasari nampaknya telah melupakan kelelahannya, meski setelah sepanjang malam bertempur, hari itu terlihat sibuk mengurus pemakaman kawan-kawan mereka yang tidak lagi dapat kembali selamanya, tidak akan ditemui lagi oleh sanak keluarganya, istri dan kekasih pujaan hatinya di kampung halamannya, di tanah Singasari.

    Para prajurit Singasari juga telah memperlakukan mayat-mayat musuhnya sebagaimana mestinya dalam pemakaman yang terpisah dengan penuh penghormatan sebagaimana pemakaman kawan-kawan mereka.

    Sementara itu beberapa orang yang terluka juga diperlakukan dengan sama, tidak melihat kawan maupun lawan. Terlihat Mahesa Amping bersama kawan-kawannya dari Padepokan Bajra Seta yang sedikit banyak mengenal ilmu pengobatan tengah mengobati beberapa orang yang terluka.

    “Jaga lukamu agar tidak terkena air, mudah-mudahan akan membantu menjadi lekas kering”, berkata Mahesa Amping kepada seorang yang terluka dibagian pangkal pahanya yang cukup dalam.

    Kesibukan ternyata tidak juga terhenti, beberapa perwira terlihat membagi tugas kepada prajuritnya. Ada yang mendapat tugas memperbaiki barak-barak yang hancur, menjaga keamanan sekitar Pura Besakih dan tentunya ada beberapa orang prajurit yang bertugas di dapur umum.

    “Kenapa tidak menunggu besok pagi ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang bermaksud untuk pamit diri kembali ketempat kediamannya.

    “Aku takut pengikutku akan menyusutkan ransum persediaan”, berkata Ki Jaran Waha bercanda.

    “Kami tidak akan melupakan apa yang telah kalian perbuat untuk kami”, berkata Mahesa Bungalan yang ikut mengantar Ki Jaran Waha dan pengikutnya yang akan meninggalkan Pura Besakih.

    “Kebahagiaan kami adalah telah berbakti bagi kehidupan dan kemakmuran Balidwipa”, berkata Ki Jaran sambil melangkah meninggalkan Pura Besakih diikuti oleh para pengikutnya.

    Sementara itu waktu terus berlalu dan berganti, wajah senja yang bening tidak lagi menghiasi Pura Besakih karena malam yang gelap telah datang menyelimutinya. Taburan jutaan bintang dilangit malam telah menjadi hiasan malam diatas bumi Pura Besakih. Hawa dingin begitu terasa menusuk kulit.

    • enam dari sembilan !!

      (kembali menghilang sembunyi dibalik selimut)
      Sudah malam enggak mungkin lompat bersalto, apa kata pak RT, hehehe

      • Enam rontal semalam………………………..benar-benar badai. Matur suwun Ki

  40. Banjir…. banjir…. banjir….!!!
    he he he ……, Pura Besakih kena terjang banjir bandang

    hmmmmm……..
    seperi perkiraan, untuk menutup gandok 13 sepertinya dua rontal masih kurang, jadi…. ya tetap tiga lagi.

    hadu…, sampai lupa.
    kamsssiiiaaaa…………………!!!

  41. haduuuuuuuuuu
    matur sanget nuwuuuuunnnnnn

  42. duuuuuuuuuuha,
    sanget matur nuwuuuuunnnnnn

    • sugeng dalu sadayanya,

      (cantrik meloncat ringan sambil menggembol rontal suguhan
      pak DALANG)

  43. menanti…
    tujuh dari sembilan
    he he he …., selamat malam Pak Lik

  44. hup !!!
    Baru pulang ngaji……

    Rencananya SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI akan ditamatkan di jilid ke 13 ini. (sedihhhhhhh…….., ada kenangan yang tak terlupakan selama penggarapan cerita ini. Sebuah luka masih menganga basah…………) Dalank Mahesa Kompor tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu, ingin keluar mencari kesegaran baru, memaknai hidup, menghadapi dunia nyata(istri baru, rumah baru dan mobil baru, hehehe.)

    Sebagaimana Empu Prapanca yang keluar meninggalkan kemapanannya, Mahesa Kompor bermaksud berganti layar, mencari angin baru biar lebih seger………………….

    Cerita akan dilanjutken dengan judul baru :
    “KABUT DI BUMI SINGASARI”

    – Cerita berawal dari kedatangan utusan Kaisar cina,
    – penyerangan Raja Jayakatwang
    – Pengungsian keluarga Tumapel ke Wangi-wangi
    – kelahiran dan petualangan anak-anak pejuang
    – Perjuangan Raden Wijaya sang pewaris tahta

    Mohon persetujuan dari Pakde Arema, Pak Satpam dan kadank sedoyo (setttt…ada sinden yang plirek plirik kayaknya naksir berat sama sang Dalank, kalo jadian pasti dapet undangan, hehehe…..)

    Masih ada tujuh dari sembilan, delapan dari sembilan. Sementara sembilan dari sembilan baru dua baris…………

    • 1000% mendukung KI Dalang

    • Monggo Pak Dhalang, nderek kerso panjenengan.
      Sindennya bukan Lady Gaga atau Jupe to Ki Sandikala?

  45. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Ki “Kompor” Sandikala?

    tentang cerita, sepenuhnya kami serahkan kepada “dhalang”nya. Bagus juga kalau dipotong satu episode, dan diteruskan ke judul baru untuk episode berikutnya. Kalau memang temanya seperti itu, memang judulnya harus diubah.

    hikss…, tetapi, apakah pelakunya masih tetap sama? kami harapkan para pelakunya masih sama, Mahesa Amping dkk.
    Tetapi, monggo sajalah kalau memang akan memulai dengan babak baru dengan pelaku baru (katanya juga ingin isteri baru, rumah baru, mobil baru, hikss ….).

    kami, maksud saya P. Satpam tentu akan tetap setia menampung rontal-rontal baru yang akan terus berceceran di pendapa dan ditata di gandok-gandok Padepokan Pelangisingosari ini.

    Atas nama sanak-kadang Padepokan Pelangisingosari, kami mengucapkan terima kasih telah meramaikan padepokan yang semakin sepi ini karena telah kehabisan bahan yang akan diunggah.

    mudah-mudahan kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan selalu menyertai Ki “Kompor” Sandikala (Arief Sujana) sekeluarga, dan jika sang putri tercinta mengijinkan, mendapatkan “permaisuri” baru untuk menemani Ki “Kompor” sandikala dalam menyelesaikan tugas hidup di dunia ini.

    Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

    nuwun
    arema

    • kamsia Ki Arema, tentunya dengan tokoh lanjutan, mosok Mahesa Amping enggak tua-tua, Paman Sembaga pasti udah enggak kuat nyangkul lagi …….
      kamsia
      kamsia

  46. 😳

    keduluan Kiaine
    he he he …. nunut komen Kiane wis

    siap…….. !!!
    lha mana 7 dan 8 dari sembilannya?
    he … he ….. he ………. he ……………………….. he ………………… …………….. ………….. ………….. (semakin lama semakin jauh dan tidak terdengar)

    • Maaf pak Satpam, biasanya tiap halaman mengalir begitu saja, entah kenapa rontal kesembilan sudah jadi tapi kok kurang sreg, jadi ya begitulah, seperti lukisan diputihkan lagi karena sayang sama kanvasnya, mungkin karena Mahesa Kompor pengen ending yang sempurna kalee
      kamsia
      kamsia

  47. monggo nderek kerso Pak Dalang
    matur nuwun

  48. “Aku mempercayakan pengawalan Raja Adidewalancana dan permaisurinya kepada Kebo Arema”, berkata Mahesa Bungalan di Pendapa Bale Guru di Pura Besakih tengah membicarakan rencana untuk membawa Raja Adewalancana dan permaisurinya ke Singasari sebagai bukti bahwa Balidwipa telah ditaklukkan.

    “Paman Wantilan, Paman Sembaga dan Kakang Mahesa Semu dapat mendampinginya”, berkata Mahesa Amping ikut mengusulkan.

    “Aku setuju, kehadiran tiga orang cantrik utama Padepokan Bajra Seta sebanding dengan lima puluh orang prajurit”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan itu sambil melirik kepada Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga yang juga ada dihadapannya.

    “kami meresa tersanjung dikatakan sebanding dengan lima puluh orang prajurit, yang pasti kami akan segera pulang melihat urusan di tanah Bali ini sepertinya sudah selesai”, berkata Mahesa Semu mewakili Sembaga dan Wantilan.

    “Badrun dan anak buahnya juga dapat diandalkan “, berkata Kebo Arema menambahkan jumlah orang yang akan ikut bersamanya mengawal tawanan kehormatan yaitu Raja dan permaisuri Pura Besakih.

    “Raja dan permaisuri Pura Besakih adalah tawanan kehormatan kita, semoga kalian dapat menjaga memperlakukan mereka dengan baik”, berkata Mahesa Bungalan.

    Demikianlah, hingga jauh malam banyak sekali yang mereka perbincangkan.

    “Malam sudah menjadi begitu dingin”, berkata Mahesa Bungalan yang pamit untuk memeriksa keadaan prajuritnya.

    “Aku ikut menemani Kakang Mahesa Bungalan”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Bungalan.

    Maka terlihat Mahesa Bungalan dan Mahesa Amping tengah menuruni anak tangga pendapa Bale Guru. Disebuah kelokan mereka tidak terlihat lagi.

    Terlihat Mahesa Bungalan dan Mahesa Amping menemui beberapa prajurit digardu penjagaannya yang dibuat secara darurat di beberapa tempat di Pura Besakih agar dapat mengawasi dan menjaga Pura Besakih dari hal-hal yang tidak diinginkan

    “Selamat malam tuan Senapati”, berkata seorang prajurit kepada Mahesa Bungalan merasa bangga pimpinannya telah datang menjenguk.

    “Mudah-mudahan petugas di dapur umum tidak lupa mengirim ransum ke gardu ini”, berkata Mahesa Bungalan kepada prajurit itu.

    “Ransum itu sayangnya sudah lewat”, berkata salah seorang prajurit lainnya.”Maksudku sudah lewat perutku”, berkata prajurit itu menyambung ucapannya yang belum selesai yang ditanggapi derai tawa dari semua yang mendengarnya.

    Canda prajurit itu telah menghangatkan suasana dingin malam di Pura Besakih yang terus berkabut.

    • tujuh dari sembilan…………….!!! (langsung nyilem lagi, bleg ..bleg..bleg)

  49. “Mari kita beristirahat, hari sudah begitu larut malam”, berkata Mahesa Bungalan kepada Mahesa Amping setelah merasa cukup memeriksa keadaan prajuritnya diberbagai tempat di Pura Besakih.

    Demikianlah malam yang dingin di Pura Besakih sepertinya telah menyirep sebagian penghuninya tertidur pulas. Namun ada beberapa orang yang terluka parah semalaman tidak dapat memejamkan matanya sedikitpun. Rintihan mereka kadang cukup mengganggu kawan disebelahnya yang sudah lama tertidur.

    Akhirnya sang malam perlahan meninggalkan bumi berganti pagi.
    Pagi di Pura Besakih ditandai dengan kabut yang pekat. Selapis-demi selapis kabut akhirnya tersibak menghilang bersama semakin benternya sinar matahari menembus udara pagi di Pura Besakih.

    Terlihat sekumpulan orang berkuda di Pura Besakih yang akan melakukan sebuah perjalanan jauh.

    “Kutitipkan segala isi di Pura Besakih ini kepadamu wahai Senapati Muda”, berkata Raja Adidewalancana kepada Mahesa Bungalan yang turut mengantar kepergiannya ke Singasari.

    “Akan kujaga pesan tuan sebagaimana aku menjaga diriku”, berkata Mahesa Bungalan kepada Raja Adidewalancana.

    “Sampaikan salamku kepada semua sahabat di Tanah Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema, Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga yang ikut mengawal Raja Adidewalancana dan permaisurinya ke Singasari.

    Awan langit pagi diatas Pura Besakih yang cerah tiba-tiba saja berubah menjadi mendung kelabu bersama keluarnya iring-iringan Raja Adidewalancana dan para pengawal Singasari menuruni anak tangga seribu.

    Langit mendung diatas Pura Besakih akhirnya tak tertahan menitikkan hujan gerimis kecil seperti ikut berduka mengiringi kepergian seorang punguasa Pura Besakih yang pasrah dan rela menjalani kehidupan yang berbeda sebagai manusia biasa, sebagai seorang tawanan perang yang harus dikucilkan jauh dari tempatnya, jauh dari tanah tempat kelahirannya.

    Terlihat beberapa pelayan Pura dalem Astana menitikkan air matanya mengiringi kepergian tuannya yang sudah tidak terlihat lagi terhalang kerimbunan batang pohon kayu yang tumbuh tersebar mengelilingi Pura Besakih.

    “Hujan gerimis seperti ini biasanya akan lama sekali”, berkata Mahesa Bungalan kepada Mahesa Amping mengajaknya kembali ke Bale Guru Pura Besakih yang untuk sementara menjadi tempat resmi selama di Pura Besakih menjalani tugasnya sebagai seorang Senapati untuk mengatur segala sesuatunya setelah peperangan berakhir di Balidwipa.

    Hujan gerimis kecil akhirnya reda juga. Tanah basah darah peperangan terlihat sudah hilang terbawa air hujan, matahari kembali bersinar menerangi Pura Besakih, menerangi meru berundak tempat arca dan pelinggih berdiri menjadi saksi bisu perjalanan manusia, dalam perang dan damai.

    • delapan dari sembilan !!! (cihuyyyyy)

      • Asyiiiiikkkkkkk,
        kamsia………….deh.!!!!!

        • Asyiiiiikkkkkkk,
          kamsia………….deh.!!!!!

  50. Cuaca diatas cakrawala langit Pura Besakih terlihat begitu cerah. Bangunan Pura Besakih seperti lukisan alam yang elok begitu indah di kaki lereng Gunung Agung yang dikitari kabut abadi.

    Hari itu adalah purnama ke tujuh setelah usainya penaklukan Balidwipa, sebuah iring-iringan prajurit Singasari terlihat memasuki gapura Pura Basakih dengan membawa umbul-umbul dan panji-panji kebesaran Singasari. Bersama mereka berjalan didepan memimpin barisan seorang yang sudah terlihat begitu tua namun masih nampak tegar dan gagah penuh wibawa dengan belitan jubah pendeta yang tidak lain adalah Empu Dangka yang telah resmi diangkat sebagai Pandita Guru Istana Singasari.

    Barisan itu berhenti di altar persinggahan.

    “Selamat datang di Pura Besakih wahai pendeta guru yang bijaksana”, berkata Mahesa Bungalan kepada Empu Dangka.

    “Selamat bertemu kembali wahai tuan Rakrian Demung Sasanabungalan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Bungalan yang telah menjabat resmi sebagai seorang Demung, pejabat perwakilan Singasari di Balidwipa.

    Para prajurit Singasari yang baru tiba itu dipersilahkan beristirahat, sementara Empu Dangka terlihat berjalan bersama Mahesa Bungalan ke Pura Dalem Astana.

    “Sri Maharaja Singasari telah menitahkan diriku menjadi Pendeta guru suci di Balidwipa ini, mengajarkan kitab tattwa kepada semua orang, membangun pura di berbagai tempat. Pura dan Tattwa bukan hanya milik para Bhirawa dan para raja”, berkata Empu Dangka di Bale Witana kepada Mahesa Bungalan.

    “Sebuah tugas yang mulia”, berkata Mahesa Bungalan.

    “Aku juga membawa sebuah kekancingan untuk Anakmas Mahesa Amping”, berkata Empu Dangka.

    “Saat ini Mahesa Amping masih menjalankan tugasnya sebagai perwira tinggi pasukan telik sandi di Balidwipa ini. Dari Pura Indrakila Mahesa Amping mengatur seluruh pasukannya, jalur telik sandinya telah terbangun dengan baik. Mahesa Amping telah banyak membantu kami, meredam setiap gerakan yang tersembunyi”, berkata Mahesa Bungalan kepada Empu Dangka.”Tugas baru apakah yang akan diemban untuk Mahesa Amping dari Sri Maharaja Singasari ?”, bertanya Mahesa Bungalan kepada Empu Dangka.

    “Sebagaimana diriku seorang pendeta pengembara, Mahesa Amping telah dianugerahi menjadi seorang Senapati agung, membangun kekuatan angkatan perang yang mandiri di berbagai tempat di Balidwipa”, berkata Empu Dangga menjelaskan tugas Mahesa Amping di Balidwipa selanjutnya.“Membangunkan jiwa-jiwa muda sebagai seorang pecalang muda yang siap membela dan melindungi buminya dari setiap gangguan disegenab Kademangan Balidwipa”, berkata Empu Dangka.

    “Sebuah gagasan yang luar biasa, Balidwipa akan menjadi sebuah bumi tanpa prajurit, tapi Balidwipa juga akan menjadi sebuah pulau yang paling aman dan tentram sepanjang masa”, berkata Mahesa Bungalan memuji gagasan itu yang akan menjadi tugas baru Mahesa Amping.

    Demikianlah, perlahan dibawah kendali seorang Demung yang bijaksana, kemakmuran mulai berpijak merata di seluruh penjuru, keamanan dan ketentraman jiwa sepertinya mulai hidup berkembang sejalan.

    Rakrian Demung Sasanabungalan telah mempersatukan kembali Balidwipa dan Jawadwipa yang terpisah, yang dulu pernah ada terikat dalam satu daratan pulau yang satu. Dan mereka memang terlahir dari satu keluarga, dari satu tanah air yang satu. (TAMAT)

    • lagi Asyiiiiikkkkkkk,
      kamsia………….deh.!!!!!

      • “DUa dJEMPOL” buat pak DALANG KOMPOR

        • tanpa terasa ronTAL pamungkas “SUKSES” pak DALANG-e
          beber malem ini.

          “TETAP SEMANGAT-SEMAKIN SEMANGAT” itoe yang cantrik
          senantiasa harapkan dari pak Dalang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: