SFBDBS-6

<<kembali ke SFBdBS-05 | lanjut ke SFBdBS-07 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 10 Oktober 2011 at 17:15  Comments (374)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sfbdbs-6/trackback/

RSS feed for comments on this post.

374 KomentarTinggalkan komentar

  1. HADIR,…..SORE KADANG PADEPOKAN

    • EiiiT, NOMER SIJI MASUK GANDOK SEMPALAN….!!!

  2. Nomer Kalih .

    • Nomer ji….
      Ki Suro nomer setunggal plus,
      Ki Menggung nomer setunggal plus-plus.

      Kula tetep sing nomer ji.

  3. sugeng dalu, biasane jam yah ene ono kiriman, tunggu sedikit lagi

  4. Hup…! baru pulang gawe,
    langsung sedakep konsentrasi….mudah-mudahan om ilham masih mau liwat depan rumah,kabarnya sich tante ilham enggak jadi tuch pulang kampung…hehehe 1x aje enggak bergema.

  5. HELP…HELP…HELP…

    Saya tidak bisa membuat halaman baru di http://serialshmintardja.wordpress.com/ , pada saat akan buat halaman baru yang muncul hanya gambar demikian.

    Saya tidak tahu mengapa demikian, adakah sanak kadang yang paham tentang hal per WordPress-an?

    Saya sudah hubungi kontak WP, tetapi rupanya masih edang ada “meeting” sehingga support ditutup sampai dengan tanggal 29 Oktober 2011.

    Tanya Ki Arema hanya angkat bahu, “sudah lupa” katanya.

    hadu……. !!!

    Help me …!!! please

    • hadu……. !!!
      buku pinter cantrik, mengenai bab yang ditanyakan pak Satpam
      ketinggalan.

      tunggu 2 minggu lagi ya….!!??

  6. hadu, pppuuuuuuuaaaaaaassssssaaaaaa

  7. malem JUM’AT…..!!??

    • YA NUNGGU RONTAL PAK DALANG.

  8. hadu….baru pulang….kayaknya dirapel aje dech…..

    • okey pak DALANG…..malam nanti cantrik siap MELEKan,
      ra po2 sesuk-e liBUR tugas CANGKULan.

    • siap siap terima rapelan, matur nuwun

      • JAM PIRO RAPELANE YO

        • baru dapet satu rontal, langsung digelontorkan…..

  9. “Ketika aku turun gunung, kulihat ada bintang api dilangit”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “Pertanda apakah dengan kehadiran Bintang Api itu ?”, bertanya Raden Wijaya sepertinya tidak sabaran.

    Gurusuci tersenyum mendengar pertanyaan itu.”Bintang Api itu hanya muncul tujuh puluh lima tahun sekali”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “Apa hubungannya dengan kembang wijaya ?”, bertanya Mahesa Amping

    “Kembang Wijaya mekar berkembang sepekan bersama kemunculan bintang Api itu”, berkata Gurusuci Darmasiksa.
    “Sayangnya kembang wijaya itu jauh tumbuh di Pulau Kembang”, berkata Lawe

    “Inilah rahasia besar yang akan aku sampaikan kepada kalian, sebuah rahasia keluarga”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “apakah aku dan Lawe boleh mengetahuinya ?”, bertanya Mahesa Amping karena menyangkut masalah rahasia keluarga.

    “Justru kalian perlu mendengarkannya”, berkata Gurusuci membuat Mahesa Amping menjadi agak lega dan merasa tidak risih lagi namun menjadi penasaran bahwa dirinya diperlukan mendengar rahasia keluarga.

    “Dengarlah, bahwa salah seorang buyuk kami telah membawa tanaman kembang wijaya itu dari Pulau kembang kedaratan”, berkata Gurusuci Darmasiksa, terlihat menarik nafas panjang menghentikan perkataannya. “Tahukah kalian, dimana buyut kami itu menanam tanaman keramat itu ?”, bertanya Gurusuci Darmasiksa sambil tersenyum menatap wajah ketiga pemuda yang menunggu apa kelanjutan ucapan Gurusuci darmasiksa.

    “Buyut kami menanam tanaman itu di curuk kembar ini, tepatnya didalam goa dibalik salah satu air terjun itu”, berkata Gurusuci Darmasiksa sambil menunjuk salah satu dari air terjun.
    “Eyang begitu yakin dibalik air terjun itu ada sebuah goa ?”, bertanya Raden Wijaya.

    “Ayahku pernah bercerita bahwa dirinya pernah masuk kedalam goa itu, ternyata kembang itu masih kuncup, belum mencukupi masa tiga ratus tahun”, berkata Gurusuci Darmasiksa.”Inilah rahasia dan wasiat dari ayahku untuk menjaga Kembang Wijaya itu.Hari ini saatnya seseorang pewaris memiliki kembang keramat itu. Aku berharap anakku berkenan mewakiliku”, berkata Gurusuci darmasiksa kepada Raden Wijaya.

    “Cucunda mewakili eyang untuk memiliki kembang itu ?”, berkata raden Wijaya mengulang ucapan Gurusuci Darmasiksa.

    • nyilem dulu ach…….bleg,bleg,bleg……

  10. “Engkaulah pewaris itu”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada Raden Wijaya.

    “Bukankah masih ada Paman Ragasuci ?”, bertanya Raden Wijaya.

    “Ragasuci telah memiliki tahtanya sendiri yang seharusnya menjadi milikmu, saatnya engkau mencari tahtamu yang sebenarnya, tahta yang lebih besar, jauh melebihi tanah Pasundan”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “Apapun yang eyang kehendaki, akan cucunda pusakai”,berkata Raden Wijaya penuh hormat.

    “kembang wijaya adalah lambang cinta, kembang wijaya juga lambang kesetiaan. Kepada seorang raja yang bijaksana itulah cinta dan kesetian dipersembahkan”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “Cucunda belum dapat menangkap apa yang eyang maksudkan”, bertanya Raden Wijaya.

    “Saatnya engkau memilih dari dua orang sahabatmu ini yang akan mewakil dirimu mengambil kembang wijaya yang telah mekar sebagai sebuah persembahan”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada raden Wijaya.

    “Amanat ini telah diberikan kepadaku, biarlah aku sendiri yang menanggungnya”, berkata raden Wijaya

    “Sudah menjadi sebuah syarat, tidak dapat diubah”, berkata Gurusuci darmasiksa sambil menggelengkan kepalanya.

    “Aku memilih Mahesa Amping, karena ini menyangkut sebuah pekerjaan yang pasti penuh bahaya yang kita tidak ketahui. Semoga Lawe sahabatku dapat menerimanya”, berkata raden Wijaya yang akhirnya menerima persyaratan itu dan memilih Mahesa Amping untuk mewakilinya.

    Akhirnya Mahesa Amping telah mempersiapkan dirinya. Gurusuci Darmasiksa memberikan beberapa petunjuk kepada Mahesa Amping apa yang harus dilakukannya.

    “Ambilah Curuk yang ada disebelah kanan, dibalik curuk itulah goa itu tersembunyi”, berkata Gurusuci darmasiksa memeberi petunjuk arah.
    Namun belum sempat Mahesa Amping melangkah, tiba-tiba muncul sebuah suara yang bergema yang tidak diketahui dari mana sumber suaranya berasal.

    “Biarkan aku yang memiliki kembang Wijaya itu, kalian akan kukubur semuanya ditempat ini sebagai tumbal”, terdengar suara itu melengking diiringi suara tawanya mirip menyerupai suara ringkik kuda membuat siapapun yang mendengarnya akan berdiri bulu kuduknya. Apalagi hari sudah mulai agak gelap karena senja sudah lama berlalu.

    “Ternyata Ki Bancak masih belum berubah, masih suka main sembunyi-sembunnyian”, berkata Gurusuci Darmasiksa dengan suara yang dilambari tenaga dalam yang tinggi.

    “Kakek keriput, ternyata pendengarannmu masih cukup tajam”, berkata suara itu penuh gusar karena sudah dapat diketahui oleh jati dirinya oleh Gausuci Darmasiksa.

    • duch mata sepet boangoat….

      • tapi stock rokok masih ada….hehehe 3x bergema

        • kamsia pak DALANG…..semalem di pingit permaisuri
          cantrik ora sambang babar blas….!!??

          • selamat berLIBUR…..salam cantrik buat si ILHAM,

      • hadu….., kok sama ya
        semalam begitu memasuki tit 00.00 sudah tidak tertahankan lagi
        langsung nyungsep di bawah selimut

        eit….
        hampir lupa
        kaaaammmssiiiiiiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….

    • We….
      Ki Bancak sudah muncul
      he he he …….

      • waduh, terima kasih sudah ikut muncul meramaikan, kamsiiiiaaaaa pak dalang

        • Waduh sekamat Ki, sudah muncul perdana.
          kapan yo giliranku.

          • Tak intip wis ono Warok Suro Brandal waktu raden Wijaya nganglang di tlatah Ponorogo. he he he …… tunggu saja kemunculannya.

  11. “Segeralah kamu ke goa di balik curuk itu, kami mampu menangani orang ini”, berbisik Gurusuci Darmasiksa kepada Mahesa Amping yang terlihat ragu dan berat hati.

    Namun akhirnya Mahesa Amping percaya penuh kepada Gurusuci Darmasiksa, meski baru mendengar dari beberapa orang disekitar istana akan tingkat ilmu Gurusuci Darmasiksa yang diakui sebagai Raja yang mempunyai kemampuan ilmu yang tinggi, dan terus meningkat ilmunya di Padepokan tempatnya mengasingkan diri.

    “Hati-halilah sahabat”, berkata Raden Wijaya mengantar langkah Mahesa Amping yang telah berjalan mendekati sebuah curuk.
    Terlihat Mahesa Amping telah menghilang dibalik curuk, disaksikan oleh Lawe, Raden Wijaya dan Gurusuci Darmasiksa dengan penuh harapan bahwa Mahesa Amping akan muncul kembali dalam keadaan utuh dan selamat.

    Namun perasaan hati mereka atas Mahesa Amping hilang seketika manakala dari kegelapan malam dan kerimbunan pepehonan muncul sesosok bayangan hitam yang tidak lain adalah orang yang selama ini bersembunyi yang sudah dikenal jati dirinya oleh Gurusuci Darmasiksa bernama Ki Bancak.

    Puluhan tahun yang lalu, antara Gurusuci Darmasiksa dan Ki bancak memang telah ada perseteruan yang tajam. Mereka terlibat dalam masalah cinta segitiga memperebutkan hati seorang putri melayu. Perselisihan mereka diselesaikan dalam pertandingan terbuka yang adil. Gurusuci Darmasiksa berhasil mengalahkan Ki Bancak. Sejak itulah mereka tidak berjumpa kembali, Ki Bancak telah mengasingkan dirinya terus berlatih meningkatkan ilmunya dan sekaligus mendirikan sebuah Padepokan. Diantara muridnya adalah Patih Manohara dn Juragan Susatpam yang sampai saat ini seperti telah menghilang tenggelam ditelan bumi, tidak diketahui rimbanya.
    Dari beberapa petugas telik sandi ada dikabarkan bersembunyi di Padepokan Ki bancak.

    “Hari ini kita berjumpa kembali Darmasiksa”, berkata Ki Bancak ketika sosok wajahnya terlihat jelas.

    “Semoga kesejahteraan meliputimu Bancak”, berkata Gurusuci Darmasiksa penuh senyum.

    “Aku merasakan ilmumu sudah jauh meningkat lewat lontaran suaramu”, berkata Ki Bancak

    “Akupun melihat hal yang sama didalam suara ringkik ketawa kudamu”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “Langsung saja kepokok masalah, kedatangannku kemari hanya untuk membuat sebuah perhitungan atas diri dua orang muridku”, berkata Ki Bancak yang sepertinya mempunyai watak yang sangat terbuka dan tidak suka akan unggah-unggah.

    “Ternyata sifatmu masih belum berubah, polos dan tidak bertele-tele”, berkata Gurusuci Darmasiksa. “Ada apa dengan kedua muridmu, hingga kamu muncul setelah lama bersembunyi”.

    “Aku mau membuat perhitungan dengan orang yang telah mengalahkan kedua muridku”, berkata Ki Bancak.

    • KAMSIIIIIIIAAAAAAAAAAAAAAAA deh…..!!!!!!

  12. “Biarlah aku mewakili sahabatku, bila urusan berkisar padu dua orang muridmu”, berkata Raden Wijaya yang langsung menebak bahwa inilah guru dari Patih Manohara dan Juragan Susatpam.

    “Maafkan cucundaku, orang muda memang selalu ingin cepat menyelesaikan masalah”, berkata Gurusuci Darmasiksa yang masih belum dapat meraba seberapa tinggi ilmu Ki Bancak dan tidak menginginkan Raden Wijaya menjadi bulan-bulanan kakek tua yang dulu menjadi lawan perseteruannya yang diketahui saat itu mampu mengimbangi ilmunya.

    “Ternyata Darmasiksa tua sudah punya banyak cucu, tidak usah khawatir aku akan meladeni cucumu dan membiarkan dirimu berdiri cemas menjadi seorang penonton”, berkata Ki Bancak gembira melihat Darmasiksa sepertinya terlihat cemas.

    “Hari sudah begitu gelab, apakah tidak sebaiknya urusan kita selesaikan besok hari ?”, berkata Gurusuci Darmasiksa yang mencoba mengulur waktu, berharap urusan tidak perlu diselesaikan dengan sebuah pertempuran.

    “jangan coba-coba membodohiku, aku sudah ikut mendengar rahasia besar tentang kembang wijaya yang keramat itu. Mungkin inilah jodohku menjadi raja besar dan akan menurunkan banyak raja-raja. Urusan kedua muridku ku anggap telah lunas bila saja kalian menyerahkan kembang Wijaya kepadaku”, berkata Ki bancak menawarkan penyelesaian urusannya.

    “Lama mengasingkan diri meningkatkan ilmu telah membuat dirimu berada diatas puncak gunung yang tinggi”, berkata Gurusuci Darmasiksa.

    “Aku menawarkan penyelesaian urusan dengan mudah, tapi nampaknya kamu ingin mencari jalan lain, menyelesaikan secara laki-laki sebagaimana beberapa puluh tahun yang lalu”, berkata Ki bancak penuh percaya diri.

    “Tulang-tulangku sudah begitu rapuh, aku tidak yakin dapat melakukan urusan secara laki-laki sebagaimana yang kamu maksud”, berkata Gurusuci merendahkan dirinya.

    “Jangan pura-pura merendahkan diri, diam-diam aku sering bertandang ke Gunung Kahuripan sekedar mengintip sudah berapa jauh ilmu yang kamu tingkatkan”, berkata Ki Bancak berterus terang.

    Gurusuci Darmasiksa terdiam sejenak. Ucapan Ki bancak membuat dirinya merenung. Yang ditangkap bawwa Ki bancak datang ke Gunung Kahuripan bukan sekedar mengintip ilmunya, tapi sebuah ungkapan kerinduan seorang sahabat untuk melihat keadaan sahabatnya. Dahulu kala mereka memang dua orang sahabat yang selalu bersama. Tapi kemunculan seorang wanita telah memisahkan hati mereka. Tapi hakikat persahabatan memang tidak mudah terpisah, dalam sanubari yang paling dalam mereka mengakui ada gejolak kerinduan masing-masing yang tidak mudah dielakkan, datang setiap saat.

    “Entahlah, setelah bertemu denganmu, tulang-tulang tuaku ini sepertinya ingin menjajal sejurus dua jurus ilmu shabatku yang kudengar terus meningkatkan ilmunya”, berkata Gurusuci darmasiksa dengan senyum penuh persahabatan.

    • KAMSIALI…..!!!!!!

  13. Memandang senyum penuh persahabatan dari Gurusuci Darmasiksa, hati Ki bancak sepertinya telah mencair. Dihadapannya bukan lagi laki-laki yang telah merebut cintanya, tapi seorang sahabat lamanya.

    “Ternyata kamu tidak banyak berubah, dulu kita pernah melanglang dunia bersama, menerima setiap tantangan, pedoman kita saat itu siapa jual kita pasti beli.Dan siapapun yang menantang, siapapun yang menjual tantangan, hari ini aku hanya ingin mencoba sejauh mana ilmu sahabatku, semoga tidak berkarat dimakan usia”, berkata Ki Bancak.

    “Seperti yang kamu katakana, ilmuku mungkin sudah berkarat, karena lama tidak digunakan”, berkata Gurusuci Darmasiksa melangkah mendekati Ki bancak.

    “Ilmumu yang paling berbahaya adalah merendahkan diri, tapi itu tidak banyak berguna ditanganku”, berkata Ki Bancak sambil melangkah mendekati tanah yang agak lapang, dan Gurusuci Darmasiksa mengikutinya dari belakang.

    Sinar rembulan diatas tebing menyinari dua sosok bayangan yang saling berhadapan. Suara deras deru air terjun yang jatuh seperti irama yang ajeg dari gendarang tabuan memecah kebekuan suasana dingin malam di curuk kembar. Dan dua sosok bayangan sudah terlihat saling berkelebat melesat sebagaimana burung wallet hitam disaat senja. Begitu cepat gerakan mereka saling menyerang. Kadang benturan tangan dan kaki tidak dapat lagi terhindar, pada saat itu terlihat dua sosok saling terjengkang kebelakang. Namun kembali mereka bangkit berdiri dan dua bayangan hitam kembali terlihat berkelebat, melesat saling menyambar dan menghindar.

    Sebuah tontonan ilmu tingkat tinggi yang begitu cepat. Raden Wijaya dan Lawe sepertinya tidak mampu mengenali siapa Gurususci Darmasiksa dan yang mana Ki Bancak. Keduanya telah berubah sebagai bayangan yang berkelebat begitu cepat.

    “garis ilmu mereka dari perguruan yang sama”, berkata Raden Wijaya yang sudah dapat melihat dasar gerak mereka ternyata mempunyai persamaan yang sangat jelas. Mereka sepertinya bukan tengah bertempur, tapi layaknya dua orang saudara seperguruan tengah berlatih.

    Apa yang dilihat Raden Wijaya ternyata tidak meleset, mereka memang berasal dari perguruan yang sama, sehingga begitu mudahnya mereka mengelak setiap serangan dan sepertinya sudah saling membaca kemana arah serangan selanjutnya.

    Demikianlah pertempuran antara Gurusuci darmasiksa dan ki bancak terus berlanjut, dan ratusan jurus telah mereka lewati tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Setahap demi setahap mereka terus meningkatkan tataran ilmu masing-masing hingga akhirnya telah sama-sama pada puncak ilmunya masing-masing.

    Pertempuranpun menjadi begitu seru. Hawa disekitar curuk kembar yang semula dingin berubah menjadi hangat. Makin ke inti pertempuran udara menjadi begitu panas. Ternyata kedua orang yang bertempur itu telah melambari dirinya dengan aji geni ngampar. Tubuh mereka telah berubah seperti bola api yang melesat kesana kemari menyambar sasaran yang langsung balas menyerang. Benar-benar sebuah pertempuran yang sangat mengerikan. Layaknya dua dewa bertempur di kegelapan malam dalam iringan deru air terjun yang terus menderu tiada henti.

    • Huuuwaaaaduuuuuhhhhhhhhhh…………
      sampai glelgek’en kebanyakan rontal,
      KAMSIA BUANGET PAK DHALANG…………..

      Malem minggu, aye pergi ke padhepokan…..
      bergandengan ama Ni Sinden nyari rontal……
      beli lopis tau tau keabisan……..
      jaga gengsi terpaksa beli gorengan……..

      Aduhhhh…emak asyiknye…
      nongkrong dua dua an……….
      kaya Ki Menggung dan Nyaine…….
      di gedongan…….
      mau beli minuman, kantong kosong glondhangan….
      malu ame Ni Sinden……kebingungan

      Rontal abis…aye terpaksa nganterin
      masuk kampung…jalalan kaki ……
      kepergok pak Satpam…..
      apes deh……!!!!!!!

      • nginjek gituan…..heheheh 3x bergema

  14. Desss…desss !!!!, sebuah bayangan hitam tiba-tiba saja melesat memecahkan dua buah serangan yang akan saling beradu ilmu yang sama. Ilmu aji geni ngampar yang dahsyat.

    Gurusuci Darmasiksa seperti membentur sebuah gunung batu, dirinya terlempar beberapa langkah kebelang. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ki Bancak.

    “Guru !!!”, Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak berteriak kata yang sama, mata mereka sepertinya tidak mempercayai apa yang mereka lihat.

    “Aji geni ngampar bukan untuk dipermainkan”, berkata orang yang dipanggil guru oleh Darmasiksa maupun Ki bancak.

    “Ampuni Guru, akulah yang bersalah”, berkata Ki Bancak

    “Ampun Guru, akulah yang memulai”, berkata Gurusuci Darmasiksa.
    Orang yang dipanggil Guru itu terlihat tersenyum.

    “Rasa persaudaraan diantara kalian ternyata tidak pernah putus, kalian masih terus saling membela. Lupakanlah perselisihan yang telah berlalu, kuburlah sebagai sebuah kenangan masa lalu. Aku ingin diusia tuaku ini melihat kalian kembali bersatu, saling memaafkan”, berkata orang tua yang dipanggil guru itu.

    Gurusuci Darmasiksa dan Ki Bancak sebenarnya sudah lama melupakan perselisihan mereka seiring perjalanan waktu. Mereka sudah menyadari tentang hakikat takdir sebagai garis hidup yang harus di syukuri, pahit dan manisnya.Dan mendengar permintaan dari guru mereka untuk saling memaafkan seperti besi sembrani mereka saling mendekat, tangis kerinduan dua sahabat, dua saudara seperguruan yang lama terpisah terasa begitu mengharukan.

    Raden Wijaya dan Lawe langsung mendekat, mereka tidak mengerti apa sebenarnya telah terjadi. Yang mereka ketahui ada bayangan yang tiba-tiba saja datang dan melerai pertempuran keduanya. Masih dalam ketidak mengertian, mereka meliahat dua orang yang tengah bertempur itu saling berpelukan, bahkan saling bertangisan.

    “Mereka tengah membakar sisa noda hitam dengan tangisannya, dua hati saudara telah kembali bersatu”, berkata orang tua itu kepada Raden Wijaya dan Lawe yang datang mendekat.

    “Mari kita bicara ditempat yang lebih hangat”, berkata orang tua itu ketika menghampiri kedua murudnya itu yang masih diselimuti keharuan dan kerinduan yang telah kembali bersatu.

    Merekapun telah berjalan mendekati sebuah batu cadas besar yang cukup luas. Distulah mereka duduk berkumpul.

    “Darimana saja guru selama ini ?”, berkata Gurusuci Darmasiksa memulai pembicaraan.

    “Aku mengikuti garis takdir buyutku, sebagai penjaga kembang wijaya”, berkata orang tua itu.

    • Wathathithah…..hWarakadhabrah……..
      ternyate simpenanye misih ade….!!!!!!!

      Ayo pak Dhalang…..keluarin aje semue malem ini
      KAMSIA….!!!!!

      • ikutan

        Wathathithah…..hWarakadhabrah……..
        ternyate simpenanye misih ade….!!!!!!!

        Ayo pak Dhalang…..keluarin aje semue malem ini
        KAMSIA….!!!!!

        pulang dari malam mingguan sudah numpuk rontal segunung

        kamsiiaaa……………..!!!

  15. “Jadi guru adalah sang penjaga itu ?”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada gurunya.

    “sengaja aku menutup jati diriku yang sebenarnya, buyutmu dan buyutku adalah dua orang sahabat dalam garis hidup yang berbeda, buyutmu harus menjalani hidup sebagai seorang raja, sementara buyutku harus menjalani takdirnya sebagai seorang penjaga setia kembang Wijaya”, berkata orang tua itu. “itulah sebab dari sebuah akibat, mengapa aku mengambil kalian berdua sebagai muridku”, berkata kembali orang tua itu.”Semula aku harapkan Bancak lah yang akan datang menembus goa untuk mengambil kembang kesetiaannya, namun aku kecewa atas apa yang terjadi diantara kalian berdua”, kembali orang tua itu berkata. Terlihat Gurusuci Darmasiksa dan Ki bancak tertunduk, sepertinya menyesali atas apa yang mereka perselisihkan dimasa lalu.

    “Aku gembira setelah mengetahui bahwa yang datang adalah dari golonganmu”, berkata orang tua itu dengan wajah cerah menatap semua mata yang memang tengah memandangnya.

    “Maafkan aku Darmasiksa, sebagaimana yang guru katakana, harusnya akulah yang masuk ke curuk itu mempersembahkan kembang wijaya kepadamu”, berkata Ki bancak penuh penyesalan.

    “Gusti yang Maha Tunggal telah berkehendak lain, itulah yang harus selalu kita jaga dan terima sebagai rasa syukur, bukankah begitu guru ?”, berkata Gurusuci Darmasiksa sambil tersenyum.

    “Pengenalanmu atas Yang Maha Berkehendak sudah menghampiri”, berkata orang tua itu penuh wajah sukacita dan kebahagiaan.

    “Semoga aku dapat mengikuti jejak saudaraku”, berkata Ki bancak

    “Dia yang maha berkehendak, bila kamu berjalan selangkah, dia akan berjalan menghampirimu sepuluh langkah, bila kamu datang dengan berjalan, Dia akan datang kepadamu dengan berlari. Sesungguhnya Gusti yang Maha Berkehendak ada di dalam dirimu lebih dekat dari urat lehermu”, berkata orang tua itu.

    “Petuah Guru akan kami pusakai”, berkata Ki Bancak seperti seorang murid yang telah menerima pencerahan yang sangat berharga.Dan hatinya telah terbuka menerima pencerahan itu.

    Sementara itu kita tinggalkan dulu pertemuan antara guru dan dua orang muridnya yang sudah sekian lama tidak saling berjumpa. Saatnya kita mengikuti perjalanan Mahesa amping yang masuk ke goa yang tersembunyi dibalik curuk kembar.

    Ternyata apa yang dikatakan oleh Gurusuci Darmasiksa tentang goa di balik air terjun itu benar adanya. Ketika merasakan air terjun yang deras menerjang keras diatas kepalanya, dengan kemampuan ilmu yang tinggi Mahesa Amping dapat melidungi dirinya dengan melambari wadagnya dengan kekuatan kasat mata, Mahesa Amping tidak merasakan kerasnya terjangan air terjun menghantam diatas kepalanya. Dan akhirnya Mahesa Amping dapat melewati air terjun itu dengan begitu mudahnya.

    Mahesa Amping telah berdiri di bibir sebuah goa yang gelap. Dirasakan goa itu cukup tinggi melebihi sedikit diatas kepalanya. Rongga dikiri kanannya juga dirasakan cukup luas, melampau dua tangan yang direntangkan.

    • lho..lho…lho….

      Wathathithah…..hWarakadhabrah……..
      ternyate simpenanye misih ade….!!!!!!!

      ha ha ha …., lanjut……………..

  16. duh……ade yang ngegendam….mata ini tiba-tiba saja koq sepet banget,
    ane kayaknye enggak kuat menahan gendam sirep ini…..
    Nyelem dulu dech……

    • walah……
      okeokeokeok….
      betul…betul…betul…..
      suasana hening, angin semilir, tidak seperti biasanya
      hawa ngantuk menular ke tlatah sengkaling
      hmmmm…………..

    • Ki Kompor Salah Ngucap “.. bila kamu berjalan selangkah, dia akan berjalan menghampirimu sepuluh langkah, bila kamu datang dengan berjalan, Dia akan datang kepadamu dengan berlari. Sesungguhnya Gusti yang Maha Berkehendak ada di dalam dirimu lebih dekat dari urat lehermu”, berkata orang tua itu.” Ini khan Hadits Qudsi, makanya langsung ngantuk puollllll.

  17. Gak apa-apa tuh
    lho…lho…lho… bisa dibuka kok

    ditutup doang kok, habis…. seharian tidak ada yang nyambangi, takut kalau rontalnya dieker-eker pitik.
    he he he …., alasan..!!!

    ngapunten…., tidak ada hujan tidak ada angin kok pintu bisa njeglek sendiri ya,
    hadu….., jangan-jangan tadi Pak Dhalangnya sudah datang sambil membawa rontal, hadu……, blaik…..

    • he-he-heeeeeeee…..pak SATPAM wes pinter nGELES-i

      • matur nuwun pak DALANGe…..GUYURan rontal2 pak Dalang
        telah cantrik gembol, buat sarapan pagi ini.

        KAMSIA-KAMSIA

        • selamat pagi kadang padepokan sedaya….SENIN oiiiiii,

  18. Ngentosi rontal enggal kawedar sinambi ngopi

  19. lawang wis bukak maneh, matur nuwun

    • lawang wis nutup maneh, matur nuwun

  20. cantrik HADIR pak DALANG-e,

    malam ini kondisi di wilayah bang WETAN pesisir HuJAn gerimis,

    • “Padang bulan, Cublak Suweng, Jangkrik Genggong”
      ni SINDEN berdendang riang….menunggu pak Dalang
      HADIR ning padepokan.

      LANJUT jeng…..!!!

      • Aja gelem Jeng……!!!!!!
        nembang SLUKU SLUKU BATHOK mawon.

  21. hup…kemaren mau masuk, pintunya dikunci..
    met malem sadayana

    • ngapunten … ngapunten … ngapunten …
      (sambil menjura berkali-kali)

  22. Mahesa Amping tidak menyadari bahwa sepasang mata tengah mengawasi, suasana didalam goa itu memang cukup pekat, ditambah lagi keberadaan orang itu tengah merapat di dinding goa yang agak melengkung masuk. Ketika Mahesa Amping melewatinya, orang itu langsung keluar goa dimana dimuka diketahui bahwa orang itu adalah Sang Penjaga.

    Hari pada saat itu memang sudah pertengahan malam, tiba-tiba saja suasana didalam goa itu berubah menjadi terang benderang. Berdetak jantung Mahesa Amping manakala mengetahui sumber cahaya yang telah menerangi goa itu ternyata sebuah bunga yang tumbuh diujung goa yang sedang mekar. Itulah kembang wijaya yang keramat itu.

    Mahesa Amping segera mendekati kembang itu, sesuai petunjuk dari Gurusuci Darmasiksa untuk melakukan beberapa syarat yang diperlukan, antara lain harus datang dalam keadaan penuh hormat layaknya menghadap seorang Raja. Sambil bersimpuh diatas kedua kakinya Mahesa Amping menjura penuh hormat, memohan ijin untuk memetik bunga itu. Konon bilamana seorang yang datang bukan orang yang memang berjodoh, maka bunga itu tidak akan terlepas dari tangkainya. Syukurlah bahwa Mahesa Amping memang orang yang sudah berjodoh, dengan mudah bunga itu terlepas dari tangkainya manakala tangan Mahesa Amping menyentuh dan memetik bunga keramat itu.

    Sementara itu, diluar goa semua mata tertuju hanya pada curuk kembar yang sebelah kanan. Mereka berharap Mahesa Amping dapat keluar dengan selamat dan membawa serta kembang Wijaya.
    Yang ditunggu akhirnya datang juga.

    Dari balik air terjun yang tercurah begitu deras itu menyembul sesosok tubuh yang terlihat jelas yang tidak lain adalah Mahesa Amping. Ditangannya menggenggam setangkai bunga yang nampaknya dilindungi dibalik tubuhnya agar tidak hancur diterjang derasnya air terjun.

    Mahesa Amping berjalan semakin mendekat, namun manakala melihat Ki bancak dan orang tua itu Mahesa Amping menghentikan langkahnya.

    “jangan khawatir, mereka adalah orang kita sendiri”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada Mahesa Amping yang nampaknya menjadi ragu.

    Mendengar ucapan Gurusuci Darmasiksa, kecurigaan
    Mahesa Amping menjadi berkurang, apalagi melihat sikap Ki bancak dan orang itu yang menjura penuh hormat. Maka Mahesa Amping pun membalas hormat itu dan melanjutkan langkahnya mendekati Rden Wijaya.

    “Kupersembahkan kembang Wijaya ini kepadamu”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

    “Terima kasih saudaraku”, berkata raden Wijaya sambil menerima kembang wijaya dari tangan Mahesa Amping.

    “Saatnya kita melakukan sebuah upacara”, berkata Gurusuci Darmasiksa sambil mengeluarkan sebuah mangkuk yang sudah dipersiapkan sudah berisi air penuh

  23. “Remas bunga itu didalam mangkuk, minumlah air yang bercampur racikan bunga itu, jangan disisakan”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada Raden Wijaya yang langsung mengikuti semua petunjuk dari Gurusuci Darmasiksa.

    Mangkuk itupun sudah seluruhnya diminum oleh Raden Wijaya tanpa tersisa. Gurusuci Darmasiksa mengambil kembali mangkuk itu serta mengisi kembali dengan air. Satu persatu yang ada disitu dipersilahkan meneguk sedikit air yang ada didalam mangkuk.

    “Semoga kita mendapat berkah dari mangkuk ini yang pernah dibakai sebagai bejana suci kembang wijaya”, berkata Gurusuci Darmasiksa setelah semua meneguk sedikit air yang ada dimangkuk itu, Gurusuci Darmasiksa sendiri adalah orang terakhir yang menghabiskan sisa air di dalam mangkuk itu.

    “Mangkuk itu adalah lambang bejana kesetiaan, kita telah meminum dari bejana yang sama. Mulai hari ini hati kita telah dipersatukan untuk menjaga Sang pewaris dunia”, berkata orang tua itu yang tidak lain adalah Sang Penjaga.

    “Aku berjanji”, berkata semua yang ada disitu bersamaan.
    Sementara itu malam terus merayap mendekati pagi.
    “Tugas sebagai Sang Penjaga telah berakhir, bagaimana bila Guru berkenan untuk hidup dan tinggal di Padepokanku”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada Gurunya.

    “Terima kasih, tugasku sebagai Sang Penjaga tidak pernah berakhir, pada saatnya akan datang seorang pewaris takdir, menggantikan diriku menjadi Sang Penjaga”, berkata orang tua itu.

    “Guru akan hidup menyisakan usia selamanya ditempat ini ?”, bertanya Gurusuci Darmasiksa kepada gurunya.

    “Itulah takdir dan garis hidupku, bila kalian rindu, pintu goa ini selalu terbuka untuk kalian”, berkata orang tua itu penuh senyum kebahagiaan.
    Akhirnya dengan perasaan berat hati, Gurusuci darmasiksa dan Ki bancak memohon diri untuk meninggalkan orang tua itu. Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya ikut memohon doa restunya.

    “Adalah sebuah kebahagiaan bila mana umurku masih tersisa menyaksikan penobatanmu Sang Pewaris”, berkata orang tua itu kepada Raden Wijaya yang membalasnya dengan penuh hormat.

    Tidak lama kemudia rombongan kecil itupun sudah terlihat menyusuri anak sungai yang berbatu. Jalan menurun me mbuat perjalanan menjadi semakin cepat. Ketika mereka tiba dimuka lorong sungai, matahari pagi menyambut mereka dengan kehangatannya.

    “Akhirnya Ki bancak datang ke Padepokanku secara terbuka”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada sahabatnya Ki bancak.

    “Bilamana datang kerinduan, aku memang selalu berkunjung secara bersembunyi, hanya untuk melihat keadaan sahabatku”, berkata Ki bancak sambil tersenyum malu.

  24. eit……, telat lagi nagkap rontal dari Ki “dhalang” Kompor “meledug”

    terima kasih …..
    suwun ….
    kammmsssiiiiaaaaaaaaaa…………!!!

  25. Perjalanan menuju Padepokan Kahuripan memang tidak begitu jauh lagi. Terlihat rombongan kecil itu tengah berjalan mendaki. Letak Padepokan Kahuripan berada dipuncak Gunung Kahuripan. Itulah sebabnya orang-orang disekitarnya menyebutnya sebagai Padepokan Kahuripan.

    “Sebuah tempat yang indah”, berkata Lawe ketika mereka telah mencapai puncak gunung kahuripan.

    Dipuncak itulah berdirinya Padepokan itu. Dari tempat itu terlihat pemandangan yang hijau sepanjang mata memandang. Dan sebuah danau indah berwarna hijau terlihat disebelah kanan Padepokan semakin menambah keelokan suasana keindahan yang sempurna dalam keasriannya.

    Ketika mereka memasuki regol pintu gerbang, sepuluh orang cantrik menyambut kedatangan mereka. Gurusuci Darmasiksa memperkenalkan semua yang datang bersamanya kepada sepuluh cantriknya.

    “Inilah sepuluh cantrikku yang selama ini menemaniku bersama”, berkata Gurusuci Darmasiksa memperkenalkan sepuluh orang cantriknya satu persatu.

    Sementara itu matahari diatas Padepokan saat itu sudah berdiri diatas puncaknya. Namun keteduhan dan kerindangan pepohonan yang besar dan tinggi sepertinya dibiarkan tumbuh disekitar Padepokan diatas puncak gunung Kahuripan itu menjadikan suasana begitu sejuk.

    “Jangan sungkan, kolamku tidak akan pernah kering”, berkata Gurusuci Darmasiksa mempersilahkan hidangan dan minuman yang telah disediakan.

    “Kolammu memang tidak pernah kering, tapi ikan didalamnya yang akan berkurang”, berkata Ki Bancak yang disambut tawa semua yang mendengarnya.

    Tidak terasa sudah dua malam mereka tinggal di Padepokan yang asri itu. Menyaksikan bagaimana Gurusuci Darmasiksa mendidik para cantriknya yang hanya sepuluh orang. Baik dalam olah kanuragan maupun dalam olah kejiwaan.

    “Maafkan atas apa yang telah dilakukan muridku kepadamu”, berkata Ki Bancak kepada Raden Wijaya di sebuah pagi ketika mereka tengah bersama di Pendapa.

    “Tidak perlu khawatir Ki Bancak, aku sudah melupakannya”, berkata Raden Wijaya.

    “Tapi aku belum dapat melupakan, bahwa kedua muridku dapat dikalahkan dengan begitu mudah”, berkata Ki bancak sambil melrik kearah Mahesa Amping.

    “Aku mohon maaf, bila hal itu masih menjadi ganjalan didalam hati Ki bancak”, berkata Mahesa Amping

    “Mungkin ganjalan hatiku akan berkurang bilasaja kamu berbaik hati menjual sejurus dua jurus kepadaku”, berkata Ki Bancak

    “Layanilah Mahesa Amping, Ki Bancak ingin membeli jurusmu”, berkata Gurusuci Darmasiksa yang ikut-ikutan merasa penasaran sampai dimana kehebatan ilmu anak muda ini yang sekaligus telah menjadi saudara seperguruan cucundanya Raden Wijaya.

    “Ayolah Mahesa Amping, kamu jual, Ki bancak yang beli”, berkata Lawe ikut memanaskan suasana.

    • matur nuwun…..KAMSIA-KAMSIA

      • lha kalo kiriman rontal pak DALANG mBANYU mili kayak ngene,
        sebentar lagi “SFDBS-06″…..bisa di bundel pak SATPAM-e

    • Asiikkkkk
      Pak Guru Bancak mau beli jurus dari Mahisa Amping, nanti Susatpam tinggal minta aja
      he he he ….

  26. SELAMAT PAGI KADANG PADEPOKAN KI MAHESA KOMPOR

    • terima kasih , nanti jurusnya dijual sesuai harga beli, biar tambah banyak yang pinter

  27. “Bila jual beli jurus di Pasundan diartikan berlatih, aku tidak keberatan”, berkata Mahesa Amping yang dapat menangkap maksud Ki Bancak yang hanya ingin berlatih, tidak lebih dari itu.

    Akhirnya mereka bersama turun dari pendapa mencari tempat yang cukup luas di luar pendapa yang juga biasa dipergunakan para cantrik di Padepokan itu untuk berlatih kanuragan.

    “Silahkan Mahesa Amping, kamu yang menjual”, berkata Ki Bancak kepada Mahesa Amping untuk memulai serangan terlebih dahulu.

    “Silahkan Ki Bancak menawar jurusku ini”, berkata Mahesa Amping sambil melakukan serangan awal lewat sebuah tendangan yang lurus kedepan menyerang ke arah perut Ki bancak.

    “Terlalu murah untuk dihargai”, berkata Ki Bancak sambil memiringkan sedikit tubuhnya bersamaan dengan itu sebuah pukulan mengayun ke arah kepala Mahesa Amping.

    Sebuah serangan yang tidak dapat dibaca dan diperhitungkan datang begitu tiba-tiba. Tapi mahesa Amping memang selalu siap mengikuti setiap serangan.

    Terlihat Mahesa Amping menjatuhkan diri menghindar dan berbarengan dengan itu sebuah tendangan melingkar mengincar kedua kaki Ki Bancak.

    Tersentak kagum Ki Bancak melihat gaya Mahesa Amping menghindari serangannya dan langsung membalas menyerang dengan cepat dan tidak diduga.

    Terlihat Ki Bancak melompat mengindarkan sentuhan kaki Mahesa Amping dan membalas dengan sebuah kakinya menjulur mengancam kepala Mahesa Amping.

    Mahesa Amping membiarkan kaki Ki Bancak mendekati sasaran, namun begitu kaki itu nyaris sekitar satu jari mendekatinya, dimiringkannya sedikit wajahnya dan kaki Ki Bancak lewat menembus angin.

    Ternyata tangan Mahesa Amping yang leluasa langsung menghantam kaki Ki Bancak yang masih mengambang.

    Desss !!!

    Kaki Ki Bancak sepertinya ditambah kecepatannya membuat badan Ki Bancak ikut berputar. Dan dengan mudahnya Mahesa Amping menendang sendi kaki Ki Bancak dari belakang. Akinatnya kaki Ki Bancak tertekuk kedepan mendorong tubuhnya nyaris mencium tanah.

    Namun dengan cepat Ki Bancak melakukan lompatan yang indah.

    “Jurus yang sangat mahal”, berkata Ki Bancak yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Sekarang akulah yang menjual”, berkata Ki Bancak sambil menyerang Mahesa Amping dengan sebuah tendangan kaki meluncur kearah perut Mahesa Amping.

    “Terlalu mahal untuk dinilai”, berkata Mahesa Amping sambil memiringkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu meniru apa yang pernah dilakukan oleh Ki Bancak, tangan Mahesa Amping mengayun kearah wajah Ki Bancak.

    Dan ternyata Ki Bancak berbuat yang sama sebagaimana Mahesa Amping menjatuhkan dirinya berbarengan membalas serangan dengan membuat tendangan melingkar mengancam kedua kaki Mahesa Amping.

    Kembali Mahesa Amping meniru apa yang pernah dilakukan oleh Ki Bancak, dirinya melompat sambil meluncurkan sebuah tendangan kearah wajah Ki Bancak.

    Mahesa Amping dapat membaca bahwa Ki Bancak akan melakukan sebagaimana pernah dilakukannya yaitu membiarkan kakinya lewat didepan wajahnya menembus tempat kosong dan langsung akan menghantam kakinya yang berekibat kakinya akan mengayun berputar.

    Maka ketika kaki Mahesa Amping yang sepertinya dibiarkan menembus menghantam wajah Ki bancak hanya tinggal satu jari, tiba-tiba saja Mahesa Amping menarik kembali kakinya berganti dengan sebuah pukulan tangan kosong kedada Ki Bancak.

    Bukkk !!!

    Dada Ki Bancak terkena pukulan. Untungnya pukulan itu hanya berlandaskan tenaga wadag. Tapi cukup membuat Ki Bancak terdorong kebelakang.

    “lagi-lagi aku yang tua ini kena ditipu oleh orang muda”, berkata Ki Bancak sambil mencoba berdiri tegak.

    Diam-diam Gurusuci Darmasiksa mengagumi gerakan tubuh Mahesa Amping yang sudah begitu sempurna begitu lentur dapat bergerak sesuka hati.

    “Semuda ini sudah dapat menguasai gerakan yang begitu sempurna”, berkata Gurusuci Darmasiksa mengagumi diri Mahesa Amping.

    Kembali terlihat Mahesa Amping dan Ki Bancak sudah saling menyerang. Kali ini serangan terlihat lebih cepat. Sungguh sebuah perkelahian yang indah untuk dipertontonkan. Layaknya sebagaimana dua ekor garuda bertempur diudara. Saling menyerang dan balas menyerang melesat dan berkelebat begitu cepatnya.

    Desssss !!!

    Kembali terlihat Ki Bancak terlempar terkena sebuah tendangan dari Mahesa Amping.

    “Jurusmu terlalu mahal untuk kuhargai”, berkata Ki Bancak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda mengagumi kehebatan Mahesa Amping.

    “Aku belum menyerah kalah”, berkata Ki Bancak yang kembali melakukan serangan – serangan.

    Kembali terlihat perkelahian yang sangat seru dan begitu indah layaknya sebuah seni pertunjukan. Duel antara dua orang yang memiliki kesempurnaan gerak tubuh yang dibarengi oleh kecepatan gerak, sehingga boleh dibilang sebuah perkelahian yang indah. Semua mata yang melihatnya akan menarik napas panjang manakala melihat sebuah serangan yang cepat dan berbahaya meluncur ke salah satu lawan. Dan nafaspun keluar lega manakala melihat salah satu lawan dapat keluar dari sergapan dan serangan yang layaknya begitu sulit untuk dihindari.

    “Tunjukkan kehebatan ilmumu yang lain, anak muda”, berkata Ki Bancak kepada Mahesa Amping.

    • eit….!! (menghindar)
      hampir saja kepalaku kejatuhan rontal

      hmm………..
      kamsiiaaa………………!

  28. eit….eit !! (menghindari)
    hampir saja kepalaku kejatuhan rontal

    hmm………..hmm
    kamsiiaaa……………kamsiaaa !!

    • lho kok mbleset…..komen ra gelem ning sebelahe pak Satpam,

      HEMran,

      • O…., tibane wis teka
        tak kira sing njagong ndik GS

        • selamat malam ki Paksi Pamekas…..he-heee, hikSss

          • sugeng enjing, matur nuwun

  29. sugeng sonten, nuwun matur……!!??@@##

    • matur napa….??

      matur kesuwun…..he-he-hee (bergelombang)….KAMSIAAA,

  30. Selesai bicara Ki Bancak telah melepas ilmu puncaknya, Aji Geni Ngampar. Udara disekitar itupun tiba-tiba saja telah berubah seperti terbakar. Tubuh Ki Bancak adalah sumber panas itu sendiri sudah seperti bara yang menyala, bayangkan bahwa udara disekitar itu saja sudah begitu panas dan tidak terbayangkan lagi bagaimana bila sumber panas itu sendiri yang menerjang.

    Berpikir betapa bahayanya bila serangan pasti akan datang membakar dirinya, Mahesa Amping telah menghentakkan nalar budinya, mengungkap kekuatan terpendam yang tersembunyi lewat kepekaan naluri melindungi setiap ancaman. Tiba-tiba saja dari tubuh Mahesa Amping menguap hawa dingin keluar bagai asap salju yang begitu dingin.

    Mahesa Amping tidak lagi merasakan hawa panas yang mencekam, dan melayani setiap serangan Ki bancak sebagaimana semula, bahkan sekali-kali berani membenturkan tangan dan kakinya ketubuh Ki Bancak.

    Bukan main kagumnya Ki bancak yang mendapatkan bahwa Mahesa Amping tidak merasakan apapun dari hawa panas yang membara lewat aji geni ngamparnya.

    Gurusuci Darmasiksa berdecak kagum melihat bahwa Mahesa Amping ternyata mampu menandingi ilmu aji geni milik andalan perguruannya.

    “Anak muda ini memang dapat diandalkarn, setidaknya ilmu Sanggrama Wijaya tidak jauh terpaut dari dirinya”, berkata Gurusuci Darmasiksa dalam hati.

    Sementara itu perkelahian memang masih terus berlanjut, saling serang dan berbalas menyerang. Terlihat kelebatan mereka bagai burung cikatan saling menyambar diudara, bahkan kadang begitu cepatnya hingga hanya terlihat bayang-bayang hitam saling melesat dan berkelebatan.
    Mahesa Amping menghentakkan tataran ilmunya lebih setingkat lagi.

    Dampaknya ternyata begitu luar biasa.

    Dess !!!!

    Dua tangan saling beradu, Ki bancak merasakan tubuhnya menggigil kaku merasakan hawa dingin yang begitu kuat menyelimuti seluruh tubuhnya. Dan kesempatan sedetik itu dipergunakan Mahesa Amping menendang pinggul Ki Bancak yang terbuka.

    Bukk!!!!

    Tubuh Ki Bancak terlempar sampai jauh, untungnya Ki bancak punya daya tahan yang kuat dan dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dengan jalan jatuh bergelinding ditanah.

    Namun ketika Ki Bancak telah berdiri tegak kembali, sebuah sorot mata Mahesa Amping telah menghancurkan batu besar disebelahnya luluh lumat menjadi debu yang halus.

    Berdesir seluruh darah Ki bancak membayangkan bahwa seandainya dirinyalah yang menjadi sasaran sorot mata itu.

    • mewakili pak Satpam…..Paksi Pamekas, KAMSIAaaaa (100x)

  31. “Cukup, aku menyerah kalah. Ganjalan dihatiku atas kekalahan dua orang muridku sudah hilang. Bahkan aku mengucapkan terima kasih tak terhingga atas kemurahanmu tidak melumatkan dua orang muridku sebagaimana batu itu”, berkata Ki bancak sambil mengibas-ngibaskan bagian tubuhnya dari debu halus batu yang hancur berdebu.

    “Awalnya aku membawa kalian kemari untuk menambah pegangan dan bekal ilmu. Ternyata tidak ada lagi yang perlu ditambahkan. Aku yakin dimasa mendatang kalian masih dapat berkembang jauh lebih sempurna lagi melebihi kesempurnaan yang baru saja kulihat”, berkata Gurusuci Darmasiksa bangga atas apa yang dilihatnya.

    “Apakah kalian telah mencium sesuatu ?”, berkata Ki bancak yang sepertinya tengah mencari sesuatu lewat penciumannya.

    “Aku telah mencium sebuah aroma yang membangunkan cacing-cacing diperutku”, berkata Lawe sambil memegang perutnya.

    “Ternyata dibandingkan dua orang saudaramu, daya penciumanmu yang paling andal”, berkata Ki Bancak kepada Lawe. “Coba tebak, aroma apa yang kamu rasakan ?”, berkata kembali Ki Bancak kepada Lawe.

    “Seekor gurame panggang yang siap matang”, berkata Lawe sambil tersenyum.

    “Ternyata penciuman kita sama, akupun telah merasakan yang sama”, berkata Ki Bancak sambil menepuk bahu Lawe.

    “Ternyata penciuman kalian tuli, hari ini aku meminta seorang cantrikku untuk menyajikan masakan pecak gabus, untuk meyakinkan, mari kita segera kependapa”, berkata Gurusuci Darmasiksa sambil mempersilahkan tamunya ke pendapa.

    Ketenangan suasana puncak bukit Padepokan yang teduh serta suasana pemandangan yang begitu asri membuat mereka merasakan sebuah tamasya yang panjang. Keramahan dan keterbukaan sikap sepuluh cantrik di Padepokan itu menambah suasana begitu mengesankan dalam keakraban. Mereka seperti berada didalam sebuah keluarga. Tidak terasa hati mereka sudah terikat dalam kesetiaan layaknya seorang saudara.

    “Pintu Padepokanku akan selalu terbuka untukmu, saudaraku”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada Ki Bancak di regol pintu gerbang.

    “Aku juga menanti kunjunganmu, saudaraku”, berkata Ki bancak kepada Gurusuci Darmasiksa.

    “Sampaikan salamku kepada juragan Susatpam, semoga hukuman empat tahun menghadap dinding akan mengubah sikap dan perilakunya”, berkata Raden Wijaya yang ikut melepas kepergian Ki Bancak.

    “Aku akan terus mengawasi dan membimbingnya, akan kusampaikan salammu anak muda”, berkata Ki bancak kepada raden Wijaya.

    • mewakili ki Gembleh, ni Sinden….matur nuwun, KAMSIAaaaa (200x)

      • mewakili Ki Menggung,
        Ni Sinden kula pethuk,
        matur nuwun, KAMSIAAAAA………!!!!!

      • ki Susatpam keno setrap….Asik (sampe 1000x)….ada peluang
        ki Gembleh maen,

        • di tunggu di padepokan sebelah ki….!!! ajian BOLD
          ki Gembleh merembes ke sana.

          • He…..he…..he…….
            atu tatut dimayahi pak Tatpam

  32. Hadu…….
    semalam tidak sempat sambang padepokan
    datang dari nganglang, setelah mandi leyehan
    dadak kebablasan
    hmmm…………….

  33. Tidak terasa sudah tiga pecan Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping tinggal Di Padepokan Gurusuci Darmasiksa. Lawe telah menggunakan waktu tiga pecan itu untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dirinya dibawah langsung bimbingan Mahesa Amping, Raden Wijaya juga kadang Gurusuci Darmasiksa ikut memberikan bimbingannya. Lawe memang termasuk punya kecerdasan yang tinggi, lewat pengalaman pahitnya dalam perkelahian dengan Juragan Susatpam, akhirnya Lawe dapat memperkaya gerakannya dengan unsur angin. Sebuah gerakan yang menitik beratkan pada perubahan – perubahan yang tidak lagi mengalir tapi kadang berubah arah tidak terduga.

    “Kelak bila saatnya tiba, kamu juga akan mengenal apa yang dinamakan dengan unsure api dan unsure tanah”, berkata Mahesa Amping yang merasa bahwa lawe sudah dapat mengenal unsur angin dengan sangat memuaskan.

    Sementara itu dalam tiga pekan terakhir, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah mendapatkan pengenalan yang lebih gamblang dalam ilmu kejiwaan. Ternyata pengembaraah rohani mereka yang berawal dari pemahaman atas rontal suci Empu Purwa di Padepokan ini sepertinya telah dibawa ketempat yang lebih jauh dan dalam. Gurusuci Darmasiksa telah membawa mereka kesamudra Rohani yang begitu luas dan dalam. Mereka merasakan semakin masuk kedalam semakin banyak mengenal indahnya samudera Rohani. Sebuah perjalanan yang tidak pernah terbatas ujung dan tidak pernah bertepi.

    “Buih dan ombak adalah lautan, manakala buih berkata akulah lautan, itulah sebuah kebodohan”, berkata Gurusuci Darmasiksa menyampaikan bimbingan rohaninya lewat bahasa seloka.

    “Kemanunggalan rasa tidak membutakan dirinya, pengakuan akan memenjarakan dirinya untuk sampai kepada yang dituju”, berkata Mahesa Amping membaca seloka Gurusuci Darmasiksa.

    “Itulah awal pengenalan atas nama, sifat dan perbuatanNYA”, berkata Gurusuci Darmasiksa

    “Semoga kami dapat mempusakainya”, bekata Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang merasa dibawa kedalam perjalanan ruhani yang pernah mereka lewati, namun perjalanan kali ini bukan hanya sekedar lewat, tapi lebih bermakna dalam setiap jengkal langkah.

    “Gusti yang maha pencipta telah membaguskan dirimu dengan lenggangmu ketika berjalan, Gusti yang maha hidup telah menentukan kapan saatnya kamu berkedip”, berkata Gurusuci Darmasiksa kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “petuah ini akan kami pusakai”, berkata Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Yang panjang jangan dipendekkan, yang pendek jangan dipanjangkan. Adakan yang ada, jangan mengadakan yang tiada”, berkata Gurusuci Darmasiksa. “Pandai-pandailah kalian bersembunyi ditempat terang, pandai-pandailah kalian bersembunyi ditengah kelapangan”, kembali Gurusuci berkata sambil tersenyum menyampaikan kata-kata yang penuh makna.

    “Semoga kami dapat mempusakainya”, berkata Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang seperti seorang dahaga dipadang sahara mendapatkan seteguk minuman yang menyegarkan.

    • Haduuuuu, …………… kaget aku. Sedang asyik mengamati Ki Gundul yang Sakauw di Gandok GS, …………… batiba mak gubrak ada benda jatuh di Gandok sebelah. Wah kukira durian jatuh, …… lha gak taunya Rontal SFDBDS-6 yang ke 177.

      Kamsiya kamsiya kamsiya suheng Kompor!!!! Bergema 1mlyr kali.

      • Siap-2 saja Ki TruPod,
        sebentar lagi sute Kompor bakalan membanjiri gandhok dengan rontal-2 susulanya.

        Kamisya ….Kamisya…..Kamisya…….
        (malem jemuwah)

    • Kata para pinisepuh zaman dulu,
      tidak baik malem malem jalan sendirian,

      Kata Ki Menggung jaman kini,
      tak seronok rontal gogrok sendirian

      tenag saja, rontal lainnya segera gogrok

      • Grok ogrok ogrok rontalnya diogrok-ogrok,
        La kok Ki Gundul malah ngorok,
        Grok ogrok ogrok rontalnya diogrok-ogrok,
        Monggolah Ki Gembleh boten pareng ngrokok,
        Grok ogrok ogrok rontalnya diogrok-ogrok,
        Sabar aja Ki Kompor masih keprok-keprok.

        • hayo-hayoo pak DALANG…..kasih seTEGUK lagi,

          selamat malam eyang TRUNO, eyang GEMBLEH
          senang rasanya malam ini cantrik bisa ikut-an
          menDHEPROK di padepokan ki MAHESA KOMPOR

          • pak DALANG…..mewakili pak SATPAM yang lagi benah2
            gandok SFBDBS-7….KAMSIA-KAMSIA-KAMSIAaaaaaaa

          • Mewakili,

            Ki pak Satpam,
            Ki Bancak,
            Ki Arga,
            Ki Laredusun,
            Ki Honggopati,

            KAMSIAaaaaaaaaaa.

        • Mendeprok sambil makan jeruk keprok

          • Mendeprok sambil makan jeruk keprok DIPLEROKi Ki Menggung

  34. Tidak terasa sebualan sudah mereka di Padepokan Kahuripan. Bila saja tidak diingatkan oleh Lawe bahwa mereka masih mengemban tugas sebagai petugas delik sandi, mungkin Mahesa Amping dan Raden Wijaya akan enggan meninggalkan Padepokan Kahuripan.
    Akhirnya dengan berat hati, mereka menyampaikan keinginannya untuk berpamit diri.

    “Sampaikan salam dan kerinduanku kepada ayahmu”, berkata Gurusuci Darmasiksa sambil memeluk Raden Wijaya penuh keharuan.

    “Doaku selalu menyertai kalian”, berkata Gurusuci Darmasiksa melepas kepergian mereka.

    Terlihat tiga ekor kuda berjalan semakin menjauh diikuti pandangan mata Gurusuci Darmasiksa dan kesepuluh cantriknya. Ketiga ekor kuda itupun akhirnya tidak terlihat lagi ketika masuk kejalan yang menurun.

    Hari masih belum menjadi senja manakala Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai di Istana Saunggalah.

    “Ternyata kalian begitu kerasan hingga lupa untuk kembali”, berkata Ragasuci yang menyambut kedatangan mereka yang tentunya bersama dengan tiga dara dari Tanah Melayu yang datang ke Pasanggrahan dimana Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya tengah beristirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.

    Karena menjaga perasaan Dara Petak dan Dara Jingga, terpaksa mereka harus tinggal beberapa hari di Istana Saunggaluh. Akhirnya setelah berlalu hampir sepekan, mereka dengan berat hati menyampaikan permintaan untuk berpamit diri kembali ketanah Singasari.

    “Kapan kalian datang ke Tanah melayu ?”, bertanya Dara Petak mewakili Dara jingga kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

    “Kami berjanji akan datang, hanya tidak dapat memastikan kapan waktunya”, berkata Raden Wijaya mewakili sahabatnya Mahesa Amping.
    “Sebuah kebahagiaan mendapatkan kalian kembali”, berkata Dara Jingga berusaha menahan segala gejolak perasaan di hatinya.

    “Tetapkan hatimu pada ketentuan Gusti yang Maha Pencipta Alam Semesta”, berkata Mahesa Amping kepada Dara Jingga.

    “Di Tanah Singasari mungkin mereka tengah menunggu kami dalam perasaan penuh kekhawatiran”,berkata Raden Wijaya kepada Ragasuci yang dapat mengerti dan mengijinkan kepergian mereka.

    Perpisahan memang sebuah kata yang mengharukan. Gejolak perasaan hati sepertinya dikacaukan oleh kekhawatiran untuk tidak berjumpa lagi. Tapi perpisahan memang harus terjadi.

    • untuk para suheng dan sute, suhu dan subo, koko dan sumoi dan juga….sukong

      • Ha ha ha …..
        diimbuhi kok malah pada ngorok
        hadu……

        Kamasia Pak Dhalang

  35. Huaduh berpisah untuk bertemu kembali. Sugeng enjang sedoyo kadang padepokan

    • sugeng enjang merambat siang ki Suro,

      • sugeng sonten merambat malam ki Gundul,

      • Sugeng sonten Ki Gundul. Rontal ipun kok dereng kawedar.

        • nunggu si ILHAM ki……malam sabtu gini biasane ngikut
          muter2 pak GEMBLEHe,

          • muter muter
            golek es puter
            numpak sekuter
            suwarane mak ….wer…….!!!!!!

  36. sugeng dalu, matur nuwun sampun panen raya

  37. Terlihat tiga ekor kuda telah berjalan dalam naungan pagi yang cerah meninggalkan regol pintu istana Saunggalah, dibayangi dua pasang mata dan desah isak tangis tertahan. Sepotong belahan hati sepertinya ikut terbawa bersama langkah kaki kuda yang berjalan rancak menapaki jalan tanah yang berbatu dan menghilang disebuah tikungan jalan.

    Jalan tanah itu memang masih begitu lengang. Cahaya matahari yang hangat membayangi wajah-wajah mereka. Angin semilir dan bau tanah hutan basah disepanjang langkah mereka telah membebaskan kembali ingatan mereka akan kemerdekaan seorang pengembara sejati. Entah siap yang memulai, langkah kaki kuda sepertinya terhentak berlari memacu diri menembus kibasan angin.

    Tiga ekor kuda sepertinya saling berpacu menembus batas waktu. Tiga pengembara telah kembali membelah padang pengembaraannya seperti tiga ekor elang mengarungi belantara jagad raya melayang membelah cakrawala yang luas dalam kemerdekaan dan kebebasan yang bersahaya.

    Akhirnya dibatas senja mereka telah sampai di Bandar Muara Jati. Seorang syahbandar yang mereka kenal telah membawa mereka bertemu dengan seorang juragan besar yang akan berangkat berlayar menuju Churabaya.
    Senja itu sebuah jung besar perlahan meninggalkan Bandar Muara Jati. Dan layarpun tertiup angin menyusuri tepian senja membawa tiga pengembara, Lawe, Mahesa Amping dan raden Wijaya.

    Tidak ada peristiwa apapun ketika mereka berlayar menuju Bandar Churabaya selain keramahan juragan besar yang telah memberikan mereka tumpangan.

    “Apakah kalian tidak ada keinginginan untuk turun menghabiskan sisa malam ?”, berkata Juragan besar itu ketika Jung besar mereka telah bersandar di sebuah Bandar kecil yang tidak bernama.

    “Terima kasih, biarlah kami berjaga di jung ini”, berkata Mahesa Amping melambaikan tangannya kepada juragan itu dan juga kepada beberapa awak yang juga ikut turun.

    Dan sisa malam berlalu bersama suara deru ombak menampar tepian pasir. Angin dinginpun ikut membasahi dinding jung.

    Ketika pagi menjelang, kesibukan terlihat dibandar kecil tak bernama itu. Beberapa buruh terlihat tengah menurunkan dan menaikkan beberapa barang. Mahesa Amping, Lawe dan raden Wijaya sepertinya masih enggan turun dari jung. Hanya disaat perut mereka terasa lapar, akhirnya mereka turun juga dari jung mencari sebuah kedai kecil yang menjual beberapa macam makanan.

    “Bandar Churabaya hanya tinggal satu malam lagi”, berkata raden Wijaya sambil memandang kearah pantai yang sepi sepertinya banyak berharap senja secepatnya datang.

    Dan harapan mereka ternyata telah disinggahi, senja akhirnya turun di Bandar kecil tak bernama itu. Sebuah sauh tengah ditarik keatas, ikatan talipun sudah dilepas ditiang dermaga. Jung besar terlihat merayap menjauhi dermaga, meninggalkan tepian pantai yang sepi.Dan layarpun telah dikembangkan menghanyutkan jung besar melaju mengarungi pesisir utara laut Nusa jawa.

  38. Sugeng enjing kadang sedoyo,
    iseng-iseng nyantap sate sama gule kambing…eh eh langsung KO kepala kunang-kunang…

    Ternyata semakin tua banyak yang harus dikurangi….

    • pak DI mantan bos ki KOMPOR bilang….beri kesempatan pada yang MUDA, berikan kepercayaan pada yang MUDA.

      hidangkan sate + gule kambing pada yang MUDA, yang TUA2
      cukup tahu tempe aja…..hikss,

      • selamat berLIBUR…….kamsia-kamsia-kamsiaaaa !!??

  39. kalau ki kompor gemar wisata kuliner, musti sedia bbrp obat berikut ini:

    – xenical, untuk menetralkan lemak. dikonsumsi ketika sedang kembul bujana
    – simvastatin atau lipitor, untuk menurunkan kadar kolesterol
    – allopurinol, untuk menurunkan kadar asam urat
    – untuk menurunkan tekanan darah, cukup makan 5 buah blimbing wuluh. kalau terlalu kecut, cocolken ke gula pasir.

    selamat mencoba, … hidup sehat panjang umur, ….

    • Wah…..
      sugeng rawuh Ki SukaS.

  40. test….!!!

    test….!!! test….!!! test….!!!
    halloo…, 1…, 2…, 3 …
    he he he … kaya test mike saja.
    monggo ki/nyi/ni sanak

    • test….!!! test….!!! test….!!!

      mike di COBA….di COBA mike…..mike, mike, mike
      ki/nyi/ni titik, salam-at malam, ndherek tepangan.

    • Biasane sing bisa nggawe pageram-eram ngene Ki Bukansms,
      apa jebul pak Satpam yo….??????

      • hikss,

  41. Terlihat tiga sepeda motor telah berjalan dalam naungan pagi yang cerah meninggalkan regol pintu istana Saunggalah, dibayangi dua pasang mata dan desah isak tangis tertahan. Sepotong belahan hati sepertinya ikut terbawa bersama deru mesin motor-motor itu yang berjalan beriringan menapaki jalan tanah yang berbatu dan menghilang disebuah tikungan jalan.

    Jalan tanah itu memang masih begitu lengang. Cahaya matahari yang hangat membayangi wajah-wajah mereka. Angin semilir dan bau tanah hutan basah disepanjang langkah mereka telah membebaskan kembali ingatan mereka akan kemerdekaan seorang pengembara sejati. Entah siap yang memulai, raungan mesin salah satu motor honda sepertinya menghentak ingin berlari memacu diri menembus kibasan angin.

    Tiga kuda besi bermotor 2 tax itu sepertinya saling berpacu menembus batas waktu. Tiga pengembara telah kembali membelah padang pengembaraannya seperti tiga ekor elang mengarungi belantara jagad raya melayang membelah cakrawala yang luas dalam kemerdekaan dan kebebasan yang bersahaya.

    • Bahasa Sastra Ki Kompor terkadang menghanyutkan juga yo?

  42. hadu…..sudah rame,
    Kamsia ki sukasrana atas kuliner obatnya,
    Salam untuk Ki Gundul yang Muda yang Berkarya,
    dan…drum-drum-drum suara montor melesat menikung dikendarai Ki Trono Podang membuat angin kencang hingga pepohonan dan daun beterbangan dan …sebuah jembatan ikut roboh……..ternyata montornya si komeng yang dipinjem buat ngebut…hehehehe

  43. Bandar besar Churabaya memang sepertinya tidak pernah tidur, terlihat kerlap kerlip lampu minyak di beberapa kedai yang masih melayani beberapa pengunjungnya. Disaat itulah Jung besar yang ditumpangi Raden Wijaya, Lawe dan Mahesa Amping telah merapat di Bandar Churabaya.

    “Terima kasih atas tumpangannya”, berkata Raden Wijaya kepada Juragan besar yang memberikan mereka tumpangan.

    “Sama-sama, semoga kalian sampai di tempat tujuan dengan selamat”, berkata Juragan Besar itu sambil melambaikan tangannya kepada Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping yang telah turun berdiri di dermaga bersamaan ikut juga melambaikan tangannya.

    “Mari kita beristirahat di kedai”, berkata Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah kedai diujung jalan yang masih buka.

    Sebagaimana suasana sebuah Bandar besar di malam hari, suasana dikedai itu juga masih terhitung ramai mengingat hari sudah masuk di pertengahan malam.

    “Pesan apa tuan muda?”, bertanya seorang pelayan tua kepada mereka.
    “Makanan dan minuman terbaik di kedai ini”, berkata lawe bergaya sebagai juragan besar.

    “Gulai manjangan muda adalah hidangan terbaik kami”, berkata pelayan tua itu menawarkan hidangan terbaiknya yang dibalas anggukan kepala Lawe tanda menyetujuinya.

    Pelayan tua itupun segera kedalam untuk menyiapkan beberapa pesanan.

    Namun belum lagi pelayan itu kembali, telinga Lawe nyaris seperti panas mendengar sebuah senda gurau dari empat orang yang nampaknya telah mabuk berat menikmati minuman keras. Senda gurau mereka ternyata memang ditujukan kepada Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

    “Gulai Manjangan muda adalah hidangan orang tua yang sudah sepuh”, berkata seseorang yang terlihat layaknya seorang pedagang kaya, terlihat dari pakaiannya berasal dari bahan mahal.

    “Atau giginya sudah banyak yang rapuh bolong”, berkata seorang lagi kawannya yang brewokan.

    “Atau sakunya yang memang bolong”, berkata kawannya yang kedua sambil tertawa terbahak-bahak disambut dengan gerai tawa ketiga kawannya.

    “Apakah yang kalian bicarakan adalah diriku ?”, berkata Lawe langsung melabrak orang yang terakhir bicara.

    “Ternyata kamu belum tuli dan pikun”, berkata orang itu semakin keras ketawanya dan disambut tawa juga dari ketiga kawannya.

    Lawe yang memang gampang tersinggung, tanpa bicara lagi langsung melayangkan tangannya.

    “Plokkk !!”

    • Kamsiaaa…..!!

    • 4 orang terJUNGKAL…..satu di gampar Lawe, yang laen kena
      imbas-E.

    • kAMSIA……..DEH,
      kok cuman atu rontal…?????
      kasihan Ni Sinden udah disuruh nembang terus ama Ki Menggung.

      • kAMSIA……..(lo)DEH
        atu rontal kok cuman…?????
        kasihan K Mengung udah disuruh nembang ama Ni Sinden
        he he he …

  44. selamat malam pak DALANG, kadang Padepokan sedaya,

    selamat berLIBUR,

    • hampir lupa….MATUR NUWUN pak DALANG MAHESA

  45. matur nuwun pak dalang soho pak satpam

  46. Maaf…pak erte namu baru pulang,
    Met malem mingguan…stock rokok masih banyak meski tadi joinan sama pak erte…semoga bisa ngundang si ILHAM
    “PLOKKKKK !!!!”

  47. Orang itu merasakan sebelah wajahnya panas.

    “Beraninya kamu menampar wajahku”, berkata orang itu.

    “Itu masih ringan, biasanya aku suka merobek mulut orang yang usil”, berkata Lawe ringan.

    Sementara itu Mahesa Amping dan Raden Wijaya masih tetap duduk tenang, merasa bahwa Lawe masih dalam keadaan terdendali. Namun tidak demikian perasaan para pengunjung yang kebetulan masih berada didalam yang langsung keluar kedai takut terkena sasaran.
    Beberapa prajurit yang sedang meronda melihat ketidak beresan dikedai itu langsung masuk kedalam.

    “Siapa berani membuat onar disini !!”, berkata seorang prajurit.

    “Orang inilah yang membuat kerusuhan disini, dia telah menampar wajahku”, berkata orang yang ditampar sambil menunjuk kearah Lawe.
    Keanehanpun terjadi, prajurit itu nampak tertawa terpingkal-pingkal.

    “Aku tidak percaya orang ini telah membuat kerusuhan, pasti kamulah yang telah memulainya”, berkata prajurit itu setelah tertawanya habis.

    “Lihatlah, aku wajahku merah ditamparnya”, berkata orang itu penasaran bahwa prajurit itu tidak mempercayainya.

    “Bersyukurlah mulutmu tidak dirobeknya, hari ini aku sedang berbuat baik, cepat keluar dari kedai ini”, berkata prajurit itu mengusir orang itu.
    Sambil menggerutu orang itu keluar kedai diikuti ketiga kawannya yang merasa ada yang tidak beres dengan prajurit itu.

    “Dunia memang begitu sempit”, berkata prajurit itu yang tidak lain adalah Ki Lurah Dadulengit dari benteng Cangu.

    “Sang Dewa judi dari benteng Cangu”, berkata Lawe yang sudah mengenali Dadulengit.

    “Silahkan kalian kembali meronda, aku akan menemani ketiga kawanku ini”, berkata Dadulengit kepada dua orang prajurit yang datang bersamanya.

    “Tolong tambahkan pesanan kami”, berkata Lawe kepada pelayan tua yang telah membawakan pesanan mereka.

    “Aku pesan daging kambing bakar”, berkata Dadulengit

    “Bukan gulai manjangan muda ?”, bertanya pelayan tua itu.

    “Apakah kamu melihat aku sudah begitu sepuh ?”, bertanya Dadulengit kepada pelayan tua itu.

  48. “Maaf, aku akan menyiapkan pesanan tuan”, berkata pelayan tua itu.

    “Jadi benar bahwa gulai manjangan muda hanya untuk orang sepuh?”, bertanya Lawe kepada Dadulengit.

    “Khususnya untuk orang tua sepuh yang sudah semper”, berkata Dadulengit sambil tertawa melihat tiga mangkuk gulai manjangan muda didepannya.

    “Hati-hati Ki Lurah, orang yang tadi keluar telah mengatakan yang sama”, berkata mahesa Amping sambil tersenyum.

    “Ternyata masalahnya ada pada gulai manjangan muda ?”, berkata Dadulengit sambil tertawa.Dan semuanyapun jadi ikut tertawa.

    “Kalau tidak begitu, mana mungkin kita bisa bertemu”, berkata raden Wijaya.

    Tidak lama kemudian pelayan tua sudah membawakan pesanan Dadulengit. Maka merekapun nampak menikmati hidangan itu.

    “Pangeran Kertanegara sudah menjadi raja di Kediri ?”, berkata raden Wijaya ketika Dadulengit bercerita tentang beberapa hal sekitar kerajaan Singasari.

    “Ternyata kalian sudah terlalu lama meninggalkan tanah Singasari”, berkata Dadulengit.

    “Kami memang cukup lama meninggalkan tanah Singasari”, berkata Mahesa Amping.

    “Sekarang giliran kalian bercerita, kemana saja kalian selama ini”, berkata Dadulengit

    Meski tidak seluruhnya, mahesa Amping bercerita beberapa hal kemana saja mereka selama ini.
    Sementara itu pertengahaan malam sepertinya telah terkikis terlewati bersama senda gurau pertemuan empat sahabat di dalam kedai.

    “Tugasku di Bandar Churabaya masih tinggal sepekan, akan kuperintahkan orangku untuk mengantar kalian sampai ke Benteng Cangu”, berkata Dadulengit yang nampak sudah lesu mengantuk.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Dadulengit, pagi itu Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya sudah berada di sebuah jung besar milik seorang juragan kaya kenalan Dadulengit yang kebetulan akan berangkat ke Bandar Cangu.

    Perlahan jung besar meninggalkan dermaga, hangat sinar matahari mewarnai air sungai menjadi kuning keperakan tergunting jung besar yang melaju melawan arah arus sungai. Angin pagi yang bertiup ke darat telah mendorong layar tunggal yang telah dikembangkan.

    “Prajurit Singasari ada dimana-mana”, berkata Raden Wijaya menunjuk kesebuah gardu ronda yang berdiri di tepi sungai disebuah hutan yang sepi.

    “Perompak akan berpikir panjang membuat ulah disepanjang peraiaran ini”, berkata Mahesa Amping.

    • duh ngantuk berat….

      • he he he …, saya malah ngantuk duluan
        tit 00.01 Pak “Dhalang” Kompor tidak hadir ya saya tinggal “mancal kemul” (tidur)

        • KAMSIA…..cantrik hora ngantuk babar blas,

  49. selamat pagi pak DALANG, kadang Padepokan sedaya,

    selamat berLIBUR,

    • rontal ganduk sini belom bisa di bundel pak SATPAM….hikss,

      • belum ki, paling cepat seminggu lagi, kalau kecepatan Pak “Dhalang” Kompor sama dengan kemarin-kemarin

  50. kerinan, sugeng siang kadang sedoyo, matur nuwun pak dalang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: