SFBDBS_04

<<kembali ke SFBdBS-03 | lanjut ke SFBdBS-05 >>

—oOo—

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 31 Juli 2011 at 12:27  Comments (337)  

337 Komentar

  1. “Aku menjadi saksi atas kejujuran pertandingan kalian diatas panggung sayembara”, berkata Baginda Raja.

    Beberapa orang telah bergeser jauh untuk memberi keluasan bagi orang yang akan bertanding membentuk sebuah lingkaran yang luas.

    “Mari kita selesaikan urusan kita”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya sambil bergeser mendekati Bagus kemuning yang telah memilihnya sebagai lawan tanding.

    “Kamu belum mengenalku anak muda”, berkata bagus Kemuning menatap tajam Mahesa Amping.

    “Hari ini aku ingin mengenalmu”, berkata Mahesa Amping dengan nada datar sepertinya tidak takut menatap mata Bagus Kemuning.

    “Inilah hari sialmu telah mengenal aku”, berkata Bagus Kemuning yang langsung menyerang Mahesa Amping seperti harimau menerkam lawannya.

    Mahesa Amping dengan cepat bergeser. Melihat serangannya dengan mudah dielakkan, Bagus kemuning kembali melakukan serangan dengan sebuah tendangan.

    Lagi-lagi serangan itu dengan mudah dielakkan Mahesa Amping bergeser mundur. Dengan marah Bagus Kemuning mengejar Mahesa Amping.

    Sementara itu ditempat yang sama Raden Wijaya juga telah menerima serangan Raja Belang yang langsung dan sepertinya menginginkan pertandingan dapat diselesaikan dengan cepat menyerang Raden Wijaya dengan dahsyatnya.

    Tapi Raja Belang ternyata kecele dengan pilihannya, anak muda yang dihadapinya bukan anak kemarin sore yang baru mengenal kanuragan. Tapi anak muda yang telah digembleng oleh Mahesa Murti langsung dan telah menguasai dan mengungkapkan rahasia pusaka rontal Empu Purwa yang telah dikembangkannya secara diam-diam disetiap kesempatan.

    “Gila..!!”, berkata raja Gelang setiap kali serangannya dengan mudah dielakkan oleh Raden Wijaya yang dapat bergerak begitu ringan dan cepat seperti kapas yang terbang kian kemari diterbangkan angin.

    Ratusan jurus telah berlalu, tidak satupun serangan raja Belang dapat mengenai tubuh Raden Wijaya.

    “Sanggramawijaya telah mempunyai ilmu yang tinggi”, berkata Ragasuci kepada Belang dengan bangganya melihat keponakannya Raden Wijaya yang dapat mengimbangi ilmu Raja Belang yang diketahui sudah sangat tinggi dan mumpuni yang diketahuinya sebagai abdi yang setia dimanapun Bagus Kemuning berada.

    “Anak muda yang satu lagi juga tidak berbeda dengan keponakanmu itu”, berkata Datuk Belang sambil menunjuk Mahesa Amping yang tengah bertempur menghadapi Bagus Kemuning.

    Sebagaimana Raden Wijaya, Mahesa Amping juga masih banyak menghindar dibandingkan melakukan serangan. Hanya sekali-kali dilakukan manakala sudah terhimpit dengan balas menyerang.

    • siiip…dapet lagi satu rontal langsung dikirim,
      hiks.

      • lho…lho…lho…
        ada lagi to
        he he he
        kamsiiiaaaa…………

      • Tambah teruuuuss !!!

      • he he he…
        penonton sudah meluber ke halaman depan
        beberan lakon 04 sudah hampir separuh, 33 halaman dari 75
        hayo Pak Dhalang…, semangat!!!!

  2. semangat, tettaaaaap, hup, kamsiiiia

  3. “Anak edan”, berkata Bagus Kemuning yang penasaran tidak juga dapat melumpuhkan lawannya yang masih muda belia meski sudah meningkatkan tataran ilmunya semakin tinggi.

    “jangan salahkan diriku bila hari ini kamu akan mati terbakar”, berkata Bagus kemuning yang langsung mengetrapkan ilmu simpanannya. Tangannya terlihat seperti bara membara langsung menerkam Mahesa Amping.

    Mahesa Amping merasakan hawa panas mengejarnya.
    Tanpa disadari, kepekaan didalam dirinya telah bekerja dengan sendirinya, sebuah hawa dingin telah melambari sekeliling dirinya meredam hawa panas yang mengejarnya.

    Mahesa Amping masih dapat melayani Bagus Kemuning tanpa merasakan adanya hawa panas yang menyerang dirinya.

    Sementara itu diwaktu yang sama, Raja Belang benar-benar sudah habis kesabarannya. Serangannya selalu dengan mudah dielakkan Raden Wijaya. Baru disadari bahwa anak muda yang dihadapinya bukan anak muda sembarangan. Ratusan jurus telah berlalu, berlapis-lapis tataran ilmunya telah ditingkatkannya namun tidak jua menyelesaikan pertandingan itu.

    Set-set-set….!!!

    Raja Belang telah melancarkan senjata rahasia andalannya ketika Raden Wijaya melompat kebelakang menghindari serangannya.
    Dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat dan kasat mata duri ikan buntal yang kecil itu melesat mengejar tubuh Raden Wijaya.

    Wus-wus-wus……!!!

    Tidak ada jalan lain bagi raden Wijaya yang langsung mengetrapkan kemampuannya yang dapat mengeluarkan cahaya panas lewat tangannya. Tapi kali ini hanya sepersepuluh kekuatan yang dilontarkan oleh Raden Wijaya, jadi hanya berupa angin yang keras meluncur dari tangannya.

    Tiga buah duri ikan buntal berbalik arah langsung meluncur menyambar tubuh Raja Belang.
    Raja Belang tidak pernah menyangka hal itu dapat terjadi. Diluar perhitungannya senjata rahasia andalannya meluncur kembali dengan kecepata dua kali lipat dari sebelumnya ketika meluncur dari tangannya.

    Tiga buah duri ikan buntal telah menembus kulit badannya dititik tubuh yang sangan berbahaya, tepat dijantungnya.

    Raja Belang jatuh terduduk dengan wajah dan tubuh berwarna biru. Raja Belang langsung tewas seketika merasakan racunnya sendiri. Sebuah kematian yang sangat mengerikan dengan mata besar melotot sepertinya tidak menerima apa yang dengan begitu cepat terjadi dan benar-benar diluar perkiraannya.

    • ciatttttttt ….!!
      Tinggal menyelesaikan pertempuran Mahesa Amping sama Bagus Kemuning

      set-set-set….!!!!

      Wus-wus-wus…!!!!

      • awas Ki, jangan terlalu semangat
        nanti laptopnya kesepak 😀

        • he-he-he….paling-paling kebakaran puntung yang lupa dimatiin……
          ciatttt…!!!

          • hadu….
            mbandel juga ya
            he he he ….
            tetapi, kalau masih ada lanjutannya masih setia menanti kok Ki.

    • Naaah….. rasakan!! Senjata makan tuan.

  4. Bagus Kemuning yang melihat orang kepercayaannya yang setia terkapar mati menjadi begitu gusar penuh kemarahan. Sepertinya kemarahannya itu dicurahkan dalam serangan yang berlapis ganda lebih menggrigiskan bergulung menyerang Mahesa Amping.

    Mendapatkan serangan yang bertubi-tubi, Mahesa Amping terlihat semakin terdesak. Akhirnya Mahesa Amping tidak lagi hanya mengelak, tapi langsung balas menyerang.

    Sebuah pertempuran yang dahsyat, tubuh mereka seperti bayangan melesat kesana kemari seperti bayangan yang terbang saling menyambar.

    Desss…!!!
    Dua buah kekuatan beradu dengan begitu keras ketika Mahesa Amping menangkis sebuah pukulan yang kuat dari Bagus Kemuning.

    Mahesa Amping terlihat tetap tegap berdiri dengan kedua kaki dalam posisi kuda-kuda yang tegar.

    Sementara itu Bagus Kemuning terlihat mundur tiga langkah. Yang dirasakannya adalah pukulannya seperti membentur kapas yang ringan. Dan tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang seperti ombak besar mendorong dirinya begitu kuat.

    Dengan wajah yang seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi, diam-diam mengakui kekuatan ilmu yang tinggi dari pemuda yang menjadi lawannya yang sebelumnya dianggap sebagai pemuda biasa yang baru mengenal sejurus dua jurus ilmu kanuragan.

    Terlihat Bagus Kemuning bersedakep tangan.

    Tiba-tiba saja tubuhnya telah menghilang dari pandangan.

    Terdengar sebuah tawa yang bergema dari segala penjuru. Suara itu dilambara tenaga dalam yang tinggi terasa menghimpit dan menyesakkan isi rongga dada.Beberapa orang terlihat berlari menjauh sambil memegangi dadanya yang sesak.

    “Bagus Kemuning, mereka tidak bersalah, hadapilah aku”, berkata Mahesa Amping yang diam-diam melambari kekuatan pada kata-katanya berusaha meredam kekuatan Bagus Kemuning serta terus memandang kemanapun bagus kemuning bergerak, sebagai seorang yang punya bakat panggraita dan kekuatan bathin yang tinggi, ilmu aji panglimunan Bagus Kemuning tidak banyak berguna dihadapan Mahesa Amping.

    “Ilmu Aji Panglimunan”, berkata Datuk Belang yang melihat Bagus Kemuning menghilang dari pandangan matanya ada rasa khawatir terhadap Mahesa Amping.

    Sebagaimana Datuk Belang, semua mata menahan napas tercekam menanti apa yang akan terjadi.

    Tiba-tiba saja ratusan mata terbelalak tidak percaya apa yang dilihatnya.

    • mengapa orang-orang terbelalak matanya ????

      Istirochat dulu dech….besok jawabnya,
      hiks,

      • okelah kalau begitu
        saya juga sudah mengantuk

        • “Sepertinya kemarahannya itu dicurahkan dalam serangan yang berlapis ganda lebih menggrigiskan bergulung menyerang Mahesa Amping.”
          Ki …….menggrigiskan……itu apa ?

          • Meringgis Kepedesan ki……hikss,

          • menggiriskan kalee…..
            giris = takut
            menggiriskan = menakutkan
            tetapi SHM sepertinya sering menggunakan istilah “nggegirisi” (Bahasa Jawa)

  5. Wah P. Dalang sudah pintar membuat penontong deg-degan.
    Sugeng Enjang, kadang sedoyo.
    Matur nuwun Ki Dalang Kompor

  6. 181…..KamsIaaaaaaa,

    • Hehehehe…bareng lagi…
      Ki Gunawan Kamsiaaaaaaa yo

      • Hehehehe…terlambat lagi…
        NONA Kamsiaaaaaaa yoooo

  7. kaaaaaaammmmmssssiiiiiiiaaaaa

  8. Sebagaimana Raden Wijaya, Mahesa Amping diam-diam telah mengembangkan ilmunya dalam setiap kesempatan. Mengungkap segala kekuatan yang dapat diungkapkan dalam bentuk kekuatan baru. Dengan bakat lahir dan berpadunya pengenalan atas alam kecil dan alam besar, Mehesa Amping dapat memecahkan penguasaannya atas pikiran orang-orang disekitarnya. Mahesa Amping telah menguasai sebuah ilmu sejenis ilmu aji kawah ari-ari.

    “Manusia dewa !!”, berkata berbarengan beberapa orang yang melihat Mahesa Amping berdiri tegap berjejer menjadi lima sosok yang mirip dengan mata yang tajam menatap Bagus Kemuning yang tidak terlihat oleh orang-orang tapi dapat dilihat jelas oleh Mahesa Amping.

    “Ilmu iblis !!”, berkata Bagus Kemuning yang merasa kecewa ilmu aji panglimunannya tidak berguna dihadapan Mahesa Amping. Terlihat tangannya menarik sebuah keris kecil yang diletakkan sebagai pengikat rambutnya.

    Bagus Kemuning terlihat demikian angkernya, ditangannya menggenggam sebuah keris dengan rambut yang dibiarkannya jatus terurai.

    “Keris Siginjai yang belum disempurnakan”, berkata Datuk Belang menatap keris ditangan Bagus Kemuning sebagai pusaka gurunya yang telah lama menghilang.

    Pada saat itu Bagus Kemuning telah begitu putus asa. Lima wujud Mahesa Amping telah mengelilinginya.

    Bagus Kemuning tidak dapat berpikir jernih lagi. Tanpa banyak perhitungan telah menyerang salah satu dari wujud Mahesa Amping.

    Serangan itu begitu cepat, salah satu wujud Mahesa Amping tidak dapat mengelak.
    Sebuah tikaman langsung menembus salah satu wujud Mahesa Amping, darah segar langsung bersembur dari perut yang terkoyak.

    “siapapun yang terkena keris ini tidak akan bernapas panjang”, berkata Bagus Kemuning sambil tertawa panjang.

    Tapi tawanya hanya sebentar, Mahesa Amping yang terkoyak perutnya sudah kembali seperti semula, tidak ada satupun gorsan bekas luka diperutnya.
    Ternyata yang dilukai oleh Bagus Kemuning adalah sosok semu dari Mahesa Amping.

    Kembali lima sosok Mahesa Amping telah mengepungnya, satu persatu dan kadang bersamaan telah menyerang Bagus Kemuning yang masih terus berusaha mengimbangi.

    Bagus Kemuning memang tidak dapat membedakan mana Mahesa Amping yang asli maupun yang hanya bayangan semunya.

    Hingga pada sebuah serangan Bagus kemuning tidak mampu mengelak sebuah tendangan dari samping tubuhnya.

    Bukkk…!!

    • Kamsiaaaaaaa !!!

  9. ternyata……buk,bak,bik, buk suara anak gue nyantap kolak pisang….
    ciatttttt…!! langsung terbang kemeja makan takut kehabisan kolak pisang…………

    • uah…..
      karena kekenyangan Ki Kompor jadi mengantuk
      tak terasa, sampai jam begini masih belum bangun
      walah…., terus lanjutannya piye?
      hadu…….

  10. Sebuah tendangan tepat dipinggang telah melempar tubuh bagus Kemuning jatuh beberapa langkah.

    Bagus kemuning seperti patah arang dan gelap mata bangkit kembali . Kekuatan wadak dan pikirannya sudah tidak lagi selaras langsung menyerang kembali dengan garang.

    Kembali Bagus Kemuning dengan kerisnya melayang kesana kemari mengimbangi serangan lima wujud Mahesa Amping.

    Lima wujud Mahesa Amping seperti telah diatur menyerang seperti berantai,

    Plakkk…!!!

    Sebuah tamparan kembali melempar tubuh Bagus Kemuning beberapa langkah, kali ini Bagus Kemuning lama belum juga bangkit kembali.

    Mahesa Amping merasa kasihan dengan keadaan Bagus Kemuning yang sudah tidak berdaya putus asa. Diam-diam telah mengembalikan wujudnya dalam satu sosok wujud sebenarnya.

    Terlihat perlahan Bagus Kemuning bangkit kembali memandang Mahesa Amping dengan mata sayu.

    Tiba-tiba saja Wajah Mahesa Amping seperti berubah tegang. Sebagai seorang yang terlahir membawa bakat dapat melihat apa yang terjadi didepannya, Mahesa Amping sepertinya telah mengetahui apa yang akan dilakukan Bagus kemuning terhadapnya.

    Wussssss !!!

    Sebuah keris kecil dilempat dengan tenaga yang terlatih dan kuat meluncur kearah Mahesa Amping.
    Itulah yang sebelumnya sudah terlintas didalam benak pikiran Mahesa Amping sebelum hal-itu benar-benar terjadi.

    Seperti sebuah sihir, keris kecil itu berhenti diudara diantara pertengahan antara Mahesa Amping dan Bagus Kemuning.

    Ternyata Mahesa Amping telah menahan keris itu dengan kekuatan sorot matanya !!!!!

    “Manusia Dewa”, berkata beberapa orang yang seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri.

    “Apakah aku tengah bermimpi”, berkata salah seorang kepada temannya.

    “Aku baru saja mencubit pahaku sendiri, untuk meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi”, berkata kawannya yang berdiri dekat dengan orang yang berkata tengah bermimpi.

    Mahesa Amping telah kembali membuat semua orang merasa tengah bermimpi ketika keris itu berbalik arah mengejar Bagus kemuning.

    Kemanapun bagus kemuning menghindar, keris itu terus memburunya.

    • keenakan baca hikayat Gajahmada, lupa ngirim rontal,
      hiks,

      • hadu…
        ternyata saya yang malah ketiduran
        he he he …
        kamsiiaaaa…………………..

    • Sekali lagi…… senjata makan tuan.
      Jangan diberi ampun nanti nglimpe lagi (tetapi apa ya bahasa Indonesianya nglimpe?)

      • mungkin maksudnye….dikasih ati minta empela,
        hiks,

        • He..he…

  11. Selamat malam,
    Selamat tidur,
    Mimpi ketemu dara petak dan dara jingga…..konon katenye…betis dara petak dan dara jingga mulus bangetttt…sampe-sampe laler enggak berani hinggap dikakinye…..saking mulusnye engkali…!!!

  12. Assalamu’alaikum,
    buru2 ach takut keduluan ma Ki Gunawan…
    Selamat pagi ki Kompor yang selalu menghangatkan
    hari dengan ceritanya yang maknyus….
    Hiksss…

    • Wa’alaikusalam,

      nomer 2 masuk padepokan pak DALANG
      selamat pagi NON, selamat pagi semua…

  13. Walaikumsalam wr. wb.

    gimana puasanya Miss Mona?
    lancar?

    • Alhamdulillah Ki Honggo…
      njenengan piye?

  14. SELAMAT PAGI SEMUA SAHABAT.

  15. Terima kasih tendangannya Ki Kompor.

  16. ki GEMBLEH wes 2 minggu lebih ra HADIR
    ning paseban…..lagi ning endi ki,

    dadi panitiA mudik lebaran-kah atoe…..!!??

  17. selamat siang ,matur nuwun

  18. “Hentikan, aku menyerah!!”, berkata Bagus Kemuning yang sudah putus asa dan tahu betul keampuhan dari kerisnya yang penuh mengandung racun yang amat keras.

    Dengan kekuatan sorat matanya, keris itu langsung melayang dan jatuh didalam gemgaman tangan Mahesa Amping.

    “Aku telah memenangkan pikiranku sendiri untuk tidak menjadi pembunuh”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri sambil menarik napas panjang dan melepaskannya.
    Langit diatas alun-aluan pada saat itu sepertinya telah begitu teduh. Matahari telah tergelincir jauh keujung barat bersembunyi dibalik awan tebal.
    Terlihat beberapa prajurit telah menggiring Bagus kemuning, mayat Raja Gelangpun sudah sudah disingkirkan untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.
    “Guruku berpesan untuk segera menyempurnakan keris ini dengan memandikannya di tujuh muara”, berkata Datuk Belang ketika menerima kembali keris pusaka gurunya dari tangan Mahesa Amping.
    Seorang kepercayaan raja terlihat naik keatas panggung memberikan sebuah pengumuman bahwa pertandingan sayembara akan dilanjutkan esok harinya.

    “Ampun tuanku Baginda, hamba berkenan untuk kembali kerumah”, berkata Datuk Belang mewakili rombongannya kembali ketempat tinggalnya.

    “Terima kasih tak terhingga atas segala yang telah kalian lakukan bagi kedamaian nagari ini”, berkata Baginda Raja melepas kepergian Datuk Belang dan rombongannya.

    “Besok kutunggu dirimu diatas panggung sandiwara”, berkata Ragasuci kepada Pranjaya.

    “Ternyata Tuanku Ragasuci adalah seorang pemain sandiwara yang baik”, berkata Pranjaya.

    Alun-alun istana telah kembali dalam kesepiannya ketika beberapa orang terakhir telah meninggalkannya. Tanah lapang itu seperti wajah perawan yang ditinggalkan kekasih tercinta menunggu penuh kesetiaan dalam penantian pergantian hari, saat ini dan dihari esok diujung waktu senja.

    Senjapun akhirnya telah datang jua sebagai batas waktu diantara kebenderangan dan kegelapan. Langit malampun perlahan merayapi bumi yang lelah, menyembunyikannya dalam telekung genggaman yang kerap. Sang putri malampun akhirnya datang menjenguk bumi yang telah terlelap tertidur dalam genggaman langit malam bersama kerlap-kerlip jutaan bintang.

    Bumi Tanah Melayu memang sudah tertidur. Tapi dua orang gadis jelita masih asyik berbincang diatas peraduannya.

    “Ayumas harus dapat memilih diantara keduanya”, berkata Dara Jingga kepada Kakanya Dara Petak.

    “Itulah yang kakak tidak dapat putuskan, keduanya sama-sama begitu rupawan”, berkata Dara Petak mengungkap isi hatinya kepada adiknya Dara Jingga.

    • mosok berantem terus….sekali-kali ngisi balada cinta biar cerita lengkap kayak rujak, ade asem,manis, pedas,asin.

      hiks,

      • Setujuuuu ……
        Ayo lanjutkan Ki Kompor !!

  19. Ikut P. Dalang aja deh

  20. “Bagaimana bila aku yang memilih untuk ayumas ?”, berkata Dara Jingga menggoda

    “Siapa yang akan Dimas Ayu pilihkan untukku ?”, berkata Dara Petak

    “Aku memilih pemuda yang mengalahkan Raja Belang untuk Ayumas”, berkata Dara Jingga

    “Mengapa kamu pilihkan dia untukku ?”, bertanya Dara Petak

    “Karena aku menginginkan pemuda yang satunya lagi”, berkata Dara Jingga dengan mata terbuka tersenyum memandang Dara Petak.

    “Itu namanya ada udang dibalik batu”, berkata Dara Petak sambil mencubit adiknya.

    Demikianlah, pembicaraan Dara Petak dan Dara Jingga mewakili pembicaraan di hampir penjuru Tanah Melayu sebagai kata-kata pengantar tidur mereka atas kejadian disiang hari yang menghebohkan. Sebuah peristiwa yang tidak mungkin dapat mereka lupakan. Terutama cerita tentang manusia dewa, sebuah nama yang mereka berikan sendiri untuk seorang yang menurut mereka telah mempunyai ilmu yang maha sakti, untuk seorang pemuda pengembara, ksatria dari Singasari yang tidak lain adalah Mahesa Amping, seorang pemuda sederhana yang terlahir dari rahim orang biasa. Bukan dari keluarga istana, apalagi anak seorang Dewa !!.
    Mahesa Amping masih juga tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya masih menerawang ketika tangannya menggenggam keris itu. Ada perasaan yang aneh telah membius jiwanya, perasaan atas kehausan segala pujian, kehausan atas sebuah kekuasaan, harta dan wanita. Tiba-tiba terbayang tiga wajah gadis jelita yang saat itu berada didekat Baginda Raja.

    “Apakah karena perbawa keris itu, atau gejolak dihatiku sendiri ?”, bertanya Mahesa Amping kepada dirinya sendiri.

    Sampai jauh malam Mahesa Amping masih belum juga menerka gejolak yang ada didalam dirinya.

    “Apakah ini yang dinamakan cinta ?”, bertanya Mahesa Amping kepada dirinya sendiri.

    Tiba-tiba lamunannya jauh ke Padepokan Bajra Seta, betapa senangnya bila diajak bersama mengantar beberapa barang senjata dan alat pertanian yang akan dijual dipasar. Disana ia akan bertemu dengan seorang putri pedagang kelontong yang berparas cantik bernama Rasmi yang akan memintanya singgah.

    Diatas pembaringannya Mahesa Amping duduk bersila dalam sikap sempurna, melihat dirinya sendiri, melihat gejolak perasaannya sendiri dan terus masuk dalam keheningan dan kehampaan dalam tatapan fana.Sebuah asap hitam tipis keluar dari ujung kepalanya. Terlihat Mahesa Amping menarik nafas panjang sepertinya baru saja keluar dari sebuah himpitan berat yang menyesakkan rongga dadanya.

    “Hawa sesat keris itu ternyata diam-diam telah mengendap didalam lubuk hatiku”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri yang dapat memaklumi sikap dan perbuatan Bagus Kemuning sangat berhubungan erat berasal dari pengaruh keris Siginjai yang belum disempurnakan, pengaruh hawa sesatnya telah mengakar membentuk jiwanya yang keruh.

    • Kamsiaaaaa………!!!

      • matur suwun wis diwakili

  21. Malam memang telah sedikit menyisakan waktunya berlalu menjauh pergi kebelahan bumi lain ditandai dengan suara kokok ayam jantan sayup-sayup jauh memanggil sang pagi. Semburat cahaya merah bersembul dibalik cakrawala diujung timur bumi. Namun cahayanya masih belum menghangatkan burung-burung kecil yang telah lama bersembunyi dibalik sayap dan bulunya dari dinginnya malam.

    Dipagi yang masih bening itu Mahesa Amping sudah terbangun keluar dari biliknya menuju Pangung Pendapa. Ternyata Datuk Belang sudah ada di pendapa duduk seorang diri.

    “Apakah Datuk Belang semalaman duduk disini ?”, berkata Mahesa Amping.
    Datuk Belang tersenyum mendengar seloroh Mahesa Amping.”Aku hanya lebih dulu sedikit dari kehadiranmu”, berkata Datuk Belang.

    “Kebetulan sekali, aku ingin menanyakan tentang pengaruh keris Siginjai itu ?”berkata Mahesa Amping.

    “Keris itu masih memilik hawa kotor yang harus segera disempurnakan, akan berpengaruh buruk siapapun yang memilikinya”, berkata Datuk Belang

    “Sebagaimana telah mempengaruhi jiwa Bagus Kemuning”Berkata Mahesa Amping.

    “Aku akan bercerita sedikit tentang rahasia Keri situ”, berkata Datuk Belang sambil menarik napas perlahan, sepertinya tengah mengumpulkan beberapa kenangan yang sudah lama berlalu.

    “keris ini pada mulanya sebuah pesanan seorang Raja kepada seorang Empu di Tanah jawa yang sangat ahli membuat sebuah keris bertuah. Entah kenapa Raja itu tidak pernah datang kembali menanyakan pesanannya itu. Hingga pada suatu waktu Empu itu telah bertemu dengan guruku yang masih muda belia. Empu itu menitipkan keris itu kepada guruku, memintanya untuk menyempurnakannya dengan memandikannya di tujuh muara.Guruku pada saat itu memang telah memenuhi syarat sebagai orang yang dapat menyempurnakan keris itu, dimana syarat itu hanya dapat dilakukan oleh seorang pemuda yang masih perjaka.Guruku bersedia melakukan tugas itu”, Datuk Belang berhenti sebentar menarik napasnya dalam-dalam.

    “Namun dalam perjalannya”, berkata datuk Belang melanjutkan ceritanya. “Guruku telah jatuh cinta kepada seorang putri kepala suku disebuah pedalaman tanah Melayu. Sampai akhirnya guruku memperistrinya. Tapi kemalangan telah menimpa keluarga guruku juga mertuanya. Peperangan antara para ketua suku telah menewaskan istri dan mertuanya.Dalam kesedihan itu barulah guruku menyadari kesalahannya, telah membawa sebuah keris yang belum disempurnakan, melalaikan tugas dan janjinya”, Datuk Belang berhenti sebentar.

    “Ketika bertemu denganku, keris itu masih belum juga disempurnakan”, berkata datuk Belang.

    “Bukankah Datuk pada saat itu masih perjaka ?”, bertanya Mahesa Amping yang dibalas dengan sebuah senyuman.

    “Ditempat asalku, ketika seorang pemuda akan pergi merantau akan didahului dengan upacara pernikahan muda”, berkata Datuk Belang masih dengan menampakkan senyumnya.

    “Untuk menawarkan hawa jahatnya, keris itu oleh guruku di tanam dibawah sebuah blumbang mata air yang jernih”, berkata Datuk Belang melanjutkan ceritanya.”Guruku telah berpesan kepadaku untuk mencari seorang yang memenuhi syarat untuk dapat menyempurnakannya”, berkata datuk Belang. “dan hari ini aku telah mendapatkan orang itu”.

    “Siapakah orang itu ?”, bertanya Mahesa Amping seperti merasa lega ada orang yang telah didapatkan oleh Datuk belang untuk menyempurnakan keris itu yang sudah dirasakannya sendiri dapat berpengaruh jahat kepada siapapun yang memegangnya, apalagi memilikinya.

    “Kamu Mahesa Amping”, berkata Datuk belang kepada Mahesa Amping yang terperanjat tidak menyangka orang yang dimaksud Datuk Belang adalah dirinya sendiri.

    “Aku melihat hanya kamulah yang mampu menyempurnakan keris itu”, berkata Datuk Belang. “Keris itu terbuat dari campura bahan kayupilihan, nikel, emas dan besi yang keras. Ketika berada dalam genggamanmu, cahaya dalam keris itu sepertinya telah menjadi redup”, berkata datu belang dengan wajah penuh pengharapan kepada Mahesa Amping.

    • mampukah Mahesa Amping melaksanakan tugas menyempurnakan keris siginjai itu ?????
      hiks,

      • mampu……

      • Pasti ISOH….

  22. Ya mampu lah, kalau nggak bisa kan tinggal dipelotoi pasti jin yang ada dalam keris nurut. he..he.

    Sugeng Enjang.

    • ya pasti bisa dong, kalau tidak , tinggal minta tolong pak dalang, bereees, kaaamssiiiiiiaaa

    • Mandikan di Ciliwung saja pasti sempurna

  23. Sementara itu sang Surya sudah muncul dari ujung timur bumi. Cahayanya memancar memberikan kehangatan. Burung-burung kecil mulai berani menyembulkan kepalanya yang semalaman bersembunyi dibalik bulunya yang lembut dari dinginnya malam. Terlihat beberapa burung kecil berwarna-warni berloncat dari ranting keranting memperdengarkan ragam kicau suara pagi.

    Pranjaya, Lawe, Argalanang dan Raden Wijaya telah bergabung di panggung pendapa menikmati hidangan pagi yang hangat.

    “Pagi yang cerah”, berkata Mahesa Amping sebagai orang terakhir yang turun dari rumah panggung akan berangkat ke alun-alun istana.

    Alun-alun istana pagi itu sudah dipenuhi orang-orang yang dengan tidak sabar lagi menunggu pertandingan terakhir yang menentukan.

    Mahesa Amping, Lawe, Argalanang dan Raden Wijaya mendapatkan kehormatan duduk di panggung sebagai tamu Baginda Raja.

    “Dikampungku belum pernah aku duduk di tajuk kehormatan seperti ini”, berkata Argalanang sambil memandang panggung terbuka dengan perasaan senangnya.

    Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya sepertinya tidak mendengarkan celoteh Argalanang, karena tatapan mata mereka sedang terperangkap keujung deretan, tepatnya kepada tiga orang gadis yang begitu jelita duduk berjajar dengan Baginda Raja.

    “Kulihat mata kalian telah berselingkuh”, berkata Argalanang masih menatap lurus kearah panggung terbuka.

    “Hanya sedikit bersedekah mata, agar tidak kantuk”, berkata Lawe sambil mentowel pinggang Argalanang.

    Gong !!!

    Sebuah bende terdengar sebagai tanda pertandingan akan segera dimulai.
    Terlihat Pranjaya dan Ragasuci telah naik kepanggung.

    Seorang penengah, seperti biasa menyampaikan beberapa hal yang menyangkut segala aturan yang mengikat diatas panggung pertandingan itu.

    Gong….!!!!!

    “Hati-hati, sekarang aku tidak bersandiwara lagi”, berkata Ragasuci siap melakukan serangannya.

    “Aku telah siap”, berkata Pranjaya menyunggingkan sebuah senyuman.

    Maka terjadilah sebuah pertempuran yang seru antara Pranjaya dan Ragasuci. Mereka bertempur laksana dua ekor harimau saling menerkam dan menerjang.

  24. Gong….!!!!!
    puasa hari ke 18 sudah dimulai
    kamsiaaa……………..

  25. Waah dah perang tanding lagi to, la apa Pranjaya dan Ragasuci nggak puasa to Ki

  26. HADU telat…..ada beberapa RONTAL yang
    belom cantrik siNAU-i,

    KAMSIAaaaa pak DALANG,

    • selamat pagi kadang padepokan ki MAHESA KOMPOR

    • Assalamu’alaikum, selamat pagi Ki YuPram..
      Met ULTAH yo..

      • Wa’alaikumsalam, selamat pagi juga Non…

        met ULTAH juga non….hikss,

        • Wei, aku mah masih lama kalee…

        • Sugeng Siang Ki YuPram, Miss Nona soho Sanak Kadang Sedoyo…
          Nderek Absen Siang lan ngaturaken sugeng tanggap Warso dumateng Ki YP…

          • @ ki LD…..matur nuwun,

  27. selamat siang, terima kasih

  28. waduh puanase pol tenan
    Sugeng Siang

  29. komen 232…..ndhisiki pak Satpam,

    yang ini buat ki Gembleh yang lagi PUASA komen….hikss,
    sugeng dalu kadang padepokan ki MAHESA KOMPOR

    • mudah-mudahan Ki Gembleh sehat-sehat saja.
      Tidak ada kabarnya lendut benter luber kok
      he he he ….

      • Biasanya kalau menjelang lebaran Ki Gembleh sekeluarga tamasya. Seperti lebaran tahun yang lalu, 2 minggu nginap di hotel Yogyakarta menjelajah DIY sampai hafal daerah Pingit, Rotowijayan, Kaliurang dan Kali Code.
        Rak injih makaten to Ki Gembleh? Panjenengan piyambak lho ingkang ngendiko.

    • Ndherek ngaturaken sugeng tanggap warso Ki Yudha, mugi-mugi panjang yuswo, tansah sehat tuwin kathah rejeki, Amin.
      Lha tumpengipun pundi?

  30. Selamat malam, nunggu wedarannya Ki Kompor.

  31. hup…baru pulang….
    untung jakarta – tangerang enggak macet
    Selamat malam kadank sedoyo

    • hadu….
      sudah kadung deg-degan, gak tahunya baru pengumuman

      ya sudah, Pak Dhalangnya istirahat dulu
      wedarannya bisa ditunggu untuk teman makan sahur
      he he he…..

      • Tetapi kalau sudah dapat ilham dan mau wedar sekarang juga lebih baguuuussss………

  32. “Luar biasa, tiga hari yang lalu seranganmu tidak secepat ini”, berkata Ragasuci sambil menghindar dari tendangan beruntun yang dilancarkan Pranjaya.

    “Jangan memuji, nanti aku bisa lupa daratan”, berkata Pranjaya kembali melakukan serangan menerjang dengan pukulan bertubi-tubi.

    Demikianlah mereka bertarung dengan begitu serunya, seratus jurus telah berlalu, tidak juga terlihat ada yang surut tenaganya. Bahkan sepertinya semakin lama tenaga yang keluar semakin begitu dahsyat, mereka telah mengeluarkan kemampuan tenaga diluat wadagnya.

    Wuuuut…!!

    Sebuah sambaran tangan dari Pranjaya penuh tenaga lewat sedikit dari kepala Ragasuci yang dengan cepat mengelak langsung menyerang dengan sebuah tendangan melingkar.

    “Kecepatan dan tenaga mereka seimbang”, berkata Raden Wijaya yang menyaksikan pertempuran itu tanpa berkedip sedikitpun.

    “Tapi Ragasuci punya banyak muslihat”, berkata Mahesa Amping ikut menilai pertempuran antara Ragasuci dan Pranjaya.

    “Muslihat apa yang dialkukan Ragasuci”, bertanya Lawe tersentuh dengan penilaiaan Mahesa Amping.

    “Pranjaya sudah terpancing jebakan Ragasuci”, berkata Mahesa Amping. “Ragasuci menunggu tenaga Pranjaya terkuras”, berkata Mahesa Amping menjelaskan.

    Apa yang dikatakan Mahesa Amping memang tidak meleset jauh, didalam pertempuran itu memang Ragasuci sengaja lebih banyak diserang agar tenaga Pranjaya cepat terkuras.

    Akhirnya yang ditunggu Ragasuci datang juga, dilihatnya Pranjaya sudah bermandikan keringat. Begitu deras keringat mengalir membasahi wajah dan tubuhnya.

    “Tahan seranganku”, berkata Ragasuci yang telah memperhitungkan segala gerakannya menyerang secara beruntun. Dengan perhitungan yang tepat kemana langkah Pranjaya, sebuah tamparan yang cepat lewat punggung tangannya yang terbuka berhasil menghantam dda Pranjaya.

    Paaaakkk….!!!!

    Pranjaya terhuyung terhantam tamparan punggung tangan terbuka Ragasuci yang telah dilambari tenaga yang kuat tepat didadanya.

    • ciatttttt….satu lontar langsung terbang melayang masuk gandhok,

      hiks,

  33. Ragasuci tidak mengejar dan menyusul Pranjaya, dibiarkan Pranjaya berdiri tegak mengambil napas dan kuda-kudanya kembali.

    Aum…!!!!

    Terdengan suara geram harimau besar dari tenggorokan Pranjaya. Itulah tanda awal bahwa Pranjaya telah mengeluarkan pusaka ilmunya “Harimau marah menggulung prahara”.

    Ragasuci menjadi lebih berhati-hati lagi, diam-diam telah mengendapkan nalar budinya mengetrapkan kekuatan dirinya yang tersembunyi bersiap dengan pusaka ilmu simpanannya, “harimau sakti melindungi patung Budha”.

    Siapapun yang menyaksikan dua pusaka ilmu itu seperti tidak dapat berkedip. Pranjaya menyerang begitu ganasnya seperti badai prahara bergulung-gulung tiada henti menyerang Ragasuci.

    Sementara Ragasuci begitu indahnya tidak pernah keluar dari garis lingkaran langkahnya dan selalu lepas keluar dari terjangan dan hantaman pukulan dan tendangan Pranjaya yang datang bertubi-tubi.

    “Ketika berlatih denganku, aku berlindung dibalik kecepatanku”, berkata Raden Wijaya yang sudah pernah merasakan jurus pusaka Pranjaya yang dahsyat itu.

    “Sementara Ragasuci berlindung dibalik ilmu langkahnya yang indah”, berkata Mahesa Amping yang mengagumi gerak langkah Ragasuci yang indah, terpusat dalam satu lingkaran bertahan. Sebuah jurus bertahan yang indah yang baru dilihat oleh Mahesa Amping selama dalam pengembaraannya.

    Ketika semua mata tidak pernah putus dan berkedip sedikitpun menyaksikan sebuah pertempuran yang begitu mendebarkan, sebuah mata yang indah sekali-dua kali mencoba mencuri pandang. Mata yang indah itu berasal dari seorang gadis jelita Dara Jingga yang diam-diam telah jatuh hati kepada seorang pemuda yang tidak lain adalah Mahesa Amping

    “Akhirnya aku dapat melihat pemuda gagah itu lebih jelas”berbisik Dara Jingga kepada kakaknya Dara Petak.

    “Hus..!”, hanya itu tanggapan Dara Petak atas bisikan Dara jingga sambil meletakkan tangannya diujung bibirnya yang mungil.

  34. wuttt…!!
    sebuah lontar terbang diatas kepala Baginda Raja Melayu.

    Tap..!!lontar itu lansung disambar dengan tangannya.
    Baginda Raja langsung membaca isi lontar itu :

    YTH Bagindo Rajo Yang Dijunjuang…..
    Kapan ente bikin sayembara untuk dua dara gadismu ?
    Ane mau ikutan lomba, kale-kalei aje bisa menang.

    Wassalam,

    KOMPOR MELEDUK

    • Dibaca nanti sajalah, menjelang sahur. Tidur dulu sebentar.
      Kamsiaaaaaaa….. !!

    • Blaaarrr…!!!!
      kompornya jadi meleduk, he he he ….
      kamsiaaa………………..

  35. Blueeduuuuug, wah suara meledaknya kompor kok beda dengan yang di tempat saya.

    he x3 .
    kamsia juga Ki Dalang.
    Sugeng Enjang

  36. Sugeng enjing.

  37. Assalamu’alaikum, selamat pagi…
    Paaak, Wuuut, Deess, Aum, Plak, Wus wus, set set, Kamsiaaaaa yooooooooooo
    xixixixi

    • RONTAL kiriman pak DALANG wes mulai dipahami NONA,
      sebentar lagi bisa “nYAMBUNG” ayake…..hikss, KAMSIAaa

      • Tau aja kalo bentar lagi mau nyambung….
        ngebut nech, biar bisa nyambung ma
        Ki Dalang Kompor “Sang Penghangat”
        hehehe
        Kamsiaaaaaa….

        • moga2 kali ini ki KOMPOR gak MELEDUK…..hikss

  38. kaamssssiiiaaaaaa

  39. duh…!!!!
    Mohon maaf…
    Malam sabtu sama malam minggu ane ada keperluan mendadak harus ke cikarang (wong jambi bilang Batangkarang kalee)

    Ane janji…malem senennya pasti abis-abisan sampe sahur!!!

    • nggih Ki, monggo….

      • selamat bertugas Ki…..LANCAR di perjalanan, kalo macet
        sebut nama cantrik 5x dijaMIN tambah RuWEt

        hikss, yang ini termasuk SpPd ki….semoga sukses selalu

  40. monggo Ki, sugeng tindak

  41. hati2 di jalan Ki, nggak usah janji, kami sabar menunggu, yang penting semoga urusan Ki Dalang diberi kemudahan dan selamat oleh Allah Yang Maha Mengatur urusan kita.

  42. Karena Ki Dalang lagi cuti 2 hari, maka saya coba menyampaikan kuliah subuh yang saya comot dari Republika on line:

    Mari Berpuasa Lahir dan Batin
    Kamis, 04 Agustus 2011 10:19 WIB
    Oleh Dr A Ilyas Ismail

    Seperti dimaklumi, puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa sebagai proses penyegaran kembali (rejuvenation), baik fisik, mental, maupun spiritual. Ibadah ini bila dilaksanakan dengan benar dan dengan sikap batin yang kuat serta tulus karena Allah (imanan wa ihtisaban), maka ia dapat mengantar pelakunya meraih derajat takwa. (QS Al-Baqarah [2]: 183).

    Namun, untuk mencapai kualitas ini, seorang muslim mesti menjalankan puasa, tidak saja puasa lahir, tetapi juga puasa batin. Puasa lahir, seperti diajarkan oleh para ahli fikih, ialah menahan diri (al-imsak) dari makan dan minum, serta melakukan hubungan suami-isteri dari terbit fajar hingga matahari terbenam dengan niat karena Allah.

    Sedangkan puasa batin, seperti diajarkan oleh para sufi, ialah menahan diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah, bahkan menahan diri dari apa pun yang akan memalingkan manusia dari mengingat Allah. Horizon tertinggi dari puasa batin (internal fasting), menurut Imam Ghazali, juga menurut Kess Waaijman, dalam Spirituality: form, foundation, method (2002), adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Yang Terkasih (God is the Beloved One). Puasa batin mengantar manusia mencapai esensi Islam, yaitu berserah diri secara total kepada Allah SWT (total surrender to god).

    Dalam buku Asrar al-Shaum, al-Ghazali menetapkan enam rukun yang bersifat moral dan spiritual, agar puasa batin dapat mencapai sasarannya, yaitu sah (al-shihhah) dan diterima Allah (al-maqbul). Pertama, mensucikan pandangan (shaum al-bashar) dari segala hal yang dilarang oleh Allah. Pandangan itu berbahaya karena ia seringkali menjadi titik awal keburukan. Kata Nabi, pandangan itu merupakan salah satu anak panah Iblis (sahmun min sihami Iblis). (HR Hakim dari Hudzaifah ibn al-Yaman).

    Kedua, menyucikan lisan atau perkataan (shaum al-lisan) dari dusta, gosip, dan adu domba. “Jangan berkata kotor dan jangan berbuat jahil.” (HR Bukahari dan Muslim). Orang yang berpuasa, demikian al-Ghazali, lebih baik diam (al-sukut), lalu banyak zikir, dan baca Alquran.

    Ketiga, menyucikan pendengaran alias tutup telinga (shaum al-sam`) dari perkatan dusta dan kebohongan. Orang yang mendengar kebohongan sama buruknya dengan orang yang mengatakannya. Dalam Alquran, pendengar kebohongan disamakan dengan pemakan riba atau suap (QS al-Maidah [5]: 42 dan 63).

    Keempat, menyucikan anggota tubuh yang lain (shaum baqiyat al-jawarih), seperti tangan, kaki, dan organ tubuh yang lain, serta mensucikan diri dari makan dan minum barang haram. Kelima, mengurangi makan yang terlalu kenyang. Sebab, hal demikian bertentangan dengan salah satu tujuan puasa, yaitu melepaskan diri dari kendali syahwat perut. Keenam, cemas, tetapi tetap penuh harap (optimistis) bahwa ibadah puasa yang dilakukan diterima oleh Allah SWT.

    Semoga kita tak hanya puasa lahir, tetapi juga puasa batin. Dengan begitu, puasa betul-betul menjadi penyembuh yang cespleng (infallible remedy) untuk kebugaran kita, baik fisik, psikis, maupun mental dan spiritual. Wallahu a`lam

    • matur suwun Ki Honggo

  43. 260….!!!

  44. 10 hari terakhir untuk i’tiqaf.
    Monggo kadang sedoyo mugi kito tansah nyelaki dumateng ngarasaning “Allah” ingkang murbeng gesang.

  45. JAMAAAAAAAAAAH,
    OH JAMAAAAAAAAAAAAAH,
    ALHAMDULILLAH

    Kamsia Ki Honggopati, mugi-mugi kita diberi kekuatan dapat melaksanakan puasa lahir dan bathin.AMIN.

  46. pak DALANGe sudah kembali dari perjalanan DINASe,
    selamat datang…..welkame ning padepokan,

    mandi dulu ki, bau wangine biar hilang…..hikss, 🙂 🙂 🙂
    cantrik2 SABAR menunggu,

  47. Nafas Pranjaya sepertinya telah memburu, keringat telah membasahi wajah dan tubuhnya. Itulah yang ditunggu Ragasuci. Sebagai seorang putra sekaligus murid yang dituntun langsung oleh Prabu Darmasiksa yang sekarang telah mengasingkan dirinya sebagai seorang Resiguru,kelebihan Ragasuci mulai terlihat selapis lebih berpengalaman dari Pranjaya.Setelah dengan sabar bertahan dengan langkah ajaibnya yang indah, Ragasuci dengan sebuah perhitungan yang masak mulai melancarkan serangan-serangan mendesak Pranjaya.

    Desssss !!!

    Sebuah tendangan tepat menerobos pertahanan Pranjaya yang langsung terlempar dipinggir panggung.Ragasuci memang ingin segera menyelesaikan pertempurannya. Dengan melakukan beberapa kali lompatan kayang telah mendekati Pranjaya.

    Bukkkkk !!!

    Sekali lagi sebuah pukulan tangan tergenggam keras masuk telak menghantam perut Pranjaya yang masih goyah berdiri dipinggir panggung.
    Pranjaya langsung terlempar keluar dari panggung !!!!!

    Gemuruh suara penonton menyaksikan akhir dari pertempuran yang begitu mendebarkan. Ragasuci telah menyelesaikannya dengan begitu indah.
    Perlahan Pranjaya bangkit berdiri naik kembali ke panggung terbuka.

    “Tuanku memang pantas mendapatkannya, aku mengaku kalah”, berkata Pranjaya setelah kembali keatas panggung sambil menyalami Ragasuci.

    “Aku juga senang bertanding dengan pemuda yang punya bakat yang luar biasa sepertimu”, berkata Ragasuci sambil memeluk erat Pranjaya.

    Sekali lagi penonton bergemuruh menyaksikan dua orang ksatria yang mempunyai kelapangan jiwa.Yang menang tidak merasa deksura, yang kalahpun tidak merasa direndahkan dan berkecil hati.

    Gong…!!!!

    Suara bende terdengar begitu keras bergema mengisi ruang alun-alun istana yang luas. Sayembara memperebutkan seorang putri raja telah berakhir.

    “Aku mengundang kalian besok menghadiri upacara mandi damai”, berkata Baginda Raja kepada Datuk Belang dan rombongannya yang telah memohon pamit meninggalkan alun-alun istana.

    Sementara itu sekilas sepasang mata indah kembali mencuri pandang. Kali ini pencuri itu tertangkap basah.

    Dua pasang mata telah bertemu.Dengan sedikit menganggukkan kepalanya, Mahesa Amping memberikan senyumannya yang dibalas Dara Jingga dengan senyuman pula penuh sejuta arti. Sebuah pertemuan antara dua hati yang terpaut debar yang sama.

    Percik api asmara telah menyala.

  48. Hari itu adalah hari yang penuh gemilang. Sebuah upacara yang besar telah diselenggarakan dengan penuh meriah, dalam suasana penuh suka cita.

    Puncak pesta itu adalah pelaksanaan uapacara mandi damai. Sebuah upacara yang bermakna bahwa calon pengantin dinyatakan telah syah menurut adat istiadat yang berlaku ditanah Melayu. Sebuah upacara pernikahan yang diawali dengan memandikan sepasang pengantin dengan bunga warna-warni yang diakhiri dengan bersembunyinya pengantin wanita diantara puluhan para wanita tua yang didandani mirip pengantin wanita. Tugas Pengantin pria mencari dengan benar pengantin aslinya.

    “Ragasuci akan cepat mendapatkan pengantin aslinya”, berkata Mahesa Amping yang ikut menyaksikan upacara mandi damai itu kepada Argalanang yang ada didekatnya.

    “Bagaimana kamu yakin akan hal itu ?”bertanya Argalanang yang ikut bingung menentukan dimana pengantin wanita bersembunyi.

    “Ragasuci akan menggunakan penciumannya”, berkata Mahesa Amping.

    Ternyata apa yang dikatakan Mahesa Amping memang benar, Ragasuci mencari pengantin wanita dengan penciumannya. Dengan mudah Dara Puspa yang bersembunyi diantara para ninik mamak telah ditemuinya.

    Seluruh orang yang menyaksikan upacara itu bersorak gembira, Ragasuci telah menemukan Pengantin wanitanya.

    “Kamu memang serba tahu, tapi untuk yang satu ini kamu ternyata begitu bodoh”, berkata Argalanang kepada Mahesa Amping yang selalu tepat memberikan setiap dugaan.

    “Untuk hal apa aku terlalu bodoh ?”, bertanya Mahesa Amping penasaran.

    “Kamu tidak mengetahui, ada seorang dara jelita selalu mencuri pandang kearahmu”, berkata Argalanang. “saat ini dirinya masih memandangimu”, berkata Argalanang sambil berbisik.
    Mahesa Amping segera menyebar pandangnya, ternyata apa yang dikatakan Argalanang memang benar, seorang dara jelita tengah memandangnya.

    Serrrrrr….!!!!

    Berdesir sebuah rasa yang penuh makna tapi tidak mudah diartikan oleh Mahesa Amping perasaan apa gerangan ketika matanya menangkap mata jelita itu.
    Dan dada Mahesa Amping berdegup lebih keras lagi manakala seorang dayang tua yang selalu berada didekat Dara jelita itu menghampiri dirinya.

    “Tuan putriku mengundang kisanak besok menemaninya bermain laying-layang hias ditepi pantai”, berkata dayang tua itu kepada Mahesa Amping dengan penuh hormat.”Anggukkan kepalamu sebagi tanda dirimu menerima undangan ini langsung kepada tuan putriku”.

  49. Sebagaimana yang diminta dayang tua itu, Mahesa Amping memberikan tanda anggukan kepalanya langsung kepada Dara Jelita yang masih menatapnya, sepertinya tengah menunggu.

    Dara jelita itu dari tempat yang jauh membalas anggukan kepala Mahesa Amping dengan dengan sebuah senyum yang tersembunyi dibalik saputangan sutra jingga diantara jemari tangannya.

    “Kebahagiaanku sepertinya menjadi begitu sempurna, menemukan keponakanku di negri orang”, berkata Ragasuci ketika menerima ucapan selamat dari Raden Wijaya.

    “Semoga kebahagian Pamanda selalu langgeng”, berkata Raden Wijaya sambil memeluk Ragasuci dengan perasaan haru bahagia.

    Demikianlah, upacara mandi damai telah dilanjutkan dengan sebuah jamuan besar sebagai ungkapan rasa syukur bahwa upacara pernikahan telah terlaksana dengan baik.

    Hari itu seluruh warga Tanah Melayu merayakan hari suka cita itu dengan perasaan penuh gembira dalam pesta pora penuh gemerlap sampai jauh diujung malam.

    “Terima kasih telah menemaniku dihari penuh kebahagiaan ini”, berkata Baginda Raja kepada Datuk Belang mewakili rombongannya ketika berpamit mohon diri.

    Dan putri malam masih tetap setia menjaga bumi yang sudah terpulas tertidur diperaduannya. Masih terlihat cahaya sang putri malam yang sudah tidak bulat lagi bersandar diujung atap panggung menara istana yang tinggi menjualang. Debur ombak pantai Tanah Melayu seperti nada irama abadi bersambut merdu seruling angin malam berdesir riuh membelai daun-daun pinang seperti penari rancak piring yang gemulai.

    Dan malampun akhirnya lelah jua bernyanyi untuk bumi, terlihat semburat warna merah telah muncul diujung timur.

    Semburat warna merah akhirnya telah menyebar mengisi hampir seluruh cakrawala. Warna alam diatas bumi begitu bening bersemedi dalam keheningan suara yang sunyi.

    “Lagi-lagi aku telah didahului oleh Datuk”, berkata Mahesa Amping kepada Datuk Belang yang sudah lebih dulu hadir di atas panggung pendapa.

    “Aku hanya lebih sedikit darimu”, berkata datuk Belang mempersilahkan Mahesa Amping menemaninya.

    ”ada satu hal penting yang akan kusampaikan padamu”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping ketika sudah duduk disampingnya.

    “Semoga aku dapat mendengarnya tanpa keterkejutan”, berkata Mahesa Amping dengan senyumnya.
    “Hari ini adalah hari yang baik untuk menyempurnakan keris Siginjai”, berkata Datuk Belang.

  50. “Hari ini ?”, bertanya Mahesa Amping yang tiba-tiba saja teringat kepada janjinya untuk menemani Dara Jingga.

    “Ya hari ini”, berkata Datuk Belang yang tidak sempat membaca warna sikap Mahesa Amping yang bergejolak.

    “Hari ini aku akan mengantarmu, kita berangkat berdua”, berkata Datuk Belang melanjutkan.

    “Mendatangi tujuh muara ?”, bertanya Mahesa Amping yang terlihat agak gelisah.

    “Kita tidak perlu mendatangi tujuh muara, tapi mendatangi sebuah blumbang mata air yang mengalir ke tujuh muara”, berkata Datu Belang.

    Ketika matahari telah muncul diufuk timur, terlihat Datuk Belang dan Mahesa Amping tengah menuruni undakan rumah panggung.

    “Perjalanan kita hanya menempuh setengah hari perjalanan”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping ketika mereka telah menjauh berbelok disebuah jalan simpang menuju pedalaman Tanah Melayu.

    Hangat sinar matahari pagi sepertinya mengiringi perjalanan mereka melangkah membelah padang alang-alang panjang yang berujung pada sebuah sungai besar.

    “Kita menunggu seseorang lewat, mudah-mudahan bersedia meyeberangkan kita”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping.

    Ternyata mereka tidak menunggu lama, terlihat seorang tengah mengayuh jukungnya. Datuk Belang melambaikan tangannya.

    “Tolong antar kami keseberang, ada upah untukmu”, berkata Datuk Belang kepada orang itu ketika jukungnya telah mendekati mereka.

    Tidak lama Datuk Belang dan Mahesa Amping telah berdiri diatas jukung menyeberangi sungai besar.

    “Semoga perjalanan kalian dipenuhi kelapangan”, berkata orang itu yang menerima upahnya dengan gembira.

    “Kita akan memasuki hutan didepan sana”, berkata datuk Belang sambil menunjuk sebuah hutan hitam yang pekat tidak begitu jauh dari langkah mereka.

    Sementara itu diwaktu yang sama di tepi pantai, seorang dara jelita dan dayangnya tengah duduk diatas pasir putih yang hangat menatap ombak dan buih yang datang dan pergi membelai bibir pantai dibawah matahari pagi.

    Seorang pemuda terlihat mendatangi dan mendekati mereka.

    “Maaf, apakah tuan putri tengah menantikan seseorang ?”, bertanya pemuda itu.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: